Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

STRIKTUR URETRA
STASE BEDAH
RSUD SALATIGA

Disusun oleh :
HARIS TAQWA
20100310176
Pembimbing :
Dr. Oemar Rusydi Sp.U

PRODI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2014

I.

Identitas Pasien
Nama : sumadi
Jenis kelamin : laki laki
Alamat : tegalrejo 01/01 tengaren semarang
Umur : 64 tahun
Tanggal masuk RS: 29 september 2014

II.

Anamnesis
Keluhan Utama : Buang air kecil netes, nyeri saat BAK
Riwayat Penyakit Sekarang :
- Pasien datang ke IGD pada jam 8.41 WIB kiriman dari dr. Oemar Sp.U dengan
striktur uretra pro businasi, keluhan BAK netes, nyeri saat BAK (+), demam (-),
pusing (-), mual (-),
Riwayat Penyakit Dahulu :
Belum pernah mondok
Tidak pernah mengalami sakit serupa
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada yang mengalami sakit serupa
Anamnesis sistem
Sistem cerebrospinal : Pusing (-), demam (-), penurunan kesadaran (-)
Sistem kardiovaskuler : nyeri dada (-)
Sistem respirasi
: Sesak nafas (-), batuk (-)
Sistem Gastrointestina l : mual (-), muntah (-), diare (-)
Sistem urinaria
: BAK tidak lancar
Sistem Muskuloskeletal : tidak ada kelemahan anggota gerak
Sistem Integumentum : tidak ada eritem (N)

III.

Pemeriksaan fisik
29 september 2014:
Keadaan Umum : Baik CM
Kiriman dr. Oemar Sp.U dengan striktur uretra pro businasi
Terapi : advice dr. oemar Sp.U
- Infus futrolit + RL 2:1
- Inj Ceftriaxone 3X1
- Rencana businasi striktur uretra
- Surat persetujuan
- Inj ceftriaxone 3X1 gram
30 september 2014
S : Nyeri suprapubic (+)
O : Keadaan Umum Baik CM

TD : 150/80 mmHg
N : 80x/Menit
Status lokalis abdomen : nyeri surapubic, NT suprapubic (+)
A : striktur uretra + retensi
P : pro businasi + meatotomi

STATUS GENERALIS

KEPALA DAN LEHER

Kepala : tidak ada kelainan


Mata : ca (-/-), si (-/-)
Hidung : tidak ada discharge
Mulut : tidak ada kelainan
Leher : tidak ada perbesaran limfonodi

THORAX PARU

Inspeksi : simetris antara paru kanan dan kiri


Palpasi : vocal fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor dikedua lapang paru
Aukultasi : suara vesikuler, Wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
COR : SI-II regular

ABDOMEN

Inspeksi : DBN
Auskultasi : BU (+)
Palpasi : NT (-), supel, Nyeri suprapubic
Perkusi : tympani

EXTREMITAS

Inspeksi : akral hangat, tidak ada deformitas, tidak ada keterbatasan gerak
Palpasi : Nyeri tekan (-), pulsasi dorsalis pedis teraba, edema (-), CTR <2S

STATUS LOKALIS
Abdomen
Inspeksi : normal
Auskultasi : BU (+)
Palpasi : region suprapubic NT (+), supel,
Perkusi : tympani

Instruksi Post OP
IV.

diet bebas
Obat if futrolit + RL : 2+2
Inj ceftriaxone 3X1gr
Kalnex 3x1 amp
Harnal OCAS 1X1

PEMBAHASAN
A. Definisi
Stricture urethra (striktur uretra) adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis
pada dindingnya akibat infeksi, trauma uretra atau kelainan kongenital.

