Anda di halaman 1dari 24

Farmakologi

Interaksi Obat dan Makanan

Nila Krisnasari

Rizka Maulidya

Nisrina Harnesh

Sekar Ayu Fadhilah

Nur Nida Fitroh

Siti Aulia

Nurul Nazahah

Susilawati

Pundra Dara Avindarin

Tasya Khaerunisa

Priskilla Esadianti

Vemby Viagrahati

DosenPembimbing :
Ivans Panduwiguna, S.Si., M.Farm., Apt

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II


Jurusan Gizi 2015

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT.atas segala rahmat-Nya, sehingga tim
penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Farmakologi dengan materi Interaksi Obat dan
Makanan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat penilaian tugas dalam matakuliah
Farmakologi. Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa akan mengerti lebih dalam
tentang Interaksi Obat dan Makanan. Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Farmakologi yang telah membimbing dan terimakasih kepada teman-teman yang
telah mendukung sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.
Kami menyadari makalah ini masih memerlukan perbaikan, untuk itu tim penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk meningkatkan kualitas
makalah ini dan kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Jakarta, 25 November 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Interaksi obat adalah situasi di mana suatu zat memengaruhi aktivitas obat, yaitu
meningkatkan atau menurunkan efeknya, atau menghasilkan efek baru yang tidak diinginkan
atau direncanakan. Interaksi dapat terjadi antar-obat atau antara obat dengan makanan serta
obat-obatan herbal. Secara umum, interaksi obat harus dihindari karena kemungkinan hasil
yang buruk atau tidak terduga. Interaksi obat tidak hanya terjadi antar obat. Namun juga
dapat terjadi antar obat dengan makanan. Banyak orang yang menganggap remah terhadap
hal ini padahal, hal ini sangat perlu diperhatikan. Ada obat-obat tertentu yang jika
berinteraksi dengan makanan, akan meningkatkan kinerja obat namun ada jugajenis obat
yang jika bereaksi dengan makanan tertentu dapat menurunkan kerja obat dalam tubuh,
bahkan dapat meningkatkan toksisitas bagi tubuh.

Dalam dunia veteriner ataupun

peternakan, tentu ilmu farmakologi dan ilmu pakan hewan sangat berkaitan dan penting
karena kedua ilmu ini mempelajari hubungan antara makanan yang dimakan dengan
kesehatan tubuh yang diakibatkannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dan akan
sangat berbahaya jika kedua bidang ilmu ini tidak berjalan seimbang atau berat sebelah.
Karena akan menetukan kelanjutan hidup dari hewan tersebut. Oleh karena itu, sangat perlu
diketahui dan dipahami dengan benar hal tentang interaksi obat dengan makanan agar dapat
terwujudkan keserasian antara pakan dan kesehatan serta dapat meningkatkan kualitas hidup
hewan serta kesehatan masyarakat veteriner untuk kedepannya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang dapat dibuat adalah sebagai
berikut:
1. Apa itu interaksi obat beserta mekanismenya?
2. Apa itu interaksi obat dengan makanan?
3. Faktor apa saja yang mempengaruhi interaksi obat dengan makanan?

4. Fase apa saja yang terjadi dalam interaksi obat dengan makanan?
5. Obat apa sajakah yang memberikan efek positif bagi tubuh?
6. Obat apa sajakah yang dapat menurunkan kinerja tubuh?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari interaksi obat beserta mekanismenya.
2. Mengetahui dan memahani apa itu interaksi obat dengan makanan.
3. Mengetahui fase apa saja yang terjadi dalam interaksi obat dengan makanan.
4. Mengetahui dan memahami jenis-jenis obat yang memberikan efek positif bagi tubuh.
5. Mengetahui dan memahami jeni-jenis obat yang dapat menurunkan kinerja tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Interaksi Obat


Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi

obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang
signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.
Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan toksisitas atau
pengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila menyangkut obat dengan
batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang rendah), misalnya glikosida jantung,
antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasa
digunakan bersama-sama.
Kejadian interaksi obat dalam klinis sukar diperkirakan karena :
a. Dokumentasinya masih sangat kurang
b. Seringkali lolos dari pengamatan, karena kurangnya pengetahuan akan mekanisme
dan kemungkinan terjadi interaksi obat. Hal ini mengakibatkan interaksi obat berupa
peningkatan toksisitas dianggap sebagai reaksi idiosinkrasi terhadap salah satu obat,
sedangkan interaksi berupa penurunakn efektivitas dianggap diakibatkan bertambah
parahnya penyakit pasien
c. Kejadian atau keparahan interaksi obat dipengaruhi oleh variasi individual, di mana
populasi tertentu lebih peka misalnya pasien geriatric atau berpenyakit parah, dan bisa
juga karena perbedaan kapasitas metabolisme antar individu. Selain itu faktor
penyakit tertentu terutama gagal ginjal atau penyakit hati yang parah dan faktor-faktor
lain (dosis besar, obat ditelan bersama-sama, pemberian kronik).

2.2

Mekanisme Interaksi Obat


Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik

maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar plasma


obat, area di bawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paro dsb. Interaksi farmakokinetik
diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi. Interaksi farmakodinamik biasanya dihubungkan dengan kemampuan suatu obat
untuk mengubah efek obat lain tanpa mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi

farmakodinamik meliputi aditif (efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya =
2), potensiasi (efek A = 0, efek B = 1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek
B = 1, efek kombinasi A+B = 3) dan antagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi
A+B = 0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek
pada jaringan atau reseptor.

Mekanisme interaksi obat:


1. Interaksi Farmakokinetika
Dapat terjadi pada berbagai tahap meliputi absorbsi, distribusi, metabolisme,
atau ekskresi.
a. Absorbsi saluran pencernaan meliputi kecepatan dan jumlah.
Dipengaruhi oleh formulasi farmasetik termasuk bentuk sediaan, pKa dan
kelarutan obat dalam lemak disamping pH, flora bakteri, dan aliran darah
dalam organ pencernaan (meliputi usus besar, usus halus, usus 12 jari dan
lambung). Setelah obat bebas masuk ke peredaran darah, kemungkinan
mengalami proses proses sebagai berikut :
1. Obat disimpan dalam depo jaringan.
2. Obat terikat oleh protein plasma terutama albumin.
3. Obat aktif yang dalam bentuk bebas berinteraksi dengan reseptor
sel khas dan menimbulkan respon biologis.
4. Obat mengalami metabolisme dengan beberapa jalur

kemungkinan yaitu :
Obat yang mula-mula tidak aktif, setelah mengalami
metabolisme akan menghasilkan senyawa aktif, kemudian
berinteraksi dengan reseptor dan menimbulkan respon
biologis ( bioaktivasi).
Obat aktif akan dimetabolisis menjadi metabolit yang
lebih polar dan tidak aktif, kemudian diekskresikan
(bioinaktivasi).
Obat aktif akan dimetabolisis menghasilkan metabolit
yang bersifat toksik (biotoksifikasi).
5. Obat dalam bentuk bebas langsung diekskresikan.
b.

Ikatan obat protein (pendesakan obat) meliputi obat bebas atau aktif

dan obat terikat atau tidak aktif.


c.Metabolisme hepatik meliputi induksi enzim (penurunan konsentrasi obat)
dan inhibisi enzim (peningkatan konsentrasi obat).
d.
Klirens ginjal meliputi peningkatan ekskresi (penurunan konsentrasi
obat) dan penurunan ekskresi (peningkatan konsentrasi obat).

Reseptor obat adalah suatu makromolekul jaringan sel hidup mengandung gugus
fungsional atau atom atom terorganisasi, reaktif secara kimia dan bersifat khas, yang dapat
berinteraksi secara terpulihkan dengan molekul obat yang mengandung gugus fungsional
khas, menghasilkan respon biologis tertentu.
2. Interaksi Farmakodinamik
Meliputi sinergisme kerja obat, antagonisme kerja obat, efek reseptor
tidak langsung, gangguan cairan dan elektrolit.
Pasien yang rentan terhadap interaksi obat :
a. Individu usia lanjut
b. Minum lebih dari 1 macam obat
c. Mempunyai gangguan fungsi ginjal dan hati
d. Mempunyai penyakit akut
e. Mempunyai penyakit yang tidak stabil
f. Memiliki karakteristik genetik tertentu
g. Ditangani lebih dari 1 dokter.

2.3

Interaksi Obat dan Makanan


Ketika suatu makanan atau minuman mengubah efek suatu obat, perubahan tersebut

dianggap sebagai interaksi obat-makanan. Interaksi seperti itu bisa terjadi. Tetapi tidak semua
obat dipengaruhi oleh makanan, dan beberapa obat hanya dipengaruhi oleh makananmakanan tertentu. Interaksi obat-makanan dapat terjadi dengan obat-obat yang diresepkan,
obat yang dibeli bebas, produk herbal, dan suplemen. Meskipun beberapa interaksi mungkin
berbahaya atau bahkan fatal pada kasus yang langka, interaksi yang lain bisa bermanfaat dan
umumnya tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti terhadap kesehatan tubuh.

Kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan dapat terjadinya interaksi obat dengan


makanan adalah :
1. Perubahan motilitas lambung dan usus, terutama kecepatan pengosongan lambung
2.
3.
4.
5.

dari saat masuknya makanan


Perubahan pH, sekresi asam serta produksi empedu
Perubahan suplai darah di daerah splanchnicus dan di mukosa saluran cerna
Dipengaruhinya absorpsi obat oleh proses adsorpsi dan pembentukan kompleks
Dipengaruhinya proses transport aktif obat oleh makanan

6. Perubahan biotransformasi dan eliminasi. (Widianto, 1989)

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Obat dengan Makanan.


