Anda di halaman 1dari 23

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang menyebabkan terjadinya
bahaya dan komplikasi yang lebih besar terhadap ibu maupun janin yang
dikandungnya selama kehamilan, persalinan ataupun nifas bila dibandingkan
dengan kehamilan, persalinan dan nifas normal.
2.2 Frekuensi
Frekuensi kehamilan risiko tinggi yang dilaporkan oleh beberapa peneliti
berbeda-beda, tergantung dari cara penilaian faktor yang dimasukkan dalam
kehamilan risiko tinggi. Rochjati (1977) dari RS dr. Sutomo Surabaya
melaporkan frekuensi kehamilan risiko tinggi 30,8%. Daely (1979) dari RS
dr. Pirngadi Medan melaporkan frekuensi kehamilan risiko tinggi 69,7%
dengan kriteria tersendiri yaitu dari jumlah kasus-kasus persalinan sebagai
penyebut. Tingginya angka kehamilan risiko tinggi di RS dr. Pirngadi Medan
mungkin karena banyaknya kasus patologi yang dirujuk setelah ditangani di
luar dan setelah terjadi komplikasi.
2.3 Faktor Resiko
Faktor risiko merupakan situasi dan kondisi serta keadaan umum ibu
selama kehamilan, persalinan dan nifas akan memberikan ancaman pada
kesehatan dan jiwa ibu maupun janin yang dikandungnya. Keadaan dan
kondisi tersebut bisa digolongkan sebagai faktor medis dan non medis.
Faktor non medis antara lain adalah kemiskinan, ketidak tahuan, adat,
tradisi, kepercayaan, dan lain-lain. Hal ini banyak terjadi terutama pada
negara

berkembang,

yang

berdasarkan

penelitian

ternyata

sangat

mempengaruhi morbiditas dan mortalitas. Dimasukkan pula dalam faktor non


medis adalah sosial ekonomi rendah, kebersihan lingkungan, kesadaran

memeriksakan kehamilan secara teratur, fasilitas dan sarana kesehatan yang


serba kekurangan.
Faktor medis antara lain adalah penyakit-penyakit ibu dan janin,
kelainan obstetri, gangguan plasenta, gangguan tali pusat, komplikasi
persalinan, penyakit neonatus dan kelainan genetik.
Menurut Backett faktor risiko itu bisa bersifat biologis, genetika,
lingkungan atau psikososial. Namun dalam kesehatan reproduksi kita dapat
membaginya secara lebih spesifik, yaitu:
1. Faktor demografi: umur, paritas dan tinggi badan
2. Faktor medis biologis: underlying disease, seperti penyakit jantung dan
malaria.
3. Faktor riwayat obstetri: abortus habitualis, SC, dan lain-lain.
4. Faktor lingkungan: polusi udara, kelangkaan air bersih, penyakit endemis,
dan lain-lain.
5. Faktor sosioekonomi budaya : pendidikan, penghasilan.
Seharusnya faktor risiko dikenali oleh ibu hamil serta keluarga sehingga
ibu-ibu dengan kehamilan risiko tinggi mendapat pertolongan yang
semestinya.
Menurut Poedji Rochyati dkk. Mengemukakan kriteria KRT sebagai
berikut:
1. Risiko
Risiko adalah suatu ukuran statistik dari peluang atau kemungkinan
untuk terjadinya suatu keadaan gawat-darurat yang tidak diinginkan
pada masa mendatang, seperti kematian, kesakitan, kecacatan, ketidak
nyamanan, atau ketidak puasan (5K) pada ibu dan bayi.
Ukuran risiko dapat dituangkan dalam bentuk angka disebutSKOR.
Digunakan angka bulat di bawah 10, sebagai angka dasar 2, 4 dan 8
pada tiap faktor untuk membedakan risiko yang rendah, risiko
menengah, risiko tinggi. Berdasarkan jumlah skor kehamilan dibagi tiga
kelompok:
a. Kehamilan Risiko Rendah (KRR) dengan jumlah skor 2

Kehamilan tanpa masalah / faktor risiko, fisiologis dan


kemungkinan besar diikuti oleh persalinan normal dengan ibu
dan bayi hidup sehat.
b. Kehamilan Risiko Sedang (KRS) dengan jumlah skor 6 10
Kehamilan dengan satu atau lebih faktor risiko, baik dari pihak
ibu

maupun

janinnya

yang

memberi

dampak

kurang

menguntungkan baik bagi ibu maupun janinnya, memiliki risiko


kegawatan tetapi tidak darurat.
c. Kehamilan Risiko Tinggi (KRT) dengan jumlah skor 12
Kehamilan dengan faktor risiko:
- Perdarahan sebelum bayi lahir, memberi dampak gawat dan
darurat bagi jiwa ibu dan atau banyinya, membutuhkan di rujuk
tepat waktu dan tindakan segera untuk penanganan adekuat
-

dalam upaya menyelamatkan nyawa ibu dan bayinya.


