Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

Menentukan ED50 ( Effect Dose) Diazepam pada Tikus

KELOMPOK A1
Jati Nurwigati

(201310330311005)

Atika Rahmania Lilo

(201310330311006)

Tiara Juli Audiawiyanti Putri

(201310330311007)

Hiolda Lubvianda Oktavin

(201310330311015)

Hendrian Novantiano

(201310330311026)

Yulanda Fitriana

(201310330311046)

Karina Puspaseruni

(201310330311048)

Alfien Rusdiana

(201310330311053)

Prajnamita Manindhya

(201310330311084)

Cindy Alverina

(201310330311103)

Cha Cha Astrid Ghesa

(201310330311111)

Windy Kirtanti

(201310330311126)

Dwi Wilyani

(201310330311146)

Elok Yulia Manthofani

(201310330311172)

Tesa Yovi Pratama

(201310330311173)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2013

TUJUAN
1.

Mengamati perubahan aktivitas perilaku setelah pemberian diazepam secara

2.

intraperitonial
Menentukan ED50 (dosis yang memberi efek tidur) diazepam

DASAR TEORI
ED50 (effective Dose 50) adalah dosis yang menimbukkan efek terapi pada
50% individu. Pemberian Diazepam secara interperitoneal digunakan untuk
menentukan ED50 yaitu dosis yang memberikan efek tidur pada 50% individu atau
separuh dari jumlah individu yang diamati. Benzodiazepine meningkatkan kerja
GABA di system syaraf pusat. Diazepam bekerja disemua sinaps GABA a, tetapi
kerjanya dalam mengurangi spastisitas sebagai mediasi di medulla spinalis.
Karena itu Diazepam dapat juga digunakan pada spasme otot yang asalnya dari
mana saja, termasuk trauma otot lokal. Tetapi, obat ini menyebabkan sedasi pada
dosis yang diperlukan untuk mengurangi tonus otot.
ED50 merupakan dosis yang menghasilkan setengah efek maksimal, dan
respon maksimum terjadi pada dosis di mana kita menganggap reseptor terisi.
Diazepam merupakan obat dari golongan benzodiazepine. Golongan obat
ini bekerja pada sistem syaraf pusat dengan efek utama : sedasi, hypnosis,
pengurangan

terhadap

rangsangan

emosi/ansietas,

relaksasi

otot

dan

antikonvulasi. Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang


disertai nistagmus dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Juga tidak
menimbulkan potensial terhadap efek penghambat neuromuskuler dan efek
analgesic obat narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan sedasi basal
pada anestesi regional, endoskopi dan prosedur dental, juga untuk induksi
anastesia terutama pada penderita dengan penyakit kardiovaskuler.
Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine dengan rumus molekul 7kloro- 1,3-dihidro- 1-metil- 5-fenil- 2H- 1,4-benzodiazepin- 2-on. Mekanisme
kerjanya yaitu bekerja pada sistem GABA, yaitu dengan memperkuat fungsi
hambatan neuron GABA. Reseptor Benzodiazepin dalam seluruh sistem saraf

pusat, terdapat dengan kerapatan yang tinggi terutama dalam korteks otak frontal
dan oksipital, di hipokampus dan dalam otak kecil. Pada reseptor ini,
benzodiazepin akan bekerja sebagai agonis. Terdapat korelasi tinggi antara
aktivitas farmakologi berbagai benzodiazepin dengan afinitasnya pada tempat
ikatan. Dengan adanya interaksi benzodiazepin, afinitas GABA terhadap
reseptornya akan meningkat, dan dengan ini kerja GABA akan meningkat.
Dengan aktifnya reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka sehingga ion
klorida akan lebih banyak yang mengalir masuk ke dalam sel. Meningkatnya
jumlah ion klorida menyebabkan hiperpolarisasi sel bersangkutan dan sebagai
akibatnya, kemampuan sel untuk dirangsang berkurang (Laurent, 2005; Sean,
2007; Barbara, 2006).
Teori occupancy sederhana menyatakan bahwa intensitas respon obat
adalah sebanding dengan jumlah reseptor diduduki oleh obat itu. Sederhananya,
semakin banyak obat berikatan dengan reseptor yang lebih intens responnya. Teori
occupancy menjelaskan bahwa intensitas efek farmakologi berbanding lurus
dengan total jumlah reseptor diduduki oleh obat. Efek obat menjadi lebih intens
karena jumlah reseptor diduduki meningkat. karenanya, respon farmakologis
maksimal sesuai dengan pendudukan semua reseptor (Cannon, 2007).
Dosis dimulai dengan 4mg/hari yang dapat ditingkatkan bertahap hingga
maksimum 60mg/hari. Benzodiazepine lain yang sering juga dipakai sebagai
pelemas otot adalah midazolam (Dikutip dari Farmakologi dan Terapi Universitas
Indonesia, Tahun 2007, hall 112)
Benzodiazepine yang tidak larut dalam air adalah Diazepam dan
Lorazepam, oleh karenanya obat-obat ini tidak diberikan secara intra vena pada
pasien, karena dapat menyebabkan tidur, mengurangi cemas, dan menimbulkan
amnesia anterograd, tetapi tidak berefek analgesic.
Diazepam yang diberikan secara intra vena segera didistribusikan ke otak,
tetapi efeknya baru Nampak setelah beberapa menit. Kadarnya segera turun
karena adanya redistribusi tetapi sedasi sering muncul lagi setelah 6-8 jam
akibatnya adanya penyerapan ulang Diazepam yang dibuang melalui empedu.

