Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alam perasaan adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi
seluruh keperibadiaan dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan ditandai
oleh syndrom depresif sebagian atau penuh. Gangguan alam perasaan bisa mempengaruhi
kesehatan jiwa karena tak mampu menghadapi stressor dengan intensitas berat dan dalam
jangka waktu yang lama.
Gangguan alam perasaan khususnya depresi merupakan salah satu jenis gangguan
jiwa yang popular dikalangan masyarakat. Hal ini bisa disebabkan karena minimnya
pengetahuan masyarakat tentang proses gangguan alam perasaan: depresi sehingga semakin
banyak korban yang berjatuhan.
Angka kejadian akibat gangguan alam perasaan: depresi diperkirakan akan semakin
meningkat. Hal tersebut bisa dikurangi dengan cara meningkatkan pemahaman tenaga medis,
khususnya perawat yang nantinya diharapkan bisa langsung terjun ke masyarakat untuk
memberikan tindakan preventif dengan cara memberikan health education pada masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah konsep mengenai gangguan alam perasaan?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan ?
1.3 Tujuan
Tujuan umum
1. Menjelaskan konsep gangguan alam perasaan
2. Mendiskusikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan alam perasaan
(depresi dan mania)

Tujuan khusus
1. Menjelaskan konsep dasar depresi
2. Menjelaskan konsep dasar mania
3. Menjelaskan asuhan keperawatan gangguan alam perasaan
1.4 Manfaat
Mahasiswa dapat memahami materi tentang gangguan alam perasaan, sehingganya
nantinya mahasiswa mengerti dan dapat mengaplikasikan dalam tindakan keperawatan.
Pada masyarakat agar lebih mengetahui gejala-gejala terjadinya gangguan alam
perasaan, sehingga dapat dilakukan tindakan lebih awal sehingga gangguan ini tidak menjadi
lebih serius.

BAB II
KONSEP DASAR GANGGUAN ALAM PERASAAN

2.1 Definisi
Alam perasaan (mood) adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang
mempengaruhi seluruh kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam
perasaan merupakan gangguan mental yang memperlihatkan perubahan suasana perasaan
menonjol dan menetap dan bersifat patologis.
Gangguan Alam Perasaan merupakan kelainan psikologis yg ditandai meluasnya
irama emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan
(euphoria) dan gerak yg berlebihan (agitation).
Gangguan alam perasaan adalah gangguan emosional yang disertai gejala mania atau
depresi. Gangguan alam perasaan ditandai oleh syndrom depresif sebagian atau penuh, selain
itu juga ditandai oleh kehilangan minat atau kesenangan dalam aktifitas sehari-hari dan
rekreasi.
Tipe Gangguan Alam Perasaan
Secara garis besar, tipe gangguan dapat diklasifikasikan menjadi mood episode, depressive
disorder, dan bipolar disorders (Yosep, 2007)
1. Mood Episode
a Mayor depressive episode
Pada tipe ini, terdapat 5 atau lebih gejala-gejala yang ditampilkan selama periode 2
minggu dan menampilkan perubahan fungsi sebelumnya. Adapun tanda-tanda secara
lengkap adalah sebagai berikut:
Perasaan depresif lebih banayk dalam sehari, hampir setiap hari yang

diindikasikan berdasarkan data subjektif atau hasil observasi.


Menurunnya secara nyata minat terhadap kesenangan, hampir semua aktivitas

dalam sehari atau hampir setiap hari.


Kehilangan berat badan yang berarti meskipun tidak diet.
Kesulitan tidur (insomnia)
Terjadi peningkatan aktivitas psikomotor atau perlambatan motorik hampir setiap

hari.
Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari.

Perasaan-perasaan tidak berharga atau berlebihan atau perasaan berdosa yang

berlebihan hampir setiap hari.


Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau konsentrasi, atau perasaan raguragu hampir setiap hariterus-menerus berpikir tentang kematian, berulangnya ide-

ide untuk bunuh diri.


Manic Episode
Pada tipe ini, ditandai dengan periode agngguan yang nyata dan peningkatan secara
menetap, mood mudah terangsang selama 1 minggu. Selama periode gangguan, 3
atau lebih gejala berikut telah menetap dan telah nampak dalam tingkat yang berarti:
Melambungnya harga diri
Menurunnya kebutuhan untuk tidur
Lebih banayk bicara dibanding biasanya
Flight of ideas
Perhatian yang mudah teralih
Peningkatan perilaku
Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan yang berpotensi

untuk mengakibatkan cedera.


