Anda di halaman 1dari 39

Flaccid Paraplegia

Oleh :
Putri Ulfha Raihan
15174002

Flaccid paraplegia
Definisi
Paraplegiaadalah penurunan
motorikataufungsi sensorikdari
gerak tubuh.
Paraplegi flaksid adalah kelemahan
atau kurangnya otot yang tidak
memiliki penyebab yang jelas.

Etiologi
".Hal ini biasanya disebabkan oleh
cederasumsum tulang belakang
ataubawaankondisi sepertispina
bifidayang mempengaruhi elemen
saraf dari kanal tulang belakang.Luas
kanal tulang belakang yang
terpengaruh dalam paraplegia
adalah toraks, lumbal, atau wilayah
vital lainnya

Klasifikasi
Plegia pada anggota gerak dibagi mejadi 4 macam,
yaitu :
Monoplegia adalah paralisis/ kelemahan berat
pada satu ekstremitas atas atau ekstremitas
bawah.
Paraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada
kedua ekstremitas bawah.
Hemiplegia adalah paralisis/ kelemahan berat
pada satu sisi tubuh yaitu satuekstremitas atas
dan satu ekstremitas bawah pada sisi yang sama.
Tetraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat
pada keempat ekstremitas.

Paraplegi terbagi menjadi tipe


spastic (UMN) dan flaksid (LMN).
Paraplegi spastik adalah kekakuan
otot dan kejang otot disebabkan oleh
kondisi saraf tertentu.

Anatomi
Tulang belakang atau vertebra adalah
tulang tak beraturan yang
membentuk punggung yang mudah
digerakkan. terdapat 33 tulang
punggung pada manusia, 7
tulangcervical, 12 tulang thorax
(thoraks atau dada), 5 tulang lumbal,
5 tulang sacral, dan 4 tulang
membentuk tulang ekor (coccyx).

Medula spinalis mulai dari akhir


medulla oblongata di foramen
magnum sampai konus medullaris di
level Tulang Belakang L1-L2. Medulla
Spinalis berlanjut menjadiKauda
Equina (di Bokong) yang lebih tahan
terhadap cedera.

Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi


dalam empat kelompok nervus spinalis, yaitu :5
a. nervus servikal : berperan dalam pergerakan
dan perabaan pada lengan, leher, dananggota
tubuh bagian atas
b. nervus thorak : mempersarafi tubuh dan
perut
c. nervus lumbal dan nervus sakral :
mempersarafi tungkai, kandung kencing, usus
dan genitalia.

Biasanya timbul kelumpuhan yg sifatnya


paraparese /tetraparese
Paraparese UMN : lesi terdapat supranuklear
thd segmen medula spinalis lumbosakral (L2S2).
Paraparese LMN : lesi setinggi segmen
medula spinalis L2-S2 atau lesi infranuklear.
Tetraparese UMN : lesi terdapat supranuklear
terhadap segmen medulaspinalis servikal IV.
Tetraparese : ekst.superior LMN, ekst. Inferior
UMN

Diagnosa
Mendiagnosanya dengan
pemeriksaan riwayat perjalanan
penyakit dan pemeriksaan fisik dan
neurologi. Karena sering sulit untuk
membedakan antara penderita
idiopatik dengan penderita yang
mempunyai suatu penyakit,
pemeriksa pertama sekali harus
menyingkirkan penyebab tersebut.

Diagnosa banding
sindroma gullain barre, jenis
kelumpuhan flaksid serta pola
gangguan sensibilitasnya di samping
mengenai kedua tungkai juga
terdapat pada kedua lengan (glove
and stocking).

Pengobatan
Tujuan pengobatan pertama
ditujukan untuk meredakan respon
immun yang disebabkan oleh trauma
medulla spinalis.
Pengobatan awal dengan pemberian
steroid dosis tinggi secara intravena
atau oral. beberapa kasus,obat
immunosuppresent yang sangat kuat
seperti cyclophosphamide boleh
diberikan.

