Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN

PEMBUATAN KOMPOS CAIR

Oleh:
Fitria Novita Sari
Nisa Amira
Fina Fiolita C
Herman Bagus D
Ummu Farihah
Ratna Kumala
Aini Azizah
Nurvita Tri K

101211131013
101211131045
101211131195
101211131214
101211131227
101211132013
101211132017
101211132025

Yenni Dwi Kurniawaty 101211132042


Kuuni Ulfah N.E
101211132105
Charisma Hilda Dewi 101211132106
Nurindah Nanda S
101211133012
Muhammad Sudrajad 101211133048
Salsabila Al Firdausi 101211133049
Anggi Kumalasari
101211133054
Shofiyatur R
101211133066

Peminatan Kesehatan Lingkungan 2012

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

DAFTAR ISI
Daftar Isi. ii
Daftar Tabel iii
Daftar Gambar iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...... 1
1.2 Rumusan Masalah..... 2
1.3 Tujuan Praktikum......2
1.4 Manfaat Praktikum2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sampah. 3
2.2 Kompos.... 7
2.3 Kompos Cair. 8
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan. 11
3.2 Lokasi Praktikum. 11
3.3 Waktu Praktikum. 11
3.4 Prosedur Kerja.. 12
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Pembahasan Kompos Cair 17
4.2 Pembahasan Hasil Uji Kompos Cair pada Tanaman Cabai.. 23
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan... 26
5.2 Saran. 26
DAFTAR PUSTAKA. 27
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel waktu penelitian...
Tabel 4.1 Hasil pengamatan kompos cair tomat dan tomat - pisang.....
Tabel 4.2 Hasil pengamatan warna dan bau kompos cair...
Tabel 4.3 Hasil pengukuran tanaman cabai.

14
17
20
23

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Alur pembuatan kompos cair tomat pisang. 14
Gambar 3.2 Skema pembuatan kompos cair tomat 15
Gambar 4.1 Grafik suhu kompos cair berbahan dasar tomat dan tomat-pisang
19
Gambar 4.2 Grafik pengamatan pengukuran pH... 23
Gambar 4.3 Grafik pengujian tanaman cabe dan kontroler 25

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengeloaan sampah masih menjadi permasalahan di Indonesia. Semakin
bertambahnya jumah penduduk akan berdampak pula pada semakin banyaknya
sampah yang dihasilkan sebagai akibat dari kegiatan/aktivitas yang dilakukan oleh
manusia. Selain itu keanekaragaman jenis sampah semakin bertambah yang tidak
diimbangi dengan pengelolaan yang sesuai sehinggaberdampak terhadap lingkungan
dan menganggu kesehatan serta kelangsungan hidup manusia. Berbagai macam
sampah mulai dari dari sampah organik sampai dengan sampah non organik semakin
bertambah jumlahnya. Hal ini diperparah dengan sifat acuh tak acuh dan kurang
adanya usaha dalam diri dalam hal pemilahan sampah untuk mempermudah
penanganan sampah berdasarkan jenisnya.
Pengelolaan sampah dalam skala kecil terutama oleh masyarakat umumnya
dilakukan dengan pembakaran; sedangkan dalam skala besar dilakukan dengan
menetapkan berbagai tempat pembuangan sampah; baiksementara (TPS) maupun
terpadu / akhir (TPA). Pengelolaan sampah dengan pembakaran dapat menimbulkan
efek lanjutan bagi manusia karena terjadinya pencemaran udara dari asap dan bau;
sedangkan dengan sistem tempat pembuangan sampah memerlukan suatu lokasi
terutama untuk TPA (tempat pembuangan akhir) secara terus menerus. Penentuan dan
perpindahan

lokasi

TPA

ini

seringkali

menimbulkan

masalah

dengan

masyarakatsekitar karena masyarakat tidak dapat menerima bahwa lingkungannya


menjadi tercemar oleh sampah dan efek lanjutannya. Pengelolaan sampah sebagai
bahan pencemar, memang dapat dilakukan dengan berbagai cara; namun demikian,
bila masih memungkinkan, upaya pencegahan jauh lebih baik dan efektif untuk
dilaksanakan. Upaya pencegahan dapat dilakukan, bila kita semua memahami
dampak negatif membuang sampah sembarangan, tidak hanya terhadap lingkungan
tetapi juga terhadap kesehatan manusia (Imran, 2005).

Pencemaran lingkungan sebagai akibat timbunan sampah berdampak terhadap


aktivitas dan kesehatan manusia. Dampak kesehatan yang dapat terjadiantara lain
diare,disentri, cacingan, malaria, kaki gajah (elephantiasis) dan demam berdarah.
Penyakit-penyakit ini merupakan ancaman bagi manusia, yang dapat menimbulkan
kematian. Oleh karena itu diperlukan upaya nyata dalam mengatasi dan mengelola
timbunan sampah. Salah satu pengeloaan sampah organik yang bisa diterapkan dalam
skala rumah tangga yakni komposting. Komposting dapat menjadi langkah kecil
dalam upaya mengurangi permasalahan sampah yang ada di Indonesia.
Berdasarkan hal tersebut, kelompok kami membahas dan melakukan
praktikum pengolahan sampah organik yang berasal dari kegiatan/aktivitas rumah
tangga dengan hasil berupa kompos cair yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
untuk pertumbuhan tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara membuat kompos cair dari sampah organik yang berasal dari
sampah rumah tangga?
2. Bagaimana pengaruh kompos cair terhadap pertumbuhan biji tumbuhan?
1.3 Tujuan Praktikum
1. Untuk mempraktekkan pengolahan sampah organik yang berasal dari sampah
rumah tangga menjadi kompos cair.
2. Untuk menguji pengaruh kompos cair terhadap pertumbuhan biji.
1.4 Manfaat Praktikum
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai sampah, jenis

sampah,

proses pengolahan sampah dengan metode komposting.


