Anda di halaman 1dari 28

Seorang Pria Usia 59 tahun dengan

spondilitis Tuberculosis
Nafis Syauqi
03011207

Pendahuluan
Spondilitis tuberkulosis atau yang lebih populer disebut Potts
Disease (PD) adalah tuberkulosis diseminata yang mengenai
tulang belakang. PD merupakan jenis tuberkulosis
muskuloskeletal paling berat karena dapat menyebabkan
destruksi tulang, deformitas, dan paraplegia. Vertebra
thorakal (T5-T12)2 adalah lokasi yang paling sering terkena,
berkisar 40-50%.
Prevalensi PD berkisar 1-2% dari seluruh kejadian tuberkulosis
Prevalensi PD mencapai 50% kasus tuberkulosis
muskuloskeletal
Sequele dari PD berupa kyphosis jika terjadi destruksi pada
tulang belakang dan potts paraplegia yang menyebabkan
penurunan kualitas hidup penderita.

Identitas
Nama : Tn. S
Usia

: 59 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki


Status pernikahan

: Menikah

Pekerjaan : Pensiunan
Alamat: Menteng dalam Jakarta Selatan
Suku bangsa : Betawi
Agama: Islam
Pendidikan terakhir
Masuk tanggal

: SMA

: 24/11/2015

RPS
Keluhan utama : Demam menggigil semenjak
1 hari yang lalu
Keluhan Tambahan : kedua kaki tidak bisa
digerakkan

Pasien datang ke IGD RSUD Budi Asih dengan


keluhan demam menggigil dan kedua kaki tidak
dapat digerakkan. Keluhan demam menggigil
dirasakan kurang lebih 10 jam sebelum masuk
rumah sakit. Demam tidak diseratai mual,
muntah, sesak, keringat malam ataupun diare
pasien mengatakan ada batuk semenjak pasien
demam. OS datang dengan kateter sudah
terpasang semenjak 8 November 2015 dari rumah
sakit rumah sakit Cipto. Pasien mengatakan
dipasang kateter dikarenakan buang air kecil tidak
bisa ditahan dan mengompol.

Keluhan kaki mulai tidak bisa digerakkan dan baal mulai


dirasakan semenjak bulan Juli 2015. Pasien mengatakan kaki
mulai baal pada tanggal 14 Juli 2015 di RS Agung. Keluhan
dimulai dengan kaki terasa baal mulai hilang rasa hingga
mati rasa lalu dilanjutkan dengan kesulitan menggerakkan
kaki, mudah tersandung hingga tidak dapat digerakkan.
Pada tanggal 20 Juli 2015 pasien dirawat di RSCM karena
kaki tidak dapat digerakkan. Pasien melakukan pemeriksaan
MRI dan diagnosis dengan spondilitis tuberculosis pada awal
agustus dan mulai meminum obat tuberkulosis awal agustus,
pasien menolak saran operasi dari rumah sakit cipto. Pada
24 November 2015 pasien datang ke IGD RSUD Budi Asih
karena menggigil dan kedua kaki tidak dapat digerakkan.
Tanggal 26 November 2015 pasien dikonsulkan ke bagian
saraf dikarenakan kaki tidak bisa digerakkan.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat darah tinggi semenjak usia 40 tahun.
Riwayat hipertensi, diabetes militus dan stroke
disangkal. Riwayat batuk lama disangkal.

Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada keluarga pasien yan mengidap
batuk lama ataupun penyakit yang sama dengan
pasien.

Riwayat alergi
Riwayat alergi makanan dan obat disangkal
oleh pasien.

Riwayat kebiasaan
Pasien merokok pada usia muda namun
sudah berhenti. Jarang berolahraga, tidak
konsumsi obat-obatan, dan minuman beralkohol.

Riwayat sosioekonomi
Pasien tinggal di kawasan padat penduduk
dengan rumah berdempetan satu sama lain.
Tetangga pasien ada yang mengidap batuk lama
dan meninggal karena hal tersebut.

