Anda di halaman 1dari 12

Identifikasi Sanitasi Perumahan Dan Lingkungan Pemukiman Di Kawasan

Pemukiman TPA Galuga

Diah Ismi Anggraini Putri


2015339092

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Lingkungan


Universitas Sahid Jakarta
2015

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup, pembuangan limbah baik
itu limbah rumah tangga, pabrik, rumah sakit, perkantoran, pusat perbelanjaan dan
lain sebagainya. Sanitasi ini juga berhubungan dengan kualitan sumber air /
penyediaan air bersih yang nantinya berguna bagi kesehatan maupun kelangsungan
hidup suatu masyarakat.

Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma

pembangunan kesehatan lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan


pada aspek pencegahan dari aspek pengobatan. Dengan adanya upaya pencegahan
yang baik, angka kejadian penyakit yang terkait dengan kondisi lingkungan dapat di
cegah. Selain itu anggaran yang diperlukan untuk preventif juga relative lebih
terjangkau daripada melakukan upaya pengobatan.
Setiap manusia dimanapun berada membutuhkan tempat untuk tinggal yang
disebut rumah. Rumah berfungsi sebagai tempat untuk melepaskan lelah, tempat
bergaul dan membina rasa kekeluargaan diantara anggota keluarga, tempat berlindung
dan menyimpan barang berharga, dan rumah juga merupakan status lambang sosial
(Azwar, 1996; Mukono, 2000). Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia dan
juga merupakan determinan kesehatan masyarakat. Karena itu pengadaan perumahan
merupakan tujuan fundamental yang kompleks dan tersedianya standar perumahan
merupakan isu penting dari kesehatan masyarakat.
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan manusia. Rumah atau
tempat tinggal manusia, dari zaman ke zaman mengalami perubahan. Pada zaman
purba manusia bertempat tinggal digua-gua, kemudian berkembang, dengan
mendirikan rumah tempat tinggal di hutan-hutan dan dibawah pohon. Sampai pada
abad modern ini manusia sudah membangun rumah (tempat tinggalnya) bertingkat
dan diperlengkapi dengan peralatan yang serba modern.sejak zaman dahulu pula
manusia telah mencoba mendesain rumahnya, dengan ide mereka masing-masing
yang dengan sendirinya berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat dan
membangun rumah mereka dengan bahan yang ada setempat (lokal material) pula.

Setelah manusia memasuki abad modern ini meskipun rumah mereka dibangun
dengan bukan bahan-bahan setempat tetapi kadang-kadang desainya masih mewarisi
kebudayaan generasi sebelumnya (Notoadmojo 2003).
Kawasan permukiman TPA Galuga berlokasi di Desa Galuga, Kecamatan
Cibungbulang, Kabupaten Bogor yang memiliki luas 9,6 Ha. Dengan lokasi yang
berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ini menimbulkan permasalahan
sanitasi lingkungan perumahan. Sebagian mayoritas mata pencaharian penduduk
permukiman TPA Galuga adalah sebagai pengumpul sampah.
I.2

Tujuan
a. Mengetahui persyaratan rumah dan lingkungan pemukiman sehat berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku
b. Mengetahui kondisi kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman juga
perilaku masyarakat terhadap sanitasi di kawasan pemukiman TPA Galuga
1.3 Masalah
a. Berapa jarak lokasi antara pemukiman dengan Tempat Pembuangan Akhir
(TPA)?
b. Apakah terdapat pencemaran sumber air bersih dengan air lindi?
c. Apakah masyarakat pemukiman kesulitan mendapatkan air bersih?
d. Apakah terjadi pencemaran udara?
e. Apakah bangunan rumah masyarakat memenuhi persyaratan rumah sehat?
f. Bagaimana perilaku masyarakat pemukiman terhadap sanitasi lingkungan?

