Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN

PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT


DI PROGRAM DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF
SEKSI PROMOSI KESEHATAN
DINAS KESEHATAN KABUPATEN OGAN ILIR

OLEH
NAMA
NIM

: MARETALINIA
: 10111001010

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

LAPORAN
PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT
DI PROGRAM DESA DAN KELURAHAN SIAGA AKTIF
SEKSI SEKSI PROMOSI KESEHATAN
DINAS KESEHATAN KABUPATEN OGAN ILIR

Laporan ini dibuat sebagai syarat


Telah menyelesaikan Praktikum Kesehatan Masyarakat
Peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

OLEH
NAMA
NIM

: MARETALINIA
: 10111001010

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat


Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
di Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif ,Seksi Promosi Kesehatan
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
dari tanggal 15 Desember 2014 sampai tanggal 15 Januari 2015,
telah disahkan pada tanggal 05 Februari 2015.

Mengetahui,
Universitas Sriwijaya

Indralaya, 05 Februari 2015


Dosen Pembimbing Materi

Iwan Stia Budi, S.KM, M.KM


NIP 19771206 200312 1003

Asmaripa Ainy, S.Si, M.Kes


NIP 19790915 200604 2005

Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat

iii

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat


mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
dari tanggal 15 Desember 2014 sampai dengan tanggal 15 Januari 2015
telah disetujui pada tanggal Februari 2015

Mengetahui,
Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan ilir

Pembimbing Lapangan

dr.Hj. Siska Susanti, M.Kes


NIP 19661023 199803 2002

Desjon Priani, S.KM, M.Si


NIP 19701230 199203 1 004

iv

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbil alamiin.
Puji syukur kehadirat Allah SWT., yang telah memberikan ridha serta
petunjuk-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Kesehatan
Masyarakat di Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
ini. Laporan ini berisikan gambaran umum implementasi Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif yang merupakan salah satu program di Seksi Promkes.
Laporan ini dibuat untuk memenuhi syarat mata kuliah Praktikum Kesehatan
Masyarakat pada semester VIII Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sriwijaya.
Saya berharap semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi
segenap civitas akademika Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir pada khususnya, serta bagi segenap
pembaca pada umumnya.
Ucapan terima kasih saya haturkan kepada semua pihak yang telah
memberikan segala bentuk dukungan, bantuan, bimbingan, motivasi, serta doa
yang memacu dan membantu saya dalam pembuatan Laporan Praktikum
Kesehatan Masyarakat ini:
1. Keluargaku: ayah, ibu, ayuk, sai, ana.

2. Bapak Iwan Stia Budi, S.KM, M.Kes Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya;
3. Ibu Elvi Sunarsih, S.KM, M.Kes, selaku Kepala Program Studi Ilmu
Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya;
4. Ibu Asmaripa Ainy, S.Si, M.Kes, dosen pembimbing materi sekaligus
motivator agar laporan ini segera diselesaikan.
5. Ibu dr. Hj.Siska Susanti,M.Kes, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir;
6. Bapak Desjon Priani, S.KM, M.Si, selaku pembimbing lapangan kami dalam
Praktikum Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir,
yang telah mengarahkan;
7. Bapak Priyadi, S.KM, selaku Kepala Bidang Promosi dan Pelayanan
Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir;
8. Bapak H. Asnawi S.KM, M.Kes, selaku Kepala Seksi Promosi Kesehatan
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir;
9. Pak Jalili, Bu Amiroh, Bu Yayu, Yuk Weni selaku staf Seksi Promosi
Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, yang telah banyak
membantu dan memfasilitasi pengumpulan data;
10. Ibu Susi Andriyani,S.Kep,Ners,M.Kep, selaku Kepala Seksi Monitoring dan
Evaluasi Program, yang telah membantu memfasilitasi kami dalam
pengumpulan data;
11. Bapak Edy Rahman, S.KM, M.Si, selaku Kepala Bidang Farmasi, Makanan,
Minuman, dan Kosmetika, yang telah memberikan motivasi dan pencerahan;

vi

12. Bapak Khairil anwar, S.KM, M.Kes selaku Kepala Seksi Makanan dan
Minuman Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, beserta Yuk Yuli dan Yuk
Meri selaku Staf Seksi Makanan dan Minuman Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir, yang telah memberikan pengalaman baru dalam pemantauan dan
pengawasan keamanan pangan. Terima kasih atas pengalaman lapangan yang
berharga dan berkesan;
13. Seluruh Staf dan Karyawan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, atas
keramahtamahannya, serta segala bentuk bantuannya;
14. Seluruh dosen, staf, dan karyawan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya yang telah membantu dalam penyusunan Laporan
Praktikum Kesehatan Masyarakat ini;
15. Rekan-rekan seperjuangan, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya angkatan 2011, atas persaudaraannya, motivasi,
semangat, dukungan, dan kebersamaannya. Terkhusus untuk rekan-rekan
peserta Praktikum Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir: Nosi, Wulan, Ecy, terima kasih atas kebersamaan dan canda tawa
serta silaturrahim yang terjalin selama menjalani Praktikum Kesehatan
Masyarakat;
16. Kakak-kakak dan adik-adik tingkat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, yang
selalu menjadi supporter sekaligus young motivator bagi saya selama
menjalani dan menyusun Laporan Praktikum Kesehatan Masyarakat ini;

vii

17. Seluruh pihak yang terlibat dan berkontribusi dalam proses Praktikum
Kesehatan Masyarakat dan penyusunan laporan ini, yang tidak dapat saya
jabarkan satu per satu.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan.
Oleh karena itu, saya selaku penyusun, membuka diri terhadap kritik dan saran
yang membangun sebagai bahan pembelajaran saya agar lebih di masa
mendatang. Semoga Allah SWT. senantiasa meridhai dan membarakahi setiap
langkah kita. Aamiin.
Wassalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Indralaya,

Februari 2015

Maretalinia
NIM 10111001010

viii

DAFTAR ISI

Halaman Sampul Luar --------------------------------------------------------------- i


Halaman Sampul Dalam -------------------------------------------------------------ii
Halaman Pengesahan ---------------------------------------------------------------- iii
Halaman Persetujuan ---------------------------------------------------------------- iv
Kata Pengantar ------------------------------------------------------------------------ v
Daftar Isi ------------------------------------------------------------------------------ ix
Daftar Tabel ------------------------------------------------------------------------ xiii
Daftar Bagan -------------------------------------------------------------------------- ix
Daftar Grafik ------------------------------------------------------------------------ xv
Daftar Lampiran -------------------------------------------------------------------- xvi
BAB I

PENDAHULUAN ----------------------------------------------------- 1
1.1 Latar Belakang ----------------------------------------------------- 1
1.2 Tujuan --------------------------------------------------------------- 5
1.2.1

Tujuan Umum -------------------------------------------- 5

1.2.2

Tujuan Khusus -------------------------------------------- 6

1.3 Manfaat -------------------------------------------------------------- 6


1.3.1

Bagi Mahasiswa ------------------------------------------ 6

1.3.2

Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat ----------------- 7

1.3.3

Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir ---------- 7

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan --------------------------------- 7


1.4.1 Waktu PKM ----------------------------------------------- 7
1.4.2 Lokasi PKM ----------------------------------------------- 7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA ---------------------------------------------- 7


1.1 Promosi Kesehatan ------------------------------------------------ 8
2.1.1

Sejarah Promosi Kesehatan------------------------------ 8

2.1.2 Pengertian Promosi Kesehatan -------------------------- 9


2.1.3 Visi dan Misi Promosi Kesehatan -------------------- 11
2.1.4 Strategi Promosi Kesehatan --------------------------- 12

ix

2.1.5 Sasaran Promosi Kesehatan --------------------------- 15


2.1.6 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan ------------------ 15
2.1.7 Metode Promosi Kesehatan --------------------------- 16
2.1.8 Media Promosi Kesehatan ----------------------------- 17
2.1.9 Perencanaan Promosi Kesehatan --------------------- 19
2.2 Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif -------------------- 22
2.2.1 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif ---------------------- 22
2.2.2 Pelayanan Kesehatan Dasar --------------------------- 22
2.2.3 Kriteria Desa Dan Kelurahan Siaga Aktif ----------- 23
2.2.4 Pendekatan Pengembangan Desa Dan
Kelurahan Siaga Aktif---------------------------------- 24
2.2.5 Persiapan Pengembangan Desa Dan
Kelurahan Siaga Aktif---------------------------------- 24
2.2.6 Penyelengaraan Desa Dan Kelurahan Siaga Aktif - 25
2.2.7 Peran Pemangku Kepentingan Di Berbagai
Tingkatan Pemerintahan ------------------------------- 27
2.2.8 Indikator Keberhasilan Program Desa Dan
Kelurahan Siaga Aktif---------------------------------- 28
2.3 Konsep Manajemen
2.3.1 Pendekatan Ilmu Manajemen ------------------------- 29
2.3.2 Fungsi Manajemen-------------------------------------- 29
2.3.3 Sarana Manajemen-------------------------------------- 30
2.3.4 Perencanaan Kesehatan -------------------------------- 30
2.3.5 Pengorganisasian Kesehatan -------------------------- 31
2.3.6 Pengarahan dan Pengawasan Kesehatan ------------ 32
BAB III

DESKRIPSI TEMPAT PRAKTIKUM


KESEHATAN MASYARAKAT --------------------------------- 33
3.1 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
3.1.1 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir -------------- 33
3.1.2 Visi dan Misi Dinas Kesehatan

Kabupaten Ogan Ilir ------------------------------------ 34


3.1.3 Tujuan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir ----- 35
3.1.4 Sasaran Strategis Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan Ilir ------------------------------------ 35
3.1.5 Susunan Organisasi Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan Ilir ------------------------------------ 36
3.1.6 Tenaga Kesehatan--------------------------------------- 38
3.1.7 Sarana Pelayanan Kesehatan -------------------------- 38
3.2 Gambaran Khusus Seksi Promosi Kesehatan ---------------- 39
3.2.1 Bidang Promosi dan Pelayanan Kesehatan---------- 39
3.2.2 Struktur Organisasi Seksi Promosi Kesehatan ------ 42
3.2.3 Program Kerja Seksi Promosi Kesehatan ----------- 43
BAB IV

HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN ------------------ 50


4.1 Komponen Input Pelaksanaan Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif ------------------------------------------ 50
4.1.1 Kebijakan ------------------------------------------------ 50
4.1.2 Sumber Daya Manusia --------------------------------- 51
4.1.3 Sumber Dana -------------------------------------------- 53
4.1.4 Metode ---------------------------------------------------- 54
4.1.5 Sarana dan Prasarana ----------------------------------- 55
4.1.6 Pengawasan ---------------------------------------------- 55
4.2 Komponen Proses Pelaksanaan Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif ------------------------------------------- 56
4.2.1 Persiapan ------------------------------------------------- 56
4.2.2 Penyelenggaraan ---------------------------------------- 57
4.2.3 Pentahapan ----------------------------------------------- 58
4.2.4 Pembinaan Kelestarian --------------------------------- 59
4.2.5 Peran Pemangku Kepentingan ------------------------ 60
4.2.6 Pemantauan dan Evaluasi ------------------------------ 62
4.3 Komponen Output Pelaksanaan Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif ------------------------------------------- 63

xi

4.4 Komponen Outcome Pelaksanaan Program Desa dan


Kelurahan Siaga Aktif ------------------------------------------- 66
BAB V

PENUTUP ------------------------------------------------------------ 68
5.1 Kesimpulan ------------------------------------------------------- 68
5.2 Saran --------------------------------------------------------------- 70
5.2.1 Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir --------------- 70
5.2.2 Puskesmas di Kabupaten Ogan Ilir ------------------- 71
5.2.3 Poskesdes (Pos Kesehatan Desa) --------------------- 71
5.2.4 Sektor Terkait Lainnya --------------------------------- 71

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------- 73


LAMPIRAN ------------------------------------------------------------------------ 76

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1
Daftar Tenaga Kesehatan di Kabupaten Ogan Ilir ............................................ 38
Tabel 3.2
Distribusi Puskesmas di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014 .............................. 38
Tabel 4.1
SDM Promosi Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir ................ 51
Tabel 4.2
SDM Promosi Kesehatan Puskesmas di Kabupaten Ogan Ilir ......................... 52
Tabel 4.3
Pentahapan Desa/Kelurahan Siaga Aktif .......................................................... 58
Tabel 4.4
Pentahapan Desa Siaga Aktif di Kabupaten Ogan Ilir tahun 2014 ................... 59

xiii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1
Siklus Pemecahan Masalah Kesehatan oleh Masyarakat .................................. 25
Bagan 2.2
Keterlibatan pihak lain pada Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif .......... 28
Bagan 3.1
Struktur Organisasi di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.......................... 42

xiv

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1
Jumlah Desa Siaga dan Desa Siaga Aktif di Kabupaten Ogan Ilir ................... 64

