Anda di halaman 1dari 59

Disusun Oleh

dr. M Arbai Ramadhan

Definisi
Trauma lahir ialah cedera pada neonatus
akibat proses persalinan/ kelahiran
trauma mekanis

Ragam Cedera Akibat Trauma Lahir

Trauma jaringan lunak


eritema, petekie, ekimosis/ hematoma,
abrasi/ laserasi kulit

Trauma superfisial
perdarahan ekstrakranial : kaput suksedaneum,
sefalhematoma,
perdarahan subgaleal (subaponeurosis)

Trauma alat dalam (intra abdominal)


hati, limpa, kelenjar adrenal

Ragam Cedera Akibat Trauma Lahir

Trauma otak (perdaharan intrakranial)


perdarahan subdural, subarachnoid primer,
intraventrikular, intraserebelar

Fraktura tulang

klavikula, humerus, femur, tengkorak


(linier, depresi)

Paresis/ paralisis

plexus brachialis, saraf phrenicus,


saraf fasialis perifer

Kaput Suksedaneum

Terjadinya akibat tekanan yang keras pada kepala oleh jalan


lahir
benjolan difus, karena bendungan sirkulasi kapiler dan limfe
Benjolan di luar periosteum dapat melampaui sutura
Terdapat edema tekan, teraba lunak, berbatas tegas, tidak
berfluktuasi

Kaput Suksedaneum

Edema (benjolan) berisi plasma: sering bercampur sedikit


darah terlihat segera setelah bayi lahir
Tidak perlu pengobatan khusus, menghilang dalam 2 4 hari
Sering teraba benjolan moulage daerah sutura sagitalis
Prognosis baik

Sefal hematoma

Perdarahan pada ruangan sub-periosteum


kepala, perlahan-lahan benjolan baru tampak beberapa jam
setelah lahir (umur 6 8 jam)
Batasnya tegas, tidak melewati sutura, berfluktuasi
(timbunan darah)

Sefal hematoma

Klinis tumor batas tegas kenyal


Tumor besar anemia
Kadang-kadang berhubungan dengan fraktur linier tulang
tengkorak (5 15 %)
Tidak perlu terapi resolusi sendiri 2 8 minggu
Gejala sisa: timbul perkapuran
mengeras mengecil dalam waktu 2 3 bulan
Prognosis baik

Perdarahan Sub-aponeurosis/Subgaleal

Perdarahan di bawah galea aponeurosis


Etiologi: trauma lahir dan defek sistem koagulasi
darah
Tanda klinis
Batas tidak tegas
Warna kemerahan
Fluktuasi positif
Dapat meluas
Disertai anemia bila berat
kesan: bentuk kepala tidak simetris

Perdarahan Sub-aponeurosis

Pemeriksaan diagnostik
Foto

rontgen kepala/ CT-scan


Pungsi lumbal bila perlu
Uji trombosit/ pembekuan darah

Terapi
Istirahat

jangan banyak dimanipulasi


Transfusi darah bila perlu
Perbaiki K.U
Vitamin K

Prognosis
Tergantung

luasnya perdarahan 2 3 minggu

Perdarahan Intrakranial

Perdarahan Subdural : BCB > BKB


Perdarahan Subarachnoid primer
BKB > BCB
Faktor penyebab: trauma atau hipoksia
Perdarahan Intraserebelar jarang
BKB
Faktor penyebab: hipoksia atau trauma
Perdarahan Periventrikular intraventrikular
BKB
Faktor penyebab: umumnya hipoksia

Perdarahan Subdural

Ukuran kepala > jalan lahir


Lahir presentasi muka/ dahi
Robekan falks serebri
Laserasi selaput dura/ tentorium serebelli

Gejala klinis:

Kehilangan

darah: pucat, gawat napas, ikterus (hemolisis)


