Anda di halaman 1dari 29

Acute Infectious Diarrhea in

Immunocompetent Adults
Herbert L. DuPont, M.D.
The New England Journal of Medicine
Pembimbing : dr. Ruchanihadi, Sp.PD
Disusun Oleh :
Risnawati Wahab, S.Ked
Erlin Irawati, S.Ked
Tajul Anshor, S.Ked

Pendahuluan
Di Amerika Serikat, sekitar 179 juta kasus diare akut terjadi
setiap tahun, sebesar 0,6 % serangan per orang per tahun.
Dalam sebuah penelitian, estimasi prevalensi diare di
kalangan orang dewasa adalah 3-7%, dengan rata-rata
tergantung pada usia, dan 8% di antaranya adalah anakanak usia 5 tahun atau lebih muda.
Kejadian diare akut pada orang dewasa dilaporkan barubaru ini di Jerman setingkat dengan kejadian di AS.
Di Amerika Serikat, 83% dari kematian akibat diare akut
terjadi pada orang dewasa yang berusia 65 tahun atau lebih
tua.

Tujuan Artikel
Artikel ini membahas pendekatan klinis untuk
mendiagnosis dan pengelolaan diare akut pada
orang dewasa yang imunokompeten, rangkuman
beberapa kontroversi klinis dan mendiskusikan
apa saja yang dibutuhkan dilapangan dalam
kasus diare akut.

Definisi Diare
Diare secara umum didefinisikan sebagai buang
air besar (BAB) encer tiga kali atau lebih dalam
sehari, biasanya disertai dengan enteric
symptom, atau lebih dari 250 g BAB encer per
hari.
Berdasarkan
Onsetnya,
diare
dapat
diklasifikasikan sebagai diare akut (<14 hari),
diare persisten (14-29 hari), atau diare kronis
(30 hari).

Penyebab Diare

Penyebab Diare

Penyebab Diare

Faktor Host
Faktor host penting dalam perkembangan diare
terkait infeksi. Diare terkait infeksi meningkat
kejadiannya terutama pada:
Usia tua
Pasien dengan imunitas terganggu karena
penyakit atau obat.
Pasien dengan fisiologi usus terganggu karena
penggunaan obat-obatan yang meliputi agen
yang menurunkan asam lambung seperti
proton-pump inhibitors (PPI) dan antibiotik
yang mengganggu homeostasis usus dan flora
usus.

Dosis dan Cara Penularan

Manifestasi Klinis
Faktor yang relevan dengan penyebab diare
meliputi
perjalanan
ke
luar
negeri
sebelumnya;terapi
dengan
antibiotik,
kemoterapi, atau PPI; praktek seksual yang tidak
aman; bekerja di day-care center; dan adanya
penyakit imunosupresif
Jika ditemukan gejala muntah menonjol,
kemungkinan
penyebabnya
adalah
gastroenteritis virus atau keracunan makanan.
Periode inkubasi dapat digunakan untuk
membedakan infeksi virus (>14 jam, biasanya
24-48 jam) dan keracunan makanan (2-7 jam).

Manifestasi Klinis
Status hidrasi pasien harus dievaluasi melalui
pemeriksaan tanda vital, membran mukosa, dan
sensorik serta perhatian terhadap adanya
hipotensi postural.
Pemeriksaan rektal harus dilakukan untuk
menilai adanya perdarahan makroskopik atau
mikroskopik (gross or occult blood).
Tanda bahaya penyakit yang berat atau
bakteremia
meliputi
toksisitas
sistemik,
tingginya temperatur (38.5C [101.3F]), dan
BAB darah yang nyata.

Uji Diagnostik
Tes darah
Elektrolit dan Cr dpt diperiksa pada kasus
toksisitas sistemik, dehidrasi, geriatri dan pasien
dg KU lemah.
Leukocytosis/ shift to the left in neutrophils
berhubungan dengan diare akibat C. Difficile
Eosinofil parasitik (misalnya:Strongyloidosis)

Uji Diagnostik
Pemeriksaan Feses
Feses diambil dari pasien:
- Diare akut berat dg gejala demam (38.5C)
- Diare disertai komorbid lain yang dirawat di RS
- Diare Persisten 14 hari
- Diare pasien Imunokompromised
shigella, salmonella, campylobacter, Shiga toxin
producing E. coli O157:H7 strains, giardia,
cryptosporidium, Entamoeba histolytica, and rotavirus
PCR-Based Diagnostic Tests meningkatkan
sensitivitas, berfokus pada gen daripada faktor virulensi

Uji Diagnostik
ENDOSCOPY
AND
ABDOMINAL
COMPUTED TOMOGRAPHY
Pada kasus :
- Diare Persisten
- Diagnosis tidak jelas (misal suspek C. difficile
atau disentri dengan toxin feses negatif)
Endoscopy Membedakan penyebab infeksi
colitis akibat shigella, salmonella, campylobacter,
invasive E. coli, Shiga toxinproducing E. coli, C.
difficile, atau cytomegalovirus pada IBD