2. Depressive Disorders
a. Mayor Depressive Disorders
Dapat berupa episode berulang atau episode tunggal. Hal ini dapat juga memiliki
gambaran khusus seperti adanya penampilan diam melamun (catatonic) atau
melankolik atau menyertai kejadian postpartum.
b. Dysthymic disorder
Dikenal dengan Depresi Neurosis, yang ditandai dengan mood yang terdepresi dalam
sebagain besar hari.
3. Bipolar Disorders
a. Bipolar Disorders
Klien dengan tipe bipolar mendemonstrasikan kekuatan, meluap-luap dan
menggambarkan siklus irama mood. Bentuk yang ditemukan dalam tipe gangguan
mental ini adalah kapanpun mengalami keadaan meluap-luap selama waktu satu
mingu atau satu bulan.
b. Cyclothymic Disorders
Individu dengan kelainan ini cenderung untuk mengalami irama mood diantara
keriangan dan depresif.
2.2 Etiologi

Gangguan alam perasaan diyakini menggambarkan disfungsi sistem limbik,


hipotalamus, dan ganglia basalis, yang membentuk kesatuan pada emosi manusia. Sebelum
intrumen riset noninvasif yang menakjubkan ditemukan, yang saat ini tersedia untuk
mengobservasi area fisiologi tubuh yang paling kecil, teori tentang gangguan alam perasaan
difokuskan pada pengalaman hidup dan bagaimana individu memilih untuk meresponnya.
Apakah individu belajar dan tumbuh dari pengalaman hidup yang negatif dan positif, atau
apakah pengalaman tersebut mendorong terjadinya depresi atau mania? Beberapa teori ini
memiliki fokus menyalahkan korban, sedangkan riset saat ini berfokus pada keyakinan
bahwa gangguan alam perasaan merupakan ketidakseimbangan kimiawi yang bersifat
biologis (hormonal, neurologis, atau genetik). Fakta bahwa tubuh manusia merupakan suatu
alat luar biasa yang mampu mengatur dan memulihkan diri sendiri, yang dapat diperkuat
oleh keinginan individu untuk berubah adalah alasan mengapa kombinasi psikoterapi dan
obat-obatan psikotropik lebih efektif untuk membantu individu yang mengalami gangguan
alam perasaan.
Faktor Predisposisi
a. Faktor Genetik
Faktor genetik mengemukakan, transmisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui
garis keturunan. Frekuensi gangguan alam perasaan meningkat pada kembar monozigote.
b. Teori Agresi Berbalik pada Diri Sendiri
Mengemukakan bahwa depresi diakibatkan oleh perasaan marah yang dialihkan pada diri
sendiri. Freud mengatakan bahwa kehilangan objek/orang, ambivalen antara perasaan
benci dan cinta dapat berbalik menjadi perasaan menyalahkan diri sendiri dan
dimunculkan dengan perilaku mania (sebagai suatu mekanisme kompensasi)
c. Teori Kehilangan
Berhubungan dengan faktor perkembangan, misalnya kehilangan orangtua yang sangat
dicintai. Individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.
d. Teori Kepribadian
Mengemukakan bahwa tipe kepribadian tertentu menyebabkan seseorang mengalami
mania.
e. Teori Kognitif
Mengemukakan bahwa mania merupakan msalah kognitif yang dipengaruhi oleh
penilaian terhadap diri sendiri, lingkungan dan masa depan.
f. Model Belajar Ketidakberdayaan

Mengemukakan bahwa mania dimulai dari kehilangan kendali diri lalu menjadi aktif dan
tidak mampu menghadapi masalah. Kemudian individu timbul keyakinan akan
ketidakmampuannya

mengendalikan

kehidupan

sehingga

ia

tidak

berupaya

mengembangkan respons yang adaptif.


g. Model Perilaku
Mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya reinforcemant positif selama
berinteraksi dengan lingkungan.
h. Model Biologis
Mengemukakan bahwa dalam keadaan depresi/mania terjadi perubahan kimiawi, yaitu
defisiensi katekolamin, tidak berfungsinya endokrin dan hipersekresi kortisol.

Faktor Presipitasi
Stressor yang dapat menyebabkan gangguan alam perasaan meliputi :
a. Faktor Biologis
Meliputi perubahan fisiologis yang disebakan oleh obat-obatan atau berbagai penyakit
fisik seperti infeksi, neoplasma, dan ketidakseimbangan metabolisme.
b. Faktor Psikologis
Meliputi kehilangan kasih sayang, termasuk kehilangan cinta, seseorang dan kehilangan
harga diri.
c. Faktor Sosial Budaya
Meliputi kehilangan peran, perceraian, kehilangan pekerjaan. Kejadian penting dalam
kehidupan seseorang sebagai keadaan yang mendahului episode depresi dan mempunyai
dampak pada masalah saat ini dan kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah.
d. Banyaknya peran dan komplik peran, dilaporkan mempengaruhi berkembangnya
depresi, terutama pada wanita.
e. Sumber koping termasuk status social ekonomi, keluarga, hubungan inter personal dan
organisasi kemasyarakatan. Kurangnya sumber pendukung social, menambah stress
individu.
2.3 Rentang Respon Emosi

Rentang respon emosi individu dapat berfluktuasi dari respon emosi adaftif sampai
respon maladaftif, seperti pada gambar dibawah.

