Anda di halaman 1dari 79

ALAT-ALAT UKUR LISTRIK

OLEH
WIDAYANTI,M.Si

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA

1
KATA PENGANTAR

Buku mengenai alat-alat ukur elektronika yang kami sajikan ini untuk
kalangan yang memilih jalur profesi keteknikan maupun fisika. Pengetahuan
mengenai alat-alat ukur elektronika sangatlah penting terutama untuk menunjang
penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan
berkompetensi di bidangnya. Alat-alat ukur elektronika merupakan bagian penting
dalam pengukuran besaran listrik yang memberikan kontribusi dalam
perkembangan teknologi untuk pembangunan.
Kami mengharapkan buku ini dapat diterima dan mendapatkan tempat
serta dapat menjadi bahan bacaan tambahan terutama untuk pendidikan menengah
maupun pada pendidikan tinggi serta mereka yang berminat memperdalam materi
alat-alat ukur listrik dan pengukuran listrik.
Isi buku ini kami peroleh dan kami sarikan dari berbagai sumber baik
berupa buku teks maupun penelusuran di beberapa situs internet. Kami juga
mengharapkan dengan membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan
pemahaman yang cukup secara mandiri.
Selama penulisan buku ini, kami menyadari adanya keterbatasan
pengetahuan kami, sehingga adanya kritikan yang membangun terhadap
kekurangan-kekurangan buku ini dan saran dari pembaca Insya Allah akan kami
terima dengan lapang dada dan kami jadikan acuan untuk menjadi lebih baik.
Semoga buku ini bermanfaat. Amiin

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENGGOLONGAN ALAT UKUR LISTRIK
A. Alat Ukur Absolut dan Sekunder 1
B. Alat Ukur Elektronika berdasarkan Prinsip Kerjanya. 2
C. Simbol-simbol Rangkaian Alat Ukur Sekunder 3
D. Alat-alat ukur yang biasa digunakan 3
untuk pengukuran-pengukuran
E. Penggolongan Alat ukur Arus /Tegangan,
daya, dan Energi berdasarkan Cara kerjanya 4

BAB II. ALAT UKUR MENUNJUK


A. Torsi Penyimpang 5
B. Torsi Pengontrol 5
C. Torsi Peredam 8

BAB III. ALAT UKUR KUMPARAN PUTAR


A. Struktur alat ukur kuparan putar 9
B. Prinsip kerja 11
C. Kelebihan dan kelemahan alat ukur kumparan putar 13
D. Pengukur Arus (Ammeter) kumparan putar 14
E. Pengukur Tegangan (Voltmeter) kumparan putar 15

BAB III. ALAT UKUR KUMPARAN BESI PUTAR


A. Prinsip kerja 17
B. Ammeter dan Voltmeter besi putar jenis tolak 19
C. Peredaman 20

3
D. Alat ukur frekuensi besi putar 22
E. Perluasan batas ukur alat ukur besi putar 22

BAB IV. ALAT UKUR DENGAN THERMOCOUPLE


A. Prinsip kerja 25

BAB V. ALAT UKUR INDUKSI


A. Prinsip kerja 27
B. Ammeter induksi 28
C. Voltmeter induksi 33
D. Kelebihan dan Kelemahan 34

BAB VI. ALAT UKUR ELEKTROSTATIS


A. Prinsip kerja 35
B. Kelebihan dan Kelemahan 37
C. Voltmeter Elektrostatis 37

BAB VII. ALAT UKUR ELEKTRODINAMIS


A. Prinsip kerja 39
B. Ammeter elektrodinamis 41
C. Voltmeter elektridinamis 41
D. Kelebihan dan Kelemahan 42

BAB VIII. WATTMETER (ALAT UKUR DAYA LISTRIK)


A. Wattmeter elektrodinamis 43
B. Wattmeter digital 45
C. Wattmeter induksi 46
D. Wattmeter thermocouple 47

BAB IX. GALVANOMETER


A. Prinsip kerja 49

4
B. Galvanometer Refleksi 50

BAB X. OSILOSKOP
A. Osiloskop analog / ART 53
B. Osioskop digital / DSO 57
C. Osiloskop sampling 59
D. Kelebihan dan Kelemahan 61

BAB XI. GENERATOR SINYAL 63

BAB XII. MULTIMETER 65

BAB XII. ALAT-ALAT UKUR DIGITAL


A. Voltmeter digital 67
B. Ammeter digital 70
C. Frekuensimeter digital (Frequency counter type) 71

BAB I. PENGGOLONGAN ALAT UKUR LISTRIK

5
Elektronika merupakan ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang
dioperasikan dengan cara mengontrol aliran electron atau partikel bermuatan
listrik dalam suatu alat seperti computer, peralatan elektronik, termokopel,
senikonduktor dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini
merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan
sirkuit elektroniknya adalah bagian dari tenik elektro, teknik computer, dan
ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi. Alat-alat yang menggunakan dasar
kerja elektronika ini biasanya disebut sebagai peralatan elektronik (electronic
devices). Contoh peralatan/ piranti elektronik ini : Tabung Sinar Katoda ( Cathode
Ray Tube, CRT), radio, TV, perekam kaset video (VCR), perekam VCD, perekam
DVD, kamera video, kamera digital, computer pribadi desk-top, computer Laptop,
PDA (computer saku), robot, smart card, dan lain sebagainya.
Besaran listrik yaitu arus dan tegangan listrik serta daya tidak dapat secara
langsung ditangkap oleh panca indra kita, sehingga besaran-besaran listrik
tersebut perlu ditransformasikan melalui fenomena fisis yang memungkinkan
panca indra kita untuk menangkap nilai besaran listrik tersebut. Arus listrik dapat
ditransformasikan ke dalam besaran mekanis yaitu dengan adanya rotasi suatu
penunjuk melalui suatu sumbu tertentu. Besar sudut rotasi berhubungan langsung
dengan nilai arus listrik yang diamati. Disamping arus listrik, masih pula besaran
listrik yang lain seperti tegangan listrik, daya, energi, frekuensi dan sebagainya.

A. Alat Ukur Absolut dan Sekunder

Alat-alat ukur elektronika adalah alat ukur yang biasa digunakan dalam
pengukuran-pengukuran yang berhubungan dengan elektronika. Suatu alat ukur
harus digunakan dengan baik dan benar dan layak digunakan. Alat-alat ukur
elektronika dapat digolongkan menjadi dua yaitu alat ukur absolut dan alat ukur
sekunder. Alat ukur absolute adalah alat ukur yang memberikan nilai terukur
besaran listrik dalam pengertian konstanta dan penyimpangan alat ukur saja
sehingga tidak disertai dengan kalibrasi atau perbandingan, seperti galvanometer-

6
tangen yang mengukur nilai arus dalam satuan tangent dari penyimpangan yang
dihasilkan oleh arus, jari-jari dan jumlah lilitan kawat yang digunakan dan
komponen horizontal medan bumi. Alat ukur ini biasanya hanya digunakan pada
laboratorium sebagai alat ukur standar
Alat ukur elektronik yang biasanya ada di laboratorium antara lain adalah:
1. Voltmeter AC dan DC
2. Ammeter AC dan DC
3. Ohmeter
4. Wattmeter AC dan DC
5. Multimeter
6. Galvanometer
7. Osciloscope (CRO)

Alat ukur sekunder adalah alat ukur yang memberikan nilai terukur besaran
listrik yang dapat ditentukan dari penyimpangan alat ukur apabila dikalibrasi
lebih dahulu dengan alat ukur absolute. Alat;alat ini biasanya dipakai pada alt
ukur kerja.

B. Alat Ukur Elektronika berdasarkan Prinsip Kerjanya.

Alat-alat ukur elektronika dapat dibedakan juga menurut efek-efek yang


digunakan dalam pengoperrasiannya, yaitu:
1. Efek Elektrostatis untuk voltmeter sebagai alat ukur tegangan listrik
2. Efek Elektrodinamis untuk Ammeter sebagai alat ukur arus listrik dan
Voltmeter, Wattmeter
3. Efek Elektromagnetis untuk Ammeter, voltmeter Wattmeter dan Watt-Jam
meter
4. Efek magnetis untuk Ammeter dan Voltmeter
5. Efek Panas, untuk Ammeter dan Voltmeter
6. Efek Kimia untuk Ampere-jam meter arus searah

7
C. Simbol-simbol Rangkaian Alat Ukur Sekunder

Alat ukur sekunder terdiri dari tiga yaitu alat ukur menunjuk, Alat ukur
mencatat, dan Alat ukur terintegrasi.
Alat ukur menunjuk akan menunjukkan nilai sesat pada saat dilakukan
pengukuran. Alat ukur mencatat akan menunjukkan hasil pengukuran dari
rekaman variasi jumlah listrik terus menerus selama waktu tertentu. Alat ukur
terintegrasi adalah alat ukur yang mengukur dan mencatat dengan suatu
perangkat piringan yang diberi angka dan penunjuk jumlah listrik total (ampere-
jam) atau jumlah total dari energi listrik (kilo watt-jam) yang digunakan oleh
suatu rangkaian pada waktu tertentu. Jumlah tersebut merupakan hasil kali antara
waktu dengan jumlah listrik

D. Alat-alat ukur yang biasa digunakan untuk pengukuran-pengukuran

Pada table di bawah ini diperlihatkan contoh-contoh alat-alat ukur penunjuk


listrik

Tabel 1. Simbol sistem alat ukur elektronika

Simbol Sistem

8
E. Penggolongan Alat ukur Arus /Tegangan , daya, dan Energi berdasarkan
Cara kerjanya
Berdasarkan cara kerja dan susunannya, jenis alat ukur listrik dapat
digolongkan sebagai berikut:
1. Jenis Kumparan putar
Untuk Ammeter dan Voltmeter DC dan AC
2. Jenis Besi putar
Untuk Ammeter dan Voltmeter DC dan AC (jenis tolak dan jenis tarik )
3. Jenis induksi
Untuk Ammeter dan Voltmeter AC
4. Jenis kawat panas
untuk Ammeter dan Voltmeter Dc dan AC
5. Jenis elektrostatis
hanya untuk Voltneter DC dan AC

BAB II. ALAT UKUR MENUNJUK

9
Alat ukur menunjuk merupakan alat ukur yang langsung memberikan nilai
pengukuran besaran lustrik pada skala yang yang dapat dibaca dengan jelas dan
akan menunjukkan harga besaran listrik yang diukur pada saat itu. Alat ukur ini
terdiri dari suatu penunjuk yang dapat bergerak sepanjang skala yang dikalibrasi,
dan disambungkan dengan system berputar dari alat ukur yang mempunyai
bantalan batu permata. Sistem berputar dari alat ukur tersebut dikenai torsi-torsi
sebagai berikut:
1. Torsi penyimpang
2. Torsi Pengontrol
3. Torsi Peredam

A. Torsi Penyimpang

Efek elektrostatis, elektrodinamis, magnetis, induktif, panas merupakan


beberapa efek yang dapat menghasilkan torsi penyimpang. Torsi ini menyebabkan
system yang berputar, bergerak dari posisi nol. Demikian juga penunjuk yang
terpasang pada system juga ikut bergerak dari posisi nolnya. Posisi nol adalah
posisi pada saat alat ukur tidak dipakai.

