Anda di halaman 1dari 20

I.

KONSEP DASAR MEDIS


A. Defenisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan jaringan
lunak disekitarnya (Brunner & Suddarth, 2009), sedangkan menurut
Black & Hawks (2009) fraktur adalah terputusnya jaringan tulang
karena stress akibat tahanan yang datang lebih besar dari daya tahan
yang dimiliki oleh tulang. Fraktur adalah patah tulang, yang biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price & Wilson, 2006).
Berdasarkan ketiga definisi diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur
humerus adalah terputusnya kontinuitas tulang dan jaringan disekitar
humerus, karena stres atau tahanan yang berlebihan pada tulang,
yang mengakibatkan dislokasi sendi, kerusakan jaringan lunak, saraf
dan pembuluh darah.
Fraktur adalah terputusnya jaringan tulang dan atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapakasa. (Arif Mansjoer,
2000).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner and Suddarth, 2001).
Fraktuk metatarsal adalah fraktur yang terjadi pada tulang
metatarsal karena

trauma

ataupun

karena benturan hebat

(www.medikastore.com). Sedangkan menurut Widyatmiko (2010) ,


OTA mengklasifikasi fraktur metatarsal secara detail mengenai
bentuk frakturnya tetapi tidak berdasarkan stabilitas ataupun
penatalaksanaannya. Fraktur metatarsal berdasarakan klasifikasi ini
adalah 81. Identifikasi huruf untuk menunjukan metatarsal yang
terkena :
T = Metatarsal 1
N = Metatarsal 2
M = Metatarsal 3
R = Metatarsal 4
L= Metatarsal 5
B. Jenis Fraktur
1. Komplit/tidak komplit
Bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui
kedua kertas tulang.
a. Fraktur tidak komplit (incomplit)

Bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang,


seperti:
Buckle fraktur
korteks

: bila terjadi lipatan dari satu

d engan kompres, tulang spongiosa di

bawahnya.
Greenstick fraktur : fraktur tidak sempurna dan
sering terjadi pada anak-anak korteks tulang sebagian

masih utuh demikian juga periosteum.


2. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
a. Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak
lurus terhadap sumbu panjang tulang.
b. Fraktur oblique adalah fraktur yang

garis

patahnya

membentuk sudut terhadap tulang.


c. Fraktur spiral adalah patah tulang melingkari tulang.
d. Fraktur kompresi terjadi bila dua tulang menumbuk tulang
ketiga yang berada diantaranya.
e. Fraktur evolusi memisahkan suatu fragmen tulang pada
tempat insersi tendon ataupun ligamen.
3. Jumlah garis patah
a. Fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
b. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak
berhubungan
c. Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada
tulang yang berlainan tempatnya.

Jenis- jenis fraktur (Hegner, 2003)


4. Bergeser/tidak bergeser
a. Fraktur undisplaced (tidak bergeser)
Tulang patah posisi pada tempatnya yang normal.
b. Fraktur diplaced (bergeser)
Ujung tulang yang patah berjauhan dari tempat patah.

5. Terbuka/tertutup
a. Fraktur tertutup (closed/simple fracture)
Bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan
dunia luar.
b. Fraktur terbuka (open/compound fracture)
Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia
luar karena adanya perlukaan dikulit. Menurut R Gustillo,
fraktur terbuka tebagi atas tiga derajat yaitu:
1) Derajat I
Luka < 1 cm
Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada

tanda luka remuk


Fraktur sederhana transversal, oblik atau

kaminutif ringan.
Kontaminasi minimal
2) Derajat II
Laserasi > 1 cm

Kerusakan

jaringan

lunak,

tidak

luas,

flap/avulsi
Fraktur kominutif sedang
Kontaminasi sedang
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi
struktur

kulit,

otot

dan

neurovaskuler

serta

kontaminasi derajat tinggi.


Fraktur derajat III terbagi atas:
a) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang
adekuat,

meskipun

terdapat

laserasi

luas/flap/avulsi, atau fraktur segmen atau sangat


kominutif yang disebabkan oleh trauma berenergi
tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
b) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang
yang terpapar atau kontaminasi masif.
c) Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang
luas diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan
lunak.
C. Etiologi
Fraktur dapat diakibatkan oleh (Muttaqin, 2005)
1. Fraktur akibat peristiwa trauma sebagian fraktur disebabkan oleh
kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan,
penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila
tekanan kekuatan langsung tulang dapat patah pada tempat yang
terkena dan jaringan lunak akan ikut rusak. Pemukulan biasanya
menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit di
atasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur
komunitif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas.
2. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan retak dapat terjadi
pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat
tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan

pada tibia, fibula atau metatarsal terutama pada atlet, penari atau
calon tentara yang berjalan baris berbaris dalam jarak jauh.
3. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang fraktur dapat

terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak


(misalnya oleh tumor) atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
D. Patofisiologi
Ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di
sekitar tempat patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang
tersebut.Jaringan lunak biasanya mengalami kerusakan akibat cedera.
Reaksi inflamasi yang intens terjadi setelah patah tulang. Sel darah
putih dan sel mast berakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan
aliran darah ke daerah tersebut. Fagositosis dan pembersihan debris
sel mati dimulai. Bekuan fibrin (hematoma fraktur) terbentuk di
tempat patah dan berfungsi sebagai jala untuk melekatnya sel-sel
baru. Aktivitas osteoblas segera terstimulasi dan terbentuk tulang
baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin segera direabsorbsi dan
sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati. Tulang sejati menggantikan kalus dan
secara perlahan mengalami kalsifikasi (Corwin,2009).
E. Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis faktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformasi,
pemendekan

ektrimitas,

kreptitus,

pembengkakan

lokal,

dan

perubahan warna (Suzanne C. Smeltzer & Brebda G. Bare, 2001).


1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen
tulang

diimobilisasi.

Spase

otot

yang

menyertai

fraktur

merupakan bentuk bidai alamiyah yang dirancang yang dirancang


untuk meminimalkan gerakan antara fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur
lengan atau tungkai menyebabkan defrmitas (terlihat maupun
teraba)

ektrimiatas

yang

biasanya

diketahui

dengan

membadingkan dengan ektrimitas normal. Ektrimitas tidak dapat

berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada


integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah fraktur.
Fragmen sering sekali melingkupi satu sama lain sampai 2.5
sampai 5 cm (1 sampai 2 inci)
4. Saat ektrimitas di periksa dengan tangan, teraba adanya derik
tulang yang disebut krepitus yang teraba akibat gesekan antara
fragmen satu dengan fragmen lainnya. (Uji krepitus dapat
mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat).
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi
sebagai trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
biasa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien fraktur menurut Doenges (2000) adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Rontgen
Untuk menentukan lokasi atau luasnya fraktur .
2. Pemeriksaan Laboratorium
a. Hb mungkin meningkat atau juga dapat menurun
(pendarahan)
b. Leukosit meningkat sebagai respon stress.
c. Kreatinin, trauma meningkat beban kreatinin untuk klien
ginjal.
3. Arteriogram, dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai .
G. Komplikasi
Komplikasi fraktur dibagi menjadi dua (Muttaqin, 2005)
1

Komplikasi awal (24 jam paska trauma), terdiri dari: kerusakan


arteri, kompartemen sindrom, fat embolism sindrom, infeksi,
avaskuler nekrosis, syok hipovolemik

Komplikasi lanjut, terdiri dari: delayed union, non union, mal


union

Mal union: fraktur menyembuh pada saatnya tetapi


terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus atau
valgus, kependekan atau menyilang

Non union: fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan


dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terjadi sendi
palsu

Delayed union: fraktur yang tidak sembuh setelah selang


waktu 3-5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas, 5
bulan untuk anggota gerak bawah)

Komplikasi fraktur menurut Corwin (2009)


1

Non union, delayed union atau mal union tulang dapat terjadi
yang menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi

Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau destruksi


saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh pembengkakan
dan edema di daerah fraktur. Lima tanda pada sindrom
kompartemen meliputi nyeri, denyut nadi lemah, pucat,
parestesia, dan paralisis.

Embolus lemak dapat timbul setelah patah tulang, terutama


tulang panjang. Embolus lemak dapat timbul akibat pajanan sumsum tulang atau dapat terjadi akibat aktivasi sistem saraf simpatis
yang menimbulkan stimulasi mobilisasi asam lemak bebas
setelah trauma. Embolus lemak yang timbul setelah patah tulang
panjang sering tersangkut di sirkulasi paru dan dapat
menimbulkan gawat napas dan gagal napas.

H. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur menurut Smeltzer & Bare (2002)
1. Closed reduction (reduksi tertutup)
Dilakukan melalui manipulasi dan traksi manual

untuk

menggerakkan fragmen fraktur dan mempertahankan kesejajaran


tulang. Closed reduction harus dilakukan sesegera mungkin
setelah trauma guna mengurangi resiko hilangnya fungsi tulang,
untuk

mencegah/menghambat

degenerasi

sendi

(traumatic

arthritis) dan untuk meminimalkan efek kerusakan akibat trauma.


2. ORIF (Open Reduction and Internal Fixation)

Open reduction adalah salah satu metode reduksi pada fraktur


selain closed reduction, melalui proses pembedahan.
3. External fixation (fiksasi eksternal),
Merupakan peralatan mekanik yang terdiri dari pin dan metal
yang dimasukkan ke tulang dan disambungkan ke kerangka
eksternal

untuk

menstabilkan

fraktur

selama

proses

penyembuhan. Cara ini digunakan jika penanganan fraktur lain


sudah tidak bisa menangani fraktur.
4. Traksi
adalah sebuah aplikasi yang memberikan gaya tarik pada bagian
tubuh untuk meminimalkan spasme otot, mengurangi, meluruskan
dan mengimobilisasi fraktur, mengurangi deformitas.

II.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1.
Aktivitas/istirahat,

a.

kehilangan fungsi
pada bagian yang terkena

b.

Keterbatasan
mobilitas

3.

2.
Sirkulasi
a.
Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
b.
Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
c.
Tachikardi
d.
Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
e.
Cafilary refil melambat
f.
Pucat pada bagian yang terkena
g.
Masa hematoma pada sisi cedera
Neurosensori
a. Kesemutan
b. Deformitas, krepitasi, pemendekan
c. Kelemahan
4.
Kenyamanan
a. nyeri tiba-tiba saat cidera
b. spasme/ kram otot
5. Keamanan
a. laserasi kulit
b. perdarahan
c. perubahan warna
d. pembengkakan lokal
B. Diagnosa Keperawatan

1.

Nyeri berhubungan dengan spasme otot,

gerakan fragmen tulang, terpasang traksi/gips.


2.
Hambatan mobilitas fisik

berhubungan

dengan diskontinuitas jaringan tulang, nyeri sekunder akibat


pergerakan fragmen tulang.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma
jaringan.

C. Intervensi Keperawatan
1.

Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan

Diagnosa
Keperawatan/
Masalah
Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan
Kriteria Hasil

Nyeri akut berhubungan

NOC :

NIC :
Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,

Pain

dengan kerusakan

Intervensi

Level,

jaringan

pain

control,

comfort
level
Setelah
tindakan

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,

distraksi, kompres hangat/ dingin


Atur posisi nyaman klien
Kolaborasi dengan pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri

dilakukan

keperawatan

selama 3X24 jam Pasien


tidak mengalami nyeri,
dengan kriteria hasil:
Mampu
mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri,

mampu

menggunakan

tehnik

nonfarmakologi

untuk

mengurangi

nyeri,

mencari bantuan)
Melaporkan
bahwa
nyeri berkurang dengan
menggunakan

manajemen nyeri
Mampu
mengenali
nyeri (skala, intensitas,
frekuensi

nyeri)
Tanda

dan
vital

tanda
dalam

2.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan diskontinuitas jaringan tulang,


nyeri sekunder akibat pergerakan fragmen tulang.

Diagnosa Keperawatan/
Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan
Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Hasil
Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan diskontiunitas
jaringan tulang, nyeri akibat
fragmen

NOC :
Joint Movement : Active
Mobility Level
Self care : ADL
Transfer performance
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3X24 jam

NIC
NIC :
Exercise therapy : ambulation
Monitoring vital sign sebelm/sesudah latihan
dan lihat respon pasien saat latihan

Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat

dengan kriteria hasil:


Klien meningkat dalam

berjalan dan cegah terhadap cedera


Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain

aktivitas fisik
Mengerti tujuan dari

tentang teknik ambulasi


Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan

ADLs secara mandiri sesuai kemampuan


Dampingi dan Bantu pasien saat mobilisasi dan

gangguan mobilitas fisik teratasi

peningkatan mobilitas

bantu penuhi kebutuhan ADLs ps.


Berikan alat Bantu jika klien memerlukan.
Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan
berikan bantuan jika diperlukan

3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan kulit, trauma jaringan.

Diagnosa Keperawatan/ Masalah

Rencana keperawatan

Kolaborasi

Tujuan dan Kriteria

Intervensi

Hasil
Risiko

infeksi

berhubungan

kerusakan kulit, trauma jaringan

dengan NOC :
Immune Status
Knowledge
:
control
Risk control

Setelah

dilakukan

NIC :
Pertahankan teknik aseptif
Infection Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan

tindakan

keperawatan selama 3X24 jam


pasien tidak mengalami infeksi

lokal
Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase

Monitor adanya luka


dengan kriteria hasil:
Dorong masukan cairan
Klien bebas dari tanda dan Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala

gejala infeksi
Menunjukkan

kemampuan

untuk mencegah timbulnya


infeksi
Jumlah leukosit dalam batas

normal
Menunjukkan perilaku hidup
sehat
Status
normal

imun

dalam

batas

infeksi

Pathway

Kecelakaan/trauma langsung,trauma tidak langsung, kelinan patologis


Fraktur Metarsal
Fraktur tertutup

Fraktur terbuka

Otot

Tulang

Diskontinuitas

Pembuluh darah
pecah

Kerusakan struktur
ligamen, tendon dan
kulit

Keterbatasan
aktifitas

Luka

Pendarahan

Penggumpalan
eksudat

Gangguan

Saraf
Kerusakan
diskontinuitas
Nyeri

Resiko tinggi

integritas kulit

infeksi

Tindakan
Operasi
Ketakutan/cema
s
Pembedahan
(operasi)
Efek Anasthesis
regional

Diskontinuitas jaringan

Resiko infeksi

Rusaknya salah satu fungsi


tubuh
Nyeri

Gangguan mobilitas
fisik