Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perdarahan saluran cerna merupakan masalah kegawat daruratan medis
yang sering dihadapi. Di Amerika Serikat sekitar 300.000 pasien
memerlukan rawat inap setiap tahunnya karena perdarahan saluran cerna.
Sekitar 36 hingga 102 pasien setiap 100.000 penduduk memerlukan rawat
inap karena perdarahan saluran cerna bagian atas. Perdarahan saluran cerna
bagian bawah lebih sedikit dan menyebabkan sekitar 20 pasien per 100.000
penduduk dirawat inap ( Murdani A, 2012).
Di Indonesia sebagian besar kasus perdarahan saluran cerna bagian atas
kurang lebih 70 persen disebabkan oleh pecahnya esophagus atau dampak
lain dari dampak akibat adanya hipertensi portal ( adanya gastropati
hipertensi portal ), sedangkan di Negara Barat sebagian besar diakibatkan
perdarahan tukak peptic dan gastritis erostiva. Data statistic ini membawa
kita bagaimana harus bersikap bila menghadapi kasus baru perdarahan
saluran cerna bagian atas yang salah satunya adalah kasus hematemesis
melena ( Djojoningrat D, 2011).
Hematemesis adalah muntah darah sedangkan melena adalah buang air
besar seperti aspal, umumnya disebabkan perdarahan saluran pencernaan
bagian atas mulai dari esofagus sampai duodenum. Warna merah gelap atau
hitam berasal dari konversi Hb menjadi hematin oleh bakteri setelah 14 jam
( Sylvia, 2005 )
Hematemesis Melena bersifat tidak masif dan timbul setelah penderita
minum obat-obatan yang menyebabkan iritasi lambung. Sebelum muntah
penderita mengeluh rasa nyeri penderita mengalami dispensi berupa mual
dan muntah, nyeri dan sebelum hematemesis didahului rasa nyeri atau pedih
di epigastrium yang berhubungan dengan makanan. Sifat hematemesis tidak
begitu masif dan melena lebih dominan dari hematemesis. ( Suparman ,
1999)
1

Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan penulis pada Tn. J di


Ruang Camar Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang pasien dengan
diagnosa Melena mengeluh lemas karena sering buang air besar dengan
feses berwarna hitam dan cair, disertai dengan mual muntah, dan rasa nyeri
pada bagian perut. Mengacu pada masalah diatas penulis tertarik untuk
melakukan Asuhan keperawatan dengan masalah sistem pencernaan Melena
di Ruang Camar RSUD Ajibarang.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu melaksanakan Asuhan Keperawatan secara komprehensif
pada klien dengan masalah system pencernaan yaitu Melena di Ruang
Camar RSUD Ajibarang.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan masalah
gangguan pencernaan Melena di Ruang Camar RSUD Ajibarang.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien
dengan masalah gangguan pencernaan Melena di Ruang Camar
RSUD Ajibarang.
c. Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada
pasien dengan masalah gangguan pencernaan Melena di Ruang
Camar RSUD Ajibarang.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada pasien dengan
masalah gangguan pencernaan Melena di Ruang Camar RSUD
Ajibarang.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada pasien dengan masalah
gangguan pencernaan Melena di Ruang Camar RSUD Ajibarang.
f. Penulis mampu mendokumentasikan tindakan keperawatan yang
telah dilakukan pada pasien dengan masalah gangguan pencernaan
Melena di Ruang Camar RSUD Ajibarang.
C. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis
Untuk memperoleh dan memperluas wawasan serta pengetahuan
tentang penyakit Hematemesis Melena beserta penatalaksanaan secara
medis dan konsep keperawatannya, sehingga dapat dijadikan sumber
ilmu dan wawasan oleh penulis.
2. Bagi institusi
2

Dapat

dijadikan

sebagai

acuan

ataupun

referensi

dalam

penbelajaran dikampus
3. Manfaat bagi pelayanan kesehatan
Dapat menambah ilmu dan dapat diterapkan oleh pelayanan
kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien
gangguan system pencernaan.
D. Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup pembahasan ini adalah mencakup pelaksanaan
Asuhan Keperawatan yang diterapkan pada pada pasien dengan masalah
gangguan pencernaan Melena di Ruang Camar RSUD Ajibarang.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep teori
1. Pengertian
Hematemesis

melena

adalah

muntah

darah

dan

biasanya

disebabkan oleh penyakit saluran cerna bagian atas. Melena adalah


keluarnya feses berwarna hitam per rectal yang mengandung campuran
darah, biasanya disebabkan oleh perdarahan usus proksimal ( Grace dan
Borley, 2007 )

Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti


aspal , dengan bau yang khas dan menunjukan perdarahan saluran
pencernaan serta dicernanya darah pada usus halus ( Davey, 2005 )
Melena adalah feses berwarna hitam seperti teh karena bercampur
darah umumnya terjadi karena perdarahan saluran cerna bagian atas
yang lebih dari 50- 100 ml dan biasanya desertai hematemesis
( Purwadianto dan Sampurna 2000)
2. Etiologi
a. Adanya luka atau pendarahan di lambung atau usus
b. Tukak lambung
c. Wasir
d. Disentri
e. Minuman berakohol
3. Tanda dan gejala
a. Gelisah
b. Suhu badan meningkat
c. Nafsu makan dan minum berkurang atau tidak ada nafsu makan
dan minum
d. Berak yang bercampur darah , lender, lemak dan berbuih.
e. Rasa sakit pada perut
f. Rasa kembung
g. Tonus dan turgor kulit berkurang
h. Selaput lender dan bibir kering.
4. Patofisiologi / Pathway.
Mekanisme perdarahan pada hematemesis dan melena sebagai berikut :
a. Perdarahan tersamar intermiten (hanya terdeteksi dalam feces atau
adanya anemia defisiensi Fe+)
b. Perdarahan masif dengan renjatan untuk mencari penyebab
perdarahan saluran cerna dapat dikembalikanpada faktor-faktor
penyebab perdarahan, yaitu:
1) Faktor pembuluh darah(vasculopathy) seperti pada tukak
peptik, pecahnya varises esophagus.
2) Faktor
trombosit
(trombopathy)

seperti

pada

Idiopathic ThrombocytopeniaPurpura (ITP)3.


