Anda di halaman 1dari 4

Tugas Ilmu Kesehatan Anak RSUD Tarakan

Lili Andriani
112014124
1. Indikasi pemberian Packed Red Blood Cells (PRC). Komponen ini mengandung sel
darah merah ,sel darah putih,trombosit karena sebagian plasma telah dihilangkan
(80%). Hindari menggunakan komponen ini untuk anemia yang mendapat terapi
nutrisi dan obat. Indikasi pemberian PRC adalah
Pasien dengan kadar Hb rendah
Pasien anemia karena kehilangan darah saat pembedahan.
secara garis besar Indikasi Transfusi Darah adalah:

Untuk mengembalikan dan mempertahankan suatu volume peredaran darah


yang normal, misalnya pada anemia karena perdarahan, trauma bedah, atau

luka bakar luas.


Untuk mengganti kekurangan komponen seluler atau kimia darah, misalnya
pada anemia, trombositopenia, hipoprotrombinemia, hipofibrinogenemia, dan

lain-lain.
Keadaan Anemia yang Memerlukan Transfusi Darah:Anemia karena

perdarahan Biasanya digunakan batas Hb 7 8 g/dL.


Bila Hb telah turun hingga 4,5 g/dL, maka penderita tersebut telah sampai
kepada fase yang membahayakan dan transfusi harus dilakukan secara hati-

hati.
Anemia hemolitik Biasanya kadar Hb dipertahankan hingga penderita dapat
mengatasinya sendiri. Umumnya digunakan patokan 5 g/dL. Hal ini
dipertimbangkan untuk menghindari terlalu seringnya transfusi darah

dilakukan.
Anemia aplastik
Leukemia dan anemia refrakter
Anemia karena sepsis
Anemia pada orang yang akan menjalani operasi

2. Cara dan dosis pemberian PRC


Eritrosit adalah komponen darah yang paling sering ditransfusikan. Eritrosit
diberikan untuk meningkatkan kapasitas oksigen dan mempertahankan oksigenasi
jaringan.
1 Transfusi sel darah merah merupakan komponen pilihan untuk mengobati
anemia dengan tujuan utama adalah memperbaiki oksigenisasi jaringan.
2 Pada anemia akut, penurunan nilai Hb dibawah 6 g/dl atau kehilangan darah
dengan cepat >30% - 40% volume darah, maka umumnya pengobatan terbaik adalah
dengan transfusi sel darah merah(SDM).2,3 Pada anemia kronik seperti thalassemia
atau anemia sel sabit, transfusi SDM dimaksudkan untuk mencegah komplikasi akut
maupun kronik. SDM juga diindikasikan pada anemia kronik yang tidak responsive
terhadap obat- obatan farmakologik.
3 Transfusi SDM pra- bedah perlu dipertimbangkan pada pasien yang akan
menjalani pembedahan segera (darurat), bila kadar Hb < st="on">Ada juga yang
menyebutkan, jika kadar Hb <10gr/dl,>3 Transfusi tukar merupakan jenis transfusi
darah yang secara khusus dilakukan pada neonatus, dapat dilakukan dengan darah
lengkap segar, dapat pula dengan sel darah merah pekat(SDMP) / mampat(SDMM).
Transfusi tukar ini diindikasikan terutama pada neonatus dengan ABO
incompatibility atau hiperbilirubinemia yang tidak memberikan respon adekuat
dengan terapi sinar.
Untuk neonatus, tidak ada indikasi transfusi eritrosit yang jelas disepakati,
biasanya, pada neonatus eritrosit diberikan untuk mempertahankan Hb, berdasarkan
status klinisnya
Pilihan produk eritrosit untuk anak dan remaja adalah suspensi standar eritrosit
yang dipisahkan dari darah lengkap dengan pemusingan dan disimpan dalam
antikoagulan/medium pengawet pada nilai hematokrit kira-kira 60%.
Dosis biasa adalah 10 15 ml/Kg, tetapi volume transfusi sangat bervariasi,
tergantung pada keadaan klinis (misalnya perdarahan terus menerus atau hemolisis).

Untuk neonatus, produk pilihan adalah konsentrat PRC (Ht 70 90%) yang
diinfuskan perlahan-lahan (2 4 jam) dengan dosis kira-kira 15 ml/KgBB.1 Text Box:
Kebutuhan darah (ml) = BB (Kg)x 6 x (Hb diinginkan Hb tercatat)Di bagian Ilmu
Kesehatan Anak FKUI-RSCM Jakarta, dosis transfusi didasarkan atas makin anemis
seorang resipien, makin sedikit jumlah darah yang diberikan per et mal dalam suatu
seri transfusi darah dan makin lambat pula jumlah tetesan yang diberikan, untuk
menghindari komplikasi gagal jantung. Di bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM
Jakarta, dosis yang dipergunakan untuk menaikkan Hb adalah dengan menggunakan
modifikasi rumus empiris sebagai berikut:2,3,5 Bila yang digunakan sel darah merah
pekat (packed red cells), maka kebutuhannya adalah 2/3 dari darah lengkap, menjadi:
2,3 BB (kg) x 4 x (Hb diinginkan - Hb tercatat) Untuk anemia yang bukan karena
perdarahan, maka teknis pemberiannya adalah dengan tetesan. Makin rendah Hb awal
makin lambat tetesannya dan makin sedikit volume sel darah merah yang diberikan.
Jika menggunakan packed red cells untuk anemia.

3. Komplikasi tranfusi
a. Alergi disebabkan karena alergen didalam darah yang didonorkan ,darah
hypersensitif terhadap obat tertentu .
b. Anafilaksis disebabkan pemberian protein IgA keresepien penderita defisiensi
IgA yang telah membentuk antibodi IgA
c. Sepsis disebabkan komponendarah yang terkontamonasi oleh bakteri atau
endotoksin.
d. Urtikaria disebabkan oleh alergi terhadap produk yang dapat larut dalam
plasma donor.
e. Kelebihan sirkulasi disebabkan oleh komponen darah yang berlebihan atau
diberkan terlalu cepat.
f. Hiperkalemia disebabkan oleh penyimpanan darah yang lama sehingga
melepaskan kaliom oleh plasma sel.
g. Hipotermi disebabkan oleh pemberian komponen darah yang dingin dengan
cepat atau bila darah dingin diberikan melalui kateter vena sentral.
4. Anemia gravis. Anemia adalah berkurangnya kadar Hb dalam darah sehingga terjadi
gangguan perfusi O2 ke jaringan tubuh. Disebut Anemia gravis yang artinya berat dan
nilai Hb di bawah 7 g/dl sehingga memerlukan tambahan umumnya melalui transfusi.

Anemia adalah berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas
hemoglobin dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price,
2006 : 256). B. Etiologi Penyebab tersering dari anemia adalah kekurangan zat gizi
yang diperlukan untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat.
Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan
genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
Daftar Pustaka
1. Strauss RG, Transfusi Darah dan Komponen Darah, dalam Nelson Ilmu Kesehatan
Anak (Nelson Textbook of Pediatrics), 1996, Jakarta, EGC, volume 2, Edisi 15,
halaman: 1727-1732 2.
2. Djajadiman Gatot, Penatalaksanaan Transfusi Pada Anak dalam Updates in Pediatrics
Emergency, 2002, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, halaman: 28-41 3. Ramelan S, Gatot
D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan Kedokteran berkelanjutan
(Continuing Medical Education) Pediatrics Updates, 2005, Jakarta, IDAI cabang
Jakarta, halaman: 21-30
3. Ramelan S, Gatot D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan
Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics Updates, 2005,
Jakarta, IDAI cabang Jakarta
4. Djajadiman Gatot, Penatalaksanaan Transfusi Pada Anak dalam Updates in Pediatrics
Emergency, 2002, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, halaman: 28-41.

Anda mungkin juga menyukai