B. Etiologi
Striktur Uretra dapat terjadi karena :
1) Kongenital
Hal ini jarang terjadi. Misalnya:
a) Meatus kecil pada meatus ektopik pada pasien hipospodia.
b) Divertikula kongenital -> penyebab proses striktura uretra.
2) Trauma
Merupakan penyebab terbesar striktura (fraktur pelvis, trauma uretra anterior,
tindakan sistoskopi, prostatektomi, katerisasi).
a) Trauma uretra anterior, misalnya karena straddle injury. Pada straddle injury,
perineal terkena benda keras, misalnya plantangan sepeda, sehingga menimbulkan
trauma uretra pars bulbaris.
b) Fraktur/trauma pada pelvis dapat menyebabkan cedera pada uretra posterior. Jadi
seperti kita ketahui, antara prostat dan os pubis dihubungkan oleh lig.
puboprostaticum. Sehingga kalau ada trauma disini, ligamentum tertarik, uretra
posterior bisa sobek. Jadi memang sebagian besar striktura uretra terjadi dibagianbagian yang terfiksir seperti bulbus dan prostat. Di pars pendulan jarang terjadi cedera
karena sifatnya yang mobile.
c) Kateterisasi juga bisa menyebabkan striktura uretra bila diameter kateter dan
diameter lumen uretra tidak proporsional.
3) Infeksi, seperti uretritis, baik spesifik maupun non spesifik (GO, TBC).
Kalau kita menemukan pasien dengan urteritis akut, pasien harus diberi tahu bahwa
pengobatannya harus sempurna. Jadi obatnya harus dibeli semuanya, jangan hanya
setengah apalagi sepertiganya. Kalau pengobatannya tidak tuntas, uretritisnya bisa
menjadi kronik. Pada uretritis akut, setelah sembuh jaringan penggantinya sama
dengan iarinqan asal. Jadi kalau asalnya epitel squamous, jaringan penggantinya juga
epitel squamous. Kalau pada uretritis kronik, setelah penyembuhan, jaringan
penggantinya adalah jarinqan fibrous. Akibatnya lumen uretra menjadi sempit, dan
elastisitas ureter menghilang. Itulah sebabnya pasien harus benar-benar diberi tahu
agar menuntaskan pengobatan. Di dalam bedah urologi dikatakan bahwa sekali
striktur maka selamanya striktur.

4) Tumor
Tumor bisa menyebabkan striktura melalui dua cara, yaitu proses penyembuhan tumor
yang menyebabkan striktura uretra, ataupun tumornya itu sendiri yang menaakibatkan
sumbatan uretra.
C. Patofisiologi
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada urethra akan menyebabkan
terbentuknya jaringan sikatriks pada urethra. Jaringan sikatriks pada lumen urethra
menimbulkan hambatan aliran urine hingga retensi urine. Aliran urine yang terhambat
akan mecari jalan keluar di tempat lain (di sebelah proksimal striktur) dan akhirnya
akan mengumpul di rongga periurethra. Jika terinfeksi menimbulkan abses periurethra
yang kemudian pecah membentuk fistula uretrokutan. Pada keadaan tertentu dijumpai
banyak sekali fistula sehingga disebut sebagai fistula seruling.
Struktur uretra terdiri dari lapisan mukosa dan lapisan submukosa. Lapisan mukosa
pada uretra merupakan lanjutan dari mukosa buli-buli, ureter dan ginjal. Mukosanya
terdiri dari epitel kolumnar, kecuali pada daerah dekat orifisium eksterna epitelnya
skuamosa dan berlapis. Submukosanya terdiri dari lapisan erektil vaskular.
Apabila terjadi perlukaan pada uretra, maka akan terjadi penyembuhan cara
epimorfosis, artinya jaringan yang rusak diganti oleh jaringan lain (jaringan ikat) yang
tidak sama dengan semula. Jaringan ikat ini menyebabkan hilangnya elastisitas dan
memperkecil lumen uretra, sehingga terjadi striktur uretra.
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur uretra dibagi menjadi tiga
tingkatan, yaitu derajat:
1. Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra
2. Sedang: jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen uretra
3. Berat : jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra
Pada penyempitan derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus
spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.
D. Manifestasi Klinis

1. Pancaran air kencing lemah


2. Pancaran air kencing bercabang

Pada pemeriksaan sangat penting untuk ditanyakan bagaimana pancaran urinnya.


Normalnya, pancaran urin jauh dan diameternya besar. Tapi kalau terjadi
penyempitan karena striktur, maka pancarannya akan jadi turbulen.
3. Frekuensi
Disebut frekuensi apabila kencing lebih sering dari normal, yaitu lebih dari tujuh
kali. Apabila sering krencing di malam hari disebut nocturia. Dikatakan nocturia
apabila di malam hari, kencing lebih dari satu kali, dan keinginan kencingnya itu
sampai membangunkannya dari tidur sehingga mengganggu tidurnya.
4. Overflow incontinence (inkontinensia paradoxal)
Terjadi karena meningkatnya tekanan di vesica akibat penumpukan urin yang terus
menerus. Tekanan di vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan di uretra.
Akibatnya urin dapat keluar sendiri tanpa terkontrol. Jadi disini terlihat adanya
perbedaan antara overflow inkontinensia (inkontinesia paradoksal) dengan flow
incontinentia. Pada flow incontinenntia, misalnya akibat paralisis musculus
spshincter urtetra, urin keluar tanpa adanya keinginan untuk kencing. Kalau pada
overflow incontinence, pasien merasa ingin kencing (karena vesicanya penuh),
namun urin keluar tanpa bisa dikontrol. Itulah sebabnya disebut inkontinensia
paradoxal.
5. Dysuria dan hematuria
6. Keadaan umum pasien baik
7. Buruk bila telah lama akibat adanya perubahan pada faal ginjal : infeksi >
striktur refluks > hidroureter > hidronefrosis > faal ginjal turun.
E. Diagnosis
Penegakan Diagnosis
1. Pemeriksaan Fisik
* Anamnesa:
Untuk mencari gejala dan tanda adanya striktur uretra dan juga mencari penyebab
striktur uretra.
* Pemeriksaan fisik dan lokal:
Untuk mengetahui keadaan penderita dan juga untuk meraba fibrosis di uretra,
infiltrat, abses atau fistula.
2. Pemeriksaan Penunjang

* Laboratorium
- Urin dan kultur urin untuk mengetahui adanya infeksi
- Ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal
* Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan pancaran urin.
Volume urin yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan lamanya proses miksi.
Kecepatan pancaran urin normal pada pria adalah 20 ml/detik dan pada wanita 25
ml/detik.Bila kecepatan pancaran kurang dari harga normal menandakan ada
obstruksi.
* Radiologi
Diagnosa pasti dibuat dengan uretrografi, untuk melihat letak penyempitan dan
besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai panjang
striktur adalah dengan membuat foto bipolar sistouretrografi dengan cara
memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara retrograd dari
uretra. Dengan pemeriksaan ini panjang striktur dapat diketahui sehingga penting
untuk perencanaan terapi atau operasi.
* Instrumentasi
Pada pasien dengan striktur uretra dilakukan percobaan dengan memasukkan kateter
Foley ukuran 24 ch, apabila ada hambatan dicoba dengan kateter dengan ukuran yang
lebih kecil sampai dapat masuk ke buli-buli. Apabila dengan kateter ukuran kecil
dapat masuk menandakan adanya penyempitan lumen uretra.
* Uretroskopi
Untuk melihat secara langsung adanya striktur di uretra. Jika diketemukan adanya
striktur langsung diikuti dengan uretrotomi interna (sachse) yaitu memotong jaringan
fibrotik dengan memakai pisau sachse.
Diagnosis Banding
1. Batu Saluran Kemih (Urolithiasis)
a. Batu Pelvis Ginjal

Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana sehingga hanya menempati
bagian pelvis, tetapi dapat juga tumbuh mengikuti bentuk susunan pelviokaliks,
sehingga bercabang menyerupai tanduk rusa. Kadang batu hanya terdapat di suatu
kaliks. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi tanpa gejala sampai dengan gejala
berat. Umumnya gejala batu saluran kemih merupakan akibat dari obstruksi aliran
kemih atau infeksi.
Nyeri di daerah pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga kolik atau nyeri yang terus
menerus dan hebat karena adanya pionefrosis. Pada pemeriksaan fisik mungkin
kelainan sama sekali tidak ada, sampai mungkin terabanya ginjal yang membesar
akibat adanya hidronefrosis. Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah
arkus costa pada sisi ginjal yang terkena. Sesuai dengan gangguan yang terjadi, batu
ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis, sedangkan
batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik
b. Batu Ureter
Anatomi ureter menunjukkan beberapa tempat penyempitan yang memungkinkan
batu ureter dapat terhenti, karena adanya peristaltis maka akan terjadi gejala kolik
yaitu nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual dengan atau tanpa muntah
dengan nyeri alih khas. Selama batu bertahan di tempat yang menyumbat, selama itu
kolik akan datang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan pada air kemih
untuk lewat.
Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar
bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa
nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter
sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang
mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan
kolik. Bila keadaan obstruksi terus berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi
dapat berupa hidronefrosis dengan atau tanpa pielonefritis, sehingga menimbulkan
gambaran infeksi umum.
c. Batu Vesica Urinaria
Karena batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan leher kandung kemih,
maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan terhenti dan menetes disertai
dengan rasa nyeri. Pada anak, menyebabkan anak yang bersangkutan menarik

penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang agak panjang. Bila pada saat sakit
tersebut penderita berubah posisi maka suatu saat air kemih akan dapat keluar karena
letak batu yang berpindah. Bila selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, maka nyeri
menetap di suprapubik
d. Batu Postat
Pada umunya batu prostat juga berasal dari air kemih yang secara retrograde
terdorong ke dalam saluran prostat dan mengendap, yang akhirnya berupa batu yang
kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala sama sekali karena tidak
menyebabkan gangguan pasase air kemih
e. Batu Urethra
Batu uretra umumnya merupakan batu yang berasal dari ureter atau vesika urinaria
yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa ke uretra, tetapi menyangkut di tempat
yang agak lebar. Tempat uretra yang agak lebar ini adalah di pars bulbosa dan di fossa
navikular. Bukan tidak mungkin dapat ditemukan di tempat lain. Gejala yang
ditimbulkan umumnya sewaktu miksi tiba-tiba terhenti, menjadi menetes dan terasa
nyeri. Penyulit dapat berupa terjadinya divertikel, abses, fistel proksimal, dan uremia
karena obstruksi urin
1. Karsinoma Prostat
Ca Prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat dimana sel-sel
kelenjar prostat tumbuh abnormal dan tidak terkendali. Keganasan prostate
merupakan keganasan saluran kemih kedua paling sering dijumpai sesudah keganasan
kandung kemih. Jarang ditemukan angka kejadian keganasan prostat yang tinggi di
dalam satu keluarga. Keganasan prostat sama dengan prostat normal, untuk
pertumbuhan dan perkembangannya tergantung pada hormon androgen. Hal ini tidak
berarti bahwa karsinoma prostat disebabkan oleh hormon androgen. Banyak
keganasan prostat sensitif terhadap hormon, sehingga dapat digunakan pengobatan
hormonal.
Keganasan prostat biasanya beruapa adenokarsinoma yang berasal dari kelenjar
prostat yang menjadi hipotrofik pada usia dekade kelima sampai ke tujuh. Karsinoma
prostat biasanya berupa lesi multisentrik. Derajad keganasan didasarkan pada
diferensiasi kelenjar, atipi sel, dan kelainan inti sel. Derajad G I yaitu berdeferensiasi