B. Torsi Pengontrol

Torsi pengontrol digunakan untuk mengontrol penyimpangan system yang


berputar supaya tidak berputar terus menerus, sehingga torsi pengontrol ini
berlawanan arah dengan torsi penyimpang. Petunjuk yang terpasang pada system
dihentikan pada suatu posisi di mana torsi penyimpang dan torsi pengontrol
seimbang.. Torsi penyimpang akan menjadi patokan dimana variasi magniu=tude
dari arus akan menghasilkan penyimpangan system yang bergerak pada proporsi
sesuai dengan ukurannya masing-masing. Jika tidak ada torsi pengontrol,,
penunjuk pada system akan bergerak pada posisi maksimum dari magnitude arus
yang diukur, dan meskipun arus sudah dihilangkan, penunjuk tidak akan kembali
ke posisi nol. Tori yang dapat mengontrol antara lain adalah pegas dan grafity

10
(pemberat).
1. Kontrol Gravity (Pemberat)

Untuk memperoleh kontrol pemberat, diperlukan sebuah pemberat kecil


(balance mass) yang dipasangkan dan dapat diatur pada sistem yang berputar
sehingga torsi penyimpang seimbang dengan arah yang berlawanaan dengan torsi
pengontrol. Hal ini ditunjukkan oleh gambar 1 di bawah ini :

Gambar 1. Kontrol gravity pada alat ukur menunjuk

Torsi Pengontrol (Tc) sebanding dengan sudut simpangan


T c∞ sin θ
Penyekrupan pemberat ke atas atau ke bawah system mengatur tingkatan
pengontrolan jika kontrol pegas (Td) sebanding dengan 1
Td ∞ 1
Sehingga pada posisi berhenti

11
Tc = Td atau 1 ∞ sin θ

Untuk θ mencapai 90, jarak AB meningkat relative kecil untuk perubahan sudut

tertentu dibandingkan bila θ baru saja meningkat dari nol sehingga alat ukur yang
dikontrol dengan pemberat mempunyai skala tidak rata

2. Kontrol Pegas

Kontrol pegas biasanya diperoleh dari bahan pospor-perunggu atau biasa


disebut dengan pegas rambut. Pegas dibuat dari bahan non magnetis, tidak mudah
lembek, mempunyai tahanan jenis yang rendah dan mempunyai koefisien suhu
tahanan yang rendah pula. Kontrol pegas ini dipasangkan pada system yang
berputar pada alat ukur. Penyimpangan jarum penunjuk menyebabkan peas
terpuntir pada arah yang berlawanan dengan simpangan. Puntiran ini
menimbulkan simpanan torsi yang sebanding dengan sudut penyimpangan dari
system yang berputar. Jika terjadi keseimbangan antarar torsi penyimpang dengan
torsi pengontrol maka jarum penunjuk akan berhenti. Hal ini ditunjukkan pada
gambar 1 pada sub bab kontrol pegas

Untuk control pegas Tc ∞ θ dan Td ∞ 1

Karena Tc = Td

maka θ ∞1

Karena simpangan sebanding dengan arus 1, maka alat ukur mempunyai


nilai linier. Untuk memperoleh kesebandingan antara torsi pengontrol dengan
sudut simpangan, maka pegas yang dipasangkan harus mempunyai jumlah lilitan
yang cukup banyak sehingga sudut deformasi per satuan panjang pada skala
penuh menjadi kecil. Harus diperhatikan juga bahwa reganggan pegas yang terjadi
harus dapat diatasi sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya setting yang
permanent.
Kontrol pegas ini mempunyai kelebihan dibandingkan dengan control pemberat
yaitu memberikan skala yang linier, tetapi kekurangannya adalah terpengaruh
dengan suhu dan dalam pemakaian yang cukup lama akan lembek.

12
C. Torsi Peredam

Jika sistem alat ukur bergerak, terdapat gaya yang beraksi berlawanan arah
dengan arah gerakan system. Gaya tersebut adalah Gaya peredam yang dapat
menghentikan jarum penunjuk dengan cepat. Tanpa adanya gaya peredam ini,
jarum penunjuk akan mengalami getararn di sekitar posisi akhir simpangan
beberapa saat sebelum berhenti. Hal ini disebabkan adanya sifat inert atau
kelembaman dari system yang berputar tersebut.Akan tetapi gaya peredam ini
harus diatur pada suatu nilai yang cukup membuat jarum penunjuk naik dengan
cepat pada posisi yang tidak melampaui penyimpangan. Jika peredamannya
melampaui nilai tersebut , maka akan membuat alat ukur ttersebut lambat. Gaya
peredam dapat diperoleh dari gesekan udara, arrus Eddy dan gesekan cairan. Pada
gambar diperlihatkan metode peredamannya

Gambar 2. Metode peredaman


BAB III ALAT UKUR KUMPARAN PUTAR

A. Struktur alat ukur kuparan putar

Alat ukur kumparan putar adalah alat pengukur, yang bekerja atas dasar

13
adanya suatu kumparan listrik, yang ditempatkan pada medan magnet, yang
berasal dari suatu magnet pemanen. Arus yang dialirkan melalui kumparan akan
menyebabakan kumparan tersebut berputar. Alat ukur kumparan putar adalah alat
ukur yang penting yang dipakai untuk bermacam arus, yaitu arus searah, arus
bolak-balik. Konsep struktur alat ukur kumparan putar (permanent magnetic
moving coil instrument) adalah sebagai berikut:

Gambar 3. Konsep struktur alat ukur kumparan putar

Pada dasarnya Alat kumparan putar ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian
yang bergerak dan bagian yang diam. Bagian yang bergerak terdiri dari kumparan
putar, jarum penunjuk dan beban penyeimbang. Sedangkan bagian yang diam
terdiri dari medan karena magnet permanen, pegas atau per serta penyangga.
Kontruksi alat ukur kumparan putar ditunjukkan pada gambar 4.
Dalam alat ukur kumparan putar, pada umumnya kumparan putarnya
dibuat dari kerangka berbahan aluminium tembaga atau alumunium halus dan
berosilasi.

14
Gambar 4. Alat kumparan putar terdiri dari kumparan putar, jarum penunjuk,
beban penyeimbang, magnet permanent, pegas dan penyangga

Kumparan diletakkan di antara magnet permanent pada suatu inti besi


yang berbentuk silinder agar arah dari medan magnet selalu tegak lurus terhadap
kumparan putar
Jarum penunjuk merupakan bagian yang menunjukkan besarann dari suatu
hasil pengukuran. Terdapat dua jenis jarum penunjuk yaitu jarum penunjuk yang
tipis untuk alat ukur dengan ketelitian tinggi dan jarum penunjuk yang tebal untuk
memudahkan pembacaan dari kejauhan dan biasanya diletakkan pada panel listrik.
Beban penyeimbang diletakkan di belakang jarum penunjuk yang
berfungsi sebagai penyeimbang sehingga poros penyangga jarum penunjuk berada
tepat di titik beratnya. Tujuan diberikannya beban penyeimbang ini adalah untuk
mengurangi gesekan serta goncangan pada jarum penunjuk ketika menyimpang
atau berdefleksi.
Magnet permanent yang diberikan berguna untuk membangkitkan medan
magnet di sekitar kumparan putar dan akan menimbulkan momen gerak pada
kumparan putar apabila dialiri arus.
Penyangga pada alat ukur kumparan putar ini berfungsi untuk menahan berat
kumparan putar beserta jarum penunjuknya. Gesekan yang terjadi antara
penyangga (jewel) dengan poros perputarannya (pivot) harus diusahakan sekecil
mungkin.
Pegas atau per yang dipasang pada alat ukur kumparan putar ini berfungsi

15
untuk memberikan momen perlawanan terhadap momen gerak sehingga didapat
suatu keseimbangan momen atau gaya pada harga penunjuknya.
Skema prinsip kerja alat ukur kumparan putar pada pengukuran besaran
listrik arus searah dan bolak balik ditunjukkan pada gambar 5 berikut:
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200
000000050000000c020910a00b040000002e0118001c000000fb02100007000000
0000bc02000000000102022253797374656d0010a00b000055220000985c110004
ee8339083085020c020000040000002d01000004000000020101001c000000fb02
9cff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e0
000000000000000000000000000000000040000002d01010005000000090200000
0020d000000320a5a00ffff01000400000000009f0b0a1020002d00040000002d010
000030000000000
Gambar 5. Skema alat ukur kumparan putar pada (a) Arus searah (b) Arus bolak
balik.

B. Prinsip Kerja

Prinsip kerja alat ukur kumparan ini adalah adanya gaya pada penghantar
berarus yang diletakkan pada medan magnet (berdasarkan percobaan Lorentz).
Pada alat ukur kumparan putar pada umumnya terdapat baterai yang
memungkinkan arus searah melalui alat ukur tersebut saat probe dihubungkan
sehingga kemudian jarumpenunjuknya bergerak. Simpangan atau defleksi jarum
penunjuk terjadi karena adanya interaksi antara arus dan medan magnet pada
kumparan putar. Arus pada kumparan putar mengakibatkan gaya elektromagnetis

yang memiliki arah tertentu sehingga jarum menyimpang sebesar θ


Simpangan dinyatakan dengan momen gerak

Td = BnabI
Dengan
B = medan magnet di celah udara
a= panjang kumparan

16
b= lebar kumparan
n= banyaknya lilitan
I= arus

Pegas yang dipasangkan pada jarum penunjuk akan memberikan reaksi


yang berbanding lurus dengan sudut rotasi sumbu dan berusaha untuk menahan
perputaran dengan momen kontrol
Tc = τ θ

Apabila jarum penunjuk menyimpang dengan sudut akhir θ maka terjadi

keadaan seimbang dimana Td = Tc


Secara listrik kerangka alumunium kumparan putar merupakan jaringan
hubung pendek (short circuit), dan memberikan pada kumparan momen peredam.
Magnet permanent terdiri dari sepatu kutub dan magnet permanent berbentuk U.
Magnet permanent terbuat dari logam ferromagnetik yang terbuat dari logam
alnico (campuran alumunium nikel dn cobalt) dan mempunyai kutub besi lunak
yang ujungnya dibuat melengkung. Bila kumparan putar berputar yang
disebabkan oleh arus yang melaluinya, maka dalam kerangkanya akan timbul arus
induksi. Ini disebabkan karena putaran kerangka aluminium ini terjadi dalam
medan magnet pada celah udara, sehingga tegangan yang berbanding lurus pada
kecepatan perputaran akan diinduksikan dalam kerangka tersebut. Arah dari
tegangan dapat ditentukan melalui hukum tangan kanan Fleming. Tegangan ini
yang menyebabkan arus induksi mengalir ke dalam kerangka kumparan.
Sebaliknya arah arus induksi ini akan memotong fluks magnet dalam celah udara
bila kumparan berputar, dan akan dibangkitkan momen yang berbanding lurus
dengan kecepatan putar. Akan tetapi arah dari momen ini adalah berlawanan
dengan arah perputaran, menyebabkan perputaran terhambat. Dengan demikian
terjadilah suatu redaman yang dapat melawan perputaran. Luas penampang
kerangka kumparan putar mempengaruhi momen redaman. Apabila luas
penampangnya kecil berarti tahanannya besar dan arus induksi kecil sehingga
momen redamannya menjadi kurang.

17
C. Kelebihan dan kelemahan alat ukur kumparan putar

Kelebihan dan kelemahan alat ukur kumparan putar jenis magnet permaen
adalah sebagai berikut :
Kelebihan:
1. Memerlukan daya rendah
2. Skala seragam dan dapat dirancang untuk
melampaui 270
3. mempunyai rasio torsi / berat tinggi
4. dapat dimodifikasi dengan bantuan shunt dan
tahsnan seri untuk memperbesar batas ukur arus dan
tegangan
5. tidak mempunyai kehilangan hysterisis
6. Peredaman dengan arus eddy sangat efektif
7. Karena medan yang bekerja pada alat ukur sangat
kuat, alat ukur tidak banyak dipengaruhi oleh medan
magnet luar.
Kelemahan :
1. Karena kontruksi yang bagus
dan perlunya kecermatan
permesinan dan perakitan
dari berbagai suku cadang,
alat ukur ini lebih mahal
disbanding dengan alat ukur
besi putar.
2. Beberapa kesalahan (error)
terjadi karena pegas control
dan magnet permanent yang
sudah tua atau lama
pemakaiannya.

18
Alat ukur ini pada umumnya hanya digunakan rangkaian listrik searah tetapi
kadang-kadang juga digunakan dengan diberi penyearah atau sambungan
thermo untuk pengukuran listrik bolak-balik pada batas-batas frekuensi
tertentu. Alat ukur kumparan putar jenis magnet permanent ini dapat dipakai
sebagai ammeter dengan bantuan tahanan shunt atau sebagai voltmeter
dengan bantuan tahanan shunt atau dengan bantuan tahanan seri yang besar.

D. Pengukur Arus (Ammeter) kumparan putar

Alat ukur kumparan putar pada dasarnya adalah alat pengukur arus atau
pengukur amper. Arus yang dapat dialirkan melalui kumparan putar dibatasi lebih
kurang di bawah 30 mA. Hal ini disebabkan alat-alat putarnya tidak dapat terlalu
berat sehingga kawat-kawat penghantar dari kumparan tidak terlalu tebal. Harga
maksimum yang dapat diukur oleh pengukur ampare ini lebih kecil dari kira-kira
30 mA. Prinsip kerja ammeter ditunjukkan pada gambar 6

Gambar 6. Prinsip kerja Ammeter kumparan putar

Agar pengukur ampare ini dapat melakukan pengukuran arus yang lebih
besar dari 30 mA, maka dapat dilakukan dengan menambahkan suatu hambatan
yang dihubungkan parallel pada kumparan putar seperti yang ditunjukkan pada
gambar 7. Tahanan yang dipasang ini biasa disebut sebagai tahanan shunt.

19
Gambar 7. (a) Ammeter dengan rangkaian shunt (b) Voltmeter dengan rangkaian
shunt
Jika tahanan total pada kumparan putar dan pegas-pegas pengontrol disebut

R1 , sedangkan arus yang diukur adalah I, kemudian arus yang masuk ke dalam

kumparan disebut dengan I” maka akan berlaku persamaan –persamaan berikut:


I = m I"
R1 + R2
m=
R2
m adalah harga factor perkalian (multiplikasi) dari shunt.
Walaupun arus yang masuk sebenarnya ke dalam kumparan putar adalah
I’, tapi harga skala yang diberikan sesuai dengan arus I sehingga memungkinkan
untuk pengukur ampere dengan tahanan shunt ini untuk mengukur arus sebesar m
kali lebih besar
Sebagai contoh, bila diberikan tahanan shunt sebesar 5,005 m Ω dan
dipasang parallel dengan suatu kumparan putar pengukur arus yang mempunyai

harga skala maksimum 100 µA dan tahanan dari alat putarnya (pegas) sebesar 5 k
Ω maka faktor perkalian yang diperoleh adalah sebesar

5.000 + 5,005
m= = 1.000
5,005

Sehingga arus yang diuukur adalah

20
I = m I ' = 1.000 x100 = 100mA

dari perhitungan di atas dimungkinkan untuk membuat alat ukur arus dengan
harga skala maksimal 100 mA

E. Pengukur Tegangan (Voltmeter) kumparan putar

Konfigurasi dasarnya adalah dengan menghubungkan suatu tahananan seri


dengan kumparan putar alat ukur arus dimana arus secara langsung masuk ke
dalam kumparan putar.Jika tahanan dari kumparan putar adalah R1 dan tahanan
seri yang dipasang adalah R2, maka jika tegangan yang akan diukur diletakkan di
ujung dari alat ukur tegangan tersebut, maka arus I akan mengalir melalui
kumparan putar dan dipenuhi persamaan sebagai berikut:

V = ( R1 + R 2 ) I

Jadi walaupun arus yang mengalir melalui kumparan putar adalah I, namun jarum
penunjuk akan menunjukkan skala berupa tegangan V.
Sebagai contoh, jika terdapat suatu tahanan yang mempunyai harga 7,5 k
Ω dihubungkan secara seri dengan suatu kuparan putar yang mempunyai harga
skala m
aksimal 4 mA dan tahanan dalam sebesar 3 Ω maka diperoleh
V = ( 3 + 37.500) 0,004 = 150 V pada I = 4mA

Sehingga telah diperoleh pengukur tegangan dengan skala maksimal 150 V.


Harga tahanan seri harus dipilih sedemikian rupa, sehingga jika alat ukur
tegangan dipakai untuk tegangan yang diperuntukkannya, maka arus yang
mengalir dalam kumparan putar adalah pula arus yang diperuntukkannya yang
biasanya berkisar antara beberapa puluh sampai beberapa mA. Biasanya tahanan

21
seri yang dimaksud telah ada di dalam alat ukur tegangan tersebut bersama
dengan bagian-bagian yang lainnya. Namun jika alat pengukur tegangan tersebut
dipergunakan untuk mengukur tegangan di sekitar 10.000 V atau lebih tinggi,
tahanan seri akan menjadi sedemikian besarnya dan memungkinkan terjadinya
panas yang tentunya akan sukar diisolasikan, sehingga sebaiknya oada keadaan
tersebut tahanan seri sebaiknya ditempatkan di luar dari alat ukurnya.

BAB IV. ALAT UKUR KUMPARAN BESI-PUTAR

A. Prinsip Kerja

Alat ukur dengan besi putar bekerja berdasarkan pada arus yang akan
diukur melalui kumparan yang tetap dan menyebabkan terjadinya medan magnet.
Potongan besi ditempatkan di medan magnet tersebut dan menerima gaya
elektromagnetis. Kelebihan alat ukur tipe besi putar ini sederhana tapi kuat dalam
kontrussinya,serta murah. Sehingga banyak digunakan sebagai pengukur arus
listrik dan tegangan listrik pada frekuensi-frekuensi yang dipakai pada jaring-
jaring yang terdapat di kota. Di samping itu alat ukur ini mempunyai sudut yang
sangat besar. Prinsip kerjanya ditunjukkan pada gambar 8

22
Gambar 8. Skema alat ukur kumparan besi putar

Berdasarkan prinsip kerjanya alat ukur besi putar ini dibedakan dengan dua
cara yaitu
1. Jenis tolak (repusion type): bekerja berdasarkan
pada penolakan dari dua potong besi berdekatan
yang dimagnetisasi oleh medan magnet yang sama.
2. Jenis tarik (attraction type) : bekerja berdasarkan
pada penarikan sepotong besi lunak terhadap medan
magnet
3. Jenis gabungan tarik dan tolak (combined attraction
and repulsion type) seperti ditunjukkan pada gambar
9

23
(a) (b)

Gambar 9. (a) Jenis tolak (b) Jenis gabungan tari dan tolak

Sedangkan konsep struktur untuk alat ukur kumparan besi putar ( moving
iron instrument) ditunjukkan pada gambar 10.

Gambar 10. Konsep struktur alat ukur kumparan besi putar (moving iron
instrument / MI Instrument.

Karakteristik alat ukur besi putar adalah sebagai berikut:


1. Pengaruh dari medan magnet
luar : Kumparan yang tidak
tetap tidak dapat
membangkitkan suatu medan
magnet yang kuat. Oleh
karena itu seluruh kumparan
diletakkan dalam suatu kotak
besi yang berfungsi sebagai
suatu tameng magnet.
2. Pengaruh frekuensi: Alat

24
ukur tegangan dengan prinsip
besi putar ini, jika frekuensi
tegangannya tinggi, maka
perubahan arus yang melalui
kumparan putar lebih penting
daripada pengaruh arus-arus
putar. Perubahan arus ini
disebabkan perubahan
induktansi kumparan.
3. Pengaruh histerisis magnet:
Alat ukur besi putar ini dapat
digunakan dalam pengukuran
arus searah mupun bolak-
balik. Tetapi penggunaan
pada araus searah, kesalahan
akan terjadi yang disebabkan
adanya kondisi-kondisi
magnetisasi yang berbeda-
beda disebabkan kerugian
histerisis dari besi.

B. Ammeter dan Voltmeter besi putar jenis tolak

Alat ukur ini terdiri dari kumparan tetap di dalam yang ditempatkan dua
batang besi lunak paralel satu sama lain dan sepanjang absis kumparan. Salah
satunya dipasang tetap, dan yang lain dapat bergerak dengan menggerakkan jarum
penunuk sepanjang skala yang dikalibrasi.abila arus yang diukur melewati
kumparan tetap, akan menimbulkan medan magnet sendiri yang juga menjadikan
magnet dua batang tersebut yaitu titik-titik yang berdekatan sepanjang batang
akan mempunyai polaritas magnet yang sama. Karena dua batang besi tersebut
saling menolak sehingga jarum penunjuk disimpangkan melawan torsi kontrol

25
dari pegas atau pemberat. Gaya tolak hampir sebanding dengan kuadrat arus yang
melewati kumparan dan kemanapun arah arus yang melewati kumparan ke dua
batang akan dijadikan magnet sama sehingga akan saling tolak menolak.

Gambar 11. Alat ukur besi putar jenis tolak

Skala yang seragam diperoleh menggunakan dua buah pita berbentuk lidah
dari besi sebagai pengganti kedua batang tadi. Besi tetap terdiri dari besi lempeng
berbentuk lidah yang dilengkungkan menjadi bentuk silinder, besi yang bergerak
juga terdiri dari lempengan besi tipis yang lain dan dipasangkan sehingga
bergerak paralel dengan besi tetap dan semakin sempit pada ujungnya.

C. Peredaman

Peredam pada alat ukur kumparan besi putar disebabkan oleh tiga hal yaitu
karena adanya tahanan udara dan arus putar (eddy current).Peredaman yang
disebabkan oleh tahanan udara terdiri dari kepingan peredam alumunium yang
ditempatkan pada poros putarannya. Jika kepingan peeredam tersebut berputar
berbarengan dengan sumbu putarnya, maka timbullah momen redaman yang
disebabkan oleh adanya tahanan udara. Hal ini ditunjukkan pada gambar 12.

26
Gambar 12. Peredam karena tahanan udara

Sedangkan peredaman yang dihasilkan karena adanya arus putar terdiri


dari kepinganan logam yang ditempatkan tegak lurus terhadap sumbu putar
(poros). Kepingan logam ini ditempatkan dalam medan magnet yang dibangkitkan
oleh suatu magnet permanen. Jika sumbu berputar, maka terjadilah arus putar
(eddy current) di dalam kepingan logam tersebut. Adanya arus putar dan medan
magnet permanen akan menimbulkan adanya momen redaman yang besarnya
berbanding lurus dengan kecepatan putar dan arahnya terbalik terhadap arah putar.
Peredam yang disebabkan adanya arus putar diperlihatkan pada gambar 13.

Gambar 13. Peredam karena arus putar

27
D. Alat ukur frekuensi besi putar

Prinsip kerja alat ukur ini tergantung pada perubahan arus yang ditarik
oleh kedua rangkaian paralel satu induktif dan yang lain non induktif jika
frekuensi berubah.
Kumparan A dan B dipasang tetap sehingga sumbu magnet tegak lurus
satu sama lain. Pada pusatnya diberi sumbu berupa jarum besi lunak yang panjang
yang meluruskan sendiri sepanjang reesultante medan magnet dari dua kumparan.
Di sini tidak ada peralatan kontrol. Elemen-elemen rangkian terdiri dari jembatan
wheatstone yang menjadi seimbang pada frekuensi sumber.
Ketika alat ukur diuhubungkam dengan sumber, arus yang mengalir pada
kumparan A dan B serta mrnghasilkan torsi yang berlawanan. Jika frekuensi
sumbernya tinggi, maka arus yang melalui kumparan A lebih besar sedangkan
arus yang melalui B lebih kecil. Hal ini disebabkan adanya peningkatan reaktansi
yang terjadi oleh B, sehingga medan magnet kumparan A lebih besar dari medan
kumparan B
Kelebihan:
Kelebihan alat ukur ini antara lain dapat didesain untuk mencakup batas
ukur frekuensi yang besar atau kecil tergantung dari parameter-parameter yang
digunakan dalam rangkaian

F. Perluasan batas ukur alat ukur besi putar

E.1. Sebagai Ammeter:

Batas ukur untuk Ammeter ini dapat diperbesar dengan cara memberi
tahanan shunt yang sesuai yang dipasang paralel dengan terminal-terminalnya.
Untuk pengukuran pada listrik searah, hal ini tidak akan menimbulkan masalah,
tetapi pada pengukuran listrik bolak-balik, pembagian arus antara alat ukur dan
tahanan shunt akan berubah dengan adanya perubahan frekuensi sehingga disini
induktansi dan resistansi alat ukur dan tahanan shunt harus diperhitungkan.

28
E.2. Sebagai Voltmeter:

Batas ukur alat ukur ini dapat diperbesar juga dengan memasang tahanan
non induktif yang dihubungkan seri. Tahanan ini disebut sebagai multiplier jika
dipergunakan pada rangkaian listrik searah. Jika batas ukur Voltmeter ini ingin
diperbesar dari v menjadi V maka kelebihan tegangan yaitu V –v akan didrop
pada tahanan multiplier R. Apabila arus penyimpangan skala alat ukur, maka
iR = V − v
V − v V − ir V
R= = = −r
i i i
V
=
Perbesaran tegangannya v
iR V
= −1
Karena iR = V − v maka v v
iR V
= −1
Atau ir v

V  R
= 1 + 
Sehingga v  r

Sehingga makin besar tahanan multiplier, makin besar perluasan batas alat
ukur tegangannya. Pada rangkaian listrik searah, R harus tetap atau mempunyai
koefisien suhu yang rendah. Pada rangkaian listrik bolak-balik, impedansi tota
voltmeter dan tahanan seri R sedapat mungkin bertahan hampir tetap pada
frekuensi yang berbeda-beda, sehingga R harus dibuat non induktif untuk
membuat induktansi seluruh rangkaian minimal. Kesalahan frekuensi yang
disebabkan adanya induktansi kumparan dapat dikompensasi dengan memberikan
kapasitor C yang dipasang paralel dengan R yang ditunjukkan pada gambar 15.
Untuk r << R, impedansi rangkaian voltmeter ini akan tetap atau konstan untuk
frekuensi sampai dengan 1000 Hz.

29
L L
C= = 0,41 2
Arus dasar ( )
1+ 2 R 2
R

Gambar 14. Voltmeter besi putar dengan tahanan non konduktif R

Gambar 15. Voltmeter besi putar dengan rangkaian paralel R dan C

30
BAB V. ALAT UKUR DENGAN THERMOCOUPLE

Thermocouple adalah suatu rngkaian yang tersusun dari dua buah logam yang
masing-masing mempunyai koefisien muai panjang berbeda yang dihubungkan
satu denngan yang lain pada ujung-ujungnya. Jika pada kedua titk hubung kedua
logam tersebut mempunyai perbedaan temperature, maka timbullah beda potensial
yang memungkinkan adanya arus listrik di dalamnya. Gaya gerak listrik akibat
adanya beda potensial tersebut disebut dengan GGL thermis.

A. Prinsip Kerja

Konfigurasi alat ukur dengan thermocouple ditunjukkan pada gambar 16

Gambar 16. Prinsip kerja alat ukur jenis thermocouple

Terdapat sebuah kawat pemanas lurus yang dibuat dari bahan yang
mempunyai nilai tahanan yang cukup tinggi. Pada tengah-tengah kawat pemanas
tersebut dihubungkan dengan salah satu titik hubung dari thermocouple. Kedua
ujung bebas thermocouple masing-masing dihubungkan dengan pengukur milivolt
yang akan mengukur beda tegangan yang dihasilkan oleh kedua ujung
thermocouple tersebut. Jika arus I dialirkan melalui kawat pemanas maka kawat

31
pemanas akan membangkitkan panas dengan besar daya berbanding dengan arus
kuadratnya. Panas yang dibangkitkan ini menaikkan panas pada tengah kawat

pemanas dari T1 ke T2 . Yang sebanding dengan jumlah panas tersebut.


Temperatur pada salah satu titik hubung thermocouple juga naik sehingga berlaku
hubungan

T1 − T2 = K1 I 2

dengan K1 adalah suatu tetapan. Titik hubung thermocouple yang satunya


ditempatkan kira-kira pada temperatur ruangan sehingga thermocouple akan
membangkitkan GGL thermis sebesar

E = K 2 ( T1 − T2 )

Dengan K 2 juga sebuah tetapan. Akhirnya hubungan antara arus dantegangan


adalah

E = K1 K 2 I 2

Arus yang diukur dapat diperoleh dengan mengukur tegangan pada kedua
ujung thermocouple yang lain. Pada rangkaian bolak-balik arus yang diukur
merupakan arus efektif yang meripakan gelombang sinus. Sehingga panas yang
dibangkitkan pada kawat pemanas adalah sebagi fungsi waktu. Dengan mengukur
harga egangan E, maka diperoleh harga dari arus efektif dari arus bolak balik
tersebut. Pada alat ukur ini harga arus dan tegangan yang ditunjukkan sama saja
antara arus DC maupun AC sehingga alat ukur ini termasuk alat ukur yang
universal untuk arus searah maupun bolak balik dan tidak terpengaruh oleh
bentuk gelombang dari arus yang diukur.

32
BAB VI. ALAT UKUR INDUKSI

Induksi adalah suatu keadaan listrik hasil akibat adanya medan magnet
yang bangkit disekitar kumparan berarus listrik. Bila suatu konduktor ditempatkan
dalam medan magnit dari arus bolak-balik, maka arus-arus putar akan
dibangkitkan didalam konduktor tersebut. Medan-medan magnit dari arus-arus
putar ini dan dari arus bolak-balik yang menyebabkannya, akan memberikan
interaksi yang menimbulkan momen gerak pada konduktor; dan prinsip ini akan
mendasari kerja daripada alat-alat ukur induksi.
Alat ukur induksi hanya dipergunakan pada pengukuran listrik bolak-balik
serta dapat digunakan sebagai Ammeter, Voltmeter ataupun Wattmeter serta
Energi meter (Kwh-meter).Torsi penyimpang pada alat ukur induksi dihasilkan
oleh reaksi antara fluks magnet bolak-balik.

A. Prinsip kerja

Prinsip kerja alat ukur induksi ini dipengaruhi adannya torsi yang terjadi
karena adanya reaksi antara fluks magnetis yang magnitudenya tergantung pada
arus atau tegangan yang diukur serta tergantung pada arus eddy atau arus putar
yang terinduksi pada piringan atau silinder metal oleh fluks magnet yang lain.
Skema prinsip kerja alat ukur induksi diperlihatkan pada gambar 17.

33
Gambar 17. Prinsip kerja alat ukur induksi
Alat ukur induksi mempunyai kelebihan yaitu sistem perputarannya yang
sederhana tapi kokoh, sudut penunjukkannya lebar karena penyimpangan untuk
skala penuh dapat melebihi 2000 serta tidak banyak dipengaruhi medan eksternal.
Akan tetapi kelemahan alat ukur ini terbatas penggunaannya pada arus bolak-balik
, biasanya hanya dipergunakan pada panel-panel listrik serta mengkonsumsi daya
yang cukup banyak.

B. Ammeter Induksi

Konfigurasi alat ukur arus tipe induksi ini ditunjukkan pada gambar 18

Gambar 18. Ammeter jenis induksi

34
Untuk alat ukur ammeter induksi, torsi total yang bekerja pada piringan
adalah

T = K 2 φ1mφ2 mm sin α

Apabila kedua fluks yang dihasilkan oleh listrik bolak-balik yang diukur

sama dengan harga maksimumnya adalah I m maka T = K 2ω I sin α . Untuk sudut


2

α dan untuk frekuensi tertentu, torsi sebanding dengan kuadrat arus. Jika piringan
mempunyai kontrol pegas, piringan akan mencapai posisi simpangan stabil waktu
torsi kontrol sama dengan torsi penyimpang.
Ammeter induksi terbagi menjadi tiga jenis yaitu:
1. Alat ukur piringan dengan kumparan fase belah, jenis silinder dengan
kuumparan fase-belah
2. Alat ukur jenis silinder dengan kumparn fase- belah
3. Ammeter induksi kutub bayangan

1. Alat ukur piringan dengan kumparan fase belah (ferraris type)

Pada dasarnya beda fase diperoleh dengan cara menambahkan tahanan


shunt pada salah satu rangkaian kutubnya (gambar 19). Kumparan pada dua
magnet yang berlapis-lapis P1 dan P2 dihubungkan secara seri. Kumparan P2
dihubungkan paralel dengan tahanan R sehingga kumparan ketinggalan arus total.

Sudut pergeseran fase α yang dihasilkan fluks magnet φ1 dan φ2 oleh P1 dan P2
yang diperlukan adalah 600. Apabila histerisis diabaikan, maka masing-masing
fluks magnet sebanding dengan arus yang diukur yaitu I

Tα ∞φ1mφ2 m sin α

35
2
Atau Td∞ I dimana I merupakan harga rms

Apabila digunakan kontrol pegas, maka T∞ θ

Pada sisi simpangan akhir Tc = Td sehingga θ ∞ I


2

Ammeter ini menggunakan peredam arus eddy sehingga apabila piringan


berputar, maka piringan tersebut akan memotong fluks pada celah udara mgnet
dan arus eddy yang dihasilkan menjadi peredam.

Gambar 19. Ammeter induksi dengan kumparan fase belah

2. Ammeter jenis silinder kumparan fase belah

Alat ukur ini bekerja dengan cara kerja piringan dengan kumparan fase
belah, dimana piringan putarnya diganti dengan drum alumunium beronnga.
Kutub P1 menimbulkan fluks magnet bolak balik dan arus eddy pada bagian
drum yang terletak di bawah P2, sedangkan kutub P2 menghasilkan fluks magnet
bolak balik dan arus eddy pada bagian drum yang terletak di bawah P1. Terdapat

gaya F1 yang sebanding dengan φ1I 2 serta F2 yang sebanding dengan φ2 I1 dimana
gaya tersebut adalah tangensial terhadap permukaan drum yang menimbulkan
torsi dan memutarkan drum di seputar sumbunya. Kumparan P2 yang dihuungkan

paralel dengan tahanan R menimbulkan pergeseran fase antara fluks magnet φ1 dan

36
φ2
Agar putaran dari drum tidak berrlebih, diatasi oleh pegas kontrol yang
dapat menghentikan putaran pada suatu posisi dimana torsi penyimpang menjaadi
sama dengan torsi pengontrol. Jarum penunjuk dipasang pada poros yang dua
ujung landasannya diberi bantalan dari bahan intan. Inti silinder yang berlapis-
lapis dalam rongga drum berfungsi untuk menguatkan fluks magnet yang
memotong drum. Kutub-kutub juga dibuat berlapis-lapis dan rangkaian magnet
dilengkapi dengan gandar dan inti, sedangkan uuntuk peredam dilakukan oleh
arus eddy yang diinduksikan pada piringan alumunium terpisah (gambar 20)

Gambar 20. Ammeter induksi jenis silinder dengan fase belah

3. Ammeter induksi kutub bayangan (Shaded pole)

Kumparan yang digunakan pada alat ukur ini hanya satu buah. Flluks

magnet dihasilkan oleh kumparan kemudian displit menjadi fluks φ1 dan φ2 yang
membuat pegeseran fase sebesar α . Bagian atas dan bawah dari kutub dekat
piringan terbagi dua alur yang salah satu bgiannya diberi cincin hubung singkat.
Incin ini berfungsi sebagai kumparan sekunder sedangkan kumparan utama
berfungsi sebagai kumparan primer. Arus induksi menimbulkan pergeseran fase

37
sebesar φ2 terhadap φ1 yang besarnya sekitar 500. Fluks magnet φ1 dan φ2 yang
melewati bagian yang tidak diberi cincin dan yang diberi cincin masing-masing
menimbulkan arus eddy dan menghasilkan torsi penggerak total

Td∞φ1mφ2 m sin α

Jika φ1 dan φ2 sebanding dengan I maka Td ∞ I 2


Torsi ini diimbangi dengan torsi kontrol oleh pegas kontrol seperti ditunjukkan
pada gambar 21

Gambar 21. Ammeter induksi kutub bayangan

Ammeter induksi jenis kutub bayangan yang selengkapnya ditunjukkan


pada gambar 22. Ammeter ini terdiri dari piringan alumunium atau tembaga yang
dipasang pada sumbu putar (poros). Poros dengan jarum penunjuk dikontrol oleh
pegas kontrol.

38
Gambar 22. Skema lengkap ammeter induksi kutub bayangan

Piringan yang bergerak pada celah udara elektromagnetik yang berlapis-


lapis dan diperkuat oleh arus yang diukur . Peredaman yang dipakai adalah
peredaman karena adanya arus putar yang diinduksikan oleh magnet tetap yang
ada di bagian tertentu pada piringan. Dua fluks magnet satu sama lain m
mempunyai beda fase 400 sampai 500. Masing-masing fluks menginduksikan arus
putar pada piringan.. Karena masing-masing dari arus putar sefase dengan fluks,
maka terdapat dua buah torsi yang saling berlawanan arah dan menghsilkan torsi
total. Torsi ini akan memutar piringan-putaran yang dikontrol oleh pegas kontrol
agar dapat berhenti. Simpangan jarum penunjuk sebanding dengan kuadrat arus
atau tegangan yang sedang diukur.