II. TINJAUAN PUSTAKA

Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya
yang dipakai sebagai tempa t tinggal dan sarana pembinaan keluarga (UU RI No. 4
Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur fisik atau bangunan untuk
tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani
serta keadaan sosialnya baik untuk kesehatan keluarga dan individu (Komisi WHO
Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai
sarana pembinaan keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental
dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Oleh
karena itu keberadaan perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangat diperlukan
agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.
Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat
tinggal atau hunian yang dilengkapi dengan prasarana lingkungan yaitu kelengkapan
dasar fisik lingkungan, misalnya penyediaan air minum, pembuangan sampah, listrik,
telepon, jalan, yang memungkinkan lingkungan pemukiman berfungsi sebagaimana
mestinya; dan sarana lingkungan yaitu fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
penyelenggaraan serta pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya, seperti
fasilitas taman bermain, olah raga, pendidikan, pertok oan, sarana perhubungan,
keamanan, serta fasilitas umum lainnya. Perumahan sehat merupakan konsep dari
perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan standar kesehatan penghuninya.
Konsep tersebut melibatkan pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor
risiko dan berorientasi pada lokasi, Soedjajadi Keman, Kesehatan Perumahan 31
bangunan, kualifikasi, adaptasi, manajemen, penggunaan dan peme - liharaan rumah
dan lingkungan di sekitarnya, serta mencakup unsur apakah rumah tersebut memiliki
penyediaan air minum dan sarana yang memadai untuk memasak, mencuci,
menyimpan makanan, serta pembuangan kotoran manusia maupun limbah lainnya
(Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001).
Menurut American Public Health Association (APHA) rumah dikatakan sehat
apabila : (1) Memenuhi kebutuhan fisik dasar seperti temperatur lebih rendah dari
udara di luar rumah, penerangan yang memadai, ventilasi yang nyaman, dan

kebisingan 45-55 dB.A.; (2) Memenuhi kebutuhan kejiwaan; (3) Melindungi


penghuninya dari penularan penyakit menular yaitu memiliki penyediaan air bersih,
sarana pembuangan sampah dan saluran pembuangan air limbah yang saniter dan
memenuhi syarat kesehatan; serta (4) Melindungi penghuninya dari kemungkinan
terjadinya kecelakaan dan bahaya kebakaran, seperti fondasi rumah yang kokoh,
tangga ya ng tidak curam, bahaya kebakaran karena arus pendek listrik, keracunan,
bahkan dari ancaman kecelakaan lalu lintas (Sanropie, 1992; Azwar, 1996).
Komponen yang harus dimiliki rumah sehat (Ditjen Cipta Karya, 1997) adalah : (1)
Fondasi yang kuat untuk meneruskan beban bangunan ke tanah dasar, memberi
kestabilan bangunan , dan merupakan konstruksi penghubung antara bagunan dengan
tanah; (2) Lantai kedap air dan tidak lembab, tinggi minimum 10 cm dari pekarangan
dan 25 cm dari badan jalan, bahan kedap air, untuk rumah panggung dapat terbuat
dari papan atau anyaman bambu; (3) Memiliki jendela dan pintu yang berfungsi
sebagai ventilasi dan masuknya sinar matahari dengan luas minimum 10% luas lantai;
(4) Dinding rumah kedap air yang berfungsi untuk mendukung atau menyangga atap,
menahan angin dan air hujan, melindungi dari panas dan debu dari luar, serta menjaga
kerahasiaan ( privacy) penghuninya; (5) Langit-langit untuk menahan dan menyerap
panas terik matahari, minimum 2,4 m dari lantai, bisa dari bahan papan, anyaman
bambu, tripleks atau gipsum; serta (6) Atap rumah yang berfungsi sebagai penahan
panas sinar matahari serta melindungi masuknya debu, angin dan air hujan.
Pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan hutan lindung,
baik yang berupa kaw asan perkotaan atau pedesaan. Pemukiman berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
perikehidupan dan penghidupan (UU RI No. 4/1992).
Prasarana lingkungan pemukiman adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan
yang memungkinkan lingkungan pemukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Prasarana utama meliputi jaringan jalan, jaringan pembuangan air limbah dan
sampah, jaringan pematusan air hujan, jaringan pengadaan air bersih, jaringan listrik,
telepon, gas, dan sebagainya.