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Rekapitulasi Pencapaian Desa Siaga Aktif Kabupaten Ogan Ilir


Tahun 2011-2013

Lampiran 2

Keputusan Bupati Ogan Ilir Nomor 112/KEP/KES/2011 Tentang


Pembentukan Forum Koordinasi Pembinaan Desa Siaga Kabupaten
Ogan Ilir Tahun 2011

Lampiran 3 Keputusan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas


Sriwijaya

Nomor

40/UN.9.1.10/DT/2015

Tentang

Penunjukan/Pengangkatan Pembimbing Materi dan Pembimbing


Lapangan Angkatan 2011 PKM FKM Unsri Tahun 2015
Lampiran 4

Surat Permohonan PKM

Lampiran 5

Surat Izin PKM dari Dinas Kesehatan OI

Lampiran 6

Lembar Pemantauan Kegiatan PKM

Lampiran 7

Lembar Bimbingan Kegiatan PKM

Lampiran 8

Daftar Hadir Mahasiswa PKM

Lampiran 9

Dokumentasi PKM

Lampiran 10 Surat Keterangan telah Selesai PKM


Lampiran 11 Materi Presentasi PKM

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan sebagai hak dasar setiap warga negara Indonesia yang
tercantum dalam UUD 1945 pasal 28H dan 34 menuntut upaya strategis
seluruh stakeholder untuk mewujudkan pemenuhannya yang merupakan
salah satu Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut. Selaras dengan dasar hukum
tersebut, WHO (World Health Organization) melalui Target Pembangunan
Millennium (Millenium Development Goals) tahun 2015 dengan delapan
target yang lima diantaranya berkaitan langsung dengan kesehatan, yaitu
memberantas kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka kematian anak,
meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit
lainnya, serta melestarikan lingkungan hidup.
Implementasi misi untuk mencapai MDGs 2015 dituangkan dalam Visi
Pembangunan Nasional 2005-2025: Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan
Makmur yang secara khusus diimplementasikan dalam Visi Pembangunan
Kesehatan Tahun 2010-2014 adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan
Berkeadilan dengan misi 1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani,
2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan, 3) Menjamin

ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan, dan 4) Menciptakan tata


kelola kepemerintahan yang baik (UU No 17 Tahun 2007).
Untuk mencapai visi dan misi tersebut dibutuhkan komitmen dan kerja
sama semua pihak tidak hanya stakeholder bidang kesehatan. Ujung tombak
kesehatan masyarakat terletak pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
pada prinsipnya memberikan pelayanan kesehatan langsung pada masyarakat
desa atau kelurahan. Pusat pelayanan kesehatan tingkat desa atau kelurahan
akan berjalan dengan efektif jika didukung dengan kemampuan masyarakat
dalam mengelola secara mandiri sumber daya yang ada untuk meningkatkan
status kesehatan serta mengatasi permasalahan kesehatannya. Wujud
kemandirian masyarakat dapat terlihat dari kegiatan pemberdayaan masyakat
yang terdiri dari kegiatan-kegiatan dalam wadah UKBM (Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat). Menurut Nasikun (2000) dalam Nawalah
(2012) paradigma pembangunan baru berprinsip bahwa pembangunan harus
pertama-tama dan terutama dilakukan atas inisiatif dan dorongan berbagai
kepentingan masyarakat.
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang merupakan salah satu program
promosi kesehatan dengan konsep kemandirian yang langsung ditujukan pada
masyarakat dalam bentuk pemberdayaan masyarakat hendaknya program ini
mendapat perhatian lebih karena dampaknya yang menyeluruh di setiap aspek
dan sebagian besar terfokuskan pada dampak aspek kesehatan. Masyarakat
yang mandiri secara perlahan akan mampu mengatasi permasalahan
kesalahan kesehatannya sehingga derajat kesehatannya pun akan semakin

meningkat secara perlahan namun pasti. Besarnya pengaruh program ini


terhadap kesehatan masyarakat akan menunjukkan peran promosi kesehatan
bagi masyarakat. Program promosi kesehatan lainnya belum ada yang
komprehensif, terpadu dan menyeluruh seperti Program Desa dan Kelurahan
Siaga Aktif.
Program ini sejalan dengan kebijakan otonomi daerah sesuai Ketetapan
Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR Tahun
2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi
Daerah, dimana setiap daerah dapat secara mandiri mengelola progam ini.
Kebijakan Desa siaga sudah dimulai pada tahun 2006 yang ditetapkan melalui
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 564/Menkes/SK/VIII/2006 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa Siaga. Kriteria sebuah desa telah
menjadi Desa Siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya
sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Sesuai dengan visi Indonesia Sehat,
salah satu sasaran terpenting yang harus dicapai yaitu pada akhir tahun 2008
seluruh desa telah menjadi Desa Siaga. Sampai dengan tahun 2009 tercatat
42.295 desa dan kelurahan (56,1%) telah memulai upaya mewujudkan Desa
Siaga, namun jumlah tersebut belum mencapai target 100% pada akhir tahun
2008 (Kemenkes RI, 2010). Konsep utama dari pemberdayaan masyarakat
yaitu adanya upaya bersama yang berkelanjutan, terus menerus, dan
berproses.

Strategi

pemberdayaan

masyarakat

dalam

menangani

permasalahan kesehatan pada Program Desa Siaga dilakukan melalui

peningkatan fungsi upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (Misnaniarti


dkk, 2011).
Kebijakan tentang Desa Siaga diakselerasi menjadi Kebijakan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 Tentang Pedoman
Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Pengembangan
program Desa Siaga menjadi Desa Siaga Aktif terletak pada kriterianya,
kriteria desa yang tergolong Desa dan Kelurahan Siaga Aktif terdapat delapan
kriteria yang dilaksanakan secara bertahap, sehingga evaluasi setiap desa
akan

dikategorikan pada tahap Pratama, Madya, Purna dan Mandiri.

Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

741/MENKES/PER/VII/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang


Kesehatan di Kabupaten/Kota target cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada
tahun 2015. Data Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014 capaian
Desa Siaga yaitu 76,34% yaitu 184 desa dari 241 desa dengan proporsi desa
siaga aktif tahap Pratama 149 desa, desa siaga aktif tahap Madya 35 desa dan
belum ada desa yang termasuk pada tahap Purnama dan Mandiri.
Dampak adanya Program Desa Siaga di Kepulauan Mentawai terlihat
dari penurunan jumlah bayi yang meninggal dengan difungsikannya sarana
pelayanan kesehatan tingkat desa (Poskesdes) yaitu pada tahun 2006 dari
1000 kelahiran meninggal 29 bayi, tahun 2007 turun menjadi 25 bayi. Ibu
yang meninggalpun berkurang dari 5 orang pada 2006 menjadi 4 orang pada
2007 (Ayuningtyas dkk, 2008).

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir tahun 2014, jumlah


kematian balita di Kabupaten Ogan Ilir masih tinggi yaitu 48 kasus, serta
angka kematian ibu 10 kasus. Angka kesakitan berbasis lingkungan juga
masih tinggi, yaitu TB 575 kasus, pneumonia 3.934 kasus, diare 8.524 kasus,
AFP non polio 12 kasus, demam berdarah dangue 118 kasus, malaria 19
kasus dan filariasis 1 kasus. Tingginya angka kasus tersebut menunjukkan
belum adanya upaya terpadu pemerintah dan masyarakat khususnya pada
program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang belum berjalan efektif.
Pelaksanaan program Desa Siaga Aktif belum sepenuhnya diiringi dukungan
penuh pemerintah daerah dan persiapan sumber daya, seperti tenaga
kesehatan yang kompeten, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan lain-lain
dengan memberdayakan kemampuan masyarakat (Kusuma, 2013). Masih
tingginya angka kesakitan dan kematian pada beberapa penyakit, pelaksanaan
program ini yang masih top-down serta dampak kesehatan masyarakat dalam
pelaksanaan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif inilah yang mendasari penulis
untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif pada Seksi Promosi Kesehatan, Bidang Promosi dan Pelayanan
Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Meningkatkan

pengetahuan,

pemahaman,

kemampuan,

dan

keterampilan mahasiswa mengenai Manajemen Promosi Kesehatan dan


Sistem Kebijakan Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
5

khususnya di Seksi Promosi Kesehatan pada program Desa dan


Kelurahan Siaga Aktif.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui cakupan program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di
Kabupaten Ogan Ilir.
2. Mengetahui perencanaan program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
3. Mengetahui pengorganisasian program Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
4. Mengetahui pelaksanaan program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
5. Mengetahui pengawasan program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dari kegiatan Praktikum Kesehatan
Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir antara lain:
1.3.1 Bagi Mahasiswa
Sebagai sarana untuk menambah pengalaman dan pembelajaran di
bagian peminatan administrasi dan kebijakan kesehatan (AKK) dan
dapat mendukung terlaksananya penyelesaian penyusunan skripsi.

1.3.2 Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat


Sebagai wadah untuk membina dan meningkatkan kerja sama
antara Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya dengan
Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir yang membutuhkan informasi
mengenai kegiatan manajemen serta sebagai aspek kebijakan yang
diterapkan di Kabupaten Ogan Ilir.
1.3.3 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
1. Sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi Dinas Kesehatan Ogan
Ilir mengenai pemanfaatan manajemen program di bidang kesehatan.
2. Meningkatkan dan memperluas jaringan kerja sama antara Fakultas
Kesehatan Masyarakat Univeritas Sriwijaya dengan Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan Ilir.
1.4 Waktu Pelaksanaan dan Lokasi Praktikum Kesehatan Masyarakat
(PKM)
1.4.1 Waktu PKM
Kegiatan Praktikum Kesehatan Masyarakat dilaksanakan di Dinas
Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir mulai tanggal 15 Desember 2014
sampai dengan 15 Januari 2015 pada jam kerja (07.30 16.00 WIB).
1.4.2 Lokasi PKM
Lokasi Praktikum Kesehatan Masyarakat dilaksanakan di Dinas
Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir, yang beralamat di Jl. Lintas Timur
Komplek Kantor Bupati Km.35 Telp/Fax 0711-580713 Indralaya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Promosi Kesehatan


2.1.1 Sejarah Promosi Kesehatan
Istilah Health Promotion (promosi kesehatan) sudah mulai
dicetuskan setidaknya pada tahun 1986 ketika Konferensi Internasional
Pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Kanada. Saat itu
dicanangkan The Ottawa Charter yang membahas definisi prinsip dasar
Health Promotion. Istilah Promosi Kesehatan di Indonesia saat itu
masih belum dikenal oleh banyak pihak, saat itu masih populer istilah
penyuluhan kesehatan, KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi),
pemasaran sosial, mobilisasi sosial dll. Tahun 1994 kunjungan Direktur
Health Promotion WHO Headquarter Geneva, Dr. Ilona Kickbush ke
Indonesia banyak mengajarkan tentang Health Promotion (promosi
kesehatan) bagi pejabat di Indonesia. Penggunaan istilah promosi
kesehatan dipicu oleh perkembangan dunia internasional yang
kemudian menghantarkan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi
Internasional Promosi Kesehatan ke-4 yang menghasilkan Deklarasi
Jakarta, yang menjadi acuan kegiatan promosi kesehatan dunia
(Hartono, 2011).

2.1.2 Pengertian Promosi Kesehatan


Secara definisi istilah promosi kesehatan dalam ilmu kesehatan
masyarakat (health promotion) mempunyai dua pengertian. Pengertian
promosi kesehatan yang pertama adalah sebagai bagian dari tingkat
pencegahan penyakit. Level and Clark yang menyatakan adanya 4
tingkat pencegahan penyakit dalam perspektif kesehatan masyarakat,
yakni:
a. Health promotion (peningkatan/promosi kesehatan)
b. Spesific protection (perlindungan khusus melalui imunisasi)
c. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan
pengobatan segera)
d. Diability

limitation

(membatasi

atau

mengurangi

terjadinya

kecacatan).
e. Rehabilitation (pemulihan).
Sedangkan pengertian yang kedua, promosi kesehatan diartikan
sebagai upaya memasarkan, menyebarluaskan, mengenalkan atau
menjual kesehatan. Dengan perkataan lain promosi kesehatan adalah
memasarkan atau menjual atau memperkenalkan pesan-pesan
kesehatan atau upaya-upaya

kesehatan,

sehingga

masyarakat

menerima atau membeli atau mengenal pesan-pesan kesehatan


tersebut yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat
(Notoatmodjo, 2005).

Pengertian/batasan atau definisi promkes dari beberapa ahli, antara


lain:
1. Illona Kickbush menguraikan:
Promosi kesehatan lahir (emerged-out) dari pendidikan kesehatan.
Ada alasan untuk itu:
1) Para penyuluh/pendidik kesehatan masyarakat menjadi lebih
sadar tentang perlunya sebuah pendekatan positif dalam
pendidikan kesehatan, lebih dari sekedar pencegahan penyakit.
2) Menjadi semakin nyata bahwa pendidikan kesehatan akan lebih
berdaya jika didukung dengan seperangkat upaya seperti legal
environment and regulatory.
2. WHO memberikan definisi:
Promosi kesehatan adalah proses pembedayaan individu dan
masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengendalikan
determinan

kesehatan

sehingga

dapat

meningkatkan

derajat

kesehatan mereka.
3. Departemen Kesehatan merumuskan definisi:
Promosi

kesehatan

kemampuan

merupakan

masyarakat

dalam

upaya

untuk

mengendalikan

meningkatkan
faktor-faktor

kesehatan, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta


mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai
sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan (Kemenkes RI, 2008).

10

2.1.3 Visi dan Misi Promosi Kesehatan


Visi umum promosi kesehatan tidak terlepas dari Undang-Undang
Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 maupun misi WHO yakni
meningkatnya

kemampuan

masyarakat

untuk

memelihara

dan

meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya


sehingga

produktif

secara

ekonomi

maupun

sosial.

Menurut

Notoatmodjo (2012) untuk mencapai visi tersebut, perlu upaya yang


harus dilakukan berupa misi promosi kesehatan secara umum yang
terdiri dari:
1. Advokasi (Advocate)
Melakukan advokasi terhadap para pengambil keputusan di berbagai
program dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Upaya advokasi
dibutuhkan untuk membuat keputusan dan penentu kebijakan agar
adanya dukungan dari sektor terkait.
2. Menjembatani (Mediate)
Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program
dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Dalam melaksanakan
program-program kesehatan perlu kerja sama dengan program lain di
lingkungan kesehatan, maupun sektor lain yang terkait. Oleh sebab
itu, dalam mewujudkan kerja sama atau kemitraan ini peran promosi
kesehatan diperlukan.

11

3. Memampukan (Enable)
Memberikan kemampuan atau keterampilan kepada masyarakat agar
mereka mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri secara mandiri. Hal ini berarti kepada masyarakat diberikan
kemampuan atau keterampilan agar mereka mandiri di bidang
kesehatan, termasuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka.

2.1.4 Strategi Promosi Kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2012) strategi ialah cara untuk mencapai
atau mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan secara efektif dan
efisien.
1. Strategi Global (Promosi Kesehatan) menurut WHO 1984
a. Advokasi (advocacy)
Tujuan

advokasi

adalah

agar

para

pembuat

keputusan

mengeluarkan kebijakan-kebijakan antara lain dalam bentuk


peraturan, undang-undang, instruksi, dan sebagainya yang
menguntungkan kesehatan public. Bentuk kegiatan advokasi
antara lain lobbying, pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan
formal atau informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian
isu-isu atau masalah-masalah kesehatan atau yang mempengaruhi
kesehatan

masyarakat

setempat,

seminar-seminar

masalah

kesehatan dan sebagainya.

12

b. Dukungan sosial (social support)


Kegiatan yang ditujukan kepada para tokoh masyarakat, baik
formal (guru, lurah, camat, petugas kesehatan, dan sebagainya)
maupun

informal

(tokoh

agama,

tokoh

masyarakat

dan

sebagainya). Tujuannya agar kegiatan atau program kesehatan


tersebut memperoleh dukungan dari para tokoh masyarakat.
c. Pemberdayaan masyarakat (empowerment)
Pemberdayaan ini ditujukan kepada masyarakat langsung, sebagai
sasaran primer atau utama promosi kesehatan. Tujuannya adalah
agar masyarakat memiliki kemampuan dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
2. Strategi Promosi Kesehatan Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa
Charter)
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa-Canada
tahun 1986 menghasilkan Piagam Ottawa dan salah satunya rumusan
strategi promosi kesehatan yang dikelompokkan menjadi 5 (lima)
butir.
1. Kebijakan berwawasan kesehatan (healthy public policy)
Kebijakan ini ditujukan kepada para pembuat keputusan atau
penentu kebijakan, sehingga dikeluarkan atau dikembangkannya
kebijakan-kebijakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
Hal ini berarti bahwa setiap kebijakan pembangunan di bidang

13

apa saja harus mempertimbangkan dampak kesehatannya bagi


masyarakat.
2. Lingkungan yang mendukung (supportive environment)
Kegiatan untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana
yang mendukung, ditujukan kepada para pemimpin organisasi
masyarakat serta pengelola tempat-tempat umum.
3. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service)
Orientasi baru kesehatan masyarakat harus melibatkan pihak
pemberi pelayanan kesehatan (provider) dan penerima pelayanan
kesehatan (konsumer). Keterlibatan masyarakat dalam pelayanan
kesehatan berarti memberdayakan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya sendiri.
4. Keterampilan individu (personal skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat, yang terdiri dari
kelompok, keluarga, dan individu. Oleh sebab itu kesehatan
masyarakat terwujud apabila kesehatan kelompok,

kesehatan

masing-masing keluarga, dan kesehatan individu terwujud.


5. Gerakan masyarakat (community action)
Kesehatan masyarakat adalah perwujudan kesehatan kelompok,
keluarga, dan individu. Oleh sebab itu mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada
di masyarakat tersebut bergerak bersama-sama.

14

2.1.5 Sasaran Promosi Kesehatan


Keterbatasan sumber daya, akan menyebabkan kegiatan promosi
kesehatan tidak efektif dilakukan untuk seluruh sasaran promosi
kesehatan. Maka dari itu perlu adanya pentahapan sasaran promosi
kesehatan. Tiga kelompok sasaran promosi kesehatan yaitu:
1. Sasaran Primer (Primary Target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya
pendidikan atau promosi kesehatan.
2. Sasaran Sekunder (Secondary Target)
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya.
Disebut sasaran sekunder karena dengan memberikan pendidikan
kesehatan kepada kelompok ini diharapkan untuk selanjutnya
kelompok ini memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat
di sekitarnya.
3. Sasaran Tersier (Tertiary Target)
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingkat
pusat, maupun daerah adalah sasaran tersier promosi kesehatan.
Dengan kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh
kelompok ini akan mempunyai dampak terhadap perilaku tokoh
masyarakat dan juga masyarakat umum (Notoatmodjo, 2012).
2.1.6 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
1. Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
a. Promosi kesehatan pada aspek preventif-promotif

15

b. Promosi kesehatan pada aspek penyembuhan dan pemulihan


(kuratif rehabilitatif)
2. Ruang

Lingkup

Promosi

Kesehatan

Berdasarkan

Tatanan

Pelaksanaan
a. Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
b. Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
c. Promosi kesehatan di tempat kerja
d. Promosi kesehatan di tempat-tempat umum
e. Fasilitas pelayanan kesehatan
3. Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan
a. Promosi kesehatan
b. Perlindungan khusus
c. Diagnosis dini dan pengobatan segera
d. Pembatasan cacat
e. Rehabilitasi (Notoatmodjo, 2012).
2.1.7 Metode Promosi Kesehatan
Notoatmodjo (2005) menyebutkan metode promosi kesehatan
disesuaikan dengan sasaran promosi kesehatan agar pelaksanaan
promosi kesehatan berjalan efektif dan efisien.
1. Metode Promosi Individual (Perorangan)
Dalam promosi kesehatan, metode yang bersifat individual
digunakan untuk membina perilaku baru atau membina seseorang

16

yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau


inovasi. Bentuk pendekatan ini antara lain:
a. Bimbingan dan penyuluhan
b. Interview (wawancara)
2. Metode Promosi Kelompok
Dalam memilih metode promosi kelompok, harus mengingat
besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari
sasaran.
a. Kelompok Besar ( > 15 orang) : Ceramah dan seminar
b. Kelompok Kecil ( < 15 orang) : Diskusi, curah pendapat,bola
salju,kelompok-kelompok kecil, Role Play, Permainan Simulasi
3. Metode Promosi Kesehatan Massa
a. Ceramah umum
b. Pidato/diskusi
c. Simulasi
d. Tulisan
e. Bill board

2.1.8 Media Promosi Kesehatan


Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk
menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh
komunikator sehingga sasaran dapat meningkatkan pengetahuannya

17

yang akhirnya dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap


kesehatan. Menurut Notoatmodjo (2005) penggolongan tersebut:
1. Penggolongan media promosi kesehatan berdasarkan bentuk umum
penggunaannya.
a. Bahan bacaan: Modul, buku rujukan/bacaan, folder,leaflet,dll
b. Bahan peragaan: poster tunggal, poster seri, fliptchart, dll
2. Penggolongan media promosi kesehatan berdasarkan cara produksi
a. Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesanpesan visual. Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran
sejumlah kata, gambar, foto dalam tata warna. Macammacamnya:
- Poster
- Leaflet
- Brosur
- Majalah
- Surat kabar
- Lembar balik
- Sticker dan pamphlet
b. Media elektronik, yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat
dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya. Macammacamnya yaitu:
- TV
- Radio

18

- Film
- Video film
- Cassette
- CD
- VCD
c. Media luar ruangan yaitu media yang menyampaikan pesannya di
luar ruang secara umum melalui media cetak dan elektronika
secara statis, misalnya:
- Papan reklame
- Spanduk
- Pameran
- Banner
- TV layar lebar
2.1.9 Perencanaan Promosi Kesehatan
Perencanaan dalam promosi kesehatana menurut Notoatmodjo (2005):
I. Menentukan kebutuhan promosi kesehatan
1. Diagnosis masalah
Diagnosis dapat dilakukan dengan kerangka Precede-Proceed
dengan fase antara lain:
Fase 1: Diagnosis Sosial
Fase 2: Diagnosis Epidemiologi
Fase 3: Diagnosis Perilaku dan Lingkungan
Fase 4: Diagnosis Pendidikan dan Organisasional

19

Fase 5: Diagnosis Administratif dan Kebijakan


Sumber data untuk mendukung diagnosis masalah dapat
bersumber dari dokumen yang ada, langsung dari masyarakat,
petugas kesehatan di lapangan serta tokoh masyarakat.
2. Menetapkan prioritas masalah
Langkah menetapkan prioritas masalah:
a. Menentukan status kesehatan masyarakat
b. Menentukan pola pelayanan kesehatan masyarakat yang
ada.
c. Menentukan hubungan antara status kesehatan dengan
pelayanan kesehatan di masyarakat.
d. Menentukan determinan masalah kesehatan masyarakat.
II. Mengembangkan komponen promosi kesehatan
1. Menentukan tujuan promosi kesehatan
Pada dasarnya tujuan utama promosi kesehatan adalah untuk
mencapai 3 hal yaitu:
a. Peningkatan pengetahuan dan atau sikap masyarakat
b. Peningkatan perilaku masyarakat
c. Peningkatan status kesehatan masyarakat
2. Menentukan sasaran promosi kesehatan
Sasaran promosi kesehatan dan sasaran pendidikan kesehatan
tidak selalu sama, oleh karena itu harus ditetapkan sasaran
langsung dan tidak langsung.

20

3. Menentukan isi promosi kesehatan


Isi promosi kesehatan sederhana, menggunakan gambar dan
bahasa setempat sehingga sasaran merasa bahwa pesan
tersebut memang benar ditujukan untuknya.
4. Menentukan metode yang akan digunakan
Metode disesuaikan dengan aspek yang akan dicapai. Aspek
pengetahuan metode yang tepat dengan penyuluhan langsung,
poster, spanduk dll. Aspek sikap metode yang tepat dengan
contoh konkrit dengan tampilan foto dan video. Untuk aspek
keterampilan harus diberi kesempatan untuk mencoba
keterampilan tersebut.
5. Menentukan media yang akan digunakan
Media yang dipilih harus tergantung pada jenis sasarannya,
tingkat pendidikan sasaran, aspek yang ingin dicapai, metode
yang digunakan dan sumber daya yang ada.
6. Menyusun rencana evaluasi
Penjabaran kapan evaluasi akan dilaksanakan, dimana dan
kelompok sasaran mana yang akan dievaluasi dan siapa yang
akan melaksanakan evaluasi.
7. Menyusun jadwal pelaksanaan
Merupakan penjabaran dari waktu, tempat dan pelaksanaan
yang biasanya disajikan dalam bentuk gan chart.