Masa paruh Diazepam memanjang dengan meningkatnya usia, kira-kira 20 jam


pada usia 20 tahun, dan kira-kira 90 jam pada usia 80 tahun. Klirens plasma
hampir konstan (20-30 mL/menit), karena itu pemberian Diazepam dalam waktu
lama tidak memerlukan koreksi dosis. (Farmakologi dan Terapi Universitas
Indonesia, 2007, hal 134-135)

Alat dan Bahan :

Kapas
Kain
Spuit
Kasa
Klem
Kandang
Tikus 3 ekor
Alkohol
Diazepam (dosis 1 mg/kgBB, 2,5 mg/kgBB, 5 mg/kgBB)

Prosedur Kerja :
1.
2.

3.

Bersihkan permukaan abdomen tikus dengan alkohol.


Suntikkan pada masing-masing tikus
a. Tikus I
: Diazepam dengan dosis 5 mg/kgBB
b. Tikus II : Diazepam dengan dosis 2,5 mg/kgBB
c. Tikus III : Diazepam dengan dosis 5 mg/kgBB
Amati perubahan perilaku tikus (seperti yang tertera pada lembar
pengamatan, lakukan dengan seksama)

Menit
5
10
15
30

No.
Ekperimen
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

Postur
Tubuh
+
++
+
++
+
++
++
++
++
++

Aktivitas
Motor
+
+
++
+
+
++
+
+
+++
++
+
++++

Ataksia
++
++
+
++
++
+++

Righting
Reflex
+
+
+
+
++

Test
Kasa
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
++

Analgesia

Ptosis

+
+
+
+

+
+
+
++
+
+
+
++

60

1
2
3

++
++
+++

++
++
++++

++
+++

+
+++

+
+++

++

Keterangan :
1. Postur Tubuh :
+
= jaga
= kepala dan punggung tegak
++
= ngantuk
= Kepala tegak punggung mulai datar
+++
= tidur = Kepala dan punggung datar
2. Aktifitas Motor
+
= gerak spontan
++
= gerak spontan bila dipeggang
+++
= gerak menurun saat dipegang
++++
= tidak ada gerak spontan
3. Ataksia = Gerakan berjalan inkoordinasi
+
= inkoordinasi terlihat kadang-kadang
++
= inkoordinasi terlihat jelas
+++
= tidak dapat berjalan lurus
4. Righting Reflex
+
= diam pada satu posisi miring
++
= diam pada dua posisi miring
+++
= diam saat terlentang
5. Tes Kasa
+
= tidak jatuh apabila kasa dibalik dan digoyang
++
= jatuh apabila kasa dibalik
+++
= jatuh apabila posisi kasa 90
++++
= jatuh apabila posisi kasa 45
6. Analgesia
+
= respon berkurang ketika telapak kaki dijepit
++
= tidak ada respon saat telapak kaki dijepit
7. Ptosis
+
= ptosis <
++
=
+++
= seluruh palpebra tertutup

Hasil Pengamatan
1. Tentukan onset of action (mula kerja) dari perubahan perilaku seperti biasa
2. Penentuan ED50 (dosis efektif) tidur dari seluruh kelas (6 kelompok)
Respon tidur (+/-) pada tikus no.
Dosis