Jaringan

primer

prasarana

lingkungan

adalah

jaringan

utama

yang

menghubungkan antara kawasan pemukiman atau antara kawasan pemukiman dengan


kawasan lainnya. Jaringan sekunder prasarana lingkungan adalah jaringan cabang
dari jaringan primer yang melayani kebutuhan di dalam satu satuan lingkungan
pemukiman.
Sarana lingkungan pemukiman adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk
penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Contoh
sarana lingkungan pemukiman adalah fasilitas pusat perbelanjaan, pelayanan umum,
pendidikan dan kesehatan, tempat peribadatan, rekreasi dan olahraga, pertamanan,
pemakaman. Selanjutnya istilah utilitas umum mengacu pada sarana penunjang untuk
pelayanan lingkungan pemukiman, meliputi jaringan air bersih, listrik, telepon, gas,
transportasi, dan pemadam kebakaran. Utilitas umum membutuhkan pengelolaan
profesional dan berkelanjutan oleh suatu badan usaha.
Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup
perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya (Notoadmojo
2003). Sanitasi perumahan adalah sanitasi yang mempunyai ruang lingkup yang luas
yang merupakan bagian dari lingkungan pemukiman..
Secara umum kriteria rumah sehat adalah (depkes RI 2002):
A. Memenuhi kebutuhan fisiologi antara lain pencahayaan, penghawaan dan
ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu
B. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup komunikasi
yang sehat antara anggota keluarga dan penghuni rumah
C. Memenuhi persayaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni
rumah dengan penyediaan air bersih, pengolahan tinja dan limbah rumah
tangga, bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan penghuni yang tidak
berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman
dari pencemaran, pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
D. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar maupun dalam rumah seperti persyaratan garis sepadan
jalan, konsentrasi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak
cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Persyaratan kesehatan rumah tinggal berdasarkan KepMenKes No. 829/SK/VII/1999


A. Bahan bangunan
1. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepas zat-zat yang dapat
membahayakan kesehatan, seperti
a. Debu total tidak lebih dari 150 m/m
b. Asbes bebas tidak berlebih 0,5 fiber/m/4 jam
c. Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg
2. Tidak terbuat dari bahan yang tidak menjadi tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme panthogen.
B. Komponen dan penataan rumah
1. Lantai kedap air
2. Dinding
a. Di ruang tidur, ruang keluarga harus dilengkapi sarana ventilasi untuk
pengaturan sirkulasi udara.
b. Dikamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah
dibersihkan.
3. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan
4. Bangunan rumah yang memiliki tinggi 10 m atau lebih harus dilengkapi
dengan penangkal petir.
5. Ruang didalam rumah harus didata agar berfungsi sebagai ruang tamu,
ruang keluarga, ruang makan ruang tidur, ruang mandi, dan ruang
bermain.
6. Ruang dapur harus dilengkapi sarana pembuangan asap.
C. Pencahayaan
Pencahayaan alami dan buatan, langsung maupun tidak langsung dapat
menerangi seluruh ruang minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.
D. Kualitas udara
1. Suhu udara nyaman berkisar antara 18-30c.
2. Kelembaban udara berkisar antara 40-70 %.
3. Konsentrasi gas SO tidak melebihi 0,1 ppm/24 jam.
4. Pertukaran udara 5 kaki kubik/menit/penghuni
5. Konsentrasi gas CO tidak lebih dari 100 ppm/8 jam.
6. Konsentrasi gas formaldehid tidak melebihi 120 mg/m.
E. Ventilasi
Luas penghawaan atau ventilasi alami yang permanen minimal 10 % dari luas
lantai.
F. Air
1. Tersedianya sarana air bersih dengan kapasitas minimal 60 l/hari/orang.

2. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air
minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
G. Tersedianya sarana penyimpanan yang aman.
H. Limbah
1. Limbah cair yang berasal dari rumah tidak mencemari sumber air, tidak
menimbulkan bau, dan tidak mencemari permukaan tanah serta air tanah.
2. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, pencemaran
terhadap permukaan tanah serta air tanah.
I. Kepadatan hunian ruang tidur
Luas ruang tidur minimal 8 m, dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari 2
orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.
Persyaratan lingkungan perumahan (KepMenKes 1999)
A. Lokasi
1. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai,
aliran lahar, gelombang tsunami, longsor, dan sebagainya
2. Tidak terletak pada daerah bekas pembuangan akhir sampah dan bekas
lokasi penambangan
3. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti
jalur pendaratan dan penerbangan
B. Kualitas udara, kebisingan, dan getaran
Kualitas diudara ambient dilingkungan perumahan bebas dari gangguan
beracun baik oleh alam atau aktifitas manusia dan memenuhi persyaratan
baku mutu udara yang berlaku, dengan perhatian khusus terhadap parameterparameter sebagai berikut :
1. Tingkat kebisingan dilokasi tidak melebihin 45-55 dB
2. Gas debu (H2S dan NH3) secara biologis tidak terdeteksi
3. Partikel debu diameter <10g tidak melebihi 150g/m3
4. Gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm
5. Debu terendap tidak melebihi 350mm3/m3 perhari
6. Tingkat getaran dilingkungan perumahan harus memenuhi maksimal
10mm/detik
C. Kualitas tanah
Kualitas tanah pada daerah perumahan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
1. Timah hitam (Pb) maksimal 300mg/kg
2. Arsenik total maksimum 100mg/kg
3. Cadmium (Cd) maksimum 20mg/kg
4. Benzo (a) pyrene maksimal 1mg/kg

