Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

ASMA BRONCHIAL
1. KONSEP MEDIS
A. DEFINISI

Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons


trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya
penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara
spontan maupun sebagai hasil pengobatan (The American Thoracic Society,
1962). Muttaqin, Arif: 2008
Asma bronchial adalah penyakit inflamasi obstruktif yang ditandai oleh
periode episodic spasme otot-otot polos dalam dinding saluran udara bronchial
(spasme bronkus). Spasme bronkus ini menyempitkan jalan nafas, sehingga
membuat pernafasan menjadi sulit dan menimbulkan bunyi mengi. Asih, Niluh
Gede Yasmin: 2004
Asma bronchial adalah inflamasi pada jalan nafas. Pasien-pasien mengalami
episode batuk, mengi, dada terasa seperti diikat, dan/atau dispnea (sesak nafas),
yang sering memburuk saat malam atau pagi hari. Terdapat variasi keparahan dan
frekuensi serangan. Asma dapat didefinisikan sebagai Peningkatan responsivitas
bronkus terhadap berbagai stimulus, bermanifestasi sebagai penyempitan jalan
nafas yang meluas yang keparahannya berubah secara spontan maupun berbagai
akibat pengobatan. J.P.T. Ward, Richard M. Leach, Charles M. Wiener:
2006
B. ETIOLOGI
Asma dapat digolongkan sebagai asma ekstrinsik, yang memiliki penyebab
eksternal pasti, dan asma intrinsic, yang tidak memiliki penyebab eksternal yang
dapat didentifikasi. Asma ekstrinsik sering terjadi sebagai akibat respons alergik,
dengan terbentuknya antibody IgE terhadap antigen spesifik (asma alergik atau
atopic) dan cenderung mulai pada masa kanak-kanak dengan gejala-gejala yang

semakin kurang berat seiring pertambahan usia; 80% penderita asma adalah
atopic. Asma intrinsic biasanya terjadi pada orang dewasa dan tidak membaik.
1. Faktor ekstrinsik / alergik / stofik
Reaksi antigen-antibodi : Karena intalasi allergen (debu, serbuk-serbuk, bulubulu, binatang).
2. Factor intrinsic / non alergik
a. Infeksi
: Influenza virus, pneumonia, mycoplasma.
b. Fisik
: Cuaca dingin, perubahan temperature.
c. Iritan
: Kimia, polusi udara (co, udara, asap rokok, parfum).
d. Emosional
: Takut, cemas, tegang.
3. Aktifitas yang berlebihan juga dapat menjadi factor pencetus asma bronchial
berhubungan dengan factor :
a. Hereditas (50%)
b. Kejiwaan / psikis
c. Stress fisik.
C. PATOFISIOLOGI
Serangan awal asma dapat terjadi pada masa kanak-kanak atau dewasa,
episode asma akut, yang disebut sebagai serangan asma dapat dicetuskan oleh
stress, olahraga berat, infeksi, atau pemajanan terhadap allergen atau iritan lain
seperti debu dan sebagainya. Banyak klien asma dalam keluarganya mempunyai
riwayat alergi. Dispnea adalah gejala utama asma, tetapi hiperventilasi, sakit
kepala, kebas, dan mual juga dapat terjadi.
Serangan asmatik terjadi akibat beberapa perubahan fisiologi termasuk
perubahan dalam respons imunologi, resistensi jalan udara yang meningkat,
komplians paru yang meningkat, fungsi mukosilaris yang mengalami kerusakan,
dan pertukaran oksigen-karbon dioksida yang berubah.
Asma imunologis adalah akibat dari reaksi antigen-antibodi yang melepaskan
mediator kimiawi, dimana mediator tersebut menyebabkan 3 reaksi utama; (1)
konstriksi otot polos baik pada jalan nafas yang kecil maupun yang besar, yang
mengakibatkan

spasme

bronkus;

(2)

peningkatan

permeabilitas

yang

mengakibatkan edema mukosa yang lebih jauh lagi menyempitkan jalan udara;
(3) peningkatan sekresi kelenjer mukosa dan meningkatkan pembentukan lendir.
Sebagai akibat, individu dengan serangan asma berjuang untuk bernapas melalui

jalan nafas yang telah menyempit dan dalam keadaan spasme. Asih, Niluh Gede
Yasmin : 2004