3) Faktor kekurangan zat pembekuan darah (coagulopathy) seperti
padahemophilia,

sirosis

hati,

dan

lain-lainPada

sirosis

kemungkinan terjadi ketiga hal di atas : vasculopathy (pecahnya


varises esophagus), trombopathy (pengurangan trombosit di

tekananperifer akibat hipersplenisme), coagulopathy (kegagalan


sel-sel hati)
Khusus pada pecahnya varises esophagus ada 2 teori:
a. Teori erosi : pecahnya pembuluh darah karena erosi dari makanan
kasar(berserat tinggi dan kasar) atau konsumsi NSAID2.
b. Teori erupsi :karena tekanan vena porta terlalu tinggi, atau
peningkatan tekanan intra abdomen yang tiba-tiba karena
mengedan, mengangkat barangberat, dan lain-lain.
Gejala perdarahan intestinal ini menunjukkan bahwa sumber
perdarahan

terletak

di

bagian

proksimal.

Warna

darah

yang

dimuntahkan tergantung pada konsentrasi asam hidroklorida didalam


lambung dan campurannya dengan darah. Jika vomitus terjadi segera
setelah terjadinya perdarahan, muntahan akan tampak berwarna merah
gelap, coklat, atau hitam. Bekuan darah yang mengendap pada
muntahan akan tampak seperti ampas kopi yang khas. Hematemesis
biasanya menunjukkan perdarahan disebelah proksimal ligamentum
Treitz, karena darah yang memasuki traktus gastrointestinal dibawah
doudenum jarang masuk kedalam lambung.
Meskipun

perdarahan

yang

cukup

untuk

menimbulkan

hematemesis biasanya akan mengakibatkan melena, kurang dari


separuh pasien melena menderita hematemesis. Istilah Melena biasanya
menggambarkan perdarahan dari esofagus, lambung atau doudenum,
tetapi lesi didalam jejunum, ileum dan bahkan kolonascendens dapat
menyebabkan melena asalkan waktu perjalanan melalui traktus
gastrointestinal cukup panjang. Kurang lebih 60mL darah cukup untuk
menimbulkan satu kali buang air besar dengan tinja yang berwarna
hitam.
Kehilangan darah akut yang lebih besar dari jumlah ini dapat
menimbulkan melena lebih dari 7 hari. Setelah warna tinja kembali
normal , hasil tes untuk adanya darah samar dapat tetap positif selama
lebih dari satu minggu. Warna melena yang hitam terjadi akibat kontak

darah dengan asam hidroklorida sehingga terbentuk hematin. Tinja


tersebut akan terbentuk seperti ter (lengket) dan menimbulkan bau yang
khas. Konsistensi seperti ini berbeda dengan tinja yang berwarna hitam
atau gelap setelah seseorang mengkonsumsi zat besi, bismut
atau licorice. Demikian pula tinja yang merah dapat terjadi akibat
mengkonsumsi bit atau

setelah

menyuntikan sulfobromoftalein

intravena. Perdarahan gastrointestinal, sekalipun hanya terdeteksi


dengan tes yang positif untuk darah samar, menunjukkan darah yang
potensial serius dan harus diselidiki lebih lanjut.

Proses regenerasi sel hati yang terganggu.

Kegagalan
parenkim hati

Mual muntah

Nafsu makan
dan minum
menurun

Hipertensi
porta

Varises
esophagus

Tekanan intra
abdomen
meningkat

Asites
Penekanan
diafragma

Ruang paru
menyempit

Sesak napas
Kelemahan
cepat lelah

Pembuluh darah
pecah

Gangguan
pola napas

Perubahan
nutrsi kurang
dari kebutuhan
tubuh

Melena

Hematemesis

Sakit perut

Nyeri akut

Ketidak
seimbangan cairan
dan elektrolit
Gangguan perfusi
jaringan
cemas

5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan tinja
Makroskopi dan mikroskopi , Ph dan kadar gula jika diduga
ada intoleransi glukosa.
b. Pemeriksaan darah
Darah lengakap perifer, analisa gas darah dan elektrolit
( terutama Na, K, dan kreatinin darah )
c. Pemeriksaan USG abdomen
6. Penatalaksanaan
a. Penderita harus diistirahatkan mutlak
b. Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan
bila perdarahan berhenti dapat diberikan makanan cair.
c. Infuse cairan langsung dipasang dan diberikan larutan garam
fisiologi selama belum tersedia darah.
d. Pengawasan terhadap tekanan darah,

nadi,dan

kesaddaran

penderita.
B. Konsep Asuhan keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas klien
b. Riwayat keperawatan
c. Keluhan utama : fases semakin cair , muntah , bila kehilangan
banyak air dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi. Berat badan
menurun , tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lender mulut
dan bibir kering, frekuensi BAB lebih dari 4 kali dalam sehari
dengan konsistensi encer.
d. Riwayat kesehatan masa lalu

e. Riwayat penyakit keluarga


f. Kebutuhan dasar
1) Pola eliminasi
Perubahan BAB lebih dari 4 kali dalam sehari. BAK sedikit
atau jarang.
2) Pola nutrisi
Diawali dengan mual dan muntah , anoreksia, menyebabkan
penurunan berat badan.
3) Pola istirahat
Terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
4) Pola aktivitas
Terganggu karena kondisi tubuh yang lemas dan adanya
nyeri akibat distensi abdomen.
g. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan psikologis : keadaan umum tampak lemah,
kesadaran composmethis sampai koma.
2) Pemeriksaan sistemik
Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lender, mulut
dan bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
Perkusi : ada distensi abdomen. Auskultasi : terdengar bising
usus.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Devisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output
cairan yang berlebihan.
b. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang kebutuhan perawatan diri dirumah.
e. Hipertermi berhubungan dengan respon imun terhadap peradangan
pada saluran cerna.

3. Intervensi
8

a. Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan


cairan yang abnormal.
Tujuan: pasien menunjukkan status hidrasi yang baik
Kriteria hasil:
1) Tanda vital yang stabil
2) Hidrasi adekuat yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang
normal dan membran mukosa lembab
3) Masukan dan haluaran seimbang
Intervensi:
1) Kaji status hidrasi
2) Pertahankan cairan parental dengan elektrolit dan vitamin
3) Ukur masukan dan haluaran setiap 8 jam
4) Pantau elektrolit
5) Timbang klien
b. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake asupan yang tidak adekuat.
Tujuan: gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi teratasi
Kriteria hasil:
1. Intake nutrisi klien meningkat
2. Diet habis 1 porsi yang disediakan
3. Tidak ada mual dan muntah
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kaji adanya alergi makanan


Kaji respon klien terhadap intake makanan
Anjurkan pasien banyak minum
Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian makanan yang

terpilih
c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi
abdomen.
Tujuan :Nyeri pasien dapat teratasi.
Criteria hasil:
1. Dapat mengontrol nyeri
2. Ekspresi wajah tenang
3. Mengungkapkan rasa nyaman.
Intervensi :
1.
2.
3.
4.

Kaji skala nyeri


Monitor tanda-tanda vital
Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
Tingkatkan istirahat
9

5. Ajarkan teknik napas dalam


6. Kolaborasi pemberian analgetik.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Pasien bernama Tn. J berumur 33 tahun berjenis kelamin laki laki,
sudah menikah dan beragama islam. Pasien bertempat tinggal di Taraban,
bersuku jawa pendidikan terakhir SLTP pekerjaan pasien menjadi
pedagang. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 20 februari 2015
tanggal pengkajian 21 Februari 2015. Diagnose medis DHF gr II dengan
anemia berat. Sumber informasi didapatkan dari wawancara dengan
pasien dan keluarga pasien serta rekam medis. No. RM 136477.
2. Riwayat Penyakit

10

Keluhan utama saat masuk rumah sakit pasien mengatakan sebelum


masuk rumah sakit pasien mengalami buang air beasr cair dan berwarna
hitam, pasien mengatakan pusing dan sakit pada perut.
Keluhan utama saat pengkajian pasien mengatakan lemas, keluhan
tambahan pasien mengatakan sering BAB cair dan berwarna hitam.
Riwayat

penyakit

sekarang

pasien

datang

dengan

penurunan

kesaadaran, keluarga pasien mengatakan sebelum dibawa kerumah sakit


pasien BAB dalam sehari 7 kali, BAB cair danberwarna hitam. Pasien
datang kerumah sakit pada tanggal 20 Februari 2015 dari IGD pasien
dibawa ke ruang Camar untuk perawatan lebih lanjut.riwayat penyakit
dahulu pasien mengatakan pernah mengalami penyakit lambung.
Riwayat penyakit keluarga pasien mengatakan kakak kandungnya juga
mengalami penyakit yang sama yaitu BAB cair dan berwarna hitam.
Genogram pasien merupakan anak terakhir dari 6 bersaudara pasien
sudah menikah dan belum mempunyai anak. Diagnosa keperawatan
DHF dan anemia berat melena. Pemeriksaan penunjang laboratorium
darah lengkap , radiologi ( USG abdomen ), tindakan yang telah
dilakukan pemasangan infus RL 20 tpm.
3. Pengkajian saat ini
Persepsi dan pemeliharaan kesehatan pasien mengatakan apabila
sakit periksa ke dokter.
Pola nutrisi dan metabolik intake makanan sebelum sakit pasien
makan teratur 3 kali sehari namun sedikit hanya porsi. Selama sakit
pasien makan 3 kali sehari 1 sendok makan. Karena pasien mengatakan
apabila makan muntah. Intake cairan sebelum sakit pasien minum 7-8
gelas/hari selama sakit pasien minum 1 gelas sehari.
Pola eliminasi BAB pasien sebelum sakit BAB 1 kali/hari, selama
sakit pasien BAB 7 kali/ hari. Cair dan berwarna hitam. BAK sebelum
sakit pasien BAK 56 kali/ hari, selama sakit pasien BAK 5-6 kali / hari.
Pola aktivitas dan istirahat kemampuan perawatan diri pasien
selama sakit makan/minum dibantu orang lain, toileting di bantu orang
lain, mandi dibantu orang lain, berpakaian dibantu orang lain mobilitas

11

di tempat tidur mandiri, bepindah dibantu orang lain, ambulasi/ROM


mandiri.
Pola istirahat dan tidur sebelum sakit pasien tidur 6-7 jam/ hari,
selama sakit pasien tidur 2 jam/hari.
Pola persepsual penglihatan , pendengaran , pengecapan dan
sensasi sebelum dan selama sakit pasien mengatakan normal.
Pola persepsi diri pasien mengatakan yakin penyakitnya akan
sembuh dan pasien berjanji akan memperbaiki pola makannya.
Pola peran hubungan sebelum sakit pasien mengatakan komunikasi
dengan masyarakat baik, pasien tinggal serumah dengan istri. Selama
sakit pasien ditemanin istrinya pasien jarang bicara karena lemas.
Pasien management koping stress pasien mengatakan apabila
merasa stress tidur.
System nilai dan keyakinan pasien mengatakan beragama islam
sebelum sakit pasien terkadang solat selama sakit pasien tidak solat.
4. Pemeriksaan fisik
Kesadaran composmethis, tanda-tanda vital tekanan darah 110/70
mmHg, nadi : 80 x/menit, respirasi 20 kali / menit, suhu : 35,2 0 C. berat
badan 65 kg, tinggi badan 170 cm, kepala mesochepal tidak ada benjolan.
Mata simetris konjungtiva anemis, hidung simetris tidak ada polip,
telinga bersih, mulut lidah bersih mukosa bibir kering, leher tidak ada
tanda pembesaran kelenjar tyroid.
Pada pemeriksaan dada jantung dan paru didapatkan hasil
Inspeksi

simetris,

tidak

ada

retraksi

dinding

dada

Palpasi : tidak ada krepitasi ,vocal fremitus baik, Perkusi : bunyi jantung
pekak , bunyi paru sonor , Auskultasi : jantung ; S1>S2 Reguler Paruparu ; bunyi vesikuler
Pada pemeriksaan abdomen didapatkan hasil: Inspeksi : Simetris,
tidak ada luka,tidak ada benjolan, perut buncit, auskultasi : bising usus
15x/menit, Palpasi : ada nyeri tekan di perut bagian epigastrik, perrkusi :
hiperperistaltik.
Pada genitalia tidak terpasang DC , bersih. Pada ekstermitas atas
terpasang infuse asering 20 tpm , pada ekstermitas bawah tidak ada