Respon Adaptif

Respon maladaptive Maladaptif

3
4
Reaksi Kehilangan Yang Menunjang
Mania/ depresi
Reaksi Kehilangan Yang Wajar
Supresi
Resposif
Gambar
1. Rentang Respon Emosi

Responsif adalah respon emosional yang terbuka dan sadar akan perasaannya. Pada
rentang ini individu dapat berpartisipi dengan dunia eksternal dan internal.
Reaksi kehilangan yang wajar merupakan posisi rentang yang normal dialami oleh
individu yang mengalami kehilangan dan mengalami proses kehilangan misalnya bersedih,
berfokus pada diri sendiri, berhenti melakukan kegiatan sehari-hari. Reaksi kehilangan
tersebut tidak berlangsung lama.
Supresi merupakan tahap awal respon emosional yang maladaptive, individu
menyangkal, menekan atau menginternalisasi semua aspek perasaan tentang lingkungan.
Reaksi berduka yang memanjang merupakan penyangkalan yang menetap dan
memanjang, tetapi tidak nampak reaksi emosional terhadap kehilangan. Reaksi berduka yag
menajang ini dapat terjadi beberapa tahun.
Mania adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasaan
yang meningkat, meluas atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang.
Kondisi ini dapat diiringi dengan perilaku berupa peningkatan kegiatan, banyak bicara, ideide yang meloncat, senda gurau, tertawa berlebihan, penyimpangan seksual.
Depresi adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan
berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Depresi dapat juga digunakan untuk
menunjukkan berbagai fenomena : tanda, gejala, keadaan emosi, reaksi penyakit atau kondisi
klinis secara menyeluruh.
Rentang respon emosi seseorang normalnya bergerak secara dinamis. bukan merupakan
titik yang statis dan tetap. dinamisasi tersebut dipengaruhi oleh organobiologis,
psokoedukatif, sosiocultural. klien yang mengalami gangguan alam perasaan, reaksinya

cenderung menetap dan memanjang. hal tersebut sangat tergantung pada tipe gangguan alam
perasaan (manik, depresif, atau kombinasi dari keduanya).

2.4 Manifestasi Klinik


Gangguan alam perasaan adalah gangguan afek ( suasana hati) dengan manifestasi
gejala-gejala mania dan depresi. seseorang dengan gangguan alam perasaan biasanya akan
didapat suatu keadaan sedih, ketakutan, putus asa, gembira berlebihan dan khawatir (Keliat
B.A. 1999).
Keadaan emosional yang berkepanjangan dan mempengaruhi seluruh seluruh
kehidupan dan fungsi kehidupan seseorang.
Mania :
a) Gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasaan yang meningkat
atau keadaan emosional yang mudah tersinggung dan terangsang.
b) Dapat diiringi perilaku berupa peningkatan aktivitas flight or idea, euphoria,
penyimpangan sex.
Tanda dan gejala dengan mania (Stuart & Sundeen, 1995)
a) Afektif : kegembiraan berlebihan, peningkatan harga diri, tidak tahan kritik.
b) Kognitif : ambisi mudah terpengaruh, mudah beralih perhatian, waham kebosanan,
flight or idea.
c) Fisik : gangguan tidur, nutrisi tidak adekuat, peningkatan aktivitas, dehidrasi.
d) Tingkah laku : agresif, aktivitas motorik meningkat, kurang perawatan diri, seks
berlebihan dan bicara bertele-tele.
Depresi
Depresi Adalah suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedih dan
berduka yang berlebihan dan berkepanjangan. Depresi dapat juga digunakan untuk
menunjukkan berbagai fenomena : tanda, gejala, keadaan emosi, reaksi penyakit atau
kondisi klinis secara menyeluruh.
Tanda dan gejala dengan depresi (Stuart & Sundeen, 1995)

a) Afektif : Sedih, cemas apatis, murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak,
perasaan bersalah, merasa tidak berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah
diri, merasa tak berharga.
b) Kognitif : Ambivalence, bingung, ragu-ragu, tidak mampu konsentrasi, hilang
perhatian dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, pikiran merusak diri, rasa tidak
menentu, pesimis.
c) Fisik : Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, gangguan pencernaan, konstipasi, lemah,
lesu, nyeri kepala, pusing, insomnia, nyeri dada, perubahan berat badan, gangguan
selera makan, gangguan menstruasi, impoten, tidak berespon terhadap seksual.
d) Tingkah laku : Agresif, agitasi, tidak toleran, gangguan tingkat aktivitas, kemunduran
psikomotor, menarik diri, isolasi social, irritable,
2.5 Penatalaksanaan
Pengobatan
1) Litium karbonat, sebuah obat antimatik, adalah obat pilihan untuk klien yang
menderita gangguan bipolar.
2) Pengobatan antipsikotik digunakan untuk klien yang menderita hiperaktivitas hebat
dan untuk menangani perilaku manik.
3) Antikonvulsan kadang-kadang diberikan karena keefektifannyadalam antimanik.
4) Pengobatan antiansietas, misalnya klonazepam (klonopin) dan lotazepam (Antivan),
kadang-kadangdigunakan untuk klien yang menderita episode manik akut dan untuk
klien yang sulit ditangani.
5) Kombinasi litium antikonvulsan sudah digunakan untuk gangguan bipolar siklus
cepat,
Tiga fase penatalaksanaan farmakologis yang digambarkan dalam panel Pedolaman
Depresi adalah fase akut, fase lanjut, dan fase pemeliharaan. Dalam fase akut gejalanya
ditangan, dosis obat dsisesuaikan untuk mencegah efek yang merugikan, dan klien diberikan
penyuluhan.pada fase lanjut klien dimonitor pada dosis efektif untuk mencegah terjadinya
kambuh. Pada fase pemeliharaan, seorang klien yang berisiko kambuh seringkali tetap diberi
obat baahkan selama waktu remisi. Untuk klien yang dianggap tidak berisikotinggi
mengalami kambuh, pengobatan dihentikan.
1) Selsctive serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) terbukti sudah sangat berguna untuk
menangani depresi, terutama karena obat tersebut lebih sedikit memiliki efek

