Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK I
REAKSI HALOGEN

Nama : Mochammad Zaky Zahrani


NIM : 1430211029
Dosen : Devi Indah Anwar, M.Sc.
Asdos : Citra ibdau rahmah

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI
Jl. R. Syamsudin, No. 50, Sukabumi 43113, Telp. 0266-218345 Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Golongan halogen adalah kelompok unsur-unsur yang sangat kontras terhadap golongan

alkali. Alkali adalah kelompok logam yang sangat reaktif dan elektropositif sedangkan halogen
adalah kelompok nonlogam yang sangat reaktif dan elektronegatif. Paling reaktif untuk alkali
terdapat pada unsur paling bawah sedangkan untuk halogen terdapat pada unsure paling atas dari
golongannya dalam sistem periodik unsur (Sugiyarto, 2004, hal: 234).
Unsur-unsur halogen yang terletak pada golongan VIIA merupakan unsur yang sangat
reaktif dengan electron valensi ns2 np5 sehingga hanya butuh 1 elektron untuk membentuk
konfigurasi stabil seperti halnya gas mulia. Kereaktifan unsur halogen memungkinkan berbagai
senyawa seperti senyawa alkil halida (gugus alkil dan halogen), senyawa oksihalogen (asam oksi
dan halogen), senyawa ion (logam golongan IA dan IIA) dan senyawa antar halogen (Saito,
2012).
Penemuan unsur-unsur halogen selalu membawa perbaikan-perbaikan dalam ilmu
pengetahuan kimia. Sebagai contoh, penemuan gas hijau

klorin dari senyawa asamnya

hidroklorida oleh Scheele pada tahun 1774 membawa konsekuensi pembaruan definisi asam
yang pada mulanya dipahami sebagai senyawa yang mengandung oksigen (Sugiyarto, 2004, hal:
234).
Berdasarkan penjabaran di atas maka untuk mengetahui lebih mendalam tentang sifaf-sifaf
unsur-unsur yang ada pada golongan halogen maka dilakukanlah percobaan tentang halogen.
1.2. Tujuan

Mempelajari daya oksidasi dan reduksi unsur halogen

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar teori
Halogen adalah unsur-unsur golongan VIIA atau sekarang lebih dikenal dengan golongan
17 dalam tabel sistem periodik unsur yang mempunyai elektron valensi 7 pada subkulit nsnp.
Istilah halogen berasal dari istilah ilmiah bahasa Perancis dari abad ke-18 yang diadaptasi dari
bahasa Yunani, yaitu halo genes yang artinya pembentuk garam karena unsur-unsur tersebut
dapat bereaksi dengan logam membentuk garam. Halogen merupakan sekumpulan unsur
nonlogam yang saling berkaitan erat, lincah, dan berwarna terang. Secara alamiah bentuk
molekulnya diatomic, ntuk mencapai keadaan stabil atom-atom ini cenderung menerima satu
elektron dari atom lain atau dengan menggunakan pasangan elektron secara bersama hingga
membentuk ikatan kovalen. Atom unsur halogen sangat mudah menerima elektron dan
membentuk ion bermuatan negatif satu. Ion negatif disebut ion halida, dan garam yang terbentuk
oleh ion ini disebut halida. Halogen digolongkan sebagai pengoksidator kuat karena
kecenderungannya membentuk ion negatif. Selain itu, halogen adalah golongan yang paling
reaktif karena unsur-unsurnya memiliki konfigurasi elektron pada subkulit ns2 np5 (Sam, 2012).
Dalam kondisi SATP, fluorin berupa gas tidak berwarna, klorin berupa gas hijau pucat,
bromine berupa cairan minyak merah coklat dan iodine berupa padatan hitam metalik. Titik leleh
dan titik didih molekul diatomic halogen naik secara perlahan dan hal ini berkaitan dengan sifaf
polarisabilitas molekul-molekul yang bersangkutan. Sifaf polarisabbilitas molekul diatomic
halogen naik secara perlahan dengan naiknya nomor atom, hal ini disebabkan oleh naiknya jarijari atau volume atom dan jumlah total elektron sehingga posisi elektron makin mudah
terdistribusi secara tak homogen disepanjang waktunya. Dengan demikian berakibat naiknya
gaya disperse atau gaya London dan pada gilirannya mengakibatkan naiknya titik leleh dan titik
didih molekul yang bersangkutan ( Sugiyarto, 2004, hal: 234).
Menurut Sam (2012) sifaf-sifaf kimia halogen adalah:
1. Semua unsur halogen dapat membentuk senyawa dengan penarikan satu elektron dari
luar maupun secara kovalen.

2. Umumnya unsur-unsur halogen memiliki tingkat oksidasi -1, namun demikian halogen
dapat pula memiliki tingkat oksidasi +1, +3, +5 dan +7 kecuali flourin.
3. Semua unsur halogen merupakan oksidator yang sangat kuat. Kekuatan oksidator ini
berkurang dari fluorin ke iodin.
4. Semua unsur halogen dapat bereaksi dengan semua unsur logam dan beberapa unsur non
logam. Fluorin merupakan unsur yang paling reaktif dan kereaktifannya berkurang untuk
unsur-unsur halogen yang lain sesuai dengan kenaikan nomor atom.
5. Semua unsur halogen dapat bereaksi dengan hidrogen membentuk asam halida (HX).
6. Kecuali fluorin, semua unsur halogen dapat membentuk asam oksi dengan rumus HXO,
HXO, HXO dan HXO4 yang disebut sebagai asam hipohalit, asam halit, asam halat dan
asam perhalat.
7. Unsur-unsur halogen dapat pula bergabung dengan sesama unsur halogen membenuk
senyawa antar halogen.
Fluorin merupakan salah satu unsur halogen berbentuk gas (non logam) yang sangat
reaktif, beracun, korosif, berbau menyengat dan tidak enak serta berwarna kuning kehijauhijauan, karena merupakan unsur yang reaktif, maka fluorin depat membentuk beberapa jenis
senyawa seperti hidrogen fluorid, natrium fluorid dan lain-lain. Dalam bentuk klorofluorokarbon
(CFC) dapat digunakan sebagai Freon yang terdapat pada aerosol spray dan sebagai refrigerant.
Fluor digunakan dalam industri minyak pelumas. Fluor memiliki massa atom 18,99840 sma, jarijari 0,57 dengan titik didih 85,0 K.
Klorin yang sangat penting dalam industri kimia anorganik, dihasilkan bersama dengan
natrium hidroksida. Gas klorin berbau busuk (tidak enak) dan dalam jumlah yang besar gas ini
cukup berbahaya bagi manusia, sebagai contoh gas ini digunakan sebagai racun pada perang
dunia. Klorin merupakan salah satu unsur yang reaktif memiliki massa atom 35,4527 sma, jarijari 0,97 dan memiliki titik didih 239,16 K, digunakan sebagai pembunuh kuman dalam air
dan larutan klorin dapat pula digunakan sebagai pemutih (Svehla, 1985, hal: 274).
Bromin merupakan unsur halogen yang beracun dan mudah menguap untuk membentuk
molekul gas diatomik. Cairan bromin dapat menimbulka luka apabila kontak langsung dengan

kulit dan luka tersebut sembuh dalam jangka yang lama. Bromin dapat larut dalam air dan sangat
larut dalam pelarut-pelarut organik seperti alkohol, eter, kloroform dan karbon disulfide. Selain
itu juga bromin dapat membentuk senyawa-senyawa seperti HBr, HOBr dan beberapa senyawa
lainnya. Di alam bromin tidak terdapat dalam bentuk unsur bebas tetapi ditemukan dalam
senyawa-senyawa bromida. Bromin memiliki sifat fisik yaiitu, jari-jari atom Br 1,12 , masa
atom 79,904 sma dan memiliki titik didih 331,85 K. Bromin digunakan untuk bahan obat celup
dan untuk membuat senyawa dibromoetana yang digunakan sebagai bahan baku zat anti ketukan
pada bensin bertimbal. Iodin berupa padatan ungu kehitaman, cepat menyublin pada suhu kamar
serta memberikan uap berwarna ungu. Iodin mempunyai sifat seperti metal dan senyawa iodin
sangat penting dalam bidang kimia organik dan kesehatan. Iod terdapat sebagai ioda dalam air
laut dan sebagai iodat dalam garam Chili. Iodin mempunyai massa atom 126,045 sma, jari-jari
atomnya 1,2 dan memiliki titik didih 457,5 K (Svehla, 1985, hal: 286).

BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan bahan
A. Alat
o Tabung reaksi
o Erlenmeyer 250ml
o Corong pisah
o Statif
B. Bahan
o Kaporit (CaOCl2)
o Asam klrida (HCl)
o Kristal iod (I2)
o Kalium iodide (KI)
o Kalium bromide (KBr)
o Kloroform
C. Cara kerja
Percobaan 1
o Masukan 10g kaporit kedalam Erlenmeyer 250ml, tutup dengan umbat karet
o Masukan 50ml HCl 2M
o Alirkan gas klor ke Erlenmeyer yang berisi aquades
o Amati , catat warna gas dan warna klor yang terjadi
Percobaan 2
o Sediakan 6buah erlenmeyer dan berilah tanda

o Masing masing Erlenmeyer diisi 1, Bungan berwarna 2, kertas berwarna 3, kertas


berwarna basah 4, 0,5g KI 5, 0,5g KBr 6, 2butir iod
o Alirakn gas klor kedalam Erlenmeyer no 1-5
o Panaskan labu no 6 kaemudian alirkan gas klor kedalamnya
Percobaan 3
o Campurkan 5ml larutan klor hasil percobaan 1 dan 2 ml CHCl3 ke tabung reaksi
o Ulangi dengan 5ml klor, 3tetes iod, dan 2ml CHCl3
o Masukan sebutir iod kedalam tabung reaksi yang berisi 5ml aquades dan tambahkan 2ml
CHCl3 kemudian kocok
o Tuangkan 5ml alcohol dan 1butir iod kedalam tabung reaksi lalu kocok
o Tambahkan 2-3 tetes iod kedalam tabung reaksi yang berisi 5ml larutan amilum.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Data pengamatan
Percobaan 1
Prosedur percobaan

