Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Imunisasi
1. Pengertian Imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia
terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara
timbulnya maka terdapat dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan
kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari
luar tubuh, bukan dibuat oleh indivindu itu sendiri. Contohnya adalah
kekebalan pada jenis yang diperoleh dari ibu, atau kekebalan yang
diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin,kekebalan pasif
tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh.
Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat
terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah,
kekebalan aktif biasanya berlangsung lebih lama.
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila terkena
antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit (Ranuh,2008,p.10).
Imunisasi merupakan suatu program yang dengan sengaja
memasukkan antigen lemah agar merangsang antibodi keluar sehingga
tubuh dapat resisten terhadap penyakit tertentu. Sistem imun tubuh
mempunyai suatu sistem memori (daya ingat), ketika vaksin masuk
kedalam tubuh, maka akan dibentuk antibodi untuk melawan vaksin
tersebut dan sistem memori akan menyimpannya sebagai suatu
pengalaman. Jika nantinya tubuh terpapar dua atau tiga kali oleh antigen
yang sama dengan vaksin maka antibodi akan tercipta lebih kuat dari
vaksin yang pernah dihadapi sebelumnya (Atikah,2010,p.8).

2. Jenis-jenis imunisasi
Imunisasi telah dipersiapkan agar tidak menimbulkan efek-efek
yang merugikan. Imunisasi ada 2 macam, yaitu:
a. Imunisasi aktif
Merupakan suatu pemberian bibit penyakit yang telah
dilemahkan (vaksin) agar nantinya sistem imun tubuh berespon
spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini,
sehingga ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan
merespon.
b. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh
dengan cara pemberian zat immunoglobulin, yaitu zat yang
dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari
plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui
placenta) atau binatang yang digunakan untuk mengatasi
mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi
(Atikah,2010).
3. Jadwal Imunisasi menurut IDAI

Gambar 1. Jadwal Imunisasi menurut IDAI


4. Penyimpanan Vaksin
a. Semua vaksin disimpan pada suhu 20C sampai dengan 80C
b. Bagian bawah lemari es diletakkan cool pack sebagai penahan dingin
dan kestabilan suhu
c. Peletakan dus vaksin mempunyai jarak antara minimal 1-2 cm atau
satu jari tangan
d. Vaksin BCG, Campak, Polio diletakkan dekat dengan evaporator
e. Vaksin DPT, TT, DT, Hepatitis B, DPT diletakkan jauh dengan
evaporator
f. Vaksin dalam lemari es harus diletakkan dalam kotak vaksin (Depkes
RI, 2006, p.37).

10

5. Macam-macam imunisasi
a. Vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Pengertian
Bacillus Calmette Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat
dariMycobacterium bovisyang dibiak berulang selama 1-3 tahun
sehingga didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih
mempunyai imunogenitas.
Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin. Sama halnya
seperti vaksin- vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada
penderita infeksi berat disertai kejang.
Efek samping
Reaksi

lokal

seperti

rasa

sakit,

kemerahan

dan

pembengkakan disekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi


bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari. (Departemen
Kesehatan RI,2006,p.28)
b. Vaksin Polio (Oral Polio Vaccine)
Pengertian
Vaksin Oral Polio adalah vaksin yang terdiri dari suspense
virus

poliomyelitistipe

1,2,3

(Strain

Sabin)

yang

sudah

dilemahkan, dibuat dibiakkan jaringan ginjal kera dan distabilkan


dengan sukrosa.
Cara pemberian dan dosis:
a) Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis ada 2 (dua)
tetes sebanyak 4 kali (disis) pemberian dengan interval setiap
dosis minimal 4 minggu.
b) Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes
(dropper) yang baru.
Indikasi

11

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis.


