Anda di halaman 1dari 14

1.

JUDUL JURNAL
Judul jurnal yang direview adalah Leadership and Organizational Strategy. Jurnal
ini didapatkan dari The Innovation Journal: The Public Sector Innovation Journal,
Volume 14(1), 2009, article 3. yang diakses pada 14 November 2010 dari
http://www.innovation.cc/scholarly-style/fairholm3.pdf
2. PROFIL PENULIS JURNAL
Penulis jurnal ini adalah Matthew R. Fairholm, Ph.D.. Beliau adalah associate professor
yang bekerjasama dengan Political Science Department dan W.O. Farber Center for
Civic Leadership at The University of South Dakota. Pengalamannya mengajar dan
melatih pemerintah, private, nonprofit, and university settings, including extensive
training and consulting in the District of Columbia government and many U.S.
government agencies, state, and local governments. His academic and professional
interests focus on public administration, leadership theory and practice, and
organizational behavior.
3. ALASAN PEMILIHAN JURNAL
Jurnal ini dipilih untuk direview sebab pokok bahasan dalam jurnal tersebut
berhubungan dengan pengembangan profesi kependidikan. Jurnal ini menggambarkan
usaha-usaha penulis jurnal dalam kapasitasnya sebagai ketua program studi doktoral
Educational Leadership pada Fayetteville State University di South Carolina, USA,
dalam rangka mengembangkan kompetensi profesi mahasiswanya yang mayoritas
adalah kepala sekolah (pimpinan lembaga pendidikan) melalui perbaikan kurikulum
program studi doktoral tersebut. Selain itu, jurnal ini merupakan jurnal berskala
internasional

sehingga

kredibilitas

penulis

jurnal

tersebut

dapat

dipertanggungjawabkan. Topik yang diambil oleh penulis jurnal ini secara umum juga
sangat relevan dengan kondisi yang terjadi pada ruang lingkup jurusan MKPP UMM,
sehingga dengan direviewnya jurnal ini, harapannya dapat menjadi bahan refleksi bagi
pengembangan jurusan MKPP UMM di masa mendatang.

4. SISTEMATIKA POKOK BAHASAN JURNAL


Dalam penulisannya, jurnal ini secara sistematis terbagi dalam beberapa pokok
bahasan yang terbingkai dalam 6 sub judul sebagai berikut:
1.

The Challenge for New Social Order


Dalam sub judul ini, penulis jurnal menguraikan latar belakang permasalahan
yang dijadikan dasar pemikiran penulisan jurnal tersebut (paragraf 1-5), dan juga
gambaran mengenai pokok-pokok bahasan yang akan diuraikan dalam jurnal
tersebut secara singkat (paragraf 5-7).

1.

Program Evaluation
Penulis jurnal memaparkan metode penelitian yang digunakannya untuk
mendapatkan data mengenai pokok permasalahan yang dihadapi oleh program
pendidikan doktoral yang dipimpinnya, berikut hasil dari penelitian tersebut
(paragraf 1-8).

1.

Diversity and Critical Theory/Inquiry


Dalam sub judul ini, penulis jurnal merujuk berbagai macam teori yang dijadikan
landasan olehnya dalam mengemukakan pernyataan-pernyataan (paragraf 1-5).
Sebagai metode dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, teori
tersebut juga dijadikan sebagai dasar pemikiran oleh penulis jurnal dalam
merumuskan metode pemecahan permasalahan tersebut (paragaraf 6). Penulis
jurnal kemudian memaparkan bahwa data awal mengenai pokok-pokok
permasalahan yang dihadapi oleh program pendidikan doktoral yang didapatkan
melalui penelitian yang telah dilakukan olehnya dan teori-teori yang relevan telah
mendukung terjadinya perubahan dalam program studi tersebut sebagaimana
akan dijelaskan pada sub judul selanjutnya (paragaf 7).

1.

Creating Democratic Classroom

Metode dalam memecahkan permasalahan masih dibahas oleh penulis jurnal


pada pokok bahasan awal dalam sub judul ini (paragraf 1-2). Selebihnya, penulis
jurnal mengusung konsep-konsep pendidikan demokratis sebagai dasar
pemikiran dalam menciptakan kelas yang demokratis pada program pendidikan
doktoral yang dipimpin olehnya (paragraf 3-7).
1.