Pemberian glukokortikoid atau ACTH ,


biasanya diberikan pada penderita yang
datang dengan gejala awitannya sedang
berlangsung dalam waktu 10 hari pertama
atau bila terjadi progresivitas defisit
neurologik. . Glukokortikoid dapat diberikan
dalam bentuk prednisolon oral 1 mg / kg
berat badan / hari sebagai dosis tunggal
selama 2 minggu lalu secara bertahap dan
dihentikan setelah 7 hari. Bila tidak dapat
diberikan peroral dapat pula diberikan
metilprednisolon secara intravena dengan
dosis 0,8 mg / kg/hari dalam waktu 30 menit.

Selain itu ACTH dapat diberikan


secara intramuskular dengan dosis
40 unit dua kali perhari (selama 7
hari), lalu 20 unit dua kali sehari
(selama 4 hari) dan 20 unit dua kali
perhari (selama 3 hari) . untuk
mencegah efek samping
kortikosteroid, penderita diberi diet
rendah garam dan simetidin 300 mg
4 kali / hari atau ranitidin 150 mg 2
kali / hari. Selain itu sebagai alternatif
dapat diberikan antasida peroral.

Prognosis
Perbaikan biasanya dimulai antara 2
sampai 12 minggu dari onset gejala
dan mungkin berlangsung sampai 2
tahun. Bagaimanapun bila tidak ada
perbaikan dalam 3 6 bulan
pertama, maka tidak dijumpai
penyembuhan yang signifikan.

Laporan Kasus

Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 68 tahun
Jenis Kelamin: perempuan
Status perkawinan : kawin
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat : Mantang/Tringgadeng
No CM : 154740
Tanggal Masuk : 28 Desember 2015
Tanggal Keluar : 4 Januari 2016

Anamnesa
Keluhan Utama : Kedua kaki terasa kebas-kebas
Keluhan Tambahan : Gatal-gatal di seluruh tubuh
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan
keluhan kebas-kebas pada kedua kaki,keluhan ini sudah
dirasakan sejak 1 minggu SMRS RSUD Sigli.Keluhan ini
terjadi secara tiba-tiba,saat hendak bangun tidur,terjadi
secara terus-menerus,kebas-kebas membaiksaat
dipijat,kemudian kembali saat tidak dipijat lagi.pasien juga
mengeluhkan gatal-gatal seluruh tubuh,dan kunjung
membaik beberapa hari setelahnya.Kemudia pasien juga
mengelhkan ada demam,membaik ketika di beri obat
penurun panas,diketahui pasien pertama kali di rawat di
RS Tringgadeng,setelah sehari berselang pasien di rujuk ke
RS Meureudu dan pada hari senin pagi di rujuk ke RSUD
Sigli,dengan keadaan kedua kaki sudah mulai membaikdari
keadaan pertama kali,kebas-kebas sudah mulai
berkurang,hanya terasa gatal di seluruh tubuh.

Riwayat Penyakit Dahulu : (-)


Riwayat Penyakit Keluarga : (-)
Riwayat Penggunaan Obat
: (-)
Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Vital sign
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 78x/menit
RR : 24x/menit
T : 36 0C

Status Internus
Kepala
Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut
Wajah : Simetris
Mata : Conjungtiva palpebra inferior pucat (-/-), isokor
(+/+),refleks cahaya langsung (+/+)
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), epistaksis (-)
Mulut : Merot ke kanan/ke kiri (-)
Bibir : Sianosis (-), pucat (-)
Lidah : Tidak mengalami defiasi ke kiri maupun ke kanan
Tonsil: Hiperemis (-) T1-T1
Faring : Hiperemis (-)
Leher :
- Kelenjar tiroid : tidak membesar (dalam batas normal)
- Kelenjar limfe : tidak membesar (dalam batas normal)