Kontra indikasi
Pada individu yang mnderita immune deficiency tidak ada
efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada
anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya
sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan
setelah sembuh.
Efek samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Efek samping
berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi.
(Departemen Kesehatan RI,2006,p.26)
c. Vaksin Campak
Pengertian
Vaksin Campak merupakan vaksin virus hidup yang
dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari
1000 inektive unit virus strain dan tidak lebih dari 100 mcg residu
kanamycin dan 30 mcg residu erithromycin.
Cara pemberian dan dosis:
a) Sebelum disuntikkan vaksin campak terlebih dahulu harus
dilarutlan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi
5 ml cairan pelarut.
b) Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada
lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangn (booster)
pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up
campaigncampak pada anak Sekolah Dasar kelas 1-6.
Indikasi
Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak.
Kontra indikasi

12

Individu yang mengidap penyakitimmune deficiency atau


individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena
leukemia, limfoma.
Efek samping
Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan
kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah
vaksinasi (Departemen Kesehatan RI,2006,p. 27).
Manfaat imunisasi
a. Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit,
dan kemungkinan cacat atau kematian.
b. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan

dan

psikologi

pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga


apabila orang tua yakin bahwa anaknya menjalani masa kanak-kanak
yang nyaman.
c. Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa
yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara
(Atikah,2010,pp.5-6).
Tujuan imunisasi
Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada
seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok
masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari
dunia seperti pada imunisasi cacarvariola.(Ranuh,2008,p.10).
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan kepada
bayi agar dapat mencegahpenyakit dan kematian bayi serta anak yang
disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit. Secara umum tujuan
imunisasi, antara lain:
a) Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular.
b) Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular.

13

c) Imunisasi menurunkan angka morbiditas (angka kesakitan) dan


mortalitas (angka kematian) pada balita.
6. KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)
a. Pengertian
Menurut Komite Nasional Pengajian dan Penanggulangan KIPI
(KN PP KIPI), KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ) adalah
semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu
bulan setelah imunisasi. Umumnya reaksi terhadap obat dan vaksin
merupakan reaksi simpang (adverse events), merupakan kejadian lain
yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin. Reaksi samping
vaksin antara lain dapat berupa efek farmakologi, efek samping,
interaksi obat dan reaksi alergi.
KIPI adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi
dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (Ranuh, dkk., 2001, p.37).
b. Faktor Penyebab
Kelompok Kerja (Pokja) KIPI Depkes RI membagi penyebab
KIPI menjadi 5 kelompok faktor etiologi yaitu:
1) Kesalahan
program/teknik
pelaksanaan

(Programmic

errors)Sebagian kasus KIPI berhubungan dengan masalah


program dan teknik pelaksanaan imunisasi yang meliputi
kesalahan program penyimpanan, pengelolaan, dan tata laksana
pemberian vaksin. Kesalahan tersebut dapat terjadi pada berbagai
tingkatan prosedur imunisasi, misalnya:
Dosis antigen (terlalu banyak)
Lokasi dan cara menyuntik
Sterilisasi semprit dan jarum suntik
Jarum bekas pakai
Tindakan aseptik dan antiseptik
Kontaminasi vaksin dan perlatan suntik
Penyimpanan vaksin
Pemakaian sisa vaksin
Jenis dan jumlah pelarut vaksin
Tidak memperhatikan petunjuk produsen
14

2) Reaksi suntikan
Semua gejala klinis yang terjadi akibat trauma tusuk jarum
suntik baiklangsung maupun tidak langsung harus dicatat sebagai
reaksi KIPI. Reaksi suntikan langsung misalnya rasa sakit,
bengkakdan kemerahan pada tempat suntikan, sedangkan reaksi
suntikan tidak langsung misalnya rasa takut, pusing, mual,
sampai sinkope.
3) Induksi vaksin (reaksi vaksin)
Gejala KIPI yang disebabkan induksi vaksin umumnya
sudah dapat diprediksi terlebih dahulu karena merupakan reaksi
simpang vaksin dan secara klinis biasanya ringan. Walaupun
demikian dapat saja terjadi gejala klinis hebat seperti reaksi
anafilaksis sistemik dengan resiko kematian.
Reaksi simpang ini sudah teridentifikasi dengan baik dan
tercantum dalam petunjuk pemakaian tertulis oleh produsen
sebagai indikasi kontra, indikasi khusus, perhatian khusus,
atauberbagai tindakan dan perhatian spesifik lainnya termasuk
kemungkinan interaksi obat atau vaksin lain. Petunjuk ini harus
diperhatikan dan ditanggapi dengan baik oleh pelaksana
imunisasi.
4) Faktor kebetulan (Koinsiden)
Seperti telah disebutkan di atas maka kejadian yang timbul
ini terjadi secara kebetulan saja setelah diimunisasi. Indikator
faktor kebetulan ini ditandai dengan ditemukannya kejadian yang
sama disaat bersamaan pada kelompok populasi setempat dengan
karakteristik serupa tetapi tidak mendapatkan imunisasi.
5) Penyebab tidak diketahui
Bila kejadianatau masalah yang dilaporkan belum dapat
dikelompokkan kedalam salah satu penyebab maka untuk
15