C. Voltmeter Induksi

Pada alat ukur ini jumlah lilitan kumparannya banyak dan kecil-kecil.
Kumparan dihubungkan paralel dengan jaring-jaring dan mengalirkan arus kecil
5-10 mA. Supaya garis-garis gaya magnet yang dihasilkan cukup, jumlah lilitan
kumparan harus banyak. Konfigurasi dari voltmeter induksi ditunjukkan pada
gambar 23.

39
Gambar 23. Voltmeter Induksi

D. Kelebihan dan Kelemahan

Kelebihan alat ukur jenis induksi ini adalah memiliki skala penuh
pengukuran yang cukup besar yang dapat melebihi 2000, tidak banyak dipengaruhi
oleh medan dari luar, serta sangat efisiennya peredaman. Sedangkan kelemahan
yang dimiliki oleh alat ukur ini adalah hanya dapat digunakan untuk pengukuran
listrik searah, memerlukan daya yang cukup besar dalam penggunaannya serta
dapat menimbulkan kesalahan (error) jika tidak dikompensasi oleh variasi
frekuensi dan suhu.

40
BAB VII. ALAT UKUR ELEKTROSTATIS

Alat ukur elektrostatis adalah alat ukur yang mempergunakan gaya


elektrostatis yaitu gaya tarik antara muatan listrik yang didapatkan dari interaksi
antara dua buah elektroda yang masing-masing mempunyai potensial yang
berbeda. Gaya elektrostatis ini dapat menimbulkan torsi penyimpangan.
Biaasanya alat ukur ini digunakan sebagai alat ukur tegangan bolak-balik dan
tegangan searah. Untuk beda potensial yang cukup besar, maka gaya elektrostatis
yang dihasilkan kecil, sehingga alat ukur ini biasanya dikhususkan untuk tegangan
yang tingi.

A. Prinsip kerja

Alat ukur ini terdiri dari dua buah elektroda yaitu elektroda tetap dan
elektroda putar. Agar terhindar dari pengaruh pelepasan muatan listrik pada
tegangan tinggi, maka tepian plat taadi dibulatkan dengan permukaan yang sangat
halus. Kemudian terdapat cicin pelindung yang terpasang pada elektroda putar
yang bergerak. Cincin pelindung ini memungkinkan terjadinya medan yang rata
antara elektroda putar dan elektroda tetap serta dapat mengurangi pengaruh medan
elektrostatis sekelilingnya. Elektroda putar akan bergerak dan mendapatkan
momen gaya ketika suatu tegangangan yang akan diukur ditempatkan antara dua
elektroda tersebut. Momen yang dihasilkan sebanding dengan kuadarat tegangan
dan arahnya menuju bertambahnya kapasitas kondensator. Untuk menunjukkan
harga tegangan yang diukur, maka sebuuah jarum penunjuk dihubungkan dengan
sumbu gerak elektroda putarnya. Perputaran jarum penunjuk merupakan
pergerakan yang linier dari elektroda putar.
Alat ukur elektrostatis ini merupakan alat ukur arus searah dan arus bolak
balik. Dalam keadaan arus searah, simpangan atau sudut putar jarum penunjuk

41
tergantung kepada kudaran dari tegangan yang diukur, sedangkan pada keadaan
bolak-balik, sudut putar jarum penunjuk tergantung pada harga efektif dari
tegangan yang diukur. Pada arus searah, mula-mula arus pengisi mengalir yang
kemudian sesudahnya arus hmpir-hampir tidak mengalir. Pada arus bolah-balik
arus pengisi akan terus mengalir di antara elektroda-elektroda.

(a)

(b)

Gambar. 24. Prinsip kerja alat ukur elektrostatis (a) diperrgunakan untuk tegangan
beberapa kilovolt (b) dipergunakan untuk tegangan tinggi

42
B. Kelebihan dan kelemahan:

Kelebihan alat ukur ini adalah sebagai berikut:


1. Alat ukur ini sangat ideal untuk suatu alat ukur
tegangan atau voltmeter.
2. Pada penggunaan tegangan tinggi, momen geraknya
bertambah besar dengan menaiknya tegangan,
dengan kerugian daya yang kecil
3. Dapat dibuat dengan kecermatan yang tinggi
4. Bebas dari kesalahan yang diakibatkan histerisis,
arus eddy dan akibat pengaruh suhu
5. Hanya menarik arus yang sangat kecil karena
kapasitansi alat ukur pada rangkaian listrik bolak
balik.
6. Dapat digunakan sampai dengan frekuensi 1000
kHz
Adapun kelemahannya adalah sebagai berikut :
1. Pada tegangan rendah,
momen geraknya sangat
rendah sehingga batas
tegangan yang minimal dapat
dipakai untuk alat ukur ini
ada di sekitar 100 Volt.
2. Harganya mahal dan tidak
mudah membuatnya kuat

C. Voltmeter Elektrostatis

Volmeter atau kilovolmeter merupakan suatu alat ukur yang digunakan

43
untuk mengukur besarnya potensial listrik. Dalam satuan Volt (V) atau kilovolt
(kV). Untuk satuan yang lebih kecil lagi dapat digunakan mili-Volt (mV).
Volmeter elektrostatik atau elektrometer adalah satu-satunya instrumen yang
langsung daripada menggunakan efek arus yang dihasilkannya. Instrumen ini
mempunyai satu karakteristik lain yaitu : dia tidak memakai daya (kecuali selama
periode yang singkat dari penyambungan awal ke rangkaian) dan berarti
menyatakan impedansi tak berhingga terhadap rangkaian yang diukur. Tingkah
lakunya bergantung pada reaksi antara dua benda bermuatan listrik. Mekanisme
elektrostatik mirip sebuah kapasitor variabel, dimana gaya yang terjadi antara
kedua pelat pararel merupakan fungsi dari beda potensial yang dihubungkan
kepadanya. Pelat X dan Y berisi sebuah kapasitor yang kapasitasnya bertambah
bila jarum P bergerak ke kanan. Gerakan jarum dilawan oleh pegas kumparan
yang juga berfungsi untuk menghasilkan kontak listrik antara terminal A dan pelat
X. Bila terminal X dan Y dihubungkan ke titik-titik yang potensialnya
berlawanan, dan gaya tarik antara kedua benda yang sama tetapi bermuatan
berlawanan tersebut mendorong jarum bergerak ke kanan. Jarum akan berhenti
bila torsi yang disebabkan oleh tarikan listrik antara pelat-pelat sama dengan torsi
lawan dari pegas kumparan. Skema voltmeter elektrostatis ditunjukkan pad
gambar 25

44
25. Skema voltmeter elektrostatis

BAB VIII. ALAT UKUR ELEKTRODINAMIS

Telah dibahas sebelumnya mengenai alat ukur kumparan putar dimana


salah satu komponennya adalah magnet permanen. Pada alat ukur yang bekerja
berdasarkan prinsip elektrodinamis, maka magnet permanen tersebut diganti
dengan kumparan yang tetap dan arus dimungkinkan dapat dialirkan melalui
kumparan tetap dan kumparan putar. Monen gerak yang dihasilkan dari sistem
tersebut merupakan interaksi antara medan magnet yang dibuat oleh kumparan
tetap dan medan magnet yang dibuat oleh kumparan putar. Alat ukur

45
elektrodinamis ini dapat digunakan untuk mengukur besaran listrik pada arus
searah maupun arus bolak balik.

A. Prinsip kerja

Kumparan putar (M) dari alat ukur elektrodinamis ini ditempatkan di antara
kumparan tetap (F1 dan F2) seperti ditunjukkan pada gambar 26. Ketika terdapat
arus (i1) yang melalui kumparan tetap dan juga terdapat arus (i2) yang melalui
kumparan putar, maka akan dihasilkan gaya elektromagnetis yang dikenakan pada
kumparan putar. Apabila kumparan telah mengalami perputaran dengan sudut

tertentu yaitu sebesar θ dari posisi nolnya, maka momen gerak yang dihasilkan
adalah
k1i1i2 cos( α − θ )

dengan k1 adalah tetapan. Pegas yang terpasang pada alat ukur akan memberikan
momen kontrol dan terjadi keseimbangan antara momen gaya simpangan dan
momen gaya kontrol yang memenuhi persamaan
τ θ= k1i1i2 cos( α − θ )

dengan k1 adalah tetapan pegas. Hasil pengukuran akan ditunjukkan oleh jarum

penunjuk yang tergantung pada hasil kali dua arus yang berbeda yaitu i1 dan i2

46
Gambar 26. Prinsip kerja Alat ukur elektrodinamis

B. Ammeter Elektrodinamis

Untuk membuat Ammeter elektrodinamis, maka kumparan tetap dan


kumparan putar dihubungkan secara seri. Besar sudut putaran pada Ammeter ini
adalah
k1i1i2
θ= cos( α − θ )
τ

Karena kumparan putar dan kumparan tetap dihubungkan seri maka i1 = i dan

i2 = k2i maka besar sudut putaran menjadi

47
k1k 2 2
θ= i cos( α − θ )
τ
Hasil pengukuran arus oleh alat ukur elektrodinamis ini merupakan harga efektif
dari arus yang diukur

Gambar 27. rangkaian-rangkaian Ammeter elektrodinamis

C. Voltmeter Elektrodinamis

Untuk membuat Voltmeter elektrodinamis, diperlukan tahanan seri yang


dihubungkan pada rangkaian pada gambar 28 dan mengalirkan arus sekitar
100mA melalui kumparn putarnya.

48
Gambar 28. Prinsip voltmeter elektrodinamis

D. Kelebihan dan kelemahan

Kelebihan alat ukur elektrodinamis ini dapat digunakan untuk arus searah
maupun arus bolak balik serta dapat dibuat dengan presisi yang baik, sedangkan
kelemahaanya adalah pemakaian dayanya yang tinggi sehingga kurang dipakai
sebagai alat ukur arus maupun tegangan.

BAB IX. WATTMETER (ALAT UKUR DAYA LISTRIK)

Alat ukur ini digunakan untuk mengukur daya listrik secara langsung.

49
Wattmeter dapat digunakan untuk pengukuran pada arus searah maupun arus
bolak balik. Untuk arus searah, maka daya yang dipakai dalam beban tahanan R
dinyatakan sebagai
V2
P =V I = I R =
2

R
Dengan V adalah tegangan beban dan I adalah arus beban
Pada arus bolak balik, daya yang dipakai pada beban pada saat tegangan
beban v dan arus beban i dinyatakan sebagai
p = v i dengan v dan i adalah tegangan dan arus sebagai fungsi waktu yang

memenuhi persamaan sinusoida.


Terdapat beberapa jenis Wattmeter yaitu diantaranya wattmeter elektrodinamis
wattmeter Induksi, wattmeter elektrostatis, wattmeter digital dan sebagainya.
Paling banyak digunakan adalah Wattmeter elekrodinamis

A. Wattmeter Elektrodinamis

Wattmeter analog yang paling sederhana adalah Wattmeter


elektrodinamis. Alat ukur daya ini terdiri dari sepasang kumparan tetap yang
disebut sebagai kumparan arus dan sebuah kumparan putar (yang bergerak) yang
disebut sebagai kumparan tegangan (potensial). Kumparan arus dihubungkan
dengan rangkaian secara seri sedangkan kumparan tegangan dihubungkan paralel
dengan rangkaian alat ukurnya. Pada wattmeter analog ini, kumparan tegangan
menggerakkan jarum penunjuk yang menyimpang sepanjang skala yang
menunjukkan pengukuran daya. Arus mengalir melalui kumparan arus (tetap)
menghasilkan medan elektromagnetik di sekitar kumparan. Kuat medan ini
sebanding dan sefase dengan arus. Sebuah hambatan yang besar nilainya
disambungkan seri pada kumparan putar untuk mereduksi arus yang melalui
kumparan tersebut. Pada rangkaian arus searah, simpangan jarum penunjuk
sebanding dengan arus dan tegangan, dan memenuhi persamaan

W=VA atau P=VI.

50
Gambar. 29. Wattmeter Elektrodinamis
Pada rangkaian arus bolak balik, simpangan jarum penunjuk sebanding dengan
rata-rata arus dan tegangan sesaat i dan v

Wattmeter DC dac AC tersebut dapat mengalami kerusakan oleh adanya


arus yang berlebihan. Pada Ammeter dan Voltmeter, arus yang berlebihan ini
akan menimbulkan panas dimana ini merupakan kondisi yang berbahaya (jarum
penunjuk menjadi tidak dapat bergerak lagi karena melebihi batas skala). Akan
tetapi pada Wattmeter, arus dan tegangan dapat menjadi panas tetapi tidak
menyebabkan penunjukan jarum melebihi batas skala. Hal ini dkarenakan posisi
jarum penunjuk tergantung pada faktor daya, tegangan dan arus. Sehingga
rangkaian dengan faktor daya yang rendah akan memberikan pembacaan yang
rendah pula pada wattmeter meskipun melebihi batas keselamatan. Oleh karena
itu di samping untuk mengukur besar daya listrik dalam Watt, juga dalam volts
dan ampere.

B. Wattmeter digital

Wattmeter digital merupakan alat ukur daya listrik modern. Rerata dari
tegangan sesaat dikalikan dengan arus listriknya merupakan harga daya listrik
sebenarnya. Daya ini (P) jika dibagi dengan volt-ampere (VA) adalh faktor

51
dayanya. Rangkaian pada komputer menggunakan nilai-nilai sampel untuk
menghitung tegangan RMS, arus RMS, VA, daya (Watt), faktor daya dan
kilowatt-jam. Informsi mengenai besaran listrik yang diukur ditampilkan pada
display LCD. Peralatan dan skema Wattmeter digital ditunjukkan pada gambar 30
dan 31

Gambar 30. Salah satu bentuk Wattmeter induksi

Gambar. 31. Skema rangkaian wattmeter digital

C. Wattmeter induksi

Wattmeter induksi juga tersusun dari sepasang kumparan yang bebas satu
sama lain yang menimbulkan adanya momen yang berbanding lurus dengan
hasilkali arus-arus yang melalui kumparan-kumparan tersebut. Pada gambar 32
diperlihatkan diagram vektor dari wattmeter induksi ini. Sudut apit antara V

(tegangan) dengan arus (I) adalah θ . Fluks magnet φ1 dihasilkan oleh arus beban I

sedangkan fluks magnet φ2 dihasilkan dari tegangan beban V. Pada diagram

52
tersebut terlihat bawa φ2 mempunyai sudut fase sebesar 900 didahului oleh
tegangan V.

Gambar 32. Diagram vektor Wattmeter jenis induksi

Ditunjukkan pula dari gambar bahwa

sin α = cos ϕ

Agar fluks magnet φ2 mempunyai sudut fase 900 didahului oleh tegangan
V, maka jumlah lilitan pada kumparan ditambah sehingga kumparan menjadi

V
sebuah indukstansi murni dan besar φ2 sebanding dengan ω sehingga diperoleh
hubungan

ω φ1φ2 sin α = KVI cos ϕ

Dari uraian di atas , maka dapat dilakukan pengukuran daya listrik menggunakan
wattmeter yang bekerja berdasarkan prisip induksi elektromagnetik.

D. Wattmeter Thermocouple

Prinsip kerja Wattmeter thermocouple ini berdasarkan pada adanya gaya


listrik thermis. Konfigurasi alat ukur ini diperlihatkan pada gambar 33

53
Gambar 33. Skema prinsip kerja Wattmeter jenis thermocouple

Dari gambar tersebut terlihat bahwa jika arus-arus berbanding lurus


dengan tegangan, sehingga memenuhi persamaan

( i1 + i2 ) 2 − ( i1 − i2 ) 2 = 4i1i2 = 4k1k2v1

i = k1v T1 sedangkan
Jika merupakan arus sekumder pada transformator

i2 = k2i merupakan arus sekunder dari transformator T2 maka bila sepasang

tabung thermocouple dipanaskan dengan arus i1 + i2 dan i1 − i2 , maka gaya listrik


secara thermis juga akan digerakkan dan berbanding lurus dengan kuadrat arus-
arus. Sepasang tabung thermocouple ini dihubungkan secara seri sedemikian rupa
sehingga polaritasnya terbalik, maka perbedaan tegangan yang terjadi pada ujung-
ujungnya dapat diukur dengan sebuah milivolt yang sebanding dengan daya yang
akan diukur. Wattmeter jenis thermocouple ini biasanya digunakan untuk
mengukur daya yang kecil yaitu pada frekuensi audio.

54
BAB X. GALVANOMETER

Istilah galvanometer diambil dari seorang yang bernama Luivi Galvani.


Penggunaan galvanometer yang pertama kali dilaporkan oleh Johann Schweigger
dari Universitas Halle di Nurremberg pada 18 september 1820. Andre-Marie
Ampere adalah seorangg yang memberi kontribusi dalam mengembangkan
galvanometer.
Galvanometer pada umumnya dipakai untuk penunjuk analog arus searah,

55
dimana arus yang diukur merupakan arus-arus kecil misalnya yang diperoleh pada
pengukuran fluks magnet.

A. Prinsip Kerja

Prinsip kerjanya menggunakan konstruksi kumparan putar yang serupa untuk


pengukur arus tapi kerangka dari kumparan putarnya dihilangkan untuk
mengurangi inersia dari bagian yang berputar (gambar 34)

Gambar 34. Redaman pada galvanometer jenis kumparan putar (D-Arsonval


Galvanometer

Seperti diperlihatkan gambar 33 di atas, jika terdapat arus I mengalir


melalui kumparan putar, maka akan dilawan oleh tegangan yang
diinduksikan dalam kumparan putar. Hal ini terjadi karena adnya rotasi
kumparan putar sehingga menghasilkan arus Id. Arus ini menimbulkan
momen peredam yang dapat diatur dengan cara mengatur besarnya
tahanan shunt rd. Jika derajat redamannya kritis, tahanan rd disebut tahanan
kritis. Besaran inilah yang disebut sebagai data galvanometer. Gambar 35
di bawah ini menunjukan operasi galvanometer.

56
Gambar 35. Operasi galvanometer
B. Galvanometer Refleksi
Galvanometer yang digunakan pada kepekaan-kepekaan yang tinggi,
menggunakan system refleksi cahaya. Alat penunjuk (pointer) yang
digunakan adalah berupa cermin pemantul yang dipasang pada bagian
yang berputar. Berkas cahaya dipantulkan dari cermin terrsebut kemudian
diproyeksikan pada sebuah kaca buram yang mempunyai garis-garis skala
pembagi. Gambar 36 memperlihatkan galvanometer jenis pemantul ini.

Gambar. 36 Galvanometer jenis pemantul, lampu dan skalanya

57
Gambar. 37 Prinsip kerja galvanometer jenis pemantul/reflleksi
Prinsip kerja Galvanometer jenis pemantul ditunjukkan pada gambar 37.
Cermin pemantul paralel dengan papan skala jika tidak ada arus mengaalir,
kemudian jika ada arus yang mengalir maka cermin pemantul berputar dengan

besar sudut θ . Berkas cahaya yang bersal dari sumber cahaya dipantulkan oleh

cermin dan diproyeksikan ke papan skala dan menghasilkan sudut sebesar 2 θ


terhadap berkas cahaya yang datang nenuju cermin. Proyeksi yang berupa titk
pada papan skala bergerak sepanjang d dari titik O dan memenuhi persamaan
d
tan 2θ =
D

dengan d adalah jarak titik proyeksi dari O


D adalah jarak antara cermin pemantul m dan skala S.

58
Jika besar sudut putar cermin θ jauh lebih kecil dari 1 maka persamaan di atas
menjadi
d = 2 Dθ
Dari persamaan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan sudut putararn yang
kecil akan diperoleh pergeseran yang dapat dideteksi. Pergeseran ini dapat
digunakan sebagai indikasi perubahan arus yang mengalir pada galvanometer.

BAB XI. OSILOSKOP

Osiloskop adalah alat ukur yang sangat penting dalam bidang elektronika
karena mampu menampilkan bentuk gelombang yang dihasilkan oleh suatu
rangkaian yang sedang diamati. Berdasarkan prinsip kerjanya osiloskop
digolongkan menjadi dua jenis yaitu osiloskop tipe analog / ART(analog real
time) dan tipe digital /DSO ( Digital storage oscilloscope). Masing-masing
memiliki karakter yang berbeda serta mempunyai kelebihan dan kelemahan yang
berbeda pula. Gambar 38 menunjukkan bentuk osiloskop beserta chanel-
chanelnya

59
Gambar.38. Osiloskop dengan chanel-chanelnya

A. Osiloskop Analog / ART

Osiloskop analog biasanya dipakai untuk mengamati dan menggambar


bentuk-bentuk gelombang tunggal melalui gerakan pancaran elektron dalam
sebuah tabung sinar katoda (CRT-cathode ray tube) dari kiri ke kanan. Bagian-
bagian pokok CRT seperti tampak pada gambar 39.
8

1 2 3 4 5
6 7

9 10
Gambar 39. Bagian-bagian pokok tabung sinar katoda
Keterangan :
1. Pemanas / filamen
2. Katoda
3. Kisi pengatur
4. Anoda pemusat
5. Anoda pemercepat
6. Pelat untuk simpangan horisontal
7. Anoda untuk simpangan vertikal
8. Lapisan logam
9. Berkas sinar elektron
10. Layar fluorosensi

60
Elektron yang dipancarkan dari bagian senapan elektron (electron gun) akan
membentur atau menumbuk dinding tabung CRT tersebut kemudian mengeksitasi
elektron dalam lapisan fosfor pada layar tabung CRT sehingga menimbulkan
perpendaran pada layar yang menggambarkan bentuk dasar gelombang. Sebelum
menuju layar tabung, elektron yang dipancarkan oleh senapan elektron tadi
dipengaruhi oleh medan listrik dengan arah vertikal ke atas maupun ke bawah
yang dihasilkan oleh sepasang pelat pembelok vertikal , juga dipengaruhi oleh
medan listrik dengan arah horizontal yang dihasilkan oleh sepasang pelat
pembelok horizontal. Jika semua pelat tegangannya nol volt, maka elektron akan
lurus menuju layar sehingga hanya terlihat sebuah bintik nyala di tengah-tengah
layar. Supaya muncul garis pada layar, maka perlu diberikan gelombang gigi
gergaji pada pasangan pelat yang horisontal. Tegangan gigi gergaji dihasilkan
oleh time base generator atau sweep generator yang dperkuat oleh penguat
horisontal. Tegangan gigi gergaji ini naik secara linier terhadap waktu sehingga
berkas elektron pada layar bergerak dari kiri ke kanan. Setelah sampai di bagian
paling kanan layar, tegangan gigi gergaji turun dengan cepat ke nol sehingga
memulai gerakan berulang dari bagian kiri layar. Gerakan balik yang cepat ini
tidak dapat ditangkap oleh mata sehingga yang terlihat adalah gambar garis
horisontal lurus pada layar yang tidak terputus. Agar osiloskop dapat
menggambarkan bentuk gelombang yang sedang diamati maka gelombang
tersebut diumpankan ke rangkaian vertikal. Rangkaian vertikal ini berfungsi
memperkuat atau melemahkan simpangan vertikal dari gelombang masukan,
sehingga tegangan yang diberikan ke pasangan pelat defleksi vertikal
menghasilkan medan listrik yang dapat mempengaruhi gerakan vertikal elektron
secara proporsional selagi ia bergerak menuju ke layar, yang berakibat bentuk
gelombang pada layar dapat diperbesar atau diperkecil. Karena arah gerak
elektron berdasar vektor medan listrik horisontal dan vertikal, CRT nya disebut
direct viev vector CRT. Prinsip osiloskop jenis analog /ART dapat disederhanakan
dengan gambar 40 berikut:

61
Gambar. 40 Skema prinsip kerja osiloskop ART
Agar gambar pada layar dapat stabil, digunakan rangkaian picu (trigger). Jika
suatu gelombang listrik dihubungkan ke ART, rangkaian picu akan memonitor
gelombang masukan tersebut dan menunggu event - yakni saat terjadinya
peristiwa atau kondisi yang dapat dipakai untuk- pemicuan. Event picu ini berupa
suatu sisi atau tebing gelombang yang memenuhi persyaratan yang telah
didefinisikan atau ditentukan melalui suatu pilihan tombol pada panel depan
osiloskop. Sekali event picu ini terjadi, osiloskop akan menstart generator sapu
dan meragakan bentuk gelombang yang sedang diukur. Proses ini akan berulang
sepanjang osiloskop tersebut dapat mendeteksi event-event picu.

62
Gambar 41. Skema prosedur dalam osiloskop analog

B. Osiloskop Digital (Digital Storage Oscilloscope)

Pada osiloskop analog, gelombang yang akan ditampilkan langsung


diberikan ke rangkaian vertikal sehingga akan menghilang dengan cepat dengan
bergeraknya sinar elektron pada layar. Pada osiloskop digital, bentuk gelombang
yang diamati merupakan gambar yang bisa diam terlihat pada layar. Prinsipnya,
pada osiloskop digital ini, gelombang yang akan ditampilkan pada layar terlebih
dulu dicuplik atau disampling dan didigitalisasikan kemudian nilai-nilai tegangan
gelombang bersama-sama dengan skala waktu gelombangnya disimpan. Proses
mencuplik dan menyimpan ini diulangi sampai dihentikan. Osiloskop digital
melakukan akuisisi (pengambilan) gelombang yang akan diukur dalam satu event

63
pemicuan, namun demikian ia
secara rutin memperoleh,
mengukur dan menyimpan
sinyal masukan, mengalirkan nilainya melalui memori dalam suatu proses kerja
dengan cara; pertama yang disimpan, yang pertama pula yang akan dikeluarkan,
sambil menanti picu terjadi. Sekali osiloskop ini mengenali event picu yang
didefinisikan oleh penggunanya, osiloskop mengambil sejumlah cuplikan yang
kemudian mengirimkan informasi gelombangnya ke peraga (layar). Karena kerja
pemicuan yang demikian ini, ia dapat menyimpan dan meragakan informasi yang
diperoleh sebelum picu (pretrigger) sampai 100 persen dari lokasi memori yang
disediakan.

DSO mempunyai dua cara untuk "menangkap" atau mencuplik gelombang, yakni
bang teramati padadengan teknikdigital
osiloskop single shot atau real time sampling. Dengan kedua teknik ini,
osiloskop memperoleh semua cuplikan dengan satu event picu. Sayangnya laju
cuplik DSO membatasi lebar pita osiloskop ketika beroperasi dalam waktu nyata
(real time). Secara teori (sesuai dengan Nyquist sampling theorema), osiloskop
digital membutuhkan masukan dengan sekurang-kurangnya dua cuplikan per
periode gelombang untuk merekonstruksi suatu bentuk gelombang. Dalam
praktek, tiga atau lebih cuplikan per periode menjamin akurasi akuisisi. Jika
pencuplik tidak dapat sama cepat dengan sinyal masukannya, osiloskop tidak akan
dapat mengumpulkan suatu jumlah yang cukup yang berakibat menghasilkan
suatu peragaan yang lain dari bentuk gelombangnya aslinya. yakni osiloskop akan
menggambarkan struktur keseluruhan sinyal masukan pada suatu frekuensi yang
jauh lebih rendah dari frekuensi sinyal sesungguhnya. Ketika menangkap suatu
gelombang bentuk tunggal (single shot waveform ) dengan cuplikan waktu nyata,
osiloskop digital harus secara akurat menangkap frekuensi sinyal masukan.
Osiloskop digital biasanya menspesifikasikan dua lebar pita; real time dan analog.
Lebar pita analog menyatakan frekuensi tertinggi jalur masukannya yang dapat
lolos tanpa cacat yang serius pada sinyalnya. Lebar pita real time menunjukkan
frekuensi maksimum dari osiloskop yang dapat secara akurat mencuplik
menggunakan satu event picu. Bergantung dari osiloskopnya, kadang-kadang
kedua lebar pita tersebut mempunyai harga yang sama, kadang mempunyai nilai
yang berbeda jauh. Sebagai contoh misalnya lebar pita analog dari suatu DSO 350
MHz dan lebar pita real time-nya hanya 40MHz.

Dengan metode alternatif yakni menggunakan equivalent-time sampling


DSO secara akurat dapat menangkap sinyal-sinyal sampai pada lebar pita
osiloskopnya, tetapi hanya pada sinyal-sinyal yang sifatnya repetitif. Dengan

64
teknik ini, osiloskop digital menerima cuplikan-cuplikan pada banyak event-event
picu yang kemudian secara berangsur-angsur mengkonstruksi keseluruhan bentuk
gelombangnya. Hanya lebar pita analog yang membatasi osiloskop pada frekuensi
berapa dapat menerima teknik ini. Kebanyakan DSO, apakah ia menggunakan
teknik real time atau equivalent time akan mencuplik pada laju maksimum tanpa
mengacu berapa dasar waktu (time base) yang di pilih. Pada kecepatan sapuan
yang lebih rendah osiloskop digital menerima jauh lebih banyak cuplikan daripada
yang dapat disimpannya. Bergantung kepada mode akuisisi yang kita pilih, suatu
DSO akan membuang cuplikan ekstra atau menggunakannya untuk pemrosesan
sinyal-sinyal tambahan seperti deteksi puncak gelombang (peak detect), maupun
sampul gelombang (envelope) .

Gambar 43. Skema prosedur dalam osiloskop digital

C. Osiloskop Sampling (Sampling Oscilloscope)

65
Osiloskop ini bekerja berdasarkan teknik sampling dan cocok untuk bentuk-
bentuk gelombang berulang. Osiloskop jenis ini memiliki sensitivitas yang tinggi
dan daerah jangkauan frekuensi yang lebar dan lainnya. Beberapa kelemahan yang
ada pada osiloskop ART diantaranya lebar band amplifier, sensitivitas simpanng
dapat diatasi oleh adanya osiloskop sampling ini. Osiloskop ini juga dapat
mengamati gelombang dengan frekuesi tinggi. Prinsip osiloskop sampling
ditunjukkan pada gambar 43

(a)

(b)
Gambar 44. (a) Skema prinsip kerja sampling Osiloskop (b) Contoh sampling
osiloskop TDS 8000

66
Pulsa triggering (pemicu) akan mmenimbulkan tegangan pada generator
tegangan sloping. Untuk membuat pulsa sampling, harus dikndalikan oleh
keluaran dari gelombang gerigi yang linier. Jika terdapat sinyal (pulsa) diberikan
pada sampling, maka sinyal masukan tersebut akan diammbil (amplitudo
sesaatnya). Suatu delay line digunakan untuk memperlambat gelombang, agar
gelombag masukan dapat teramati dengan baik. Gelombang masukan ini lalu
mengalami penguatan dan dioerlebar sampai 1ms sebelum muncul sebagai sebuah
bintik cahaya pada layar.

D. Kelebihan dan Kelemahan

Osiloskop jenis ART mempunyai kelebihan dalam hal fidelity (kesetiaan)nya


dibandingkan dengan jenis DSO, karena hanya mengkodisikan sinyal masukan
melemahkan (memperkecil) dan menguatkannya (memperbesar) dalam
peragaannya di layar, maka keutuhan esensi dari sinyal masukan tetap utuh.
Kesetiaan sinyal (signal fidelity) menyatakan suatu ukuran seberapa dekat bentuk
gelombang yang diragakan oleh osiloskop sesuai dengan bentuk gelombang
masukan sesungguhnya. Osiloskop ART juga mempunyai kelebihan dalam hal
resolusinya yang tak terbatas. Pancaran elektron untuk menggambar bentuk
gelombang mempunyai resolusi yang ajeg baik secara vertikal maupun horizontal.
Pada Osiloskop digital (DSO), karena ada proses pembagian digitalisasi sebuahh
sinyal ke dalam pengukuran diskret, maka DSO akan kehilangan kemampuan
resolusi yang ada pada osiloskop analog. Untuk menaikkan resolusinya, baik
vertikal mauoun horisontal. DSO menggunakan berbagai metode akuisisi yang
berdasarkan pada pemrosesan sinyal digital untuk menaikkan resolusi vertikalnya.
Mode ini bekerja pada sinyal-sinyal yang sekejap (single shoot) maupun bentuk-
bentuk gelombang yang berulang. Laju cuplikan pada osiloskop digital ada yang
mencapai 2 Giga (2.109) per detik, yang berarti mencuplik sinyal setiap 500 piko
detik. Osiloskop analog memiliki persistensi yang lebih baik daripada osiloskop
digital. Adanya persistensi akan mengungkapkan informasi penting jika akan
dilakukan analisa dan penelusuran bentuk-bentuk gelombang dalam suatu
perancangan peralatan elektronik yang kompleks seperti pada catu daya swiching.

67
Harga osiloskop analog (ART) relatif lebih murah daripada osiloskop digital
(DSO), pengaturannya lebih mudaah karena tidak ada tunda antara gelombang
yang sedang dilihat dengan peragaan pad layar. Untuk gelombang yang kompleks,
contohnya sinyal video di TV, osiloskop analog lebih unggul dalam memeragakan
gelombangnya. Akan tetapi osiloskop analog ini mempunyai keterbatasan yaitu
tidak dapat menangkap bagian gelombang sebelum terjadinya event picu serta
adanya kedipan pada layar untuk gelombang yang frekuensinya rendah (kira-kira
10-20 Hz). Osiloskop digital (DSO) mempunyi kelebihan dalam kemudahan
untuk melakukan akuisisi gelombang dan pengukurannya. Kemampuannya
sebagai penyimpan gelombang memudahkan untuk dilakukan analisa terhadap
sinyal-sinyal yang penting, sehingga kondisi khusus yang terjadi dapat dideteksi.
Osiloskop digital juga mampu mengatasi keterbatasan yang ada pada osiloskop
analog yaitu dapat menangkap bagian gelombang sebelum terjadinya event picu
serta adanya kedipan pada layar gelombang yang frekuensinya rendah.

68
BAB XII. GENERATOR SINYAL

Sinyal generator adalah salah satu alat elektronik yang dapat menghasilkan
bentuk gelombang. Bentuk gelombang tersebut dapat dilakukan pengulangan.

Generator sinyal analog biasanya digunakan untuk menghasilkan


(memproduksi) bentuk gelombang tiga sudut (triangle waveform). Gelombang ini
dihasilkan oleh adanya picu dan tidak dipicunya sebuah kapasitor secara berulang-
ulang. Dengan diketahuinya frekuensi dan tegangan gelombang generator sinyaa
ini, maka alat ini kemudian dapat digunakan sebagaim pengetesan atau kalibrasi
beberapa alat ukur lain. Alat ukur ini terdiri dari attenuator, bentuk gelombang
yang termodulasi. Beberapa ketentuan dalam pembuatan generator yang harus
dipenuhi antara lain :

1. Gelombang keluaran memiliki distorsi kecil

2. Impedansi keluaran tidak berubah meskipun


frekuensi dan atau tegangan keluaran berubah

3. Kebocoran gelombang elektromagnet pada terminal


keluaran harus kecil sekali

4. Frekuensi osilasi dan tingkat keluaran harus stabil


dalam batas beberapa %

5. Apabila dimodulasi, maka tingkat modulasi harus


teliti dan distorsinya kecil.

69
.

Gambar. 45 Bentuk generator sinyal

Gambar 45 menunjukkan salah satu bentuk generator sinyal. Bagian


yang penting pada generator sinyal adalah peredaman. Salah satu jenis peredaman
adalah peredam variabel jenis tahanan yang dilengkapi oleh sebuah elemen
tahanan. Peredaman diperoleh dari kerugian tahanannya. Kelebihan peredaman
jenis ini ada pada bentuknya yang kecil. Peredaman lain yaitu jenis reaktansi
dimana perdamannya berdasarkan peredaman pada daerah cut off. Gelombang
elektromagnetik yang ditimbulkan dalam silinder akan diredam secara
eksponensial dengan nilai tertentu.