Ada beberapa factor yang mempengaruhi interaksi obat dan makanan antara lain:
a). Pengosongan Lambung
Pada kasus tertentu misalnya setelah pemberian laksansia atau penggunaan preparat
retard, maka di usus besarpun dapat terjadi absorpsi obat yang cukup besar. Karena besarnya
peranan usus halus dalam hal ini, tentu saja cepatnya makanan masuk ke dalam usus akan
amat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat yang diabsorpsi. Peranan jenis makanan juga
berpengaruh besar di sini. Jika makanan yang dimakan mengandung komposisi 40%
karbohidrat, 40% lemak dan 20% protein maka walaupun pengosongan lambung akan mulai
terjadi setelah sekitar 10 menit. Proses pengosongan ini baru berakhir setelah 3 sampai 4 jam.
Dengan ini selama 1 sampai 1,5 jam volume lambung tetap konstan karena adanya prosesproses sekresi.
Tidak saja komposisi makanan, suhu makanan yang dimakanpun berpengaruh pada
kecepatan pengosongan lambung ini. Sebagai contoh makanan yang amat hangat atau amat
dingin akan memperlambat pengosongan lambung. Ada pula peneliti yang menyatakan
pasien yang gemuk akan mempunyai laju pengosongan lambung yang lebih lambat daripada
pasien normal. Nyeri yang hebat misalnya migren atau rasa takut, juga obat-obat seperti
antikolinergika (missal atropin, propantelin), antidepresiva trisiklik (misal amitriptilin,
imipramin) dan opioida (misal petidin, morfin) akan memperlambat pengosongan lambung.
Sedangkan percepatan pengosongan lambung diamati setelah minum cairan dalam jumlah
besar, jika tidur pada sisi kanan (berbaning pada sisi kiri akan mempunyai efek sebaliknya,)
atau pada penggunaan obat seperti metokiopramida atau khinidin. Jelaslah di sini bahwa
makanan mempengaruhi kecepatan pengosongan lambung, maka adanya gangguan pada
absorpsi obat karenanya tidak dapat diabaikan.
b). Komponen Makanan
Efek perubahan dalam komponen-komponen makanan :
1. Protein (daging, dan produk susu)
Sebagai contoh, dalam penggunaan Levadopa untuk mngendalikan tremor pada
penderita Parkinson. Akibatnya, kondisi yang diobati mungkin tidak terkendali dengan

baik. Hindari atau makanlah sesedikit mungkin makanan berprotein tinggi (Harknoss,
1989).
2. Lemak
Keseluruhan dari pengaruh makan lemak pada metabolisme obat adalah bahwa apa
saja yang dapat mempengaruhi jumlah atau komposisi asam lemak dari fosfatidilkolin
mikrosom hati dapat mempengaruhi kapasitas hati untuk memetabolisasi obat. Kenaikan
fosfatidilkolin atau kandungan asam lemak tidak jenuh dari fosfatidilkolin cenderung
meningkatkan metabolism obat (Gibson, 1991). Contohnya : Efek Griseofulvin dapat
meningkat.interaksi yang terjadi adalah interaksi yang menguntungkan dan grieseofluvin
sebaiknya dimakan pada saat makan makanan berlemak seperti daging sapi, mentega, kue,
selada ayam, dan kentang goreng (Harkness, 1989).
3. Karbohidrat
Karbohidrat tampaknya mempunyai efek sedikit pada metabolism obat, walaupun
banyak makan glukosa, terutama sekali dapat menghambat metabolism barbiturate, dan
dengan demikian memperpanjang waktu tidur. Kelebihan glukosa ternyata juga
mengakibatkan berkurangnya kandungan sitokrom P-450 hati dan memperendah aktivitas
bifenil-4-hidroksilase (Gibson, 1991). Sumber karbohidrat: roti, biscuit, kurma, jelli, dan
lain-lain (Harkness, 1989).
4. Vitamin
Vitamin merupakan bagian penting dari makanan dan dibutuhkan untuk sintesis
protein dan lemak, keduanya merupakan komponen vital dari system enzim yang
memetabolisasi obat. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa perubahan dalam level
vitamin, terutama defisiensi, menyebabkan perubahan dalam kapasitas memetabolisasi
obat. Contohnya :
a. Vit A dan vit B dengan antacid, menyebabkan penyerapan vitamin berkurang.
b. Vit C dengan besi, akibatnya penyerapan besi meningkat.
c. Vit D dengan fenitoin (dilantin), akibatnya efek vit D berkurang.
d. Vit E dengan besi, akibatnya aktivitas vit E menurun.(Harkness, 1989)
5. Mineral

Mineral merupakan unsur logam dan bukan logam dalam makanan untuk menjaga
kesehatan yang baik. Unsur unsure yang telah terbukti mempengaruhi metabolisme obat
ialah: besi, kalium, kalsium, magnesium, zink, tembaga, selenium, dan iodium. Makanan
yang tidak mengandung magnesium juga secara nyata mengurangi kandungan
lisofosfatidilkolin, suatu efek yang juga berhubungan dengan berkurangnya kapasitas
memetabolisme hati. Besi yang berlebih dalam makanan dapat juga menghambat
metabolisme obat. Kelebihan tembaga mempunyai efek yang sama seperti defisiensi
tembaga, yakni berkurangnya kemampuan untuk memetabolisme obat dalam beberapa hal.
Jadi ada level optimum dalam tembaga yang ada pada makanan untuk memelihara
metabolism obat dalam tubuh (Gibson, 1991).
c). Ketersediaan Hayati
Penggunaan obat bersama makanan tidak hanya dapat menyebabkan perlambatan
absorpsi tetapi dapat pula mempengaruhi jumlah yang diabsorpsi (ketersediaan hayati obat
bersangkutan). Penisilamin yang digunakan sebagai basis terapeutika dalam menangani
reumatik, jika digunakan segera setelah makan, ketersediaan hayatinya jauh lebih kecil
dibandingkan jika tablet tersebut digunakan dalam keadaan lambung kosong. Ini akibat
adanya pengaruh laju pengosongan lambung terhadap absorpsi obat (Gibson, 1991).

2.5

Fase-Fase Dalam Interaksi Obat dengan Makanan


Ada beberapa fase dalam interaksi obat dengan makanan yaitu:

a.

