Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

Pokok Bahasan

: Penyakit Ginjal

Sub pokok bahasan

: Chronic Kidney Disease (CKD)

Hari/tanggal

: Kamis, 11 Februari 2015

Jam

Tempat

: Ruang ICU RSUD Ngudi Waluyo

Sasaran

: Keluarga pasien ruang ICU, CVCU, HCU

1. Latar Belakang
Ginjal adalah salah satu organ utama sistem kemih atau
uriner (tractus urinarius) yang berfungsi menyaring dan
membuang cairan sampah metabolisme dari dalam tubuh.
Fungsi ginjal secara umum antara lain yaitu sebagai
ultrafiltrasi yaitu proses ginjal dalam menghasilkan urine,
keseimbangan

elektrolit,

pemeliharaan

keseimbangan

asam basa, eritropoiesis yaitu fungsi ginjal dalam produksi


eritrosit, regulasi kalsium dan fosfor atau mengatur
kalsium serum dan fosfor, regulasi tekanan darah, ekresi
sisa metabolik dan toksin (Arif, 2001).
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah kasus penurunan
fungsi ginjal yang terjadi secara akut (kambuhan) maupun
kronis (menahun) (Syamsir, 2007). Penyakit ginjal kronik
(Chronic Kidney Disease) terjadi apabila kedua ginjal
sudah tidak mampu mempertahankan lingkungan dalam
yang cocok untuk kelangsungan hidup. Kerusakan pada
kedua ginjal bersifat ireversibel.
Indonesia termasuk tingkat penderita gagal ginjal yang
cukup tinggi. Menurut data dari Penetri (Persatuan
Nefrologi Indonesia) sampai 2 Januari 2011 di perkirakan
ada 70 ribu penderita gagal ginjal di Indonesia yang
membutuhkan cangkok ginjal.

CKD disebabkan oleh berbagai penyakit. Penyebab CKD


antara

lain

penyakit

infeksi,

penyakit

peradangan,

penyakit vaskular hipertensif, gangguan jaringan ikat,


gangguan kongenital dan hederiter, penyakit metabolik,
nefropati toksik, nefropati obstruktif.
Penyakit ginjal kronis dapat menyebabkan timbulnya
berbagai

manifestasi

yang

komplek,

diantaranya,

penumpukan cairan, edema paru, edema perifer, kelebihan


toksik uremik bertanggung jawab terhadap perikarditis
dan iritasi, sepanjang saluran gastrointestinal dari mulut
sampai

anus.

gangguan

keseimbangan

biokimia

(hiperkalemia, hiponatremi, asidosis metabolik), gangguan


keseimbangan

kalsium

dan

fosfat

lama

kelamaan

mengakibatkan demineralisasi tulang neuropati perifer,


pruritus,

pernafasan

dangkal,

anoreksia,

mual

dan

muntah, kelemahan dan keletihan.

2. Tujuan
1.1

Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan penyuluhan kesehatan keluarga pasien
diharapkan

dapat

memahami

dan

melakukan

tindakan

pencegahan serta perawatan pada keluarga yang mengalami


1.2

chronic kidney disease (CKD).

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan diharapkan siswi mampu :
1. Menjelaskan pengertian chronic kidney disease (CKD)
2. Menjelaskan penyebab chronic kidney disease (CKD)
3. Menjelaskan tanda dan gejala chronic kidney disease (CKD)
4. Menjelaskan penanganan chronic kidney disease (CKD)
Menjelaskan komplikasi chronic kidney disease (CKD)

2. Strategi Pelaksanaan
3.1 Metode : Ceramah dan Tanya jawab

3.2 Media : Ppt, Leaflet


3.3 Sasaran : Keluarga pasien ruang ICU, CVCU, HCU
3. Lokasi
Ruang ICU Ngudi Waluyo
4. Rancangan Pelaksanaan
4.1

4.2

Stuktur Organisasi dan Pembagian Tugas

1. Penyaji : Akhlis Mustafa


2. Moderator
: Maya Ria Agustina
3. Observer
: Dida H. Asmarabbiah
4. Fasilitator : Baiq Milia F. Martina
Alokasi Waktu
(35 menit)
5. Kegiatan Penyuluhan
N
o

Kegiatan
Waktu

Pembicara

Peserta

Penanggu
ng Jawab

Pembukaan
1) Memberi salam
2) Memperkenalkan
diri
3) Menyampaikan topik
4) Menjelaskan tujuan
penyuluhan
5) Menjelaskan
5 Menit

mekanisme

1) Menjawab
salam
2) Mendengarka
n
3) Mendengarka
n
4) Mendengarka
n

penyuluhan
6) Melakukan kontrak
waktu

5) Mendengarka
n
6) Mendengarka
n
7) Mengikuti
kegiatan

Penyaji

Penyajian Materi
1) Mengkaji persepsi

1) Mengisi

awal tentang topik

jawaban pada

yang akan

lembar

disampaikan dengan

kuisioner

memberikan
pertanyaan tentang
chronic kidney
disease

2) Mendengarka

2) Menyampaikan

n dan

materi tentang :
25

Memperhatika
n

Pengertian
chronic kidney
disease (CKD)

Menit
-

Penyaji

Penyebab chronic
kidney disease
(CKD)

Tanda dan gejala


chronic kidney
disease (CKD)

Penanganan
chronic kidney
disease (CKD)

5 Menit

Komplikasi
chronic kidney
disease (CKD)

Penutup

Penyaji

1) Memberikan
kesempatan
keluarga
bertanya
2) Mengucapkan
terimakasih

1) Mendengarka
pada

untuk 2) Menjawab
salam

3) Memberi Salam

6. Struktur ruangan

Keterangan :
: Penyaji
: Peserta
: Observer
IX Evaluasi
1. Evaluasi struktur : Rencana kegiatan dan penyaji materi
pendidikan kesehatan dipersiapkan dari sebelum kegiatan
2. Evaluasi proses
o Peralatan dan tempat tersedia
o Waktu sesuai dengan rencana (35 menit)
3. Evaluasi hasil
o Mampu

menjawab

pertanyaan

dan

mengulang

kembali definisi chronic kidney disease (CKD)


o Mampu menyebutkan penyebab dari chronic kidney
disease (CKD)

o Mampu menyebutkan tanda dan gejala chronic kidney


disease (CKD)

o Mampu menjelaskan cara menangani chronic kidney


disease (CKD)

o Mampu

menjelaskan

disease (CKD)

komplikasi

chronic

kidney

Materi Penyuluhan
Chronic Kidney Disease (CKD)

1.

Pengertian chronic kidney disease (CKD)


Gagal ginjal adalah kehilangan kemampuannya untuk
mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam
keadaan asupan makanan normal. Gagal ginjal biasanya
dibagi menjadi dua kategori yaitu kronik dan akut. Gagal ginjal
kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif
dan

lambat

pada

setiap

nefron

(biasanya

berlangsung

beberapa tahun dan tidak reversible) (Price dan wilson, 2006).


Sebelum tahun 2002, istilah insufisiensi renal kronis (chronic
renal

insufficiency/CRI)

dipakai

untuk

pasien

dengan

penurunan fungsi ginjal progresif, 2 yang didefinisikan sebagai


laju filtrasi glomerular (glomerular filtration rate/GFR) kurang
dari 75 ml/mnt/1,73 m2 luas permukaan tubuh.
Gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang
ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan
irreversible dimana ginjal tidak mampu mempertahankan
metabolisme, keseimbangan cairan dan elektrolit disertai
dengan uremia.
2.

Penyebab
Menurut Price dan Wilson (2005) klasifikasi penyebab gagal
ginjal kronik adalah sebagai berikut :

a. Penyakit infeksi tubulointerstitial: Pielonefritis kronik atau


refluks nefropati
b. Penyakit peradangan: Glomerulonefritis
c. Penyakit vaskuler hipertensif: Nefrosklerosis benigna,
Nefrosklerosis maligna, Stenosis arteria renalis
d. Gangguan jaringan ikat: Lupus eritematosus sistemik,
poliarteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif
e. Gangguan congenital dan herediter: Penyakit ginjal
polikistik, asidosis tubulus ginjal
f. Penyakit metabolik: Diabetes mellitus, gout,
hiperparatiroidisme, amiloidosis
g. Nefropati toksik: Penyalahgunaan analgesi, nefropati timah
h. Nefropati obstruktif: Traktus urinarius bagian atas
(batu/calculi, neoplasma, fibrosis, retroperitineal), traktus
urinarius bawah (hipertropi prostat, striktur uretra,
anomaly congenital leher vesika urinaria dan uretra).
3.

Tanda dan gejala


Menurut Bare (2001), Lemine dan Burke (2000), tanda dan gejala
dapat dilihat dari berbagai fungsi system tubuh yaitu :
a. Manifestasi kardiovaskuler : hipertensi, pitting edema, edema
periorbital, friction rub pericardial, pembesaran vena leher,
gagal jantung kongestif, perikarditis, disritmia, kardiomiopati,
efusi pericardial, temponade pericardial.
b. Gejala dermatologis/system integumen

gatal-gatal

hebat

(pruritus), warna kulit abu-abu, mengkilat dan hiperpigmentasi,


serangan uremik tidak umum karena pengobatan dini dan
agresif, kulit kering, bersisik, ecimosis, kuku tipis dan rapuh,
rambut tipis dan kasar, memar (purpura).

c. Manifestasi

pada

pulmoner

yaitu

krekels,

edema

pulmoner,sputum kental dan liat,nafas dangkal, pernapasan


kusmaul, pneumonitis
d. Gejala gastrointestinal : nafas berbau ammonia, ulserasi dan
perdarahan pada mulut, anoreksia, mual, muntah dan cegukan,
penurunan aliran saliva, haus, rasa kecap logam dalam mulut,
kehilangan kemampuan penghidu dan pengecap, parotitis dan
stomatitis,

peritonitis,

konstipasi

dan

diare,

perdarahan

darisaluran gastrointestinal.

e. Perubahan musculoskeletal : kram otot, kekuatan otot hilang,


fraktur tulang, kulai kaki (foot drop).

f. Manifestasi pada neurologi yaitu kelemahan dan keletihan,


konfusi, disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa
panas pada tungkai kaki, perubahan tingkah laku, kedutan otot,
tidak mampu berkonsentrasi, perubahan tingkat kesadaran,
neuropati perifer.

g. Manifestasi pada system repoduktif : amenore, atropi testikuler,


impotensi, penurunan libido, kemandulan

h. Manifestasi pada hematologic yaitu anemia, penurunan kualitas


trombosit,

masa

pembekuan

memanjang,

peningkatan

kecenderungan perdarahan.
i. Manifestasi pada system imun yaitu penurunan jumlah leukosit,
peningkatan resiko infeksi.

j. Manifestasi pada system urinaria yaitu perubahan frekuensi


berkemih, hematuria, proteinuria, nocturia, aliguria.

k. Manifestasi pada sisitem endokrin yaitun hiperparatiroid dan


intoleran glukosa.

l. Manifestasi pada proses metabolic yaitu peningkatan urea dan


serum kreatinin (azotemia), kehilangan sodium sehingga terjadi :

dehidrasi,

asidosis,

hiperkalemia,

hipermagnesemia

dan

hipokalsemia.

4.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan

pada

CKD

bersifat

konservatif.

Penatalaksanaan ini lebih bermanfaat bila penurunan fungsi


ginjal masih ringan. Pengobatan konservatif ini terdiri dari 3
strategi, yaitu :
a) Memperlambat laju penurunan fungsi ginjal
- Pengobatan hipertensi. Target penurunan
-

tekanan

darah yang dianjurkan <140/90 mmHg.


Pembatasan
asupan
protein,
bertujuan
mengurangi

untuk

hiperfiltrasi glomerulus dengan demikian

diharapkan progresifitas akan diperlambat.


Retriksi fosfor, untuk mencegah hiperparatirodisme

sekunder
Mengurangi
proteinuria
pada

proteinuria.

Terdapat

dan penurunan

glomerulonefritis

fungsi

kronik

korelasi
ginjal

antara

terutama

dan diabetes. Dalam

hal ini ACE inhibitor biasanya digunakan.


Mengendalikan hiperlipidemia. Telah terbukti bahwa
hiperlipidemia

yang

memepercepat

tidak

terkendali

dapat

gagal

ginjal.

progresifitas

Pengobatan

meliputi

peningkatan

yang

diet

dan

berlebihan

olahraga.

diberikan

Pada

obat-obat

penurun lemak darah.


b) Mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut
- Pencegahan kekurangan cairan
Dehidrasi dan kehilangan elektrolit dapat menyebabkan
gangguan prerenal yang masih dapat diperbaiki. Oleh

sebab itu perlu

ditanyakan mengenai keseimbangnan

cairan ( muntah, keringat, diare, asupan cairan seharihari), penggunaanobat (diuretik, manitol,
dan penyakit

fenasetin),

lain (DM, kelaian gastrointestinal, ginjal

polikistik)
- Sepsis
Sepsis dapat disebabkan berbagai macam infeksi,
terutama infeksi saluran kemih. Penatalaksanaan
ditujukan
-

untuk mengkoreksi kelainan

urologi dan

antibiotik yg telah terpilih untuk mengobati infeksi.


Hipertensi yang tidak terkendali
Tekanan darah
umumnya
meningkat
sesuai
dengan perburukan fungsi ginjal. Kenaikan tekanan
darah ini akan menurunkan fungsi ginjal. Akan tetapi
penurunan tekanan darah yang berlebihan juga aka
menyebabkan perfusi ginjal menurun.

Obat yang

dapat diberikan adalah furosemid, beta blocker,


vasodilator, calsium antagonis dan alfa blocker.
Golongan tiazid kurang
tidak
-

dapat

bermanfaat.

digunakan

Spironolakton

karena meningkatkan

kalium.
Obat-obat nefrotoksik
Obat-obat aminoglikosida, OAINS, kontras radiologi,
dan obat-obat yang dapat menyebabkan nefritis

interstitialis harus dihindari.


Kehamilan

Kehamilan

dapat

memperburuk

fungsi

ginjal,

hipertensim meningkatkan terjadinya eklamsia dan


menyebabkan retardasi pertumbuhan intrauterine.
c) Pengelolaan uremia dan komplikasinya
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Pasien
dengan
CKD
sering
mengalami
peningkatan
retensi

jumlah

cairan

dan

cairan intravaskular
sementara

natrium.

cairan

edema.

karenan

Peningkatan

menyebabkan

ekspansi

menyebabkan
juga

cairan ekstrasel

hipertensi,

ke interstitial

Hiponatremia

sering

dijumpai. Penatalaksanaan yang tepat

meliputi retriksi asupan cairan dan natrium, dan


pemberian terapi diuretik. Asupan cairan dibatasi
< 1 liter/hari, pada keadaan berat < 500ml/hari.
Natrium diberikan <2-4 gr/hari, tergantung dari
beratnya

edema.

Jenis

diuretik

yang

menjadi pilihan adalah furosemid. Karena efek


furosemid tergantung

dari sekresi

aktifnya

di

tubulus proksimal, pasien dengan CKD umumnya


membutuhkan dosis yang
mg),

namun

hati-hati

tinggi

(300-500

terhadap

efek

sampinya. Apabila tindakan ini tidak membantu


-

harus dilakukan dialisis.


Asidosis metabolic

Penurunan
pada

CKD

kemampuan

sekresi

acid

menyebabkan terjadinya asidosis

metabolik, umumnya bila GFR < 25


Diet rendah
membantu

load

protein
mengurangi

0.6

gr/hr
asidosis.

ml/mnt.
dapat
Bila

bikarbonat turun sampai < 15-17 mEq/L harus


diberikan stubtitusi alkali.
Inisiasi dialisis
Penatalaksanaan konservatif dihentikan bila pasien sudah
memerlukan dialisi tetap atau transplantasi. Pada tahap ini
biasanya GFR sekitar 5-10 ml/mnt. Dialisis juga diiperlukan
bila :
-

Asidosis metabolik yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan

Hiperkalemia yang tidak dapat diatasi dengan obat-obatan

Overload cairan (edema paru)

Ensefalopati uremic, penurunan kesadaran

Efusi pericardial

Sindrom uremia ( mual,muntah, anoreksia, neuropati) yang


memburuk

5. Komplikasi
Komplikasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Smletzer dan Bare
(2001) yaitu:
- Hiperkalemia akibat penurunan eksresi, asidosis metabolic,
-

katabolisme dan masukan diet berlebihan.


Perikarditis, efusi pericardial dan tamponade jantung akibat

retensi produk sampah uremik dan dialysis yang tidak adekuat.


Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi
system rennin-angiostensin-aldosteron

Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia


sel darah merah, perdarahan gastrointestinalakibat iritasi oleh

toksin dan kehilangan darah selama hemodialisis.


Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatic akibat retensi fosfat,
kadar kalsium serum yang rendah, metabolism vitamin D
abnormal dan peningkatan kadar alumunium.

DAFTAR PUSTAKA
Bare BG., Smeltzer SC. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: EGC.
LeMone, Priscilla dan Burke, Karen M, 2000, Surgical Nursing: Critical
Thinking in Client

Care (ed.2nd), New Jersey: Prentice Hall

Health.
Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine M. C, 2005, Patofisiologi:
Clinical Concepts of Desiase Process, Edisi 6, Vol 2, Alih
bahasa, Brahm U. Pendit, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
Jakarta.
Price, A. S., Wilson M. L., 2006. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Alih Bahasa: dr. Brahm U. Penerbit. Jakarta:
EGCC
Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2001, Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol.
1,2), alih bahasa oleh Agung Waluy(dkk), EGC, Jakarta