1 mg

%
indikasi

yg

berespon
33,3%

+
++
+++

2,5 mg
7,5 mg

+
+

+
+

+
-

+
+

66,6%
83,3%

3. Tentukan ED50 dengan menggunakan persamaan y = ax+b (menggunakan


kalkulator)
Y =ax+b

Jadi, dosis yang dibutuhkan untuk mencapai ED50 adalah pada 1,75mg

PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil praktikum, dapat diketahui
bahwa % indikasi yang merespon pada tikus yang diberi dosis 1 mg/kgBB (I)
adalah 33,3 %; pada dosis 2,5 mg/kgBB (II) adalah 66,6 %; pada dosis 5
mg/kgBB (III) adalah 83,3 %. Pada dosis (I) belum mencapai ED50; pada dosis (II)
dan (III) sudah melewati ED50. ED50 (effective Dose 50) adalah dosis yang
menimbukkan efek terapi pada 50% jumlah populasi. Dari ketiga data diatas,
dapat dihitung ED50 Diazepam menggunakan persamaan y = ax + b, dan didapat
dosis yang dibutuhkan untuk mencapai ED50 adalah 1,75 mg. Dengan
menggunakan dosis 1,75 mg/kgBB, sudah dapat digunakan untuk memberi efek
pada 50 % atau setengah dari jumlah populasi yang ada. Berdasar literatur,
Diazepam menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus
dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesic. Jadi, untuk dapat membuat 50%
dari jumlah total populasi tikus tidur dibutuhkan dosis sebesar 1,75 mg/kgBB.
Berdasarkan literatur, teori occupancy menyatakan bahwa intensitas efek
farmakologi berbanding lurus dengan total jumlah reseptor diduduki oleh obat.
Efek obat menjadi lebih intens karena jumlah reseptor diduduki meningkat.
karenanya, respon farmakologis maksimal sesuai dengan pendudukan semua
reseptor. Sedangkan berdasarkan hasil praktikum dan dihubungkan dengan teori
diatas, dapat diketahui bahwa jumlah reseptor yang diduduki obat (occupancy)
dengan pemberian dosis (III) merupakan yang paling banyak diantara pemberian
dosis yang lain [(I) dan (II)].
Obat Diazepam dapat bekerja di dalam tubuh karena adanya mekanisme
kerja seperti ini :
1.

Reseptor Benzodiazepin dalam seluruh sistem saraf pusat, terdapat dengan


kerapatan yang tinggi terutama dalam korteks otak frontal dan oksipital, di
hipokampus dan dalam otak kecil

2.

Pada reseptor ini, benzodiazepin akan bekerja sebagai agonis.

3.

Terdapat korelasi tinggi antara aktivitas farmakologi berbagai benzodiazepin


dengan afinitasnya pada tempat ikatan.

4.

Dengan adanya interaksi benzodiazepin, afinitas GABA terhadap reseptornya


akan meningkat, dan dengan ini kerja GABA akan meningkat.

5.

Dengan aktifnya reseptor GABA, saluran ion klorida akan terbuka sehingga
ion klorida akan lebih banyak yang mengalir masuk ke dalam sel.

6.

Meningkatnya

jumlah

ion

klorida

menyebabkan

hiperpolarisasi

sel

bersangkutan dan sebagai akibatnya, kemampuan sel untuk dirangsang akan


berkurang.
Sehingga efek yang ditimbulkan oleh Diazepam terhadap tubuh yaitu tidur.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
ada beberapa perubahan aktivitas yang dilakukan oleh tikus setelah pemberian
Diazepam, antara lain tidur, tidak ada gerakan spontan, tidak dapat berjalan lurus,
diam saat terlentang, jatuh bila posisi kasa 45 o, tidak ada respon saat kaki dijepit,
dan seluruh palpebra tertutup. Pada praktikum kali ini didapatkan ED50 Diazepam
yang dicapai pada dosis 1,75mg.

DAFTAR PUSTAKA
Barbara G. Wells, et.all. 2006. Pharmacotherapy Handbook 6th Edition
(Electronic Version). New York : Mc Graw-Hill Book Company.
Cannon, Joseph G. 2007. Pharmacology for Chemists 2nd Ed. New York : Oxford
University Press.
Laurent C. Galichet. 2005. Clarkes Analysis of Drugs and Poisons 3rd Edition
(Electronic Version). London : Pharmaceutical Press.
Sean C. Sweetman, et.all. 2007. Martindale : The Complete Drugs Reference 35th
Edition (Electronic Version). London : Pharmaceutical Press.
Syarif, Amir. 2007. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI