Anda di halaman 1dari 14

A.

Definisi Homoseksual
Homoseksual merupakan salah satu masalah yang menghinggapi remaja saat
ini. Fakta dilapangan menunjukan bahwa perilaku homoseksual dilakukan mulai
umur remaja. Sebagai contoh, jumlah homoseksual di Kanada sekitar 1% dari
keseluruhan penduduknya, dengan usia 18-59 tahun. Sedangkan di Amerika
berdasarkan hasil penelitian dari National Center for Health Research (Kamilia
Manaf: 2007) tahun 2002 sekitar 4,4% masyarakat Amerika pernah melakukan
hubungan homoseksual, dengan usia 15-44 tahun. Di Indonesia sendiri (Deti Riyanti
dan Sinly Evan Putra: 2008) berdasarkan hasil statistik menunjukan bahwa sekitar 8
sampai 10 juta pria pernah terlibat dalam hubungan homoseksual.
Para ahli mendefinisikan homoseksual secara beragam, menurut Deti Riyanti
dan Sinly Evan Putra (2008) homoseksual dapat diartikan sebagai kelainan terhadap
orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang
mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Sedangkan Kaplan
(Wayan Westa: 2006) mengemukakan bahwa homoseksual adalah penyimpangan
psikoseksual di mana seseorang dewasa tertarik gairah seksualnya dengan teman
sejenis.
Berbeda dengan kedua pendapat diatas yang menganggap bahwa homoseksual
merupakan sebuah penyimpangan atau kelainan, Dali Gulo (Abu Al-Ghifari: 2002:
105) mengatakan bahwa homoseksual merupakan kecenderungan untuk memiliki
hasrat seksual atau mengadakan hubungan seksual dengan jenis kelamin yang sama.
Suharko Kasran (2008) berpendapat bahwa homoseksual pada dasarnya meruapakan
interest afektif dan genital terarah kepada sesama seks.Dari beberapa definisi tersebut
setidaknya kita dapat mengambil satu persamaan yaitu bahwa homoseksual
merupakan kecenderungan individu untuk menyukai orang lain yang mempunyai
jenis kelamin yang sama. Homoseksual sendiri terbagi menjadi dua kelompok yaitu

homoseksual yang terjadi pada pria yang disebut gay dan yang terjadi pada wanita
yang disebut lesbianisme.
B. Orientasi Seksual
Orientasi seksual individu pada dasarnya terbagai menjadi 3 yaitu
Heteroseksual, yang merupakan reaksi seksual antara makhluk berbeda jenis kelamin;
Homoseksual, reaksi seksual antara mahluk sesama jenis kelamin; dan Biseksual,
yang merupakan gabungan antara keduanya. Perlu diingat bahwa orientasi seksual ini
tidak sama dengan aktivitas seksual, ini terbukti dengan bahwa remaja yang lesbian,
gay, ataupun biseksual belum tentu pernah melakuakn hubungan seksual secara nyata.
Begitu pula sebaliknya orang yang pernah berhubungan seks sesama jenis bukan
berarti adalah lesbian, gay, atau biseksual (Just The fact Coalition: 2008)Alfred
Kinsey (1961) mengemukakan bahwa 96% manusia itu biseksual. 2% homoseksual
murni dan 2% heteroseks murni. Dalam teori statistik, hal ini dikenal dengan istilah
kurva distribusi normal. Bila suatu populasi dikelompokkan, akan terbentuk kurva
distribusi pada kedua ujungnya, 2% kanan dan 2 % kiri dianggap sebagai standar
deviasi atau abnormalitas. Jadi, sesuai dengan teori dr. Kinsey, yaitu 2% homoseks
dan 2% heteroseks dianggap abnormal.Yang termasuk kedalam kelompok heteroseks
murni adalah orang yang 100% orientasinya heteroseks. Orang ini tidak mungkin bisa
bergaul di masyarakat dan menjadi penyakit masyarakat, seperti juga halnya dengan
kelompok homoseksual murni, mereka tidak bisa berkomunikasi dengan sesama jenis
dalam bentuk apa pun.Lebih lanjut Alfred Kinsey (1961) menyebutkan bahwa sisa
manusia 96% yang biseksual itu dimasukkan ke dalam beberapa kelas sesuai derajat
homoseksual dan heteroseksualitasnya, misalnya kelompok tengah adalah kelompok
50:50. Derajat seksualitas ini tidak berarti sebagai ekspresi seksualitas. Walaupun
seseorang berada pada kelompok ekstrem kanan dalam skema Kinsey, yaitu 10%
heteroseksual dan 90% homoseksual, akan tetapi karena sejak kecil berkembang di
lingkungan heteroseks, potensi homoseksnya yang 90% itu tidak akan berkembang

