Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dewasa ini tablet merupakan sediaan yang lebih disukai oleh para dokter

maupun pasien dibandingkan dengan sediaan dalam bentuk lain. Hal ini
disebabkan karena disamping cara penggunaannya yang mudah, dosisnya lebih
terjamin, relatif stabil dalam penyimpanan karena tidak mudah teroksidasi oleh
udara, transportasi dan distribusinya tidak sulit sehingga mudah dibawa sampai
kepada pemakai. Secara ekonomis, sediaan ini relatif lebih murah harganya,
memberikan dosis yang tepat dari segi analisis kimia, bentuknya kompak dan
mudah transportasinya, memberikan kestabilan pada unsur-unsur aktifnya.
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Selain mengandung zat aktif, dalam pembuatan tablet diperlukan
bahan-bahan tambahan yaitu bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin dan
pewarna. Bahan tambahan ini memegang peranan penting dalam pembuatan
tablet dengan syarat bahan tambahan yang digunakan pada pembuatan tablet
harus inert, tidak toksik dan mampu melepaskan obat dalam keadaan relatif
konstan pada jangka waktu tertentu.
Sediaan tablet merupakan sediaan yang paling banyak diproduksi dan juga
banyak mengalami perkembangan dalam formulasinya. Salah satunya adalah
tablet parasetamol yang merupakan salah satu produk yang beredar dipasaran.
Oleh karena itu untuk mendukungnya dibutuhkan produksi yang cepat,
penampilan baik dan stabil.
Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik
ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal
dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Efek analgetik
parasetamol dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol menghilangkan nyeri, baik secara sentral maupun secara perifer.
Secara sentral parasetamol bekerja pada hipotalamus sedangkan secara perifer,
mampu menghambat pembentukan prostaglandin di wilayah atau area inflamasi,
mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau

kimiawi. Efek antipiretik dapat menurunkan suhu demam. Efek samping terjadi
reaksi hipersensitivitas dan pada penggunaan kronis dapat terjadi kerusakan hati
(Wilmana, 1995).
Pembuatan tablet parasetamol memiliki banyak kesulitan karena daya alir
(fluiditas) dan kompaktibilitas parasetamol yang rendah sehingga dapat
menimbulkan kesulitan sewaktu pengempaan, oleh karena itu diperlukan upaya
untuk meningkatkan kompaktibilitas dan fluiditasnya agar dapat dibentuk
menjadi tablet dengan sifat fisik yang baik. Pembuatan tablet dengan sifat
kompaktibilitas dan fluiditas yang rendah, paling tepat jika digunakan metode
granulasi basah (Sheth et al, 1980).
Granulasi basah merupakan salah satu cara pembuatan tablet metode cetak
tidak langsung, yang lebih banyak digunakan dibandingkan dengan cara lain.
Granul yang dihasilkan lebih spheris sehingga tablet yang dihasilkan biasanya
lebih kompak (Soekemi, dkk., 1987). Dalam penggunaan metode granulasi
basah ataupun metode lainnya seperti metode granulasi kering, granul yang
sudah terbentuk perlu dievaluasi karena evaluasi inilah yang akan menentukan
proses pembuatan layak dilanjutkan atau tidak atau jika perlu harus dimodifikasi
dalam formula yang dibuat, selanjutnya tablet yang telah dicetakpun secepatnya
harus dievaluasi karena tahap ini akan menentukan sediaan tablet yang
dihasilkan memenuhi persayaratan sekaligus layak diedarkan atau tidak.
Evaluasi granul meliputi evaluasi kecepatan aliran baik menggunakan
metode corong ataupun metode sudut istirahat, kelembaban, bobot jenis meliputi
bobot jenis nyata, bobot jenis mampat, bobot jenis sejati, kadar pemampatan,
perbandingan hausner, persen kompresibilitas, serta granulometri. Untuk
evaluasi tablet yaitu evaluasi secara organoleptis meliputi bau, warna, rasa, lalu
keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, friabilitas, keseragaman
kandungan, waktu hancur, dan disolusi.
Oleh karena itu formulasi, metode pembuatan, cara pembuatan, dan
evaluasi sangat diperlukan untuk menentukan kualitas dari tablet yang
dihasilkan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka ditarik rumusan masalah sebagai
berikut:
2

a. Apakah yang dimaksud dengan sediaan tablet?


b. Apa saja macam-macam bentuk sediaan tablet?
c. Apa saja penggolongan sediaan tablet?
d. Bagaimana cara pemakaian sedian tablet?
e. Apa saja komponen dalam sediaan tablet?
f. Apa tujuan dari penyalutan tablet itu sendiri?
g. Bagaimana cara pembuatan obat yang baik (CPOB)?
h. Apa saja metode dalam pembuatan sediaan tablet?
i. Apa saja macam-macam kerusakan pada pembuatan tablet?
j. Apa saja syarat-syarat dari sediaan tablet dan jelaskan?
k. Bagaimana evaluasi dari sediaan tablet?
1.3. Tujuan Makalah
Sesuai rumusan masalah diatas, maka tujuan pembuatan makalah adalah
sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui dan menjelaskan definisi sediaan tablet
b. Untuk mengetahui macam-macam bentuk sediaan tablet
c. Untuk mengetahui dan menjelaskan penggolongan sediaan tablet
d. Untuk mengetahui pemakaian sediaan tablet
e. Untuk mengetahui dan menjelaskan komponen yang terdapat dalam sediaan
f.
g.
h.
i.
j.
k.

tablet
Untuk mengetahui tujuan dari penyalut pada tablet
Untuk mengetahui dan menjelaskan cara pembuatan obat yang baik (CPOB)
Untuk mengetahui dan menjelaskan metode dalam pembuatan sediaan tablet
Untuk mengetahui macam-macam kerusakan pada pembuatan tablet
Untuk mengetahui dan menjelaskan syarat-syarat dari sediaan tablet
Untuk mengetahui evaluasi pada suatu sediaan tablet

1.4. Kegunaan Makalah


Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara
teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis, makalah ini berguna untuk
menambah wawasan, terutama tentang hal yang berkaitan dengan pembuatan
sediaan tablet metode granulasi basah. Secara praktis makalah ini diharapkan
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Tablet
Tablet adalah bentuk sediaan padat yang terdiri dari satu atau lebih bahan
obat yang dibuat dengan pemadatan, kedua permukaannya rata atau
cembung.Tablet memiliki perbedaan dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan,
ketebalan. Kebanyakan tipe atau jenis tablet dimaksudkan untuk ditelan dan
kemudian dihancurkan dan melepaskan bahan obat ke dalam saluran
pencernaan.Tablet dapat diartikan sebagai campuran bahan obat yang dibuat

dengan dibantu zat tambahan yang kemudian dimasukan kedalam mesin untuk
dikempa menjadi tablet.
a. Menurut FI Edisi IV
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi.
b. Menurut USP 26 (hal : 2406)
Tablet adalah sediaan bentuk padat yang mengandung obat dengan atau
tanpa

bahan

pengisi.

Berdasarkan

metode

pembuatannya,

dapat

diklasifikasikan sebagai tablet atau tablet kompresi.


c. Menurut British Pharmacopeae ( BP 2002)
Tablet adalah Sediaan padat yang mengandung satu dosis dari beberapa
bahan aktif dan biasanya dibuat dengan mengempa sejumlah partikel yang
seragam.
d. Menurut Formularium Nasional Edisi II
Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat dengan cara kempa
cetakdalam bentuk umumnya tabung pipih yang kedua permukaannya rata
atau cembung, mengandung obat dengan atau tanpa zat pengisi.
e. Menurut ANSEL Edisi IV
Tablet adalah bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat
dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai.
f. Menurut Buku Pelajaran Teknologi Farmasi
Tablet adalah sediaan obat padat takaran tunggal. Sediaan ini dicetak dari
serbuk kering, kristal atau granulat,umumnya dengan penambahan bahan
pembantu,pada mesin yang sesuai dengan menggunakan tekanan tinggi.
Tablet dapat memiliki bentuk silinder,kubus, batang dan cakram serta
bentuk seperti telur atau peluru.
g. Menurut FI edisi III 1979
Tablet adalah sediaan padat, dibuat secara kempa cetak berbentuk rata
atau cembung rangkap, umumnya bulat mengandung satu jenis obat atau
lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat
berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelican, zat
pembasah atau zat lain yang cocok.
2.2. Macam macam bentuk tablet
a. Sinder
b. Bentuk kubus
c. Bentuk cakram
d. Bentuk bundar

e.
f.
g.
h.
i.
j.

Bentuk batang
Bentuk telur/peluru
Bentuk pipih/sirkuler
Bentuk oval
Bentuk cincin
Bentuk segitiga,segi empat,segi lima, banyak segi, segiempat,

panjang, bentuk hati.