Uji Diagnostik
ENDOSCOPY AND ABDOMINAL COMPUTED
TOMOGRAPHY
Proctoscopic mendiagnosis proctitis (pada anal
intercourse)
Esophagogastroduodenoscopy pada diarea persisten.
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi giardia, earlyonset celiac disease, dan pertumbuhan bacteri di usus
halus
CT curiga penebalan mucosa atau perubahan lain
(ischemic, hemorrhagic, or inflammatory colitis), selain
itu juga dapat mendeteksi penebalan mukosa kolon dan
pericolonpada kasus diare fulminant C. difficile

Tatalaksana
Pada pasien dengan diare sedang-berat target
utama adalah koreksi dan pemeliharaan
keseimbangan elektrolit dan cairan, hal ini
menyelamatkan nyawa pasien lanjut usia, pasien
dengan penyakit lain yang bersamaan dan bayi.

Tatalaksana

Obat antimotilitas Loperamide (Imodium) berguna


dalam mengurangi diare pada orang-orang yang
sedang dalam perjalanan atau memiliki jadwal yang
padat. Namun, obat ini tidak mempersingkat durasi
total penyakit. Dosis inisial maksimum adalah 4 mg,
diikuti 2 mg setelah setiap keluarnya BAB encer,
dengan total dosis maksimum adalah 8 mg per hari
selama 48 jam.
Loperamide tidak boleh digunakan pada pasien
dengan demam atau disentri. Jikalau obat ini
digunakan dalam kondisi ini maka diberikan dosis
efektif terendah untuk menghindari konstipasi setelah
diare, biasanya initial loading dose adalah 4 mg.

Tatalaksana
Crofelemer (Fulyzaq), yaitu suatu chloridechannel blocker, dapat menurunkan jumlah
feses pada pasien dengan travelers diarrhea
dan telah disepakati untuk digunakan pada
pasien infeksi HIV dengan diare.
Penggunaan probiotik pada terapi dan
pencegahan diare yang spesifik adalah terbatas.
Namun, probiotik bermanfaat dalam mencegah
antibiotic-associated diarrhea.

Tatalaksana
Terapi empiris direkomendasikan pada kasus
sporadis dari febrile dysentery, terutama pada
kasus dengan kemungkinan terjadi
infeksi
sistemik, selain itu pada kasus berat travelers
diarrhea atau hospital associated or antibioticassociated diarrhea.
Antibiotik diindikasikan hanya pada sejumlah
kecil pasien yang telah ditegakkan bahwa infeksi
adalah penyebab dari akut diare pasien tersebut.

Tatalaksana
Pada pasien ini, antibiotik dapat mempersingkat
masa sakit, mengurangi transmisi, dan
mencegah komplikasi termasuk kematian.
Dalam memilih terapi spesifik pada kasus diare
akut, diagnosis etiologi harus ditegakkan.
Terapi antibiotik dapat menyelamatkan jiwa
pada kasus salmonellosis bakteremia dan infeksi
C. difficile pada pasien lanjut usia.

Kondisi Terkait Diare Akut


Artritis
Artritis reaktif dapat terjadi pada infeksi enterik
akut oleh salmonella, shigella, dan yersinia. Hal
ini terjadi karena respon autoimun terhadap
epitop yang selain terdapat pada patogen juga
dapat ditemukan pada jaringan sendi atau
periartikular.

Kondisi Terkait Diare Akut


Irritable bowel syndrome (IBS)
Postinfectious irritable bowel syndrome (IBS),
dapat terjadi pada 5 - 10% pasien setelah infeksi
usus oleh patogen bakteri dan sebagian kecil
oleh virus dan parasit.
Pada IBS, organisme yang menginfeksi dapat
memicu terjadinya inflamasi usus ringan yang
persisten, terperangkapnya udara di usus dan
terganggunya motilitas usus pada penyakit yang
bermanifestasi konstipasi.

Kondisi Terkait Diare Akut


Irritable bowel syndrome (IBS)
Faktor yang meningkatkan resiko sindrom ini
adalah infeksi patogen dengan virulensi yang
tinggi, kondisi sakit berat, usia muda, perempuan,
adanya gangguan psikologis sebelumnhya.
IBS post infeksi memiliki prognosis yang lebih
baik dibandingkan IBS idiopatik, tetapi sindrom
ini dapat menghilang setelah 8 tahun atau lebih.
Faktor genetik dari host yang meliputi serotonin,
fungsi epitel, dan innate immunity berperan
dalam perkembangan IBS post infeksi.

Kondisi Terkait Diare Akut


GuillainBarr syndrome (GBS)
GuillainBarr syndrome (GBS) dapat terjadi 2
bulan setelah penyakit infeksi campylobacter
yang ditemukan pada kira-kira 1-2 kasus per
10.000
pasien
dengan
infection
campylobacteriosis,
sebagai
akibat
dari
reaktivitas silang antara organisme yang
menginfeksi dan epitop gangliosida neural.
Faktor resiko meliputi virulensi organisme yang
menginfeksi dan faktor genetik host.

Terima kasih