Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH PADA


KLIEN DENGAN CORPUS ALIENUM
RSD dr. SOEBANDI JEMBER

oleh
Ria Aridya Liarucha, S.Kep
NIM 112311101011

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2015
A. Konsep Teori

1. Anatomi Mata
Indera mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan
lingkungan. Indra yang kita kenal ada lima, yaitu indera penglihatan (mata),
indera pendengaran (telinga), indera pembau (hidung), indera pengecap
(lidah), dan indera peraba (kulit). Kelima indra tersebut berfungsi untuk
mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut eksoreseptor.
Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri,
kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut
interoreseptor. Sel-sel interoreseptor misalnya terdapat pada sel otot, tendon,
ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan
lain sebagainya. Akan tetapi, sesungguhnya interoreseptor terdapat di seluruh
tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh
disebut kinestesis.

Gambar 1. Mata

Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar


dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata,
tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat
mata berada), kelopak, dan bulu mata. Secara konstan mata menyesuaikan
jumlah cahaya yang masuk, memusatkan perhatian pada objek yang dekat dan

jauh serta menghasilkan gambaran yang kontinu yang dengan segera


dihantarkan ke otak.

Gambar 2. Anatomi Mata


Mata terdiri dari :
a. Suatu lapisan luar keras transparan di anterior (kornea) dan opak di
posterior (sclera). Sambungan antara keduanya disebut limbus. Otot-otot
ekstra ocular melekat pada sclera sementara saraf optic meninggalkan
sclera di posterior melalui lempeng kribiformis
b. Suatu lapisan kaya pembuluh darah (koroid) melapisi segmen posterior
mata dan member nutrisi pada permukaan dalam retina.
c. Korpus siliaris terletak di anterior. Korpus siliaris mengandung otot
siliaris

polos

yang

kontraksinya

mengubah

bentuk

lensa

dan

memungkinkan fokus mata berubah-ubah. Epitel siliaris mensekresi


aquous humor dan mempertahankan tekanan ocular. Korpus siliaris
merupakan tempat perlekatan iris.
d. Lensa terselatk di belakang iris dan dikosongkan oleh serabut-serabut
halus (zonula) yang terbentang di antara lensa dan korpus siliaris.
e. Sudut yang dibentuk dan oleh iris dan kornea (sudut iridokornea) dilapisi
oleh suatu jaringan sel dan kolagen (jalinan trabekula). Pada sclera di

luar jalinan ini, kanal Schlemm mengalirkan aquous humor dari bilik
anterior ke dalam sistem vena sehingga terjadi drainase aquous. Daerah
ini dinamakan sudut drainase.
2. Sistem Proteksi Mata
Perlindungan mata secara mekanis dilakukan oleh kelopk mata, selain
itu kelopak mata juga menjaga agar mata tidak kering. Kelopak mata
memiliki bagian yang bernama pungta tempat air mata mengalir ke sistem
drainase lakrimal.

Gambar 3. Kelopak Mata


Air mata mengalir ke dalam pungta atas dan bawah dan kemudian ke
dalam sakus lakrimalis melalui kanalikuli atas bawah. Kanalikuli-kanalikuli
membentuk kanalikulus komunis sebelum memasuki sakus lakrimalis.
Duktus nosolakrimalis untuk membentuk saluran sempurna pada saat lahir
biasanya merupakan penyebab mata berair dan lengket pada bayi. Drainase
air mata merupakan proses aktif. Tiap kedipan kelopak mata membantu
memompa air mata melalui sistem ini.

Gambar 4. Sistem Drainase Lakrimalis


3. Pengertian
Corpus alienum adalah benda asing. Istilah ini sering digunakan
dalam istilah medis. Corpus alienum merupakan salah satu penyebab cedera
mata yang paling sering mengenai sklera, kornea, dan konjungtiva. Trauma
mata adalah trauma pada mata yang menyebabkan kerusakan jaringan pada
mata. Apabila korpus alienum masuk ke dalam bola mata maka biasanya
terjadi reaksi infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata dan
terjadi iridocylitis serta panophthmitis, oleh karena itu perlu cepat mengenali
benda asing tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk
kemudian mengeluarkannya (Ilyas, 2008).

