Anda di halaman 1dari 36

PERAN APOTEKER DALAM

SWAMEDIKASI

Pengobatan sendiri atau swa medikasi


atau self medication bertujuan untuk
mencegah berkembangnya suatu kondisi
penyakit yang diderita menjadi makin
parah atau menimbulkan komplikasi,
melakukan penghematan karena tidak
diperlukan pengeluaran dana yang besar
untuk membiayai jasa dokter atau rumah
sakit.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh


BPOM di kota Jakarta, Yogyakarta, dan
Surabaya diperoleh data bahwa 60,8%
penderita melakukan swa medikasi untuk
mengatasi gejala penyakit yang dideritanya,
dimana 25,4 % mencari pengobatan melalui
fasilitas pelayanan kesehatan.
Dari para penderita yang melakukan swa
medikasi, ditemukan bahwa 74,3 %
melaksanakannya pada hari pertama gejala
muncul, 21,8% setelah 2-6 hari, 3,8% setelah
lebih dari seminggu.

Di Indonesia, dalam kurun waktu satu


tahun jumlah penduduk yang pergi ke
dokter kurang dari 25%, sedangkan yang
melakukan pengobatan sendiri lebih dari
65% baik yang mengeluh atau merasa
menderita sakit.
Tinggi persentase masyarakat yang
melakukan pengobatan sendiri
(swamedikasi) terutama dengan obat
bebas dan obat bebas terbatas serta obat
dalam daftar obat wajib apotek (DOWA).

Swa medikasi yang dilakukan masyarakat


dengan obat bebas dan obat bebas
terbatas sangat membantu dalam
mengatasi kasus-kasus ringan terutama
bagi masyarakat di daerah yang jauh dari
jangkauan pelayanan kesehatan.
Apoteker harus dapat berperan untuk
membantu pasien dalam mendapatkan
informasi yang benar dan tepat dalam
pemilihan obat.

Masalah dalam pelaksanaan


swa medikasi:
Swamedikasi berarti bahwa penderita
menetapkan diagnosis atas gejala yang
dialaminya yang seharusnya dilakukan oleh
seorang dokter, dan sekaligus penderita memilih
alternatif terapinya.
Masalah yang dapat terjadi dalam pelaksanaan
swamedikasi adalah jika terjadi under estimate
atau over estimate dari penafsiran penderita
terhadap gejala yang timbul.

Keadaan under estimate


Situasi dimana gejala yang diderita
menunjukkan ke arah penyakit yang ringan,
tetapi penderita atau keluarganya tidak dapat
menyatakan dengan jelas,sehingga swa
medikasi yang dilakukannya menyebabkan
tertundanya penanganan tenaga profesional
secara dini yang berakibat memperparah
penyakit atau bahkan mendatangkan kematian.
Contoh gejala seperti selesma (flu-like) tetapi
ternyata penyakit demam berdarah dengue atau
hepatitis.

Keadaan over estimate


Situasi dimana gejala yang diderita tidak
mengarah kepada penyakit yang berat tertentu,
tetapi karena subyektifitas penderita atau
keluarganya, dengan latar belakang bermacammacam alasan, maka swa medikasi yang
dilakukan terlalu berlebihan sehingga
menyebabkan pemborosan atau bahkan
mengundang terjadinya masalah kesehatan lain.
Contoh: penggunaan multivitamin dosis tinggi
dan penambah nafsu makan untuk anak yang
kurang gizi.

Keadaan over estimate lebih banyak terjadi


dibandingkan dengan keadaan under
estimate,karena mudahnya mendapatkan obat
bebas dan bebas terbatas, serta meningkatnya
peran media massa, baik cetak maupun
elektronik dalam mempengaruhi opini
masyarakat untuk menggunakan obat-obat
tertentu untuk mengatasi masalah kesehatan
yang dihadapinya.
Makin banyak jenis dan jumlah obat yang
beredar di pasaran, makin membuat penderita
bingung untuk menentukan pilihan obat yang
akan digunakan.

MASALAH DALAM SWAMEDIKASI


Masalah penggunaan obat yang kurang
tepat
sebagian obat yang dijual bebas
mengandung campuran beberapa jenis obat
yang indikasinya dapat lebih dari satu.
Hal ini menyebabkan penggunaan obat
secara spesifik menjadi tidak jelas sehingga
dapat terjadi penggunaan yang salah dari
terapi yang diinginkan.
Penggunaan yang salah juga bisa terjadi
karena pemakaian terlalu lama atau mungkin
dalam dosis regimen yang tidak sesuai.

Pasien tidak mengenali keseriusan


gangguan
Keluhan atau gejala dapat dinilai secara salah
oleh pasien, sehingga pengobatan sendiri yang
dilakukan pada jangka waktu yang lama dapat
memperhebat gangguan dari penyakit yang
diderita pasien.
Masyarakat percaya bahwa swamedikasi yang
mereka lakukan dapat berhasil dan aman
sehingga pada saat memerlukan pertolongan
dokter sudah dalam keadaan terlambat karena
penyakit yang sudah kronis.

Efek samping obat


Pasien dalam melakukan swamedikasi kurang
memperhatikan efek samping yang tidak dikehendaki
dan mungkin berbahaya bagi dirinya sendiri seperti pada
bidang pekerjaan tertentu.
Umur pasien
Pada bayi yang berumur dibawah 6 bulan kondisinya
dapat berubah dengan cepat dan gejala yang ringan
dapat menjadi berat. Sedangkan pada usia lanjut, gejala
yang timbul merupakan komplikasi dari beberapa kondisi
kesehatan dan pengobatan. Pada usia lanjut dan anakanak memiliki reaksi yang berbeda terhadap obat-obatan
tertentu dibandingkan dengan orang dewasa pada
umumnya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan
dalam hal kondisi organ yang berperan dalam
metabolisme obat tersebut sehingga menyebabkan
perlunya penyesuaian dosis.

Riwayat penyakit pasien


Penyakit yang pernah atau sedang diderita
pasien dapat menjadi masalah jika obat
bebas yang digunakan dikontraindikasikan
untuk penyakit pasien tersebut.
Kondisi pasien
Kondisi pasien juga menjadi masalah seperti
ibu hamil dan menyusui. Hal ini berdasarkan
kenyataan bahwa sebagian besar obat
-obatan bebas, keamanan penggunaanya
pada kondisi diatas sebelum diketahui secara
pasti.

Faktor-faktor yang mempengaruhi


swamedikasi :
1. Sistem pelayanan kesehatan
Konsumen beranggapan bahwa sistem
pelayanan kesehatan membutuhkan biaya
yang mahal sehingga mereka mencari
pengobatan alternatif sendiri yang dianggap
lebih murah.
2. Distribusi obat
Ketersediaan obat-obat bebas yang murah
dan mudah didapat, aman serta efektif saat
ini cukup luas beredar.

3. Lingkungan sosial ekonomi


Tingkat pendidikan masyarakat yang
semakin tinggi menyebabkan konsumen
cepat tanggap dalam menangani masalah
penyakitnya sendiri dan adanya keinginan
untuk meningkatkan derajat kesehatan.
4. Sumber informasi
Informasi yang didapat dari berbagai media
massa menampilkan promosi obat bebas
dari berbagai perusahaan farmasi
menyebabkan minat konsumen untuk
mengobati dirinya sendiri menjadi
meningkat.

Obat dalam swa medikasi


1. Golongan obat bebas
obat-obat yang dijual bebas dipasarkan tanpa
peringatan dan dapat dibeli tanpa resep dokter.
Simbol untuk obat bebas adalah lingkaran
berwarna hijau dengan garis tepi berwarna
hitam.
2. Golongan obat bebas terbatas
obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa
resep dokter dengan disertai tanda peringatan
dari peringatan no. 1, 2, 3, 4, 5, dan 6. Simbol
untuk obat ini adalah lingkaran berwarna biru
dengan garis tepi hitam.

