Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Femur adalah tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan memiliki

fungsi yang sangat penting untuk pergerakan normal. Tulang ini terdiri atas tiga
bagian, yaitu femoral shaft atau diafisis, metafisis proximal, dan metafisis distal.
Femoral shaft adalah bagian tubular dengan slight anterior bow, yang terletak antara
trochanter minor hingga condylus femoralis. Ujung atas femur memiliki caput,
collum, dan trochanter major dan minor.
Fraktur adalah hilangnya kontinuitas jaringan tulang, tulang rawan epifisis dan
atau tulang rawan sendi baik yang bersifat total maupun yang parsial. Fraktur dapat
terjadi akibat peristiwa trauma tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan
abnormal pada tulang (fraktur patologik). Sebagian besar fraktur disebabkan oleh
kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran,
penekukan, pemuntiran, atau penarikan. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung
atau tidak langsung. Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan
mengakibatkan fraktur di tempat itu. Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan
dengan terjadinya fraktur berjauhan.
Insidensi fraktur batang femur berentang dari 9.5 hingga 18.9 per 100.000 per
tahun. Di Amerika Serikat, terjadi sekitar 250.000 fraktur femur proksimal per
tahunnya. Angka ini diantisipasi menjadi dua kali lipat pada tahun 2050. Sedangkan
insidensi fraktur distal femur ditemukan 10 kali lebih kecil daripada insidensi fraktur
proksimal femur yang terjadi di Eropa. Selama tahun 1980-1989, diperkirakan 34.000
fraktur femur dilaporkan dan hanya 6% (2.165) dari kasus yang melibatkan femur
bagian distal.
1

Insidensi fraktur femur meningkat pada pasien dengan usia lanjut. Pada pasien
dengan usia lanjut ini, fraktur femoral mungkin disebabkan oleh kondisi osteopenik.
Fraktur akibat trauma tekanan tinggi merupakan penyebab utama fraktur pada lakilaki muda. Fraktur akibat stress terjadi pada 37% pelari, dan fraktur femur terjadi
pada 11% dari fraktur akibat stress tersebut. Sekitar 53% dari fraktur tersebut terjadi
pada batang femur. Pria memiliki ratio lebih besar dibandingkan wanita pada setiap
usia dan kulit hitam memiliki ratio yang lebih besar dibandingkan kulit putih
(Romeo, 2015).
Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur yang tidak
ditangani atau ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan keadaan
keterlambatan dalam penanganan atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan
kecacatan. Menurut Subroto Sapardan neglected fracture adalah penanganan patah
tulang pada extremitas (anggota gerak) yang salah oleh bone setter, yang masih
sering dijumpai di masyarakat Indonesia. Pada umumnya neglected fracture terjadi
pada orang yang berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi rendah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi dan Biomekanika Femur
2.1.1 Anatomi Tulang Femur
Femur adalah tulang terkuat, terpanjang, dan terberat di tubuh dan amat penting
untuk pergerakan normal. Tulang ini terdiri atas tiga bagian, yaitu femoral shaft atau
diafisis, metafisis proximal, dan metafisis distal. Femoral shaft adalah bagian tubular
dengan slight anterior bow, yang terletak antara trochanter minor hingga condylus
femoralis. Ujung atas femur memiliki caput, collum, dan trochanter major dan minor.
Bagian proksimal femur berartikulatio dengan pelvis dan bagian distal berarticulatio
dengan tibia dan patella, yang merupakan tulang sesamoid terbesar (Snell, 2006).

Tabel 1 dan 2. Karakteristik Tulang Femur (Hansen dan Thompson, 2010)

Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan
acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat
lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamen dari caput.
Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan
memasuki tulang pada fovea (Snell. 2006)).

Gambar 1. Anatomi Tulang Femur (Thompson, 2010)

Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan
batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di
depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya
terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan
kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada
bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas
dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris
medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. Tepian lateral
menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior
batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke
bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal
dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia
poplitea (Snell, 2006).
Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian
posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus
dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk
articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis.
Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis (Snell,
2006).
2.1.2 Kompartemen Otot, Pembuluh Darah, dan Saraf
2.1.2.1 Kompartemen Anterior
Otot yang berperan pada kompartemen anterior memiliki karakteristik sebagai
berikut (Hansen, 2010):
a. Musculus quadriceps, yang melekat pada patella melalui tendon quadriceps
femoris dan pada tibia melalui ligament patella
b. Merupakan otot ekstensor utama
c. Dua otot yang berperan pada fleksi paha terhadap panggul (sartorius dan rektus
femoris)

d. Diinervasi oleh n. femoralis


e. Disuplai oleh arteri femoralis dan arteri profundus femoralis (deep artery)
Muskulus psoas major dan illiacus keluar dari dinding abdomen posterior ke
anterior femur melalui ligament inguinal yang berinsersi pada trochanter minor. Aksi
otot-otot tersebut yakni fleksor maksimal femur pada sendi panggul.

Gambar 2. Kompartemen anterior musculus dan nervus femur (Hansen, 2010)

Table 3. Kompartemen anterior otot femur (Hansen, 2010)

2.1.2.2 Kompartemen Medial


Kompartemen medial berperan sebagai berikut (Hansen, 2010):
a.
b.
c.
d.

Merupakan otot aduktor utama femur


Kebanyakan berfungsi juga untuk gerakan fleksi dan rotasi
Hampir semua diinervasi oleh nervus obturator
Suplai darah oleh arteri obturator dan arteri femoralis

Gambar 3. Kompartemen medial otot dan nervus femur (Hansen, 2010)

Tabel 4. Kompartemen medial otot femur (Hansen, 2010)

2.1.2.3 Kompartemen Posterior


a. Merupakan otot ekstensor femur
b. Sering disebut sebagai otot harmstring; juga berfungsi untuk rotasi sendi lutut dan
berorigo pada tuberositas ischiadica.
c. Diinervasi oleh nervus ischiadicus
d. Suplai darah oleh arteri femoralis

Gambar 4. Kompartemen posterior otot dan saraf femur (Hansen, 2010)

Table 5. kompartemen posterior otot femur (Hansen, 2010)

2.1.2.4 Arteri Femoralis


Arteri femoralis mensuplai jaringan pada femur dan turun ke kanalis adductor
untuk mendapatkan akses ke fossa poplitea. Pada aspek superomedial juga disuplai

oleh arteri obturatorius. Pembuluh darah ini memmbentuk anastomosis sekitar


panggul dan arteri femur-poplitea sekitar genu (Hansen, 2010).

Gambar 5. Arteri femur (Hansen, 2010)

Tabel 6. Arteri pada femur (Hansen, 2010)

2.2 Fraktur Neck Femur


Tulang femur adalah tulang terkuat, terpanjang, dan terberat yang dimiliki tubuh
yang berfungsi penting untuk mobilisasi atau berjalan. Tulang femur terdiri dari tiga
bagian, yaitu corpus femoris atau diafisis, metafisis proksimal, dan distal metafisis.
Corpus femoris berbentuk tubular dengan sedikit lengkungan ke arah anterior, yang

10

membentang dari trochanter minor melebar ke arah condylus. Selama menahan berat
tubuh, lengkung anterior menghasilkan gaya kompresi pada sisi medial dan gaya tarik
pada sisi lateral. Struktur femur adalah struktur tulang untuk berdiri dan berjalan, dan
femur menumpu berbagai gaya selama berjalan, termasuk beban aksial,
membungkuk, dan gaya torsial. Selama kontraksi, otot-otot besar mengelilingi femur
dan menyerap sebagian besar gaya.
Fraktur kolum femur termasuk fraktur intrakapsular yang terjadi pada bagian
proksimal femur. Yang termasuk kolum femur adalah mulai dari bagian distal
permukaan kaput femoris sampai dengan bagian proksimal dari intertrokanter
(Solomon, 2010).
2.2.1 Etiologi
Penyebab fraktur adalah trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut
kekuatannya melebihi kekuatan tulang, dan mayoritas fraktur akibat kecelakaan lalu
lintas. Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, cidera olah
raga. Trauma bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan langsung
apabila terjadi benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu, dan
secara tidak langsung apabila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan. Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga
yaitu:
a. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh:
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang
patah secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit di atasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.

11

b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma
minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut:
1) Tumor tulang (jinak atau ganas): pertumbuhan jaringan baru yang tidak
terkendali dan progresif.
2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau
dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D
yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh
defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi
Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Solomon, 2010).
2.2.2 Mekanisme Fraktur
Mekanisme terjadinya fraktur dapat terjadi akibat: 1) peristiwa trauma tunggal,
2) tekanan yang berulang ulang, 3) kelemahan abnormal pada tulang, dalam kasus
fraktur femur sepertiga dextra kemungkinan mekanisme terjadinya fraktur ada dua
cara, yaitu karena trauma maupun kecelakaan langsung yang mengenai tungkai atas
pada batang femur, sehingga mengakibatkan perubahan posisi pada fragmen tulang.
Tulang merupakan jaringan dinamis, dimana secara kontinyu bereaksi terhadap
suatu tekanan. Berdasarkan data dari Maitra dan Johnson, fraktur stress atau tekanan
merupakan hasil dari ketidakseimbangan antara resorbsi tulang dan deposit tulang
selama tulang menerima tekanan yang berulang. Sebagian besar tekanan pada kortek
termasuk tension atau torsi; bagaimanapun, tulang lemah dalam tension dan
cenderung patah sepanjang garis semen. Maitra dan Johnson melaporkan bahwa
paksaan tension memicu resorbsi osteoklas, sementara paksaan kompresi memicu
respon osteoblas. Dengan tekanan yang berulang, pembentukan tulang baru tidak
dapat seimbang dengan resorbsi tulang. Ketidakmampuan ini menyebabkan penipisan

12

dan kelemahan kortek tulang, dengan propragasi retakan melalui garis semen, dan
bahkan berkembang menjadi mikrofraktur. Tanpa istirahat untuk memperbaiki
ketidakseimbangan ini, mikrofraktur dapat berkembang menjadi fraktur klinis.
Tulang bersifat terlalu rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan daya
tahan pegas untuk menahan tekanan, tulang yang mengalami fraktur, biasanya diikuti
kerusakan jaringan sekitarnya. Fraktur ini suatu permasalahan yang kompleks karena
pada fraktur tersebut tidak dilukai luka terbuka, sehingga dalam mereposisi fraktur
tersebut perlu pertimbangan dengan fiksasi yang baik agar tidak timbul komplikasi
selama reposisi. Penggunaan fiksasi yang tepat yaitu dengan internal fiksasi jenis
plate and screw. Dilakukan operasi terhadap tulang ini bertujuan mengembalikan
posisi tulang yang patah ke normal atau posisi tulang sudah dalam keadaan sejajar
sehingga akan terjadi proses penyambungan tulang (Solomon, 2010).
2.2.3 Klasifikasi
Menurut lokasi fraktur dapat berupa fraktur subkapital, transervikal dan basal,
yang kesemuanya terletak di dalam simpai sendi panggul atau intrakapsular; fraktur
intertrokanter dan subtrokanter terletak ekstrakapsuler.
Patah tulang intrakapsuler umumnya sukar mengalami pertautan dan cenderung
terjadi nekrosis avaskular kaput femur. Perdarahan kolum yang terletak intraartikuler
dan pendarahan kaput femur berasal dari proksimal a. sirkumfleksa femoris lateralis
melalui simpai sendi. Sumber pendarahan ini putus pada patah tulang intraartikuler.
Pendarahan oleh arteri di dalam ligamentum teres sangat terbatas dan sering
tidak berarti. Pada luksasi arteri ini robek. Epifisis dan daerah trokanter cukup kaya
pendarahannya, karena mendapat darah dari simpai sendi, periost, dan a. nutrisia
diafisis femur.
Patah tulang collum femur yang terletak intraartikuler sukar sembuh karena
bagian proksimal pendarahannya sangat terbatas, sehingga memerlukan fiksasi kokoh
untuk waktu yang cukup lama. Semua patah tulang di daerah ini umumnya tidak
stabil sehingga tidak ada cara reposisi tertutup terhadap fraktur ini, kecuali jenis
fraktur yang impaksi, baik yang subservikal atau yang basal.

