Anda di halaman 1dari 34

DIKTAT THEOLOGIA PERJANJIAN LAMA 2

Saduran dari :
SEJARAH DAN MITOLOGI ILMU THEOLOGI PERJANJIAN LAMA
Karangan : TGR Boeker, MTh

Dosen :
Pdt. Agustinus Djali, MDiv.

SEKOLAH TINGGI THEOLOGIA BASOM


PROGRAM STUDY

Sarjana Theologia Kependetaan &


Sarjana Theologia Pendidikan Agama Kristen
Batam, Mei 2009
1

HUKUM TAURAT
Catatan: Uraian yang berikut tidak mencakup semua aspek hukum Taurat dalam
Perjanjian Lama, melainkan dimaksud untuk melengkapi uraian Dyrness dalam Tematema dalam teologiPerjanjian Lama.
Teologi masa kini cenderung untuk melihat hubungan yang sangat dekat antara hukum
Taurat dalam Perjanjian Lama dengan hukum-hukum yang ada di Timur Tengah Kuno.
Bahkan ada sebagian sarjana yang memandang Hukum Taurat sebagai pengembangan
hukum-hukum para tetangga Israel (Babel, Asyur, dll.). Untuk dapat mengevaluasi
pandangan tersebut maka hukum Timur Tengah Kuno dari ciri-cirinya perlu diteliti
sehubungan dengan ciri-ciri hukum Taurat.
1. HUKUM DI TIMUR TENGAH KUNO
A. Kumpulan-kumpulan hukum di Timur Tengah
Melalui penggalian arkeologi telah ditemukan banyak naskah (codex) hukum dari
Timur-Tengah, antara lain:
- Hukum Akkad (Eshnunna): 1850 BC
- Hukum Sumer (Lipit-Ishtar): k.1. 1600 BC
- Hukum Hammurabi: 1700 BC
- Hukum Hittite: abad 15
Jika diadakan perbandingan di antara Hukum Taurat Perjanjian Lama dan hukum di
dunia Timur Tengah Kuno, ternyata adabeberapa persamaan tetapi persamaan-persamaan
itu cenderung dibesar-besarkan oleh sementara teolog. Yang jauh lebih menonjul dalam
perbandingan dua sistem hukum ialah justru perbedaan-perbedaan.
B. Perbedaan antara Hukum Taurat dan hukum lainn di sekitarnya
Perbedaan-perbedaan ini nampak kalau Hukum Taurat dilihat secara keseluruhan,
bukan hanya hukum-hukum tertentu yang diperbandingkan.
1. Asal usul ilahi hukum Taurat
Seluruh Hukum Taurat diberikan oleh Allah. Dari situlah asal wibawa Hukum
Taurat. Dalam Pentateukh sendiri banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa
TUHAN sendiri mewahyukan dan memberikan perintahperintah-Nya serta ketetapanketetapan-Nya:
a."Berfirmanlah TUHAN kepada Musa ..."Kel 20:22;Im 16: 3:44; 26:1; dll.
b."TUHAN berfirman kepada Musa ..." Kel.24:12;30:11;Im, 4-1, 5:14;
6:1,8,19,24; 7:22,28; dll.
c."Lalu Allah mengucapkan segala firman ini ..." Kel 20:1
d.Tidak sedikit ketetapan dalam Pentateukh mengandung kata ganti orang pertama, yakni
Allah sendiri yang mienetapkannya: Kel.20:3,4,5,6,22,23, 24,25,26; 22:23,24,25,27;
'23:14,15,18,22, dll.
Dalam Perjanjian Lama, Hukum Taurat dipandang sebagai anugerah terbesar dari Allah
kepada bangsa-Nya:"Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakob, ketetapan-ketetapanNya kepada Israel. Ia tidak berbua demikian kepada segala bangsa dan, hukumhukumNya tidak mereka kenal Haleluya!
Mazm I47:19.20
Lain sekali di Timur Tengah Kuno di mana raja menjadi sumber hukum, bukan Allah.
Kalau di Israel raja tidak pernah diberi kuasa untuk menetapkan hukum, melainkan raja
2

sendiri patuh pada hukum yang diberikan Allah sama seperti rakyatnya (Ul.17:18-20).
2.

Kesatuan antara kaidah-kaidah etika, tuntutan agama dan ketetapan juridis


dalam Hukum Taurat

Di Timur Tengah Kuno, hukum-hukum hanya membahas perkara-perkara hukum


perdata dan pidana sedangkan soal-soal moral/etik serta soal-soal agama diserahkan ke
cabang literatur yang lain. Lain dalam hukum Taurat, di mana ketetapan yuridis tidak
dapat dipisahkan dari kaidah-kaidah etika dan agama. Ketiganya merupakan satu
kesatuan, karena Tuhan mengatur semua bidang kehidupan:
Unsur etika/moral dalam hukum taurat nampak a.l. melalui larangan terhadap
perzinahan.
Unsur agama dalam hukum Taurat nampak melalui larangan terhadap penyembahan
berhala: Kel 20:23; 22:20; dll.
3.

Unsur menasihati dan menegur dalam Hukum Taurat adalah unik

Melalui unsur ini nyata bahwa Hukum Taurat bukan sekedar suatu kitab undangundang yang mau tidak mau hares ditaati, melainkan bersifat pedagogis.
4.

Hukum-hukum dalam Perjanjian Lama sering dikaitkan dengan motifasi


rohani.

"Akulah TUHAN, Allahmu" Im. 19 atau motivasi etis (Kel. 20:12) untuk mendorong
pelaksanaan Hukum Taurat. Dari segi hukum pemberian motifasi ini barangkali dianggap
tidak perlu, tetapi itu adalah bagian penting dari hr*w)t
5.

Hukuman-hukuman dalam Hukum Taurat tidak dikuasai brutalitas

Menurut hukum Taurat maka hukuman mati diberlakukan terutama untuk orang yang
menghina TUHAN dengan menyembah berhala Kel. 22:30), berpaling kepada ilmu sihir
dan arwah (Kel. 22:10; Im. 20:6,27), menghujat nama TUHAN (Im. 24:14), serta tidak
menguduskan hari Sabat (Bil. 15:32). Dalam hubungan dengan sesama mati ditetapkan
khususnya untuk orang yang membunuh manusia, termasuk penibunuhan anak kecil
(Kel. 9:6; Im. 20:1-5), orang yang mengutuki orang tua (Im 20:9) serta untuk segala
bentuk perzinahan (Im 20:10-21).
Lain dengan undang-undang diTimurTengah, yang tidaksegan- segan untuk cepat
menghukum mati orang yang telahmelakukanl kesalahan yang tidak menuntut nyawa
mereka harus dicabut.
Misalnya dalam Codex Hammurabi ada hukum mati untuk:
- seorang isteri yang tidak menjaga miliknya
- seorang perampok
- orang yang menjadi saksi palsu
6.

Hukum Taurat melindungi orang lemah

Hukum Taurat berisikan banyak hukum-hukum yang menetapkan perlindungan


khusus bagi:
- orang buta Ul. 27:18
- orang tuli Im. 19:14
- janda dan yatim piatu Kel 22:21-22; Kel 24:17.I0
- orang asing Kel 23:9; Im 19:10
3

- orang miskin Kel 23:6; Ulgn. 15:7-11


- para budak (karena menjual diri) Kel 21:1-11; Ul 15:12-18
- para budak (sejak lahir) Kel 23:12
Hukum-hukum tentang Sabat, tahun Sabat, tahun Yobel dan tentang perayaan-perayaan
juga memperlihatkan sikap yang Sama. Lain sekali sifat Codex Hammurabi yang selalu
mau menjaga dan melestarikan hak golongan atas.
7.

Hukum Taurat tidak membedakan hukuman menurut kelas dan tingkatan


social

Satu hukum berlaku baik untuk orang merdeka maupun untuk budak, demikian juga
untuk orang Israel asli dan orang asing (Im.24:22). Bahkan ada perlindungan khusus
untuk para budak terhadap tuan-tuan yang kejam. Sedangkan di Timur Tengah
pelaksanaan hukuman biasanya bergantung pada status somial seseorang.
Codex H203: Kalau seorang "pendukuk" menampar pipi penduduk lain, ia harus bayar 1
mina perak
Codex H205: Kalau seorang budak menampar pipi seorang Penduduk",. maka telinganya
akan dipotong
8.

Konteks historis dari hukum-hukum dalam Pentateukh


Dicatat Situasi kondisi yang membawa kepada pewahyuan ketetapan-ketetapan baru
sering kali dicatat, misalalnya:-Im 10,lm 24:10-16 Bil 15:32-36
Sedangkan hukum-hukum di Timur Tengah "abadi" (timeless)
9.

Adanya tendensi (kecenderungan -profetis, bahkan eskatologis dalam


hukum-hukum pentateukh
Sebagian hukum dalam Perjanjian Lama diberikan untuk merghadapi peristiwaperistiwa yang akan datang, seperti misalnya hukum-hukum yang berkaitan dengan
situasi di Kanaan waIapun Israel pada waktu itu masih berada di padang gurun.
Ul 6:20dst. menghadapi anak-anak yang tidak mengerti arti ibadah Ul 7:3 dst.
perkawinan dengan bangsa-bangsa Kanaan Ul 12:1.dst. pemusnahan tempattempat*ibadah Kanaan penetapan hanya satu tempat ibadah untuk Israel Ul. 17:14 dst.
hukum tentang raja (ratusan tahun sebelum ada raja')
Dengan demikian sangat nyata perbedaan hakiki antara hukum umum di Timur Tengah
dari hukum Taurat dalam Alkitab. Hukum Taurat bukanlah pengembangan hukum dari
Timur Tengah Kuno, melainkan adalah kehendak TUHAN yang diwahyukan kepada
Umat-Nya.
HAKIKAT HUKUM TAURAT
A. Hukum Taurat adalah bagian utama dari wahyu Allah
Sejak semula hukum dan perintah Allah memegang peranan utama dalam hubungan
Allah dengan manusia.
Dalam taman di Eden Allah memberi perintah jelas tentang satu pohon yang terlarang.
Perintah ini menuntut ketaatan mutlak, jika tidak, manusia akan kehilangan segala
sesuatu.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan seksama:
1. Hukum Taurat bersumber kepada revelasi Allah sendiri, bukan berdasarkan
pengalaman manusia yang dirumuskan.
4

2. Hukum Taurat bukanlah suatu yang baru diberikan kepada bangsa Israel di gunung
Sinai melainkan tidak bias dipisahkan dari hakikat Allah itu sendiri yang dari semula
berkomunikasi dengan manusia.Salah satu bagian dari komunikasi ini (rbd)
berbicara, rma berkata, berfirman dll. Adalah dalam bentuk hokum atau perintah Kej.
26: 5
3. Setiap hukum/perintah Allah menuntut ketaatan mutlak Ketidaktaatan mengakibatkan
kehilangan pemberian Allah.
4. Manusia telah diciptakan menurut gambar Allah, diberi kehidupan, berkat dari
kekayaan serta persekutuan dengan Allah sebelum satu pun hokum Allah
disampaikan kepadanya berarti ketaatan kepada hukum Allah tidak dapat
menciptakan kehidupan sejati mlainkan ketaatan hanya merupakan jalan untuk tidak
kehilangan segala pemberian Allah.
B. Hukum Taurat sebagai pengajaran
Kata kerja dasar yang melatar belakangi hr*w{t ialab
hry yang dalam Oal berarti"throw, shoot, cast" (BDB). Akan tetapi hr*w{t diambil dari konjugasi Hifil: "point
out, show, direct,teach,instruct", atau "menunjukkan. mengarahkan, memberi petunjuk,
mengajar". Dengan demikian kata Ibrani
hr*w{t mempunyai arti dasar yaitu
pengajaran".
Ada sejumlah subyek yang muncul bersama hry dalam Hifil: laki-laki, ayah, orang tua,
binatang, bumi, teman, nabi, imam. Tetapi sebelum yang lain muncul sebagai guru, lebih
dahulu Allah memperkenalkan diri sebagai Sang Guru, sekaligus Allah juga merupakan
subyek untuk Hifil ("mengajar") yang paling sering disebut.
Dengan demikian "Hukum Taurat" dalam Perjanjian Lama harus dipandang bukan
terutama sebagai suatu "kitab undang-undang" yang oleh Allah diperhadapkan kepada
bangsa Israel untuk ditaati melainkan Hukum Taurat itu berarti bahwa Allah yang hidup
dan yang penuh kasih mengajarkan kehendak-Nya dan cara hidup yang benar kepada
anak-anak-Nya.
I. Allah sebagai pengajar
a) Allah menyatakan diri sebagai Sang Guru
Kel 4:12 Kel 4:15 Kel 15:25
b) Pengajaran Allah dan cara-Nya untuk mengajar melebihi semua guru yang lain
sehingga Ayub mengakui: "Siapakah guru seperti Dia?" (Ayb 36:22)
c) Oleh sebab itu tidak perlu heran bahwa orang percaya dalam Perjanjian Lama
merindukan agar Allah mengajar mereka dan memberi petunjuk apa yang harus
dilakukan.
Hak 13- 8 Mzm 27:11 Mzm 119:33
2. Orang Lewi dan para imam sebagai pengajar
Setelah TUHAN sendiri yang menonjol sebagai pengajar di Israel juga kaum Lewi dan
para imam.
a) Tugas mengajar diamanatkan kepada mereka oleh Allah sendiri kel. 24 :12, I m 10:11
b) Inti tugas mereka ialah
- mengajarkan hr*w{t hw*x+m! yang dari Allah (Kel 24:12)
- memberi petunjuk/putusan dalam perkara-perkara yang sukar (U1gn.17:8.10.11)
c) TUHAN sendiri juga memberi kemampuan untuk mengajar (Kel 35:34)
3. Para Nabi sebagai pengajar
Yes 1:10
Yes 8:16.20 Yes 30:9.10
4. Orang Tua sebagai pengajar
Ams 1:8
5

