Anda di halaman 1dari 23

PT PLN (Persero)

Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Transaksi pembangkitan adalah transaksi tenaga listrik langsung dengan pembangkitan.


Transaksi ini dituangkan dalam PJBTL (Power Purchase Agreement, PPA) yang merupakan
kesepakatan jual beli tenaga listrik antara penjual dengan pembeli dimana mengatur hak dan
kewajiban antara penjual dan pembeli berkaitan dengan kesepakatan tersebut. Dalam kaitan ini
yang bertindak sebagai pembeli adalah Single Buyer.

2.1

Kinerja Pembangkit

2.1.1. Jenis Pembangkit Ditinjau Dari Energi Primernya dan Karakteristiknya


Pembangkitan berdasarkan sumber energinya, dibagi menjadi pembangkit non renewable
energi dan pembangkit renewable energi yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a.

Pembangkit non renewable energy :


Jenis pembangkit non renewable energy adalah :
i.

Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)


1. PLTU berbahan bakar batu bara
2. PLTU berbahan bakar gas
3. PLTU berbahan bakar MFO

ii.

Pusat Listrik Tenaga Gas


1.

PLTG berbahan bakar gas

2.

PLTG berbahan bakar HSD

iii.

Pusat Listrik Tenaga Gas Uap


1.

PLTGU berbahan bakar gas

2.

PLTGU berbahan bakar HSD

iv.
b.

Pusat Listrik Tenaga Nuklir

Pembangkit renewable energy


i.

Pusat Listrik Tenaga Air/Mikro Hydro (PLTA/PLTMH)

ii.

Pusat Listrik Tenaga Surya

iii.

Pusat Listrik Tenaga Angin

iv.

Pusat Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)

v.

Pusat Listrik Bio Gas

Berbagi
20

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Secara umum, pembangkitan yang saat ini masih sering umum digunakan adalah jenis
pembangkitan non renewable energy, PLTP dan PLTA. Di dalam buku ini, akan dibahas tentang
karakteristik dari dari masing-masing pembangkit tersebut.
a.

PLTA
PLTA merupakan pembangkit yang paling murah di sistem tenaga listrik karena
menggunakan air sebagai penggerak utamanya. Tetapi kepastian pasokan listrik PLTA
sangat tergantung dari alam. PLTA merupakan pembangkit yang cepat dalam mengatasi
black out sistem ketenagalistrikan. Terdapat dua jenis PLTA yaitu PLTA untuk mengisi beban
dasar dan PLTA untuk mengisi beban puncak.

b. PLTU
Karakteristik PLTU adalah membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan start up tetapi
memiliki efisiensi yang tinggi. Hal ini menyebabkan PLTU menjadi pembangkit pemikul
beban dasar.
c. PLTG
Karakteristik PLTG adalah membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk melakukan start
up tetapi memiliki efisiensi yang rendah. Hal ini menyebabkan PLTG menjadi pembangkit
pemikul beban puncak.
d. PLTGU
PLTGU merupakan pembangkit yang memiliki karakteristik dengan start up yang cepat
seperti PLTG dan efisiensi yang lebih baik dari PLTU.
e. PLTP
PLTP merupakan pembangkit yang mengisi beban dasar. PLTP merupakan pembangkit
dengan start up yang cepat, tetapi PLTP diharapkan beroperasi secara base load karena
panas bumi yang digunakan tidak dapat disimpan.
f.

PLTN
PLTN merupakan pembangkit menggunakan reaksi inti dimana pada sistem pembangkit
digunakan sebagai pembangkit base load.

2.1.2. Kriteria Kinerja di Pembangkitan


Kriteria kinerja pembangkitan merupakan besaran yang harus mendapat perhatian karena
realisasinya berpengaruh besar pada nilai transaksi, oleh karena itu data-datanya harus
terdokumentasi dengan baik oleh pihak penjual dan pihak pembeli.
Kriteria kinerja pembangkitan sebagai berikut :

Berbagi
21

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

a. Kesiapan
Kesiapan adalah waktu yang dapat disediakan oleh pembangkit untuk memenuhi daya
mampu tertentu di dalam sistem tenaga listrik.
b. Keandalan
Kemampuan pembangkit untuk menjaga keandalan di dalam sistem tenaga listrik akibat
gangguan baik dari dalam dan dari luar.
c. Efisiensi
Kemampuan pembangkit untuk mengubah energi primer menjadi energi listrik. Efisiensi
pembangkit ini meliputi efisiensi boiler/combustion, turbin dan generator.
d. Outage
Pembangkit keluar dari jaring-jaring sistem tenaga listrik. Terdapat tiga kategory outage,
yaitu :

Plan Outage, yaitu keluarnya pembangkit dari jaring2 sistem tenaga listrik yang telah
direncanakan untuk melakukan pemeliharaan yang bersifat preventive (time based).

Maintenance Outage, yaitu keluarnya pembangkit dari jaring2 sistem tenaga listrik
karena kegiatan perbaikan terhadap kerusakan yang bersifat korektif (event based).

Forced Outage, yaitu keluarnya pembangkit dari jaring2 sistem tenaga listrik karena
gangguan pembangkit baik gangguan dari dalam maupun gangguan dari luar.

e. Derating
Penurunan kemampuan pembangkit untuk memenuhi daya mampu sesuai yang
ditawarkan. Derating ini bisa diakibatkan karena penggunaan bahan bakar ataupun
penurunan kemampuan peralatan pembangkit.
f.

Ramping Rate
Kemampuan pembangkit untuk menaikkan dan menurunkan beban dalam waktu tertentu
sesuai permintaan pengatur beban.

g. Up Time
Waktu beroperasinya pembangkit di antara dua outage yang berurutan.
h. Down Time
Waktu tidak beroperasinya pembangkit.
i.

Start up Time
Waktu yang diperlukan pembangkit mulai dari persiapan pengoperasian sampai dengan
pembangkit siap untuk sinkron. Terdapat 3 kategori start up untuk pembangkit termal, yaitu :
-

Berbagi
22

Start up Dingin , start up yang dilaksanakan :


dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Untuk PLTU setelah unit dimatikan secara terus menerus


selama lebih dari 75 jam setelah unit shutdown dan boiler
tidak dinyalakan
Untuk PLTGU start up yang dilaksanakan pada kondisi
temperatur rotor HP steam turbine <120o C
-

Start up Hangat, start up yang dilaksanakan :


Untuk PLTU setelah unit dimatikan secara terus menerus
selama lebih dari 55 jam tetapi kurang dari 75 jam setelah
unit shutdown dan boiler tidak dinyalakan
Untuk PLTGU start up yang dilaksanakan pada kondisi
temperatur rotor HP steam turbine <120o C s.d 400oC

Start Up Panas, start up yang dilaksanakan :


Untuk PLTU setelah unit dimatikan secara terus menerus
selama lebih dari 10 jam tetapi kurang dari 55 jam setelah
unit shutdown dan boiler tidak dinyalakan
Untuk PLTGU start up yang dilaksanakan pada kondisi
temperatur rotor HP steam turbine > 400oC

j.

Ancillary Services, yaitu layanan yang diberikan pembangkit untuk mempertahankan dan
memelihara keandalan sistem tenaga listrik.
Terdapat beberapa ancillary services, yaitu :

kemampuan regulasi pembangkit (regulating capability), untuk mempertahankan


frekuensi sistem;

penyediaan daya reaktif (reactive capacity), untuk mempertahankan level tegangan


sistem;

kemampuan black start pembangkit;

penyediaan kapasitas cadangan (reserve capacity);

kemampuan operasi host load pembangkit;

start up pembangkit

2.1.3. Pengukuran Kinerja di Pembangkitan


Berbagi
23

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

a. Kesiapan
Kesiapan di dalam terminologi pembangkit adalah Equivalent Availability Factor (EAF).
Satuan EAF dinyatakan dalam persen.
Rumus kesiapan adalah :
EAF = (PH Outage Equivalent Derating) / PH x 100 %,
dimana :

b.

- PH

Period Hours (8.760 jam)

- Outage

waktu keluar jaring-jaring

- Equiv. Derat. =

equivalen waktu derating

Efisiensi
Efisiensi dinyatakan dalam persen.
Rumus efisiensi adalah :
Eff = 860/Net Plant Heat Rate x 100 %

c.

Outage
Outage dinyatakan dalam persen.
Outage = Jumlah jam tidak siap dan tidak terhubung jaringan / PH x 100 %

d.

Ramping Rate
Ramping rate dinyatakan dalam MW/menit

Gambar 2.1. Hubungan Keandalan dan Faktor Kapasitas

2.1.4. Kinerja Pembangkit Yang Ditransaksikan


Berbagi
24

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Kinerja pembangkit yang ditransaksikan terdiri dari :


a. Kesiapan (EAF)
Transaksi terhadap Kesiapan didasarkan pada harga tetap (fixed price) dimana
pembayaran terhadap kesiapan ini terdapat mekanisme insentif dan pinalti. Pembayaran
terhadap kesiapan terdiri dari dua komponen pembayaran, yaitu :
i.

Biaya Pengembalian Modal.


Biaya Pengembalian Modal disebut Pembayaran terhadap Komponen A. Pembayaran
Komponen A didasarkan atas pencapaian kesiapan terhadap kesiapan yang ditawarkan.

ii.

Biaya Tetap Operasi dan Pemeliharaan.


Biaya Tetap Operasi dan Pemeliharaan disebut pembayaran komponen B. Pembayaran
Komponen B didasarkan atas pencapaian kesiapan terhadap kesiapan yang
ditawarkan.

b. Energi (efisiensi thermal)


Pembayaran energi didasarkan pada kurva input dan output dimana semakin tinggi
pembangkit dibebani, maka kebutuhan energi semakin tinggi tetapi kenaikan energi
semakin kecil. Kebutuhan energi untuk tiap kenaikan beban dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Grafik Kebutuhan Energi Untuk Tiap Kenaikan Beban

c. Ancillary Services
Pembayaran untuk ancillay servives terdiri dari :
i.

Pembayaran Daya Reaktif (MVAR)


n

PVAR fst VARh int VARh in _ nom HVARh in VARh outt VARh out _ nom HVARh out

Berbagi
25

t 1

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

fst

VARh-int
VARh-outt
VARh-in_nom

VARh-out_nom

HVARh-in

HVARh-out

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

= Faktor status operasi,


dimana fst = 1 bila VARh-in > VARh-in_nom atau VARh-out >
VARh-out_nom
= Energi reaktif yang diserap oleh mesin pembangkit dalam
periode jam
= Energi reaktif yang disupply oleh mesin pembangkit dalam
periode jam
= Batasan energi reaktif yang dapat diserap oleh mesin
pembangkit dalam periode jam, sesuai dengan capability
curve yang disepakati
= Batasan energi reaktif yang dapat disupply oleh mesin
pembangkit dalam periode jam, sesuai dengan capability
curve yang disepakati
= Harga Energi reaktif yang diserap oleh mesin pembangkit
dalam periode jam dan melebihi batasan operasinya sesuai
capability curve yang disepakati, dalam Rp./KVARh *)
= Harga Energi reaktif yang disupply oleh mesin pembangkit
dalam periode jam dan melebihi batasan operasinya sesuai
capability curve yang disepakati, dalam Rp./kVARh *)

Notes :
*) Perhitungan HVARh-in sama dengan HVARh-out yaitu harga rata-rata Energi (komponen C untuk pembangkit
thermal dan komponen C&D untuk pembangkit hidro) masing-masing entitas pembangkit pada bulan dimana Energi
Reaktif diserap atau disupply oleh mesin pembangkit di luar capability curve.

ii. Pembayaran Black Start

PBS

EBS

n 4 jam

E
T 1

BS

HE BS

= Energi yang dikirimkan oleh mesin pembangkit yang


mempunyai kemampuan blacksart saat restorasi dari kondisi
blackout, Jumlah energi maksimum yang dapat dihitung
sebagai black start - ancillary services adalah jumlah energi
yang dikirimkan selama 4 jam pertama saat restorasi sistem,
dalam kWh.

iii. Pembayaran Host Load

PHL T HPHL
T

Berbagi
26

dan

= periode waktu saat mesin pembangkit beroperasi pada


kondisi host load yang terjadi akibat suatu gangguan
menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

HPHL

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

eksternal mesin pembangkit pada sistem ketenagalistrikan,


dalam satuan jam.
= Harga host load ancillary services dari suatu mesin
pembangkit yang mempunyai host load, dalam Rp./jam
HPHL = EHL x HEHL
EHL = angka kesepakatan kebutuhan energi selama satu
jam (kcal/jam)
HEHL = harga energi berdasarkan masing-masing entitas
pembangkit. (Rp/kcal)

ii. Pembayaran Start Up


SU kWhxHEimport VBBMxHBBM H HP

kWh
HEimport

VBBM

HBBM

HHP

2.2.

= Jumlah tenaga listrik yang dibutuhkan oleh Pembangkit


Penjual untuk melakukan satu kali Start Up.
= Harga energi yang harus dibayar oleh Pembeli kepada
Penjual yang digunakan untuk satu kali Start Up yang
besarnya sama dengan harga energi import pada setelmen
bulanan untuk masing-masing entitas.
= Volume bahan bakar minyak yang diperlukan oleh
Pembangkit Penjual untuk melakukan satu kali Start Up yang
besarnya seperti tercantum dalam Kesepakatan Harga.
= Harga bahan bakar minyak yang digunkan untuk satu kali
Start Up yang besarnya sama dengan harga bahan bakar
minyak yang digunakan pada setelmen bulanan untuk
masing-masing entitas.
= Biaya spare part yang digunakan untuk satu kali Start Up
yang besarnya seperti tercantum dalam Kesepakatan Harga.

Biaya Pembangkitan

2.2.1 Struktur Biaya Pembangkitan


Biaya pembangkitan dapat dikategorikan sebagai berikut (Lihat Gambar 2.3) :
a. Biaya tetap, terdiri dari :
i.

Biaya Investasi :
Terdiri dari biaya pokok pinjaman, bunga pinjaman, pajak, dan laba.

Berbagi
27

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

ii.

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Biaya Operasi dan Pemeliharaan


Terdiri dari biaya pemeliharaan, pegawai, administrasi dan asuransi.

Komponen Biaya Tetap :


Komponen Biaya Tetap adalah biaya yang diperlukan untuk memenuhi kewajiban kepada
Pemilik Modal yang menyertakan ekuitasnya dan kewajiban kepada Lender/Investor
sedemikian sehingga Pusat Pembangkit tetap dapat tumbuh dan bekembang.

Komponen Biaya tetap terdiri atas:


1. Komponen A adalah Biaya Kapital atau Capital Cost Recovery (CCR):
CCR = f (Investment Cost, Interest Rate, Payback Periods, Rate of

Return)
Investment Cost = f (plant type)

2. Komponen B adalah Biaya Operasi dan Pemeliharaan Tetap:


Pemeliharaan Pembangkit yang merupakan f (Operating hours, Loading mode, Plant

availability)
Biaya Pegawai, Administrasi dan Asuransi

b. Biaya Variable, terdiri dari :


i.

Biaya Energi
Terdiri dari biaya bahan bakar baik air, gas, batu bara, minyak, panas bumi

ii.

Biaya Operasi Pemeliharaan


Terdiri dari biaya pelumas, kimia dan pemeliharaan.

Komponen Biaya Variabel :


Komponen Biaya Variabel adalah biaya yang dikeluarkan agar pembangkit tetap dapat
beroperasi dan menghasilkan energi listrik secara kontinyu melalui penyediaan pasokan
energi primer yang berkesinambungan

Komponen Biaya Variabel terdiri atas:


1. Komponen C adalah Biaya Bahan Bakar:
o
Biaya Bahan Bakar = f (Plant Heat Rate, Fuel Price)
o

Plant Heat Rate = f (plant type, loading)

2. Komponen D adalah Biaya Operasi dan Pemeliharaan Variabel:


Berbagi
28

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Biaya bahan pelumas, air, bahan kimia dan bahan bantu lainnya

3. Komponen Tambahan (additional charge) adalah biaya yang dikeluarkan

pembangkit

untuk penyediaan layanan tambahan (ancillary services) untuk keandalan dan kualitas
suplai tenaga listrik, seperti start up, keluaran darurat, pengaturan frekuensi, cadangan
operasi, voltage control, black start dll.

Gambar 2.3. Struktur Biaya Pembangkitan

2.2.2. Karakteristik Pembangkit Terhadap Biaya Tetap


a. Biaya Tetap
Karakteristik biaya tetap (fixed cost) seperti terlihat pada gambar 2.4. Semakin tinggi EAF,
maka biaya tetap yang dibutuhkan akan semakin tinggi sesuai persamaan linear. Tetapi
pada titik tertentu mencapai titik optimum sehingga kurva setelah titik optimum akan
mengikuti kurva eksponensial

Berbagi
29

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Total Fix Revenue

Total Fix Cost

Gambar 2.4. Grafik karakteristik biaya tetap

2.2.3. Struktur Biaya Berkaitan Dengan Bahan Bakar


Biaya bahan bakar (variable cost) mengikuti persamaan input output seperti pada gambar
2.5. Semakin tinggi pembangkit dibebani, maka effisiensi akan semakin baik.

Min

Max

Gambar 2.5. Grafik kurva effisiensi

2.3.

Metode Transaksi Pembangkitan

Berbagi
30

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Pada sistem pembangkitan umumnya terdapat dua metode transaksi yang sering
diterapkan, yaitu:
Transaksi berbasis kapasitas dan energi (Capacity & Energy Based)
Transaksi berbasis energi (Energy Based)
Penetapan metode transaksi pembangkitan yang digunakan umumnya berdasarkan atas
kriteria teknis dan ekonomis pembangkit seperti: jenis energi primer, skala produksi listrik,
jaminan atas investasi pembangkit, jangka waktu perjanjian pembelian listrik, kapasitas
pembangkit yang dapat disediakan, kontinyuitas produksi listrik dan kriteria lainnya.
2.3.1. Transaksi Berbasis Kapasitas dan Energi (Capacity & Energy Based)
Transaksi pembangkitan berbasis Kapasitas dan Energi pada prinsipnya berpedoman pada
struktur biaya pembangkitan (lihat Item 2.2) yaitu:

Transaksi atas kapasitas pembangkit yang disediakan (availability) dan merupakan


biaya tetap (fixed cost), terdiri atas Komponen A (biaya investasi) dan Komponen B
(biaya operasi dan pemeliharaan tetap)

Transaksi atas energi yang diproduksi, yang merupakan biaya variable, terdiri atas
Komponen C (biaya bahan bakar) dan Komponen D (biaya operasi dan pemeliharaan
variable) serta Komponen Tambahan (Additional/ SupplementaryCharge) sesuai
perjanjian.
Transaksi pembangkitan berbasis Kapasitas dan Energi umum diterapkan untuk
Pembangkit kapasitas besar dengan investasi cukup besar, ada jaminan oleh
pembangkit atas kapasitas tetap (firm capacity) yang disediakan, kontrak pembelian
listrik jangka panjang, energi primernya dapat disimpan, produksi listrik dapat secara
kontinyu, contoh: PLTU, PLTA, PLTG, PLTGU kapasitas besar.
Pembayaran atas kapasitas pembangkit secara umum dapat dirumuskan berdasarkan
tarif per komponen pembayaran sesuai formula berikut:
Komponen

A = DMN x Hkap x EAF

dimana:
- DMN

Daya Mampu Netto (kW) adalah kapasitas pembangkit yang dapat


disediakan

- Hkap =

Harga/tarif pengembalian atas biaya modal (Rp/kW-th) terdiri atas porsi


asing (HkapF) dan porsi lokal (HkapL)

- EAF
Berbagi
31

dan

Equivalent Availability Factor (Faktor Kesiapan Ekivalen Pembangkit)

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

1 - {(kWh outage+kWh derating)/(DMNxjam periode transaksi)}

Umumnya pembayaran Komponen A dikaitkan dengan EAF realisasi dan EAF declare,
dengan ketentuan :
- Apabila EAF realisasi lebih besar dari EAF declare, maka pembayaran didasarkan
pada formula : Harga Komponen A *DMN *( EAF declare + 0,5 * (EAF realisasi - EAF declare )
- Apabila EAF realisasi lebih kecil dari EAF declare, maka pembayaran didasarkan
pada formula : Harga Komponen A *DMN * EAF declare
Komponen

B = DMN x (Hfix x I) x EAF

dimana :
- DMN & EAF

sesuai definisi di atas

- Hfix

Harga pengembalian biaya tetap O&M (Rp/kW-th) terdiri atas


porsi asing (HFixF) dan porsi lokal (HFixL)

- I

Indeks Inflasi terkait kurs serta Indeks Harga Konsumen (IHK)


dalam dan luar negeri

Umumnya pembayaran Komponen B dikaitkan dengan EAF realisasi dan EAF declare,
dengan ketentuan :
- Apabila EAF realisasi lebih besar dari EAF declare, maka pembayaran didasarkan
pada formula :Harga Komponen B * DMN * EAF declare
- Apabila EAF realisasi lebih kecil dari EAF declare, maka pembayaran didasarkan
pada formula :Harga Komponen B * DMN * EAF realisasi
Komponen

C = Ea x ECRm

dimana :
- Ea

Energi yang dikirim (delivered) - kWh dari pengambilan data meter

- ECRm

Harga pengembalian biaya energi primer (Rp/kWh), untuk pembangkit


termal tergantung pada harga bahan bakar, nilai kalor bahan bakar, dan
efisiensi mesin

SHR x (1/HHV) x Pm
- SHR = Specific Heat Rate (Efisiensi) Mesin Pembangkit - kcal/kWh
- HHV = Higher Heating Value (Nilai Kalor Tertinggi) Bahan bakar kcal/kg(lt)(mmbtu)
- Pm = Harga Bahan Bakar - Rp/kg(lt)(mmbtu)

Berbagi
32

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

Komponen

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

D = Ea x (Hvar x I)

dimana :
-

Ea & I =

sesuai definisi di atas

Hvar

Harga pengembalian biaya variabel O&M (Rp/kWh)

2.3.2. Transaksi berbasis Energi (Energy Based)


Transaksi pembangkitan berbasis Energi berpedoman pada jumlah energi yang
diproduksi/dikirim ke pembeli. Pembayaran atas energi tersebut pada prinsipnya sudah
diperhitungkan untuk menutupi secara keseluruhan biaya fixed cost dan variable cost
pembangkit.
Transaksi pembangkitan berbasis Energi biasanya diterapkan untuk Pembangkit kapasitas
kecil, umumnya tidak ada jaminan oleh pembangkit atas kapasitas yang disediakan (non
firm capacity), kontrak pembelian listrik jangka pendek sampai jangka panjang, energi
primernya tidak dapat disimpan, ada kalanya produksi listrik tidak kontinyu, contoh: PLTP
(Panas Bumi), PLTA tanpa waduk (run of river), PLTMikro Hidro, PLTB (bayu/angin), Excess
Power.
Untuk menjamin pengembalian biaya investasi pembangkit terutama pada PLTP (panas
bumi) umum diterapkan adanya mekanisme Take or Pay (TOP)

energi yang artinya

ditetapkan suatu nilai TOP tertentu sebagai jumlah minimal energi listrik yang harus dibeli.
Bila membeli kurang dari TOP, maka yang dibayar sebesar TOP energi.
Pembayaran atas energi yang diproduksi secara umum dapat dirumuskan berdasarkan tarif
curah (bulk tariff) energi sesuai formula berikut:
Total Pembayaran Energi = Ea x P x I
dimana :
- Ea

Energi (kWh) yang dikirim (delivered) atau Energy Take or Pay (TOP)

- P

Harga energi untuk pengembalian seluruh biaya pembangkit (Rp/kWh atau


US$/kWh)

- I

Indeks Inflasi terkait kurs serta Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam dan luar
negeri

2.4.

Setelmen Transaksi Pembangkitan

2.4.1. Tagihan jual beli tenaga listrik di pembangkitan

Berbagi
33

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Tagihan jual beli tenaga listrik (invoice) diajukan oleh pembangkit ke Single Buyer
dilaksanakan setiap bulan. Pihak pembangkit menyiapkan dokumen-dokumen pendukung
perhitungan transaksi. Dokumen pendukung harus divalidasi dan disetujui oleh PLN P3B atau Unit
Wilayah yang dalam ini wewakili Single Buyer dalam pelaksanaan jual beli tenaga listrik. Dokumendokumen tersebut antara lain sebagai berikut :
a.

Dokumen yang dikirim ke Sub Unit PLN P3B/Wilayah


Dalam pemrosesan Berita Acara Pengiriman Tenaga Listrik Antara Pihak Pembangkit dan
Sub Unit PLN P3B/Wilayah, pihak pembangkit menyertakan dokumen:
i. - Berita Acara Pengambilan Data Meter Transaksi Tenaga Listrik Antara Pihak
Pembangkit Dengan Sub Unit PLN P3B/Wilayah.
- Hasil download data meter.
ii. Berita Acara Pemutusan dan Pemasangan segel Meter Transaksi Utama dan Meter
Transaksi Pembanding (jika ada).
iii. Event Logger Disturbance (jika diperlukan)
iv. Dokumen pekerjaan non rutin (jika ada kegiatan non rutin) berupa :
- BA berikut dokumen pendukung seperti dimaksud pada klausula i dan ii.
- Berita Acara Hasil Pelaksanaan Pekerjaan.

b.

Dokumen yang dikirim ke PLN P3B/Wilayah


Berita Acara Transaksi Tenaga Listrik Antara Pihak Pembangkit Dengan PT PLN (Persero)
PLN P3B/Wilayah, dengan lampiran :
i.

Seluruh dokumen final pada klausula a.

ii. Dokumen pendukung perhitungan Pembayaran :


- Perhitungan kWh dispatch oleh P3B ke IP, PJB.
- Perhitungan Afa, SHRw dan Dispatch Credit Hour (DCH)
- Berita Acara Equivalent Availability Factor (EAF) Pembangkit
- Perhitungan indek inflasi (jika ada sesuai klausula kontrak)
- Berita Acara Rekapitulasi Pengiriman Tenaga dari Pihak Pembangkit ke PLN.
- Data pendukung lain sesuai kontrak (jika diperlukan)
Dokumen pendukung tesebut bisa berbeda tergantung jenis PPA nya.

2.4.2. Perhitungan transaksi tenaga listrik dan prosesnya


Berikut ini diberikan contoh perhitungan transaksi tenaga listrik antara Anak Perusahaan dengan
Single Buyer.
Berbagi
34

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

a. Menghitung Tarif dan Setelmen komponen A

Gambar 2.6. Contoh data komponen A milik UP Cirata PT. PJB

Dari contoh gambar di atas, bisa dilihat bahwa unit pembangkit PLTA Cirata milik PT. PJB memiliki
harga komponen A :
i.

Total biaya komponen A = A Rupiah + A USD


= (231.909.922 + 158.023 + 750.032.715) + (13.277.317)
= Rp. 320.377.977 (dalam ribuan)

ii. Harga komponen A total =

320.377.977.000
= 401.880,3 Rp/kW.tahun
(948.000 x 0.84)

(401.880,3 Rp/kW.tahun) / 12 = 33.490 Rp Rp/kW.bln


Harga komponen A Rupiah =

231.909.922

Biaya komponen A Rupiah


x Harga komponen A total
Biaya komponen A total

158.023 750.032.715
320.377.977

x 401.880,3 = 385.225,3 Rp/kW.Thn

Harga komponen A USD = 401.880.3 385.225.3 = 16.655 Rp/kW.Thn

iii. Setelmen biaya kapasitas dari komponen A

Berbagi
35

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Misalkan untuk bulan operasi ke-n, memiliki EAF realisasi sebesar 90%, Kurs rupiah pada awal
kesepakatan = Rp 9000/USD, tetapi kurs rupiah pada bulan operasi = Rp 9250/USD, maka
pembayaran komponen A untuk bulan tersebut adalah :
Pembayaran A Rupiah = (948.000 x 90%) x (385.225,3/12) = Rp. 27,89 Milyar
Pembayaran A USD = (948.000 x 90%) x (16.655/12) x (9250/9000) = Rp. 1,22 Milyar
b. Menghitung tarif dan setelmen komponen B

Gambar 2.7. Contoh data komponen B milik UP Cirata PT. PJB

i.

Total Biaya Komponen B = Komponen B Rupiah + Komponen B USD


= (16925306 + 17.686.089 + 49.035.293 + 22.280.882) + (4.378.931)
= Rp. 110.295.501 (dalam ribuan)

ii. Harga Komponen B =

110.295.501.000
= 138.355,3 Rp/kW.Thn
(948.000 x 0.84)

(138.355,3 Rp/kW.tahun) / 12 = 11.546 Rp/kW.Bln


Harga Komp B Rupiah =

16925306

Biaya komponen B Rupiah


x Harga komponen B total
Biaya komponen B total

17.686.089 49.035.293 22.280.882


110.295.501.000

x 138.355,3 = 132.862,4

Harga Komp B USD = 138.355,3 - 132.862,4 = 5492,9 Rp/kW.Thn

iii. Setelmen biaya kapasitas dari komponen B

Berbagi
36

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Misalkan untuk bulan operasi ke-n, memiliki EAF realisasi sebesar 90%. Kurs rupiah pada awal
kesepakatan = Rp 9000/USD, tetapi kurs rupiah pada bulan operasi = Rp 9250/USD, maka
pembayaran komponen B untuk bulan tersebut adalah :
Pembayaran B Rupiah = (948.000 x 90%) x (138.355,3/12) = Rp. 9,83 Milyar
Pembayaran B USD = (948.000 x 90%) x (5492,9/12) = Rp. 0,4 Milyar
c. Menghitung tarif dan setelmen komponen C
Komponen C merupakan pembayaran untuk energi primer. Misalnya pada pembangkit PLTU
Batubara, akan mengirim 2 TWh (2.000.000.000 kWh) pada tahun 2008 dengan harga batu bara +
ongkos angkut = Rp. 600/kg. Kurs yang digunakan pada awal kesepakatan adalah Rp 9000/USD.
Sementara untuk 1 kg bisa menghasilkan 2 kWh listrik. Pembangkit harus membeli 1.000.000 ton
batu bara dengan biaya Rp. 600 Milyar.
Harga Rupiah per kWh energi yang terkirim adalah :
Harga Komponen C =

Rp 600.000.000.000
= 300 Rp/kWh
2.000.000.000 kWh

Harga tersebut adalah harga rata rata yang bersumber dari RKAP unit terkait.
Untuk Kasus PLTA juga sama perhitungannya. Komponen C pada PLTA merupakan harga retribusi
air untuk menghasilkan 1 kWh. Pada PLTA Cirata = Rp 6.
Pada saat setelmen, misalkan pada bulan ke-n PLTU tersebut berhasil mengirimkan 200 GWh, dan
kurs pada bulan operasi adalah Rp 9250, maka pembayaran komponen C berkisar pada =
200.000.000 kWh x 300 Rp/kWh x (9250/9000) = Rp 61,67 Milyar. Angka pasti dari setelmen
adalah bergantung harga energi primer ketika pembangkit beroperasi pada bulan tersebut dan nilai
heat rate pembangkit.
Sementara pada PLTA, jika PLTA Cirata tersebut berhasil mengirimkan 500.000 MWh pada bulan
ke-n, maka :
Pembayaran Komp. C = 500.000.000 kWh x 6 Rp/kWh x (9250/9000) = Rp 3,08 Milyar
Harga dan perlakuan untuk energi primer pembangkit berbeda satu sama lain bergantung pada
PPA nya.
d. Menghitung tarif dan setelmen komponen D
Analogi dengan perhitungan komponen C, komponen D dihitung berdasar jumlah energi dan harga
komponen D. Misalkan alokasi biaya komponen oli pelumas dan bahan kimia pada pembangkit
PLTU dalam memproduksi 1 milyar kWh untuk tahun 2008 adalah sebesar Rp 1 Milyar. Maka
harga komponen D adalah :

Berbagi
37

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Rp 1.000.000.000
= 1 Rp/kWh
1.000.000.000 kWh

Pada gambar 2.8 diperlihatkan contoh RKAP asalah satu Anak Perusahan Pembangkitan.

Gambar 2.8. Contoh RKAP

2.4.3. Perselisihan Transaksi Tenaga Listrik dan Penyelesaiannya


PPA adalah PJBTL yang telah disepakati antara pihak penjual dan pembeli yang harus
ditaati dalam implementasinya. Kedua belah pihak harus mempunyai persepsi yang sama atas
klausula-klausula pada PPA. Jika dalam implementasi PPA ada dijumpai hal-hal yang belum di atur
secara tertulis atau sudah tertulis tetapi masih ada perbedaan persepsi, maka solusinya harus
disepakati secara tertulis oleh kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak sepakat untuk
merubah sebagian klausula dalam PPA, maka kesepakatan ini harus dituangkan dalam
Amandemen yang dilegalkan oleh pihak-pihak terkait sesuai regulasi yang ada. Penyelesaian
perselisihan mungkin berbeda antar PPA, namun secara umum melalui tahapan sebagai berikut :
a. Penyelesaian dilakukan internal antara kedua belah pihak.
b. Bila butir a tidak tercapai, maka perselisihan dibawa ke ahli (expert) untuk diputuskan.
c. Bila butir b tidak tercapai, maka perselisihan dibawa ke badan arbritase nasional
maupun internasional.

Berbagi
38

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2.5.

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

PPA (Power Purchase Agreement

2.5.1. Model dan Macam PPA


Terdapat beberapa jenis PPA, yaitu :
a. PPA dengan pembayaran terhadap kapasitas dan energi.
Secara umum, jenis PPA yang ada adalah jenis dengan pembayaran untuk kapasitas dan
energi. Setiap kapasitas yang disediakan oleh penjual akan dibeli oleh pembeli meskipun
pembangkit tersebut tidak dibebani untuk menghasilkan energi listrik. Harga energi listrik
dibayar sesuai dengan jumlah energi yang disalurkan. Model PPA ini merupakan model
yang paling sering digunakan dengan alasan :
i.

Bagi penjual
Penjual mendapatkan kepastian terhadap investasi yang digunakan untuk melakukan
pendanaan pembangkit tersebut dan biaya tetap yang telah digunakan untuk melakukan
perawatan tanpa terpengaruh oleh jumlah energi yang disalurkan. Kepastian
pengembalian investasi dan biaya tetap untuk perawatan penting bagi penjual karena
mereka membangun pembangkit dengan skema bisnis. Hal ini disebabkan pengelola
sistem melakukan pembebanan energi listrik berdasarkan harga energi yang termurah
(least cost) karena di dalam sistem ketenagalistrikan harus ada pembangkit yang
berfungsi sebagai cadangan (reserve margin) dan besarnya cadangan umumnya
sebesar 30 % dari beban puncak. Cadangan ini diakibatkan oleh pemeliharaan dan
derating.

ii.

Bagi pembeli
Bagi pembeli, skema ini menguntungkan pembeli karena pembeli dapat melakukan
pembebanan pembangkit berdasarkan keekonomian energi primernya sehingga
keseluruhan sistem ketenagalistrikan dapat lebih efisien. Hal ini dapat dipahami karena
harga energi jauh lebih mahal daripada harga investasi pembangkit dan biaya tetap
pemeliharaan.

b. Kontrak dengan pembayaran terhadap kapasitas saja.


Kontrak dengan skema ini hanya dilakukan pembayaran untuk kapasitas yang disediakan
saja. Biasanya skema PPA ini digunakan untuk pembangkit yang stand by.
c. PPA dengan pembayaran energi saja.
PPA dengan skema ini hanya dilakukan pembayaran energi saja, tanpa memperhitungkan
biaya kapasitas.
PPA tipe ini umumnya digunakan untuk :
Berbagi
39

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

i.

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

Captive power.
Captive adalah pembangkit yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik
sendiri. Captive power akan didesain melebihi kebutuhan daya maksimum untuk
menjaga kehandalan pasokan listrik. Sisa daya tersebut dapat dijual kepada pembeli
lain. Biasanya captive power akan

menjual berupa excess power. Karena biaya

investasi dan biaya pemeliharaan tetap sudah dicover dalam struktur biaya yang
dibebankan dalam HPP pembangkit tersebut, maka excess power yang dijual kepada
pembeli hanya sebesar harga energi ditambah risiko karena beroperasi pada beban
maksimum.
ii. Pembangkit yang pendanaannya dilakukan oleh pemerintah.
Pembangkit PLTA merupakan pembangkit yang biasanya pendanaannya dilakukan oleh
Pemerintah karena PLTA selain berfungsi untuk sektor ketenagalistrikan, juga berfungsi
sebagai penyedia air untuk pertanian, air minum dan pengendali banjir.
Karena biaya investasi sudah dilakukan oleh pemerintah, maka transaksi jual beli
sebesar harga energi dan risiko yang ditanggung oleh penjual.
Struktur dalam PPA
PPA terdiri dari 2 (dua) bagian utama, yaitu :
1.

Main Body.

2.

Appendix
Offtaker
(PLN)

Power Purchase
Agreement

Investor

Management Services
Company

Shareholder
Agreement

Bank
Penjamin
Pemasok
Bahan Bakar

Bank Guarantee

O&M
Agreement

GENCO

Fuel Supply
Agreement

Management Services
Agreement

Insurance
Agreement

Operating
Company
(Operator)

EPC Contract

EPC Contractor

Financing
Agreement

Lender

Insurers

Credit Agreement

International
Bank

Local Bank/
Sindikasi
Gambar 2.9. Struktur PPA

Berbagi
40

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

PPA yang dibahas disini adalah model PPA dengan sistem pembayaran harga kapasitas dan
energi.
Gambar 2.9 menjelaskan struktur secara umum PPA antara perusahaan pembangkitan sebagai
penjual dengan pembeli.
PPA merupakan perjanjian yang akan memitigasi seluruh kegiatan pembangkitan mulai dari
pendanaan, periode EPC, operasi dan pemeliharaan.
a.

Tahap Pendanaan
Tahap Pendanaan terdiri dari dua hal yaitu :
i.

Penyertaan Modal, akan dilakukan Perjanjian Pemegang Saham

ii.

Perjanjian Pinjaman, akan dilakukan Perjanjian Pinjaman

b.

Tahap Pembangunan
i. Perjanjian dengan kontraktor EPC.
ii. Perjanjian dengan pihak asuransi untuk pembangunan.
iii. Perjanjian dengan pihak bank berkaitan dengan Letter of Credit.

c.

Tahap Operasi
i.

Perjanjian dengan pihak penyedia jasa O&M.

ii.

Perjanjian dengan pihak asuransi untuk masa operasi.

iii.

Perjanjian dengan penyedia bahan bakar.

2.5.2. Hal-hal Utama dalam PPA


Secara garis besar, Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik terdiri dari :
a.

Main Body
i.

Definisi

ii. Proyek dan Term of Agreement


iii. Syarat Tunda
iv. Implementasi Proyek
v. Konstruksi Proyek

Berbagi
41

vi.

Start Up dan Komisioning

vii.

Operasi dan Pemeliharaan

viii.

Jual Beli Energi

ix.

Penagihan dan Pembayaran

x.

Metering

xi.

Jaminan

xii.

Pengawasan, Pencatatan, Pelaporan dan Audit

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan

PT PLN (Persero)
Pusat Pendidikan dan Pelatihan

b.

2. TRANSAKSI PEMBANGKITAN

xiii.

Asuransi

xiv.

Kerugian dan Kewajiban

xv.

Keadaan Kahar

xvi.

Pengakhiran Perjanjian

xvii.

Perwakilan dan Jaminan

xviii.

Penyelesaian Perselisihan

xix.

Penugasan

xx.

Lain-lain

Appendix
- Appendix A : Deskripsi Proyek dan Desain
- Appendix B : Batasan Operasi
- Appendix C : Jadual Proyek
- Appendix D : Dokumen Pendanaan
- Appendix E : Jadual Kebutuhan Asuransi Minimum
- Appendix F : Konsekuensi dari Terminasi
- Appendix G : Perhitungan Pembayaran
- Appendix H : Pengaturan Terhadap Kejadian Tertentu.
- Appendix I

: Titik Interkoneksi, Fasilitas Interkoneksi Peralatan Listrik dan Interface


Konstruksi

- Appendix J - Pengujian, Taking Over, Komisioning dan Pengujian Daya Mampu


Netto
- Appendix K - Prosedur Pengujian dan Pengukuran Listrik
- Appendix L - Prosedur Operasi
- Appendix M - Laporan Aktivitas
- Appendix N - Prosedur dan Kebutuhan Terhadap Lingkungan
- Appendix O - Kewajiban Tambahan PLN
- Appendix P - Prosedur Pembayaran dan Invoicing
- Appendix Q - Perijinan
- Appendix R - Intentionally Left Blank
- Appendix S - Harga Bahan Bakar
- Appendix T - Site

Berbagi
42

dan

menyebarkan

ilmu

pengetahuan

serta

nilai-nilai

perusahaan