Anda di halaman 1dari 14

ASURANSI BENDA JAMINAN PADA PERJANJIAN

KREDIT PEMILIKAN RUMAH DI P.T. BANK TABUNGAN NEGARA


(PERSERO)

I.

PENDAHULUAN
Sejalan dengan banyaknya penduduk, kebutuhan akan perumahan semakin

besar, salah satu upaya pemerintah untuk memudahkan masyarakat memiliki atau
mendapatkan rumah atau tempat tinggal yang layak adalah dengan memberikan
kesempatan kepada beberapa bank nasional, antara lain Bank Tabungan Negara
(BTN), untuk menyediakan kredit pemilikan rumah dan menyalurkannya kepada
pihak yang membutuhkan.
Hak jaminan yang dipunyai oleh bank merupakan suatu upaya agar bank tidak
menanggung resiko kerugian atas pemberian kredit kepada nasabah, yang mana
kerugian tersebut diakibatkan oleh debitur melakukan wanprestasi atau tidak
memenuhi kewajiban-kewajibannya sebagai debitur sebagaimana telah ditentukan
di dalam perjanjian kredit yang telah dibuat berdasarkan kesepakatan bersama. Oleh
karena itu untuk mengurangi resiko tersebut maka dalam perjanjian KPR BTN
Pihak Bank selaku kreditur dan penerima hak jaminan meminta kepada debitur agar
benda yang dijadikan jaminan, yaitu tanah dan rumah yang dibeli oleh debitur
secara kredit, diasuransikan.
Wirjono Prodjodikoro merumuskan asuransi pada umumnya sebagai suatu
persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin untuk
menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian yang mungkin akan
diderita oleh yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas akan
terjadi.1
Sebagai suatu persetujuan maka dalam perjanjian asuransi terdapat dua pihak,
yaitu pihak penanggung dan pihak tertanggung. Menurut Abdulkadir Muhammad,
1

Wirjono Pradjodokoro, 1991, Hukum Asuransi di Indonesia, Intermasa, Jakarta. Hal.1

tertanggung yang mempertanggungkan obyek, harus mempunyai hubungan


langsung atau tidak langsung dengan obyek asuransi itu. Dikatakan ada hubungan
langsung jika tertanggung memiliki sendiri benda, jiwa, raga yang menjadi obyek
asuransi.2
PT (Persero) Bank tabungan Negara (BTN) sebagai salah satu bank umum
milik pemerintah salah satu usahanya adalah menyediakan Kredit Pemilikan Rumah
(KPR). Untuk mengamankan kreditnya tersebut, bank meminta kepada calon
penerima kredit untuk mengikatkan suatu jaminan tertentu sebagai upaya untuk
memberikan keyakinan bahwa kreditnya akan kembali dengan selamat. Dalam
ketentuan dan syarat-syarat umum perjanjian KPR-BTN, terdapat ketentuan yang
mengharuskan debitur untuk mengasuransikan jaminan kreditnya, terutama jaminan
pokoknya, yaitu rumah dan tanah yang dibeli secara kredit untuk memberikan
pengamanan bagi pengembalian kredit bank, terutama apabila terjadi kerugian atas
benda jaminan.
Apabila pihak debitur yang harus menutup perjanjian asuransinya, maka
dalam hal ini pokok pertanggungannya (kepentingan) melekat pada benda
pertanggungannya (yaitu rumah dan tanah), dengan kata lain antara benda
pertanggungan dan pokok pertanggungannya berada dalam satu tangan, yaitu pihak
debitur. Hal ini sesuai dengan pendapat Emmy Pangaribuan Simanjuntak yang
mengatakan bahwa pada perjanjian asuransi yang diadakan oleh seorang pemiliknya
sendiri, maka benda pertanggungan itu jatuh bersamaan dengan pokok
pertanggungannya.3

II.

PERUMUSAN MASALAH

Abdulkadir Muhammad, 1994, Pengantar Hukum Pertanggungan, Citra Aditya, Cetakan Pertamana,
Jakarta. Hal. 37.
3
Emmy Pangaribuan Simanjuntak, 1990, Hukum Pertanggungan (pokok-pokok Pertanggungan
Kerugian, Kebakaran, dan Jiwa). Cetakan kesepuluh, Seksi Hukum Dagang FH. UGM. Hal. 45.

Bagaimanakah kedudukan pemegang hak jaminan Bank Tabungan Negara


terhadap tuntutan ganti rugi apabila terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian
terhadap benda jaminan yang diasuransikan ?
III.

PEMBAHASAN
Di dalam KUHD, pengertian mengenai asuransi terdapat dalam Pasal 246

yang mengatakan bahwa :


Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dimana penanggung
dengan menikmati suatu premi mengikatkan dirinya terhadap tertanggung untuk
membebaskannya dari kerugian karena kehilanggan, kerusakan atau ketiadaan
keuntungan yang diharapkan yang akan diderita olehnya karena suatu kejadian
yang tidak pasti.
Sedangkan menutut ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang-undang Nomor 40
Tahun 2014 tentang Perasuransian, disebutkan mengenai definisi asuransi adalah
sebagai berikut :
Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan
pemegang polis, yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan
asuransi sebagai imbalan untuk:
a. memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena
kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita
tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak
pasti; atau
b. memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung
atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat
yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan
dana.
Purwosutjipto memberikan defini asuransi/pertanggungan sebagai berikut :
Pertanggungan adalah perjanjian timbal balik antara penangung dengan
penutup pertanggungan dimana penanggung mengikatkan diri untuk
mengganti kerugian dan atau membayar sejumlah uang (santunan) yang
ditetapkan pada waktu penutupan perjanjian kepada penutup pertanggungan

atau orang lain yang ditunjuk, pada waktu terjadinya evenemen, sedangkan
penutup pertanggungan mengikatkan diri untuk membayar uang premi.4
Purwosutjpto mengatakan bahwa dari rumusan Pasal 246 KUHD kita dapat
menyimpulkan adanya tiga unsur mutlak yaitu :
1. adanya kepentingan sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang.
2. Adanya peristiwa tidak tentu,
3. Adanya kerugian.
Salah satu bentuk asuransi yang terdapat dalam praktek adalah asuransi
kerugian. Abdulkadir Muhammad mengatakan bahwa asuransi kerugian adalah
asuransi yang bertujuan untuk mengganti kerugian tertentu apabila terjadi peristiwa
yang menimbulkan kerugian bagi harta tertanggung. Asuransi kerugian ini terletak
dalam lapangan/bidang harta kekayaan dan selalu dapat dinilai dengan uang.5
Untuk mengadakan suatu perjanjian asuransi haruslah sekurang-kurangnya
terdapat dua pihak, yaitu penangung dan tertanggung. Namun demikian dalam
prakteknya tidak selalu pihak tertanggung secara langsung berhubungan dengan
penangung tetapi ia munngkin juga berhubungan melalui seorang pengantar, dimana
pengantar ini dapat diadakan oleh seorang makelar atau pialang.
Pasal 260 KUHD menetapkan :
Bilamana pertanggungan diadakan dengan peraturan seorang makelar dalam
asuransi, maka polis yang sudah ditanda tangani harus diserahkan dalam
waktu delapan hari setelah pembuatan perjanjian.
Dalam Pasal 1 angka 11 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2014 memberikan
definisi mengenai Perusahaan Pialang Asuransi sebagai berikut :
Usaha Pialang Asuransi adalah usaha jasa konsultasi dan/atau keperantaraan
dalam penutupan asuransi atau asuransi syariah serta penanganan
penyelesaian klaimnya dengan bertindak untuk dan atas nama pemegang
polis, tertanggung, atau peserta.

Purwosutjipto, H.M.N, 1986, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djembatan. Indonesia.
10.
5
Abdulkadir Muhammad, 1994, Pengantar Hukum Pertanggungan, Citra Aditya, jakarta. Hal. 23.

Menurut ketentuan Pasal 31 angka (1) dan angka (2) Undang-undang Nomor
40 Tahun 2014 , Perusahaan Pialang Asuransi wajib menerapkan segenap keahlian,
perhatian, dan kecermatan dalam melayani atau bertransaksi dengan Pemegang Polis,
Tertanggung, atau Peserta, dan wajib memberikan informasi yang benar, tidak palsu,
dan/atau tidak menyesatkan kepada Pemegang Polis, Tertanggung, atau Peserta
mengenai risiko, manfaat, kewajiban dan pembebanan biaya terkait dengan produk
asuransi atau produk asuransi syariah yang ditawarkan
Dalam praktek makelar asuransi atau broker merupakan kuasa langsung dari
tertanggung broker ini adalah perantara yang berdiri sendiri. Dia tidak ada hubungan
tetap dengan satu atau beberapa perusahaan asuransi tertentu. Dia hanya
melaksanakan amanat pemberi kuasa.6
Makelar atau broker sebagai pihak pengantar bertujuan menghubungi
penanggung guna mengadakan pertanggungan untuk kepentingan tertanggung7
Jika pasal 260 KUHD, Pasal 1 angka 11 dan Pasal 31 angka (1) dan angka (2)
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2014 serta pendapat Purwosutjipto dan Abdulkadir
Muhammad keberadaan makelar atau broker asuransi dalam asuransi agunan fasilitas
kredit Perumahan Bank Tabungan Negara adalah sudah sesuai, dimana dalam
asuransi agunan fasilitas Kredit Perumahan Bank Tabungan Negara Pihak yang
bertugas sebagai perantara asuransi yang berkedudukan sebagai makelar atau broker
yang melakukan kegiatan teknis pengurusan asuransi kebakaran agunan fasilitas
Kredit Perumahan Bank tabungan Negera untuk kepentingan PT. BTN (Persero).
Dalam perjanjian asuransi perjanjian asuransi, penetuan mengenai saat mulai
dan berakhirnya bahaya bagi tanggungan penanggung adalah hal yang sangat penting
ketentuan Pasal 257 ayat (1) KUHD menyebutkan :
Perjanjian pertanggungan ada segera setelah diadakan hak-hak dan
kewajiban-kewajiban timbal balik dari penanggung dan tertanggung mulai
sejak saat itu, bahkan sebelum polis ditandatangani.

6
7

Purwosutjipto, Op-Cit. Hal, 27


Abdulkadir Muhammad, Op-cit, hal. 40

Munurut Purwosutjipto, saat mulai dan berakhirnya bahaya bagi tanggungan


penanggung biasanya ditentukan bersamaan dengan mmulai berlakunya atau
berakhirnya perjanjian asuransi, kecuali kalau ditentukan lain oleh undang-undang.
Jika Pasal 257 ayat (1) KUHD dan pendapat Purwosutjipto tentang jangka
waktu berlakunya asuransi, maka dapat dideskripsikan bahwa ketentuan mengenai
mulai berlakunya asuransi agunan fasilitas kredit Perumahan BTN adalah sesuai,
dimana ditentukan bahwa asuransi agunan fasilitas kredit perumahan berlaku
terhitung mulai akad kredit, dan berakhirnya setelah jangka waktu kredit berakhir dan
atau setelah kredit lunas, mana saja yang lebih dahulu.
Sejak perjanjian tersebut ditutup penting bagi penanggung untuk mengetahui
berapa jumlah uang maksimum, dengan mana dia harus melaksanakan prestasinya,
jumlah uang maksimum tersebut dikenal dengan nama jumlah pertanggungan yaitu
jumlah maksimum uang sebagai batasan tertinggi dari kewajiban penanggung yaitu
jumlah maksimum uang sebagai batasan tertinggi dari kewajiban penanggung untuk
mengganti kerugian kepada tertanggung. Jumlah uang maksimum uang sebagai
batasan tertinggi dari kewajiban penanggung untuk mengganti kerugian kepada
tertanggung. Kalau kepentingan itu jatuh bersama dengan benda pertanggungan maka
nilai penuh kepentingan tertanggung samadengan nilai benda pertanggungan.8
Pasal 253 ayat (1) dan (2) KUHD yang mengatur mengenai harga
pertanggungan menentukan bahwa :
Pertanggungan yang melebihi harga atau kepentingan yang sesungguhnya
hanya sah untuk sejumlah harganya.
Bilamana tidak dipertanggungkan seluruh harga benda, maka dalam hal
terjadi kerugian, peneggung hanya terikat seimbang dengan bagian yang
dipertanggungkan terhadap bagian yang tidak dapat dipertanggungkan.
Menurut Emmy Pangaribuan Simanjuntak, disamping berfungsi sebagai
jumlah maksimum dari ganti kerugian, jumlah yang dipertanggungkan tersebut dapat
juga berfungsi sebagai dasar perhitungan dalam hal ada kerugian sebagaian dalam
pertanggungan
8

di

bawah

nilai

benda.

Emmy Pangaribuan Simanjuntak, Op-Cit. Hal. 43

Apabila

tertanggung

hendak

mempertanggungkan kepentingan itu secara penuh, maka haruslah jumlah yang


dipertanggungkan itu sama nilainya dengan benda yang dipertanggungkan sejauh itu
dapat dipertanggungkan. Tetapi sering pula bahwa yang dipertanggungkan itu
tidaklah nilai penuh, akan tetapi hanya sebagian saja, akan tetapi hanya sebagian saja,
sehingga tertanggung memikul resiko untuk bagian yang tidak dipertanggungkan itu,
dan tentunya berakibat bahwa jumlah yang dipertanggungkan itu akan menjadi lebih
kecil dari nilai benda sesungguhnya.9
Jika Pasal 253 ayat 1 dan 2 KUHD dan pendapat Emmy Pangaribuan
Simanjuntak tersebut dikaitkan dengan masalah harga pertanggungan dapat
dideskripsikan bahwa ketentuan mengenai harga pertanggungan dalam asuransi
agunan Kredit Perumahan Bank Tabungan Negara adalah sudah sesuai, dimana
terdapat dua kemungkinan dalam menetapkan harga pertanggungan yaitu :
a.

Beradarkan harga fisik dari bangunan fasilitas kredit perumahan BTN dan
merupakan jumlah maksimum penggantian kerugian/tuntutan klaim jika terjadi
evenemen, atau.

b.

Sebesar nilai kredit yang disetujui, dalam hal ini jika terjadi kerugian akibat
kebakaran, maka perhitungan ganti rugi berlaku perhitungan prorata sebanding
antara nilai bangunan sebenarnya dengan harga pertanggungan yang
dimintakan.
Pasal 247 KUHD menyebutkan bahwa pertanggungan-pertanggungan antara

lain dapat mengenai pokok bahaya-bahaya kebakaran, dan seterusnya.


Dipandang dari sudut benda pertanggungan, asuransi kebakaran dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu asuransi kebakaran terhadap :
a. Gedung atau bangunan
b. Barang yang ada didalamnya
c. Gedung atau bangunan atau barang dagangan yang ada di dekatnya.
Asuransi kebakaran juga dapat dibedakan dari sudut penyebabnya, yaitu :
a. petir, api sendiri, kurang hati-hati, kecelakaan dan lain-lain.
9

Ibid. hal 43.

b. Kesalahan atau itikad jahat dari pelayanan sendiri, tetangga, musuh, perampok
dan lain-lain.
c. Sebab-sebab lain dengan nama apa saja, dengan cara bagaimanapun kebakaran itu
telah terjadi, disengaja ataupun tidak, biasa ataupun luar biasa, dengan tiada
kecualinya.10
Pendapat Purwosutjipto tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 290 KUHD yang
mengatur mengenai kebakaran yang menetapkan bahwa :
Menjadi tanggungan penanggung adalah semua kerugian dan kerusakan yang
menimpa benda-benda yang dipertanggungkan karena kebakaran yang
disebabkan oleh petir atau aral lainnya, api sendiri, tetangga, musuh, perampok
dan apaun lain-lainnya, dengan jalan bagaimanapun kebakaran dapat terjadi,
direncanakan atau tidak direncanakan, biasa atau tidak biasa tidak ada yang
dikecualikan.
Jika Pasal 247 dan Pasal 290 KUHD serta pendapat Purwosutjipto tersebut
dikaitkan dengan risiko yang dipertanggungkan, dapat dideskripsikan bahwa resiko
yang dipertanggungkan dalam asuransi agunan fasilitas kredit perumahan BTN
adalah sudah sesuai yaitu resiko terjadinya bahaya kebakaran (dengan perluasanya),
terhadap agunan fasilitas kredit Perumahan BTN.
Polis sebagai suatu akta yang formalitasnya diatur dalam undang-undang
mepunyai arti yang sangat penting pada perjanjian asuransi baik pada tahap awal,
selama perjanjian berlaku dan dalam masa pelaksanaan perjanjian.
Menurut Pasal 255 KUHD, asuransi harus diadakan dengan sepucuk akta yang
bernama polis. Ketentuan tersebut adalah memberikan gambaran bahwa perjanjian
asuransi baru berlaku sah kalau terjadinya adalah dengan polis. Dengan kata lain polis
merupakan suatu syarat untuk sahnya perjanjian asuransi. Gambaran tersebut akan
menjadi hilang jika kita melihat ketentuan Pasal 257 ayat (1) KUHD yang
menyebutkan :

10

H.M.N. Purwosutjipto, Op-Cit. Hal 198.

perjanjian pertanggungan ada segera setelah diadakan, hak-hak dan kewajiban


kewajiban timbal balik dari penanggung dan tertanggung, hak dan kewajiban
timbal balik sejak saat itu, bahkan sebelum polis ditanda tangani.11
Pasal 258 (1) KUHD menyebutkan bahwa :
Untuk membuktikan diadakannya perjanjian itu diharuskan pembuktian
dengan surat, akan tetapi semmua upaya pembuktian akan diperkenankan
bilamana ada pembuktian dengan surat.
Polis mempunyai arti penting bagi tertanggung, sebab polis itu merupakan
bukti yang sempurna tentang apa yang diperjanjikan oleh para pihak. Jadi bagi
tertanggung polis itu mempunyai nilai yang sangat menentukan bagi pembuktian
haknya. Tanpa adanya polis, pembuktian akan menjadi sulit dan terbatas .12
Dalam praktek, pernyataan kehendak dari pihak tertanggung dapat ditandai
dengan pengisisn pernyataan maksud akan menutup perjanjian asuransi (biasanya
dalam formulir yang sudah disediakan oleh penanggung).disamping itu biasanya
perusahaan asuransi masing-masing juga mengeluarkan polisnya sendiri. Dalam polis
tersebut pada umumnya memuat segala sesuatu tentang syarat-syarat perjanjian
asuransi yang bersangkutan.
Pasal

256 ayat (1) KUHD menentukan mengenai hal-hal yang perlu

ditegaskan di dalam polis, yaitu bahwa :


Semua polis, kecuali yang mengenai pertanggungan jiwa harus menegaskan :
1. Hari pada mana diadakan pertanggungan,
2. Nama Orang yang mengadakan pertanggungan untuk tanggungan sendiri
atau untuk seorang ketiga,
3. Suatu

perummusan

yang

cukup

jelas

mengenai

benda

dipertanggungkan,
4. Jumlah untuk mana dipertanggungkan,
5. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh penanggung,
11

Abdul Kadir Muhammad, Op-Cit, hal. 24.


Sri Rejeki Hartono, 1992, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Sinar Grafika, cetakan
Pertama, Jakarta. Hal. 125.
12

yang

6. Waktu dimana bahaya mulai berjalan dan berakhir untuk tanggungan


penanggung.
7. Premi pertanggungan dan
8. Pada umumnya semua keadaan yang pengetahuannya dapat merupakan
kepentingan sungguh dari penaggung dan semua janji-janji yang diadakan
di antara pihak-pihak.
Menurut Djoko Prakoso, penutupan asuransi merupakan suatu persetujuan
yang

bersifat konsensual, yaitu sudah dianggap terbentuk dengan adanya kata

sepakat antara kedua belah pihak. Dalam persetujuan tersebut para pihak dapat
menyepakati adanya ketentuan-ketentuan tambahan yang dicantumkan dalam polis
asalkan hal tersebut tidak bertentangan dengan kesusilaan, ketertiban umum dan
undang-undang.13
Berdasarkan ketentuan Pasal 256, Pasal 257 ayat (1) dan pasal 258 ayat (1)
dan Pasal 287 KUHD pendapat Abdulkadir Muhammad, Sri Rejeki Hartono dan
Djoko Prakoso dapat disimpulkan bahwa ketentuan mengenai polis asuransi agunan
fasilitas kredit perumahan BTN telah ditutup asuransinya atas resiko kebakaran dan
atau diperluas dengan resiko tambahan sesuai dengan yang tercantum dalam polis,
dimana untuk penutupan asuransi agunan fasilitas Kredit Perumahan BTN tersebut
digunakan polis induk dan sertifikat asuransi kebakaran, dan hal-hal yang disebutkan
dalam Sertifikat Asuransi Kebakaran tersebut sudah sesuai dengan ketentuan Pasal
256 dan pasal 287 KUHD.
Penutupan Asuransi agunan fasilitas kredit perumahan BTN, merupakan
konsekuansi dari adanya perjanjian Kredit pemilikan Rumah BTN, dimana bank
selaku kreditur mewajibkan dibiturnya untuk mengasuransikan benda yang dijadikan
agunan atau jaminan kredit.
Menurut Muhammad Djumhana cara dan syarat-syarat pertanggungan untuk
tiap-tiap jenis barang jaminan harus mengikuti ketentuan-ketentuan khusus, antara
13

Djoko Prakoso, dan I Ketut Murtika, 1992, Hukum Asuransi di Indonesia, Rineka cipta, Jakarta.
Hal. 32.

10

lain asuransi kebakaran, asuransi gempa bummi, asuransi kendaraan bermotor,


asuransi pengangkutan dan lain-lain.
Pada asuransi kebakaran mengenai hak milik yang berupa gedung tertanggung
dapat minta diperjanjikan :
a. Kerugian yang timbul pada gedung itu supaya diganti,
b. Gedung itu supaya dibangun kembali,
c. Gedung itu supaya diperbaiki. 14
Pendapat Purwosutjipto tersebut sesusi dengan ketentuan yang terdapat di
dalam Pasal 288 ayat 1 KUHD, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Pada pertanggungan dari milik-milik yang dibangun diperjanjikan bahwa
akan diganti kerugian yang menimpa persil, atau bahwa milik itu akan
dibangun kembali atau diperbaiki ppaling banyak sebesar yang
dipertanggungkan.
Sedangkan di dalam Pasal 289 KUHD disebutkan bahwa :
Pertanggungan dapat diadakan untuk jumlah penuh dari benda-benda yang
dipertanggungkan.
Dalam hal diadakan janji untuk membangun kembali, maka oleh tertanggung
diperjanjikan bahwa biaya-biaya yang diperlukan untuk pembangunan kembali akan
diganti oleh penanggung.
Berdasarkan ketentuan Pasal 288 ayat 1, pasal 289 KUHD dan pendapat
Purwosutjipto, jika dihubungkan dengan penggunaan uang ganti dalam asurasi
agunan fasilitas kredit perumahan BTN adalah sesui, yaitu bahwa dalam hal terjadi
kerugian, maka berdasarkan perjanjian uang ganti rugi akan digunakan untuk
membangun kembali atau memperbaiki rumah jaminan kredit.
Dengan demikian bilamana bangunan itu terbakar, lenyaplah tanggungan itu.
Sedangkan jika bangunan itu diasuransikan, uang asuransi akan dibayarkan terhadap
orang yang mempunyai hutang (debitur), yang bebas untuk mempergunakan uang itu
menurut apa yang mereka inginkan.15
14
15

H.M.N. Purwosutjipto, Op-Cit hal. 112.


Djoko Prakoso, Op-Cit. Hal 206

11

Pasal 297 KUHD memberikan kemungkinan disepakati perjanjian tertentu


secara tersendiri antara debitur dengan kreditur berkaitan dengan masalah bangunan
yang dibebani hipotik atau hak tanggunngan itu yang diasuransikan.
Dalam Pasal tersebut ditegaskan bahwa :
Bilamana dengan hipotik antara penghutang dan penagihnya diperjanjikan,
bahwa dalam hal terjadi kerugian pada persil berhipotik yang
dipertanggungkan atau yang harus dipertanggungkan, uang-uang asuransi
sebesar jumlah piutang dan bunga-bunga yang masih terhutang akan jadi
pengganti hipotik, maka penanggung, kepada siapa janji itu diberikan dengan
resmi, berkewajiban memperhitungkan kerugian yang terhutang itu dengan
penagih yang dijamin dengan hipotik.
Berdasarkan Pasal 297 KUHD tersebut, jelaslah bagi kita bahwa kedudukan
pemegang hipotik atau hak tanggungan, yaitu kreditur, atas penggantian kerugian di
dalam suatu perjanjian asuransi secara otomatis didahulukan, tetapi harus
diperjanjikan terlebih dahulu anatara kreditur dengan debitur, dan janji tersebut
haruslah diberitahukan secara resmi kepada penanggung supaya penanggung
berkewajiban memperhitungkan ganti rugi yang terhutang itu dengan kreditur yang
dijamin dengan hipotik.16
Selanjutnya Pasal 298 KUHD membutuhkan bahwa :
Janji yang disebutkan dalam pasal di muka tidak mempunyai akibat kecuali
bilamana dan sekedar penagih yang dijamin dengan hipotik akan ditentukan
beruntung bilamana kerugian itu tidak terjadi.
Maksud dari ketentuan tersebut adalah bahwa penagih hutang (kreditur) atau
pemegang Hak Tanggungan (hipotik tidak diperkenenkan mempunyai tujuan untuk
lebih menguntungkan diri sendiri dengan janji itu, dibandingkan dengan keadaan
seandainya kebakaran tidak terjadi atas bangunan yang dibebani dengan hak
tanggungan (hipotik) dan yang sedang dipertanggungkan itu. 17
Berdasarkan pasal 297 dan Pasal 298 KUHD serta pendapat Emmy
Pangaribuan Simanjuntak, jika dihubungkan dengan pembayaran hak klaim, maka
16
17

Emmy Pangaribuan, Op-Cit, Hal. 86.


Ibid. Hal. 81.

12

dapat disimpulkan bahwa pembayaran atas klaim ganti kerugian dalam asuransi
agunan fasilitas Kredit Perumahan BTN adalah sudah sesuai, dimana jika terjadi
kerugian atas banguanan yang diasuransikan, maka berdasarkan Perjanjian Kredit
Pemilikan Rumah, ditentukan bahwa hasil klaim akan digunakan untuk memperbaiki
atau membangun kembali benda jaminan yang dipertanggungkan, dalam hal ini uang
ganti rugi yang telah diterima oleh bank dari pihak penanggung kemudian diserahkan
kepada debitur untuk memperbaiki atau membangun kembali rumah jaminan kredit.
IV.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa apabila terjadi peristiwa

tidak tentu yang menimbulkan kerugian terhadap benda jaminan yang diasuransikan
dan kemudian dan kemudian dibayarkan hak klaimnya, maka terhadap uang ganti
kerugian yang diterima dari penanggung sebagai pemegang hak jaminan fasilitas
kredit perumahan BTN, dan juga sebagai tertanggung berhak menerima ganti rugi.
Tetapi berdasarkan perjanjian antara debitur dan kreditur, maka kemudian pihak
kreditur daklam hal ini PT. BTN )persero) menyerahkan uang ganti kerugian tersebut
kepada debitur yang selanjutnya akan digunakan untuk memperbaiki atau
membangun kembali rumah jaminan kredit. Hal ini sesui dengan Pasal 6 ayat 8
ketentuan dan syarat-syarat umum perjanjian kredit pemilikan rumah Bank Tabungan
Negara (BTN).

DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Sri Rejeki, 1992, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi. Sinar Grafika,
cetakan Pertama, Jakarta.
Muhammad Abdulkadir, 1994, Pengantar Hukum Pertanggungan, Citra Aditya,

13

Cetakan Pertamana, Jakarta.


Prakoso, Djoko, dan I Ketut Murtika, 1992, Hukum Asuransi di Indonesia, Rineka
cipta, Jakarta.
Pradjodokoro Wirjono, 1991, Hukum Asuransi di Indonesia, Intermasa, Jakarta.
Purwosutjipto, H.M.N, 1986, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia,
Djembatan. Indonesia.
Simanjuntak, Emmy Pangaribuan, 1990, Hukum Pertanggungan (Pokok-pokok
Pertanggungan Kerugian, Kebakaran dan Jiwa),Cetakan Kesepuluh, Seksi
Hukum Dagang FHUGM.

14