Anda di halaman 1dari 10

A.

HIMPUNAN
Himpunan dinyatakan dengan huruf-huruf besar cetak seperti A, B, C, ..., X, Y, Z.
Untuk unsur-unsur atau anggota himpunan kita gunakan huruf-huruf Latin kecil, misalnya a,
b, c, dan sebagainya.
Lambang keanggotaan adalah

, sedangkan lambang bukan anggota digunakan

. Jadi misalnya x suatu unsur/anggota dari himpunan A ditulis x

A, dan jika y

bukan anggota dari himpunan B ditulis y B.


Ada 2 cara untuk mengungkapkan suatu himpunan. Yang pertama adalah cara
pendaftaran dan yang kedua dengan cara pemerian. Jika kita ingin mengungkapkan suatu
himpunan dengan cara pertama maka semua anggotanya didaftarkan di antara kurung
kurawal misalnya misalnya A = { a, b, c, d, }. Hal ini dapat kita lakukan dengan baik bila
himpunan yang kita bangun itu anggotanya hanya sedikit. Bila anggotanya banyak, atau
banyak sekali lebih-lebih tak hingga banyaknya, untuk menggunakan cara ini mesti diakhiri
dengan tiga titik. Misalnya himpunan semua bilangan asli yang dilambangkan dengan N,
maka
N = { 1, 2, 3, ...}
Untuk menggunakan suatu himpunan dengan caraa kedua yaitu cara pemerian, maka
dituliskan dalam bentuk sebagai berikut:
A = {y | keterangan tentang y, yang merupakan syarat keanggotaan bagi himpunan A}
Sebagai contoh himpunan A adalah himpunan semua mahasiswa FMIPA IKIP Medan, maka
kita tuliskan sebagai berikut:
A = { x | x mahasiswa FMIPA IKIP Medan}
Untuk menyatakan suatu himpunan dengan cara pemerian kadang-kadang penjelasan
mengenai keanggotaan ditulis di depan garis misalnya himpunan S adalah himpunan yang
beranggotakan semua bilangan nyata yang kuadratnya lebih kecil atau sama dengan -1.
Ditulis sebagai berikut: S = {s R | s2 -1}

Definisi A-1:
Suatu himpunan yang tidak mempunyai anggota dinamakan himpuan hampa atau
himpunan kosong, dilambangkan dengan { } atau .

Contoh:
1.
2.

= {s R | s2 -1}
= { x | x manusia yang tingginya lebih dari 4 meter}

Definisi A-2:
Suatu himpunan X dikatakan merupakan himpunan bagian dari himpunan Y, jika
setiap anggota dari himpunan X merupakan anggota dari himpunan Y, yang dilambangkan
dengan X

Y. Misalnya X = {s

Bilangan bulat | s2 = 4} dan Y = { -2, -1, 0, 1, 2}.

Dilukiskan pada gambar 1.1 berikut ini:


Y
.0

.-1

.-2

.2

.1

Gambar 1.1 Menunjukkan Himpunan Bagian


Jadi X Y artinya untuk sembarang x

X maka x Y dengan pengertian

ini maka benar juga pernyataan X X.


X

Y artinya untuk sembarang x

x X x

X maka x

Y. Secara matematis, ditulis X

Y.

Definisi A-3:
Himpunan A dikatakan proper subset dari B jika A
dilambangkan A B.

Definisi A-4:
A = B jika dan hanya jika A B dan B A

B dan A tidak sama dengan B

Dari definisi di atas terlihat jelas jika kita ingin membuktikan kesamaan dari suatu himpunan,
misalnya A = B maka kita harus menunjukkan bahwa untuk sembarang a

A maka a

B dan untuk sembarang b B maka b A.

Misalnya A = { 1, 2, 3, 4, 5 } dan B = { 3, 4, 1, 2, 5 }

B
.1

.2
.3
.5
Gambar 1.2. Menunjukkan dua Himpunan yang sama
.4
Teorema A-1
A untuk setiap himpunan A (Bukti untuk pembaca).

Akibat teorema di atas:


Terdapat satu dan hanya satu himpunan kosong.
Bukti dari akibat teorema di atas akan diuraikan berikut ini.
Bukti:

Andaikan terdapat dua himpunan kosong yaitu 1 dan 2.


= himpunan kosong maka
(teorema A-1)
1
1
2

= himpunan kosong maka

(teorema A-1)

Dari definisi kesamaan dua himpunan terbukti bahwa

B. HIMPUNAN SEMESTA DAN HIMPUNAN KOMPLEMEN


Untuk membatasi semesta pembicaraan maka perlu diperkenalkan suatu himpunann
yang dinamakan dengan himpunan semesta atau himpunan universal. Misalnya dalam
permasalahan bilangan, maka himpunan semestanya adalah himpunan semua bilangan,
demikian halnya jika terkait dengan matriks maka himpunan semestanya adalah himpunan
semua matriks. Untuk menyatakan himpunan semesta biasa digunakan huruf S atau U.
Sebagai contoh, X = {1, 2, 3} maka himpunan semestanya dapat ditulis sebagai S =
himpunan bilangan Asli.
Dengan demikian himpunan semesta dapat didefinisikan sebagai berikut:

Gambar 1.3. Menunjukkan Himpunan Semesta


Dengan demikian himpunan semesta dapat didefinisikan sebagai berikut:
Definisi B-1
Suatu himpunan yang memuat semua elemen di dalam semesta pembicaraan disebut
Himpunan Universal atau Himpunan Semesta.
Contoh:
1. Z = Himpunan bilangan bulat = { ..., -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}
2. Q = Himpunan bilangan rasional = { b/a | a, b , a 0}
Di samping himpunan semesta, terdapat himpunan baru yang dikenal dengan nama
himpunan komplemen, dilambangkan dengan AC.
Definisi B-2
S himpunan semesta, dan A suatu himpunan bagian dari S (A

S) maka unsur-unsur

yang bukan anggota A disebut komplemen dari himpunan A.


Ac = { x S | x A}

S
A

Gambar 1. 4. Menunjukkan Himpunan Komplemen


AC
Teorema B-1:
Jika A B maka BC AC
Untuk membuktikan teorema di atas maka pertama kita ambil sembarang elemen dari B C dan
dengan menggunakan syarat A

B maka elemen tersebut harus ditunjukkan merupakan

elemen dari AC.


Bukti:

Ambil sembarang x BC maka x U dan x .... B


Dari x ... B dan karena A B maka pasti x .... A
Dari x ... A maka x AC ( Anda diharapkan dapat mengisi ....)

Teorema B-2:

1. Jika BC AC maka A B (Bukti untuk pembaca)


2. (AC)C = A, A (Bukti untuk pembaca)

C. OPERASI-OPERASI HIMPUNAN
Definisi C-1:

Gabungan dari dua himpunan A dan B (Dinyatakan dengan A B adalah: A B = {x


| x A atau x B }

Gambar 1.5. Menunjukkan Gabungan Dua Himpunan


Definisi C-2:

Irisan dari dua himpunan A dan B (dinyatakan dengan A

B) adalah: A

B = {x | x

A atau x B }

Gambar 1.6. Menunjukkan Irisan Dua Himpunan


Jika himpunan A dan B salin lepas (disjoint) atau tidak mempunyai elemen persekutuan dari
kedua himpunan A dan B. Dalam masalah ini A B =

Definisi C-3:

Selisih dari dua himpunan A dan B (dinyatakan dengan A

B) adalah A

B = {x | x

A atau x B }

Gambar 1.7. Menunjukkan Selisih Dua Himpunan


Definisi C-4:
Selisih Simetrik (Symmetric difference) A dan B dinotasikan dengan A B adalah himpunan
yang terdiri dari semua elemen di A atau di B tetapi tidak dalam keduanya. Jadi A B = {x |
x A atau x B) dan ( x A B}

Gambar 1.8. Menunjukkan Selisih Simetri Dua Himpunan


Selanjutnya berikut ini sifat-sifat Gabungan dan Irisan yang dicakup dalam sebuah teorema.
Teorema C-1:
1. A A = A,

A(

A Baca Untuk setiap A)

A A = A, A
= A, A
2. A
A = , A
3. A B = B A, A & B
A B = B A, A & B
4. A B A, A & B
A A B, A & B
5. A B = A jika dan hanya jika A B

A B = B jika dan hanya jika A B


6. Jika A B dan A C maka A B C
7. (A B) C = A (B C)
(A B) C = A (B C)
8. A (B C) = (A B) (A C)
A (B C) = (A B) (A C)
9. (A B)c = Ac Bc (Hukum De Morgan I)
(A B)c = Ac Bc
10. A, B S, A B = jika dan hanya jika A B = A B
Sebagai contoh akan dibuktikan teorema C-1 nomor 5.
A B = A jika dan hanya jika A B
Bukti:
Untuk setiap pernyataan Jika dan hanya jika maka akan ditunjukkan dua hal, yaitu:
1. A B = A A B (Baca jika A B = A maka A B)
2. A B A B = A
Bukti (1):
Diketahui: A B = A
Akan ditunjukkan A B (

x A maka x B)

Ambil sembarang x A karena A = A B maka x A B


Dari x A B maka x A dan x B
Terbukti

x A maka x B artinya A B

Bukti (2):
Diketahui: A B
Akan ditunjukkan a. A B A dan b. ........
a. A B A ( x ..... maka x ......)
Ambil sembarang x ...... maka x ....... dan x B. Jadi x A

b. Anda dapat mencobanya!


Bukti teorema yang lain untuk pembaca.
Jika terdapat n buah himpunan misalnya A1, A2, A3, ...., An maka irisannya adalah A1
n

A2

A3

A.

.....

An, dapat disingkat menjadi

i 1

Begitu pula dengan gabungannya A1 A2 A3 .....

A , dapat disingkat
n

A.
i

i 1

menjadi

Ai
i

Bila banyaknya himpunan tak berhingga maka irisannya dituliskan sebagai

Ai
Demikian pula dengan Gabungannya

Pada Teorema C-1 bagian 9 (Hukum De Morgan I) tidak hanya berlaku untuk dua
himpunan saja tetapi berlaku umum atau dapat diperluas menjadi n buah himpunan bahkan
berlaku juga untuk suatu koleksi himpunan tak hingga. Hal itu dapat dilihat pada teorema
DeMorgan II, namun sebelumnya perlu dibicarakan sedikit tentang keanggotaan suatu irisan
maupun gabungan. Jika E suatu koleksi himpunan, misalnya E = { A } maka:

x A

x A

x A

artinya

i ( Baca untuk setiap i) dan

x A

artinya

x A

untuk suatu i atau dapat juga dikatakan terdapat i

= baca sedemikian hingga) adalah:

Sedangkan ingkarannya

x A
i

i x A

x A

artinya

(Baca terdapat i sedemikian hingga

x A

x A

artinya

i (Baca untuk setiap i, x bukan anggota Ai).

Teorema C-2: (Hukum De Morgan II)

Ai

(i)
Bukti:

(ii)

C
i

Ai

Ai

(i)
Akan ditunjukkan:

Ai
a.

Seperti pada contoh terdahulu bukti pada bagian a ini akan ditunjukkan bahwa

Ai

x A

maka

Ai

Ambil sembarang

Ai

berarti x ......

Menurut definisi x

x A

Ai

i berarti x ......... AiC

Terbukti

b.

x Ai
i

i artinya
C

x A

maka

Ai

artinya

Ai

x
Akan ditunjukkan:

....... maka

..........

Ambil sembarang

........... berarti x

x A

Menurut definisi

ini berarti

x A

Terbukti

Ai ,

x Ai
i

i maka x

Ai

maka

.........

Ai
artinya