13

Klasifikasi menurut Garden:


a.
b.
c.
d.

Tingkat I : fraktur inkopmlit (abduksi dan terimpaksi)


Tingkat II : fraktur lengkap tanpa pergeseran
Tingkat III : fraktur dengan pergeseran sebagian
Tingkat IV : fraktur dengan pergeseran seluruh fragmen tanpa ada bagian segmen
yang bersinggungan.

Gambar 6. Gardens classification of femoral neck fractures

2.2.4 Gambaran klinik


Pada pemeriksaan fisik, fraktur collum femur dengan pergeseran akan
menyebabkan deformitas yaitu terjadi pemendekan serta rotasi eksternal sedangkan
pada fraktur tanpa pergeseran deformitas tidak jelas terlihat. Tanpa memperhatikan
jumlah pergeseran fraktur yang terjadi, kebanyakan pasien akan mengeluhkan nyeri
bila mendapat pembebanan, nyeri tekan di inguinal dan nyeri bila pinggul
digerakkan.
2.2.5 Pemeriksaan Fraktur Femur
Diagnosis fraktur femur dapat ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap
mengenai kejadian trauma meliputi waktu, tempat, dan mekanisme trauma;

14

pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyeluruh, serta pemeriksaan imaging


menggunakan foto polos sinar-x.
1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya tanda-tanda syok,
anemia atau pendarahan, kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum
tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
Apabila kondisi jiwa pasien terancam, lakukan resusitasi untuk menstabilkan kondisi
pasien.
Setelah kondisi pasien stabil, perlu diperhatikan faktor predisposisi lain,
misalnya pada fraktur patologissebagai salah satu penyebab terjadinya fraktur.
Pemeriksaan status lokalis dilakukan setelah pemeriksaan skrining awal
dilakukan. Berikut adalah langkah pemeriksaan status lokalis:
a. Inspeksi (Look)
1)

Bandingkan dengan bagian yang sehat

2)

Perhatikan posisi anggota gerak

3)

Keadaan umum penderita secara keseluruhan

4)

Ekspresi wajah karena nyeri

5)

Lidah kering atau basah

6)

Adanya tanda-tanda anemia karena pendarahan, Lakukan survei pada seluruh


tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain

7)

Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau terbuka

8)

Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari

9)

Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan

10)
11)

Perhatikan kondisi mental penderita


Keadaan vaskularisasi
b. Palpasi/Raba (Feel)

15

Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh


sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan palpasi adalah
sebagai berikut:
1)

Temperatur setempat yang meningkat

2)

Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang

3)

Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hatihati

4)

Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri


femoralis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak
yang terkena Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal
daerah trauma, temperatur kulit.

5)

Pengukuran panjang tungkai untuk mengetahui adanya perbedaan panjang


tungkai

Tabel 7. Physical examination (Thompson, 2010)

c. Pergerakan (Move)

16

Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan


pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita
dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji
pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

Tabel 8. ROM examination (Thompson, 2010)

2. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris
serta gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonotmesis atau neurotmesis.
Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan
masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk
pengobatan selanjutnya.

17

Tabel 9. NVD Examination (Thompson, 2010)

3. Pemeriksaan radiologi
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat kecurigaan akan adanya fraktur
sudah dapat ditegakkan. Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan
sebagai konfirmasi adanya fraktur, menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur,
untuk melihat adakah kecurigaan keadaan patologis pada tulang, untuk melihat benda
asingmisalnya peluru, dan tentunya untuk menentukan teknik pengobatan atau
terapi yang tepat.
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip rule of two, yaitu:
dua posisi proyeksi, dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-posterior dan
lateral; dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas dan di bawah
sendi yang mengalami fraktur; dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya
dilakukan foto pada ke dua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis; dua kali
dilakukan foto, sebelum dan sesudah reposisi.

18

2.2.6 Tatalaksana
Pengobatan fraktur collum femoralis dapat berupa terapi konservatif dengan
indikasi yang sangat terbatas dan terapi operatif. Pengobatan operatif hampir selalu
dilakukan baik pada orang dewasa muda ataupun pada orang tua karena perlu reduksi
yang akurat dan stabil dan diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk
mencegah komplikasi. Jenis operasi yang dapat dilakukan, yaitu pemasangan pin,
pemasangan plate dan screw, dan artroplasti yang dilakukan pada penderita umur di
atas 55 tahun, berupa: eksisi artroplasti, herniartroplasti, dan artroplasti total
Sebuah grup kerja di Hungaria intensif ditangani dengan masalah patah tulang
collum femur dan pengobatan bedah,. Manninger et al, mempelajari dari 740 pasien
yang menjalani perawatan bedah di Central Research Institute of Budapest antara
1972 dan 1977. Mereka berkesimpulan bahwa nekrosis avaskular head femur dapat
secara signifikan dikurangi melalui tindakan bedah dengan pengurangan dan fiksasi
fraktur yang dilakukan dalam waktu enam jam setelah trauma.
Pengobatan operatif hampir selalu dilakukan pada penderita fraktur leher femur
baik orang dewasa muda maupun dewasa tua karena:
1

Perlu reduksi yang akurat dan stabil

Diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk mencegah komplikasi paruparu dan ulkus dekubitus.
Fraktur yang bergeser tidak akan menyatu tanpa fiksasi interna. Fraktur yang
terimpaksi dapat dibiarkan menyatu, tetapi selalu terdapat resiko pergeseran pada
fraktur-fraktur itu, sekalipun berada di tempat tidur; jadi fiksasi akan lebih aman.
Prinsip terapi adalah reduksi yang tepat, fiksasi secara erat dan aktivitas dini.
Bila pasien dibawah anestesi, pinggul dan lutut difleksikan dan paha yang mengalami
fraktur ditarik ke atas, kemudian dirotasikan secara internal, lalu diekstensikan dan
diabduksi; akhirnya kaki diikat pada footpiece. Pengawasan dengan sinar-X
digunakan untuk memastikan reduksi pada foto anteroposterior dan lateral.
Diperlukan reduksi yang tepat pada fraktur stadium III dan IV; fiksasi pada fraktur

19

yang tak tereduksi hanya mengundang kegagalan. Kalau fraktur stadium III dan IV
tidak dapat direduksi secara tertutup, dan pasien berumur dibawah 60 tahun,
dianjurkan untuk melakukan reduksi terbuka melalui pendekatan anterolateral
(Solomon, 2010).

Gambar 7. Gardens Index untuk menilaireduksi pada subcapital fractures

Tetapi, pada pasien tua (yang berusia lebih dari 70 tahun) cara ini jarang
diperbolehkan; kalau dua usaha yang cermat untuk melakukan reduksi tertutup gagal,
lebih baik dilaksanakan pergantian prostetik.
Sekali direduksi, fraktur dipertahankan dengan pen atau skrup berkanula atau,
kadang-kadang dengan sekrup kompresi geser (sekrup pinggul yang dinamis) yang
ditempelkan pada batang femur. Insisi lateral digunakan untuk membuka femur
bagian atas. Kawat pemandu, yang disisipkan di bawah kendali fluoroskopik,
digunakan untuk memastikan bahwa penempatan alat pengikat telah tepat. Dua
sekrup berkanula sudah mencukupi; keduanya harus terletak sejajar dan memanjang
sampai plat tulang subkondral; pada foto lateral keduanya berada di tengah-tengah
pada kaput dan leher, tetapi pada foto anteroposterior sekrup distal terletak pada
dengan korteks inferior leher.

20

Bila tidak dilakukan operasi ini cara konservatif terbaik adalah langsung
immobilisasi dengan pemberian anastesi dalam sendi dan bantuan tongkat. Mobilisasi
dilakukan agar terbentuk pseudoartrosis yang tidak nyeri sehingga penderita
diharapkan bisa berjalan dengan sedikit rasa sakit yang dapat ditahan, serta sedikit
pemendekan.
Sejak hari pertama pasien harus duduk di tempat tidur atau kursi. Dia dilatih
melakukan latihan pernafasan, dianjurkan berusaha sendiri dan memulai berjalan
(dengan alat penopang atau alat berjalan) secepat mungkin. Secara teoritis, idealnya
adalah menunda penahanan beban, tetapi ini jarang dapat dipraktekkan.
Jenis-jenis operasi:
1

Pemasangan pin

Pemasangan plate and screw


Beberapa ahli mengusulkan bahwa prognosis untuk fraktur stadium III dan IV
tak dapat diramalkan sehingga penggantian prostetik selalu lebih baik. Karena itu,
kebijaksanaan kita adalah mencoba reduksi dan fiksasi pada semua pasien yang
berumur dibawah 75 tahun dan mempersiapkan penggantian untuk pasien yang
sangat tua dan sangat lemah dan pasien yang gagal menjalani reduksi tertutup.
Penggantian yang paling sedikit traumanya adalah prostesis femur atau prostesis
bipolar tanpa semen yang dimasukkan dengan pendekatan posterior. Penggantian
pinggul total mungkin lebih baik kalau terapi telah tertunda selama beberapa minggu
dan dicurigai ada kerusakan asetabulum, atau pada pasien dengan penyakit metastatik
atau penyakit paget.
Artroplasti; dilakukan pada penderita umur diatas 55 tahun, berupa:

Eksisi artroplasti (pseudoartrosis menurut Girdlestone)

Hemiartroplasti

Artroplasti total

21

Gambar 8. Penanganan pada fraktur collum femur

Pada pasien yang relatif muda, terdapat tiga prosedur, yaitu:


1

Kalau fraktur terlalu vertikal, tetapi kaput tetap hidup, osteotomi subtrokanter dengan
fiksasi paku-plat mengubah garis fraktur sehingga membentuk sudut yang lebih
horizontal.

Kalau reduksi atau fiksasi salah dan tidak terdapat tanda-tanda nekrosis, sekrup itu
pantas dibuang, fraktur direduksi, sekrup yang baru disisipkan dengan bener dan
juga menyisipkan cangkokan fibula pada fraktur itu;

Kalau kaput bersifat avaskular, kaput ini dapat diganti dengan prostesis logam; kalau
sudah terdapat atritis, diperlukan pergantian total.
Pada pasien yang berusia lanjut, hanya dua proses yang harus dipertimbanagkan,
yaitu:

Kalau nyeri tidak hebat, pengankatan tumit dan penggunaan tongkat yang kuat atau
kruk penopang siku sering sudah mencukupi.

Kalau nyerimya hebat, maka tak perduli apakah caput avaskular atau tidak, kaput ini
terbaik dibuang; kalau pasien cukup sehat, dilakukan pergantian sendi total
(Solomon, 2010).