2.3. Penggolongan Tablet
A. Berdasarkan Metode Pembuatan
1. Tablet cetak
Dibuat dari bahan obat dan bahan pengisi, umumnya
mengandung laktosa dan serbuk sukrosa salam berbagai
perbandingan. Massa dibasahi dengan Etanol prosentasi tinggi
kadar Etanol tergantung dengan kelarutan zat aktif dan bahan
pengisi dalam pelarut, serta kekerasan tablet yang diinginkan.
Pembuatan dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan
tekanan rendah pada lubang cetakan. Kemudian dikeluarkan dan
dibiarkan kering. Tablet cetak agak rapuh sehingga tablet dapat di
potek

dan

harus

pendistribusiannya.,

hati-hati
besar

saat

tekanan

pengemasan
pada

tablet

dan
25-50

bar.Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan kristal yang


terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan
yang diberikan.
2. Tablet kempa
Tablet kempa didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat
yang dibuat dengan cara pengempaan dari sebuah formula dengan
memberikan tekanan tinggi (tekanan di bawah beberapa ratus
kg/cm2) pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja.
Umumnya tablet kempa mengandung zat aktif, bahan pengisi,
bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan, tetapi dapat juga
mengandung bahan pewarna, bahan pengaroma, dan bahan
pemanis.Tablet biasanya mempunyai ketebalan kurang dari
diameternya.Tablet kempa ganda, tablet kempa yang dibuat
dengan lebih dari satu kali siklus tekanan.
B. Berdasarkan Distribusi Obat dalam Tubuh

1. Untuk pengobatan local


a. Tablet untuk vagina (ovula), digunakan sebagai anti infeksi,
anti fungi, hormon local.
b. Tablet untuk penis (basila), di gunakan sebagai anti infeksi
c. Tablet hisap (lozenges) untuk mulut dan tenggorokan
2. Untuk pengobatan sistemik, per oral. Tablet yang bekerja
sistemik dapat dibedakan menjadi
a. Short acting/ jangka pendek : dalam satu hari memerlukan
beberapa kali menelan obat. Obat bekerja tidak lebih dari 8
jam
b. Long acting/ jangka panjang : dalam satu hari cukup menelan
satu tablet. Obat bekerja tidak lebih dari 8 jam.
C. Berdasarkan Jenis Bahan Penyalut
1. Tablet salut biasa / salut gula (dragee),
Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapisan
gula baik berwarna maupun tidak. Lapisan gula berasal dari
suspensi dalam air mengandung serbuk yang tidak larut, seperti
pati, kalsium karbonat, talk, atau titanium dioksida yang
disuspensikan dengan gom akasia atau gelatin.
2. Tablet salut selaput (film-coated tablet),
Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna atau
tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat
di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali.
Disalut dengan hidroksi propil metil selulosa, metil selulosa,
hidroksi propil selulosa, Na-CMC, dan campuran selulosa asetat
ftalat dengan PEG yang tidak mengandung air atau mengandung
air.
3. Tablet salut kempa
Adalah tablet yang disalut secara kempa cetak dengan
massa granulat yang terdiri atas laktosa, kalsium fosfat, dan zat
lain yang cocok. Mula-mula dibuat tablet inti, kemudian dicetak
lagi bersama granulat kelompok lain sehingga terbentuk tablet
berlapis (multi layer tablet). Tablet ini sering di gunakan untuk
pengobatan secara repeat action.
4. Tablet salut enteric (enteric-coated tablet), atau lepas tunda

Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat


yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut
dalam usus halus. maka diperlukan penyalut enterik yang
bertujuan untuk menunda pelepasan obat sampai tablet melewati
lambung. Bahan yang sering digunakan adalah alol, keratin,
selulosa acetat phtalat.
5. Tablet lepas lambat
Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga
tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek
terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan
sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi zat aktif dalam darah
cukup untuk beberapa waktu tertentu. (misal tablet lepas lambat 6
jam, 12 jam, dsb).
6. Tablet berlapis
Tablet yang disiapkan dengan pengempaan granuler tablet
pada granulasi yang baru dikempa. Proses ini dapat diulangi
untuk menghasilkan tablet berlapis banyak dari 2 atau 3 lapisan.
2.4. Berdasarkan Cara Pemakaian
1. Tablet biasa / tablet telan.
Dibuat tanpa penyalut, digunakan per oral dengan cara ditelan,
pecah di lambung.
2. Tablet kunyah (chewable tablet)
Bentuknya seperti tablet biasa, cara pakainya dikunyah dulu dalam
mulut kemudian ditelan, umumnya tidak pahit. Dimaksudkan untuk
dikunyah sehingga meninggalkan residu yang memberikan rasa enak
di mulut.Diformulasikan untuk anak-anak, antasida dan antibiotic
tertentu. Dibuat dengan cara dikempa .biasanya digunakan manitol,
sorbitol dan sukrosa sebagai pengikat dan pengisi. Tablet kempa yang
mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum
ditelan.
3. Tablet hisap (lozenges, trochisi, pastiles)
Sediaan padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat,
umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis, yang membuat
tablet melarut atau hancur perlahanlahan dalam mulut. Tablet yang
mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan
8

untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput
lendir mulut. Tablet ini dibuat dengan cara tuang disebut pastilles atau
dengan cara kempa tablet menggunakan bahan dasar gula disebut
trochisi. Umumnya mengandung antibiotic, antiseptic, adstringensia.
4. Tablet larut (effervescent tablet)
Dibuat dengan cara dikempa. Selain zat aktif, tablet mengandung
campuran zat asam dan natrium bikarbonat yang jika dilarutkan
dengan air akan menghasilkan CO2. Diberi wadah yang tertutup rapat
dan terlindung dari lembab, di etiket diberi tanda bukan untuk
ditelan.

Tablet

ini

harus

dilarutkan

dalam

air

baru

diminum.Contohnya Ca-D-Redoxon, tablet efervesen Supradin.


5. Tablet Implantasi (Pelet)
Tablet kecil, bulat atau oval putih, steril, dan berisi hormon steroid,
dimasukkan ke bawah kulit dengan cara merobek kulit sedikit,
kemudian tablet dimasukkan, dan kulit dijahit kembali. Zat khasiat
akan dilepas perlahan-lahan. Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin
tablet harus steril. Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (Untuk
KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan).
6. Tablet hipodermik (hypodermic tablet)

Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah larut/melarut


sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan
injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril (FI IV).
Umumnya berbobot 30 mg dan disuntikkan di bawah kulit
(subkutan).Dilarutkan

lebih

dahulu

sebelum

dijadikan

injeksi

hipodermik.
7. Tablet bukal (buccal tablet)

Digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi dan gusi,


sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui mukosa mulut.
Tablet biasanya berbentuk oval, keras dan berisi hormon. Bekerja
sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang
lama (secara perlahan).
8. Tablet sublingual
Digunakan dengan cara meletakkan tablet di bawah lidah sehingga
zat aktif secara langsung melalui mukosa mulut, diberikan secara oral.

Tablet kempa berbentuk pipih yang berisi nitrogliserin. Biasanya


untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris)
sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi efek terapi.
Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah.
9. Tablet vagina (ovula)
Tablet kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan
dalam vagina yang di dalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat
aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik, astringen. Digunakan
untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian
steroid dalam pengobatan sistemik. Tablet vagina mudah melemah dan
meleleh pada suhu tubuh, dapat melarut dan digunakan sebagai obat
luar khusus untuk vagina.
10. Tablet Rektal
Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara
rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik.
2.5. Komponen Tablet
Komponen atau formulasi tablet kempa terdiri dari zat aktif bahan pengisi,
bahan pengikat, desintegran, dan lubrikan, dapat juga mengandung bahan
pewarna, yang diabsorpsikan pada alumunium hidroksida yang tidak larut yang
di izinkan pada pengaroma dan bahan pemanis.
a. Zat aktif
Secara luas obat atau bahan aktif yang diberikan secara oral dalam bentuk
tablet dikelompokkan menjadi :
Zat Aktif Tidak Larut Air (Insoluble Drugs)
Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek lokal pada

saluran pencernaan (seperti antasida dan adsorben).


Zat Aktif Larut Air (Suluble Drugs)
Zat ini cenderung digunakan untuk memberikan efek sistemik

dengan terdisolusi dan terabsorpsi pada usus.


b. Eksipien atau bahan tambahan
Eksipien adalah zat yang bersifat inert secara farmakologi yang digunakan
sebagai zat pembantu dalam formulasi tablet untuk memperbaiki sifat zat
aktif, membentuk tablet dan mempermudah teknologi pembuatan tablet.
Eksipien harus memiliki kriteria sebagai berikut :
c. Bahan pengisi (diluent)

10

Berfungsi untuk memperbesar volume massa agar mudah di cetak atau di


buat. Bahan pengisi di tambahkan jika zat aktif sedikit sulit dikempa
biasanya digunakan Saccharum lactis, Amylum manihot, calcii phospas,
calcii carbonas dan zat lain yang cocok.
d. Bahan pengikat (binder)
Dimaksudkan agar tablet tidak pecah atau retak, dapat merekat.Biasanya
yang digunakan adalah mucilago Gummi Arabici 10 -20 % (panas solutio
Mythylcellulosum 5%).
e. Bahan penghancur/pengembang(disintegrant)
Dimaksudkan agar tablet dapat hancur dalam perut.Biasanya yang
digunakan adalah amilum manihot kering, gelatinum, agar agar, natrium
alginat.
f. Bahan pelicin (lubrikan/lubricant)
Berfungsi mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga
berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan(matrys).
Biasanya digunakan talkum 5 %,Magnesium stearas,Acidum Stearicum.
g. Perbaikan Aliran atau Glidan
Bahan yang dapat meningkatkan kemampuan, mengalir serbuk, umumnya
di gunakan dalam kempa langsung tanpa proses granulasi. misal: silika
pirogenik koloidal.
h. Bahan Penyalut
Untuk maksud dan tujuan tertentu tablet disalut dengan zat penyalut yang
cocok,biasanya berwarna atau tidak.
i. Adjuvant
Adjuvant adalah zat tambahan dalam formula sediaan obat yang
ditambahkan dalam jumlah kecil untuk maksud pemberian warna, penawar
bau, dan rasa.Contohnya :
j. Bahan pewarna (coloris agent)
Berfungsi untuk menutupi warna obat yang kurang baik, identifikasi
produk, dan untuk membuat suatu produk lebih menarik.
Tabel Jenis pewarna (sintetik yang biasa digunakan)

Pewarna
Red 3
Red 40
Yellow 5
Yellow 6
Blue 1

Nama umum
Erytrosine
Allura red AC
Tartrazine
Sunset Yellow
Brilliant Blue
11

k. Pemanis dan pemberi rasa (Sweetners dan Flavor)


Penambahan pemanis dan pemberi rasa biasanya hanya untuk tablet-tablet
kunyah, hisap, buccal, sublingual, effervesen dan tablet lain yang
dimaksudkan untuk hancur atau larut di mulut.
Tabel beberapa pemanis yang biasa digunakan :
Pemanis Alami
Pemanis Sintetis atau Buatan
Mannitol
Sakarin
Lactosa
Siklamat
Sukrosa
Aspartame
Dektrosa
2.6. Tujuan Penyalutan Tablet
a. Melindungi zat aktif yang bersifat higroskopis atau tidak tahan pada
pengaruh udara , kelembapan dan cahaya.
b. Menutupi rasa dan bau yang tidak enak
c. Membuat penampilan yang lebih baik dan menarik
d. Mengatur tempat pelepasan obat dalam saluran cerna. Misalnya tablet
enteric yang pecah di usus.
2.7. Cara Pembuatan Obat yang Baik ( CPOB )
Bahan obat dan zat-zat tambahan umumnya berupa serbuk yang tidak
dapat langsung dicampur dan dicetak menjadi tablet karena akan langsung
hancur dan tablet menjadi mudah pecah.Campuran serbuk itu harus di ubah
menjadi granul,yaitu kumpulan serbuk dengan volumelebih besar yang saling
melekat

satu

samma

lain.