antikolinergik yang merugikan, lebih sedikit toksisitas jantung, dan reaksi lebih cepat
daripada antidepresan trisiklik dan inhibitor oksidase monoamin (MAO)
2) Trisiklik dan inhibitor MAO, generasi pertama antidepresan, jarang digunakan sejak
adanya SSRI dan SSRIs atipikal.
3) Antipsikotik kadang-kadang digunakan untuk menangani gangguan tidur dan ansietas
sedang.
4) Dokter dapat memprogramkan, tetapi elektrokonvulsif(ECP) jika terdapat depsresi
hebat, klien sangat ingin mealkukan bunuh diri, atau jika klien tidak berespon terhadap
protokol pengobatan antidepresan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN ALAM PERASAAN
3.1 Pengkajian
1. Data demografi
1. Perawat mengkaji identitas klian meliputi : Nama klien, umur, jenis kelamin, status
perkawinan, agama, pekerjaan, tanggal MRS (Masuk Rumah Sakit), informan,
tangggal pengkajian, No Rumah klien dan alamat klien.
2. Alasan masuk
Tanyakan pada klien atau keluarga:
a. Apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke rumah sakit?
b. Apa yang sudah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah ini?
c. Bagaimana hasilnya?
3. Keluhan Utama
Keluhan biasanya berupa perasaan sedih dan berduka yang berkepanjangan (cemas apatis,
murung, kebencian, kekesalan, marah, perasaan ditolak, perasaan bersalah, merasa tidak
berdaya, putus asa, merasa sendirian, merasa rendah diri, merasa tak berharga)
4. Faktor Predisposisi
a.
Faktor genetik, mengemukakan transmisi gangguan alam perasaan diteruskan
melalui garis keturunan.
b.

Teori agresi berbalik pada diri sendiri, mengemukakan bahwa depresi


diakibatkan oleh perasaan marah yang yang dialihkan pada diri sendiri. Freud
mengatakan bahwa kehilangan obyek/orang, ambivalen antara perasaan benci dan
cinta dapat berbalik menjadi perasaan menyalahkan diri sendiri.

c.

Teori kehilangan, berhubungan dengan factor perkembangan misalnya


kehilangan orang tua pada masa anak, perpisahan yang bersifat traumatis denagn orang
yang sangat dicintai, individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.

d.

Teori kognitif, mengemukakan bahwa depresi terjadi sebagai akibat gangguan


perkembangan terhadap penilaian diri, yaitu penilaian negatif terhadap diri, sehingga
terjadi gangguan proses pikir. Individu menjadi pesimis dan memandang dirinya tidak
adekuat dan tidak berharga serta hidup sebagai tidak harapan.

e.

Model belajar ketidakberdayaan, mengemukakan bahwa depresi terjadi


karena individu mempunyai pengalaman kegagalan-kegagalan, lalu menjadi pasif dan
tidak mampu menghadapi masalah. Akhirnya timbul keyakinan individu akan
ketidakmampuannya mengendalikan kehidupannya sehingga ia tidak berupaya
mengembangkan respons yang adaptif.

f.

Model perilaku, mengemukakan bahwa depresi terjadi karena kurangnya


penguatan positif selama bereaksi dengan lingkungan.

g.

Model biologis, mengemukakan bahwa pada keadaan depresi terjadi


perubahan kimiawi, yaitu defisiensi katekolamin, tidak berfungsinya endokrin dan
hipersekresi kortisol.

5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang digunakan pada reaksi kehilangan yang memanjang adalah
denial dan supresi, hal ini dilakukan untuk menghindari tekanan yang hebat. Pada depresi
mekanisme koping yang digunakan adalah represi, supresi, mengingkari dan disosiasi.
Tingkah laku mania merupakan mekanisme pertahanan terhadap depresi yang diakibatkan
karena kurang efektifnya koping dalam menghadapi kehilangan.
6. Perilaku
Perilaku yang berhubungan dengan mania dan depresi bervariasi. Gambaran utama dari
mania adalah perbedaan intensitas psikologikal yang tinggi. Pada keadaan depresi
kesedihan dan kelambanan dapat menonjol atau dapat terjadi agitasi.

3.2 Analisa Data


Data Subjektif
a) Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara..
b) Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan hidup.
c) Merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
d) Klien mengatakan terjadi gangguan tidur
e) Klien mengatakan tidak tahan kritik
a) Klien mengatakan malas makan
b) Ambisi mudah terpengaruh
Data objectiv
a) Gerakan tubuh yang terhambat
b) Tubuh yang melengkung dan bila duduk dengan sikap yang merosot
c) Ekspresi wajah murung
d) Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan sering menangis.
e) Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong,
f) Konsentrasi terganggu,
g) Mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu.
h) Kegembiraan yang berlebihan
i) Peningkatan aktivitas
j) kurang perawatan diri
k) Agresif
l) Ekspresi wajah riang yang berlebihan
m) Banyak bicara dan pembicaraan mudah beralih dari satu topik ke topik lain
(flight of ideas)