Pathway
Alergen atau Antigen yang telah terikat oleh IgE yang menancap
pada permukaan sel mast atau basofil

Lepasnya macam-macam mediator dari sel mast atau basofil

Kontraksi otot polos

Spasme otot polos, sekresi kelenjar bronkus meningkat

Penyempitan/obstruksi proksimal dari bronkus kecil

pada tahap inspirasi dan ekspirasi


Ketidak Efektifan
Bersihan Jalan
Nafas

Edema mukosa bronkus

Keluarnya sekrit ke dalam lumen bronkus

Ansietas

Sesak napas

Tekanan partial oksigen di alveoli menurun

Gangguan
Pertukaran
gas

Oksigen pada peredaran darah menurun

Hipoksemia

Gangguan Perfusi
jaringan

CO2 mengalami retensi pada alveoli

Kadar CO2 dalam darah meningkat yang


memberi rangsangan pada pusat pernapasan

Ketidak Efektifan
Pola nafas

Hiperventilasi

D. MANIFESTASI KLINIS
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala
klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam,
gelisah, duduk dengan menyangga kedepan, serta tanpa otot-otot bantu pernfasan
bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronchial ini adalah sesak nafas,

Gangguan pertukaran gas

batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri dada. Gejala-gejala
yang timbul makin banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan
kesadaran, hyperinflasi dada tachicardi dan pernafasan cepat dangkal. Serangan
asma bronchial seringkali terjadi pada malam hari.
a. Dispnea yang bermakna.
b. Batuk, terutama dimalam hari.
c. Pernapasan yang dangkal dan cepat.
d. Mengi yang dapat terdengar pada auskultasi paru. Biasanya mengi terdengar
hanya saat ekspirasi, kecuali kondisi pasien parah.
e. Peningkatan usaha bernafas, ditandai dengan retraksi dada, disertai
perburukan kondisi, napas cuping hidung.
f. Kecemasan, yang berhubungan dengan ketidakmampuan mendapat udara
yang cukup.
g. Udara terperangkap karena obstruksi aliran darah, terutama terlihat selama
ekspirasi pada pasien asma. Kondisi ini terlihat dengan memanjangnya waktu
ekspirasi.
h. Diantara serangan asmatik, individu biasanya asimtomatik. Akan tetapi, dalam
pemeriksaan perubahan fungsi paru mungkin terlihat bahkan diantara
serangan pada pasien yang memiliki asma persisten. Corwin, Elizabeth j:
2009
E. PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan Nonfarmakologi
a. Penyuluhan. Penyuluhan ini ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan klien
tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari factor-faktor
pencetus, menggunakan obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim
kesehatan.
b. Menghindari factor pencetus. Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus
serangan asma yang ada pada lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan
mengurangi factor pencetus, termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.
c. Fisioterapi, dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mucus. Ini
dapat dilakukan dengan postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.
2. Pengobatan Farmakologi

a. Agonis beta: metaproterenol (alupent, metrapel). Bentuknya aerosol, bekerja


sangat cepat, diberikan sebanyak 3-4 x semprot, dan jarak antara semprotan
pertama dan kedua adalah 10 menit.
b. Metilxantin, dosis dewasa diberikan 125-200 mg 4 x sehari. Golongan
metilxantin adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan
beta agonis tidak memberikan hasil yang memuaskan.
c. Kortikosteroid. Jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respons
yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol
dengan dosis 4 x semprot tiap hari. Pemberian steroid dalam jangka yang lama
mempunyai efek samping, maka klien yang mendapat steroid jangka lama
harus diawasi dengan ketat.
d. Kromolin dan Iprutropioum bromide (atroven). Kromolin merupakan obat
pencegah asma khususnya untuk anak-anak. Dosis Iprutropioum Bromide
diberikan 1-2 kapsul 4 x sehari (Kee dan Hayes, 1994). Muttaqin, Arif: 2008
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pengukuran Fungsi Paru (Spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator
aerosol golongan adrenergic. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari
20% menunjukkan diagnosis asma.
2. Tes Provokasi Bronkhus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau
lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap
bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih.
3. Pemeriksaan Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibody IgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Analisa Gas Darah (AGD / Astrup).
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia,
hiperkapnea, dan asidosis respiratorik.
b. Sputum
Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat,
karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema
mukosa, sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya.

Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut


kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotic.
c. Sel eosinofil.
Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 10001500/mm3 baik asma intrinsic ataupun ekstrinsik, sedangkan hitungan sel
eosinofil normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru diseratai
penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat.
d. Pemeriksaan darah rutin dan kimia.
Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm 3 terjadi karena adanya infeksi.
SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau
hiperkapnea.
5. Pemeriksaan Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronchial biasanya
normal, tetapi prosedur ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya proses patologi diparu atau komplikasi asma seperti
pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasis, dan lain-lain. Muttaqin, Arif:
2008
G. PROGNOSIS
Factor-faktor yang mempengaruhi prognosis:
a. Usia ketika serangan pertama timbul, seringnya serangan asma berat
ringannya serangan asma, terutama pada 2 tahun sejak mendapatkan serangan
b.
c.
d.
e.
f.

asma.
Banyaknya factor atopi ditemukan pada diri anak dan keluarganya.
Menderita atau pernah menderita aksema infaintel yang sulit diatasi
Lamanya minum susu ibu
Usaha pengobatan dan penanggulangannya
Apakah ibu / bapak / teman sekamar / perumah perokok polusi udara yang

lain rumah juga dapat mempengaruhi.


g. Penghindaran allergen yang dimakan sejak hamil dan pada waktu menyusui
h. Jenis kelamin, kelainan hormonal dan lain-lain.

H. KOMPLIKASI

Status asmatikus adalah keadaan spasme bronkiolus berkepanjangan yang


mengancam jiwa yang tidak dapat dipulihkan dengan pengobatan dapat terjadi
pada beberapa individu. Pada kasus ini, kerja pernapasan sangat meningkat.
Apabila kerja pernapasan meningkat, kebutuhan oksigen juga meningkat. Karena
individu yang mengalami serangan asma tidak dapat memenuhi kebutuhan
oksigen normalnya, individu semakin tidak sanggup memenuhi kebutuhan
oksigen yang sangat tinggi yang dibutuhkan untuk berinspirasi dan berekspirasi
melawan spasme bronkiolus, pembengkakan bronkiolus, dan mucus yang kental.
Situasi ini dapat menyebabkan pneumothoraks akibat besarnya tekanan untuk
melakukan ventilasi. Apabila individu kelelahan, dapat terjadi asidosis
respiratorik, gagal nafas, dan kematian. Corwin, Elizabeth J:2009

KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Keluhan utama
Keluhan utama meliputi sesak nafas, bernafas terasa berat pada dada, dan
adanya keluhan sulit untuk bernafas.
2. Riwayat penyakit saat ini

Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama dengan


keluhan sesak nafas yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejalagejala lain seperti wheezing, penggunaan otot bantu pernapasan, kelelahan,
gangguan kesadaran, sianosis, dan perubahan tekanan darah.
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang biasa diminum klien dan memeriksa
kembali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali
3. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya infeksi
saluran pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung.
Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu, dan alergen-alergen yang dicurigai
sebagai pencetus serangan, serta riwayat pengobatan yang dilakukan untuk
meringankan gejala asma.
4. Riwayat penyakit keluarga
Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma
atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitivitas
pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh factor genetic dan lingkungan.
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Perawat juga perlu mengkaji tentang kesadaran klien, kecemasan,
kegelisahan, kelemahan suara bicara, denyut nadi, frekuensi pernapasan yang
meningkat, penggunaan otot-otot bantu pernapasan, sianosis, batuk dengan
lender lengket, dan posisi istirahat klien.
b. Inspeksi
Pada klien asma terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan. Inspeksi dada terutama
untuk melihat postur bentuk dan kesimetrisan, adanya peningkatan diameter
anteroposterior, retraksi otot-otot interkostalis, sifat dan irama pernapasan,
dan frekuensi pernapasan.
c. Palpasi
Pada palpasi biasanya kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal.
d. Perkusi

