Anda di halaman 1dari 21

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

SKENARIO 1
DOKTER KELUARGA

KELOMPOK B - 11
Ketua

: Muhammad Rafid Murfi

1102012179

Sekretaris

: Mutiara Alderisa

1102012185

Anggota

: Mentari Amir

1102012161

Novita Fitri

1102012201

Rannisa Puspita Jayanti

1102012225

Reza Ardi Wibowo

1102012242

Syifa Amalia

1102012289

Sylvia Resna Sari

1102012291

Yovita Oktavia Nampira

1102012311

Rachmat Putra Pratama

1102010225

FAKULTAS KEDOKTERAN - UNIVERSITAS YARSI


2015-2016
Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 62 21 4244574 Fax 62 21 4244574
1

SKENARIO 1
DOKTER KELUARGA
Tn. M. 50 tahun datang ke klinik Sumber Sehat untuk berobat penyakit diabetes
melitus yang sudah 3 tahun dideritanya. Tn. M. datang ke klinik ini atas saran temannya.
Menurut temannya, klinik Sumber Sehat pelayanannya sangat bagus, baik cara
pendekatannya maupun jenis pelayanan yang tersedia karena dokter yang berpraktek di klinik
ini adalah dokter keluarga yang agak berbeda dengan dokter umum biasa.
Masih menurut temannya, dokter keluarga ini tidak hanya mengobati pasien di klinik,
tetapi juga dapat memberikan pelayanan kunjungan rumah, penyuluhan kesehatan dan
memberikan binaan kepada keluarga di sekitar klinik tersebut.

KATA-KATA SULIT
Dokter keluarga :

Setiap dokter yg mengabdikan dirinya dalam bidang profesi dokter


maupun kesehatan yg memiliki pengetahuan, ketrampilan melalui
pendidikan khusus di bidang kedokteran keluarga yg mempunyai
wewenang untuk menjalankan praktek dokter keluarga.

PERTANYAAN
1. Apa beda dokter umum dan keluarga?
2. Apa program yang dilaksanakan dokter keluarga?
3. Bagaimana cara mendapatkan predikat dokter keluarga?
4. Apa tugas dari dokter keluarga?
5. Apa kompetensi yang harus dimiliki dokter keluarga?
6. Apa kriteria pasien untuk kunjungan rumah?
7. Bagaimana dokter keluarga membina pasien dan keluarga pasien?
8. Apa keuntungan dari dokter keluarga dan pasiennya?
9. Apa saja prinsip pelayanan dokter keluarga?
10. Apa tujuan khusus dokter keluarga?
JAWABAN
1. Tabel :
Cakupan
pelayanan
Sifat pelayanan
Cara pelayanan

Jenis pelayanan

Promotif
Hub dokter-pasien
Awal pelayanan

Dokter Umum
Terbatas

Dokter Keluarga
Lebih luas

Sesuai keluhan

Menyeluruh, paripurna, bukan


sekedar yang dikeluhkan
Kasus per kasus dengan Kasus per kasus dengan
pelayanan sesaat
berkesinambungan sepanjang
hayat
Lebih kuratif hanya untuk Lebih
pencegahan
tanpa
penyakit tertentu
mengabaikan pengobatan dan
rehabilitasi
Tidak menjadi perhatian
Perhatian utama
Hub dokter-pasien saja
Hub dokter-pasien-konsultan
Individual
Individual sebagai keluarga,
lingkungan, komunitas

2. Promotif, kuratif, preventif, dan rehabilitatif.


3. Dokter mengikuti paket A, B, C dari IDI.
4. Melakukan pelayanan primer, preventif, penyuluhan/promotif, home visit, konseling
keluarga.
5. - Mampu menyelesaikan masalah
- Kemampuan berkomunikasi
- Terampil dalam klinis secara individu, keluarga, dan komunitas
3

- Berjiwa empati, sabar


- Mampu menjelaskan penerapan dalam agama Islam
- Mampu melakukan promotif
6. Pasien yang memerlukan observasi lebih lanjut.
7. Penyuluhan, edukasi, dan konseling.
8. Dokter mendapatkan informasi yang lebih, sedangkan pasien mendapatkan treatment
paripurna.
9. Dokter merupakan kontak pertama pasien, pelayanan paripurna, jembatan antara
pelayanan kesehatan dan pasien.
10. Bertanggung jawab atas keluarga, mengutamakan preventif.
HIPOTESIS
Dokter keluarga merupakan dokter yang telah mengikuti paket A, B, C dari IDI dan
sebagai kontak pertama bagi pasien, melakukan pelayanan preventif, kuratif, preventif, dan
rehabilitatif dengan cara melakukan pengobatan, penyuluhan, edukasi, dan konseling pada
pasien, keluarga, komunitasnya sesuai dengan ajaran agama Islam, serta dokter keluarga
mempunyai cakupan lebih luas dibandingkan dokter umum.

SASARAN BELAJAR
LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Dokter Keluarga
LO 1.1. Memahami dan menjelaskan definisi dokter keluarga
LO 1.2. Memahami dan menjelaskan tugas dokter keluarga
LO 1.3. Memahami dan menjelaskan kriteria dokter keluarga
LO 1.4. Memahami dan menjelaskan batasan dokter keluarga
LO 1.5. Memahami dan menjelaskan latar belakang dokter keluarga
LO 1.6. Memahami dan menjelaskan perkembangan dokter keluarga
LO 1.7. Memahami dan menjelaskan prinsip dokter keluarga
LO 1.8. Memahami dan menjelaskan standar pelayanan dokter keluarga
LI.2. Memahami dan Menjelaskan Kompetensi dan Peran Dokter Keluarga pada
Layanan Primer

LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Dokter Keluarga


LO 1.1. Memahami dan menjelaskan definisi dokter keluarga

Dokter keluarga merupakan dokter yang mengabdikan dirinya dalam bidang


profesi dokter maupun kesehatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan
melalui pendidikan khusus di bidang kedokteran keluarga yang mempunyai
wewenang untuk menjalankan praktek dokter keluarga (IKK FKUI, 1996).
Dokter keluarga adalah dokter yang mempunyai tanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan personal, menyeluruh terpadu,
berkesinambungan dan proaktif sesuai dengan kebutuhan pasiennya sebagai
anggota satu unit keluarga, komunitas serta lingkungannya serta bila
menghadapi masalah kesehatan khusus yang tak tertanggulangi bertindak
sebagai koordinator dalam konsultasi dan atau rujukan pada dokter ahli yang
sesuai (AAFP, IDI, Singapura).
Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan
pelayanan primer yang komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif,
dengan mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan
serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa
memandang jenis kelamin, usia ataupun jenis penyakitnya. Pelayanan dokter
keluarga melibatkan dokter keluarga sebagai penyaring di tingkat primer
sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu yang melibatkan
dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai
tempat pelayanan rawat inap, diselenggarakan secara komprehensif, kontinu,
integratif, holistik, koordinatif dengan mengutamakan pencegahan, menimbang
peran keluarga dan lingkungannya serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan
kepada semua pasien tanpa memilah jenis kelamin, usia serta faktor-faktor
lainnya. (The American Academy of Family Physician, 1969; Geyman, 1971;
McWhinney, 1981).
Dokter keluarga sendiri menurut Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien di fasilitas/sistem
pelayanan kesehatan primer guna menyelesaikan semua masalah kesehatan yang
dihadapi tanpa memandang jenis penyakit, usia, dan jenis kelamin yang dapat
dilakukan sedini dan sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan
holistik, bersinambung, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan
profesional kesehatan lainnya, dengan menerapkan prinsip pelayanan yang
efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan, serta menjunjung tinggi
tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral.

LO 1.2. Memahami dan menjelaskan tugas dokter keluarga


1.
2.
3.
4.

Tugas dokter keluarga antara lain:


Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh, dan bermutu
guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan
Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat
Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat
dan sakit
Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya
6

5. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf


kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi
6. Menangani penyakit akut dan kronik
7. Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit
8. Tetap bertanggung jawab atas pasien yang dirujukan ke dokter spesialis atau
dirawat di rumah sakit
9. Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan
10. Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya
11. Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien
12. Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar
13. Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan
ilmu kedokteran keluarga secara khusus.
LO 1.3. Memahami dan menjelaskan kriteria dokter keluarga
1. Spesialis Famili Medisin (SpFM)
Dokter Keluarga yang meningkatkan profesionalismenya lebih tinggi dengan
mengikuti pendidikan spesialisasi kedokteran keluarga, dan memperoleh gelar
akademik sebagai Spesialis Family Medicine (SpFM). Para SpFM ini dalam
system pelayanan kedokteran terpadu atau terstruktur tetap menjalankan
praktiknya di strata pertama.
2. Syarat-syarat Dokter Keluarga
Program konversi adalah program sertifikasi I (awal) dokter layanan primer
yang berminat menjadi dokter keluarga. Program konversi dimaksudkan agar
dokter yang memiliki komitmen menjadi dokter layanan primer
mengimplementasikan komitmen tersebut dengan meningkatkan dan menjaga
kompetensi dan kinerja profesionalnya sehingga benar-benar mampu dan mau
menjadi dokter layanan primer yang mumpuni dan berkedudukan di lini
terdepan pelayanan kesehatan di Indonesia. Program konversi adalah salah satu
bentuk uji kompetensi melalui alat tilik diri (self assesment) yang berisi
kuesioner tentang rekam jejak praktik dan kegiatan profesional dokter tersebut.
Jadi program konversi tidak dapat diikuti oleh dokter yang tidak praktik atau
praktik kurang dari 5 tahun.
LO 1.4. Memahami dan menjelaskan batasan dokter keluarga
Batasan ilmu kedokteran keluarga di antaranya adalah :
1. Ilmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu
kedokteran yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan
individu, keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor
lingkungan, ekonomi dan sosial budaya. (PB IDI, 1983)
2. Ilmu kedokteran keluarga menunjuk pada body of knowledge dari pelayanan
dokter keluarga yang merupakan disiplin baru dari ilmu kedokteran yang
dirancang untuk memenuhi kebutuhan kesehatan khalayak secara lebih
responsif dan bertanggung jawab. (Charmichael, 1973)

3. Ilmu kedokteran keluarga adalah salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang
ditandai dengan terdapatnya suatu kelompok pengetahuan kedokteran yang
bersifat khusus. (WONCA, Manila; 1979)
4. Ilmu kedokteran keluarga adalah body of knowledge tentang fenomena yang
dihadapi serta teknik yang dipergunakan oleh para dokter yang
menyelenggarakan perawatan kesehatan perorangan pada tingkat pertama dan
berkelanjutan. (Whinney, 1969)
5. Ilmu kedokteran keluarga adalah sebuah pendekatan multidisipliner yang
terpadu menuju perawatan kesehatan yang menyeluruh dari unit keluarga.
(Sargent, 1967)
Batasan dokter keluarga :
1. Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan
komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran
2. Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, bila perlu aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya
3. Dokter keluarga adlaha dokter yang memiliki tanggung jawab
menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh
semua anggota yang terdapat dalam satu keluarga dan dapat merujuk ke dokter
ahli yang sesuai.
4. Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai kontak
pertama yang merupakan pintu masuk ke system pelayanan kesehatan.
5. Dokter keluarga adlah dokter yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
personal, tingkat pertama, menyeluruh dan berkesinambungan kepada pasien
yang terkait dengan keluarga, komunitas, serta lingkungannya.
Batasan pelayanan dokter keluarga :
1. Pelayanan dokter keluarag adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana
tanggung ajawab dokter tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin,
organ tubuh atau jenis penyakit.
2. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang
dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu terutama ilmu penyakit dalam, ilmu
kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kandungan, ilmu bedah, serta ilmu
kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk kesatuan yang terpadu
LO 1.5. Memahami dan menjelaskan latar belakang dokter keluarga
PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok Studi
Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah IDI. Anggotanya
beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis.
Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA).
Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan Kongres
Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese Dokter Keluarga
Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter seminat.
8

Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai perhimpunan
profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan nama Perhimpunan
Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum mempunyai kolegium yang
berfungsi.
Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga
(KIKK) dan telah dilaporkan ke IDI dan MKKI.
LO 1.6. Memahami dan menjelaskan perkembangan dokter keluarga
Di Indonesia kebijaksanaan pengembangan pelayanan kedokteran keluarga
dilakukan melalui berbagai cara. Dalam beberapa tahun terakhir pada beberapa
fakultas kedokteran dari beberapa universitas terkemuka telah dilakukan upayaupaya untuk mengintegrasikan pelayanan kedokteran keluarga dalam kurikulum
pendidikan dokter yakni sesuai dengan anjuran WHO bahwa "family medicine"
selayaknya diintegrasikan dalam pendidikan "community medicine" karena
kedekatannya. Akan masih diperlukan waktu untuk mendapatkan tetapi produk dari
sistem pendidikan kedokteran ini yakni dokter umum lulusan fakultas kedokteran
yang mempunya wawasan kedokteran keluarga karena kebijakan ini baru
dikembangkan.
Sementara itu bagi dokter umum lulusan fakultas kedokteran sebelumnya
yang saat ini ada di masyarakat, untuk mendapatkan kompetensi khusus selaku
dokter keluarga harus dilakukan dengan cara mengikuti pelatihan secara terprogram
dan bekesinambungan. Dalam beberapa tahun terakhir telah banyak dilakukan
program dan upaya konversi dari dokter umum menjadi dokter keluarga yang
bersertifikat dan diakui melalui pelatihan-pelatihan. Kurikulum yang telah disepakati
dari hasil rumusan kerjasama tripartid pengembangan dokter keluarga (IDI / KDKIFK-Depkes) meliputi empat paket, yaitu :

Paket A: pengenalan konsep kedokteran keluarga,

Paket B: manajemen pelayanan kedokteran keluarga,

Paket C: ketrampilan klinik praktis,

Paket D: pengetahuan klinik mutakhir yang disusun berdasarkan golongan usia.

Ringkasan sejarah perkembangan untuk beberapa negara :


1. Inggris
Kehendak untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Inggris telah dimulai
sejak tahun 1844, tetapi pada waktu itu banyak mendapat tantangan. Barulah
kemudian pada tahun 1952, praktek dokter keluarga ini mendapat pengakuan yakni
dengan berhasil didirikannya Royal College of General Practise.
2. Australia
Kehendak untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Australia telah
dimulai sejak tahun 1958, yakni dengan didirikannya The College of General
9

Practice yang pada waktu itu aktif menyelenggarakan program pendidikan


kedokteran berkelanjutan berikut ujiannya yang telah dimulai sejak tahun 1960.
Kegiatan ini secara resmi diakui pada tahun 1973, yakni dengan mulai
diselenggarakannya Family Medicine Program oleh pemerintah federal.
3. Filipina
Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Filipina telah dimulai
sejak tahun 1960 tetapi secara melembaga baru dikenal sejak tahun 1972, yakni
dengan didirikannya The Philipine Academy of Family Physicians. Organisasi ini
aktif menyelenggarakan pendidikan dokter keluarga, yang lulusan angkatan
pertamanya dilantik tahun 1975.
4. Singapura
Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Singapura telah
dimulai sejak tahun 1971, dan sejak tahun 1972 aktif menyelenggarakan program
pendidikan. Sayang sekali sampai saat ini program tersebut belum mendapat
pengakuan resmi dari pemerintah.
LO 1.7. Memahami dan menjelaskan prinsip dokter keluarga
Prinsip pelayanan dokter keluarga adalah sebagai berikut :
1 Dokter kontak pertama (first contact)
DK adalah pemberi layanan kesehatan (provider) yang pertama kali
ditemui pasien/klien dalam masalah kesehatannya
2 Layanan bersifat pribadi (personal care)
DK memberikan layanan yang bersifat pribadi dengan mempertimbangkan
pasiensebagai bagian dari keluarga
3 Pelayanan paripurna (comprehensive)
DK memberikan pelayanan menyeluruh yang memadukan promosi
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan rehabilitasi dengan aspek
fisik, psikologis, dans ocial budaya.
4 Pelayanan bersinambungan (continuous care)
Pelayanan DK berpusat pada orangnya (pasient-centered) bukan pada
penyakitnya(diseases-centered)
5 Mengutamakan pencegahan (prevention first)
Karena berangkat dari paradigma sehat, maka upaya pencegahan oleh DK
dilaksanakan sedini mungkin
6 Koordinasi
Dalam upaya mengatasi masalah pasien DK perlu berkonsultasi dengan disiplin
ilmulainnya
7 Kolaborasi
Bila pasien membutuhkan pelayanan yang berada diluar kompetensinya, DK
bekerjasamadan mendelegasikan pengelolaan pasiennya pada pihak lain yang
berkompeten
8 Family oriented
Dalam mengatasi masalah DK mempertimbangkan konteks keluarga, dampak
kondisi pasien terhadap keluarga dan sebaliknya
9 Community oriented
10

Dokter keluarga dalam mengatasi masalah pasien haruslah tetap memperhatikan


dampak kondisi pasien terhadap komunitas dan sebaliknya (Persatuan Dokter
Keluarga Indonesia, 2009)
LO 1.8. Memahami dan menjelaskan standar pelayanan dokter keluarga
1. Standar Pemeliharaan Kesehatan di Klinik (Standards of clinical care)
a. Standar Pelayanan Paripurna (standard of comprehensive of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga adalah pelayanan medis strata
pertama untuk semua orang yang bersifat paripurna (comprehensive), yaitu termasuk
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan
proteksi khusus (preventive and spesific protection), pemulihan kesehatan (curative),
pencegahan kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah sakit
(rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan
mediko legal etika kedokteran.
1) Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
Pelayanan dokter keluarga merupakan praktik umum dengan pendekatan
kedokteran keluarga yang memenuhi standar pelayanan dokter keluarga dan
diselenggarakan oleh dokter yang sesuai dengan standar profesi dokter keluarga
serta memiliki surat ijin pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat
praktik.
2) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan pemeliharaan
kesehatan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya.
3) Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam menerapkan pencegahan masalah kesehatan pada pasien dan
keluarganya.
4) Deteksi dini
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menggunakan segala
kesempatan dalam melaksanakan deteksi dini penyakit dan melakukan
penatalaksanaan yang tepat untuk itu.
5) Kuratif medik
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk melaksanakan pemulihan
kesehatan dan pencegahan kecacatan pada strata pelayanan tingkat pertama,
termasuk kegawatdaruratan medik, dan bila perlu akan dikonsultasikan dan /
atau dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan dengan strata yang lebih tinggi.
6) Rehabilitasi medik dan sosial
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk menerapkan segala
kesempatan rehabilitasi pada pasien dan/atau keluarganya setelah mengalami
masalah kesehatan atau kematian baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial.
7) Kemampuan sosial keluarga
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim untuk memperhatikan kondisi sosial
pasien dan keluarganya.
8) Etik medikolegal
Pelayanan dokter keluarga memiliki sistim yang sesuai dengan mediko legal dan
etik kedokteran.
11

b. Standar Pelayanan Medis (standard of medical care)


1) Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta
memperoleh keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis
2) Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda-tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara
rasional, efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
3) Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan
beberapa diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis
holistik.
4) Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis
pasien berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini
(evidence based).
5) Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik
penatalaksanaan untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan
kepedulian terhadap perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan
di saat itu.
6) Konsultasi
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat
dilakukan kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter
spesialis, atau dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
7) Rujukan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah
sakit atau dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
8) Tindak lanjut
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat
dilaksanakan tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di
tempat pasien.
9) Tindakan
Pada saat-saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata
pertama, dan demi kepentingan pasien.
10) Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan
rasional, berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi
kepentingan pasien.
11) Pembinaan keluarga

12

Pada saat-saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik,
bila adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan
keluarga, termasuk konseling keluarga.
c. Standar Pelayanan Menyeluruh (standard of holistic of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaitu peduli
bahwa pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental,
sosial dan spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
1) Pasien adalah manusia seutuhnya
2) Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
3) Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar kehidupan
pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan keluarganya.
d. Standar Pelayanan Terpadu (standard of integration of care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan
kemitraan antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga
merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang menunjang
pelayanan kedokteran, baik dari formal maupun informal.
1) Koordinator penatalaksanaan pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan koordinator dalam penatalaksanaan
pasien yang diselenggarakan bersama, baik bersama antar dokter-pasienkeluarga, maupun bersama antar dokter pasien - dokter spesialis / rumah sakit.
2) Mitra dokter pasien
Pelayanan dokter keluarga merupakan keterpaduan kemitraan antara dokter dan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis.
3) Mitra lintas sektoral medik
Pelayanan dokter keluarga bekerja sebagai mitra penyedia pelayanan kesehatan
dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.
4) Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Pelayanan dokter keluarga mempedulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perilaku pasien dan keluarganya sebagai masyarakat yang menggunakan
berbagai pelayanan kesehatan nonformal di sekitarnya.
e. Standar Pelayanan Bersinambung (standard of continuum care)
Pelayanan yang disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan
bersinambung, yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien,
proaktif dan terus menerus demi kesehatan pasien.
1) Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan layanan secara proaktif.
2) Rekam medik bersinambung
Informasi dalam riwayat kesehatan pasien sebelumnya dan pada saat datang,
digunakan untuk memastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah
sesuai untuk pasien yang bersangkutan.
3) Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif dan
efisien bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan sadar biaya.
13

4) Pendampingan
Pada saat-saat dilaksanakan konsultasi dan / atau rujukan, pelayanan dokter
keluarga menawarkan kemudian melaksanakan pendampingan pasien, demi
kepentingan pasien.
2. Standar Perilaku dalam Praktik (Standards of behaviour in practice)
a. Standar perilaku terhadap pasien (patient-physician relationship standard)
Pelayanan dokter keluarga menyediakan kesempatan bagi pasien untuk
menyampaikan kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan
kesempatan kepada pasien untuk memperoleh penjelasan yang dibutuhkan guna
dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan yang akan dilaksanakannya.
1) Informasi memperoleh pelayanan
Pelayanan dokter keluarga memberikan keterangan yang adekuat mengenai cara
untuk memperoleh pelayanan yang diinginkan.
2) Masa konsultasi
Waktu untuk konsultasi yang disediakan oleh dokter keluarga kepada pasiennya
adalah cukup bagi pasien untuk menyampaikan keluhan dan keinginannya,
cukup untuk dokter menjelaskan apa yang diperolehnya pada anamnesa dan
pemeriksaan fisik, serta cukup untuk menumbuhkan partisipasi pasien dalam
melaksanakan penatalaksanaan yang dipilihnya, sebisanya 10 menit untuk setiap
pasien.
3) Informasi medik menyeluruh
Dokter keluarga memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai
seluruh tujuan, kepentingan, keuntungan, resiko yang berhubungan dalam hal
pemeriksaan, konsultasi, rujukan, pengobatan, tindakan dan sebagainya
sehingga memungkinkan pasien untuk dapat memutuskan segala yang akan
dilakukan terhadapnya secara puas dan terinformasi.
4) Komunikasi efektif
Dokter keluarga melaksanakan komunikasi efektif berlandaskan rasa saling
percaya.
5) Menghormati hak dan kewajiban pasien dan dokter Dokter keluarga
memperhatikan hak dan kewajiban pasien, hak dan kewajiban dokter termasuk
menjunjung tinggi kerahasiaan pasien.
b. Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik (Standard of partners
relationship in practice)
Pelayanan dokter keluarga mempunyai seorang dokter keluarga sebagai
pimpinan manajemen untuk mengelola klinik secara profesional.
1) Hubungan profesional dalam klinik
Dokter keluarga melaksanakan praktik dengan bantuan satu atau beberapa
tenaga kesehatan dan tenaga lainnya berdasarkan atas hubungan kerja yang
profesional dalam suasana kekeluargaan.
2) Bekerja dalam tim
Pada saat menyelenggarakan penatalaksanaan dalam peningkatan derajat
kesehatan pasien dan keluarga, pelayanan dokter keluarga merupakan sebuah
tim.
3) Pemimpin klinik

14

Pelayanan dokter keluarga dipimpin oleh seorang dokter keluarga atau bila
terdiri dari beberapa dokter keluarga dapat dibagi untuk memimpin bidang
manajemen yang berbeda di bawah tanggung jawab pimpinan.
c. Standar perilaku dengan sejawat (Standard of working with colleagues)
Pelayanan dokter keluarga menghormati dan menghargai pengetahuan,
ketrampilan dan kontribusi kolega lain dalam pelayanan kesehatan dan menjaga
hubungan baik secara profesional.
1) Hubungan profesional antar profesi
Pelayananan dokter keluarga melaksanakan praktik dengan mempunyai
hubungan profesional dengan profesi medik lainnya untuk kepentingan pasien.
2) Hubungan baik sesama dokter
Pelayanan dokter keluarga menghormati keputusan medik yang diambil oleh
dokter lain dan memperbaiki penatalaksanaan pasien atas kepentingan pasien
tanpa merugikan nama dokter lain.
3) Perkumpulan profesi
Dokter keluarga dalam pelayanan dokter keluarga adalah anggota perkumpulan
profesi yang sekaligus menjadi anggota Ikatan Dokter Indonesia dan
berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan yang ada.
d. Standar pengembangan ilmu dan ketrampilan praktik (Standard of
knowledge and skill development)
Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan
ilmiah guna memelihara dan menambah ketrampilan praktik serta meluaskan
wawasan pengetahuan kedokteran sepanjang hayatnya.
1) Mengikuti kegiatan ilmiah
Pelayanan dokter keluarga memungkinkan dokter yang berpraktik untuk secara
teratur dalam lima tahun praktiknya mengikuti kegiatan - kegiatan ilmiah seperti
pelatihan, seminar, lokakarya dan pendidikan kedokteran berkelanjutan lainnya.
2) Program jaga mutu
Pelayanan dokter keluarga melakukan program jaga mutu secara mandiri dan /
atau bersama - sama dengan dokter keluarga lainnya, secara teratur ditempat
praktiknya.
3) Partisipasi dalam kegiatan pendidikan
Pelayanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam pendidikan dokter
keluarga, dan berusaha untuk berpartisipasi pada pelatihan mahasiswa
kedokteran atau pelatihan dokter.
4) Penelitian dalam praktik
Pelayanan dokter keluarga mempunyai itikad baik dalam penelitian dan
berusaha untuk menyelenggarakan penelitian yang sesuai dengan etika
penelitian kedokteran, demi kepentingan kemajuan pengetahuan kedokteran.
5) Penulisan ilmiah
Dokter keluarga pada pelayanan dokter keluarga berpartisipasi secara aktif dan /
atau pasif pada jurnal ilmiah kedokteran.
e. Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan
(standard as community leader)
Pelayanan dokter keluarga selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam segala
kegiatan peningkatan kesehatan di sekitarnya dan siap memberikan pendapatnya
pada setiap kondisi kesehatan di daerahnya.
15

1) Menjadi anggota perkumpulan sosial


Dokter keluarga dan petugas kesehatan lainnya yang bekerja dalam pelayanan
dokter keluarga, menjadi anggota perkumpulan sosial untuk mempeluas
wawasan pergaulan.
2) Partisipasi dalam kegiatan kesehatan masyarakat
Bila ada kegiatan-kegiatan kesehatan masyarakat di sekitar tempat praktiknya,
pelayanan dokter keluarga bersedia berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan
tersebut.
3) Partisipasi dalam penanggulangan bencana di sekitarnya
Bila ada wabah dan bencana yang mempengaruhi kesehatan di sekitarnya,
pelayanan dokter keluarga berpartisipasi aktif dalam penanggulangan khususnya
dalam bidang kesehatan.
3. Standar Pengelolaan Praktik (Standards of practice management)
a. Standar sumber daya manusia (Standard of human resources)
Dalam pelayanan dokter keluarga, selain dokter keluarga, juga terdapat
petugas kesehatan dan pegawai lainnya yang sesuai dengan latar belakang
pendidikan atau pelatihannya.
1) Dokter keluarga
Dokter keluarga yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga adalah dokter
yang bersertifikat dokter keluarga dan patut menjadi panutan masyarakat dalam
hal perilaku kesehatan.
2) Perawat
Perawat yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
3) Bidan
Bidan yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan
pelayanan dengan pendekatan kedokteran keluarga.
4) Administrator klinik
Pegawai administrasi yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga, telah
mengikuti pelatihan untuk menunjang pelayanan pendekatan kedokteran
keluarga.
b. Standar manajemen keuangan (Standard of finance management)
Pelayanan dokter keluarga mengelola keuangannya dengan manajemen
keuangan profesional.
1) Pencatatan keuangan
Keuangan dalam praktek dokter keluarga tercatat secara seksama dengan cara
yang umum dan bersifat transparansi.
2) Jenis sistim pembiayaan praktik
Manajemen keuangan pelayanan dokter keluarga dikelola sedemikian rupa
sehingga dapat mengikuti, baik sistem pembiayaan praupaya maupun sistim
pembiayaan fee-for service
c. Standar manajemen klinik (Standard management of clinic for practice)
Pelayanan dokter keluarga dilaksanakan pada suatu tempat pelayanan yang
disebut klinik dengan manajemen yang profesional.
1) Pembagian kerja
Semua personil mengerti dengan jelas pembagian kerjanya masing-masing.
2) Program pelatihan

16

Untuk personil yang baru mulai bekerja di klinik diadakan pelatihan kerja (job
training) terlebih dahulu.
3) Program kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
Seluruh personil yang bekerja di klinik mengikuti prosedur K3 (kesehatan dan
keselamatan kerja) untuk pusat pelayanan kesehatan.
4) Pembahasan administrasi klinik
Pimpinan dan staf klinik secara teratur membahas pelaksanaan administrasi
klinik

17

4. Standar Sarana dan Prasarana (Standards of Facilities)


a. Standar fasilitas praktik (standard of practice facilities)
Pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan kesehatan strata
pertama yang lengkap serta beberapa fasilitas pelayanan tambahan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat sekitarnya.
1) Fasilitas untuk praktik
Fasilitas pelayanan dokter keluarga sesuai untuk kesehatan dan keamanan
pasien, pegawai dan dokter yang berpraktik.
2) Kerahasiaan dan privasi
Konsultasi dilaksanakan dengan memperhitungkan kerahasiaan dan privasi
pasien.
3) Bangunan dan interior
Bangunan untuk pelayanan dokter keluarga merupakan bangunan permanen
atau semi permanen serta dirancang sesuai dengan kebutuhan pelayanan medis
strata pertama yang aman dan terjangkau oleh berbagai kondisi pasien.
4) Alat komunikasi
Klinik memiliki alat komunikasi yang biasa digunakan masyarakat sekitarnya.
5) Papan nama
Tempat pelayanan dokter keluarga memasang papan nama yang telah diatur oleh
organisasi profesi.
b. Standar peralatan klinik (standard of practice equipments)
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan klinik yang sesuai dengan
fasilitas pelayanannya, yaitu pelayanan kedokteran di strata pertama (tingkat
primer).
1) Peralatan medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan medis yang minimal
harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia
layanan strata pertama.
2) Peralatan penunjang medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki beberapa peralatan penunjang medis yang
minimal harus dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai
penyedia pelayanan strata pertama.
3) Peralatan non medis
Pelayanan dokter keluarga memiliki peralatan non medis yang minimal harus
dipenuhi di ruang praktik untuk dapat berpraktik sebagai penyedia pelayanan
strata pertama.
c. Standar proses-proses penunjang praktik (Standard of clinical supports
process)
Pelayanan dokter keluarga memiliki panduan proses-proses yang
menunjang kegiatan pelayanan dokter keluarga.
1) Pengelolaan rekam medik
Pelayanan dokter keluarga menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi rekam
medik dengan dasar rekam medik berorientasikan pada masalah (problem
oriented medical record).
2) Pengelolaan rantai dingin
Pelayanan dokter keluarga peduli terhadap pengelolaan rantai beku (cold chain
management) yang berpengaruh kepada kualitas vaksin atau obat lainnya.
18

3) Pengelolaan pencegahan infeksi


Pelayanan dokter keluarga memperhatikan universal precaution management
yang mengutamakan pencegahan infeksi pada pelayanannya.
4) Pengelolaan limbah
Pelayanan dokter keluarga memperhatikan sistim pembuangan air kotor dan
limbah, baik limbah medis maupun limbah nonmedis agar ramah lingkungan
dan aman bagi masyarakat sekitar klinik.
5) Pengelolaan air bersih
Pelayanan dokter keluarga mengkonsumsi air bersih atau air yang telah diolah
sehingga aman digunakan.
6) Pengelolaan obat
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan sistim pengelolaan obat sesuai
prosedur yang berlaku termasuk mencegah penggunaan obat yang kadaluwarsa.
LI.2. Memahami dan Menjelaskan Kompetensi dan Peran Dokter Keluarga pada
Layanan Primer
Kompetensi dokter keluarga menurut deklarasi WONCA WHO tahun 2003 :
1
2

Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu (bayi baru lahir,
bayi, anak, remaja, dewasa, wanita hamil dan menyusui, lansia)
Mengintegrasikan komponen asuhan komprehensif
Memahami epidemiologi penyakit
Melakukan anamnesis dan pemeriksaan jasmani secara memadai
Memeahami ragam perbedaan faal dan metabolisme obat
Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi
Menyelenggarakan penilaian risiko khusus usia tertentu
Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan, dan panduan serta
penyuluhan gizi
Memahami pokok masalah perkembangan normal
Menyelenggarakan konseling, psikologi, dan perilaku
Mengkonsultasikan atau merujuk pasien tepat pada waktunya bila
diperlukan
Menyelenggarakan layanan paliatif
Menjunjung tinggi aspek pelayanan kedokteran
Mengkoordinasikan layanan kesehatan
Dengan keluarga pasien (penilaian keluarga, pertemuan keluarga atau
pasien, pembinaan dan konseling keluarga)
Dengan masyarakat (penilaian kesehatan masyarakat dan epidemiologi,
pemeriksaan atau penilaian masyarakat, mengenali dan memanfaatkan
sumber daya masyarakat, program pencegahan dan pendidikan bagi
masyarakat, advokasi atau pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat).
Melayani kesehatan masyarakat yang menonjol (Kelainan alergik, anestesia dan
penanganan nyeri, kelainan yang mengancam jiwa, kelainan kardiovaskular,
kelainan kulit, kelainan mata dan telinga, kelainan saluran cerna, kelainan
perkemihan dan kelamin, kelainan obstetrik dan ginekologi, penyakit infeksi,
kelainan muskuloskeletal, kelainan neoplastik, kelainan neurologi, dan psikiatri)
Melaksanakan profesi dalam tim penyedia kesehatan
19

Menyusun dan menggerakan tim, kepemimpinan, ketrampilan manajemen


praktek, pemecahan masalah konflik, peningkatan kualitas.
Kompetensi dokter keluarga dalam Standar Kompetensi Dokter Keluarga yang
disusun oleh PDKI tahun 2006 :
a. Keterampilan komunikasi efektif
b. Keterampilan klinik dasar
c. Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
d. Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
e. Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi
f. Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat
g. Etika moral dan profesionalisme dalam praktek
Peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer :
a

Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)


Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan
sebagai bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas,
lingkungannya, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas
tinggi, komprehensif, kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang dalam
wujud hubungan profesional dokter-pasien yang saling menghargai dan
mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif yang manusiawi namun
tetap dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan.
Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)
Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif
sehingga memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju
sehat dan mandiri kepada pasien dan komunitasnya.
Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi
kedokteran berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan
harapan pasien, nilai etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien
sepenuhnya dan membuat keputusan klinis yang ilmiah dan empatik.
Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam
maupun di luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan
komunitasnya berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cakap
memimpin klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana.
Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya,
menyerahkan kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan
nasihat kepada kelompok penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama
masyarakat dan menjadi panutan masyarakat.

20

Daftar Pustaka

Azwar A, Gan GL, Wonodirekso S. 2004. A Primer On Family Medicine Practice. Singapore:
Singapore International Foundation
Azwar A. 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: IDI.
Azwar A. 2008. Peran dan Fungsi Dokter Keluarga dalam Pelayanan Kesehatan Primer dalam
presentasi Revisi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Padang.
Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga Perhimpunan Dokter Keluarga
Indonesia.
Depkes. 2001. IDI, Fakultas Kedokteran Seri Pendidikan Kedokteran Bersinambung
Firman Lubis, Dept Kedokteran komunitas dalam Majalah Kedokteran Indonesia, Volume: 58,
Nomor: 2, Februari 2008
IDI . 2007. Petunjuk Teknis: Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan
Untuk

Dokter

Praktik

Umum.

[Internet].

viewed

Desember

2014,

from:

http://dc239.4shared.com/doc/gBDGV6rJ/preview.html
Ikatan Dokter Indonesia, Kolegium Dokter dan Dokter Keluarga Indonesia, Kolegium Ilmu
Kedokteran Keluarga Indonesia, 2007

21