Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

AMI

Nama Mahasiswa

: Devi Fauziyyah

NIM

: 12162

Tempat Praktik

: Ruang ICU Lt.2 RS Haji Jakarta Timur

Hari/Tanggal

: 04 Februari 06 Februari 2016

Kelas

: III C

A. Pengertian
Akut Miokard Infrak adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena sumbatan
pada arteri koroner. Sumbatan akut terjadi oleh karena adanya aterosklerotik pada dinding
arteri korener sehingga menyumbat aliran darah ke jaringan otot jantung. (Sudoyo
Aru,dkk 2008).
Infark miokardium disebabkan oleh penurunan aliran darah melalui satu atau lebih arteri
koroner, menyebabkan iskemik miokard dan nekrosis. (Doengus, 2005)
Infark miokard adalah suatu keadaan ketidakseimbangan antara suplai & kebutuhan
oksigen miokard sehingga jaringan miokard mengalami kematian. Infark miokardium
mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat
sehingga aliran darah koroner berkurang. (Smetzler Suzanne C & Brenda G. Bare. 2002)

B. Patoflow

C. Manifestasi Klinis
1. Lokasi substernal , rerosternal, dan prekordial
2. Sifat nyeri : rasa sakit, seperti ditekan , rasa terbakar, rasa tertindih benda berat,
3.
4.
5.
6.

seperti ditusuk , rasa diperas, dan dipelintir


Nyeri hebat pada dada kiri menyebar kabahu kiri ,leher kiri dan lengan atas kiri
Nyeri membaik dengan istrahat atau dengan obat nitrat
Faktor pencetus :latihan fisik, stress emosi , udarah dingin , dan sesudah makan
Gejala yang menyertai : keringat dingin , mual, muntah, sulit bernafas, cemas dan

lemas
7. Dispnea
8. Pada pemeriksaan EKG

a. Fase Hiperakut (beberapa jam permulaan serangan)


1) Elevasi yang curam dari segmen ST
2) Gelombang T yang tinggi dan lebar
3) VAT memanjang
4) Gelombang Q tampak
b. Fase Perkembangan Penuh (1-2 hari kemudian)
1) Gelombang Q patologis
2) Elevasi segmen ST yang cembung ke atas
3) Gelombang T yang terbaik (arrowhead)
c. Fase Resolusi (beberapa minggu /bulan kemudian)
1) Gelombang Q patologis tetap ada
2) Segmen ST mengkin sudah kembali iseolektris
3) Gelombang T mungkin sudah menjadi normal
9. Pada pemeriksaan darah (enzim jantung : CK & LDH)
a. Creatine Kinase (CK) meningkat pada 6-8 jam setelah awitan infark dan
memuncak antara 24 & 28 jam pertama . pada 2-4 hari setelah awitan AMI
normal
b. Dehidrogense Laktat (LDH) mulai tampak melihat pada serum setelah 24 jam
pertama setela awitan akan tinggi selama 7-10 hari .
D. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dari proses keperawatan. Tahap pengkajian diawali
dari pengumpulan data, analisa data, dan diagnosa keperawatan bersifat aktual
maupun resiko tinggi. Semua dapat diperoleh dari klien, keluarga, keperawatan
ruangan, anggota tim kesehatan lain, cacatan medis dan cacatan keperawatan.
Menurut Doengoes ( 2000 ) pengkajian terdiri dari :
a. Aktivitas atau istirahat
Gejala : keletihan / kelelahan, tidak dapat tidur pola hidup menetap, jadwal
olahraga tidak teratur.
Tanda-tanda : takikardi, disnea pada istirahat atau aktivita.
b. Sirkulasi
Tanda : tekanan darah meningkat atau menurun, penurunan kontraktilitas
ventrikel, edema, distensi vena jugularis, kulit pucat atau sianosis.
c. Integritas ego
Gejala : ansietas , kuatir dan takut. Stres yang berhubungan dengan penyakit atau
keperihatinan finansial ( pekerjan atau biaya perawatan medis).
Tanda : berbagai manifestasi perilaku, misalnya ansietas, marah, ketakutan dan
mudah tersinggung.
d. Tekanan / cairan
Gejala : mual, kehilangan nafsu makan, nyeri ulu hati.

Tanda : turgor kulit buruk ( kulit kering, berkeringat) muntah, perubahan berat
badan.
e. Hygiene
Gejala : keletihan atau kelemahan selama aktivitas
Tanda : penampilan menandakan kelalaian perawatan persoanal.
f. Nyeri dan ketidaknyamanan
Gejala : nyeri dada hilang timbul dan dapat menyebar kebagian lain seperti

g.
h.
i.
j.

abdomen, punggung, leher.


Tanda : wajah meringis, perubahan postur tubuh, menarik diri.
Neurosensori
Gejala : pusing selama tidur atau saat bangun (duduk dan istirahat )
Tanda : tidak tenang, tidak nyaman, gelisah, kelemahan.
Pernapasan
Gejala : dipsnea.
Tanda : peningkatan frekuensi pernapasan , nafas sesak, pucat / sianosis.
Keamanan
Gejala : perubahan dalam fungsi mental, kehilangan kekuatan.
Interaksi sosial
Gejala : penurunan keikutsertan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pada data manifestasi klinis, riwayat keperawatan, dan data pengkajian
diagnostik, maka diagnosa keperawatan utama pasien mencakup hal berikut :
a. Nyeri dada berhubungan dengan adanya iskemik jaringan akibat penyempitan
arteri koroner.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai darah
dan kebutuhan oksigen miokard..
c. Cemas berhubungan dengan takut akan kematian.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi.
3.

Perencanaan / Implementasi
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi
atau meproteksi masalah masalah yang di identifikasi pada diagnosis keperawatan.
Tahap ini dimulai setelah menemukan diagnosa keperawatan dan merencanakan
rencana dokumentasi.
Rencana tindakan adlah desain spesifik intervensi ang membantu klien dalam
mencapai kriteria hasil. Rencana tindakan berdasarkan komponen penyebab dari
diagnosa keperawatan.
a. Nyeri dada berhubungan dengan adanya iskemik jaringan akibat penyempitan
arteri koroner.
Tujuan : klien merasa nyaman, nyeri hilang atau berkurang.

Kriteria hasil :
1) Menyatakan nyeri dada berkurang atau hilang.
2) Mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi.
3) Menunjukkan menurunnya tegangan, rileks, mudah bergerak.
Intervensi :
a) Istirahat total pada posisi semi fowler sampai nyeri dada hilang.
Rasional : aktivitas tubuh menambahkan kebutuhan jaringan akan oksigen,
yang menambah kerusakan miokard. Untuk memenuhi peningkatan kebutuhan
osigen, kontraksi otot jantung dan peningkatan denyut jantung. respon
psikologi dapat menambah nyeri dada.
b) Berikan oksigen melalui kanula hidung 6L/menit jika tidak ada riwayat
penyakit paru- paru kronis (2L/menit jika ada riwayat).
Rasional : miokardium membutuhkan suplai tetap oksigen. Tambahan oksigen
meningkatkan tekanan oksigen pada arterial.
c) Bantu melakukan relaksasi misalnya : mengajarkan nafa dalam.
Rasional : Membantu dalam penurunan respon atau persepsi nyeri
d) Mulai terapi IV dan melakukan kegiatan aktivitas pemeliharaan.
Rasional : memberikan akses pada pembuluh darah dalam memberikan
pengobatan.
e) Berikan obat- obat yang telah ditentukan untuk mengurangi nyeri dada dan
mengevaluasi keefektifannya. Tidak memberikan analgesi dan memberi tahu
dokter bila pernapasan menurun kurang dari 12x/menit, denyut lebih besar dari
100x/menit dan TD kurang dari 90/60 mmHg.
Rasional : sulfat morfin, obat narkotik, membantu mengurangi/ memblok
transmiter nyeri. Obat- obat tersebut juga menyebabkan vosodilatasi sehingga
mengurangi rasa nyeri yang sudah terjadi. Dengan mengurangi rasa nyeri
secara efektif perasaan gelisah juga dapat berkurang. Tanda vital ini penting
untuk menilai tahap awal terjadinya syok, sebagai indikasi kegagalan jantung
selanjutnya.
f) Berikan pelunak feses dan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi.
Rasional : mengedan pada saat defekasi dan menggunakan pispot dapat
meningkatkan manuver valsalva, ini meningkatkan tekanan intratorakal, ini
dapat meningkatkan tekanan arteri koroner sehingga dapat menyebabkan
angina atau aritmia.
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai darah
dan kebutuhan oksigen miokard..
Tujuan : klien mampu meningkatkan aktivitas.

Kriteria hasil :
1) Lelah berkurang.
2) Tanda- tanda vital normal .
3) Klien tidak pusing dan sesak nafas.
4) Kesimbangan masukan dan pengeluaran
Intervensi :
a) Pantau tanda- tanda vital setiap 2 jam, rekam EKG dengan sering.
Rasional : mengidentifikasi indikasi ke arah kemajuan atau penyimpangan dari
arah yang diharapkan.
b) Pertahankan istirahat total 24- 48 jam selama serangan IMA.
Rasional : mengurangi pemakaian oksigen pada miokard sampai beberapa hari,
akan meningkatkan sirkulasi dan suplai- suplai darah ke daerah- daerah yang
kurang perfusi.
c) Rencanakan aktivitas perawatan untuk memungknkan periode istirahat tanpa
gangguan dalam waktu lama.
Rasional : mengistirahatkan tubuh untuk memulihkan tenaga.
c. Cemas berhubungan dengan takut akan kematian
Tujuan : kecemasan klien akan berkurang
Kriteria hasil :
1) Cemas berkurang atau hilang
2) Mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalah positif
Intervensi :
a) Identifikasi persepsi klien terhadap ansietas
Rasional : koping terhadap nyeri sulit, klien dapat takut mati, atau cemas
terhadap lingkungan
b) Berikan periode istirahat
Rasional : penyimpanan energi dan meningkatkan kemampuan klien
c) Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
Rasional : meningkatkan kepercayaan diri dan menurunkan rasa gagal
d) Berikan penjelasan yang sederhana dari seluruh perawatan yang sederhana dari
seluruh perawatan selama periode nyeri hebat terjadi. Ulang penjelasan secra
detail setelah rasa nyeri teratasi/ terkontrol.
Rasional : pasien hanya dapat menguasai sedikit informasi saat mereka cemas
dan, terlalu banyak informasi meningkatkan kekuatiran mereka.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
Tujuan : klien dapat memahami penyakitnya
Kriteria hasil :
1) klien dapat memahami penyakitnya
2) menyebutkan gejala yang memerlukan perhatian cepat
3) mengidentifikasi perubahan pola hidup perlu intervensi keperawatan
Intervensi :

a) Kaji tingkat pengetahuan klien atau orang terdekat


Rasional : perlu untuk pemberian rencana intruksi individu, menguatkan
harapan
b) Berikan informasi dalam bentuk belajar
Rasional : penggunaan metode bermacam-macam meningkatkan penyerapan
pemahaman
c) Beri penguatan penjelasan faktor resiko
Rasional : memberikan kesempatan pada klien untuk mencapai informasi.

DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction Publishing.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Udjianti, Wajan Juni. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta:
EGC.
Luh, Ni. Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta:
EGC.
Doengoes, Marilynn E. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: 2013.

Anda mungkin juga menyukai