Pada perkusi didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan


diafragma menjadi datar dan rendah.
e. Auskultasi
Terdapat suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi
lebih dari empat detik atau lebih dari tiga kali inspirasi, dengan adanya bunyi
napas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi.
B. DIAGNOSIS
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan bronkhokonstriksi,
bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang
kental.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan spasme bronkus.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak mampu mengabsorbsi makanan karena factor biologi.
4. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian (ketidakmampuan untuk
bernapas). Nanda: 2005-2006

C. INTERVENSI
D. DIAGNO
SA

E. T
U
J
U
A
N

F. I
N
T
E
R
V
E
N
S
I
H. Ketidakefe Dal Kaji
ktifan
am
warn
bersihan
wak
a dan
jalan napas
tu
keke
berhubung
3x2
ntala
an dengan
4
n
bronkhoko
jam
sputu
nstriksi,
sete
m
bronkhosp
lah Atur
asme,
dibe
posis
edema
rika
i
mukosa
n
semi
dan
tind
fowle
dinding
aka
r
bronkhus,
n
Ajark
serta
bers
an
sekresi
ihan
cara

G. RASIONAL

karateristik sputum dapat


menunjukkan berat ringannya
obstruksi.
Meningkatkan ekspansi dada
Batuk yang terkontrol dan efektif
dapat memudahkan pengeluaran
sekret yang melekat pada jalan
napas.
Ventilasi maksimal membuka lumen
jalan napas dan meningkatkan
gerakan sekret ke dalam jalan napas
besar untuk dikeluarkan.
Hidrasi yang adekuat membantu
mengencerkan sekret dan
mengefektifkan pembersihan jalan
napas.
Fisioterapi dada merupakan strategi

mukus
yang
kental

jala
batuk
untuk mengeluarkan sekret.
n
efekti Pemberian bronkodilator via inhalasi
nap
f
akan langsung menuju area
as
Bant
bronkhus yang mengalami spasme
kem
u
sehingga lebih cepat berdilatasi
bali
klien
Pemberian secara intravena
efek
napas
merupakan usaha pemeliharaaan
tif
dala
agar dilatasi jalan napas dapat
I.
m
optimal. Agen mukolitik
J. K Perta
menurunkan kekntalan dan
r
perlengketan sekret paru untuk
hank
i
memudahkan pembersihan. Agen
an
t
ekspektoran akan memudahkan
intak
e
sekret lepas dari perlengketan jalan
e
r
napas. Kortikosteroid berguna pada
caira
i
keterlibatan luas dengan hipoksemia
n
a
dan menurunkan reaksi inflamasi
sedik
akibat edema mukosa dan dinding
itnya
h
bronkhus.
2500
a
ml/ha
s
ri
i
kecu
l
ali
tidak
:
diind
Dap
ikasi
at
kan
men Kola
dem
boras

onst
i
rasi
deng
kan
an
batu
mela
k
kuka
efek
n
tif
fisiot
Dap
erapi
dada
at
deng
men
an
yata
tehni
kan
k
strat
postu
egi
ral
unt
drain
uk
ase,
men
perku
uru
si
nka
dan
n
fibras
kek
i
enta
dada.
lan
sekr Kola
esi
boras
Tid
i
pemb
ak
erian
ada
obat :
suar

a
nap
as
tam
bah
an
dan
whe
ezin
g
(-)
Per
nap
asa
n
klie
n
nor
mal
(1620x
/m)
tanp
a
ada
pen
ggu
naa
n

Bron
kodil
ator
golon
gan
B2
Nebu
ler
(via
inhal
asi)
deng
an
golon
gan
terbu
taline
0.25
mg,
fenot
erol
HBr
0.1%
soluti
on,
orcip
renali
ne
sulfu

otot
bant
u
nap
as.

