Anda di halaman 1dari 16

https://id.wikipedia.

org/wiki/Perlindungan_Varietas_Tanaman
Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) atau hak pemulia
tanaman adalah hak kekayaan intelektual yang diberikan kepada pihak pemulia
tanaman atau pemegang PVT untuk memegang kendali secara eksklusif terhadap
bahan perbanyakan (mencakup benih, stek, anakan, atau jaringan biakan) dan
material yang dipanen (bunga potong, buah, potongan daun) dari suatu varietas
tanaman baru untuk digunakan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Suatu kultivar yang didaftarkan untuk mendapatkan PVT harus memiliki
karakteristik berikut ini : baru, unik, seragam, stabil, dan telah diberi nama. Hak ini
merupakan imbalan atas upaya yang dilakukan pemulia dalam merakit kultivar
yang dimuliakannya, sekaligus untuk melindungi konsumen (penanam bahan
tanam atau pengguna produk) dari pemalsuan atas produk yang dihasilkan dari
kultivar tersebut. Sedangkan Pengertian Perlindungan Varietas Tanaman menurut
UU PVT UU NO 29 Tahun 2000 Pasal 1(1) adalah :Perlindungan khusus yang
diberikan negara, yang dalam hal ini diwakili oleh pemerintah dan
pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan Varietas Tanaman, terhadap
varietas tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman melalui kegiatan
pemuliaan tanaman.
Pendaftaran PVT dari dalam negeri bisa langsung mengajukan ke Pusat
Perlindungan Varietas Pertanian dan Perijinan Pertanian (PVTPP) atau melalui
jasa Konsultan PVT terdaftar. Adapun pendaftaran PVT yang tidak bertempat
tinggal atau berkedudukan tetap di wilayah Indonesia harus melalui Konsultan
Perlindungan Varietas Tanaman di Indonesia selaku kuasa

Pasal 12 (3) UU NO 29 Tahun 2000


Negara-negara berkembang seperti Indonesia kaya akan sumber daya alam
(SDA) namun, sangat miskin dalam hal riset and development (R&D) sedangkan
negara maju miskin akan sumber daya alam (SDA) namun kaya akan riset and
development (R&D). Dengan adanya Perlindungan varietas tanaman (PVT)
diharapkan akan memacu invensi dan inovasi berbasis sumber daya alam di
bidang pertanian. Para pemulia tanaman akan terpacu untuk merakit varietasvarietas tanaman baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas. PVT pun menjamin
akan perlindungan atas sumber kekayaan alam (plasma nutfah). Sudah saatnya
Indonesia menggalakkan riset di bidang pertanian secara besar-besaran. Sumber
daya alam kita melimpah ruah, namun jika kita hanya diam dan tidak melakukan
riset di bidang pertanian secara besar-besaran maka kita tetap tidak akan
berkembang menjadi negara yang maju di bidang pertanian. Lihat saja negara
1

New Zealand dengan satu produk buah Kiwinya bisa mengguncang dunia, lihat
pula beranekaragam bunga-bunga hias hasil para pemulia tanaman dari Thailand
banyak di buru oleh orang-orang di seluruh dunia, bahkan tak jarang orang-orang
dari Indonesia menghabiskan uangnya di negeri gajah itu untuk memborong
tanaman-tanaman hias langka dan terbaru. Maka, sudah saatnya kita merakit
varietas-varietas unggulan baru baik itu buah-buahan, sayuran, tanaman pangan,
obat-obatan.
Modal awal sudah kita miliki yaitu kekayaan plasma nutfah yang melimpah ruah,
sekarang tinggal menunggu kreatifitas para pemulia tanaman (breeder) untuk
menghasilkan tanaman-tanaman baru yang bernilai ekonomi dan memberikan
banyak manfaat bagi masyarakat luas. Setelah para pemulia tanaman itu
menghasilkan varietas-varietas tanaman baru, sangat penting sekali pemerintah
Indonesia memberikan perlindungan hukum atas karya yang dihasilkannya yaitu
dengan pemberian sertifikat varietas tanaman (PVT). Selain varietas-varietas
tanaman baru, departemen pertanian pun harus memberikan perlindungan bagi
varietas-varietas tanaman lokal yang telah menjadi milik masyarakat. Bangsa
yang besar adalah bangsa yang banyak menghasilkan invensi dan inovasi di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan sastra termasuk varietas baru
di bidang pertanian. Bangsa yang besar tidak hanya kaya akan sumber daya
alamnya saja, buat apa kaya akan sumber daya alamnya, jika ternyata kita
sebagai anak bangsa miskin berfikir, miskin berkreasi dan miskin bermimpi.
Kita sebagai bangsa agraris masih harus bersyukur dengan cara selalu berfikir,
mencipta ,serta berkreasi. Oleh karena itu, kita harus bisa membangkitkan
kreatifitas di bidang pertanian caranya tentu dengan menemukan banyak varietasvarietas tanaman baru yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Untuk merangsang
kreatifitas ini Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) bisa menjadi salah satu jalan.
Lihat saja data berikut ini, Pada tahun 1990 pengeluaran untuk kepentingan riset
bioteknologi di Amerika Serikat mencapai $ 11 miliar, dua pertiganya berada di
sektor swasta. (Bunga Rampai Hak Atas Kekayaan Intelektual, 2001). Kita bisa
melihat besarnya dana riset yang dilakukan oleh negara maju di bidang pertanian
ini sangat jauh dengan dana riset indonesia. Semoga saja dengan di sahkannya
UU no 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman (PVT) akan semakin
memacu riset pertanian di Indonesia. Pilihan ada di tangan kita semua, apakah
kita akan selamanya menjadi negara yang kaya akan sumber daya alam, namun
2

miskin invensi dan inovasi. Indonesia baru menjadi Indonesia sebenarnya jika
kaya akan sumber daya alam namun manusianya pun kaya juga dengan invensi
dan inovasi di bidang pertaniannya.

http://www.hukumonline.com/berita/baca/hol11250/perlindungan-hukum-varietastanaman-siapa-peduli
Perlindungan Hukum Varietas Tanaman, Siapa Peduli?
Persoalan perlindungan hukum bagi varietas baru tanaman bukanlah isu hukum
menarik yang secara reguler menghiasi media massa. Namun, mengabaikan
persoalan ini bisa jadi malah akan menambah keterpurukan Indonesia.
Leo
Dibaca: 86 Tanggapan: 4
Perlindungan Hukum Varietas Baru
Tanaman Dalam Perspektif Hak Paten
dan Hak Pemulia
Pengarang: Andriana Krisnawati SH MH
Gazalba Saleh SH MH
Penerbit: Rajawali Pers, Juli 2004
Jumlah halaman: xxi+224 halaman
Keanekaragaman hayati di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia.
Dari Sabang sampai Merauke terbentang dan tersimpan begitu banyak kekayaan
alam Indonesia. Hasil pertanian, laut, pertambangan, adalah kekayaan terpendam
yang sejatinya mampu membuat Indonesia menjadi negara yang makmur, paling
tidak di Asia.
Faktanya malah bertolak belakang. Indonesia sekarang malah menjadi negara
pengimpor beras, gula, dan minyak. Buah-buahan impor, durian bangkok
misalnya, justru lebih populer dan mungkin lebih banyak dikonsumsi ketimbang
produksi lokal. Ini bukan disebabkan Indonesia miskin' sumber daya alam atau
bibit unggul.

Tapi di negara lain yang keanekaragaman hayatinya tidak sebaik di Indonesia,


telah dikembangkan sedemikian rupa ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk
teknologi pangan misalnya, sumber penghasil pangan direkayasa untuk
menghasilkan varietas dan produk unggulan. Sementara di Indonesia,
kemampuan untuk menghasilkan varietas baru baru, khususnya varietas unggul
masih rendah.
Dalam buku Perlindungan Hukum Varietas Baru Tanaman, dipaparkan pula
penyebab lain rendahnya pengembangan dan pemuliaan varietas tanaman di
Indoesia. Selain karena persoalan teknologi, perlindungan hukum yang diberikan
untuk persoalan varietas tanaman juga belum memadai. Sebelumnya, ketentuan
perlindungan varietas tanaman yang diatur dalam Undang-Undang Paten, dinilai
tidak dapat memenuhi harapan pemulia untuk melindungi hasil invensinya (hal.7).
Barulah di akhir 2000, untuk mendukung kegiatan pemuliaan dan memberikan
suasana kondusif bagi perkembangan industri perbenihan, pemerintah dan DPR
menyetujui Undang-Undang No.29/2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman
(PVT).
Buku setebal 224 halaman ini cukup sistematis dalam menjelaskan konsep,
kedudukan hak pemulia dalam sistem hukum di Indonesia, dan kaitan antara hak
pemulia dengan Hak Kekayaan Intelektual dalam Undang-Undang Paten
khususnya. Bagi mahasiswa, akademisi, atau praktisi hukum yang berniat
mempelajari lebih jauh aspek hukum pada pengembangan varietas tanaman,
buku ini bisa menjadi referensi yang memadai. Satu lagi nilai plus buku ini, editing
bahasanya boleh dikatakan sangat teliti. Hampir tidak ditemukan kesalahan
penulisan ejaan yang mengganggu kenyamanan membaca.
TANGGAPAN

Kasus perlindungan hak pemulia?


- Riza Sativa
06.03.05 11:14
kasus untuk perlindungan hukum bagi pemulia tanaman bagi varietas tanaman
baru di indonesia kenepe tidak dibahas, apakah memang belum ada atau tidak
dicantumkan?
Balas Tanggapan

Siapa lagi kalau bukan rakyat??


- wilma ika dewi SH
25.02.05 12:31
Masalah lingkungan adalah masalah bersama, pelestarian adalah untuk kita
semua. Apabila rakyat tidak peduli apakah Pemerintah atau wakil wakil rakyat
YANG NOTABENE adalah rakyat juga akan peduli??? Sadarlah Indonesia adalah
negara kaya kalau kita mau menjaga kelestariannya...regard

http://beritabumi.meximas.com/data-dan-informasi/kronologis-dan-legal-opinianpetani-pemulia-benih-yang-tertindas/
I. PENDAHULUAN
Perlindungan

Varietas

Tanaman

(PVT)

telah

mendapat

perhatian

masyarakat dunia termasuk Negara Indonesia. Indonesia adalah salah satu


negara di dunia yang memiliki sumberdaya hayati yang sangat beragam dan
sering dinyatakan sebagai negara yang memiliki megabiodeversity. Sesuai
dengan konvensi internasional, perlindungan varietas tanaman perlu dilindungi
dengan undang-undang guna membangun pertanian yang maju, efisien, dan
tangguh perlu didukung dan ditunjang antara lain dengan tersedianya varietas
unggul. Guna lebih meningkatkan minat dan peran serta perseorangan atau
badan hokum untuk melakukan kegiatan pemuliaan tanaman dalam rangka
menghasilkan varietas unggul baru, kepada pemulia tanaman atau pemegang hak
Perlindungan Varietas Tanaman perlu diberikan hak tertentu serta perlindungan
hokum atas hak tersebut secara memadai.

Pemberian perlindungan varietas tanaman juga dilaksanakan untuk


mendorong dan memberi peluang kepada dunia usaha meningkatkan perannya
dalam berbagai aspek pembangunan pertanian. Hal ini semakin penting
mengingat perakitan varietas tanaman yang lebih unggul di Indonesia saat ini
masih banyak dilakukan oleh lembaga penellitian pemerintah.pada waktu yang
akan datang diharapkan dunia usaha dapat semakin berperan sehingga lebih
banyak varietas tanaman yang lebih unggul dan lebih beragam dapat dihasilkan.
Namun, varietas baru yang penggunaannya bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, kesusilaan, norma-norma
agama, kelestarian lingkungan hidup, dan kesehatan tidak akan memperoleh
perlindungan.
Terkait dengan perlindunag PVT ini di Indonesia sendiri banyak terjadi
kasus masalah PVT ini salah satunya kasus Kuncoro, petani yang berasal dari
Desa Toyo Resmi Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Salah satu anggota Bina
Tani Makmur (BTM) Kediri.

II. PERMASALAHAN
Bagaimanakah perlindungan hukum bagi para petani yang memuliakan tanaman
dan yang menjual benih ungul ?
III. PEMBAHASAN
Pak Kunoto alias Kuncoro adalah petani yang berasal dari Desa Toyo
Resmi Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri Salah satu anggota Bina Tani
Makmur (BTM) Kediri. Untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari 1 istri dan
dua anak 1 orang duduk di kelas 2 STM dan 1 orang duduk di TK, istrinya adalah
seorang buruh di pabrik rokok Gudang Garam. Untuk menghidupi keluaraganya,
pak Kuncoro Pekerjaannya sehari-hari selain bertani dia juga berdagang, yang
salah satunya menjual benih jagung curah kepada petani yang membutuhkan
benih di sekitar. Umumnya petani yang membeli benih pak Kunoto berasal dari
6

sekitar daerah dan kebanyakan sudah kenal pak Kunoto sebelumnya.


Benih j

agung yang dijual oleh Pak Kuncoro kabanyakan berasal dari petani

di Desa Grogol kec Grogol. Petani Grogol mendapatkan benih jagung dari hasil
pemulian dan penyilangan di lahan milik mereka sendiri yang luasnya rata-rata
- 1 Hektar. Selain dari penyilangannya sendiri petani grogol mendapatkan benih
jagung berasal dari limbah PT BISI yang dibuang, kemudian diambil dan diseleksi
kembali, mana yang masih bagus dan mana yang sudah rusak.
Pak Kuncoro biasanya menjual benih jagung pada petani pada musim
penghujan (rendeng). Benih jagung yang di jual oleh pak Kuncoro adalah benih
jagung curah (dijual tanpa merek dan kemasan). Biasanya pak kuncoro menjual
benih jagung curah tersebut sebanyak 5 kwintal s/d 1 ton dengan harga Rp 6.500
Rp 7.500 setiap musimnya. Dia mulai melakukan penjualan benih jagung curah
tersebut sejak dua tahun yang lalu dan selama ini tidak terjadi masalah apa-apa
terhadap jagung tersebut. Petani yang memakai benih tersebut juga tidak pernah
ada yang komplain.Pak Kuncoro sebenarnya mempunyai keterampilan untuk
melakukan budidaya atau melakukan penyilangan benih, akan tetapi dia tidak
berani melakukan penyilangan sendiri. Dia berhenti melakukan penyilangan benih
jagung sejak 2 tahun yang lalu, karena beliau takut di tangkap Polisi dan di
pidanakan sebagaimana yang pernah terjadi pada teman-teman pak kuncoro
(anggota Bina Tani makmur) lainnya. Sehingga dia memilih menjual benih jagung
yang berasal dari teman-teman-nya karena pekerjaan itulah yang bisa dia lakukan
untuk menghidupi keluarganya saat ini. Dia tidak menyadari bahwa menjual benih
jagung curah tersebut akan bermalah (dikriminalkan) di kemudian hari.Pada
tanggal 16 Januari 2010 rumah pak kuncoro di gerebeg Polisi yang berasal dari
Polres Kediri, kemudian pak Kuncoro di tangkap dengan tuduhan melanggar
pasal 60 dan 61 UU No. 12/2000 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Selain
menangkap Pak Kuncoro. Polisi juga menyita Jagung yang ditengarai sebagai
benih seberat 1 ton di rumah pak Kunoto sebagai barang Bukti.Penangkapan pak
7

Kunoto berawal dari pengembangan kasus pemalsuan Kemasan (Hologram PT


BISI) oleh pak suwoto dan kawan-kawan. Kronologis kasus penangkapan pak
Kuncoro sebagaimana yang terjadi : Pa Kuncoro dihubungi oleh seseorang
yang belakangan di ketahui namanya Harianto sekitar tanggal 9 Januari 2010,
yang membutuhkan benih jagung sebanyak 2 ton. Sebelumnya pak Kuncoro tidak
mengenal Harianto (terkait dengan aktitifitas dan pekerjaannya). Komunikasi Pak
Kunoto dengan Harianto awalnya sebatas melalui telephone.
Pada tanggal 14 januari 2010 Pak Kuncoro di temuai oleh Harianto di
rumahnya yang mencari benih dan ingin membeli benih jagung sebanyak 2 ton.
Kemudian Harianto menawar harga benih jagung curah (tanpa merek dan lebel)
ke pak Kuncoro Rp 6.500 tetapi pak Kunoto tidak boleh/menyetujui harga tersebut
dan Pak Kunoto mau menjual benih curah tersebut kalau harganya Rp 7.000. dari
harga tujuh ribu tersebut rencananya pak Kunoto mendapatkan keutungan Rp
500/

kg

benih

jagung

curah.

Kemudian pada hari jumat, tanggal 15 Januari 2010 Harianto datang lagi ke
Rumah Pak Kuncoro/Kunoto, yang sepakat membeli benih jagung pak Kuncoro
dengan harga 7.000, selanjutnya harianto memberikan persekot (DP) sebesar Rp
500.000

sebagai

tanda

jadi.

Pak Kuncoro hanya mempunyai 1 ton benih Jagung, kemudian dia menghubungi
teman-temannya salah satunya adalah pak soli dari desa Banyakan kec.
Banyakan, untuk memenuhi permintaan dari Harianto. Pak soli hanya sanggup
memenuhi 1.5 ton benih jagung Gelondongan. Pak Soli mendapatkan benih
jagung Gelondongan tersebut dari teman-teman petaninya.
Pada tanggal 16 januari 2010 Harianto datang kerumah pak Kuncoro yang
rencananya untuk melunasi sisa pembayaran dan mengabil benih yang di
sepakati sebelumnya. Belum sempat pembayaran di lakukan pada saat
bersamaan datang rombongan polisi dari Polres Kediri dengan membawa
kendaraan pengankut, menangkap pak Kuncoro, kemudian jagung dan uang
8

pembayaran yang belum sempat di terima oleh pak Kuncoro di sita oleh polisi
sebagai barang bukti. Anehnya dua ayam alas milik pak Kunoto ikut diangkut oleh
polisi yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kasus Penjualan benih.
Penangkapan pak Kuncoro berawal dari penangkapan dan pengembangan
kasus pak suwoto, karena melakukan pemalsuan Hologram PT BISI yang berasal
dari 2 karyawan PT BISI (Dedi 27 tahun & Suyoto 28 tahun). Pak Kunoto baru
Tahu pak suwoto sendiri setelah di tahanan (Penjara)Baru di sadari belakangan
setelah dia di tangkap oleh Polisi, bahwa harianto itu orang yang disuruh oleh pak
Suwoto untuk mencari benih jagung. Yang belakangan di ketahui digunakan oleh
pak Suwoto untuk memalsu benih PT BISI Pak Kuncoro tidak mengetahui maksud
pembelian benih jagung oleh Harianto, karena harianto tidak pernah menceritakan
mau di buat apa benih tersebut sebelumnya. Pak Kunoto baru mengetahui benih
tersebut digunakan untuk memalsukan benih milik BISI oleh pak suwoto setelah
dia

ditangkap

oleh

Polisi.Dalam

proses

transaksi

Pak

Kuncoro

tidak

bertemu/mengenal pak Suwoto atau karywan PT Bisi Yang memalsukan


Hologram PT BISI, yang di ketahui oleh Pak Kunoto hanyalah Harianto.
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang
Sistem Budidaya Tanaman,

Sistem Budidaya Tanaman adalah sistem

pengembangan dan pemanfaatan sumberdaya alam nabati melalui upaya


manusia yang dengan modal, teknologi, dan sumberdaya lainnya menghasilkan
barang guna memenuhi kebutuhan manusia secara lebih baik, kemudian dalam
ayat (6) disebutkan bahwa Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat benih
tanaman setelah melalui pemeriksaan, pengujian dan pengawasan serta
memenuhi semua persyaratan untuk diedarkan.
Selanjutnya dalam Pasal 3 disebutkan juga Sistem Budidaya Tanaman
bertujuan untuk meningkatkan dan memperluas penganekaragaman hasil
tanaman guna memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, kesehatan,
industri dalam negeri, dan memperbesar ekspor serta meningkatkan pendapatan
9

dan taraf hidup petani; c. Mendorong perluasan dan pemerataan kesempatan


berusaha dan kesempatan kerja.
Di dalam Pasal 13 ayat (2) disebutkan juga bahwa benih bina yang akan
diedarkan harus melalui sertifikasi dan memenuhi standar mutu yang ditetapkan
oleh Pemerintah. dan benih bina yang lulus sertifikasi apabila akan diedarkan
wajib diberi label.Dalam Penjelasan Pasal 13 ayat (2) diterangkan Sertifikasi
merupakan kegiatan untuk mempertahankan mutu benih dan kemurnian varietas,
yang dilaksanakan dengan pemeriksaan terhadap kebenaran benih sumber atau
pohon induk, petanaman dan pertanaman, isolasi tanaman agar tidak terjadi
persilangan liar, alat panen dan pengolahan benih, tercampurnya benih,
Pengujian laboratorium untuk menguji mutu benih yang meliputi mutu genetik,
fisiologis dan fisik, serta pengawasan pemasangan label. Sedangkan yang
dimaksud dengan label adalah keterangan tertulis yang diberikan pada benih atau
benih yang sudah dikemas yang akan diedarkan dan memuat antara lain tempat
asal benih, jenis dan varietas tanaman, kelas benih, data hasil uji laboratorium,
serta akhir masa edar benih.
Di dalam Undang undang ini juga ada sanksi atas pelanggaran sertifikasi
ini, yaitu dalam Pasal 61 yaitu pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan
denda

paling

banyak

Rp.

150.000.000,-

(seratus

lima

puluh

juta

rupiah). Pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan Pak Kuncoro dapat


dikategorikan sebagai perbuatan melakukan sertifikasi liar ?
Dari uraian dan penjelasan pada pasal-pasal tersebut di atas, maka
perbuatan Pak Kuncoro melakukan penjualan benih yang kebanyakan didapat
dari desa Grogol kecamatan Grogol dan dari petani desa Toyo resmi belum
melalui

sertifikasi

resmi,

memang

memenuhi

unsur

kegiatan

sertifikasi

sebagaimana didefinisikan dalam Penjelasan Pasal 13 ayat (2) dan (3). Benih
jagung yang didapat yang kemudian digunakan untuk ditanam kembali oleh
menurut Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman harus terlebih dahulu
10

menempuh proses sertifikasi sebelum dilepas dan diedarkanUndang-Undang ini


sebenarnya mempersempit dan menghalangi kesempatan bagi petani untuk
berperan serta dalam pengembangan budidaya tanaman.. Padahal Pasal 5 huruf
(d) Undang-Undang Sistem Budidaya Tanaman menyebutkan bahwa Pemerintah
perlu memberikan peluang dan kemudahan tertentu yang dapat mendorong
masyarakat untuk berperanserta dalam pengembangan budidaya tanaman.
Kesimpulannya adalah pak Kuncoro/Kunoto oleh Undang-Undang telah
terbukti melakukan sertifikasi liar sebab benih yang digunakan untuk ditanam
kembali tersebut akan diedarkan kepada pihak lain.Tentang Perlindungan Varietas
Tanaman.
Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 Tentang
Perlindungan Varietas Tanaman menyebutkan, Perlindungan varietas tanaman
(PVT), adalah perlindungan khusus yang diberikan Negara, yang dalam hal ini
diwakili oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Perlindungan
Varietas Tanaman, terhadap varietas yang dihasilkan oleh pemulia tanaman
melalui kegiatan pemuliaan tanaman. Berdasarkan pasal tersebut - dalam kasus
Kediri - seharusnya para petani mendapatkan perlindungan dari Negara dalam hal
ini pemerintah terhadap varietas tanaman yang mereka hasilkan. Karena bentuk
tanaman yang dihasilkan oleh para petani berbeda dengan bentuk tanaman
jagung milik PT. BISI, sehingga bentuk tanaman milik petani adalah varietas baru.
Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang PVT
menjelaskan, Hak perlindungan varietas tanaman adalah hak khusus yang
diberikan Negara kepada pemulia dan/ atau pemegang hak perlindungan varietas
tanaman untuk menggunakan sendiri varietas hasil pemuliaannya atau memberi
persetujuan kepada orang atau badan hukum lain untuk menggunakannya selama
waktu tertentu.
Kalimat dan/ atau pada pasal tersebut memberikan hak khusus terhadap
Perlindungan varietas tanaman kepada petani secara otomatis, meskipun para
11

petani tidak mengajukan hak PVT kepada kantor PVT. Karena kalimat dan/ atau
bisa bermakna salah satu, yaitu yang tidak mengajukan hak PVT maupun yang
mengajukan hak PVT. Bagi yang tidak mendaftarkan hak PVTnya pun tidak
menjadi masalah. Karena dalam Undang-Undang PVT sendiri tidak disebutkan
bahwa setiap varietas baru harus didaftarkan. Sebenarnya diberikannya
perlindungan PVT oleh pemerintah adalah untuk pihak yang menginginkan
varietasnya tidak diikuti oleh orang lain demi keperluan perhitungan ekonomi.
Agus Sarjono, pengajar mata kuliah Hukum Ekonomi Universitas Indonesia
mengatakan (hukumonline.com, Jumat 26 Januari 2007), bahwa pada kasus
petani di Jawa Timur, hakim seharusnya menggunakan Undang-Undang Nomor
29 Tahun 2000 yang memberikan tentang hak khusus negara kepada petani
pemulia.
Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang PVT
memaparkan, Varietas tanaman yang selanjutnya disebut varietas adalah
sekelompok tanaman dari suatu jenis atau spesies yang ditandai oleh bentuk
tanaman, pertumbuhan tanaman, daun, bunga, buah, biji dan ekspresi
karakteristik genotype atau kombinasi genotype yang dapat membedakan dari
jenis atau spesies yang sama oleh sekurang-kurangnya satu sifat yang
menentukan dan apabila diperbanyak tidak mengalami perubahan. Melalui pasal
tersebut menjadi jelas bahwa tanaman jagung milik petani Kediri merupakan
varietas baru, karena berbeda dengan tanaman milik PT. BISI dengan mempunyai
ciri-ciri fisik yang berbeda.
Pasal 11 ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 mengungkapkan,
Permohonan hak PVT diajukan kepada kantor PVT secara tertulis dalam bahasa
Indonesia dengan membayar biaya yang besarnya ditetapkan oleh menteri.
Berdasarkan pasal tersebut semua orang atau badan hukum yang akan
mendaftarkan varietas barunya harus mengajukan hak PVT tersebut kepada
kantor PVT secara tertulis.Surat permohonan hak PVT harus memuat: 1. Tanggal,
12

bulan, dan tahun surat permohonan ; 2. Nama, alamat lengkap pemohon ; 3.


Nama, alamat lengkap dan kewarganegaraan pemulia serta nama ahli waris yang
ditunjuk ; 4. Nama varietas ; 5. Deskripsi varietas yang mencakup asal usul atau
istilah, ciri-ciri morfologi dan sifat-sifat penting lainnya ; 6. Gambar dan/ atau foto
yang disebut dalam deskripsi, yang diperlukan untuk memperjelas deskripsinya
(11 ayat 2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000).
Format surat permohonan hak PVT sudah ditentukan oleh kantor PVT,
yang di dalamnya terdapat item-item yang harus diisi sesuai dengan bunyi pasal
di atas. Sedangkan Permohonan hak PVT dapat diajukan oleh : 1. Pemulia; 2.
Orang atau badan hukum yang mempekerjakan pemulia atau yang memesan
varietas dari pemulia ; 3. Ahli waris ; 4. Konsultan PVT (Pasal 12 ayat 2 UndangUndang

Nomor

29

Tahun

2000)

Bersandar Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000, Jangka waktu


PVT : 1. 20 tahun untuk tanaman semusim; 2. 25 tahun untuk tanaman yang
dipanen tahunan.
Korelasi Budidaya Tanaman dan Paten Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 1 ayat (6) menyatakan, sertifikasi
adalah proses pemberian sertifikat benih tanaman setelah melalui pemeriksaan,
pengujian

dan

pengawasan

serta

memenuhi

semua

persyaratan

untuk

diedarkan.Sertifikasi yang dimaksud dalam pasal di atas adalah izin untuk


mengedarkan benih, bahwa benih yang akan diedarkan harus memenuhi standar
mutu yang telah ditetapkan. Tidak menjadi masalah, apakah benih tersebut sudah
dimiliki hak PVTnya oleh orang lain atau belum. Sedangkan hak PVT adalah
sertifikat untuk menguasai benih atau varietas baru agar tidak diikuti oleh orang
lain. Jadi, garis perbedaannya terletak pada fungsinya. Jika dalam UndangUndang Sistem Budidaya Tanaman sertifikasi berfungsi sebagai izin pengedaran
benih, sedangkan dalam Undang-Undang PVT sertifikasi berfungsi sebagai
penguasaan terhadap benih atau varietas baru. Undang-Undang Nomor 12 Tahun
13

1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman Pasal 48 ayat (1) menguraikan,


Perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum sebagaimana dimaksud
dalam pasal 47 ayat (1) yang melakukan usaha sistem budidaya tanaman tertentu
di atas skala tertentu wajib memiiki izin.Pasal di atas menjelaskan bahwa usaha
sistem budidaya tanaman dalam skala tertentu harus memiliki izin. Memang tidak
disebutkan secara eksplisit apa yang menjadi ukuran skala tertentu. Tapi pasal
tersebut mempunyai konsekuensi logis bahwa usaha budidaya tanaman yang
dilakukan oleh petani kecil di Kediri tidak memerlukan izin peredarannya.
Sedangkan mengenai hak PVT, dalam Undang-Undang PVT sendiri tidak
disebutkan bahwa setiap varietas baru harus didaftarkan. Karena sebenarnya
diberikannya perlindungan PVT oleh pemerintah adalah untuk pihak yang
menginginkan varietasnya tidak diikuti oleh orang lain demi keperluan perhitungan
ekonomi.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten memaparkan,
Pasal 1 ayat (1): Paten adalah hak ekslusif diberikan oleh negara kepada
inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi yang untuk selama waktu
tertentu melaksanakan invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya
kepada pihak lain untuk melaksanakannya.Pasal 2: Paten diberikan untuk
invensi yang baru dan mengandung langkah infentif serta dapat diterapkan dalam
industri.Pasal 7 huruf d angka ii: Paten tidak diberikan untuk invensi tentang
proses biologis yang esensial untuk memproduksi tanaman atau hewan, kecuali
proses non biologis ataumikrobiologis.
Inti dari Undang-Undang Paten jelas sekali perbedaannya dengan UndangUndang PVT, karena Undang-Undang Paten hanya diberikan kepada bidang
tekhnologi, kalaupun diberikan kepada tanaman dan hewan hanya pada proses
non-biologis dan mikro biologis. Sedangkan perkembangbiakan yang terjadi pada
jagung yang ditanam oleh para petani jelas merupakan proses biologis. Sehingga
kalau petani Kediri ingin menguasai varietas barunya hanya bisa didaftarkan
14

melalui

permohonan

hak

PVT,

dan

tidak

dapat

diminta

prosedur

permohonanpaten.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan kajian dan analisa-analisa hukum tersebut di atas, pak
Kuncoro bisa dikatakan telah memenuhi unsur sertifikasi liar sebagaimana diatur
dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem budidaya
Tanaman. Tetapi tidak untuk pelanggaran paten dan rahasia dagang. Walaupun
dalam kasus ini Pak Kuncoro hanya dapat dikenakan tindak pidana sertifikasi liar,
tetapi kasus sejenis ini kemungkinan untuk dikenakan tindak pidana lain seperti
paten, rahasia dagang, varietas tanaman dan yang lainnya sangat besar karena
hampir seluruh ketentuan tersebut tidak memberikan perlindungan hukum bagi
para petani.

15

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman


Undang-undang No 29 tahun 2000 tentang perlindungan varietas tanaman
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten
www.hukumonline.com
http://kibar-kediri.blogspot.com/2010/06/kriminalisasi-pak-kunoto-aliaskuncoro.html

16