dan bisa saja seumur hidup dia merupakan heteroseks yang baik karena aspek
berlawanannya tidak berkembang. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi pada orang
yang berada dalam kelompok ekstrem kiri yaitu 90% heteroseks dan 10% homoseks,
bila berkembang di lingkungan homoseks, bisa saja terekspresi sebagai seorang
homoseks tulen karena aspek heteroseksnya tidak berkembang. Dari teori ini, kita
melihat bahwa lingkungan sangat dominan mempengaruhi orientasi seksual manusia.

A. PENYEBAB DAN TEORI-TEORI HOMOSEKSUAL


Tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan subjek menjadi homoseksual.
Penyebab homoseksualitas sebenarnya sulit dikemukakan karena penyelidikan
ilmiah atas masalah ini merupakan suatu hal yang baru. Di samping itu, ada
banyak teori yang menjelaskan sebab-sebab homoseksualitas, tetapi penjelasan
yang diberikan itu masih kurang memuaskan. Berikut ini akan disampaikan
beberapa teori mengenai sebab-sebab terjadinya homoseksualitas.
a. Psikodinamika
Menurut Freud, setiap orang dilahirkan dengan potensi biseksual.
Selama perkembangan psikoseksual, seorang anak dapat berkembang
menjadi homoseks atau heteroseks, tergantung pada pengalaman masa
kanak-kanak atau pendidikannya.
Charles Socarides (Kadir, 2007), menerangkan adanya 5 tipe penyebab
homoseksual, yaitu:
1). Pre-oedipal, merupakan hasil fiksasi perkembangan pada 0-3 tahun.
2). Oediphal, timbulnya homoseksual karena kegagalan dalam fece
oediphal.
3). Schizohomosexuality, schizoprenia dan homoseksualitas yang terdapat
pada satu orang.
4). Situational homoseksual, terjadi karena situasi.
5). Variational homosexual, sebagai variasi dari perilaku seksual seorang
heteroseksual.
Sementara Allen (1969) percaya bahwa homoseksualitas (pada lakilaki) disebabkan oleh empat hal :

1).
2).
3).
4).

Penolakan terhadap ibu


Kelekatan berlebihan dengan ibu
Permusuhan dengan ayah
Afeksi berlebihan terhadap ayah yang kurang mampu berperan sebagai ayah.
b. Biologis Hormonal
Ellis pada tahun 1901 menyatakan bahwa ada/tidaknya homoseksualitas
adalah keadaan yang didapatkan seseorang sejak ia lahir, sehingga menjadi
homoseksual bukanlah sesuatu yang inmoral (Masters, 1992).
Pada tahun 1992, Isay yang merupakan anggota komite APA (American
Psychiatric Association) untuk masalah homoseksual, mengemukakan bahwa
penyebab homoseksual adalah konstitusional (biologis, telah ada sejak lahir)
(Masters, 1992).
1). Faktor Genetik
Salah satu penyidik melaporkan temuan yang mendukung pandangan
bahwa homoseksualitas adalah hasil kondisi genetik (Masters, 1992).
Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa karena kedua anak kembar
yang terkena lingkungan orangtua dan postnatal yang sama, penyebab
genetik untuk homoseksualitas akan muncul sebagai tingkat konkordansi
tinggi di antara kembar inentical, akan homoseksual bukan yang satu
menjadi homoseksual dan satu heretoseksual (Masters, 1992).
2). Faktor Hormonal
Beberapa jenis penelitian telah menyebabkan banyak untuk berspekulasi
tentang kemungkinan faktor hormonal menyebabkan atau predisposisi
untuk homoseksualitas. Pertama, telah didokumentasikan dengan baik
bahwa pengobatan hormon kehamilan dari berbagai jenis menyebabkan
laki-laki atau perempuan pola perilaku homoseksual adalah beberapa
spesies binatang yang berbeda. Kedua, beberapa temuan menunjukkan
bahwa seks tersebar kelebihan hormon kehamilan atau kekurangan pada
manusia dapat berhubungan dengan homoseksualitas. Ketiga, perhatian
besar telah difokuskan pada perbandingan kadar hormon dalam
homoseksual dan heteroseksual dewasa.
c. Pandangan Teori Belajar

Teori belajar berasumsi bahwa kebanyakan perilaku termasuk di


dalamnya perilaku seksual yang diakibatkan oleh adanya proses belajar
(Ellgeier dan Ellgeier, 1991). Orang mengarahkan pada perilaku
homoseksual karena dorongan kepuasan, kepuasan seks dengan sesama
jenis, atau karena tidak senang, ketidakpuasan, serta ketakutan terhadap
pengalaman heteroseksual (Master, dkk, 1992).
d. Pandangan Teori Kognitif
Teori disonansi kognitif merupakan sebuah teori yang membahas
mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang yang diakibatkan oleh
sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak konsisten. Kaum homoseksual,
berdasarkan pandangan mereka pada perilakunya, dapat dibagi menjadi
dua yaitu yang menerima

perilaku homoseksual itu sendiri dan

yang tidak menerima tetapi tidak punya daya untuk mengatasi


masalahnya.
Kaum
homoseksual

yang

biasanya

menerima

perilaku

homoseksualnya sebagai sebuah aktivitas seksual yang membawa


kesenangan, dan dapat menikmati hubungan homoseksual (homoseksual
dan lesbian), biasanya tidak terlalu memikirkan akan adanya pertentangan
antara perilakunya dengan keyakinan agama dan kepercayaan yang
dianutnya. Mereka akan berusaha meyakinan masyarakat yang selama ini
menolak perilaku homoseksual sebagai sebuah penyimpangan. Kaum
homoseksual ini bahkan sudah banyak yang mendapatkan legalisasi
hubungan mereka dibeberapa negera-negara Eropa dan beberapa Negara
bagian di Amerika Serikat.
Berbeda dengan kaum homoseksual yang tidak menerima perilakunya
sendiri, karena adanya perbedaan akan perilakunya selama ini dengan
agama dan keyakinan yang dianutnya. Selain itu, masyarakat juga masih
massif menentang akan perilaku tersebut. Masyarakat belum bisa
menerima perlaku homoseksual mereka. Inilah yang saya maksud
mereka mengalami disonansi kognisif, dimana keyakinan yang dimiliki

oleh kaum homoseksual berbeda dengan perilakunya, tetapi mereka tidak


punya daya untuk keluar dari masalahnya.
Kaum homoseksual yang mengalami disonansi kognitif sebenarnya
adalah sebuah penyimpangan tingkah laku. Bantuan psikologis memang
bisa diberikan kepada kaum homoseksual yang mengalami disonansi
kognitif ini untuk membantu menyelaraskan antara keyakinan yang
dimiliki, dan nilai-nilai yang dianut dengan perilakunya yang abnormal.
C. Dampak Homoseksual
Walaupun

World

Health

Organization

(WHO)

telah

mengeluarkan

homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan pada tanggal 17 Mei 1981, dan
mengeluarkannya dari daftar penyakit pada tahun 1992 (Kamilia Manaf: 2007), tetapi
dampak dari homoseksual tidaklah maini-main. Hal ini terbukti dari data penderita
HIV/AIDS di Amerika.Data pasien AIDS di Amerika menunjukan bahwa penderita
AIDS terbanyak ditunjukan oleh kaum homoseksual atau biseksual sekitar 65%,
pengguna jarum suntik 17%, homoseksual dan suntik 8%, hemofilia 1%, penerima
tranfusi darah 2%, heteroseksual 4% dan lainnya 3%. Data pada tahun 2002 juga
menunjukan angka yang tidak terlalu jauh yaitu sebagai berikut: 68,3% homoseksual,
12,9% karena obat suntik, 8% homoseks dan jarum suntk, hemofilia 2,1%,
heteroseksual 3,4%, tranfusi darah 0,7%, ibu pengidap HIV 0,6% dan lainnya
4%.Dari data diatas, fakta kebanyakan menyebut angka penyebab AIDS paling tinggi
terdapat di kalangan mereka yang melakukan hubungan seksual sesama jenis dan
kemudian disusul pengguna narkoba suntikan, baru disusul hubungan heteroseksual,
dan kemudian di susul penyebab lainnya.
2.6 Pandangan Umum Tentang Homoseksual

Pandangan Agama tentang homoseksual


1. Islam

Dalam agama Islam, perilaku homoseksual termasuk dosa besar. Oleh


karena perbuatan yang tercela inilah Allah SWT kemudian memusnahkan
kaum Nabi Luth A.S dengan cara yang sangat mengerikan. Hal ini
tertuang dalam QS.As-Syura :165-166. Allah SWT berfirman, Mengapa
kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, Dan kamu tinggalkan
isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah
orang-orang yang melampaui batas. 8
2. Kristen
Dalam agama Kristen, homoseksualitas adalah hubungan yang salah,
seperti dinyatakan dalam Kitab Suci, bertentangan dengan tujuan kreatif
Tuhan atas seksualitas manusia. Dengan demikian kita bisa pastikan
bahwa homoseksualitas bukan hasil dari penciptaan yang dilakukan oleh
Tuhan.
Alkitab secara konsisten memberitahu kita bahwa perbuatan
homoseksualitas adalah dosa (Kejadian 19:1-13; Imamat 18:22; Roma
1:26-27; 1 Korintus 6:9). Roma 1:26-27 secara khusus mengajarkan
bahwa homoseksualitas adalah akibat dari penyangkalan dan penolakan
terhadap

Allah.

Ketika

seseorang

terus

di

dalam

dosa

dan

ketidakpercayaan, Alkitab mengatakan bahwa Allah menyerahkan


mereka kepada hawa nafsu dan menjadi lebih jahat dan berdosa untuk
menunjukkan kepada mereka kesia-siaan dari hidup yang terpisah dari
Allah.

Korintus

6:9

mengatakan

bahwa

pelaku-pelaku

homoseksualitas tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.9


3. Katolik
Dalam agama Katolik Roma, aktifitas homoseksual adalah sesuatu
yang bertentangan dengan hokum alam dan penuh dosa, sementara
keinginan dan nafsu homoseksual adalah suatu kelainan.

4. Hindu
Hukum Manu, dasar hukum Hindu menyebutkan jenis kelamin
ketiga, yaitu anggota-anggota yang mungkin terlibat dalam ekspresi
gender non-tradisional dan aktifitas homoseksual. Sedangkan dalam sastra
Hindu ada yang disebut Amandel Sanggama (percampuran pasangan
sejenis) yang sama sekali dilarang.
5. Budha
Agama Buddha tidak pernah mengutuk homoseksual atau siapapun
dan itu dapat dibuktikan bahwa segala jenis pengutukan tidak pernah
terjadi dalam perkembangan Agama Buddha sehingga tidak pernah
tercatat dalam Kitab Suci Agama Buddha Tipitaka. Tidak ada alasan bagi
pihak-pihak tertentu mengatakan bahwa kaum homoseksual tidak boleh
menjadi umat Buddha. Namun, agama Buddha juga tidak mendukung atau
menggalakkan seseorang menjadi Gay atau Lesbian. Kata-kata yang lebih
tepat adalah agama Buddha menerima siapa saja dalam kondisi alami
mereka untuk menggapai kebahagiaan, karena semua orang berhak untuk
memperoleh kebahagiaan.
Pandangan mengenai homoseksual
Pandangan Homoseksual dari Aspek Kejiwaan/Psikis
Keterkaitan antara aspek psikis pelaku pezinahan atau homoseksual adalah
faktor yang saling mendukung dan saling mempengaruhi otak untuk melakukan
perbuatan. Berikut adalah deskripsi kejiwaan pelaku zina atau homoseksual :
- Psikis Hewani mendominasi
Maksudnya adalah kejiwaan manusia pelaku sudah tidak manusiawi lagi.
Kondisi yang ada ketika melakukan perzinahan baik bagi hetero seksual maupun
homo seksual, adalah psikis hewani yang mementingkan pemuas nafsu birahi belaka.

Sedangkan manusia, adalah makhluk yang beradab dengan dilengkapi naluri


manusiawi dan akal yang ( seharusnya ) sehat.
- Psikis yang adktif akan perzinahan.
Apabila seseorang melakukan zina atau homoseksual, secara statistic 2pasti
akan mengulanginya lagi (adiktif). Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya penderita
HIV / AIDS baik dalam skala nasional maupun internasional. Sedangkan cara
penularan virus HIV / AIDS yang paling banyak dijumpai adalah dengan gonta ganti
pasangan seksual (baik hetero seksual maupun homoseksual). Cara penularan yang
kedua adalah dengan penggunaan jarum suntik yang tidak bersih secara klinis.
Dengan

demikian,

akibat

kejiwaan

adiktif

terhadap

perzinahan

tersebut,

mengakibatkan pada kesehatan fisik si pelaku perbuatan keji tersebut.


- Psikis yang ekstra posesif
Hal ini terjadi pada umumnya, didominasi oleh gay/ lesbian. Contoh kasus yang
tengah menjadi sorotan public saat ini adalah kasus pembunuhan berantai yang
dilakukan oleh tersangka Ryan atau Very Idham Afriansyah. Setelah dilakukan uji
psikologis oleh Tim Dokter Polri, tersangka Ryan divonis menderita kelainan
kejiwaan yang dalam bahasa Ilmu psikologi disebut psikopat, yakni kondisi kejiwaan
yang sangat labil dan tidak dapat membedakan perbuatan yang baik atau buruk. Hal
tersebut dapat terjadi pada setiap orang yang salah satu pemicunya adalah sifat yang
extra posesif ( rasa memiliki terhadap sesuatu yang berlebihan ). Dalam konteks
kasus Ryan, extra posesifnya terhadap kekasih gey nya adalah pemicu ia melakukan
pembunuhan mutilasi terhadap korban almarhum Ir. Hery.
Dapat disimpulkan, kondisi kejiwaan pelaku perzinahan, terdeteksi bersifatnegative
dan berdampak pada kesehatan tubuh dan kesehatan psikis itu sendiri
2.5. Pandangan Homoseksual dari Aspek Kesehatan

Dampak negatif tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :


a. Benci terhadap wanita
Kaum Luth berpaling dari wanita dan kadang bisa sampai tidak mampu untuk
menggauli

mereka.

