Anda di halaman 1dari 29

PROPOSAL

PRARANCANGAN PABRIK HEXAMETYLENETETRAMINE


(HEXAMINE) DARI FORMALDEHYDE DAN AMONIA
DENGAN PROSES MESSERINER KAPASITAS 25.000
TON/TAHUN

Disusun Oleh:
DAYU PERMATASARI HARYONO PUTRI (2012430004)
DEPPI PUJI LESTARI

(2012430005)

FAKULTAS TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri kimia merupakan salah satu sektor industri yang sedang dikembangkan di
Indonesia. Alasan pengembangan industri kimia ialah adanya peningkatan kebutuhan
dalam negeri akan berbagai bahan penunjang dalam industri. Untuk itu perlu adanya
pendirian pabrik-pabrik baru yang bukan hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri juga
berorientasi ekspor. Salah satunya ialah pabrik Hexamethylenetetramine (HMTA) atau
sering disebut sebagai hexamine, selama ini Indonesia masih mengimpor hexamine
untuk memenuhi kebutuha dalam negeri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pendirian pabrik hexamine dengan bahan baku
formaldehid dan amonia akan dapat memberikan solusi bagi dunia industri kimia di
Indonesia. Dengan adanya pabrik hexamine maka kebutuhan untuk industri salah bahan
peledak hexamine banyak digunakan dalam bidang kedokteran (bahan baku antiseptik),
industri resin (curing agent), industri karet (accelerator yaitu agar karet menjadi elastis),
industri tekstil (shrink-proofing agent dan untuk memperindah warna), industri serat
selulosa (menambah elastisitas), dan pada industri buah digunakan sebagai pestisida
pada tanaman jeruk untuk menjaga tanaman dari serangan jamur. (Kent, 1974).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Kementerian
Perindustrian Republik Indonesi kebutuhan hexamine di Indonesia rata rata
pertahunnya sebesar 28.166 ton sedangkan Indonesia sampai saat ini baru memiliki 1
pabrik hexamine dengan total kapasitas produksi sebesar 8.000 ton/tahun. Melihat data
tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan melebihi kemampuan produksi pabrik
hexamine sehingga setiap tahunnya Indonesia terus mengalami kekurangan sehingga
harus impor dari negara lain. Oleh karena itu, perlu didirikan pabrik hexamine baru,
untuk memenuhi kebutuhan hexamine didalam negeri.

Melihat prospek yang cukup bagus maka direncanakan didirikan pabrik hexamine
yang merupakan komoditi yang perlu dipertimbangkan pembuatannya di Indonesia,
terutama dengan makin ketatnya persaingan dalam dunia industri.
Jika hexamine bisa diproduksi di dalam negeri, hal ini tentunya akan mengurangi
ketergantungan kita pada produk luar, menghemat pengeluaran devisa negara,
meningkatkan ekspor dan membangkitkan penguasaan teknologi.
1.2 Maksud dan Tujuan Prarancangan Pabrik
Maksud dan tujuan pendirian pabrik Hexamine ini adalah untuk memenuhi
kebutuhan hexamine nasional baik untuk industri kimia maupun industri lainnya. Selain
itu, pendirian pabrik hexamine memiliki arti penting dari berbagai segi, antara lain:
1) Memanfaatkan potensi dalam negeri, mengingat bahan baku hexamine yaitu
formaldehid dan amonia yang di produksi di Indonesia.
2) Mengurangi impor hexamine dan memenuhi kebutuhan hexamine di dalam negeri
3) Meningkatkan pendapatan negara dalam ekspor hexamine
4) Mengurangi angka pengangguran dengan membuka lapangan pekerjaan
5) Meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar pabrik
6) Mengaplikasikan ilmu teknik kimia khususnya bidang perancangan, analisa proses,
dan operasi teknik kimia sehingga memberikan gambaran kelayakan perancanagan
pabrik pembuatan formaldehida.

1.3 Analisa Pasar dan Prarancangan Kapasitas Produksi


Dalam menentukan kapasitas produksi yang menguntungkan, digunakan beberapa
pertimbangan, yaitu:
1.3.1 Analisa Pasar
Tabel 1.1 Kebutuhan Hexamine di Indonesia
Produksi

Tahun
2008

Dalam Negeri
8.000

2009

Kebutuhan

Import
23.241

Total
31.241

8.000

15.825

23.825

2010

8.000

16.828

24.828

2011

8.000

18.577

26.577

2012

8.000

21.441

29.441

2013

8.000

25.089

33.089

Jumlah

169.001
(Badan Pusat Statistik, 2014)

Dari tabel 1.1 dapat disimpulkan bahwa, kebutuhan hexamine yang terus
meningkat maka untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka didirikanlah
pabrik ini. Meningkatnya kebutuhan hexamine pada tahun-tahun mendatang
diprediksikan belum bisa terpenuhi oleh industri dalam negeri.
1.3.2 Perencanaan Kapasitas Produksi
Tabel 1.2 Data untuk perhitungan proyeksi kebutuhan hexamine di Indonesia
Tahun

x2

y2

Xy

2008

31.241

976.000.081

31.241

2009

23.825

567.630.625

47.650

2010

24.828

616.131.684

74.466

2011

26.577

16

706.336.929

106.308

2012

29.441

25

866.772.481

147.205

Tahun

x2

y2

Xy

2013

33.089

36

1.094.881.921

198.534

Jumlah

21

168.995

91

4.827.753.721

605.404

Produksi industri yang akan didirikan dapat ditentukan dengan menganalisa


kebutuhan hexamine beberapa tahun mendatang. Berdasarkan tabel 1.3 maka kebutuhan
hexamine beberapa tahun mendatang dapat di prediksi. Besar kebutuhan hexamine
mendatang dapat diketahui dengan menggunakan metode Least Square
y = a + b (x-x ).1)

(Mill

er, 2010)
Dimana:
y = kebutuhan hexamine
a = axis intersept
b = slope or regesium live
x = periode (tahun)
x = periode (tahun)
y = rata-rata proyeksi hexamine
n = jumlah periode yang diobservasi

Dari data perhitungan di atas maka didapat harga :


x = 21/6 = 3,5
y = 168.995/6 = 28.165

605.404 b=
91=

21 x 168.995
6

212
6

13.921,5
17,5

= 795,514
a = 28.165
Dari perhitungan persamaan di atas diperoleh persamaan:
y = 28.165+ 795,514 (x - 3,5)
y = 795,514x + 25.380,701
Sehingga proyeksi konsumsi hexamine di Indonesia mendatang dapat diketahui
dengan perhitungan sebagai berikut:

Contoh perhitungan konsumsi hexamine tahun 2014


x= 7
maka,
y = (795,514 x 7) + 25.380,701
= 30.949,299
Untuk proyeksi pada tahun-tahun mendatang dapat dihitung dengan cara yang sama,

hasilnya dapat dilihat sebagaimana tabel berikut:


Tabel 1.2 Perkiraan Proyeksi Kebutuhan Impor Hexamine di Indonesia
Urutan Tahun
(x)
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Tahun
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2025
2026
2027
2028

Kebutuhan Impor
Hexamine (Ton)
30.949,299
31.744,813
32.540,327
33.335,841
34.131,355
34.926,869
35.722,383
36.517,897
37.313,816
38.108,925
38.904,439
39.699,953
40.495,467
41.290,981
42.086,495

Berikut adalah industri-industri hexamine di beberapa negara dan kapasitas produksi


berdasarkan total produksi
Tabel 1.3 Daftar Pabrik Produsen Hexamine di beberapa Negara
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nama Pabrik
New Tech Polymers India P.Ltd.
Jinan Samhoos Trase Co.Ltd
Jian Xingxing Auxiliary Agent Factory
Wuhan Chujiang Chemical Co. Ltd
Kanoria Chemicals & Ind. Ltd
Sina Chemical Industrial
Jian Xiangrui Chemical Co. Ltd
PT Intan Wijaya Internasional, Tbk

Lokasi
India
China
China
China
India
Iran
China
Indonesi

Kapasitas
(ton/tahun)
18.000
12.000
1.200
5.000
20.000
25.000
50.000
8.000

a
Sumber: Nurul Kurniawati, 2010
Berdasarkan Tabel 1.5 maka prancangan yang akan didirikan pada tahun 2017 dan
akan berproduksi ada tahun 2020 dengan kapasitas sebesar 25.000 ton/tahun dengan
alasan sebagai berikut:
1. Peluang pasar
Berdasarkan data dari tahun 2008-2013, bahwa hasil dari kebutuhan impor dikurangi
dengan PDN menghasilkan sebesar 27.722,383 ton. Sehingga sangat berpeluang bila
ingin membangun pabrik hexamine di Indonesia.
2. Data kapasitas produksi yang sudah ada
Berdasarkan kapasitas produksi pabrik Hexamine yang sudah ada di Indonesia dan
luar negeri, maka kami mengambil kapasitas tersebut karena berada pada rentang
antara kapasitas maksimum dengan kapasitas minimum sehingga dapat mengurangi
kebutuhan impor pada tahun 2020 yaitu sebesar 70% dan masih ada peluang utnuk
mengembangkan kapasitas produksi di tahun-tahun mendatang.
3. Pemasaran
Pemasaran produk hexamine akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri yang tersebar didaerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain di
Indonesia. Pemasaran dalam negeri dapat langsung didistribusikan ke PT Pindad
(Jawa Barat), PT Dahana sebagai pabrik pembuat bahan peledak dan PT Erela
(Semarang) sebagai pabrik pembuatan obat. Jika kebutuhan dalam negeri akan

hexamine telah terpenuhi maka pemasaran diarahkan ke internasional yaitu sebagai


komoditi eksport.
4. Ketersediaan bahan baku
Ketersediaan bahan baku untuk memproduksi hexamine adalah formaldehyde dan
amonia. Kebutuhan amonia diperoleh dari PT Pupuk Sriwijaya, Palembang, PT
Pupuk Kujang Cikampek, Jawa Barat, PT Pupuk Kaltim, Kalimantan. Sedangkan
kebutuhan formaldehyde diperoleh dari PT Korindo Abadi, Kepulauan Riau, PT
Perawang Perkasa Indah, Kepulauan Riau, dan PT Superin, Medan.

Gambar 1.1 Grafik Ketersediaan dan Kebutuhan Hexamine


1.4 Pemilihan Lokasi Pabrik
Penentuan lokasi pabrik sangat menentukan kemajuan dan kelangsungan industri,
baik pada

pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang. Hal ini

dikarenakan letak geografis pabrik akan berpengaruh pada kegiatan pabrik , mulai dari
proses produksi sampai proses distribusi. Pemilihan lokasi pabrik yang tepat harus
memberikan perhitungan biaya produksi dan distribusi yang ekonomis. Selain itu perlu

dipertimbangkan pula faktor sosiologi dari lokasi pabrik, keadaan sosial yang bersahabat
tentu saja akan sangat membantu kelangsungan dari suatu industri.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka lokasi pabrik hexamine ditetapkan di
Palembang, Sumatera Selatan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Bahan Baku
Suatu pabrik sebaiknya didaerah yang dekat dengan sumber bahan baku dan daerah
pemasaran, sehigga transportasi dapat berjalan lancar.
Bahan baku pembuatan hexamine yaitu amonia akan diperoleh dari PT Pupuk
Sriwijaya di kota Palembang dengan rata-rata kapasitas produksi amonia 4,0 juta
ton/tahun dan formaldehyde akan diperoleh dari PT Korindo Abadi, Kepulauan Riau
dengan kapsitas produksi 50.000 ton/tahun, PT Perawang Perkasa Indah, Kepulauan
Riau dengan kapasitas produksi 50.000 ton/tahun.
2. Pemasaran
Pemasaran produk hexamine akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri yang tersebar didaerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lain di
Indonesia. Pemasaran dalam negeri dapat langsung didistribusikan ke PT Pindad
(Jawa Barat), PT Dahana sebagai pabrik pembuat bahan peledak dan PT Erela
(Semarang) sebagai pabrik pembuatan obat. Jika kebutuhan dalam negeri akan
hexamine telah terpenuhi maka pemasaran diarahkan ke internasional yaitu sebagai
komoditi eksport.
3. Utilitas
Utilitas merupakan unit pendukung dalam pabrik yang meliputi listrik, air, udara
tekan, dan bahan bakar. Untuk penyediaan air diperoleh dari Sungai Musi.
Sedangkan bahan bakar sebagai sumber energi dapat diperoleh dari Pertamina.
Kebutuhan listrik didapat dari PLN dan penyediaan generator sebagai cadangan.
4. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan banyak tersedia di Palembang baik tenaga ahli,
menengah, maupun sebagai buruh. Sehingga kebutuhan tenaga kerja dapat dipenuhi.
5. Transportasi

Palembang merupakan salah satu kawasan industri, sehingga transportasi darat, laut
maupun udara telah tersedia. Dengan adanya transportasi yang baik diharapkan arus
bahan baku dan produk dapat berjalan dengan lancer.
6. Kebijakan Pemerintah
Palembang merupakan kawasan industri yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan
berada dalam territorial negara Indonesia sehingga secara georafis pendirian pabrik
dikawasan tersebut tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang berlaku.
7. Kondisi Iklim dan Cuaca
Kondisi iklim di Palembang seperti iklim di Indonesai pada umumnya dan tidak
berdampak besar terhadap jalannya proses produksi.
8. Keadaan Masyarakat
Masyarakat di daerah industri akan lebih mudah menerima pendirian suatu pabrik di
daerahnya, selain itu masyarakat sekitar juga dapat mengambil keuntungan dengan
pendirian pabrik hexamine ini, keuntungan yang dapat diperoleh antara lain adanya
lapangan kerja baru bagi masyrakat sekitar, selain itu masyarakat sekitar juga dapat
membuka usaha kecil disekitar lokasi pabrik.

Berdasarkan dari pertimbangan diatas, bahwa bahan baku amonia dan formaldehyde
mudah didapat di kota Palembang, untuk pemasaran lebih dekat dengan pelabuhan
sehingga untuk pemasaran produk hexamine lebih mudah dilakukan dan juga untuk
meningkatkan efektivitas kerja dan menekan biaya produksi maka dipilih di kota
Palembang sebagai lokasi pendirian pabrik dinilai tepat.

Gambar 1.2 Lokasi Pendirian Pabrik

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan utama yang diolah dalam proses produksi menjadi
produk jadi. Bahan-bahan baku yang digunakan dalam pembuatan hexamine antara lain
formaldehyde dan amonia.
2.1.1 Formaldehyde
Formaldehida merupakan senyawa yang sangat penting di
industri kimia dan memberikan peranan penting dalam manufaktur
berbagai industri dan barang-barang konsumer. Lebih dari 50 cabang
industri saat ini menggunakan formaldehida, khususnya dalam bentuk
larutan dan resin yang mengandung formaldehida. Produk kimia
menggunakan formaldehida sebagai bahan baku untuk pembuatanya
adalah pentaeritrol, resin formaldehida fenol, resin formaldehida
melamin, resin dan konsentrat formaldehida, bahan antiseptik,
heksamin,

dan

lain-lain.

Pada

tahun

1995,

permintaan

untuk

formaldehida di dalam 3 pasar mayor, yaitu Amerika Utara, Eropa


Barat dan Jepang mencapai
4,1 106 ton per tahun.(Klein, 2010).

Gambar 2.1 Rumus Molekul Formaldehyde


Kegunaan dari formaldehida itu sendiri adalah sebagai bahan
baku pembuatan formaldehyde resin, sebagai bahan baku pembuatan
Pentaeryhritol, trixane, trimetylol propane, heametylenetetramine

(hexamine). Dan digunakan langsung pada pembuatan desinfektan,


sterilant, germicide, hardening agent, reduction agent.
Formaldehida pertama kali disintesis pada tahun 1859, ketika
Butlerov menghidrolisis metilen asetat dan mencatat karakteristik bau
larutan yang dihasilkan. Pada 1867, Hofmann meyakinkan telah
mengidentifikasi formaldehida dengan cara melewatkan uap metanol
dan air melalui spiral platinum yang dipanaskan. Metode ini, tetapi
dengan katalis lainnya, masih merupakan prinsip produksi. Preparasi
formaldehida murni dijelaskan kemudian oleh Kekul pada tahun
1882. Produksi formaldehida secara industri menjadi mungkin pada
tahun 1882, ketika Tollens menemukan metode pengaturan rasio uap
metanol : udara dan berdampak pada yield reaksi. Pada tahun 1886
Loew mengganti katalis spiral platinum dengan bahan yang lebih
efisien, yaitu kasa tembaga. Firma Jerman, Mercklin und Lsekann
memulai produksi dan menjual formaldehida skala komersial pada
tahun

1889.

Firma

Jerman

lainnya,

Hugo

Blank

mematenkan

penggunaan pertama katalis perak pada tahun 1910. Perkembangan


industri dilanjutkan dari tahun 1900 hingga 1905 ketika ukuran pabrik,
laju alir, yield, dan efisiensi meningkat. Pada tahun 1905, Badische
Anilin und Soda-Fabrik memulai produksi formaldehida dengan cara
proses kontinu menggunakan katalis kristalin perak. Formaldehida
yang dihasilkan 30 kg/hari dalam bentuk larutan formaldehida 30%.
(Klein, 2010).
Sifat Fisik Formaldehida
Fasa
Warna
Bau

: Cair (20C)
: Tidak Berwarna
: Tajam

Titik lebur

: < 15C

Titik didih/rentang didih


Titik Nyala
Tekanan uap

: 93 96C
: > 62C
: 1,3 hPa

Kelarutan dalam air

: Larut (20C)

Viskositas, dinamis

: 2,5 2,7 mPa.s pada 25C

Densitas
Titik Beku

: 0,8153 g/ml
: 1560 K

Titik Kritis
Tekanan Kritis

: 408 0K
: 65,9 bar

Sifat Kimia Formaldehida


Formaldehida merupakan senyawa yang paling sederhana dari
golongan aldehida. Berikut adalah reaksi-reaksi yang dapat terjadi
pada formaldehida. (Fessenden, 1995)
a. Adisi oleh Asam Sianida
Formaldehida
sianohidrin.

dapat

Sianohidrin

bereaksi

dengan

merupakan

HCN

suatu

menghasilkan

senyawa

yang

mengandung gugus siano dan hidroksil terikat pada atom karbon


yang sama. HCN adalah zat yang sangat beracun dan mudah
menguap, sehingga biasanya reaksi adisi dilakukan melalui
percampuran senyawa karbonil, KCN atau NaCN dengan suatu
asam mineral.
HCHO + HCN H2C(OH)(CN)
Sianohidrin dapat terhidrolisis menjadi suatu -hidroksi asam
karboksilat

atau

dapat

tereduksi

menjadi

suatu

-hidroksi

aldehida.
b. Adisi oleh Natrium Bisulfit
Pada umumnya, senyawa aldehida dan keton dapat bereaksi
adisi dengan natrium bisulfit menghasilkan senyawa adisi bisulfit
yang berbentuk padatan berwarna putih.
HCHO + NaHSO3

H2(SO3H)CONa

H2(SO3Na)COH

Senyawa adisi bisulfit mudah terdekomposisi oleh asam atau


basa menghasilkan kembali senyawa karbonil (aldehida dan
keton) awal, sehingga

metode ini dapat digunakan untuk

pemurnian dan pemisahan senyawa karbonil dari campurannya.

c. Adisi oleh Pereaksi Grignard


Aldehida dan keton bereaksi dengan pereaksi Grignard (RMgX)
menghasilkan

produk

adisi

yang

dapat

terhidrolisis

dalam

suasana asam menghasilkan alkohol.


HCHO + RMgX H2C(OMgX)(R) H2CR(OH)
Simbol X merupakan gugus halida, R merupakan cabang alkil.
Reaksi

adisi

formaldehida

menggunakan

pereaksi

Grignard

menghasilkan senyawa alkohol primer.

d. Adisi dengan Fosfor Pentaklorida


Formaldehida dapat bereaksi dengan PCl5 membentuk gemdihalida.
HCHO + PCl5 H2CCl2 + POCl3
Selain reaksi-reaksi diatas, formaldehida juga dapat bereaksi adisi
dengan amina (RNH2, R2NH, atau R3N) menghasilkan basa Schiff,
hidroksilamin
hidrazin

(NH2

(NH2NHC6H5)

(NH2OH)

NH2)

menghasilkan
menghasilkan

menghasilkan

formaldehida
hidrazon,

fenilhidrazon,

oksim,

fenilhidrazin

semikarbazida

(NH2NHCONH2) menghasilkan formaldehida semikarbazon, 2,4dinitrofenilhidrazin


dinitrofenilhidrazon,

menghasilkan
alkohol

formaldehida

membentuk

hemiasetal

2,4yang

berlanjut menjadi asetal.


e. Reduksi formaldehida menghasilkan metanol
Formaldehida dapat direduksi menjadi metanol menggunakan
gas hidrogen dan katalis nikel.
HCHO + H2 CH3OH
Selain menggunakan katalis nikel, dapat juga dilakukan
dengan katalis hidrida-hidrida logam seperti LiAlH4 dan NaBH4.
f. Reduksi formaldehida menghasilkan metana

Formaldehida

dapat

direduksi

menjadi

metana

dengan

bantuan katalis zink-amalgam dan HCl (Reduksi Clemmensen)


atau katalis NaOH dan hidrazin (Reduksi Wolf-Kishner).
HCHO CH4
g. Oksidasi formaldehida
Formaldehida dapat dioksidasi menghasilkan asam format
menggunakan natrium dikromat atau kalium dikromat dalam
suasana asam menghasilkan asam karboksilat.
HCOH + O2 HCOOH
h. Identifikasi formaldehida menggunakan pereaksi
-

Pereaksi Tollens, pereaksi ini terdiri dari larutan AgNO3 dalah


NH4OH membentuk Ag(NH3)2OH. Formaldehida maupun aldehida
lainnya jika diberikan pereaksi ini akan menghasilkan endapan
cermin perak (Ag).

Pereaksi Fehling, larutan ini mengandung ion kompleks tembaga


(II) dengan ion natrium kalium tartarat. Formaldehida dan
aldehida

lainnya

dapat

bereaksi

dengan

pereaksi

ini

menghasilkan endapan Cu2O yang berwarna merah bata.


-

Pereaksi

Benedict,

larutan

ini

mengandung

ion

kompleks

tembaga (II) dengan ion natrium kalium sitrat. Hasil reaksi sama
dengan hasil reaksi Fehling.
i. Klorinasi
Gas klorin dapat bereaksi dengan formaldehida (aldehida)
menghasilkan trikloroaldehida. Reaksi yang terjadi adalah reaksi
substitusi.
HCHO + 2Cl2 Cl2C=O + 2 HCl
j. Reaksi Cannizzaro
Formaldehida dapat bereaksi dengan basa kuat (NaOH atau
KOH) pekat dan panas membentuk natrium metanoat dan
metanol.
HCHO + NaOH NaCOOH + CH3OH

Formaldehide yang bereaksi dengan melamine dilapisis selulosa untuk


permukaan meja, untuk bangku laboraturium, untuk hiasan dinding, untuk area
kerja tugas berat di pabrik-pabrik dan rumah.
2.1.2 Amonia
Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH 3. Biasanya senyawa ini
didapati beruba gas dengan bau yang tajam walaupun amonia memiliki sumbangan
penting bagi keberadaan nutrisi di bumi, amonia sendiri adalah senyawa caustic dan
dapat merusak kesehatan. Administrasi keselamatan dan kesehatan pekerjaan America
Serikat memberikan batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas
berkonsentrasi 35ppm volume, atau 8 jam untuk 25 ppm volume. Kontak dengan gas
amonia berkonsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan
kematian. Sekalipun amonia di Amerika Serikat diatur sebagai gas tak mudah terbakar
amonia masih digolongkan sebagai bahan beracun jika terhirup, dan pengangkutan
amonia berjumlah lebih besar dari 3.500 gallon (13,248 liter) harus disertai surat izin.
(Ullmanns, 2007).
Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat istilah ini
menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut karena amonia mendidih disuhu
-330C cairan amonia harus disimpan dalam tekanan tinggi dan temperature yang sangat
rendah. Walaupun begitu kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani
dengan tabung reaksi biasa didalam sngkup asap amonia rumah atau ammodia
hidroksida atau larutan NH3 dalam air.
Amonia adalah bahan baku utama yang digunakan dalam industri dan pertanian,
diantaranya untuk pembuatan pupuk berbasis nitrogen. Fungsi utama amonia adalah
sebagai penyedia nitrogen dalam bentuk siap pakai. Nitrogen diperoleh dari pemisahan
komponen dari udara dan hidrogen diperoleh dari proses pengolahan gas alam atau dapat
diperoleh dari beberapa proses, tergantung dari bahan baku yang digunakan antara lain
gas alam, batu bara, naptha, dan lain-lain.

H-N-H

..

H
Gambar 2.2 Rumus Bangun Amonia

Senyawa amonia adalah senyawa dengan ikatan kovalen. Unsur N dan H


masing-masing berikatan dengan saling menggunakan pasangan elektron yang sama
(selengkapnya ikatan kovalen). Jika dilihat dari bentuk molekulnya amonia terbentuk
dari tumpang tindih tiga buah orbital sp3 hibrida dan tiga orbital hidrogen. Bentuk
molekul amonia adalah primida trigonal.
Produk amonia dapat digunakan untuk berbagai keperluan diantaranya adalah
sebgai bahan baku pembuatan HNO3 dan NH4OH, sebagai bahan baku pupuk urea dan
amonia sulfat, Refrigerant dalam mesin pendingin, sebagai bahan pemuri air untuk
industri, sebagai bahan pembersihan alat-alat pabrik dari rumah tangga, sebagai bahan
baku pembuatan bahan peledak nitrogliserin dan TNT, sumber nitrogen dan pengatur pH
dalam industri fermentasi, sebagai bahan baku obat-obatan dalam industri farmasi dan
sebagai pereduksi oksida logam dalam industri logam. (Ullmanns, 2007).

Sifat Fisik Amonia


Fasa
Warna
Bau

: Cair
: Tidak Berwarna
: Tajam

Titik lebur

: 63,13 K

Titik didih/rentang didih


Titik Nyala
Tekanan uap

: -33,350C
: 110C
: 8,88 bar

Kelarutan dalam air

: Larut

Viskositas, dinamis

: 0,000098 poise

Densitas
Titik Beku

: 0,86 kg/m3
: -77,70C
: 132,40C
: 112,8 bar

Titik Kritis
Tekanan Kritis
Sifat Kimia Amonia

Amonia mempunyai sifat-sifat kimia seperti dibawah ini:


a. Larutan NH3 dalam air akan bereksi menjadi basa, sehingga dapat merubah kertas
lakmus merah menjadi biru.
Reaksinya adalah sebagai berikut:
NH3 + H2O

NH4OH

NH4+ + OH-

b. Dapat langsung bersenyawa dengan asam membentuk garam.


Reaksinya adalah sebagai berikut:
NH3 + HCl

NH4Cl

2NH3 + H2SO4

( NH4)2SO4
( Krik and Othmer, 1998)

2.2 Hexamine
Hexamine merupakan bahan baku untuk bahan peledak RDX komponen utama
untuk blockdusters pada akhir perang dunia kedua RDX digunakan secara luas sebagai
pengganti TNT, sedangkan selama perang korea digunakan dalam bazooka. Selain dapat
dipakai sebagai bakhan baku untuk bahan peledak, dalam masa damai, hexamie dipakai

untuk bahan utama phenolic resin, sebagaian kecil digunakan dalam pengobatan dan
sebagainya.
Reaksi kimia untuk pembentukkan hexamine,yaitu antara formaldehyde dan
amonia terjadi pada suhu sekitar 450C dalam suasana larutan dalam air tanpa bantuan
katalisator. Reaksi yang terjadi direaktor sebagai berikut:

Gambar 2.3 Rumus Bangun Hexamine


Heksametylenatetramina adalah senyawa organik heterosiklik dengan rumus
(CH2)6N4. Hexamine berbentuk kristal putih dan merupakan senyawa yang sangat larut
dalam air dan pelarut organik pelarut polar. Hexamine memiliki seperti struktur kandang
mirip dengan adamatane. Hal ini berguna dalam sintesis senyawa kimia lain, misalnya
plastik, farmasi, adiktif karet. Hexamine menyublim pada suhu 2700C. Hexamine
disusun oleh reaksi dari formaldehid dan amonia. Reaksi dapat dilakukan dalam fasa gas
dan dalam larutan. Molekul berprilaku seperti basis amina, protonasi menjalani dan Nalkilasi.
Heksametylenatetramina adalah serbaguna reagent dalam sintesis organik, hal ini
digunakan dalam reaksi Duff (Foyrmylation dari arena) dalam reaksi Sommelet
(mengkonfersi halide bensin ke aldehida), dan dalam reaksi Delepine (sintesis amina
dari alkil halide). (Ullmanns, 2007).
Produk yang akan dihasilkan dari prarancangan pabrik ini adalah Hexamine atau
Hexamethylenetetramine. Bahan ini merupakan senyawa sinteti organik dengan rumus
kimia (CH2)6N4. Sifat-sifat senyawa yang termasuk senyawa amina heterosiklik ini
adalah berbentuk Kristal (granular), tidak berwarna hingga berwarna putih, tidak berbau
larut dalam alkohol, air dan kloroform. Pada suhu 2000C, senyawa ini dapat mensublim
serta sebagian dapat larut.

H2O

Kegunaan hexamine adalah sebagai bahan baku utama disektor industri


pengembangan atau blowing agent jeni Dimitroso Pentamentnethylene Tetramine (DPT),
di industri Adhesife Ploywood atau perangkat untuk memberikana efek mengeraskan
(Hardner) yang biasanya digunaka dalam proses pembuatan kayu lapis (Playwood)
dalam bentuk formaldehyde resin. Dan untuk pembaharu protein. (Vogel, Arthur I.A
Text Book of Practical Organic Chemistry Including Volume 1. Hal 326)
Sifat Fisik Hexamine
Fasa
Warna
Bau

: Kristal
: Putih
: Tajam

Titik lebur

: 63,13 K

Titik didih/rentang didih


Titik Nyala
Tekanan uap

: 2800C
: 2500C
: 3900C

Kelarutan dalam air

: 874 g/l

Viskositas, dinamis

:-

Densitas
Titik Beku

: 1,33 g/cm3 pada 200C


:-

Titik Kritis
Tekanan Kritis

::-

Sifat Kimia Hexamine


Reaksi hexamine dapat dibagi dalam 3 group:
a. Mula-mula tiga molekul formaldehyde bereaksi dengan tiga molekul amonia
membentuk methyleneamine dan melepas H2O.

b. Tiga molekul methylenemine bereaksi membentuk trimethylenetriamine.

c. Kemudian molekul trymethyleneamine bereaksi dengan tiga molekul CH 2O membentuk


trymethyloltryamethylenetriamine .

( Krik and Othmer, 1998)


2.3 Proses Pembuatan Hexamine
Pembuatan hexamine dengan bahan baku formaldehid dan amonia dapat
dilakukan dengan beberapa proses.
2.3.1 Proses Meissner
Proses ini pertama kali dikembangkan oleh Firtz Meissner pada tahun 1950 di
Jerman Barat. Bahan baku yang digunakan adalah gas amonia anhidrat dan gas
formaldehid. Reaksi yang terjadi yaitu:
6CH2O + 4NH3

C6H12N4 + 6H2O

Formaldehid dan amonia dengan rasio 3:2 dan 3:3 dialirkan dari tangki
formaldehid dan tangki amonia masuk kedalam raktor dengan suhu reaksi 40 0C. Reaksi
yang terjadi sangat cepat sehingga yang mengontrol kecepatan reaksi ialah kecepatan
pembentukan Kristal hexamine. Pada proses ini panas reaksi yang terjadi pada reactor
digunakan untuk menguapkan air hasil reaksi. Produk yang keluar dari reaktor masuk

kedalam evaporator. Di dalam evaporator terjadi penguapan sisa-sisa reaktan dan mulai
terjadi proses pengkristalan. Setelah produk keluar dari evaporator produk dimasukkan
ke dalam centrifuge dan di keringkan di dryer, setelah itu produk dikemas. Dengan
proses ini dapat diperoleh yield overall sebesar 95% berdasarkan reaktan formaldehid.
Konversi dari proses ini adalah 97% dan yield ini mencapai 95%. (European Patent,
2013)
CH2O
CH3OH
NH3
H2O

Reaktor

Amonia

Evaporaive-Cristalizer

Formaldehid

Dyer

Produk

Gambar 2.4 Diagram Alir Proses Meissner


2.3.2 Prose Leonard
Bahan baku yang digunakan dalam proses ini adalah larutan formaldehid dan
amonia cair dengan konsentrasi 37%. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
6CH2O + 4NH3

(CH2)6N4 + 6H2O

Reaksi berlangsung pada suhu 30-500C dengan pH 7-8. Untuk menjaga suhu
digunakan air pendingin. Larutan formaldehid yang mengandung methanol kurang dari
2% diumpankan bersama dengan amonia cair ke dalam reaktor. Produk yang keluar dari
reaktor masuk kedalam evaporator. Di dalam evaporator terjadi penguapan sisa-sisa
reaktan dan muali terjadi proses pengkristalan. Setelah produk keluar dari evaporator
produk dimasukkan ke dalam centrifuge dan di keringkan di dryer, setelah itu produk
dikemas. Dengan proses ini dapat diperoleh yield overall sebesar 94-95% berdasarkan
reaktan formaldehid (Kent, 1974). Konversi dari reaksi pembuatan hexamine dari
formaldehid dan amonia pada proses ini adalah 96%. (Kormade and steven, 1965).

H2O

H2O

H2O

Evaporator 1

Evaporator
2

Centifuge

Formaldehid
Amonia

Reaktor

Dyer

Produk

Gambar 2.5 Diagram Alir Proses Leonard


2.3.3 Proses AGF Lefebvre
Bahan baku yang digunakan dalam proses ini adalah larutan formaldehid bebas
methanol sebesar 30-37% berat dan gas amonia anhidrat. Reaksi yang terjadi:
6CH2O + 4NH3

C6H12N4 + 6H2O

Bahan baku formaldehid diumpankan ke dalam reaktor yang dilengkapi dengan


pengaduk dan gas amonia anhidrat diumpankan secara pelan-pelan dari bagian bawah
reaktor. Reaksi berlangsung dalam kisaran suhu 20-300C dan merupakan reaksi
eksotermis sehingga membutuhkan pendingin. Untuk menyempurnakan reaksi maka
digunakan amonia berlebih. Produk yang keluar dari reaktor kemudian masuk ke dalam
vacuum evaporator. Dalam evaporator bahan mengalami pemekatan dan pengkristalan.
Kristal yang terbentuk dikumpulkan di bagian bawah evaporator yaitu di dalam salt box
kemudian diumpankan ke dalam centrifuge untuk memisahkan Kristal hexamine dan air.
Untuk memperoleh bahan dengan kemurnian yang tinggi, air yang masih banyak
mengandung krisal hexamine (mother liquor) yang keluar dari centrifuge dikembaliakn
ke evaporator. Setelah ini produk dikeringakan dan dikemas. Dengan proses ini
mempunyai konversi 97% dan didapatkan yield sebesar 95%. (Grupta, 1987).
H2O

Formaldehid

Reaktor

H2O

Centrifuge

Amonia

Gambar 2.6 Diagram Alir Proses AGF Lefebvre

Produk

2.4 Pemilihan Proses


Dengan melihat ketiga macam proses di atas, maka dalam prarancangan pabrik
hexamine dipilih proses Messeiner dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut :
Tabel 2.1 Jenis Prose Pembuatan Hexamine dari Formaldehyde dan Amonia
Proses
Parameter
Kondisi Operasi
Temperatur
Tekanan
Konversi
Yield
Spesifikasi
Produk
Fasa
Kemurnian
Hasil
samping
Alat Utama

Proses Meissner

Proses Leonard

Proses AGF
Lefebvre

40oC
1 atm

30-50oC
1 atm

20-30oC
0,1 atm

97%
95%

96%
94-95%

97%
95%

Gas-Gas
99,8%
Air

Cair-Cair
99,7%
Air

Gas-Cair
99,8%
Air

Reaktor,
Reaktor,
Reaktor, Vacuum
EvaporativeEvaporator (2),
Evaporator,
Cristalizer, Dryer Centrifuge, Dryer
Centrifuge
Utilitas
Air
Air
Air
Dari ketiga macam proses di atas makan dalam prarancangan pabrik hexamine
ini dipilih proses Messeiner dengan 5 pertimbangan:
1. Reaksi yang berlangsung merupakan reaksi homogen, fase gas sehingga
penanganannya lebih mudah jika dibanding kan dengan reaksi fase heterogen yaitu
gas dan cair.
2. Jika panas yang dihasilkan kecil maka kebutuhan pendingin lebih sedikit dengan
demikian dapat menghemat biaya operasi reaktor.
3. Alat yang digunakan proses Meissener lebih sedikit.
4. Produk yang dihasilkan mempunyai konversi tinggi mencapai 97%.
5. Kemurnian proses Messeiner sebesar 99,8%.

CH2O
NH3
CH3OH
H2O

H2O

Reaktor

Flash Drum
C6H12N4
CH2O
C6H12N4
H2O
NH3
CH3O

99,5% NH3
0,5% H2O Amonia

37%CH2O
60% H2O
Formaldehid3% CH3O

Kristalizer

Centrifuge

Dryer

H2O

Kristal hexamine
H2O

H2O

Kristal
hexamine
H2O

Gambar 2.7 Diagram Blok Kualitatif dengan Proses Messeiner

99,8% Kristal hexamine


0,1% H2O
0,1% Abu

BAB III
KONSEPSI PRANCANGAN
3.1 Deskripsi Proses
Pembuatan Hexamine dengan proses Messeiner melalui tahapan proses sebagai
berikut:
1. Persiapan bahan baku
2. Tahap pembentukan produk
3. Tahap pemurnian dan penyimpanan produk
3.1.1. Persiapan Bahan Baku
Amonia disimpan dalam tangki penyimpan (TT-101) pada tekanan 11 atm dan
pada suhu 350C sehingga amonia dalam kondisi cair. Kemudian amonia cair dirubah
fasanya menggunakan expander (EX-101) menjadi gas pada tekanan 8,88 atm lalu
dialirkan kedalam reaktor. Larutan formaldehyde disimpan dalam tangki penyimpanan
(TT-102) pada suhu 350C dan tekanan 11 atm. Dari tangki ini larutan formaldehyde
diubah fasa menjadi gas lalu dialirkan kedalam reaktor menggunakan kompresor (C102) pada tekanan tinggi yaitu 11 atm.
Kedua bahan baku diumpankan dalam reaktor dengan perbandingan mol
formaldehyde : amonia 3:2. Reaksi berlangsung dalam fasa gas dan merupakan reaksi
eksotermis. Konversi yang dapat dicapai pada reaksi ini sebesar 97% berdasarkan
reaktan formaldehyde. Reksi dijalankan dalam reaktor fixed bed (R) pada keadaan
isothermal 350C.
3.1.2 Tahap Pembentukan Produk
Produk luar dari reaktor yang mempunyai suhu 80 0C dan tekanan 11 atm kemudian
dialirkan kedalam expander (EX-101) untuk menurunkan menjadi 1 atm sebelum masuk
ke evaporative-crystalizer. Suhu produk keluar expander sebesar 350C. Produk
hexamine dan sisa reaktan yang berupa amonia dan formaldehyde keluar expander
kemudian

diumpankan

kedalam

evaporative-crystalizer

(CR-101).

Di

dalam

evaporative-crystalizer, produk mengalami proses pemekatan dan pengkristalan. Sebagai


media pemanas digunakan steam jenuh pada suhu 150 0C dan tekanan 4,698 atm. Untuk

mengumpankan produk luar evaporative-crystalizer digunakan pompa (J-103). Produk


hasil evaporative-crystalizer (CR-101) berupa kristal hexamine.
3.1.3 Tahap Pemurian dan Penyimpanan Produk
Kristal hexamine kemudian dibawa ke unit pemurnian dengan menggunakan screw
conveyor (SC). Untuk memurnikan produk digunakan dryer. Pada proses ini
menggunakan rotary dryer (RD). Pada rotary dryer terjadi penguapan sisa-sisa air dan
dihasilkan produk kemurnian 99,8%. Produk diangkut oleh bucket elevator (BE)
sebelum disimpan dalam silo (SL).

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, 2015. Statistic Indonesia, www.bps.go.id, Indonesia
Nurul Kurniawati.,2010, Prarancangan Pabrik HEXAMINE Dari Amonia Dan
Formalin Dengan Proses Leonard Kapasitas 25.000 Ton/Tahun.,
Universitas Sebelas Maret Surakarta
European

Patent

Office,

no.

0468353b

Continuous

Production

of

Hexamethylenetetramine
Grupta, R.K.,1987, Industrial Chemical Hanbook, Small Business Publication
Roop Nagar, Delhi, India
Kirk, R.E., and Othmer, D.F., 1998, Encylopedia of Chemical Technology, 4thed.,
John Wiley and Sons, Singapore
Kent, J.A., 1974, Riegels Handbook of Industrial Chemistry, 7th edition, Litton
Educational Publishing, Inc., USA
Klein, David R., 2010,Organic Chemical, John Willey and Sons,
United States
KERMODE, R.I. and Stevens, W.F., 1965, Canadian Journal Chemical
Engineering, vol 43, no 63
Miller,

James

N.,

Jane

C.

Miller,

2010,

Statistics

and

Chemometrics for Analytical Chemistry, Pearson, Essex.


Ullmanns Encyclopedia of Industrial Chemistry 2007
Vogel, Arthur I.A Text Book of Practical Organic Chemistry Including Volume 1.
Hal 326
www.isx.co.id, PT Intan Wijaya Internasional Tbk, 2009, Hexamine, Indonesia