r
0.75
mg.
Intra
vena
deng
an
golon
gan
theop
hylin
e
ethile
nedia
mine
(Ami
nofili
n)
bolus
IV 56
mg/k
gBB.
Agen
muko
litik
dan
ekspe
ktora

K. Gangguan Dal
pertukaran
am
gas yang
wak
berhubung
tu
an dengan
3x2
spasme
4
bronkus
jam
sete
lah
dibe
rika
n
inte
rve
nsi,
pert
uka
ran
gas
me
mba
ik
L.
M. K
r

n
korti
koste
roid
Kaji
Bronkhospasme di deteksi ketika
kefek
terdengar mengi saat di askultasi
tifan
dengan stetoskop. Peningkatan
jalan
pemb`````````````````````````````````````
napas
````````````````````````````````````````````
Kola
````````````````entukan mukus sejalan
dengan penurunan aksi mukosiliaris
boras
menunjang penurunan lebih lanjut
i
diameter bronkhi dan
untuk
mengakibatkan penurunan aliran
pemb
udra serta penurunan pertukaran gas,
erian
yang diperburuk oleh kehilangan
bron
daya elastisitas paru.
kodil
Terapi aerosol membantu
ator
secar
mengencerkan sekresi sehingga
a
dapat dibuang. Bronkhodilator yang
aeros
dihirup sering ditambahkan ke
ol
dalam nebulizer untuk memberikan
Laku
aksi bronkhodolator langsung pada
jalan napas, dengan demikiam
kan
memperbaiki pertukaran gas.
fisiot
Tindakan inhalasi atau aerosol harus
erapi
diberikan sebelum waktu makan
dada
untuk memperbaiki ventilasi paru
Kola
dengan demikian mengurangi
boras

i
t
e
r
i
a

i
keletihan yang menyertai kativitas
untuk
makan. Setelah inhalasi
pema
bronkhodilator nebuliser, klien
ntaua
disarankan untuk meminum air putih
n
untuk lebih mengencerkan sekresi.
anali membatukkan dengan ekpulsif atau
sa
postural drainase akan membantu
h
gas
dalam pengeluaran sekresi. Klien
a
arteri
dibantu untuk melakukan hal ini
s Kola
dengan cara yang tidak membuatnya
i
boras
keletihan.
l
i
Sebagai bahan evaluasi setelah
pemb
melakukan intervensi.
:
erian Oksigen diberikan ketika terjadi
Fre
oksig
hipoksemia. Perawat harus
kue
en
memantau kemanjuran terapi
nsi
via
oksigen dan memastikan bahwa
nap
nasal
klien patuh dalam menggunakan alat
as
pemberi oksigen. Klien
16diinstruksikan tentang penggunaan
20x
oksigen yang tepat dan tentang
/me
bahay peningkatan laju aliran
nit,
oksigen tanpa ada arahan yang
nadi
eksplisit darp perawat.
70=
90x
/m,
sian
osis

(-),
disp
nea
(-).
GD
A
dala
m
bata
s
nor
mal
N. Ketidaksei Dal Kaji
Memvalidasi dan menetapkan
mbangan
am
status
derajat masalah untuk menetapkan
nutrisi:
wak
nutris
piihan intervensi yang tepat.
kurang

Berguna dalam mengukur kefektifan


tu
i
dari
intake gizi dan dukungan cairan.
3x2
klien,
kebutuhan
4
turgo Menurunkan rasa tak enak karena
tubuh
sisa makanan, sisa sputum atau obat
jam
r
berhubung
pada pengobatan sistem pernapasan
an dengan
sete
kulit,
tidak
yang dapat merangsang pusat
lah
berat
mampu
muntah.
dibe
bada
mengabsor

Merencanakan diet dengan


rika
n,
bsi
kandungan gizi yang cukup untuk
n
integ
makanan
memenuhi peningkatan kebutuhan
tind
ritas
karena
energi dan kalori sehubungan
factor
aka
muko
dengan status hipermetabolik klien.
biologi
n
sa

kep
oral, Memaksimalkan intake nutrisi tanpa
era
kema
kelelahan dan energi besar serta
wat
mpua
menurunkan iritasi saluran cerna.

