Anda di halaman 1dari 8

KASUS

I. IDENTITAS
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Pekerjaan

: Nn. Rima Yuniar


: 13 tahun
: Perempuan
: Pandeglang
: Islam
: Pelajar

II. ANAMNESIS
Keluhan utama

: Nyeri kepala seperti tertusuk-tusuk sejak 6 bulan ysng lalu.

Keluhan tambahan

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke Poliklinik Bedah Saraf RSUD Dr.Drajat Prawiranegara Serang
dengan rujukan dari Poliklinik Saraf, pasien mengeluh mengalami nyeri kepala seperti
tertusuk-tusuk sudah sejak 6 bulan yang lalu. 1 bulan yang lalu pasien sempat dirawat
dengan keluhan yang sama, lalu dirujuk oleh dokter saraf untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pasien mengatakan mulanya nyeri kepala hilang timbul dan waktunya tidak menentu, namun
1 bulan terakhir pasien mengaku frekuensi nyeri kepala semakin bertambah, timbul setiap
bangun tidur pagi dan terkadang timbul pada malam hari. Menurut ibu pasien 1 bulan terakhir
ini pasien juga mengalami perubahan perilaku menjadi pendiam, tidak nyambung bila diajak
komunikasi dan sering marah-marah sehingga pasien sudah tidak bersekolah sejak 1 bulan
terakhir. Keluhan lain seperti pingsan, kejang, kelemahan anggota badan, demam, mual,
muntah, gangguan penglihatan, gangguan penciuman dan keluhan lainnya disangkal oleh
pasien.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien post dirawat 1 bulan yang lalu dengan keluhan yang sama.
Hipertensi (-)
Diabetes melitus (-)
Penyakit jantung (-)
Riwayat penyakit keluarga :
Hipertensi (-)
Diabetes melitus (-)
Penyakit jantung (-)
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: Sedang

Kesadaran
Tanda vital

: Composmentis
: - Tekanan darah
- Nadi
- Respirasi
- Suhu

= 110/70 mmHg
= 90x/menit
= 22x/menit
= 38,9C

STATUS GENERALIS
Kepala
: Normocephale, rambut hitam, tidak mudah dicabut
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), RCL/RCTL (-/-)
Telinga: Bentuk normal, serumen (+), nyeri tekan tragus (-), Nyeri tekan mastoid (-)
Hidung
: Bentuk normal, sekret (-), pernafasan cuping hidung (-), Septum deviasi (-)
Mulut
: Bibir tidak sianosis, lidah kotor (-), Tonsil T1-T1
Leher
: Trakea tidak deviasi, pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran
tiroid (-)
Thoraks
: Simetris saat statis dan dinamis
Pulmo
: Inspeksi
: Bentuk dada normal, sikatrik (-), massa (-)
Palpasi
: Tidak terdapat masa, fremitus taktil dan vokal simetris
Perkusi
: Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Wheezing (-), Rhonki (-)
Cor
: Inspeksi
: Iktus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Iktus cordis teraba pada ICS ke V linea midclavicula sinistra
Perkusi
: Batas jantung kanan terdapat pada ICS ke IV linea sternalis
dextra
Batas jantung kiri terdapat pada ICS ke V linea sternalis
Sinistra
Auskultasi : S1S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
: Inspeksi
: Perut cembung, sikatrik (-), massa (-)
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi
: Nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), Hepar tidak membesar, lien
tidak membesar, ballotement ginjal (-), test undulasi (-)
Perkusi
: Timpani seluruh lapang abdomen, shifting dullness (-)
Ekstremitas : Akral hangat, edema
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil lab darah pada tanggal 19/01/2016
Hb
: 12,60 g/dl
Leu : 15.130 /l
Ht
: 39,40 %
Tr
: 270.000 /l
GDS : 130 mg/dl
SGOT : 14,00 U/L
SGPT : 28,00 U/L
Ur
: 31,00 mg/dl

Cr
: 0,60 mg/dl
Na
: 135 mmol/L
K
: 3,33 mmol/L
Cl
: 101 mmol/L
HBs Ag
: Negatif
Anti HCV : Negatif
CT-Scan :
V. DIAGNOSIS
SOL e.c Meningioma
VI. PENATALAKSANAAN
Pro operasi craniotomy
VII. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad Fungtionam
Ad sanationam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

MENINGIOMA
Definisi Meningioma
Meningioma intrakranial merupakan tumor jinak ekstra-aksial atau tumor yang terjadi di luar
jaringan parenkim otak yaitu berasal dari meningens otak dan tumbuh dari sel-sel arachnoid
cap dengan pertumbuhan yang lambat (Al-Hadidy, 2007).
Meningioma tidak hanya dijumpai pada intrakranial tetapi dapat juga dijumpai pada medulla
spinalis, disebut juga spinal meningioma. Spinal meningioma sering dijumpai pada wanita
paruh baya. Rasio wanita berbanding pria tidak jauh yaitu 3:4. Spinal meningioma sering
terjadi pada wanita disebabkan adanya kaitan dengan sex hormone. Meskipun pengaruh sex
hormone pada meningioma masih kontroversi, hingga saat ini banyak ditemukan reseptor sex
hormone pada meningioma (Haugsten, 2010).
Epidemiologi Meningioma Intrakranial
Meningioma intrakranial menduduki 15% hingga 20% dari keseluruhan tumor intrakranial
primer, namun insiden pada skrining rutin sekitar 1 dalam 100 populasi. Insidensi meningkat
dengan pertambahan usia. Lebih sering dijumpai pada wanita dengan perbandingan pria :
wanita sama dengan 1:2,5. Perbedaan ini semakin meningkat pada meningioma intraspinal,
dengan rasio 1 : 10. Jarang dijumpai pada anak, namun jika ada, cenderung agresif (Landriel,
2012).Ketika dijumpai pada anak, insidensi berkisar 0,4%-4,1% dari keseluruhan tumor otak
pada anak dan sekitar 1,5%-1,8% dari keseluruhan meningioma intrakranial. Meningioma
intrakranial anak lebih cenderung terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan,
dengan rasio 1,2-1,9:1 dan paling sering dijumpai pada ventrikuler (Landriel, 2012).
Beberapa penelitian melaporkan bahwa insiden meningioma intrakranial pada ras hitam Nonhispanics sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan ras putih Non-Hispanics dan Hispanics.
Jenis kelamin juga memengaruhi prevalensi dari meningioma intrakranial, yaitu dua kali
lebih tinggi pada wanita dibandingkan dengan pria (Wiemels, 2010 dan Rockhill, 2007).
Patologi Meningioma Intrakranial
Meningioma intrakranial merupakan neoplasma yang tumbuh lambat dan berasal dari sel
meningotelial yang ditemukan dalam granulasi arachnoid. Terkonsentrasi mayoritas pada
dinding sinus vena, struktur ini, mengandung arachnoid cap cell (Al-Mefty, 2011).
Kelompok-kelompok arachnoid cap cell akan menjadi lebih jelas, membentuk whorls dan
psammoma bodies identik dengan yang ditemukan pada meningioma intrakranial (Marwin,
2010).
Secara makroskopis meningioma intrakranial merupakan tumor yang memiliki batas tegas,
permukaan yang halus dan melekat pada duramater. Falx meningioma atau tentorial
meningioma dapat berbentuk bilobus, dumbbell shape. Pada meningioma ganas, tumor
terpisah dengan jaringan otak atau medula spinalis, dan dijumpai bagian-bagian yang
nekrosis serta mudah berdarah. Meningioma intrakranial yang jarang dijumpai ialah en
plaque meningioma, suatu meningioma yang melekat dan menutupi dura dalam bentuk yang
datar dan menyerupai karpet. Varian ini sering disertai dengan hiperostosis pada tulang yang
ditempel, sering berada pada sphenoid ridge atau dalam sinus cavernosus. Kebanyakan

meningioma intrakranial menekan dan masuk ke dalam jaringan otak tanpa adanya invasi ke
jaringan otak (Scheithauer, 2010).
Struktur jaringan bervariasi, mulai dari lembut bergelatin hingga keras dan berkalsifikasi.
Jika dilakukan pemotongan, permukaan yang terpotong akan tampak translucent dan pucat
keabuan atau homogen merah kecoklatan pada tumor dengan vaskularisasi yang meningkat.
Tumor dengan kandungan lemak yang tinggi (perubahan xanthomatous) menunjukkan
adanya bercak kekuningan dan terkadang dijumpai struktur tulang. Lesi kistik terkadang juga
dapat dijumpai namun hanya 1,6-10% dari seluruh meningioma intrakranial dan dapat dilihat
secara makroskopis (Scheithauer, 2010).
Klasifikasi Meningioma Intrakranial
Meningioma intrakranial dapat diklasifikan berdasarkan histopatologi, lokasi tumor, serta
pola pertumbuhan tumor.
1. Klasifikasi Meningioma Berdasarkan Histopatologi
Pembagian meningioma secara histopatologi telah ditentukan oleh WHO pada tahun
2007 menjadi 3 grade, yaitu Jinak (Benign :Grade I), Atipikal (Atypical : Grade II), dan
Ganas (Malignant : Grade III). Menurut histopatologinya, meningioma grade I
diklasifikasikan sebagai meningioma meningothelial, meningioma fibrous (fibroblastik),
meningioma transisional, meningioma psammomatous, meningioma angiomatosa,
meningioma mikrokistik, meningioma sekretorik, meningioma lymphoplasmacyte-rich;
Meningioma grade II diklasifikasikan sebagai meningioma chordoid, meningioma clearcell, meningioma atypical; Meningioma grade III diklasifikasikan sebagai meningioma
papillary, meningioma rhabdoid, meningioma anaplastik (Marwin, 2010).