sementara dimasukkan kedalam kelompok ini sambil menunggu


informasi lebih lanjut. Biasanya dengan kelengkapan informasi
tersebut akan dapat ditentukan kelompok penyebab KIPI (Ranuh,
dkk., 2005, p.97-98).
c. GejalaKlinis KIPI
Gejala klinis KIPI dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat
dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi
lainnya. Pada umumnya makin cepat KIPI terjadi makin cepat gejalanya.
1) Reaksi KIPIlokal
Abses pada tempat suntikan
Limfadenitis
Reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis, BCG-itisb.
2) Reaksi KIPIsusunan syaraf pusat
Kelumpuhan akut
Ensefalopati
Ensefalitis
Meningitis
Kejang
3) Reaksi KIPIlainnya
Reaksi alergi: urtikaria, dermatitis, edema
Reaksi anafilaksis
Syok anafilaksis
Demam tinggi >38,5C
Episode hipotensif
Hiporesponsif
Osteomielitis
Menangis menjerit yang terus menerus
Setelah pemberian setiap jenis imunisasi harus dilakukan observasi
selama 15 menit.untuk menghindarkan kerancuan maka gejala klinis yang
dianggap sebagai KIPI dibatasi dalam jangka waktu tertentu.

d. Survailans KIPI

16

Survailans KIPI adalah kegiatan untuk mendeteksi dini, merespon kasus


KIPI dengan cepat dan tepat, mengurangi dampak negatif imunisasi untuk
kesehatan individu dan pada program imunisasi dan merupakan indikator
kualitas program.
Kegiatan survailans KIPI meliputi
1)Mendeteksi, memperbaiki, dan mencegah kesalahan program
2)Mengidentifikasi peningkatan rasio KIPI yang tidak wajar pada
petunjuk vaksin atau merek vaksin tertentu
3)Memastikan bahwa suatu kejadian yang diduga KIPI
merupakan koinsiden (suatu kebetulan)
4)Memberikan kepercayaaan masyarakat pada program imunisasi
dan memberi respon yang tepat terhadap perhatian orang
tua/masyarakat

tentang

keamanan

imunisasi

di

tengah

kepedulian (masyarakat dan professional) tentang adanya


resiko imunisasi
5)Memperkirakan angka kejadian KIPI (rasio KIPI) pada suatu
populasi (Depkes RI, 2006, p.98).
e. Pelaporan KIPI
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan :
1) Identitas : nama anak, tanggal dan tahun lahir, jenis kelamin
nama orang tua dan alamat harus jelas
2) Jenis vaksin yang diberikan, dosis, siapa yang memberikan.
Vaksin sisa disimpan dan diperlakukan seperti vaksin yang
masih utuh
3) Nama dokter yang bertanggung jawab
4) Riwayat KIPI pada imunisasi terdahulu
5) Gejala klinis yang timbul dan atau diagnosis, pengobatan yang
diberikan dan dan perjalanan penyakit, (sembuh, dirawat atau
meninggal, sertakan hasil laboratorium yang pernah dilakukan
tulis juga apabila terdapat penyakit yang menyertai
6) Waktu pemberian imunisasi (tanggal, jam)
17

7) Saat timbulnya gejala KIPI sehingga diketahui, berapa lama


interval waktu antara pemberian imunisasi dengan terjadinya
KIPI, lama gejala KIPI
8) Apakah terdapat gejala sisa, setelah dirawat dan sembuh
9) Bagaimana cara menyelesaikan masalah KIPI
10) Adakah tuntutan dari keluarga
11) Angka Kejadian KIPI

18