Oleh

karena

itu,

hilanglah

tujuan

pernikahan

untuk

memperbanyak keturunan. Seandainya pun seorang homo itu bisa menikah, maka
istrinya akan menjadi korbannya, tidak mendapatkan ketenangan, kasih sayang, dan
balas kasih. Hidupnya tersiksa, bersuami tetapi seolah tidak bersuami.
b. Efek Terhadap Syaraf
Kebiasaan jelek ini mempengaruhi kejiwaan dan memberikan efek yang sangat kuat
pada syaraf. Sebagai akibatnya dia merasa seolah dirinya diciptakan bukan sebagai
laki-laki, yang pada akhirnya perasaan itu membawanya kepada penyelewengan. Dia
merasa cenderung dengan orang yang sejenis dengannya.
c. Efek terhadap otak
d. Menyebabkan pelakunya menjadi pemurung
e. Seorang homoseks selalu merasa tidak puas dengan pelampiasan hawa nafsunya.
f. Hubungan homoseksual dengan kejelekan akhlaq
Kita dapatkan mereka jelek perangai dan tabiatnya. Mereka hampir tidak bisa
membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang mulia dan yang hina.
g. Melemahkan organ tubuh yang kuat dan bisa menghancurkannya. Karena
organorgan tubuhnya telah rusak, maka didapati mereka sering tidak sadar setelah
mengeluarkan air seni dan mengeluarkan kotoran dari duburnya tanpa terasa.
h. Hubungan homoseksual dengan kesehatan umum.

Mereka terancam oleh berbagai macam penyakit. Hal ini disebabkan karena merasa
lemah mental dan depresi.
I. Pengaruh terhadap organ peranakan.
Homoseksual dapat melemahkan sumber-sumber utama pengeluaran mani dan
membunuh sperma sehingga akan menyebabkan kemandulan
j. Dapat meyebabkan penyakit thypus dan disentri
k. Spilis, penyakit ini tidak muncul kecuali karena penyimpangan hubungan sek
l. Kencing nanah
m. AIDS, para ahli mengatakan bahwa 95% pengidap penyakit ini adalah kaum
homoseks
2.6. Pandangan Homoseksual dari Aspek Akal/Daya Pikir
Tidak jauh berbeda dengan kondisi kejiwaan pelaku perzinahan, kondisi akal atau
daya pikiran pelaku homoseksual pasti akan berakibat tendensius negative.
Logikanya, apabila situasi psikis seorang labil, maka akan mempengaruhi daya pikir
otak si manusia itu sendiri dalam mengambil keputusan. Hal ini disebabkan oleh
manusia terdiri dari jasmani dan rohani yang satu sama lain saling mempengaruhi.

D. Mengatasi Homoseksualitas
Didalam Psikoanalisa untuk mengatasi homoseksual menurut Bieber
(Soeharko Kasran: 2008) dapat dilakukan dengan terapi selam 350 jam, dari 1/3
homoseksual/ biseksual pria sebanyak 100 orang dapat ditanggulangi setelah 5
tahun. Mac Culloch dengan anticipatoryavoidance conditioning dapat mereduksi
homoseksualitas sebanyak 57% selama 2 tahun.
Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang
kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar
meminimalsir kemungkinan homoseksualitas maka pada saat masih kanak-kanak,
individu harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang tua
khususnya pada usia 4 tahun keatas. Serang ayah harus memerankan perannya
sebagai seorang bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan
perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu pola asuh orang
tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan individu menjadi homoseksual.
Sejak lebih dari 150 tahun para ahli Medis-Seksologi dan Psikologis telah
berusaha untuk menyelidiki etiologi pembentukan prefensi homoseksual.
Faktor-faktor sebagai penyebab kemungkinan penyimpangan kehidupan seksual
dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini

Adanya faktor khusus sebagai penyebab homoseksual Penyebab


Homoseksual karena faktor yang ada sebelum dilahirkan.

