Anda di halaman 1dari 118

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1. Gambaran Umum Desa Pangkalan


1.1.1. Keadaan Umum Secara Geografis
Desa Pangkalan terletak 0,5 km dari pusat Pemerintahan Kecamatan Teluk
Naga dengan jarak 10 menit dan 50 km dari pusat kota pemerintahan Kabupaten
Tangerang, dengan jarak 2 jam. Luas wilayah Desa Pangkalan 798,975 Ha yang
terdiri dari lahan pertanian seluas 349,180 Ha dan lahan pemukiman seluas 449,795
Ha. Desa Pangkalan merupakan salah satu desa binaan dari Puskesmas Tegal Angus
(RPJM Desa Pangkalan, 2015).

Sumber: Profil Puskesmas Tegal Angus, 2014


Gambar 1.1 Peta Desa Pangkalan

Batas Wilayah
Batas batas wilayah Desa Pangkalan seperti yang terlihat pada gambar adalah
sebagai berikut (RPJM Desa Pangkalan, 2015):
1) Sebelah utara berbatasan dengan Desa Tanjung Pasir.
2) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Tegal Angus, Kampung Besar, Melayu
Barat.
3) Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kampung Melayu Barat.
4) Sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Burung.

Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015


Gambar 1.2 Peta Batas Wilayah Desa Pangkalan
1.1.2. Keadaan Umum Secara Demografi
1.1.2.1. Kependudukan
Jumlah penduduk Desa Pangkalan sampai akhir tahun 2010 terhitung
sebanyak 16.247 jiwa yang terdiri dari 8.361 jiwa penduduk laki-laki dan
7.886 jiwa penduduk perempuan (RPJM Desa Pangkalan, 2015).

1.1.2.2.

Kondisi Sosial Ekonomi


Lapangan pekerjaan penduduk di Desa Pangkalan cukup beragam. Mata
pencaharian penduduk didominasi oleh petani, buruh, dan pedagang. Namun
masih banyak penduduk yang tidak memiliki pekerjaan (RPJM Desa
Pangkalan, 2015).
Tabel 1.1
Lapangan Pekerjaan Penduduk Desa Pangkalan
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Mata Pencaharian
Jumlah
Buruh
597 orang
Nelayan
2 orang
Pedagang
452 orang
Pegawai Swasta
249 orang
Pengangguran
425 orang
Pengrajin
5 orang
Pensiunan ABRI
10 orang
Petani
698 orang
PNS
37 orang
TNI
2 orang
Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015

Tabel 1.2
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Desa Pangkalan (dalam KK/Jiwa)
Ekonomi Tinggi
Ekonomi Sedang
Ekonomi Rendah
15%
35%
50%
Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015

1.1.2.3.

Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat sangat berperan dalam membentuk sikap
dan perilaku masyarakat terhadap program kesehatan, sehingga pendidikan
sangat berperan dalam pembangunan kesehatan
(RPJM Desa Pangkalan, 2015).
Tabel 1.3
Sarana Pendidikan Desa Pangkalan
Sarana Pendidikan
Jumlah
TK (sederajat)
2 Unit
SD (sederajat)
6 Unit
SMP (sederajat)
2 Unit
SMA (sederajat)
1 Unit
Perguruan Tinggi
1 Unit
Lembaga Keterampilan (kursus)
1 Unit
Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015
Tingkat pendidikan di Desa Pangkalan masih tergolong rendah. Dari
16.247 jiwa penduduk Desa Pangkalan, hanya sedikit yang menyelesaikan
jenjang pendidikan sarjana (RPJM Desa Pangkalan, 2015).

Tabel 1.4
Tingkat Pendidikan di Desa Pangkalan
Tidak Tamat
SD
672

SD

SMP

SMA

Sarjana

1.820
879
231
15
Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015

1.1.2.4.

Sarana Kesehatan
Berikut adalah sarana kesehatan yang ada di Desa Pangkalan (RPJM Desa
Pangkalan, 2015):
Tabel 1.5
Sarana Kesehatan di Desa Pangkalan
Sarana Kesehatan
Jumlah
Apotek
1 Unit
Balai Pengobatan
2 Unit
Klinik Khitan
1 Unit
Poliklinik
3 Unit
Praktik Bidan
3 Unit
Praktik Dokter
2 Unit
Sumber: RPJM Desa Pangkalan, 2015

1.2 Puskesmas Tegal Angus


1.2.1 Visi dan Misi
Dalam Mendukung terwujudnya Visi Kabupaten Tangerang dan pembangunan
Pemerintah Tangerang dan khususnya Kecamatan Teluk Naga dalam bidang
kesehatan maka dirumuskannya Visi Pembangunan Kesehatan Puskesmas Tegal
Angus yaitu (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2014):
MENUJU PELAYANAN PRIMA
Untuk mewujudkan hal tersebut diatas, ditetapkan 4 Misi pembangunan kesehatan
sebagai berikut (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2014):
1) Menggerakkan pembangunan berwawasaan kesehatan di wilayah kerjanya.
2) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah
kerjanya.
3) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan
1.2.2

perorangan,

keluarga,

dan

masyarakat beserta lingkungannya.


Wilayah Kerja
Wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus berada di wilayah Kecamatan Teluk Naga
bagian utara yang terdiri dari enam desa binaan yaitu Desa Pangkalan, Tanjung
Burung, Tegal Angus, Tanjung Pasir, Muara, dan Lemo. (Profil Puskesmas Tegal
Angus, 2014).

Sumber : Profil Puskesmas Tegal Angus,2014


Gambar 1.3 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Angus Tahun 2014
1.2.3

Program Kerja
Program kerja dari Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2014 adalah sebagai berikut
(Profil Puskesmas Tegal Angus, 2014):
1) Upaya kesehatan wajib yaitu upaya promosi kesehatan, kesehatan lingkungan,
kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, perbaikan gizi masyarakat,
pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan.
2) Upaya kesehatan pengembangan yang ditetapkan puskesmas bersama dinas
kesehatan kabupaten sesuai dengan permasalahan, kebutuhan, dan kemampuan
Puskesmas Tegal Angus seperti lansia, napza, kesehatan remaja, dan
pengembangan gigi dan mulut.
3) Pelaksanaan manajemen puskesmas yang meliputi:
a) Proses penyusunan perencanaan, pelaksanaan lokakarya mini, dan
pelaksanaan penilaian kinerja.
b) Manajemen sumber daya termasuk manajemen alat, obat, keuangan, dan
lain lain.
4) Mutu pelayanan puskesmas yang meliputi: penilaian input pelayanan berdasarkan
standar yang ditetapkan, penilaian proses pelayanan kesehatan dengan menilai
tingkat kepatuhan terhadap standar pelayanan yang ditetapkan, penilaian output

pelayanan berdasarkan upaya kesehatan yang diselenggarakan, dan penilaian


outcome pelayanan antara lain pengukuran kepuasan pengguna jasa puskesmas.
1.2.4

Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan merupakan aspek yang penting di bidang kesehatan, upaya
peningkatan kualitas lingkungan merupakan langkah yang tepat dalam meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dan keluarga yang lebih baik. Berikut ini upaya
upaya peningkatan kualitas lingkungan bagi kesehatan yang dilakukan di Puskesmas
Tegal Angus (Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014):
1) Perilaku Hidup Bersih Sehat
Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat di Puskesamas dilakukan melalui
program promosi kesehatan yaitu penyebarluasan informasi kesehatan untuk
meningkatkan derajat kesehatan. Perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat
dapat menggambarkan derajat kesehatan wilayah tersebut, hal ini dapat disajikan
dengan indikator PHBS, adapun dari hasil kajian PHBS di wilayah Puskesmas
Tegal Angus terutama di Desa Pangkalan pada Tahun 2014 triwulan pertama
dapat digambarkan sebagai berikut (Data Program Kesling Puskesmas Tegal
Angus, 2014):
1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan (103,42%)
2) Pemberian ASI eksklusif (15,19%)
3) Penimbangan bayi dan balita (100%)
4) Penggunaan air bersih (99,45%)
5) Cuci tangan dengan air bersih, mengalir, dan sabun (70%)
6) Penggunaan jamban sehat (17,15%)
7) Rumah yang bebas jentik (100%)
8) Olahraga atau melakukan aktifitas fisik setiap hari (12,05%)
9) Konsumsi makanan seimbang (25,2%)
10) Tidak merokok dalam rumah (25,15%)
Berdasar kajian PHBS di atas didapat ada beberapa yang cakupannya masih
rendah hal ini dikarenakan :
(Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014)

1) Penduduk miskin masih banyak, sehingga yang mepunyai akses air bersih dan
jamban sehat sedikit.
2) Tingkat pendidikan yang masih rendah sehingga kurangnya kesadaran tentang
ASI eksklusif, aktifitas fisik, dan merokok di dalam rumah.
3) Kurangnya kader jumantik sehingga kegiatan pemeriksaan jentik berkala
kurang optimal.
Untuk meningkatkan pencapaian rumah tangga ber-PHBS dilakukan
penyuluhan tentang PHBS yang terus menerus, meningkatkan kerjasama lintas
program dan lintas sector.
(Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014).
2) Penyehatan Perumahan
Rumah merupakan tempat berkumpul dan beristirahat bagi semua anggota
keluarga dan untuk menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi
kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara
anggota keluarga atau tetangga sekitarnya (Data Program Kesling Puskesmas
Tegal Angus, 2014).
Rumah sehat adalah rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan, hasil
pemantauan selama tahun 2014 triwulan pertama menunjukkkan dari 294 rumah
yang diperiksa sebanyak 21,28% yang memenuhi syarat kesehatan.

Tabel 1.6.
Persentase Rumah Sehat Triwulan I Menurut Kecamatan dan
Puskesmas Tahun 2014

No.

Puskesmas

Jumlah

Jumlah

seluruhnya

diperiksa

2685

254

Pangkalan

5362

Tegal Angus

Desa

1.

Rumah

Nama

Tegal Angus

% diperiksa

Jumlah
sehat

9,46

109

298

5,56

123

2900

189

6,52

78

1823

339

18,60

274

Muara

492

79

16,06

42

Lemo

655

89

13,59

49

13917

1248

70

675

Tanjung
Burung

Tanjung
Pasir

JUMLAH

Sumber: Data Program Kesling PKM Tegal Angus, 2014

Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang ada di wilayah
Puskesmas Tegal Angus mempunyai rumah yang tidak sehat, hal ini dikarenakan
tingkat ekonomi dan pendidikan yang masih rendah, pengetahuan tentang rumah
sehat yang kurang. Perlu kerjasama lintas sektoral untuk meningkatkan jumlah
rumah sehat (Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014).

3) Pemenuhan Kebutuhan Sarana Sanitasi Dasar


Pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar di wilayah Puskesmas Tegal Angus
sangat kurang sekali seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini

(Data Program

Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014):

Tabel 1.7
Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar di Wilayah Puskesmas Tegal Angus
Tahun

Tempat Sampah

Jamban
Sehat

SPAL

SAB

2010

532

155

188

2245

2011

579

187

578

3877

2012

608

176

608

650

2013

608

207

608

650

2014

205

214

205

1425

Dari jumlah rumah yang diperiksa (1.248 rumah), jumlah yang memiliki jamban
sehat hanya 17,15% dari target 50%, hal ini menunjukkan masih rendahnya
kepemilikkan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus. Berbagai faktor
seperti tingkat pengetahuan, pendidikan, ekonomi, sosial dan kesadaran penduduk
yang masih rendah menyebabkan sulitnya meningkatkan kesehatan sanitasi
masyarakat.
4) Penyehatan Tempat Tempat Umum (TTU)
Pengawasan terhadap TTU dilakukan untuk meminimalkan faktor resiko sumber
penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU. Bentuk kegiatan yang
dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU secara berkala,
bimbingan, penyuluhan, dan sarana perbaikan. Tidak adanya tenaga sanitarian dan
kurangnya tenaga di Puskesmas Tegal Angus menyebabkan pembinaan di TTU tidak
dapat dilakukan.
(Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014).
10

5) Penyehatan Makanan dan Minuman


Makanan dan minuman adalah kebutuhan pokok manusia dan sumber utama
kehidupan bagi umat manusia, maka dengan itu makanan yang tidak dikelola dengan
baik justru akan menjadi sumber media yang sangat efektif di dalam penularan
penyakit saluran pencernaan.
(Data Program Kesling Puskesmas Tegal Angus, 2014)
1.2.5

Sepuluh Besar Penyakit


Berdasarkan hasil laporan bulanan penyakit (LB1) Puskesmas Tegal Angus
didapatkan gambaran pola penyakit yang terjadi di Puskesmas Tegal Angus pada
tahun 2014 menurut golongan semua umur seperti grafik berikut ini

(Data

Surveillance Puskesmas Tegal Angus, 2014):


Sumber: Data Surveillance Puskesmas Tegal Angus, 2014

Grafik 1.1 Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Tegal Angus Tahun 2014
Penyakit terbanyak adalah penyakit-penyakit menular seperti ISPA, disusul
dengan penyakit sakit kepala dan demam yang tidak diketahui penyebabnya.
Penyakit tidak menular (PTM) yang masuk dalam sepuluh besar penyakit adalah
hipertensi dan mialgia.

11

1.3

GAMBARAN KELUARGA BINAAN


1.

Keluarga Tn. Senen

2.

Keluarga Tn. Indra Ruswandaka

3.

Keluarga Tn. Joni

4.

Keluarga Tn. Sanusi

5.

Keluarga Tn. Ratib

6.

Keluarga Ny. Surti

Keluarga binaan bertempat di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, RT 002 RW 004,


Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Diagnosis komunitas, kami laksanakan dari
tanggal 13 Oktober sampai dengan 24 Oktober 2015.
1.3.1 Keluarga Tn. Senen
a. Data Dasar Keluarga Tn. Senen
Keluarga binaan terdiri dari 4 anggota keluarga, yaitu Tn. Senen sebagai kepala keluarga,
istrinya bernama Ny. Erni, dan 2 anak laki-laki bernama An. Ahmad Sarnubi dan An.
Muhammad Nurwahyuga.
Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Tn. Senen
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

40
38

SD
SD

Pekerjaan

(L/P)
1.
2.

Tn. Senen
Ny. Erni

Kepala Keluarga
Istri

L
P

Buruh Pabrik
Tukang Cuci
Penjual

3.

An. Ahmad

4.

Sarnubi
An.

Anak pertama

17

SMP

Gorengan
Pelajar

Anak kedua

Muhammad
Nurwahyuga

12

Keluarga Tn. Senen bertempat tinggal di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, RT 002
RW 004, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn.
Senen sebagai kepala keluarga, bekerja sebagai buruh pabrik kertas dengan jam kerja dari jam
08.00 WIB sampai jam 16.00 WIB. Tn. Senen berpenghasilan sekitar Rp.1.200.000 tiap
bulannya. Pendapatan Tn. Senen digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
seperti membeli kebutuhan dapur, biaya pendidikan anak, biaya listrik, biaya pengobatan, dan
lain-lain. Untuk kebutuhan air tidak mengeluarkan biaya karena menggunakan sumur galian
yang ada dikamar mandi rumah.
Ny. Erni ikut serta memberikan nafkah dari hasil bekerja sebagai tukang cuci dan
pedagang gorengan dengan jam kerja dari jam 06.00 WIB sampai jam 13.00 WIB. Ny. Erni
mulai beraktifitas sejak pukul 05.00 WIB, dimulai dengan membereskan rumah dan memasak
hingga pukul 06.00 WIB, kemudian mencuci baju milik tetangganya yang diantar 3 kali
seminggu hingga pukul 08.00 WIB, lalu pukul 09.00 WIB Ny. Erni mulai berangkat ke kios
gorengan milik kakaknya untuk membantu memasak dan menjajakan gorengan hingga pukul
13.00 WIB. Ny. Erni berpenghasilan kurang lebih Rp. 800.000 setiap bulannya. Pendapatan
Ny. Erni digunakan untuk membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebagian dari pendapatan nya ditabung oleh Ny. Erni, setidaknya dalam sebulan ia menabung
Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000.
Tn. Senen dan Ny. Erni mampu membaca, menulis, dan berhitung dasar karena keduanya
sempat mengenyam pendidikan hingga lulus tingkat Sekolah Dasar (SD), namun tidak
dilanjutkan karena keluarga masing-masing tidak memiliki biaya. Pasangan ini menikah saat
Tn. Senen berumur 20 tahun dan Ny. Erni berusia 18 tahun.
Keluarga ini memiliki dua orang anak dengan anak yang paling tua adalah An. Ahmad
Sarnubi yang berusia 17 tahun dan saat ini masih masih duduk di kelas 7 di Pesantren
Raudatul Jannah Tangerang (setara dengan kelas 3 Sekolah Menengah Atas), oleh karenanya
anak pertama Tn. Senen tidak tinggal di rumah karena harus mondok, dan hanya pulang ke
rumah sekali setahun yaitu setiap lebaran idul fitri.

Anak kedua yaitu An. Muhammad

Nurwahyuga yang berusia 5 tahun dan sekarang masih belum bersekolah.


b. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Tn. Senen tinggal di lingkungan yang tidak terlalu padat. Rumah ditempati
merupakan rumah milik sendiri, dengan luas tanah sekitar 120 m2 dan luas bangunan sekitar
10 m x 7 m. Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat, berlantaikan semen, pada daerah teras
13

rumah beratap genteng dan sisanya beratap asbes tanpa disertai plafon, dan dindingnya terbuat
dari anyaman bambu dan tidak dicat maupun diplester. Sekat antara ruangan juga berupa
anyaman bambu. Rumah tidak memiliki ventilasi maupun jendela, sehingga rumah tersebut
jarang dimasuki cahaya matahari dan sirkulasi udara tidak berjalan dengan baik.
Rumah ini terdiri dari teras, satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu dapur dan satu kamar
mandi, namun tidak memiliki jamban.
Teras rumah berukuran sekitar 7 m x 1,5 m disertai dengan bangku kayu biasanya
digunakan untuk berinteraksi dengan tetangga. Pada teras rumah terdapat jemuran yang
terbuat dari tali rapiah dan juga tumpukan kayu bakar yang dikumpulkan oleh Tn. Senen
untuk dijual kepada tetangganya.
Ruang tamu, yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga berukuran sekitar 7 m x 3 m. Di
ruangan ini terdapat dua sofa ukuran single yang tampak kotor dan lusuh, satu lemari kayu
yang tampak sudah reot dan tua, dan dua lemari plastik, dan juga satu televisi berukuran 32
inch di ujung ruangan.
Selain itu terdapat dua kamar yang masing-masing berukuran 3 m x 3 m. Kamar bagian
depan digunakan oleh Tn. Senen, isteri, dan anak keduanya. Kamar ini dilengkapi dengan
ranjang yang terbuat dari besi dan diatasnya terdapat dua kasur busa ukuran single. Satu
kamar yang lain sudah jarang digunakan karena anak pertama Tn. Senen sudah tidak tinggal
di rumah karena harus bersekolah di pesantren.
Selain itu terdapat satu ruang dapur berukuran sekitar 3 m x 1,5 m yang dilengkapi
dengan satu kompor gas kecil beserta tabung gas 3 kg, sebuah meja kecil tempat meletakkan
bahan-bahan untuk memasak seperti garam dan minyak goreng, sebuah rak piring, serta
beberapa perlatan masak yang digantung di dinding anyaman bambu.
Didepannya terdapat kamar mandi yang berukuran sekitar 3 m x 2 m. Kamar mandi ini
digunakan oleh Tn. Senen dan keluarga untuk mandi, mencuci piring dan baju, serta buang air
kecil dan hanya terdapat sekat kecil antara dapur dan kamar mandi. Di dalam kamar mandi
terdapat sebuah sumur dengan diameter sekitar 1,5 m yang ditutupi dengan potongan kayu
agar debu dan kotoran dari luar tidak masuk, dan juga beberapa ember yang digunakan untuk
menampung air, mengumpulkan baju kotor, dan tempat peralatan mandi. Air dari sumur ini
digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, memasak, minum, serta mencuci baju,
piring, maupun bahan makanan. Keluarga ini tidak memiliki jamban, jika ingin buang air
besar, biasanya mereka buang air besar di jamban yang ada di pinggir kali yang letaknya

14

sekitar 100 meter dari rumah. Namun jika air yang ada di kali sedang kering seperti saat ini,
mereka menumpang ke rumah ibu Ny. Erni yang terletak sekitar 200 meter dari rumahnya.
Pencahayaan di rumah berasal dari 3 buah lampu, yaitu satu lampu berwarna putih di
teras rumah, sedangkan di dalam rumah terdapat satu lampu berwarna putih yang ditempatkan
diatas tirai pintu kamar Tn. Senen dan satu lampu berwarna kuning yang ditempatkan diatas
tirai pintu kamar yang lain.
Keluarga Tn. Senen memiliki pekarangan kecil di depan rumah. Pekarangan digunakan
untuk menanam jambu air, srikaya, dan beberapa batang bunga. Selain itu, di pekarangan
depan rumah juga terdapat dua sumur tempat pembuangan air limbah rumah tangga yang
berhubungan dengan saluran dari kamar mandi.
Dalam membuang sampah rumah tangga, Tn. Senen dan keluarga sering membuang dan
mengumpulkan sampah di bagian depan rumah dan jika dirasa sudah cukup banyak, sampah
dibakar di sebuah lapangan yang berada 10 meter dari rumah.