The Moral Life of Schools


Dalam sub judul ini, penulis jurnal masih memaparkan metode pemecahan
permasalahan yang telah diaplikasikannya (paragraf 1-2), berikut bahasan
mengenai hasil pemecahan permasalahan tersebut (paragraf 3-8).

1.

Future Directions
Penulis jurnal menguraikan kesimpulan yang dibuat olehnya (paragraf 1-3), dan
juga memberikan saran (paragraf 4), serta rekomendasi (paragraf 5), terkait
dengan pokok bahasan dalam jurnal tersebut.
5. REVIEW JURNAL
Sepintas kita akan terpesona ketika membaca judul jurnal karya Louise Anderson Allen
ini: The Moral Life of SchoolsRevisited: Preparing Educational Leaders to Build a New
Social Order for Social Justice and Democratic Community. Kemudian, kita akan
langsung mengarahkan pikiran kita pada suatu bentuk program pendidikan yang
memang dipersiapkan untuk melahirkan pemimpin-pemimpin generasi baru yang
sangat menjunjung keadilan sosial dan demokrasi dalam membangun tatanan
sosialnya yang baru. Dari judul tersebut kita akan berasumsi bahwa telah lahir sebuah
program pendidikan alternatif yang begitu menjunjung moralitas dan tentunya sangat
berbeda dengan program-program pendidikan yang telah ada saat ini. Dan setelah
membaca keseluruhan jurnal ini, ternyata pembaca akan cukup dikejutkan dengan apa
yang disuguhkan oleh Allen, sebab ia memberikan lebih dari sekedar judul yang
membuat kita terpesona, yaitu sebuah konsep yang sebenarnya sudah cukup lama
dikemukakan namun aplikasinya terbilang cukup baru karena diterapkan pada program

pendidikan doktoral Educational Leadership di Fayetteville State University, South


Carolina, USA, dimana Allen menjadi ketua program studinya. Konsep yang dimaksud
tentunya adalah konsep The Moral Life of Schools, yang sebenarnya adalah judul dari
sebuah buku referensi yang digunakan dalam program pendidikan doktoral tersebut.
Buku karya P. Jackson, R. Boostrom, dan D. Hansen yang diterbitkan pada tahun 1993
tersebut mengetengahkan isu moralitas dalam kurikulum, kelas, budaya dari beberapa
sekolah yang berbeda (hal 7). Isi jurnal ini memang cukup tidak terduga, sebab ketika
kurikulum perguruan tinggi telah meminimalisir mata kuliah yang berkaitan dengan
pokok bahasan demokrasi dan tidak secara terang-terangan mempraktekkan kelas
yang demokratis, Allen mencoba untuk mengaplikasikannya pada program pendidikan
doktoral, dan memang hasilnya sangat mengejutkan. Alasan yang paling utama
mengapa hal tersebut begitu tidak terduga sebenarnya adalah karena asumsi yang
telah berkembang pada masyarakat bahwa belasan tahun studi pada pendidikan tingkat
dasar dan menengah dianggap telah lebih dari cukup untuk memahami bagaimana
seharusnya demokrasi dipraktekkan. Namun kita tahu bahwa memahami demokrasi
adalah dengan mempraktekkan demokrasi itu sendiri, dan demokrasi yang selama ini
dipelajari di sekolah-sekolah adalah hanya sebatas definisi dari sebuah konsep yang
didapatkan oleh peserta didik melalui metode hapalan sebab kebanyakan sekolah
mempraktekkan apa yang disebut oleh Paulo Freire dengan banking concept of
education (Freire, 2003). Sehingga sebenarnya cukup masuk akal bila mahasiswa pada
tingkat doktoral sekalipun ternyata masih belum memiliki kesadaran kritis dalam
memandang isu seputar keadilan sosial dan demokrasi dalam dunia pendidikan
sebelum akhirnya disadarkan oleh perubahan yang diprogramkan oleh Allen (hal 3).
Jurnal ini diawali oleh Allen dengan paparannya mengenai latar belakang permasalahan
yang dihadapi oleh yang ia sebut dengan the new social order. Walaupun setting
permasalahan yang dikemukakan oleh Allen adalah permasalahan yang terjadi di
benua Amerika, namun permasalahan-permasalahan tersebut juga dihadapi oleh dunia
pendidikan Indonesia. Terutama masalah kesenjangan antara teori dan praktek pada
program-program pendidikan di perguruan tinggi, yang juga dihadapi oleh perguruanperguruan tinggi di Indonesia. Implikasi yang fatal dari permasalahan tersebut bukanlah