Homoseksual terjadi setalah dilahirkan, jadi diperoleh dalam waktu


hidup, artinya faktor dalam perkembangan hidup.

Apakah ini dipandang satu penyakit?

Biarpun pada keseluruhannya belum jelas benar penyebab Homoseksual ini, tetapi
pada dasarnya asal usulnya dari timbulnya Homoseksual bisa dibagi dalam dua
These utama yaitu

Orientasi homoseksual ini sudah ada sebelum Lahir. Karl Heinrich


Ulrichs ( 1825 - 1895) menyatakan bahwa homoseksual adalah
pembawaan secara biologis sebelum kelahiran, jadi dikatakan bahwa ini
karena adanya Gen (Gen Homoseksual) yang sudah terbentuk di
tubuhnya. Jadi sebelumnya sudah ada potensial untuk menjadi satu
manusia Gay atau Lesbian .Willhart S.Schlegel menguraikan tentang
adanya predisposisi herediter.Sedangkan Dean Hame r menemukan X
Chromosom yang berhubungan dengan Homoseksual. Dalam satu
Penelitian Endokrinologi ada kemungkinan dari satu campuran yaitu
adanya Gen Homoseksual dan pengaruh Hormon pada waktu
Kehamilan Ibunya ( Gnther Drner ).

Orientasi Homoseksual terjadi setelah lahir yaitu melalui indentifikasi


proses waktu masih kanak kanak atau karena pengalaman( kejadian)
hidup terutama waktu masa pubersitas. Sigmund Freud, Psikoanalisis
dari Austria 1905 menyatakan bahwa setiap manusia lahir biseksual, di
mana dengan terjadinya pengaruh perkembangan hidupnya bisa hetero
atau menjadi homoseksual karena Indentitas sosial dan psikologi setiap
manusia dipengaruhi oleh lingkungan hidup

Pengalamannya.
E. Kaitan Otak Dengan Perilaku Homoseksual
Tak ada yang mengetahui pasti pendorong preferensi seksual seseorang.
Namun, berdasar ujicoba terbaru ilmuwan China, ditemukan zat otak pendorong
orang menjadi gay.
Serotonin diketahui mampu mempengaruhi perilaku seksual pada tikus dan
manusia. Senyawa ini biasanya juga mengurangi aktivitas seksual seseorang.

Ujicoba ahli saraf Yi Rao dari Peking University dan National Institute of
Biological

Science

di

Beijing

menunjukkan,

serotonin

ternyata

juga

mempengaruhi keputusan pria untuk menggoda wanita atau pria.


Rao dan tim melakukan uji melalui pengurangan neuron penghasil serotonin atau
protein penting penghasil serotonin dalam otak. Tak seperti tikus jantan lain, tikus
yang kekurangan serotonin tak memiliki hasrat seksual terhadap tikus betina.
Sebaliknya, tikus itu malah tertarik pada tikus jantan serta lebih sering
menyanyikan lagu cinta ultrasonik. Biasanya, tikus jantan menyanyikan lagu ini
untuk menggoda tikus betina agar bisa melakukan seks.
Ketika tim menyuntik zat netralisir pada tikus yang kekurangan serotonin, tikus
kembali berhasrat pada tikus betina. Meski begitu, kadar serotonin berlebih justru
mengurangi aktivitas seksual tikus, baik pada jantan maupun betina.
Artinya, serotonin dalam otak harus dijaga dalam kadar tertentu guna memastikan
seseorang tetap berlaku layaknya heteroseksual.
Menyikapi temuan ini, ilmuwan Florida State University Elaine Hull mengklaim,
studi ini bisa mempengaruhi perilaku homoseksual atau biseksual manusia.
Sebelum menyimpulkan serotonin sebagai faktor perilaku homoseksual, Hull
memperingatkan, ilmuwan butuh lebih banyak informasi letak persisnya area otak
terkait potensi pengembangan serotonin tersebut.