15

Belakang

Depan
Gambar 1.1 Denah Rumah Tn. Senen
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn. Senen terletak di pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Di bagian
depan terdapat jalan setapak. Pada bagian belakang terdapat rumah penduduk lainnya yang
jaraknya sekitar 1 meter. Di samping kanan terdapat rumah tetangga lainnya yang berjarak 3
meter. Di sebelah kiri rumah juga terdapat jalan setapak. Tempat pembuangan dan
pembakaran sampah terdapat di lapangan yang berjarak sekitar 10 meter rumah.
d. Pola Makan
Berdasarkan hasil pre survey, keluarga Tn. Senen tidak mengetahui tentang pola makan
sehat dan manfaatnya bagi kesehatan, serta tidak mengetahui macam-macam makanan yang
digolongkan ke dalam karbohidrat, lemak, dan protein.
. Keluarga ini tidak mengetahui apakah makanan yang dimakan sudah memenuhi
kebutuhan nutrisi atau tidak. Makanan yang dimasakpun seadanya saja, sesuai dengan uang
yang dimiliki saat itu, misalnya nasi dengan tempe atau tahu goreng, dan terkadang memasak
telur atau ikan goreng. Kadang-kadang disertai dengan sayuran seperti tumis kangkung atau
bayam dan lalapan.
16

Keluarga Tn. Senen tidak pernah memikirkan seberapa penting adanya lauk pauk seperti
ikan atau daging karena tidak mengetahui kandungan nutrisi yang terkandung di dalam ikan
atau daging dan juga karena harganya yang tidak terjangkau.
Sesekali Ny. Erni membeli buah seperti jeruk dan salak jika ada penghasilan lebih,
sedangkan konsumsi susu tidak pernah karena keluarga ini tidak mengetahui manfaat
mengkonsumsi buah dan susu, sehingga keluarga Tn. Senen menganggap konsumsi buah dan
susu tidak terlalu penting.
Konsumsi mie instan pun terbilang cukup sering yaitu 3-4 kali per minggu, karena
keluarga ini menganggap memasak mie lebih praktis, cepat, dan juga biaya nya lebih murah
dibandingkan jika harus memasak lauk pauk, tanpa mengetahui dampak dari seringnya
mengkonsumsi makanan cepat saji bagi kesehatan. Selain itu hal tersebut juga dirasakan dapat
menghemat pengeluaran rumah tangga. Tn. Senen juga mengkonsumsi kopi sebanyak 2-3
gelas setiap harinya tanpa mengetahui dampaknya bagi kesehatan.
Dilingkungan keluarga Tn. Senen juga tidak ada kegiatan yang membahas mengenai pola
makan sehat, baik yang diadakan oleh masyarakat sekitar maupun tenaga kesehatan. Selain
itu, informasi mengenai pola makan sehat yang didapat dari media massa seperti koran, radio,
maupun televisi juga sangat minim.
e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Anak pertama pasangan Tn. Senen dan Ny. Erni adalah seorang anak laki-laki yang saat
ini berusia 17 tahun. Lahir di rumah secara normal, persalinan ditolong oleh bidan dengan
usia kandungan 9 bulan, pertumbuhan normal sesuai usia, berhenti minum ASI saat usia 1
tahun.
Anak kedua juga berjenis kelamin laki-laki yang saat ini berusia 5 tahun. Lahir normal di
bidan desa dengan usia kehamilan 9 bulan. Pertumbuhan normal sesuai usia, dan berhenti
minum ASI saat usia 2 tahun.

17

f. Kebiasaan Berobat
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya membeli obat di warung,
dan jika tidak sembuh maka akan berobat ke puskesmas.
g. Riwayat Penyakit
Keluarga Tn. Senen jarang berobat ke Puskesmas karena jarang sakit. Jika sakit, penyakit
yang sering diderita anggota keluarga Tn. Senen adalah kepala pusing, batuk, dan pilek.
h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari
Di keluarga ini tidak ada yang berkebiasaan merokok, namun tidak memiliki kebiasaan
berolahraga. Tiap anggota keluarga mandi kurang lebih 2 kali sehari dan memiliki kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan dan sesudahnya. Keluarga ini jarang mengkonsumsi buah.
Kebiasaan minum air putih kurang lebih 6-7 gelas perhari.

Tabel 1.9 Faktor Internal Keluarga Tn. Senen


No
1

Faktor Internal
Kebiasaan

Merokok
Olah raga

Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan

Pola Makan

berolahraga.
Berdasarkan hasil pre survey, keluarga Tn. Senen

Permasalahan
Tn. Senen tidak merokok

tidak mengetahui tentang pola makan sehat dan


manfaatnya bagi kesehatan, serta tidak mengetahui
macam-macam makanan yang digolongkan ke dalam
karbohidrat, lemak, dan protein.
Keluarga ini tidak mengetahui apakah makanan yang
dimakan sudah memenuhi kebutuhan nutrisi atau tidak.
Makanan yang dimasakpun seadanya saja, sesuai dengan
uang yang dimiliki saat itu, misalnya nasi dengan tempe
atau tahu goreng, dan terkadang memasak telur atau ikan
goreng. Kadang-kadang disertai dengan sayuran seperti
tumis kangkung atau bayam dan lalapan.
Keluarga Tn. Senen tidak pernah memikirkan
seberapa penting adanya lauk pauk seperti ikan atau
18

daging karena tidak mengetahui kandungan nutrisi yang


terkandung didalamnya dan juga karena harganya yang
tidak terjangkau. Sesekali Ny. Erni membeli buah seperti
jeruk dan salak jika ada penghasilan lebih, sedangkan
konsumsi susu tidak pernah karena keluarga ini tidak
mengetahui manfaat mengkonsumsi buah dan susu,
sehingga keluarga Tn. Senen menganggap konsumsi
buah dan susu tidak terlalu penting.
Konsumsi mie instan pun terbilang cukup sering yaitu
3-4 kali per minggu, karena keluarga ini menganggap
memasak mie lebih praktis, cepat, dan juga biaya nya
lebih murah dibandingkan jika harus memasak lauk pauk,
tanpa mengetahui dampak dari seringnya mengkonsumsi
makanan cepat saji bagi kesehatan. Selain itu hal tersebut
juga dirasakan dapat menghemat pengeluaran rumah
tangga. Tn. Senen juga mengkonsumsi kopi sebanyak 2-3
gelas setiap harinya tanpa mengetahui dampaknya bagi
kesehatan.
Dilingkungan keluarga Tn. Senen juga tidak ada
kegiatan yang membahas mengenai pola makan sehat,
baik yang diadakan oleh masyarakat sekitar maupun
tenaga kesehatan. Selain itu, informasi mengenai pola
makan sehat

yang didapat dari media massa seperti

koran, radio, maupun televisi juga sangat minim.


4

Pola Pencarian

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini

Pengobatan

biasanya membeli obat di warung, dan jika tidak sembuh

Menabung

maka akan berobat ke puskesmas.


Ny. Erni selalu menyisihkan sebagian dari pendapatan
nya untuk ditabung, setidaknya dalam sebulan ia

Aktivitas seharihari

menabung Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000.


a. Bapak bekerja sebagai buruh pabrik, bekerja setiap hari
dari jam 08.00 WIB sampai 16.00 WIB.
b. Ibu sebagai tukang cuci dan pedagang gorengan,
19

bekerja setiap hari dari jam 06.00 WIB sampai 13.00


WIB.
c. Anak pertama berjenis kelamin laki-laki berusia 17
tahun, belum menikah, dan saat ini masih masih duduk
di kelas 7 di Pesantren Raudatul Jannah Tangerang
(setara dengan kelas 3 Sekolah Menengah Atas), oleh
karenanya anak pertama Tn. Senen tidak tinggal di
rumah karena harus mondok, dan hanya pulang ke
rumah sekali setahun yaitu setiap lebaran idul fitri.
d. Anak kedua berjenis kelamin laki-laki berusia 5 tahun
7

Alat kontrasepsi

dan saat ini masih belum bersekolah.


Ny. Erni menggunakan KB suntik.

Tabel 1.10 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Senen


No

Kriteria

Permasalahan

1.

Luas Bangunan

Luas rumah 10 x 7 m2

2.

Ruangan dalam rumah Di dalam rumah terdapat ruang tamu yang juga
berfungsi sebagai ruang keluarga, berukuran 7 x 3 m2.
Dua kamar tidur yang berukuran 3 x 3 m2 yang
didalamnya terdapat kasur dan lemari pakaian. Dapur
Tn. Senen berukuran 3 x 1,5 m2. Seluruh ruangan
tidak disertai dengan ventilasi maupun jendela.
Kamar mandi berukuran sekitar 3 x 2 m2 yang
digunakan oleh Tn. Senen dan keluarga untuk mandi,

3.
4.
5.

Jamban

mencuci piring dan baju, serta buang air kecil.


Keluarga Tn. Senen tidak memiliki jamban di

Ventilasi

rumahnya
Tidak terdapat ventilasi udara pada semua ruangan.

Pencahayaan

a. Terdapat 1 lampu pada teras.


b. Terdapat 1 lampu pada bagian depan kamar tidur
utama.
20

c. Terdapat 1 lampu pada bagian depan kamar tidur

5.

MCK

anak.
d. Tidak terdapat lampu pada ruang tamu
Memiliki kamar mandi, namun tidak memiliki

6.

Sumber Air

jamban.
Tn. Senen menggunakan air dari sumur yang
ditimba sendiri untuk kebutuhan air minum sehari-

7.

Saluran pembuangan

hari dan memasak, mandi, mencuci, dll.


Terdapat saluran pembuangan limbah, air limbah

limbah

dialirkan ke sumur tempat pembuangan air limbah


rumah tangga yang berhubungan dengan saluran dari
kamar mandi.yang berada di pekarangan depan

8.

Tempat pembuangan

rumah.
Dalam membuang sampah rumah tangga, Tn. Senen

sampah

dan keluarga sering membuang dan mengumpulkan


sampah di bagian depan rumah dan jika dirasa sudah
cukup banyak, sampah dibakar di sebuah lapangan

9.

Lingkungan sekitar

yang berada 10 meter dari rumah.


Di bagian depan terdapat jalan setapak. Pada bagian

rumah

belakang terdapat rumah penduduk lainnya yang


jaraknya sekitar 1 meter. Di samping kanan terdapat
rumah tetangga lainnya yang berjarak 3 meter. Di
sebelah kiri rumah juga terdapat jalan setapak.
Tempat pembuangan dan pembakaran sampah
terdapat di lapangan yang berjarak sekitar 10 meter
rumah.

1.3.1.1.

Masalah Pada Keluarga Binaan Tn. Senen


1. Kurangnya pengetahuan tentang rumah sehat
2. Tidak terdapat jamban pada rumah
3. Perilaku buang air besar (BAB) pada jamban di kali.
4. Tidak terdapat ventilasi maupun jendela pada rumah
5. Pencahayaan di dalam rumah tidak memadai
6. Kurangnya pengetahuan tentang jamban sehat
7. Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya ventilasi di rumah
21

8.
9.
10.
11.
12.
13.

Pengetahuan tentang pencahayaan pada rumah sehat sangat kurang


Tidak tersedianya tempat pembuangan sampah yang memadai di rumah.
Tidak tersedianya saluran pembuangan air limbah yang memadai di rumah
Tidak terdapat plafon pada rumah
Kurangnya pengetahuan mengenai pola makan sehat
Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir sebelum dan setelah makan, setelah buang air, maupun setelah

melakukan aktifitas di luar rumah.


14. Kurangnya sarana sanitasi lingkungan di rumah, seperti bak tempat sampah di luar
dan dalam rumah, saluran pembuangan air limbah yang tidak memadai.
15. Kurangnya pengetahuan mengenai saran pembuangan air limbah dan sampah
16.
17.
18.
19.
20.

rumah tangga.
Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu
Minimnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Perilaku yang tidak mau berolahraga
Seringnya konsumsi makanan instan
Perilaku minum kopi yang terbilang cukup sering

1.3.2 Keluarga Tn. Indra Ruswandaka


a. Data Dasar Keluarga Tn Indra Ruswandaka
Keluarga binaan Tn. Indra terdiri dari 3 anggota keluarga, yaitu keluarga Tn. Indra
sebagai kepala keluarga, istrinya bernama Ny. Sukni, dan 1 orang anak bernama Nuraini
Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Tn Indra
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

38
30
8

SMA
SD
2 SD

Pekerjaan

(L/P)
1.
2.
3.

Tn. Indra
Ny. Sukni
An, Nuraini

Kepala Keluarga
Istri
Anak

L
P
P

Buruh
IRT
pelajar

Keluarga Tn. Indra bertempat tinggal di Kampung sukasari , Desa Pangkalan, RT 02 RW


04, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Indra
sebagai kepala keluarga, bekerja sebagai buruh karyawan dengan jam kerja dari jam 08.00
sampai jam 16.00, Tn indrab berpenghasilan tiap bulan kurang lebih Rp 2.500.000 Pendidikan
terakhir Tn.Indra adalah SMA. Ny. Sukni sebekerja sebagai Ibu rumah tangga pendidikan

22

terakhir Ny. Sukni adalah SD. Keluarga ini memiliki satu orang anak dengan anak yang
adalah Nuraini yang berusia 8 tahun pendidikan SD kelas 2.
b. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Tn Indra tinggal di perumahan yang tidak terlalu padat. Rumah ini merupakan
rumah sewaan, dengan luas tanah sekitar 30 m2 dan luas bangunan berukuran 5m x 6m.
Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat, berlantai sebagian tanah sebagian keramik, beratap
genteng dengan plafon terbuat dari gypsum, dan dindingnya terbuat dari sebagian tembok
sebagian bilik bambu. Ventilasi ada ditiap kamar berupa jendela.
Ketersediaan dicukupi dengan pasokan dari air sumur untuk digunakan sebagai cuci
pakaian dan piring serta digunakan untuk mandi, sedangkan untuk minum dan makan
digunakan air masak dari sumur. Saluran air limbah tersedia dirumah ini dan dialirkan
langsung ke saluran pembuangan, yaitu got disamping rumah.
Belakang

Depan
Gambar 1.4 Denah Rumah Tn. Indra
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn. Indra terletak di pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Di bagian
depan terdapat halaman kosong, bagian belakang terdapat rumah warga lain, tempat
pembuangan dan pembakaran sampah terdapat di samping kanan rumah Di bagian kanan
terdapat pembuangan sampah Di bagian kiri terdapat rumah warga lain.
23

d. Pola Makan
Keluarga Tn. Indra memiliki kebiasaan makan kurang lebih 3 kali perhari. Makanan yang
dimakan dimasak sendiri oleh Ny. Sukni. Keluarga ini lebih menyukai menu makanan yang
asin dan lebih suka lauk pauk yang digoreng. Kurang mengkonsumsi buah. Cukup
mengkonsumsi sayur. Konsumsi protein hewani bersumber dari telur, tahu tempe, sedangkan
konsumsi daging jarang
Keluarga Tn. Indra memilih air sumur untuk konsumsi minumnya, dengan kebiasaan
minum kurang lebih 8-10 gelas perhari. Hanya Tn. Indra yang memiliki kebiasaan
mengkonsumsi kopi dengan jumlah kurang lebih 2 gelas perhari.
Sesuai dengan hasil pre survey keluarga Tn. Indra kurang memahami tentang pola makan
sehat.
e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Anak pertama pasangan Tn. Indra dan Ny. Sukni adalah anak perempuan berusia 8 tahun.
Lahir normal di bidan dengan usia kandungan 9 bulan, pertumbuhan normal sesuai usia,
berhenti minum ASI saat usia 2 tahun.
f. Kebiasaan Berobat
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya berobat ke puskesmas
karena murah dan terjangkau.
g. Riwayat Penyakit
Keluarga Tn. indra jarang berobat ke puskesmas karena tidak sering sakit. Penyakit yang
sering diderita anggota keluarga Tn Indra adalah batuk pilek
h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari
Di keluarga ini tidak ada yang berkebiasaan merokok dan tidak memiliki kebiasaan
berolahraga. Tiap anggota keluarga mandi kurang lebih 2 kali sehari dan memiliki kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan dan sesudahnya. Keluarga ini tidak kebiasaan suka memakan
makanan asin pedas dan jarang mengkonsumsi sayuran juga buah. Kebiasaan minum air putih
kurang lebih 8 gelas perhari.

24

Tabel 1.9 Faktor Internal Keluarga Tn. Indra


No

Faktor

Permasalahan

Internal
Kebiasaan

Tn. Indra tidak merokok

Merokok
Olah raga

Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan

Pola Makan

berolahraga.
Keluarga Tn. Indra memiliki kebiasaan makan
kurang lebih 3 kali perhari. Makanan yang dimakan
dimasak sendiri oleh Ny. Sukni. Keluarga ini lebih
menyukai menu makanan yang asin dan lebih suka
lauk pauk yang digoreng. Kurang mengkonsumsi
buah. Cukup mengkonsumsi sayur. Konsumsi protein
hewani bersumber dari telur, tahu tempe, sedangkan
konsumsi daging jarang
Keluarga Tn. Indra

memilih air sumur

untuk

konsumsi minumnya, dengan kebiasaan minum kurang


lebih 8-10 gelas perhari. Hanya Tn. Indra yang
memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi dengan
jumlah kurang lebih 2 gelas perhari.
Sesuai dengan hasil pre survey keluarga Tn. Indra
kurang memahami tentang pola makan sehat.
4

Pola Pencarian

Apabila sakit, mereka berobat ke puskesmas

5
6

Pengobatan
Menabung
Aktivitas

Mereka jarang menabung


a. Bapak bekerja sebagai buruh karyawan, bekerja setiap

sehari-hari

Alat kontrasepsi

hari senin sampai sabtu dari jam 08.00 sampai jam


16.00
b. Ibu bekerja sebagai Ibu rumah tangga.
c. Anak pertama adalah seaorang perempuan berusia 8
tahun, kelas 2 SD
Tidak ada yang menggunakan alat kontrasepsi

25

Tabel 1.10 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Indra


No

Kriteria

Permasalahan

1.

Luas Bangunan

Luas rumah 5x6 m2

2.

Ruangan dalam
rumah

Didalam Rumah terdapat :


a. Ruang tamu yang berukuran 3x3.m2.
b. 1 kamar tidur, didalam terdapat (tanpa)
ventilasi udara.
c. Dapur berukuran 2x2 m2 dan (tanpa)

3.

Jamban

ventilasi udara.
d. (punya) kamar mandi
e. (punya) jamban.
Keluarga Tn Indra (memiliki) jamban di rumahnya

4.

Ventilasi

terdapat ventilasi udara pada ruang tengah


tidak terdapat ventilasi udara pada ruang tidur dan

5.

dapur
Pencahayaan
a. (Terdapat) lampu pencahayaan yang baik di tiap
kamar tidur.
b. (Terdapat) lampu pada ruang tamu
c. (tidak ada ) lampu pada dapur

5.
6.

MCK

(Terdapat) lampu pada kamar mandi


(Memiliki) kamar mandi dengan jumah 1, (memiliki)

Sumber Air

jamban di kamar mandi


Dalam kesehariannya Tn Indra menggunakan sumur
(eg:air sanyo).
Untuk

7.

Saluran
pembuangan

8.

9.

limbah
Tempat

kebutuhan

air

minum

sehari-hari

dan

memasak, dari air sanyo


(Terdapat) saluran pembuangan limbah, air limbah
dialirkan ke got
Sampah rumah tangga dibuang di tempat sampah, bila

pembuangan

sampah telah banyak, (eg: lalu dibakar.)

sampah
Lingkungan

Di depan rumah terdapat halaman kosong

26

sekitar rumah

Disamping

kanan

terdapat

tempat

pembakaran

sampah.
Di samping kiri terdapat rumah warga lain
Sedangkan dibelakang terdapat rumah warga lain
1.3.2.1 Masalah Pada Keluarga Binaan Tn. Indra
1. Tidak tersedianya tempat pembuangan sampah yang memadai
2. Pencahayaan rumah serta pengetahuan tentang pencahayaan pada rumah sehat yang
3.
4.
5.
6.
7.
8.

sangat kurang.
Perilaku mencuci pakaian di kali yang terdapat jamban.
Tidak ada tabungan keluarga.
Kurang nya ventilasi pada rumah
Kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat
Kurangnya pengetahuan akan rumah sehat pada keluarga binaan.
Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir sebelum dan setelah makan, setelah buang air, maupun setelah melakukan

aktifitas di luar rumah.