Thorax
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis (-), jejas (-)
Palpasi : Ictus cordis teraba (-)
Perkusi :
Batas jantung atas : ICS II linea midclavicula sinistra
Batas jantung kiri :ICS V linea midclavicularis anterior sinistra
Batas jantung kanan : ICS IV linea parasternalis dextra
Auskultasi : Bunyi jantung 1> bunyi jantung 2, regular
Bising jantung (-), pansistolik murmur (-)
Paru
Inspeksi : Simetris (+/+)
Palpasi : Stem fremitus ka=ki
Perkusi : Sonor (+/+)
Auskultasi : Suara pernafasan vesikuler (+/+)
Suara tambahan wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)

Abdomen
Inspeksi : Simetris (+), jejas (-), venectasi (-),
distensi (-),
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar, lien tidak teraba,
ballottement (-)
Perkusi : Timpani (+) di empat kuadran abdomen
Ekstremitas
Ekstremitas atas : Edema (-/-), pucat (-/-), sianosia
(-/-), ikterik (-/-)
Ekstremitas bawah : Edema (-/-), pucat (-/-), sianosia
(-/-), ikterik (-/-)
Genetalia : tidak dapat dilakukan pemeriksaan
Anus : tidak dapat dilakukan pemeriksaan
Tulang belakang : dalam batas normal

Status Neurologi
Kesadaran : Compos mentis
GCS : E4V5M6
Tanda perangsangan meningeal
Kaku kuduk : (-)
Kernig sign: (-)
Laseque sign : (-)
Brudzinski 1 : (-)
Brudzinski II : (-)

N. Opticus Kanan Kiri


Ketajaman penglihatan : + +
Lapang Pandang :
++
Tes warna : + +
N. Opticus, N.Oculomotorius (N.II,
N.III) Kanan Kiri
Diameter Pupil : 2 mm 2 mm
Tes konvergen : + +
Refleks cahaya langsung: + (N) + (N)
Refleks cahaya tidak langsung: + (N) +
(N)

N. Oculomotorius, N. Abdusen (N.III, N.


IV) Kanan
Kiri
Gerakan mata ke dalam : (+) (N) (+) (N)
Gerakan mata ke atas : (+)(N) (+) (N)
Gerakan mata ke bawah : (+) (N) (+) (N)
Gerakan mata ke lateral : (+)(N) (+) (N)
N. Trigeminus (N.V) Kanan Kiri
Rasa raba :
+ (N) + (N)
Rasa suhu :
+ (N) + (N)
Refleks kornea :
+ (N) + (N)
Tes menggigit :
+ (N) + (N)
Refleks Jaw refleks : + (N)

N. Facialis (N. VII) Kanan Kiri


Pengecapan 2/3 depan lidah : + (N) + (N)
Mengerut kening + (N) + (N)
Menutup mata :+ (N) + (N)
Menunjukkan gigi : + (N)
Menggembungkan pipi : + (N)
N. Vestibulokoklearis (N. VIII) Kanan
Kiri
Menggesek jari : +(N) + (N)
Tes rinne: +(N) + (N)
Tes weber : + (N) + (N)
Tes scwabach : + (N) + (N)

N. Glosopharyngeus, N. Vagus (N.IX, N.X)


Kualitas suara pasien :Jelas
Refleks muntah: + (N)
Refleks menelan : + (N)
N. Accesorius (N.XI) Kanan
Kiri
Mengangkat bahu : + (N) + (N)
Memutar kepala : + (N) + (N)
N. Hipoglosus (N.XII)
Atrofi : Fagikulasi : Menjulurkan lidah: +
Motorik Superior Inferior
Pergerakan : 5555 5555
Kekuatan otot : 3333 3333
Tonus : + (N)
Trofi :Nomotrofi

Refleks Fisiologis
Refleks biceps : +/+
Refleks triceps : +/+
Refleks brachioradialis : +/+
Refleks patella : -/Refleks achiles : -/Refleks Patologis
Refleks Hoffman : -/Refleks trommer : -/Refleks balbinski : -/Refleks Oppen heim: -/Refleks Gordon : -/Refleks schaefner: -/Refleks chaddock : -/Refleks gonad : -/-