Gambar 5. Corpus Alienum


Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa
kelompok, yaitu (Bashour, 2008):
a. Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga;
b. Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian;
c. Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan
dan tidak mengganggu fungsi mata. Contoh : emas, platina, batu, kaca,
dan porselin;
d. Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi
jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam,
seng, nikel, alumunium, tembaga.
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung
dari (Bashour, 2008) :
a. Besarnya corpus alienum;
b. Kecepatan masuknya;
c. Ada atau tidaknya proses infeksi;
d. Jenis bendanya.

4. Etiologi
Penyebab cedera mata pada pemukaan mata adalah (Bashour, 2008):
a. Percikan kaca, besi, keramik;
b. Partikel yang terbawa angin, seperti debu;
c. Ranting pohon;
d. Dan sebagainya.
5. Patofisiologi
Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma mata
ringan. Benda asing dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau stroma
bila benda asing tersebut diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang

besar. Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi,


mengakibatkan dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan udem
pada kelopak mata, konjungtiva dan kornea. Sel darah putih juga dilepaskan,
mengakibatkan reaksi pada kamera okuli anterior dan terdapat infiltrate
kornea. Jika tidak dihilangkan, benda asing dapat menyebabkan infeksi dan
nekrosis jaringan (Bashour, 2008).
6. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang ditimbulkan yaitu (Ilyas, 2008)
1. Ekstra Okular
a. Mendadak merasa tidak enak ketika mengedipkan mata;
b. Ekskoriasi kornea terjadi bila benda asing menggesek kornea, oleh
kedipan bola mata;
c. Lakrimasi hebat;
d. Benda asing dapat bersarang dalam torniks atas atau konungtiva;
e. Bila tertanam dalam kornea nyeri sangat hebat.
2. Infra Okuler
a. Kerusakan pada tempat masuknya mungkin dapat terlihat di
kornea, tetapi benda asing bisa saja masuk ke ruang posterior atau
limbus melalui konjungtiva maupun sklera;
b. Bila menembus lensa atau iris, lubang mungkin terlihat dan dapat
terjadi katarak;
c. Masalah lain diantaranya infeksi skunder dan reaksi jaringan mata
terhadap zat kimia yang terkandung misalnya dapat terjadi
siderosis.
7. Kemungkinan Komplikasi yang muncul
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman,
dan efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di
bagian sentral dimana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat
mempengaruhi visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum
yang mengenai kornea merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik maupun
perdarahan juga bisa timbul jika menembus cukup dalam. Bila ukuran corpus
alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder seperti inflamasi
ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada media refraksi
yang berarti, prognosis bagi pasien adalah baik (Vaughan, 2010).

8. Penanganan
Mata memiliki sistem proteksinya sendiri. Kelopak mata dan bulu
mata diciptakan untuk melindungi mata dari paparan angin dan debu. Bahkan
air mata yang diproduksi pun memiliki antibodi untuk melindungi mata dari
kuman penyakit. Meskipun demikian, frekuensi kecelakaan terhadap mata
tetap tinggi. Seiring bertambahnya kawasan industri, angka kecelakaan kerja
juga meningkat, lalu lintas semakin padat, risiko kecelakaan lalu lintas
meningkat, serta beberapa hal lain yang seringkali menjadi penyebab
terjadinya trauma pada mata seperti perkelahian, terkena ketapel, senapan
angin, lemparan mainan yang sering terjadi pada anak-anak.
Ketika terjadi cedera pada mata hal yang penting untuk dilakukan
adalah pemeriksaan mata. Apabila luka pada mata cukup serius sebaiknya
langsung