9. Kurangya sarana sanitasi lingkungan di rumah, seperti bak tempat sampah di luar
dan dalam rumah.
10. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran keluarga binaan untuk mengelolaan limbah
rumah tangga.
11. Dinding rumah yang terbuat dari kayu dan atap rumah dari karung.
12. Perilaku yang tidak mau berolahraga

27

1.3.3 Keluarga Tn. Joni


a. Data Dasar Keluarga Tn. Joni
Keluarga binaan Tn. Joni terdiri dari 3 anggota keluarga, yaitu keluarga Tn. Joni sebagai
kepala keluarga, istrinya bernama Ny.Tini , dan anaknya bernama Setia.
Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Tn. Joni
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

31
25
8

SD
SD
SD

Pekerjaan

(L/P)
1.
2.
3.

Tn. Joni
Ny.Titin
Setia

Kepala Keluarga
Istri
Anak

L
P
P

Buruh
IRT
-

Keluarga Tn.Joni bertempat tinggal di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, RT 02 RW


04, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Joni
sebagai kepala keluarga, bekerja sebagai buruh dengan jam kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5
sore, Tn. Joni berpenghasilan tiap bulan kurang lebih Rp 15.000-60.000 Pendidikan terakhir
Tn.Joni adalah Sekolah Dasar.
Ny. Tini sebekerja sebagai Ibu Rumah Tangga . Pendidikan terakhir Ny. Tini adalah
Sekolah Dasar.
Keluarga ini memiliki 1 orang anak adalah Setia yang berusia 8 tahun pendidikan terakhir
yang sekarang masih bersekolah di SD kelas 2.
b. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Tn. Joni tinggal di perumahan yang tidak terlalu padat. Rumah ini milik
(sendiri/sewa), dengan luas tanah sekitar 50 m2 dan luas bangunan berukuran 5 m x 6 m.
Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat, berlantai tanah, beratap asbes. dengan plafon
terbuat dari asbes , dan dindingnya terbuat dari papan .Ventilasi tidak ada dan ditiap kamar
tidak ada penerangan lampu.
Ketersediaan dicukupi dengan pasokan dari air sumur untuk digunakan sebagai cuci
pakaian dan piring serta digunakan untuk mandi, sedangkan untuk minum dan makan
digunakan air sumur. Saluran air limbah tersedia dirumah ini dan dialirkan langsung ke got
disamping rumah.

28

Belakang

Depan
Gambar 1.4 Denah Rumah Tn. Joni
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn.Joni terletak di pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Di bagian
depan terdapat kandang bebek, bagian belakang terdapat rumah tetangga ,tempat pembuangan
dan pembakaran sampah terdapat di depan rumah. Di bagian kanan terdapat rumah tetangga
Di bagian kiri terdapat rumah tetangga.
d. Pola Makan
Keluarga Tn Joni memiliki kebiasaan makan kurang lebih 2 kali perhari. Ny. Tini selalu
memasak makanan untuk keluarganya sendiri. Makanan setiap harinya adalah nasi dan sayur
dengan alasan anggota keluarga memang menyukai sayur serta kurangnya keuangan untuk
membeli jenis makanan yang lain seperti tahu, tempe, telur ataupun daging. Makanan yang
dimasak hampir selalu diolah dengan cara digoreng. Semua anggota keluarga kurang
mengkonsumsi buah dengan alasan tidak suka.
Keluarga Tn. Joni memilih air sumur untuk konsumsi minumnya, dengan kebiasaan
minum kurang lebih 4-5 gelas perhari. Mengkonsumsi kopi hanya Tn. Joni dengan jumlah
kurang lebih 3 gelas perhari.
Pola makan seperti frekuensi makan 2 kali sehari, jenis makanan yang dikonsumsi seperti
sayur dan nasi, cara pengolahan seperti digoreng, serta kebiasaan minum yang ada pada
keluarga Tn. Joni terbentuk hanya berdasarkan rutinitas dan kegemaran anggota keluarga
tanpa didasari pengetahuan tentang pola makan sehat yang sebenarnya. Hasil pra-survei
menunjukan Tn. Joni dan Ny. Tini tidak mengetahui frekuensi makan yang ideal, contoh
29

makanan yang bersumber dari karbohidrat, protein, dan juga lemak. Keluarga Tn. Joni juga
tidak mencoba mencari informasi mengenai pola makan yang sehat.
e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Anak pertama pasangan Tn. Joni dan Ny. Tini adalah anak perempuan berusia 8 tahun.
Lahir normal di paraji dengan usia kandungan 9 bulan, pertumbuhan normal sesuai usia,
berhenti minum ASI saat usia 2 tahun.
f. Kebiasaan Berobat
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya tidak berobat karena
merasa bisa membeli obat warung.
g. Riwayat Penyakit
Keluarga Tn. Joni jarang berobat ke puskesmas karena merasa bisa membeli obat
warung. Penyakit yang sering diderita anggota keluarga Tn. Joni adalah masuk angin.
h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari
Di keluarga ini ada yang berkebiasaan merokok dan tidak memiliki kebiasaan
berolahraga. Tiap anggota keluarga mandi kurang lebih 2 kali sehari dan memiliki kebiasaan
mencuci tangan sebelum makan dan sesudahnya. Keluarga ini memiliki kebiasaan suka
memakan makanan pedas dan asin dan sering mengkonsumsi sayuran juga buah. Kebiasaan
minum air putih kurang lebih 4-5 gelas perhari.
Tabel 1.9 Faktor Internal Keluarga Tn. Joni
No

Faktor

Permasalahan

Internal
Kebiasaan

Tn. Joni merokok

Merokok
Olah raga

Tidak ada anggota keluarga yang memiliki


kebiasaan berolahraga.

30

Pola Makan

Keluarga Tn Joni memiliki kebiasaan makan


kurang lebih 2 kali perhari. Ny. Tini selalu
memasak makanan untuk keluarganya sendiri.
Makanan setiap harinya adalah nasi dan sayur
dengan

alasan

anggota

keluarga

memang

menyukai sayur serta kurangnya keuangan untuk


membeli jenis makanan yang lain seperti tahu,
tempe, telur ataupun daging. Makanan yang
dimasak hampir selalu diolah dengan cara
digoreng.

Semua

anggota

keluarga

kurang

mengkonsumsi buah dengan alasan tidak suka.


Keluarga Tn. Joni memilih air sumur untuk
konsumsi minumnya, dengan kebiasaan minum
kurang lebih 4-5 gelas perhari. Mengkonsumsi
kopi hanya Tn. Joni dengan jumlah kurang lebih 3
gelas perhari.
Pola makan seperti frekuensi makan 2 kali
sehari, jenis makanan yang dikonsumsi seperti
sayur dan nasi, cara pengolahan seperti digoreng,
serta kebiasaan minum yang ada pada keluarga Tn.
Joni terbentuk hanya berdasarkan rutinitas dan
kegemaran

anggota

keluarga

tanpa

didasari

pengetahuan tentang pola makan sehat yang


sebenarnya. Hasil pra-survei menunjukan Tn. Joni
dan Ny. Tini tidak mengetahui frekuensi makan
yang ideal, contoh makanan yang bersumber dari
karbohidrat, protein, dan juga lemak. Keluarga Tn.
Joni juga tidak mencoba mencari informasi
mengenai pola makan yang sehat.
4

Pola Pencarian

Apabila sakit, mereka tidak berobat.

Pengobatan
Menabung

Mereka terkadang menabung


31

Aktivitas sehari-

a. Bapak bekerja sebagai buruh, bekerja setiap hari dari

hari

jam 8 pagi sampai jam 5 sore.


b. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
c. Anak PR berusia 8 tahun, sedang mengikuti Sekolah

Alat kontrasepsi

Dasar.
Tidak menggunakan alat Kontrasepsi

Tabel 1.10 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Joni


No

Kriteria

Permasalahan

1.

Luas Bangunan

Luas rumah 6 x 5 m2

2.

Ruangan dalam

Didalam Rumah terdapat :

rumah

a. Ruang tamu yang berukuran 2 x 2 m2.


b. 1 kamar tidur, didalam terdapat tanpa
ventilasi udara.
c. Dapur berukuran 0,5 x 0,5 m2 dan tanpa
ventilasi udara.
d. Punya kamar mandi, namun tidak punya

3.
4.

Jamban

jamban
Keluarga Tn Joni tidak memiliki jamban di

Ventilasi

rumahnya
Tidak terdapat ventilasi udara pada seluruh
ruangan.

5.

Pencahayaan

a. Terdapat 1 lampu pencahayaan yang kurang baik di


tiap kamar tidur.
b. Terdapat 1 lampu pada ruang tamu
c. Tidak terdapat lampu pada dapur

5.

MCK

d. Terdapat 1 lampu pada kamar mandi


Memiliki kamar mandi dengan jumlah 1, tidak

6.

Sumber Air

memiliki jamban di kamar mandi


Dalam kesehariannya Tn. Joni menggunakan air
sumur.
Untuk

kebutuhan

air

memasak, dari air sumur.


32

minum

sehari-hari

dan

7.

Saluran pembuangan

Terdapat saluran pembuangan limbah, air limbah

8.

limbah
Tempat pembuangan

dialirkan ke kali.
Sampah rumah tangga dibuang di depan rumah, bila

sampah
9.

Lingkungan sekitar
rumah

sampah telah banyak lalu dibakar.


Di depan rumah terdapat kandang bebek Disamping
kanan terdapat rumah tetangga yang berdempetan.
Di samping kiri terdapat rumah tetangga.
Sedangkan dibelakang terdapat rumah tetangga/

33

1.3.3.1 Masalah di keluarga Tn. Joni


1. Kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat
2. Tidak adanya ventilasi di rumah
3. Kurangnya pencahayaan di dalam rumah
4. Adanya jamban di dalam rumah
5. Kurangnya kepedulian terhapat kesehatan
6. Kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
7. Kebiasaan merokok pada ayah
8. Kurangnya kebersihan di lingkungan sekitar
9. Kurangnya pengetahuan tentang mengolah sampah
1.3.4 Keluarga Tn. Sanusi
a. Data Dasar Keluarga Tn. Sanusi
Keluarga binaan Tn. Sanusi terdiri dari empat anggota keluarga, yaitu keluarga Tn.
Sanusi

sebagai kepala keluarga, istrinya bernama Ny. Trisni , dan dua orang anaknya

bernama Hendra dan Yono.


Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Tn. Sanusi
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

54
47

STM
SD

Buruh
Ibu Rumah

SD
SMP

Tangga
Tidak Bekerja
Buruh

(L/P)
1.
2.
3.
4.

Tn. Sanusi
Ny. Trisni
Hendra
Yono

Kepala Keluarga
Istri
Anak
Anak

L
P
L
L

27
24

Keluarga Tn. Sanusi bertempat tinggal di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, RT 002
RW 004, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn.
Sanusi sebagai kepala keluarga, bekerja sebagai buruh dengan jam kerja dari jam 08.00
sampai jam 17.00, Tn. Sanusi berpenghasilan tiap bulan kurang lebih Rp. 700.000
1.300.000,- Pendidikan terakhir Tn. Ratib adalah STM.
Ny. Trisni sebekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Pendidikan terakhir Ny. Trisni adalah
SD. Ny. Trisni bekerja sebagai iburumah tangga dan sebagai penyalur dari komponen
eletronik yang diproduksi oleh suaminya. Sehari-hari Ny. Trisni bekerja dari hari Senin hingga
Sabtu mulai dari pukul 05.00 22.00 WIB.

34

Keluarga ini memili dua orang anak dengan anak yang paling tua adalah Hendra yang
berusia 27 tahun. Pendidikan terakhir SD, tidak melanjutkan sekolah karena keluarga tidak
mampu untuk menyekolahkan Hendra. Hendra tidak bekerja. Anak kedua bernama Yono,
yang berusia 24 tahun, pendidikan terakhir SMP, tidak melanjutkan sekolah karena keluarga
tidak mampu membiayai sekolah Yono. Kini Yono bekerja sebagai buruh dengan penghasilan
Rp. 60.000,-.
b. Bangunan Tempat Tinggal
Keluarga Tn. Sanusi tinggal di perumahan yang tidak terlalu padat. Rumah ini milik
sendiri, dengan luas tanah sekitar 50 m 2 dan luas bangunan berukuran 5m x 10m. Bangunan
tempat tinggal tidak bertingkat, berlantai tanah, beratap asbes dan berplafon bambu, dan
dindingnya terbuat dari anyaman bamboo. Tidak terdapat satu ventilasi di dapur yang ditutup
dengan papan dan hanya dibuka dari pagi hingga sore hari. Bangunan tersebut memiliki satu
penerangan tidak langsung untuk seluruh ruangan. Memiliki pintu sebagai sumber cahaya dari
pagi hingga sore hari.
Ketersediaan dicukupi dengan pasokan dari air sumur milik bersama untuk digunakan
sebagai cuci pakaian dan piring serta digunakan untuk mandi, sedangkan untuk minum dan
makan digunakan air galon. Saluran air limbah tidak tersedia dirumah in

35

Belakang

Depan
Gambar 1.4 Denah Rumah Tn. Sanusi
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn. Sanusi terletak di pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Di bagian
depan terdapat rumah warga, bagian belakang terdapat rumah warga. Tempat pembuangan
dan pembakaran sampah serta kandang bebek milik warga sekitar terdapat di sisi kiri rumah.
Di bagian kanan terdapat rumah warga.
d. Pola Makan
Keluarga Tn. Sanusi tidak tahu tentang pola makan sehat, karena tidak pernah menerima
informasi bak dari media, lingkungan warga, ataupun tenaga kesehatan. Dalam kesehariannya,
Tn. Sanusi cenderung memakan apa saja yang dapat dibeli dengan uang yang beliau peroleh.
Berdasarkan hasil presurvey Tn. Sanusi tidak mengetahui macam-macam makanan yang
digolongkan ke dalam karbohidrat, lemak, dan protein.

36

e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak


Anak pertama pasangan Tn. Sanusi dan Ny. Trisni adalah anak laki-laki berusia 27 tahun.
Lahir normal di puskesmas dengan usia kandungan 9 bulan, pertumbuhan normal sesuai usia,
namun mengalami keterlambatan motoric yaitu baru bisa berjalan umur 3 tahun. Berhenti
minum ASI saat usia 1 tahun.
Anak ke dua pasangan Tn. Sanusi dan Ny. Trisni adalah anak laki-laki berusia 24 tahun.
Lahir normal di puskesmas dengan usia kandungan 9 bulan, pertumbuhan dan perkembangan
normal sesuai usia. Berhenti minum ASI saat usia 2 tahun.
f. Kebiasaan Berobat
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya berobat ke puskesmas
karena lebih mempercayai ahlinya dan khawatir apabila terjadi perburukan. Berobat juga
dilakukan jika pengobatan tradisional (di kerok) gagal mengalami perbaikan.
g. Riwayat Penyakit
Keluarga Tn. Sanusi jarang berobat berobat ke puskesmas karena lebih memilih ke klinik
terdekat. Selain itu, anggota keluarga Tn. Sanusi jarang mengalami sakit. Penyakit yang
sering diderita anggota keluarga Tn. Sanusi adalah pilek, masuk angin, meriang dan pegalpegal.
h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari
Di keluarga ini ada yang berkebiasaan merokok dan berolahraga. Tiap anggota keluarga
mandi kurang lebih 2 kali sehari dan memiliki kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan
sesudahnya. Keluarga ini memiliki kebiasaan suka memakan makanan pedas dan asin, sering
mengkonsumsi sayuran juga buah. Kebiasaan minum air putih kurang lebih 5 gelas perhari.

37

Tabel 1.9 Faktor Internal Keluarga Tn. Sanusi


No

Faktor

Permasalahan

Internal
Kebiasaan

Tn. Sanusi memiliki kebiasaan merokok

Merokok
Olah raga

Sebagian

Pola

kebiasaan berolahraga.
Keluarga Tn. Sanusi tidak tahu tentang pola

Makan

makan sehat, karena tidak pernah menerima

anggota

keluarga

memiliki

informasi bak dari media, lingkungan warga,


ataupun

tenaga

kesehariannya,

kesehatan.

Tn.

Sanusi

Dalam
cenderung

memakan apa saja yang dapat dibeli dengan


uang yang beliau peroleh. Berdasarkan hasil
presurvey

Tn.

Sanusi

tidak

mengetahui

macam-macam makanan yang digolongkan ke


dalam karbohidrat, lemak, dan protein.
4

Pola Pencarian

Apabila sakit, mereka berobat ke klinik terdekat

5
6

Pengobatan
Menabung
Aktivitas sehari-hari

Mereka selalu menabung


a. Bapak bekerja sebagai buruh, bekerja setiap hari
apabila ada orderan komponen elektronik, dari
jam 08.00 sampai jam 17.00
b. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga dan
penyalur komponen eletronik yang diproduksi
oleh suaminya, bekerja setiap hari Senin hingga
Sabtu dari jam 05.00 sampai jam 22.00
c. Anak pertama laki-laki berusia 27 tahun, lulus
SD, tidak

melanjutkan

sekolah ke

tingkat

selanjutnya. Belum memiliki pekerjaan. Belum


menikah.
d. Anak pertama laki-laki berusia 24 tahun, lulus
SMP, tidak melanjutkan sekolah ke tingkat
38

selanjutnya. Bekerja sebagai buruh pabrik. Dari


hari Senin hingga Sabtu dari jam 08.00 hingga
7

jam 20.00. Belum menikah.


Tidak menggunakan alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi

Tabel 1.10 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Sanusi


No

Kriteria

Permasalahan

1.

Luas Bangunan

Luas rumah 5 x 10 m2

2.

Ruangan dalam

Didalam Rumah terdapat :

rumah

a. Ruang tamu yang berukuran 2 x 6m2


b. 1 kamar tidur dengan ukuran 4 x 4 m2 tanpa

3.
4.

Jamban

ventilasi udara.
c. Dapur berukuran 3 x 5m2 tanpa ventilasi udara.
d. Memiliki 1 kamar mandi
e. Tidak memiliki jamban
Keluarga Tn. Sanusi tidak memiliki jamban di

Ventilasi

rumahnya
Terdapat 1 ventilasi yang ditutup dengan papan
di dapur.

5.

Pencahayaan

a. Tidak terdapat lampu pencahayaan yang baik di tiap


kamar tidur.
b. Terdapat1 lampu pada ruang tamu
c. Tidak terdapat lampu pada dapur

6.
7.

MCK

d. Tidak terdapat lampu pada kamar mandi


Memiliki kamar mandi dengan jumah 1 buah, tidak ada

Sumber Air

jamban di kamar mandi


Dalam kesehariannya Tn. Sanusi menggunakan sumur
milik warga.
Untuk kebutuhan air minum sehari-hari dan memasak,

8.

Saluran pembuangan

dari air gallon.


Tidak terdapat saluran pembuangan limbah

9.

limbah
Tempat pembuangan

Sampah rumah tangga dibuang atau di timbun di tanah


39

sampah
10.

kosong samping rumah. Bila sampah telah banyak di

Lingkungan sekitar

bakar
Di depan rumah terdapat rumah tetangga.

rumah

Disamping kanan terdapat rumah tetangga.


Di samping kiri terdapat kandang bebek dan timbunan
sampah yang akan di bakar
Sedangkan dibelakang terdapat rumah warga

1.3.4.1 Masalah di keluarga Tn. Sanusi


1. Kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang benar
2. Kurangnya pengetahuan mengenai rumah sehat
3. Kurangnya ventilasi di rumah
4. Kurangnya pencahayaan di dalam rumah
5. Tidak terdapat jamban di dalam rumah
6. Kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
7. Kebiasaan merokok pada ayah
8. Kurangnya kebersihan di lingkungan sekitar
9. Kurangnya pengetahuan tentang mengolah sampah
10. Kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan lingkungan

40

1.3.5 Keluarga Tn. Ratib


a. Data Dasar Keluarga Tn. Ratib
Keluarga binaan Tn. Ratib terdiri dari tiga anggota keluarga, yaitu keluarga Tn. Ratib
sebagai kepala keluarga, istrinya bernama Ny. Aci , dan tiga orang anaknya bernama Karmila,
Pipi, dan Anisa.
Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Tn. Ratib
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

47
43

SMA
SMP

Pedagang
Ibu Rumah

SMA
SMP

Tangga
Kader
Ibu Rumah

SD

tangga
Pelajar

(L/P)
1.
2.
3.
4.
5.