Riwayat pengobatan
Pasien mengonsumsi obat tuberculosis secara
rutin, pasien tidak ingat nama obat ataupun dosis
yang diberikan.

Keadaan umum
Kesadaran : Compos mentis
Kesan sakit

: Tampak sakit sedang

Tanda vital
Tekanan darah

: 160/100 mmHg

Suhu

: 370 C

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi : 22 x/menit

Status Neurologis
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda rangsang meningeal : Nervus Kranialis : Dalam batas normal

Reflek

Motorik

Propiosepsi : persepsi posisi dan gerakan jari


kaki (-)
Sensorik : Positif setinggi vetebra thorakal 8
Fungsi autonom
Miksi

: inkontinensia

Defekasi

: inkontinensia

Penunjang
Lab : LED 35 mm/ jam

Tampak destruksi sebagian inferior T7 dan destruksi diskus T7-8,


penebalan jaringan lunak anterior setinggi T6-9 dan posterior setinggi
T7-8. Penekanan medulla spinalis setinggi T7-8. Hiperintensitas T7-9.
Intensitas T10-11, L4-5, L5-s1
Kesimpulan:
Gambaran spondylodiscitis T7-T8 dengan masa paravetebra anterior
setinggi T6-T9 dan posterior T7-T8, penekanan medula spinalis setinggi
T7-T8 dan myelopati setinggi T7-T9.

Diagnosis
Diagnosis klinis
: Paraparesis, hipesthesia,
inkontinensia urine,hipertensi gr II, klinis ISK
perbaikan
Diagnosis etiologi : Spondilitis Tb
Diagnosis topis : gangguan pada kolumna
anterior, posterior, lateral dan traktus
kortikospinal
Diagnosis patologis
tuberculosis

: Infeksi Mycobacterium

Medika mentosa
BioATP 3x1 po

FOLLOW UP
Pasien dikonsulkan dari bagian paru 3 hari setelah
pasien dirawat dengan kelemahan di kedua kaki.
Pasien compos mentis, pupil bulat isokor dengan
diameter 3mm, reflek cahaya langsung dan tidak
langsung (+/+). Pada pemeriksaan fisik tidak
ditemukan adanya gangguan pada nervus kranialis.
Reflek fisiologis hyporefleks pada kedua tungkai
bawah. Refleks patologis tidak ditemukan. Tonus otot
tungkai bawah ditemukan spastik dengan kekuatan
motoris 1. Sensoris ditemukan penurunan raba rasa
halus setinggi vetebra thoracal 8. Pemeriksaan posisi
dan gerak jari kaki ditemukan (-). Pemeriksaan fungsi
otonom pasien mengatakan pipis mengompol dan bab
tidak berasa. Pasien pulang tanggal 31/11/2015.

Analisa kasus
Pasien dikonsulkan dari penyakit dalam dengan
keluhan kedua kaki tidak dapat digerakkan dan
mati rasa. Hasil pemeriksaan CT Scan
(23/7/2015) menunjukkan adanya destruksi
diskus dan penekanan pada medulla spinalis
setinggi T7-8 yang berupa spondilodiscitis.
Spondilodiscitis merupakan gambaran klasik dari
spondilitis tb3. Keluhan kaki tidak bisa digerakkan
dan mati rasa muncul diakibatkan oleh
komplikasi efek kompresi dari perjalanan
penyakit tersebut yang disebabkan oleh abses,
jaringan granulasi dan jaringan kaseosa.3,4

Penyebaran hematogen basil tuberculosis bisa


terjadi melalui rute vena (plexus batson)
ataupun arteri. Plesxus vaskular (adamkiewicz
arteri) membentuk arkade arteri spinalis
dibagian subkortikal dan korpus vetebra. Arteri
adamkiewicz biasanya keluar setinggi torakal
vetebra T9-T122. Hal ini yang mungkin
menyebabakan predileksi infeksi pada pasien ini.