Ams 4:1-2 Ams 3:1


C. Isi Hukum Taurat.
Secara tradisional Hukum Taurat dibagi atas hukum moral, hukum seremonial, dan
hukum sipil.Barangkali pembagian yang berikut dapat merumuskan Inti dari. kekhususan
Hukum Taurat degan lebih tepat:
1. Penyerahan mutlak (commitment:) kepada TUHAN
Karena TUHANlah yang memberikan hukum Taurat kepada manusia yang diciptakan
menurut gambar dan rupa-Nya, maka hubungan dengan Dia menjadi inti dan tujuan
seluruh hukum Taurat. Penyerahan dan ketaatan pribadi inilah mengawali dan mendasari
tiap-tiap hokum lain yang ada dalam Perjanjian Lama.
a) TUHAN menuntut penyerahan mutlak kepada-Nya Kel 19:5, Kel 20:1-11.23, UI 6:45, U1. 11:13, Ams 1:7 "takut akan TUHAN"
b) Tidak adanya penyerahan itu dicela oleh para nabi Mi. 6:6 Hos 6:6
c) Penyerahan kepada TUHAN diutamakan waktu perjanjian dibaharui Yos 24:14dstr.
2. Hukum Moral
Hukum moral menjabarkan bagaimana manusia yang telah menyerahkan diri kepada
Allah, wa,jib untuk hidup sesuai dengan gambar dan hakikat Allah.
3. Hukum Seremonial
Hukum seremonial menyediakan "Jalan keluar" untuk mana ia yang telah gagal untuk
memenuhi tuntutan utama yaitu mengasihi dan melayani Tuhan serta sesama dengan
segenap hati.
4. Hukum Sipil
Hukum sipil menyangkut masalah pemerintahan dan, pemberesan kegagalan dalam
memenuhi hukum moral pada tarap antar manusia. Dalam bidang hukum inilah terdapat
kemiripan-kemiripan dengan naskah-naskah hukum Timur Tengah Kuno.
HUKUM TAURAT DAN KESELAMATAN
Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa pada masa Perjanjian Lama
keselamatan diperoleh melalui ketaatan kepada hukum Taurat. Apakah benar demikian?
Jawaban akan sangat menentukan sikap terhadap seluruh Perjanjian Lama dari
pemberitaannya pada masa kini. Perlu disimak bahwa hukum Taurat tidak berdiri pada
awal Perjanjian Lama, melainkan baru diwahyukan secara lengkap (Kel 20. Ulgn. 31)
seteLah pribadi--pribadi serta bangsa lsrael se1uruhny mengalami bagaimana Allah
menyelamatkan mereka, berqaul dengan mereka dan memelihara bangsa Israel berratusratus tahun lamanya.
Seluruh sejarah Allah dengan pribadi-pribadi serta dengan Israel membuktikan
bagaimana kasih dari anugerah Allah senantiasa mendahului setiap tuntutan-Nya.
Penyataan kasih ini nyata dalam setiap tindakan-Nya serta firman dari janji-Nya.
Khususnya riwayat keluaran Israel dari Mesir mengungkapkan hal hubungan antara
penyelamatan dengan hukum Taurat dalam Perjanjian Lama:
1. Orang Israel ditebus dari murka Allah melalui darah seekor domba (Kel 12), kemudian
diselamatkan dari penindasan Mesir oleh kasih karunia Allah.
2. Orang yang telah ditebus ini dibawa oleh Allah, penebus mereka, kepada tempat
pemberian hukum Taurat (Kel 20).
Dari urutan peristiwa-peristiwa di atas nampaklah bahwa anugerah dari keselamatan dari
Allah mendahului hukum Taurat. Adalah tidak mungkin bahwa seorang yang belum
diselamatkan oleh Allah mencoba untuk mendapat perkenanan Allah melalui ketaatan
kepada hukum Taurat.
6

Demikian juga sifat hukum Taurat yang lebih bersifat negatif daripada positif lebih
banyak larangan dari pada perintah mencegah faham seolah-olah dengan melakukan
Hukum Taurat orang dapat mendatangkan keselamatan dari hidup. Tidak ada satu hukum
yang menuntut:"laksanakan ... maka engkau akan memperoleh keselamatan kekal
sebab keselamatan dan hidup hanya diperoleh sebagai anugerah Allah. Tidak taat berarti
hidup yang sudah dimiliki berdasarkan anugerah Allah menjadi hilang. Taat kepada
kehandak Tuhan dalam Hukum Taurat berarti hidup yang sudah dimiliki berdasarkan
anugerah Allah, itu dipertahankan.
Sikap bangsa Israel terhadap Hukum Taurat sejak Babel
Sejak dari pembuangan di Babel terjadi perubaian--perubanan yang mendasar dalam
kehidupan rohani orang Israel. Pada Waktu itu Israel jauh dari Yerusalem, tempat satusatunya yang diperkenan Allah untuk melaksanakan ibadah kurban di situ (Ulgn. 12)
Akibatnya, firman Allah yang tertulis, khususnya hukum Taurat, memegang peranan
yang semakin penting dalam ibadah Israe1. Bersamaan dengan itu berkembang anggapan
di Israel, bahwa asal melakukan ketentuan-ketentuan Hukum Taurat,
khunusrya
seremonial, maka pasti selamat. Padahal maksud TUHAN dengan hukum Taurat, bahwa
Hukum Taurat adalah wujud kepribadian-Nya dan kehendak-Nya dan justru di dalamnya
terbaca rencana keselamatan Allah. Bukan seolah-olah Taurat itu sendiri membawa
keselamatan. (Bd. Yoh. 5: 39-40, pernyataan Tuhan Yesus terhadap orang-orang Yahudi,
yang menganggap bahwa mereka mendapat keselamatan melalui ketaatan kepada
Hukum Taurat: Kamu menyelidiki kitab-kitab suci, sebab kamu menyangka bahwa
olehnya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun kitab-kitab suci itu
memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau dating kepada-Ku untuk
memperoleh hidup itu. Kitab-kitab suci itu sendiri tidak mengandung keselamatan,
melainkan mau membawa manusia kepada Dia yang satu-satunya pemberi keselamatan
berdasarkan anugerah.)
Pelaksanan hukum Taurat itu tidak berkenan di hadapanA11ah kecuali dilakukan dalam
sikap percaya kepada TUHAN serta mengasihi sesama dengan segenap hati.
Yang dikecam dan ditegur oleh Tuhan Yesus Kristus serta oleh Paulus ialah bukan
ketaatan kepada hukum, Taurat melainkan sikab agama Yahudi pasca pembuangan yang
telah menjadikan ketaatan kepada hukum Taurat suatu jasa yang harus mendatangkan
keselamatan lepas dari ketaatan terhadap dua hukum utama. Hal yang Sama telah
dikecam oleh para nabi Perjanjian Lama.
RELEVANSI HUKUM SEREMONIAL UNTUK ORANG KRISTEN
1. Hukum seremonial P.L. digenapi dalam Tuhan Yesus Kristus
Tuhan Yesus telah menjadi anak domba Allah (Yes 53) sejak itu hukum seremonial tidak
lagi berlaku secara hurufiah, baik untuk orang Yahudi, maupun untuk orang Kristen. Hal
ini diuraikan Paulus sehubungan dengan sunat (Gal 5:2-6).
2. Hukum seremonial P.L. tetap mengajarkan kehendak Allah
a. Perlu adanya penebusan
Hukum seremonial mengajarkan bahwa perlu pertumpahan darah untuk pendamaian
manusia dengan Allah. Pentingnya darah itu terletak, bukan dalam suatu kekuatan magis
darah itu melainkan karena "darah" berbicara tentang adanya pengganti
("propitiation","substitution"). Inilah latar belakang Kel.12:21-23, bandingkan juga Im
1:4. (substitusi).
Kurban-kurban yang mengandung arti penebusan ialah:
(1) Korban
Im bakaran
Im. 1
Im. 3
(2) Korban keselamatan
Im
3

(3) Korban penghapus dosa


Im 4-5:13
(4) Korban penebus salah
Im 5:14-6:7)
Dalam semua kurban ini perlu pertumpahan darah.
b. Pengucapan Syukur
Sebagian kurban merupakan wujud ucapan syukur umat Tunan:
(1) Korban sajian (Im 2)
RELEVANSI HUKUM TAURAT UNTUK GEREJA MASA KINI
Pertanyaan yang sering terdengar di kalangan gereja adalah: masih relevankah
Hukum Taurat dalam gereja pada masa kini? Sampai di manakah hal itu masih relevan?
Verkuyl dalam buku Etika 1 bagian Umum . 2002. hal. 81-164, mengemukakan
bahwa Hukumn Taurat itu menjadi dasar dari Etika Kristen. Itu berarti bahwa kita tidak
mungkin membuang Hukum Taurat, malinkan Hukum itu kita lestarikan dalam gereja
masa kini sebagaimana yang dikemukakan oleh Verkuyl:
1. Penyataan Allah terdiri dari Hukum Taurat dan Injil
2. Taurat mempunyai hubungan yang tak terpisahkan dengan Injil
3. Ada tiga macam cara menggunakan HUkum Taurat:
- Usus elenchticus atau usus paedagogicus (hokum yang menginsyapkan kita akan
kesalahan kita)
- Usus normativus atau usus dedacticus (fungsi hukum Taurat sebagai pengajar)
- Usus civilis atau usus politicus (fungsi hukum Taurat bagi rakyat sipil dalam
politik)
4. Hukum Taurat mempunyai tiga sifat utama, yaitu: bonitas (kebaikan), perfectio
(kesempurnaan), dan immutabilitas (tak dapat berubah).
5. Bentuk hokum Taurat merupakan perintah dan janji
6. Kesepuluh titah Tuhan (dasatitah) disebut aseret hadebarim
7. Dasatitah itu untuk segala bangsa dan segala zaman.
8. Dalam hukum Taurat itu terdapat undang-undang sipil/perdata disebut misypatim.
9. Dalam hukum Taurat terdapat undang-undang mengenai ibadah disebut cuuqqim)
10. Hukum Taurat juga ada dalam kitab Mazmur dan Amsal
11. Hukum Taurat ada dalam kitab para nabi Israel
12. Hukum Taurat juga nampak dalam agama Yahudi Rabinik
13. Hukum Taurat juga ada dalam keempat Injil
14. Hukum Taurat juga terdapat dalam surat-surat Paulus
15. Hukum Taurat juga terdapat dalam kitab Yakobus
16. Isi hukum Taurat adalah kasih
Dengan demikian maka jelaslah bahwa hukum Taurat masih berlaku dalam kehidupan
orang Kristen walaupun ritualnya tidak kita jalankan lagi karena hal itu sudah
digenapkan dalam kematian Tuhan Yesus di kayu salib.
KEPUSTAKAAN
Motyer, James
1984 "Law" dalam Evangelical Dictonary of Theoogy
Ced. Walter A. Elwell]
(Grand Rapids: Bake..- Book House)
Murray, John
1972 "Law" dalam New BibLe Dictionary. First edition (London: Inter-Varsity Press)
Simatupang, Saul
1988 Asal-usut huhum Taurat dari otoritasava. Skripsi
(Batu: Institut Injil Indonesia)
8

IBADAH BERSAMA DI ISRAEL


Pada saat Tuhan mengikat perjanjian dengan Israel sebagai umat Tuhan Dia menetapkan
ibadah bersama untuk seluruh bangsa, lengkap dengan imamat, tata ibadah, peraturan
hari raya dan penetapan berbagai jenis kurban (lihat kitab Keluaran dan Imamat). Sejak
saat itu ibadah kolektif memegang peranan yang sangat menonjol dalam seluruh
Perjanjian Lama. Namun demikian hakekat ibadah itu sudah ada jauh sebelumnya dan
dapat dibaca dengan jelas dari ibadah pribadi tiap-tiap orang yang percaya kepada Tuhan
pada masa Perjanjian Lama, khususnya pada jaman para patriarkh.
Dalam perkembangan ibadah bangsa Israel ternyata bahaya formalisme selalu
mengancam. Ini suatu perkembangan baru yang muncul setelah ibadah bersama
ditetapkan. Hakikat ibadah itu terdiri dari:
A. PENYERAHAN TOTAL TIAP PRIBADI KEPADA TUHAN

Yang menjadi ciri khas ibadah pribadi orang percaya Perjanjian Lama ialah bahwa
mereka percaya. kepada Tuhan mengasihi Dia dann juga tctat kepada Dia.
Sikap ini mendapat ekspresinya dalam tiga hal:
I. Tindak-tanduk yang benar dan sesuai Firman 'T'uhan. Keputusan-keputusan dalam
kehidupan sehari-hari harus mencerminkan iman dan ketaatan kepada Tuhan.
Demikianlah misalnya Abraham waktu ia berangkat dari Ur, kemudian dari Haran, juga
Waktu ia berpisah dengan Lot dan meyakini bahwa Tuhan akan memelihara dia.
2. Doa sebagai wujud komunikasi yang terus-menerus dengan Tuhan. Setelah Adam dan
Hawa maka Set mulai untuk memanggil nama TUHAN" (Kej 4:26). Pembicaraan yang
pribadi ini dengan Tuhan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah pribadi.
3..Persembahan kurban merupakan wujud nyata dari ucapan syukur orang percaya.
Unsur kurban sebagai pengganti bagi pembuat dosa belum begitu nyata pada waktu
sebelum pemberian hokum Taurat di Sinai.
B. IBADAH BERSAMA YANG DIATUR
Di samping ibadah pribadi yang mengungkapkan hakikat ibadah sebagai respons
manusia yang percaya kepada Allah, maka ibadah bersama orang Israel merupakan suatu
kebutuhan yang mutlak dengan beberapa alasan:
1. Karena perjanjian Allah diadakan dengan bangsa Israel, agar seluruh bangsa beribadah
kepada-Nya maka perlu pengaturan ibadah untuk seluruh bangsa, tidak bisa lagi hanya
spontan saja. Namun demikian ibadah bersama ini tidak boleh dilepaskan dari makna
ibadah sebagaimana nyata dalam ibadah pribadi dalam kitab Kejadian.
2. Ibadah bersama ini harus menjaga agar orang Israel tidak dipengaruhi cara ibadah
bangsa-bangsa lain.
3. Dalam ibadah bersama para peserta ibadah akan saling menguatkan melalui kesaksian
dan vivanvian bersama.
4. Ibadah bersama ini menjadi wadah untuk pengajaran dan p,engarahan oleh para hamba
Tuhan.
C. ASAL-USUL IBADAH BERSAMA BANGSA ISRAEL
Ibadah bersama dengan segala tata caranya bukanlah suatu yang berkembang atas
pengaruh bangsa-bangsa lain. Dari semula ibadah bersama merupakan ajnjuran Allah
melalui wahyu-Nya di gunung Sinai. Melaluinya Dia memanggil Israel kepada hubungan
9