Tn.
Ny.
Karmila
Pipi N
Anisa S

Kepala Keluarga
Istri
Anak
Anak
Anak

L
P
P
P
P

25
20
13

Keluarga Tn. Ratib bertempat tinggal di Kampung Sukasari , Desa Pangkalan, RT 002
RW 004, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn.
Ratib sebagai kepala keluarga, bekerja sebagai pedagang dengan jam kerja dari jam 07.00
sampai jam 10.00, Tn. Ratib berpenghasilan tiap bulan kurang lebih Rp. 1.000.000 -,
Pendidikan terakhir Tn. Ratib adalah pedagang.
Ny. Aci sebekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Pendidikan terakhir Ny. Aci adalah SMP.
Keluarga ini memiliki tiga orang anak dengan anak yang paling tua adalah Ny. Karmila
yang berusia 25 tahun pendidikan terakhir SMA, namun tidak melanjutkan ke perkuliahan
karena lebih memilih untuk bekerja. Ny. Karmila sudah menikah dan memiliki dua orang
anak, beliau tinggal dirumah sendiri bersama suami dan kedua anaknya. Anak kedua Ny. Pipi
yang berusia 20 tahun pendidikan terakhir SMP, tidak melanjutkan ke pendidikan SMA
dikarenakan lebih memilih untuk bekerja mengikuti kakaknya. Ny. Pipi sudah menikah dan
belum mempunyai anak. Beliau tinggal bersama suaminya di rumah mertuanya. Anak ketiga
An. Anisa yang berusia 13 tahun, dan sekarang masih bersekolah di SMP kelas 1.

41

b. Bangunan Tempat Tinggal


Keluarga Tn. Ratib tinggal di perumahan yang tidak terlalu padat. Rumah ini milik
sendiri, dengan luas tanah sekitar 120 m2 dan luas bangunan berukuran

10 m x 6 m.

Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat, bagian ruang depan berlantai keramik, bagian
belakang seperti dapur dan sumur berlantai semen, beratap genteng dan tidak berflafon ,
dindingnya terbuat dari tembok dan setiap ruangan dibatasi oleh dinding beranyaman bambu.
Ventilasi terdapat di atas pintu masuk rumah dan juga terdapat di bagian ruangan tv. Disetiap
ruangan terdapat penerangan.
Ketersediaan dicukupi dengan pasokan dari air sumur untuk digunakan sebagai cuci
pakaian dan piring serta digunakan untuk mandi, sedangkan untuk minum dan makan
terkadang keluarga Tn. Ratib menggunakan air galon isi ulang.
Saluran air limbah (tersedia) dirumah ini dan dialirkan langsung ke got disamping rumah.

Depan
Gambar 1.4 Denah Rumah Tn. Ratib
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah Tn.Ratib terletak di pemukiman yang tidak terlalu padat penduduk. Di bagian
depan terdapat jalan, bagian belakang terdapat rumah warga. Di bagian kanan terdapat rumah
warga yang dibatasi oleh jalan. Di bagian kiri terdapat tanah kosong yang dijadikan tempat
untuk pembuangan sampah dan pembakaran sampah
42

d. Pola Makan
Keluarga Tn. Ratib memiliki kebiasaan makan kurang lebih dua kali perhari. Lebih
memilih menu makanan yang pedas dan lebih suka lauk pauk yang direbus dan terkadang di
goreng. Kurang mengkonsumsi buah. Kurang mengkonsumsi sayur karena keluarga Tn. Ratib
lebih sering mengkonsumsi telur. Konsumsi protein hewani bersumber dari ikan sedangkan
konsumsi daging jarang.
Keluarga Tn. Ratib

memilih air yang dimasak sendiri untuk konsumsi minumnya,

dengan kebiasaan minum kurang lebih 1L perhari. Mengkonsumsi kopi hanya Tn. Ratib dan
Ny. Aci dengan jumlah kurang lebih dua gelas perhari.
Menurut hasil prasurvai pada keluarga Tn. Ratib didapatkan kurang nya tentang
pengetahuan pola makan sehat. Keluarga Tn. Ratib tidak mengetahui apa itu yang dimaksud
dengan makanan sehat, menurut mereka, makan nasi dengan lauk seperti telur yang mereka
makan sehari-hari itu sudah cukup. Istri dari Tn.ratib yaitu Ny. Aci juga tidak mengetahui apa
itu makanan sehat. Tn. Ratib dan Ny. Aci tidak mengetahui apa itu makanan yang
mengandung protein, karbohidrat maupun lemak.
e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Anak pertama pasangan Tn. Ratib dan Ny. Aci adalah anak perempuan berusia 25 tahun.
Lahir normal di bidan dengan usia kandungan cukup bulan, pertumbuhan normal sesuai usia,
berhenti minum ASI saat usia 8 tahun.
Anak kedua berjenis kelamin perempuan berusia 20 tahun. Lahir normal) di bidan dengan
usia kandungan cukup bulan, pertumbuhan normal sesuai usia, berhenti minum ASI saat usia
6 tahun.
Anak ketiga berjenis kelamin perempuan berusia 13 tahun. Lahir normal di paraji dengan
usia kandungan cukup bulan, pertumbuhan normal sesuai usia, berhenti minum ASI saat usia
dua tahun.
f. Kebiasaan Berobat
Ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini biasanya hanya membeli obat di
warung untuk meredakan gejala penyakitnya karena memikirikan biaya untuk berobat, dan
apabila gejala tidak kunjung sembuh mereka pergi berobat ke puskesmas atau klinik terdekat.
g. Riwayat Penyakit
Penyakit yang sering diderita anggota keluarga Tn. Ratib adalah panas badan, batuk, dan
pilek.
43

h. Perilaku Dan Aktivitas Sehari-Hari


Di keluarga ini ada yang berkebiasaan merokok dan ada memiliki kebiasaan berolahraga.
Tiap anggota keluarga mandi kurang lebih 2 kali sehari dan memiliki kebiasaan mencuci
tangan sebelum makan dan sesudahnya. Keluarga ini memiliki kebiasaan suka memakan
makanan yang pedas, makanan yang digoreng, Ny. Aci setiap sore sering membuat gorengan
untuk cemilan sore hari dan jarang mengkonsumsi sayuran juga buah. Kebiasaan minum air
putih kurang lebih 1L perhari.
Tabel 1.9 Faktor Internal Keluarga Tn. Ratib
No
1
2

Faktor Internal
Kebiasaan Merokok
Olah raga

Pola Makan

Permasalahan
Tn. Ratib merokok
Sebagian anggota keluarga memiliki

kebiasaan

berolahraga.
Keluarga Tn. Ratib memiliki kebiasaan makan kurang
lebih dua kali perhari. Lebih memilih menu makanan
yang pedas dan lebih suka lauk pauk yang direbus dan
terkadang di goreng. Kurang mengkonsumsi buah.
Kurang mengkonsumsi sayur karena keluarga Tn. Ratib
lebih sering mengkonsumsi telur. Konsumsi protein
hewani bersumber dari ikan sedangkan konsumsi
daging jarang.
Keluarga Tn. Ratib memilih air yang dimasak sendiri
untuk konsumsi minumnya, dengan kebiasaan minum
kurang lebih 1L perhari. Mengkonsumsi kopi hanya Tn.
Ratib dan Ny. Aci dengan jumlah kurang lebih dua
gelas perhari.
Menurut hasil prasurvai pada keluarga Tn. Ratib
didapatkan kurang nya tentang

pengetahuan pola

makan sehat. Keluarga Tn. Ratib tidak mengetahui apa


itu yang dimaksud dengan makanan sehat, menurut
mereka, makan nasi dengan lauk seperti telur yang
mereka makan sehari-hari itu sudah cukup. Istri dari
44

Tn.ratib yaitu Ny. Aci juga tidak mengetahui apa itu


makanan sehat. Tn. Ratib dan Ny. Aci tidak
mengetahui apa itu makanan yang mengandung
protein, karbohidrat maupun lemak.
4

5
6

Pola Pencarian

Apabila sakit, mereka hanya membbeli obat di warung,

Pengobatan

dan apabila gejala tidak membaik mereka berobat ke

Menabung
Aktivitas sehari-hari

puskesmas atau klinik terdekat.


Mereka tidak pernah menabung.
a. Bapak bekerja sebagai pedagang, bekerja setiap hari
dari jam 07.00 sampai jam 10.00
b. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
c. Anak pertama perempuan berusia 25 tahun, lulus SMA,
tidak melanjutkan ke perkuliahan dan sudah menikah.
d. Anak kedua perempuan berusia 20 tahun, lulus SMP,
tidak melanjutkan ke SMA dan sudah menikah.
e. Anak ketiga perempuan berusia 13 tahun, lulus SD,

Alat kontrasepsi

melanjutkan ke SMP. Dan belum menikah.


Tidak menggunakan alat kontrasepsi

Tabel 1.10 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Ratib


No

Kriteria

Permasalahan

1.

Luas Bangunan

Luas rumah 10 x 6 m2

2.

Ruangan dalam rumah

Didalam Rumah terdapat :


a. Ruang tamu yang berukuran 3 x 2m2.
b. Dua kamar tidur, masing-masing

didalamnya

terdapat satu buah tempat tidur. Kamar hanya


dibatasi oleh dinding yang terbuat dari anyaman
bambu.

Masing-masing

kamar

tidak

terdapat

ventilasi udara.
c. Dapur berukuran 2 x 2 m2 dan tanpa ventilasi udara.
d. Mempunyai kamar mandi, yang di dalam nya
terdapat sumur, yang airnya dipergunakan untuk
45

3.

Jamban

mandi dan mencuci.


e. Tidak mempunyai jamban.
Keluarga Tn. Ratib tidak memiliki jamban di rumahnya

4.

Ventilasi

Terdapat ventilasi udara pada ruang tamu dan tidak


terdapat ventilasi udara pada ruang kamar tidur.

5.

Pencahayaan

a. Terdapat lampu pencahayaan yang baik di tiap


kamar tidur.
b. Terdapat lampu pada ruang tamu
c. Tidak terdapat lampu pada dapur dan pada kamar

6.

MCK

mandi
Memiliki

satu

kamar

mandi

yang

letaknya

bersampingan dengan dapur , tidak memiliki jamban di


7.

Sumber Air

kamar mandi
Dalam kesehariannya Tn.ratib menggunakan air sumur.
Untuk kebutuhan air minum sehari-hari dan memasak,

8.

Saluran pembuangan

dari air sumur.


Terdapat saluran pembuangan limbah, air limbah

9.

limbah
Tempat pembuangan

dialirkan ke got
Sampah rumah tangga dibuang di samping rumah, dan

10.

sampah
Lingkungan sekitar

kemudian dibakar.
Di depan rumah terdapat halaman dan rumah warga

rumah

yang dibatasi oleh jalan setapak. Disamping kanan


terdapat rumah yang dibatasi oleh jalan. Di samping
kiri terdapat tanah kosong yang digunakan warga untuk
tempat pengumpulan sampah dan pembakaran sampah.
Sedangkan dibelakang terdapat rumah warga serta
kandang yang sudah tidak terpakai.

1.3.5.1. Masalah pada keluarga binaan Tn. Ratib


1. Dapur bercampur dengan jemuran baju, dan perlengkapan rumah lainnya.
2. Peralatan dapur tidak disusun dengan baik, hanya dibiarkan berantakan dibawah
dapur dan sebagian ada yang ditaruh di samping sumur.
3. Dapur hanya berlantai tanah.
4. Dinding belakang dapur sebagian hanya dilapasi asbes.
5. Pada kamar pertama dan kamar kedua tidak terdapat ventilasi
46

6. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya ventilasi pada rumah


7. Hanya terdapat satu lampu untuk menerangi masing-masing kamar
8. Pada teras rumah terdapat tumpukan barang yang tidak terpakai seperti tumpukan
kayu, tumpukan kaleng bekas dan terdapat satu kadang yang sudah tidak terpakai.
9. Kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat
10. Kurangnya mengkonsumsi sayur dan buah-buahan pada keluarga.
11. Kurang nya tempat pembuangan sampah pada rumah.
12. Kurangnya pengetahuan tentang pengolahan limbah sampah rumah tangga.
13. Dinding-dinding kamar hanya dibatasi oleh anyaman bamboo.
14. Tidak terdapatnya plafon pada ruang keluarga.
15. Tidak terdapat jamban pada kamar mandi.
16. Prilaku buang air besar di jamban atau dikali.
17. Kebiasaan merokok pada kepala keluarga yaitu Tn. Ratib
18. Minim nya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
19. Tidak adanya kebiasaan menabung pada keluarga
20. Pada keluarga Tn. Ratib sering menderita sakit kepala dan panas badan.
1.3.6. Keluarga Ny. Surti
a. Data Dasar keluarga Ny. Surti
Rumah keluarga ini terletak di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, kec. Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang. Rumah keluarga tersebut dihuni oleh tujuh anggota keluarga yaitu Ny.
Surti sebagai kepala keluarga dengan dua orang anak yang bernama Sulaeman dan Juleha,
serta keluarga kakak Ny. Surti yang bernama Ny. Ersa, beserta suaminya yang bernama Tn.
Edo, dan anaknya yang bernama Aisah. Selain itu terdapat satu orang keponakan Ny. Ersa
yang bernama Ny. Ida.
Tabel. 1.8 Data Dasar Keluarga Ny. Surti
No

Nama

Status Keluarga

Jenis

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Kelamin

(tahun)

Terakhir

48

SD

Ibu Rumah

(L/P)
1.

Ny. Surti

2.

An. Sulaeman

3.

An. Juleha

4.

Ny. Ersa

Kepala Keluarga

Anak Pertama

17

SMP

Tangga
Buruh

Anak Kedua

SD (belum

Pabrik
Pelajar

Adik Ny. Surti

37

tamat)
SD

Pembantu
Rumah

47

5.

Tn. Edo

Suami Ny. Ersa

30

SD

Tangga
Buruh

6.

An. Aisyah

Anak Ny. Ersa

12

SD

bangunan
-

dan Tn. Edo


Ny. Surti berusia 48 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan Suaminya
meninggal sekitar 5 tahun yang lalu. Ny. Surti mendapatkan perdapatan dari anaknya yang
bernama Sulaeman yang bekerja di Pabrik, dengan pendapatan perbulan Rp 600.000,00.
Selain itu sumber pendapatan Ny. Surti dibantu oleh kakaknya yaitu Ny. Ersa yang bekerja
sebagai asisten rumah tangga, dengan penghasilan perminggu sebesar Rp 150.000,00, dan
suami Ny. Ersa yang bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan perminggu sebesar
Rp 350.000,00.
Hasil pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,
seperti membeli makanan, membayar biaya sekolah, dan membayar listrik. Ny. Surti hanya
bersekolah hingga kelas 6 SD, diakuinya pendidikan tidak dilanjutkan karena masalah
keuangan. Ny. Surti tidak memiliki kebiasaan menabung karena pendapatannya hanya
mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Adik Ny. Surti, yang bernama Ny. Ersa bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah
keluarga di daerah Dadap, setiap harinya Ny. Ersa berangkat dari rumah pukul 07.00 pagi dan
kembali ke rumah pukul 12.00 siang. Pendapatan yang diperoleh oleh Ny. Ersa perminggu
adalah Rp 150.000,00.
Suami Ny. Ersa yang bernama Tn. Edo bekerja sebagai kuli bangunan. Setiap harinya Tn.
Edo berangkat dari rumah pukul 07.00 pagi dan kembali ke rumah pukul 17.00. Pendapatan
yang dihasilkan Tn. Edo tidak menetap, namun jika sedang ada pekerjaan sebagai kuli, Tn.
Edo mendapatkan pendapatan sebesar Rp 350.000,00 perminggu.
Anak pertama Ny. Surti adalah seorang perempuan, bernama Sulaeman yang sekarang
berusia 17 tahun. Sulaeman hanya mendapat pendidikan hingga tingkat SMP, setelah itu
Sulaeman berhenti sekolah dan bekerja di pabrik.
Anak kedua Ny. Surti bernama Juleha berusia 8 tahun, saat ini sedang menempuh
pendidikan sekolah dasar kelas 3.
Anak pertama pasangan Ny. Ersa dan Tn. Edo bernama Aisyah berusia 12 tahun, saat ini
menempuh pendidikan sekolah menengah pertama kelas 1.
b. Bangunan Tempat Tinggal
48

Keluarga Ny. Ersa tinggal di rumah sendiri dengan luas bangunan berukuran 10x4 m.
Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang keluarga yang berukuran
2x4 m, memiliki dua kamar tidur yang masing-masing berukuran 2x2 m, memiliki dapur
berukuran 2x2 m, tidak memiliki kamar mandi, tidak memiliki jamban, memiliki sumur di
area belakang rumah.
Ruang keluarga, serta kedua kamar berlantaikan ubin, beratapkan genteng tanpa plafon,
dan seluruh dinding masih berupa anyaman bambu Untuk ventilasi, rumah ini tidak memiliki
ventilasi, rumah ini hanya memiliki satu pintu depan. Untuk penerangan, rumah ini hanya
memiliki satu buah lampu. Didalam rumahnya keluarga Tn. Macing hanya memiliki barang
elektronik berupa televisi dengan antenna.
Belakang

Depan
Gambar 1.4 Denah Rumah Ny. Surti
c. Lingkungan Pemukiman
Rumah ini terletak di tengah pemukiman padat, depan, belakang dan samping rumah
terdapat rumah tetangga yang berjarak 1,5 m dari rumah keluarga Ny. Surti.
d. Pola Makan
Keluarga Ny. Surti tidak mengetahui mengenai pola makan sehat, sehingga dalam urusan
makan biasanya keluarga Ny. Surti tidak memikirkan apakah yang dimakan sudah memenuhi
kebutuhan nutrisi atau tidak. Biasanya keluarga Ny. Surti hanya memakan makanan yang bisa
dibeli sesuai dengan uang yang dimiliki saat itu. Lauk yang dimakan pun hanya berupa nasi,
sayur dan tahu tempe, sedangkan untuk lauk ikan dan daging biasanya sangat jarang
dikonsumsi. Keluarga Ny. Surti tidak pernah memikirkan seberapa penting adanya lauk
49

seperti ikan dan daging karena tidak mengetahui ada kandungan apa saja di dalam ikan atau
daging. Sedangkan untuk buah dan susu juga jarang dikonsumsi oleh keluarga Ny. Surti
karena keluarganya tidak mengetahui apa saja manfaat konsumsi buah dan susu, sehingga
keluarga Ny. Surti menganggap konsumsi buah dan susu tidaklah penting.
Dilingkungan keluarga Ny. Surti tidak pernah ada kegiatan yang membahas mengenai
pola makan sehat baik yang diadakan oleh masyarakat sekitar ataupun tenaga kesehatan. Dari
segi media informasi pun keluarga Ny. Surti mengatakan tidak pernah menerima informasi
apapun tentang pola makan.
e. Riwayat Obstetrik dan Pola Asuh Ibu dan Anak
Selama mengandung Ny. Surti tidak pernah mengalami sakit atau kelainan pada
kandungannya. Ny. Surti kontrol untuk kehamilannya di posyandu kurang lebih 7 kali dan
melahirkan anak pertamanya di bidan dan Ny. Surti mengatakan bahwa kedua anaknya
mendapat imunisasi. Ny. Surti mengaku bahwa anaknya mendapatkan ASI sampai dengan
usia 1 tahun.
f. Kebiasaan Berobat
Menurut penuturan Ny. Surti ketika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga ini
biasanya hanya meminum obat warung. Namun jika dirasakan penyakitnya cukup parah maka
meraka pergi berobat ke puskesmas.
g. Riwayat Penyakit
Ny. Surti mengaku seluruh anggota keluarga jarang ada yang sakit. Jika ada yang sakit
biasanya berupa demam, batuk dan pilek.
h. Perilaku dan Aktivitas Sehari- hari
Ny. Surti memiliki aktivitas sehari-hari yaitu bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Sedangkan anggota keluarga lain yaitu anaknya yang bernama Sulaeman bekerja pukul 07.00
sampai 16.00.
Di rumah tersebut hanya Tn. Edo yang memiliki kebiasaan merokok. Tn. Edo
biasanyamerokok di luar rumah atau di teras, dan rata-rata dapat menghabiskan kurang lebih
satu sampai dua bungkus dalam sehari. Aktivitas sehari-hari Ny. Ersa yaitu bekerja di sebuah
keluarga di Desa Dadap sebagai asisten rumah tangga. Aktivitas sehari-hari Juleha adalah di
rumah, kadang hanya menonton tv dan kadang berkumpul atau bermain dengan temantemannya di rumah. Sedangkan anak Ny. Ersa bernama Aisyah kegiatannya adalah bersekolah
dari pagi hingga siang hari lalu saat pulang sekolah Juleha bermain dengan teman sebayanya
50

yang berada di sekitar Rumah. Keluarga Ny. Surti tidak ada yang memiliki kebiasaan
berolahraga.
Keluarga Ny. Surti biasa mencuci tangan menggunakan air tanpa sabun sebelum makan.
Keluarga Ny. Surti menggunakan alas kaki saat keluar rumah. Keluarga Ny. Surti memiliki
sumber air sendiri yaitu berasal dari sumur yang berada di bagian belakang rumahnya,
digunakan untuk mencuci baju, piring dan juga untuk minum.
Keluarga Ny. Surti biasa membuang sampah di pekarangan sekitar rumah. Untuk
pembuangan limbah cair maupun padat keluarga Ny. Surti biasa membuangnya ke tanah
disekitar perkarangan rumah.
Rumahnya tidak memiliki jamban, sehingga untuk BAB dan BAK biasanya keluarga Ny.
Surti melakukannya di jamban umum yang berada di kebon.

Tabel.1.17 Faktor Internal Keluarga Ny. Surti


No
1

Kriteria
Kebiasaan Merokok

Permasalahan
Tn. Edo memiliki kebiasaan merokok sejak umur
belasan tahun, biasanya Tn. Macing menghabiskan dua

Olah raga

bungkus rokok dalam sehari


Semua anggota keluarga tidak memiliki kebiasaan

Pola Makan

berolahraga.
Keluarga Ny. Surti tidak mengetahui mengenai
pola makan sehat, sehingga dalam urusan makan
biasanya keluarga Ny. Surti tidak memikirkan apakah
yang dimakan sudah memenuhi kebutuhan nutrisi atau
tidak. Biasanya keluarga Ny. Surti hanya memakan
makanan yang bisa dibeli sesuai dengan uang yang
dimiliki saat itu. Lauk yang dimakan pun hanya berupa
nasi, sayur dan tahu tempe, sedangkan untuk lauk ikan
dan daging biasanya sangat jarang dikonsumsi.
Keluarga Ny. Surti tidak pernah memikirkan seberapa
penting adanya lauk seperti ikan dan daging karena
51

tidak mengetahui ada kandungan apa saja di dalam


ikan atau daging. Sedangkan untuk buah dan susu juga
jarang dikonsumsi oleh keluarga Ny. Surti karena
keluarganya tidak mengetahui apa saja manfaat
konsumsi buah dan susu, sehingga keluarga Ny. Surti
menganggap konsumsi buah dan susu tidaklah penting.
Dilingkungan keluarga Ny. Surti tidak pernah ada
kegiatan yang membahas mengenai pola makan sehat
baik yang diadakan oleh masyarakat sekitar ataupun
tenaga kesehatan. Dari segi media informasi pun
keluarga Ny. Surti mengatakan tidak pernah menerima
informasi apapun tentang pola makan.
4

5
6

Pola Pencarian

Bila sakit, keluarga ini hanya mengonsumsi obat

Pengobatan

warung namun jika sakit dirasakan parah keluarga akan

Menabung
Aktivitas sehari-hari

pergi ke Puskesmas.
Keluarga ini tidak memiliki tabungan.
a. Ny. Surti bekerja sebagai Ibu rumah tangga
b. Sulaeman bekerja sebagai buruh pabrik pukul 07.00
sampai 16.00.
c. Ny. Ersa bekerja sebagai asisten rumah tangga dan
berangkat pukul 07.00 sampai pukul 12.00 siang.
d. Tn. Edo bekerja sebagai buruh bangunan dari pukul

7.

Alat kontrasepsi

07.00 sampai pukul 17.00.


e. Aisyah bersekolah di SMP tidak jauh dari rumah.
f. Juleha bersekolah SD tidak jauh dari rumah.
Ny. Surti menggunakan kontrasepsi

Tabel 1.18Faktor Eksternal Keluarga Ny. Surti


No

Kriteria

1.

Luas Bangunan

Permasalahan
Luas tanah sekitar 45m2
Luas bangunan 40m2

52

2.

Ruangan dalam rumah

Rumah

memiliki

dua

kamar,

masing-masing

berukuran 2x2, sebuah ruang keluarga atau ruang TV


berukuran 2x4 m, di bagian belakang terdapat dapur
yang berukuran 2x2m dan sebuah sumur berukuran
4x3m.
3.

Ventilasi

Pintu depan sebagai ventilasi utama, terdapat 1


jendala pada ruang keluarga.

4.

Pencahayaan

Hanya terdapat 1 lampu pencahayaan berwarna putih


di ruang keluarga

5.

MCK

6.

Sumber Air

Tidak memiliki kamar mandi dan jamban keluarga.


Dalam kesehariannya Ny. Surti menggunakan air
sumur untuk mencuci pakaian dan alat makan,
mandi, dan minum.

7.

Saluran pembuangan
limbah

8.

Tempat pembuangan

Tidak terdapat saluran pembuangan limbah, air


limbah dialirkan selokan depan rumah.
Tidak ada tempat pembuangan sampah terdekat.

sampah
9.

Lingkungan sekitar

Di bagian depan terdapat jalan setapak dan rumah

rumah

tetangga, bagian belakang serta kiri kanan terdapat


rumah penduduk lainnya dan jalan setapak dengan
jarak 1 m.

1.3.6.1.

Masalah Pada Keluarga Binaan Ny. Surti


1. Tidak tersedianya jamban dan kamar mandi.
2. Pencahayaan rumah serta pengetahuan tentang pencahayaan pada rumah sehat
3.
4.
5.
6.

yang sangat kurang.


Keadaan dapur yang tidak bersih.
Kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang benar.
Tidak ada tabungan keluarga.
Tidak terdapat ventilasi pada rumah
53

7. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya ventilasi udara


8. Kurangnya pengetahuan akan rumah sehat pada keluarga binaan.
9. Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir sebelum dan setelah makan, setelah buang air, maupun setelah
melakukan aktifitas di luar rumah.
10. Kurangya sarana sanitasi lingkungan di rumah, seperti bak tempat sampah di luar
dan dalam rumah.
11. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran keluarga binaan untuk mengelolaan
limbah rumah tangga.
12. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
13. Perilaku yang tidak mau berolahraga
14. Kebiasaan merokok pada Tn. Edo.
15. Minimnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
1.4.

Penentuan Area Masalah

1.4.1 Rumusan Area Masalah Keluarga Binaan


Dalam menentukan area masalah, langkah awal yang dilakukan peneliti adalah
melakukan observasi dan wawancara dengan tenaga kesehatan di daerah keluarga binaan,
berdasarkan data yang terdapat di puskesmas serta program-program yang ada dan mencari
prioritas permasalahan berdasarkan data yang ada. Setelah mendapatkan data dari puskesmas,
peneliti berkunjung ke keluarga binaan masing-masing. Setiap peneliti menemukan area
masalah pada masing-masing keluarga binaan.
Tabel 1.9 Data Permasalahan Medis dan Non Medis yang Ditemukan Pada MasingMasing Keluarga Binaan
No.
1.

Keluarga
Tn. Senen

Jenis Permasalahan
Permasalahan Medis :
Tidak ditemukan permasalahan medis
Permasalahan Non-Medis :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kurangnya pengetahuan tentang rumah sehat


Tidak terdapat jamban pada rumah
Perilaku buang air besar (BAB) pada jamban di kali.
Tidak terdapat ventilasi maupun jendela pada rumah
Pencahayaan di dalam rumah tidak memadai
Kurangnya pengetahuan tentang jamban sehat
Kurangnya pengetahuan tentang pentingnya ventilasi
54

di rumah
8. Pengetahuan tentang pencahayaan pada rumah sehat
sangat kurang
9. Tidak tersedianya tempat pembuangan sampah yang
memadai di rumah.
10. Tidak tersedianya saluran pembuangan air limbah
yang memadai di rumah
11. Tidak terdapat plafon pada rumah
12. Kurangnya pengetahuan mengenai pola makan dan
makanan sehat
13. Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan
setelah makan, setelah buang air, maupun setelah
melakukan aktifitas di luar rumah.
14. Kurangnya sarana sanitasi lingkungan di rumah,
seperti bak tempat sampah di luar dan dalam rumah,
saluran pembuangan air limbah yang tidak memadai.
15. Kurangnya pengetahuan mengenai saran pembuangan
air limbah dan sampah rumah tangga.
16. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu
17. Minimnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan

2.

Tn. Indra

sehari-hari
18. Perilaku yang tidak mau berolahraga
19. Seringnya konsumsi makanan instan
20. Perilaku minum kopi yang terbilang cukup sering
Permasalahan Medis :
Tidak ditemukan permasalahan medis
Permasalahan Non-Medis :
1. Tidak tersedianya tempat pembuangan sampah yang
memadai
2. Pencahayaan

rumah

serta

pengetahuan

tentang

pencahayaan pada rumah sehat yang sangat kurang.


3. Perilaku mencuci pakaian di kali yang terdapat
jamban.
4. Tidak ada tabungan keluarga.
5. Kurang nya ventilasi pada rumah
55

6. Kurangnya pengetahuan mengenai makanan sehat


7. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya ventilasi
udara
8. Kurangnya pengetahuan akan rumah sehat pada
keluarga binaan.
9. Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan
setelah makan, setelah buang air, maupun setelah
melakukan aktifitas di luar rumah.
10. Kurangya sarana sanitasi lingkungan di rumah,
seperti bak tempat sampah di luar dan dalam rumah.
11. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran keluarga
binaan untuk mengelolaan limbah rumah tangga.
12. Dinding rumah yang terbuat dari kayu dan atap

3.

Tn. Joni

rumah dari karung.


13. Perilaku yang tidak mau berolahraga
Permasalahan Medis :
Tidak ditemukan permasalahan medis
Permasalahan Non-Medis :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

4.

Tn. Sanusi

Kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat


Tidak adanya ventilasi di rumah
Kurangnya pencahayaan di dalam rumah
Adanya jamban di dalam rumah
Kurangnya kepedulian terhapat kesehatan
Kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan

sehari-hari
7. Kebiasaan merokok pada ayah
8. Kurangnya kebersihan di lingkungan sekitar
9. Kurangnya pengetahuan tentang mengolah sampah
Permasalahan Medis :
Tidak ditemukan permasalahan medis

5.

Tn. Ratib

Permasalahan Non-Medis
Permasalahan Medis :
Tidak ditemukan permasalahan medis

56

Permasalahan Non-Medis :
1. Dapur

bercampur

dengan

jemuran

baju,

dan

perlengkapan rumah lainnya.


2. Peralatan dapur tidak disusun dengan baik, hanya
dibiarkan berantakan dibawah dapur dan sebagian ada
yang ditaruh di samping sumur.
3. Dapur hanya berlantai tanah.
4. Dinding belakang dapur sebagian hanya dilapasi
asbes.
5. Pada kamar pertama dan kamar kedua tidak terdapat
ventilasi
6. Kurangnya pengetahuan akan pentingnya ventilasi
pada rumah
7. Hanya terdapat satu lampu untuk menerangi masingmasing kamar
8. Pada teras rumah terdapat tumpukan barang yang
tidak terpakai seperti tumpukan kayu, tumpukan
kaleng bekas dan terdapat satu kadang yang sudah
tidak terpakai.
9. Kurang pengetahuan pola makan sehat pada keluarga.
10. Kurangnya mengkonsumsi sayur dan buah-buahan
pada keluarga.
11. Kurang nya tempat pembuangan sampah pada rumah.
12. Kurangnya pengetahuan tentang pengolahan limbah
sampah rumah tangga.
13. Dinding-dinding kamar hanya dibatasi oleh anyaman
bamboo.
14. Tidak terdapatnya plafon pada ruang keluarga.
15. Tidak terdapat jamban pada kamar mandi.
16. Prilaku buang air besar di jamban atau dikali.
17. Kebiasaan merokok pada kepala keluarga yaitu Tn.
Ratib
18. Minim nya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
19. Tidak adanya kebiasaan menabung pada keluarga
20. Pada keluarga Tn. Ratib sering menderita sakit kepala
6.

Ny. Surti

dan panas badan.


Permasalahan Medis :
57

Tidak ditemukan permasalahan medis


Permasalahan Non-Medis :
1. Tidak tersedianya jamban dan kamar mandi.
2. Pencahayaan
rumah
serta
pengetahuan
3.
4.
5.
6.
7.
8.

tentang

pencahayaan pada rumah sehat yang sangat kurang.


Keadaan dapur yang tidak bersih.
Kurangnya pengetahuan tentang pola makan yang benar.
Tidak ada tabungan keluarga.
Tidak terdapat ventilasi pada rumah
Kurangnya pengetahuan akan pentingnya ventilasi udara
Kurangnya pengetahuan akan rumah sehat pada keluarga

binaan.
9. Kurangnya kesadaran keluarga binaan untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah
makan, setelah buang air, maupun setelah melakukan
aktifitas di luar rumah.
10. Kurangya sarana sanitasi lingkungan di rumah, seperti bak
tempat sampah di luar dan dalam rumah.
11. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran keluarga binaan
12.
13.
14.
15.

untuk mengelolaan limbah rumah tangga.


Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
Perilaku yang tidak mau berolahraga
Kebiasaan merokok pada Tn. Edo.
Minimnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan seharihari.

Tabel 1.17 Hasil pre survey yang dilakukan pada ke enam keluarga binaan dengan menilai aspek
pengetahuan, sikap dan perilaku.
No.
1.

2.

Variabel
Pengetahuan

Sikap

Hasil Ukur

Jumlah

Persentase

Baik

(keluarga)
0

0%

Cukup

33,33 %

Kurang

66,67 %

Total
Baik

6
4

100%
66,67 %

Tidak Baik

33,33 %

58

3.

1.4.1

Perilaku

Total
Melakukan

6
4

100 %
66,67 %

Tidak melakukan

33,33 %

Total

100 %

Penetapan Area Masalah Sebagai Diagnosis Komunitas


Dalam pengambilan sebuah masalah kelompok kami menggunakan Metode
Delphi. Metode Delphi merupakan suatu teknik membuat keputusan yang dibuat oleh
suatu kelompok, dimana anggotanya terdiri dari para ahli atas masalah yang akan
diputuskan. Proses penetapan Metode Delphi dimulai degan identifikasi masalah yang
akan dicari penyelesaiannya (Harold, et all, 1975 : 40-55).

Gambar 1.7 Alur penentuan masalah dengan metode Delphi

59

Dari sekian masalah yang ada pada keluarga binaan, peneliti memutuskan untuk
mengangkat permasalahan mengenai pola makan sehat pada keluarga binaan RT 03
RW 04 Kampung Sukasari Desa Pangkalan Kabupaten Tangerang Propinsi Banten.
Selanjutnya, dilakukan pre survey pada keluarga binaan untuk menilai aspek
pengetahuan, sikap, dan perilaku dari keluarga binaan yang berhubungan dengan pola
makan sehat. Hasil dari pre survey dapat dilihat pada Tabel 1.17.
Dari sekian masalah yang ada pada keluarga binaan, maka dilakukanlah diskusi
kelompok dan merumuskan serta menetapkan area masalah Pengetahuan Tentang Pola
Makan Sehat Pada Keluarga Binaan di RT 02 RW 04 Kampung Sukasari Desa
Pangkalan Kecamatan Teluk Naga Kabupaten Tangerang Provinsi Banten Periode 13
Oktober 24 Oktober 2015.
1.4.2 Alasan Pemilihan Area Masalah

Pemilihan area masalah kesehatan ini didasarkan atas berbagai pertimbangan,


yaitu :
1. Berdasarkan data sekunder dari data puskesmas tahun 2015 yang menyatakan
bahwa persentase gizi kurang 12,1% yaitu 395 balita dari 3271 balita yang di
timbang, sedangkan persentase gizi buruk 2,4% yaitu 77 balita dari 3271 balita
yang ditimbang. Dari keenam desa tersebut, Desa Pangkalan, yang merupakan desa
tempat keluarga binaan peneliti, memiliki angka kejadian gizi buruk dan gizi kurang
tertinggi. Tingginya angka kejadian gizi kurang dan gizi buruk tersebut dapat
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pengetahuan, ketersediaan sarana dan
prasarana, serta pola makan yang tidak sehat.
2. Berdasarkan hasil pre survey yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner
dengan cara wawancara terpimpin didapatkan bahwa pengetahuan keenam keluarga
binaan tentang pola makan sehat termasuk dalam kategori kurang, yaitu dengan
persentase sebesar 66,67 %.
3. Dari hasil wawancara dengan keluarga binaan, didapatkan keterangan mengenai
kurangnya sosialisasi mengenai pola makan sehat di daerah tempat tinggalnya,

60

sehingga menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pola makan


sehat.

61

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diagnosis dan Intervensi Komunitas
Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan
adanya suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat dengan cara pengumpulan
data di lapangan dan kemudian melakukan intervensi sesuai dengan permasalahan yang
ada. Diagnosis dan intervensi komunitas merupakan suatu prosedur atau keterampilan dari
ilmu kedokteran komunitas. Dalam melaksanakan kegiatan diagnosis dan intervensi
komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi sasaran adalah komunitas atau sekelompok
orang sehingga dalam melaksanakan diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh
pengetahuan ilmu kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian,
manajemen kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan
kerja dan gizi).
2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2005) Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau
hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai


menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera
pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Harahap, 2012)
Pengetahuan (knowledge) adalah suatu proses dengan menggunakan pancaindra
yang dilakukan seseorang terhadap objek tetentu dapat menghasilkan pengetahuan dan
keterampilan. Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses
pembelajaran. (Wulan, 2011)
2.2.2 Jenis Pengetahuan
Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalam konteks kesehatan sangat
beraneka ragam. Pengetahuan merupakan bagian perilaku kesehatan. (Harahap, 2012)
62

Jenis pengetahuan di antaranya sebagai berikut :


1. Pengetahuan implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk
pengalaman seseorang yang berisi faktor-faktor yang bersifat nyata, seperti keyakinan
pribadi perspektif, dan prinsip. Pengetahuan seseorang biasanya sulit ditransfer ke orang
lain baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali berisi kebiasaan dan
budaya bahkan bisa tidak disadari. Contoh sederhana yaitu seseorang yang telah
mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan, namun ternyata dia merokok.
(Harahap, 2012)
2. Pengetahuan eksplisit
Pengetahuan ekspilisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau
disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata
dideskripsikan dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan. Contoh
sederhana yaitu seseorang yang telah mengetahui tentang bahaya merokok bagi kesehatan
dan ternyata dia tidak merokok. (Harahap, 2012)
2.2.3

Cara Mendapatkan Pengetahuan

Menurut Notoadmodjo (2005) dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk
memperoleh kebenaran, pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi dua :
(Wulan, 2011)
1. Cara Tradisional
Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini dilakukan sebelum ditemukan
metode ilmiah, yang meliputi :
a. Cara Coba Salah (Trial and Error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan tersebut tidak
berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila tidak berhasil, maka akan dicoba
kemungkinan yang lain lagi sampai didapatkan hasil mencapai kebenaran. (Wulan,
2011)
b. Cara Kekuasaan atau Otoritas
Dimana pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik
tradisi, otoritas pemerintahan, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu pengetahuan.
c. Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu. Apabila dengan

63

cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang sama, orang dapat
pula menggunakan cara tersebut. (Wulan, 2011)
d. Melalui Jalan Pikiran
Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh
pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia
telah menggunakan jalan fikiran. (Wulan, 2011)
2. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih
sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode ilmiah. (Wulan, 2011)
2.2.4

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan


Menurut Notoadmodjo (2005), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang, yaitu umur, pendidikan, dan pengalaman. (Harahap, 2012)
a. Umur
Umur adalah usia individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat
beberapa tahun. Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja dari segi kepercayaan masyarakat yang
lebih dewasa akan lebih percaya dari pada orang belum cukup tinggi kedewasaannya.
Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa. (Harahap, 2012)
b. Pendidikan
Tingkat pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju ke arah suatu cita-cita tertentu. Pendidikan adalah
salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di
luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses
belajar. Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk
menerima informasi. (Harahap, 2012)

64

Pendidikan diklasifikasikan menjadi :


(a)

Pendidikan tinggi : akademi / PT

(b)

Pendidikan menengah : SLTP/SLTA

(c)

Pendidikan dasar : SD

Dengan pendidikan yang tinggi maka seseorang akan cenderung untuk


mendapatkan informasi baik dari orang lain maupun dari media masa, sebaliknya
tingkat pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap
seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan. (Harahap, 2012)
c. Pengalaman
Pengalaman merupakan guru yang terbaik (experience is the best teacher).
Pepatah tersebut bisa diartikan bahwa pemngalaman merupakan sumber pengetahuan
atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh suatu kebenaran
pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat dijadikan sebagai upaya
untuk memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan persoalan yang dihadapi pada masa
lalu. (Harahap, 2012)
Sedangkan menurut menurut Sukmadinata (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan seseorang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. (Harahap, 2012)
1. Faktor internal
a. Jasmani
Faktor jasmani diantaranya adalah kesehatan indera seseorang. (Harahap, 2012)
b. Rohani
Faktor jasmani diantaranya adalah kesehatan psikis, intelektual, psikomotor, serta
kondisi afektif serta kognitif individu. (Harahap, 2012)
2. Faktor eksternal
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon
terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan
memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang, akan berpikir
sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut.
(Harahap, 2012)
b. Paparan media massa
Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik, berbagai informasi
dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media