2. Meningkatkan keterampilan mahasiswa mengenai proses pengolahan sampah
organik menjadi kompos cair.
3. Meningkatkan pengetahuan mengenai keuntungan dari pengolahan sampah
organik yang berasal dari sampah rumah tangga menjadi kompos cair.
4. Meningkatkan pengetahuan mengenai pengaruh penggunaan kompos cair
terhadap pertumbuhan biji tanaman.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sampah
2.1.1

Pengertian sampah
Menurut WHO, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai,

tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak
terjadi dengan sendirinya. Banyak sampah organik masih mungkin digunakan
kembali/ pendaurulangan (re-using), walaupun akhirnya akan tetap merupakan
bahan/ material yang tidak dapat digunakan kembali.Sampah dalam ilmu kesehatan
lingkungan sebenarnya hanya sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak
digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau harus dibuang, sedemikian rupa
sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Dari segi ini dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sampah ialah sebagian dari sesuatu yang
tidak dipakai, disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari
kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi yang
bukan biologis (karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya
bersifat padat (karena air bekas tidak termasuk didalamnya).
2.1.2

Sumber-sumber sampah
Sampah yang ada di permukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber

berikut :
1. Pemukiman penduduk
Sampah di suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa
keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa
atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa
proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering
(rubbsih), perabotan rumah tangga, abu atau sisa tumbuhan kebun.
2. Tempat umum dan tempat perdagangan
Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan
melakukan kegiatan termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang

dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage),
sampah kering, abu, sisa bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah
berbahaya.
3. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah
Sarana layanan masyarakat yang dimaksud disini, antara lain, tempat hiburan dan
umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya rumah
sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai empat
berlibur, dan sarana pemerintah lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan
sampah khusus dan sampah kering.
4. Industri berat dan ringan
Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman,
industri kayu, industri kimia, industri logam dan tempat pengolahan air kotor dan
air minum,dan kegiatan industry lainnya, baik yang sifatnya distributif atau
memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya
sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus dan sampah
berbahaya.
5. Pertanian
Sampah dihasilkan dari tanaman dan binatang. Lokasi pertanian seperti kebun,
ladang ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang
telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga
tanaman.
2.1.3

Hubungan pengelolaan sampah terhadap masyarakat dan lingkungan


Pengelolaan sampah di suatu daerah akan membawa pengaruh bagi

masyarakat maupun lingkungan daerah itu sendiri. Pengaruhnya tentu saja ada yang
positif dan ada juga yang negatif.
1. Pengaruh positif
Pengelolaan sampah yang baik akan memberikan pengaruh yang positif terhadap
masyarakat maupun lingkungannya, seperti berikut:

a. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan


dataran rendah;
b. Sampah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk;
c. Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah menjalani proses
pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh
buruk sampah tersebut terhadap ternak;
d. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang
biak serangga dan binatang pengerat;
e. Menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya dengan
sampah;
f. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan hidup
masyarakat;
g. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuaan budaya masyarakat;
dan
h. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan
suatu negara sehingga dana itu dapat digunakan untuk keperluan lain.
2. Pengaruh negatif
Pengelolaan sampah yang kurang baik dapat memberikan pengaruh negatif bagi
kesehatan, lingkungan, maupun bagi kehidupan sosial ekonomi dan budaya
masyarakat, seperti berikut:
a. Pengaruh terhadap kesehatan
1.) Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai
tempat perkembangbiakan vector penyakit, seperti lalat, tikus, serangga,
jamur;
2.) Penyakit demam berdarah meningkatkan incidencenya disebabkan vektor
Aedes Aegypty yang hidup berkembang biak di lingkungan, pengelolaan
sampahnya kurang baik (banyak kaleng, ban bekas, dan plastik dengan
genangan air);

3.) Penyakit sesak nafas dan penyakit mata disebabkan bau sampah yang
menyengat

yang

mengandung

Amonia

Hydrogen,

Solfide,

dan

Metylmercaptan;
4.) Penyakit saluran pencernaan (diare, kolera, dan typus) disebabkan
banyaknya lalat yang hidup berkembang biak di sekitar lingkungan tempat
penumpukan sampah;
5.) Insidensi penyakit kulit meningkat karena penyebab penyakitnya hidup
dan berkembang biak di tempat pembuangan dan pengumpulan sampah
yang kurang baik. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak langsung
ataupun melalui udara;
6.) Penyakit kecacingan;
7.) Terjadi kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarangan
misalnya luka akibat benda tajam seperti kaca, besi; dan
8.) Gangguan psikomatis, misalnya insomnia, stress.
b. Pengaruh terhadap lingkungan
1.) Pengelolaan sampah yang kurang baik menyebabkan estetika lingkungan
menjadi kurang sedap dipandang mata misalnya banyaknya tebarantebaran sampah sehingga mengganggu kesegaran udara lingkungan
masyarakat;
2.) Pembuangan

sampah

ke

dalam

saluran

pembuangan

air

akan

menyebabkan aliran air akan terganggu dan saluran air akan menjadi
dangkal;
3.) Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gasgas tertentu yang menimbulkan bau busuk;
4.) Adanya asam organic dalam air serta kemungkinan terjadinya banjir maka
akan cepat terjadinya pengerusakan fasilitas pelayanan masyarakat antara
lain jalan, jembatan, saluran air, fasilitas jaringan dan lain-lain;
5.) Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan bahaya
kebakaran lebih luas;

6.) Apabila

musim

hujan

datang,

sampah

yang

menumpuk

dapat

menyebabkan banjir dan mengakibatkan pencemaran pada sumber air


permukaan atau sumur dangkal; dan
7.) Air banjir dapat mengakibatkan kerusakan pada fasilitas masyarakat,
seperti jalan, jembatan, dan saluran air.
2.2 Kompos
Kompos merupakan bahan organik (sampah organik) yang telah mengalami
proses pelapukan karena adanya interaksi antara mikroorganisme (bakteri pembusuk)
yang bekerja di dalamnya. Menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (2003),
pengomposan didefinisikan sebagai proses biokimiawi yang melibatkan jasad renik
sebagai agensia (perantara) yang merombak bahan organik menjadi bahan yang mirip
humus.
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahanbahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik.
Kompos merupakan suatu massa hasil penguraian parsial/ tidak lengkap dari
campuran bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi
berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan
aerobik maupun anaerobik (Hendra, 2010).
Salah satu cairan yang mengandung mikroorganisme untuk membantu
fermentasi sampah-sampah organik dan sisa-sisa makanan yang akan dijadikan
kompos adalah cairan EM (efektif mikroorganisme) (Endah, 2009). Manfaat kompos
adalah sebagai berikut:
1. Sebagai penyubur lahan pertanian;
2. Memperbaiki struktur tekstur tanah;
3. Memberikan kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman; dan
4. Digunakan dalam usaha reklamasi lahan bekas galian tambang, atau penyubur di
daerah rawa-rawa, peningkatan kadar pH di daerah lahan asam (Windi, 2011).

Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami


penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan
bahan organik sebagai sumber energi (Hendra, 2010).
Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar
kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan
yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan
aktivator pengomposan.
Komposting adalah proses pengendalian penguraian secara biologi dari bahan
organik, menjadi produk seperti humus yang dikenal sebagai kompos. Penguraian
bahan organik itu (disebut juga dekomposisi) dilakukan oleh mikro-organisme
menghasilkan senyawa yang lebih sederhana. Pada saat komposting terjadi prosesproses perubahan secara kimia, fisika, dan biologi.
Pengendalian proses penguraian pada saat komposting yang terpenting
mencakup empat hal, yaitu:
1.

Udara (oksigen);

2.

Air (kelembaban);

3.

Bahan organik; dan

4.

Temperatur.
Pada dasarnya semua bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya:

limbah organik rumah tangga, sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah


peternakan, limbah pertanian, limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah
pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dan lain sebagainya. Bahan organik yang
sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan rambut.
2.3 Kompos Cair
2.3.1

Pengertian kompos cair


Kompos cair adalah exstrak dari pembusukan sampah organik. Dan dengan

exstrak sampah organik tersebut bisa mengambil seluruh nutriens yang terkandung
pada sampah organik tersebut. Selain nutriens bisa juga sekaligus menyerap
mikroorganisme, bakteri, fungi, protozoa dan nematodoa.

Kompos cair kaya akan nutriens organik dan anorganik yang dibutuhkan oleh
tanaman. Dan dapat di aplikasikan dengan cara penyemprotan, hingga juga bisa juga
sebagai pengendali hama pada daun.
Pupuk cair limbah organik pada dasarnya limbah dari bahan organik bisa
dimanfaatkan menjadi pupuk, limbah cair banyak mengandung unsur hara (N.P.K).
Penggunaan pupuk cair dapat membantu memperbaiki struktur dan kualitas tanah.
Dalam pertumbuhannya tanaman memerlukan tiga unsur hara penting, yaitu nitrogen
(N), fosfat (P), dan kalium (K). Peranan utama nitrogen (N) adalah untuk merangsang
pertumbuhan tanaman secara keseluruhan, terutama pada fase vegetatif, khususnya
batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogen pun berperan penting dalam
pembentukan hijau daun (klorofil) yang sangat berguna dalam proses fotosintesis.
Fungsi lainnya ialah membentuk protein, lemak, dan berbagai persenyawaan organik
lainnya.
Unsur fosfor (P) bertugas mengedarkan energi keseluruh bagian tanaman,
berguna untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, khususnya akar
benih dan tanaman muda. Selain itu, fosfor juga berfungsi sebagai bahan mentah
untuk pembentukan sejumlah protein tertentu, membantu asimilasi dan pernapasan,
mempercepat pembungaan dan pembuahan, serta mempercepat pemasakan biji dan
buah.
Sedangkan fungsi utama kalium (K) adalah membantu pembentukan protein,
karbohidrat dan gula. Kalium pun berperan dalam memperkuat tubuh tanaman agar
daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur. Membantu pengankutan gula dari daun ke
buah atau umbi. Yang tidak bisa dilupakan adalah kalium pun merupakan sumber
kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan serangan penyakit.
Kompos

cair

ini

bisa

dipercepat

dengan

adanya

EM4

(Effective

Microorganisme). EM4 merupakan suatu cairan berwarna kecoklatan dan beraroma


manis asam(segar) yang di dalmnya berisi campuran beberapa mikroorganisme hidup
yang menguntungkan bagi proses penyerapan/persediaan unsur hra dalam tanah.
Mikroorganisme atau kuman yang berwatak baik itu terdiri dari bakteri
fotosintetik,bakteri asam laktat,ragi,aktinomydetes, dan jamur peragian.

Apabila mikroorganisme EM4 berada dalam tanah, maka mikroorganisme


menguntungkan sejenis yang sudah ada di dalam tanah berkembang dengan baik
sedangkan mikroorganisme yang merugikan yang dapat menimbulkan penyakit dapat
ditekan. EM4 mampu mengolah atau menguraikan bahan-bahan organik dengan cepat
secara fermentasi menjadi kompos sehingga tidak menimbulkan bau bususk
melainkan menimbulkan aroma yang segar.

Selain itu juga bisa mempercepat

pembuatan kompos, menambah mikroganisme tanah, menambah kesuburan tanah.


2.3.2

Manfaat kompos cair


Manfaat kompos cair hampir sama dengan kompos pada umumnya, namun

dengan kelebihan yaitu mudah diserap oleh tumbuhan. Manfaat kompos cair dapat
seperti:
1.

Untuk menyuburkan tanaman;

2.

Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah;

3.

Untuk mengurangi dampak sampah organik di lingkungan sekitar;

4.

Untuk membantu revitalisasi produktivitas tanah; dan

5.

Untuk meningkatkan kualitas produk.

2.3.3

Kelebihan dan kekurangan pembuatan kompos cair


1. Kelebihan
a. Cara Pembuatan sederhana dan mudah;
b. Bahan yang digunakan mudah didapat;
c. Biaya yang dibutuhkan relatif murah; dan
d. Dapat mereduksi jumlah sampah yang ada di lingkungan sekitar.
2. Kekurangan
a. Membutuhkan waktu yang cukup lama; dan
b. Membutuhkan kesabaran dan ketelitian peneliti.

2.3.4

Indikator keberhasilan kompos cair


Indikator keberhasilan dari kompos cair, yaitu:
1. Suhu berkisar antara 30oC-35oC;
2. Berbentuk seperti lindi;

10

3. Mengeluarkan selaput berwarna kuning;


4. Terjadi perubahan warna air; dan
5. Terjadi perubahan aroma.

11

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1

Alat
1. Botol air mineral 1,5 l
2. Botol air mineral 600 ml
3.

Selang plastic kecil

4.

Saringan cincau

5.

Saringan halus

6.

Termometer

7.

Kertas uji pH

8.

Baskom

9.

Alat tulis

10. Kamera
11. Stopwatch
3.1.2

Bahan
1.

Tomat busuk

2.

Pisang busuk

3.

EM4

3.2 Lokasi Praktikum


Percobaan pembuatan kompos cair pertama kali dilakukan di halaman
belakang FKM Unair. Kemudian kompos cair disimpan di dalam Laboratorium
Kesehatan Lingkungan sehingga setiap pengukuran suhu dan pH dilakukan di dalam
laboratorium tersebut. Koordinat lokasi pengujian yaitu S = 0716.026 , E =
11246.987 sedangkan koordinat lokasi pengukuran yaitu S = 0716.022 , E =
11246.981.

12

3.3 Waktu Praktikum


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Tabel 3.1 Tabel waktu penelitian


Tanggal
Kegiatan
Senin, 16 Maret 2015
Pembuatan kompos cair
Pengukuran ke-1
Kamis, 19 Maret 2015
Pengukuran ke-2
Senin, 23 Maret 2015
Pengukuran ke-3
Kamis, 26 Maret 2015
Pengukuran ke-4
Senin, 30 Maret 2015
Pengukuran ke-5
Kamis, 2 April 2015
Pengukuran ke-6
Senin, 6 April 2015
Pengukuran ke-7
Kamis, 9 April 2015
Pengukuran ke-8
Selasa, 21 April 2015
Pengukuran ke-9
Rabu, 13 Mei 2015
Pengukuran ke-10
Pemanenan kompos cair

Sumber: Data primer

3.4 Prosedur Kerja


3.4.1

Kompos cair tomat-pisang


Pengumpulan
tomat dan pisang

Buah diperas untuk


diambil sarinya

Masukan hasil
perasan ke botol

Amati perubahan
suhu dan pH

Masukan selang
kedalam botol

Tambahkan EM4

Siap untuk dipanen

Gambar 3.1 Alur pembuatan kompos cair tomat pisang


Sumber: Data Primer

1. Mengumpulkan buah tomat dan pisang busuk untuk diperas dan diambil
sarinya. Buah yang dipilih adalah buah busuk agar lebih mudah diambil
sarinya karena buah tersebut sudah terlalu matang dan mengandung
banyak sari buah;

13

2. Letakkan saringan cincau dan saringan halus diatas baskom. Letak


saringan halus berada dibawah saringan cincau agar amapas dari buah
tidak masuk kedalam baskom;
3. Selanjutnya buah yang telah dikumpulkan, diperas untuk diambil sarinya.
Campurkan hasil sari buah perasan tomat dan pisang menjadi satu;
4. Siapkan botol air mineral 1,5 liter. Berikan lubang pada tutup botol
dengan ukuran disesuaikan dengan ukuran selang plastik;
5.

Masukan hasil sari buah yang telah diperas kedalam botol hingga
mencapai atau 2/3 ukuran botol. Jangan memasukan sari buah hingga
memenuhi botol. Jarak yang dibuat antara sari buah dan bibir botol
bertujuan untuk menghindari agar ada ruang untuk gas hasil dari
pemrosesan;

6. Tambahkan EM4 sebanyak 1 tutup botol EM4;


7. Tutup botol tersebut dan masukan selang plastik kedalam botol melalui
lubang diatas tutup botol yang telah dibuat; dan
8. Amati suhu dan pH setiap berapa hari sekali hingga menunjukan suhu dan
pH kompos cair yang siap dipanen yaitu pada suhu kamar dan pH netral.
3.4.2

Kompos cair tomat

Pengumpulan tomat

Buah diperas untuk


diambil sarinya

Masukan hasil
perasan ke botol

Amati perubahan
suhu dan pH

Masukan selang
kedalam botol

Tambahkan EM4

Siap untuk dipanen

Gambar 3.2 Skema pembuatan kompos cair tomat


Sumber: Data Primer

14

1. Mengumpulkan buah tomat busuk untuk diperas dan diambil sarinya.


Buah yang dipilih adalah buah busuk agar lebih mudah diambil sarinya
karena buah tersebut sudah terlalu matang dan mengandung banyak sari
buah;
2. Letakkan saringan cincau dan saringan halus diatas baskom. Letak
saringan halus berada dibawah saringan cincau agar amapas dari buah
tidak masuk kedalam baskom;
3. Selanjutnya buah tomat yang telah dikumpulkan, diperas untuk diambil
sarinya;
4. Siapkan botol air mineral 600 ml. Berikan lubang pada tutup botol dengan
ukuran disesuaikan dengan ukuran selang plastik;
5.