12

edema . pada kulit , turgor kulit baik, warna bersih tetapi pucat, dan
tidak ada edema
5. Program terapi
1. IVFD RL 20 tpm ( IV )
2. Vitamin K 2x 200 mg ( IV)
3. Antasid syirup 3x1 (p.o)
4. Sulfat Feroz 2x 1( IV)
5. Asam folat 2x1 (IV )
6. B 12 2x1
7. Dimenhidramin 2x 10 mg
8. Diaform 3x1
9. Ranitidine 2x 50 mg
10. Asam tranexsamat 3x 500 mg
11. Tranfusi golongan darah B 4 kolf
6. Hasil pemeriksaan penunjang
Tanggal 20 februari 2015
a. Darah lengkap
Hemoglobin L 5,7 g/dl dari nilai normal 14,00-18,0 g/dl ,
hematokrit L 21,8 % dari nilai normal 42,0-52,0 %, eritrosit L 3,28
10^6 u/Ul dari nilai normal 4,7-6,1 10^6 u/Ul, trombosit L 86 10^3
u/Ul dari nilai normal 150-450 10^3 u/Ul, MCV L 66,5 Fl dari nilai
normal 79,0-99,0 fl, MCH L 17,4 pg dari nilai normal 27,0-31,0 pg,
MCHC L 26,1 g/dl dari nilai normal 33,0-37,0 g/dl, RDW H 19,9
% dari nilai normal 11,5-14,5 % MPV negative dari nilai normal
7,2-11,1. Hitung jenis eosinofil L 0 % dari nilai normal 2,0-4,0 %,
batang L 0,0 % dari nilai normal 2,0-5,0 %, segmen H 77,1 % dari
nilai normal 40,0-70,0 %. Kimia klinik kreatinin darah L 0,65
mg/dl dari nilai normal 0,90-1,30 mg/dl, SGOT H 59 u/l dari nilai
normal <40 u/l, SGPT H 53 u/l dari nilai normal <40 u/l.
b. Hasil pemeriksaan radiologi pada tanggal 24 Februari 2015 USG
Abdomen
Tampak cairan bebas pada perihepatik, marishon pouch,
recessus renolienalis dan paravesika kanan kiri.
Tampak pula cairan bebas pada supradiagfragma kikri.
Kesan:
1) Ukuran dan sonomorfologi hepar dalam batar normal
2) Plenomeghali
3) Penebalan dinding vesika fellea.
4) Asites

13

5) Effuse pleura kiri.

B. ANALISA DATA
N
O
1

DATA
DS:
1. pasien

ETIOLOGI

PROBLEM

Kehilangan cairan Kekurangan volume


mengatakan

abnormal

cairan dan elektrolit

sudah buang air besar


dalam sehari 7 kali dan
feses berwarna hitam
serta cair.
2. Pasien
mengatakan
mual

dan

muntah

apabila minum.
DO :
1. Pasien tampak lemas
2. Pasien
mual
dan
muntah 3 kali.
2

DS :
Intake asupan yang Gangguan kebutuhan
pasien mengatakan tidak
tidak adekuat
nutrisi kurang dari
nafsu makan dan minum.
kebutuhan tubuh.
DO :
1. Pasien makan 1 sendok
makan

dari

rumah

sakit.
2. pasien

tidak

berani

dan

minum

makan

karena takut muntah.


3. pasien tampak kurus.

14

DS : pasien mengatakan Distensi abdomen

Nyeri akut

nyeri pada perut bagian kiri.


Skala 4
DO :
1. Pasien tampak menahan
sakit.
2. pasien memegang bagian
perut yang sakit.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan yang abnormal
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan nutrisi yang tidak adekuat.
3. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen.
D. PERENCANAAN
1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan yang abnormal
Tujuan:
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 8 jam diharapkan
kebutuhan cairan dan elektrolit pasien dapat terpenuhi.
Criteria hasil:
Indicator
Awal
1. TTV dalam batas normal
3
2. Elasitas turgor kulit baik, mukosa 2

Tujuan
5
5

bibir lembab.
1
3. BAB dalam batas normal 1-2 kali

Akhir

sehari

Keterangan :
1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
15

4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
Intervensi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
2.

Monitor masukan makanan dan cairan


Monitor respon pasien penambahan cairan
Atur kemungkinan tranfusi
Monitor output
Monitor skala hidrasi
Kolaborasi pemberian cairan iv
Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan asupan nutrisi yang tidak adekuat.
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi
pasien dapat terpenuhi.
Criteria hasil :
Indicator
1. Peningkatan porsi makan dan minum
2. Tidak ada mual dan muntah
3. Intake-output seimbang

Awal
1
1
1

Tujuan
5
5
5

Akhir

Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.

Keluhan ekstrim
Keluhan berat
Keluhan sedang
Keluhan ringan
Tidak ada keluhan.
Intervensi :
1. Kaji adanya alergi makanan
2. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
3.
4.
5.
6.
7.

dibutuhkan
Monitor adanya mual dan muntah
Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C.
Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Anjurkan pasien untuk banyak minum
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian makanan yang

terpilih.
3. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen
Tujuan :

16

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 8 jam diharapkan


nyeri akut pasien dapat teratasi.
Criteria hasil :
Indicator
1. Mampu mengontrol nyeri
2. Ekpresi wajah tenang
3. Mengungkap rasa nyaman

1.
2.
3.
4.
5.

