Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada tahun 2005 Pemerintah menyusun tiga RUU yang mengubah tiga UU
perpajakan yang saat itu berlaku. Ketiga UU yang akan diamandemen yaitu UU
mengenai Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), UU mengenai
Pajak Penghasilan (PPh) dan UU mengenai Pajak Pertambahan Nilai/Pajak
Penjualan Barang Mewah (PPn/PPNBM). Ketiga UU tersebut diamandemen
karena selain merupakan ketentuan perundang-undangan yang paling krusial dan
praktik penerapan hukum perpajakan, juga merupakan kunci hukum yang akan
menjadi hal yang paling utama dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak.
Amandemen UU Perpajakan tahun 2005 ini menandai dilaksanakannya
reformasi perpajakan kelima, sejak bergantinya sistem perpajakan nasional.
Sebelumnya Pemerintah telah melaksanakan reformasi perpajakan tahun 1984,
tahun 1994, tahun 1997, dan tahun 2000. Reformasi perpajakan kali ini cukup
menarik, karena memiliki arti khusus, yaitu memperkuat upaya penerimaan pajak
yang semakin menjadi tulang punggung dalam pembiayaan keuangan Negara
(Gunawan dan Hidayat, 2005).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dibuat rumusan masalah


sebagai berikut :
1. Bagaimanakah definisi reformasi perpajakan.
2. Bagaimanakah langkah-langkah dalam melakukan reformasi perpajakan.
3. Apakah alasan Negara melakukan reformasi perpajakan.
4. Apakah tujuan reformasi perpajakan.
5. Bagaimanakah perjalanan reformasi perpajakan di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi Reformasi Perpajakan
Reformasi pajak memiliki makna yang luas dan terus berkembang.
Williamson dalam Masoed (1994 : 60) menyatakan bahwa reformasi perpajakan
meliputi perluasan basis perpajakan, perbaikan administrasi perpajakan,
mengurangi terjadinya penghindaran dan manipulasi pajak, serta mengatur
pengenaan pada aset yang berada di luar negeri. Menurut Chaizi Nasucha,
reformasi administrasi perpajakan adalah penyempurnaan atau perbaikan kinerja
administrasi, baik secara individu, kelompok, maupun kelembagaan agar lebih
efisien, ekonomis, dan cepat. Sedangkan Anggito Abimanyu menyebutkan bahwa
reformasi perpajakan adalah perubahan mendasar di segala aspek perpajakan yang
memiliki 3 (tiga) tujuan utama, yaitu tingkat kepatuhan sukarela yang tinggi,
kepercayaan terhadap administrasi perpajakan yang tinggi dan produktivitas
aparat perpajakan yang tinggi (Kusuma dan Bagus, 2009).
B. Langkah-langkah dalam Melakukan Reformasi Perpajakan
Adapun langkah-langkah reformasi perpajakan tersebut antara lain meliputi :
1. Langkah-langkah pembaruan kebijakan (tax policy reform) ; melalui
Perubahan UU PPh, Perubahan UU PPN dan PPnBM, Perubahan UU PBB,
Perubahan UU Bea Materai, serta UU Kepabeanan dan UU cukai. Pada
intinya Paket Amandemen Undang-Undang Perpajakan ini lebih dititikberatkan pada pemberian rasa keadilan dan kepastian hukum di bidang
perpajakan, yang bertujuan untuk mendorong investasi, serta mengoptimalkan
penerimaan perpajakan.

2. Langkah-langkah pembaruan administrasi perpajakan (tax administrative


reform) ; meliputi :
a. Penyempurnaan peraturan pelaksanaan undang-undang perpajakan;
b. Pembentukan dan perluasan kantor pelayanan pajak (kpp) khusus wajib pajak
(WP) besar (large taxpayer office, lto), diantaranya meliputi pembentukan
organisasi berdasarkan fungsi, pengembangan sistem administrasi perpajakan
yang terintegrasi dengan pendekatan fungsi, dan implementasi dari prinsipprinsip good corporate governance;
c. Pembangunan kpp khusus WP menengah, dan kpp khusus WP kecil di Kanwil
VI Direktorat Jenderal Pajak;
d. Pengembangan basis data, pembayaran pajak dan penyampaian SPT secara
online;
e. Perbaikan manajemen pemeriksaan pajak; serta
f. Peningkatan efektivitas penerapan kode etik di jajaran direktorat jenderal
pajak dan komisi ombudsman nasional.
C. Alasan Negara Melakukan Reformasi Perpajakan
Adapun alasan Negara melakukan reformasi perpajakan adalah :
a. Untuk menstabilkan perekonomian yang tidak menentu karena pengaruh
perekonomian internasional maupun nasional.
b. Upaya mengalihkan sektor penerimaan APBN dari migas yang semula sebagai
sektor primadona menjadi pajak sebagai sumber yang lebih dapat menjanjikan
karena secara rasional pajak adalah penerimaan yang berkelanjutan tidak
seperti migas.

c. Usaha mengikuti ketentuan dunia terutama dalam hal pendanaan (pinjaman


luar negeri) yang mensyaratkan struktur pajak yang ada harus disesuaikan
dengan kondisi seharusnya.
d. Meningkatkan penerimaan Negara dari sektor pajak.
D. Tujuan Reformasi Perpajakan
Adapun tujuan reformasi perpajakan adalah :
a. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada Wajib Pajak (taxpayers quality
services) sebagai sumber aliran dana untuk mengisi kas Negara.
b. Menekan terjadinya penyelundupan pajak (tax evasion) oleh Wajib Pajak.
c. Meningkatkan kepatuhan bagi Wajib Pajak dalam penyelenggaraan kewajiban
perpajakannya.
d. Menerapkan konsep good governance, adanya transparansi, responsibility,
keadilan dan akuntabilitas dalam meningkatkan kinerja instansi pajak,
sekaligus publikasi jelasnya pos penggunaan pengeluaran dana pajak.
e. Meningkatkan penegakan hukum pajak, pengawasan yang tinggi dalam
pelaksanaan administrasi pajak baik kepada fiskus maupun kepada Wajib
Pajak.