Masukan hasil sari buah yang telah diperas kedalam botol hingga
mencapai atau 2/3 ukuran botol. Jangan memasukan sari buah hingga
memenuhi botol. Jarak yang dibuat antara sari buah dan bibir botol
bertujuan untuk menghindari agar ada ruang untuk gas hasil dari
pemrosesan;

6. Tambahkan EM4 sebanyak tutup botol EM4;


7. Tutup botol tersebut dan masukan selang plastik kedalam botol melalui
lubang diatas tutup botol yang telah dibuat; dan
8. Amati suhu dan pH setiap berapa hari sekali hingga menunjukan suhu dan
pH kompos cair yang siap dipanen yaitu suhu kamar dan pH netral.

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil dan Pembahasan Kompos Cair
Tabel 4.1 Hasil pengamatan kompos cair tomat dan tomat - pisang
No. Hari dan
Pukul
Lokasi
pH
Suhu
Tanggal
1.
Senin, 16
14.00
S
Tomat: 4
Tomat: 25
Maret 2015
WIB
071600.5dan TomatTomatpisang:
E 1124658.2
Pisang: 5
30
2.

Kamis, 19
Maret 2015

10.58
WIB

3.

Senin, 23
Maret 2015

10,50
WIB

4.

Kamis, 26
Maret 2015

13.25
WIB

5.

Senin, 30
Maret

10.55
WIB

6.

Kamis, 2 April

11.56
WIB

7.

Senin, 6 April

13.25
WIB

8.

Kamis, 9 April

Selasa, 21
April

15.02
WIB15.16
WIB
15.15
WIB

10.

Rabu, 13 Mei

15.00
WIB

S 0716.027
dan E 112
46.976
S 0716.027
dan E 112
46.976
S 0716.015
dan
E 11246.993

Tomat: 4
Tomat
pisang: 4
Tomat: 4
Tomat
pisang: 4
Tomat : 4
Tomat
pisang: 4

Tomat: 29
Tomat pisang
24
Tomat: 28
Tomat
pisang: 27
Tomat 25
Tomat pisang
25

S 0716.034
dan
E11246.980
S 0716.027
dan E 112
46.976
S 0716.027
dan E 112
46.976
S 0716.027
dan E 112
46.976

Tomat
pisang: 5
Tomat: 6
Tomat
pisang: 5
Tomat: 4
Tomat
pisang:5
Tomat: 6
Tomat
pisang:6
Tomat: 6

Tomat 26
Tomat
Pisang: 25
Tompis:25
Tomat 25

S 0716.027
dan E 112
46.976
S 0716.027
dan E 112
46.976

Tomat
pisang:6
Tomat:7
Tomat
pisang 7

Tompis 28
Tomat 30

Tomat
pisang: 27
Tomat: 24
Tomat
pisang: 28
Tomat: 29

Tomat
Pisang 28

Sumber: Data Primer

16

4.1.1

Suhu
Suhu pada proses pembuatan kompos cair merupakan indikator adanya

aktivitas mikroba dalam proses fermentasi. Kompos cair baik yang berbahan dasar
tomat maupun tomat dan pisang diamati dan diukur sebanyak 10 kali pengukuran
selama 1 bulan. Berikut merupakan pembahasan pengamatan dan pengukuran
indikator suhu pada kompos cair.
1. Kompos cair berbahan dasar tomat
Pada pengamatan minggu pertama suhu kompos cair berbahan dasar tomat
sebesar 25C, selanjutnya 3 hari kemudian dilakukan pengukuran suhu kembali
dan didapatkan suhu sebesar 29C. Pada pengamatan minggu kedua, pada hari
pertama didapatkan suhu sebesar 28C sedangkan pada hari kedua didapatkan
suhu sebesar 25C. Pada minggu ketiga didapatkan suhu sebesar 26, 3 hari
kemudian suhu diukur kembali dan mendapatkan angka 25C. Pada minggu
keempat, suhu kompos cair adalah 24C, lalu pada pengukuran suhu 3 hari
kemudian didapatkan suhu 29. Pada minggu kelima diadapatkan suhu sebesar
30C. Namun kompos cair berbahan dasar tomat mengalami kegagalan yang
ditandai dengan timbulnya bau sangat menyengat dan cairan yang dipenuhi oleh
jamur, sehingga pengukuran suhu tidak dilanjutkan. Dengan demikian selama 9
kali pengukuran suhu kompos cair,didapatkan suhu rata-rata sebesar 24,1C
2. Kompos cair berbahan dasar tomat dan pisang
Suhu kompos cair berbahan dasar tomat dan pisang pada pengukuran
minggu pertama diperoleh suhu sebesar 30C, lalu 3 hari kemudian dilakukan
pengukuran kembali dan didapatkan suhu sebesar 24C. Pada minggu kedua,
suhu kompos cair adalah 27C, pada pengukuran 3 hari berikutnya diperoleh suhu
sebesar 25C. Pada minggu ketiga, suhu kompos cair adalah 25C dan 25C pada
3 hari kemudian. Selanjutnya pada minggu berikutnya, suhu kompos cair terukur
sebesar 27C dan 3 hari kemudian diukur kembali dengan suhu sebesar 28C.
Pada minggu berikutnya diperoleh suhu 28C, pada Rabu 13 Mei dilakukan
pemanenan kompos cair. Suhu yang teramati saat pemanenan adalah 28C.