Seiring berjalannya waktu, perburukan kompresi


menyebabkan blokade menyeluruh pada konduksi
kolumna
anterior,
kolumna
lateral
akan
terpengaruh
sebaian
yang
menyebabkan
penurunan sensitifitas (nyeri, suhu dan raba
kasar)3,5. Hal ini menjelaskan rasa baal yang
dialami pasien. Ketika kompresi terus berlanjut,
kolumna posterior juga akan terkena yang
mengakibatkan gangguan sensasi propioseptif dan
gangguan pada spinchter.1,3,4

Adapun efek kompresi ini bisa menyebabkan


munculnya sindrom transesksi medula spinalis akut
yang menimbulkan keadaan yang disebut syok spinal,
gambaran klinis yang patofisiologisnya belum
dipahami secara total. Dibawah tingkat lesi terdapat
paralisis flasid komplit semua modalitas sensasi
hilang. Fungsi berkemih defekasi dan seksual hilang.
Dalam beberapa hari atau minggu setelah penyebab,
neuron spinalis perlahan-lahan kembali mendapat
fungsinya, setidaknya sebagian, tetapi tetap terputus
dari sebagian impuls neuronal yang berasal dari
sentral yang normalnya mengatur neuron tersebut.
Defekasi dan miksi perlahan-lahan berfungsi kembali
namun tidak dalam kendali volunter. Refleksor tendon
dalam dan tonus otot perlahan-lahan dapat kembali
dan dapat meningkat secara patologis. 6 Hal ini
menguatkan alasan terjadi hipestesi, gangguan
berkemih, buang air besar dan menjelaskan
spastisitas dengan hiporefleks pada pasien. Obat
bioATP digunakan sebagai terapi adjuvan.

Indikasi operasi yaitu7 :


Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan
paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga
minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap
spondilitis tuberkulosa diberikan tuberkulostatik.
Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase
secara terbuka dan sekaligus debridemen serta bone
graft.
Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos,
mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan
adnya penekanan langsung pada medula spinalis.

Prognosis pada operasi sangat variatif hasilnya.


Prognosis akan menunjukkan hasil penyembuhan
baik umumnya pada pasien berusia muda.
Paraplegia dengan lesi aktif memiliki kemungkinan
lebih baik untu sembuh daripada pasien dengan
healed disease. Progresifitas paraplegia cepat
memiliki kemungkinan lebih buruk dibandingkan
penurunan neurologis dengan progresifitas lambat.
Volume dari medulas spinalis dengan myelitis pada
MRI menunjukkan hasil penyembuhan baik. Medula
spinalis yang menunjukkan myelomalacia dengan
pengurangan volume medula spinalis menunjukkan
hasil penyembuhan yang buruk.4

1. Jacobus DJ. Tinjauan pustaka: potts disease. KALBE. 2014;41(9):676-82.


2. Ibrahim EK, Ahmed EG, Eldabawi NE, Mohammed MM. Vertebral
distribution of Pott's disease of the spine among adult Sudanese patients
in Khartoum, Sudan. American Journal of Health Research. 2014;2(3):9396. doi: 10.11648/j.ajhr.20140203.13
3. Chuhan A, Gupta BB. Spinal tuberculosis. JIACM. 2007;8(1):110-2
4. Kumar J, Jain AK. Tuberculosis of spine: neurological deficit. Eur Spine J.
2013;22(4):S624-33. DOI 10.1007/s00586-012-2335-7
5. Savant C, Rajamani K. Tropical Diseases of the Spinal Cord. In : Critchley
E, Eisen A., editor. Spinal Cord Disease : Basic Science, Diagnosis and
Management. London : Springer-Verlag, 1997 : 378-87.
6. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis topik neurologi Duus. Duus P, editor. 4 th
ed. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC;2007.p. 40-1,69-70
7. Chairuddin R. Infeksi dan inflamasi In: pengantar ilmu bedah ortopedi.
Bintang Lamumpatue. 2003. p. 144 149.