Menilai kemajuan terapi diet dan


an
n
inta
mene
membantu perencanaan intervensi
ke
lan,
selanjutnya.
nutr
riway Multivitamin bertujuan untuk
memenuhi kebutuhan vitamin yang
isi
at
tinggi sekunder dari prosres
klie
mual/
pemberhasilan peningkatan
n
munt
metabolisme umum.
terp
ah
enu
dan
hi
diare.
Panta
O.
P. K
u
r
intak
i
e
t
outpu
e
t,
r
timba
i
ng
a
berat
bada
h
n
a
secar
s
a

i
l

perio
dik
(seka
:
li
Klie
semi
n
nggu
dap
)
Laku
at
kan
me
dan
mpe
ajark
rtah
an
ank
pera
an
wata
stat
n
us
mulu
gizi
t
nya
sebel
dari
um
yan
dan
g
sesud
sem
ah
ula
inter
kur
vensi
ang
/pem
men
eriks
jadi

ade
aan
kuat
peror
.
al.
Per Kola
nyat
boras
aan
i
mot
deng
ivas
an
i
ahli
kuat
gizi
unt
uk
untuk
me
mene
men
tapka
uhi
n
keb
komp
utu
osisi
han
dan
nutr
isin
jenis
ya
yang
tepat
Fasili
tasi
pemb
erian
diet
berik

an
dala
m
porsi
kecil
tapi
serin
g.
Kola
boras
i
untuk
peme
riksa
an
labor
atori
um
khus
usny
a
BUN
,
prote
in
seru

Q. Cemas
berhubung
an dengan
adanya
ancaman
kematian
(kesulitan
bernapas)

m
dan
albu
min.
Kola
boras
i
untuk
pemb
erian
multi
vitam
in.
Dal Bant
am
u
wak
dala
tu
m
1x2
meng
4
identi
jam
fikasi
klie
sumb
n
er
ma
kopin
mp
g
u
yang
me
ada
mah Ajark
ami

Pemanfaatan sumber koping yang


ada secara konstruktif sangat
bermanfaat dalam menagatasi stres.
Mengurangi ketegangan otot dan
kecemasan
Hubungan saling percaya membantu
memperlancar proses teraupetik
Tindakan yang tepat diperlukan
dalam mengatasi masalah yang
dihadapi klien dan membangun
kepercayaan dalam mengurangi
kecemasan.
Rasa cemas merupakan efek emosi
sehingga apabila sudah

dan
an
men
tehni
eri
k
ma
relak
kea
sasi
daa Perta
nya
hank
sehi
an
ngg
hubu
a
ngan
tida
salin
k
g
terj
perca
adi
ya
kec
antar
ema
a
san.
klien
R.
deng
S. K
an
r
pera
i
wat
t Kaji
e
fakto
r
r
i
yang
a
meni
mbul
h
kan
a
rasa

teridentifikasi dengan baik, maka


perasaan yang nenganggu dapat
diketahui.

s
cema
i
s
l Bant
u
:
klien
T.
meng
Klie
enali
n
dan
terli
meng
hat
akui
ma
rasa
mp
cema
u
snya
ber
nap
as
seca
ra
nor
mal
dan
map
u
bera
dapt
asi
den
gan
kea

daa
nny
a.
Res
pon
nob
ver
bal
klie
n
tam
pak
lebi
h
rile
ks
dan
sant
ai.
U.
V.
W.
X.
Y.

Z.
AA.
AB.
AC.
AD.
AE.
AF.
AG.

AH.

DAFTAR PUSTAKA

AI. Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan. Jilid I. Jakarta: Salemba Medika.
AJ. Asih, Niluh Gede Yasmin. 2004. Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Cetakan I. Jakarta: EGC.
AK.

J.P.T. Ward, J. Ward, R.M. Leach, C.M. Wiener. 2006. The Respiratory

System at a Glance. 2nd ed.


AL.

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Ed. 3. Jakarta:

EGC.
AM.

NANDA, Nursing Diagnoses: Definition and classification 2005-

2006, NANDA International, Philadelphia, 2005.


AN.
AO.

Diagnosa NANDA (NIC & NOC). 2007-2008.