perjanjian dengan Dia. Ketentuan pertama tentang ibadah bersama menyangkut


'Perayaan' hari Sabat (Kel 20:8-11) dan juga tentang bentuk kebaktian (Kel.20:24-26).
Ketentuan-ketentuan ini diberikan dalam rangka penyataan diri Allah yang dahsyat di
gunung Sinai, dan dengan demikian jelas bahwa ketentuan-ketentuan bukan merupakan
akhir suatu perkembangan yang panjang. Kalau hal ini tidak jelas, maka konsekuensi
teologis ialah bahwa ibadah menjadi jalan manusia kepada Allah.
D. IBADAH BERSAMA DI ISRAEL HARUS BERSIFAT ROHANI
1 Keselarasan antara bentuk lahiriah dan sikap batin si penyembah
Ibadah kepada TUHAN dalam seluruh P.L. tidak pernah terlepas dari sikap hati pribadipribadi yang terlibat dalam ibadah. Yaitu iman dan penyerahan kepada TUHAN, itulah
yang paling menentukan dalam ibadah ini. Dengan demikian pelaksanaan ibadah
mempunyai nilai simbolis karena melambangkan kenyataan rohani yang (seharusnya)
berada di belakangnya.
Pada pemberian kurban yang pertama kali dicatat dalam, Alkitab (Kej 4:4-5) telah nyata
bahwa diterima tidaknya sebuah kurban oleh Tuhan tergantung semata-mata pada sikap
hati orang yang membawa persembahan, sebab "TUHAN mengindahkan Habel dan
korban persembahan itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya"
(band. Ibr 11:4).
Pemberian korban penghapus dosa harus didahului oleh pengakuan dosa (Im 5:5).
Dalam peraturan tentang hari raya pendamaian berulang kali ditekankan bahwa yang
menentukan dalam Seluruh upacara itu ialah sikap "mengakui ... segala kesalahan.... dan
segala pelanggaran" serta "merendahkan hati" (Im 16:21.29.31). terjemahan Indonesia
menulis "merendahkan diri dengan berpuasa", seolah-olah berpuasa adalah wujud dari
"merendahkan diri". Namun dalam bahasa asli tidak ada tambahan "dengan berpuasa",
cukup hanya "merendahkan hati/jiwa", berarti suatu sikap yang benar-benar rohani
dc:ln tidak dapat diwakili oleh sikap lahiriah apapun juga.
Perhatikan juga istilah Ibrani untuk beribadat atau "menyembah" yaitu hhv yang
sebenarnya berarti "membungkuk".
Dalam Mika 6:6-7.8b bangsa Israel diingatkan bahwa arti ibadah bukanlah "ribuan
domba jantan, ... puluhan ribu curahan minyak ... (atau) anak sulungku" melainkan
Tuhan berkenan kepada hidup rendah hati di hadapan Allahmu
Hal yang sama telah diungkapkan dalam Mazmur 51:19: "Korban sembelihan kepada
Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk" .
2. Keselarasan antara ibadah dan kesempurnaan etis
Bukan hanya sikap hati melainkan juga dalam tindak-tanduk sehari-hari harus nampak
bahwa seorang penyembah TUHAN sungguh mengamalkan firman dari Dia yang
disembahnya.
Kitab Imamat yang berisikan peraturan-peraturan ibadah bersama Israel mempunyai inti
pokok yaita tuntutan TUHAN: "'Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus"
(Im 19:2).
Para nabi menyerukan hal yang sama (Mi 6:6-8a). Hal ini sangat jelas dalam seluruh
kitab Amos, namun terutama dalam fasal .5:21-24 di mana TUHAN berkata: "Aku
membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan
rayaMU ... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti
sungai yang selalu mengalir."
3. Penyembahan kepada Allah tidak terikat kepada tempat tertentu
a. Tuntutan: satu tempat ibadah
10

.Dalam hukum Taurat TUHAN menegaskan bahwa ibadah kurban di Israel hanya boleh
diadakan di satu tempat yang akan T U H AN tentukan (Im. 17:1-9; Ul. 12).
Hal ini
dilakukan-Nya khususnya untuk mencegah Israel dari sinkretisme bilamana berada di
tengah-tengah orang Kanaan. Namun peraturan ini sama sekali tidak berarti bahwa
ibadah kepada TUHAN terikat hanya dengan satu tempat itu saja.
b. Beribadah kepada Allah di mana-mana tempat
Dua belas suku Israel tersebar di daerah yang cukup luas di Kanaan, bahkan di seberang
sungai Yordan. Menurut peraturan firman TUHAN semua laki-laki di Israel harus
menghadap TUHAN di tempat yang dipilih TUHAN tiga kali setahun (Kel 23:1,?-17).
Di luar itu, apakah Israel tidak (rerlu) beribadah kepada-Nya? Tentu saja itu bukan
maksud peraturan tentang hari raya. Sebagaimana diakui pemazmur (Mzm 139) TUHAN
ada di mana saja, oleh sebab itu orang di mana saja dapat beribadah kepada-Nya.
Demikian juga pada waktu Israel kehilangan Bait Suci, yakni pada masa pembuangan
dan sesudahnya, bangsa Israel tidak berhenti untuk beribadah kepada TUHAN,
melainkan justru pada waktu itulah nampak bahwa ibadah akhirnya tidak bergantung
kepada tempat serta tata cara ibadah tertentu.
c. Kurban terikat dengan tempat yang dipilih Tuhan
Nampaknya bahwa peraturan tentang tempat ibadah tertentu ada kaitannya dengan
kurban yang harus diberikan (Kel 20:24; Ul 12). Khususnya kurban hanya. boleh
diberikan di satu tempat guna menghindari penyalahgunaan mengingat bahwa orang
Kanaan juga mempunyai kebiasaan memberikan kurban kepada dewa-dewa mereka di
mana-mana tempat. Dengan demikian Israel tidak diperkenankan untuk memberikan
kurban di ladang-ladang atau di, bukit-bukit, melainkan hanya di tempat yang dipilih
TUHAN yang di bawah pengawasan imamat yang sudah dipilih dan ditetapkan TUHAN
Namun demikian tidak boleh ada kesan bahwa tempat yang dipilih Tuhan" adalah
"tempat keramat." Tempat itu dapat dihancurkan TUHAN sendiri kalau yang dicari di
situ bukan Dia sendiri.
E. KECENDERUNGAN ISRAEL UNTUK MENYALAHGUNAKAN lBADAH
Sepanjang sejarah Israel ada kecenderungan yang sangat kuat yaitu untuk
menyalahgunakan Khususnya ibadah kurban dengan berpikir bahwa pelaksanaan hukum
seremonial itulah Yang paling penting dalam kehidupan ibadah Israel. Pemikiran Seperti
ini didukung oleh kenyataan bahwa kurban-kurban tersebut selalu harus diulangi.
Dalam Mazmur 50:7-15 dan 51:18-21 sudah nampak bahwa salah faham ini harus
dicegah.
'Tiga ratus tahun kemodian, nabi Yesaya menghadapi situasi yang
sama (pasal 1:11dstr.).
Sangatlah drastis pernyataan TUHAN seratus tahun kemudian melalui nabi Yeremia
(7:22-23): "Sungguh, pada waktu Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir
Aku tidak mengatakan atau memerintahkan kepada mereka sesuatu tentang korban
bakaran dan korban sembelihan; hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan
kepada mereka: Dengarkanlah suaraKu, maka (Aku akan menjadi Allahmu dan kamu
akan, menjadi umatKu, dan ikutilah Seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu,
Supaya kamu berbahigia"
Ternyata penetapan hukum tentang ibadah bersama serta kurban tidaklah merupakan inti
ibadah di Israel. Hukum-hukum ini justru diberikan kemudian sebagai suatu "jalan
keluar" untuk orang-orang yang telah melanggar kehendak TUHAN.
Yang menjadi inti dan tujuan selluruh ibadah bersama di Israel ialah iman dan
penyerahan kepada Allah yang-hidup.
11

IV.RELEVANSI HUKUM SEREMONIAL UNTUK ORANG KRISTEN


1. Hukum seremonial. P.L. digenapi dalam 'Tuhan Yesus Kristus

Tuhan Yesus telah menjadi anak Domba Allah (Yesaya 53) sejak itu hukum seremonial
tidak lagi berlaku secara hurufiah, baik untuk orang Yahudi maupun untuk orang Kristen.
Hal ini diuraikan Paulus sehubungan dengan surat (Gal 5:2-6).
2. Hukum seremonial P.L. tetap mengajarkan kehendak Allah
a. Perlu adanya penebusan
Hukum seremonial mengajarkan bahwa perlu pertumpahan darah untuk pendamaian
manusia dengan Allah. Pentingnya darah itu terletak bukan dalam suatu kekuatan magis
darah itu melainkan karena 'darah" berbicara tentang adanya pengganti (-propitiation,
substitution"). Inilah latarbelakang Kel.12i21-23, bd. Juga Im. 1: 4.
Kurban-kurban yang mengandung arti penebusan ialah:
(1) Korban bakaran Imamat 1
(2) Korban keselamatan Imamat 3
(3) Korban penghapus dosa Im. 4 -5:13
(4) Korban penebus salah (Im. 51:14- 6:7)
Dalam semua kurban ini perlu pertumpahan darah.
b. Pengucapan Sy-ukur
Sebagian kurban merupakan wujud ucapan syukur umat Tuhan:
(1) Korban sajian (Im 2; 6:14-23)
(2) Ukupan (Kel 34:34-38)
(3) Persembahan khusus/unjukan/sukarela (Kel 35:20-29; 39:29) Persembahanpersembahan ini tidak perlu ada pertumpahan darah di dalamnya, tetapi dapat juga,
seperti misalnya pada pentahbisan imam (Im 8:29), di mana salah satu domba yang
disembelih merupakan "persembahan unjukan."
PRINSIP DAN PROBLEMA ETIKA PERJANJIAN LAMA
Etika Kristen dan etika Perjanjian Baru berdasarkan etika Perjanjian Lama. Dasa Titah
yang diberikan kepada bangsa Israel oleh TUHAN pada awal hubungan perjanjian-Nya
dengan mereka adalah fondasi segala etika Kristen.
I. CIRI-CIRI ETIKA PERJANJIAN LAMA
1. Etika Perjanjian Lama bersifat teistis (theosentris)
Etika Perjanjian Lama jelas bersifat teistis (ber-pusat kepada Allah). Prinsip dan
standar etika Perjanjian Lama bersumber kepada sifat-sifat Allah sendiri yang
diwahyukan-Nya kepada manusia, dan karena itulah etika Perjanjian Lama lain dari
semua sistem etika yang lain yang umumnya bersumber kepada manusia, apakah itu raja
atau tradisi.
Secara khusus kekudusan TUHAN, yakni. hakikat-Nya sebagai Allah dan kesempurnaanNya secara moral, merupakan dasar etika Perjanjian Lama. Dalam mitos bangsa-bangsa
lain dewa-dewa sendiri melakukan banyak bahkan semua kejahatan yang juga dilakukan
manusia. Sebaliknya TUHAN adalah sempurna sebab mata-Mu terlalu suci untuk k
melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman" (Hab. 1:13).
2. Etika Perjanjian Lama bersifat personal
Etika Perjanjian Lama bersifat personal baik dilihat dari sumbernya, yakni. TUHAN,
maupun dilihat dari pihak yang menjadi alamat etika ini, yakni umat Tuhan. Greene
menu1is "Sumber etika Perjanjian Lama ialah perintah-perintah yang jelas dari pribadi
12

yang maha kudus,


yakni Allah, yang diumumkan melalui peristiwa-peristiwa
penyataan yang bersifat histories penyembahan berhala dianggap sebagai dosa yang
paling berat, karena melalui pengkhianatan terhadap Tuhan ini akar-akar semua ketaatan
kepada-Nya semua dipotong (hal. 157-158)
(Sebagian besar bahan ini diambil dari. Kaiser, hal. 4-13).
Dengan kata lain, yang menjadi sumber dan tolok ukur etika Perjanjian Lama bukanlah
seperangkat peraturan
dan
hukum, melainkan pribadi Allah yang kudus vwdq
Hal ini tentu berakibat bahwa etika Perjanjian Lama jauh lebih "ketat" dari semua etika
yang lain, karena manusia bisa saja menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan, tetapi
siapa dapat mengatakan bahwa dia sudah menjadi seperti pribadi Allah yang mahakudus?
Dengan demikian seruan TUHAN "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu,
kudus" (Im 19:2), merupakan inti etika Perjanjian Lama. Sama seperti sumbernya
demikian juga tujuan etika Perjanjian Lama bersifat personal, sebab orang-orang adalah
bebas dan sekaligus juga bertanggung jawab untuk menaatinya. Baik seluruh bangsa
sebagai
suatu kesatu maupun tiap-tiap pribadi diperhadapkan kepada pilihan
"jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta
melakukannya ..." atau
sebaliknya:"jikalau kamu menolak ketetapan-Ku dan
hatimu muak mendengar peraturan-Ku, sehingga kamu tidak melakukan segala perintahKu Etika Perjanjian Lama bukan suatu standard yang muluk-muluk yang dianggap sudah
otomatis dipenuhi oleh setiap anggota bangsa, melainkan setiap orang harus menentukan
sikap apakah ia memang mau hidup mnusia.
3. Etika Perjanjian Lama bersifat internal
Etika Perjanjian Lama tidak hanya mengutamakan tindak-tanduk seseorang,
melainkan juga sikapnya dalam batin. Sehubungan dengan upacara-upacara Perjanjian
Lama berkali--kali dinyatakan bahwa TUHAN mengutamakan justru sikap dan motivasi
hati daripada hanya, pelaksanaan upacara itu sendiri. Etika Perjanjian Lama mencapai
sampai ke dalam hati manusia dan dengan demikian sikap hati manusia ikut dinilai oleh
TUHAN.
(Band. uraian tentang "Ibadah bersama dalam Perjanjian Lama)
Bandingkan teks-teks berikut:
"Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala
kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata" (Kej. 6:5)
Hukum kesepuluh menegaskan: "jangan mengingini . . . jangan
nuengingini . . . " (Kel. 20: 17) .
Selanjutnya hal ini terus-menerus diungkapkan dalam Perjanjian Lama:
"TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita" (1 law. 28:9)
TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia sesunggunnya semuanya sia-sia
belaka" (Mzm 94:11), Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN Ams 15: 26.
Dengan kata Lain sikap dan motivasi hati yang tidak kudus jelas dipandang sebagai dosa
menurut etika Perjanjian Lama.
4. Etika Perjanjian Lama terarah kepada masa depan
Walaupun etika Perjanjian Lama tentu bermaksud untuk mengatur kehidupan orang
pada saat mereka hidup, namun aspek futuris (masa depan) juga sering menonjol,
khususnya dalam dua arah: pertama, ada janji berkat yang akan datang untuk orang yang
taat (Kel:6.12;Ams. 14:32b) dan kedua, ada ancaman hukuman yang akan datarg untuk
orang yang inelanggar kehendak TUHAN (Ke1.
20:5.7; Ams. 14 : 32a d1l.). Janji
dan ancaman ini tidak diberikan untuk mendorong mereka hidup kudus dalam kehidupan
ini. Dalam Perjanjian Lama janji dan ancaaman yang terkait dengan perinsip etika
biasanya menyangkut masa depan kehidupan orang-orang hanya jarang meliputi masa
kekeklalan.
13

kudus dalam kehidupan ini. Dalam Perjanjian Lama janji dan ancaman yang terkait
dengan prinsip etika biasanya menyangkut masa depan kehidupan orang dan hanya
jarang meliputi masa kekekalan.
5. Etika Perjanjian Lama bersifat universal
Standard etika Perjanjian
Lama adalah universal, berarti berlaku tidak hanya untuk
Israel, melainkan untuk semua bangsa dan manusia. Menurut Perjanjian Lama tuntutan
untuk hidup secara adil, benar dan baik tidak pernah hanya untuk Israel melainkan
berlaku untuk semua orang. Bukankah semua manusia berasal dari manusia pertama
yang telah diciptakan Allah sendiri menurut gambar dan rupa-Nya (Kej. 1:26-27) dan
dengan demikian bertanggung jawab untuk mencerminkan gambar pencipta mereka?
Fakta ini melatarbelakangi ucapan Abram: "Masakan Hakim segenap bumi tidak
menghukum dengan adil?" (Kei. 18:25). Demikian juga Sodom, kota orang kafir
"berdosa terhadap TUHAN" (Kei. 13:13) dan TUHAN menyatakan tentang Niniwe,
ibukota orang Asyur, bahwa "kejahatannya telah sampai kepada-Ku" (Yunus. 1:2).
Terutama dalam kitab para nabi ada bagian-bagian firman TUHAN yang disampaikan
secara khusus kepada bangsa--bangsa bukan Yahudi (Yes. 13-23; Yer. 45-51; Yeh. 25-32;
Dan. 2.7; Amos 1-2; seluruh kitab nabi. Obaja, Yunus dan Nahum). Sebagian besar
firman-firman ini berisikan standar kebenaran etis TUHAN yang telah dilanggar bangsabangsa itu.
Dia yang adalah pencipta dunia, Dia juga memberikan prinsip-prinsip kehidupan etis
kepadanya, yaitu kepada seluruh dunia.
II. KEBERATAN-KEBERATAN TERHADAP ETIKA PERJANJIAN LAMA
A. Sewaktu-waktu nampaknya sikap Allah sendiri tidak sesuai dengan hakikat-Nya
1. Allah menyesal atas penciptaan manusia.
2. Allah mengeraskan hati Firaun, kemudian menghancurkannya dalam Laut Merah
3. Allah "menyesatkan" Ahab
B. Allah rupanya menyetujui tindakan-tindakan yang tidak etis
C. Allah menyetujui rasa benci terhadap sesama
D. Allah menuntut tindakan yang amoral
1. Berbohong.
2. Perang pemusnahan
E. Persaudaran di antara umat nianusi2 tidak diuraikan dengan jelas
III. PRINSIP-PRINSIP TEOLOGIS DALAM MEMECAHKAN PROBLEMAPROBLEMA ETIKA PERJANJIAN LAMA
1. Seluruh Alkitab adalah firman Allah yang benar dan tanpa salah.

Tidak ada kontradiksi di antara bagian-bagian Alkitab, baik, dalam Perjanjian Lama,
maupun antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
2. Allah itu mahatinggi dan sempurna secara moral "kudus".
Allah itu kudus (Kel 34:6-7) dan sama sekali terpisah dari yang jahat. Dia tidak
mungkin tidak adil dan Dia juga tidak mungkin pilih kasih terhadap manusia,
sehingga tidak mungkin Dia mempunyai. dua ukuran dalam menilai manusia.
Sesungguhnya Dia penuh kebaikan dan kasih sayang terhadap semua manusia.
3. Allah itu tidak pernah berubah
Allah adalah kekal dan tidak berubah, karena tidak perlu berubah. Oleh sebab itu
norma etisnya juga tidak pernah berubah. Bukanlah seolah-olah patokan etika
Perjanjian Lama perlu MeMqaIaMi revisi dan perbaikan pada jaman Perjanjian Baru.
4. Kesimpulan
14

Dalam mendekati problema-problema etika Perjanjian Larna dapat dikatakan bahwa


interpretasi yang mencela kesempurnaan Can
kebaikan Allah jelaslah interpretasi yang salah. Sebaliknya, interpretasi yang serasi
dengan sifat-sifat Allah yang kurJus dan baik adalah interpretasi yang tepat.
IV. PRINSIP-PRINSIP HERMENEUTIK DALAM MEMECAHKAN
PROBLEMA- PRONBLEMA ETIKA PERJANJIAN LAMA
Untuk dapat memecahkan problema-problema etika Perjanjian Lama yang nampak
dalam teks Perjanjian Lama perlu untuk memperhatikan beberapa prinsip interpretasi
yang umum dan khusus.
I. Perhatikan seluruh konteks yang relevan untuk perikop tersebut
2.Telitilah dengan seksama isi setiap perikop serta konteks yang luas
3. Pelajarilah bahasa, idiom dan cara berfikir orang Timur Tengah
4. Perhatikan prinsip-prinsip interpretasi Perjanjian Lama
a. Penyataan Allah bersifat berkembang
Walaupun prinsip-prinsip ilahi, termasuk prinsip-prinsip etika tidak pernah mengalami
perkembangan, namun demikian prinsip-prinsip ini tidak seluruhnya dan dari semula
telah dinyatakan dan disampaikan kepada manusia. Semakin lama semakin jelas Tuhan
menyatakan kaidah-kaidah etika ilahi dengan jelas kepada manusia. Hal ini perlu
diperhatikan dalam menilai tindakan-tindakan, manusia dalam Perjanjian Lama.
b. Membedakan antara laporan dan anjuran
Adalah penting untuk membedakan antara tindakan yang hanya dilaporkan dalam
Perjanjian Lama dan tindakan yang dianjurkan oleh Allah. Fakta bahwa Perjanjian Lama
menguraikan watak, tindakan, dan penilaian dari pribadi-pribadi atau bangsa-bangsa
tidak, ber-arti-bahwa watak, tindakan, dan penilaian seperti itu direstui apalagi
dianjurkan.
Ada prinsip-prinsip serta perintah yang hanya merupakan nasehat dan pendapat dari
orang-orang tertentu dalam "drama Perjanjian Lama" yang sedang berkembang.
Masalah ini adalah bagian dari tugas seorang penafsir Alkitab untuk membedakan
ketentuan dan hal yang yang bersifat hanya sementara dari yang bersifat tetap dan
mengikat untuk segala jaman.
c. Beberapa tindakan yang tidak benar diijinkan pada jaman Perjanjian Lama karena
kekerasan hati manusia
Ada beberapa ketentuan dan hukuman yang nampaknya bertentangan dengan prinsip
illahi sebagaimana nampak dalam Perjanjian Baru. Hal ini menyangkut a.l. masalah
perceraian dan perbudakan.
Pada suatu jaman di mana perceraian dan perbudakan hampir berlaku secara umum
sangat sulitlah untuk melarangnya sama sekali. Orang-orang, waktu itu cenderung untuk
mengakhiri pernikahan begitu saja atau untuk tidak menghargai pernikahan sama sekali.
Dalam keadaan seperti itu lebih bijaksana untuk mengatur perceraian sesuai dengan
prinsip-prinsip etika ilahi yang adil dan penuh kasih. Namun demikian peraturanperaturan ini sama sekali tidak berarti bahwa perceraian adalah sesuatu yang dikehendaki
TUHAN, sebab dalam kitab Perjanjian Lama yang terakhir TUHAN menyatakan dengan
jelas: "Aku membenci perceraian" (Mal. 2:16).
d. Tindakan-tindakan yang salah tidak senantiasa dikecam secara tersurat
Dalam Perjanjian Lama tidak terdapat kecaman yang nyata terhadap Poligami dari
beberapa tokoh dalam sejarah keselamatan. Hal itu sama sekali tidak berarti bahwa
tindakan mereka dibenarkan. Pola yang ditetapkan Allah dengan mempersatukan satu
suami, yakni Adam, dengan satu isteri, yakni Hawa, tetap berlaku dari tidak pernah
15

diubah atau dilunakan.Mengapa Alkitab tidak menulis kecaman yang jelas terhadap
pelanggaran bapa-bapa ini?
(1) Setiap orang, termasuk mereka sendiri, dapat mengetahui dengan jelas ber-dasarkan
riwayat penciptaan bahwa hanya monogamni yang diperkenan oleh Allah.
(2) Akibat-akibat buruk dari tindakan poligami yang dilaporkan memperlihatkan dengan
jeIas bahwa poligami itu tidak berkenan kepada Allah.
Sesudah Abram mengambil Hagar, TUHAN tidak berbicara lagi dengan dia selama 12
tahun dan Ismael, anak hasil hubungan poligami itu, menjadi "duri" dalam sejarah Israel
sampai sekarang.
Yakub kehilangan wibawa sebagai kepala rumah tangga dan keluarganya menjadi kacau
balau akibat poligaminya dan juga dibawa kepada penyembahan berhala.Isteri-isteri
Salomo membawa dia jauh dari TUHAN.
Akibat-akibat buruk ini menyatakan dengan jelas bahwa tindakan yang manyebabkannya
tidak berkenan kepada Allah, karena berlawanan dengan prinsip etika yang telah
dinyatakanNya.
e. Penilaian positip terhadap seseorang, dibatasi pada segi-segi tertentu dalam hidupnya
dan tidak berarti persetujuan terhadap semua aspek kepribadiannya.
Ada yang bertanya bagaimana mungkin Abraham dapat disebut "sahabat Allah", padahal
ia berbohong serta tidak membela isterinya (Kej. 12:13). Adalah sangat nyata bahwa
dalam Alkitab Abraham ditonjolkan sebagai contoh yang paling agung dari seorang yang
beriman. Dengan demikian Abraham adalah "sahabat Allah" hanya sejauh mana ia hidup
dengan beriman.
Tidak pernah terjadi bahwa Tuhan menyetujui sifat-sifat scerta tindakan yang berlawanan
dengan prinsip etika Perjanjian Lama. Abraham tidak pernah mendapat pujian karena
penipuannya dan Daud tidak pernah dipuji karena perzinahannya, malah sebaliknya
mereka harus mendapat ganjaran sebagai akibat dari perbuatan tersebut.
V. TINJAUAN BEBERAPA MASALAH ETIKA PERJANJIAN LAMA
1. Allah sendiri "menyesatkan" Ahab dalamI Raj. 22:19-23 (bacalah teks itu)
Dalam bagian Firman Tuhan ini seolah-olah Ahab ditipu Allah melalui roh-roh jahat.
Yang sangat membingungkan ialah bahwa Allah sendiri rupanya telah mengambil
inisiatif untuk menyesatkan Ahab:
TUHAN sendiri berfirman: "Siapa akan membujuk?" (ay. 20) TUHAN sendiri bertanya:
"Dengan cara bagaimana?" (ay. 21)
TUHAN sendiri mengutus: "Biarlah engkau membujuknya ... keluarlah,dan perbuatlah
demikian!"
Observasi-observasi berikut adalah penting untuk diperhatikan:
a) Roh jahat itu memang sifatnya jahat dan selalu akan mengerjakan kejahatan sesuai
hakikat, dia dipakai Allah atau tidak. Allah dapat saja memakainya bila mana Ia mau.
b) Perintah TUHAN kepada roh jahat: "Keluarlah dan perbuatlah demikian!" harus
dimengerti dalam arti bahwa TUHAN mengizinkan dan tidak akan menghalangi lagi
terjadinya pencobaan ini atas Ahab. Dengan kata lain, TUHAN tidak lagi memberikan
anugerah khusus untuk dapat bertahan dalam pencobaan.
c) Allah tidak menyuruh roh itu untuk langsung merasuk Ahab, melainkan caranya ialah
untuk membujuknya melalui ucapan para nabi palsu (ay. 20,21,22). Kata Ibrani htp
dalam kjgs. Piel berarti: persuade, seduce, deceive, (BDB, 834). Hal ini berarti bahwa
Ahab tidak menjadi boneka yang digerak-gerakkan, melainkan harus menilai ucapan
nabi-nabi itu. Sebenarnya Ahab harus dapat menyadari dan menolak para nabi palsu itu.
Tetapi ia tidak melakukannya.
16

d) Di samping itu TUHAN menyuruh Mikha bin Yimla, seorang nabi TUHAN yang
setia, untuk mengungkapkan rahasia nabi palsu itu kepada Ahab serta memberitahukan
-malapetaka yang akan datang kepadanya. Dengan demikian Ahab diberikan banyak
kesempatan untuk bertobat, tetapi ternyata Ahab tidak mau bertobat. Peristiwa ini
sebenarnya merupakan satu ujian atas seberapa dalamnya pertobatan Ahab yang
diberitakan alam 1 Raj. 21:27-29. Melalui peristiwa ini ternyata bahwa pertobatan Ahab
tidak tahan lama, karena rupanya tidak dalam /tidak sungguh-sungguh bertobat dari dosa.
Demikianlah dapat dikatakan bahwa Allah menyerahkan Ahab ke dalam kebodohannya
dan kejahatannya sendiri, yang akhirnya akan membawa akibat fatal (Bd. Roma 1: 24-26
di mana Paulus mengatakan bahwa Allah membiarkan mereka dalam kefasikannya
karena kedegilan hati mereka sendiri). Kasus yang hamper sama dengan apayang terjadi
dengan Saul, di mana Allah mengizinkan roh jahat yang dari pada Tuhan merasuk Saul,
karena kekerasan hati Saul yang tidak mau bertobat (1 Samuel 16: 14, ps. 18:10)
2. Nabi Elisa mengutuk anak-anak yang mengejek dia (2 Raj 2:23-25)
Inilah salah satu bagian Perjanjian Lama yang banyak mengundang perinsip etika
yang dibaliknya; dimana anak muda yang hanya mengejek seorang hamba Tuhan karena
dia botak, langsung dikutuknya. Sebagai akibat kutuk itu ada empat puluh dua di antara
anak-anak itu yang diterkam oleh dua ekor beruang.
Berdasarkan peristiwa ini sementara orang mengambil kesimpulan sederhana terhadap
etika Perjanjian Lama: betapa kejamnya, bahkan sadisnya seorang hamba Tuhan yang
sampai hati mengutuk anak-anak kecil karena pelanggaran mereka yang relatif_ ringan
dan boleh dikata termasuk kenakalan anak/remaja yang biasa-biasa saja.
Ada beberapa observasi eksegetis yang sangat penting untuk menempatkan reaksi
nabi Elisa pada tempatnya sebagaimana mestinya.
-Kata Ibrani untuk "Anak-anak kecil <yn!f^q+ <yr!x*n+ dalam (ay. 23, 24)
perlu dipahami secara tepat. Bentuk Tunggal kata Ibrani rU^n^ (anak) dapat berarti
laki-laki yang berusia muda mulai dari "bayi" (Kel. 2:6; 2 Sam. 12:16) sampai dengan
"pemuda" seperti. Absalom yang memberontak, terhadap kerajaan ayahnya (2 Sam.
14:21; 18:5). Di samping itu kata
ru^n^ dipakai untuk "hamba"(2
Sam.16:1)4,"pejabat"(2 Raj.19:6)
atau
"tentara" (1 Raj. 20:15-17). Perhatikan bahwa menurut TL yang mengejek Elisa ialah
"beberapa budak".
Pemakaian kata sifat Ibrani <yn!f^q+ "kecil" bersama "anak" di sini tidak harus
berarti bahwa mereka memang "anak kecil," sebab istilah yang sama dalam bentuk
tunggal:
/f)q* ru^n^ dikenakan kepada Sa1omo setelah dia mulai memerintah pada waktu dia
berusia kurang lebih dua puluh tahun (I Raj. 3:7). Istilah yang persis, sama dipakai
untuk Hadad (I Raj. 11:17) waktu dia melarikan diri dari Israel dan menikahi putri
Firaun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan "anak-anak
muda" ialah laki-laki yang relatif muda, tetapi mereka bukanlah "anak-anak kecil" yang
belum tahu apa yang mereka ucapkan (sebagaimana terjemahan AV little children,
sedangkan NIV menterjemahkan dengan Youths). Istilah "anak" <yd!l*y+ dalam ayat
24 juga tidak hanya berarti anak kecil" (1 Sam. 1:2), melainkan juga dipakai untuk
seorang "pemuda" yang mampu untuk menyerang Lamekh (Kej. 4:23), atau untuk para
lelaki yang walaupun berusia muda telah menjadi penasehat raja Rehabeam (I Raj. 12:
8,10,14)
-Ungkapan .. . dari Kota itu" (ay. 23), Tempat asal geng remaja ini perlu diperhatikan:
mereka keluar dari kota Betel, kota yang terkenal sebagai "ibukota" penyembahan
berhala di kerajaan utara (I Raj. 12:28,29). Sebagai pusat penyembahan berhala kota ini
menjadi lambang penolakan terhadap TUHAN dan firman-Nya. Nabi Amos diusir dari
17

kota ini dengan pesan yang keras: "Jangan lagi bernubuat di Betel"' (Am. 7:10-13).
Inilah suasana kota Betel di mana para remaja ini dibesarkan. Rupanya justru karena
keadaan kota seperti ini, maka ada rombongan nabi" yang tinggal di Betel (2 Raj. 2:3)
untuk membawa kota ini kembali kepada Allah yang hidup. Namun demikian penduduk
kota, tidak bertobat dari penyembahan berhala. Bahkan Elia dan Elisa sendiri pernah
mengunjungi kota ini menjelang saat Elia akan terangkat ke surga (2 Raj. 2:1-4).
Dengan demikian Allah yang penuh kasih dan panjang sabar telah memberikan
peringatan kepada penduduk-penduduk kota ini, sebelum ia menghukum mereka melalui
musibah yang menimpa anak-anak mereka (Pada hal nama Betel berasal dari kata Bayit
Elohim, artinya rumah Allah tetapi menjadi kubu berhala).
Sebagai pimpinan "rombongan nabi" (2 Rai. 4:36; 6:1; d11.) Elisa tentu mengetahui
banyak dan secara rinci tentang keadaan serta kejahatan keluarga-keluarga dalam kota
ini. Dengan kata lain, pemuda-pemuda ini dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang
dari dulu menghina dan menolak TUHAN dan firman-Nya, mereka bukan sekedar, anakanak muda yang biasanya nakal seperti halnya kenakalan hamper semua anak muda di
mana-mana pada masa kini.
-Ungkapan: Botak ... botak" (ay. 23)
Rambut yang bertumbuh dengan kuat dikagumi pada masa Perjanjian Lama (2 Sam.
14:26), dan menurut pandangan Yahudi rambut yang kuat adalah simbol kuasa dan
wibawa, bahkan wibawa ilahi (Hattori, 126). Sebaliknya, kebotakan*tidak disenangi, a.l.
barangkali karena sering dikaitkan dengan penyakit kusta (Im. 13:40--44), dan pada
waktu itu orang yang sakit kusta harus diasingkan dari masyarakat, karena bahaya
penularan penyakit. Tentu Elisa tidak sakit kusta, tetapi bisa jadi ada pemikiran seperti
ini. di balik cemooh anak-anak muda itu.
Kebotakan Elisa rupanya bukan karena sudah tua, sebab sebelum peristiwa ini ia baru
saja diangkat sebagai pengganti Elia (2 Rai. 2:9dst.), dan sesudah itu Elisa masih
melayani selama k1. 60 tahun (2 Raja. 13:14dst.). Dengan kata lain ia bukan orang tua
yang karena lanjut usianya sudah tidak bisa lagi sabar dengan anak-anak kecil. Elisa
masih cukup muda, ada yang memperkirakan umurnya pada-waktu-peristiwa di Betel
sekitar 25 tahun (Kaiser, 278)
-Ungkapan Naiklah . . .naiklah (ay. 23)
Ada beberapa kemungkinan untuk mengartikan tantangan anakanak kepada Elisa
"Naiklah . . . naiklah hl@u& . . . hl@u& ditafsirkan dengn beberapa pengertian:
a) "Naiklah, mendekat kepada kami, geng.remaja Betel, jika engkau berani!"
b) "Naiklah ke kota kami, Betel, jika engkau berani!"
c) "Naiklah ke gunung, jauh dari sini; kami tidak menginginkan engkau masuk kota
kami!" ( Band. BIS: pergi dari sini dan NIV "Go on up'')
d) "Naiklah ke surga, ke mana engkau katakan Elia telah naik(ay.11: kata Ibrani
lu^y^w^ Why*l!a@ Mengapa engkau tidak menemani tuanmu Elia naik ke surga,
agar supaya engkau tidak mengganggu kami sama seperti Elia itu?!"
Kemungkinan besar alternatif terakhir ini yang paling tepat, sebab kota Betel sudah
terkenal tidak menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan penyembahan kepada
YHWH.
-Ungkapan "Dikutuknya mereka demi nama TLIHAN" (ay 24)
Apakah hamba TUHAN ini memang kehilangan kesabarannya terhadap anak-anak muda
ini sehingga dia menggunakan "wibawanya" untuk mengutuk pemuda-pemuda ini supaya
mereka tahu bahwa mereka tidak boleh bicara sembarangan kepada seorang hamba
TUHAN?
18

Perjanjian Lama tidak membenarkan pembalasan dendam pribadi terhadap seseorang.


Sebaliknya Perjanjian Lama mengajar untuk mengasihi musuh pribadi (Kel. 23:4,5).
Menurut Perjanjian Lama juga tidak ada seseorang yang mempunyai kuasa untuk
mencelakakan orang lain melalui kutuk. Hal seperti ini hanya terdapat dalam konteks
kuasa gaib. Pembalasan adalah hak TUHAN (Ul. 32:35), oleh sebab itu Elisa mengutuk
mereka "dalam nama TUHAN" dan bukan karena emosi pribadi.
Jika kutuk yang diucapkan Elisa, (perhatikan bahwa Elisa sendiri tidak menyebutkan
apa-apa tentang beruang) berakibat bahwa ada dua ekor beruang yang datang dan
menyerang remaja-remaja ini, itu berarti bahwa Allah sendiri yang bertindak untuk
menghukum mereka dan melaluinya juga orang tua mereka yang adalah penyembah
berhala. Kalau ada di antara anak-anak yang sesungguhnya tidak berdosa dan hanya ikutikutan tanpa mereka mengerti maksud kata-kata yang mereka ucapkan itu, maka Allah
dapat menyelamatkan mereka dari beruang-beruang itu, dan seandainya pun mereka ikut
dibunuh dengan anak-anak yang lain, maka itu tidak harus berarti kebinasaan kekal bagi
mereka.
Kedatangan kedua ekor beruang merupakan pelaksanaan hukuman peringatan tahap
ketiga yang telah dinubuatkan akan terjadi kalau umat Israel tetap melawan TUHAN:
"Jikalau hidupmu tetap bertentangan dengan Daku, dan kamu tidak mau mendengarkan
Daku, maka Aku akan menambah hukuman atasmu sampai tujuh kali lipat setimpal
dengan dosamu. Aku akan melepaskan kepadamu binatang buas yang akan memunahkan
anak-anakmu ..." (Imamat 26:21-22).
Walter Kaiser menyimpulkan:
"Demikianlah Elisa hanya meminta hukuman Allah dan bukan demi pribadi atau hak dia
sendiri, melainkan demi kemuliaan Allah dari Firman-Nya! Akhirnya bukan Elisa yang
mendatangkan beruang-beruang itu, bahkan Allah sendiri tidak, melainkan yang
mendatangkan beruang-beruang ini ialah dosa-dosa dari pusat penyembahan Baal dan
penyembahan lembu emas Yerobeam." (Kiser, 279).
Akhirnya: dalam perilop ini kita tidak berhadapan dengan seorang hamba Tuhan yang
tersinggung karena merasa kurang dihormati oleh anak-anak yang nakal, sehingga dia
langsung meminta hukuman Allah menimpa mereka. Akan tetapi dalam ayat-ayat ini kita
bertemu dengan tindakan Allah yang kudus yang tidak membiarkan diri-Nya dan FirmanNya dipermainkan oleh rianusia yang merasa dapat terus melawan dia tanpa ada akibat
apa-apa (Bd. Kisah 5, tentng kisah Ananias dan Safira)
3. Permohonan Pembalasan dalam kitab Mazmur (Untuk bagian ini bandingkan A.
Hauw, Problematika Permohonan pembalasan, dalam beberapa Mazmur).
Khususnya dalam kitab Mazmur terdapat beberapa bagian di mana pemazmur seolaholah melampiaskan rasa bencinya terhadap musuh-musuhnya. Apakah sikap seperti ini
dibenarkan Allah dan mengapa rasa benci ini diberi tempat dalam Firman Allah yang
harus mendidik orang dalam kebenaran?
a. Beberapa contoh permohonan pembalasan dalam kitab Mazmur Mazmur 5:11, 10:15,
58:7-9, 69:23-26,28-29, 137:8-9 dll.
b. Pendekatan-pendekatan yang tidak memadai
(1) Daud mempunyai emosi seperti manusia biasa.
(2) Menurut ukuran Perjanjian Baru Daud memang berdosa, tetapi pada massa Perjanjian
Lama hal itu dapat dimengerti.
Pada hakikatnya Perjanjian Lama melarang untuk membalas dendam, sebab pembalasan
dendam itu harus diserahkan kepada TUHAN (Im. 19:18, Kel. 23:4-5)
c. Pemecahan secara alkitabiah
(1) Daud tidak berbicara sebagai pribadi melainkan sebagai raja.

19

Sebagai pribadi Daud dapat mengampuni, dan ia sudah membuktikan hal itu terhadap
Saul. Tetapi sebagai raja dan hakim ia harus mempunyai sikap yang tegas terhadap orang
yang merongrong kewibawaan hokum Ams. 25:5, Mzm. 35:12-14
(2) Permohonan pembalasan ini merupakan ungkapan kerinduan orang kudus agar
keadilan Allah ditegakkan Mzm. 7:10, 28:4
Pada masa Perjanjian Lama penyataan tentang tahta pengadilan Allah yang akan
menegakkan keadilan secara sempurna untuk semua orang belum begitu jelas.
(3) Daud berbicara atas nama ALIah sendiri.
Karena Daud sendiri pejabat yang diurapi (ditetapkan) Allah maka barangsiapa yang
melawan Daud, melawan TUHAN yang telah menetapkannya.
(4) Permohonan pembalasan merupakan ekspresi rasa benci akan dosa
Musuh-musuh yang dicela dalam Mazmur tidak hanya melawan Daud dan Allah,
melainkan mereka adalah personifikasi kejahatan: Mzm. 101:5, 7-8, 139:21, 22, 23, 24
(5) Permohonan pembalasan Pruerupcthan nubvat aRan sihap AKah terhadap dosa
Apa yang didoakan Daud, akhirnya menjadi kenyataan:
Bandingkan Mzm. 58:7 dengan Mzm. 3:8
Bandingkan Mzm. 35:5 dengan Mzm. 1:4
Akhirnya perlu diperhatikan bahwa Tuman Yesus dan para rasul justru banyak mengutip
dari salah satu mazmur yang mengandung banyak permohonan pembalasan, yakni
Mazmur 69. Berikut ini didaftarkan ayat-ayat ai mana Mzm. 69 dikutip dan bahkan
dikenakan kepada Tuhan Yesus sendiri:
Yoh. 15:25 (Mzm. 69:5)
2:17
(69:10)
Kis. 1:20
(69:26)
Rom. 15:3
(69:10)
Roma 2 :9,10 (69:23dst.)
Dengan demikian: kalau kita menerima otoritas Tuhan Yesus dan para rasul maka kita
juga harus menerima mazmur ini serta mazmur-mazmur lain sebagai Firman Allah yang
tetap berlaku untuk kita pada mana kini.
KEPUSTAKAAN
Archer, Gleason L.
1982 Encyclopedia of Bible Difficulties (Grand Rapids: Zondervan)
Dyrness, William
1970 Tema-tema dalam TeoLogi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas)
Goldingay, John
1981 Approaches to Old Testament interpretation (Downers Grove: InterVarsity Press)
Greene, William Brenton
1979 "The ethics of the Old Testament" dalam Classical evangelical essays in Old
Testament interpretation, ed. Walter C. Kaiser (Grand Rapids: Baker)
Hattori, Yoshiaki
1990 Exegetical and HomileticaL study on the Book of Genises I, III in search of
pastoral massages (Batu: Institut Injil Indonesia)
Hauw, Andreas
1992 Probtematika permohonan pembaLasan dalam bebera Mazmur
1993 Mazmur. Skripsi (Batu: Sekolah Tinggi Theologia .1-30)
Kaizer, Walter, C,
1983 Toward Old Testamen Ethich (Grand Rapids: Zondervan)
Martin, Chalmers
1979 "Imprecations in the Psalms" dalam CLasstcal. & EvangvLicaL essays in Old
20

Testament interpretation, ed. Walter C. Kaiser (Grand Rapids: Baker)


KERAJAAN ALLAH YANG AKAN DATANG
I. PEMAHAMAN DASAR TENTANG KERAJAAN ALLAH
Istilah "Kerajaan Allah" adalah istilah khas Injil-Injil sinoptis. Istilah ini pertama kali
dipakai Yohanes Pembaptis sebagai sesuatu yang telah dikenal para pendengarnya.
Walaupun istilah baku "Kerajaan Allah" belum ada dalam Perjanjian Lama namun
demikian gagasan tersebut jelas ada (Vos, 372). Yang dimaksud dengan "Kerajaan Allah"
ialah bukan terutama suatu wilayah (seperti
"kerajaan Inggris"),melainkan suatu
"pemerintahan", yaitu Allah memerintah sebagai raja (YhWh melek Yisrael).
Dalam seluruh Perjanjian Lama YHWH digambarkan sebagai "raja" dalam arti:
1. Allah berkuasa penuh dari kekal sampai kekal atas seluruh emesta alam (yang
kelihatan dan tidak kelihatan)
Pemerintahan Allah yang mutlak dan universal sebagai "Raja semesta alam" ( universal
king) didasar-kan pada penciptaan alam semesta oleh Allah sendiri. Karena tidak ada
sesuatupun dalam alam semesta yang terjadi dan ada tanpa Dia, maka oleh sebab itulah
Dia berhak penuh atasnya (Bd. Yoh. 1:1-3, Kolose 1:15-20)
a) Pemerintahan-Nya atas segala sesuatu
Mzm 103:19 "... kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu"
(1) Atas ciptaan
Yunus 1:3
"TUHAN menurunkan angin ribut ke laut"
1:17 "Maka atas penentuan TUHAN datanglah seekor ikan besar
4:6
"Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatanq pohon jarak"
4:7
atas penentuan TUHAN datanglah seekor ulat
4:8
maka atas penentuan TUHAN bertiuplah angin timur yang panas terik
(2) Atas bangsa-bangsa dan raja-raja mereka
Mzm 47:3,9 "... Raja yang besar atas seluruh bumi atas bangsa-bangsa"
1Taw 29:11 "Ya TUHAN, punya-Mu-lah kebesaran dan kejayaan, kehormatan,
kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya
TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya
sebagai kepala
(3) Atas dunia yang tidak kelihatan
2 Raja 19:15 "'Ya TUHAN, Allah Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau
sendirilah Allah segala kerajaan di bumi"
b. Pemerintahan-Nya kekal
Mzm 29:10 "TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya" Mzm 145:13
"Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad ... tetap melalui segala keturunan"
Danl 4:3
"Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal. Allah memberi ketetapan dan
menuntut ketaatan mutlak Kel. 2:16-17, Kel 20
Jika diterima, pemrintahan Allah membahagiakan manusia, yaitu mendatangkan
keselamatan Mzm 67:5,6, Kej 1 dan 2.10
Allah berhak dan berkuasa penuh untuk menghukum orang yang menolak dan melawan
Allah sebagai raja.
a) Untuk seluruh umat manusia
Mzm 105:7 "Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya"
Kei
6--8 Melalui Air Bah Tuhan menghukum umat manusia yang melawan Dia
Kei 18-19 Allah memusnahkan Sodom dan Gomora karena "sangat berat dosanya"
(18:20)
Kel
6-14 Mesir dihukum karena telah menindas umat Tuhan
b-) Untuk umat TUHAN
21

Yos 7 , Dosa Akhan dan penghukumannya, 2Raj 17, Israel mengalami pembuangan ke
Asyur, 2Raj 24 Yehuda mengalami pembuangan ke Babel.
II. SIFAT PEMERINTAHAN ALLAH PADA NASA PERJANJIAN LAMA
Dalam Perjanjian Lama YHWH secara jelas dinyatakan sebagai raja, namum demikian
sifat pemerintahan Allah padamana PerjanJian Lama ternyata masih sangat terbatas,
dalam arti Allah sendiri membatasi diri dan belum bertindak dalam arti yang sedalamdalamnya sebagai raja mutlak.
1. Pemerintahan Allah pada masa Perjanjian Lama dibatasi terutanta pada bangsa Israel
-Allah menjadi raja, pemberi hukum, pelindung, panglima dan hakim Israel ("teokrasi")
-Israel harus menjadi hamba-Nya secara khusus di bumi (Kel 19:5-6), agar hakikat Allah
dinyatakan kepada semua bangsa.
-Nabi-nabi terutama melayani Israel dengan terus mengingatkannya akan hal ini, namun
Israel menolaknya (Neh 9:6--37)
2. Allah mngizinkan Israel untuk memiliki seorang raja manusia Seperti bangsa-bangsa
lain juga, walaupun itu sebenarnya berarti bahwa teokrasi ditolak (I. Sam 6:1-7).
Sebagian besar raja-raja Israel adalah raja yang kehidupannya dan pemerintahannya tidak
berpedoman kepada YHWH sebagai pola anutan seorang raja.
3. Allah tidak selalu langsung menghukum orang dan bangsa yang berdosa walaupun
sewaktu-waktu TUHAN langsung menghukum orang dan bangsa yang melawan Dia
(Sodon dan Gomora, Akhan dll). Namun demikian lebih sering Dia bersabar, menunggu,
mengutus hamba-hamba-Nya demi memberikan kesempatan untuk berbalik. Hal ini tidak
jarang membingungkan orang percaya (Mzm 73), yang ingin. melihat pewujudan
pemerintahan Allah yang penuh keadilan.
Dalam Perjanjian Lama sudah nyata bahwa kerajaan yang penuh damai dan keadilan
belum terwujud pada masa. Perjanjian Lamia melainkan baru terjadi dalam keakanan
(Yes 11 : !--Io). Itu Juga berarti bahwa anak-anak kerajaan masih harus menderita di
bawah orang jahat, seperti misalnya Daniel dan teman-temannya.
4. Sifat hukuman yang oleh Allah dilaksanakan pada masa Perjanjian Lama belum
sempurna,
Hukuman yang dijatuhakan TUHAN pada masa Perjanjian Lama masih merupakan
hukuman yang sementara.
Pembatasan Pemerintahan Allah pada masa Perjanjian Lama merupakan salah satu sebab
mengapa dalam Perjanjian Lama ada nubuatan tentang suatu waktu di mana
Pemerintahan Allah akan dinyatakan secara sempurna. Baru pada masa itulah Allah akan
nyata sebagai penguasa mutlak yang tidak dapat dilawan oleh seorangpun.
Inilah sebabnya mengapa nubuatan Kerajaan Allah mutlak harus ada dalam Perjanjian
Lama. Seandainya nubuatan-nubuatan ini tidak ada, maka anak-anak Allah akan bingung
dan sesat, lagipula semua orang akan juga hidup dengan semau-maunya karena
nampaknya Allah tidak menghukum orang yang jahat.
III. NUBUATAN TENTANG KERAJAAN ALLAH YANG AKAN DATANG
Walaupun nubuatan tentang Kerajaan Allah yang akan datang disingkapkan dengan
berbagai-bagai cara, namun demikian ada beberapa unsur yang tetap (Ladd, 25):
1. Pemerintahan Allah akan ditegakkan hanya melalui intervensi ilahi
22

Kerajaan Allah yang akan datang bukanlah sesuatu yang berkembang sendiri, seolah-olah
sebagai titik akhir dari suatu perkembangan sejarah, melainkan hanya akan terjadi
sebagai akibat tindakan Allah yang khusus (band. Dyrness, 209-211). Yes 51:6, Yes 34:4,
Yes 65:17
2. Kedatangan Kerajaan Allah berarti penghakiman, penghukuman dan keselamatan yang
sempurna.
Penghukuman sering dikaitkan dengan "Hari TUHAN"
hw*hy+ <wy) Yes
2:12dstr.
b. Penghakiman yang akan datang membawa sejahtera Mzm 96:10.12-13, 99:2
c. Keselamatan yang akan datang berpuncak dalam "kerajaan damai" Yes 9:5-6, Yes.3.
11:1-11
3. Kerajaan Allah akan meliputi umat Tuhan yang sebenarnya dari Israel dan dari bangsabangsa lain
a. Dalam P.L. pengharapan tentang Kerajaan Atlah terutama dilihat datam haitan dengan
Israel, sebab Israel telah dipanggil sebagai bangsa Tuhan. Allah akan menghukum dan
memberkati bangsa-Nya. Keselamatan yang akan didatangkan oleh Allah digambarkan
dalam terminologi teokrasi, di mana bangsa Israel akan didudukkan kembali dalam tanah
perjanjiannya. Namun demikian bukanlah seluruh bangsa Israel, melainkan hanya sisa
yang setia yang memberi diri diselamatkan yang akan menikmati Kerajaan Allah penuh
damai (Ladd, 25). Amos 9:8, Yes
4:2-4, Yes 10:20-22, Yes 37:20-32, Mikha 2:12,
Mikha 5:7
a. Bangsa-bangsa Lain akan mengambiL bagian dalam kesetamatan ini, dan h I ini dilihat
terutama dalam dua cara:
(1) Malalui penaklukan diri kepada sisa kudus dari Israel, Amos 9:12, Mikha 5:9, Mikha
7:16-17, Yes 45:14-16, Yes 49:23, Yes 60:12,14
b.
melalui pertobatan
Zef 3:9,20
Yes 2:2-4
Yes 42:6-7
Yes 60:1--14
Zakh 8:20-23
Zakh 14:16-19
c. Allah akan menjadi nyata sebagai raja seluruh bumi
Ladd berpendapat (hal. 25) bahwa "para nabi agaknya belum melihat suatu kerajaan
universal yang meliputi seluruh dunia, melainkan Israel dalam bentuk sisa yang sudah
bertobat dan dikuduskan merupakan pusat pengharapan profetis," akan tetapi ada tidak
sedikit ayat Perjanjian Lama yang melihat Allah dalam keakanan sebagai raja seluruh
bumi: Yes 24:23, 52:7
Zef 3:5
Ob 21
Za 14:9
IV. PENDIRIAN KERAJAAN ALLAH SERING DIKAITKAN DENGAN SATU
ORANG, YAITU SANG MESIAS
Mesias ini akhirnya akan mendirikan Kerajaan Allah secara sempurna dan Dia akan
memerintah.
Akan tetapi pada masa Perjanjian Lama belum jelas bahwa
* akan ada kedatangan Mesias yang pertama dan yang kedua
23

* kedatangan Mesias yang pertama


- penuh kerendahan
- mempunyai tujuan untuk menyelamatkan, bukan untuk menghukum
- tanpa wujud politis
* ada masa berselang antara kedatangan pertama dan kedua
* baru pada kedatangan-Nya yang kedua
- semua orang fasik akan dihukum
- Allah akan menyatakan diri dalam segala kemuliaan-Nya
- kerajaan damai akan didirikan
A. Mesias sebagai Hamba (Yes 42 dstr)
1 KedatanganNya sederhana, Yes 11:1
2. Menyatakan Torah, Yes 42:1,3,4
3. Lemah lembut Yes, 42:2
4. Menderita dan mati untuk menyetamatkan ,Yes 53
5. Moncurahkan Roh, Yoel 2:28-29
6. Memberikan hati yang baru, Yer 31:33 Yeh 36:26
B) Mesias sebagai Raja Daud
Dia akan menghukum yang jahat dan memberkati yang benar
Yes 9:6-7, Yes 11:1-5, Yer 33:14-26, Mika 5:2-3
V. RELEVANSI UNTUK KONTEKS AGAMA-AGAMA DI INDONESIA
Agama Suku
Agama Hindu
Kebatinan
Budisme
Agama Islam
"Pemerintahan Allah- memegang peranan kunci di dalam Al-Quran
Sama seperti di dalam Alkitab. Namun tentang konsep pemerintahan ini berbeda.
Menurut Alkitab:
(1) Allah sendirilah yang menjadi raja, sedangkan diantaram amnesia yang dipercayakanNya dengan tugas pemerintahan tidak pernah ada yang menjallankannya secara
sempurna.
(2) Pemerintahan Allah secara sempurna baru akan terjadi pada jaman eskatologis.
Sedangkan dalam Islam pemerintahan Allah adalah sesuatu yang kelihatan, sekarang
terjadi di bumi ini melalui negara dan pemerintahan yang berlandaskan Islam. Agama
Islam selalu memahami kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan politik di dunia ini, di
mana umat Allah harus memerintah di atas bangsa-bangsa di dunia (Kellerhals, 156).
Dalam hal ini "perang jihad" memainkan peranan yang sangat penting. Perang jihad
inilah demi mendirikan kerajaan Allah di bumi telah menjadi pendorong yang kuat untuk
menggerakkan orang Islam ke seluruh dunia (Abd al-Masih, 55).
Konsep ini berakibat untuk eskatologi Islam. Menurut agama Islam pemerintahan Allah
sekarang sudah nyata di bumi ini sehingga tidak perlu dan tidak akan disempurnakan
pada jaman eskatologis. Dengan demikian menurut Islam jaman eskatologis tidak akan
24

membawa "langit baru dan bumi baru" (Why. 21:1), melainkan hanya merupakan adegan
terakhir dari "umat Allah" yang sekarang pun sudah jaya. (Kellerhals, 157-158).
6. Penekanan dalam_pemberitaan masa kini
a. Kerajaan, pemerintahan dan pengadilan Allah pasti akan nyata
Di tengah-tengah kesulitan dan penderitaan yang dialami gereja,orang percaya tidak
boleh melupakan bahwa Tuhan Yesus Kristus, yaitu Allah Tritunggal adalah Raja
berdaulat penuh atas seluruh dunia. Waktu akan datang, di mana Dia akan menyatakan
diri dalam segala kemuliaan-Nya, di mana akan nyata bahwa tidak ada yang dapat
melawan Dia. Saat itulah semua lutut harus bertekuk di hadapan-Nya dan mengaku
bahwa Dialah Raja kekal.
b. Injil harus diberitakan di seluruh dunia
Mengingat bahwa Tuhan Yesus Kristus akan menyatakan diri kepada semua umat
manusia sebagai raja dan hakim ilahi, maka berita keselamatan tentang kedatangan-Nya
yang pertama harus bisampaikan kepada semua bangsa. Kalau mereka tidak bertemu
sekarang dengan Mesias sebagai Juruselamat mereka, maka mereka akan bertemu
dengan Dia kelak sebagai hakim mereka. Oleh sebab itu ada pesan misi yang kuat yang
terkandung dalam doktrin tentang "Kerajaan Allah".
c. Kerajaan damai tidak dapat dihasilkan manusia
Telah diuraikan di atas, bahwa kerajaan damai akan didirikan oleh Allah sendiri secara
supranatural pada kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Oleh sebab itu semua
konsep teologia yang mengharapkan kita dapat dan harus mendirikan kerajaan itu dengan
usaha kita di bumi ini, harus ditolak sebagai sesuatu yang keliru. Itu tidak berarti bahwa
orang Kristen tidak mengusahakan perbaikan dalam bidang sosial, ekonomi dan, politik,
namun demikian orang Kristen menyadari bahwa kerajaan damai yang sempurna hanya
dapat didirikan oleh intervensi Allah secara langsung, di mana semua unsur dan kuasa
yang melawan Yesus Kristus akan dimusnahkan dan, Sang Mesias sendiri akan
menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru.
KEPUSTAKAAN
Abd al-Masih
t.t,.
Islam -under the manifestations (Villach: Light of Life)
Kellerhals, Emanuel
1969 Der IsLam: Geschichte, Lehre, Wesen (Muenchen/Hamburg: Siebenstern)
Ladd, George Eldon
1986 "Kingdom of God" dalam lnternational Standard BibLe Encyclopedia, vol III
(Grand Rapids: Eerdmans)
Thomas, R.W.
19BB Islam: aspects and prospects - a critical analysis
(Villach: Light of Life)

25

HIDUP SESUDAH MATI MENURUT PERJANJIAN LAMA


Pandangan sementara sarjana teologi Perjanjian Lama ialah bahwa dalam "agama orang
Ibrani" tidak terdapat konsep tentang penghukuman atau keselamatan sesudah kematian.
Akan tetapi jika Perjanjian Lama diteliti dengan sikap dasar yaitu menerimanya sebagai
Firman Allah yang sahih maka akan nyata bahwa orang percaya pada mana Perjanjian
Lama telah mempunyai pengharapan tentang kehidupan di balik kematian.
I. AWAL KEHIDUPAN MANUSIA
Di manakah letak dasar untuk pengharapan orang Ibrani akan kehidupan di balik
kematian? Apakah orang Ibrani mempunyai konsep tentang praeksistensi jiwa manusia,
di mana jiwa itu mencari sebuah tubuh sebagai "rumah" dan kemudian setelah kematian
kembali lagi ke alam baka dari mana ia berasal;
Perjanjian Lama menggambarkan asal-usul setiap insan sebagai berikut-. "Sebab
Engkaulah yang membentuk buah ping-gangku, (Kata Ibrani yt*y{l+k! biasa
diterjemahkan ginjal, tetapi juga ber berarti seat of emotion and affection, sehingga kata
ini juga menganadung arti hati sanubari, jiwa, hati. Dengan demikian jiwa manusia
merupakan ciptaan Tuhan yang orisinil dan maka ia bukanlah pecahan dari suatu jiwa
abadi),menenun aku dalam kandungan ibuku ... Tulang-tulangku tidak terlidnung' bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian
bumi yang paling bawah" (Tidak berarti salah satu tempat/lorong mesterius di bawah
tanah, melainkan suatu kisan yang menggambarkan karahasiaan rahim sang ibu.
Perhatikan saja kalimat : aku direkam dalam bagian-bagian bumi yang paling bawah,
yang merupakan ungkapan parallel dengan menenun aku dalam rahim/kandungan ibuku)
(Mzm 139:13,15;-' band. juga Ayb 10:8; 31:15; Yes 44:24; Yer 1:5).
Dengan demikian eksistensi manusia berawal dalam rahim ibunya. Tetapi itu tidak berarti
manusia hanya sekadar hasil hubungan orang tuanya. Tidak, Allah sendirilah yang
campur tangan: Dia membentuk dan "menenun" manusia seutuhnya, jiwa dan raga, di
dalamrahim ibunya.
Dengan kata lain, menurut Perjanjian Lama tidak ada praeksistensi jiwa manusia. Akan
tetapi Allah, sebagai perancang dan pencipta mengenal manusia mulai sejak sebelum dia
diciptakan (Yer 1:5; Mzm 139:16), tetapi itu tidak membuktikan praeksistensi manusia,
melainkan kemahatahuan Allah.
II. KEMATIAN MANUSIA
Kematian fisik dalam seluruh Perjanjian Lama dianggap sesuatu yang sangat serius,
sebab kematian itu berarti akhir dari kehidupan manusia di bumi.
"Sebab kita pasti mati, kita seperti air yang tercurah ke bumi yang tidak terkumpul-kan
(2 Sam 14:14)
"Sebagaimana awan lenyap dan melayang menghilang, demikian juga orang yang turun
ke dalam dunia orang mati tidak akan muncul kembali. Ia tidak Lagi kembali ke
rumahnya, dan tidak dikenal lagi oLeh tempat tinggalnya." (Ayub 7:9-10)
Setelah kematian tidak ada jalan kembali ke dalam lingkungan, orang hidup. Tunggul
pohon setelah ditebang masih dapat mengeluarkan tunas baru, akan tetapi mayat yang
telah diletakkan ke dalam kubur tidak dapat "mengumpulkan kekuatan" untuk kemudian
26

bangkit lagi dalam suatu kehidupan yang baru di bumi (Ayb 14:7-12), sebab sekarang
"berenga mengerumitnya" (Ayb 24:20).
Perjanjian Lama tidak membedakan secara tegas antara unsur manusia yang kelihatan
(tubuh) dan unsur yang tidak kelihatan (jiwa/roh), melainkan melihatnya sebagai
kesatuan yang tidak terpisahkan. Sewaktu-waktu manusia disebut dengan "jiwa" saja
(Kej 9:10; d11.). Oleh sebab itu Perjanjian Lama tidak hanya mengatakan bahwa tubuh
manusia mati, melainkan jiwanya vp#n# turut mati, dengan kata lain manusia itu
seutuhnya mati dan tidak lagi memiliki kehidupan (Im 19:28; 21:11; 22:4; Bil 6:6; 9:6).
Sejauh menyangkut kematian fisik dan dilihat secara imanen saja manusia sama dengan
binatang, "Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama
menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain ... manusia tidak
mempunyai kelebihan atas binatang ... Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya
terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu" (Pkhbah 3:19-20). Pernyataan
ini tidak boleh dilepaskan dari bagian Perjanjian Lama yang lain yang menyatakan
dengan jelas kelebihan manusia di atas binatang (Kej 1:26; dll.), sebab yang mau
diungkapkan di sini hanya kefanaan tubuh manusia dan bahwa kematian mengakhiri
kehidupan di bumi ini secara final._
Manusia yang meninggal menuju ke "sheol" lw)aV+ , yang dapat berarti "kubur",
"dunia orang mati", ataupun "neraka" sesuai dengan konteks ayat tersebut. Sheol
digambarkan sebagai "tempat yang gelap dan kelam pekat ... negeri yang gelap gulita,
tempat yang kelam pekat.dan kacau balau, di mana cahaya terang serupa dengan
kegelapan" (Ayb 10:21-22). Di situ "tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan
hikmat" (Pkh 9:10). Di dalam maut "orang tidak mengingat" Allah apalagi bersyukur
kepada-Nya (Mzm. 6:6; 30:10; 88:12; 115:17; Yes 38:18).
Kematian manusia khususnya manusia yang tidak menaati Allah, berarti keterpisahan
dari Allah sebagaimana diungkapkan dalam Mazmur 88:6 orang-orang mati, ... yang.
tidak Kau-ingat lagi, sebab mereka terputus, dari kuasa-Mu". Segala sesuatu yang
berkaitan dengan "hidup" tidak ada lagi.
III. ADANYA HIDUP DI BALIK KEMATIAN
Di samping pernyataan Perjanjian Lama bahwa orang mati sama sekali tidak memiliki
kehidupan lagi berdirilah ayat-ayat yang mengungkapkan bahwa masih ada "sesuatu" di
balik kematian.
Dalam hal ini seolah-olah terdapat suatu kontradiksi terhadap kebenaran yang pertama
bahwa kematian merupakan akhir kehidupan manusia. "Kontradiksi" ini tidak dapat
dihilangkan dengan cara mengatakan bahwa yang mati hanya tubuh sedangkan jiwa
hidup terus. Ayat-ayat di atas telah menunjukkan bahwa pemisahan seperti ini tidak dapat
dibuat. Juga tidak dapat dikatakan bahwa dua pandangan yang berlawanan ini berasal
dari golongan yang berbeda.
Alkitab
merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan! Oleh
sebab itu kedua pandangan ini harus dilihat bersama karena hanya bilamana dilihat
bersama
dua
pandangan mengungkapkan kebenaran Firman Allah selengkapnya.
Adalah satu ciri khas Perjanjian Lama bahwa dua kebenaran yang komplementer, yaitu
saling melengkapi, masing-masing diungkapkan sebagai kebenaran mutlak yang seolaholah tidak memberikan peluang untuk pandangan yang kedua yang komplementer itu.
1. Tanda-tanda -kehidupan- di Sheol

27

Salah satu ungkapan tentang kematian ialah bahwa orang mati dikumpulkan (nif. Dari
kata [sa kepada bangsanya (wym*U^-la#)) Kej 25:8,17; 35:29; 49:29,33; Bil
20.24,26; 27:13,13; 31:2; Ul 32:50; Hak 2:10, mereka akan dikumpulkan ke dalam
kubur
;yt#r{b+q!-la# 2Raj 22:20; 2Taw 34:28), atau Allah akan mengumpulkan (qal dari
kata
[sa) mereka kepada nenekmoyang (;yt#b*a&-la^)^ 2 Raja 22: 20, 2Taw 34:28).
Istilah mengumpulkan" dan dikumpulkan secara tidak langsung berbicara tentang
suatu pertemuan di balik kematian, yaitu orang mati itu bertemu dengan bangsanya dan
kaum leluhurnya.
Ada pendapat bahwa "dikumpulkan kepada kaum leluhurnya" hanya berbicara tentang
mayat itu yang bertemu dengan mayat-mayat para leluhur dalam kubur keluarga
sehingga istilah itu tidak mempunyai nilai teologis. Pendapat ini, walaupun cukup logis,
tidak dapat dipertahankan atas dasar bukti Alkitab, sebab:
(1) Abraham dan Ishak "dikumpulkan kepada kaum leluhur" di negeri asing (Kej 25:8;
35:29), jauh dari kubur nenek moyang mereka;
(2) Menurut kebanyakan ayat orang mati ini "dikumpulkan kepada kaum leluhurnya"
(lihat di atas) bukan kepada "kaum leluhurnya" tentu tidak ada "kubur bangsa";
(3) Orang mati sudah "dikumpulkan kepada bangsanya" sebelum ditaruh dalam kubur
(perhatikan Kej 49:33 dan Kej 50:1d br.). Dengan demikian reuni keluarga' ini menjadi
penyataan umum yang pertama dalam Alkitab tentang hidup di balik kematian (Payne,
446).
Konsep yang sama melatarbelakangi ungkapan Yakub sampai aku turun mendapatkan
anakku ke dalam dunia orang mati" (Kej 37:35; band. juga 42:38; 44:29,31; dstr.).
Di samping ayat-ayat yang menyatakan dengan jelas bahwa di Sheol sama sekali tidak
ada lagi tanda kehidupan (lihat bab II di atas), ada juga ayat yang menggambarkan
bahwa di Sheol masih ada eksistensi dan kesadaran:
Orang mati itu menderita, berdukacita, menggelegar, gemetar, dan berbicara (Ayb
14:22; 26:5; Yes 14:9--11; Yeh 32:21). Dengan demikian jelaslah bahwa para orang
percaya jaman Perjanjian Lama menyadari adanya eksistensi manusia di balik kematian.
Dalam hubungan dengan hal ini ada yang menemukan gagasan "immortality of the soul"
(ketidakmatian jiwa) dalam Perjanjian Lama. Namun demikian kurang tepat untuk
menggunakan istilah ini, sebab menurut Perjanjian Lama:
1) jiwa tidak memiliki eksistensi yang lepas dari pribadi seseorang
2) jiwa manusia bukanlah sesuatu yang sempurna yang dapat luput dari maut sebagai
upah dosa (Kej 2:17)
3) jiwapun harus mati (Bilgn. 23:1; Hak 16:10).
Adalah lebih tepat untuk mengatakan bahwa orang yang sudah meninggal masih masih
bereksistensi.
Ayat-ayat di mana berhubungan dengan orang mati dilarang Imamat 19:31; 20:6,27; U1
18:11; Yes 8:19) ataupun diriwayatkan (1Sam 28; Yes 19:3; 29:4; 2Raj 21:6; 23:24; 1Taw
10:13; 2Taw 33:6)" barangkali tidak dapat disebutkan sebagai bukti adanya wahyu dan
keyakinan dalam Perjanjian Lama perihal kehidupan di balik kematian, sebab yang dapat
dihubungi bukanlah orang mati itu sendiri melainkan roh jahat yang menyamar dalam
bentuk orang mati (2 Kor. 11: 14-15).
2. Allah adalah penguasa di atas maut dan Sheol
Keyakinan bahwa masih ada "sesuatu" di balik kematian merupakan keyakinan yang
ditemukan pada semua masyarakat di manapun dalam dunia ini. Namun demikian lain
halnya pada Isael: pengharapan untuk dapat menang di atas kematian dan diselamatkan
kembali dari Sheol berdasarkan penyataan Allah s;endiri: "Akulah yang mematikan dan
yang menghidupkan (Ul 32:39; band. 1Sam 2:6; Mzm 104:29-30).
28

Walaupun manusia, di dalam Sheol terpisah dari Allah (Mzm 88:6,12), namun demikian
ia belum keluar dari wilayah penguasaan Allah. Allah juga berdaulat di atas Sheol,
demikianlah keyakinan pemazmur "jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang
mati, di situpun Engkau" (Mzm 139:8; band. Ayb 26:6; Ams 15;11; Amos 9:2).
Di dalam salah satu nubuatan nabi Hosea, (Psl. 13 :14) kemenangan akhir Allah di atas
maut dan Sheol dinyatakan dengan jelas:
Dari kuasa dunia orang mati lw{aV+
akan Kubebaskan mereka,
dari Maut
tw#m* akan Kutebus mereka (LAI Di dalam terjemahan Baru menulis: Akan
Kubebaskankah . . . akan Kutebuskankah . . .? Akhiran Tanya kah yang dimasukkan
ke dalam ayat ini, tidak terdapat dalam bahasa asli dan menghilangkan arti ayat ini dari
yang sebenarnya. Sebaliknya terjemahan Lama, mengungkapkan arti ayat ini dengan
tepat: Daripada kuasa neraka dapat KUluputkan dia, dan daripada kematian dapat
Kutebus dia. Hai maut dimanakan bisamu? Hai neraka dimanakah kebinasaanmu?).
Dimanakah penyakit-penyakit samparmu, hai maut tw#m*, di manakah kebinasaanmu,
hai dunia orang
Mati lw{av+? Allah akan mengeluarkan manusia dari Sheol dan yang tidak akan dapat
menghalangi-Nya. Demikian juga Yesaya 25:8 menubuatkan kemenangan akhir Allah:
"Dia akan menelan maut untuk selama-lamanya".(Bd. NIV: He will swallow up death
forever)
3. Pembangkitan orang mati dan pengangkatan orang percaya
Pada jaman Perjanjian Lama tiga kali terjadi bahwa orang mati dibangkitkan (1) anak
ibu janda di Sarfat dibangkitkan kembali oleh Elia (1Raj 17:17-24); (2) anak perempuan
Sunem dibanqkitkan oleh Elisa 2 Raja 4:31-37); (3) mayat yang dilemparkan ke dalam
kubur Elisa dihidupkan kembali saat ia kena kepada tulang-tulang Elisa (2Raj 13:21).
Hal bahwa orang-orang mati ini dibangkitkan kembali serta pengangkatan Henokh (Kej
5:24) dan Elia (2Raj 2:11) mendemonstrasikan dengan amat jelas bahwa Allah berkuasa
atas maut. Numun demikian peristiwa-peristiwa ini merupakan kekecualian dan tidak
dapat menjadi dasar harapan kebangkitan secara umum kepada orang Israel.
4. Keyakinan pribadi akan kebangkitan
Beberapa orang percaya dalam Perjanjian Lama memiliki keyakinan yang sangat kuat,
bahwa pada suatu waktu nanti setelah kematian mereka akan berada di hadirat Allah.
Walaupun di satu pihak Ayub dapat menggambarkan sifat kematian yang final dan sangat
ngeri (lihat di atas), namun di fihak lain dia memiliki keyakinan yang sangat indah (Ayb
19:25-27) Tetapi aku sendiri tahu, Bd. Dalam bahasa Ibrani kata aku ditonjolkan
(emphatic) melalui penambahan kata ganti orang pertama: yt!U^dy* yn!a&w^.
Penebusku hidup. Dan akhirnya ia akan bangkit di atas debu (NIV: menterjemahkan: in
the end he will stand upon the earth). Ayt. 26 Bahkan sesudah kulit tubuhku dihancurkan,
Tanpa dagingkupun aku akan meluhat Allah (atau: dan dari dagingku yr!v*b+m!w,
dalam NIV: yet in my flesh). Ayat 27 (yang) aku sendiri akan melihat bagiku
(Demikianlah Terjemahan Lama sesuai kata Ibrani yl!, juga dalam NIV: with my own
eyes. Tetapi mungkin juga dapat diterjemahkan seperti dalam terjemahan baru: memihak
kepadaku). Dan mataku akan melihat (Dia) dan bukan orang lain. Hati sanubariku
merana karena rindu.
Dalam kitab Mazmur terdapat dua perikop yang lain yang mengungkapkan keyakinan
akan kebangkitan pribadi: "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman
dunia orang mati lw)av+ sebab Ia akan menarik aku",(Mzm 49:16). Berdasarkan
konteks ayat sebelumnya maka jelaslah bahwa pemazmur di sini berbicara tentang
kematian fisik, bukan hanya tentang penyakit.
Sehubungan dengan ayat ini perlu dicatat bahwa sheol tidak terbatas kepada "dunia
seberang". Ia juga nerobos masuk ke dalam lingkungan orang hidup melalui
penyakit,kelemahan, pembuangan dan penindasan melalui musuh-musuh. Dengan
29

demikian sewaktu-waktu bilamana pemazmur mengucapkan syukur atas penyelamatan


dari Sheol yang dia maksudkan ialah keadaan-keadaan yang berbahaya di atas, di mana
kehidupannya sungguh terancam dengan maut (band. Mzm 18:4-7; 30:2-4; 86:12-14;
116:3-11; Yun 2:3). Bilamana meneliti Perjanjian Lama tentang pengharapan akan hidup
di balik kematian kita harus memperhatikan pemakaian istilah "Sheol" seperti di atas.
Namun demikian ayat-ayat ini yang menyaksikan kuasa Allah yang dapat
menyelamatkan dari bahaya maut, sekaligus juga menyatakan kuasa-Nya untuk
membangkitkan orang mati.
Ayat yang kedua dalam kitab Mazmur yang dengan jelas menyatakan pengharapan akan
hidup sesudah mati ialah pengakuan Asaf dalam Mzm 73:24-25: "Dengan nasihat-Mu
engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau?
5. Nubuatan tentang kebangkitan bagi bangsa Israel
Wahyu yang pertama tentang kebangkitan bangsa Israel diberikan kepada nabi Yesaya
yang juga menerima penyataan-penyataan ilahi "Ya TUHAN, orang-orangmu yang mati
akan hidup pula, mayat-mayat mereka (Tek Masoret mayatku) akan bangkit pula. Hai
orang-orang (secara harafiah artinya: penduduk-penduduk debu) yang sudah dikubur
dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang,
dan bumi akanmelahirkan (MENGELUARKAN) arwah kembali (Yesaya 26: 19)
Dalam ayat ini rupanya untuk pertama kali kebangkitan tubuh dinyatakan dengan jelas.
Sebagai orang yang berikut Yehezkiel mendapat penglihatan tentang tulang-tulang yang
kering (fs. 37). Dua kali TUHAN membuat roh-Nya berembus di atas tulang-tulang ini
sehingga mereka menjadi hidup kembali. Di samping penglihatan ini TUHAN juga
memberikan janji verbal dan jelas bahwa Israel akan bangkit kembali: "Sungguh, Aku
membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umatKu, dari dalamnya, dan
Aku akan membawa kamu ke tanah Israel ..." (Yeh 37:12-14). Walaupun TUHAN
menyatakan kuasa-Nya di atas maut dalam ayat-ayat ini, namun demikian yang
limaksudkan bukanlah kebangkitan orang mati melainkan kebangkitan rohani dan
nasional bangsa Israel setelah pembuangan di Babel.
Janji Yang terakhir dan yang paling jelas tentang kebangkitan tubuh bagi orang Israel
diberikan kepada nabi Daniel (Daniel 12: 2-3, 13) pada masa pembuagan di Babel: "Dan
banyak di antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun,
sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan
kengerian yang kekal. (ayt.3) Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya
cakrawala, dan yang telah menunutun banyak orang kepada kebenaran seperti bintangbintang, tetap untuk selama-lamanya. (ayat.13) Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir
aman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mndapat bagianmu pada
kesudahan zaman."
Dalam konteks Daniel 12, ayat-ayat ini rupanya harus dimengerti terutama dalam arti
kebangkitan Israel danbelum dalam arti yang luas sebagai kebangkitan universal, sebab:
(1) Dalam ayat 1 berbicara tentang bangsamu
(2) Daniel sendiri sebagai anggota bangsa Israel itu, akan mengambil bagian dalam
kebangkitan itu (ayat 13)
(3) Ayat 2 berbicara tentang banyak, bukan semua orang yang akanbangkit.
6. Pengetahuan tentang kebangkitan sudah ada pada jaman Perjanjian Baru
Adanya janji-janji dalam Perjanjian Lama tentang kebangkitan orang mati nampak
melalui keyakinan yang kuat dari orang-orang pada zaman Tuhan Yesus: Yohanes 11:24;
Matius 22:31 (di mana Tuhan Yesus men yebutkan Keluaran 3:6 sebagai bukti adanya
kebangkitan ); Matius 14:2; Kisah Rasul 23:6,8; 24:14-15; 26:6dst. Dalam hal ini
30

kelompok orang Saduki merupakan kekecualian, karena mereka menclak segala sesuatu
yang supranatural, termasuk, kebangkitan (Mat 22:23; Kis 23:6).
7. Kebangikitan Tuhan Yesus Kristus sebagai penggenapan nubuatan Perjanjian Lama
Tuhan Yesus sendiri menyaksikan bahwa Dia akan bangkit pada hari yang ketiga
berdasarkan kitab Suci. Dalam Matius 12:40 Dia menyebutkan Yunus 2:1-2 sebagai bukti
Perjanjian Lama tentang kebangkitan-Nya. Dalam Lukas 24:44-46 Dia teringat Yesaya
53:10b,11 dan ayat-ayat Perjanjian Lama yang lain yang berbicara tentang kebangkitan.
Para Rasul juga menyaksikan kebangkitan Tuhan Yesus sebagai penggenapan Kitab Suci.
Dalam Kisah Rasul 2:29-31 Petrus mengingatkan kembali akan Mazmur 16:910, dan dalam Kisah 13:32-33. Paulus menyaksikan kebangkitan TUhan Yesus sebagai
penggenapan dari Mazmur 2:7. Dalam 1 Kor 15:4 orang-Korintus diingatkan oleh Paulus
bahwa Kristu's telah bangkit pada hari yang ketiga sesuai dengan kitab suci.
Dengan _demikian tidak dapat diragukan bahwa pada masa Perjanjian Lama Allah sudah
menyatakan tentang adanya hidup di balik kematian.
IV. WUJUD HIDUP DI BALIK KEMATIAN
Dalam uraian di atas di sana-sini sudah nampak bahwa orang percaya masa Perjanjian
Lama tidak hanya meyakini adanya hidup di balik kematian, melainkan mereka juga
telah mengetahui sebagian tentang wujud hidup di balik kematian itu. Walaupun tidak
banyak detail yang diketahui, namun pada masa Perjanjian Lama sudah d1nyatakan
dengan jelas, bahwa eksistensi di balik kematian ada dalam dua wujud, sebagaimana
diuraikan dalam referensi yang paling jelas tentang hal ini: "Dan banyak dari a4tara
orang:-orang yang telah tidur dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk
mendapatkan hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang
kekal.
1. Hidup yang kekal
-Bileam telah menyadari bahwa kematian orang benar adalah sesuatu yang
membahagiakan, sebab dia berdoa (Bilgn. 23:10) Sekiranya aku mati seperti matinya
orang-orang jujur dan sekiranya ajalku seperti ajal mereka".
-Bani Korah dapat menyatakan dengan penuh keyakinan: "Tetapi Allah akan
membebaskan nyawaku dari cengkraman dunia orang mati (sheol), sebab Ia akan
menarik aku" (Mazm. 49:16). Daud mengetahui bahwa "orang-orang dunia ini ...
bagiannya adalah dalam hidup ini (Mazm. 17:14) sedangkan untuk dia sendiri kepuasan
yang sebenarnya baru akan diberikan pada waktu kebangkitan: Tetapi aku, dalam
kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas
dengan rupa-Mu"(Maz. 17: 15). F'ertentangan ayat ini dengan ayat sebelumnya
membuktikan bahwa yang dimaksud dengan waktu bangun, bukan bangun dari tidur,
melainkan bngun dari maut dalam kebangkitan.
-Asaf dapat mengatakan dengan penuh keyakinan: dan kemudian Engkau mengangkat
aku ke dalam kemuliaan (Mzm, 73:25).
-Akhirnya Daud mengungkapkan kesukaan kekal yang menjadi bagian orang percaya
masa Perjanjian Lama: bahkan tubuhku akan diam dengan tentram . . .Engkau
memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di nadapan-Mu ada sukacita berlimpahlimpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa" (Mazm. 16 9, 11)
2. Kehinaan dan kengerian yang kekalAda beberapa ayat dalam _Perjanjian Lama dimana sheol dapat diartikan neraka
"narraka" yang digambarkan berada di bagian bumi yang paling bawah. Bilangan 16:33
melaporkan tentang kaum Korah, Datan dan Abiram: "Demikianlah mereka dengan
semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang
31

mati"sheol(Menurut American Standart Version, 1901: . . . so they went down alive in


to hell . . .) dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka mati binasa dari tengahtengah jemaah itu.
Juga ayaat seperti Mazm. 63: 10, Tetapi orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan
masuk ke bagian bumi yang paling bawah yang berbicara tentang adanya neraka.
Kepada Asaf dinyatakan tentang kesudahan orang-orang jahat (Mzm. 73:18-19) . . . di
tempat-tempat licin Kautaruh mereka kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa
binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!"
Siksaan untuk orang jahat dalam neraka digambarkan dalam Ulagn 32:22:."Sebab api
telah dinyalakan oleh murka-KU, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati
yang paling bawah." Perjanjian Lama, pada zaman Daud, telah membedakan secara tegas
antara nasib orang benar dan nasib orang fasik setelah kematian mereka, sebab orang
yang dalam hidupnya "percaya kepada dirinya sendiri ..*. tidak akan melihat terang
untuk seterusnya" (Mzm 49:20).
V. KESIMPULAN
Sebagaimana nubuatan Perjanjian Lama tentang kedatangan Tuhan Yesus semakin lama
menjadi semakin jelas dan rinci, demikian juga nubuatan tentang kebangkitan orang
mpti.
Walaupun Tuhan memberikan kepada para nabi-Nya terang yang makin lama makin
besar tentang hal ini, namun demikian dalam *Perjanjian Lama belum ada janji tentang
kebangkitan secara universal. Juga pada jaman para Makabe, di mana orang yang mati
Syahit mendapat penghiburan melalui pengharapan akan kebangkitan (2 Makabe
7:9,11,14)_, pengharapan ini masih terbatas kepada Israel saja.
Tetapi Dia, yang adalah kebangkitan dan hidup (Yoh 11:25) akhirnya memberitakan
kebangkitan semua orang untuk hidup yang kekal atau untuk dihukum (Yoh. 5: 28-29).
KEPUSTAKAAN
Davids, P.H.
1984 "Dead, Abode of the" dalam Evangelical Dictionary of Theology Ced. Walter A.
Elwell (Grand Rapids: Baker Book House)
Harris, R. Laird
1980 "she'ol" dalam Theological w6rdbook of the Old Testament, volume 2 [ed. R.L.
Harris] (Chicago: Moody Press)
Muller, R.A.
1988 "Resurrection" dalam The International Standard Bible Encyclopedia, volume 4
[ed. G.W. Bromileyl (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans)
Payne, J. Barton
1972 The Theology of the Older Testament (Grand Rapids: Zondervan) hal. 443-463
White, R.E.O.
1984 -Resurrection of the Dead" dalam Evangelical Dictionary of Theology [ed. Walter
A. Efwe11] (Grand Rapids: Baker Book House)

32

SILABUS MATA KULIAH TEOLOGI PERJANJIAN LAMA 2 STT BASOM


Dosen : Pdt. Agustinus Djali, M.Div
Semester : Gabungan Mei 2009
Tujuan Umum Pembelajaran
- Agar mahasiswa memahami pokok-pokok ajaran teologi kitab-kitab Perjanjian
Lama
Tujuan Khusus Pembelajaran
- Agar mahasiswa dapat menyebut pokok-pokok penting dalam teologi kitab-kitab
Perjanjian Lama sertra garis besar intinya
Materi Pembelajaran
- Hukum Taurat, Ibadah, Etika, Kerajaan Allah yang akan dating, Hidup sesudah
mati (Eskatologi)
- Mendiskusikan pokok-pokok teologi:
Pusat Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Lama, Hubungan antar kedua
Perjanjian, Saran-saran pokok untuk membuat Teologi Perjanjian Lama, Berbagai
system teologi dan kitab-kitab PL (Sistem-sistem Kesinambungan) PL dan PB.
Metodologi : Ceramah, diskusi, pemberian tugas.
Evaluasi: Tugas klpk. 25%
Makalah
35%
Ujian
40%
Total 100%
Kepustakaan
Boeker T, G, R, Sejarah & Metodologi Ilmu Teologi Perjanjian Lama, Diktat I.I.I 1992
Dyrness, Wiulliam, Tema-Tema Dalam Teologi PL, Malang, Gamdum Mas, 1970
Feinberg, S. John, Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru, Malang,
Gandum Mas 1996
Hassel, F, Gerhard, Teologi Perjanjian Lama, Masalah-masalah Pokok Dalam
Perdebatan Saat Ini, Malang, Gandum Mas, 2006
Verkuyl, J, Etika Kristen bagiam Umum,Jakarta, 2002
Dll. (Lihat referensi dalam diktat).

33

34