Anda di halaman 1dari 15

5.

Materi
CA MAMMAE
1.1 Definisi Kanker Payudara
Tumor adalah benjolan atau pembengkakan yang abnormal atau tidak fisiologis
pada tubuh, tanpa membedakan apakah bersifat jinak atau ganas.
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan
tidak terkendali.
Kanker payudara (Carcinoma mammae) adalah suatu penyakit neoplasma yang
ganas berasal dari parenchyma. Penyakit ini oleh Word Health Organization (WHO)
dimasukkan ke dalam International Classification of Diseases (ICD). Kanker payudara
adalah tumor ganas yang berasal dari kelenjar payudara, ermasuk saluran kelenjar air
susu dan jaringan penunjangnya yang tumbuh infiltratif, destruktif, serta dapat
bermetastase (Suryana, 2008).
1.2 Klasifikasi Kanker Payudara
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara
diklasifikasikan ke dalam :
1) Stadium I
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan
otot pektoralis.
2) Stadium IIa
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
3) Stadium IIb
Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.
4) Stadium IIIa
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa
penyebaran jauh.
5) Stadium IIIb

Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan


terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan
limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.
6) Stadium IV
Tumor yang mengalami metastasis jauh.
(Setio, 2000)
1.3 Penyebab Kanker Payudara
Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Penyebab
kanker payudara termasuk multifaktorial, yaitu banyak faktor yang terkait satu dengan
yang lain. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan faktor risiko tertentu
lebih sering untuk berkembang menjadi kanker payudara dibandingkan yang tidak
memiliki beberapa faktor risiko tersebut. Beberapa faktor risiko tersebut :
1. Faktor genetik / riwayat keluarga
Resiko untuk menjadi kanker lebih tinggi pada wanita yang ibunya atau saudara
perempuan kandungnya memiliki kanker payudara. Resiko lebih tinggi jika anggota
keluarganya menderita kanker payudara sebelum usia 40 tahun. Resiko juga
meningkat bila terdapat kerabat/saudara (baik dari keluarga ayah atau ibu) yang
menderita kanker payudara.
2. Usia
Kemungkinan

untuk

menjadi

kanker

payudara

semakin

meningkat

seiring

bertambahnya umur seorang wanita. Angka kejadian kanker payudara rata-rat pada
wanita usia 45 tahun ke atas. Kanker jarang timbul sebelum menopause. Kanker
dapat didiagnosis pada wanita premenopause atau sebelum usia 35 tahun, tetapi
kankernya cenderung lebih agresif, derajat tumor yang lebih tinggi, dan stadiumnya
lebih lanjut, sehingga survival rate nya lebih rendah.
3. Hormonal
Meningkatnya paparan estrogen berhubungan dengan peningkatan resiko untuk
berkembangnya

kanker

payudara,

sehingga

berkurangnya

paparan

justru

memberikan efek protektif. Beberapa faktor yang meningkatkan jumlah siklus


menstruasi seperti menarche dini (sebelum usia 12 tahun), nuliparitas, dan
menopause yang terlambat (diatas 55 tahun) berhubungan juga dengan peningkatan
resiko kanker. Diferensiasi akhir dari epitel payudara yang terjadi pada akhir
kehamilan akan memberi efek protektif, sehingga semakin tua umur seorang wanita
melahirkan anak pertamanya, resiko kanker meningkat. Wanita yang mendapatkan

menopausal hormone therapy memakai estrogen atau mengkonsumsi estrogen


ditambah progestin setelah menopause juga meningkatkan resiiko kanker.
4. Faktor lingkungan dan Karsinogenik
Faktor lingkungan yang mempunyai risiko terhadap kanker adalah paparan rokok,
terpapar bahan dari industri seperti formaldehid, asap kayu bakar, asap dupa, tetapi
hubungan yang jelas antara zat-zat tersebut dengan kanker belum dapat dijelaskan.
Selain itu konsumsi zat-zat karsinogenik seperti formalin, borax dan pengawet
makanan dapat meningkatkan resiko kanker
5. Overweight atau obese setalah menopause
Kemungkinan untuk mendapatkan kanker payudara setelah menopause meningkat
pada wanita yang overweigh atau obese. Karena sumber estrogen utama pada
wanita post menopause berasal dari konversi androstenedine menjadi estrogen yang
berasal dari jaringan lemak, dengan kata lain obesitas berhubungan dengan paparan
estrogen jangka panjang.
6. Gaya Hidup
Beberapa penelitian menunjukan bahwa wanita yang sering minum alkohol
mempunyai resiko kanker payudara yang lebih besar. Karena alkohol akan
meningkatkan kadar estriol serum. Sering mengkonsumsi banyak makan berlemak
dalam jangka panjang akan meningkatkan kadar estrogen serum, sehingga
meningkatkan resiko kanker.
Wanita yang kurang aktivitas fisik sepanjang hidupnya, memiliki resiko tinggi kanker
payudara, karena dengan aktivitas fisik akan membantu mengurangi peningkatan
berat badan dan obesitas.
7. Riwayat kanker sebelumnya
Wanita dengan riwayat pernah mempunyai kanker pada satu payudara mempunyai
resiko untuk berkembang menjadi kanker payudara yang lainnya.
8. Riwayat infeksi virus
Protein DNA virus setelah menembuh membran sel mengadakan fusi dengan protein
DNA hospes. Fusi DNA virus dan hospes menimbulkan mutasi gen. Manifestasi
timbulnya kanker tergantung sistem imunitas tubuh dan mekanisme penghindaran
virus.
1.4 Manifestasi Klinis Kanker Payudara
Menurut Anita (2011) tanda dan gejala kanker payudara:
- Gejala awal
Sebuah benjolan yang biasanya dirasakan berbeda dari jaringan payudara di
sekitarnya, tidak menimbulkan nyeri, biasanya memiliki pinggiran tidak teratur.

Stadium awal
Jika didorong oleh jari tangan , benjolan bisa digerakkan dengan mudah di bawah
kulit.

Stadium lanjut
Benjolan melekat pada dinding dada atau kulit sekitarnya, benjolan dapat
membengkak, ata borok di kulit payudara, kadang kulit di atas benjolan mengkerut
dan nampak seperti kulit jeruk.

Gejala lainnya
Ditemukan benjolan atau massa di ketiak, perubahan ukuran atau bentuk payudara,
keluar cairan abnormal dari puting

susu (biasanya berdarah atau bernanah),

perubahanpada warna atau tekstur kulit pada payudara, puting susu, maupun aerola,
payudara tampak kemerahan, kulit di sekitar puting susu bersisik, puting susu tertarik
ke dalam atau terasa gatal, nyeri payudara, atau pembengkakan salah satu
payudara. Pada stadium lanjut, bisa timbul nyeri tulang, penurunan berat badan,
pembengkakan lengan, atau ulserasi kulit.
Menurut Dwi (2010) manifestasi klinis kanker payudara:
a. Penderita merasakan adanya perubahan pada payudara atau puting susunya
-

Benjolan atau penebalan dalam atau sekitarpayudara atau di daerah ketiak

Puting susu terasa mengeras

b. Penderita melihat perubahan pada payudara atau puting susunya:


-

Perubahan ukuran maupun bentuk payudara

Puting susu tertarik ke dalam payudara

Kulit payudara, aerola, atau puting bersisik, merah atau bengkak, kulit mungkin
berkerut seperti kulit jeruk

c. Keluarnya sekret atau cairan dari puting susu


Secara umum, tanda dan gejala kanker payudara adalah:
a. Terdapat benjolan di payudara yang nyeri maupun tidak nyeri, dari mulai ukuran kecil
menjadi besar dan teraba seperti melekat pada kulit, biasanya memiliki pinggiran
yang tidak teratur
b. Keluar cairan abnormal dari puting susu
c. Perubahan warna dan tekstur kulit payudara
d. Payudara tampak kemerahan dan kulit sekitar puting susu bersisik
e. Retraksi puting
f.

Konsistensi payudara yang padat dan keras

g. Edema dengan peaud orange (keriput seperti kulit jeruk)


h. Pada stadium lanjut timbul nyeri tulang, penurunan berat badan, pembengkakan
lengan.
1.6 Penatalaksanaan Kanker Payudara
a) ANAMNESA
Anamnesa dilakukan untuk mengetahui :
- Keluhan utama : adanya benjolan pada payudara, kadang disertai kadang tidak
nyeri, kadang disertai bengkak, dan pada stadium lanjut disertai pengeluaran
abnormal dan perubahan dalam bentuk, dan penampakan payudara (tidak
simetris, kulit payudara seperti kulit jeruk peau dorange putting tertarik
-

kedalam)
Riwayat Menstruasi : usia menarche, siklus haid, lama haid, ganguan dalam

haid, umur menopause.


Riwayat Kehamilan, Persalinan,

Kontrasepsi.
Riwayat Kesehatan : riwayat pernah menderita Ca mammae pada satu

Nifas, laktasi dan Pemakaian Metode

payudara, ada keluarga (ibu/saudara wanita) menderita penyakit ini dan


dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena Ca. mammae, kelainan payudara lain
(benigna), pernah/ sedang menjalani terapi hormonal, infertil.
b) PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan lengkap payudara sendiri dibagi atas beberapa tahap:
1. Melihat Tanggalkan seluruh pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin
dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang untuk
mengetahui adanya tumor yang terletak dekat dengan kulit. Perhatikan :
Apakah

puting/kulitnya

Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan

ada yang lecet?


Apakah
bentuknya

kiri simetris?
Apakah kulitnya

membesar/mengeras?
Apakah arah putingnya

Kebiruan? Kehitaman?
Apakah kulitnya tampak menebal dengan

lurus ke depan? Atau


berubah arah?
Apakah putingnya tertarik

tampak

kemerahan?

pori-pori melebar (kulit jeruk)?


Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak

ke dalam?
tampak adanya kerutan/cekungan?
Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas
serta kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, kedua siku ditarik ke belakang.
2. Memijat Dengan kedua belah tangan, secara lembut pijat payudara dari tepi
hingga ke puting, untuk untuk mengetahui ada-tidaknya cairan yang keluar dari puting
susu (seharusnya tidak ada, kecuali Anda sedang menyusui).

3. Meraba
Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan
sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari
kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga
apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri. Periksa dan rabalah puting
susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila diraba dengan telapak jari-jari
tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila ada tumor, maka akan terasa
keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat dipindahkan dari tempatnya). Bila
terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih, segeralah pergi ke dokter.
Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk sembuh secara
sempurna.
4. Meraba Ketiak Setelah itu raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk
mengetahui adanya benjolan yang diduga suatu anak sebar kanker. Bila dalam
pemeriksaan payudara sendiri ini Anda menemukan suatu kelainan (misal benjolan,
sekecil apa pun), segera periksakan ke dokter.
(Yayasan Kanker Indonesia, 2004) & (Otto, 2005)
c) PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut pendapat para ahli, berikut beberapa jenis pemeriksaan penunjang
yang dapat dilakukan, yaitu:
b. USG
USG ini sangat menguntungkan karena memiliki keuntungan yaitu tidak
mempergunakan sinar pengion sehingga tidak ada bahaya radiasi dan pemeriksaan
bersifat non invasif, relatif mudah dikerjakan, serta dapat dipakai berulangulang.USG biasanya dapat untuk membedakan tumor padat dan kiste pada
payudara serta untuk menentukan metastasis di hati.USG ini berperan terutama
untuk payudara yang padat pada wanita muda, jenis payudara ini kadang-kadang
sulit dinilai dengan mammografi.
c. Biopsy Aspirasi
Pemeriksaan sitologi biopsy aspirasi jarum sering dipergunakan sebagai
prosedur diagnosis berbagai tumor termasuk tumor payudara dengan indikasi :
- Diagnosis preoperative tumor klinik diduga maligna.
- Diagnosis konfirmatif klinik tumor maligna ataupun tumor rekuren
- Diagnosis tumor nonneoplastik ataupun neoplastik
- Mengambil bahan aspirat untuk kultur ataupun bahan penelitian.
Teknik dan peralatan sangat sederhana, murah dan cepat serta tidak ada
komplikasi yang berarti.
d. FNAB
Dengan jarum halus sejumlah kecil jaringan dari tumor diaspirasi keluar lalu
diperiksa mikroskopis.Jika tumor dapat terpalpasi dengan mudah, FNAB dapat
dilakukan dengan mempalpasi tumor.Jika tumor tak terpalpasi dengan jelas,

kombinasi dengan USG dapat dilakukan. Spesimen FNAB kadang tidak dapat
menentukan grade tumor dan kadang tidak member diagnosis yang jelas sehingga
membutuhkan biopsy lain.
e. Core Biopsi
Dilakukan dengan jarum yang cukup besar, dapat dilakukan sambil fiksasi
dengan palpasi, ataupun dipandu USG, mammografi atau MRI.Core biopsy dapat
membedakan tumor invasive dan tumor non invasif, serta dapat menentukan grade
tumor.Core biopsy membutuhkan biopsy terbuka untuk memberi diagnosis.Juga
dapat digunakan untuk membiopsi kelainan yang tidak dapat dipalpasi, tapi terlihat
pada mammografi.
f. Biopsi terbuka
Dilakukan billa pada mammografi terlihat kelainan mengarah maligna, namun
pada FNAB atau core biopsy meragukan. Bila mammografi (+) tetapi FNAB (-)perlu
dilakukan biopsy terbuka. Namun bila mamografi namun gejala klinis pasien
mengarah kanker, wajib dilakukan biopsy terbuka.
g. Sentinel Lobe Biopsi
Dilakukan untuk menentukan status keterlibatan kelenjar limfe aksila dan
parasternal.Prosedur ini menggunakan kombinasi pelacak radioaktif dan pewarna
biru. Apabila tidak dijumpai sentinel lobe, diseksi kelenjar limfe tidak perlu dilakukan.
Namun bila dijumpai sentinel lobe, harus dilakukan diseksi kelenjar limfe.
h. Ca 15.3
Terutama untuk monitoring kanker payudara. Peningkatan kadar Ca 15-3
darah dijumpai pada kurang dari 10 % pasien dengan stadium awal dan sekitar 70 %
pasien dengan stadium lanjut. Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi.
Kadar normal biasanya kurang dari 25 U/mL, tapi kadar sampai 100 U/mL kadang
dijumpai pada wanita sehat.
i. Imunohistokimia
Dilakukan untuk membantu terapi target, yaitu pemeriksaan ER (esterogen
reseptor), PR (progesterone reseptor), HER-2.Kanker payudara yang memiliki ER +
dan PR + memiliki prognosis lebih baik karena masih peka terhadap terapi
hormonal.HER

merupakan

sejenis

protein

pemicu

pertumbuhan.

Pada

pemeriksaan 1 dari 5 pasien penderita kanker payudara memiliki gen HER 2.


j. MRI
MRI menggunakan magnetic, MRI biasanya lebih baik dalam melihat suatu
kumpulan massa yang kecil pada payudara yang mungkin tidak terlihat pada saat
USG atau mammogram. Khususnya pada wanita yang mempunyai jaringan
payudara yang padat. Kelemahan MRI juga ada, kadang jaringan padat yang terlihat
pada saat MRI bukan kanker, atau bahkan MRI tidak bisa menunjukkan suatu

jaringan yang padat itu sebagai in situ breast cancer maka untuk memastikan lagi
harus dilakukan biopsy.
k. Tes Darah
Tes darah diperlukan untuk lebih mendalami kondisi kanker. Tes-tesyang
dilakukan antara lain :
Level Hemoglobin ( HB ) : untuk mengetahui jumlah oksigen yang ada di dalam

sel darah merah.


Level Hematocrit : untuk mengetahui prosentase dari darah merah didalam

seluruh badan
Jumlah dari sel darah putih : untuk membantu melawan infeksi
Jumlah trombosit ( untuk membantu pembekuan darah )
Differential ( prosentase dari beberapa sel darah putih )
l. Jumlah Alkaline Phosphatase
Jumlah enzyme yang tinggi bisa mengindikasikan penyebaran kanker ke liver,
hati dan saluran empedu dan tulang.
m. SGOT & SGPT
Test ini untuk mengevaluasi fungsi lever. Angka yang tinggi dari salah satu
test ini mengindikasikan adanya kerusakan pada liver, bisa jadi suatu sinyal adanya
penyebaran ke liver
n. Tes-Tes Lain
Tes tes lain yang biasa dilakukan untuk kanker payudara adalah :

Photo Thorax
Untuk mengetahui apakah sudah ada penyebaran keparu-paru

Bonescan
Untuk mengetahui apakah kanker sudah menyebar ke tulang.Pada
bonescan, pasien disuntikkan radioactive tracer pada pembuluh vena. Yang
natinya akan berkumpul pada tulang yang menunjukkan kelainan karena kanker.
Jarak antara suntikan dan pelaksanaan bonescan kira-kira 3-4 jam.Selama itu
pasien dianjurkan minum sebanyak-banyaknya. Hasil yang terlihat adalah
gambar penampang tulang lengkap dari depan dan belakang. Tulang yang
menunjukkan kelainan akan terlihat warnanya lebih gelap dari tulang normal.

Computed Tomography ( CT atau CAT ) Scan


Untuk melihat secara detail letak tumor. Disini pasien juga disuntik radioactive
tracer pada pembuluh vena, tapi volumenya lebih banyak sehingga sebenarnya
samadengan infuse. Setelah disuntik CT-scan bisa segera dilakukan. CT-scan
akan membuat gambar 3D bagian dalam tubuh yang diambil dari berbagai sudut.
Hasilnya akan terlihat gambar potongan melintang bagian dari tubuh yang discan
3D.

Positron Emission Tomography ( PET ) scan

Untuk melihat apakah kanker sudah menyebar.Dalam PET scan cairan


glukosa yang mengandung radioaktif disuntikkan pada pasien. Sel kanker akan
menyerap lebih cepat cairan glukosa tersebut, dibanding sel normal. Sehingga
akan terlihat warna kontras pada PET scan. PET scan biasanya digunakan
sebagai pelengkap data dari hasil CTscan, MRI dan pemeriksaan secara fisik
(Abdul. 2011 ; Corwin, Elizabeth. 2009 ; Dwi, Asti, dkk. 2010 ; Dixon M,
dkk, 2005, hal : 15-66 ; Mardiana, Lina. 2010 ; Mansjoer, dkk, 2000 ;
Pramudya. 2011 ; Purwastuti, Endang. 2012 ; Supandiman, Iman. 1997 ;
Suzanne. 2002)
b) PROSEDUR PEMBEDAHAN
Untuk kanker yang terbatas pada payudara, pengobatannya hampir selalu
meliputi pembedahan (yang dilakukan segera setelah diagnosis ditegakkan) untuk
mengangkat sebanyak mungkin tumor. Terdapat sejumlah pilihan pembedahan,
pilihan

utama

adalah

mastektomi

(pengangkatan

seluruh

payudara)

atau

pembedahan Breast Conserving Therapy (hanya mengangkat tumor dan jaringan


normal di sekitarnya). Pertimbangan dilakukannya pembedahan berdasarkan Ukuran
tumor, Lokasi tumor, Ukuran payudara, Pilihan dan pertimbangan pasien (Dixon M,
dkk, 2005, hal : 15-66).

c) TERAPI SISTEMIK
Terapi sistemik kanker payudara meliputi penggunaan kemoterapi atau
manipulasi endokron untuk mengobati pasien dengan:
Penyakit lokal regional yang telah Penyebaran

kelenjar

getah

berkembang jauh.
bening aksila.
Prognosis buruk pada penyakit tanpa Metastasis jauh.
kelenjar yang terkena.
1) Kemoterapi
Efek samping dari kemoterapi bisa berupa mual, lelah, muntah, luka terbuka
di mulut yang menimbulkan nyeri atau kerontokan rambut yang sifatnya sementara.
Pada saat ini muntah relatif jarang terjadi karena adanya obat ondansetron.
Tanpa ondansetron, penderita akan muntah sebanyak 1-6 kali selama 1-3
hari setelah kemoterapi. Berat dan lamanya muntah bervariasi, tergantung kepada
jenis kemoterapi yang digunakan dan penderita. Selama beberapa bulan, penderita
juga menjadi lebih peka terhadap infeksi dan perdarahan. Tetapi pada akhirnya efek
samping tersebut akan menghilang.

2) Terapi hormonal

Tamoxifen : Awalnya diindikasikan untuk mengobati pasien pasca menopause


dengan reseptor estrogen dan nodus aksilaris positif. Efek samping: mual,
muntah, panas, retensi cairan.

Diethylstillbestrol : Menghambat pelepasan FSH dan LH dengan demikian


menurunkan pembentukan estrogen dan ikatan estrogen. Efek samping:
penambahan berat badan,mual, retensi cairan

Megestrol : Menurunkan jumlah reseptor estrogen. Efek samping: penambahan


BB

Fluksimesteron : Menekan estrogen dengan menekan LH dan FSH. Efek


samping: peningkatan libido, peningkatan pertumbuhan rambut di wajah

Aminoglutetimid : Menghambat aromatase, enzim yang bertanggung jawab


terhadap perubahn androgen dan estrogen. Efek samping: gatal, hipofungsi
kortikal adrenal.

3) Transplantasi sumsum tulang


Pengangkatan sumsum tulang dari pasien dan memberikan kemoterapi dosis
tinggi, sumsum tulang pasien yang dipisah kan dari efek kemoterapi kemudian
diinfuskan kembali secara intravena
(Abdul. 2011: Dwi, Asti, dkk. 2010: Mardiana, Lina. 2010: Doenges M.,
2000: Dixon M., dkk, 2005: Sjamsuhidajat R., 1997: Tapan, 2005:
Supandiman, Iman. 1997: Suzanne. 2002)
d) TERAPI RADIASI
Indikasi Terapi Radiasi Pada Kanker Payudara
Terapi radiasi diberikan apabila dalam keadaan sebagai berikut:

Setelah tindakan operasi


terbatas (BCS)

Tepi sayatan dekat (T

Tumor sentral/medial

KGB (+) dengan ekstensi


ekstra kapsuler

T2)/ tidak bebas tumor


Acuan pemberian radiasi adalah sebagai berikut:
Pada

dasarnya

diberikan

radiasi

lokoregional

(payudara

dan

aksila

besertasupraklavikula, kecuali:

Pada keadaan T T2 bila cn = 0 dan pn, maka tidak dilakukan radiasi pada
KGB aksila supraklavikula

Pada keadaan tumor di medial/sentral diberikan tambahan radiasi pada


mamaria interna

Dosis lokoregional profilaksis adalah 50Gy, booster dilakukan sbb:

Pada potensial terjadi residif ditambahkan 10Gy (misalnya tepi sayatan dekat
tumor atau post BCS)

Pada terdapat massa tumor atau residu post op (mikroskopik atau


makroskopik) maka diberikan boster dengan dosis 20Gy kecuali pada aksila
15Gy.

Cara Terapi Radiasi


Radioterapi eksternal dimulai 2-4 minggu setelah penyembuhan jaringan
bekas eksisi luas dan diseksi kelenjar getah bening aksila yang cukup baik.
Rencana terapi dilakukan untuk menjamin homogenitas dosis dengan kemampuan
mempertahankan pasien pada posisi tertentu penggunaan alat-alat bervoltase tinggi.
Setiap daerah harus diterapi setiap hari, Senin sampai Jumat, sampai mencapai
dosis total 4.500 sampai 5.000 cGy dengan 180 sampai 200 cGy per fraksi.
Prosedur ini biasanya memakan waktu 4-5 minggu. Radiasi dengan elektron dan
implantasi iridium 192 juga dapat digunakan.
External beam radiation atau radiasi dari luar adalah tipe radiasi paling umum
bagi penderita dengan kanker payudara.Radiasi tersebut diarahkan dari mesin ke
tubuh bagian luar di area yang terkena kanker.
Pada beberapa wanita, payudara menjadi lebih kecil dan keras setelah terapi
radiasi.Menjalani

radiasi,

juga

mempengaruhi

kesempatan

penderita

untuk

melakukan rekonstruksi payudara.Terapi radiasi pada kelenjar getah bening di


daerah ketiak juga dapat, menyebabkan timbulnya lympedema (pembengkakan
kelenjar getah bening).
Pada beberapa kasus yang jarang, terapi radiasi dapat melemahkan tulang
rusuk, sehingga dapat menyebabkan patah tulang.Di masa lalu, bagian dari paru
dan jantung juga mendapatkan sinar radiasi, yang pada jangka waktu yang lama
dapat menyebabkan kerusakan organ-organ tersebut pada penderita. Peralatan
terapi radiasi modern memungkinkan dokter untuk menfokuskan sinar radiasi,
sehingga maslah seperti di atas menjadi jarang.
(Abdul. 2011: Dwi, Asti, dkk. 2010: Mardiana, Lina. 2010: Doenges M., 2000: Dixon M.,
dkk, 2005: Sjamsuhidajat R., 1997: Tapan, 2005: Supandiman, Iman. 1997: Suzanne.
2002)
1.7 Komplikasi Kanker Payudara

Komplikasi utama dari kanker payudara adalah metastase jaringan sekitarnya


dan juga melalui saluran limfe dan pembuluh darah ke organ-organ lain. Tempat yang
sering untuk metastase jauh adalah paru-paru, pleura, tulang, dan hati.
Beberapa komplikasi kanker payudara, yaitu :
a. Metastase ke tulang menyebabkan fraktur patologis, nyeri kronik, dan hiperkalsemia
b. Metastase ke paru-paru akan mengalami gangguan ventilasi pada paru-paru
c. Metastase ke otak menyebabkan gangguan persepsi sensorik, gangguan bicara dan
dengar
d. Penyebaran langsung infiltrasi lokal ke otot dibawahnya dan kulit yang menutupinya
secara klinis dapat dideteksi, mengakibatkan adanya ulserasi atau kerutan
e. Hematogen, paling sering mengenai pulmo dan tulang juga hepar , adrenal, otak.
Infiltrasi ekstensif ke sumsum tulang dapat menyebabkan anemia leukoeritroblastik.
Destruksi tulang menyebabkan hiperkalsemia disertai komplikasi ginjal
f. Transelomik, menyebar ke rongga tubuh. Contoh pleura parietalis atau peritoneum
g. Implantasi tumor, pencemaran sel-sel dari tumor ke dalam luka pada saat
pembedahan awal
h. Duktus mammae, duktus yang berdekatan dengan suatu kanker payudara invasive
i.

terisi dengan sel-sel maligna


Limfogen, yaitu akibat infiltrasi ke saluran limfatik kulit menyebabkan timbulnya tanda
klinis seperti peau dorange. Misal pada kelenjar limfe axilaris.
(Sukardjo 2000)

1.8 Pencegahan Kanker Payudara


a. Menciptakan/membiasakan perilaku CERDIK :
- Cek kesehatan berkala
- Enyahkan asap rokok
- Rajin aktivitas fisik
- Diet sehat makanan yang mengandung banyak antioksidan dan menghindari
-

zat karsinogenik (makanan berpengawet, berformalin)


Istirahat cukup
Kelola stress

b. Melakukan SADARI setiap bulan, 7-10 hari setelah hari pertama haid terakhir.

Cara melakukan SADARI yang benar dapat dilakukan dalam 5 langkah yaitu :
1) Dimulai dengan memandang kedua payudara di depan cermin dengan posisi
lengan terjuntai ke bawah dan selanjutnya tangan berkacak pinggang.

Lihat dan bandingan kedua payudara dalam bentuk, ukuran dan warna
kulitnya.

Perhatikan kemungkinan kemungkinan dibawah ini :

Dimpling, pembengkakan kulit.

Posisi dan bentuk dari puting susu (apakah masuk ke dalam atau
bengkak)

Kulit kemerahan, keriput atau borok dan bengkak.

2) Tetap di depan cermin kemudian mengangkat kedua lengan dan melihat


kelainan seperti pada langkah 1.
3) Pada waktu masih ada di depan cermin, lihat dan perhatikan tanda-tanda
adanya pengeluaran cairan dari puting susu.

4) Berikutnya dengan posisi berbaring, rabalah kedua payudara, payudara kiri


dengan tangan kanan dan sebaliknya, gunakan bagian dalam (volar/telapak)
dari jari ke 2-4. Raba seluruh payudara dengan cara melingkar dari luar
kedalam atau dapat juga vertikal dari atas ke bawah.
5) Langkah berikutnya adalah meraba payudara dalam keadaan basah dan licin
karena sabun di kamar mandi; rabalah dalam posisi berdiri dan lakukan
seperti langkah-4.
(Kemenkes RI, 2015)

DAFTAR PUSTAKA
Abdul. 2011. Kaitan Gizi dengan Kanker Payudara pada Wanita. Jakarta : Universitas
Muhammadiyah
Corwin, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Dixon M., dkk, 2005, Kelainan Payudara, Cetakan I, Dian Rakyat, Jakarta.
Doenges M., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta
Dwi, Asti, dkk. 2010. Penyakit Genetika Kanker Payudara. Purwokerto: Universitas Jendral
Sudirman.
Kemenkes RI. 2015. Panduan Nasional Penanganan Kanker Payudara. Jakarta.
Kemenkes RI. 2015. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun
2015.
Mansjoer, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta: EGC
Mardiana, Lina. 2010. Kanker pada Wanita. Jakarta: Niaga Swadaya
Pramudya. 2011. Carsinoma Mammae. Bandung: Sartika
Purwastuti, Endang. 2012. Kanker Payudara. Yogyakarta. Kanisius
Ris_Kan_Payudara_01

(Converted).pdf.

Kanser

Payudara.

Kesan

Awal

Dengan

Pemeriksaan Sendiri Payudara (PSP). Oktober, 2004


Sjamsuhidajat R., 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta
Supandiman, Iman. 1997. Pedoman Terapi Hematolog Onkologi. Bandung: PT.Alumni
Sutoto J. S. M., 2005. Tumor Jinak pada Alat-alat Genital dalam Buku Ilmu Kandungan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo, Jakarta.338-345
Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC
Tapan, 2005, Kanker, Anti Oksidan dan Terapi Komplementer. Jakarta :Elex Media
Komputindo,.
Wijayakusuma, H. 2008.Atasi Kanker dengan Tanaman Obat. Jakarta: Puspaswara