3.3 Daftar Diagnosa


Menurut Depkes (2001) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan
gangguan alam perasaan :
1. Gangguan alam perasan berhubungan koping maladaftif
2. Resiko mencedrai orang lain dan diri sendiri berhubungan dengan halusinasi
3. Deficit perawatan diri berhubungan dengan malas beraktivitas
3.4 Intervensi Keperawatan (Dalam Bentuk SP)
Rencana Tindakan keperawatan ini terdiri dari tiga aspek yaitu : Tujuan Umum
berfokus pada penyelesaian suatu Permasalahan (P) dari diagnosa tertentu. Tujuan khusus
berfokus pada Etiologi (E) dari diagnosa tertentu. Rencana tindakan ini disesuaikan dengan
standar Asuhan Keperawatan Jiwa dengan karakteristik tindakan berupa : tindakan

psikoteraupetik, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri dan aktifitas hidup sehari-hari,


serta terapi modalitas kesehatan tindakan kolaborasi dan perawatan berkelanjutan (Keliat,
1999)

NO
1

DX

PERENCANAAN
Krikteria

Tujuan

Strategi pelaksanaan

Gangguan
alam

PASIEN :

perasaan:

Setelah dilakukan

SP I :

pertemuan dengan

depresi/ma

Mengajarkan

kliendengan

membina hubungan terapeutik

nia(koping

klien untuk

tindakan yang

dengan perawat

maladaptif)

berespons

diberikan:
klien dapat

1) Bina hubungan saling

emosional yang

adaptif
meningkatkan
rasa puas serta

terbina hubungan

Dalam membina hubungan

saling percaya
berespons

saling percaya perlu

kesenangan yang

emosional yang

dapat diterima

adaptif
Dapat

oleh lingkungan
membina
hubungan saling

percaya

dipertimbangkan agar pasien


merasa aman dan nyaman
saat berinteraksi dengan

mengindentifikas

perawat. Tindakan yang

i aspek psitif
Dapat menilai

harus saudara lakukan dalam


rangka membina hubungan

kemampuan yang
percaya

masih dapat di

gunakan.
Dapat memilih
kegiatan yang
akan dilatih
sesuai

saling percaya adalah:

Mengucapkan salam
terapeutikBerjabat

tangan
Perkenalkan diri

dengan klien
Lakukan interaksi

kemampuan

dengan pasien sesering

klien

mungkin dengan sikap


empat, dengan
menjelaskan tujuan

interaksi
Membuat kontrak
topik, waktu dan
tempat setiap kali

bertemu pasien
Dengarkan pemyataan
pasien dengan sikap
sabar empati dan lebih
banyak memakai
bahasa non verbal.
Misalnya: memberikan

sentuhan, anggukan
Bicara dengan nada
suara yang rendah,
jelas, singkat,
sederhana dan mudah

dimengerti
Terima pasien apa
adanya tanpa
membandingkan

2)

dengan orang lain.


identifikasi kemampuan
dan aspek positif yang

dialami pasien.
3) bantu pasien menilai
kemampuan yang masih
dapat di gunakan.
4) bantu pasien memilih
kegiatan yang akan dilatih
sesuai kemampuan klien
Klien dapat :
SP II :

Klien dapat
menyebutkan

Klien dapat menentukan cara

kegiatan dan

penyelesaian masalah

dipilh dan yang

(koping) yang konstruktif

sudah digunakan 1) Identifikasi bersama klien


menentukan cara
cara yang biasa digunakan
penyelesaian

untuk mengatasi perasaan

masalah (koping)

marah, kesal, atau sesuatu

yang konstruktif

yang tidak menyenangkan


2) Diskusikan manfaat dari
koping/cara yang telah
digunakan
3) Diskusikan tentang alternatif
cara untuk mengatasi
perasaan yang tidak
menyenangkan
4) Beri motivasi klien agar
memilih cara penyeleaian
masalah yang tepat serta

diskusikan konsekkuensi dari


cara yang dipilih
5) Anjurkan klien untuk
mencoba cara tersebut
Klien dapat :
SP III

menyebutkan
kegiatan dan

Pasien dapat menggunakan

dipilh dan yang

koping adaftif dan mengenali

sudah digunakan
menggunakan

dan mengekspresikan
emosinya

koping adaftif dan


mengenali dan
mengekspresikan
emosinya

1) evaluasi sp 1& 2
2) bantu klien untuk
mengungkapkan
perasaannya dan
mengatakan bahwa
perawat memahami apa
yang dirasakan pasien.
3) beri dukungan dan pujian
yang nyata sesuai
kemajuan yang
diperlihatkan paien
4) latih kemampuan/kegiatan
yang dipilih
5) masukan dalam jadwal
kegiatan pasien dengan
memodifikasi pola
kognitif.

Klien dapat :
SP IV:

menyebutkan
kegiatan dan
dipilh dan yang

Pasien dapat memodifikasi


pola kognitif yang negative

sudah digunakan 1) evaluasi Sp 1 & sp 2, dan SP


menggunakan
3
koping adaftif 2) Mengevaluasi jadwal harian
pasien.
dan mengenali
3) Menganjurkan pasien
dan
memasukkandalam jadwal
mengekspresikan
kegiatan harian
emosinya
4) Kuatkan perilaku
memodifikasi
pengendalian diri dan
pola kognitif
perilaku positif lain
yang negative
5) Diskusikan dengan klien
mengontrol
tentang obat untuk (dosis,
perilaku
frekuensi dan manfaat obat)
mania/depresi,ser
untuk mengontrol perilaku
ta minum obat
mania.
6) Bantu klien untuk
secara teratur
mengungkapkan
memastikan klien telah
perasaan setelah

minum obat teratur untuk

minum obat

mengontrol perilaku mania


(dengan prinsip 5 benar :
benar dosis, waktu, pasien,
cara pemberian, dan obat).
7) Motivasi klien untuk
mengungkapkan perasaan
setelah minum obat.

Setelah dilakukan

KELUARGA

pertemuan dengan
keluarga,

SP I :

Mampu mengenali

Keluarga mampu :

Klien dapat dukungan keluarga

persaan klien dan

dalam mengontrol alam

membantu member Mengenali persaan

perasaannya

dukungan kepada
klien

klien
Memberi dukungan
kepada
Klien
Member asuhan yang

1) Diskusikan dengan keluarga


tentang keadaan klien
2) Bantu keluarga untuk
memberikan asuhan yang

tepat
tepat kepada klien 3) Bantu keluarga untuk
Merencanakan
merencaranankan kegiatan
kegiatan yang
yang sesuai dengan keadaan
sesuai dengan
klien
keadaan klien
Keluarga :

Mengungkapkan
masalah yang
dirasakn
keluarga dalm
merawat pasien

SP II
1) Mendiskusikan masalah yang
di rasakan kelurga dalam
merawat pasien.
2) Menjelaskan pengertian,
tanda dan gejala dari
depresi/mania yang dialami
pasien beserta proses
terjadinya.
3) Menjelaskan cara merawat
pasien dengan g.ngguan alam
perasaan
4) Menganjurkan pasien
memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian

Keluarag mampu :

Menyebutkan
kegiatan yang

SP III:

sudah dilakukan 1) Melatihkeluarga


oleh keluarga

memprakktekan cara

terhadap pasien
merawat pasien
2)
Membantu keluarga
Memperagakan
cara merawat

membuat jadwa aktifitas

klien
Membuat jadwal

dirumah termasuk minum


obat (discharge planning

aktivitas dirmah
Keluarga mampu :
SP IV:

Menyebutkan
kegiatan yang

1) Evaluasi kemampuan

sudah dilakukan

keluarga
2) Menjelaskan follow up

oleh keluarga

pasien setelah pulang

terhadap pasien
Melaksanakan
follow up

NO
2

DX

Tujuan

Resiko
menderai

PASIEN :

diri sendiri

pertemuan dengan

Stertegi pelaksanaan

SP I :

klien ,dengan
Pasien :

& orang
lain

PERENCANAAN
Kriteria
Setelah dilakukan

tindakan yang

Klien terlindung dari perilaku

Setelah tindakan

diberikan Pasien

mencederai diri, orang lain dan

perawatan

mampu :

lingkungan.

diterapkan, klien

dapat berespon

Mengontrol

1) Tempatkan klien di ruang

emosional

yang tenang, tidak

emosional yang

/perilakunya dan

banyak rangsangan, tidak

adaptif dan

tidak menderai

meningkatkan

dirinya dan

banyak peralatan.
2) Identifikasi/ Jauhkan dan
simpan alat alat yang

rasa puas serta

orang lain
Mengontrol

dapat digunakan oleh

dapat diterima

halusinasi yang

dirinya,orang lain dan

oleh

dialaminya,dan

lingkungan, ditempat

lingkungan.Dan

mengontrol

tidak

peningkatan

mencederai

aktivitas yang

tanda-tanda marah /

orang

dapat

agresif. Seperti halusinasi

lain,maupun diri

membahaykan

Serta peningkatan

sendiri
mengontrol

dirnya dan orang

aktivitas yang dapat

senang yang

lain

halusinasinya

pasien untuk mencederai

yang aman dan terkunci.


3) Temani klien jika nampak

membahayakan klien
4) Jelaskan cara menghardik
halusinasi
5) Lakukan pengekangan
fisik jika klien tidak dapat
mengontrol perilakunya

pasien dapat :

Menggunakn

SP II

cara untuk
mengatsi sesuatu

1) Identifikasi bersama pasien

yang tidak

cara yang biasa digunakan

menyenangkan
Membuat jadwal

untuk mengatasi perasaan

kegiatan harian

kesal,marah atau sesuatu


yang tidak menyenangkan
2) Identifikasi dan nilai pola
koping yang biasa
diterapkan pasien
3) Bersama klien
merencankan kegiatan
jadwal harian
4) Dorong pasien menrapkan

pola konstruktf atau hal


positf dalam kegiatan
harian
pasien dapat :

Mmneybutkan

SP III

kemampuan dan
kegiatan yang

sudah dilkukan
Menyebutkan
jadwal kegiatan
harian

1) Evaluasi Sp 2
2) Beri dorongan pasien
melakukan kegiatan dalam
rangka meraih masa depan
yang realistis
3) Tetapkan batasan-btasan
terhadap tingkah laku
negative
4) . Kuatkan perilaku
pengendalian diri dan
perilaku positif lainnya

Pasien dapat :

Mmneybutkan

SP IV

kemampuan dan
kegiatan yang

sudah dilkukan
Menyebutkan

1) Evaluasi Sp II & III


2) Diskusikan dengan klien
tentang manfaat

jadwal kegiatan

pemberian obat untuk

harian
Mengerti

mengontrol perilaku

manfaat obat dan


meminumnya
secra teratur

depresi/maniak
3) Bantu klien untuk
memastika klien minum
obat dengan prinsip 5B
4) Motivasi klien untuk
mengungkapkan perasaan
setelah minum obat.

Setelah dilakukan

KELUARGA

pertemuan dengan

mampu merawat

keluarga,Keluarga

pasien dengan

dapat :

resiko mencedrai

SP I
1) Diskusikan dengan

Merawat pasien

masalah yang dirasak

diri sendir dan

dengan resiko

keluarga dalam merawat

orang lain

mencedrai
Mengatakan

pasien
2) Jelaskan pengertian

masalah yang

,tanda dan gejal, serta

dirsakan

penyebab dari resiko

merawat pasien
iMengatakan

menderai
3) Bantu keluarga untuk
memberikan asuhan yang

mengerti
tentang resiko
mencedrai yang

tepat
4) Jelaskan cara merawat
klien dengan resiko

dialami pasien

mencedrai diri sendir dan


orang lain

Keluarga mampu :

Mengatakan

SP II

mengerti tentang
resiko mencedrai
yang dialami

pasien
Menyebutkan/me
njelaskan cara
merawat klien
dengan resiko

mencederai
Memperagakan/

1) Evaluasi SP I
2) Latih keluarga melakukan
cara merawat,langsung
kepada pasien pasien
dengan resiko mencederai
3) Susun dan masukan dalm
jadwal untuk merawat
pasien
4) bantu keluarga membuat
rencana jadwal aktivitas

mempraktekanya

dirumah termasuk minum

langsung pada

obat

pasien
Membuat jadwal
kegiatan untuk

merawat pasien
Menyebutkan
jadwal untuk
merawat pasien

Keluarga mampu :

Menyebutkan
jadwal untuk

SP III

merawat pasien
Menyebutkan

1) Evaluasi SP I,II
2) Jelaskan follow up setelah
pulang

kegiatan yang
sudah
dilakukan,termas
uk minum obat

NO
3

DX

Tujuan

Defisit

PERENCANAAN
Krikteria
Setelah dilakukan

pereawatan

PASIEN

pertemuan dengan

diri

Pasien mampu :

pasien, dengan

strategi pelaksanaan

SP I :

Melakukan

tindakan yang

kebersihan

diberikan

penyebab defisit

diri secara

pasien dapat

perawatan diri pasien :

mandiri
Melakukan

menjelaskan

Diskusikan bersama

pentingnya :

pasien penyebab perilaku

berhias

Kebersihan diri

1) Mengidentifikasi

/berdandan

secara baik
Melakukan
makan

dengan baik
Melakukan
BAB/BAK
seara mandiri

Berdandan/berhi

as
Makan
BAB/BAK
Dan mampu
melakukan cara

merawat diri
Serta
mengungkapkan
perasaan ketika
tidak melakukan
perawatan diri

malas untuk melakukan


perawatan diri:
Kebersihan diri
Berdandan/berhias
Makan/minum
BAB/BAK
2) Mengidentifikasi hal-hal
yang dapat menghambat
aktivitas klien
3) Menjelaskan pentingnya
kebersihan diri
4) Kaji pengetahuan klien
tentang kebersihan diri
5) Jelaskan alat dan cara
kebersihan diri
6) Beri kesempatan kepada
klien untuk
mengungkapkan perasaan
ketika tidak melakukan
perawatan diri
7) Diskusikan kepada klien
tentang pentingnya
kebersihan untuk diri
8) Menjelaskan cara berhias
diri
9) Diskusikan bersama klien
tentang aktivitas yang
akan dilakukan setiap hari
sesuai kemampuan klien
10) Menganjurkan klien
memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian

Pasien dapat :

Menyebutkan

SP II :

kemampuan
yang dapat

dilkukan
Menyebutkan
jadwal

1) Evaluasi SP I
2) Berdiskusi dengan pasien
tentang cara menjaga

kegiatan/aktivit

kebersihan diri:
a) Menjelaskan berapa kali

as harian
Mempraktekan

sehari mandi
b) Menjelaskan cara
menggosok gigi yang

cara menjga
kebersihan diri
dan perawatan
diri

benar
c) Menjelaskan waktu
memotong kuku
d) Mencuci rambut
e) Mensjelaskan cara
eliminasi yang baik.
(BAB/BAK) :
Menjelaskan tempat

BAB/BAK yang baik


Menjelaskan cara
membersihkan diri

setelah BAB/BAK
3) Membantu pasien
mempraktekkan cara
eliminasi yang baik
4) Diskusikan bersama klien
tentang aktivitas yang akan
dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan klien
5) memasukkan dalam jadwal
kegiatan harian
Pasien dapat :

Menyebutkan

SP III

kemampuan
yang sudah

dilkukan
Mempraktekan
cara menjga

1) Evaluasi SP 1& 2
2) Jelaskan pentingnya
berhias diri/berdandan
3) Latih cara berdandan:
a) Untuk pasien laki-laki

kebersihan diri
dan perawatan

diri
Memasukan
dalam jadwal
kegiatan harian

misalnya meliputi cara :


Berpakaian
Menyisir rambut
Bercukur
b) Untuk perempuan :
Berpakaian
Menisir rambut
Berhias
4) Masukan dalam jadwal
kegiatan harian

Pasien dapat :

Menyebutkan
kemampuan
yang sudah

dilkukan
Mempraktekan

SP IV
1.
& III
2.