Terdapat juga gernerator sinyal yang portable. Generator ini


mengkombinasikan antara frekuensi dengan jangkauan yang lebar dengan fungsi
bentuk gelombang modulasi, mempunyai bentuk yang cukup kecil dan mudah
digunakan dengan perangkat

Gambar 46. Signal Generator Add-on Modules Increase RF Output to 2.6GHz

Beberapa aplikasi dari generator sinyal adalah

1. Mengetes Penguatan pada amplifier

70
2. Mengetes adanya Wi-Fi, RFID

3. Dapat memprogram generator clock

4. Mengetes dan mengkalibrasi rangkaian penerima

5. Sumber osillator lokal

6. Mengetes rangkaian filter sampai 1 Hz

BAB XIII. MULTIMETER

Berkembangnya teknologi semikonduktor telah menghasilkkan alat ukur-


alat ukur yang dibuat dari elemen-elemen semikonduktor. Demikian juga
dibuatlah multimeter yang menggunakan elemen semikonduktor yang populer
menggunakan transistor dan dioda. Alat ukur jenis ini banyak memiliki
keunggulan dibanding dengan multimeter tabung hampa diantaranya adalah
penunjukannya tidak berubah-ubah meskipun ada aus panas, bentuk rangkaiannya
yang kecil serta mempunyai frekuensi dengan daerah kerja yang lebar. Di
samping itu multimeter jenis ini dapat dirancang sebagai alat yang portable atau
dapat bekerja walau hanya menggunakan sumber DC. Multimeter atau VOM
(volt-ohm-milliammeter) adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk
pengukuran tegangan, hambatan dan arus listrik. Ada dua tipe multimeter yaitu
multimeter analog dan multimeter digital. Bentuk kedua multimeter tersebut
ditunjukkan pada gambar 47

71
Gambar 47. Multimeter analog dan multimeter digital

Perbedaan yang mendasar antara kedua tipe tersebut analah untuk ipe
analog bekerja berdasarkan mekanisme gerak pointer (jarum penunjuk) sepanjang
skala yang terkalibrasi. Sedangkan pada tipe digital, melalui rangkaian digital
yang kompleks, kaka besaran listrik yang diukur akan ditampilkan dalam bentuk
angka pada layar. Secara teknik, multimeter digital lebih akurat dibandingkan
mulimeter analog (kesalahan pada tipe analog 3 % lebih besar dari kesalahan pada
tipe digital). Demikian juga pada tipe analog mempunyai resolusi yang lebih
rendah (1 % dari 100) dibandingkan dengan tipe digital (1% dari 1000). Akan
tetapi untuk mengetahui adanya noise, maka tipe analog lebih unggul
dibandingkan dengan tipe digital.

A. Prinsip Kerja Multimeter Analog

Multimeter analog terdiri dari voltmeter, ohmmeter dan Ammeter dalam


satu paket alat. Untuk memahami prinsip kerja multimeter analog ini ada baiknya
jika memahami prinsip kerja dari voltmeter, ohmmeter dan ammeter. Ammeter
bekerja menggunakan galvanometer D-Arsonal yang telah dijelaskan pada bab
Galvanometer. Prinsip kerjanya ditunjukkan pada gambar 48 (a), (b) dan (c)

72
a) (b)

(c)

Gambar 48. Prinsip kerja (a) Ammeter (b) Voltmeter dan (c) Ohmmeter

BAB XIV. ALAT-ALAT UKUR DIGITAL

. Pada dasarnya besaran –besaran yang diukur adalah berupa besaran


analog. Untuk menampilkannya dalam bentuk analog maka salah satu bagian
penting alat ukur digital ini adalah adanya pengubah besaran analog ke digital.
Beberapa kelemahan yang ada pada alat-alat ukur analog dapat diatasi oleh alat-
alat ukur digital. Harga besaran listrik yang diukur ditunjukkan langsung (dapat
dibaca langsung). Di samping itu alat ukur jenis ini dapat dihubungkan juga
dengan komputer sehingga kegunaannya bisa berkembang untuk berbagai
keperluan.

Pengukuran besaran analog yang diubah ke besaran digital ditunjukkan oleh


skema pada gambar 49

73
Gambar. 49. Prinsip pengubahan besaran anaolg ke digital

A. Voltmeter Digital

Voltmeter digital dapaat digunakan untuk mengukur tegangan AC


maupun DC. Secara garis besar, metode yang digunakan oleh voltmeter digital ini
dapat dibagi menjadi tiga yaitu metode perbandingan, metode integrasi dan
metode potensiometer integrasi.

0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200
000000050000000c020910a00b040000002e0118001c000000fb02100007000000
0000bc02000000000102022253797374656d0010a00b000055220000985c110004
ee8339083085020c020000040000002d01000004000000020101001c000000fb02
9cff0000000000009001000000000440001254696d6573204e657720526f6d616e0
000000000000000000000000000000000040000002d01010005000000090200000
0020d000000320a5a00ffff01000400000000009f0b0a1020002d00040000002d010
000030000000000

Gambar. 50. Rangkaian voltmeter digital sederhana

Diagram blok voltmeter digital sederhana diperlihatkan pada gambar 50


yang tersusun dari pembanding tegangan (komparator), gerbang AND, pencacah,
pendekode, penayang tujuh segmen, pengubah Analog ke digital (A/D) serta
pengubah Digital ke Analog (D/A) Pada metode perbandingan, tegangan yang
diukur selalu dibandingkan dengan suatu penguat pembanding. Pengubah Analog

74
ke Digital mengubah tegangan analog ke bentuk biner yang kemudian dikirimkan
ke pendekode, yang mengubahnya ke kode tujuh segmen. Pembacaan tujuh
segmen menyatakan tegangan dalam angka desimal. Pendekode akan
mengaktifkan garis a sampai g sesuai dengan nilai biner yang masuk ke
pendekode. Beberapa catu daya diperlukan untuk mengeset rangkaian ini.
Sekarang anggaplah terdapat tegangan masukan (yang diukur) sebesar 2 Volt.
Pertama-tama pencacah BCD direset menjadi 0000. Pembanding akan memeriksa
masukan A dan B. Jik A lebih besar (A=2 Volt, B=0 Volt) maka keluaran
pembanding adalah suatu nilai logis 1 yang kemudian membuka pintu AND
sehingga pulsa detak (clock) dapat melewati gerbang AND tersebut. Pulsa detak
ini menyebabkan pencacah melakukan satu cacahan yaitu 0001. Nilai biner 0001
ini kemudian terpasang pada pendekode yang membuka baris b dan c dari peraga
tujuh segmen sehingga memberikan pembacaan desimal 1. 0001 ini juga
terpasang pada pengubah D/A. Sekitar 3,2 Volt dari pencacah terpasang pada
masukan penguat amplifier (Op-Amp) melalui resistor 150 k Ω . Besar penguatan
tegangan yang dihasilkan oleh Op-Amp tersebut adalah

Rf 47000
Av = = = 0,31
Rin 150000

Penguatan ini jika dikalikan dengan besar tegangan masukannya, maka diproleh
besar tegangan keluaran sebesar

Vo = Av X Vin = 0,31 X 3,2 = 1 Volt

Tegangan keluaran D/A adalah -1 Volt yang kemudian dimasukkan kembali ke


angkaian pembanding. Pembanding kemudian memeriksa kembali masukan A dan
B. Masukan A (2 Volt) masih lebih besar dari masukan B (1 Volt), sehingga
memberikan logis 1 ke gerbang AND. Gerbang AND melewatkan pulsa detak
(Clock) yang kedua ke pencacah BCD sehingga pencacah melanjutkan
pencacahannya sampai 0010. yang diterukan ke pendekode dan terbaca pada
peraga tujuh segmen sebagai desimal 2. Nilai biner 0010 tersebut juga masuk ke

75
pengudah D/A dan mengeluarkan tegangan keluaran sebesar 2 Volt yang
dimasukkan kembali ke rangkaian pembanding. Sekarang masukan A
dibandingkan dengan masukan B yang ternyata B sedikit lebih besar dari A
sehingga pembanding memberikan logis 0 pada gerbang AND sehingga gerbang
AND tertutup dan tidak ada pulsa detakak (clock) yang masuk sampai pencacah.
Cacahan berhenti sampai di sini dan memberikan nilai 2 pada peraga tujuh
segmen yang telah menampilkan tegangan sebenarnya yang sedang diukur.

Voltmeter digital terdiri dari tiga buah lempengan tembaga yang terpasang
pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung kaca atau plastik seperti
ditunjukka pada gambar 51. Lempengan luar berperan sebagai anoda sedangkan
yang di tengah sebagai katoda. Umumnya tabung tersebut berukuran 15 x 10cm
(tinggi x diameter)

Gambar 51. Bentuk voltmeter digital

B. Ammeter Digital

Ammeter digital adalah alat ukur yang mengukur arus listrik dalam satuan
ampere dan menampilkan nilai dari arus yang diukur dalan bentuk angka pada
layar (display). Ammeter digital dihubungkan seri dengan tahanan beban pada
rangkaian. Jika arus terukur nilainya kecil, hal ini mengindikasikan adanya
tahanan yang tinggi pada rangkaian sedaangkan jika nilai arus terukur terlalu
tinggi, ini dapat mengindikasikan kemungkinan adanya hubungan pendek (short

76
circuit) atau adanya komponen yang cacat. Ammeter digital ini dapat mengukur
arus searah (DC) maupun arus bolak balik(AC). Beberapa ammeter yang
mengukur arus AC juga mengukur daya RMS ( Root Mean Squarre) yaitu akar
kuadrat tegangan rata-rata . Terdapat juga Ammeter yang memiliki komponen
berupa sensor yang dipasang pada Ammeter tersebut atau di clamp mengelilingi
kawat pada ammeter. Perbedaan tipe ammeter dalah didasarkan pada perbedaan
range nilai ukurnya. Ammeter digital dapat dibuat secara portable, dengan
menggunakan baterai sebagai sumber tegangannya. Contoh digital Ammeter
ditunjukkan pada gambar 52.

Gambar 52. Bentuk Ammeter digital

C. Frekuensimeter jenis penghitung (Frequency Counter Type)

Prinsip dasar frekuensimeter ini juga berdasarkan teknik rangkaian digital.


Besar frekuensi yang diukur akan langsung ditunjukkan dalam bentuk angka
sehingga mudah dipakai, tepat serta teliti. Frekuensi yang diukur beripa
gelombang sinus dirubah menjadi pulsa-pulsa. Pulsa-pulsa ini kemudian dicacah
oleh suatu pencacah frekuensi. Untuk menghitung pulsa masukan, diperlukan
suatu ossilator kristal yang memberikan nilai tertentu pada pencacah frekuensi ini.
Keluaran ossilator ini kemudian dibagi frekuensinya unuk memperoleh pulsa-
pulsa dengan perioda satu detik yaang digunakan untuk mengatur rangkaian
gerbang. Pulsa-pulsa masukan akan dicacah selama satu detik dan pencacah akan
langsung menunjukkan besar frekuensi yang sedang diukur. Kelemahan alat ukur
ini hanya dapat mengukur frekuensi yang tinggi, sehingga pada frekuensi yang
rendah perlu dirubah terlebih dulu ke frekuensi tinggi. Hal ini dapat dilakukan

77
oleh rangkaian pengali frekuensi frekuency multiplier). Beberapa contoh frekuensi
meter ditunjukkan pada gambar 53.

(a)

(b)
Gambar 53. (a) Frekuensi meter FR-114/U dan (b) Anritsu MF76A --- 10Hz-
18GHz Microwave Frequency counter

TENTANG PENULIS

WIIDAYANTI,M.Si lahir di Surakarta pada tanggal 26 Mei 1976. Kini


menjadi salah satu staff dosen di Program Studi Fisika Universitas Islam Negeri
Sunan Kalijaga Yogyakarta.

78
Memulai pendidikan S1 nya di jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta dan mendapatkan gelar kesarjanaannya pada tahun 2001. Kemudian
melanjutkan studi di Program Pasca Sarjana pada Ilmu Fisika dan lulus pada
tahun 2006. Karya Ilmiah yang pernah ditulis adalah ”Pembuatan Alat Ukur
Digital Kecepatan Aliran Fluida dalam Pipa” serta ”Kajian Teoritis Ragam
Polariton Fonon dalam Bahan Ferroelektrik BTO”.
Mulai tahun 2004-sekarang telah mengampu mata kuliah Elektronika
Dasar I, Elektrronika Dasar II, Fisika Dasar serta Analisa Numerik.

79