Cara

merubah

serbuk

menjadi

granuldisebutgranulasi.Tujuan granulasi adalah:


1. Supaya sifat alirannya baik (free-flowing). Granul dengan volume tertentu
dapat mengalir teratur dalam jumlah angkasama kedalam mesin cetak tablet.
2. Ruang udara dalam bentuk granul jumlahnya lebih kecil jika di bandingkan
dengan bentuk serbuk jika di ukurdalam voume yang sama. Makin banyak
udaranya, tablet makin mudah pecah.
3. Agar pada saat di cetak tidak mudah melekat pada steampel (punch) dan
mudah lepas dari matriks (die).
Salah satu syarat bahan pembantu yang digunakan untuk pembuatan tablet
adalah harus netral, tidak berbau,tidak berasa dan lebih baik tidak berwarna.

12

Bahan-bahan tambahan yang digunakan pada pembuatan tablet dapat


dikelompokkan sesuai dengan fungsinya yaitu sebagai:
1. bahan pengisi,
2. bahan pengikat,
3. bahan pelincir (termasuk bahan pengatur aliran,bahan pelican dan bahan
pemisah bentuk),
4. bahan penghancur,
5. bahan penahan lembab, bahan peng adsorpsi dan bahan penghambat
kelarutan.
2.8. Metode Pembuatan Tablet
a. Metode Granulasi Basah
Metode granulasi basah ini merupakan salah satu metode yang
paling sering digunakan dalam memproduksi tablet kompresi.
Langkah-langkah yang diperlukan dalam pembuatan tablet dengan
metode granulasi basah ini dapat dibagi sebagai berikut, yaitu
menimbang dan mencampur bahan-bahan yang diperlukan dalam
formulasi, pembuatan granulasi basah, pengayakan adonan lembab
menjadi pelet atau granul, kemudian dilakukan pengeringan,
pengayakan kering, pencampuran bahan pelicin, dan pembuatan tablet
dengan kompresi.
Keuntungan metode granulasi basah:
1. Meningkatkan kohesifitas dan kompaktibilitas serbuk sehingga
diharapkan tablet yang dibuat dengan mengempa sejumlah granul
pada tekanan kompresi tertentu akan menghasilkan bentuk tablet
yang bagus, keras, dan tidak rapuh.
2. Mencegah segregasi komponen penyusun tablet yang telah
homogen sebelum proses pencampuran.
3. Zat-zat yang bersifat hidrofob, dapat memperbaiki kecepatan
pelarutan zat aktif dengan perantara cairan pelarut yang cocok
dengan bahan pengikat.
Kekurangan metode granulasi basah:
1. Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidas.
2. Biaya cukup tinggi.
3. Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat
dikerjakan dengan cara ini. Untuk zat termolabil dilakukan
dengan pelarut.
b. Metode Granulasi Kering (Slugging)
13

Metode ini telah digunakan bertahun-tahun dan merupakan bentuk


yang berharga terutama pada keadaan dimana dosis efektif terlalu
tinggi untuk kempa langsung dan bahan-bahan yang digunakan peka
terhadap

pemanasan,

kelembaban

atau

keduanya.Metode

ini

khususnya untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode


granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap air atau karena
untuk mengeringnyadiperlukan temperatur yang dinaikkan. Tahap
pembuatan ini yaitu partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa
campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah
lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari
serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat
granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut,
ikatannya didapat melalui gaya.
Keuntungan cara granulasi kering adalah:
1. Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan
pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan
waktu
2. Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab
3. Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat
Kekurangan cara granulasi kering adalah:
1. Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug
2. Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam
3. Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan
terjadinya kontaminasi silang
c. Metode Cetak Langsung
Metode ini digunakan untuk bahan yang mempunyai sifat mudah
mengalir sebagaimanasifat-sifat kohesinya yang memungkinkan untuk
langsung dikompresi dalam tablet tanpa memerlukan granulasi basah
atau kering. Keuntungan utama dari metode ini adalah bahwa bahan
obat yang peka terhadap lembab dan panas, yang stabilitasnya
terganggu akibat operasi granulasi, dapat dibuat menjadi tablet. Akan
tetapi dengan meningkatnya tuntutan akan kualitas tablet, maka
metode ini tidak diutamakan.
Keuntungan metode kempa langsung yaitu :
1. Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit

14

2. Lebih singkat prosesnya.


3. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak
tahan lembab
4. Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati
proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa
langsung berisi partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari
granul ke partikel halus terlebih dahulu.
Kerugian metode kempa langsung :
1. Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif
dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul
yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya
kandungan zat aktif di dalam tablet.
2. Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa
langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar
memudahkan

proses

pengempaan

sehingga

pengisi

yang

dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi


pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan
laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa
langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama
pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat
aktif dalam granul terganggu.
3. Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan
harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik;
kohesifitas dan adhesifitas yang baik.
2.9. Macam Macam Kerusakan Pada Pembuatan Tablet
1. Binding adalah kerusakan tablet akibat massa yang akan di cetak
melekat pada dinding ruang cetakan.Ini terjadi ketika pelepasan dari
tablet sulit dan sering diikuti bunyi rebut/menderik yang karakteristik,
tepi tablet tergores atau kasar.
2. Sticking/picking ialah perlekatan yang terjadi pada punch atas dan
bawah akibatpermukaan punch tidak licin.Sticking adalah keadaan
granul menempel pada dinding die. Penyebabanya yaitu punch kurang
bersih.

15

3. Whiskering ialah percetakan tidak pas dengan ruangan cetakan terjadi


pelelehan zat aktif saat pencetakan pada tekanan tinggi.
4. Splitting/capping ialah lepasnya lapisan tipis dari permukaan tablet
terutama pada bagian

tengah.Capping adalah keadaan yang

menggambarkan bagian atas atau bawah tablet terpisah sebagian atau


seluruhnya.
5. Motling adalah terjadinya warna yang tidak merata pada permukaan
tablet, disebabkan perbedaan obat atau hasil uraianya dengan bahan
tambahan, juga karena terjadinya migrasi obat selama pengeringan
atau adanya bahan tambahan berupa larutan berwarna yang tidak
terbagi merata.
6. Crumbling ialah tambet menjadi retak dan rapuh. Disebabkan
kurangnya tekananpada pencetakan tablet dan zat pengikatnya kurang.
2.10. Syarat-Syarat Tablet
a. Kekerasan
Sebuah tablet yang baik adalah tablet yang cukup keras untuk
dipegang sampai digunakan. Dalam bentuk lain tablet tidak boleh
terlalu keras karena akan gagal dalam penghancuran atau gagal dalam
larut dengan mudah.Kekerasan tablet merupakan parameter yang
menggambarkan ketahanan tablet dalam melawan tekanan mekanik
seperti guncangan dan terjadinya keretakan tablet selama pengemasan,
transportasi dan pemakaian. Kekerasan tablet biasanya antara 4 8 kg.
b. Keseragaman Bahan Aktif
Farmakope Amerika dan Formularium Nasional menetapkan
batasan dalam potensi tablet.
c. Keseragaman tablet
Tablet ditentukan berdasarkan banyaknya penyimpangan bobot
pada tiap tablet terhadapbobot rata-rata dari semua tablet sesuai syarat
yang ditentukan dalam Farmakope Indonesia.Tablet tidak bersalut
harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan dengan
menimbang 20 tablet satu persatu dan dihitung bobot rata-rata tablet.
d. Proses Penghancuran
Jika tablet diharapkan efektif dalam pengobatan maka jelas tablet
tersebut harus larut atau hancur dengan cepat.
e. Keregasan Tablet (Friability)

16

Friability

adalah

persen

bobot

yang

hilang

setelah

diguncang.penentuan keregasan tablet dilakukan terutama pada waktu


tablet dilapisi (coating) alat yang digunakan disebut Friability Tester.
2.11. Evaluasi Tablet
Untuk menjaga mutu tablet tetap sama, dilakukan uji-uji sebagai berikut:
a. Uji keseragaman bobot
Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot. Keseragaman bobot ini
ditetapkan untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablettablet yang bobotnya seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan
obat yang sama, sehingga akan mempunyai efek terapi yang sama.
Keseragaman bobot dapat ditetapkan sebagai berikut: ditimbang 20 tablet, lalu
dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Kemudian timbang tablet satu persatu, tidak
boleh lebih dari 2 tablet bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar
dari yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh satu tablet pun bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari yang ditetapkan pada kolom
B. Jika perlu gunakan 10 tablet yang lain dan tidak satu tablet yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom A
maupun kolom B (Dirjen POM, 1995):
Tabel 1: Penyimpangan bobot rata-rata
Bobot rata-rata
< 25 mg
26 mg 150 mg
151
300 mg
>300 mg

Penyimpangan bobot rata-rata (%)


A
B
15
30
10
20
7,5
15
5
10

b. Uji kekerasan
Ketahanan tablet terhadap goncangan pada waktu pembuatan, pengepakan
dan distribusi bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan dinyatakan dalam
satuan kg dari tenaga yang diperlukan untuk memecahkan tablet. Alat yang
digunakan untuk uji ini adalah hardness tester, alat ini diharapkan dapat
mengukur berat yang diperlukan untuk memecahkan tablet. Persyaratan
kekerasan tablet umumnya berkisar 4-8 kg, bobot tersebut dianggap sebagai
17

batas minimum untuk menghasilkan tablet yang memuaskan (Soekemi, A. R.,


1987).
c. Uji keregasan
Kekerasan tablet bukanlah indikator yang mutlak dari kekuatan tablet.
Cara lain untuk menentukan kekuatan tablet ialah dengan mengukur
keregasannya. Gesekan dan goncangan merupakan penyebab tablet menjadi
hancur. Untuk menguji keregasan tablet digunakan alat roche friabilator.
Sebelum tablet dimasukkan kedalam alat friabilator, tablet ditimbang terlebih
dahulu. Kemudiann tablet dimasukkan kedalam alat, lalu alat dioperasikan
selama 4 menit atau 100 kali putaran. Tablet ditimbang kembali dan
dibandingkan dengan berat mula-mula. Selisih berat dihitung sebagai
keregasan tablet. Persyaratan keregasan harus lebih kecil dari 0,8% (Ansel,
H.C., 1989).
d. Uji waktu hancur
Agar bahan obat dapat secara utuh diserap pada sistem pencernaan, maka
tablet harus hancur dan melepaskan bahan obat kecairan tubuh. Waktu hancur
adalah waktu yang dibutuhkan oleh tablet untuk menjadi partikel-partikel
kecil.
Tablet biasanya diformulasikan dengan bahan pengembang yang
menyebabkan tablet hancur didalam air atau cairan lambung (Soekemi, A. R.,
1987).
Peralatan uji waktu hancur terdiri dari rak keranjang yang mempunyai
enam lubang yang terletak vertikal diatas ayakan mesh nomor 10. Selama
percobaan tablet diletakkan pada tiap lubang keranjang, kemudian keranjang
tersebut bergerak naik turun dalam larutan transparan dengan kecepatan 2932 putaran permenit. Interval waktu hancur adalah 5-30 menit (Ansel, H.C.,
1989).
e. Uji penetapan kadar zat berkhasiat
Uji penetapan kadar zat berkhasiat dilakukan untuk mengetahui apakah
tablet tersebut memenuhi syarat sesuai dengan etiket. Bila kadar obat tersebut
tidak memenuhi syarat maka obat tersebut tidak memiliki efek terapi yang

18

baik dan tidak layak dikonsumsi. Uji penetapan kadar dilakukan dengan
menggunakan cara-cara yang sesuai pada masing-masing monografi antara
lain di Farmakope Indonesia (Dirjen POM, 1995).
f. Uji disolusi
Obat yang telah memenuhi persyaratan kekerasan, waktu hancur,
keregasan, keseragaman bobot, dan penetapan kadar, belum dapat menjamin
bahwa suatu obat memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi harus dilakukan
pada setiap produksi tablet. Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat
dari bentuk padat kedalam larutan pada suatu medium (Dirjen POM, 1995).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1

Alat
Timbangan analitik, Beaker glass, Batang pengaduk, Pengayak,

Oven, Pencetak tablet, Cawan krus, Desikator, Corong, Piknometer,


Jangka sorong, Hardness tester, Friabilator, Disintegration tester, Alat
disolusi, Spektrofotometer UV-Vis.
3.1.2 Bahan

19

Paracetamol, Amprotab, PVP, Etanol 96 %, Laktosa, Mg Stearat,


Talk, Aquadest, Dapar posfat.
3.2. Monografi
A. Formula Dalam
Parasetamol
4-Hidroksiasetanilida
C8H9NO2
BM : 151,16
Pemerian
: Serbuk hablur, tidak berbau, rasa sedikit pahit
Kelarutan
: Larut dalam air mendidih dan dalam natrium
hidroksida 1N, mudah larut dalam etanol
Suhu Lebur : 169oC 1720C
Khasiat dan Penggunaan
: Analgetikum, antipiretikum
Disolusi
: Media disolusi : 900 ml larutan dapar fosfat pH 5,8
Alat tipe 2 : 50 rpm
Waktu : 30 menit
Stabilitas
: -Bahan padat (FI IV)
Terhadap suhu : Stabil
Terhadap cahaya : Stabil
Terhadap kelembaban : Stabil
-Larutan
Terhadap pelarut : Sangat stabil dalam air
Terhadap pH : Waktu paruh dalam larutan pada

pH 6
Inkompatibilitas
: Zat oksidator
Dosis
: Dosis lazim
Umur / bobot badan
Sekali
Sehari
6-12 bulan
50 mg
200 mg
1-5 tahun
50 100 mg 200 400 mg
5-10 tahun
100 200 mg 400 800 mg
10 tahun keatas
500 mg
1 gram
Amprotab
Sinonim
: Amylum manihot, pati singkong
Pemerian
: Serbuk sangat halus, putih
pH
: 4,5 7,0
BJ
: 1 : 478
Kecepatan alir
: 10,8 11,7 %
Stabilitas
: Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat
Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam air dan etanol
Mikroskopik : Butir tunggal, agak bulat/bersegi banyak, butir
kecil d = 5 m 10 m, butir besar bergaris tengah
20m 35 m, hilus ditengah berupa titik, garis

20

lurus atau bercabang tiga, lamela tidak jelas, butir


majemuk sedikit terdiri dari 2/3 butir tunggal yang

tidak sama bentuknya


PVP ( Polivinil Pirolodin )
Bj
: 1,180 gram/cm3
pH : 3,0 7,0
Kegunaan : Pengikat
Pemerian
: Serbuk putih/hablur putih kekuningan, berbau
Kelarutan

lemah atau tidak berbau, higroskopis


: Mudah larut dalam air, etanol (95%) P dan dalam
CHCl3 P, kelarutan tergantung dari bobot molekul

Stabilitas

rata-rata, praktis tidak larut eter


: Stabil pada suhu 110-1300C, gelap pada pemanasan

suhu 1500C
Inkompatibilitas
: Dalam larutan dengan garam dan anorganik

resi natural
Etanol
BM : 46,07
RE : C2H6O
Pemerian
: Jernih, tidak berwarna, sebagai fase gerak,
menguap, agak lisin, memiliki sedikit rasa
Khasiat
: Pelarut, antimikroba
Titik didih : 78,150C
Kelarutan
: Larut dalam kloroform, eter, gliserin dan air
BJ : 0,8119 0,8139
Stabilitas
: Larutan etanol sterilisasi dengan autoklaf, metode
ekstraksi, kedap udara
Inkompatibilitas
: Dalam keadaan asam, larutan etanol
bereaksi dengan agen pengoksidasi. Larutan
etanol inkompatibilitas dengan alumunium
dan mungkin berinteraksi dengan beberapa
obat

Laktosa
C12H22O11 . H2O
BM : 360,31
pH : 2,54
Kegunaan : Pengikat tablet, pengencer kapsul, pengisi kapsul
dan tablet

21

Stabilitas

: Harus disimpan dalam wadah tertutup baik tempat


kering dan sejuk, tidak stabil pada kondisi lembab

dapat menyebabkan pertumbuhan jamur


Inkompatibilitas
: Terjadi reaksi kondensasi antara laktosa dan
senyawa gugus amin primer. Inkompatibilitas
dengan asam amino, aminopilin, amfetamin
dan lisinopril
Titik leleh : 1050C
B. Fase Luar
Mg Stearat
C36H70MgO4
BM : 591,34
Kegunaan : Lubrikan dalam tablet
Pemerian
: Hablur, putih, mudah menguap atau dicampurkan,
serbuk hablur memiliki kerapatan yang rendah, memiliki bau
samar asam stearat dan rasa yang khas. Serbuk hablur mudah
disentuh dan mudah melekat pada kulit
Komponen lain
:- Bentuk kristal : Kemurnian tinggi
magnesium stearat telah diisolasi serta
trihidrat dan anhidrat.
- Kerapatan (ruah) : 0,159 gram/cm3
- Daya alir : Daya alir agak buruk,
-

serbuk kohesif
Titik leleh : 117 1500C (sampet

komersil), 126 1300C (pro analisis)


Kelarutan : Praktis tidak larut dalam
etanol, etanol (95%), eter dan air larut
dalam benzene hangat dan etanol
(95%) hangat
Luas permukaan spesifik : 1,6 14,8

m2/gram
Stabilitas dan kondisi penyimpanan : Stabil dan harua disimpan
dalam wadah tertutup baik
ditempat yang sejuk dan
kering

22

Inkompatibilitas

: Dengan asam kuat, alkali, garam besi.


Hindari pencampuran dengan pengoksidasi
kuat. Mg stearat tidak dapat digunakan
bersama produk yang mengandung aspirin,
beberapa vitamin dan kebanyakan garam
alkaloid

Talk
Pemerian

: Serbuk hablur sangat halus, putih atau putih


kelabu, berkilat, mudah melekat pada kulit dan

bebas dari butiran


Kelarutan
: Tidak larut dalam hampir semua pelarut
Stabilitas
: Dalam wadah tertutup baik
Khasiat dan pengggunaan : Zat tambahan
Amprotab
Sinonim
: Amylum manihot, pati singkong
Pemerian
: Serbuk sangat halus, putih
pH
: 4,5 7,0
BJ
: 1 : 478
Kecepatan alir
: 10,8 11,7 %
Stabilitas
: Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat
Kelarutan
: Praktis tidak larut dalam air dan etanol
Mikroskopik : Butir tunggal, agak bulat/bersegi banyak, butir
kecil d = 5 m 10 m, butir besar bergaris tengah
20m 35 m, hilus ditengah berupa titik, garis
lurus atau bercabang tiga, lamela tidak jelas, butir
majemuk sedikit terdiri dari 2/3 butir tunggal yang
tidak sama bentuknya

3.3

Prosedur Penelitian
2.1

Pembuatan Larutan PVP


Timbang sejumlah PVP yang diperlukan, larutkan dalam sejumlah

pelarut pengikat berdasarkan hasil orientasi ataupun baerdasarkan data


kelarutan PVP dalam Pelarut tersebut.
Aduk larutan hingga homogen, jika dilarutkan pewarna dpat
dilarutkan dalam larutan pengikat ini.
2.2
Granulasi hingga tabletasi

23

Paracetamol, Amprotab, dan Laktosa dicampur sampai homogen,


kemudian tambahkan larutan PVP sedikit demi sedikit sambil diaduk
sampai terbentuk massa basah yang sesuai untuk dibuat granul (massa
harus dapat dikepal namun dapat dipatahkan). Untuk larutan PVP harus
dimasukkan seluruhnya agar persentase pengikat sesuai dengan yang
diinginkan. Masa basah kemudian diayak dengan ayakan mesh 10 atau 12
(untuk tablet besar).
Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 60C sampai
kandungan lembab kurang dari 3%. Granul yang telah kering diayak
kembali dengan ayakan mes 14 atau 16 (untuk tablet besar).
Granul kering kemudian ditimbang dan dievaluasi. Granul yang
telah memenuhi syarat dapat dicampur dengan fase luar, aduk sekitar 10
menit hingga homogen kemudian ditambahkan Mg Stearat, aduk selama 2
menit.
Massa siap cetak dievaluasi kemudian ditabletasi dengan
menggunakan punch diameter 13 mm dengan bobot yang telah ditentukan
(dari hasil perolehan granul). Tablet dievaluasi menurut peryaratan yang
berlaku.
3.3.3. Evaluasi Granul
2.3.1 Kecepatan Aliran
a. Metode Corong
Prinsip : menetapkan jumlah granul yang mengalir melalui
alat selama waktu tertentu.
Alat : Flow tester.
1. Sejumlah 100 gram granul dimasukkan ke dalam corong
dengan ukuran tertentu.
2. Corong digetarkan sampai seluruh granul mengalir keluar
dari lubang corong.
3. Baca waktu yang diperlukan untuk mengalirkan seluruh
granul keluar dari corong.
4. Kecepatan aliran dihitung dengan membagi bobot granul
(100 g) dengan waktu yang diperlukan granul untuk
melewati corong (g/ detik).

24

Penafsiran hasil: Aliran granul baik jika waktu yang


diperlukan untuk mengalirkan 100g granul kurang lebih dari
10 detik.
b. Metode Sudut Istirahat
Prinsip : Pengukuran sudut yang terbentuk dari lereng
timbunan granul yang mengalir bebas dari corong terhadap
suatu bidang datar.
Alat : Flow tester
1. Timbang sejumlah granul, masukan kedalam corong
2. Granul dibiarkan mengalir bebas dari lubang
corong/slinder dan ditampung pada suatu bidang datar
hingga timbunan granul tersebut membentuk kerucut.
3. Dari timbunan ini diukur sudut istirahat (sudut antara
lereng granul dengan bidang datar)
Penafsiran hasil : Jika = 25-30oC: granul sangat mudah
mengalir
= 30-38oC
= > 38oCn

: granul mudah mengalir


: granul kurang mengalir

3.3.3.2 Kelembapan
Prinsip : Mengeringkan sampel dalam oven pada suhu 105C
sampai bobot konstan dan selisih bobot awal dengan bobot akhir
dihitung sebagai kadar air.
Alat: Oven
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Krus kosong di oven pada suhu 105C selama 30 menit.


Masukan dalam desikator selama 15 menit.
Timbang krus sampai berat kosntan.
Ulang perlakuan 2 dan 3 sampai didapat berat konstan.
Kemudian krus (konstan) ditambahkan granul lalu ditimbang.
Kemudian di oven pada suhu 105C selama 30 menit.
Masukkan dalam desikator selama 30 menit kemudian

timbang.
8. Ulangi perlakuan 2 dan 3 sampai diperoleh berat kosntan

3.3.3.3 Bobot jenis/ kerapatan


a. BJ nyata
1. Timbang 100 g dan masukkan dalam gelas ukur.

25

2. Catat volumenya

Ket: P= BJ nyata; W= Bobot Granul; V= Volume


granul tanpa pemampatan.
b. BJ mampat
a. Timbang 100 g granul dan masukkan dalam gelas ukur
lalu catat volumenya (Vo)
b. Gelas ukur diketuk sebanyak 10 dan 500 kali.
c. Catat volumenya (V10 dan V500).

Ket: Pn= BJ pada n ketukan; W= bobot granul; Vn=


volume granul pada n ketukan
c. BJ sejati
BJ sejati merupakan massa granul dibagi volume granul
yang tidak termasuk pori granul.
Alat : piknometer

Ket: a = bobot piknometer kosong


b = bobot piknometer + 1 g granul
c = bobot piknometer + 1 g granul + cairan pendispersi
(paraffin cair)
d = bobot piknometer + cairan pendispersi
d. Kadar pemampatan
Prosedur sama dengan BJ mampat
Ket: Kp= kadar pemampatan; Vo= volume granul sebelum
pemampatan; V500= volume granul pada 500 kali ketukan.
e. Perbandingan Haussner
Prosedur sama dengan BJ mampat.

Penafsiran hasil: Granul memenuhi syarat jika angka Haussner 1.


f. Persen Kompresibilitas (%K)

26

Prosedur sama dengan BJ mampat dan BJ nyata.

Penafsiran hasil :

jika %K

= 5 - 15% aliran sangat baik


= 16 25% aliran baik
26% aliran buruk

3.3.4

Evaluasi Tablet (Produk Akhir)


3.3.4.1 Visual/ Organoleptik
Pengujian organoleptik ini menggunakan panca indra secara
langsung terhadap tablet, meliputi Rupa, Bau, Rasa, dan lain-lain.
2.4.2 Sifat fisika kimia
a. Keseragaman Ukuran
Alat : jangka sorong
1. Keseragaman tebal dan diameter. Diambil secara acak 20
tablet.
2. Lalu diukur diameter dan tebalnya menggunakan jangka
sorong
Syarat: diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak
kurang 1 1/3 tebal tablet.
b. Kekerasan
Alat : Hardness tester
1. Ambil 20 tablet secara acak.
2. Kekerasan diukur berdasarkan luas permukaan dengan
menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg/cm2.
3. Ditentukan kekerasan rata-rata dan standar deviasinya.
Syarat: tablet besar 7 10 kg/cm2 dan tablet kecil 4 kg/cm2
c. Friabilitas
Alat : Fribilator
1. Diambil tablet secara acak. Jika bobot tablet > 250 mg
ambil tablet sebanyak 20 sedangkan jika bobot tablet <
250 mg ambil tablet sebanyak 40.
2. Bersihkan satu persatu dengan sikat halus lalu timbang
(a).

27

3. Masukkan semua tablet kedalam alat, lalu putar


sebanyak 100 putaran.
4. Lalu tablet dibersihkan lagi dan timbang (b).

Ket:

f = friabilitas
a = bobot tablet sebelum uji
b = bobot tablet setelah uji
Syarat: tablet yang memiliki friabilitas < 1%
d. Keragaman Bobot
1. Diambil 20 tablet secara acak, lalu timbang masingmasing tablet.
2. Hitung bobot rata-rata dan penyimpangan terhadap
bobot rata-rata.
3. Tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga
yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak boleh ada
satupun tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata
lebih dari harga pada kolom B.
Bobot rata-rata
< 25 mg
26 mg 150 mg
151 mg 300 mg
> 300 mg

Penyimpangan bobot ratarata (%)


A
B
15
10
7,5
5

30
20
15
10

e. Keseragaman kandungan
1. Diambil 30 tablet secara acak.
2. Tentukan kadar dari 10 tablet satu persatu dengan
metoda yang sesuai.
3. Jika ada 1 tablet yang diluar 85 115%, tentukan 20
tablet sisanya.
Syarat: dianggap memenuhi syarat jika hanya 1 tablet dari
30 tablet yang memberikan hasil diluar 85 115%.
3.3.4.3 Uji Waktu Hancur

28

Alat: Disintegration tester


1. Bejana diisi dengan HCl 0,1 N, volume diatur pada
kedudukan

tertinggi,

lempeng

kasa

tepat

pada

permukaan larutan dan pada kedudukan terendah mulut


tabung tetap diatas permukaan. Suhu pelarut 36 - 38C.
2. Sebanyak 6 tablet dimasukkan satu persatu kedalam
masing-masing tabung, kemudian alat dinyalakan dan
atur naik turun keranjang 30 kali tiap menit.
3. Tablet hancur jika tidak ada bagian tablet yang
tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen-fragmen bahan
pembantu.
4. Waktu hancur dicatat sejak pertama kali alat dinyalakan
hingga tidak ada bagian tablet yang tertinggal di atas
kasa.
Syarat: waktu yang diperlukan untuk menghancurkan ke 6
tablet tidak lebih dari 15 menit untuk tablet yang tidak
bersalut.
2.4.4

Uji Disolusi

Lihat masing-masing monografi di Farmakope Indonesia.


3.3.4.5 Uji Zat Aktif dalam Tablet
Lihat masing-masing monografi di Farmakope Indonesia.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini yaitu tentang preformulasi tablet paracetamol
dengan menggunakan metode granulasi basah. Granulasi basah merupakan
perlakuan awal terhadap serbuk untuk dapat ditabletasi, dimana terjadinya
proses peningkatan ukuran partikel-partikel kecil digabungkan menjadi partikel
29

dengan ukuran yang lebih besar, membentuk aglomerat permanen dan lebih
mudah mengalir. Sebagian besar serbuk tidak dapat dibentuk menjadi tablet
secara langsung karena tidak memiliki sifat mengikat satu sama lain untuk
membentuk sediaan yang kompak dan juga tidak memiliki sifat lubrikasi dan
disintegrasi yang diperlukan dalam proses tabletasi.
Faktor-faktor yang menentukan sifat alir serbuk atau granul adalah
kerapatan jenis, porositas, bentuk partikel, ukuran partikel, kondisi percobaan
dan kandungan lembab. Sifat alir serbuk dapat ditetapkan dengan dua macam
cara yaitu metode corong dan metode sudut istirahat. Penentuan sifat alir
bahan

serbuk

atau

granul

diantaranya

dapat dilakukan dengan cara

melakukan pengukuran sudut diam dan waktu alir. Sudut diam adalah sudut
yang dibentuk oleh tumpukan serbuk terhadap bidang datar setelah serbuk
tersebut mengalir secara bebas melalui suatu celah sempit. Semakin kecil
sudut diam maka semakin mudah serbuk tersebut mengalir.
Analisis Formula
Zat aktif yang digunakan adalah parasetamol dimana parasetamol
merupakan zat aktif yang berkhasiat sebagai analgetik-antipiretik yang buruk
kelarutannya dalam air dan pahit, sehingga perlu ditambahkan berbagai eksipien
dan dibentuklah suatu tablet untuk pemakaian orang dewasa.
Metode pembuatan yang praktikan gunakan adalah metode granulasi
basah, karena didasarkan pada parameter zat aktif yakni parasetamol stabil
dalam larutan, tahan lembab, tahan terhadap pemanasan serta memiliki sifat alir
dan kompatibilitasnya kurang.
Tablet merupakan sediaan solid atau padat yang mana ketika dikonsumsi
harus dapat hancur dan menghasilkan efek sehingga perlu dilakukan
penambahan desintegran dalam dan desintegran luar untuk mempermudah
proses absorpsi dengan merubah ukuran partikel dari yang suatu massa padat
menjadi globul lalu granul-granul dalam tubuh sehingga praktikan menggunakan
amprotab 10% dalam fase dalam dan amprotab sebanyak 5% pada fase luar.

30

Dengan begitu dapat meningkatkan sifat keterkempaan serbuk dan aliran serta
memfasilitasi kelancaran proses hancur tablet sesaat setelah ditelan pasien.
Pengikat biasanya berupa gula dan polimer. Larutan pengikat yang
ditambahkan ini memiliki peranan cukup penting dimana jembatan air yang
terbentuk diantara partikel dan kekuatan ikatannya akan mengikat. Jika jumlah
cairan yang ditambahkan mengikat gaya tegangan permukaan dan tekanan
kapiler paling penting pada awal pembentukan granul. Larutan pengikat yang
digunakan adalah PVP, yang nantinya dilarutkan dalam etanol sehingga
membentuk larutan yang dikenal dengan povidon. Digunakan untuk pengikat
agar tablet tidak pecah/retak dan dapat merekat dari serbuk menjadi granul dan
menjadi bentuk kesatuan yang lebih besar dan teratur. Etanol selain digunakan
untuk membuat povidon juga digunakan untuk mempercepat penguapan massa
granul basah sehingga pengeeringan lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Zat pengisi yang digunakan adalah laktosa karena bobot tablet yang
digunakan adalah 350 mg sedangkan bobot parasetamol 250 mg sehingga perlu
peran zat pengisi untuk menyesuaikan massa tablet yang mana digunakan
laktosa sejumlah yang diperlukan. Lubrikan berfungsi sebagai eksipien untuk
menghilangkan gesekan/ friksi saat pengempaan dan penarikan tablet keluar
cetakan dan pada formula kali ini digunakan magnesium stearat. Dan talk bisa
digunakan sebagai glidan dan lubrikan.
Pembuatan tablet
Granulasi merupakan proses peningkatan ukuran partikel dengan cara
melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung dan membentuk ukuran yang
lebih besar
Untuk pembuatan tablet parasetamol dipilih dengan menggunakan metode
granulasi basah non aqua hal ini dilakukan karena dosis parasetamol yang
diinginkan adalah 250 mg dan dikarenakan ditambahkan bahan tambahan
(pengikat, penghancur, lubrikan) maka termasuk dosis besar, kompatibilitasnya
jelek, dan kestabilan terhadap suhu tinggi jelek maka dipilih metode granulasi
basah non aqua.
Pembuatan sediaan tablet dengan menggunakan prinsip granulasi basah
pada prinsipnya partikel bahan aktif yang terlebih dahulu dicampur dengan
pengencer atau pengisi akan bersatu/lengket dengan adanya pengikat (adhesif)

31

dengan pembawa pada umumnya air namun bisa juga non aqua atau tidak ada air
sama sekali.(Goeswin Agoes Hal 306).
Dalam pembuatan tablet yang dilakukan, selain bahan aktif parasetamol
maka ditambahkan juga bahan eksipien yaitu dari amprotab sebanyak 10% dan
5% sebagai penghancur (disintegran), PVP sebanyak 5% sebagai pengikat
(binder), etanol secukupnya untuk melarutkan PVP, laktosa sebagai pengisi
(diluent), Mg stearat sebanyak 1 % sebagai pelicin (lubrikan), dan talk sebanyak
2% sebagai glidan. Pada metode granulasi basah, tiap bahan tambahan dibagi
kedalam 2 fase yaitu fase dalam dan fase luar. Fase dalam terdiri dari zat aktif,
pengikat, pengisi, dan 10% penghancur. Fase luar terdiri dari 5% penghancur,
pelicin, dan glidan. Fase dalam adalah campuran yang kemudian akan dibuat
menjadi massa granul, sedangkan fase luar adalah bahan yang membantu aliran
granul fase dalam yang telah dibuat.
Metode granulasi dipilih karena dosis bahan aktif pada 1 tablet lebih besar
dari 5 %. Pemilihan non aqua (menggunakan etanol) dalam metode granulasi
basah ini tidak didasarkan pada kelarutan parasetamol sebagai zat aktif karena
dalam pembuatan tablet, zat aktif tidak diharuskan untuk melarut, sehingga
fungsi dari etanol dalam granulasi basah ini adalah untuk melarutkan pengikat
yaitu PVP yang merupakan zat yang larut dalam air maupun etanol sehingga
pengikat lebih mudah dicampur dengan bahan aktif dan bahan tambahan lain.
Selain itu, etanol yang digunakan untuk melarutkan PVP juga tidak akan
berbahaya terhadap tubuh ketika dikonsumsi karena pada akhinya etanol yang
digunakan akan menguap saat proses pembuatan.
Proses pembuatan tablet dengan menggunakan metode granulasi basah ini
dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tahapan pertama adalah mixing atau pencampuran. Mixing adalah proses
menggabungkan dua atau lebih komponen, yang awalnya dalam keadaan tidak
dicampur atau sebagian campuran, sehingga masing-masing unit (partikel,
molekul dll) dari komponen terletak sedekat mungkin atau bercampur dengan
unit atau partikel masing-masing komponen lainnya. Zat aktif Parasetamol
sebanyak 75 gram, amprotab (penghancur) 10,5 gram, dan bahan pengisi laktosa
5,85 gram sampai homogen dalam plastik ukuran besar dengan cara dikocok

32

perlahan. Proses mixing itu bertujuan untuk untuk mendapatkan/ menjamin


homogenitas campuran serbuk sehingga tablet yang dihasilkan merupakan
campuran homogen.
Tahap kedua adalah pembuatan larutan pengikat PVP. Larutan pengikat
yang digunakan dalam formula yaitu PVP (Polivinilpirrolidon), dalam praktikum
ini digunakan pengikat PVP dengan kadar 5% atau sebanyak

5,25 gram.

Pembuatan larutan pengikat ini dengan cara melarutkan PVP dengan etanol
karena PVP merupakan zat yang mudah larut dalam etanol, Dalam Farmakope
Indonesia Edisi III dikatakan perbandingan zat yang mudah larut dengan
pelarutnya adalah 1 : 1-10 dan dihasilkan larutan pengikat tak berwarna (jernih/
bening).
Tahap ketiga adalah granulasi. Granulasi merupakan proses peningkatan
ukuran partikel dengan cara melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung
dan membentuk ukuran yang lebih besar. Pada tahap ini dilakukan pencampuran
larutan pengikat PVP dengan serbuk yang sudah di mixing pada proses mixing
untuk membentuk massa basah. Larutan pengikat ditambahkan sedikit demi
sedikit ke dalam campuran bahan sambil diaduk. Proses granulasi dilakukan
dengan tujuan menghasilkan produk struktural yang dilakukan, mengurangi
kemungkinan terjadinya cacking, membentuk dan menyediakan campuran yang
tidak memisah (nonsegregating) dimana idealnya terbentuk distribusi komponen
kunci (bahan aktif) secara uniform, mengontrol porositas, kekerasan, rasio luas
permukaan terhadap volume dan ukuran partikel.
Tahap keempat adalah pengayakan. Granul yang telah terbentuk pada saat
proses granulasi kemudian diayak dengan menggunakan ayakan mesh 14.
Pengayakan ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran granul.
Tahap selanjutnya, kelima adalah tahap pengeringan. Sesudah dilakukan
proses granulasi, hasil granulasi berada dalam bentuk massa basah di mana
cairan (liquid) harus dihilangkan karena keberadaan air akan menimbulkan
masalah pada sifat aliran dan ketidakstabilan secara kimiawi. (Goeswin Agoes,
hal 310). Pada praktikum ini metode pengeringan yang digunakan yaitu metode
pengeringan dengan nampan (tray drying) yaitu dengan menggunakan loyang.
Granul ditempatkan dalam loyang lalu dioven pada suhu 105oC selama 5 menit.

33

Selanjutnya setelah diperoleh granul, tahapan keenam adalah dilakukan


evaluasi granul. Yang diperlu diperhatikan sebelum evaluasi granul yaitu
mencatat bobot granul sebelum dan sesudah dievaluasi. Evaluasi granul yang
dilakukan meliputi evaluasi kecepatan alir (metode corong dan metode susut
istirahat), kelembaban atau kadar air, berat jenis (BJ nyata, BJ mampat, BJ sejati,
kadar kemampatan, perbandingan hausnerr, dan persen kompresibilitas.
Setelah melakukan evaluasi granul, tahap ketujuh adalah penambahan fase
luar karena jumlah fase luar yang ditambahkan sudah dapat dihitung yaitu Mg
stearat 0,978 gram, talk 1,956 gram, dan amprotab 4,891 gram. Penambahan fase
luar juga dilakukan mixing kembali dalam plastik ukuran besar dengan
pengocokan secara kontinyu dengan kecepatan yang konstan. Fungsi dari
penambahan fase luar utamanya adalah untuk memperbaiki sifat alir granul dan
mencegah friksi antara serbuk dengan die dari mesin pencetak tablet.
Pengadukan pada fase luar dilakukan selama 3 menit karena jika lebih dari 5
menit magnesium stearate sangat berpengaruh terhadap disolusi dari tablet di
saluran cerna. Jika proses mixing dilakukan terlalu lama, maka kehomogenitasan
magnesium stearate dengan bahan lain menjadi tinggi dan menyebabkan granul
dilapisi oleh magnesium stearate yang memiliki sifat hidrofob (suka minyak).
Sifat hidrofob yang dihasilkan oleh magnesium stearate ini akan menyulitkan
tablet melarut di saluran cerna yang banyak mengandung air, sehingga dapat
menyebabkan disolusi tablet berkurang dan menyebabkan waktu mulai kerja
obat lambat.
Lalu tahap kedelapan adalah kompresi yakni tahap pembuatan tablet yaitu
pengisian, pengempaan dan pelemparan. Pembuatan tablet pada praktikum ini
dilakukan dengan menggunakan alat pencetak tablet single punch. Tablet yang
dihasilkan adalah sebanyak 303 tablet. Pada tahap kesembilan dilakukan
evaluasi tablet sesegera mungkin.
Untuk mengetahui kontrol kualitas dari hasil percobaan pembuatan tablet
pada praktikum ini dilakukan evaluasi granul dan evaluasi tablet.
Evaluasi Granul
1. Kecepatan Aliran
Sifat alir granul memegang peranan penting dalam pembuatan tablet.
Apabila granul mudah mengalir, tablet yang dihasilkan mempunyai

34

keseragaman bobot yang baik. Faktor-faktor yang menentukan sifat alir


serbuk atau granul adalah kerapatan jenis, porositas, bentuk partikel,
ukuran partikel, kondisi percobaan dan kandungan lembab. Sifat alir serbuk
dapat ditetapkan dengan dua macam cara yaitu metode corong dan metode
sudut istirahat. Penentuan
diantaranya

sifat

alir

bahan

serbuk

atau

granul

dapat dilakukan dengan cara melakukan pengukuran sudut

diam dan waktu alir. Sudut diam adalah sudut yang dibentuk oleh
tumpukan serbuk terhadap bidang datar setelah serbuk tersebut mengalir
secara bebas melalui suatu celah sempit. Semakin kecil sudut diam maka
semakin mudah serbuk tersebut mengalir.
Selain sudut diam, waktu alir dapat digunakan untuk menentukan sifat alir
serbuk atau granul. Waktu alir adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengalir dari sejumlah granul melalui lubang corong yang diukur
adalah sejumlah zat yang mengalir dalam suatu tertentu. Semakin baik
sifat alirnya maka akan semakin cepat waktu yang diperlukan untuk
mengalirkan sejumlah berat tertentu serbuk atau granul. Sudut diam dapat
diukur dengan mengamati tinggi kerucut yang terbentuk di atas alas dengan
diameter tertentu.
Waktu alir yang didapatkan adalah 3,0798 detik dengan menggunakan
granul 90 gram. Aliran granul baik karena waktu yang diperlukan 10
detik. Sedangkan sudut istirahat yang diperoleh adalah 380C yang artinya
granul kurang mengalir.
2. Kelembaban
Dalam uji kelembaban, alat yang digunakan yaitu krus dengan
menggunakan metode gravimetri. Dimana dari uji kelembaban yang
dihasilkan adalah 2,72%. Yang artinya bahwa granul yang digunakan kurang
baik, karena mengandung kadar air lebih besar dari 2%.
3. Bobot Jenis (Kerapatan)
Dalam uji bobot jenis yang ditentukan adalah BJ nyata (0,37 gram/mL),
BJ mampat (0,41 gram/mL), BJ sejati (0,533 gram/mL), kadar pemampatan
(9,47 %) granul tersebut baik yang artinya granul memenuhi persyaratan
karena Kp 20%, perbandingan Haussner (1,1 gram/mL) granul tersebut
tidak memenuhi syarat karena angka Haussnernya = 1 dan persen

35

kompresibilitas (9,7561%) artinya bahwa aliran tersebut sangat baik karena


memenuhi pada rentang 5-15%.
4. Granulometri
Granulometri adalah analisis ukuran dan repartisi granul (penyebaran
ukuran-ukuran granul). Dalam melakukan analisis granulometri digunakan
susunan pengayak dengan berbagai ukuran. Mesh terbesar diletakan paling
atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang makin kecil.
Tujuan dari granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari ukuran
granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri
berhubungan dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan,
aliran akan lebih baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi
normal.
Evaluasi tablet
1. Visual/Organoleptik
Evaluasi tablet dilakukan untuk memastikan kualitas setelah proses
pencetakan selesai di mana dari mulai perancangan formula awal hingga
terbentuk massa cetak dan terbentuk tablet sesuai dengan rancangan awal.
Hasil evaluasi penampilan terhadap formula D pada penelitian didapatkan
tablet berbentuk bulat yang berwarna putih rata dengan permukaan tablet
halus dan licin. Permukaan yang licin ini bisa diperoleh dari lubrika yang
memiliki konsentrasi 1%-2% dalam fase luar sehingga selain untuk
mempermudah

pencetakan,

meningkatkan

laju

alir,

pun

terhadap

penampilan fisik dapat dipengaruhi. Bau yang dihasilkan untuk tablet


parasetamol yang praktikan cetak memiliki bau khas obat pada umumnya
dan ketika diuji organoleptik oleh indera perasa memiliki rasa yang pahit di
mana dalam formula tablet tidak di tambahkan perasa sehingga memiliki
rasa yang pahit.
2. Sifat Fisika Kimia
a. Keseragaman ukuran
Pada uji keseragaman ukuran, tablet yang praktikan cetak tidak
memenuhi persyaratan keseragaman yakni memiliki diameter tablet
5,605 mm dengan tebal tablet berkisar antara 5,0-5,8 mm. Hal tersebut
dapat terjadi karena ketika pencetakan tablet pada punch and die serta

36

alat yang digunakan tidak di lakukan penyetingan untuk ukuran


ketebalan tablet yang diinginkan karena jika tablet terlalu tebal bisa
dibayangkan betapa lama dan sulit untuk pasien menelan tablet tersebut
dan dikhawatirkan dapat membuat tersendak.
Beberapa referensi pasti memiliki variasi berat standar, di mana tablet
resmi harus disesuaikan. Seperti di Farmakope Indonesia edisi III di
katakan bahwa kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari
tiga kali dan tidak kurang dari empat per tiga tebal tablet.
Sebenarnya ukuran tablet yang diproduksi tidak hanya tergantung pada
volume dan berat bahan yang diisikan tapi juga tergantung pada garis
tengah cetakan dan tekanan pada bahan yang diisikan waktu di tekan
(kompresi).
b. Kekerasan
Kekerasan tablet berpengaruh pada ketahanannya terhadap guncangan
mekanik pada saat pembuatan, pengepakan, dan pengangkutannya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dari 20 tablet random yang
digunakan untuk evaluasi kekerasan memiliki rata-rata kekerasan
dengan beban 6,8 kg/cm2 . Seharusnya berdasarkan syarat untuk uji
kekerasan, tablet besar (tablet dengan dosis besar, misalnya parasetamol
250mg) memiliki beban 7 kg/

namun berdasarkan hasil praktikum

nlai yang diperoleh bisa di bulatkan menjadi beban 7 kg/

sehingga

termasuk tablet besar dan memenuhi persyaratan pengujian kekerasan.


Umumnya semakin besar tekanan semakin keras tablet yang
dihasilkan, walaupun sifat dari granul juga menentukan kekerasan
tablet. Pada umunya tablet harus cukup keras untuk tahan pecah waktu
dikemas, dikirim saat transportasi dan waktu ditangani secara normal,
tapi juga tablet harus cukup lunak untuk melarut atau menghancur
dengan sempurna begitu digunakan.
c. Friabilitas
Uji keregasan akan erat kaitanya dengan waktu hancur dan kekerasan.
Tablet yang praktikan cetak memenuhi uji keregasan karena diperoleh
persentase keregasan yang memenuhi syarat (< 1%). Uji keregasan ini
37

digunakan untuk menentukan pula kekerasan tablet yang menetapkan


tendensi untuk pecah dengan cara melepaskan tablet berputar dan jatuh
dalam alat penggulir berputar. Ketahanan terhadap kehilangan berat,
menunjukkan tablet tersebut untuk bertahan terhadap goresan
ringan/kerusakan dalam penanganan, pengemasan dan pengapalan.
d. Keseragaman bobot
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot
tablet yang dibuat sudah memenuhi syarat keseragaman bobot atau
tidak di mana 20 tablet yang di random telah mewakili seluruh tablet
yang di cetak. Jika penyimpangan yang terjadi sesuai dengan kolom
yang telah tersedia maka seluruh hasil produksi memenuhi persyaratan
uji keseragaman bobot di mana dosis yang ada dalam zat aktif akan
sesuai antara tablet yang satu dengan tablet yang lainnya dan efikasi
obat pun terlaksana.
e. Keseragaman kandungan(Tidak dilakukan pengujian keseragaman
kandungan)
3. Uji Waktu Hancur
Agar komponen obat sepenuhnay tersedia untuk di absorpsi dalam saluran
pencernaan, maka tablet harus hancur dan melepaskan obatnya ke dalam
cairan tubuh untuk dilarutkan. Daya hancur tablet juga penting untuk tablet
yang mengandung bahan obat yang tidak dimaksudkan untuk di absorpsi
tetapi lebih banyak bekerja setempat dalam saluran cerna. Dalam hal ini
daya hancur tablet memungkinkan partikel obat menjadi lebih luas untuk
bekerja secara lokal dalam tubuh.
Semua tablet menurut USP harus melalui pengujian daya hancur secara
resmi yang dilaksanakan in vitro

dengan alat uji khusus yakni

desintegration tester. Untuk pengujian daya hancur, didefinisikan bahwa


keadaan di mana endapan tablet, kecuali bagian dari penyalut yang tidak
larut di atas layar merupakan massa yang lunak yang jelas tidak memiliki
inti.
4. Uji Disolusi
Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan
disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi. Uji disolusi juga
digunakan untuk menentukan persentasi ketersediaan obat dalam sirkulasi
38

sistemik pada waktu tertentu, hal ini berhubungan dengan bio-availabilitas


yang dapat menjadi parameter efikasi (kemanjuran) dan mutu suatu produk
obat. Berdasarkan literatur, disolusi obat adalah suatu proses pelarutan
senyawa aktif dari bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan
suatu zat aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat
tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh.
Suatu bahan obat yang diberikan dengan cara apapun dia harus memiliki
daya larut dalam air untuk kemanjuran terapeutiknya. Senyawa-senyawa
yang relatif tidak dapat dilarutkan mungkin memperlihatkan absorpsi yang
tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga menghasilkan respon
terapeutik yang minimum.
Dari hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa nilai % disolusi naik namun
tidak berkala seiring dengan bertambahnya waktu dan seharusnya %
disolusi mencapai 75% di menit 30 sesuai persyaratan uji disolusi. Hal ini
dapat terjadi disebabkan karena faktor pengikat dan disintegran. Dimana
bahan pengikat dan disintegran mempengaruhi kuat tidaknya ikatan
partikel-partikel dalam tablet tersebut sehingga mempengaruhi pula
kemudahan cairan untuk masuk berpenetrasi ke dalam lapisan difusi tablet
menembus ikatan-ikatan dalam tablet tersebut. Selain itu penyebab lain
yang mungkin adalah formulasi dari sediaan tablet yang kurang baik. Faktor
formulasi yang mempengaruhi laju disolusi diantaranya kecepatan
disintegrasi, interaksi obat dengan eksipien (bahan tambahan) dan
kekerasan. Faktor lain yang menyebabkan hasil percobaan tidak akurat
adalah kecepatan pengadukan saat uji. Pengadukan mempengaruhi
penyebaran partikel-partikel dan tebal lapisan difusi sehingga memperluas
permukaan partikel yang kontak dengan pelarut. Semakin lama kecepatan
pengadukan maka laju disolusi akan semakin tinggi.
Obat yang telah memenuhi persyaratan keseragaman bobot, kekerasan,
kerenyahan, waktu hancur dan penetapan kadar zat berkhasiat belum dapat
menjamin bahwa suatu obat memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi
harus dilakukan pada setiap produksi tablet.

39

5. Kadar Zat Aktif dalam Tablet


Analisis kadar biasa ditentukan sebagai suatu analisis kuantitatif untuk
memastikan banyaknya zat aktif yang terkandung dalam suatu sediaan. Hal
ini dilakukan untuk mencegah penipuan terhadap konsumen dan mengetahui
apakah metode penyimpanan selama obat belum di distribusikan layak atau
tidak karena dari kondisi penyimpanan yang tidak benar akan membuat
kerusakan bahkan kehilangan kandungan dari zat aktif yang di khawatirkan
akan merusak obat dan obat tidak menghasilkan efek.
Penentuan kadar ini dilakukan meggunakan

instrumen

yakni

spektrofotometer uv-vis di mana sampel yang telah di isolasi kemudian di


kenakan radiasi elektromagnetik di mana masing-masing cahaya ada yang di
teruskan, di emisi dan di pantulkan. Cahaya yang di teruskan inilah yang
dideteksi oleh istrumen pada panjang gelombang tertentu yang di kenal
dengan absorbansi maksimum.
Panjang gelombang yang digunakan menggunakan 2 pelarut yang berbeda
yakni dengan akuades dan satunya lagi dengan dapar fosfat pH 5,8.
Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, kadar dari kedua pelarut
tidak jauh berbeda namun lebih tinggi untuk kadar dengan pelarut larutan
dapar fosfat. Hal tersebut terjadi karena dalam sistem pencernaan sendiri di
mana parasetamol mulai berdegradasi, lebih sesuai dengan keadaan tubuh
(in vivo) maka kadar yang dihasilkan lebih besar dibandingkan ketika
pengujiaannya dilakukan dalam air. Penentuan kadar dalam larutan dapar
fosfat sebesar 7,32 % dari 150 mg pct tab dalam 50 ml larutan dapar fosfat
lebih tinggi kadarnya dibandingkan dalam air dari 150 mg pct tab dalam 50
ml ai hanya diperoleh kadar 3, 4243%.

40

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan pada praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa
pembuatan tablet ini dengan menggunakan metode granulasi basah karena
paracetamol memiliki sifat tahan pemanasan dan stabil terhadap lembab. Pada
evaluasi granul , dengan kecepatan aliran yang didapat adalah 3,0798 detik tidak
memenuhi syarat karena waktu yang diperlukan kurang dari 10 detik, kemudian
uji kelembaban didapat hasil kadar air adalah 2,72% , kadar air yang dihasilkan
tidak baik karena >2%. Bobot jenis pada BJ nyata (0,37 gram/mL), BJ mampat
(0,41 gram/mL), BJ sejati (0,533 gram/mL), kadar pemampatan (9,47 %) granul
tersebut baik yang artinya granul memenuhi persyaratan karena Kp 20%,
perbandingan Haussner (1,1 gram/mL) granul tersebut tidak memenuhi syarat
karena angka Haussnernya = 1 dan persen kompresibilitas (9,7561%) artinya
bahwa aliran tersebut sangat baik karena memenuhi pada rentang 5-15%.
Sedangkan

pada

evaluasi

tablet

yaitu

Visual/Organoleptik

rupa

(mengkilat,permukaan halus, warna putih), bau(khas obat), rasa(pahit),


keragaman ukuran diperoleh tablet tidak memenuhi syarat karena diameter tablet
(3,57 mm) kurang dari yang dipersyaratkan FI III yakni 4,76-10,71 mm,
friabilitass diperoleh tablet memenuhi syarat uji keregasan karena diperoleh
0,6259% (kurang dari 1%), keseragaman ukuran diperoleh dari 20 tablet tidak
ada 2 tablet yang masing-masing menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar
dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak ada satu pun tablet yang
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga pada kolom B, uji hancur
diperoleh memenuhi persyaratan karena kurang dari 15 menit, namun jika
dikalikan dengan 6 tablet tidak memenuhi persyaratan karena membutuhkan
waktu 60 menit hanya saja praktikan hanya menggunakan 1 tablet untuk
pengujian, uji disolusi diperoleh 68,0342% dan kadar zat aktif dalam tablet
diperoleh 7,3218 %.
5.2. Saran

41

Untuk proses dalam pembuatan tablet membutuhkan saran yang memadai


agar praktikum dapat dilakukan dengan baik. Pembuatan tablet membutuhkan
konsentrasi dan ketelitian sangat tinggi, maka pada praktikum ini harus
melakukan percobaan dengan sangat teliti dalam menghitung evaluasi agar dapat
mengetahui apakah formula yang dicoba itu apa tidak dengan syarat yang
ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA
Rowe, Raymond C, Paul J, Sheskey., & Marian E, Quinn. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipients. 6th ed., London : Pharmaceutical Press.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indoneia,. edisi
III. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia edisi
IV, Jakarta: Departemen Kesehatan.
Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Padat, Bandung : ITB

42

Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. Teori dan Praktek Farmasi Indrustri.
Edisi Ketiga. Vol II. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press;
1994. hal. 1355

43

Anda mungkin juga menyukai