Hasil pengamatan

Kaporit + asam klorida

Terbentuk gas berwarna kuning

Reaksi yang terjadi adalah :


Ca(OCl)2 + 4HCl Cl2(g) + CaCl2(aq) + 2H2O(aq)

Prosedur percobaan

Hasil pengamatan

Gas klor + air

Terbentuk gelembung

Reaksi yang terjadi adalah :


Cl2 + H2O HCl + HClO
Percobaan 2
Prosedur percobaan

Hasil pengamatan

Gas klor + bunga berwarna

Warna bunga memudar

Gas klor + kerats berwarna basah

Warna kertas memudar cepat

Gas klor + kertas berwarna kering

Warna kertas memudar lambat

Gas klor + KI

Kristal putih KI berubah menjadi hitam

Gas klor + Kbr

Kristal putih KBr berubah menjadi jingga

Gas klor + I2

Kristal dan uap ungu iod berubah menjadi jingga

Percobaan 3
Prosedur percobaan

Hasil pengamatan

Larutan B + CHCl3

Terbentuk 2 lapisan bening diatas dan

Larutan B + 3tetes iod + CHCl3

keruh dibawah
Terbentuk 3 lapisan keruh diatas ,

Iod(s) + Aquades + CHCl3

endapan dan bening dibawah


Terbentuk 2 lapisan. Putih diatas dan

Iod(s) +Alkohol

merah muda dibawah


Larutan menjadi warna coklat

Iod + amilum

Larutan menjadi warna biru keunguan

4.2 Pembahasan
Pada percobaan kali ini yang berjudul halogen, dilakukan berbagai reaksi halogen agar
dapat memahami berbagai oksidator halogen. Pada percobaan kali ini yang pertama dilakukan
yaitu membuat gas klorin dengan mereaksikan kaporit dengan HCl pekat, praktikan harus hati
hati dalam melakukan percobaan ini karena menggunakan larutan yang sangat pekat dan
berbahaya sehingga harus dilakukan di lemari asam. Gas klor dihasilkan kemudian dialirkan ke
dalam tabung reaksi A yang telah berisi aquadest. Larutan tetap menjadi bening dan tertutup uap
pada dinding tabung reaksi ini menandakan adanya reaksi antara gas klor tersebut dengan
aquadest. Dalam melakukan pecobaaan ini kita harus berhati-hati dan tabung raksi yang berisi
gas klor tersebut harus disumbat dengan gabus agar gas tersebut tidak keluar dan tidak terhisap
atau terhirup oleh praktikan. Pada percobaan selanjutnya, gas klor yang dihasilkan pada
percobaan yang pertama tadi dialirkan ke dalam tabung reaksi B yang berisi bunga berwarna dan
hasilnya bunga warna Bungan memudar begitu juga pada tabung 3 dan 4 yang berisi kertas
berwarna warnanya memudar kemudian saat dialirkan kedalam serbuk KI, krisatal tersebut
langsung berubah warna menjadi hitam dan terbentuk juga uap yang menempel pada dinding

tabung reaksi tersebut. Sedangkan pada percobaan selanjutnya yaitu mengalirkan gas klor yang
dengan kristal KBr yang berada dalam tabung reaksi 6 menghasilkan serbuk yang berwarna
kuning bening juga terbentuk pada dinding tabung.
Larutan klor tidak larut dalam pelarut organik kloroform (non polar) reaksi antara iod
dengan NaOCl dan CHCl3 menghasilkan larutan berwarna bening dengan cincin, hal ini terjadi
karena daya oksidasi tidak mengalami perubahan yang signifikan
Iod + Kloroform = larut (non polar), Sedangkan air bersifat polar dalam larutan basa, I2
mengalami disproporsionasi (autoredoks) menjadi ion iodida dan ion hipoiodit (IO-).

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Unsur halogen merupakan unsur yang mudah menangkap elektron (mengalami reduksi)
maka unsur halogen merupakan zat pengoksidasi (oksidator) yang kuat.

Daya oksidasi halogen meningkat dengan meningkatnya keelektronegatifan.

Daftar Pustaka

Halogen. http://wikipedia.org/ 4 Juni 2012


Saito, Taro. Halogen dan Halida. http// www. Chem.-is-try. Com/ 4 Juni 2012
Sam. Halogen. http://samadaranta.worpress.com/ 4 Juni 2012
Sugiyarto, Kristian H. Kimia Anorganik Logam. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010
Svehla, G. Analisis Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta: Kalman Media Pustaka 1985

Lampiran