22

2.2.7 Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:
a. Komplikasi yang bersifat umum; trombosis vena, emboli paru, pneumonia,
dekubitus
b. Nekrosis avaskuler kaput femur
Nekrosis avaskular terjadi pada 30% penderita dengan fraktur yang disertai
pergeseran dan 10% pada fraktur tanpa pergeseran.tidak ada cara untuk mendiagnosis
hal ini pada saat terjadi fraktur. Beberapa minggu kemudian, scan nanokoloid dapat
memperlihatkan berkurangnya vaskularitas. Perubahan pada sinar-X, meningkatnya
kepadatan pada kaput femoris mungkin tidak nyata selama berbualan-bulan atau
bahkan bertahun-tahun. Baik fraktur itu menyatu atau tidak, kolapsnya kaput femoris
akan menyebabkan nyeri dan semakin hilangnya fungsi. Apabila lokalisasi fraktur
lebih ke proksimal maka kemungkinan untuk terjadi nekrosis avaskular lebih besar.
Penanganan nekrosis avaskular kaput femur dengan atau tanpa gagal pertautan
juga dengan eksisi kaput dan leher femur dan kemudian diganti dengan protesis
metal.
c. Nonunion
Lebih dari 1/3 penderita dengan fraktur leher femur tidak dapat mengalami
union terutama pada fraktur yang bergeser. Komplikasi lebih sering pada fraktur
dengan lokasi yang lebih ke proksimal. Ini disebabkan kareana vaskularisasi yang
jelek, reduksi yang tidak adekuat, fiksasi yang tidak adekuat dan lokasi fraktur adalah
intra-artikuler.
Tulang di tempat fraktur remuk, fragmen terpecah dan paku atau sekrup
menjebol keluar dari tulang atau terjulur ke lateral. Pasien mengeluh nyeri, tungkai
memendek dan sukar berjalan. Metode pengobatan nekrosis avaskuler tergantung
penyebab terjadinya nonunion dan umur penderita.
d. Osteoartritis

23

Osteoartritis sekunder terjadi karena adanya kolaps kaput femur atau nekrosis
avaskuler. Kalau terdapat banyak kehilangan gerakan sendi dan kerusakan meluas ke
permukaan sendi, diperlukan pergantian sendi total.
2.2.8 Prognosis
Fraktur collum femur juga dilaporkan sebagai salah satu jenis fraktur dengan
prognosis yang tidak terlalu baik, disebabkan oleh anatomi collum femur itu sendiri,
vaskularisasinya yang cenderung ikut mengalami cedera pada cedera neck femur,
serta letaknya yang intrakapsuler menyebabkan gangguan pada proses penyembuhan
tulang.
2.3 Neglected Fracture
Neglected fracture dengan atau tanpa dislokasi adalah suatu fraktur dengan
atau tanpa dislokasi yang ditangani dengan tidak semestinya sehingga menghasilkan
keadaan keterlambatan dalam penanganan, atau kondisi yang lebih buruk dan bahkan
kecacatan. Menurut Prof dr. Subroto Sapardan, dalam penelitiannya di RSCM dan RS
Fatmawati Jakarta, Neglected fracture adalah penanganan patah tulang pada
extremitas (anggota gerak) yang salah oleh bone setter (dukun patah), yang masih
sering dijumpai di masyarakat Indonesia. Pada umumnya neglected fracture terjadi
pada yang berpendidikan dan berstatus sosio-ekonomi yang rendah.
2.3.1 Non-Union
Pada non-union, fraktur tidak menyatu tanpa intervensi. Pergerakan dapat
terjadi pada sisi yang patah dan nyeri berkurang; celah fraktur menjadi
pseudoartrosis. Gambaran x-ray jelas terlihat, salah satu sisi tulang dapat
menunjukkan pertumbuhan banyak kalus atau artrofi. Non-union terbagi menjadi
jenis artrofi dan hipertrofi. Pada hipertrofi ujung tulang melebar, menunjukkan
osteogenesis yang masih aktif, tidak mampu menjembatani celah antar tulang yang
patah. Ujung tulang tersebut meruncing atau membulat tanpa adanya pembentukan
tulang yang baru.

24

Gambar 9. Tipe Nonunion


http://image.bone-fractures-nonunion-diagnosis-and-management-at-college-hospital-dhakabangladesh-a.

a. Tata laksana Konservatif


Non-union kadang tanpa gejala, tanpa perlu penanganan atau pada sebagian
besar kasus melepaskan belat. Meskipun gejala muncul, tindakan operasi bukan satusatunya jawaban; dengan non-union hipertrofik, fungsi penguatan dapat menginduksi
penyatuan

tulang

tersebut,

tetapi

splintage

perlu

diperpanjang.