21

2.2 Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


2.2.1 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Desa atau kelurahan Siaga Aktif adalah desa atau yang disebut
dengan nama lain atau kelurahan, yang:
1. Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan
dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan
Desa (Poskesdes) atau sarana kesehatan yag ada di wilayah tersebut
seperti, Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu), Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau sarana kesehatan lainnya.
2. Penduduknya mengembangkan UKBM dan melaksanakan survailans
berbasis masyarakat (meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu
dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku), kedaruratan kesehatan dan
penanggulangan bencana, serta penyehatan lingkungan sehingga
masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
(Kemenkes RI, 2010).
2.2.2 Pelayanan Kesehatan Dasar
Pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Desa Siaga Aktif atau
Kelurahan Siaga Aktif diselenggarakan melalui berbagai UKBM, serta
kegiatan kader dan masyarakat. Pelayanan ini selanjutnya didukung
oleh sarana-sarana kesehatan yang ada seperti Puskesmas Pembantu
(Pustu), Puskesmas, dan Rumah Sakit. Teknis pelaksanaan pelayanan
mengacu kepada petunjuk-petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan
dengan pengawasan dan bimbingan dari Puskesmas (Kemenkes RI,

22

2010). Kelengkapan sarana dan prasarana pada Poskesdes turut menjadi


indikator keberhasilan Program Desa Siaga (Kusuma, 2013).
2.2.3 Kriteria Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Program Desa Siaga yang dicanangkan pada tahun 2006
menetapkan kriteria Desa Siaga adalah Desa yang mempunyai minimal
1 Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Untuk menjamin kemantapan dan
kelestarian,

pengembangan

Desa

dan

Kelurahan

Siaga

Aktif

dilaksanakan secara bertahap, dengan memperhatikan kriteria atau


unsur-unsur yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Kepedulian

Pemerintah

Desa

atau

Kelurahan

dan

pemuka

masyarakat terhadap Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang tercermin


dari keberadaan dan keaktifan Forum Desa dan Kelurahan.
2. Keberadaan Kader Pemberdayaan Masyarakat/kader teknis Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif.
3. Kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar
yang buka atau memberikan pelayanan setiap hari.
4. Keberadaan UKBM yang dapat melaksanakan (a) survailans berbasis
masyarakat, (b) penanggulangan bencana dan kedaruratan kesehatan,
(c) penyehatan lingkungan.
5. Tercakupnya (terakomodasinya) pendanaan untuk pengembangan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif dalam Anggaran Desa atau
Kelurahan serta dari masyarakat dan dunia usaha.

23

6. Peran serta aktif masyarakat dan organisasi kemasyarakatan dalam


kegiatan kesehatan di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
7. Peraturan di tingkat desa atau kelurahan yang melandasi

dan

mengatur tentang pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.


8. Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah
Tangga di desa atau kelurahan.
2.2.4 Pendekatan Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
1. Urusan wajib pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota
2. Dukungan kebijakan di Tingkat Desa dan Kelurahan
3. Integrasi dengan Program Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Orgen et al (2003) dalam Hill et al (2013) pendekatan
konsep siaga yang kemudian menjadi trand dilakukan dengan proses
mengurangi dan mensintesis proses yang kompleks menjadi tunggal
dan luas serta dikomunikasikan dengan keseluruhan.
2.2.5 Persiapan Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Sasaran program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif salah satunya
adalah

ibu

hamil.

Persiapan

Desa

Siaga

dalam

menangani

kegawatdaruratan ibu hamil terdiri dari Siaga (Siap Antar Jaga):


1. Siap, yaitu dengan mengenal dan mendata kehamilan yang ada di
desa, menganjurkan warga untuk menggunakan jasa bidan, memberi
pengetahuan akan pentingnya peran aktif dan kesiagaan suami.
2. Antar, yaitu merencanakan dan menyiapkan sistem angkutan desa
untuk menangani kasus darurat, merencanakan pengumpulan dana

24

dan menginformasikan bahwa bantuan tersedia untuk yang


membutuhkan.
3. Jaga, yaitu menganjurkan suami untuk selalu mendampingi istri ke
Puskesmas/Rumah Sakit pada kasus darurat, mengingatkan keluarga
agar memastikan kecukupan gizi dan menjaga kondisi kesehatan ibu
hamil (Hill et al, 2013).
2.2.6 Penyelenggaraan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Langkah-langkah dalam memfasilitasi siklus pemecahan masalah
demi masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat desa atau kelurahan,
yang secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Bagan 2.1
Siklus Pemecahan Masalah Kesehatan oleh Masyarakat

Sumber: Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


(Kemenkes RI,2010)

25

1. Pengenalan Kondisi Desa atau Kelurahan


Di Tidore, pengenalan kondisi dilakukan dengan keberadaan forum
desa/kelurahan, kader kesehatan, kemudahan akses pelayanan
kesehatan, UKBM, dana, ormas, peraturan kepala desa/ bupati serta
PHBS desa (Musa dkk, 2013).
2. Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS
Kajian dari perumusan masalah terdiri dari memastikan keberadaan
tingkat fisik,target fisik, Poskesdes, variasi, mengunjungi tempat
lain, kemampuan kader dan masyarakat (Kusuma, 2012).
3. Musyawarah Desa/Kelurahan
Bila dirasakan perlu, Musyawarah Desa/Kelurahan dapat dilakukan
secara

berjenjang

dengan

terlebih

dulu

menyelenggarakan

Musyawarah Dusun atau Rukun Warga (RW).


4. Perencanaan Partisipatif
Setelah diperolehnya kesepakatan dari warga desa atau kelurahan,
KPM dan lembaga kemasyarakatan yang ada mengadakan
pertemuan-pertemuan secara intensif guna menyusun rencana
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif untuk dimasukkan
ke dalam Rencana Pembangunan Desa/Kelurahan.
5. Pelaksanaan Kegiatan
1. Sementara

menunggu

proses

Musrenbang

selesai

dan

ditetapkannya alokasi dana Pemerintah, KPM/kader kesehatan

26

dan lembaga kemasyarakatan yang ada dapat memulai kegiatan


dengan membentuk UKBM-UKBM yang diperlukan.
2. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan secara swakelola oleh
masyarakat dengan didampingi Perangkat Pemerintahan serta
dibantu oleh para KPM/kader kesehatan dan fasilitator.
3. Tim pelaksana kegiatan bertanggungjawab mengenai realisasi
fisik, keuangan, dan administrasi kegiatan yang dilakukan, sesuai
dengan rencana.
4. Apabila dibutuhkan barang/jasa berupa bahan, alat, dan tenaga
teknis kesehatan yang tidak dapat disediakan/dilakukan sendiri
oleh masyarakat, maka Dinas Kesehatan melalui Puskesmas dapat
membantu masyarakat untuk menyediakan barang/jasa tersebut.
5. Pencatatan dan pelaporan kegiatan dilaksanakan sesuai dengan
petunjuk teknis dari Kementerian Dalam Negeri.
6. Pelatihan teknis, termasuk kursus-kursus penyegar, bagi para
kader pelaksana UKBM.
2.2.7 Peran

Pemangku

Kepentingan

di

Berbagai

Tingkatan

Pemerintahan
Di tingkat pusat, keterlibatan Kementerian Dalam Negeri,
Kementerian Kesehatan, dan Pokjanal Pusat dihubungkan secara
horizontal, sedangkan di tingkat Provinsi koordinasi terjalin antara
Pemerintah Provinsi dan Pokjanal Provinsi, di tingkat Kabupaten/Kota
Pemerintah Kabupaten/Kota dan Pokjanal Kabupaten/Kota.

27

Bagan 2.2
Keterlibatan Pihak Lain pada Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif

Sumber: Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


(Kemenkes RI,2010)

Pada tingkat Kecamatan terdiri dari Pemerintah Kecamatan dan


Forum Desa/Kelurahan Siaga Tingkat Kecamatan, dan pada tingkat
desa koordinasi horizontal antara Pemerintah Desa/Kelurahan, Forum
Desa/Kelurahan

Siaga

Tingkat

Desa/Kelurahan,

Lembaga

Kemasyarakatan, dan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM)


(Kemenkes RI, 2010).
2.2.8 Indikator Keberhasilan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Keberhasilan pengembangan Desa atau Kelurahan Siaga Aktif di
suatu desa atau kelurahan dapat dilihat dari pencapaian upaya-upaya
yang dilakukan di Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan serta
Desa atau Keluruhan.

28

2.3 Konsep Manajemen


2.3.1 Pendekatan Ilmu Manajemen
Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang
melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang
kearah tujuan organisasional atau maksud yang nyata (Terry, 2013).
Pendekatan manajemen antara lain:
1. Proses Pendekatan Operasional
2. Pendekatan Perilaku Manusia
3. Pendekatan Sistem Sosial
4. Pendekatan Sistem-Sistem
5. Pendekatan Kuantitatif

2.3.2 Fungsi Manajemen


Manajemen

sebagai

bentuk

kerja,

kerja

tersebutlah

yang

dinamakan fungsi manajemen. Menurut Alamsyah, 2012 fungsi


manajemen terdiri dari:
1. Planning (perencanaan)
Adalah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi
sampai dengan menetapkan alternatif kegiatan untuk pencapaiannya.
2. Organizing (pengorganisasian)
Adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua
sumber

daya

(potensi)

yang dimiliki

oleh organisasi

dan

memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.

29

3. Actuating

(directing,

commanding,

motivating,

staffing,

coordinating) atau fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses


bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal
menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai keterampilan yang telah
dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia.
4. Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian
(wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah
disusun dan mengdakan koreksi jika terjadi penyimpangan.
2.3.3 Sarana Manajemen
1. Men (Manusia)
2. Money (Uang)
3. Material (Bahan-bahan)
4. Machine (Bahan-bahan)
5. Metode (Cara)
6. Market (Pasar)
2.3.4 Perencanaan Kesehatan
Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk
mencapai hasil yang diinginkan (Louis A. Allen). Berdasarkan
pengertian tersebut perencanaan dibutuhkan untuk mengetahui apa saja
hal-hal yang harus dipersiapkan dalam rangka mencapai tujuan. Ciriciri perencanaan antara lain:
1. Bagian dari administrasi

30

Suatu perencanaan yang baik adalah menempatkan pekerjaan


sebagian dari sistem administrasi secara keseluruhan.
2. Dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan.
3. Berorientasi pada massa depan
Artinya setiap pekerjaan yang dilaksanakan mendatangkan kebaikan
pada masa yang akan datang.
4. Mampu menyelesaikan masalah
5. Mempunyai tujuan
6. Bersifat kelola
Artinya bersifat wajar, logis, objektif, jelas, runtun dan telah
disesuaikan dengan sumber daya.
2.3.5 Pengorganisasian Kesehatan
Salah satu bentuk pengorganisasian adalah mengatur personel atau
staf yang ada di dalam rencana tersebut supaya berlangsung sesuai
dengan rencana dan tujuan yang dicapai. Hal-hal yang perlu
diorganisasikan ada dua macam, yakni:
1. Pengorganisasian kegiatan
Ialah pengaturan berbagai yang ada di dalam rencana sehingga
membentuk satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai kegiatan.
2. Pengorganisasian tenaga pelaksana
Ialah mencakup pengaturan hak dan wewenang setiap tenaga
pelaksana sehingga mempunyai penanggung jawabnya.

31

Proses pengorganisasian yaitu langkah-langkah yang harus dilakukan


sedemikian rupa sehingga semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat
berjalan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan hasil pengorganisasian
yaitu wadah yang terbentuk, yaitu yang disebut dengan organisasian
(Alamsyah, 2011).
2.3.6 Pengarahan dan Pengawasan Kesehatan
Pengawasan dilakukan dengan tujuan untuk mengukur, menjaga
organisasi, pencapaian tujuan dan sasaran, kepatuhan terhadap apa yang
dilakukan dan menetapkan tingkat penyimpangan yang terjadi terhadap
apa yang direncanakan sebelumnya.
Metode pengawasan yang terdiri dari observasi atau pengamatan
secara langsung terhadap suatu objek fenomena terhadap apa yang
dikerjakan, analisis terhadap apa-apa yang dilakukan, melakukan
pengumpulan data atau informasi dan tanggung jawab dari pimpinan
(Alamsyah, 2011).

32

BAB III
DESKRIPSI TEMPAT
PRAKTIKUM KESEHATAN MASYARAKAT (PKM)

3.1 Gambaran Umum Lokasi PKM


3.1.1 Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir
Berdasarkan Peraturan Bupati Ogan Ilir Nomor 38 Tahun 2008
tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir, Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir memiliki kedudukan,
tugas pokok, dan fungsi sebagai berikut:
a. Kedudukan
1) Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir merupakan unsur
pelaksana Pemerintah Kabupaten di bidang kesehatan;
2) Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir dipimpin oleh seorang
Kepala Dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab
langsung kepada Bupati Ogan Ilir melalui Sekretaris Daerah
Ogan Ilir.
b. Tugas Pokok
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir mempunyai tugas
pokok melaksanakan kewenangan otonomi kabupaten dalam
rangka pelaksanaan tugas desentralisasi di bidang kesehatan.

33

c. Fungsi
1) Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan;
2) Pemberian perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum di
bidang kesehatan;
3) Pembinaan terhadap Unit Pelaksana Teknis Dinas dalam
lingkup tugas;
4) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati Ogan Ilir
sesuai dengan tugas dan fungsinya.
3.1.2 Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
a. Visi
Visi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir tahun 2011-2015 adalah terwujudnya Kabupaten Ogan Ilir
Sehat.
b. Misi
Misi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas daya manusia kesehatan dan fasilitas
kesehatan secara merata.
2. Meningkatkan

dan

memberdayakan

masyarakat

dibidang

kesehatan dengan melibatkan masyarakat dalam programprogram kesehatan sehingga mandiri untuk hidup sehat.

34

3.1.3 Tujuan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir


Tujuan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2011-2015 adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kuantitas sarana dan prasarana pelayanan kesehatan
terhadap masyarakat secara adil dan merata;
2) Meningkatkan

ketersediaan,

keterjangkauan,

pemerataan,

pengembangan, keamanan dan pengawasan obat dan makanan;


3) Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan serta pencegahan,
penanganan dan penanggulangan penyakit dan bencana;
4) Meningkatkan mutu manajemen kesehatan yang profesional;
5) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui peningkatan
upaya pelayanan kesehatan;
6) Meningkatkan promosi kesehatan.
3.1.4 Sasaran Strategis Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
Adapun sasaran strategis dari Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas
Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir adalah (Indikator Kinerja Utama Dinas
Kesehatan Kab.Ogan Ilir Tahun 2013):
1) Terpenuhinya sarana dan prasarana kesehatan;
2) Tersedianya sarana rujukan pelayanan kesehatan, yaitu RSUD
dengan pelayanan yang bermutu;
3) Meningkatnya pemeliharaan sarana dan prasarana penunjang
kesehatan;
4) Meningkatnya manajemen obat dan perbekalan kesehatan;

35

5) Meningkatnya pengawasan obat dan makanan;


6) Meningkatnya lingkungan sehat;
7) Meningkatnya upaya penanggulangan masalah kesehatan terutama
upaya pencegahan penyakit, khususnya penyakit menular dan tidak
menular, KLB dan imunisasi serta meningkatnya pelaksanaan
epidemiologi penyakit;
8) Terpenuhinya sarana dan prasarana perkantoran;
9) Menyediakan data dasar kesehatan agar perencanaan, evaluasi dan
pelaporan terselenggara dengan baik;
10) Meningkatnya upaya pelayanan kesehatan;
11) Meningkatnya pelayanan kesehatan anak balita;
12) Menurunnya angka kematian ibu melahirkan dan anak;
13) Meningkatnya status gizi masyarakat;
14) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.
3.1.5 Susunan Organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
Berdasarkan Peraturan Bupati Ogan Ilir Nomor 38 Tahun 2008
tentang Uraian Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir, susunan organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
terdiri dari:
a. Kepala Dinas;
b. Sekretariat membawahi:
1) Sub bagian Kepegawaian;
2) Sub bagian Keuangan;

36

3) Sub bagian Umum.


c. Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan, membawahi:
1) Seksi Pengamatan, Pencegahan dan Matra;
2) Seksi Penyehatan Lingkungan;
3) Seksi Pemberantasan Penyakit.
d. Bidang

Promosi

dan

Pelayanan

Kesehatan

Masyarakat,

membawahi:
1) Seksi Promosi Kesehatan;
2) Seksi Pelayanan Kesehatan Masyarakat;
3) Seksi Pembinaan Gizi Masyarakat.
e. Bidang Farmasi, Makanan, Minuman dan Kosmetik, membawahi:
1) Seksi Obat, Alat Kesehatan;
2) Seksi Makanan dan Minuman;
3) Seksi Nafza, Batra dan Kosmetik.
f. Bidang Perencanaan, Registrasi, Akreditasi dan Evaluasi Program,
membawahi:
1) Seksi Penyusunan Program;
2) Seksi Registrasi, Akreditasi dan Sertifikasi;
3) Seksi Monitoring dan Evaluasi Program.
g. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD), terdiri dari:
1) Puskesmas;
2) Rumah Sakit Umum;

37

3) Lab.Kesda.
h. Kelompok Jabatan Fungsional.
3.1.6 Tenaga Kesehatan
Tabel 3.1
Daftar Tenaga Kesehatan di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

Tahun

Tenaga Medis
Dokter

dr gigi

Tenaga Keperawatan (Bidan,


Perawat)
Bidan

Perawat

Tenaga Kesehatan
Tenaga KefarmaTenaga
sian (Apoteker,
Gizi
Asisten Apoteker)
(Ahli
Tekns
Gizi)
Apotkr
frmsi

Tenaga Kesehatan
Masyara-kat (Kesmas,
Sanitarian)
S.KM
Sanitarian

Tenaga Teknisi Medis


dan Fisio-terapis
Teknisi

Fisiotrapis

2010

22

11

236

247

32

34

106

42

24

2011

23

12

254

265

30

35

127

33

24

2012

19

251

247

29

35

136

36

24

2013

21

10

330

241

27

33

114

35

25

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

3.1.7 Sarana Pelayanan Kesehatan


Tabel 3.2.
Distribusi Puskesmas Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014
No.

Kecamatan

1.

Indralaya

2.

Indralaya
Utara

3.
4.

Indralaya
Selatan
Tanjung Raja

Puskesmas
wilayah I
Indralaya
Simpang
Timbangan
Talang Aur
Palem Raya
Payakabung
KTM
Rambutan
Tebing
Gerinting
Tanjung Raja
Kerinjing

No.

Kecamatan

5.
6.

Sungai Pinang
Payaraman

7.

Tanjung Batu

8.

Pemulutan Barat

Puskesmas
wilayah I
Sungai Pinang
Payaraman
Tanjung Batu
Sri Tanjung
Talang Pangeran

38

Tabel 3.2.
Distribusi Puskesmas Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014 (lanjutan)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kecamatan

Puskesmas
wilayah II
Pemulutan
Pemulutan
Pegayut
Pemulutan
Sungai Lebung
Selatan
Sungai Keli
Rantau Panjang
Rantau Panjang
Rantau Alai
Lebung Bandung
Mekar Sari
Lubuk Keliat
Betung
Rambang Kuang Tambang Rambang

No.

Kecamatan

7.
8.

Muara Kuang
Kandis

Puskesmas
wilayah II
Muara Kuang
Kandis

Sumber: Bidang Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

3.2 Gambaran Khusus di Seksi Promosi Kesehatan


3.2.1 Bidang Promosi dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bidang Promosi dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat terdiri dari 3
seksi, yaitu:
a) Seksi Promosi Kesehatan. Seksi Promosi Kesehatan mempunyai
tugas sebagai berikut :
a. Melaksanakan, merencanakan, mengevaluasi, dan melaporkan
pelaksanaan tugas promosi kesehatan.
b. Melaksanakan operasional promosi kesehatan
c. Melaksanakan pengembangan kegiatan pemberdayaan peran serta
masyarakat.
d. Melaksanakan penyebarluasan informasi kesehatan meliputi
pesan kesehatan, metode penyuluhan, serta motivasi petugas
kesehatan.

39

e. Melaksanakan pengkajian potensi dan permasalahan dalam


pengembangan

JPKM

(Jaminan

Pemeliharaan

Kesehatan

Masyarakat)
f. Melaksanakan

pembinaan

dan

pengendalian

Program

Penyelenggaraan JPKM.
g. Melaksanakan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas.
h. Melaksanakan koordinasi promosi kesehatan dengan sub unit
kerja lain lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.
i. Melaksanakan tugas-tugas kedinasan lain yang diberikan oleh
atasan.
b) Seksi Pelayanan Kesehatan
Seksi Pelayanan Kesehatan Masyarakat mempunyai tugas :
a. Melaksanakan,
mengendalikan

merencanakan,
tugas-tugas

dibidang

mengkoordinasikan,
pelayanan

kesehatan

masyarakat.
b. Melaksanakan rencana kegiatan program pelayanan kesehatan
masyarakat.
c. Mengkoordinasikan perencanaan teknis di bidang pelayanan
kesehatan masyarakat .

40

d. Melaksanakan perumusan sasaran di bidang pelayanan kesehatan


masyarakat.
e. Membina dan mengarahkan pelaksanaan tugas di bidang
pelayanan kesehatan masyarakat.
f. Melaksanakan evaluasi tugas di bidang pelayanan kesehatan
masyarakat.
g. Melaporkan pelaksaan tugas di bidang pelayanan kesehatan
masyarakat.
h. Melaksanakan koordinasi/krjasama dan kemitraan dengan unit
kerja instansi lembaga atau pihak ketiga dalam rangka pelayanan
kesehatan masyarakat.
i. Melaksanakan tugas-tugas kedinasaan lain yang diberikan oleh
atasan.
c) Seksi pembinaan Gizi Masyarakat
Seksi pembinaan Gizi Masyarakat mempunyai tugas sebagai
berikut:
a. Seksi pembinaan Gizi Masyarakat mempunyai tugas pokok
merencanakan,melaksanakan,mengkoordinasikan, mengevaluasi
dan melaporkan tugas pembinaan gizi masyarakat.

41

b. Untuk melaksanakan tugas pokok sebagai dimaksud ayat (1)


diatas seksi pembinaan gizi masyarakat mempunyai fungsi:
1. Merancanakan

operasional

kegiatan

pembinaan

gizi

masyarakat.
2. Pelaksanaan pembinaan upaya penerapan pola peningkatan
gizi dan integrasi program gizi.
3. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan tugas pembinaan gizi
masyarakat.
4. Pelaksanaan

koordinasi

dengan

sub

unit

kerja

lain

dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir.


3.2.2 Struktur Organisasi Seksi Promosi Kesehatan
Bagan 3.1
Struktur Organisasi di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
Kepala Dinas Kesehatan

Bidang Perencanaan,
Registrasi, Akreditasi dan
Evaluasi Program

Bidang Promosi Kesehatan


dan Pelayanan Kesehatan
Masyarakat

Bidang Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan

Bidang Farmasi,
Makanan, Minuman dan
Kosmetika

Seksi Promosi
Kesehatan

Staf Pemegang
Program

Staf Pemegang
Program

Staf Pemegang
Program

Staf Pemegang
Program

Staf Pemegang
Program

Sumber: Seksi Promkes Dinkes OI tahun 2014


42

3.2.3 Program Kerja Seksi Promosi Kesehatan


1. UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
Kesehatan

sekolah

diselenggarakan

untuk

meningkatkan

kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat,


dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya menjadi
sumber daya manusia yang berkualitas. Kesehatan sekolah
diselenggarakan melalui sekolah formal dan informal atau melalui
lembaga pendidikan lain (UU No 36 tahun 2009).
2. UKO (Upaya Kesehatan Olahraga)
Upaya kesehatan olahraga ditujukan untuk meningkatkan
kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat. Peningkatan derajat
kesehatan dan kebugaran jasmani masyarakat merupakan upaya
dasar dalam meningkatkan prestasi belajar, kerja dan olahraga yang
dilaksanakan melalui aktifitas fisik, latihan fisik dan/atau olahraga
dengan lebih mengutamakan pendekatan preventif dan promotif,
tanpa

mengabaikan

pendekatan

kuratif

dan

rehabilitatif.

Penyelenggaraannya oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan


masyarakat (UU No 36 tahun 2009).
3. UKK (Upaya Kesehatan Kerja)
Upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar
hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh
buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan meliputi pekerja di sektor
formal dan informal yang berlaku bagi setiap orang selain pekerja

43

yang berada di lingkungan tempat kerja. Upaya kesehatan kerja


berlaku juga bagi kesehatan pada lingkungan tentara nasional
Indonesia baik darat, laut, maupun udara serta kepolisian Republik
Indonesia. Pemerintah menetapkan standar kesehatan kerja, serta
pengelola tempat kerja wajib menaati standar kesehatan kerja dan
menjamin lingkungan kerja yang sehat serta bertanggung jawab atas
terjadinya

kecelakaan

kerja.

Pengelola

tempat

kerja

wajib

bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan


kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (UU
No 36 tahun 2009).
4. Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Desa san kelurahan siaga aktif adalah bentuk pengembangan
dari Desa Siaga yang telah dimulai sejak tahun 2006. Desa atau
kelurahan Siaga Aktif adalah desa atau yang disebut dengan nama
lain atau kelurahan, yang:
1. Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan
kesehatan dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau sarana kesehatan yag ada di
wilayah tersebut seperti, Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu
(Pustu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau sarana
kesehatan lainnya.
2. Penduduknya

mengembangkan

UKBM

dan

melaksanakan

survailans berbasis masyarakat (meliputi pemantauan penyakit,

44

kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku),


kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana, serta
penyehatan

lingkungan

sehingga

masyarakat

menerapkan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).


Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka Desa atau
Kelurahan Siaga Aktif memiliki komponen (1) Pelayanan kesehatan
dasar, (2) Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UKBM
dan mendorong upaya surveilans berbasis masyarakat, kedaruratan
kesehatan

dan

penanggulangan

bencana

serta

penyehatan

lingkungan, (3) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).


Untuk menjamin kemantapan dan kelestarian, pengembangan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif dilaksanakan secara bertahap,
dengan memperhatikan kriteria atau unsur-unsur yang harus
dipenuhi, yaitu:
1. Kepedulian Pemerintah Desa atau Kelurahan dan pemuka
masyarakat terhadap Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang
tercermin dari keberadaan dan keaktifan Forum Desa dan
Kelurahan.
2. Keberadaan Kader Pemberdayaan Masyarakat/kader teknis Desa
dan Kelurahan Siaga Aktif.
3. Kemudahan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dasar yang buka atau memberikan pelayanan setiap hari.

45

4. Keberadaan UKBM yang dapat melaksanakan (a) survailans


berbasis

masyarakat,

(b)

penanggulangan

bencana

dan

kedaruratan kesehatan, (c) penyehatan lingkungan.


5. Tercakupnya (terakomodasinya) pendanaan untuk pengembangan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif dalam Anggaran Desa atau
Kelurahan serta dari masyarakat dan dunia usaha.
6. Peran serta aktif masyarakat dan organisasi kemasyarakatan
dalam kegiatan kesehatan di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
7. Peraturan di tingkat desa atau kelurahan yang melandasi dan
mengatur tentang pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif.
8. Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah
Tangga

di

desa

atau

kelurahan

(KMK

Nomor

1529/Menkes/SK/X/2010).
5. JKN (Jaminan Kesehatan Nasional)
Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS
(Badan Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan). Menurut UU nomor
24 tahu 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang
selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program Jaminan sosial. BPJS dikelola
oleh negara sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan
bertanggung jawab langsung kepada presiden Republik Indonesia.
BPJS memiliki tujuan besar yaitu untuk mempercepat tercapainya

46

universal coverage. Oleh karena itu BPJS harus bersifat non for
profit

sehingga

lebih

menguntungkan

peserta

hasilnya

(sulastomo,2002). BPJS Kesehatan berfungsi menyelenggarakan


program jaminan kesehatan. Jaminan Kesehatan ialah jaminan
berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat
pemeliharaan

kesehatan

dan

perlindungan

dalam

memenuhi

kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang


telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah (UU
No 24 tahun 2011).
6. Saka Bakti Husada
Satuan karya Pramuka Bakti Husada yaitu salah satu jenis
Satuan Karya Pramuka yang merupakan wadah kegiatan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam bidang
kesehatan yang dapat diterapkan pada diri, keluarga, lingkungan dan
pengembangan lapangan pekerjaan di bidang kewirausahaan.
Anggota Saka Bakti Husada adalah Pramuka Penegak dan Pramuka
Pandega putra dan putri yang menjadi anggota gugusdepan di
wilayah ranting atau canag yang mengembangkan bakat, minat,
kemampuan, dan pengalaman di bidang keterampilan, ilmu
pengetahuan dan teknologi tertentu melalui Saka Bakti Husada.
Sasaran dibentuknya Saka Bakti Husada adalah agar para anggota
Gerakan Pramuka yang telah mengikuti kegiatan Saka tersebut:

47

a. Memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dalam


bidang kesehatan, khususnya tenatang:
1) Lingkungan sehat
2) Keluarga sehat
3) Penanggulangan penyakit
4) Gizi
5) Obat
6) Perilaku hidup bersih dan sehat
b. Mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang
kesehatan kepada para anggota Pramuka di gugusdepan (gudep)
masing-masing.
c. Memiliki sikap dan perilaku hidup sehat serta menjadi contoh
bagi teman sebaya, keluarga dan masyarakat di lingkungannya.
d. Mau dan mampu menyebarluaskan informasi kesehatan tersebut
di atas kepada masyarakat (Keputusan Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka Nomor 154 Tahun 2011).
7. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu
strategi yang dicanangkan oleh Departemen Kesehatan untuk
mencapai tujuan pembangunan Millenium 2015 melalui rumusan
visi dan misi Indonesia Sehat, sebagaimana yang dicita-citakan oleh
seluruh masyarakat Indonesia dalam menyongsong Milenium
Development Goals (MDGs). Prilaku Hidup Bersih dan Sehat

48

(PHBS) merupakan prilaku yang dipraktekkan oleh setiap individu


dengan kesadaran sendiri untuk meningkatkan kesehatannya dan
berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang sehat.
10 indikator PHBS Rumah Tangga:
1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2) Memberi bayi ASI Eksklusif
3) Menimbang balita setiap bulan
4) Menggunakan air bersih
5) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6) Menggunakan jamban sehat
7) Memberantas jentik di rumah
8) Makan sayur dan buah setiap hari
9) Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10) Tidak merokok di dalam rumah (Kemenkes RI, 2009)
8. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat)
JAMKESMAS adalah program bantuan sosial untuk pelayanan
kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini
diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam
rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi
masyarakat

miskin.

Pemerintah

berkewajiban

memberikan

kontribusi

Propinsi/Kabupaten/Kota
sehingga

menghasilkan

pelayanan yang optimal (Kemenkes RI, 2008).

49

BAB IV
HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Komponen Input Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
4.1.1 Kebijakan
Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif merupakan kerja sama
antara Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian
Dalam Negeri Republik Indonesia. Kebijakan dan peraturan yang
berkaitan dengan pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
antara lain:
1. Keputusan

Menteri

Kesehatan

564/MENKES/SK/VIII/2006

Republik

tentang

Indonesia

Pedoman

Nomor

Pelaksanaan

Pengembangan Desa Siaga.


2. Keputusan

Menteri

Kesehatan

1529/MENKES/SK/X/2010

Republik

tentang

Indonesia
Pedoman

Nomor
Umum

Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif (kerja sama antara


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam
Negeri Republik Indonesia).
3. Keputusan Bupati Ogan Ilir Nomor 112/KEP/KES/2011 tentang
Pembentukan Forum Koordinasi Pembinaan Desa Siaga Kabupaten
Ogan Ilir Tahun 2011.

50

4.1.2 Sumber Daya Manusia


Sumber Daya Manusia yang terlibat dalam pelaksanaan Program
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif terdiri atas Sumber Daya Manusia
Bidang Kesehatan dan Sumber Daya Manusia Bukan Bidang
Kesehatan. Sumber Daya Manusia Bidang Kesehatan di Dinas
Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir terdiri dari:
Tabel 4.1
SDM Promosi Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
No.

Nama

Jabatan

1.

Priyadi, S.KM

Kepala Bidang Promyankes

2.

H. Asnawi, SKM, M.Kes

Kepala Seksi Promkes

3.

Abdul Jalili,S.KM

Staf Promkes

4.

Amiroh Fitriani, S.Pd

Staf Promkes

5.

Weni Prasura,SST

Staf Promkes (pemegang program


Desa dan Kelurahan Siaga Aktif)

6.

Salvari Gusti Ayu Dwi Putri, Staf Promkes


S.Kep, Ners

Sumber: Seksi Promkes Dinkes OI tahun 2014

Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di wilayah


kerja Puskesmas dibantu oleh tenaga promosi kesehatan di setiap
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama sesuai wilayah kerjanya yang akan
membantu desa dalam melaksanakan program tersebut.

51

Tabel 4.2
SDM Promosi Kesehatan di Puskesmas di Kabupaten Ogan Ilir
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Puskesmas
Sri Tanjung
Sungai Pinang
Simpang Timbangan
Tanjung Batu
Payaraman
Indralaya
Kandis
Tanjung Raja
Sungai Keli
KTM Rambutan
Talang Pangeran
Kerinjing
Talang Aur
Pegayut
Payakabung
Palemraya
Sungai Lebung
Rantau Panjang
Muara Kuang
Tambang Rambang
Mekar Sari
Lebung Bandung
Pemulutan
Betung
Tebing Gerinting

Nama Staf Promkes


Refitaliah, S.KM
Arofah
Elly Kusnaini, S.Kep
Yenni Nuniyanti
Sudianto
Ernawati, S.KM
Asperi, S.KM
Elly Yusmita, S.KM
Rena Rayendra, Am.Kep
Marlia, S.KM
Ihsan Panca Putra, S.KM
Elita Dewi Sawitri
Yenni Soptariny, S.KM
Septi Maynanti, S.KM
Elsa Fitri
Elfita Agustina
Sofie
Eka
Heri Herawati
Sarastuti
Aulia Nuraini, Am.Kep
Heriyanto
Yeni Darsita
Marlina, S.KM

Sumber: Seksi Promkes Dinkes OI tahun 2014

Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif pada tingkat


desa didukung dengan Sumber Daya Manusia bidang kesehatan antara
lain 23 bidan desa siaga dan 760 kader kesehatan se Kabupaten Ogan
Ilir. Bidan desa menjadi salah satu SDM yang menentukan keberhasilan
upaya pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Siaga dalam

52

upaya menurunkan AKI, AKB, dan angka kelahiran (Nawalah dkk,


2012).
Sumber Daya Manusia Bukan Bidang Kesehatan yang juga terlibat
dalam pengembangan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
berdasarkan Keputusan Bupati Ogan Ilir Nomor 112/KEP/KES/2011
tentang Pembentukan Forum Koordinasi Pembinaan Desa Siaga
Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2011 (terlampir) terdiri dari Bupati dan
Dinas, Badan serta Instansi lainnya. Namun di sisi lain menurut
Nawalah dkk (2012) peran orang luar hendaknya jangan berperan
sebagai pembina dan penyuluh melainkan sebagai fasilitator
yang bertugas memudahkan, mendorong, dan memfasilitasi kelompok
sosial dalam pemberdayaan masyarakat.
4.1.3 Sumber Dana
Sumber dana dalam pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan
Siaga Aktif di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir bersumber dari
APBD Kabupaten Ogan Ilir. Berdasarkan DPA (Dokumen Pelaksanaan
Anggaran) tahun 2014 total dana untuk seksi Promosi Kesehatan yaitu
Rp.

496.220.000,-

yang

termasuk

di

dalamnya

dana

untuk

pengembangan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.


Pengembangan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di tingkat
desa menjadi tanggung jawab Puskesmas Wilayah Kerja yang
bersangkutan dengan sumber dana promosi kesehatan dari dana BOK
(Bantuan Operasional Kesehatan) yang jumlahnya berbeda pada

53

masing-masing Puskesmas tergantung pada jumlah kapitasi. Dana


mandiri yang dikelola oleh Desa/Kelurahan yang bersangkutan turut
andil menjadi sumber dana dalam pelaksanaan program ini (Kemenkes
RI, 2010). Belum meningkatnya derajat kesehatan secara signifikan
dapat dikarenakan masalah pembiayaan/jaminan kesehatan bagi
masyarakat yang belum memenuhi semua kebutuhan (Kusuma, 2013).
4.1.4 Metode
Metode yang digunakan Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
dalam Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yaitu dengan
sosialisasi kepada petugas promosi kesehatan pada setiap Puskesmas.
Selain itu juga dengan mengadakan lomba Desa Sehat yang beberapa
indikatornya adalah kriteria Desa Siaga Aktif, dengan lomba ini
diharapkan desa yang menang akan memotivasi dan menjadi contoh
bagi desa lainnya.
Metode lainnya yaitu koordinasi dengan leading sectoral yang
dalam hal ini adalah BPMPD (Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
Pemerintahan Desa) Kabupaten Ogan Ilir. Metode yang baru diterapkan
yaitu dengan menjadikan satu desa percontohan Desa dan Kelurahan
Siaga Aktif di setiap kecamatan. Desa percontohan ini akan dibina
secara intensif untuk mencapai delapan kriteria desa siaga aktif.
Metode lainnya yang dapat dikembangkan oleh Desa/Kelurahan
secara mandiri misalnya pengadaan ambulan desa di Desa Kemuning

54

Lor Kabupaten Jember yang menjadi kegiatan paling menonjol dalam


program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif (Wulandari, 2012).
4.1.5 Sarana dan Prasarana
Sarana penting yang harus dimiliki suatu Desa atau Kelurahan
Siaga aktif yaitu Poskesdes (Pos Kesehatan Desa). Menurut
Ayuningtyas dkk (2008) kegiatan utama Poskesdes adalah pengamatan
dan kewaspadaan dini, penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan
kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan dasar.
Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014 jumlah
Poskesdes di Ogan Ilir 199 Poskesdes dari 241 desa dan kelurahan.
Prasarana untuk Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yaitu
dengan media promosi kesehatan berupa poster, leaflet, booklet, dan
pedoman pengembangan program dalam bentuk Keputusan Menteri
Kesehatan yang masing-masing disebarluaskan kepada Puskesmas.
4.1.6 Pengawasan
Pengawasan pada Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir baik secara
langsung maupun tidak langsung. Pengawasan langsung dilakukan
dengan mendatangi Puskesmas maupun Desa atau Kelurahan yang
bersangkutan. Pengawasan tidak langsung dilakukan dengan Laporan
Triwulan dari Puskesmas. Pada tingkat desa, fungsi pengawasan
berjalan dengan adanya supervise, monitoring, dan evaluasi yang
dilakukan bidan desa (Sari, 2014).

55

4.2 Komponen Proses Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
4.2.1 Persiapan
Pelatihan fasilitator di Kabupaten atau kota dilaksanakan oleh
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan peserta petugas Promosi
Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten dengan materi pemberdayaan
dan pengorganisasian masyarakat dalam pengembangan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif. Pelatihan petugas kesehatan di Puskesmas
diberikan kepada Kepala Puskesmas dan Pengelola program kesehatan
serta satu orang penanggung jawab Desa Siaga Aktif. Upaya
peningkatan pelayanan kesehatan, petugas dan kader serta masyarakat
perlu diberi bimbingan baik melalui pelatihan atau penyuluhan sehingga
mampu bersama-sama menjalankan program tersebut (Ayuningtyas
dkk, 2008).
Analisis situsi perkembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
dilaksanakan oleh Fasilitator di Kabupaten yang mengarah kepada
evaluasi dan inventarisasi terhadap desa dan kelurahan. Hasil evaluasi
dan inventarisasi berupa daftar desa dan kelurahan yang dikelompokkan
menjadi empat kategori yang kemudian dilaporkan kepada Bupati atau
Walikota.
Penetapan Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM), KPM
merupakan tenaga penggerak di desa atau kelurahan yang akan diserahi
tugas

pendampingan

di

desa

atau

kelurahan

dalam

rangka

pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Pelatihan Kader

56

Pemberdayaan Masyarakat diselenggarakan oleh Kabupaten atau Kota


yang bersangkutan. Kader dan bidan desa seharusnya bukan aktor
utama, adanya sumber daya lintas sektor yang komprehensif yang
didukung dan dipersiapkan dengan baik akan mendorong tercapainya
target Desa Siaga (Kusuma, 2013)
Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif di Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
persiapan masih belum maksimal, yang ditunjukkan dengan Kader
Kesehatan yang merangkap sebagai Kader Pemberdayaan Masyarakat.
Kegiatan pelatihan hanya sebatas sosialisasi karena terkendala dana
APBD yang tidak ada alokasi khusus untuk Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif.
4.2.2 Penyelenggaraan
Kegiatan penyelenggaraan terdiri atas siklus:
1. Pengenalan kondisi desa/kelurahan
2. Identitas masalah kesehatan dan PHBS
3. Musyawarah desa/kelurahan
4. Perencanaan partisipatif
5. Pelaksanaan kegiatan
6. Pembinaan kelestarian
Berdasarkan siklus di atas, Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
belum dapat memberikan informasi sebab penjelasan secara rincinya
hanya dapat dijelaskan oleh Desa atau Kelurahan yang bersangkutan.

57

Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir hanya dapat memberikan


gambaran umum pelaksanaan siklus tersebut melalui Lomba Desa
Aktif, yang dapat mencerminkan siklus pemecahan masalah di atas.
Pada Lomba Desa Aktif tahun 2014 Desa Tajung Bulan dan Betung
termasuk dalam golongan desa aktif.
4.2.3 Pentahapan
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010, atas dasar kriteria Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif yang telah ditetapkan, dilakukan pentahapan
sehingga dapat dicapai tingkatan-tingkatan atau kategori desa siaga
aktif sebagai berikut:
Tabel 4.3
Pentahapan Desa/Kelurahan Siaga Aktif

Sumber: Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


(Kemenkes RI,2010)

58

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir tahun 2014,


pentahapan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yaitu:
Tabel 4.4
Pentahapan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014
No.
Puskesmas
1.
Indralaya
2.
Talang Aur
3.
Simpang Timbangan
4.
Palemraya
5.
Payakabung
6.
KTM Rambutan
7.
Tebing Gerinting
8.
Tanjung Raja
9.
Kerinjing
10. Sungai Pinang
11. Rantau Panjang
12. Lebung Bandung
13. Mekar Sari
14. Kandis
15. Tanjung Batu
16. Sri Tanjung
17. Payaraman
18. Pemulutan
19. Pegayut
20. Talang Pangeran
21. Sungai Lebung
22. Sungai Keli
23. Muara Kuang
24. Betung
25. Tambang Rambang
Jumlah

Jumlah desa

12
8
4
3
6
3
14
8
11
13
12
6
7
12
12
9
13
15
10
11
9
6
14
10
13
241

Pratama
5
5
3
2
3
2
6
2
7
5
8
5
5
8
7
7
7
8
4
8
9
6
10
8
9
149

Madya
2
1
0
2
0
1
2
4
1
1
3
1
1
2
3
1
4
0
1
1
0
0
2
0
2
35

%
58,3
75,0
75,0
133,3
50,0
100
57,1
75,0
72,7
46,2
91,7
100
85,7
83,3
83,3
88,9
84,6
53,3
50,0
81,8
100
100
85,7
80
84,6
76,3

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

4.2.4 Pembinaan Kelestarian


Pembinaan kelestarian Desa/Kelurahan Siaga Aktif pada dasarnya
merupakan tugas dari KPM/kader kesehatan, Kepala Desa/Lurah dan
perangkat desa lainnya. Selain pertemuan-pertemuan berkala dan

59

kursus-kursus penyegar bagi para kader, termasuk KPM/kader


kesehatan dikembangkan dengan meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kader dengan Kelompencapir (Kelompok Pendengar,
Pembaca, dan Pemirsa) serta Perpustakaan Desa/Kelurahan. Peran dan
partisipasi bidan desa dalam pembinaan kelestarian Program Desa Siaga
dipengaruhi oleh faktor internal (umur, tingkat pendidikan, pengetahuan
dan sikap, masa kerja, motivasi, status kepegawaian, status pernikahan)
dan eksternal (tempat tinggal dan kondisi geografis desa) (Nawalah
dkk, 2012).
Peran Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir dalam pembinaan
kelestarian yaitu pemantauan, pengawasan dan evaluasi dengan
koordinasi dengan pihak Puskesmas dan perangkat desa serta dengan
Lomba Desa yang dilaksanakan setiap tahun.
4.2.5 Peran Pemangku Kepentingan
Berdasarkan bagan peran pihak lain yang terlibat pada Program
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif pada bab sebelumnya, peran
Pemerintah Kabupaten/Kota termasuk juga Dinas Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir yaitu:
1. Menetapkan kebijakan-kebijakan koordinatif dan pembinaan dalam
bentuk penetapan peraturan atau keputusan tentang pengembangan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

60

2. Menetapkan mekanisme koordinasi antar instansi terkait dengan


seluruh instansi yang terlibat dalam pengembangan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif.
3. Menetapkan kebjjakan-kebijakan koordinatif dan pembinaan dalam
bentuk penetapan peraturan atau keputusan tentang pelaksanaan
revitalisasi Puskesmas dan Posyandu di wilayahnya.
4. Membentuk forum Pokjanal Desa dan Kelurahan Siaga di tingkat
Kabupaten dan Kota, dengan susunan sebagai berikut:
Pembina : Bupati/Walikota
Pengarah : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota
Ketua : Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
Pemerintah Desa Kabupaten dan Kota
Wakil Ketua/Sekretaris : Pejabat Eselon III Dinas Kesehatan
dan Pemerintah Desa Kabupaten dan Kota
Anggota: Pejabat Eselon III dan IV Dinas/Instansi terkait.
5. Menyelenggarakan pelatihan pengembangan Desa dan Kelurahan
Siaga Aktif bagi aparatur desa dan kelurahan, KPM dan lembaga
kemasyarakatan serta pihak-pihak lain.
6. Memberikan bantuan pembiayaan dari APBD Kabupaten/Kota dan
sumber daya lain untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif.
7. Menyelenggarakan Sistem Informasi Desa Siaga yang terintegrasi
dalam profil Desa Desa dan Kelurahan lingkup kabupaten/kota,

61

melalui penetapan langkah dan mekanisme penyelenggaraan secara


berjenjang

dari

Desa/Kelurahan-Kecamatan-Kabupaten/Kota-

Provinsi dan Pemerintah Pusat.


8. Memfasilitasi kecamatan dan desa untuk ikut bertanggung jawab
dalam pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
9. Melaksanakan hal-hal lain yang dianggap perlu sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Promosi Kesehatan
dan pengelola program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif serta hasil
observasi dokumen, peran Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir masih
belum maksimal. Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir belum
menetapkan kebijakan koordinatif dengan BPMPD, namun telah
membentuk Forum Pokjanal tingkat Kabupaten dan Kota. Pelatihan
KPM masih sebatas sosialisasi dengan kader kesehatan serta belum
adanya Sistem Informasi Desa Siaga yang terintegrasi dalam profil
Desa dan Kelurahan lingkup kabupaten/kota.
4.2.6 Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dapat dilakukan oleh pihak-pihak antara lain
masyarakat,pemerintah, fasilitator, dan pengawasan independen dari
berbagai pihak. Masih belum tersebarluaskannya informasi tentang
Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif berdampak pada rendahnya
partisipasi masyarakat untuk mendukung dan mengawasi pelaksanaan
program ini. Pengawasan oleh pemerintah dan pihak lain juga masih

62

kurang serta peran serta pihak lain yang belum ada. Pemantauan oleh
Fasilitator dalam hal ini adalah pengelola program Desa Siaga Aktif
sudah ada, yaitu dilakukan dengan pemantauan per triwulan yang
bersumber dari data laporan setiap puskesmas.
Berdasarkan

pedoman

pengembangan

Program

Desa

dan

Kelurahan Siaga Aktif evaluasi dilakukan secara tahunan, tengah


periode yaitu tahun 2012 dan pada akhir periode yaitu tahun 2014. Hasil
wawancara dengan pengelola program evaluasi yang telah dilakukan
yaitu evaluasi tahunan melalui kegiatan perlombaan desa, sedangkan
evaluasi pertengahan dan akhir periode belum terlaksana.
4.3 Komponen Output Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga
Aktif
Komponen Output sesuai dengan input yang ada dan proses yang telah
dilakukan yaitu dalam bentuk persentase ketercapaian Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif. Target ketercapaian Desa Siaga Aktif menurut
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota yaitu 80%
Desa Siaga Aktif pada tahun 2015.
Komponen output inilah yang seharusnya menjadi saran serta masukan
untuk menyusun kebijakan praktis yang terkait dengan program ini. Hasil
output ini dapat menjadi bahan utama proses perencanaan.

63

Jumlah Desa

Grafik 4.1
Jumlah Desa Siaga dan Desa Siaga Aktif di Kabupaten Ogan Ilir
250
200
150
100
50
0
2011

2012
Tahun

2013

Desa Siaga
Desa Siaga Aktif

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

Berdasarkan grafik di atas, pada tahun 2011 dari total 241 desa di
Kabupaten Ogan Ilir jumlah Desa Siaga 191 desa dan jumlah Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif 152 desa. Pada tahun 2012 dari total 241 desa di
Kabupaten Ogan Ilir jumlah Desa Siaga 191 desa dan jumlah Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif 175 desa. Sedangkan tahun 2013 dari total 241 desa di
Kabupaten Ogan Ilir jumlah Desa Siaga 241 desa dan jumlah Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif 184 desa.
Jumlah Desa Siaga terus bertambah setiap tahunnya karena diiringi dengan
pertambahan jumlah Poskesdes, karena kriteria suatu desa termasuk desa siaga
yaitu telah memiliki Poskesdes. Jumlah desa siaga aktif juga terus bertambah
seiring dengan promosi dan sosialisasi yang dilakukan dengan memperhatikan
delapan kriteria desa dan kelurahan siaga aktif.

64

Tabel 4.4
Jumlah Desa Siaga Aktif di Kabupaten Ogan Ilir
No.

Puskesmas

1.
Indralaya
2.
Talang Aur
3.
Simpang Timbangan
4.
Palemraya
5.
Payakabung
6.
KTM Rambutan
7.
Tebing Gerinting
8.
Tanjung Raja
9.
Kerinjing
10. Sungai Pinang
11. Rantau Panjang
12. Lebung Bandung
13. Mekar Sari
14. Kandis
15. Tanjung Batu
16. Sri Tanjung
17. Payaraman
18. Pemulutan
19. Pegayut
20. Talang Pangeran
21. Sungai Lebung
22. Sungai Keli
23. Muara Kuang
24. Betung
25. Tambang Rambang
Jumlah
%

Jumlah Desa Siaga Aktif


2011

2012

2013

12
3
3
2
3
2
10
5
5
10
7
1
2
12
12
9
13
5
5
3
0
14
1
13
152
63,07 %

13

12
3
3
2
3
2
10
5
5
10
7
1
2
12
12
9
13
5
5
3
0
0
14
1
13
184
76,34 %

12

8
11
6
11
12
10
18
11
10
9
15
12
6
11
175
72,61 %

Sumber: Profil Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2014

Dari tabel cakupan Desa Siaga pada setiap Puskesmas tahun 2011 dan
2013, dan cakupan setiap kecamatan pada tahun 2012, dapat diketahui bahwa
pada tahun 2011 ada 152 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif atau 63,07 % Desa
di Kabupaten Ogan Ilir telah menjadi Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. Tahun
2012 ada 175 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif atau 72,61 % Desa di

65

Kabupaten Ogan Ilir telah menjadi Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Sedangkan tahun 2013 ada 184 Desa dan Kelurahan Siaga Aktif atau 76,34 %
Desa di Kabupaten Ogan Ilir telah menjadi Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Untuk data tahun 2014 sedang dalam proses perekapan di Seksi Promosi
Kesehatan saat laporan ini ditulis.
Persentase cakupan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif pada tahun
2011,2012, dan 2013 sesuai data di atas masih belum mencapai target SPM
yaitu cakupan 80 % pada tahun 2015.

4.4 Komponen outcome pelaksanaan program Desa dan Kelurahan Siaga


Aktif
Ketercapaian target cakupan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif merupakan
misi pada lingkup terkecil yang merupakan ujung tombak tercapainya Visi
Indonesia Sehat 2005-2025 dan Millenium Development Goals 2015.
Tercapainya Indonesia sehat dan target MDGs tahun 2015 sebagian besar
ditentukan oleh tercapainya target pada tingkat desa dan kelurahan. Oleh sebab
itu dapat dikatakan bahwa pencapaian Indonesia Sehat dan target indikator
MDGs sangat ditentukan oleh keberhasilan pengembangan dan pembinaan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Outcome dari output cakupan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di
Kabupaten Ogan Ilir tergambarkan pada data Profil Kesehatan Kabupaten
Ogan Ilir yang menunjukkan angka kematian neonatal sebesar 3,5 per 1000
kelahiran hidup, angka kematian bayi sebesar 4,5 per 1000 kelahiran, angka

66

kematian bayi 1,18 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu sebesar
11 orang per 9457 kelahiran hidup. Pada penyakit berbasis lingkungan angka
notifikasi kasus TB paru BTA+ 100,7 per 100.000 penduduk, angka notifikasi
seluruh kasus TB yaitu 144,4 per 100.000 penduduk. Cakupan penemuan dan
penanganan penyakit diare adalah 91% dengan target SPM 100%,penemuan
kasus baru kusta adalah 0,25 per 100.000 penduduk, penanganan penderita
AFP 10,20 per 100.000 penduduk <15 tahun, angka kesakitan DBD pada tahun
2013 118 kasus per 100.000 penduduk, angka kesakitan malaria 19 kasus pada
tahun 2013.

67

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Persentase cakupan Desa Siaga Aktif di Kabupaten Ogan Ilir terus
meningkat dengan tidak terlalu tajam setiap tahunnya, 2011 (63,07%),
2012 (72,61%), 2013 (76,34%). Persentase tersebut belum mencapai
target SPM 80% pada tahun 2015. Perlu adanya evaluasi pada unsur
masukan, proses, dan keluaran untuk mengetahui kendala dan
memberikan solusi dengan melibatkan unsur masyarakat dan sektor
terkait.
2. Perencanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Kabupaten
Ogan Ilir melalui unsur masukan telah dipersiapkan melalui Keputusan
Bupati Ogan Ilir yang menunjukkan keseriusan Kabupaten Ogan Ilir
dalam pelaksanaan program ini. Kondisi sumber daya manusia sudah
mendukung baik di tataran Dinas Kesehatan Kabupaten maupun
Puskesmas, namun di tataran desa jumlah bidan desa siaga hanya 23 dari
241 desa di Kabupaten Ogan Ilir, serta jumlah kader kesehatan telah
tercukupi. Jumlah Poskesdes belum 199 dari 241 desa, yang seharusnya
setiap desa mempunyai Poskesdes dan Bidan Desa Siaga. Sumber dana
untuk pelaksanaan program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif belum
dikhususkan, dan belum ada koordinasi mengenai dana dengan leading
sector

yaitu

BPMPD

(Badan

Pemberdayaan

Masyarakat

dan

68

Pemerintahan Desa), serta belum siapnya desa menjadi swakelola dalam


hal dana.
3. Pengorganisasian khususnya pada sumber dana dan persebaran SDM
belum merata. Upaya perekrutan Kader Pemberdayaan Masyarakat
(KPM) belum ada alur yang jelas dan masih disamakan dengan kader
kesehatan.
4. Pelaksanaan Program Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Kabupaten
Ogan Ilir telah dimulai dengan pelaksanaan Lomba Desa Sehat yang
kemudian desa tersebut menjadi percontohan untuk desa lainnya. Metode
ini kemudian diterapkan untuk seluruh kecamatan, disiapakan satu desa
untuk setiap kecamatan yang diberi intervensi khusus agar dapat menjadi
teladan bagi desa lainnya.
5. Belum tercapainya target SPM tersebut disebabkan masih rendahnya
koordinasi antar sektor terkait serta kebijakan yang hanya disadur
langsung dari pusat tanpa penyesuaian dengan kondisi daerah sehingga
terkesan top-down akibat rendahnya koordinasi vertikal dari pusat hingga
ke desa. Desa yang dicanangkan menjadi Desa Siaga Aktif tidak secara
utuh mandiri sehingga masih perlu pengarahan dan pengawasan lebih dari
sektor terkait. Proses pengawasan pelaksanaan Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif masih belum optimal, sebab pengawasan sebatas
laporan tri wulan dan rekap tahunan, sedangkan pengawasan pada
pertengahan dan akhir periode belum berjalan serta belum oprimalnya
pengawasan langsung baik ke puskesmas maupun langsung ke desa.

69

5.2 Saran
5.2.1 Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
1. Disarankan untuk melakukan pengelolaan dana yang tepat sesuai
dengan urutan prioritas masalah khususnya di Seksi Promosi
Kesehatan sehingga kegiatan yang urgent dapat segera ditangani.
2. Disarankan untuk melakukan sosialisasi Program Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif kepada pihak Puskesmas secara berkala dan
dilakukan pemantauan terus menerus.
3. Disarankan untuk benar-benar memperhatikan delapan kriteria Desa
Siaga Aktif untuk menentukan tahap desa saat itu.
4. Kegiatan lomba Desa Aktif sebaiknya dilakukan secara rutin dengan
memperhatikan delapan kriteria yang ada, tidak hanya terfokus pada
PHBS.
5. Kerja sama dengan sektor terkait, yang paling utama dengan leading
sektoral untuk menjalin upaya bersama agar target cakupan 80%
dapat tercapai.
6. Desa percontohan menjadi fokus perhatian tanpa melepaskan
pengawasan pada desa lainnya.
7. Penambahan jumlah Bidan Desa Siaga minimal 1 bidan setiap
desanya serta penambahan jumlah Poskesdes sesuai jumlah desa di
Kabupaten Ogan Ilir.

70

5.2.2 Puskesmas di Kabupaten Ogan Ilir


1. Disarankan untuk memberikan sosialisasi kepada bidan desa dan
kader mengenai program ini dan memberikan pengetahuan akan
pentingnya desa yang mandiri khususnya pada aspek kesehatan.
2. Disarankan untuk aktif turun ke desa melakukan pengawasan,
pemantauan dan evaluasi serta menjadi penyumbang saran akan
kendala yang dialami tenaga kesehatan di desa.
3. Adanya usulan tambahan UKBM sesuai dengan kondisi desa akan
membantu masyarakat desa mengetahui potensi desanya.

5.2.3 Poskesdes (Pos Kesehatan Desa)


1. Melaksanakan delapan kriteria desa Siaga Aktif bersama-sama antar
warga desa dan berupaya untuk mencapainya.
2. Mengkonsultasikan kendala yang dialami dalam pelaksanaan
program ini kepada puskesmas dan Dinas Kesehatan.
3. Bekerja sama dengan perangkat desa untuk melakukan tindakan
terintegrasi yang melibatkan peran aktif masyarakat.
4. Secara kreatif menyusun UKBM terbaru sesuai dengan kondisi desa
dengan tujuan mengetahui kegiatan unggulan desa dalam Program
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
5.2.4 Sektor terkait lainnya
1. Disarankan untuk saling bekerja sama dan mengadakan rapat
koordinasi secara rutin.

71

2. Mensosialisasikan program ini kepada kepala daerah sebagai


pemangku kebijakan di tingkatnya untuk memotivasi masyarakat
agar ikut serta secara aktif mewujudkan Desa Siaga Aktif.
3. Hendaknya mengadakan evaluasi setiap tahunnya, serta memberikan
langkah

konkrit

sesuai

potensi

desa

untuk

meningkatkan

kemandirian desa dalam melaksanakan kriteria Desa Siaga Aktif.

72

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Mariyah M. 2014. Laporan PKM Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir
Seksi Promosi Kesehatan. FKM Unsri.
Alamsyah D. 2011. Manajemen Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika
Alia. 2014. Laporan PKM Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Seksi Promosi
Kesehatan. FKM Unsri.
Ayuningtyas D dan Asri J. Analisis Kesiapan Pos Kesehatan Desa Dalam
Pengembangan Desa Siaga Di Kabupaten Kepulauan Mentawai
Provinsi Sumatera Barat Tahun 2008. Jurnal manajemen pelayanan
kesehatan. 2008; 11(3):130-6.
Bupati Ogan Ilir. Keputusan Bupati Ogan Ilir Nomor 112/KEP/KES/2011 Tentang
Pembentukan Forum Koordinasi Pembinaan Desa Siaga Kabupaten
Ogan Ilir Tahun 2011. 2011.
Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir. 2014. Profil Kesehatan Tahun 2104
Lembar Situasi Kesehatan Tahun Kerja 2013. Indralaya.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya.2015. Buku Pedoman
Praktikum Kesehatan Masyarakat. Palembang: Unsri Press.
Hartono, Bambang. 2011. Promosi Kesehatan Sejarah dan Perkembangannya di
Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Hill PS, Goeman Lieve, Sofiarini R, Djara MM. 2013. Desa Siaga the Alert
Village: the evoluation of an iconic brand in Indonesian Public Health
Strategies. Health Policy and Planning Advice Access. 2013;1-12.
Kementerian Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 564/Menkes/SK/VIII/2006 Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengembangan Desa Siaga. 2006.
.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


828/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota. 2008.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


741/Menkes/Per/VII/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang
Kesehatan di Kabupaten/Kota. 2008.

73

. Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).


2008.
. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1529/Menkes/SK/X/2010 Tentang Pedoman Umum Pengembangan
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif. 2010.
. Petunjuk Teknis Penghitungan Biaya Pengembangan Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif. 2010.
. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun
2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan dan Pembinaan Pemberdayaan
Masyarakat Bidang Kesehatan. 2013.
Kementerian Dalam Negeri. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 140/1508/SJ Tentang Pedoman Pelaksanaan
Pembentukan Kelompok Kerja Operasional dan Forum Desa dan
Kelurahan Siaga Aktif. 2011.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Keputusan Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka Nomor 154 Tahun 2011 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan
Satuan Karya Pramuka Bakti Husada.2011.
Kusuma, Reni M. Analisis Kebijakan Desa Siaga di Kabupaten Sleman
Yogyakarta. Jurnal kebijakan kesehatan Indonesia. 2013; 02(03):126133.
Misnaniarti, Ainy A, Fajar NA. Kajian Pengembangan Desa Siaga di Kabupaten
Ogan Ilir. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 2011;14(02):78-83.
Musa H, Razak A, Nyorong M. Siklus Pemecahan Masalah Dalam Implementasi
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Kota Tidore Kepulauan. Jurnal
AKK. 2013; 02(03):8-14.
Nawalah H, Qomaruddin MB, Hargono R. Desa Siaga:Upaya Pemberdayaan
Masyarakat di Bidang Kesehatan Melalui Peran Bidan di Desa. The
Indonesian Journal of Public Health. 2012; 08(03):91-8.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Presiden Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia No 24 Tahun
2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. 2011.

74

. Undang-Undang Republik Indonesia No 36 Tahun 2009 Tentang


Kesehatan. 2009.
. Undang-Undang Republik Indonesia No 17 Tahun 2007 Tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 20052025.2007.
Sari, E. 2014. Evaluasi Pelaksanaan Fungsi Manajemen Program Desa Siaga
oleh Bidan Desa di Kabupaten Bengkulu Selatan. Tesis.
Sariana. 2014. Laporan PKM Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir Seksi Bina
Gizi Masyarakat. FKM Unsri.
Terry GR, Leslie W R. 2013. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
Wulandari, RS. 2013. Evaluasi Program Desa Siaga di Desa Kemuning Lor
Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember Tahun 2012. Skripsi. 2013; viiviii.
Yunita. 2005. Laporan PKM Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Seksi
Promosi Kesehatan. FKM Unsri.

75

Anda mungkin juga menyukai