E. Perjalanan Reformasi Perpajakan di Indonesia


1. Reformasi Pajak (Tax Reform) Tahun 1983

Reformasi pajak (tax reform) atau pembaruan perpajakan, telah dilakukan


sejak tanggal 1 Januari 1984. Bersamaan dengan dikeluarkannya serangkaian
undang-undang, yaitu :
a. UU Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP).
b. UU Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh). Kedua undangundang tersebut berlaku sejak 1 Januari 1984.
c. UU Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai/Pajak Penjualan
Atas Barang Mewah (PPN/PPnBM), direncanakan diberlakukan tahun 1984
juga, tetapi karena masih ada sesuatu yang harus dipersiapkan lebih matang
maka undang-undang tersebut diberlakukan mulai 1 April 1985.
d. UU Nomor 12 Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
e. UU Nomor 13 Tahun 1985 Tentang Bea Materai (BM).
f. Undang-undang No. 12 Tahun 1985 dan Undang-undang No. 13 Tahun 1985
mulai diberlakukan tahun 1995. Selanjutnya pada tahun 1991, Undang-undang
No. 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan diubah dengan Undang-undang
No. 7 tahun 1991.
2. Reformasi Pajak (Tax Reform) Tahun 1994
Reformasi perpajakan tidak berhenti begitu saja, tetapi terus dilakukan
perubahan dan penyempurnaan sesuai dengan tuntutan perubahan sistem
perekonomian. Pada tahun 1991, perubahan pertama dilakukan terhadap Pajak
Penghasilan. Kemudian pada tahun 1994, setelah satu dasawarsa peraturan pajak

dilaksanakan diadakan lagi serangkaian perubahan terhadap peraturan perpajakan.


Undang-undang pajak yang dikeluarkan adalah :
a. UU Nomor 9 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
b. UU Nomor 10 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 7 Tahun 1983
Tentang Pajak Penghasilan (PPh) Sebagaimana Telah Diubah dengan UU
Nomor 7 Tahun 1991.
c. UU Nomor 11 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 8 Tahun 1983
Tentang Pajak Pertambahan Nilai/Pajak Penjualan Atas Barang Mewah
(PPN/PPnBM).
d. UU Nomor 12 Tahun 1994 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 12 Tahun
1985 Tentang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Selanjutnya tahun 1997 dikeluarkan lagi serangkaian undang-undang baru
untuk melengkapi undang-undang yang telah ada, yaitu :
a. UU Nomor 17 Tahun 1997 Tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak.
b. UU Nomor 18 Tahun 1997 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
c. UU Nomor 19 Tahun 1997 Tentang Penagihan Pajak dan Surat Paksa.
d. UU Nomor 20 Tahun 1997 Tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.
e. UU Nomor 21 Tahun 1997 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan.

3. Reformasi Pajak (Tax Reform) Tahun 2000

Pada tahun 2000 seiring dengan perkembangan sosial dan ekonomi,


Pemerintah kembali mengeluarkan serangkaian undang-undang untuk mengubah
undang-undang yang telah ada, yaitu :
a. UU Nomor 16 Tahun 2000 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
b. UU Nomor 17 Tahun 2000 Tentang Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 7
Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan (PPh).
c. UU Nomor 18 Tahun 2000 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 8
Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa, dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah.
d. UU Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
e. UU Nomor 20 Tahun 2000 Tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan atau
Bangunan.
f.

UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 1997


tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

4. Reformasi Pajak (Tax Reform) Tahun 2008


Pada tahun 2008, terjadi perubahan undang-undang dan disahkanlah UU
No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, serta UU
No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

BAB III

KESIMPULAN
Reformasi perpajakan adalah perubahan yang mendasar di segala aspek
perpajakan. Reformasi pajak dilakukan agar sistem perpajakan dapat lebih efektif
dan efisien, sejalan dengan perkembangan globalisasi yang menuntut daya saing
tinggi dengan Negara lain. Tentu saja dengan memperhatikan prinsip-prinsip
perpajakan yang sehat seperti persamaan (equality), kesederhanaan (simplicity),
dan keadilan (fairness), sehingga tidak hanya berdampak terhadap peningkatan
kapasitas fiskal, melainkan juga terhadap perkembangan kondisi ekonomi makro.

DAFTAR PUSTAKA

Bawazier, Fuad. 2011. Reformasi Pajak di Indonesia. Jurnal Legislasi Indonesia


Vol. 8 No. 1.
J. G. Kusuma, R. Bagus. 2009. Tinjauan Teoritis Terhadap UU KUP, viewed 19
July, Diakses pada : http://baguskusuma.wordpress.com/xmlrpc.php.
Setiyaji, Gunawan, dan Amir, Hidayat. 2005. Evaluasi Kinerja Perpajakan
Indonesia, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia Esa Unggul.

10