Anda di halaman 1dari 11

GUGATAN PERKARA PERSAINGAN USAHA

MELALUI PROSEDUR PENEGAKAN ASPEK PERDATA


DI PENGADILAN NEGERI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah : HUKUM PERSAINGAN USAHA DAN ETIKA BISNIS
Dosen : Dr. SULISTYANDARI, S.H., M.Hum.

Disusun Oleh:
DIANA DEWIANI
P2EA14019

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU HUKUM


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015

GUGATAN PERKARA PERSAINGAN USAHA


MELALUI PROSEDUR PENEGAKAN ASPEK PERDATA
DI PENGADILAN NEGERI
I.

PENDAHULUAN
Di dalam sistem hukum Indonesia, regulasi tentang persaingan usaha
dalam berbagai Undang-undang. Regulasi secara komprenhensif dalam satu
undang-undang yang bersifat khusus baru dilakukan

pada tahun 1999 yang

ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 tentang


Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.
Pada prinsipnya di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 telah
ditentukan, bahwa setiap bentuk praktik persaingan usaha tidak sehat adalah
dilarang, kecuali untuk perjanjian, perbuatan dan atau kegiatan sebagaimana
diatur dalam Pasal 50 dan 51 undang-undang itu. Larangan itu antara lain
didasarkan atas pemikiran karena setiap bentuk praktik persaingan usaha tidak
sehat akan dapat menimbulkan akibat terjadinya iklim usaha yang tidak kondusif
dan tidak kompetitif serta dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha yang
lain, sehingga akhirnya akan dapat menimbulkan terjadinya konflik atau bahkan
sengketa tentang tuntutan pembayaran ganti rugi diantara pelaku usaha tertentu
itu sendiri.
Secara teoritis suatu sengketa tentang tuntutan pembayaran ganti rugi
adalah bersifat keperdataan. Oleh karena itu penegakan hukum atas hukum
persaingan usaha yang berkaitan dengan tuntutan pembayaran ganti rugi sebagai
akibat terjadinya praktik persaingan usaha tidak sehat pada hakikatnya merupakan
penegakan aspek perdata dari hukum persaingan usaha.
Suatu sengketa yang bersifat keperdataan, termasuk sengketa tentang
tuntutan pembayaran ganti rugi akibat praktik persaingan usaha tidak sehat,
sepanjang para pihak tidak menentukan mekanismenya penyelesaiannya melalui
Alternative Dispute Resolution (ADR), sementara menurut hukum acara perdata
yang berlaku di Indonesia pada asasnya harus diselesaikan melalui prosedur

litigasi atau gugatan perdata kepada Pengadilan Negeri sebagai badan peradilan
negara tingkat pertama yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara
perdata pada umumnya. Namun demikian sebagaimana dikatakan oleh Fuady
ternyata Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 pada prinsipnya tidak mengatur
mengenai aspek gugatan perdata.1 dalam hal terjadi praktek persaingan usaha
tidak sehat, menurut pasal 38 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 tahun 1999 pihak
lain atau masyarakat yang merasa dirugikan hanya dapat melaporkan secara
tertulis dengan menyebutkan tentang terjadinya pelanggaran serta kerugian yang
ditimbulkannya kepada komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), sebagai
lembaga independen khusus yang berwenang mengawasi pelaksanaan undangundang tersebut. Sedangkan pengadilan negeri

menurut Pasal 44 ayat

(2)

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 ternyata hanya ditempatkan sebagai


lembaga yang berwenang memeriksa dan mengadili keberatan dari pelaku usaha
yang telah dijatuhi putusan berupa tindakan administratif oleh KPPU.
Dalam kedudukannya sebagai lembaga independen khusus yang
berwenang

untuk

mengawasi

pengawasan

pelaksanaan

undang-undang

persaingan usaha, KPPU pada dasarnya merupakan organ penegak aspek


administratif dari hukum persaingan usaha. Namun demikian oleh karena salah
satu tindakan administratif yang dapat dijatuhkan oleh KPPU sebagaimana diatur
dalam pasal 47 ayat (2) huruf f Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 ternyata
berupa sanksi hukum yang bersifat keperdataan berupa penetapan pembayaran
ganti rugi, akibatnya bagi sementara kalangan dunia hukum telah timbul suatu
interpretasi bahwa seolah-olah pembentuk Undang-undang telah pula menetapkan
KPPU dalam kedudukannya sebagai badan peradilan tingkat pertama dalam
penegakan aspek perdata hukum persaingan usaha di Indonesia.
Pada

prinsipnya

sebagai

konsekuensi

dari

interpretasi

tentang

kedudukan KPPU di atas, seharusnya Pengadilan Negeri dalam memeriksa dan


mengadili perkara keberatan dari pelaku usaha tidak akan menempatkan KPPU
sebagai salah satu pihak (tergugat) dalam suatu perkara yang harus di pertahankan
1

Fuady, 1999. Hukum Antimonopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat PT raja Grafindo Persada.
Jakarta. Hal. 126

putusannya di muka persidangan. Namun demikian oleh karena terhadap


interpretasi tersebut tidak terdapat regulasi yang jelas dan tegas di dalam Undangundang Nomor 5 Tahun 1999, akibatnya akan dapat menimbulkan perdebatan di
kalangan dunia hukum maupun perbedaan pandangan di kalangan Hakim
Pengadilan Negeri.
II.

PERUMUSAN MASALAH
Apakah di dalam sistem persaingan usaha Indonesia, para pihak yang
merasa dirugikan dapat mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri tanpa
terlebih dahulu melaporkan secara tertulis tentang adanya praktik persaingan
usaha tersebut kepada KPPU?

III.

PEMBAHASAN
Istilah Persaingan usaha tidak sehat di dalam Pasal 1 angka 6 Undang-

undang Nomor 5 Tahun 1999 diberikan definisi sebagai berikut :


Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam
menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang atau jasa yang
dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat
persaingan usaha.
Dari definisi di atas pada dasarnya dapat disimpulkan, bahwa untuk
terjadinya persaingan usaha tidak sehat menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 paling sedikit harus dipenuhi adanya 3 (tiga) unsur meliputi:
1. Hubungan persaingan usaha antar pelaku usaha.
2. Hubungan persaingan usaha tersebut terjadi dalam rangka menjalankan kegiatan
ekonomi yang berupa produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa.
3. Persaingan usaha itu dilakukan dengan cara tidak jujur, melawan hukum atau
bersifat menghambat persaingan usaha.
Ditinjau dari jenisnya persaingan usaha tidak sehat dalam Undangundang Nomor 5 tahun 1999 pada dasarnya mencakup tindakan persaingan
curang, dan tindakan anti persaingan. Menurut Lampert tindakan persaingan

curang dapat diberikan batasan pengertian sebagai persaingan tidak sehat yang
melanggar moral yang baik2 sedangkan menurut siswanto tindakan
antipersaingan merupakan satu kategori untuk menunjuk jenis-jenis tindakan
yang bersifat menghalangi atau mencegah persaingan.3
Secara substansial menurut Juwana Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 mengatur 3 (tiga) larangan pokok, yaitu (a) Perjanjian yang di larang, (b)
kegiatan yang dilarang dan (c) larangan yang berkaitan dengan posisi dominan. 4
Pada prinsipnya meskipun secara substansial regulasi tentang jenis persaingan
usaha tidak sehat serta berbagai bentuk tindakan yang dilarang dalam Undangundang Nomor 5 tahun 1999 telah memenuhi prinsip undang-undang
antimonopoli yang berlaku secara internasional, akan tetapi apabila hal tersebut
tidak didukung oleh kekuasaan negara dengan sistem penegakan hukum yang
baik tentu tidak akan berarti sama sekali. Oleh karena itu dalam rangka untuk
menjaga agar ketentuan-ketentuan persaingan usahanya ditaati oleh para pelaku
usaha, pada umumnya negara-negara telah melakukan penegakan hukum
persaingan usahanya melalui pendekatan berbagai aspek hukum, baik itu hukum
administratif, hukum pidana maupun hukum perdata.
Ditinjau dari perspektif ekonomi, penegakan aspek perdata sebagai salah
satu pendekatan dalam penegakan hukum persaingan usaha pada umumnya
dipandang sangat penting. Hal ini disebabkan karena sebagaimana dikatakan oleh
Siswanto pendekatan ini memungkinkan seorang pelaku usaha yang melakukan
pelanggaran ketentuan persaingan untuk membayar sejumlah uang kepada pihakpihak yang secara nyata menderita kerugian akibat pelanggaran tersebut.5
Di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 meskipun seperti telah
disinggung di muka persoalan penegakan aspek perdata hukum persaingan usaha
melalui prosedur litigasi tidak diberikan pengaturannya, bukan berarti bagi
2

Lampert. 1997. Tatanan Ekonomi dan sosial di Republik Federal Jerman. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta. Hal. 19-20
3
Siswanto, 2002, Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta, Hal. 31
4
Juwana, 2002. Stuktur dan Materi Undang-undang No. 5 Tahun 1999. Materi kuliah pada Program
Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Hal. 60
5
Siswanto, 2002. Op-cit. Hal. 49

seorang pelaku usaha yang merasa dirugikan sebagai akibat terjadinya praktik
persaingan usaha tidak sehat sama sekali tidak dapat mengajukan tuntutan
pembayaran ganti rugi dengan menggunakan kaidah-kaidah hukum perdata
sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hal ini
disebabkan karena dalam hal terjadi adanya praktik persaingan usaha tidak sehat
pada hakikatnya akan timbul adanya titik-titik pertautan atau titik singgung
antara hukum perdata dengan hukum persaingan usaha, terutama yang berkaitan
dengan masalah pertanggungjawaban atas dasar perbuatan melawan hukum
maupun

atas dasar cidera janji (wanprestasi) dari pelaku usaha yang telah

melakukan praktik persaingan usaha tidak sehat.


Ditinjau dari perspektif konsep perlindungan kepentingan kesamaan
pelaku usaha dalam rangka untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dan
kompetitif, penegakan aspek perdata hukum persaingan usaha melalui prosedur
litigasi dengan menggunakan alas hak perbuatan melawan hukum atau cidera
janji ini secara teoritis dapat dipandang sebagai upaya memperluas penegakan
aspek perdata dalam sistem hukum persaingan usaha di Indonesia. Hal ini
disebabkan karena sebagaimana telah disinggung di muka bahwa di dalam
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 perlindungan hukum terhadap pelaku
usaha untuk mendapatkan kompensasi berupa pembayaran ganti rugi akibat
terjadinya praktik persaingan usaha tidak sehat hanya dapt ditempuh dengan cara
melaporkan tentang terjadinya pelanggaran serta kerugian yang ditimbulkan
kepada komisi pengawas persaingan usaha (KPPU).
Menurut Arif Fakrulloh dan Hidayat secara kelembagaan KPPU
dapat dikategorikan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen.

Oleh

karena itu dalam rangka penegakan hukum persaingan usaha KPPU pada
hakikatnya bukan merupakan lembaga yudisial. Akibatnya dalam hal terjadi
perkara keberatan dari pelaku usaha atas putusan yang telah dijatuhkan oleh
KPPU , termasuk putusan tentang penetapan pembayaran ganti rugi, KPPU harus
bersedia menempatkan dirinya sebagai pihak dalam perkara (tergugat untuk
6

Arif Fakrulloh dan Hidayat, 2003. Kajian kritis Konseptual terhadap Eksistensi KPPU dalam Penegakan Hukum
Antimonopoli. Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22. yayasan Pengembangan Hukum Bisnis. Jakarta. Hal 56

mempertahankan putusan di muka lembaga peradilan, bersedia menyerahkan


putusan dan berkas perkaranya kepada Pengadilan Negeri untuk dilakukan
penilaian tentang prosedur pemeriksaannya, serta harus pula bersedia untuk
menerima pengembalian putusannya guna dilakukan pemeriksaan ulang apabila
dinilai terdapat adanya kesalahan prosedur pemeriksaan.
Menurut Rahardjo yang dimaksud dengan penegakan hukum diartikan
sebagai suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi
kenyataan 7. sedangkan yang dimaksud dengan keinginan-keinginan hukum di
sini diartikan sebagai pikiran-pikiran badan pembuat undang-undang yang
dirumuskan dalam peraturan-peraturan hukum itu.
Di dalam ilmu pengetahuan hukum, suatu penegakan hukum sebenarnya
dapat dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) macam metode pendekatan yaitu
metode pendekatan normatif-dogmatis, yaitu suatu metode pendekatan dalam
penegakan hukum yang berpangkal dari keharusan-keharusan yang tercantum
dalam peraturan hukum dan menerimanya sebagai suatu kenyataan yang benar,
dan metode pendekatan sosiologis, yaitu suatu metode pendekatan dalam
penegakan hukum yang berpangkal dari keinginan untuk mengetahui
sesungguhnya bagaimana bekerjanya hukum dalam masyarakat atau untuk
mengetahui proses-proses yang sesungguhnya terjadi dalam penegakan hukum.8
Secara normatif, penegakan hukum persaingan usaha sebagai suatu
proses penjatuhan sanksi hukum atas terjadinya praktik persaingan usaha tidak
sehat, sebenarnya dapat dilakukan melalui pendekatan berbagai aspek hukum,
baik itu aspek hukum administrasi, hukum pidana maupun hukum perdata,
namun pembahasan terhadap masalah penegakan hukum persaingan usaha disini
hanya mengenai penegakan aspek perdata dalam persaingan usaha, terutama
yang berkaitan dengan persoalan pengajuan gugatan tentang pembayaran ganti
rugi melalui prosedur litigasi sebagai akibat terjadinya praktik persaingan usaha
tidak sehat serta kedudukan KPPU dalam perkara keberatan yang diajukan
7
8

Rahardjo. 1980. Hukum dan masyarakat. Angkasa. Bandung. Hal. 69.


Ibid. Hal. 11.

oleh pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal 44 ayat (2) Undangundang Nomor 5 Tahun 1999.
Di beberapa negara yang telah mempunyai hukum persaingan usaha,
seperti di Perancis dan Jepang, persoalan penegakan aspek perdata hukum
persaingan usaha melalui prosedur litigasi sebagai akibat terjadinya praktik
persaingan usaha tidak sehat secara tegas telah diberikan regulasinya sedangkan
di dalam sistem hukum persaingan usaha Indonesia, regulasi secara tegas seperti
itu sama sekali tidak dijumpai. Sebagaimana dapat dilihat dari ruusan pasal 47
sampai dengan Pasal 49 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, regulasi tentang
penegakan hukum persaingan usaha di Indonesia hanya dilakukan melalui
pendekatan aspek administratif dan aspek pidana. Sedangkan penegakan aspek
perdata hukum persaingan usaha sama sekali tidak ada regulasinya.
Pada prinsipnya meskipun Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tidak
memberikan regulasi tentang penegakan aspek perdata hukum persaingan usaha,
bukan berarti bagi seorang pelaku usaha yang merasa dirugikan sebagai akibat
terjadinya praktik persaingan usaha tidak sehat sama sekali tidak dapat
mengajukan gugatan tentang pembayaran ganti

rugi

dengan menggunakan

kaidah-kaidah hukum perdata. Hal ini disebabkan karena persoalan hukum


persaingan usaha pada dasarnya adalah merupakan persoalan sengketa perdata
atau sebagaimana dikatakan oleh Juwana masalah persaingan usaha sematamata merupakan urusan antar pelaku-pelaku swasta di mana negara tidak turut
campur.9 oleh karena itu apabila di Pengadilan Negeri ada pengajuan gugatan
tentang pembayaran ganti rugi dari seorang pelaku usaha yang merasa dirugikan
sebagai akibat terjadinya praktek persaingan usaha tidak sehat berarti telah
terjadi kekosongan hukum dalam sistem formil dari hukum persaingan usaha,
sehingga di dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut hakim
berkewajiban untuk melakukan konstruksi hukum10 atau pembentukan pengertian
hukum atas dasar kaidah-kaidah hukum perdata terhadap istilah persaingan usaha
9

Juwana. 2002. Op.Cit. Hal. 54.


Ardhiwisastra. 2000.Penafsiran Dan Konstruksi Hukum. Alumni. Bandung. Hal. 12-13.

10

tidak sehat yang menjadi alas hak diajukan gugatan tentang pembayaran ganti
rugi tersebut.
Ditinjau dari perspektif hukum perdata, setiap bentuk praktik persaingan
usaha tidak sehat, baik itu untuk kategori tindakan persaingan curang maupun
tindakan anti persaingan, kesemuannya pada asasnya dapat dikonstruksikan
sebagai perbuatan melawan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 1365
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). Hal ini disebabkan
karena apabila dilihat dari kriteria penilaian sifat melanggar hukum dari suatu
perbuatan, setiap bentuk praktik persaingan usaha tidak sehat, sebagai suatu
tindakan atau perbuatan yang dilarang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999, pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai perbuatan melanggar hak
subyektif orang lain, pelanggaran suatu hak atau perbuatan yang bertentangan
dengan kewajiban hukum si pelaku, bertentangan dengan kewajiban yang
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu apabila
berbagai bentuk praktik persaingan usaha tidak sehat itu telah menimbulkan
adanya kerugian terhadap pelaku usaha yang lain, dimana timbulnya kerugian
tersebut terdapat hubungan sebab akibat yang bersifat adekuat dengan kesalahan
dari pelaku usaha yang telah melakukan praktik persaingan usaha tidak sehat,
maka terhadap pelaku usaha tersebut dapat dipertanggungjawabkan untuk
melakukan pembayaran ganti rugi kepada pelaku usaha lain yang merasa
dirugikan dengan cara pengajuan gugatan melalui prosedur litigasi atas dasar alas
hak perbuatan melawan hukum tersebut.
Disamping dapat dikonstruksikan sebagai perbuatan melawan hukum,
apabila berbagai bentuk praktik persaingan usaha tidak sehat tersebut merupakan
suatu pengingkaran atas suatu perjanjian yang telah dibuat dan disepakati
denngan pelaku usaha yang lain pada dasarnya juga dikonstruksikan sebagai
perbuatan wanprestasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 1239 Kitab Undangundang Hukum Perdata.
Secara teoritis, upaya melakukan kontruksi hukum terhadap berbagai
bentuk praktik persaingan usaha tidak sehat atas dasar kaidah-kaidah hukum

perdata dalam rangka membuka kemungkinan bagi pelaku usaha yang merasa
dirugikan untuk mengajukan gugatan tentang pembayaran ganti rugi tersebut
pada hakikatnya dapat dipandang sebagai suatu proses penemuan hukum
(rechtsvinding)11 dalam rangka penegakan aspek perdata persaingan usaha.
Upaya melakukan konstruksi hukum sebagai suatu proses penemuan hukum
dalam rangka penegakan aspek perdata hukum persaingan usaha ini adalah
sejalan pula dengan asas hukum yang berlaku dalam hukum acara perdata, bahwa
hakim senantiasa dianggap tahu akan hukumnya serta hakim tidak boleh menolak
untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara dengan dalih bahwa hukumnya
tidak ada atau kurang jelas.
IV.

KESIMPULAN
Dalam hal terjadi adanya praktik persaingan usaha tidak sehat, secara
teoritis bagi pelaku usaha yang merasa dirugikan pada asasnya adalah dapat
mengajukan gugatan tentang pembayaran ganti rugi melalui Pengadilan Negeri
atas dasar alas hak perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur dalam pasal
1365

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau wanprestasi sebagaimana

diatur dalam Pasal 1239 Kitab Undang-undang Hukum Perdata tanpa terlebih
dahulu harus melaporkan secara tertulis tentang telah terjadi pelanggaran dan
timbulnya kerugian kepada KPPU sebagai lembaga pemutus tingkat pertama
perkara persaingan usaha, karena secara kelembagaan KPPU hanyalah Lembaga
Pemerintah Non Departemen, sehingga dalam rangka penegakan hukum
persaingan usaha KPPU pada hakikatnya bukan merupakan lembaga yudisial.

DAFTAR PUSTAKA
Ardhiwisastra. 2000.Penafsiran Dan Konstruksi Hukum. Alumni. Bandung.

11

Mertokusummo.1993.Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. Hal. 4.

10

Fakrulloh Arif dan Hidayat, 2003.

Kajian krisis-konseptual terhadap eksistensi

KPPU Dalam Penegakan Hukum Antimonopoli. Jurnaal Hukum Bisnis.


Volume 22-Nomor 2, Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis. Jakarta.
Fuad, 1999. Hukum Antimonopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Juwana, 2002. Stuktur dan Materi Undang-undang No. 5 Tahun 1999. Materi kuliah
pada Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto.
Lampert. 1997. Tatanan Ekonomi dan sosial di Republik Federal Jerman. PT. Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Mertokusummo.1993.Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum.PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Rahardjo. 1980. Hukum dan Masyarakat. Angkasa. Bandung.
Siswanto, 2002, Hukum Persaingan Usaha. Ghalia Indonesia. Jakarta..

11