Pulsasi

elekromagnetik dan low-frequency dapat digunakan untuk menstimulasi penyatuan


tulang.
b. Tindakan Operatif
Hipertrofik non-union dan deformitas, fiksasi yang sangat kaku (internal atau
eksternal) dapat membantu penyatuan. Pada atrofik non-union, fiksasi saja tidak
cukup. Jaringan fibrin pada celah fraktur, sangat keras, ujung tulang yang sklerotik
dieksisi dan bone grafts diisi di sekitar fraktur. Jika die-back, hal ini akan
membutuhkan eksisi yang lebih luas dan penggunaan tehnik Ilizarov.
2.3.2 MalUnion
Malunion terjadi bila pada fraktur fragmen sendi pada posisi seperti angulasi, rotasi
atau pemendekan yang tidak semestinya. Penyebabnya yakni gagalnya reduksi dari
fraktur yang adekuat, gagalnya reduksi pada proses penyembuhan, atau kolaps secara
gradual dari tulang yang comminuted atau osteoporotic.
25

a. Gambaran Klinis
Deformitas biasanya jelas terlihat, namun kadang malunion yang luashanya
terlihat pada x-ray. Deformitas rotasi pada femur dapat tidak terlihat kecuali bila
dibandingkan dengan sisi yang sehat. X-ray cukup berguna untuk memeriksa posisi
fraktur yang menyatu. Terutama pada 3 minggu pertama, bila situasidapat berubah
tanpa peringatan. Pada tahap ini kadang sulit untuk memutuskan adanya malunion.
b. Tatalaksana Malunion
Malunion baru dapat ditangani sebelum fraktur benar-benar menyatu, keputusan
diperlukannya re-manipulasi atau koreksi mungkin sangat sulit. Beberapa pedoman
yang ada yakni:
1) Pada orang dewasa fraktur harus direduksi mendekati posisi anatomis jika
memungkinkan. Angulasi lebih dari 10-150 pada tulang panjang atau deformitas
rotasi yang jelas terlihat mungkin perlu dikoreksi melalui re-manipulasi, atau
melalui osteotomi dan fiksasi.
2) Pada anak-anak, deformitas angulasi di sekat ujung tulang (dan khususnya jika
deformitas pada bidang yang sama dimana pergerakan pada sendi yang
berdekkatan) biasanya akan remodeling seiring berjalannya waktu; deformitas
rotasi tidak akan terjadi.
3) Pada ekstremitas bawah, pemendekan lebih dari 2,0 cm jarang dapat diterima
pada pasien dan prosedur penyaman panjang ekstremitas diindikasikan.
4) Ekspektasi pasien (lebih kea rah kosmetik) berbeda dari ahli bedah.
5) Diskusi dengan pasien melalui hasil x-ray dapat membantu dalam memutuskan
penanganan dan pencegahan.
6) Sangat sedikit yang tahu mengenai efek jangka panjang dari deformitas angulasi
pada fungsi sendi. Walaupun demikian, ini terlihat sama dimana malalignment
lebih dari 150 pada bidang yang sama menyebabkan asimetrik dari sendi di atas
atau di bawah dan perkembangan yang lambat osteoarthritis sekunder; ini terjadi
terutama pada large weightbearing joint.

26

Gambar 10. Penanganan dengan internal fiksasi pada malunion (Solomon, 2010)

DAFTAR PUSTAKA
Apley, A. Graham. 2012. Buku Ajar: dan Fraktur Sistem Apley. Edisi 7. Jakarta:
Widya Medika
Hansen, John T. 2010. Netter Clinical Anatomy. 2nd Ed. Philadelphia: Saunders
http://image.slidesharecdn.com/33281866-bone-fractures-nonunion-diagnosis-andmanagement-at-shaheed-suhrawardy-medical-college-hospital-dhakabangladesh-a., diunduh tanggal 16 Januari, 2015

27

Romeo, Nicholas. 2015. Femur Injuries and Fracture.


http://emedicine.medscape.com/article/90779-overview

Available

at

Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed. 6. Jakarta:
EGC.
Solomon L, Warwick D, Nayagam S. 2010. Apleys System of Orthopaedics and
Fractures. Ed ke9. London: Hodder Arnold.
Thompson, Jon C. 2010. Netter Concise Orthopaedic Anatomy. 2 nd Ed. Philadelphia:
Saunders.

28