Fase farmasetis
Fase farmasetis merupakan fase awal dari hancur dan terdisolusinya obat. Beberapa

makanan dan nutrisi mempengaruhi hancur dan larutnya obat. Maka dari itu, keasaman
makanan dapat mengubah efektifitas dan solubilitas obat-obat tertentu. Salah satu obat yang
dipengaruhi pH lambung adalah saquinavir, inhibitor protease pada perawatan HIV.
Ketersediaan hayatinya meningkat akibat solubilisasi yang diinduksi oleh perubahan pH
lambung. Makanan dapat meningkatkan pH lambung, disisi lain juga dapat mencegah
disolusi beberapa obat seperti isoniazid (INH).
b.

Fase farmakokinetik
Fase farmakokinetik adalah absorbsi, transport, distribusi, metabolisme dan

ekskresi obat. Interaksi obat dan makanan paling signifikan terlibat dalam proses absorbsi.

Usus halus, organ penyerapan primer, berperan penting dalam absorbsi obat. Fungsi usus
halus seperti motilitas atau afinitas obat untuk menahan sistem karier usus halus, dapat
mempengaruhi kecepatan dan tingkat absorbsi obat. Makanan dan nutrien dalam makanan
dapat meningkatkan atau menurunkan absorbsi obat dan mengubah ketersediaan hayati obat.
Tabel 1: Contoh interaksi makanan yang dapat meningkatkan interaksi obat.
No Nama obat
1
Carbamazepin

Diazepam

Mekanisme solusi
Meningkatkan produksi empedu,

Aturan minum
Diminum
bersama

meningkatkan disolusi & absorbsi.

makanan

Meningkatkan enterohepatik, disolusi

Tidak ada

sekunder pada sekresi asam lambung.


3

Erythromycin

Tidak diketahui

Diminum saat makan

Griseofulvin

Obat mudah larut dalam lemak,

Diberikan dengan

meningkatkan absorbsi.

makanan tinggi lemak


atau disuspensi
minyak jagung rendah
kontraindikasi.

Hydrochlorothiazid Menunda pengosongan lambung,

Diberikan bersama

(HCT)

meningkatkan absorbsi usus halus.

makanan.

Phenytoin

Menunda pengosongan lambung,

Diberikan pada saat

Meningkatkan produksi empedu,

makan pagi, siang

meningkatkan disolusi & absorbsi.

dan malam.

Tabel 2: Contoh interaksi makanan yang dapat menurunkan absorbsi obat .


No Nama obat
1
Acetaminophen

Mekanisme solusi
Terutama makanan

mengandung

Aturan minum
pektinDiminum saat

bersifat absorben dan pelindung.

kosong

perut

Ampicillin

Mengurangi volume cairan lambung.

Diminum dengan air

Amoxicillin

Mengurangi volume cairan lambung.

Diminum dengan air

Acetosal

Mengubah pH lambung.

Diminum

saat

perut

kosong
5

Captopril

Tidak diketahui (ACE inhibitor).

Diminum

sebelum

makan
6

Digoxin

Obat terikat makanan tinggi serat

Diminum saat makan

Tabel 3: Beberapa obat beserta efek dan mekanisme dalam tubuh.


No
1

Nama obat
Isoniazid (INH)

Mekanisme solusi
Keterangan
Makanan akan meningkatkan pHDiminum saat

perut

kosong

lambung mencegah disolusi &pagi sebelum makan


absorbsi.
2

Lincomycin

Tidak diketahui.

Diminum saat perut kosong,


karena makanan menghambat
absorbsi.
Menghindari pemberian
bersama makanan yang
mengandung protein tinggi.

Methyldopa

Absorbsi kompetitif.

Menghindari pemberian
bersama makanan kaya besi atau
suplemen.

Penicillamine

Dapat membentuk khelat denganDiminum saat perut kosong


kalsium atau besi.

Penicillin G

Menunda pengosongan lambung; Diminum 1 jam sebelum


degradasi asam lambung;

menghambat disolusi.
6

atau 2 jam setelah makan

Tetracycline

Berikatan dengan garam besi atau tidak boleh diminum bersama

lemak.

ion kalsium membentuk senyawa susu


khelat yang tidak larut.

Makanan

yang

mempengaruhi

tingkat

ionisasi

dan

solubilitas

atau

reaksi pembentukan khelat, dapat mengubah absorbsi obat secara signifikan. Misalnya pada
reaksi pembentukan khelat pada :
a. Kombinasi tetracyclin dengan mineral divalen seperti Ca dalam susu atau antasida.
Kalsium akan mempengaruhi absorbsi dari quinolon.
b. Reaksi antara besi (ferro atau ferri) dengan tetracyclin, antibiotik fluoroquinolon,
ciprofloxacin, ofloxacin, lomeflox dan enoxacin. Maka dari itu, ketersediaan hayati
ciprofloxacin dan ofloxacin turun masing-masing 52 dan 64 % akibat adanya besi.
c. Zink dan fluoroquinolon akan menghasilkan senyawa inaktif sehingga menurunkan
absorbsi obat (b).