baik, dejajad G II yang berdeferensiasi sedang, dan derajad G-III yang berdeferensiasi
buruk. Pembagian derajad keganasan ini merupakan indikator pertumbuhan dan
progresivitas tumor. Karsinoma prostat menyebar kekelenjar limfe di panggul
kemudian ke kelenjar limfe retroperitoneal atas. Penyebaran hematogen terjadi
melalui v. Vertebralis ke tulang lumbal, dan tulang iga, artinya terutama tualang yang
berdekatan pada prostat. Metastasis tulang sering bersifat osteoklasik.
Karsinoma prostat stadium A biasanya di temukan secara kebetulan pada pemeriksaan
histologik setelah prostatektomi atau TUR. Pada stadium lain karsinoma prostat
biasanya ditemukan pada pemeriksaan colok dubur dan teraba nodul. Karena pada
stadium permulaan karsinoma prostat tidak memberikan gejala atau tanda klinik maka
kebanyakan penderita baru datang pada stadium lanjut dengan keluhan obstruksi
infravesika / LUTS, retensi urune, fematuri, hidronefrosis, gagal ginjal atau tanda
metastasis ke tulang atau organ lain, seperti gejala lesi medula spinalis, nyeri pada
tulang, fraktur patalogik. Kadang metastasis ketualang pun tidak memberi keluhan
yang jelas. Keganasan prostat sering ditemukan secara kebetulan pada penderita yang
disangkan menderita hipertrofi prostat, pada pemeriksaan patologik ditemukan
karsinoma insidental.
Faktor utama yang berpengaruh pada penyebarannya adalah lokasi kanker.
Kemungkinan menyebar lebih besar bila terdapat di apeks atau di basal karena
lemahnya kapsul pada lokasi ini. Metastasis hematogenik yang sering terjadi adalah
penyebaran ke tulang vertebra lumbal, tualang panggul, tulang femur proksimal,
tulang iga, tulang sternum, dan tulang kepala.
Pada pemeriksaan biasanya didapatkan gejala-gejala iritasi (sering kencing/frequency,
tergesa-gesa ingin kencing/urgency, sering kencing malam hari/nocturia dan sulit
menahan kencing/urge incontinen), atau gejala-gejala obstruksi (kencing harus
menunggu lama/hesitancy, pancaran kencing lemah, kencing tidak lampias, terputusputus/intermittency, dan harus mengedan untuk memulai kencing/straining).
Kemudian riwayat keluarga, akan ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang sakit
kanker prostat atau meninggal karena kanker prostat. Riwayat makanan (banyak
mengkonsumsi lemak jenuh/lemak hewani) juga biasa ditanyakan karena termasuk
salah satu faktor resiko.
F. Penatalaksanaan

1.

Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan

kateter
2.
Medika mentosa

Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.

Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.


3.
Pembedahan

Sistostomi suprapubis

Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.

Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse.


Otis dimasukkan secara blind ke dalam bulibuli jika striktur belum total. Jika lebih
berat dengan pisau sachse secara visual.

Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa pemotonganjaringan


fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.
4.

Pencegahan

Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat.
Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan
perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.
G. Komplikasi
a.

Infeksi saluran kemih.(prostatitis, sistitis, divertikel buli-buli/uretra, abses

periuretra, batu uretra, fistel utero-kutan.


b.
Degenerasi maligna menjadi karsinoma uretra
V.

KESIMPULAN
Pasien ini pada saat dilakukan miatotomi dan businasi dan pasang DC BAK masih
tidak lancar namun terjadi peningkatan pengeluaran volume urine. Untuk
mengetahui penyebab retensi urin tersebut pasien diobservasi dilakukan
pemeriksaan USG untuk mengetahui kemungkinan terjadinya kelemahan detrusor
muscle kandung kemih, dan selanjutnya bisa dilakukan penatalaksanaan.
DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C.,et al.1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai