Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Luka bakar dan cedera terkait merupakan penyebab tersering kematian dan
disabilitas di Amerika Serikat dan dunia

(1)

. Lebih dari 500.000 luka bakar terjadi di

Amerika Serikat. Meskipun sebagian besar luka bakar derajat ringat, 40.000 hingga
60.000 pasien luka bakar membutuhkan perawatan di rumah sakit atau di sentra luka
bakar (2). Menurut Riset Kesehatan Dasar Depkes RI (2008), prevalensi kejadian luka
bakar di Indonesia sebesar 2,2%. Prevalensi tertinggi terdapat di provinsi Nangroe
Aceh Darussalam dan Kepulauan Riau sebesar 3,8% (3).
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan
benda-benda yang menghasilkan panas (api secara langsung maupun tidak langsung,
pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau zat-zat
yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat)

(4)

. Rasio kelangsungan hidup pada

pasien luka bakar telah meningkat secara signifikan sejak abad ke 20. Kemajuan
dalam resusitasi, pengenalan antimikroba topikal dan eksisi luka bakar awal
bekontribusi pada perbaikan hasil. Meskipun demikian luka bakar yang luas tetapi
berpotensi fatal (5).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Anatomi Histopatologik Kulit
Kulit adalah organ tubuh paling luar yang membatasi dari lingkungan hidup
manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m 2 dengan berat kira-kira 15 % berat badan.
Kulit terbagi atas tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis, dermis dan subkutis (6).
II. 1. 1. Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum korneum adalah lapisan
kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak
berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk). Stratum
lusidum terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel
gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut
eleidin (6).
Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan
sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri
atas keratohialin. Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasmanya
jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel
ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel stratum
spinosun terdapat jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan
tonofibril atau keratin. Pelekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan
bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spinosum terdapat pula
sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum mengandung banyak glikogen (6).
Stratum germinativum terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun
vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan
ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengalami
mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu sel-sel
yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar,
dihubungkan satu dengan lain oleh jembatang antar sel, dan sel pembentuk melanin

atau clear cell yang merupakan sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik
dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen (melanosom) (6).
II. 1. 2. Lapisan Dermis
Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah lapisan dermis yang
jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa
padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi
menjadi 2 bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi
ujung serabut saraf dan pembuluh darah, dan pars retikulare yaitu bagian bawahnya
yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang
misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan
kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, di bagian ini terdapat pula fibroblast,
membentuk ikatan yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda
bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil.
retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk
amorf dan mudah mengembang serta lebih elastis (6).
II. 1. 3. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat
longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar,
dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel ini
membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang
fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan
makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah
bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokasinya. Di
abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis sangat
sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan (6).
Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di
bagian atas dermis (pleksus superfisial) dan yang terletak di subkutis (pleksus
profunda). Pleksus yang di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil
dermis, pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis,
di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar, bergandengan dengan pembuluh
darah terdapat saluran getah bening (6).

Gambar 1. Histopatologi Kulit (7)

II. 2. Fisiologi Kulit


Fungsi utama kulit adalah proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, termoregulasi,
pembentukan pigmen, pembentukan vitamin D dan keratinisasi. Kulit menjaga bagian
dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, gangguan kimiawi, gangguan
bersifat panas, dan gangguan infeksi luar. Hal ini dimungkinkan karena adanya
bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang.
Proteksi rangsangan kimia dapat terjadi karena sifat stratum korneum yang
impermeabel terhadap berbagai zat kimia dan air, disamping itu terdapat lapisan
keasaman kulit yang melindungi kontak zat kimia dengan kulit (6).
Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan, benda padat, tetapi cairan
yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut lemak. Kemampuan
absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme
dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antar sel,
menembus sel epidermis (paling banyak) atau melalui muara saluran kelenjar (6).
Kelenjar kulit mengeluarkan sisa metabolism tubuh berupa NaCl, urea, asam
urat dan ammonia. Produk kelenjar lemak dan keringat di kulit menyebabkan
keasaman kulit pada pH 5 6,5 (6).
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Badan
Ruffini di dermis dan subkutis berperan pada rangsangan panas, badan Krause di
dermis berperan terhadap rangsangan dingin, badan taktil Meissner di papilla dermis
berperan terhadap persepsi raba, badan Merkel Ranvier di epidermis berperan pada
persepsi raba dan badan Paccini di epidermis berperan pada persepsi tekanan (6).

Kulit mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat dan kontraksi


pembuluh darah kulit (6).
Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak pada lapisan basal dan berasal dari
rigi saraf. Pajanan terhadap sinar matahari mempengaruhi produksi melanosom.
Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan dendrit sedangkan ke lapisan
kulit di bawahnya dibawa oleh sel melanofag (6).
Keratinosit pada lapisan epidermis membelah dari sel basal dan akan
mendorong sel basal pindah ke atas dan berubah menjadi sel spinosum, makin ke atas
bentuknya makin gepeng dan bergranula menjadi granulosum. Makin lama, inti
menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung
normal selama 14 21 hari, memberi perlindungan kulit terhadap infeksi mekanis
fisiologis (6).
II. 3. Definisi Luka Bakar
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan
benda-benda yang menghasilkan panas (api secara langsung maupun tidak langsung,
pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll) atau zat-zat
yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat) (4).
II. 4. Etiologi
Luka bakar dapat disebabkan karena pajanan oleh trauma panas, trauma dingin
atau zat kimiawi pada kulit. Ketika trauma panas terpajan pada kulit, kedalaman
cedera yang terjadi sesuai dengan suhu, durasi kontak pajanan dan ketebalan kulit (1).
-

Luka bakar karena cairan panas


Air pada suhu 60 derajat Celcius menyebabkan terjadinya luka bakar
derajat dua maupun tiga dalam 3 detik. Pada suhu 69 derajat Celcius, luka
bakar derajat yang sama dapat terjadi dalam 1 detik

(1)

. Luka bakar karena

cairan panas dapat dibagi menjadi (9):

Luka bakar karena air panas


-

Tertumpahan air panas

Tercelup ke air panas

Luka bakar karena minyak panas

Luka bakar karena uap panas

Luka bakar karena api


Luka bakar karena api dapat dibagi menjadi 2 menjadi luka bakar flash
dan flame (9).
Luka bakar karena ledakan (flash burns)
Ledakan gas alam, propan, butan, distilasi bahan bakar minyak,
alkohol dan cairan-cairan yang mudah meledak dapat menimbulkan
panas yang intens untuk beberapa saat. Biasanya luka bakar derajat
satu atau dua dengan kedalaman tergantung jumlah dan jenis bahan
yang meledak (1).

Luka bakar karena kobaran api (flame burns)

Luka bakar karena kontak


Kontak dengan besi, plastik, maupun kaca panas menyebabkan luka
bakar kontak dan menghasilkan luka bakar derajat 4 (1).

Luka bakar karena zat kimiawi


Luka bakar karena radiasi
Luka bakar karena sengatan listrik

II. 5. Pembagian Zona Luka Bakar


Luka bakar terbagi menjadi 3 zona yaitu, zona koagulasi yang merupakan area
sentral dan terdiri atas jaringan nonviabel

(8)

dimana jaringan di daerah tersebut

mengalami kerusakan ireversibel saat terjadinya cedera (sudah nekrosis) (2).


Zona koagulasi dikelilingi oleh zona stasis. Biasanya pada zona stasis,
awalnya terdapat aliran darah aktif tetapi iskemi dan hipoperfusi dapat terjadi dalam
24 jam berikutnya, terutama pada resusitasi inadekuat

(8)

. Zona stasis dapat

berkembang menjadi nekrosis koagulatif bila aliran darah lokal tidak dipertahankan.
Tromboksan A2 yang merupakan vasokonstriktor poten terdapat pada luka bakar
dalam konsentrasi tinggi. Penggunaan inhibitor tromboksan telah terbukti dapat
memperbaiki aliran darah dan mengecilkan luas zona stasis. Antioksidan dan inhibisi
proses

neutrophil-mediated

juga

dapat

memperbaiki

aliran

darah

dan

mempertahankan jaringan serta mempengaruhi derajat luka bakar (9).


Zona hiperemis mengelilingi zona stasis dan terdiri atas jaringan viabel

(8)

Pada zona hiperemis tampak vasodilatasi dari hasil inflamasi di sekitar luka bakar (2).

Gambar 2. Pembagian Zona pada Luka Bakar (2)

II. 6. Klasifikasi Derajat Luka Bakar


Luka bakar derajat 1 (superfisial) memiliki ciri-ciri eritema dan edema ringan.
nyeri dan teraba hangat dengan capillary refill kembali dengan cepat. Semua lapisan
epidermis dan dermis intak. Masa penyembuhan terjadi dalam 5 hingga 7 hari dan
dapat terjadi epidermolisis superfisial(8). Luka bakar derajat 1 dapat diobati dengan
losion lidah buaya yang dapat mempercepat reepitelisasi
obatan anti inflamasi non steroid atau asetaminofen

(5)

, dan pemberian obat-

(9)

. Contoh luka bakar derajat 1

adalah sunburn (5).


Luka bakar derajat dua mencakup seluruh epidermis dan sebagian dermis.
Luka bakar derajat dua dibagi menjadi superfisial dan profunda tergantung dari
kedalaman kerusakan bagian dermis. Luka bakar derajat dua superfisial berwarna
merah muda, lembab dan nyeri bila disentuh

(5)

. Biasanya terbentuk bula (melepuh)

yang dapat muncul beberapa jam setelah cedera


superfisial adalah luka bakar karena air panas

(9)

. Contoh luka bakar derajat dua

(5)

. Luka ini akan reepitelisasi spontan

dari struktur epidermis di rete ridges, folikel rambut dan kelenjar keringat dalam 7
sampai 14 hari (9). Penyembuhan luka bakar derajat dua superfisial tidak menyebabkan
jaringan parut tetapi dapat tampak perubahan pigmentasi. Luka bakar derajat dua
superfisial dapat diobati dengan salep antibiotik (5).
Luka bakar derajat dua profunda mencakup seluruh epidermis dan bagian
reticular dermis. Tipe luka ini biasanya kering dan tampak belang pink-putih dengan
sensasi nyeri yang bervariasi. Bila tidak terinfeksi, luka bakar derajat 2 profunda
dapat sembuh dalam 3 hingga 8 minggu tergantung jumlah struktur adneksa yang

masih viabel di daerah luka bakar, tetapi biasanya terjadi kontraksi, jaringan parut dan
kemungkinan kontraktur sehingga bila luka tampaknya tidak akan reepitelisasi
komplit dalam 3 minggu, sebaiknya dilakukan eksisi operatif dan grafting (5).
Luka bakar derajat 3 mencakup lapisan epidermis dan seluruh dermis. Luka
tampak coklat kehitaman, kasar dan tidak nyeri. Terkadang tampak berwarna merah
seperti buah cherry akibat kadar karboksihemoglobin pada luka. Terapi yang
dibutuhkan adalah eksisi dan grafting

(5)

. Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan

sembuh sendiri akan mengalami kontraktur yang bila terjadi pada persendian dapat
mengganggu fungsi sendi (4).
Luka bakar derajat 4 mencakup seluruh lapisan kulit dan lemak subkutan serta
struktur di bawahnya. Luka bakar derajat ini tampak hangus dan seringkali
disebabkan oleh listrik, kontak berkepanjangan dan luka bakar imersi (1).
Tabel 1. Klasifikasi Derajat Luka Bakar di Amerika Serikat (5)

Derajat
Derajat 1

Sinar

Etiologi
Tampak Permukaan
Warna
ultraviolet Kering, tidak ada bula, Eritematosa

(sunburn)
Derajat 2

cairan

tidak ada atau sedikit


edema
dengan Bula lembab, melepuh

Kontak
atau

Level Nyeri
Nyeri

Belang pink- Sangat nyeri

benda

putih, merah

panas, ledakan yang

seperti cherry

membakar pakaian,
api, zat kimia atau
Derajat 3

sinar ultraviolet
Kontak
dengan Kering dengan jaringan Tampak

Sedikit

cairan

atau

atau

benda eskar

(keropeng) campuran

panas, api, zat kimia dengan pembuluh darah putih,


atau listrik
Derajat 4

nyeri
bahkan

licin, tidak

nyeri.

yang terbakar hangus di coklat gelap, Rambut mudah

bawahnya
hangus
tercabut
Kontak lama dengan Sama dengan derajat 3, Sama dengan Sama dengan
api, listrik

dapat terlihat

tulang, derajat 3

derajat 3

otot atau tendon

Gambar 3. Derajat 1 3 Luka Bakar (10)

II. 7. Luas Luka Bakar


Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh.
Biasanya menggunakan Rule of Nines yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung,
perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, eksremitas atas kiri, paha panan,
paha kiri, tungkai dan kaki kanan, tungkai kaki kiri masing-masing bernilai 9 %
sedangkan genitalia 1 % (4).

Gambar 4. Rule of Nines (11)

Anak-anak memiliki porsi persentase permukaan tubuh yang relatif lebih besar
pada kepala dan leher yang dikompensasi dengan permukaan tubuh yang relatif lebih
kecil pada ekstremitas bawah. Formula Berkow digunakan untuk menentukan ukuran
luas luka bakar secara akurat pada anak-anak (2).

Gambar 5. Tabel Formula Berkow (2)

Teknik lain untuk menilai luas luka bakar dapat menggunakan telapak tangan
pasien. Telapak tangan pasien mewakili 1% luas permukaan tubuhnya sehingga dapat
dinilai berapa persen luas luka bakar yang dideritanya (5).
Metode paling akurat untuk menilai luas luka bakar adalah tabel Lund dan
Browder yang menyediakan diagram berdasarkan umur untuk menilai luas luka bakar
secara akurat (5).

10

Gambar 6. Tabel Lund dan Browder (5)

II. 8. Patofisiologi
Luka bakar yang disebabkan oleh api, cairan panas dan kontak menyebabkan
kerusakan sel melalui mekansime transfer energi sehingga terjadi nekrosis koagulatif,
sedangkan luka bakar yang disebabkan oleh listrik dan zat kimia menyebabkan
kerusakan langsung pada membran sel ditambah transfer energi panas sehingga
menginduksi nekrosis koagulatif atau likuefaktif (2).
Pada luka bakar, terjadi pelepasan mediator inflamatorik masif. Mediatormediator inflamatorik tersebut menyebabkan vasokonstriksi dan vasodilatasi,
peningkatan permeabilitas kapiler, udem lokal dan organ lainnya. Sel mast pada kulit
yang terbakar melepaskan histamin dalam jumlah besar segera setelah cedera,

11

menyebabkan jarak pada celah interseluler membesar. Agregasi platelet melepaskan


serotonin yang berperan pada pembentukan udem (9).
Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan yang
berlebihan. Bila luas luka bakar kurang dari 20 %, mekanisme kompensasi tubuh
masih dapat mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20 %, akan terjadi syok hipovolemik
dengan gejala khas seperti pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan
darah turun, dan produksi urin berkurang. Setelah 12 24 jam, permeabilitas kapiler
mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke
pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya diuresis (4).
Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut,
peristalsis usus menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi,
peristaltis dapat menurun karena kekurangan kalium (4).
Fase

permulaan

luka

bakar

merupakan

fase

katabolisme

sehingga

keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi,
metabolisme tinggi dan infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga
memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan tubuh pada fase ini didapat
dari pembakaran protein pada otot skelet sehingga penderita menjadi sangat kurus,
otot mengecil dan berat badan menurun (4).
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat
terjadi kerusakan mukosa jalan nafas karena gas, asap atau uap panas yang terhisap
menyebabkan udem laring yang kemudian menghambat jalan nafas, menimbulkan
gejala sesak nafas, takipnea, stridor, suara serak dan dahak berwarna gelap akibat
jelaga (4).
Kontaminasi pada kulit mati merupakan medium yang baik bagi pertumbuhan
kuman sehingga akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya
yang tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis (4).
Awalnya, infeksi disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari kulit
sendiri atau dari saluran nafas, kemudian terjadi invasi oleh kuman Gram negatif.
Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease, enzim
penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi
membentuk nanah (4).
Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan kerpoeng yang mudah terlepas
dengan nanah yang banyak. Infeksi invasif ditandai dengan keropeng yang kering
dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat jadi nekrotik
12

sehingga luka bakar yang tadinya derajat dua menjadi derajat tiga. Infeksi kuman
menimbulkan vaskulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan
menimbulkan trombosis (4).
II. 9. Respons Metabolik pada Luka Bakar
Efek kardiopulmoner mencakup hilangnya sejumlah volume plasma
signifikan, peningkatan reistensi vaskular perifer dan penurunan cardiac output.
Perubahan ini berhubungan dengan kerusakan jantung ringan dan sedikit penurunan
komplians paru statis. Aliran darah ginjal menurun seiring turunnya glomerular
filtration rate (GFR) yang dapat menyebabkan disfungsi renal. Perubahan metabolik
ditandai dengan peningkatan resting energy expenditure, peningkatan lipolisis dan
proteolisis, dan peningkatan konsumsi oksigen. Hal ini disebabkan oleh peningkatkan
produksi katekolamin, kortisol dan glucagon. Terdapat penurunan produksi
imunoglobulin, penurunan aktivitas opsonik, penurunan aktivitas bakterisidal dan
peningkatan anergi terhadap antigen yang terpajan. Hal ini menyebabkan pasien luka
bakar rentan dengan infeksi (9).

Gambar 7. Efek Disfungsi Metabolik Pasca Luka Bakar

(2)

13

II. 10. Indikasi Rawat Inap Pasien Luka Bakar


Penderita syok atau terancam syok
-

Anak

: Luasnya luka > 10 %

Dewasa

: Luasnya luka > 15 %

Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat


-

Wajah, mata

Tangan dan kaki

Perineum

Terancam udem laring


-

Menghirup asap atau udara hangat (4)

II. 11. Indikasi Rujuk ke Pusat Luka bakar

Luka bakar derajat 2 dan 3 dengan luas permukaan lebih dari 10 % pada
pasien berumur kurang dari 10 tahun atau di atas 50 tahun

Luka bakar derajat 2 dan 3 dengan luas permukaan lebih dari 20 % pada
seluruh kelompok umur
Luka bakar derajat 2 dan 3 yang meliputi wajah, tangan, kaki, genitalia,
perineum atau sendi besar
Luka bakar derajat 3 dengan luas lebih dari 5 % pada semua kelompok umur
Luka bakar elektrik termasuk sambaran petir
Luka bakar kimiawi
Trauma inhalasi
Luka bakar pada pasien dengan kelainan medis sebelumnya yang dapat
mempersulit

penanganan,

memperlama

periode

pemulihan

atau

mempengaruhi mortalitas
Semua pasien luka bakar dengan trauma penyerta (misalnya fraktur) dimana
trauma dapat memperberat resiko morbiditas dan mortalitas
Luka bakar pada anak yang dirawat di RS tanpa sarana dan prasarana yang
memadai
Luka bakar yang memerlukan intervensi sosial, emosional atau rehabilitasi
khusus (2)

II. 12. Terapi


Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh dengan
menjatuhkan diri dan berguling agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas.
14

Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah dengan merendam


daerah luka bakar atau menyirami dengan air mengalir selama minimal 15 menit.
Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus
menerus sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan
mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin pada jam
pertama(4).
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan
daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa sel
epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara
tertutup atau terbuka(4).
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti luka bakar ringan,
dilakukan resusitasi segera bila penderita menujukkan gejala syok. Bila penderita
menunjukkan gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan
oksigen. Bila terjadi udem laring, pasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi
yang berfungsi untuk membebaskan jalan nafas, mengurangi ruang mati,
memudahkan pembersihan jalan nafas dari lendir atau kotoran

(4)

. Bila ada dugaan

keracunan monokarbondioksida, perlu dilakukan pemeriksaan analisa gas darah. Bila


kadar karboksihemoglobin meningkat lebih dari 10% berikan oksigen 100% (8).
Perawatan lokal adalah dengan mengoleskan antiseptik pada luka dan
membiarkan terbuka atau ditutup dengan pembalut steril. Selanjutnya diberikan ATS
dan toksoid untuk mencegah tetanus. Analgetik diberikan bila penderita kesakitan (4).
II. 12. 1. Resusitasi Cairan pada Luka Bakar
Tujuan

resusitasi

cairan

pada

penderita

luka

bakar

adalah

untuk

mengembalikan dan mempertahankan perfusi jaringan adekuat dan oksigenasi,


mencegah iskemia organ, menyelamatkan zona stasis sebanyak mungkin, dan
meminimalisir kontribusi pengobatan terhadap udem (8).
Diuresis 30 50 ml/jam pada orang dewasa dan lebih dari 1 ml/kgBB/jam
pada anak-anak merupakan pedoman keberhasilan resusitasi cairan (8).
Kebanyakan pasien dapat diresusitasi dengan cairan kristaloid terutama cairan
ringer laktat. NaCl sebaiknya dihindari karena

volume yang dibutuhkan untuk

resusitasi dapat menyebabkan komplikasi asidosis metabolik hiperkloremik. Pada


pasien dengan luka bakar masif, pasien anak-anak, dan luka bakar dengan komplikasi

15

cedera inhalasi, dapat digunakan kombinasi cairan kristaloid dan koloid untuk
mencapai tujuan resusitasi (1).
Kebutuhan cairan pada penderita luka bakar dapat diukur dengan rumus Evans
yaitu :
(1) Luas luka (%) x BB (kg) = mL NaCl/24 jam
(2) Luas luka (%) x BB (kg) = mL plasma/24 jam
(3) Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2000 cc
glukosa 5% per 24 jam
Separuh dari jumlah (1) + (2) + (3) diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya
diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan
hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Bila
diuresis hari ketiga memuaskan dan penderita dapat minum tanpa kesulitan, infus
dapat dikurangi bahkan dihentikan (4).
Cara lain menghitung kebutuhuan cairan adalah dengan menggunakan rumus
Baxter/Parkland yaitu % luas tubuh x BB x 4 ml. Separuh jumlah cairan ini diberikan
dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama
diberikan elektrolit yaitu ringer laktat. Hari kedua diberikan setengah cairan hari
pertama (4) (8).
[0,5 x ( Luas luka bakar % x kgBB x 4 mL)] / 8 jam = mL/jam (8 jam pertama)
[0,5 x ( Luas luka bakar % x kgBB x 4 mL)] / 16 jam = mL/jam (16 jam berikutnya)
Pada anak-anak penderita luka bakar, dapat digunakan rumus Galveston yaitu
ringer laktat 5000 mL/Luas luka bakar (m2) + 2000 mL/m2 total (setengah total
volume diberikan 8 jam pertama dan sisanya pada 16 jam berikutnya)(12).
Nutrisi yang diberikan harus mencukupi kebutuhan kalori dan keseimbangan
nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500 3.000 kalori
sehari dengan kadar protein tinggi (4).
II. 12. 2. Perawatan Lokal Luka Bakar
Antibiotik sistemik profilaksis tidak memiliki peranan penting dalam
manajemen luka bakar dan hanya meningkatkan resiko terjadinya infeksi oportunistik.
Hal ini disebabkan karena pada keropeng luka bakar, mikrosirkulasi sudah tidak ada,
dan tidak ada mekanisme penghantar antibiotik sistemik ke lokasi luka bakar (5).
16

Perawatan lokal dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup. Permukaan luka
yang terbuka menjadi dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang. Perawatan
luka tertutup dilakukan dengan memberi balutan yang bertujuan untuk menutup luka
dari kemungkinan kontaminasi tetapi masih cukup longgar untuk berlangsungnya
penguapan. Kadang suasana luka yang lembab dan hangat memungkinkan kuman
untuk berkembang biak, oleh karena itu bila pembalut melekat pada luka tetapi tidak
berbau, sebaiknya dibiarkan hingga terlepas sendiri. Sebisa mungkin luka ditutup kasa
penjerap setelah dibubuhi dan dikompres antiseptik (4).
Tabel 2. Agen Topikal pada Luka Bakar (1) (5) (13)

Agen Topikal
Silver
sulfadiazine
aplikasi
hingga

kali

Keuntungan
Spektrum luas

Kerugian
Penetrasi keropeng inadekuat

Tidak nyeri

Kadang terjadi hipersensitivitas timbul ruam

Mudah diaplikasikan

Keamanan bagi wanita hamil masih belum


diketahui

sehari

Mafenide

acetate (10%)
aplikasi 2 kali

sehari

Aktivitas antibakterial baik

Dapat menyebabkan leukopenia reversibel

Dapat timbul neutropenia dan trombositopenia


Sangat nyeri terutama pada luka bakar derajat
2

Penetrasi keropeng baik


Tidak

menyebabkan

resistensi

bakteri Gram ( - )

Hipersensitivitas pada 7% pasien


Sering

menyebabkan

inhibisi

karbonik

anihidrase sehingga menyebabkan asidosis


Silver

nitrate

(0,5%)

Aktivitas antibakterial universal

metabolik
Penetrasi keropeng buruk


aplikasi 4 kali

Efektif pada lokasi donor, area

Menyerap natrium dan klorida, menyebabkan

yang baru saja dicangkok (graft)

hiponatremia atau alkalosis hipokloremik

sehari

dan luka bakar

Jarang

menyebabkan

hipersensitivitas

Tidak menyebabkan resistensi pada


bakteri Gram ( - )

Menyebabkan defisit kalium dan kalsium


Meninggalkan noda kehitaman
Methemoglobinemia (jarang) bila terjadi,
hentikan pemakaian

Argyria (jarang)

II. 13. Komplikasi Lanjut Luka Bakar


II. 13. 1. Jaringan Parut Hipertrofik

17

Jaringan parut hipertrofik terasa nyeri dan gatal, dapat terjadi pada luka graft
dan luka yang tidak dieksisi yang membutuhkan waktu penyembuhan lebih dari 2
hingga 3 minggu. Pasien dengan warna kulit gelap memiliki resiko lebih tinggi
terbentuknya jaringan parut hipertrofik. Beberapa strategi untuk mencegah atau
meminimalisir terbentuknya jaringan parut hipertrofik seperti pemasangan balut tekan
pada area yang dilakukan graft atau area yang lama sembuh. Injeksi steroid juga dapat
digunakan untuk meminimalisir gejala yang ditimbulkan (5).
II. 13. 2. Ulkus Marjolin
Ulkus Marjolin adalah bentuk degenerasi maligna dari luka bakar kronis atau
luka bakar yang membutuhkan waktu penyembuhan bulanan hingga tahunan.
Biasanya tumor ini agresif dan timbul pada area yang tidak dilakukan graft (5).
II. 13. 3. Osifikasi Heterotopik
Osifikasi heterotopik tejadi akibat deposit kalsium yang menghambat fungsi
sendi normal. Biasanya mengenai siku dan bahu pada 1 hingga 3 bulan setelah cedera.
Gejala yang timbul adalah nyeri dan penurunan range of motion pada sendi yang
terkena. Penatalaksanaan dengan pembedahan mencakup eksisi tulang yang
heterotopik dapat dilakukan bila luka bakar sudah sembuh sempurna (5).

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Brunicardi, F Charles. 2006. Schwartzs Manual of Surgery 8th Edition. New
York. McGraw-Hill
2. Townsend, Courtney M (Ed). 2012. Sabiston Textbook of Surgery 19th Edition.
Philadelphia. Elsevier Saunders
3. Firdaus, Ihsanul. 2012. Efektivitas Pemberian Gel Lendir Bekicot (Achatina
fulica) terhadap Penyembuhan Luka Bakar Derajat II pada Tikus Putih
(Rattus nrvegicus) melalui Pengamatan Mikroskopis. Karya Tulis Ilmiah.
Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
4. Sjamsuhidajat, R dan De Jong, Wim (Ed). 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi
3. Jakarta. EGC
5. Thorne, Charles H (Ed). 2007. Grabb & Smiths Plastic Surgery 6th Edition.
Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins
6. Djuanda, A., Hamzah, M dan Aisah, S., 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi 5. Jakarta
7. James, William D., Berger, Timothy G dan Elston, Dirk M. 2006. Andrews
Diseases of The Skin: Clinical Dermatology 10 th Edition. Canada. Saunders
Elsevier
8. Kryger, Zol B., Sisco, Mark (Ed). 2007. Practical Plastic Surgery. Texas.
Landes Bioscience
9. Feliciano, David V., Mattox, Kenneth L., Moore, Ernest E. 2008. Trauma 6th
Edition. McGraw-Hill
10. http://www.burnstrust.com.au/assets/_resampled/resizedimage600448-SkinModel-Photo-Burn-Depths.JPG diakses tanggal 28 Desember 2014
11. American College of Surgeons. 2012. Advanced Trauma Life Support 9th
Edition. Chicago
12. Haberal, Mehmet A., Abali, Ebru S dan Karakayali, Hamdi. 2010. Fluid
Management in Major Burn Injuries Indian Journal of Plastic Surgery Vol.
43, Issue 3, halaman 29 - 36 [diakses pada

4 Januari 2015]

pada http://www.ijps.org/text.asp?2010/43/3/29/70715
13. Morris, Peter J. 2002. Oxford Textbook of Surgery 2nd Edition. Oxford
University Press

19