dikonsultasikan

kepada

dokter. Hati-hati,

menunda

dapat

menyebabkan gangguan pengelihatan permanen bahkan kebutaan. Namun,


seringkali konsultasi kepada dokter ahli tidak dapat dilakukan segera karena
tidak semua fasilitas kesehatan dilengkapi alat periksa khusus mata.
Sehingga, penting sekali untuk melakukan pertolongan pertama untuk
penanganan awal serta mencegah kerusakan lebih lanjut sambil menunggu
penanganan dari dokter ahli.
9. Penanganan Benda Asing pada Mata
a. Jangan menggosok mata karena dapat menggores permukaan kornea
dan menyebabkan luka
b. Berkediplah agar air mata keluar untuk membantu benda asing keluar
terdorong keluar melalui sudut mata.
c. Tetes air mata buatan dapat diberikan untuk membantu membilas benda
asing.
d. Lipat kelopak mata ke atas bila benda asing tidak nampak.
e. Gunakan cotton bud atau ujung tissue yang diteteskan air bersih dengan
gerakan menyapu ke arah sudut mata untuk memindahkan beda asing.
f. Jika benda asing masih tetap menempel cukup dalam jangan mencoba
mencungkilnya, jaga mata tetap tertutup dan segera bawa ke dokter.

10.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain (Vaughan,
2010):
1) Pemeriksaan tajam penglihatan
Dengan menggunakan snellens chart dan test brigshtess dilakukan
untuk

mengetahui

ketajaman

penglihatan,

normalnya

tajam

penglihatan seseorang adalah 6/6, sedangkan pada pasien trauma mata


hanya 1/30.
2) Test onel
Dilakukan untuk mengetahui fungsi eksresi sistem lakrimel, normal
bila terlihat adanya reaksi menelan tetapi bila test anel negatif atau
fungsi lakrimal tidak normal maka keadaan ini mudah sekali terjadi
infeksi, umumnya pada pasien trauma mata tes onelnya (-) karena saat
itu sistem lakrimal akan lebih banyak mengeluarkan air mata.
3) Pemeriksaan lapang pandang
Dapat diperiksa dengan cara konfrontasi yaitu dengan cara meminta
pasien untuk memejamkan salah satu matanya dan memfokuskan
matanya pada salah satu tempat atau satu titik dihadapinya, pada
pasien trauma mata pada bagian mata yang trauma maka lapang
pandangnya agak sedikit kabur/berkurang, namun pada mata yang
normal lapang pandangnya masih normal/jelas
4) Foto rontgen orbita
Foto rontgen orbita dilakukan untuk memastikan adanya benda asing
di dalam mata, pada trauma mata apabila terdapat benda asing yang
masukke dalam mata maka akan terlihat dengan jelas.
5) Pemeriksaan dengan optalmoskop.
11.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing

tersebut dari bola mata. Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra dan
konjungtiva, kornea maka dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian
anatesi lokal. Untuk mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum

suntik tumpul atau tajam. Arah pengambilan, dari tengah ke tepi. Bila benda
bersifat magnetik, maka dapat dikeluarkan dengan

magnet portable.

Kemudian diberi antibiotik lokal, siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa
steril dan diperban (Vaughan, 2010).
Pecahan besi yang terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat
insisi di limbus, melalui insisi tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk
menarik benda asing, bila tidak berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris
yang mengandung benda asing tersebut. Pecahan besi yang terletak di dalam
bilik mata depan dapat dikeluarkan dengan magnit sama seperti pada iris. Bila
letaknya di lensa juga dapat ditarik dengan magnit, sesudah insisi pada limbus
kornea, jika tidak berhasil dapat dilakukan pengeluaran lensa dengan
ekstraksi linier

untuk usia muda dan ekstraksi ekstrakapsuler atau

intrakapsuler untuk usia yang tua (Vaughan, 2010). Bila letak corpus alienum
berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan dengan giant magnit setelah
insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan dengan operasi
vitrektomi (Vaughan, 2010).

