Anda di halaman 1dari 28

EPILEPSI

PENDAHULUAN

Kejang adalah perubahan mendadak


pada aktivitas elektrik korteks serebri
yang secara klinis bermanifestasi dalam
bentuk perubahan kesadaran atau gejala
motorik, sensorik atau perilaku.

DEFINISI

Epilepsi merupakan kelompok gangguan


yang ditandai oleh perubahan fungsi
neurologik kronik, rekuren, dan
paroksismal.

EPIDEMIOLOGI

Hingga 1% dari populasi umum


menderita epilepsi aktif, dengan 20-50
pasien baru yang terdiagnosis per
100.000 per tahunnya.
Perkiraan angka kematian pertahun
akibat epilepsI adalah 2 per 100.000

ETIOLOGI
Idiopatik
predisposisi genetik
Simtomatik

ETIOLOGI (SIMTOMATIK)
Bayi (0-2)

Hipoksia perinatal dan iskemia

Trauma lahir intracranial

Infeksi akut

Gangguan metabolic (hipoglikemia, hipokalsemia,


hipomagnesemia, defisiensi piridoksin)

Malformasi congenital

Gangguan genetik

Lanjutan
Anak (2-12)

Idiopatik

Infeksi akut

Trauma

Febris konvulsi
Anak remaja (12-18)

Idiopatik

Trauma

Penghentian obat, alcohol

Malformasi arteriovenosa

Lanjutan
Dewasa Muda (18-35)

Trauma

Alkoholisme

Tumor otak
Dewasa yang lebih tua (>35)

Tumor otak

Penyakit serebrovaskular

Gangguan metabolic (uremia, gagal hepar, abnormalitas


elektrolit, hipoglikemia)

Alkoholisme

KLASIFIKASI

PARSIAL (FOKAL)
Parsial

sederhana
Parsial kompleks
Parsial dengan generalisata sekunder

GENERALISATA
Tonik-klonik

(Grand mal)
Absens (Petit mal)
Mioklonik
Atonik
Klonik
Tonik
Spasme infantil

PARSIAL SEDERHANA

Dapat bersifat motorik (gerakan


abnormal unilateral)
sensorik (merasakan, membaui,
mendengar sesuatu yang abnormal)
autonomik (takikardia, bradikardia,
takipnu, kemerahan, rasa tidak enak
epigastrium),
psikis (disfagia, gangguan daya ingat).
Berlangsung kurang dari 1 menit

PARSIAL KOMPLEKS

Dimulai sebagai kejang parsial


sederhana; berkembang menjadi
perubahan kesadaran yang disertai oleh:
Gejala

motorik, gejala sensorik, otomatisme


(mengecap-ngecapkan bibir, mengunyah,
menarik baju)
Beberapa kejang parsial kompleks mungkin
berkembang menjadi kejang generalisata

Berlangsung 1-3 menit

PARSIAL DENGAN
GENERALISATA SEKUNDER

Terjadi penurunan kesadaran

TONIK-KLONIK (GRAND
MAL)

Spasme tonik-lonik otot


inkontinensia urin dan alvi
menggigit lidah
fase pascaiktus

ABSENCE (PETIT MAL)

Sering salah diagnosa sebagai melamun,


Menatap kosong, kepala sedikit lunglai,
kelopak mata bergetar, atau berkedip
secara cepat
Tonus postural tidak hilang
Berlangsung beberapa detik

MIOKLONIK

Kontraksi mirip syok mendadak yang


terbatas di beberapa otot atau tungkai
cenderung singkat

ATONIK

Hilangnya secara mendadak tonus otot


disertai lenyapnya postur tubuh (drop
attacks)

KLONIK

Gerakan menyentak, repetitif, tajam,


lambat, dan tunggal atau multiple di
lengan, tungkai, atau torso

TONIK

Peningkatan mendadak tonus otot


(menjadi kaku, kontraksi) wajah dan
tubuh bagian atas
fleksi lengan dan ekstensi tungkai. Mata
dan kepala mungkin berputar ke satu sisi.
Dapat menyebabkan henti napas

SPASME INFANTIL
Kontraksi singkat yang sinkron dari leher,
tubuh, dan kedua lengan
Spasme fleksor : fleksi mendadak leher,
lengan, dan kaki pada tungkai
Spasme ekstensor : ekstensi badan dan
tungkai
Spasme campuran

PATOFISIOLOGI

Tanda khas perubahan status fisiologik


dari epilepsi acuan banyak neuron
secara hipersinkronisasi berulang dan
ritmik pada daerah local di otak.
Refleksi pacuan hipersinkronisasi ini
dapat diobservasi pada EEG.
EEG merekam aktivitas elektrik yang
terintegrasi yang ditimbulkan oleh
potensial sinaptik dalam neuron pada
lapis superfisial area korteks terlokalisasi.

Lanjutan

Pada fokus epileptik, neuron di area kecil


korteks diaktivasi selama periode singkat
(50 sampai 100 mdet) dengan cara
sinkron yang tidak lazim dan kemudian
dihambat.
Aktivitas kejang sebagian bergantung
pada lokasi lepas muatan yang
berlebihan tersebut.

Lanjutan

Lesi di otak tengah, thalamus, dan


korteks serebrum kemungkinan besar
bersifat epileptogenik, sedangkan lesi di
serebelum dan batang otak umumnya
tidak memacu kejang.
Perubahan-perubahan metabolik yang
terjadi selama dan segera setelah kejang
sebagian disebabkan oleh meningkatnya
kebutuhan energi akibat hiperaktivitas
neuron

Lanjutan

Selama kejang, kebutuhan metabolik


secara drastis meningkat; lepas muatan
listrik sel-sel saraf motorik dapat
meningkat menjadi 1000 per detik. Aliran
darah otak meningkat, demikian juga
respirasi dan glikolisis jaringan

PENEGAKKAN DIAGNOSA

Anamnesis
(autoanamnesis/aloanamnesis)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan Lab
EEG
MRI
CT scan
PET

PENATALAKSANAAN
Obat

Prinsip penggunaan

Dosis

Fenitoin (Dilantin)

Tonik-klonik (grand mal)

Dewasa: 300-400 mg/hari

Parsial

Anak: 5 mg/kgBB/hari

Karbamazepin (Tegretol)

Tonik-klonik
Parsial

Fenobarbital (Luminol)
Primidon (Misolin)

Tonik-klonik

Dewasa: 60-120 mg/hari

Parsial

Anak: 3-5 mg/kgBB/hari

Tonik-klonik

Dewasa: 750-1000 mg/hari

Parsial

Anak: mulai 50 mg/hari dalam dua


dosis

terbagi,

secara

bertahap

ditambah sampai 150-500 mg/hari


dalam tiga dosis terbagi
Natrium
Depakot)

valproat

(Depaken,

Absen

Dewasa: 750-1250 mg/hari

Absen atipikal

Anak: mulai 10 mg/kgBB/hari,

Mioklonik

ditambah

Tonik-klonik (parsial)

mg/kgBB/minggu,

dengan

5-10

dosis biasa 30-40 mg/kgBB/hari

Obat

Prinsip penggunaan

Dosis

Etosuksimid (Zarontin)

Absen (petit mal)

Dewasa: 750-1250 mg/hari


Anak: mulai 20 mg/kgBB/hari
Ditambah sampai maksimum 40
mg/kgBB/hari

Klonazepam (klonopin)

Absen

Dewasa: 1-12 mg/kgBB/hari

Absen atipikal

Anak: mulai 0,05 mg/kgBB/hari

Mioklonik

Ditambah

dengan

0,005

mg/kgBB/minggu, maksimum 0,2


mg/kgBB/hari
Trimetadion (Tridione)

Absen

Dewasa: 900-2100 mg/kgBB/hari

Gabapentin (Neurontin)

Absen atipikal
Parsial

Dewasa: 900-1200 mg/hari


Anak: mulai 100mg/hari
Ditambah dengan 300 mg/hari
setiap 3-5 hari

PROGNOSIS

Pada umumnya prognosis epilepsi cukup


menggembirakan.
Pada 50-70% penderita epilepsi serangan
dapat dicegah dengan obat-obat
Sekitar 50 % pada suatu waktu akan
dapat berhenti minum obat.

Serangan epilepsi primer, baik yang


bersifat kejang umum maupun serangan
lena atau melamun atau absence
mempunyai prognosis terbaik.
Sebaliknya epilepsi yang serangan
pertamanya mulai pada usia 3 tahun
atau yang disertai kelainan neurologik
dan atau retardasi mental mempunyai
prognosis relatif jelek.