Ibu dengan faktor risiko dua atau lebih, tingkat risiko
kegawatannya meningkat, yang membutuhkan pertolongan
persalinan di rumah sakit oleh dokter Spesialis. (Poedji

Rochjati, 2003).
2.4 Batasan Faktor Resiko/ Masalah
2.4.1
Ada Potensi Gawat Obstetri (APGO) Kehamilan yang Perlu
Diwaspadai
1. Primi Mudah
Ibu hamil pertama pada umur 16 tahun, rahim dan panggul
belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya diragukan
keselamatan dan kesehatan janin dalam kandungan.Selain itu
mental ibu belum cukup dewasa.Bahaya yang mungkin terjadi
antara lain:
- Bayi lahir belum cukup umur
- Perdarahan bisa terjadi sebelum bayi lahir
- Perdarahan dapat terjadi sesudah bayi lahir. (Poedji Rochjati,
2003).

2. Primi Tua
- Lama perkawinan 4 tahun
Ibu hamil pertama setelah kawin 4 tahun atau lebih dengan
kehidupan perkawinan biasa:
o Suami istri tinggal serumah
o Suami atau istri tidak sering keluar kota
o Tidak memakai alat kontrasepsi (KB)
Bahaya yang terjadi pada primi tua:
o Selama hamil dapat timbul masalah, faktor risiko lain

oleh karena kehamilannya, misalnya pre-eklamsia.


o Persalinan tidak lancar. (Poedji Rochjati, 2003).
Pada usia ibu 35 tahun
Ibu yang hamil pertama pada umur 35 tahun. Pada usia
tersebut mudah terjadi penyakit pada ibu dan organ kandungan
yang menua. Jalan lahir juga tambah kaku. Ada kemungkinan
lebih besar ibu hamil mendapatkan anak cacat, terjadi
persalinan macet dan perdarahan. Bahaya yang terjadi antara
lain:
Hipertensi / tekanan darah tinggi
Pre-eklamsia
Ketuban pecah dini: yaitu ketuban pecah sebelum

persalinan
Persalinan tidak lancar atau macet: ibu mengejan lebih dari
satu jam, bayi tidak dapat lahir dengan tenaga ibu sendiri

melalui jalan lahir biasa


Perdarahan setelah bayi lahir
Bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) < 2500

gr. (Poedji Rochjati, 2003).


Usia ibu hamil 35 tahun ke atas dapat berisiko mengalami
kelainan-kelainan antara lain:

Frekuensi mola hidantidosa pada kehamilan yang terjadi


pada awal atau akhir usia subur relatif lebih tinggi. Efek
paling berat dijumpai pada wanita berusia lebih dari 45

tahun.
Frekuensi abortus yang secara klinis terdeteksi meningkat

26% pada mereka yang usianya lebih dari 45 tahun


Wanita bukan kulit putih berusia 35 sampai 44 tahun lima
kali lebih mungkin mengalami kehamilan ektopik daripada

wanita kulit putih berusia 15 sampai 24 tahun.


Risiko non disjungsi meningkat seiring dengan usia ibu.
Oosit tertahan dalam midprofase dari miosis 1 sejak lahir
sampai ovulasi, penuaan diperkirakan merusak kiasma
yangmenjaga agar pasangan kromosom tetap menyatu.
Apabila miosis dilanjutkan sampai selesai pada waktu
ovulasi, non disjungsi menyebabkan salah satu gamet anak
mendapatdua salinan dari kromosom yang bersangkutan,
sehingga terbentuk trisomi, anak lahir dengan cacat bawaan
sindrom down.

3. Anak terkecil < 2 tahun


Ibu hamil yang jarak kelahiran dengan anak terkecil kurang dari
2 tahun. Kesehatan fisik dan rahim ibu masih butuh cukup
istirahat. Ada kemungkinan ibu masih menyusui. Selain itu anak

masih butuh asuhan dan perhatian orang tuanya. Bahaya yang


dapat terjadi:
Perdarahan setelah bayi lahir karena kondisi ibu lemah
Bayi prematur / lahir belum cukup bulan, sebelum 37
minggu
Bayi dengan berat badan rendah / BBLR < 2500 gr. (Poedji

Rochjati, 2003).
4. Primi Tua Sekunder
Ibu hamil dengan persalinan terakhir 10 tahun yang lalu. Ibu
dalam kehamilan dan persalinan ini seolah-olah menghadapi
persalinan yang pertama lagi. Kehamilan ini bisa terjadi pada:
Anak pertama mati, janin didambakan dengan nilai sosial

tinggi
Anak terkecil hidup umur 10 tahun lebih, ibu tidak berKB. Bahaya yang dapat terjadi:
o Persalinan dapat berjalan tidak lancar
o Perdarahan pasca persalinan
o Penyakit ibu: Hipertensi (tekanan darah tinggi),
diabetes, dan lain-lain. (Poedji Rochjati,2003).

5.

Grander Multi
Ibu pernah hamil / melahirkan 4 kali atau lebih. Karena ibu
sering melahirkan maka kemungkinan akan banyak ditemui

keadaan:
Kesehatan terganggu: anemia, kurang gizi
Kekendoran pada dinding perut
Tampak ibu dengan perut menggantung
Kekendoran dinding rahimBahaya yang dapat terjadi:
Kelainan letak, persalinan letak lintang
Robekan rahim pada kelainan letak lintang
Persalinan lama
Perdarahan pasca persalinan. (Poedji Rochjati, 2003).

Grandemultipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6


kali atau lebih hidup ataumati. (Rustam M., 1998) Pada
grandemultipara bisa menyebabkan:
Solusio plasenta
Plasenta previa. (F. Garry C, add all, 2001).
6. Umur 35 tahun atau lebih
Ibu hamil berumur 35 tahun atau lebih, dimana pada usia tersebut
terjadi perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan jalan
lahir tidak lentur lagi. Selain itu ada kecenderungan didapatkan
penyakit lain dalam tubuh ibu. Bahaya yang dapat terjadi:
Tekanan darah tinggi dan pre-eklamsia
Ketuban pecah dini
Persalinan tidak lancar / macet
Perdarahan setelah bayi lahir. (Poedji Rochjati, 2003).
7. Tinggi badan 145 cm atau kurang
Ibu hamil pertama sangat membutuhkan perhatian khusus. Luas
panggul ibu dan besar kepala janin mungkin tidak proporsional,
dalam hal ini ada dua kemungkinan yang terjadi:
- Panggul ibu sebagai jalan lahir ternyata sempit dengan
-

janin/ kepala tidak besar.


Panggul ukuran normal tetapi anaknya besar / kepala

besar
Ibu hamil kedua, dengan kehamilan lalu bayi lahir cukup
bulan tetapi mati dalam waktu(umur bayi) 7 hari atau

kurang.
Ibu hamil

kehamilan

sebelumnya

belum

penah

melahirkan cukup bulan, dan berat badanlahir rendah <


2500 gram. Bahaya yang dapat terjadi: persalinan
berjalan tidak lancar, bayisukar lahir, dalam bahaya.

10

Kebutuhan pertolongan medik : persalinan operasi sesar.


(Poedji Rochjati, 2003).
8. Riwayat Obstetri Jelek
Dapat terjadi pada ibu hamil dengan:
- Kehamilan kedua, dimana kehamilan yang pertama

mengalami:
o Keguguran
o Lahir belum cukup bulan
o Lahir mati
o Lahir hidup lalu mati umur 7 hari
Kehamilan ketiga atau lebih, kehamilan yang lalu pernah

mengalami keguguran 2 kali.


Kehamilan kedua atau lebih, kehamilan terakhir janin
mati dalam kandungan. Bahaya yang dapat terjadi:
o Kegagalan kehamilan dapat berulang dan terjadi
lagi,

dengan

tanda-tanda

pengeluaranbuah

kehamilan sebelum waktunya keluar darah, perut


kencang.
o Penyakit dari ibu yang menyebabkan kegagalan
kehamilan, misalnya: Diabetes mellitus,radang
saluran kencing, dll. (Poedji Rochjati, 2003).
9. Persalinan yang lalu dengan tindakan
Persalinan yang ditolong dengan alat melalui jalan lahir biasa
atau per-vaginam:
- Tindakan dengan cunam / forcep / vakum. Bahaya yang dapat

terjadi:
o Robekan / perlukaan jalan lahir
o Perdarahan pasca persalinan
Uri manual, yaitu: tindakan pengeluaran plasenta dari rongga
rahim dengan menggunakan tangan. Tindakan ini dilakukan
pada keadaan bila:
o Ditunggu setengah jam uri tidak dapat lahir sendiri