Klonus
Klonus paha : Klonus kaki : Sensibilitas
Raba : + (N)
Suhu : + (N)
Nyeri : + (N)
Vegetatif
Miksi : + (N)
Defekasi : + (N)
Keseimbangan
Tes Romberg mata terbuka :sulit dinilai
Tes Romberg mata tertutup :sulit dinilai
Tes tendem :sulit dinilai
Tes koordinasi
Tes jari ke hidung :sulit dinilai
Tes jari ke jari pemeriksa :sulit dinilai
Tes hidung ke jari secara bergantian :sulit dinilai
Pronasi supinsi bergantian :sulit dinilai
Tes tumit lutut :sulit dinilai
Tes tumit tulang kering :sulit dinilai

Hasil

Nilai rujukan

Hemoglobin

10,7 g/dl

12-18

Hematocrit

31,8 %

37-54

Granulosit

24,7

1,2-6,8

Leukosit

12,2 10^3/

4_10

MPV

5,6

7-11

MCV

73,8 Fl

80-97

MCH

24,8 pg

26-34

MCHC

33,6 %

31 35,5

Diagnosa
Diagnosa Fungsional : Flaccid Paraplegia
Diagnosa Topis : Et region sinistra
Diagnosa Etiologis : Flaccid paraplegia
Diagnosa Banding : Flaccid paraplegia
GBS
Diagnosa Kerja : Flaccid paraplegia
Penatalaksanaan
IVFD Assering 20 gtt/i
Inj.Mecobalamin 1 amp/12 jam
Gabapentin 2 x 1
Sohobion 2 x 1

Perintah
Tanggal

dan

Pengobatan

Perjalanan Penyakit
diberikan

29-12-2015

IVFD Assering 20 gtt/i

H-1

Inj.Mecobalamin 1 amp/12 jam


S/Lemah anggota gerak bawah

Inj.Alinamin 1 gr/12 jam

Gatal-gatal di seluruh tubuh

Metilprednisolon 3 x 16 mg

/ Status internus: dalam batas normal


Status neurologi:
Kesadaran: Compos mentis
GCS: E4V5M6 = 15
TD: 120/70 mmHg
N: 72x/m

RR: 18x/m
T: 36,20C

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda

rangsangan

meningeal:

Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal

Dalam

yang

Tanggal

Perjalanan Penyakit

Perintah

dan

Pengobatan

diberikan
30-12-2015

S/Lemah anggota gerak bawah

H-2

Gatal-gatal di seluruh tubuh

-IVFD Assering 20 gtt/i

Pusing

-Drip Paracetamol 1 fls/8 jam

O/ Status internus: Dalam batas normal

-Inj.Furosemid 1 amp/12 jam

Status neurologi:

-Aspar-K 2x1

Kesadaran: Compos mentis


GCS: E4V5M6 = 15
TD: 110/70 mmHg

RR: 20x/m

N: 72x/m

T: 360C

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda

rangsangan

meningeal:

Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal
Motorik: 5555 5555
4444 4444
Sensorik : Dalam batas normal
Refleks fisiologis : +/+

Dalam

yang

Tanggal

Perjalanan Penyakit

Perintah

dan

Pengobatan

diberikan
31-12-2015

S/ Lemah anggota gerak bawah,pusing

H-3

O/ Status internus: Dalam batas normal

-IVFD Assering 20 gtt/i

Status neurologi:

-Inj.Furosemid 1 amp/hari

Kesadaran: Compos mentis

-Inj.Meropenem 1 gr/12 jam

GCS: E4V5M6 = 15
TD: 100/70 mmHg

RR: 24x/m

N: 72x/m

T: 360C

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda

rangsangan

meningeal:

Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal
Motorik: 5555 5555
4444 4444
Sensorik : Dalam batas normal
Refleks fisiologis : +/+
Refleks patologis : -/-

Dalam

yang

Tanggal

Perjalanan Penyakit

Perintah

dan

Pengobatan

diberikan
1-1-2016

S/Lemah anggota gerak bawah

H-4

Pusing

-IVFD Assering 20 gtt/i

Demam manjelang sore

-Inj.Furosemid 1 amp/hari

O/ Status internus: Dalam batas normal

-Inj.Meropenem 1 gr/12 jam

Status neurologi:
Kesadaran: Compos mentis
GCS: E4V5M6 = 15
TD: 100/70 mmHg

RR: 23x/m

N: 74x/m

T: 36,50C

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda

rangsangan

meningeal:

Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal
Motorik: 5555 5555
4444 4444
Sensorik : Dalam batas normal

Dalam

yang

Tanggal

Perjalanan Penyakit

Perintah

dan

Pengobatan

diberikan
2-1-2016

S/ pusing

H-5

Nafsu makan kurang

-IVFD Assering 20 gtt/i

sariawan

-Inj.Furosemid 1 amp/hari

O/ Status internus: Dalam batas normal

-Inj.Meropenem 1 gr/12 jam

Status neurologi:
Kesadaran: Compos mentis
GCS: E4V5M6 = 15
TD: 120/80 mmHg

RR: 24x/m

N: 73x/m

T: 36,50C

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda

rangsangan

meningeal:

Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal
Motorik: 5555 5555
4444 4444
Sensorik : Dalam batas normal

Dalam

yang

4-1-2016

S/ pusing (-)

H-7

O/ Status internus: Dalam batas normal -

PBJ

Status neurologi:

Asfixim 2x 1

Kesadaran: Compos mentis

Micobalamin 2x1

GCS: E4V5M6 = 15

As.Folat 2 x 1

RR: 22x/m

Metilprednisolon 2x1

T: 36,50C

Sohobion 2x1

TD: 100/80 mmHg


N: 74x/m

Mata: pupil isokor (+/+), refleks cahaya


langsung (+/+)
Tanda rangsangan meningeal: Dalam
Batas Normal
N. cranial : Dalam Batas Normal
Motorik: 5555 5555
4444 4444
Sensorik : Dalam batas normal
Refleks fisiologis : +/+
Refleks patologis : -/Ass/Flaccid Paraplegia

Penutup
Parese adalah kelemahan parsial yang ringan/tidak lengkap
atau suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian
gerakan atau gerakan terganggu. Plegia adalah kelemahan
berat/kelumpuhan sebagai akibat kerusakan sistem saraf. 1
Plegia pada anggota gerak dibagi mejadi 4 macam, yaitu :
Monoplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada satu
ekstremitas atas atau ekstremitas bawah.
Paraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada kedua
ekstremitas bawah.
Hemiplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada satu sisi
tubuh yaitu satuekstremitas atas dan satu ekstremitas bawah
pada sisi yang sama.
Tetraplegia adalah paralisis/ kelemahan berat pada keempat
ekstremitas.

Daftar Pustaka
1.Aminorf, J.M., Greenberg, A.D., and Simon, P.R., 2005. Clinical Neurology. Edisi
7.USA:Lange Medical Books/McGraw-Hill.p 155-157
2.Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: EGC.
3.Diana Kohnle. 2011. Paraplegia. Keck Medical Center of University Of Sourthern
California. Diakses dari
4.Adam, R.D., Victor, M. and Ropper, A.H. 2005. Principles of Neurology. Edisi 8.
NewYork : McGraw-Hill. p 50-52; 1049-1092
5.R. Putz, R. Pabst. 2006.Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Edisi 21.Jilid 2. Jakarta: EGC.
6.Sherwood L. 2007. Human physiology from cells to system. Edisi ke-6. Canada:
ThomsonBrooks/ Cole;.p. 77-211.
7.National Institut of neurological disorder and stroke, myelitis trasversa dalam
www.ninds.nih.gov/disorder/trasversemyeilitis.
8.Anonymous. transversa myelitis Dalam www.wikipedia.org/wiki/trasverse myelitis
9.Anonymous,mielitistranversaDalam
www.healthnewsflash.com/conditions/transverse_myelitis.htm
10.Harsono, dr. 2003. Mielitis transversa Dalam Kapita Selekta Neurologi, Gajah
mada University press, Yogyakarta