3. Golongan obat wajib apotek


Obat-obat keras yang dapat diserahkan tanpa
resep dokter namun harus diserahkan oleh
apoteker di apotek KEPMENKES no.
1176/Menkes/SK/X/1999.
Kriteria obat keras yang dapat diserahkan tanpa
resep dokter antara lain:
Tidak dikontradiksikan untuk pengunaan pada wanita hamil,
anak dibawah usia 2 tahun dan orangtua diatas 70 tahun.
Obat yang dimaksud tidak memberikan resiko pada kelanjutan
penyakit
Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus
yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang
prevalensinya tinggi
memiliki rasio keamanan yang dapatdipertanggung
jawabkan.

Informasi dalam swamedikasi


Informasi yang diberikan oleh apoteker kepada pasien
untuk pengobatan sendiri harus jelas dan tepat. Hal ini
dapat dievaluasi dengan meminta umpan balik dari
pasien tentang informasi yang didapat apakah sudah
jelas dan benar.
Informasi yang dapat diberikan dalam swamedikasi
adalah sebagai berikut:
a. indikasi
b. petunjuk cara pakai
c. dosis dan frekuensi penggunaan
d. efek samping obat
e. kemungkinan interaksi dengan obat dan makanan
f. peringatan dan perhatian
g. jangka waktu pengobatan

Fungsi apoteker dalam swamedikasi


1. Sebagai Komunikator

Apoteker harus bisa memulai dialog dengan


pasien yang berhubungan dengan kondisi pasien
tersebut dan memberikan informasi pengobatan
yang tepat.
Apoteker dapat memberikan beberapa informasi
yang objektif mengenai obat-obat yang dapat
digunakan dalam pengobatan pasien.
Apoteker diharapkan dapat memberikan
informasi tambahan yang dibutuhkan pasien.
Apoteker dapat membantu pasien dengan cara
konseling sebelum menggunakan obat atau
tentang kondisi kesehatan pasien.

2. Sebagai penyedia obat


Peran apoteker adalah:
menjamin atau meyakinkan bahwa produk yang
disediakan mempunyai kualitas yang baik.
menjamin produk tersebut tersimpan dalam tempat
yang baik.

3. Sebagai trainer dan supervisor


Fungsi apoteker disini adalah:
- meyakinkan pasien akan kualitas pelayanan
yang up to date dengan melakukan fungsi edukasi
bagi pasien
- apoteker dapat memberikan pelatihan yang
bertujuan untuk meningkatkan standart pelatihan
bagi tenaga kesehatan lain.

4. Sebagai promotor kesehatan


Sebagai bagian dari tim kesehatan apoteker
harus:
- melakukan kampanye/ penyuluhan
kesehatan untuk meningkatkan kepedulian
masyarakat pada masalah-masalah
kesehatan yang sering terjadi.
- memberi saran kepada setiap individu
untuk membantu mereka memutuskan
pilihan informasi kesehatan.

Keuntungan dan Kerugian swa


medikasi:
1. Bagi pasien
a. keuntungan yang didapat:

Akses pengobatan lebih murah dan dekat


Menghemat biaya dan waktu untuk pergi ke dokter

b. kerugian yang mungkin terjadi

Diagnosis diri yang tidak benar


Pengobatan yang tidak perlu
Diagnosis yang tertunda bila ternyata penyakit serius
Kebiasaan menggunakan obat
Efek samping yang tidak dikehendaki

2. Bagi dokter
a. Keuntungan
Beban kerja berkurang
Mengurangi kasus ringan dan menghemat waktu
serta lebih fokus untuk kasus yang lebih berat.

b. kerugian

Mengurangi pendapatan
Monitoring pasien tidak intensif
Konseling pasien tidak dapat dilakukan
Swamedikasi yang tidak tepat dapat menyebabkan
pengobatan menjadi lebih sulit.

3. Apoteker
a. keuntungan
Meningkatkan peran dan citra apoteker di
masyarakat
Meningkatkan pendapatan

b. kerugian
Citra menjadi turun jika swamedikasi tidak berhasil
Conflict of interest dengan dokter

4. Pemerintah
Membantu pemerintah dalam meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat
Mengurangi subsidi pemerintah dalam
menyediaakan pelayanan kesehatan untuk
masyarakat.