2. Klasifikasi Meningioma Berdasarkan Lokasi


Berdasarkan lokasi tumor, meningioma dapat berada di konveksitas, parasagital,
tuberkulum sella, falx, sphenoid ridge, CPA, frontal base, petroclival, fosa posterior,
tentorial, middle fossa, foramen magnum, dan lainnya (Otsuka, 2010).

Table lokasi meningioma (Otsuka, 2010)

3. Klasifikasi Meningioma Berdasarkan Pola Pertumbuhan


Berdasarkan pola pertumbuhannya, meningioma dapat tumbuh sebagai suatu masa (en
masse) atau tumbuh memanjang seperti karpet (en plaque). Varian en plaque pada
awalnya dideskripsikan oleh Cushing sebagai suatu karakteristik tipikal meningioma
sphenoid ridge, yang dapat juga disebut sebagai hyperostosing en plaque
meningiomas. Deskripsi ini kemudian direvisi oleh Bonnal pada tahun 1980, dengan
tipe-tipe dari meningioma sphenoid ridge adalah: en masse, invading en plaque, dan
invading en masse. En masse adalah meningioma globular klasik, meningioma
invading en plaque didefinisikan sebagai tumor berbentuk seperti karpet dengan
adanya abnormalitas tulang, sedangkan meningioma en masse didefinisikan sebagai
bentuk antara dari en masse klasik dan meningioma invading en plaque dengan
perlekatan dura yang luas tetapi tanpa tampilan seperti karpet (Talacchi, 2011).
Karakteristik dan Diagnostik Meningioma Intrakranial
Secara umum, penampilan karakteristik dan diagnostik dari meningioma intrakranial adalah
batas yang tegas dan perlekatan fokal pada dura. Tumor ini biasanya berbentuk globular,
berkapsul, dan memiliki proyeksi pertumbuhan ke arah dalam, menekan tetapi tidak
menginvasi parenkim kecuali dalam bentuk maligna, terkadang menginvasi dura dan sinus.
Jika meningioma intrakranial segar dipotong akan tampak pucat dan semi transparan atau
homogen dan berwana coklat kemerahan tergantung dari derajat vaskularisasinya. Pola
kumparan (whorl) biasanya akan tampak pada permukaan potongan setelah dilakukan fiksasi.
Konsistensi berpasir adalah tampilan umum yang dihubungkan dengan adanya badan

psammoma. Jaringan pembuluh darah yang kasar dapat tampak pada varian meningioma
angiomatosa (Chou, 1991).
Prognosis
Prognosis dari meningioma intrakranial memiliki perbedaan pada setiap klasifikasi atau
derajat meningioma. Invasi parenkim otak jelas akan mempengaruhi prognosis. Lokasi
anatomis akan mempengaruhi laju rekurensi. Tumor-tumor yang berada pada posisi yang sulit
akan menimbulkan kesulitan dalam total removal dari tumor, seperti pada ala sphenoidalis.
Meningioma intrakranial yang menginvasi sinus, seperti pada meningioma parasagittal,
memiliki rekurensi yang tinggi (Al-Mefty, 2011).
Walaupun meningioma intrakranial yang berbatas tegas dapat diangkat secara keseluruhan,
meningioma intrakranial dengan ekstensi yang pipih pada ruang subdural (10% meningioma)
akan sulit untuk direseksi seluruhnya, seperti pada meningioma en plaque. Rekurensi juga
kerap terjadi pada meningioma intrakranial yang memiliki profil ganas, seperti pola
hemangiopericytic atau papiler. Kriteria selular keganasan adalah adanya mitosis,
meningkatnya selularitas, polimorfisme inti sel, dan nekrosis fokal. Indeks mitosis yang
tinggi juga salah satu aspek yang mengarah pada keganasan (Al-Mefty, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mefty O, Abdulrauf SI, Haddad GF. Meningioma.2011. In Youmans Neurological


Surgery, edited by Winn HR, 6th ed. Elsevier, Peoples Republic of China. 131:1426-49.
Al-Rodhan NRF, Laws ER. 1991. The History of Intracranial Meningiomas. In Meningiomas,
edited by Al-Mefty O. Raven Press, New York. 1:1-7.
Chou SM, Miles JM. 1991. The Pathology of Meningiomas. In Meningiomas, edited by AlMefty O. Raven Press, New York. 4:37-57.
Marwin C, Perry A. 2010.Pathological classification and molecular genetics of
meningiomas.J Neurooncol. 99:379-391.
Talacchi A, Corsini F, Gerosa M. 2011. Hyperostosing meningiomas of the cranial vault with
and without tumor mass. Acta Neurochir. 153:53-61.