Kecepatan pengosongan lambung secara signifikan mempengaruhi komposisi


makanan yang dicerna. Kecepatan pengosongan lambung ini dapat mengubah ketersediaan
hayati obat. Makanan yang mengandung serat dan lemak tinggi diketahui secara normal
menunda waktu pengosongan lambung. Beberapa obat seperti nitrofurantoin dan hidralazin
lebih baik diserap saat pengosongan lambung tertunda karena tekanan pH rendah di lambung.
Obat lain seperti L-dopa,Penicillin G dan digoxin, mengalami degradasi dan menjadi inaktif
saat tertekan oleh pH rendah di lambung dalam waktu lama. Obat dieliminasi dari tubuh
tanpa diubah atau sebagai metabolit primer oleh ginjal, paru-paru, atau saluran
gastrointestinal melalui empedu. Ekskresi obat juga dapat dipengaruhi oleh diet nutrien
seperti protein dan serat, atau nutrien yang mempengaruhi pH urin.
c. Fase farmakodinamik
Fase farmakodinamik merupakan respon fisiologis dan psikologis terhadap obat.
Mekanisme obat tergantung pada aktifitas agonis atau antagonis, yang mana akan
meningkatkan atau menghambat metabolisme normal dan fungsi fisiologis dalam tubuh
manusia. Obat dapat memproduksi efek yang diinginkan dan tidak diinginkan. Aspirin dapat

menyebabkan defisiensi folat jika diberikan dalam jangka waktu lama. Methotrexat memiliki
struktur yang mirip dengan folat vitamin B, hal ini dapat memperparah defisiensi folat.
Tabel 4: Beberapa interaksi penting antara obat dan makanan.
No
1

Nama obat
Tipe nutrien
Azithromycin Makanan

Efek dari interaksi


Absorbsi Azithromycin

Rekomendasi
berselang 2 jam

(Zithromax)

berkurang, ketersediaan

Diminum saat perut kosong /

hayatinya

berkurangkonsisten

43%,

maksimalpada saat yang sama

konsentrasi

52%.
2

Captopril

Makanan

setiap hari.

Absorbsi Captopril berkurang.

(Capoten)
3

Erythromycin Makanan

Absorbsi Erythromycin base


atau obat dengan makanan.

Penelanan tablet dengan air yang cukup atau cairan lain penting untuk beberapa obat
karena jika ditelan tablet tersebut cenderung merusak saluran oesophagus. Petunjuk pada
pasien untuk mencegah iritasi dan atau ulcer pada oesophagus, tablet atau kapsul obat harus
ditelan dengan segelas air oleh pasien dengan posisi berdiri, misalnya untuk obat obat
seperti analgesik (contohnya aspirin), NSAID (contohnya Phenylbutazone, oxyphenbutazone,
indometacin), kloralhidrat, emepromium bromida, kalium klorida, tetracyclin
(terutamaDoxycyclin).
Obat diminum dengan atau tanpa makanan. Interaksi obat-makanan dalam saluran
gastrointestinal dapat bermacam- macam dan banyak alasan mengapa makanan dapat
berpengaruh pada efek obat.Contohnya obat mungkin terikat pada komponen makanan;
makanan akan mempengaruhi waktu transit obat pada usus; obat dapat mengubah firstpass metabolism obat dalam usus dan dalam hati; dan makanan dapat meningkatkan aliran
empedu yang mampu meningkatkan absorbsi beberapa obat yang larut lemak.
Petunjuk pada pasien untuk mencegah interaksi tersebut adalah denganmeminum obat
dengan segelas air pada saat perut kosong, misalnya seperti pada obat- obat sefalosporin
(kecuali sefradin), dipyridamol, erythromycin, Isoniazid (INH), lincomycin, penicillamin,
pentaerithritel tetranitrat, rifampicin, penisilin oral dan tetracyclin. Absorbsi semua penisilin
oral optimal jika diminum pada saat perut kosong dengan segelas air. Pivampicillin harus

diminum bersama makanan karena dapat mengiritasi lambung atau perut. Tetracyclin kadang
kalamenyebabkan mual dan muntah jika diminum pada saat perut kosong.
Meskipun makanan mengurangi absorbsi tetracyclin tetapi tidak terjadi pada doxycyclin
dan minocyclin.
Adanya makanan juga dapat meningkatkan perubahan bentuk profil serum obat tanpa
mengubah ketersediaan hayati obat. Hal ini terlihat pada studi sefradin, makanan tidak
memiliki efek signifikan terhadap ekskresi urin antibiotik tetapi pada nilai t-max. Beberapa
obat yang diminum bersama susu atau makanan berlemak antara lain alafosfalin, griseofulvin
dan vitamin Sedangkan obat yang tidak boleh diminum bersama susu antara lain bisacodyl
(dulcolax), garam besi, tetracyclin (kecuali doxycyclin dan minocyclin).
Tabel 5: Beberapa obat yang diminum bersama makanan.
Asam nalidiksat
Metformin

Ethambutol
Pivampicillin

Indometacin
Teofilin dan

Cinnarizin

Garam kalium

turunannya
Garam besi (Fe)

& turunannya
Metoprolol

Oxyphenbutazone

Propranolol

Tolbutamid

Asetosal
Metronidazol

Cotrimoxazole
Phenylbutazone

Glibenclamide
Reserpin

Isoxsuprin
Triamteren

Allopurinol
Minocyclin

Doxycyclin
Pankreatin

Gliclazide
Riboflavin

Levodopa
Na-valproat

Amiodaron
Naproxen

Na-diklofenak
Phenytoin-Na

Ibuprofen
Spironolakton

Asam nikotinat

Carbamazepin
Nitrofurantoin

2.6 Interaksi Obat dan Makanan yang Dapat Menurunkan Kinerja Sistem
Pencernaan.
Interaksi obat dan makanan yang dapat menurunkan kinerja sistem pencernaan dapat
meliputi interaksi obat yang menurunkan nafsu makan, mengganggu pengecapan dan
mengganggu traktus gastrointestinal/ saluran pencernaan.
A. Obat dan penurunan nafsu makan