Jelaskan cara
dan alat makan yang benar

cara menjga

:
a) Jelaskan cara

kebersihan diri
dan perawatan

Evaluasi SP 1,II

mempersiapkan

diri
Memasukan

makanan
b) Jelaskan cara

dalam jadwal

merapikan peralatan

kegiatan harian

makan stelah makan


c) Prktekan makan sesuai
dengan tahapan makan
3.

yang baik
Latih kegiatan
makan

4.

Masukan dalam
jadwal kegiatan pasien

Setelah pertemuan

KELUARGA
Keluarga mampu:
Merawat anggota
keluarga yang

keluarga, kelurga
mampu :

mengalami masalah
kurang perwatan diri

1) Identifikasi masalah

Mengatakan

dalam merawat pasien

masalah dalam

dengan masalah :

merawat pasien

(Kebersihan diri,

dengan pasien

berdandan,makan,BAB/B

defist perawatan

SP I

diri
Mengetahui dan
mengerti cara

AK)
2) Jelaskan deficit
perawatan diri
3) Jelaskan cara
merawat(Kebersihan diri,

menjaga/meraw
at pasien
dengan deficit

berdandan,makan,BAB/B
AK)
4) Bermain peran cara

perawatan diri
Keluarga mampu :

Meneruskan

merawat
SP II

melatih pasien
dan mendukung
agar kemampuan
pasien dalam
perawatan
dirinya

1) Evaluasi SP 1
2) Latih keluarga langsung
ke pasien, kebersihan
diri, dan berdandan
3) Masukan dalam jadwal
untuk merawat pasien

meningkat
Mempraktekanya
langsung kepada

pasien
keluarga dapat :

Meneruskan

SP III

melatih pasien
dan mendukung

1) E valuasi SP 2
2) Latih keluarga merawat

agar kemampuan

langsung ke pasien cara

pasien dalam

makan
3) masukan dalam jadwal

perawatan
dirinya

untuk merawat

meningkat
Mempraktekanya
langsung kepada

pasien
Keluarga
:Mempraktekan

SP IV

ya langsung

kepada pasien
Pasien :
perawatan
dirinya
meningkat

3.5 Pohon Masalah

Resiko mencederai orang lain dan diri sendiri

1) Evaluasi kemampuan
keluarga
2) Evaluasi kemampuan
pasien
3) Follow up

Halusinasi

Gangguan alam
perasaan

Deficit perawatan
diri

Malas
beraktivitas

Koping maladaptive
(depresi/maniak)

Factor
prediposisi/presipitasi

BAB IV
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Gangguan alam perasaan adalah kelainan psikologis yang ditandai meluasnya irama
emosional seseorang, mulai dari rentang depresi sampai gembira yang berlebihan (euphoria)
dan gerak yang berlebihan (agitation). Depresi dapat terjadi secara tunggal dalam bentuk
mayor depresi atau dalam bentuk lain seperti mania sebagai gangguan tipe bipolar. Depresi

terdapat klasifikasi dan tingkatan nya. Tanda dan gejala yang timbul pada depresi bisa
bermacam-macam karena tiap individu itu unik.
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya depresi. Bisa karena faktor prepitasi
maupun faktor prediposisi. Asuhan keperawatan yang dibeikan pada pasien berbeda-beda.
Hal ini dikarenakan pasien dengan gangguan alam perasaan menunjukkan pribadi yang unik.
5.2 Saran
Kesehatan jiwa dapat didapatkan dengan jalan ada kesinkronan antara pasien,
keluarga dan tenaga medis dalam upaya proses penyembuhan. Jika salah satu dari komponen
tersebut, maka akan menghambat proses penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.


Stuart, Gail W. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 5).Jakarta: EGC.
Maramis, dkk. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa (Edisi 2). Surabaya: Airlangga
University Press

Anonymous. (2009). Commersial: Asuhan pada Pasien Gangguan Alam Perasaan/Depresi.


Diakses 5 April 2011, dari Grahachendekia website:
http://grahacendikia.wordpress.com/2009/04/23/asuhan-pada-pasien-gangguan-alamperasaan-depresi/.
Anonymous. (2009). Commersial: Depresi dan insomnia. Diakses 5 April 2011, dari
Universitas

Padjajaran

website:

http://perawat-jiwa.blogspot.com/

Depresi.dan.Insomnia.Gangguan.Alam.Perasaan .depresi.htm.
Anonymous. (2011). Commersial: Askep Jiwa Gangguan Alam Perasaan: Depresi. Diakses
5 April 2011, dari http://www.kumpulanaskep.com/
Lailan, N. M. (2009). Gangguan Alam Perasaan: Menarik Diri. (Pdf).
http://widayantibhayangkari.wordpress.com/2013/01/20/asuhan-keperawatan-pada-kliengangguan-alam-perasaan-depresi-dan-mania/

Anda mungkin juga menyukai