17

Dengan demikian selama pembuatan, kompos cair berbahan dasar tomat dan
pisang memiliki suhu rata-rata sebesar 24,4C.

35
30
25
20
15
Tomat

10

Tomat + Pisang

5
0

Gambar 4.1 Grafik suhu kompos cair berbahan dasar tomat dan tomat-pisang
Sumber: Data Primer

Dari hasil pengukuran di atas, kisaran suhu kompos cair baik yang berbahan
dasar tomat maupun kombinasi tomat dan pisang ada di kisaran 24-30C. Namun,
menurut Indriani (2003), suhu optimal kompos cair yang sudah siap dipanen adalah
kisaran 30-50C, sedangkan hasil pengukuran suhu kompos cair berbahan tomat
maupun kombinasi tomat - pisang ada di bawah 30C. Meskipun demikian, baik
kompos cair berbahan tomat maupun yang berbahan tomat - pisang, keduanya pernah
mencapai suhu optimal sebesar 30. Dan pada hasil pemanenan didapatkan kompos
cair berbahan tomat dan pisang yang sudah siap diaplikasikan ke tanaman meskipun
pada akhirnya kompos berbahan dasar tomat mengalami kegagalan akibat populasi
jamur berlebih.
4.1.2

Warna
Pemantauan warna kompos cair selama kurang lebih selama 4 minggu

didapatkan hasil sebagai berikut:

18

Tabel 4.2 Hasil pengamatan warna dan bau kompos cair


Pengamatan Warna Kompos Warna Kompos cair Bau Kompos Cair
Minggu Ke- cair
berbahan berbahan
dasar
dasar tomat
tomat-pisang
1
Cairan
kompos Cairan
kompos - Tomat: bau
berwarna
jingga berwarna
jingga
seperti ekstrak
kemerahan seperti kekuningan
dari tomat/ jus
jus tomat.
tomat
- Tomat Pisang:
Bau lebih
dominan bau
sperti jus tomat
dan ada sedikit
bau dari ekstrak
pisang
2
Cairan
kompos Cairan
kompos - Tomat: ada
berwarna
jingga berwarna
jingga
perubahan bau
kemerahan, timbul kekuningan,
timbul
karena terjadi
gumpalan
yang gumpalan
yang
prosoes
mengapung
mengapung berwarna
biologis, bau
berwarna jingga di kuning,
di
dasar
berubah sedikit
bagian
bawah terdapat
endapan
agak
terdapat endapan berwarna kuning pucat.
menyengat
sisa-sisa
serat Cairan di bagian tengah - Tomat pisang:
tomat
berwarna agak jernih.
juga terdapat
jingga tua. Cairan
perubahan bau
di bagian tengah
karena terjadi
agak jernih.
prosoes
biologis, bau
berubah sedikit
agak
menyengat
3
Cairan
kompos Cairan
kompos - Tomat: bau
berwarna
jingga berwarna kuning cerah,
agak busuk
tua,
permukaan terdapat
gumpalan
seperti bau
tertutup gumpalan putih di permukaan
sampah
berwarna
putih serta endapan kuning - Tomat pisang:
keabu-abuan yang pucat di bagian bawah.
bau mulai
disinyalir sebagai Cairan di bagian tengah
menunjukkan
jamur. Cairan di agak jernih.
perubahan ke
bagian tengah agak
arah seperti
keruh
starter EM4
4
Cairan
kompos Cairan
kompos - Tomat: bau
berwarna
jingga berwarna kuning cerah,
menunjukkan

19

tua dan sudah dan cairan di bagian


bercampur dengan tengah cukup jernih.
jamur
dan
berwarna keruh
-

semakin busuk
seperti
samapah
Tomat pisang:
bau berubah
manjadi seperti
starter EM4

Sumber: Data Primer

Dari tabel di atas terdapat perbedaan warna antara kompos cair yang berbahan
dasar tomat dan berbahan kombinasi pisang dan tomat. Beberapa saat setelah
pembuatan, warna kompos cair berbahan dasar tomat cnederung berwarna jingga
kemerahan seperti layaknya jus tomat. Sedangkan warna kompos cair berbahan dasar
tomat dan pisang berwarna jingga kekuningan.
Pada minggu kedua setelah pembuatan kompos cair, masing-masing kompos
cair mengalami perubahan. Tampak adanya endapan di bagian bawah kompos cair
serta gumpalan di permukaan kompos. Pada kompos cair berbahan tomat, di bagian
bawah terdapat endapan berwarna jingga tua, sedangkan pada kompos cair berbahan
tomat - pisang endapan berwarna kuning pucat. Di permukaan masing-masing
kompos terdapat gumpalan seperti busa, pada kompos cair berbahan tomat timbul
gumpalan berwarna jingga, sedangkan pada kompos cair berbahan dasar tomat-pisang
timbul gumpalan berwarna kuning.
Pada minggu ketiga, untuk hasil pengamatan kompos cair berbahan dasar
tomat - pisang tidak terlalu signifikan perbedaannya dengan hasil minggu
sebelumnya. Namun pada kompos cair berbahan dasar tomat terdapat perbedaan yaitu
tumbuhnya jamur-jamur pada permukaan kompos yang menimbulkan bau busuk dan
warna keruh pada cairan kompos.
Pada minggu keempat, kompos cair berbahan dasar tomat semakin tercemar
jamur sehingga warnanya semakin keruh, sedangkan kompos cair berbahan dasar
tomat-pisang berwarna kuning cerah dan cukup jernih.
4.1.3