Konseling oleh apoteker


Obat-obat bebas yang beredar dapat dianggap
aman digunakan tanpa pengawasan profesional
selama petunjuk-petunjuk pada label atau kemasan
diikuti.
Kemungkinan masalah yang dapat timbul tetap ada
seperti interaksi dengan obat lain, intervensi dengan
kondisi kronik yang sudah ada sebelumnya, ibu
hamil atau janin dan ibu menyusui, dosis yang
berlebihan, atau penggunaan dalam jangka waktu
lama yang bisa menyebabkan kerusakan fisik,
keterlambatan dalam mendiagnosis penyakit yang
sebenarnya dan efek samping yang tidak diinginkan.

Masalah-masalah diatas dapat dikurangi


frekuensi kejadiannya dengan peran dari
apoteker dalam memberikan konseling kepada
pasien.
Konsumen atau pasien memerlukan bantuan
dalam membuat keputusan sehubungan dengan
swamedikasi yang sedang dijalaninya.
Apoteker dapat menyediakan informasi dan
saran yang dapat menjamin keamanan dan
keefektifan swa medikasi.
Informasi yang dibutuhkan dalam konseling
untuk swamedikasi sangat penting untuk
menganalisis keluhan dan penyakit pasien.

Informasi yang penting untuk diperoleh


dari pasien antara lain
1.
2.

3.

Identifikasi pasien
Identifikasi dari pasien yang membeli obat bebas untuk
dirinya sendiri atau untuk orang lain
Deskripsi pasien
umur pasien yang melakukan swamedikasi penting
karena pengobatan pada usia yang berbeda
membutuhkan penanganan yang berbeda pula.
Jenis kelamin dan kondisi pasien juga penting untuk
diketahui seperti wanita hamil atau ibu menyusui.
Sejarah medis
riwayat penyakit yang pernah diderita seperti penyakit
hipertensi, jantung, gangguan pada fungsi hati dan
ginjal sering menjadi kontraindikasi pada swamedikasi
dengan obat-obat bebas. Alergi pasien terhadap obatobat tertentu juga menjadi hal yang harus diketahui
dalam sejarah medis pasien.

4. Penggunaan obat lain


Penggunaan bersamaan dengan obat lain oleh
pasien penting diketahui untuk melihat interaksi
obat yang dapat terjadi.
5. Diagnosis dan atau pengobatan gejala
sebelumnya
Informasi ini membantu apoteker dalam
menentukan pilihan obat yang paling tepat.
6. Evaluasi gejala
Informasi ini dapat diperoleh dengan
mengajukan pertanyaan yang cermat tentang
gejala pasien. Hal ini penting karena pasien
sering mendeskripsikan penyakitnya dengan
tidak benar. Tujuan pertanyaan ini untuk
mendapatkan informasi yang lengkap tentang
gejala dan skrining pengobatan sendiri yang
tepat.

Langkah apoteker dalam membantu penderita


melaksanakan swamedikasi:
Pola pikir :
Pola pikir yang digunakan oleh apoteker untuk membantu
menegakkan diagnosa dan menetapkan terapi bagi masalah
kesehatan yang dialami penderita dapat mengacu pada
prinsip SOAP, yaitu:
S (Subjective): mengumpulkan data dasar penderita (patient
data base) berdasarkan keluhan subjective penderita.
O (Objective) : mengumpulkan data dasar penderita (patient
data base) berdasarkan keluhan objectif penderita.
A (Assessment) : membuat daftar masalah penderita (patient
problem list), menilainya serta menetapkan diagnosanya.
P (Plan) : merencanakan dan menyarankan terapi (designing
and recommending a pharmacists care plan) berdasarkan
diagnosa yang ditegakkan, serta merencanakan pemantauan
(monitoring the pharmacists care plan) yang harus
dilaksanakan sehubungan dengan terapi yang diberikan.