Tekanan intrakranial : iritabel, kejang fokal, letargi, tangis
melengking, hipotoni, ubun-ubun membonjol, sutura >
Tap subdural D/ + Th/
CT-Scan, MRI

Tatalaksana
Operasi penurunan tekanan intrakranial

Perdarahan Subarachnoid Primer

Ruptur pembuluh darah kecil di daerah leptomeningeal


timbunan darah di lekukan serebral post + fossa post.
Perdarahan sedikit gejala minimal/ - (iritabel, kejang)
Perdarahan masif (jarang)
gejala: sopor/ koma, apne, kejang tonik kematian

Diagnosis
Gambaran

klinis, CT-Scan kepala


LP CSS: eritrosit/ protein

Tatalaksana:
Simtomatik:

kejang, gangguan napas

Prognosis
Tanpa

komplikasi baik
Komplikasi hidrosefalus (adhesi sisa perdarahan)

Perdarahan Intraserebelar

Laserasi serebelum, ruptur vena besar, atau ruptur sinus oksipitalis

Gambaran klinis
Gejala kompresi batang otak: apnea/ napas tak teratur,

bradikardi
Gejala tekanan intrakranial: UUB membonjol, sutura melebar

Diagnosis
USG kurang sensitif
CT-Scan, MRI dilatasi ventrikel

Komplikasi
Gejala neurologis: tremor, ataksia, hipotoni
Gangguan intelek
Hidrosefalus bedah: pirau ventrikulo-peritoneal ( V-P Shunt)

Perdarahan Intracranial

Perdarahan periventrikuler-Intraventrikuler

Faktor risiko:
Trauma

mekanik (cunam, sungsang)


Hipoksi/ asfiksia (skor APGAR rendah)
Masa gestasi < 32 minggu
BBLR < 1500 gram
Gejala klinis:
Iritabel, sopor, kejang fokal/ multifokal
Apnea, UUB membonjol

Diagnosis:
USG,

CT-Scan
LP CSS: warna santokrome, eritrosit >, protein

Komplikasi: hidrosefalus

Fraktura Klavikula

Jenis Fraktur
Total:

krepitasi, deformitas
Greenstick

Gejala Klinis
Fraktura

greenstick: seringkali tanpa gejala 1 2 minggu

kalus
Fraktura total:
Bayi menangis terus
Refleks moro tak simetris atau tak ada pada sisi terkena
Radiologis: adanya fraktur (total/ greenstick)

Fraktura Tulang Panjang

Fraktur Femur
Akibat

kesulitan melahirkan kaki


Klinis: tanda-tanda umum fraktura krepitasi

Fraktur Humerus
Akibat

kesulitan melahirkan bahu


Klinis: tanda-tanda umum fraktura

Fraktura Tulang Rusuk


Biasanya

penyakit osteogenesis imperfekta kongenital


Fraktur patologik
Klinis: sindrom gawat napas, menangis kesakitan
Foto Ro toraks: fraktur multipel

Paresis Akibat Trauma Lahir

Paresis Pleksus Brakialis


ekstremitas atas

Paresis N.VII (Saraf fasialis perifer)

Paresis N. Frenikus
Serabut saraf C3,C4,C5 Otot

diafragma

Paresis Pleksus Brakialis

Patologi
Paresis ERB : C5 dan C6
(kadang-kadang C7)
Paresis KLUMPKE : C8 dan Th1

Klinis
Refleks biseps negatif, refleks pegang positif (Duchene
Erb)
Refleks moro asimetrik
Paresis/paralisis sisi terkena
Klumpke: ptosis mata (serabut simpatis Th1)
Refleks biseps (+), refleks pegang (-)

Paresis Pleksus Brakialis

Prognosis
Tergantung kerusakan
Paresis Erb baik
Klumpke sedang

Terapi
Fisioterapi mencegah kontraktur
Koreksi bedah bila dalam waktu 3 bulan tidak
ada penyembuhan fungsi