11

o Setelah bayi lahir serta uri belum lahir terjadi


perdarahan banyak > 500 ccBahaya yang dapat
terjadi:
Radang, bila tangan penolong tidak steril
Perforasi, bila jari si penolong menembus

Rahim
Perdarahan
Ibu diberi infus / tranfusi pada persalinan lalu. Persalinan
yang lalu mengalami perjdarahan pasca persalinan yang
banyak lebih dari 500 cc, sehingga ibu menjadi syok
danmembutuhkan infus, serta transfusi darah. (Poedji

Rochjati, 2003).
10. Bekas Operasi Sectio- Caesaria
Ibu hamil, pada persalinan yang lalu dilakukan operasi sesar.
Oleh karena itu pada dinding rahim ibu terdapat cacat bekas luka
operasi. Bahaya pada robekan rahim : kematian janin dan
2.4.2

kematian ibu, perdarahan dan infeksi. (Poedji Rochjati, 2003).


Ada Potensi Gawat Obstetri (APGO) Tanda Bahaya pada saat
Kehamilan, Persalinan dan Nifas
1. Penyakit pada Ibu Hamil
a. Anemia
Keluhan yang dirasakan ibu hamil antara lain emah badan,
lesu, lekas lelah, mata berkunang-kunang, jantung berdebar.
Dari inspeksi didapatkan keadaan ibu pucat pada wajah dan
kelopak mata, lidah dan telapak tangan. Dari hasil
laboratorium didapatkan kadar Hb < 11 gr%.
Pengaruh anemia pada kehamilan:
- Menurunkan daya tahan ibu hamil, sehingga ibu
-

mudah sakit
Menghambat pertumbuhan janin, sehingga janin lahir
dengan berat badan lahir rendah

12

Persalinan premature

Bahaya yang dapat terjadi bila terjadi anemia berat (Hb <
6 gr%):
- Kematian janin mati
- Persalinan prematur, pada kehamilan < 37 minggu
- Persalinan lama
- Perdarahan pasca persalinan. (Poedji Rochjati, 2003)
Anemia dalam kehamilan ialah kondisi ibu dengan kadar
Hemoglobin di bawah 11 g% pada trimester 1 dan 3 atau
kadar < 10,5 g% pada trimester 2. Hipoksia akibat anemia
dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan
sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan. Juga bagi hasil
konsepsi, anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang

b.

baik, seperti:
- Kematian mudigah
- Kematian perinatal
- Prematuritas
- Dapat terjadi cacat bawaan
- Cadangan besi kurang. (Abdul Bari S., 2002)
Malaria
Keluhan yang dirasakan ibu hamil, adalah:
Panas tinggi
Menggigil, keluar keringat
Sakit kepala
Muntah-muntah
Bila penyakit malaria ini disertai dengan panas yang tinggi
dan anemia, maka akan mengganggu ibu hamil dan

kehamilannya.Bahaya yang dapat terjadi:


Abortus
IUFD
Persalinan prematur. (Poedji Rochjati, 2003).
c. Tuberculosis Paru
Keluhan yang dirasakan:
o Batuk lama tak sembuh-sembuh
o Tidak suka makan
o Badan lemah dan semakin kurus

13

o Batuk darah
Penyakit ini tidak secara langsung berpengaruh pada janin.
Janin baru tertular setelah dilahirkan. Jika TB berat dapat
menurunkan fisik ibu, tenaga, dan ASI ikut berkurang.
Bahaya yang dapat terjadi:
o Keguguran
o Bayi lahir belum cukup umur
o Janin mati dalam kandungan. (Poedji Rochjati,
2003).
d. Payah Jantung
Keluhan yang dirasakan:
o Sesak napas
o Jantung berdebar
o Dada terasa berat, kadang-kadang nyeri
o Nadi cepat
o Kaki bengkak
Bahaya yang dapat terjadi:
o Payah jantung bertambah berat
o Kelahiran prematur
Dalam persalinan:
- BBLR
- Bayi dapat lahir mati. (Poedji Rochjati, 2003).
Penyakit jantung memberi pengaruh tidak baik kepada
kehamilan dan janin dalam kandungan. Apabila ibu
menderita hipoksia dan sianosis, hasil konsepsi dapat
menderita pula dan mati, yang kemudian disusul oleh
abortus. (Abdul Bari S., 2002).
e. Diabetes Mellitus
Dugaan adanya kencing manis pada ibu hamil apabila:
o Ibu pernah mengalami beberapa kali kelahiran bayi
yang besar
o Pernah mengalami kematian janin dalam rahim pada
kehamilan minggu-minggu terakhir
o Ditemukan glukosa dalam air seni (Glikosuria).
Bahaya yang dapat terjadi:

14

o
o
o
o
o

Persalinan prematur
Hydramnion
Kelainan bawaan
Makrosomia
Kematian janin dalam

kandungan

sesudah

kehamilan minggu ke-36


o Kematian bayi perinatal (bayi lahir hidup, kemudian
mati < 7 hari). (Poedji Rochjati, 2003).
Diabetes mempengaruhi timbulnya komplikasi

dalam

kehamilan sebagai berikut:


o Pre-eklamsia
o Kelainan letak janin
o Insufisiensi plasentaDiabetes sebagai penyulit yang
sering dijumpai dalam persalinan ialah:
o Inersia uteri dan atonia uteri
o Distosia bahu karena anak besar
o Lebih sering pengakhiran partus dengan tindakan,
termasuk seksio sesarea
o Lebih mudah terjadi infeksi
o Angka kematian maternal lebih tinggi
Diabetes lebih sering mengakibatkan infeksi nifas dan sepsis,
da menghambat penyembuhan luka jalan lahir, baik ruptur
perinea maupun luka episiotomi. (HanifaWiknjosastro,
1999).
f. HIV/ AIDS
Bahaya yang dapat terjadi:
o Terjadi gangguan pada sistem kekebalan tubuh dan
ibu hamil mudah terkena infeksi
o Kehamilan memperburuk progesifitas infeksi HIV,
HIV pada kehamilan adalah pertumbuhan intra
uterin terhambat dan berat lahir rendah, serta
peningkatan risiko prematur
o Bayi dapat tertular dalam kandungan atau tertular
melalui ASI. (Poedji Rochjati, 2003).

15

g. Toxoplasma
Toksoplasmosis penularannya melalui makanan mentah atau
kurang

masak, yang tercemar

kotoran

kucing yang

terinfeksi.Bahaya yang dapat terjadi:


o Infeksi pada kehamilan muda menyebabkan abortus
o Infeksi pada kehamilan lanjut menyebabkan
kelainan kongenital, hidrosefalus (Poedji Rochjati,
2003).
2. Pre-eklampsia Ringan
Tanda-tanda:
Edema pada tungkai, muka, karena penumpukan cairan di
interstitial
Tekanan darah tinggi
Dalam urin terdapat proteinuria
Sedikit bengkak pada tungkai bawah atau kaki pada kehamilan 6
bulan ke atas mungkin masih normal karena tungkai banyak di
gantung atau kekurangan Vitamin B1, tetapi bengkak pada muka,
tangan disertai dengan naiknya tekanan darah sedikit, berarti ada
Pre-Eklamsia ringan.
Bahaya bagi janin dan ibu:
Menyebabkan gangguan pertumbuhan janin
Janin mati dalam kandungan. (Poedji Rochjati, 2003).
3. Hamil Kembar
Ibu hamil dengan dua janin (gemelli), atau tiga janin (triplet) atau
lebih dalam rahim. Rahim ibu membesar dan menekan organ
dalam dan menyebabkan keluhan-keluhan:
Sesak napas
Edema kedua bibir kemaluan dan tungkai
Varises
Hemorrhoid
Bahaya yang dapat terjadi:
Keracunan kehamilan
Hidramnion
Anemia
Persalinan prematur
Kelainan letak

16

Persalinan sukar
Perdarahan saat persalinan. (Poedji Rochjati, 2003).
Kehamilan kembar ialah kehamilan dengan dua janin atau lebih.
Kehamilan dan persalinan membawa risiko bagi janin dan ibu.
Pengaruh terhadap ibu:
- Kebutuhan akan zat-zat bertambah, sehingga dapat
-

menyebabkan anemia dan defisiensi zat-zat lainnya.


Kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali

lebih besar.
Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih sering.
Karena uterus yang besar, ibu mengeluh sesak napas,
sering miksi, serta terdapat edema dan varises pada

tungkai dan vulva.


Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan

solusio plasenta sesudah anak pertama lahir.


Pengaruh terhadap janin:
- Usia kehamilan tambah singkat dengan bertambahnya
jumlah janin pada kehamilan kembar : 25% pada gemeli,
50% pada triplet, dan 75% pada quadruplet, yang akan
lahir 4 minggusebelum cukup bulan. Jadi kemungkinan
-

terjadinya bayi prematur akan tinggi.


Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta,

maka angka kematian bayi keduatinggi.


Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan
mempertinggi

angka

kematian

janin.(Hanifa

Wiknjosastro, 1999).
4. Hidramnion
Kehamilan dengan jumlah cairan amnion lebih dari 2 liter, dan
biasanya nampak pada trimester III, dapat terjadi perlahan-lahan
atau sangat cepat.Keluhan-keluhan yang dirasakan:
Sesak napas

17

Perut membesar, nyeri perut karena rahim berisi cairan

amnion > 2 liter


Edema labia mayor, dan tungkaiBahaya yang dapat terjadi:
Keracunan kehamilan
Cacat bawaan pada bayi
Kelainan letak
Persalinan prematur
Perdarahan pasca persalinan. (Poedji Rochjati, 2003).
Hidramnion adalah suatu keadaan dimana jumlah air ketuban
jauh lebih banyak dari normal,biasanya kalau lebih dari 2 liter.
Walaupun etiologi belum jelas, namun ada faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi hidramnion, antara lain:
Penyakit jantung
Nefritis
Edema umum (anasarka)
Anomaly congenital (pada anak), seperti enensepali, spina
bifida, atresia atau striktur esophagus, hidrosefalus, dan
struma blocking oesophagus. (Rustam M., 2002).
5. Janin mati dalam Rahim
Keluhan-keluhan yang dirasakan:
Tidak terasa gerakan janin
Perut terasa mengecil
Payudara mengecil.
Pada kehamilan normal gerakan janin dapat dirasakan pada umur
kehamilan 4-5 bulan. Bila gerakan janin berkurang, melemah,
atau tidak bergerak sama sekali dalam 12 jam,kehidupan janin
mungkin

terancam.

Dari

keluhan

ibu

dapat

dilakukan

pemeriksaan:
DJJ tidak terdengar
Hasil tes kehamilan negatif
Bahaya yang dapat terjadi pada ibu dengan janin mati dalam
rahim, yaitu:
Gangguan pembekuan darah ibu, disebabkan dari jaringanjaringan mati yang masuk kedalam darah ibu. (Poedji
Rochjati, 2003).

18

6. Hamil Lebih Bulan


Ibu dengan umur kehamilan 42 minggu. Dalam keadaan ini,
fungsi dari jaringan uri dan pembuluh darah menurun. Dampak
tidak baik bagi janin:
Janin mngecil
Kulit janin mengkerut
Lahir dengan berat badan rendah
Janin dalam rahim dapat mati mendadak. (Poedji Rochjati,
2003).
7. Letak Sungsang
Letak sungsang: pada kehamilan tua (hamil 8-9 bulan), letak
janin dalam rahim dengan kepala diatas dan bokong atau kaki
dibawah.Bahaya yang dapat terjadi:
Bayi lahir bebang putih yaitu gawat napas yang berat
Bayi dapat mati. (Poedji Rochjati, 2003).
8. Letak Lintang
Merupakan kelainan letak janin di dalam rahim pada kehamilan
tua (hamil 8-9 bulan): kepala ada di samping kanan atau kiri
dalam rahim ibu. Bayi letak lintang tidak dapat lahir melalui
jalan lahir biasa, karena sumbu tubuh janin melintang terhadap
sumbu tubuh ibu.Pada janin letak lintang baru mati dalam proses
persalinan, bayi dapat dilahirkan dengan alat melalui jalan lahir
biasa. Sedangkan pada janin kecil dan sudah beberapa waktu
mati masih ada kemungkinan dapat lahir secara biasa. Bahaya
yang dapat terjadi pada kelainan letak lintang. Pada persalinan
yang tidak di tangani dengan benar, dapat terjadi robekan rahim
dan akibatnya:
Bahaya bagi ibu:
o Perdarahan yang mengakibatkan anemia berat
o Infeksi
o Ibu syok dan dapat mati
Bahaya bagi janin
o Janin mati. (Poedji Rochjati, 2003).

19

2.4.3

Ada Gawat Darurat Obstetri (AGDO) Ada Ancaman Ibu dan Bayi
1. Perdarahan Antepartum
Tiap perdarahan keluar dari liang senggama pada ibu hamil
setelah 28 minggu, disebut perdarahan antepartum. Perdarahan
antepartum harus dapat perhatian penuh, karena merupakan
tanda bahaya yang dapat mengancam nyawa ibu dan atau
janinnya, perdarahan dapat keluar:
Sedikit-sedikit tapi terus-menerus, lama-lama ibu menderita

anemia berat
Sekaligus banyak yang menyebabkan ibu syok, lemah nadi
dan tekanan darah menurun. Perdarahan dapat terjadi pada:
o Plasenta Previa
Plasenta melekat dibawah rahim dan menutupi
sebagian / seluruh mulut rahim.
o Solusio Plasenta
Plasenta sebagian atau seluruhnya lepas dari
tempatnya. Biasanya disebabkan karena trauma /
kecelakaan, tekanan darah tinggi atau pre-eklamsia,
maka terjadi perdarahan pada tempat melekat
plasenta. Akibat perdarahan, dapat menyebabkan
adanya penumpukan darah beku di belakang

plasenta. Bahaya yang dapat terjadi:

Bayi terpaksa dilahirkan sebelum cukup bulan


Dapat membahayakan ibu:
Kehilangan darah, timbul anemia berat dan syok
Ibu dapat meninggal
Dapat membahayakan janinnya yaitu mati dalam kandungan.
(Poedji Rochjati, 2003).
2. Pre-eklampsia Berat/ Eklampsia
Pre-eklamsi berat terjadi bila ibu dengan pre-eklamsia ringan
tidak dirawat, ditangani dengan benar. Pre-eklamsia berat bila

20

tidak ditangani dengan benar akan terjadi kejang-kejang, menjadi


eklamsia. Pada waktu kejang, sudip lidah dimasukkan ke dalam
mulut ibu diantara kedua rahang, supaya lidah tidak tergigit.
Bahaya yang dapat terjadi:
Bahaya bagi ibu, dapat tidak sadar (koma) sampai

meninggal
Bahaya bagi janin:
o Dalam kehamilan ada gangguan pertumbuhan janin

dan bayi lahir kecil.


o Mati dalam kandungan. (Poedji Rochjati, 2003)
2.5 Kartu Skor Poedji Rochjati
Kartu Skor Poedji Rochjati atau yang biasanya disingkat dengan KSPR
biasanya digunakan untuk menentukan tingkat resiko pada ibu hamil. KSPR
dibuat oleh Poedji Rochjati dan pertama kali diguakan pada tahu 1992-1993.
KSPR telah disusun dengan format yang sederhana agar mempermudah kerja
tenaga kesehatan untuk melakukan skrning terhadap ibu hamil dan
mengelompokan ibu kedalam kategori sesuai ketetapan sehingga dapat
menentukan intervensi yang tepat terhadap ibu hamil berdasarka kartu ini.
Dibawah ini akan ditamplkan tabel Kartu Skor Poedji Rochjati.

21

Gambar 1 : Kartu Skor Rochjati

Gambar 2 : Bagian Belakang Kartu Skor Pudji Rochyati


2.6 Langkah Langkah Pencegahan
Semua ibu hamil diharapkan mendapatkan perawatan kehamilan oleh
tenagakesehatan. Untuk deteksi dini factor risiko maka pada semua ibu hamil

22

perlu dilakukan skrining antenatal. Untuk itu periksa ibu hamil paling sedikit
dilakukan 4 kali selamakehamilan:
1. Satu kali pada triwulan I (K1)
2. Satu kali pada Triwulan II.
3. Dua kali dalam triwulan III (K4) (Poedji Rochjati, 2003).
4. Bidan melakukan pemeriksaan klinis terhadap

kondisi

kehamilannya. Bidan memberi KIE (Komunikasi Informasi


Edukasi) kepada ibu hamil, suami dan keluarganya tentang kondisi
ibu hamil dan masalahnya. (Poedji Rochjati, 2003).
Perawatan yang diberikan kepada ibu hamil secara berkala dan teratur
selama masa kehamilan sangat penting, sebab merupakan upaya bersama
antara petugas kesehatan danibu hamil, suami, keluarga dan masyarakat,
mengenai:
1. Aspek kesehatan dari ibu dan janin untuk menjaga kelangsungan
kehamilan, pertumbuhan janin dalam kandungan, kelangsungan hidup
ibu dan bayi setelah lahir.
2. Aspek psikologik, agar menghadapi kehamilan dan persalinannya ibu
hamil mendapatkanrasa aman, tenang, terjamin dan terlindungi
keselamatan diri dan bayinya. PendekatanKomunikasi Informasi dan
Edukasi

(KIE),

dengan

sikap

ramah,

penuh

pengertian,

diberikansecara sederhana, dapat ditangkap dan dimengerti melalui


dukungan moril dari petugas,suami, keluarga, dan masyarakat di
sekitarnya.
3. Aspek sosial ekonomi, ibu hamil dari keluarga miskin (gakin) pada
umumnya tergolongdalam kelompok gizi kurang, anemis, penyakit
menahun. Ibu risiko tinggi atau ibu dengankomplikasi persalinan dari

23

keluarga miskin membutuhkan dukungan biaya dan transportasiuntuk


rujukan ke Rumah Sakit. (Poedji Rochjati, 2003).
Tujuan perawatan antenatal:
1. Ibu dalam kondisi selamat selama kehamilan, persalinan dan
nifas tanpa trauma fisikmeupun mental yang merugikan.
2. Bayi dilahirkan sehat, baik fisik maupun mental
3. Ibu sanggup merawat dan memberi ASI kepada bayinya
4. Suami istri telah ada kesiapan dan kesanggupan untuk
mengikuti keluarga berencana setelah kelahiran bayinya. (Poedji
Rochjati, 2003).
Skrining Antenatal Pada Ibu Hamil
Dalam strategi pendekatan risiko, kegiatan skrining merupakan
komponen penting dalam pelayanan kehamilan, yang harus diikuti
dengan komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil,
suami, dan keluarga, untuk perencanaan persalinan aman dilakukan
persiapan rujukan terencana bila diperlukan. (Poedji Rochjati, 2003).
Melalui kegiatan ini beberapa faktor risiko yang ada pada ibu hamil
telah dapat dilakukan prediksi / perkiraan kemungkinan macam
komplikasi yang akan terjadi. Oleh karena itu kegiatan skrining harus
dilakukan berulang kali sehingga dapat ditemukan secara dini faktor
risiko yang berkembang pada umur kehamilan lebih lanjut. (Poedji
Rochjati,2003).
Batasan Pengisian Skrining Antenatal Deteksi dini Ibu Hamil Risiko
Tinggi Dengan Menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati (KSPR)
Berupa kartu skor untuk digunakan sebagai alat skrining antenatal
berbasis keluarga guna menemukan faktor risiko ibu hamil, yang
selanjutnya dilakukan upaya terpadu untuk menghindari dan
mencegah kemungkinan terjadinya upaya komplikasi obtetrik pada
saat persalinan dengan Kartu Skor Poedji Rachjati.
Manfaat KSPR

24

1. Menemukan faktor resiko Bumil


2. Menentukan Kelompok Resiko Bumil
3. Alat pencatat Kondisi Bumil
Setiap ibu hamil mempunyai :
1. Satu Kartu Skor / Buku KIA
2. Dipantau oleh Ibu PKK, Kader Posyandu, Tenaga Kesehatan.
(Poedji Rochjati, 2003).
Kartu skor mempunyai fungsi:
- Skrining antenatal / deteksi dini factor risiko pada ibu
-

hamil Risiko Tinggi


Pemantauan dan pengendalian

kehamilan
Pencatatan kondisi ibu selama kehamilan, persalinan,

nifas mengenai ibu / bayi


Pedoman untuk memberikan penyuluhan
Validasi data kehamilan, persalinan,

ibu

hamil

selama

nifas

dan

perencanaan KB. (Poedji Rochjati, 2003).


Sistem SKOR
Cara Pemberian SKOR:
1. Skor 2 : Kehamilan Risiko Rendah (KRR)Untuk umur dan
paritas pada semua ibu hamil sebagai skor awal
2. Skor 4: Kehamilan Risiko Tinggi (KRT)untuk tiap faktor risiko
3. Skor 8 : Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST), untuk bekas
operasi sesar, letak sungsang, letak lintang, perdarahan
antepartum dan pre-eklamsia berat / eklamsia (Poedji Rochjati,
2003).
Alat Skrening / Deteksi Dini Rersiko Ibu Hamil berupa :
Format : kartu skor disusun dengan format kombinasi antara check list
dan sistem skor. Checklist dari 19 faktor resiko dengan skor untuk
masing-masing tenaga kesehatan maupun non kesehatan PKK
(termasuk ibu hamil, suami dan keluarganya) mendapat pelatihan
dapat menggunakan dan mengisinya. (Poedji Rochjati, 2003).

25

Rencana Persalinan

pada Kehamilan Sekarang (Berdasarkan Skor

Poedji Rochjati):
1. Ibu hamil dengan SKOR 6 atau lebih, dianjurkan bersalin
dengan tenaga kesehatan
2. Bila SKOR 12 atau lebih dianjurkan bersalin di RS / SpOG.