Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu target dari Millennium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka
kematian ibu dan menurunkan angka kematian balita. Berdasarkan data terbaru tahun 2012 dari
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami
peningkatan mencapai 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih besar jika
dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 288 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Indonesia
juga merupakan negara dengan AKI tertinggi dibandingkan dengan negara-negara miskin di
Asia. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kemunduran dalam upaya penurunan AKI di Indonesia.
Sementara itu Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi dan penurunannya lambat. Angka
Kematian Bayi di Indonesia (AKB) mencapai sekitar 56% dan kematian terjadi pada periode
neonatal.
Indikator angka kematian bayi (AKB) hanya turun sedikit dari pencapaian tahun 2007,
yaitu dari 34 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup. Dan indikator
AKABA dalam SDKI 2012 baru turun menjadi 40 per 1.000 kelahiran hidup (BKKBN, 2013).
Padahal bila dibandingkan dengan target pencapain MDGs untuk Indonesia pada tahun 2015,
AKI sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup dan
AKABA sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup (Bappenas, 2012). Sangat jauh pencapaian dari
target MDGs saat ini. Adanya lonjakan AKI, AKB, dan Angka Kematian Balita (AKABA) di
Indonesia menunjukkan bahwa terjadi kemunduran dalam upaya penurunan AKI, AKB, dan
AKABA di Indonesia serta ketidakmampuan daerah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan
ibu dan anak. Jika hal ini tidak diatasi dengan baik tentu dapat menjadi penghalang untuk
tercapainya target MDGs 2015.
Untuk mencapai target penurunan AKI, AKB, dan AKABA di Indonesia diperlukan
adanya program-program dari pemerintah. Adapun arah dan strategi kebijakan penurunan AKI,
AKB, dan AKABA di Indonesia yaitu, peningkatan anggaran program pembinaan pelayanan
kesehatan ibu dan reproduksi dan program pembinaan pelayanan kesehatan anak dalam APBN,
memperkuat basis pelayanan KIA dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), revitalisasi
program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) di Indonesia, dan pemerintah pusat

perlu mendorong setiap pemerintah daerah untuk membuat Rencana Aksi Daerah (RAD)
Penurunan AKI, AKB, dan AKABA.
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota dan
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan
kabupaten atau kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama. Sebagai unit pelaksana
teknis diperlukan upaya atau program yang terstruktur secara sistematis dengan pelaksanaan
yang konsisten setiap tahunnya. Pengetahuan mengenai program dan upaya pelaksanaan program
sangat penting dalam upaya penurunan AKI, AKB, dan AKABA.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah mengetahui program Puskesmas II Denpasar Barat
sebagai unit pelaksana teknis dalam upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan
bayi.
1.2.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penulisan paper ini adalah:
1.

Mengetahui program Puskesmas II Denpasar Barat dalam menurunkan angka morbiditas

dan mortalitas ibu bersalin


2. Mengetahui program Puskesmas II Denpasar Barat dalam menurunkan angka morbiditas
dan mortalitas ibu nifas
3. Mengetahui program Puskesmas II Denpasar Barat dalam menurunkan angka morbiditas
dan mortalitas neonates
1.3 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan paper ini adalah mahasiswa mengetahui program Puskesmas II
Denpasar Barat agar nantinya mampu menyebarluaskan ke masyarakat sehingga program ini
dapat berjalan lebih baik guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas khususnya di Kota
Denpasar.

BAB 2

PEMBAHASAN
2.1 Gambaran Umum
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan maka upaya kesehatan di puskesmas
dilaksanakan dalam bentuk upaya kesehatan puskesmas. Upaya kesehatan yang dilaksanakan
sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan RI nomor: 128/menkes/SK/II/2004 tentang
Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat berupa upaya pelayanan kesehatan wajib dan
upaya pelayanan kesehatan pengembangan. Upaya pelayanan kesehatan pengembangan
dilakukan berdasarkan permasalahan yang ditemukan dan dilaksanakan sesuai dengan
kemampuan dari puskesmas yang bersangkutan.
Program wajib di Puskesmas II Denpasar Barat meliputi upaya promosi kesehatan, upaya
kesehatan lingkungan, upaya KIA dan KB, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan
pemberantasan penyakit menular (P2M), dan upaya pengobatan. Upaya promosi kesehatan
terdiri dari penyuluhan PHBS, mendorong terbentuknya upaya kesehatn bersumber daya
masyarakat, penyuluhan napza, dan penyuluhan HIV/AIDS. Upaya KIA dan KB meliputi
kesehatan ibu, kesehatan bayi, upaya kesehatan balita dan anak pra sekolah, upaya kesehatan
anak sekolah dan remaja, pelayanan keluarga berencana. Kesehatan ibu terdiri dari pelayanan
kesehatan bagi bumil sesuai standar untuk kunjungan lengkap (K4), pelayanan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan sesuai standar, pelayanan nifas lengkap
sesuai standar, dan pelayanan dan atau rujukan bumil atau komplikasi. Kesehatan bayi meliputi
penanganan dan atau rujukan neonates resiko tinggi, cakupan BBLR ditangani. Upaya kesehatan
balita dan anak pra sekolah yang meliputi pelayanan deteksi stimulasi dini tumbuh kembang
balita di posyandu, dan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang anak pra sekolah
(TK). Kesehatan anak sekolah dan remaja meliputi pelayanan kesehatan anak sekolah dasar oleh
nakes atau tenaga terlatih/guru, dan cakupan pelayanan kesehatan remaja. Pelayanan KB
meliputi akseptor KB aktif di puskesmas, akseptor aktif MKJP di puskesmas, akseptor MKJP
dengan komplikasi yang tertangani, akseptor MKJP kegagalan yang ditangani. Upaya perbaikan
gizi masyarakat terdiri dari pemberian kapsul vitamin A pada usia 6-59 bulan 2 kali/tahun,
pemberian tablet besi (90 tablet) pada ibu hamil, balita yang ditimbang berat badannya, bayi usia
0-6 bulan mendapat ASI eksklusif, persentase balita gizi buruk mendapat perawatan, cakupan RT
yang mengkonsumsi garam iodium, persentasi desa atau lurah yang dilaksanakan surveilans gizi.

Upaya kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air, hygiene dan sanitasi, penyetahan tempat
pembuangan sampah dan limbah, penyehatan lingkungan pemukiman dan jamban keluarga,
pengawasan sanitasi tempat-tempat umum (TTU), pengamanan tempat pengelolaan pestisida.
Upaya pencegahan penyakit menular (P2M) meliputi TB paru, kusta, diare, malaria, ISPA, flu
burung, DBD, pencegahan dan penanggulangan PMS dan HIV/AIDS, pencegahan dan
penanggulangan rabies, pelayanan imunisasi, dan pengendalian vector. Upaya pengobatan
meliputi pengobatan dan pemeriksaan laboratorium.
Sementara itu, program pengembangan di Puskesmas II Denpasar Barat meliputi upaya
kesehatan sekolah, upaya kesehatan usia lanjut, perkesmas rawat inap dengan poned, upaya
kesehatan kerja (UKK), peguyuban diabetes, klinik IMS, dan klinik VCT.

2.2 Program Kesehatan Ibu Bersalin, Nifas, dan Neonatus


2.2.1 Kegiatan Kesehatan Ibu Bersalin dan Nifas
1. Pelayanan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang memiliki Kompetensi
Kebidanan sesuai standar
Tujuan :
a. Meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
b. Menurunkan angka kematian ibu selama proses persalinan
Sasaran Kegiatan
:
Seluruh ibu hamil dalam jangkauan wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (3.655
bumil)
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat 2 untuk ibu hamil yang akan bersalin adalah
100%. Proses pelaksanaan persalinana di Puskesmas Denpasar Barat II
menggunakan pedoman 60 langkah asuhan persalinan normal yang ditempel di
ruang VK. (60 langkah persalinana normal dilampirkan).
Hasil Kegiatan
:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan : Terlaksananya

Pelayanan Persalinan

oleh Tenaga Kesehatan yang memiliki Kompetensi Kebidanan sesuai standar


b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku : Ibu hamil yang
bersalin di Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun 2013 sebanyak 3.664.
Angka ini melebihi target yang ditentukan sebanyak 3655 ibu hamil.
c. Impact
: Pada tahun 2013 tidak terdapat kasus kematian ibu
selama proses persalinan. Maka dari itu keberlanjutan program ini harus
diteruskan.

Kendala
a. Kurangnya

:
SDM mulai dari bidan, perawat, sampai dengan sopir

ambulans.
b. Karena puskesmas denpasar barat II berada pada daerah dengan mobilitas
tinggi, maka banyak ibu hamil yang tidak mendapatkan ANC datang ke
puskesmas dan mengalami banyak komplikasi diantaranya pendarahan
dan bayi yang lahir pun memiliki berat badan lahir rendah. Selain itu
kurangnya ANC menyebabkan pengetahuan pasien masih relatif rendah
yang berdampak pada banyaknya.
Solusi:
a. Bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk menjemput pasien dari
puskesmas
b. Memaksimalkan fungsi tenaga kerja lain agar dapat bekerja ganda saat
tenaga kerja lain tidak ada.
c. Menyarankan kepada dinas kesehatan untuk menambah tenaga kerja baru
untuk proses persalinan.

2.

Pelayanan Nifas Lengkap (ibu dan Neonatus) sesuai standar (KN3)


Tujuan
:
a. Meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
b. Menurunkan angka kematian ibu 42 hari pasca bersalin (nifas)
c. Menurunkan angka kematian neonatus.
Sasaran Kegiatan
:
Seluruh ibu nifas dan neonatus dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II
(3.655 ibu nifas dan 3655 neonatus)
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk pelayanan nifas dan neonatus adalah
98%. Perawatan pada bayi yang baru lahir yang dilaksanakan di Puskesmas
Denpasar Barat II, diantaranya :
a. Pada saat bayi yang baru lahir segera dikeringkan dengan handuk atau
kain yang bersih untuk mencegah kehilangan panas akibat cairan ketuban
pada tubuh bayi.
b. Setelah pemotongan tali pusat, petugas kesehatan akan segera melakukan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
c. Untuk menjaga bayi tetap hangat, petugas kesehatan menunda
memandikan bayi sekurang-kurangnya 6 jam setelah lahir. Bayi kemudian

dibungkus dengan kain kering dan jika berat bayi kurang dari 2500 gram
akan dilakukan metode kangguru (mendekap bayi sehingga kulit bayi
menempel pada dada ibu).
d. Petugas memberikan vitamin K1 untuk mencegah perdarahan pada bayi
baru lahir.
e. Petugas meberikan salep antibiotik untuk mata
f. Petugas meberikan imunisasi Hepatitis B
Sedangkan untuk perawatan ibu nifas dilaksanakan mulai dari dua jam pertama
pada persalinan normal petugas kesehatan akan memantau kesadaran, tekanan
darah, pernafasan, mengecek adakah perdarahan atau tidak, apabila semuanya
dalam keadaan baik dan tidak terjadi perdarahan maka ibu dapat beristirahat. Bila
terjadi perdarahan petugas kesehatan segera menangani dan mencari penyebab
dari perdarahan tersebut. Pada 8 jam setelah melahirkan petugas kesehatan akan
melakukan observasi kembali untuk mengetahui apakah pasien sudah dapat buang
air kecil, hal ini untuk kondisi ibu secara umum. Pasien juga diharapkan untuk
melakukan mobilisasi secepat mungkin, mobilisasi dalam hal ini antara lain turun
dari tempat tidur, belajar duduk dan belajar berdiri. Petugas kesehatan juga
memberikan 2 kapsul vitamin A merah (dosis 200 SI), dimana satu

kapsul

diminum setelah melahirkan dan satu kapsul lagi diminum pada hari berikutnya.
Edukasi yang diberikan oleh petugas kesehatan pada nifas yaitu makan makanan
dengan pola gizi seimbang, istirahat cukup dan menjaga kebersihan alat kelamin
setiap kali kain basah.
Hasil Kegiatan :
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan :

Terlaksananya

Pelayanan Nifas

Lengkap (ibu dan Neonatus) sesuai standar (KN3)


b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku: Ibu hamil yang
bersalin di Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun 2013 sebanyak 3.634.
Angka ini melebihi target yang ditentukan sebanyak 3.582 ibu hamil.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan) : Pada tahun 2013
tidak terdapat kasus kematian ibu nifas. Maka dari itu keberlanjutan
program ini harus diteruskan.
Kendala :
a. Kurangnya SDM mulai dari bidan, perawat, sampai dengan sopir ambulans.

b. Karena puskesmas denpasar barat II berada pada daerah dengan mobilisasi


tinggi, maka banyak ibu hamil yang tidak mendapatkan ANC datang ke
puskesmas dan mengalami banyak komplikasi diantaranya pendarahan dan
bayi yang lahir pun memiliki berat badan lahir rendah. Selain itu kurangnya
ANC menyebabkan pengetahuan pasien masih relative rendah yang
berdampak pada banyaknya.
c. Setelah melahirkan banyak pasien yang tidak datang lagi ke puskesmas
sehingga mendapatkan pelayanan nifas.
d. Diperlukan tenaga untuk senam nifas karena sudah disediakan sarana
prasarana namun kekurangan tenaga orang untuk melaksanakan program
tersebut.
Solusi:
a. Memaksimalkan fungsi tenaga kerja lain agar dapat bekerja ganda saat tenaga
kerja lain tidak ada.
b. Menyarankan kepada dinas kesehatan untuk menambah tenaga kerja baru
untuk proses persalinan.
c. Sistem pelaporan dan komunikasi antar sektor (antar puskesmas) harus
ditingkatkan sehingga jika ada ibu nifas yang pindah ke daerah lain agar tetap
bisa di follow up.
d. Petugas perlu mendapatkan pelatihan untuk senam nifas, sehingga bisa
memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.

3. Pelayanan dan atau rujukan bumil/komplikasi


Tujuan
:
a. Meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
b. Menurunkan angka kematian ibu hamil dengan komplikasi.
Sasaran Kegiatan
:
Seluruh ibu hamil dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (402 ibu hamil)
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk pelayanan dan atau rujukan ibu hamil
dengan komplikasi adalah 100%. Ibu hamil yang dirujuk masih dalam kondisi
baik.
a. Jika ada dua kasus pada waktu bersamaan, namun tenaga bidan atau yang
merawat masih kurang maka salah satu kasus harus dirujuk.
b. Jika pasien menggunakan JBM maka dirujuk ke RS Wangaya

c. Jika pasien menggunakan JBM dan diperlukan penangan berupa SC maka


dirujuk ke Bakti Rahayu
d. Jika pasien menggunakan BPJS maka dirujuk ke RS dengan tipe C (seperti :
RS Puri Raharja, RS Trijata). Jika rumah sakit tipe C tidak bisa menangani,
langsung dirujuk ke RS Wangaya
e. Jika pasien umum disesuaikan dengan status ekonomi pasien
Hasil Kegiatan

a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: Terlaksananya pelayanan dan atau rujukan


bumil/komplikasi
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku: Ibu hamil dengan
komplikasi yang dirujuk oleh Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun 2013
sebanyak 402. Angka ini mencapai target yang ditentukan sebanyak 402 ibu
hamil.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): Meningkatkannya
mutu, cakupan dan efisiensi pelayanan dalam rangka pelaksanaan rujukan
kasus resiko tinggi dan gawat darurat sehingga angka kematian ibu dan bayi
dapat menurun.
Kendala

Kurangnya SDM yang paling vital pada saat merujuk yaitu sopir ambulans.
Solusi

1. Bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk menjemput pasien dari
puskesmas.
2. Memaksimalkan fungsi tenaga kerja lain agar dapat bekerja ganda saat
tenaga kerja lain tidak ada.
3. Menyarankan kepada dinas kesehatan untuk menambah tenaga kerja baru
untuk proses persalinan.

2.2.2

Kegiatan Kesehatan Neonatus


1.
Penanganan dan atau rujukan neonatus risiko tinggi
Tujuan
:
a. Meningkatkan derajat kesehatan neonatus.
b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian neonatus risiko tinggi.
Sasaran Kegiatan
:

Seluruh bayi (0-28 hari/neonatus) dalam cakupan wilayah Puskesmas Denpasar


Barat II (399 neonatus).
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk penanganan dan atau rujukan
neonatus risiko tinggi adalah 100%. Dilakukan observasi dengan APGAR score.
Jika bayi dalam kondisi baik langsung dilakukan rawat gabung. Namun jika
kondisi bayi buruk maka dilakukan tindakan resusitasi neonatus sebelum
dilakukan rujukan. Proses rujukan sama seperti dengan sistem rujukan ibu hamil
risiko tinggi.
Hasil Kegiatan
:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: Terlaksananya Penanganan dan atau
rujukan neonatus risiko tinggi.
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku: Penanganan dan atau
rujukan neonatus risiko tinggi di Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun
2013 sebanyak 399. Angka ini mencapai target yang ditentukan sebanyak 399
neonatus. Pada tahun 2013 tidak terdapat kasus kematian neonatus di wilayah
puskesmas denpasar Barat II. Maka dari itu keberlanjutan program ini harus
diteruskan.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): tercapainya pelayanan
kesehatan pada neonatus dengan cepat, tepat, menggunakan fasilitas neonatus
secara efisien, sehingga angka kematian neonatus dapat menurun.
Kendala :
a. Tingkat pengetahuan masyarakat kurang. Meskipun sudah diberikan informasi
tentang berbagai jaminan kesehatan, namun ibu bersalin dan keluarga masih
menolak untuk menuju pusat rujukan yang ditentukan dengan alas an sosial
ekonomi.
Solusi :
a. Menggalakan

promosi

kesehatan

dalam

upaya

pendekatan

program

puskesmas kepada masyarakat.


b. Puskesmas dengan kadernya harus turun ke lapangan untuk memantau kondisi
ibu serta neonatus yang tidak datang ke puskesmas.
c. Puskesmas serta kader harus lebih aktif melakukan pendekatan personal
kepada ibu nifas, agar lebih diketahui permasalahan setiap ibu dan dicarikan
solusinya.

2.

Cakupan BBLR yang ditangani


Tujuan :
a. Meningkatkan derajat kesehatan bayi.
b. Menurunkan angka kematian bayi baru lahir.
c. Menurunkan angka kematian bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah.
Sasaran Kegiatan

Seluruh ibu hamil dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (402 ibu hamil)
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk penanganan BBLR adalah 100%.
Proses pertama yang dilakukan adalah observasi dengan APGAR score. Jika bayi
dalam kondisi baik langsung dilakukan rawat gabung. Namun jika kondisi bayi
buruk maka dilakukan tindakan resusitasi neonatus sebelum dilakukannya
rujukan.
Hasil Kegiatan
:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: Terlaksananya penanganan BBLR
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku : Bayi berat badan
lahir rendah yang ditangani oleh Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun
2013 sebanyak 611. Angka ini melebihi target yang ditentukan sebanyak 402
ibu hamil.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): menurunya angka
kematian bayi
Kendala :
Pelatihan jarang dilakukan sehingga beberapa petugas melupakan beberapa
prinsip penggunaan alat untuk menolong bayi BBLR (contohnya : inkubator)
Solusi :
Dinas kesehatan harus lebih sering melaksanakan pelatihan penanganan BBLR
kepada seluruh staf yang berperan dalam bayi baru lahir.
3. Pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang balita di posyandu
Tujuan
:
a. Meningkatkan derajat kesehatan balita.
b. Menurunkan angka kematian balita.
c. Menurunkan angka gizi kurang dan berlebih pada balita.
Sasaran Kegiatan
:
Seluruh balita dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (14.093 balita)
Proses Pelaksanaan :
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk pelayanan deteksi dan stimulasi dini
tumbuh kembang balita di posyandu adalah 80%. Puskesmas memberikan kartu
dan buk pannduan penilai tumbuh kembang baita kepada kader untuk digunakan

saat pelaksanaan pelayanan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang posyandu.
Kartu tumbuh kembang dan buk panduan tersebut digunakan oleh kader sebagai
panduan dan penilai tingkat perkembangan balita.
Hasil Kegiatan
:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: Terlaksananya pelayanan deteksi dan
stimulasi dini tumbuh kembang balita di posyandu
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku

: Balita yang

mendapat pelayanan tumbuh kembang di Puskesmas Denpasar Barat II


pada tahun 2013 sebanyak 13.881. Angka ini melebihi target yang
ditentukan sebanyak 11.274 balita.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): Terwujudna anak
yang sehat, baik sehat secara jasmani maupun sehat secara rohani
sehingga bisa hidup sukses dan mampu bersaing ditengah persaingan
global di masa mendatang serta bermanfaat bagi nusa, bangsa dan agama.
Kendala :
Tidak tersedianya klinik tumbuh kembang di puskesmas sehingga belum bisa
menilai faktor motorik anak (anak yang sudah bisa merangkak seharusnya
dirangsang untuk mencari bola yang dilepaskan petugas sehingga dapat dinilai
keaktifan anak)
Solusi :
Puskesmas harus meningkatkan fungsi posyandu untuk peninjauan tumbuh
kembang anak sehingga dapat menggantikan klinik tumbuh kembang yang tidak
ada di puskesmas.

4. Penimbangan berat badan balita


Tujuan :
a. Meningkatkan derajat kesehatan balita.
b. Menurunkan angka kesakitan dan kematian balita.
c. Mendeteksi balita yang berisiko yang berisiko tinggi mengalami gagal
tumbuh.
Sasaran Kegiatan:
Seluruh balita dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (2.517 balita).
Proses Pelaksanaan:

Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk penimbangan berat badan balita


adalah 80%.
Hasil Kegiatan:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: terlaksananya penimbangan berat badan
balita di wilayah cakpan Puskesmas Denpasar Barat II
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku :

Balita

yang

mendapat pelayanan penimbangan berat badan dalam cakupan wilayah


Puskesmas Denpasar Barat II pada tahun 2013 sebanyak 1.927. Angka ini
masih di bawah target yaitu 2.014 balita. Pada tahun 2013 masih terdapat
balita yang mengalami gizi buruk sebanyak dua balita. Namun balita ini telah
mendapat pantauan dari puskesmas denpasar barat II. Keberlanjutan program
ini harus diteruskan untuk menurunkan kasus gizi buruk di wilayah puskesmas
ini.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): diketahuinya kondisi
pertumbuhan balita dan dapat dilaksanakannya pencegahan gangguan
pertumbuhan balita secara dini.
Kendala:
Terbentur odalan, orang yang datang sedikit.
Solusi:
Petugas puskesmas dan kader harus lebih aktif dalam pemantauan balita yang
tidak mendatangi posyandu dengan kunjungan rumah.

5. Bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI ekslusif


Tujuan :
Meningkatkan derajat kesehatan balita.
Sasaran Kegiatan:
Seluruh balita dalam wilayah Puskesmas Denpasar Barat II (121 balita).
Proses Pelaksanaan:
Sasaran puskesmas Denpasar Barat II untuk program ASI eksklusif pada bayi usia
0-6 bulan untuk penimbangan berat badan balita adalah 80%.
Hasil Kegiatan:
a. Output/keluaran/cakupan kegiatan: Terlaksananya ASI ekslusif pada bayi usia
0-6 bulan.
b. Outcome/perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku

: Bayi usia 0-6 bulan

yang mendapat program ASI eksklusif dalam cakupan wilayah Puskesmas

Denpasar Barat II pada tahun 2013 sebanyak 77 bayi. Angka ini masih di
bawah target pencapaian yaitu 91 bayi.
c. Impact (dampak berupa peningkatan status kesehatan): Tercapainya nutrisi
seimbang dan kekebalan tubuh ideal pada bayi.
Kendala :
a. Ibu cuti pegawai 3 bulan
b. Tidak bisa follow up yang terus-menerus.
Solusi :
a. Mengedukasi dan memotivasi ibu yang bekerja untuk memerah ASI dan
mengedukasi penyimpanan ASI yang baik dan benar.
b. Jika memungkinkan, ibu harus harus pulang ke rumah untuk menyusui setiap

dua jam sekali