Tahap-tahap yang perlu dilaksanakan:


Tahap pertama :
Jika penderita datang dengan keluhan bahwa ia menderita suatu
penyakit atau gejala penyakit, perlu ditelusuri lebih lanjut tentang
keadaan penyakit yang diderita, dengan menggunakan pedoman
dasar untuk mengajukan pertanyaan yang disingkat sebagai
LINDOCARRF dengan penjelasan sbb:
- L (Location): penderita diminta untuk menjelaskan secara tepat
dimana letak keluhan dirasakan.
- I (Intensity): penderita diminta untuk menjelaskan secara rinci
bagaimana berat atau ringannya keluhan dirasakan. Bilamana perlu
digunakan skala dari 1-10.
- N (Nature) : penderita diminta untuk menjelaskan macam atau tipe
keluhan yang dirasakan.
- D (Duration) : penderita diminta untuk menjelaskan berapa lama
keluhan dirasakan sejak keluhan tersebut muncul.
- O (Occurrence) : penderita diminta untuk menjelaskan kapan saat
mulai terjadinya keluhan.
- C (Concomittance): penderita diminta untuk menjelaskan apakah
ada keluhan lain yang menyertai keluhan utama.

- A (Aggravating) : penderita diminta untuk menjelaskan


apakah ada hal-hal yang makin memberatkan keluhan
yang dirasakan.
- R (Radiating) : penderita diminta untuk menjelaskan
apakah ada penyebaran yang terjadi yang disebabkan
oleh keluhan pertama.
- R (Relieving): penderita diminta untuk menjelaskan
apakah ada hal-hal yang meringankan keluhan yang
dirasakan.
- F (Frequency): penderita diminta untuk menjelaskan
berapa kali keluhan timbul per satuan waktu.

Tahap kedua:
memberikan konseling dengan menjelaskan hal-hal
sebagai berikut:
- nama obat dan nama kelompok obat
- indikasi obat
- dosis, saat dan cara penggunaan, termasuk
bagaimana cara menggunakan obat tetes, inhaler,
supositoria, dan lain-lain.
- tindakan yang harus diambil jika lupa menggunakan
obat sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan
- hal-hal yang harus dihindari pada waktu menggunakan
obat ini, misalnya tidak mengemudikan kendaraan, tidak
meminum alkohol atau mengkonsumsi makanan dan
minuman tertentu sehubungan dengan adanya interaksi
obat dengan makanan, tidak menggunakan obat-obat
tertentu, sehubungan dengan adanya interaksi antara
obat dengan obat, dll.

- hal-hal yang perlu diperhatikan misalnya


adanya perubahan warna faeces atau urine,
yang akan mempengaruhi proses penggunaan
obat oleh penderita, dll.
- hal-hal yang perlu diwaspadai, misalnya
timbulnya efek samping, efek yang tidak
dikehendaki berupa keluhan yang belum
dirasakan sebelumnya, dan bagaimana cara
mengatasinya jika hal ini terjadi.
- bilamana hasil pengobatan dapat diharapkan.
- berapa lama batas waktu penggunaan obat
- bagaimana cara penyimpanan obat
- membuat catatan pengobatan jika diperlukan.

Tahap ketiga:
untuk meningkatkan daya pemahaman
dan daya ingat penderita harus dilakukan
peragaan cara menggunakan obat secara
baik dan benar oleh apoteker yang
kemudian diikuti dengan pemberian
informasi secara tertulis tentang semua
hal yang telah dijelaskan, berupa etiket,
label dan brosur.

Tahap keempat :
Apoteker wajib untuk mengkaji apakah semua
penjelasan dan peragaan yang telah diberikan
dapat diserap dan dilaksanakan oleh penderita
jika ia menggunakan obat tersebut di rumah.
Penderita diminta untuk mengulangi semua
penjelasan yang telah diberikan, terutama yang
berkaitan dengan cara penggunaan dan
penyimpanan yang baik dan benar. Jika hal itu
menyangkut penggunaan tetes mata, telinga,
hidung atau, inhaler, maka penderita diminta
untuk memperagakan cara penggunaannya
sampai apoteker yakin bahwa penderita
melakukannya dengan baik dan benar.

Tahap kelima
Tahap yang terakhir yang perlu dilakukan
oleh apoteker adalah memantau
penggunaan obat oleh penderita. Hal ini
penting karena jika terapi tidak berhasil,
apoteker dapat dengan segera
menyarankan penderita untuk
berkonsultasi kepada dokter, sehingga
penderita tidak terlambat untuk mendapat
pertolongan yang lebih akurat.