D. Kualitas air tanah


Kualitas air tanah pada perumahan minimal memenuhi persyaratan air baku,
air minum (golongan b), sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
E. Sarana dan prasarana lingkungan
1. Memiliki taman bermain untuk anak-anak, sarana rekreasi keluarga
dengan konstruksi yang aman dari kecelakaan.
2. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor
penyakit dan menimbulkan persyaratan teknis sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
3. Memilki sarana jalan dengan ketentuan
a. Konstruksi jalan tidak membahayakan kesehatan
b. Konstruksi trotoar jalan tidak membahayakan pejalan kaki dan
penyandang cacat
c. Bila ada pagar harus diberi pengaman
d. Lampu penerang jalan tidak menyilaukan
4. Tersedia sumber air bersih yang menghasilkan air secara cukup sepanjang
waktu dengan kualitas air yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
5. Pengolahan pembuangan kotoran manusia dan limbah rumah tangga harus
memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku
6. Pengolahan pembuangan sampah rumah tangga harus memenuhi
persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku
7. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan umum dan sosial seperti
keamanan, kesehatan, komunikasi, tempat kerja, tempat hiburan, tempat
pendidikan, kesenian dan lain sebagainya
F. Binatang penularan penyakit
1. Indeks lalat dilingkungan perumahan harus memenuhi persyaratan sesuai
dengan persyaratan perundang-undangan yang berlaku.
2. Indeks jentik nyamuk (anka bebas jentik) di perumahan tidak melebihi 5
%.
G. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan dilingkungan perumahan merupakan pelindung
dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.

III.

PEMBAHASAN

Laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan arus urbanisasi di negara sedang
berkembang menyebabkan masalah perumah an memerlukan pemecahan dan
penanganan yang segara. Di Afrika, Amerika Latin dan Asia penduduk kota
meningkat dua kali lipat dalam periode 10 tahun terakhir. Urbanisasi yang tidak
terkendali ini menimbulkan rangkaian masalah sosial yang sangat kompleks. Laju
pertumbuhan penduduk di Indonesia seperti di negara sedang berkembang lainnya
juga cukup tinggi, yaitu sekitar 2,3% per tahun, dan bahkan di daerah perkotaan
mencapai 5,4% per tahun yang juga terutama disebabkan karena derasnya arus
urbanisasi. Hal ini meyebabkan peningkatan kebutuhan prasarana dan sarana
perumahan dan lingkungan pemukiman dan pengadaan perumahan untuk golongan
masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah menjadi problem yang
semakin sulit.
United Nations Conference on Problem of The Human Environment pada
tahun 1972 telah menyatakan bahwa lebih dari 1 milyar penduduk dunia hidup dalam
kondisi perumahan dibawah standar dan kemungkinan situasi ini akan semakin
bertambah buruk dimasa yang akan datang (WHO SEARO, 1986; Komisi WHO
Mengenai Kesehatan dan Lingkungan, 2001). Faktor yang berpengaruh dalam situasi
ini adalah tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah; lingkungan fisik, biologi,
sosial dan budaya setempat yang belum mendukung; tingkat kemajuan teknologi
pembangunan perumahan masih terbelakang; serta belum konsistennya kebijaksanaan
pemerintah dalam tata guna lahan dan program pembangunan perumahan untuk
rakyat (Napitupulu, 1994; Parwoto, 1994; Panudju, 1999).
Masalah yang dihadapi dalam pembangunan perumahan di daerah perkotaan
adalah luas lahan yang semakin menyempit; harga tanah dan material bangunan yang
dari waktu kewaktu semakin bertambah mahal; serta kebutuhan masyarakat yang
semakin meningkat. Kondisi semacam ini akan mempengaruhi kuantitas dan kualitas
perumahan, bahkan sering menumbuhkan pemukiman kumuh. Demikian juga kondisi
perumahan di daerah pedesaan banyak dijumpai perumahan yang tidak memenuhi
syarat kesehatan Soedjajadi Keman, Kesehatan Perumahan 35 sehingga perlu ditata
kembali dan dipugar dengan melengkapi prasarana dan sarana perumahan yang
memadai.
Masyarakat kecil berpenghasilan rendah tidak mampu memenuhi persyaratan
mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bahkan untuk rumah tipe Rumah
Sangat Sederhana (RSS). Sebaliknya pemerintah dan swasta pengembang perumahan
tidak dapat memenuhi kebutuhan perumahan untuk masyarakat. Hal tersebut
menimbulkan masalah sosial yang serius dan menumbuhkan lingkungan pemukiman
kumuh (slum area) dengan gambaran berhubungan erat dengan kemiskinan,