Bau
Dari hasil pengamatan yang tertera pada tabel 4.2 didapat bahwa bau awal

kedua kompos cair tomat dan tomat pisang masih seperti bau ekstrak atau jus tomat

20

dan tomat bercampur pisang. Untuk minggu kedua telah terdapat perubahan bau pada
kedua kompos cair karena terjadi proses biologis dalam pembuatan kompos, bau
berubah menjadi seperti bau fermentasi yang agak menyengat. Minggu ke tiga untuk
kompos cair tomat bau menyengat tidak hilang dan cenderung berubah ke bau
sampah, untuk kompos cair tomat pisang bau berubah agak ke bau starter awal EM4.
Minggu ke empat bau kompos cair tomat semakin busuk sperti bau sampah dan untuk
bau kompos cair tomat pisang berubah seperti starter. Ini menandakan bahwa kompos
cair tomat pisang berhasil dan siap untuk dipanen, sedangkan untuk kompos cair
tomat menunjukkan kegagalan.
4.1.4

pH
1. Kompos cair berbahan tomat-pisang
Dari awal pembuatan kompos cair ketika dilakukan pengukuran PH
didapatkan PH kompos cair masih asam, yakni menunjukkan angka 5.
Tiga hari kemudian sampai dilakukan tiga kali pengukuran slanjutnya, PH
kompos cair masih menunjukkan asam yaitu bertahan di angka 4. Pada
minggu ke tiga PH kompos cair mulai menunjukkan peningkatan PH
menjadi 5, hal ini menandakan bahwa mikroorganisme dalam kompos cair
mulai bekerja. PH 5 terus bertahan sampai ke pengukuran ke delapan
yakni menunjukkan angka 6, menandakan bahwa kompos semakin
mendekati basa dan hampir siap untuk di panen. Pada pengukuran ke
sepuluh PH menunjukkan angka 7 ini berarti bahwa kompos cair siap
utnuk dipanen.
2. Kompos cair berbahan tomat
Pada awal pembuatan kompos cair yang berbahan dasar tomat, didapat PH
sebesar 4, hal ini menunjukkan bahwa kompos masih bersifat asam, hal ini
mungkin dipengaruhi dari bahan asal pembuatan kompos cair yaitu tomat
yang dari awal bersifat asam. Perubahan PH berda pada pengukuran ke
lima yaitu PH meningkat menjadi 6, tapi di pengukuran selanjutnya PH
kembali ke angka 4. PH kembali meningkat pada pengukuran ke tujuh
yakni PH meningkat menjadi 6 dan terus bertahan sampai ke pengukuran

21

ke sembilan yakni didapat angka 7. Pada pengukuran ke sepuluh PH tidak


diukur karena dipastikan bahwa kompos cair berbahan dasar tomat gagal,
dilihat dari warna yang berubah menjadi coklat kehitaman dan bau busuk
seperti sampah yang menyengat, tidak seperti EM4.
8
7
6
5

Tomat

Tomat Pisang

Column1

2
1
0
1

10

Gambar 4.2 Grafik pengamatan pengukuran pH


Sumber: Data Primer

4.2 Pembahasan Hasil Uji Kompos Cair pada Tanaman Cabai


Tabel 4.3 Hasil pengukuran tanaman cabai
No Tanggal Koordinat
Tinggi
Deskripsi
Tinggi
Tanaman Tanaman
Tanaman
Kontrol
Kontrol
Kompos
Cair
1
Rabu 13 S 0716.015 27,5 cm
Daun
25,5 cm
Mei
dan E
berwarna
2015
11246.993
hijau

Senin
S 0716.034 27,5 cm
18 Mei dan
2015
E11246.980

Sudah
27 cm
tumbuh buah
cabe

Deskripsi
Tanaman
Kompos
Cair
Daun
berwarna
hijau

Warna daun
mulai
menjadi
hijau gelap,
yang
sebelumnya
masih hijau
muda.

22

Kamis
S 0716.034 28cm
21 Mei dan
2015
E11246.980

Terjadi
29 cm
pertumbuhan
batang,
sekaligus
bertambahnya
buah
dan
bunga

Senin
S 0716.034 29cm
25 Mei dan
2015
E11246.980

Terjadi
34 cm
pertumbuhan
batang
dan
juga jumlah
daun. Selain
itu beberapa
bunga telah
menjadi buah

Terjadi
pertambahan
tinggi
tanaman dan
jumlah daun.
Selain
itu
juga terdapat
bunga.
Tinggi
batang dan
jumlah daun
bertambah,
selain
itu
bunga sudah
menjadi
buah

Sumber: Data Primer

Pada saat awal penanaman tanaman, baik itu tanaman kontrol dan tanaman
yang diberi kompos cair sama-sama diukur tingginya, selain itu juga dilhat jumlah
daun dan bunga bakal buah. Kondisi awal tanaman kontrol saat pertama kali ditanam
adalah 27,5 cm, sedangkan untuk tanaman yang diberi pupuk cair tingginya sekitar
25,5 cm. Pada pengukuran selanjutnya untuk tanaman kontrol tidak terjadi
penambahan tinggi, hanya terdapat beberapa buah cabai. Sementara itu untuk
tanaman uji tinggi bertambah menjadi 27 cm diikuti dengan penambahan jumlah
daun. Pada pengukuran ketiga tanggal 21 Mei 2015 terjadi penambahan tinggi
tanaman untuk kedua tanaman, baik yang uji maupun kontrol, sekaligus terjadi
pertumbuhan untuk daun dan juga bunga. Untuk pengukuran terakhir tanggal 25 Mei
2015, tinggi tanaman uji adalah 34 cm, sementara itu untuk tanaman kontrolnya 29
cm. Pada tanaman uji, setiap kali dilakukan pengukuran juga sekalian dilakukan
penyiraman dengan kompos cair.
Apabila dilihat dari perbandingan uji dan kontrol, didapatkan bahwa
pertumbuhan dan perkembangan yang lebih cepat terjadi pada tanaman yang disiram
dengan menggunakan kompos cair. Hal tersebut dapat dilihat dengan pertambahan
tinggi dan jumlah buah pada tanaman yang disiram dengan kompos cair dimana

23

tanaman ini lebih unggul dan lebih cepat perkembanganya dibandingkan dengan
tanaman kontrol.
Namun perlu diketahui bahwa faktor pemberian kompos bukan satu-satunya
alasan yang bisa dipakai untuk membandingkan antara tanaman uji dan tanaman
kontrol, masih juga terdapat faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman.
Pengujian Tinggi Tanaman (cm)
40
30
20
10
0
pengukuran ke 1 pengukuran ke 2 pengukuran ke 3 pengukuran ke 4
tanaman uji

tanaman kontrol

Gambar 4.3 Grafik pengujian tanaman cabe dan kontroler


Sumber: Data Primer

24

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pembuatan kompos cair sangatlah mudah. Kumpulkan buah-buahan yang busuk
sebanyak-banyaknya kemudian diperas untuk diambil sarinya. Dalam proses
memerasnya harus menggunakan saringan halus agar ampas dari buat tidak ikut terbawa
bersama sari buah. Setelah sari buah terkumpul dimasukkan kedalam botol aqua 1,5 L
dan diberi penambahan EM4. Penambahan ini dimaksudkan agar kompos cair cepat
matang. Kemudian tutup botol tersebut dan masukan selang plastik kedalam botol
melalui lubang diatas tutup botol yang telah dibuat. Berdasarkan praktikum yang
sudah dilakukan proses perubahan sari buah menjadi kompos cair membutuhkan waktu
kurang lebih dua bulan. Cara untuk mengetahui apakah kompos cair tersebut siap
dipanen dengan melihat warna, menghirup bau, serta mengukur suhu dan pH.
Kompos cair yang sudah dipanen selanjutkan akan disiram ke tanaman cabai
yang sudah disediakan, kemudian dibandingkan dengan tanaman kontrol yang telah
disediakan. Dari hasil praktikum tersebut didapatkan bahwa tanaman cabai yang diberi
kompos cair mengalami pertumbuhan lebih baik disbanding dengan tanaman kontrol.
5.1 Saran
Pembuatan kompos cair yang berbahan dasar tomat dan tomat pisang
menghasilkan hal yang berbeda-beda. Untuk kompos cair berbahan dasar tomat
pisang telah berhasil dibuat, akan tetapi untuk kompos cair berbahan dasar tomat
mengalami kegagalan karena tercemar jamur. Untuk menghindari tumbuhnya jamur
pada kompos cair adalah tidak menaruh kompos cair ditempat yang terlalu lembab.
Ruangan yang terlalu lembab meningkatkan risiko pertumbuhan jamur.

25

DAFTAR PUSTAKA
Aryantha, Nyoman P. 2010. Kompos. Pusat Penelitian Antar Universitas Ilmu Hayati
LPPM, ITB.
Indriani, Y.H. 2005. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Koontz, Robin. 2007. Kompos Hasil Daur Ulang Bahan-Bahan Alam (terjemahan).
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sejati, Kuncoro. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu dengan Sistem Node, Sub
Point, dan Center Point. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sinaga, D. 2009. Pembuatan Pupuk Cair dari Sampah Organik dengan menggunakan
Boisca Sebagai Starter. Skripsi. Departemen Teknologi Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara
Soeleman dan Rahayu. 2012. Halaman Organik. Jakarta: AgroMedia.
Sundari, dkk. 2012. Pembuatan Pupuk Organik Cair Menggunakan Bioaktivator
Biosca dan EM4. Jurnal Prosiding SNTK TOPI, Universitas Bung Hatta,
Padang.
Suriadikarta, D. A. dan D. Setyorini. 2005. Laporan Hasil Penelitian Standar Mutu
Pupuk Organik. Balai Pelitian Tanah, Bogor.
Tobing, Imran SL. 2005. Dampak Sampah Terhadap Kesehatan Lingkungan dan
Manusia. Jakarta: Fakultas Biologi Universitas Nasional.
Tombe, Mesak., Sipayung, Hendra. 2010. Kompos Biopestisida. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Yulianto, Adi Budi, dkk. 2009. Buku Pedoman Pengoalahan Sampah Terpadu:
Konversi Sampah Pasar Menjadi Kompos Berkualitas Tinggi. Jakarta: Yayasan
Danamon Peduli.

26

LAMPIRAN

Gambar 1 Kompos Cair Berbahan


Dasar Tomat dan Pisang
Sumber: Data Primer

Gambar 3 Kompos Cair Berbahan


Dasar Tomat Pisang yang Sudah
Dipanen
Sumber: Data Primer

Gambar 2 Kompos Cair Berbahan


Dasar Tomat
Sumber: Data Primer

Gambar 4 Kompos Cair Berbahan


Tomat Mengalami Kegagalan, Warna
Kompos Berubah Menjadi Gelap dan
Keruh
Sumber: Data Primer

Gambar 5 Tanaman Cabai Sebelum Gambar 6 Tanaman Cabai Sesudah Diberi


Diberi Kompos Cair Berbahan
Kompos Cair Berbahan Tomat-Pisang
Sumber: Data Primer
Tomat-Pisang
Sumber: Data Primer