peningkatan

jumlah

pengangguran

terdidik,

seperti

di

Indonesia

melainkan

inkompetensi lulusan yang telah berprofesi.


Allen menjelaskan bahwa permasalahan kesenjangan antara teori dan praktek yang
terjadi pada perguruan tinggi akan berakibat cukup fatal. Sebabnya, program-program
pendidikan tersebut diantaranya melahirkan para pemimpin lembaga pendidikan yang
memiliki peran strategis dalam proses pembelajaran peserta didik, terlebih lagi di era
yang sangat mengedepankan akuntabilitas dan standarisasi di segala bidang (hal 1).
Sehingga bila program pendidikan tersebut hanya berorientasi pada teori yang tidak
membumi, maka akan dapat diramalkan bahwa para pemimpin lembaga pendidikan
hasil program pendidikan pada perguruan tinggi tidak akan dapat menjawab dengan
tuntas segala tantangan permasalahan yang akan mereka hadapi. Allen juga
memaparkan bahwa segala tuntutan dari stakeholder seperti masyarakat, pemerintah,
dan peserta didik sendiri, menjadi hal yang cukup dilematis bagi perguruan tinggi yang
diharapkan dapat memuaskan keinginan dari seluruh pihak tersebut (hal 1). Nyatanya,
tuntutan semacam itu juga dialami oleh perguruan tinggi di Indonesia. Tetapi
sayangnya, kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia hanya berusaha memuaskan
keinginan para pengelola pasar yang memang didukung oleh kebijakan pemerintah
dibalik alasan minimalisasi jumlah pengangguran terdidik sebagaimana tercantum
dalam HELTS 2003-2010 (Depdiknas, 2003). Memang kebanyakan perguruan tinggi di
Indonesia telah mengedepankan relevansi teori dan praktek dengan konsep link and
match, tetapi dalam dunia kerja perburuhan, dan bukan konsep tersebut yang
dimaksudkan oleh Allen dalam jurnal ini. Melainkan kesinambungan antara teori dan
praktek dalam bingkai teori kritis. Sehingga tujuan pendidikan untuk memanusiakan
manusia (Murtiningsih, 2006) benar-benar dapat dicapai oleh lembaga pendidikan yang
dipimpin oleh para pemimpin lembaga pendidikan yang menjadi peserta didik dalam
program pendidikan di perguruan tinggi. Dan menurut Allen, memang sudah saatnya
bagi para pendidik perguruan tinggi untuk mulai mengevaluasi bagaimana mereka
mempersiapkan para pimpinan lembaga pendidikan yang menjadi peserta didik dalam
program

pendidikan

tersebut,

dalam

menghadapi

kompleksitas

budaya

dan

persekolahan dengan membantu mereka untuk membingkai kembali isu seputar

pendidikan, mengembangkan kemampuan mereka dalam menganalisis pendapat


mereka tentang sekolah, dan menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam
mengenai ekuitas dan keadilan sosial (hal 1).
Pada paragraf ketiga, Allen menyatakan bahwa dirinya sangat sepakat bahwa sekolah
dan tentu saja pimpinan sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan
prinsip-prinsip demokratis (hal 1). Namun sayangnya, Allen juga menyebutkan hasil dari
beberapa penelitian untuk mendukung pernyataannya tersebut, bahwa struktur
pembelajaran yang demokratis akan meningkatkan prestasi peserta didik, yang
menurut saya kurang relevan dengan tujuan pendidikan yang diusung para pedagog
pendidikan kritis. Kecuali prestasi yang dimaksudkan olehnya adalah prestasi dalam hal
peningkatan pemahaman peserta didik akan fitrahnya sebagai manusia dalam
memahami konteks realitas dehumanisasi yang telah terjadi di sekitarnya.
Allen menyepakati apa yang pernah dinyatakan oleh Dewey bahwa lembaga
pendidikan harus menjunjung tinggi asas demokrasi sehingga kebebasan dalam
berpendapat dan akses informasi juga harus terjadi (hal 2). Namun yang menjadi
pertanyaan Allen, terkait dengan definisi Dewey tersebut, adalah bagaimana sekolah
dapat benar-benar bersifat publik, bila program-program pendidikan pada perguruan
tinggi tidak menjunjung tinggi kepemimpinan yang demokratis diantara peserta didiknya
dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menghadapi kompleksitas budaya dan
persekolahan? Dan bagaimana para pimpinan sekolah dapat menciptakan sekolah
yang demikian di era standarisasi dengan keberagaman peserta didik yang terus
berkembang? Menurut Scheurich dan Laible, seperti dikutip oleh Allen, bahwa yang
menjadi pertanyaan bukanlah apa yang dibutuhkan oleh perguruan tinggi untuk
merubah diri, melainkan sebuah kemauan dari perguruan tinggi tersebut untuk
merubah diri. Dan inilah yang akan diuraikan secara panjang lebar oleh Allen pada
bagian jurnal yang selanjutnya, yaitu evolusi dari program pendidikan doktoral yang
diketuai olehnya dalam melakukan sebuah perubahan diri. Jurnal ini akan
memaparkan bagaimana pihak program studi doktoral tersebut menggunakan data
hasil evaluasi program studi dalam menciptakan kelas yang mempraktekkan pemikiran
kritis dan refleksi, serta mengajarkan peserta didik yang notabene adalah para

pimpinan lembaga pendidikan dan administrator sekolah untuk mengembangkan


budaya konstientiasi (hal 2).
Perubahan yang diusung oleh Allen melalui proyek The Moral Life of Schools ini
diadakan setelah ia melakukan penelitian pada tahun 2001. Pada penelitian tahap
pertama tersebut, Allen terbilang cukup baru dalam institusi tersebut sehingga
keseluruhan data dikumpulkan sendiri olehnya. Data yang dikumpulkan adalah hasil
evaluasi perjalanan program studi doktoral tersebut setelah 5 tahun berdiri (hal 2).
Responden terdiri dari seluruh kelompok stakeholder termasuk mahasiswa yang
sedang menempuh studi maupun yang telah menyelesaikan studi, para pegawai,
pengawas, dosen, dan pihak dekanat fakultas (hal 3). Data dikumpulkan melalui
metode survey dan wawancara yang terfokus pada pengalaman responden selama
menempuh studi pada program pendidikan doktoral. Data dari responden selain
mahasiswa dikumpulkan melalui survey dengan pertanyaan yang terfokus pada
seberapa baik program pendidikan doktoral ini mempersiapkan mahasiswa dalam
pengerjaan tugas-tugas tertentu berikut tanggung jawab yang menyertainya.
Menurut saya, penelitian yang oleh Allen dianggap sebagai data awal sebelum
pelaksanaan proyek The Moral Life of Schools ini adalah suatu metode dalam
merumuskan masalah yang sedang dihadapi oleh program doktoral yang diketuai
olehnya. Berikut ini adalah hasil dari penelitian tahap pertama tersebut yang tentunya
menggambarkan kondisi permasalahan yang sedang dihadapi oleh program pendidikan
doktoral tersebut:

Hampir seluruh respon dari hasil penelitian pertama menyatakan bahwa


responden menyukai pengalaman yang telah mereka dapatkan selama menempuh
studi pada program pendidikan doktoral tersebut. Allen menjelaskan bahwa ada 6
rekomendasi yang dihasilkan dari penelitian pertama, namun cukup disayangkan
karena Allen tidak menyebutkan apa saja ke-6 item tersebut. Ia hanya menyatakan
bahwa yang menjadi pokok bahasan dalam jurnal tersebut hanyalah item rekomendasi
yang terakhir, yaitu: mereview kurikulum program studi doktoral untuk menyertakan
mata kuliah yang terfokus pada bahasan mengenai isu kurikulum dan isu keberagaman

budaya (hal 3). Selain itu, ada sebuah respon yang sangat menarik dari seorang staf
dekanat fakultas yang mengatakan bahwa kebanyakan mahasiswa program pendidikan
doktoral tersebut tidak memahami hal-hal pokok yang menjadi kunci dalam perdebatan
mengenai isu-isu pendidikan (hal 5).
Dari hasil penelitian tesebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi
oleh program studi doktoral yang diketuai oleh Allen ini adalah bagaimana pihak
program studi dapat memfasilitasi keinginan para stakeholder untuk menyertakan mata
kuliah yang terfokus pada bahasan mengenai isu kurikulum dan isu keberagaman
budaya melalui review kurikulum. Dan masalah tersebut dipecahkan oleh Allen dengan
merekonstruksi silabus perkuliahan dengan mengadakan proyek penugasan pada 2
mata kuliah (hal 5), yang nantinya akan banyak dibahas secara lebih terperinci pada
sub judul berikutnya.
Keberhasilan Allen atas metode pemecahan masalah tersebut didokumentasikan
olehnya melalui penelitian tahap kedua yang dilakukan setelah perubahan pada
kurikulum program studi doktoral tersebut diimplementasikan. Penelitian tahap kedua
diadakan pada tahun 2003 oleh para mahasiswa sendiri. Menurut Allen, hal ini
dilakukan untuk menjamin keterbukaan dan kebebasan respon para mahasiswa itu
sendiri (hal 2). Data diperoleh melalui survey dan focus group interviews dengan 28
orang dari jumlah total 32 orang mahasiswa doktoral yang menempuh studi sejak
perubahan dilakukan secara terprogram oleh pihak program studi doktoral. Pertanyaan
dalam survey meliputi isu seputar keadilan sosial, ekuitas, pembelajaran terpusat pada
peserta didik, No Children Left Behind, dan pedagogik kritis untuk perbaikan lembaga
pendidikan (hal 3). Survey ini dilakukan untuk meminimalisir respon yang memaparkan
bagaimana keyakinan filosofis para responden mengalami perubahan sebagai implikasi
dari proses pembelajaran yang mereka lakukan, dan yang memaparkan bagaimana
pemahaman mereka mengenai hubungan antara teori dan praktek. Sedangkan focus
group interview juga dilakukan dengan pertanyaan seputar isu keadilan sosial, dan
aplikasinya pada program pendidikan doktoral tersebut, serta bagaimana mencapai
keadilan sosial di era yang begitu mengedepankan akuntabilitas seperti saat ini.

Responden pada penelitian tahap dua sangat menyukai program pendidikan doktoral
yang kurikulumnya memfokuskan diri pada isu keberagaman, pedagogik kritis, dan
demokratisasi. Berikut ini adalah hasil survey dari 28 orang responden:

85% dari keseluruhan responden memberikan indikasi respon bahwa mereka


mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai peran yang sangat penting dari
isu keberagaman dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat pada masa mendatang,
selama studi yang telah mereka tempuh.

88% responden menyatakan bahwa educational leaders harus memastikan


bahwa seluruh pendapat yang terkait dengan sekolah dan perubahan sistem secara
menyeluruh harus didengarkan.

93% responden merasa bahwa mereka memiliki tanggung jawab dalam


membuka peluang bagi seluruh stakeholder pada sekolah mereka.
Berikut ini adalah hasil dari focus group interviews berdasarkan 3 pertanyaan yang
dikemukakan pada responden:

Diindikasikan bahwa para responden menyadari bahwa mereka telah menyadari


bahwa dirinya telah mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai keadilan
sosial pada sekolah mereka, setelah menempuh studi pada program pendidikan
doktoral (hal 3).

Respon terhadap pertanyaan mengenai keadilan sosial di era akuntabilitas


sangatlah bervariasi dan sarat dengan berbagai macam pertanyaan (hal 3-4).

Terungkap dari hasil respon bahwa para mahasiswa tersebut yakin bahwa
pembelajaran mengenai keadilan sosial memiliki korelasi langsung dalam dalam
mengubah para educational leaders dalam kapasitasnya sebagai praktisi (hal 4).

Hasil dari seluruh jawaban responden mengindikasikan kebutuhan mereka yang


teramat sangat untuk studi lebih lanjut mengenai penelitian yang terkait dengan

keadilan sosial (hal 4), dan studi yang telah mereka tempuh tersebut selalu berimplikasi
pada aksi sosial yang mereka terapkan pada lembaga pendidikan mereka (hal 3-4).
Proyek inisiasi Allen tersebut dapat dikatakan cukup berhasil dalam mengubah
mahasiswa. Para mahasiswa yang dulunya hanya memiliki kesadaran magis dan naif,
beranjak berubah memiliki kesadaran kritis akibat studi yang telah mereka tempuh pada
program doktoral tersebut. Terbukti dari pernyataan seorang mahasiswa yang seolah
terkejut dengan realitas yang selama ini dipahaminya sebagai sesuatu parsial, My
understanding was embryonic; I tended to view injustices as isolated happenings; what
Ive come to understand is: social injustices is built into education as a wholeas long
as you are part of establishment you are part of the problem. And you have to break out
that mold to open your eyes (hal 3). Dan mahasiswa tersebut dapat diindikasikan telah
sampai pada kesadaran kritisnya, sebagaimana dikemukakan oleh Paulo Freire bahwa
kesadaran kritis adalah kesadaran manusia dalam melihat sistem dan struktur sebagai
sumber

masalah

menganalisis

dan

menghadapi

bagaimana

ia

ketidakadilan

bekerja,

dan

dengan

mengidentifikasinya,

bagaimana

mentransformasinya

(Topatimasang, dkk, 2001).


Sebagaimana dipaparkan oleh Giroux (Nuryatno, 2003), bahwa kurikulum tersembunyi
(hidden curriculum) pada sebuah lembaga pendidikan merujuk pada norma, nilai, dan
sikap bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial
di kelas maupun pada lingkungan lembaga pendidikan tersebut. Dalam artian yang
positif, saya sangat sepakat bahwa kurikulum gubahan Allen tersebut dapat menjadi
salah satu kekuatan yang cukup besar sebagai media pertumbuhan kesadaran kritis
mahasiswa mengenai isu seputar keadilan sosial dan demokrasi dalam dunia
pendidikan melalui bingkai The Moral Life of Schools.
Pada sub judul yang ketiga, Allen membahas mengenai isu keberagaman dan teori
kritis. Sebagaimana dikutip oleh Allen dari hasil penelitian Orozco, dinyatakan bahwa
sebagian besar proyeksi demografis memperkirakan bahwa pada tahun 2040, separuh
penghuni Amerika Serikat adalah penduduk yang dulunya adalah kaum minoritas. Dan
menurut Allen, kebanyakan program pendidikan pada perguruan tinggi tidak

mempersiapkan mahasiswa yang menjadi calon pimpinan lembaga pendidikan untuk


memahami dan menerima perubahan tersebut terkait implikasinya dengan sekolah
mereka (hal 4). Walaupun sebenarnya keberagaman yang dimaksud tidak hanya
sebatas keberagaman etnis dan budaya saja, melainkan termasuk pula keberagaman
ide yang tentunya lebih luas lagi cakupannya. Allen juga mengutip pernyataan McLaren
yang disepakatinya, bahwa teori kritis menjadi semacam kacamata bagi para pimpinan
lembaga pendidikan dalam merefleksikan secara kritis dan menganalisis asumsi dan
sistem kepercayaan mereka mengenai keberagaman, sementara itu teori kritis juga
membantu mereka dalam menemukan solusi yang lebih baik dalam praktek-praktek
persekolahan yang mereka jalani (hal 4). Lalu Allen mengakhiri tulisan pada sub judul
ketiga ini dengan menyatakan bahwa rangkuman data hasil penelitian yang ia lakukan
tentang evaluasi program studi doktoral yang diketuainya tersebut dan juga studi
pustaka yang relevan telah menjadi dasar bagi perubahan yang telah dilakukan oleh
program studi doktoral tersebut, yang hasilnya memang telah cukup kentara dalam
melakukan transformasi pada keyakinan dan praktek-praktek yang dilakukan oleh para
pimpinan lembaga pendidikan ini.
Pokok bahasan yang disampaikan oleh Allen pada sub judul ke empat adalah tentang
bagaimana menciptakan kelas yang demokratis. Sebagaimana diindikasikan dari hasil
penelitian tahap pertama, bahwa mahasiswa harus dipersiapkan dengan lebih baik
dalam menghadapi isu keberagaman, maka perubahan pada program studi doktoral
tersebut diawali dengan pengajaran mengenai keberagaman pada mata kuliah
pengantar dan seminar inter disipliner yang terarah pada ide, nilai, budaya dan isu
kontemporer yang mempengaruhi masyarakat secara umum, dan pendidikan secara
khusus, dan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai multikulturalisme,
ras, etnis, gender, dan penyandang cacat (hal 5). Dengan struktur silabus yang sangat
terbuka, dosen pengampu diarahkan agar tidak terfokus pada arti keberagaman secara
definitif melainkan pada implikasi keberagaman pada sekolah atau lembaga pendidikan,
dan bagaimana para pimpinan lembaga pendidikan dapat mewadahi keberagaman
menjadi hal yang positif bagi peserta didik dan warga sekolah lainnya. Allen berharap
untuk mengaplikasikan konsep John Dewey mengenai konsep pendidikan yang

demokratis dalam kelas program pendidikan doktoral yang diketuainya, sebab itulah ia
cukup banyak mengulas secara terperinci mengenai praktek pendidikan yang
demokratis ala John Dewey dalam jurnalnya (hal 6-7).
Pada sub judul selanjutnya, Allen menguraikan dengan cukup jelas mengenai proyek
pengerjaan tugas yang bertajuk The Moral Life of Schools yang diterapkan pada
program pendidikan doktoral tersebut (hal 7-9). Proyek pengerjaan tugas tersebut
bertujuan untuk mengembangkan sense of community mahasiswa melalui kenyataan
yang

terjadi

di

sekolah

mereka

masing-masing,

lalu

menganalisisnya,

dan

mengidentifikasi isu sosial, politik, dan permasalahan yang dihadapi oleh kurikulum
sekolah. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa kerangka yang digunakan
dalam proyek penugasan tersebut adalah buku The Moral Life of Schools sebagai alat
untuk menganalisis prioritas-prioritas sekolah dengan kacamata kepemimpinan yang
bermoral (hal 7). Berdasarkan buku tersebut, 13 orang mahasiswa program pendidikan
doktoral tersebut mengerjakan sebuah proyek investigasi mengenai ekspresi moral dari
isu keadilan sosial dalam subkultur kurikulum dari beberapa sekolah secara kualitatif
(hal 7). Investigasi yang dilakukan meliputi observasi kelas yang dilakukan selama 8
minggu di sekolah, dan hal ini tentunya menjadi tidak mudah bagi para pimpinan
lembaga pendidikan tersebut (hal 8). Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh para
mahasiswa tersebut, banyak yang merasa sangat terkejut dengan berbagai
ketidakadilan yang secara nyata terjadi di sekolah mereka, semisal dengan
pembunuhan karakter siswa melalui marjinalisasi yang dilakukan oleh guru, metode
drilling dan hapalan yang dilakukan oleh guru untuk sekedar mengejar nilai tes
kelulusan, dan tidak adanya pendidikan moral yang ditanamkan oleh guru pada siswa
(hal 8). Fakta-fakta hasil pengamatan para mahasiswa ini sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Dehumanisasi pendidikan dengan tidak
memanusiakan peserta didik melalui metode hapalan dan tes-tes kelulusan malahan
selalu didukung oleh kebijakan pemerintah, begitu pula dengan yang terjadi di
Indonesia. Masih segar dalam ingatan, kasus gugatan terhadap pemerintah karena
implementasi kebijakan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dianggap merugikan para
peserta didik yang terjadi pada awal tahun 2007. Dalam putusannya, Majelis hakim

Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat pemerintah sebagai tergugat telah dinyatakan
lalai memenuhi hak pendidikan warga negara dan diwajibkan meninjau ulang sistem
pendidikan nasional, memperbaiki mutu guru, sarana pendidikan dan penyebaran
informasi yang tidak sama di seluruh daerah sebelum pelaksanaan UAN selanjutnya.
Selain itu, pemerintah juga diperintahkan untuk menyerap aspirasi dari masyarakat
dalam menyusun kebijakan sistem pendidikan nasional. Namun, kenyataan pada hari
ini berbicara lain, pasalnya, hingga tahun ajaran 2008-2009 ini pun, pemerintah tetap
saja mengadakan ujian berstandar nasional yang digunakan sebagai standar penentu
kelulusan peserta didik yang secara terang-terangan juga bertentangan dengan
implementasi KTSP.
Pendidikan yang memanusiakan manusia tentunya tidak akan menggunakan sistem
penilaian secara kuantitatif hanya untuk sekedar mengukur kemampuan peserta didik
secara kognitif. Sebab education is not schooling sehingga pendidikan terjadi
sepanjang hayat dan kehidupanlah yang berhak menilai peserta didik atau individu
tersebut. Tidak sedikit kasus peserta didik yang mengalami depresi karena adanya
proses penilaian dalam lembaga pendidikan mereka yang jelas sekali merugikan
mereka secara psikologis. Melongok pada sistem pendidikan Finlandia yang sering
disebut-sebut sebagai sistem pendidikan terbaik di dunia, peserta didik malah menjadi
sangat berkembang. Evaluasi yang mereka lakukan pada peserta didik, hasilnya
digunakan untuk menilai keberhasilan tenaga pendidik dan lembaga pendidikan dalam
proses pendidikan dan bukan digunakan untuk menilai keberhasilan siswa menghapal
ilmu pengetahuan yang ditransfer dari tenaga pendidik dan buku teks pelajaran semata,
yang tentu saja mengabaikan maksim moral Immanuel Kant. Jelas sekali bahwa sistem
pendidikan di Finlandia sangatlah memahami definisi assesment in education secara
filosofis, yaitu untuk mengevaluasi keberhasilan lembaga pendidikan, sebagaimana
diungkapkan oleh Alexander W. Austin, sehingga sekolah tidak berfungsi sebagai
produsen angka-angka yang sangat merendahkan peserta didik dan mempersempit
makna proses pendidikan.
Menurut Allen dalam pokok bahasannya pada sub judul terakhir, memang tidak ada
jaminan bahwa perubahan program dan kurikulum yang diadakan pada program

pendidikan doktoral yang diketuai olehnya dapat berimplikasi lebih luas dari sekedar
mahasiswa-mahasiswa tersebut (hal 9). Namun, saya sepakat dengan apa yang
dikemukakan oleh Allen bahwa bila kita ingin melakukan sebuah perubahan, maka kita
harus memulainya pada suatu tempat, entah dimanapun tempatnya. Ia menyimpulkan
bahwa pendidik harus memiliki pemikiran yang kritis sehingga dapat menganalisis
praktek-praktek yang memarjinalisasikan siswa dan mengistimewakan siswa lainnya
(praktek ketidakadilan), dan kompetensi pendidik yang demikian akan dapat dicapai bila
program pendidikan pada perguruan tinggi mempersiapkan kurikulum yang akan
melahirkan pendidik yang berparadigma kritis. Dan dengan kompetensi tersebut,
harapannya mahasiswa yang menjadi pimpinan lembaga pendidikan atau administrator
sekolah maupun pendidik dapat menularkan kesadaran kritisnya pada warga sekolah
lainnya (hal 9-10). Sehingga jumlah individu yang tersadarkan secara kritis akan
semakin meluas.
Penelitian yang dilakukan oleh Allen ini sangatlah efektif bagi saya dalam memahami
bahwa pengembangan kompetensi profesi tenaga pendidik dan kependidikan akan
dengan sendirinya dilakukan oleh individu-individu tersebut secara sadar bila mereka
disadarkan melalui

program

pendidikan

yang

melahirkan

mereka.

Sehingga

pengembangan kompetensi profesi tersebut secara utama, sebenarnya merupakan


tanggung jawab lembaga pendidikan tenaga pendidik dan kependidikan. Dan bila
lembaga-lembaga pendidikan tersebut tidak segera memutus siklus dehumanisasi yang
diusung oleh paham neoliberal dewasa ini, maka proses penjinakan budaya dan
dehumanisasi yang terjadi di sekolah-sekolah akan terus berlangsung.