C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
1) Identitas
Nama
Umur
Suku/ bangsa
Agama
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
2) Riwayat Kesehatan
a) Riwayat penyakit: Jenis, bahan, jumlah, dan lama terkena rudapaksa,
tindakan yang telah dilakukan oleh klien sebelum dibawa ke rumah
b)

sakit.
Psikososial: Pekerjaan yang dijalani, aktivitas yang dilakukan saat

terkena benda asing


3) Dasar Data Pengkajian Pasien
Kebutuhan sehari-hari pasien sebelum terkena trauma mata dapat
dilakukan secara mandiri tetapi setelah mengalami trauma mata terdapat
gangguan dan perubahan, seperti:
a) Tidur dan istirahat: adanya rasa nyeri pada mata sehingga
mengakibatkan terganggunya aktivitas istirahat atau tidur
b) Personal hygiene: mandi, gosok gigi, BAB, BAK terganggu
berhubungan dengan gangguan penurunan dan rasa nyeri
c) Makanan/cairan: pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan
yang mengandung serat dan menghindari rasa pedas
4) Pemeriksaan Fisik
a) Inspeksi
Adanya perdarahan, perubahan struktur konjungtiva, warna, dan

memar
Kerusakan tulang orbita, krepitasi tulang orbita
Pelebaran pembuluh darah perikornea
Hifema
Robek kornea
Perdarahan dari orbita
Blefarospasmae
Pupil tidak bereaksi terhadap cahaya, struktur pupil robek
Tes fluoresens positif
Edema kornea

Nekrosis konjungtiva/sclera
Katarak
b) Palpasi
Adanya nyeri pada mata
5) Pemeriksaan Penunjang
Pada sebagian pasien saat dilakukan tes adaptasi gelap, terjadinya
peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, pernapasan dan suhu, pada
sinusitis dan benda asing yang lama dalam mata terjadi peningkatan
jumlah leukosit karena terjadi infeksi yang lama.
2. Diagnosa
1) Gangguan sensori persepsi (visual) berhubungan dengan ablasio retra,
edema retina, erosi kornea.
2) Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan.
3) Resiko cedera/injuri berhubungan dengan gangguan penglihatan akibat
trauma.
4) Nyeri akut

berhubungan

dengan

kerusakan

jaringan

atau

menggambarkan adanya kerusakan.


5) Ansietas berhubungan dengan penurunan penglihatan.
3. Rencana tindakan keperawatan
No.
1

Diagnosa
Gangguan

Tujuan & Kriteria


Hasil
Tujuan : Pasien

persepsi

beradaptasi terhadap

penglihatan pasien,catat

penglihatan pasien

penurunan visual

apakah satu atau kedua

karena kebutuhan

penglihatan

yang terjadi

mata terlibat.

individu dan pilihan

berhubungan

Kriteria

dengan

ablasio retra,

berpartisipasi dalam

sensori

edema retina,
erosi kornea

Pasien

Hasil:
akan

Intervensi
1. Tentukan tajam

2. Kurangi situasi kacau,


atur pengobatan dan atur

penyinaran.
program pengobatan 3. Pada klien yang
mengalami abrasi retina,
anjurkan klien bedrest
dengan satu atau kedua
mata ditutup.

Rasional
1. Mengetahui tajam

intervensi bervariasi.
2. Membantu klien
menganali keterbatasan
penglihatan.
3. Mengistirahatkan mata
dan mencegah
komplikasi lebih lanjut.

4. Kolaborasi
a. berikan pengobatan

4.
a. mengatasi dan

sesuai indikasi mata

mencegah infeksi

dan derajat

lebih lanjut

komplikasinya;
antibiotic (topical,
peroral, atau sub
konjungtiva).
b. siapkan intervensi

b. mengatasi kelainan

bedah sesuai indikasi

atau komplikasi yang


terjadi dan mencegah
keruusakan lebih
lanjut

Resiko

Tujuan: Setelah

infeksi

dilakukan tindakan

berhubungan

keperawatan selama

dengan

1x24 jam status

kerusakan

kekebalan pasien

jaringan dan

meningkat

peningkatan

dengan indikator:

paparan
lingkungan.

tidak didapatkan
infeksi berulang

1. Bersihkan lingkungan
setelah dipakai pasien lain
2. Gunakan sabun anti
mikroba untuk cuci
tangan
3. Cuci tangan sebelum dan
sesudah tindakan
keperawatan
4. Observasi dan laporkan
tanda dan gejal infeksi
seperti kemerahan, panas,

1.

Mencegah terjadinya
penularan

mikroorganisme
2. Menghindari dan
mencegah
mikroorganisme
3. Mencegah
berkembangnya
mikroorganisme di
tangan
4. Mencegahan infeksi
lebih lanjut

nyeri, tumor
5. Berikan antibiotik

sesuai aturan
6. Ajari pasien dan

keluarga tanda dan

5. Pemberian antibiotic
dapat menekan adanya
mikroorganisme
6. Pasien dan keluarga

gejala infeksi dan jika

mengerti bagaimana

terjadi melaporkan

tanda dan gejala infeksi

pada perawat
7. Ajarkan klien dan
anggota keluarga
bagaimana mencegah
infeksi
3

Risiko

Tujuan: Pasien tidak

cedera/injuri

mengalami dan dapat

fungsional tentang apa

berhubungan

menghindari cedera.
Kriteria Hasil:

yang bias dan tidak bisa

dengan
gangguan
penglihatan

dapat menghindari
cidera
- Melakukan prosedur

akibat
trauma.

- pasien menyatakan

1. Dapatkan deskripsi

dilihat oleh pasien.


2. Orientasikan pasien
terhadap lingkungan
sekitar
3. Batasi aktivitas pasien

dengan benar dan

(seperti menggerakkan

menjelaskan alasan

kepala tiba-tiba,dll) dan

tindakan.

bantu aktivitas klien

7. Pasien dan keluarga


mengerti bagaimana
cara pencegahan infeksi
1. Memberikan data dasar
tentang pandangan
akurat pasien.
2. Pasien mengenal
lingkungannya sehingga
cedera dapat dihindari
3. Memenuhi kebutuhan
sehari-hari klien tanpa
menyebabkan cedera.

NOC:

sesuai kebutuhan
NIC:

berhubungan

Menunjukkan

Manjemen nyeri

Manajemen nyeri

dengan

tingkat

nyeri, a. Menentukan perkiraan

a. Mengetahui

kerusakan

dibuktikan

jaringan atau

Nyeri

akut

nyeri seperti lokasi,

keadaan/kondisi nyeri

indikator berikut ini

karakteristik, durasi,

pasien

menggambar

(sebutkan nilainya 1-

frekuensi, kualitas,

kan

5:

intensitas atau skala

adanya

kerusakan.

dengan

ekstrem,

berat,

sedang, ringan, atau


tidak ada)
a. Ekspresi

nyeri

lisan atau pada

terjadinya nyeri
b. Gunakan stategi
komunikasi terapeutik

b. Mengetahui lebih
dalam terhadap nyeri
yang dirasakan pasien

untuk menggali

wajah
b. Posisi

nyeri, dan faktor pemicu

tubuh

melindungi
c. Kegelisahan atau

pengalaman pasien
terhadap nyeri dan cara
penanganannya
c. Observasi ekspresi non

c. Ekspresi non verbal


menunjukkan ekspresi

ketegangan otot
d. Perubahan
dalam kecepatan
pernapasan,
denyut jantung,
atau

tekanan

verbal yang
menunjukkan
ketidaknyamanan
d. Identifikasi pengetahuan
pasien dan keyakinan

keadaan pasien yang


sebenarnya
d. Mengetahui
pengetahuan pasien
tentang nyeri

tentang nyeri.
Distraksi

darah
Distraksi

a. Tawarkan kepada pasien

a. Memberikan
kesempatan pada pasien

teknik distraksi seperti

untuk memilih

terapi musik,

terapinya sendiri

mengalihkan dengan cara


bercakap-cakap atau
dengan bercerita
pengalaman, mengingat
massa yang indah/positif, b. Agar pasien memahami
tekhnik membayangkan
manfaat terapi
sesuatu, humor, atau
teknik napas dalam

b. Jelaskan kegunaan
stimulasi yang digunakan

c. Membuat jadwal untuk


mengurangi nyeri

terhadap perasaan
misalnya mendengarkan
musik dan membaca.

c. Identifikasi dengan
pasien jadwal kegiatan

d. Untuk mengurangi rasa


nyeri datang

yang menyenangkan
seperti berjalan-jalan,
berbicara dengan
keluarga atau teman

d. Anjurkan pasien untuk


mempraktekkan teknik
distraksi sebelum waktu
nyeri, jika pasien mampu

e. Evaluasi dan

e. Mengetahui kefektifan
teknik distraksi

dokumentasikan respon
dari distraksi
5.

Ansietas

Tujuan : Cemas

1. Beritahu pasien tentang

a. Mengurangi kecemasan

berhubungan

hilang atau

dengan

berkurang

penyakitnya
2. Kaji tingkat ansietas,

pasien.
b. Mengenali gejala dan

penurunan

Kriteria Hasil:

penglihatan.

- Pasien tampak
rileks dan
melaporkan ansietas
menurun sampai
tingkat dapat diatasi.
- Pasien

derajat pengalaman
nyeri/timbul nya gejala
tiba-tiba dan
pengetahuan kondisi
saat ini.
3. Berikan informasi yang

bahwa pengawasan dan

ketrampilan

pengobatan mencegah

pemecahan masalah

kehilangan penglihatan

menggunakan
sumber secara efektif

c. Mengurangi ansietas
akibat kurang informasi
d. Melibatkan klien

akurat dan jujur.


4. Diskusikan kemungkinan

menunjukkan

- Pasien

penyebab ansietas

mengenali penyakit dan


cara perawatannya
e. Menggali kedaan klien

tambahan.
5. Dorong pasien untuk
mengakui masalah dan
mengekspresikan
perasaan.
6. Identifikasi

f.

Melibatkan perawatan
dari oang terdekat
sebagai dukungan
psikologis

sumber/orang yang
menolong.

4. Discharge Planning
a. Bantu pasien dan keluarga untuk mempersiapkan perawatan di rumah.
b. Tentukan kemampuan pasien untuk perawatan mandiri di rumah.
c. Tekankan bahwa penyakit harus mengikuti pengobatann sesuai dosis dan
waktu selama seumur hidup.
d. Tekankan pada pasien bahwa pengontrolan secara berkala sangatlah
penting.

5. Daftar Pustaka
Bashour M. 2008. Corneal Foreign Body. Serial Online. Diakses 4 Oktober
2015 . http://emedicine.medscape.com/ article/
Baughman, D.C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk Brunner
dan Suddarth. Jakarta: EGC.
Bulecked, G.M, et al. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). United
Sates of America: Elsevier.
Ilyas, S. 2008. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
James, et al. 2006. Lecture Notes: Opthalmology. Jakarta: Erlangga.
Junaidi,P. 2004. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas

Kedokteran UI
Moorhead, S., et al. 2013. Nursing Outcome Classification (NOC). United Sates
of America: Elsevier.
Neal, M.J. 2006. At a Glance: Farmakologi Medis.
Pearce, E.C. 2006. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT.
Gramedia.
Vaughan, D. 2010. Oftalmologi Umum, Edisi 17. Jakarta : Widya Medika.