Paresis N.VII

Etiologi: penekanan keras pada saraf


akibat
Jepitan daun cunam (forceps)
Tulang panggul/ pelvis ibu (partus spontan, letak kepala yg
lama/ sukar)
Klinis:
Ringan: menangis bagian yang sakit lumpuh
Berat: mata sisi sakit tak dapat menutup
Terapi:
Fisioterapi
Ringan sembuh sendiri (beberapa minggu)

Paresis N. Frenikus

Paresis serabut sarah C3,C4,C5) Otot diafragma


Etiologi: tarikan/ laserasi
Diagnosis:
Fisis: dispnea
Fluoroskopi: seesaw movement (inspirasi diafragma sehat
ke bawah, sakit ke atas)
USG
Terapi:
Konservatif: berbaring setengah duduk
Perbaikan ventilasi dan oksigenasi
Fisioterapi
Pembedahan (bila perlu, 3-4 bulan kemudian)

KELAINAN KONGENITAL

DEFINISI

Kelainan Bawaan (Kelainan Kongenital) adalah suatu


kelainan pada struktur, fungsi maupun metabolisme
tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan.
Sekitar 3-4% bayi baru lahir memiliki kelainan bawaan
yang berat.
Beberapa kelainan baru ditemukan pada saat anak
mulai tumbuh, yaitu sekitar 7,5% terdiagnosis ketika
anak berusia 5 tahun, tetapi kebanyakan bersifat
ringan.

Faktor resiko kelainan bawaan

Teratogenik
Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan teratogen.
Gizi
Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya
spina bifida atau kelainan tabung saraf lainnya
Faktor fisik pada rahim
(misalnya anensefalus atau atresia esofagus
Faktor genetik dan kromosom
Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan
bawaan

Beberapa kelainan bawaan yang


sering ditemukan:
4.

Celah bibir atau langit-langit mulut (sumbing)


Defek tabung saraf
Kelainan jantung
Cerebral palsy

5.

Clubfoot

6.
7.

Dislokasi panggul bawaan


Hipotiroidisme kongenital

8.

Defek saluran pencernaan

9.

Sindroma Down

10.

Fenilketonuria

1.
2.
3.

DOWN SYNDROME

KEJANG PADA NEONATUS

Definisi

Adalah manifestasi klinis dari lepas


muatan listrik berlebihan dari selsel
neuron di otak yang terganggu fungsinya
Gangguan tersebut bisa disebabkan oleh
kelainan fisiologis,anatomis,biokimia atau
gabungan dari ketiga kelainan tersebut.
Terjadi pada masa neonatus ( 0-28 hari )

Patofisiologi

Kejang dapat terjadi akibat adanya depolarisasi


(penurunan muatan negatif dari keadaan potensial
istirahat)
Penyebab depolarisasi adalah
Jumlah

neurotransmiter eksitatori ( As Glutamat


) yang berlebihan
Berkurangnya neuro transmitter inhibisi (GABA).
Gangguan pada pompa NA K ATP Ase
Gangguan pada membran sel neuron

Tipe kejang pada neonatus

Etiologi Kejang (1)

Kelainan pada SSP


1.
2.
3.
4.

Asfiksia
: HIE ( Hypoxic Ischemic Encephalopathy )
Trauma
: Perdarahan
Infeksi
: Meningitis, ensefalitis
Kelainan Bawaan : Malformasi otak

Kelainan Sistemik yang berpengaruh pada SSP


1.
2.
3.
4.
5.

Gangguan Metabolik (glukosa,Calsium,Natrium,Mg)


Kelainan metabolisme ( inborn error of metabolism )
Kelainan yang berhubungan dengan obat (putus obat)
Hiperbilirubinemia ( Kern Ikterus)
Infeksi : TORCH, Sepsis

Pengelolaan

Tujuan
Menghentikan

kejang dan mencegah berulangnya kejang


Mencari dan mengobati penyebab kejang
Menghindari seminimal mungkin kerusakan otak
Mencegah komplikasi

Umum
Pertahankan

jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi sistemik baik


Oksigenasi adekuat
Pemasangan akses vena
Pada kejang yang sering pemberian minum dihentikan
Koreksi kelainan yang ada ; hipoglikemia, hipokalsemia

Pengelolaan

Khusus
Terapi awal

Terapi
rumatan

Hipoglikemia

Glukose 10% 2ml/kg Glukose 10 %


bb iv
8 mg/kg BB

Hipokalsemia

Kalsium Glukonas
5% 4 ml/kg iv

Pyridoksin (Vit B6 )

50 -100 mg iv

Pengelolaan
Obat anti kejang

Terapi
1.
2.
3.

standart :

Lini pertama : Phenobarbital


Lini kedua : Phenitoin
Lini ketiga : Midazolam

ALUR PENATALAKSANAAN KEJANG PADA NEONATUS (2)


Phenobarbital 20mg/kgbb/dosis IV selama 20 menit
kejang
Kejang berhenti
Phenobarbital
3-5 mg/kg bb/hr IV / PO

Phenobarbital 10mg/kgbb IV selama 10 menit


kejang
Phenobarbital 10 mg/kg bb IV
kejang berlangsung pindah
ke NICU
phenytoin 20mg/kgbb IV

Kejang berlangsung
Pertimbangkan Pyridoxyne 100 mg
Kejang berhenti
Phenytoin
3-4 mg/kgbb/hari iv

Midazolam 0, 2 mg/kgBB IV,diikuti dengan


Midazolam drip 0,1 -0,4 mg/Kgbb / jam.
Kejang berhenti

Pem LCS, USG kepala/Ct


scan

Turunkan dosis OAE pelan-pelan sehingga tin


phenobarbital
IDAI (UKK perinatologi) ,

Volpe JJ 2008
Sankar MJ ,AIIMS NICU protocol 2007

ORAL TRUSH

Definisi
Oral Thrush adalah kandidiasis selaput, lendir
mulut, biasanya mukosa dan lidah, dan kadangkadang palatum, gusi serta lantai mulut.
Penyakit ini ditandai dengan plak-plak putih dari
bahan lembut menyerupai gumpalan susu yang
dapat dikelupas, yang meninggalkan permukaan
perdarahan mentah.

Penyakit ini biasanya menyerang bayi yang sakit


atau lemah, individu dengan kondisi kesehatan
buruk, pasien dengan tanggap imun lemah,
serta kurang sering, pasien yang telah menjalani
pengobatan dengan antibiotik. Trush (suatu
infeksi jamur di mulut) disertai luka di mulut dan
peradangan gusi, bisa merupakan pertanda awal
dari adanya gangguan sistem kekebalan.

Etiologi
vagina ibu yang terinfeksi selama
persalinan(saat bayi baru lahir) atau
transmisi melalui botol susu dan puting susu
yang tidak bersih,
atau cuci tangan yang tidak benar.

Oral thrush pada bayi terjadi 7-10 hari setelah


persalinan.

Tanda & Gejala


suhu badan dapat meninggi
mengeluarkan air liur lebih dari biasa
rewel, tak mau makan atau makanan
dimuntahkan,
tak mau susu botol bahkan ASI, dan gelisah
terus.
Biasanya disertai dengan bau mulut yang kurang
sedap.

05

Penatalaksanaan
Miconazol : mengandung miconazole 25 mg
per ml, dalam gel bebas gula.
Gel miconazole dapat diberikan ke lesi
setelah makan.b.
Nystatin : tiap pastille mengandung 100.000
unit nistatin. Satu pastille harus dihisap
perlahan-lahan 4 kali sehari selama 7-14
hari..