65

massa yaitu televisi (TV) , radio,majalah, pamflet, dan lain-lain akan memperoleh
informasi lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar
informasi media. Hal ini berarti paparan media massa mempengaruhi pengetahuan
yang dimiliki seseorang. (Harahap, 2012)
c. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder,
keluarga dengan status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding
keluarga dengan status ekonomi yang lebih rendah. Hal ini akan mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan akan informasi pengetahuan yang termasuk kebutuhan
sekunder. (Harahap, 2012)
d. Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga dalam kehidupan saling berinteraksi
antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara kontinyu akan
lebih besar terpapar informasi, sementara faktor hubungan social juga mempengaruhi
kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model
komunikasi media. (Harahap, 2012)
e. Pengalaman
Pengalaman seseorang tentang berbagai hal dapat diperoleh dari lingkungan
kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya seseorang mengikuti kegiatankegiatan yang mendidik seperti seminar dan berorganisasi, sehingga dapat
memperluas pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan-kegiatan tersebut
informasi tentang suatu hal dapat diperoleh. (Harahap, 2012)
2.2.5 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoadmodjo (2005), dari pengalaman dan penelitian, ternyata perilaku yang
didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dibandingkan perilaku yang tidak didasari oleh
pengetahuan karena didasari oleh kesadaran, rasa tertarik, dan adanya pertimbangan dan sikap
positif. Tingkatan pengetahuan terdiri atas enam tingkat. (Wulan, 2011)
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk didalamnya adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang khusus dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, Tahu
merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah gunanya untuk mengukur bahwa orang

66

tahu yang dipelajari seperti menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan


sebagainya. (Wulan, 2011)
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan secara benar tentang objek yang
diketahui, dapat menjelaskan materi tersebut dengan benar. (Wulan, 2011)
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari
pada situasi atau kondisi nyata. (Wulan, 2011)
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponenkomponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tetapi masih
ada kaitannya satu sama lain. (Wulan, 2011)
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. (Wulan, 2011)
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu
materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
menggunakan kriteriakriteria yang ada. (Wulan, 2011)
2.2.6 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket (kuesioner)
yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan tingkatantingkatan di atas. Pengukuran tingkat pengetahuan dimaksudkan untuk mengetahui status
pengetahuan seseorang dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. (Harahap, 2012)
2.3 Pola Makan Sehat
2.3.1 Pengertian Pola Makan Sehat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pola merupakan sistem, cara kerja, dalam hal
pemikiran pola merupakan sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman,
sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya. Sedangkan makan menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia makan merupakan kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut
serta mengunyah dan menelannya. Jadi pola makan dapat diartikan sebagai cara atau usaha
dalam mengatur kegiatan makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk menjadi lebih baik.
Menurut Depkes RI (2009), pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan
67

jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status
nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. (Amelia, 2014)
2.3.2 Pola Konsumsi Makanan
Penduduk Indonesia terdiri dari bermacam suku bangsa yang mempunyai kekayaan
kuliner yang sangat variatif. Apabila dikonsumsi dalam jumlah cukup dan seimbang, hidangan
tersebut akan memenuhi kecukupan zat gizi yang dapat menjaga kondisi kesehatan secara
optimal. Selain itu setiap daerah mempunyai keanekaragaman dan ketersediaan sumber
pangan hewani dan nabati yang khas seperti padi-padian, kacang-kacangan, sayur dan buah di
daerah pertanian, ikan dan produk laut di daerah pesisir, serta unggas dan daging di daerah
peternakan. (Amelia, 2014)
Namun pengetahuan masyarakat untuk memilih makanan yang cukup dan seimbang
untuk individu dan keluarga masih kurang. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan,
sosial ekonomi dan budaya. Pada keluarga miskin, umumnya karena akses pendidikan,
pelayanan kesehatan dan pangan rendah, kurang gizi merupakan masalah yang disertai dengan
tingginya angka penyakit infeksi seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) , diare,
tuberkulosa dan malaria. Keluarga yang tidak mampu ini juga terbukti sangat terpapar dengan
kebiasaan merokok yang memperparah kondisi kesehatan mereka. (Amelia, 2014)
Pola konsumsi makanan yang tidak berimbang menyebabkan struktur tubuh anak
Indonesia semakin tidak ideal, yaitu pendek dan gemuk. Tinggi badan anak laki-laki Indonesia
pada umur lima tahun, rata-rata kurang 6,7cm dari tinggi yang seharusnya, sedangkan pada
anak perempuan kurang 7,3cm (Riskesdas, 2010). Hal ini disebabkan konsumsi makanan
sumber protein terutama pangan hewani masyarakat yang rendah. Berdasarkan Susenas tahun
2009 rata-rata konsumsi pangan hewani sebesar 148 kkal (61,7% Angka Kebutuhan Energi)
dari anjuran sebesar 240 kkal. Adapun kegemukan terjadi karena kelebihan konsumsi
makanan sumber karbohidrat dan rendah serat makanan. (Amelia, 2014)
Baik di perdesaan maupun di perkotaan, gizi lebih yaitu kegemukan dan obesitas telah
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Fisik yang kurang bergerak secara teratur karena
kemudahan sarana transportasi dan jenis pekerjaan yang membuat pekerja relatif statis untuk
waktu lama, bersama dengan obesitas merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit
degeneratif, penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes dan kanker. Hal tersebut di atas
68

antara lain sebagai akibat dari perubahan gaya hidup, yang merupakan dampak gobalisasi dan
industrialisasi, termasuk berkembangnya makanan cepat saji yang umumnya tidak bergizi
seimbang yaitu tinggi lemak dan garam, serta rendah kandungan seratnya. Mobilitas yang
sangat tinggi di kota besar membuat orang cenderung mengkonsumsi makanan cepat saji
tanpa mempertimbangkan kandungan gizinya. (Amelia, 2014)
Masalah utama terkait dengan pola konsumsi makanan, antara lain adalah:
a. Promosi junk food yang tinggi lemak, tinggi garam dan tinggi gula, serta rendah serat,
dipromosikan dan ditawarkan dengan sangat menarik melalui iklan di berbagai media
massa yang ditujukan kepada konsumen sejak usia balita, dengan sasaran utama anak
usia sekolah dan pekerja muda. (Amelia, 2014)
b. Pengetahuan masyarakat yang kurang tentang pola konsumsi makanan yang sehat dan
seimbang, menyebabkan perilaku yang salah. Hal ini disebabkan tidak efektifnya
pendidikan gizi kepada anak semenjak usia dini sampai anak usia sekolah. (Amelia,
2014)
c. Penyediaan kantin sekolah dan program makan siang yang sehat dan higienis di sekolah,
belum menjadi kebijakan bagi penyelenggara pendidikan. Bahkan gencarnya strategi
produsen makanan dan minuman cepat saji berupa program schoolastic merupakan
aktivasi hadirnya makanan dan minuman yang dikategorikan junk food untuk
menjangkau pelajar usia remaja. (Amelia, 2014)
d. Menu makanan tradisional yang tinggi serat seperti gado-gado, karedok, urap dan pecel
kurang diminati oleh anak dan remaja. Selain itu keamanan makanan yang dijajakan
oleh penjual keliling termasuk jajanan anak sekolah perlu mendapat perhatian khusus
terkait dengan higiene dan sanitasi serta penggunaan yang salah berbagai bahan
tambahan pangan dan adanya bahan berbahaya. (Amelia, 2014)
e. Pentingnya penerapan pola konsumsi makanan beragam, bergizi seimbang dan aktivitas
fisik yang cukup dan teratur dalam kaitannya dengan produktivitas optimal ternyata
masih belum diberikan perhatian. (Amelia, 2014)
f. Ketersediaan dan akses sayur dan buah beragam dan aman serta promosi pola konsumsi
makanan tinggi serat belum ditangani secara serius, karena ditemukan 93,6% penduduk
berumur di atas 10 tahun kurang makan sayur dan buah. (Amelia, 2014)
g. Menjamurnya toko waralaba franchise convenience store di seluruh pelosok kota
sampai ke perdesaan dengan berbagai strategi pemasaran yang gencar sehingga keluarga
tergiur untuk membeli makanan baru produk kemasan yang pada umumnya kaya
69

karbohidrat dan rendah protein serta miskin mikronutrien telah mengakibatkan transisi
pola konsumsi makanan masyarakat, berupa konsumsi makanan kemasan, makanan
cepat saji tinggi lemak, tinggi garam dan minuman tinggi gula. Kondisi ini sejalan
dengan meningkatnya kejadian kegemukan pada kelompok miskin. (Amelia, 2014)
2.3.3 Ragam Dan Frekuensi Bahan Makanan Yang Dikonsumsi
a. Ragam
Bahan makanan yang dikonsumsi sangat beragam, membiasakan makan
makanan yang beraneka ragam adalah prinsip pertama dari gizi seimbang yang
universal. Artinya, setiap manusia dimana saja membutuhkan makanan yang beraneka
ragam atau bervariasi karena tidak ada satupun makanan yang mengandung seluruh zat
gizi yang dibutuhkan tubuh. Semakin beragam pola hidangan makanan, semakin
mudah terpenuhi kebutuhan akan berbagai zat. Bahan makanan yang dikonsumsi
dikelompokkan kedalam bahan makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran,
buah-buahan dan lain-lain. (Amelia, 2014)
1. Makanan pokok
Makanan pokok merupakan bahan makanan yang mengandung karbohidrat.
Makanan pokok terdiri atas bahan makanan serelia dan umbi-umbian. Yang
termasuk makanan pokok antara lain adalah beras, jagung, tepung terigu, roti,
kentang, singkong, ubi jalar, gembili, talas, uwi, mi gandum, tepung beras dan lainlain. (Amelia, 2014)
2. Lauk hewani dan lauk nabati
Bahan makanan lauk hewani merupakan bahan makanan sumber protein yang
berasar dari hewan. Yang termasuk dalam bahan lauk hewani antara lain daging
sapi, kambing, ayam, telur, jerohan, keju, bebek, ikan, udang, cumi-cumi. Bahan
lauk nabati adalah lauk berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hasil olahannya, antara
lain : tempe, tahu, kacang-kacangan, lauk nabati merupakan sumber protein.
(Amelia, 2014)
3. Sayuran
Sayuran merupakan bagian dari tubuh yang dapat dimakan, antara lain daun,
bunga, umbi, maupun batang, sayuran merupakan sumber mineral dan vitamin,
setiap jenis sayuran memiliki warna, rasa, aroma dan kekerasan yang berbedabeda, sehingga bahan pangan sayur-sayuran dapat menambah variasi makanan,

70

yang termasuk sayuran antara lain, kol, wortel, kentang, buncis, sawi hijau dan
lain-lain. (Amelia, 2014)
4. Buah-buahan
Dalam pengertian sehari-hari, buah diartikan sebagai semua produk yang
dikonsumsi sebagai pencuci mulut. Yang termasuk buah antara lain mangga,
jeruk, apel, pisang, semangka dan lain-lain. (Amelia, 2014)
b. Frekuensi
Frekuensi makan adalah jumlah makanan dalam seharihari baik kuantitatif dan
kualitatif. Secara ilmiah makanan diolah dalam tubuh melalui alatalat pencernaan
mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung bergantung sifat
dan jenis makanan. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka
jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung. (Amelia, 2014)
Porsi makan pagi tidak perlu sebanyak porsi makan siang dan makan malam
secukupnya saja, untuk memenuhi energy dan sebagian zat gizi sebelum tiba makan
siang. Lebih baik lagi jika makan makanan ringan sekitar pukul 10.00. Menu sarapan
yang baik harus mengandung karbohidrat, protein dan lemak, serta cukup air untuk
mempermudah pencernaan makanan dan penyerapan zat gizi. (Amelia, 2014)
2.3.4 Cara Pengolahan Makanan
Dalam menu Indonesia pada umumnya makanan dapat diolah dengan beberapa cara.
(Amelia, 2014)
1. Merebus (boiling) adalah memantangkan makanan dengan cara merebus suatu cairan
biasa berupa air saja atau air kaldu dalam panic sampai mencapai titik didih (1000C).
2. Memasak (braising) adalah memasak makanan dengan menggunakan sedikit cairan
pemasak. Bahan makanan yang diolah dengan teknik adalah daging.
3. Mengukus (steaming) adalah proses mematangkan makanan dalam uap air.
4. Bumbu-bumbuan (simmering), hamper sama dengan mengukus tapi setelah dikukus
makanan dibumbui dengan bumbu tertentu.
Agar zat-zat gizi yang terdapat dalam makanan tidak banyak rusak atau hilang,
makanan sebaiknya diolah dengan cara sebagai berikut (Amelia, 2014)
1. Memasak lebih dekat dengan waktu makan.
2. Menggunakan api kecil atau memasak dengan cepat.
3. Memasak bahan makanan dalam keadaan utuh lebih baik dari pada memasak
potongan bahan terutama sayuran yang umumnya mengandung vitamin B dan C
yang mudah larut dalam air.

71

4. Cucilah sayuran dan buah-buahan dalam keadaan utuh tanpa dipotong-potong


terlebih dahulu.
5. Usahakan untuk tidak memasak bahan makanan dalam waktu terlalu lama karena
kandungan zat gizinya akan lebih banyak hilang.
2.3.5 Gizi Seimbang
Gizi seimbang merupakan susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan
prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau
berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk
mencegah masalah gizi. (Amelia, 2014)
Gizi Seimbang adalah makanan yang dikonsumsi oleh individu sehari-hari yang
beraneka ragam dan memenuhi 5 kelompok zat gizi dalam jumlah yang cukup, tidak
berlebihan dan tidak kekurangan. (Amelia, 2014)
Menu seimbang adalah menu yang terdiri dari beranekaragam makanan dengan
jumlah dan proporsi yang sesuai, sehingga memenuhi kebutuhan gizi seseorang guna
pemeliharaan dan perbaikan sel-sel tubuh dan proses kehidupan serta pertumbuhan dan
perkembangan (Almatsier, 2009)
Peranan berbagai kelompok bahan makanan tergambar dalam piramida gizi
seimbang yang berbentuk kerucut. Populer dengan istilah TRI GUNA MAKANAN.
(Amelia, 2014)
Gambar 1.7 Piramida Triguna Makanan

72

Pertama, sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta tepung-tepungan
yang digambarkan di dasar kerucut. (Amelia, 2014)
Kedua, sumber zat pengatur yaitu sayuran dan buah-buah digambarkan bagian tengah
kerucut. (Amelia, 2014)
Ketiga, sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahan,
digambarkan bagian atas kerucut. (Amelia, 2014)
Faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Gizi Seimbang (Amelia, 2014)
1. Ekonomi (terjangkau dengan keuangan keluarga)
2. Sosial budaya (tidak bertentangan)
3. Kondisi kesehatan
73

4.
5.
6.
7.
8.

Umur
Berat badan
Aktivitas
Kebiasaan makan (like or dislike)
Ketersediaan pangan setempat

Tiga belas Pesan Umum Gizi Seimbang :


1. Makanlah aneka ragam makanan
Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat untuk kesehatan. Makanan
harus mengandung unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kuantitas maupun kualitas.
Idealnya, ada zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. (Amelia, 2014)
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Kebutuhan energi dapat tercukupi dengan mengkonsumsi makanan sumber
karbohidrat, protein dan lemak. Tanda kecukupan energi dapat dipantau dengan keadaan
berat badan yang normal. Pemantauan berat badan dilakukan pada bayi, balita dan usia
sekolah dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), pada orang dewasa dengan
penghitungan IMT (Indeks Massa Tubuh) dan pada lansia dengan KMS usia lanjut.
(Amelia, 2014)
Kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak/ jaringan lain. Bila kelebihan
tersebut berlanjut maka akan timbul penyakit (hipertensi, jantung, diabetes melitus, dll).
Sedangkan untuk menutupi kekurangan energi, diambilkan cadangan energi dari jaringan
otak/ lemak. Bila keadaan ini berlanjut sebabkan penurunan daya kerja/ produktivitas
kerja, prestasi belajar dan kreativitas, penurunan berat badan dan kekurangan gizi lain.
(Amelia, 2014)
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi
Dua kelompok karbohidrat adalah karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana.
Golongan karbohidrat kompleks yaitu padi-padian (beras, jagung, gandum), umbiumbian (singkong, ubi jalar, kentang), serta tepung, sagu dan pisang. Karbohidrat
kompleks penyerapannya lebih lama sehingga tidak membuat mudah lapar. (Amelia,
2014)
Golongan karbohidrat sederhana adalah gula (menyebabkan mudah lapar).
Pembatasaan konsumsi gula dianjurkan sampai 5% dari jumlah kecukupan energi atau
34 sendok makan setiap hari. (Amelia, 2014)

74

Apabila energi yang diperoleh dari makanan sumber karbohidrat kompleks (selain
gula) melebihi 60% atau 2/3 bagian dari energi yang dibutuhkan, maka kebutuhan
protein, vitamin dan mineral sulit dipenuhi. (Amelia, 2014)
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.
Adapun guna lemak dan minyak adalah untuk meningkatkan jumlah energi,
membantu penyerapan vitamin A, D, E, K dan menambah lezat hidangan. (Amelia,
2014)
Terdapat tiga golongan lemak, yaitu lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh
ganda (paling mudah dicerna), lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh tunggal
(mudah dicerna), dan lemak yang mengandung asam lemak jenuh (sulit dicerna).
(Amelia, 2014)
Makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda dan tak jenuh tunggal
berasal dari nabati, kecuali minyak kelapa. Sedangkan makanan sumber asam lemak
jenuh: berasal dari hewani. (Amelia, 2014)
Konsumsi lemak dan minyak kurang sama dengan 10% dan tidak lebih dari 25%
dari kebutuhan energi. Komposisi konsumsi lemak nabati hewani 2 : 1. (Amelia, 2014)
Kebiasaan mengkonsumsi lemak hewani berlebihan menyebabkan penyempitan
pembuluh darah arteri dan penyakit jantung koroner. Sedang makan ikan mengurangi
risiko penyakit jantung koroner, oleh karena lemak ikan mengandung asam lemak omega
3. Asam lemak omega 3 berperan mencegah terjadinya penyumbatan lemak pada dinding
pembuluh darah. (Amelia, 2014)
5. Gunakan garam beryodium
Garam beryodium yang dianjurkan adalah garam dg KIO 3 (Kalium iodat) sebanyak
30-80 ppm. Sesuai Keppres No. 69 tahun 1994 menyatakan bahwa kekurangan yodium
dapat mengakibatkan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium), gondok, kretin,
dan penurunan IQ. Indonesia kehilangan 140 juta IQ point akibat GAKY. (Amelia, 2014)
6. Makanlah makanan sumber zat besi
Zat besi (Fe) merupakan unsur penting untuk pembentukan sel darah merah.
Kekurangan Fe dapat berakibat Anemia Gizi Besi (AGB). Adapun Tanda-tanda AGB
adalah pucat, lemah lesu, pusing dan penglihatan berkunang-kunang. (Amelia, 2014)
Resiko AGB bagi ibu hamil adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), perdarahan
dan kematian. Bagi anak-anak adalah kemampuan belajar turun. Sedangkan bagi orang
dewasa adalah penurunan produktivitas kerja. (Amelia, 2014)

75

Sumber utama zat besi adalah bahan pangan hewani dan kacang-kacangan serta
sayuran berwarna hijau tua. Zat besi Fe pangan asal hewani/haeme lebih mudah diserap
(10-20%) daripada zat besi pangan asal nabati/non haeme (1-2%). (Amelia, 2014)
Zat gizi yang membantu penyerapan Fe diantaranya protein hewani seperti daging,
ikan dan telur, vitamin C, vitamin A, Zink (Zn) dan asam folat. (Amelia, 2014)
Program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi ibu hamil adalah 1 TTD
selama 90 hari. Untuk balita dapat diberikan preparat besi dalam bentuk sirup.
Kandungan 1 TTD = 200 mg ferrosulfat = 60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat.
(Amelia, 2014)
7. Berikan ASI saja pada bayi sampai umur 6 bulan dan tambahkan (Makanan PendampingASI) MP-ASI sesudahnya .
ASI merupakan makanan terbaik bayi. Pemberian 0-6 bulan (ASI Eksklusif =
pemberian ASI saja tanpa makanan lain). Kegagalan ASI Eksklusif menyebabkan jumlah
sel otak berkurang 15-20%. (Amelia, 2014)
8. Biasakan makan pagi.
Manfaat makan pagi adalah untuk memelihara ketahanan fisik, mempertahankan
daya tahan tubuh, meningkatkan produktifitas kerja dan meningkatkan konsentrasi
belajar. (Amelia, 2014)
Kebiasaan makan pagi, membantu memenuhi kecukupan gizi sehari-hari.
Sedangkan resiko tidak membiasakan makan pagi adalah gangguan kesehatan yang
berupa menurunnya kadar gula darah. (Amelia, 2014)
9. Minumlah air bersih, aman yang cukup jumlahnya.
Air yang kita minum harus bersih dan aman (bebas dri kuman). Fungsi air dalam
tubuh adalah untuk melancarkan transportasi zat gizi dlm tubuh, mengatur keseimbangan
cairan dan garam mineral dalam tubuh, mengatur suhu tubuh; melancarkan dlm buang air
besar dan buang air kecil. (Amelia, 2014)
Kebutuhan air minum 2 liter sehari/ 8 gelas sehari, dengan kecukupan air minum
dapat mencegah dehidrasi dan menurunkan resiko batu ginjal. (Amelia, 2014)
10. Lakukan aktivitas fisik secara teratur
Manfaat dari melakukan aktifitas fisik adalah meningkatkan kebugaran; mencegah
kelebihan berat badan, meningkatkan fungsi jantung, paru dan otot, memperlambat
proses penuaan. Olahraga teratur disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, pekerjaan dan
kondisi kesehatan. Salah satunya dengan membiasakan jalan kaki dengan jarak tempuh
50-100 m. (Amelia, 2014)
76

11. Hindari minuman yang beralkohol


Alkohol mengandung energi, tapi tidak terdapat unsur gizi lain. Akibat kebiasaan
minum minuman beralkohol adalah terhambatnya proses penyerapan gizi, hilangnya zatzat gizi yang penting, meski mengkonsumsi makanan bergizi dalam jumlah yang cukup,
kurang gizi, penyakit gangguan hati, kerusakan saraf otak dan jaringan. Sedangkan efek
samping minuman alkohol adalah sering buang air kecil, ketagihan dan hilang kendali
diri. (Amelia, 2014)
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
Selain bergizi lengkap dan seimbang, makanan juga harus layak konsumsi (aman
untuk kesehatan). Syarat makanan aman adalah wholesome yaitu zat-zat gizi tidak
banyak yang hilang dan bentuk fisiknya masih utuh. (Amelia, 2014)
Ciri makanan yang tidak sehat adalah berlendir, berjamur, aroma dan rasa berubah,
kadaluwarsa dan kemasan rusak, terdapat zat/ bahan pengawet dan cara pengolahan yang
tidak benar. (Amelia, 2014)
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas
Label adalah keterangan tentang isi, jenis, ukuran bahan-bahan yang digunakan,
susunan zat gizi, tanggal kadaluwarsa dan keterangan penting lain. (Amelia, 2014)
Beberapa singkatan yang lazim digunakan dalam label antara lain:
a. MD Makanan yang dibuat di dalam negeri
b. ML Makanan luar negeri (import)
c. Exp Tanggal kadaluarsa, artinya batas waktu makanan tersebut masih layak
dikonsumsi. Sesudah tanggal tersebut, makanan tidak layak dikonsumsi
d. SNI Standart Nasional Indonesia (keterangan mutu makanan telah sesuai dengan
persyaratan)
e. SP Sertifikat penyuluhan
2.4 Kerangka Teori
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada teori Sukmadinata (2009),
yang menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Faktor internal
a. Jasmani
Faktor jasmani diantaranya adalah kesehatan indera seseorang.
b. Rohani
Faktor rohani diantaranya adalah kesehatan psikis, intelektual, psikomotor, serta
kondisi afektif serta kognitif individu.
2. Faktor eksternal
a. Pendidikan
77

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon


terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan
memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang, akan berpikir
sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan
b.

tersebut.
Paparan media massa
Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik, berbagai informasi
dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar
media massa (TV, radio, majalah, pamflet, dan lain-lain) akan memperoleh
informasi lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tidak pernah
terpapar informasi media. Hal ini berarti paparan media massa mempengaruhi

pengetahuan yang dimiliki seseorang.


c. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder,
keluarga dengan status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi dibanding
keluarga dengan status ekonomi yang lebih rendah. Hal ini akan mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan akan informasi pengetahuan yang termasuk kebutuhan
sekunder.
d. Hubungan sosial
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga dalam kehidupan saling berinteraksi
antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara kontinyu
akan lebih besar terpapar informasi, sementara faktor hubungan sosial juga
mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikan untuk menerima pesan
menurut model komunikasi media.
e. Pengalaman
Pengalaman seseorang tentang berbagai hal dapat diperoleh dari lingkungan
kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya seseorang mengikuti
kegiatan-kegiatan yang mendidik, seperti seminar dan berorganisasi, sehingga
dapat memperluas pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan-kegiatan
tersebut, informasi tentang suatu hal dapat diperoleh.

78

Bagan 2.1 Kerangka Teori Pengetahuan Sukmadinata (2009)

2.5 Kerangka Konsep


Berdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep yang berhubungan
dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan RT 03 RW 04 Kampung
Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Kerangka konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori yang dihubungkan
dengan area permasalahan.
Bagan 2.2. Kerangka Konsep

Pendidikan
Paparan
Media MAssa

Pengetahuan
Pengetahuan Tentang
Tentang
Konsumsi
Konsumsi Kopi
Kopi
berlebih
berlebih

Ekonomi
Hubungan
Sosial
Pengalaman

79

2.6 Definisi Operasional


Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau
diteliti, variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional adalah
definisi yang didasarkan atas sifat-sifat variabel yang diamati. Definisi operasional mencakup
hal-hal penting dalam penelitian yang memerlukan penjelasan. Definisi operasional bersifat
spesifik, rinci, tegas dan pasti yang menggambarkan karakteristik variabel-variabel penelitian
dan hal-hal yang dianggap penting. Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan
kepada pengukuran atau pengamanan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta
mengembangkan instrumen (alat ukur) (Sukmadinata, 2009). Adapun definisi operasional
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Definisi Operasional Tiap Variabel Penelitian
NO

VARIABEL

Pengetahuan

Pengetahuan

tentang

konsumsi

konsumsi

pengetahuan

kopi

DEFINISI

tentang Kuesioner
kopi

yaitu

HASIL

Wawancara Baik : > 7

SKALA
Ordinal

Kurang : < 6

kopi, berapa kali batas


konsumsi

kopi

aman

bagi

dalam

sehari,

konsumsi
Pendidikan

CARA

Cukup : 6 - 7

responden

yang tentang kandungan dalam

berlebihan

ALAT

yang

kesehatan
bahaya

kopi

berlebihan.
Jenjang

yang

pendidikan Kuesioner

formal

terakhir

dijalani

oleh

yang

keluarga

Wawancara Tinggi :
Ordinal
Perguruan Tinggi
Menengah :
SMP - SMA

binaan.

Rendah =
Tidak sekolah
SD

80

Tabel 2.1 Lanjutan Definisi Operasional Tiap Variabel Penelitian


NO
3

VARIABEL
Ekonomi

DEFINISI
Penghasilan
responden

ALAT

rata-rata Kuisioner

CARA

HASIL

SKALA

Wawancara

Baik : Rp.

Ordinal

berdasarkan

2.730.000,-

Upah Minimum Regional

Kurang

Kota Tangerang.

<2.730.000

Sumber :
Keputusan Gubernur Banten
Nomor : 561/Kep.506-Huk/2014
Tentang Penetapan Upah Minimum
Kabupaten/Kota di Provinsi Banten
Tahun 2015

Hubungan

Kegiatan bersama tentang Kuesioner

Sosial

pola konsumsi kopi di

Wawancara

Baik : > 5

Ordinal

Cukup : 4 - 5

daerah tempat tinggalnya

Kurang : < 4
5

Paparan

Adanya

media

Media

digunakan

Massa

mendapatkan

yang Kuesioner

Wawancara

untuk

konsumsi

kopi

yang

berlebihan

di

Ordinal

Cukup : 5 - 6

informasi

tentang

Baik : > 6

Kurang : < 5

keluarga binaan baik dari


media cetak, seperti koran,
serta elektronik, seperti
TV dan radio.
6

Pengalaman

Pengalaman
mengikuti
tentang
yang
petugas

responden Kuesioner
penyuluhan

konsumsi

kopi

berlebihan

dari

Wawancara

Baik : > 7
Cukup : 6 - 7
Kurang : < 6

kesehatan

setempat ataupun kader


81

Ordinal

pemberdayaan masyarakat

82

BAB III
METODE
3.1

Penentuan Instrumen Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini, sebelumnya telah dilakukan presurvey dengan teknik wawancara

yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan, sikap, ataupun perilaku keluarga
binaan mengenai masalah kesehatan. Langkah selanjutnya, kami mengumpulkan data dan
mengangkatnya sebagai area masalah. Setelah menetapkan area masalah, kami melakukan
survey dengan teknik wawancara, dan menjadikan kuesioner sebagai instrumen untuk
mengumpulkan data. Disamping itu, dilakukan juga observasi langsung ke lapangan untuk
memperoleh data yang lebih lengkap.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2003). Dalam hal ini,
yang menjadi sampel adalah ketiga keluarga binaan di RT 03 RW 04, Kampung Sukasari, Desa
Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.
Sumber Data
a. Data primer
Data yang langsung didapatkan dari hasil kuesioner semua anggota warga binaan di RT
03 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten
Tangerang, Propinsi Banten melalui wawancara terpimpin serta observasi.
b. Data sekunder
Data dalam bentuk laporan yang didapat dari data yang sudah ada di Puskesmas Tegal
Angus. Data tersebut merupakan laporan mengenai keadaan gizi, terutama kejadian gizi
buruk pada balita yang masih tinggi pada tahun 2015.
c. Data tersier
Data yang didapat dari jurnal ilmiah dan internet.
Jenis Data
a.

Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka.
Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data, misalnya
wawancara, analisis, dan observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan
(transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan.
Data Kualitatif yang didapatkanadalah sebagai berikut :
83

1) Aspek pengetahuan mengenai pola makan sehat pada seluruh keluarga binaan tidak
terpenuhi. Hal ini dapat dilihat dari hasil presurvey dan kuesioner pada masing-masing
keluarga binaan di Kampung Sukasari, Desa Pangkalan.
b.

Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan
bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan
matematika atau statistika. Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data
kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu:
1) Data diskrit
Data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang.
Contoh data diskrit misalnya: jumlah perempuan dan laki-laki dan jumlah orang
yang menyelesaikan pendidikan terakhir. Karena diperoleh dengan cara membilang,
data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).
2) Data kontinyu
Data dalam bentuk angka atau bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil
pengukuran. Data kontinyu dapat berbentuk bilangan pecahan, contohnya adalah
umur.
Data Kuantitatif yang didapat adalah sebagai berikut :
1. Aspek pendapatan keluarga binaan pada ketiga responden berpenghasilan di bawah
dari Upah Minimum Regional kota Tangerang (<Rp. 2.730.000,00).
2. Pada tingkat pendidikan responden terdapat 50% responden yang memiliki tingkat
pendidikan kurang dari 9 tahun, dimana hal ini tidak sesuai dengan peraturan sekolah
wajib 12 tahun.
Untuk mencapai kelengkapan, ketelitian, dan kejelasan data, pencatatan data harus
dilengkapi dengan:
1) Nama pengumpul data.
2) Nama peserta yang datanya diambil.
3) Tanggal dan waktu pengumpulan data.
4) Lokasi pengumpulan data.
5) Keterangan-keterangan tambahan data.

Metode pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk
mengumpulkan data. Metode menunjuk kepada suatu cara sehingga dapat diperlihatkan
penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya.
84

Berdasarkan uraianuraian tersebut, maka dipilih instrumen pengumpulan data berupa


wawancara terpimpin dengan menggunakan kuesioner. Dipilihnya kuesioner ini dikarenakan
kuesioner bersifat objektif dan jujur karena berasal dari sumber data (responden) secara
langsung, sehingga diharapkan dapat lebih mendengar tujuan-tujuan, perasaan, pendapat dari
responden secara langsung sehingga tercipta hubungan yang baik antara pewawancara dan
responden, selain itu juga pengumpulan data dilakukan dalam lingkup yang luas, serta cukup
efisien dalam penggunaan waktunya.
Sumber data dalam pengumpulan data ini adalah para responden yaitu ketiga keluarga
binaan di RT 03 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.
3.2

Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan di RT 03 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan,

Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.Pengumpulan data ini dilakukan
selama 12 hari, mulai dari tanggal 29 Desember 2015 sampai dengan 9 Januari 2015.
Wawancara dengan kuesioner dilakukan terhadap ketiga keluarga binaan yang telah
ditentukan oleh kader setempat. Dari tiga keluarga binaan ini diambil 6 orang sebagai responden
untuk menjawab kuesioner. Dengan kriteria responden sebagai berikut :
1. Yang bersedia untuk di wawancarai
2. Merupakan anggota keluarga binaan
3. Usia diatas 17 tahun

85

Adapun kegiatan pengumpulan data yang dilakukan adalah sebagai berikut:


Tabel 3.1 Pengumpulan Data
No.

Tanggal

1.

Selasa, 29 Desember

Kegiatan
Perkenalan dengan keluarga binaan.

2015
2.

Rabu, 31 Desember
2015

a. Wawancara singkat dan observasi pada


masing-masing keluarga binaan untuk
mengambil data umum.
b. Diskusi kelompok dengan menentukan
area permasalahan dengan menjabarkan
permasalahan

3.

Sabtu, 2 Januari 2016

pada

masing-masing.
a. Diskusi kelompok

keluarga

binaan

menentukan

area

masalah Pengetahuan Konsumsi Kopi


Berlebihan Pada Keluarga Binaan di RT
003 RW 004 Kampung Sukasari, Desa
Pangkalan,

Kecamatan

Teluk

Naga,

Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten.


b. Diskusi dengan dr.Husna (dokter PKM
Tegal Angus) sebagai pembimbing kami.
c. Diskusi kelompok mengumpulkan area
masalah.
d. Mengumpulkan data dari puskesmas untuk
membantu mengetahui gambaran umum
4.

Senin, 4 Januari 2016

area masalah pada keluarga binaan.


a. Membuat kerangka teori dan pertanyaan
mengenai

seputar

faktor-faktor

yang

berkaitan dengan area masalah.


b. Menentukan teknik dan instrument
pengumpulan

data

disepakati

melalui

observasi dan wawancara dengan metode


ceklis.
c. Diskusi kelompok:
1.
Membuat kerangka konsep
86

5.

Sabtu, 23 Oktober

2.
Membuat definisi operasional
3.
Membuat ceklis
Mengumpulkan data dari keluarga binaan masing-

2015

masing untuk melengkapi data yang sebelumnya.


Dokumentasi rumah dan anggota keluarga pada
masing-masing keluarga binaan.

6.

Minggu, 24 Oktober

Penentuan dan pembuatan instrumen.

2015
Tabel 3.1 Pengumpulan Data
No.
8.

10.

Tanggal
Senin, 25 Oktober

Pembuatann

2015

kuesioner dari masing-masing keluarga binaan.

Selasa,26 Oktober

Memberi

2015

3.3

Kegiatan
laporan

informasi

dan

kepada

pengolahan

keluarga

hasil

binaan

mengenai intervensi yang akan dilakukan hari


kamis, 5 November 2015.

Pengolahan dan Analisa Data


Data diolah secara manual dan komputerisasi. Cara manual yang digunakan adalah

dengan bantuan kalkulator, sedangkan cara komputerisasi dengan menggunakan program


Microsoft Word dan Microsoft Excel.
Kuesioner terdiri dari enam variabel dengan jumlah pertanyaan sebanyak 17 buah
pertanyaan. Masing-masing variabel memiliki penilaian yang berbeda-beda. Semua jawaban
pada variabel ini disajikan dalam bentuk pilihan ganda.
Untuk pengolahan data tentang Pengetahuan Tentang Konsumsi Kopi Berlebihan Pada
Keluarga Binaan Di RT 03 RW 04, Kampung Sukasari, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, digunakan cara manual dan bantuan software pengolahan data
menggunakan Microsoft Word. Untuk menganalisa data-data yang sudah didapat adalah dengan
menggunakan analisa univariat.
Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengenali setiap variabel dari
hasil penelitian. Analisa univariat berfungsi untuk meringkas kumpulan data sedemikian rupa
87

sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan tersebut
dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik. Pada diagnosis dan intervensi komunitas ini, variabel
yang diukur adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pengetahuan tentang bahaya konsumsi kopi berlebih.


Pendidikan
Ekonomi
Hubungan sosial
Paparan media masa / informasi
Pengalaman

88

BAB IV
HASIL

4.1 Analisa Univariat


4.1.1 Karakteristik Keluarga Binaan
Hasil analisis ini disajikan melalui bentuk diagram yang diambil dari data karakteristik
responden yang terdiri dari enam keluarga binaan di Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa
Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yakni : keluarga Tn.
Senen, Tn. Indra, Tn. Joni, Tn. Sanusi, Tn. Ratib dan Ny. Surti.
Diagram 4.1.Distribusi Frekuensi Usia Pada Keluarga Binaan di Kampung Sukasari RT 02/ RW
04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober
2015

Berdasarkan dari diagram 4.1 tentang frekuensi berdasarkan usia pada keluarga binaan
didapatkan jumlah anggota keluarga terbanyak adalah yang berusia antara 21 40 tahun
sebanyak 42,3 %.

89

Diagram 4.2. Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Pada Keluarga Binaan di Kampung
Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten Oktober 2015

Berdasarkan dari diagram 4.2 terlihat tingkat pendidikan terbanyak dari keluarga binaan
adalah Sekolah Dasar , yaitu sebanyak 57,1%
Diagram 4.3 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW
04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober
2015

Berdasarkan dari diagram 4.3 terlihat jenis pekerjaan terbanyak dari keluarga binaan
adalah buruh sebanyak 32% dan Ibu Rumah Tangga sebanyak 24%.

90

4.1.2 Analisis Univariat Keluarga Binaan


Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan variabelvariabel dalam kuesioner
yang dijawab 12 responden pada bulan Oktober 2015.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden mengenai pengetahuan tentang pola makan sehat di
keluarga binaan Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
Pengetahuan
Baik
Cukup
Buruk
Total

Jumlah Responden
0
4
8
12

Persentase (%)
0%
33,33%
66,67%
100%

Berdasarkan tabel 4.1, didapatkan jumlah terbanyak adalah responden yang memiliki
pengetahuan yang buruk mengenai pola makan sehat di keluarga binaan yaitu sebanyak 8
responden (66,67%).

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden mengenai hubungan sosial tentang pola makan sehat
di keluarga binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
Hubungan Sosial

Jumlah Responden

Persentase (%)

Baik
Cukup
Buruk
Total

0
11
1
12

0%
90%
10%
100%

Berdasarkan tabel 4.2 Didapatkan seluruh responden memiliki hubungan social yang
sangat cukup tentang pola makan sehat , yaitu sebanyak 90%.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden mengenai paparan media massa dan informasi tentang
pola makan sehat di keluarga binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015

91

Paparan Media Massa

Jumlah Responden

3
9
0
12

25%
75%
0%
100 %

dan Informasi
Baik
Cukup
Buruk
Total

Berdasarkan tabel 4.3 Didapatkan bahwa distribusi responden terhadap paparan media
massa dan informasi cukup, yaitu sebanyak 75%.
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Mengenai Pengalaman Tentang Pola Makan Sehat di
Keluarga Binaan, Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
Pengalaman

Jumlah Responden

Persentase (%)

Baik

25%

Cukup

66,67%

Buruk

8,33%

Total

12

100%

Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan seluruh responden memiliki cukup pengalaman tentang
pola makan sehat, yaitu sebanyak 66,67%.

92

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Mengenai Tingkat Pendidikan di Keluarga Binaan
Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
Pendidikan

Jumlah Responden

Persentase (%)

Tinggi

25%

Sedang

8,33%

Rendah

66,67%

Total

12

100%

Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan seluruh responden memiliki pendidikan yang rendah yaitu
sebanyak 66,6%
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Mengenai Pendapatan di Keluarga Binaan Binaan
Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
Pendapatan

Jumlah Responden

Persentase (%)

Tinggi

0%

Rendah

12

100%

Total

12

100%

Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan seluruh responden memiliki pendapatan yang rendah yaitu
sebanyak 100%

93

Tabel 4.7 Hasil Analisis Univariat Empat Variabel Mengenai Pengetahuan Tentang Pola Makan
Sehat Di Keluarga Binaan Kampung Sukasari RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk
Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Oktober 2015
No.
1

Variabel

Hasil Ukur

Jumlah

Persentase

Pengetahuan tentang Pola

Baik
Cukup
Buruk

(orang)
0
4
8

0%
33,33%
66,67%

Makan Sehat

Hubungan Sosial

Baik
Cukup
Buruk

0
11
1

0%
90%
10%

Paparan Media Massa dan

Baik
Cukup
Buruk

3
7
0

25%
75%
0%

Baik
Cukup
Buruk
Tinggi
Sedang
Rendah
Tinggi
Rendah

3
8
1
3
1
8
0
12

25%
66,67%
8,33%
25%
8,33%
66,67%
0%
100%

Informasi
4

Pengalaman

Pendidikan

Pendapatan

4.2 Rencana Intervensi Pemecahan Masalah


Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian, untuk menentukan rencana intervensi
pemecahan masalah digunakan diagram fishbone. Tujuan pembuatan diagram fishbone yaitu
untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar-akar penyebab masalah sehingga dapat
ditentukan rencana intervensi pemecahan masalah dari setiap akar penyebab masalah tersebut.
Adapun diagram fishbone dapat dilihat sebagai berikut:

FISHBONE

94

Sesuai dengan diagram fishbone tersebut, akar-akar penyebab masalah yang ditemukan adalah
sebagai berikut :
1. Keterbatasan media yang dimiliki responden dan kurang menariknya media yang
memaparkan tentang pola makan sehat.
2. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan dan program wajib belajar 12
tahun.
3. Kurangnya kepedulian tentang pola makan sehat.
4. Tidak tersedianya ekonomi yang cukup sehingga menyebabkan rendahnya tingkat
pendidikan.
5. Tenaga kesehatan lebih memprioritaskan masalah kesehatan lain
Tabel 4.8 Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi Pada Keluarga Binaan Kampung Sukasari
RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
Oktober 2015
95

No

Akar Penyebab Masalah

Masalah
Keterbatasan media yang Meningkatkan pemahaman Menyediakan

media

dimiliki

mudah

responden

Alternatif Pemecahan

dan kelaurga

binaan

Rencana Intervensi

terutama (leaflet)

yang

kurang menariknya media orang tua tentang manfaat dipahami oleh keluarga
yang memaparkan tentang dan pentingnya mengatahui binaan yang memaparkan
pola makan sehat

pola makan sehat melaluli tentang pola makan sehat


penyuluhan,
mengenalkan

serta
masyarakat

tentang media-media yang


menyajikan materi tentang
2

Kurangnya
tentang

pola makan sehat


pemahaman Meningkatkan pemahaman Memberikan penyuluhan
pentingnya keluarga

binaan

terutama kepada keluarga binaan

pendidikan dan program orang tua tentang manfaat mengenai program wajib
wajib belajar 12 tahun.

program wajib belajar 12 belajar 12 tahun


tahun

Tabel 4.8 Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi Pada Keluarga Binaan Kampung Sukasari
RT 02/ RW 04, Desa Pangkalan, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten
Oktober 2015
No
3

Akar Penyebab Masalah


Kurangnya
masyarakat
makan sehat

Alternatif Pemecahan

Rencana Intervensi

Masalah
kepedulian Meningkatkan
kesadaran Memberikan
tentang

pola masyarakat

tentang melalui

informasi
penyuluhan

pentingnya pola makan sehat tentang pola makan sehat


dan manfaat dari pola makan dengan
sehat

menggunakan

poster dan leaflet yang


menarik agar lebih mudah
96

dipahami oleh masyarakat.


Tidak tersedianya ekonomi Memberikan sarana untuk Memberikan saran kepada
yang

cukup

menyebabkan

sehingga mempelajari skill yang dapat pemerintah


rendahnya berguna

tingkat pendidikan.

bagi

dan

kader

masyarakat setempat

untuk

dalam membuka lapangan mengadakan kursus gratis,


pekerjaan

atau bekerja di berupa

kursus

yang

lapangan pekerjaan lain yang mengajarkan beberapa skill


lebih

baik

menggunakan
5

Tenaga

kesehatan

memprioritaskan

diajarkan
lebih Meningkatkan
masalah kepada

kesehatan lain

dengan sederhana kepada IRT atau


skill

dengan

usia

produktif.
pemahaman Memberikan saran kepada

Kader

keadaan

yang masyarakat

pola

tentang petugas

kesehatan untuk

makan mengadakan

masyarakat yang kurang

diskusi

interaktif dengan Kader

4.5 Intervensi Pemecahan Masalah yang Terpilih


Intervensi yang terpilih yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi memalui penyuluhan tentang pola makan sehat dengan
menggunakan poster dan leaflet yang menarik agar lebih mudah dipahami oleh
masyarakat
2. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan wajib 12 tahun kepada
masyarakat terutama para orangtua.
Terpilihnya intervensi diatas dikarenakan penyuluhan dan sosialisasi tidak memakan
waktu atau tempat yang banyak, selain itu diharapkan dengan adanya leaflet, lebih dapat menarik
minat para responden menyimak penyuluhan dan mudah untuk dimengerti. Intervensi yang tidak
dapat dilakukan disertakan di saran.

97

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 SIMPULAN
5.1.1 Area Masalah
Berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari kunjungan ke keluarga binaan yang
bertempat tinggal di RT 02/RW 04, Desa Pangkalan Kecamatan Teluk Naga Kabupaten
Tangerang Provinsi Banten tentang Pengetahuan Tentang Pola Makan Sehat Pada
Keluarga Binaan di RT 02 RW 04 Kampung Sukasari Desa Pangkalan Kecamatan Teluk
Naga Kabupaten Tangerang Provinsi Banten Periode 13 Oktober sampai dengan 24
Oktober 2015.
5.1.2

Penyebab Masalah
Berdasarkan analisis dari data kuesioner, didapatkan adanya pengetahuan yang masih

rendah tentang pola makan sehat. Dari hasil fish bone didapatkan berbagai macam penyebab
kurangnya pengetahuan tentang pola makan sehat antara lain :
a. Tidak semua responden pernah membaca tentang pola makan sehat
b. Kurangnya minat baca para responden mengenai pola makan sehat
c. Rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian besar keluarga binaan
d. Lebih memilih untuk bekerja dibandingkan sekolah
e. Responden tidak pernah memiliki kegiatan yang membahas tentang pola makan sehat
f. Kurang menariknya pembahasan tentang pola makan sehat
g. Penghasilan per bulan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dengan menu
h.
i.
j.
k.
l.

sederhana
Penghasilan rendah dan tidak tetap
Sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pola makan sehat
Kurangnya penyuluhan oleh petugas kesehatan mengenai pola makan sehat
Kurangnya partisipasi masyarakat untuk mengikuti penyuluhan tentang pola makan sehat

5.1.3 Akar Penyebab Masalah


a. Keterbatasan media yang dimiliki responden dan kurang menariknya media yang
memaparkan pola mkana sehat
b. Kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan dan program wajib belajar 12
tahun
c. Kurangnya kepedulian tentang pola makan sehat

98

d. Tidak tersedianya ekonomi yang cukup sehingga menyebabkan rendahnya tingkat


pendidikan
e. Tenaga kesehatan lebih memprioritaskan masalah kesehatan lain.
5.1.4 Intervensi
Intervensi yang terpilih yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Memberikan informasi memalui penyuluhan tentang pola makan sehat dengan
menggunakan poster dan leaflet yang menarik agar lebih mudah dipahami oleh
masyarakat.
b. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan wajib 12 tahun kepada
masyarakat terutama para orangtua.
5.2 Saran
5.2.1 Bagi Masyarakat Desa Pangkalan
a. Hendaknya mengajak masyarakat sekitar bersamasama untuk meningkatkan pola makan
sehat dengan cara meningkatkan rasa kepedulian masyarakat akan pentingnya manfaat
pola makan sehat.
b. Diharapkan kepada keluarga binaan untuk menerapkan hasil dari penyuluhan yang telah
didapat dan mengajarkannya kepada seluruh anggota keluarga di lingkungan sekitar
tempat tinggalnya.
5.2.2 Bagi Puskesmas Tegal Angus dan Pemerintah
a. Meningkatkan kerja sama dengan pemegang program ataupun bidan dan kader-kader
untuk meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya manfaat pola makan sehat.
b. Melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat di kampung pangkalan dan pemerintah
setempat. Diharapkan dengan pendekatan ke tokoh masyarakat dan pemerintah setempat,
program peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan sehat sehingga
kesehatan masyarakat baik.
c. Perangkat desa atau kader setempat untuk memberikan pelatihan mengenal huruf dan
membaca kepada masyarakat yang masih tidak dapat membaca. Serta mengajarkan
masyarakat cara mudah mengakses media cetak atau elektronik yang menyajikan materi
pola makan sehat.
d. Pemerintah dan kader setempat untuk mengadakan kursus gratis, berupa kursus yang
mengajarkan beberapa skill sederhana kepada IRT ataupun kepada masyarakat dengan
usia produktif.
e. Petugas kesehatan sebaiknya mengadakan diskusi interaktif dengan Kader tentang pola
makan sehat agar terjadi komunikasi dua arah yang dapat menunjukkan kepada masalah99

masalah ataupun kendala yang dialami oleh kader dalam menggalakan pola makan sehat
hingga ditemukan solusinya serta memberikan pengetahuan baru kepada kader akan pola
makan sehat.

100

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Amelia, Sri. 2014. Pedoman Gizi Seimbang 2014 oleh Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Tersedia di http://gizi.depkes.go.id/pgs-2014-2. Diakses pada tanggal 4
November 2015.
Bandiklat Provinsi Banten. 2015. Keputusan Gubernur Banten Nomor : 561/Kep.506-Huk/2014
Tentang Penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Tahun 2015.
Tersedia

di

http://bandiklat.bantenprov.go.id/upload/folder_ustman/SK_KEP-

GUB.BANTEN_UMK.pdf. Diakses pada tanggal 5 November 2015.


Harahap, EY. 2012. Teori Dasar Pengetahuan. Tersedia di http://eprints.uny.ac.id/8964/3/bab
%202%20-08404244032.pdf. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2015.
Kartikawatie T, Yusnita, & Yanto D. 2014. Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten
Tangerang: Laporan Kinerja Puskesmas Tegal Angus 2014. Tangerang: Puskesmas Tegal
Angus.
Kodyat, B. 1995. Gizi Seimbang untuk Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit. Departemen
Kesehatan. Jakarta.
Wulan, Witta. 2011. Teori Pengetahuan dan Perilaku Menurut Para Ahli. Tersedia di
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/102/jtptunimus-gdl-wittawulan-5072-2-bab2.pdf.
Diakses pada tanggal 27 Oktober 2015.

101

LAMPIRAN I
KUESIONER PRE SURVEY PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU KELUARGA
BINAAN TENTANG POLA MAKAN SEHAT DI DESA PANGKALAN
Identitas Responden
1. Nama Responden

: ____________________________

2. Jenis Kelamin

4. Umur

: ___ tahun

1. Laki-laki

2. Perempuan

5. Pendidikan Terakhir : 1. Tidak/belum sekolah


2. Belum/tidak tamat SD

5. SMA
6. D3/S1 ke atas

3. SD
4. SMP
6. Pekerjaan

: 1.Tidak bekerja

4. Petani

2. Pedagang

5. PNS/ABRI

3. Buruh

6. Lainnya, sebutkan: _________

7. Jumlah total anggota keluarga yang tinggal di rumah ini: ___ orang
8. Jumlah pendapatan per bulan: ___________________________________________

Silanglah (X) salah satu jawaban yang menurut anda benar


PENGETAHUAN
1. Apakah Anda mengetahui tentang Pola Makan Sehat?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah Bapak/Ibu mengetahui pentingnya pola makan sehat untuk kesehatan?
a. Ya
b. Tidak
3. Makanan apakah dibawah ini yang menurut Bapak/Ibu banyak mengandung
karbohidrat/zat tenaga?
a. Jagung dan nasi
b. Kacang-kacangan

102

4. Makanan apakah dibawah ini yang menurut Bapak/Ibu banyak mengandung protein
hewani/ zat pembangun?
a. Ikan dan telur
b. Bayam dan kangkung
SIKAP
5. Saya setuju bahwa Pola Makan Sehat itu penting.
a. Ya

b. Ragu-ragu

c. Tidak

6. Saya setuju bahwa mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat itu


penting pada setiap kali makan.
a. Ya
b. Ragu-ragu
c. Tidak
7. Saya setuju bahwa mengkonsumsi makanan yang mengandung protein itu penting
pada setiap kali makan
a. Ya

b. Ragu-ragu

c. Tidak

8. Menurut saya pola makan sehat itu mudah diterapkan.


a. Ya

b. Ragu-ragu

c. Tidak

9. Menurut saya menu makanan yang saya konsumsi setiap hari sudah memenuhi
syarat pola makan sehat.
a. Ya

b. Ragu-ragu

c. Tida

PERILAKU
10. Berapa kali anda mengkomsumsi makanan dalam sehari (tidak termasuk makanan
ringan)?
a. 3x
b. 2x
c. 1x
11. Apakah setiap hari anda sarapan ?
a. Selalu
b. Jarang
c. Tidak pernah
12. Terdiri dari jenis makanan apa saja yang biasanya anda konsumsi setiap hari ?
103

a. Nasi, lauk pauk (tahu/tempe/telur/daging/ayam/ikan),sayur


b. Nasi, sayur
c. Nasi, lauk pauk (tahu/tempe/telur/daging/ayam/ikan)
13. Berapa banyak anda mengkomsumsi air putih dalam sehari?
a. 7-8 gelas perhari
b. 4-5 gelas perhari
c. 1-2 gelas perhari
14. Berapa kali dalam seminggu anda mengkonsumsi susu (susu sapi/susu kedelai) ?
a.

3 kali

b.

< 3 kali

c.

Tidak pernah

15. Seberapa sering Anda mengkonsumsi makanan instan setiap minggu ?


a. Tidak Pernah

b. Jarang

c. Selalu

16. Apakah anda mengkonsumsi buah-buahan setiap hari?


a.

Ya

b.

Tidak

17. Apakah setiap harinya di keluarga Anda memasak ?


a. Selalu

b. Jarang

c. Tidak pernah

18. Apakah Anda pernah mencari informasi mengenai pola makan sehat?
a. Selalu

b. Jarang

c. Tidak pernah

19. Apakah Anda pernah mengikuti penyuluhan kesehatan dari Puskesmas tentang pola
makan sehat ?
a. Selalu

b. Jarang

c. Tidak pernah

20. Apakah Bapak/Ibu pernah menerapkan isi dari kegiatan Penyuluhan mengenai pola
makan sehat di kehidupan sehari-hari?
a. Selalu

b. Jarang

104

c. Tidak pernah

LAMPIRAN II
PENILAIAN PRESURVEY

PENGETAHUAN
Nilai tertinggi 8
Hasil : 75% ( 6 poin) = Baik; 60% - 75% (5-6 poin) = Cukup; < 60% ( 6 poin ) =
Kurang
1.

Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :


a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
2. Untuk pertanyaan no. 2 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
3. Untuk pertanyaan no. 3 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
4. Untuk pertanyaan no. 4 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
SIKAP
Nilai total tertinggi 15
Hasil : 75% ( 12 poin) = Baik; 60% - 75% (10 - 12 poin) = Cukup; 60% ( 10 poin) =
Kurang
5. Untuk pertanyaan no. 5 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1

6. Untuk pertanyaan no. 6 apabila menjawab :


a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
7. Untuk pertanyaan no. 7 apabila menjawab :
105

a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
8. Untuk pertanyaan no. 8 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
9. Untuk pertanyaan no. 9 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1

PERILAKU
Nilai total tertinggi 32
Hasil : 75% ( 25 poin) = Baik; 60% - 75% (20 - 25 poin) = Cukup; 60% ( 20 poin) =
Kurang
10. Untuk pertanyaan no. 10 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
11. Untuk pertanyaan no. 11 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
12. Untuk pertanyaan no. 12 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
13. Untuk pertanyaan no. 13 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
14. Untuk pertanyaan no. 14 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
106

c. Mendapatkan poin 1
15. Untuk pertanyaan no. 15 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
16. Untuk pertanyaan no. 16 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
17. Untuk pertanyaan no. 17 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
18. Untuk pertanyaan no. 18 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
19. Untuk pertanyaan no. 19 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
20. Untuk pertanyaan no. 20 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1

107

108

LAMPIRAN III
KUESIONER
PENGETAHUAN POLA MAKAN SEHAT KELUARGA BINAAN DI DESA
PANGKALAN, KECAMATAN TELUK NAGA KABUPATEN
TANGERANG, PROVINSI BANTEN

KARAKTERISTIK RESPONDEN

I.

1. Nama

2. Umur

3. Alamat

4. Pekerjaan

NO.
RESPONDEN

ASPEK PENGETAHUAN
1.

Apakah anda mengetahui sebaiknya dalam sehari makan berapa


kali?
d.

3x

e.

2x

f.

1x

2. Apakah anda mengetahui makanan apa saja yang mengandung


karbohidrat?
a.

Ya, sebutkan.

b.

Tidak

3. Apakah anda mengetahui makanan apa saja yang mengandung


protein?
a.

Ya, sebutkan.

b.

Tidak

109

4. Apakah anda mengetahui makanan apa saja yang mengandung


lemak?

II.

a.

Ya, sebutkan.

b.

Tidak

ASPEK PENDIDIKAN
1. Apakah pendidikan terakhir anda?
a. SMA/SMK
b. SMP
c. SD

III.

ASPEK PAPARAN MEDIA INFORMASI


1. Apakah disekitar lingkungan anda pernah mendapatkan informasi
mengenai pola makan sehat melalui TV, radio, majalah ataupun
pamflet (selebaran)?
a. Pernah
b. Tidak Pernah
2. Apakah anda pernah mendapatkan informasi mengenai manfaat
dan tujuan pola makan sehat?
a. Pernah
b. Tidak Pernah
3. Apakah anda pernah mencari tahu tentang informasi pola makan
sehat dari internet, majalah, koran?
a. Pernah
b. Tidak Pernah
4. Apakah anda merasa perlu diadakan penyuluhan mengenai
informasi tentang pola makan sehat?
a. Perlu

110

b. Tidak Perlu

111

IV.

ASPEK EKONOMI
1. Berapa pendapatan keluarga anda dalam sebulan?

a. > Rp. 2.730.000 jj


b. < Rp. 2.730.000

V.

ASPEK HUBUNGAN SOSIAL


1. Apakah ada kegiatan atau perkumpulan warga sekitar tempat tinggal
anda yang membahas tentang pola makan sehat?
a.
Ya
b.
Tidak
2. Jika Ya, apakah ada ikut berpartisipasi?
a.
Ya
b.
Tidak
3. Setelah mengikuti kegiatan perkumpulan tersebut apakah ada
pengetahuan yang anda dapatkan?
a.
Ya
b.
Tidak

VI.

ASPEK PENGALAMAN
1. Apakah di sekitar tempat tinggal anda pernah mengikuti penyuluhan
tentang pola makan sehat yang diadakan oleh tenaga kesehatan
setempat ataupun kader pemberdayaan masyarakat desa?
a.
Ya
b.
Tidak

112

2. Jika Ya, apakah anda mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut?


a.
Ya
b.
Tidak
3. Jika pernah, siapakah yang memberikan penyuluhan tersebut?
a.
Dokter
b.
Bidan
c.
Kader
4. Apakah menurut anda kegiatan penyuluhan tersebut memberikan
manfaat?
a.
Ya
b.
Tidak

113

LAMPIRAN IV
LEMBAR SKORING

I.

ASPEK PENGETAHUAN
Nilai tertinggi 9
Hasil : 75% ( 7 poin) = Baik; 60% - 75% (6 - 7 poin) = Cukup; <
60% ( 6 poin ) = Kurang
1. Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
2. Untuk pertanyaan no. 2 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
3. Untuk pertanyaan no. 3 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
4. Untuk pertanyaan no. 4 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1

II.

ASPEK PENDIDIKAN
1. Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :
a. SMA berarti bernilai baik
b. SMP berarti bernilai cukup
c. SD berarti bernilai kurang

III.

ASPEK PAPARAN MEDIA INFORMASI

114

Nilai tertinggi 8
Hasil : 75% ( 6 poin) = Baik; 60% - 75% (5 - 6 poin) = Cukup; <
60% ( 6 poin ) = Kurang
1. Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
2. Untuk pertanyaan no. 2 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
3. Untuk pertanyaan no. 3 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
4. Untuk pertanyaan no. 4 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1

IV.

ASPEK EKONOMI
1. Untuk pertanyaaan no. 1 apabila menjawab :

a. > Rp. 2.730.000 berarti bernilai tinggi


b. < Rp. 2.730.000 berarti bernilai rendah

115

V.

ASPEK HUBUNGAN SOSIAL


Nilai tertinggi 6
Hasil : 75% ( 5 poin) = Baik; 60% - 75% (4 - 5 poin) = Cukup; <
60% ( 4 poin ) = Kurang
1. Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :

a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
2. Untuk pertanyaan no. 2 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
3. Untuk pertanyaan no. 3 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
V.

ASPEK PENGALAMAN
Nilai tertinggi 9
Hasil : 75% ( 7 poin) = Baik; 60% - 75% (6 - 7 poin) = Cukup; <
60% ( 6 poin ) = Kurang
1. Untuk pertanyaan no. 1 apabila menjawab :

a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
2. Untuk pertanyaan no. 2 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1
3. Untuk pertanyaan no. 3 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 3
b. Mendapatkan poin 2
c. Mendapatkan poin 1
4. Untuk pertanyaan no. 4 apabila menjawab :
a. Mendapatkan poin 2
b. Mendapatkan poin 1

116

LAMPIRAN V
FOTO KEGIATAN

117

LAMPIRAN VI
LEAFLET

Tampak depan

Tampak belakang

118