Efek samping obat atau pengaruh obat secara langsung, dapat mempengaruhi nafsu
makan. Kebanyakan stimulan CNS dapat mengakibatkan anorexia. Efek samping obat yang
berdampak pada gangguan CNS dapat mempengaruhi kemampuan dan keinginan untuk
makan. Obat-obatan penekan nafsu makan dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat
badan yang tidak diinginkan dan ketidakseimbangan nutrisi.
B. Obat dan perubahan pengecapan/ penciuman
Banyak obat yang dapat menyebabkan perubahan terhadap kemampuan merasakan/
dysgeusia, menurunkan ketajaman rasa/ hypodysgeusia atau membaui. Gejala-gejala tersebut
dapat mempengaruhi intake makanan. Obat-obatan yang umum digunakan dan diketahui
menyabapkan

hypodysgeusia

seperti: obat

antihipertensi

(captopril),

antriretroviral

ampenavir, antineoplastik cisplastin, dan antikonvulsan phenytoin.

C. Obat dan gangguan gastrointestinal


Obat dapat menyebabkan perubahan pada fungsi usus besar dan hal ini dapat
berdampak pada terjadinya konstipasi atau diare. Obat-obatan narkosis seperti kodein dan
morfin dapat menurunkan produktivitas tonus otot halus dari dinding usus. Hal ini berdampak
pada penurunan peristaltik yang menyebabkan terjadinya konstipasi.
D. Absorbsi
Obat-obatan yang dikenal luas dapat mempengaruhi absorbsi zat gizi adalah obatobatan yang memiliki efek merusak terhadap mukosa usus. Antineoplastik, antiretroviral,
NSAID dan sejumlah antibiotik diketahui memiliki efek tersebut. Mekanisme penghambatan
absorbsi tersebut meliputi: pengikatan antara obat dan zat gizi (drug-nutrient binding)
contohnya Fe, Mg, Zn, dapat berikatan dengan beberapa jenis antibiotik; mengubah
keasaman lambung seperti pada antacid dan antiulcer sehingga dapat mengganggu
penyerapan B12, folat dan besi; serta dengan cara penghambatan langsung pada metabolisme
atau perpindahan saat masuk ke dinding usus.
E. Metabolisme
Obat-obatan dan zat gizi mendapatkan enzim yang sama ketika sampai di usus dan
hati. Akibatnya beberapa obat dapat menghambat aktifitas enzim yang dibutuhkan untuk

memetabolisme zat gizi. Sebagai contohnya penggunaan metotrexate pada pengobatan kanker
menggunakan enzim yang sama yang dipakai untuk mengaktifkan folat. Sehingga efek
samping dari penggunaan obat ini adalah defisiensi asam folat.
F. Ekskresi
Obat-obatan dapat mempengaruhi dan mengganggu eksresi zat gizi dengan
mengganggu reabsorbsi pada ginjal dan menyebabkan diare atau muntah.

2.7

Interaksi Obat dengan Mikronutrien.


Kadar serum dari elektrolit, mikromineral dan vitamin bisa berubah oleh obat-obat

tertentu dan dokter harus mewaspadai hal ini bila ada kelainan.
Berikut Obat yang Menyebabkan Kelainan mikronutrien:

1. Kalsium
Menurun :
aminoglycosides, bisphosphonates, corticosteroids, H2 receptor antagonists, loop diuretics ;
amphotericin B, antacids, carbamazepine, cholestyramine, cisplatin, colchicines, digoxin,
doxycycline, ethosuximide, foscarnet, Mg oxide/sulfate, minocycline, oxcarbazepine,
oxytetracycline, pentamidine, phenobarbital, phenytoin, primidone, Na phosphate, sucralfate,
zelodronic acid, zonisamide.
Meningkat :
antiestrogens, estrogens, thiazide diuretics ; aluminium intoxication, aminoiphylline, Ca
carbonate, lithium.
2. Magnesium
Menurun :
aminoglycosides,

corticosteroids,

estrogens,

loop

diuretics,

oral

contraceptives,

tetracyclines,thiazide diuretics; amphotericin B, cholestyramine, cisplatin, cyclosporine,


digoxin, foscarnet, hydralazine, methsuximide, pamidronate, penicillamine, raloxifene, Na
phosphate, tacrolimus, zoledronic acid.
Meningkat
Usually associated with intake > 6g/day, Mg-containing antacids/enemas.

3. Fosfor
Menurun:
Thiazide diuretics; alendronate, antacids (Al & Mg-containing), cholestyramine, digoxin,
foscarnet, Mg oxide/sulfate, ,pamidronate, sucralfate, theophylline, zoledronic acid.
Meningkat:
Etidronate, foscarnet, Na phosphate laxatives & enema.
4. Kalium
Menurun:
Aminoglycosides, loop diuretics, penicillins, salicylates, thiazide diuretics, acetazolamide,
amphotericin B, bisacodyl, cisplatin, colchicine, cyclosporine, enoxacin, foscarnet,
hydralazine, levodopa, mannitol, pamidronate, Na bicarbonate & phosphates.
Meningkat:
ACE inhibitors, angiotensin, receptor blockers, beta-adrenergic blochers, NSAIDs, Kalium
sparing diuretics ; cyclosporine, heparin, hypertonic solutions, lithium, pentamidine,
succinylcholine.
5. Natrium
Menurun:
Aminoglicosides, loop diuretics, Kalium sparing diuretics, thiazide diuretics, salicylates ;
acetazolamide, amphotericin B, bisacodyl, captopril, colchicine, foscarnet.
Meningkat:
Hypertonic IV solution, mannitol, Na penicillin G, Na phosphate laxative & enemas.
6. Zink
Menurun:
ACE inhibitors, corticosteroids, diuretics, estrogens, oral contraceptives, H2 receptor
antagonists, reverse transcriptase inhibitors ; cholestyramine, ethambutol, hydralazine,
penicillamine.
Meningkat:
Thiazide diuretics, loop diuretics.
7. Klorida

Meningkat:
Spironolactone, triamterene
Tabel 6: Interaksi Obat-Makanan yang bermakna klinis.
No Obat
1 Tetrasiklin

Interaksi
Penurunan

Akibat klinis yang mungkin


ketersediaanhayatiGagal terapi

dengan susu dan produk susu


2

Siprofloksasin Penurunan

ketersediaanhayatiGagal terapi

dengan susu dan produk susu


3
4

Azitromisin

Penurunan ketersediaanhayati dgGagal terapi

Itrakonazol

makanan
Penurunan ketersediaanhayati dgMungkin Gagal terapi
makanan

Penisilamin

Penurunan ketersediaanhayati dgGagal terapi


makanan

Didanosin

Makanan

mengurangiGagal terapi

ketersediaanhayati
7

Indinavir

Makanan

mengurangiGagal terapi

ketersediaanhayati

8
9

Saquinavir

Garlic

(allicin)

mengurangiAktivitas antiviral berkurang

Atiovaquone

ketersediaanhayati
Makanan
meningkatkanKhasiat bertambah bila bersama makan
ketersediaanhayati

10 Lovodopa

Protein mengurangi transpor keMenurunkan khasiat


otak

11 Teofilin

Makanan lemak meningkatkanKemungkinan toksisitas


penyerapan

12 Warfarin

Makanan

kaya

Vitamin

Kmenurunkan efek antikoagulasi

melawan efek antikoagulans


13 Siklosporin

Makanan dan sari grapefruitmungkin toksisitas


meningkatkan kadar plasma

14 Alendronate

Makanan
ketersediaanhayati

mengurangiGagal terapi
Penghambat MAO
Meningkatkan kadar tiramin
Krisis hipertensi

15 Terfanadin

Sari Grapefruit meningkatkanKadar plasma bertahan lebih lama


ketersediaanhayati

16 Felodipin

Makanan

meningkatkanEfek samping lebih besar

ketersediaanhayati
17 Diuretik

Makanan

mengurangiGagal terapi

ketersediaanhayati

18 Spironolakton

Makanan

mengurangiKhasiat bertambah bila bersama makan

ketersediaanhayati
19 Propranolol

Makanan

menambahEfek samping bertambah

ketersediaanhayati
Untuk mencegah inkompatibilitas, penting dipikirkan bagaimana obat bisa
berinteraksi di dalam atau di luar tubuh. Jika anda harus mencampur suatu obat, selalu ikuti
petunjuk pabrik seperti volume dan jenis diluen yang tepat; mana larutan yang bisa
ditambahkan ke pemberian piggy back; dan larutan bilas apa yang harus digunakan di
antara pemberian suatu produk dan produk lain untuk menghindari kejadian-kejadian, seperti
pengendapan di dalam selang infus (sebagai contoh, jangan pernah memberikan fenitoin ke
dalam infus jaga yang mengandung dekstrosa, atau jangan campur amphotericin B dengan
normal saline). Hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah adanya elektrolit (misal.

kalium klorida) yang dicampur ke infus kontinyu, misal pada sistem piggyback. Jika ingin
mencampur obat dalam spuit untuk pemberian bolus, pastikan obat-obat ini kompatibel di
dalam spuit. Jika tidak mendapat informasi dari referensi obat, kontak apoteker. Umumnya
apoteker memiliki akses untuk informasi kompatibilitas ini.
Waspada dengan obat yang dikenal memiliki riwayat inkompatibilitas bila berkontak
dengan obat lain. Contoh-contoh furosemide (Lasix), phenytoin (Dilantin), heparin,
midazolam (Versed), dan diazepam (Valium) bila digunakan dalam campuran IV.
Kekurangan-kekurangan PVC (polivinilklorida). Di samping kompatibilitas obat-obat
IV, klinisi perlu mengetahui bahwa beberapa masalah bisa timbul bila menggunakan PVC
sebagai wadah untuk larutan infus. Plasticized polyvinyl Klorida (PVC) merupakan bahan
polimer yang digunakan secara luas di bidang kedokteran dan yang terkait. Di bidang
kedokteran, PVC yang lentur digunakan untuk kantong penyimpan darah, selang transfusi,
hemodialisis, pipa endotrakea, infuse set, serta kemasan obat. Ester asam ftalat, terutama di(2-ethylhexyl) phthalate (DEHP), merupakan pelentur yang paling disukai di bidang
kedokteran. Karena zat aditif ini tidak berikatan kovalen dengan polimerm ada kemungkinan
memisah dari matriks. Lepasnya DEHP dari kantong PVC ke dalam larutan sudah bertahuntahun menimbulkan kekhawatiran. Toksisitas DEHP dan PVC telah mencetuskan pertanyaan
serius mengapa produk ini masih digunakan. Pemisahan DEHP dari PVC disebut leaching.
Leaching terjadi bila beberapa obat seperti paclitaxel atau tamoxifen diberikan dalam kantong
PVC.
Kekhawatiran lain dari penggunaan kantong PVC adalah penyerapan atau
hilangnya obat dari kantong PVC:
1. Kowaluk dkk. memeriksa interaksi antara 46 obat suntik dengan kantong infus
Viaflex (PVC). Kajian memperlihatkan bahwa derajat penyerapan obat berbanding
2.

lurus dengan konsentrasi obat.


Migrasi obat ke dalam kantong plastik bisa mengarah ke penurunan kadar obat di
bawah kadar terapi dari insulin, vit A, asetat, diazepam dan nitrogliserin.
Reaksi Maillard. Walaupun bukan merupakan interaksi obat-obat, masalah ini perlu

dikemukakan. Reaksi Maillard adalah reaksi kimia antara asam amino dengan gula pereduksi.
Biasanya reaksi memerlukan panas. Seperti halnya karamelisasi, ini merupakan bentuk
diskolorasi coklat yang bersifat non-enzimatik. Gugus karbonil yang reaktif dari gula
bereaksi dengan gugus amino nukleofilik dari asam amino, untuk membentuk berbagai
molekul yang menimbulkan berbagai warna dan aroma. Reaksi Maillard terjadi bila asam

amino dan glukosa dikandung dalam satu wadah. Karena asam amino dan glukosa intravena
perlu diberikan sekaligus, suatu pendekatan yang pintar adalah menghasilkan kantong dengan
dua kamar di mana glukosa dan asam amino dipisah. Asam amino dan glukosa dicampur dulu
sebelum diberikan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa
1.

Interaksi antara obat dan makanan terjadi dalam tiga fase yaitu fase farmasetis, fase

farmakokinetik, fase farmakodinamik. Dengan mekanisme obat yang telah diminum akan
hancur dan obat terdisolusi (merupakan fase farmasetis), kemudian obat tersebut di absorpsi,
transport, distribusi, metabolism dan ekresi oleh tubuh (merupakan fase farmakokinetik),
setelah melewati fase farmakokinetik maka obat tersebut dapat direspon secara fisiologis dan
psikologis (merupakan fase farmakodinamik).
2.

Efek samping pemberian obat-obatan yang berhubungan dengan gangguan GI

(gastrointestinal) dapat berupa terjadinya mual, muntah, perubahan pada pengecapan,


turunnya nafsu makan, mulut kering atau inflamasi/ luka pada mulut dan saluran pencernaan,
nyeri abdominal (bagian perut), konstipasi dan diare. Efek samping seperti di atas dapat
memperburuk konsumsi makanan si pasien. Ketika pengobatan dilakukan dalam waktu yang
panjang tentu dampak signifikan yang memperngaruhi status gizi dapat terjadi.
3.

Interaksi obat- mikronutrien meliputi Inkompatibilitas obat IV, Kekurangan-kekurangan

PVC (polivinilklorida),Reaksi Maillard.


3.2 Saran
Untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan maka sebaiknya
1. Bacalah label obat dengan teliti, apabila kurang memahami dapat ditanyakan
dengan dokter yang meresepkan.
2. Baca aturan pakai, label perhatian dan peringatan interaksi obat yang tercantum
dalam label atau wadah obat. Bahkan obat yang dijual bebas juga perlu aturan
pakai yang disarankan.
3. Jangan campur obat dengan makanan atau membuka kapsul kecuali atas petunjuk
dokter.

4. Vitamin atau suplemen kesehatan sebaiknya jangan diminum bersamaan dengan


obat karna terdapat beberapa jenis vitamin dan mineral tertentu yang dapat
berinteraksi dengan obat.
5. Jangan pernah memberi obat bersamaan dengan makanan yang mengandung
alcohol.
Sebelum mengkonsumsi obat, sebaiknya konsultasikan dahulu dengan dokter atau
apoteker untuk mengetahui aturan pakai yang tepat. Dan juga saat konsultasi dengan dokter,
beritahukan semua obat atau vitamin yang sedang dikonsumsi saat ini untuk mencegah
terjadinya interaksi.

DAFTAR PUSTAKA
Erza,Febri
Laila.2
November
2011.Interaksi
Obat
dan
Makanan.Google.
http://erzafebri.blogspot.com/2011/11/interaksi-obat-makanan.html diakses tanggal 2 Juni
2013.
Harkness Richard, diterjemahkan oleh Goeswin Agoes dan Mathilda B.Widianto.
(1989.).Interaksi obat. Bandung: Penerbit ITB.
http://afdalgizi1c.blogspot.com/2013/01/interaksi-obat-dan-makanan.html diakses tanggal 2
Juni 2013.
http://interaksiobatdanmakanan/adropofinkcanmakeamillionpeoplethink.html diakses tanggal
2 Juni 2013.
http://kamuskesehatan.com/arti/interaksi-obat/ diakses pada tanggal 2 Juni 2013.
http://materikuliahprofesiapoteker.blogspot.com/2011/12/interaksi-obat.html diakses tanggal
7 April 2013.
http://medicafarma.blogspot.com/2010/11/interaksi-obat.html diakses tanggal 7 April 2013.
http://puskesmastulakanpacitan.wordpress.com/interaksi-obat-makanan/ diakses tanggal 7
April 2013.
http://www.drugs.com/drug_information.html diakses tanggal 2 Juni 2013.
Muttschler,Ernest, 1999, Dinamika Obat : Farmakologi dan Toksikologi, Penerbit ITB:
Bandung.
Wanamaker ,Boyce P., Kathy, Lockett Massey. (2009). Applied Pharmacology for Veterinary
Technicians, 4th Edition. Canada,USA: Saunders Elsevier.