kepadatan penghuninya tinggi, sanitasi dasar perumahan yang rendah seh ingga
tampak jorok dan kotor yaitu tidak ada penyediaan air besih, sampah yang
menumpuk, kondisi rumah yang sangat menyedihkan, dan banyaknya vektor
penyakit, terutama lalat, nyamuk dan tikus.
Dalam pengadaan perumahan, sangat diperlukan peran serta masyarakat
karena pemerintah dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator yang mendorong
dan memberi bantuan untuk mencapai tujuan. Pembangunan perumahan merupakan
tanggung jawab dari masyarakat sendiri sehingga potensi dan peran serta masyarakat
perlu dikembangkan dalam pembangunan perumahan.
Hak dan kesempatan untuk berperan serta yang sebesar - besarnya dalam
pembangunan rumah, perumahan dan lingkungan pemukiman meliputi pemugaran,
renovasi, peremajaan lingkungan pemukiman dan pembangunan perumahan dinyat
akan dalam UU RI No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman. Agar
masyarakat luas bersedia dan mampu berperan serta dalam kegiatan tersebut, maka
pemerintah menyelenggarakan penyuluhan, pembimbingan, pendidikan, dan
pelatihan. Wujud pembinaan di bidang perumahan dan lingkungan pemukiman
berupa kebijaksanaan, strategi, rencana, dan program yang meliputi rumah, sarana
dan prasarana lingkungan; tata ruang; pertanahan; industri bahan, jasa telekomunikasi
dan rancang bangun; pembiayaan; kelembagaan; sumber daya manusia; serta
peraturan perundangan.
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping sandang
dan papan, sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara
produktif. Konstruksi rumah dan lingkungannya yang tidak memenuhi syarat
kesehatan merupakan faktor risiko sebagai sumber penularan berbagai penyakit,
khususnya penyakit yang berbasis lingkungan.
Berdasar Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilaksanakan tahun
1995 (Ditjen PPM dan PL, 2002) penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
yang merupakan penyebab kematian terbanyak kedua dan tuberkulosis yang
merupakan peny ebab kematian terbanyak ketiga erat kaitannya dengan kondisi
sanitasi perumahan yang tidak sehat. Penyediaan air bersih dan dan sanitasi
lingkungan yang tidak memenuhi syarat menjadi faktor risiko terhadap penyakit diare
(penyebab kematian urutan nomor empat) disamping penyakit kecacingan yang
menyebabkan produktivitas kerja menurun. Disamping itu, angka kejadian penyakit
yang ditularkan oleh vektor penular penyakit demam berdarah, malaria, pes dan
filariasis yang masih tinggi. Upaya pengendalian faktor risiko yang mempengaruhi
timbulnya ancaman kesehatan telah diatur dalam Kepmenkes RI No.
829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan perumahan.
Dalam penilaian rumah sehat menurut Kepmenkes tersebut diatas, parameter
rumah yang dinilai meliputi lingkup 3 (tiga) kelompok komponen penilaian, yaitu :
(1) kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai, jendela kamar

tidur, jendela kamar keluarga, dan ruang tamu, ventilasi, sarana pembuangan asap
dapur, pencahayaan; (2) kelompok sarana sanitasi, meliputi sarana air bersih, sarana
pembuangan kotoran, sarana pembuangan air limbah, dan sarana pembuangan
sampah; dan (3) kelompok perilaku penghuni, meliputi perilaku membuka jendela
kamar tidur, membuka jendela ruang keluarga dan tamu, membersihkan halaman
rumah, membuang tinja bayi/anak ke kakus, dan membuang sampah pada tempatnya.
Formulir penilaian rumah sehat terdiri komponen yang dinilai, kriteria penilaian, nilai
dan bobot serta hasil penilaian secara terinci dapat dilihat pada lampiran dari
Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan
perumahan.
IV KESIMPULAN

V DAFTAR PUSTAKA