Pencegahan
Menjaga kebersihan puting susu ibu
Menjaga kebersihan botol dan dot susu
Mejaga kebersihan kemaluan ibu selama
kehamilan
Menjaga kebersihan mulut bayi

IKTERUS NEONATORUM

Latar Belakang

Hiperbilirubinemia pada neonatus adalah


peningkatan kadar bilirubin serum pada
neonatus.
60%

bayi akan mengalami ikterus

Patologis : kadar bilirubin I tidak


terkonyugasi/indirek, berupa ikterus yang nyata
pada minggu pertama kehidupan.
Hiperbilirubinemia berat dapat menyebabkan
kerusakan otak permanen yang serius

Bilirubin
Tidak terkonyugasi:Bil I
Bilirubin indirek
Tidak larut dalam air
Berikatan dengan albumin
untuk transport
Komponen bebas larut dalam
lemak
Komponen bebas bersifat
toksik untuk otak

Terkonyugasi:BIL II
Bilirubin direk
Larut dalam air
Tidak larut dalam
lemak
Tidak toksik untuk
otak

Ikterus pada neonatus:


MENGAPA KITA KHAWATIR ?
bilirubin bilirubin ensefalopati
Kernikterus
Tahap 1: Letargi, hipotonia, refleks isap buruk
Tahap 2: Demam, hipertonia, opistotonus
Tahap 3: Kondisi terlihat membaik
Sekuele:
Kehilangan pendengaran sensorineural
Serebral palsi koreoatetoid
Abnormalitas daya pandang

!! Sebuah tragedi yang dapat dicegah

Faktor risiko :
BBLR,
Penyakit hemolisis karena inkompatibilitas
gologan darah ABO.RHESUS
Asfiksia atau asidosis,
Hipoksia, trauma serebral,
Infeksi sistemik ( sepss neonatorum)

Bayi sering mengalami ikterus pada


minggu pertama kehidupan, terutama bayi
kurang bulan.
Dapat terjadi secara normal atau fisiologis
dan patologis.
Kemungkinan ikterus sebagai gejala awal
penyakit utama yang berat pada neonatus.

Ikterus perlu ditangani secara


seksama, karena bilirubin akan masuk
ke dalam sel syaraf dan merusak
sehingga otak terganggu dan
mengakibatkan kecacatan sepanjang
hidup atau kematian ( ensepalopati
biliaris) .

IKTERUS FISIOLOGIS

Ikterus fisiologis pada BCB


Awitan terjadi setelah 24 jam
Memuncak pada 3 sampai 5 hari
Menurun setelah 7 hari
BCB rata-rata memiliki kadar bilirubin serum
puncak 5-6 mg/dL
Ikterus fisiologis berlebihan bilirubin
serum puncak 7-15 mg/dL pada BCB.

IKTERUS NON FISIOLOGIS

Awitan terjadi sebelum usia 24 jam


Tingkat kenaikan > 0,5 mg/dl/jam
Tingkat cutoff
> 15 mg/dl (12 mg) pada bayi cukup bulan
> 10 mg/dl pada bayi prematur
Ikterus bertahan
> 8 hari pada bayi cukup bulan
> 14 hari pada bayi prematur
Tanda-tanda penyakit lain

MANAJEMEN
Ikterus

fisiologis tidak memerlukan


penanganan khusus dan dapat rawat jalan
dengan nasehat untuk kembali jika ikterus
berlangsung lebih dari 2 minggu.

Jika

bayi dapat menghisap, anjurkan ibu


untuk menyusui secara dini dan ASI
ekslusif lebih sering minimal setiap 2 jam.

Jika

bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI


melalui pipa nasogastrik atau dengan
gelas dan sendok.

Letakkan

bayi ditempat yang cukup


mendapat sinar mata hari pagi selama 30
menit selama 3-4 hari. Jaga agar bayi
tetap hangat.

Pemulangan dan pemantauan


lanjutan

Nasehati ibunya mengenai pemberian


minum dan membawa kembali jika
menjadi semakin kuning

TERIMA KASIH