Awal
3
3
3

tujuan

Akhir

5
5
5

Keterangan :
Keluhan ekstrim
Keluhan berat
Keluhan sedang
Keluhan ringan
Tidak ada keluhan.
Intervensi :

1. Kaji skala nyeri


2. Monitor tanda-tanda vital
3. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
4. Tingkatkan istirahat
5. Ajarkan teknik napas dalam
6. Kolaborasi pemberian analgetik.
E. IMPLEMENTASI
Sabtu 21 Februari 2015
14.00
Dx 1
1. Mengkaji masukan makanan dan cairan.
2. Menanyakan frekuensi buang air besar
3. Menganjurkan pasien banyak minum
Ds :pasien mengatakan sudah buang air besar 7 kali dengan feses berwarna
hitam dan cair. Pasien juga mengatakan mual dan muntah.
Do : pasien muntah 3 kali.
17.00
Dx 2
1. Mengkaji adanya alergi makanan
2. Monitor adanya mual dan muntah
3. Menganjurkan pasien makan sedikit namun sering

17

Ds : pasien mengatakan tidak ada alergi makanan, pasien mengatakan


sebelum sakit sering merokok dan minum kopi.
Do : pasien makan 1 sendok.
18.00
Dx 3
1. Menginjeksi asam tranek dan ondansetron
2. Mengkaji skala nyeri
3. Membatasi pengunjung
Ds : pasien mengatakan nyeri pada perut bagian kiri.
Do : pasien tampak menahan nyeri, skala nyeri 4

Senin 23 Februari 2015


08.00
Dx 1
1. Memonitor seberapa banyak makan dan minum yang masuk
2. Memonitor respon pasien terhadap penambahan cairan
3. Mengatur tranfusi ( mengukur tanda-tanda vital)
Ds : pasien mengatakan tidak mau minum karena takut muntah, pasien
mengatakan masih BAB cair dan hitam 3 kali.
Do : mukosa bibir pasien kering. TTV TD: 140/90 mmHg, nadi : 100
x/menit, RR: 21 x/menit, suhu : 37,6 0C.
09.30
Dx 2
1. Monitor masukan makanan dan minuman
2. Monitor adanya mual dan muntah
Ds : pasien mengatakan ketika makan sedikit pun mual dan muntah
Do : pasien makan 2 sendok
13.00
Dx 3
1. Mengkaji skala nyeri
2. Mengkontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri
3. Menganjurkan pasien istirahat
Ds : pasien mengatakan ada nyeri tekan diperut
Do : skala nyeri 3

18

Selasa 24 Februari 2015


08.00
Dx 1
1. Menanyakan frekuensi BAB
2. Menganjurkan pasien banyak minum
3. Monitor elasitas turgor kulit dan mukosa bibir
Ds : pasien mengatakan masih BAB cair dan hitam sudah 2 kali
Do : pasien tampak lemas.
09.00
Dx 2
1. Mengantar pasien USG
2. Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
3. Menganjurkan pasien makan sedikit namun sering
Ds : pasien mengatakan apabila makan masih mual dan muntah
Do : pasien sudah muntah 2 kali.
14.00
Dx 3
1. Mengkaji skala nyeri
2. Mengajarkan teknik napas dalam
3. Membatasi pengunjung
Ds : pasien mengatakan nyeri sudah tidak ada
Do : pasien tampak tenang.skala nyeri 0

19

F. EVALUASI
Sabtu 21 Februari 2015
Dx 1
S : pasien mengatakan sudah BAB 7 kali dalam sehari dengan feses hitam
dan cair, dan pasien mengatakan apabila makan dan minum mual dan
muntah.
O : pasien tampak lemas.
TD : 150/90 mmHg, nadi : 90 x/menit, RR: 21 x/menit, suhu : 37,6 0C
Indikator
Awal
1. TTV dalam batas normal
3
2. Elasitas turgor kulit baik, mukosa 2

Tujuan
5
5

Akhir
3
3

bibir lembab.
1
3. BAB dalam batas normal 1-2 kali

sehari
A : masalah kekurangan volume dan elektrolit belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S : pasien mengatakan malas untuk makan dan minum
O : pasien makan siang 1 sendok.
Indicator
1. Peningkatan porsi makan dan minum
2. Tidak ada mual dan muntah
3. Intake-output seimbang

Awal
1
1
1

Tujuan
5
5
5

Akhir
1
1
2

A : masalah gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum


teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 3
S : pasien mengatakan nyeri pada perut bagian kiri.
O : pasien tampak tidak tenang, skala nyeri 4

20

Indicator
1. Mampu mengontrol nyeri
2. Ekpresi wajah tenang
3. Mengungkap rasa nyaman

Awal
3
3
3

tujuan
5
5
5

Akhir
4
3
4

A : masalah nyeri akut belum teratasi


P : lanjutkan intervensi
Senin 23 Februari 2015
Dx 1
S : pasien mengatakan masih BAB cair dan hitam sudah 5 kali
O : pasien tampak lemas, TTV TD: 140/90 mmHg, nadi : 100 x/menit, RR:
21 x/menit, suhu : 37,6 0C. mukosa bibir pasien tampak kering
Indicator
Awal
1. TTV dalam batas normal
3
2. Elasitas turgor kulit baik, mukosa bibir 2

Tujuan
5
5

Akhir
4
3

lembab.
1
3. BAB dalam batas normal 1-2 kali

sehari
A : masalah kekurangan volume cairan dan elektrolit belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S : pasien mengatakan ketika makan sedikit muntah
O : pasien makan 2 sendok makan
Indicator
1. Peningkatan porsi makan dan minum
2. Tidak ada mual dan muntah
3. Intake-output seimbang

Awal
1
1
1

Tujuan
5
5
5

Akhir
2
3
2

A : masalah gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum


teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 3
S : pasien mengatakan masih terdapat nyeri diperut
O : pasien tampak masih menahan nyeri pada perut, skala nyeri 3
Indicator

Awal

Tujuan

Akhir

21

1. Mampu mengontrol nyeri


2. Ekpresi wajah tenang
3. Mengungkap rasa nyaman

3
3
3

5
5
5

5
4
4

A : masalah nyeri akut belum teratasi


P : lanjutkan intervensi
Selasa 24 Februari 2015
Dx 1
S : pasien mengatakan BAB cair dan hitam berkurang 3 kali dalam sehari.
O : pasien tampak lemas. TTV TD : 120/80 mmHg, nadi :80x/menit, RR:
20x/menit, suhu 36,6 0C.
Indicator
Awal
1. TTV dalam batas normal
3
2. Elasitas turgor kulit baik, mukosa 2

Tujuan
5
5

Akhir
5
4

bibir lembab.
1
3. BAB dalam batas normal 1-2 kali

sehari
A : Masalah kekurangan volume dan cairan belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 2
S : pasien mengatakan BAB 3 kali dalam sehari, pasien juga mengatakan
sudah muntah 2 kali
O : pasien tampak lemas

Indicator
1. Peningkatan porsi makan dan minum
2. Tidak ada mual dan muntah
3. Intake-output seimbang.

Awal
1
1
1

Tujuan
5
5
5

Akhir
3
3
3

A : masalah gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh belum


teratasi
P : lanjutkan intervensi
Dx 3
S : pasien mengatakan nyeri diperut sudah tidak ada.

22

O : pasien tampak tenang, skala nyeri 0


Indicator
1. Mampu mengontrol nyeri
2. Ekpresi wajah tenang
3. Mengungkap rasa nyaman

Awal
3
3
3

tujuan
5
5
5

Akhir
5
5
5

A : masalah nyeri akut teratasi


P : intervensi berhasil

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan proses pengumpulan data secara sistematis
yang bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan fungsional klien saat
ini dan waktu sebelumnya serta untuk menentukan pola respon klien saat ini
dan sebelumnya ( Carpenito-Moyet 2005 ). Pengkajian keperawatan
meliputi dua tahap yaitu mengumpulkan dan verifikasi data dari sumber
primer ( klien) dan sumber sekunder atau keluarga, tenaga kesehatan, rekam
medis dan analisa seluruh data sebagai dasar untuk menegakkan diagnosis
keperawatan mengidentifikasi berbagai masalah yang saling berhubungan
dan mengembangkan rencana keperawatan yang sifatnya individual ( Pierce
A. Grace, 2009 ).
Saat pengkajian keluhan utama pasien mengatakan lemas dikarenakan
sudah BAB 7 kali dalam sehari dan feses berwarna hitam serta cair,
perdarahan

saluran

cerna

dengan

waktu

transit

intestinal

yang
23

memungkinkan pencernaan hemoglobin ( Graber Mark, 2006 ). Bila darah


keluar dalam jumlah cukup kedalam saluran gastroestinal atas, darah
menghasilkan warna hitam seperti teh atau melena. Darah yang masuk
bagian bawah saluran gastrointestinal atau melewati saluran gastrointestinal
dengan cepat akan tampak merah terang atau gelap.
Pada pemeriksaan laboratorium Hemoglobin L 5,7 g/dl dari nilai
normal 14,00-18,0 g/dl , hematokrit L 21,8 % dari nilai normal 42,0-52,0 %,
eritrosit L 3,28 10^6 u/Ul dari nilai normal 4,7-6,1 10^6 u/Ul, trombosit L
86 10^3 u/Ul dari nilai normal 150-450 10^3 u/Ul. Kimia klinik kreatinin
darah L 0,65 mg/dl dari nilai normal 0,90-1,30 mg/dl, SGOT H 59 u/l dari
nilai normal <40 u/l, SGPT H 53 u/l dari nilai normal <40 u/l.
Pemeriksaan laboratorium penunjang awal ditunjukan terutama untuk
menilai kadar hemoglobin , fungsi hemostatis, fungsi hati dan kimia darah
dasar berhubungan dengan status hemodinamik. Pemeriksaan kadar
hemoglobin dan hematokrit dilakukan secara serial 6 sampai 8 jam agar
dapat dilakukan antisipasi tranfusi secara lebih tepat serta untuk memantau
lajunya proses perdarahan ( Rani, 2011).
Pasien juga mengatakan tidak nafsu makan dan minum, pasien mual
dan muntah setiap kali ada masukan. Dikarenakan kegagalan parenkim hati
dalam proses metabolisme makanan mengakibatkan nafsu makan dan
minum menurun. Dari pengkajian pola nutrisi intake makanan pasien hanya
makan 1-3 sendok makan per hari, intake minuman pasien minum 1 gelas
perhari.
Keluhan tambahan terdapat nyeri pada bagian perut dikarenakan
adanya distensi abdomen.
Pada pemeriksaan USG didapatkan hasil : Tampak cairan bebas pada
perihepatik, marishon pouch, recessus renolienalis dan paravesika kanan
kiri.Tampak pula cairan bebas pada supradiagfragma kikri.
Kesan:
1. Ukuran dan sonomorfologi hepar dalam batar normal
2. Plenomeghali
3. Penebalan dinding vesika fellea.
24

4. Asites
5. Effuse pleura kiri.

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan

yaitu

sebuah

label

singkat

yang

menggambarkan kondisi pasien yang diobservasi dilapangan. Kondisi ini


dapat berupa masalah-masalah actual atau potensial atau diagnosis sejahtera.
Menggunakan

terminology

NANDA international,

potensi

masalah

dinyatakan sebagai resiko ( Wilkinson, 2012 ).


Berdasarkan teori yang ada, diagnosa yang munkin muncul pada
masalah melena ada lima diagnosa yaitu kekurangan volume cairan yang
berhubungan dengan kehilangan cairan yang abnormal, perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan asupan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh, perubahan absorpsi , nyeri akut berhubungan
dengan inflamasi , iritasi dan distensi abdomen, kurang pengetahuan
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kebutuhan perawatan diri
dirumah, hipertermi berhubungan dengan respon imun terhadap peradangan
pada saluran cerna.
Berdasarkan pengkajian pada tanggal 21 februari 2015 ditemukan data
subjektif yang pasien menyatakan keluhan sehingga penulis dapat
menetukan diagnosa yang sesuai dengan keluhan tersebut. Dari lima
diagnosa yang ada pada teori penulis dapat mengangkat tiga diagnosa yang
sesuai dengan keluhan pasien yaitu kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kehilangan cairan yang abnormal dengan pasien mengatakan lemas

25

ditandai pasien sudah buang air besar selama 7 kali dalam sehari dan feses
berwarna hitam serta cair ditandai dengan pasien tampak lemas, kebutuhan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan nutrisi
kurang dari kebutuhan dengan pasien mengatakan tidak nafsu makan dan
minum serta merasa mual setiap kali makan ditandai pasien muntah dan
makan 1-3 sendok perhari. Pasien juga mengatakan terdapat nyeri tekan
pada perut bagian kiri yang ditandai dengan pasien tampak menahan sakit,
skala nyeri 4 dan perut pasien tampak buncit. Maka penulis menegakkan
diagnosa nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen.
C. Intervensi Keperawatan
Dalam pembuatan rencana tindakan, penulis membuat rencana sesuai
dengan keadaan pasien dan diagnosa keperawatan yang muncul. Terdapat
tujuan untuk mencapai kriteria hasil yang ada sesuai dengan rencana
tindakan pada pasien.
Pada diagnosa pertama kekurangan volume cairan dan elektrolit
berhubungan dengan kehilangan cairan yang abnormal tujuan yang ingin
dicapai penulis setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x8 jam
diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi. Kriteria hasil TTV
dalam batas normal, intake output seimbang, elasitas turgor kulit baik, dan
mukosa bibr lembab. Intevensi monitor masukan makanan dan cairan,
monitor respon pasien terhadap penambahan cairan, atur kemungkinan
tranfusi, kolaborasi pemberian cairan IV.
Pada diagnosa kedua kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh.
Tujuan yang ingin dicapai penulis setelah melakukan tindakan keperawatan
selama 3x8 jam diharapkan kebutuhan nutrisi pasien dapat terpenuhi dengan
kriteria hasil adanya peningkatan porsi makan dan minum, tidak ada mual
muntah, BAB dalam batas normal 1-2 kali perhari. Intervensi kaji adanya
alergi makanan , kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan, monitor adanya mual muntah, anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan vitamin, berikan informasi tentang kebutuhan

26

nutrisi, anjurkan pasien untuk banyak minum, kolaborasi dengan ahli gizi
untuk pemberian makanan yang terpilih.
Diagnosa ketiga nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen.
Tujuan yang ingin dicapai penulis setelah melakukan tindakan keperawatan
selama 3x8 jam diharapkan nyeri akut pasien dapat teratasi, dengan criteria
hasil pasien mampu mengontrol nyeri, ekspresi wajah tenang, dan
mengungkapkan rasa nyaman. Intervernsi kaji skala nyeri, monitor tandatanda vital, control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri, ajarkan
teknik napas dalam dan kolaborasi pemberian obat analgetik.
D. Impelentasi
Dalam penyusunan asuhan keperawatan ini penulis melakukan
tindakan sesuai apa yang dikeluhkan pasien dengan tindakan yang dapat
mengatasi keluhan pada diagnosa keperawatan kekurangan volume cairan
dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan abnormal. Dilakukan
tindakan memonitor masukan makanan dan cairan, monitor respon pasien
terhadap penambahan cairan respon pasien mengatakan lemas, memberikan
tranfusi golongan darah B, kolaborasi pemberian cairan IV. Dengan respon
pasien mengatakan badannya terasa lemas dan tidak nafsu makan minum.
Pada diagnosa keperawatan kebuthan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat penulis melakukan
tindakan mengkaji adanya alergi makanan repon pasien mengatakan tidak
alergi terhadap makanan tertentu , mengkaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan respon pasien mengatakan tidak nafsu
untuk makan dan minum karena setiap kali makan dan minum pasien
muntah, memonitor adanya mual muntah respon pasien mengatakan sudah
muntah 3 kali. menganjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan
vitamin, memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi, menganjurkan
pasien untuk banyak minum, dan pemberian makanan yang terpilih respon
pasien mengatakan hanya makan 3 sendok makan.
Pada diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan distensi
abdomen penulis melakukan tindakan mengkaji skala nyeri respon pasien
mengatakan terdapat nyeri tekan pada perut bagian kiri, monitor tanda-tanda
vital TD 120/80 mmHg, nadi 100x/menit, respirasi 21 x/menit dan suhu 37,6
27

C, mengontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri dengan

pembatasan pengunjung respon pasien mengatakan kurang tidur dan tidur


hanya 3 jam sehari, mengajarkan teknik napas dalam dan kolaborasi
pemberian obat analgetik.
Apabila tidak teratasi maka akan menjadi beban bagi keluarga pasien
untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya, selain itu mungkin
pasien menjadi ketergantungan dan manja.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah fase akhir dalam proses keperawatan. Dengan cara
evaluasi, perawat dapat memberikan pendapat pada kuantitas dan kualitas
asuhan yang diberikan. Evaluasi yaitu aktivitas terus-menerus yang
memainkan peran penting selama seluruh fase proses keperawatan,
merupakan cara menentukan apakah asuhan keperawatan yang diperlukan
telah mencapai hasil yang sesuai.
Terminasi hubungan perawatan yang berarti diakhiri dengan
wawancara pemulangan, yang secara jelas berfungsi evaluative. Perhatian
khusus akan diberikan pada berbagai tipe evaluasi dalam proses asuhan
keperawatan. Evaluasi keperawatan menunjukkan penilaian tentang
keefektifan atau keberhasilan struktur, proses dan hasil aktivitas
keperawatan dengan menggunakan standar atau nilai berdasarkan norma
atau criteria. Seperti yang digunakan disini istilah standar menunjukan
tingkat pencapaian yang dihaarapkan yang biasanya dapat diukur ( Basford
Lynn, 2006 ).
Dokumentasi tertulis merupakan dokumentasi dan komunikasi
informasi legal kepada pemberi pelayanan kesehatan lain. Pencatatan SOAP
didasarkan pada sebuah daftar masalah atau diagnosa keperawatan. Setiap
diagnosa memiliki nomor tersendiri yang tidak pernah berubah. SOAP
didahuli nomor masalah atau diagnosis atau nama yang merujuk pada
masalah tersebut. Setelah diagnosis diidentifikasi , informasi yang terkait
dengan diagnosis tersebut ditulis dengan cara S ( subjektif ) yaitu semua
yang dikatakan pasien dapat mencakup pernyataan anggota keluarga. O
( objektif ) yaitu data yang diamati. A ( analisis ) yaitu juga dikenal dengan
pengkajian, inilah kesempatan perawat untuk menyatakan apa yang
28

difikirkan terhadap apa yang dilihat dan didengar. Biasanya dilakukan


dalam bentuk sebuah diagnosis ( perawat memakai diagnosis keperawatan ).
P ( plan ) yaitu mencakup tindakan perawatan yang telah dilaksanakan.
Terapi penyuluhan dan rencana pengkajian lebih lanjut tentang diagnosis
pada A atau analisis juga tercangkup disini. Dalam rencana cantumkan siapa
yang akan melaksanakan dan kapan akan dilaksanakan ( Brenda, 2003 ).
Upaya yang dilakukan penulis untuk mengevaluasi masalah pada
pasien dengan masalah system pencernaan melena tersebut adalah
melakukan pengkajian pada tanggal 21 Februari 2015, tidak seluruh
diagnosa dapat teratasi oleh tindakan yang penulis lakukan, dari tiga
diagnosa hanya 1 yang dapat teratasi setelah penulis melakukan tindakan
selama 3x8 jam.
a. Pada diagnosa keperawatan kekurangan volume cairan dan elektrolit
data subjektif pasien mengatakan masih BAB cair dan berwarna hitam
selama 3 kali dalam sehari data objektifnya pasien tampak lemas.
Analisis masalah kekurangan volume cairan dan elektrolit belum teratasi
lanjutkan intervensi.
b. Diagnosa kebutuhan nutrisi kurang dari kebtuhan tubuh data
subjektifnya pasien mengatakan nafsu makan dan minumnya masih
kurang data objektif nya pasien makan 1-3 sendok setiap porsi makan,
pasien juga muntah 3 kali. Analisis masalah kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh belum teratasi lanjutkan intervensi.
c. Diagnosa nyeri akut data subjekifnya pasien mengatakan sudah tidak
terdapat nyeri tekan pada perut bagian kiri data objektifnya skala nyeri 0
pasien tampak tenang. Analisis masalah nyeri akut sudah teratasi.

29

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3 hari di RSUD
Ajibarang , penulis dapat menarik kesimpulan dari awal sampai akhir
pembuatan laporan ini. Mulai dari melakukan pengkajian untuk mengetahui
masalah keperawatan yang muncul pada pasien melena, merumuskan
diagnosa pada pasien melena, menyusun rencana tindakan keperawatan
pada pasien melena untuk memenuhi kebutuhan pasien dan mengatasi
masalah pasien, mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan yang
sudah disusun pada pasien melena sesuai dengan intervensi, mengevaluasi
tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien melena ,
mendokumentasikan tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada
pasien gangguan system pencernaan yaitu melena selama 3 hari. Maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
a. Penulis telah mengkaji pasien dan mendapat data sesuai keluhan pasien
yaitu:
Data subjektif pertama Tn. J mengatakan sudah buang air besar
dalam sehari 7 kali dengan feses berwana hitam dan cair data
objektifnya pasien tampak kurus. Data subjektif kedua Tn. J
mengatakan tidak nafsu makan dan minum dikarenakan setiap makan
dan minum mual dan muntah data objektif pasien sudah muntah 3 kali.
Data subjektif selanjutnya Tn. J mengatakan terdapat nyeri tekan pada
perut bagian kiri, skala nyeri 4 dan hilang timbul. Data objektif yang
didapat pasien tampak menahan nyeri dan memegangi diagnosa
keperawaperut.
b. Diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. J yaitu :
kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan abnormal, kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat, dan nyeri akut
berhubungan dengan distensi abdomen.
c. Intervensi keperawatan pada Tn. J yaitu :
pada diagnosa 1 adalah monitor masukan makanan dan cairan,
monitor respon pasien terhadap penambahan cairan, atur kemungkinan

30

tranfusi, kolaborasi pemberian cairan IV. Pada diagnosa kedua kaji


adanya alergi makanan , kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan, monitor adanya mual muntah, anjurkan pasien
untuk meningkatkan protein dan vitamin, berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi, anjurkan pasien untuk banyak minum, kolaborasi
dengan ahli gizi untuk pemberian makanan yang terpilih. Dan diagnosa
ketiga adalah kaji skala nyeri, monitor tanda-tanda vital, control
lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri, ajarkan teknik napas
dalam dan kolaborasi pemberian obat analgetik.
d. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada Tn. J selama 3 hari pada
tanggal 21 Februari-24 Februari 2015 yaitu:
pada diagnosa pertama memonitor masukan makanan dan cairan,
monitor respon pasien terhadap penambahan cairan, memberikan
tranfusi golongan darah B, kolaborasi pemberian cairan IV. Diagnosa
kedua mengkaji adanya alergi makanan, mengkaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan, memonitor adanya mual
muntah, menganjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin,
memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi, menganjurkan pasien
untuk banyak minum, dan pemberian makanan yang terpilih. Diagnosa
ketiga mengkaji skala nyeri , monitor tanda-tanda vital, mengontrol
lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri dengan pembatasan
pengunjung, mengajarkan teknik napas dalam dan kolaborasi
pemberian obat analgetik.
e. Penulis mengevaluasi keadaan pasien setiap hari setelah tindakan
keperawatan dilakukan selama 3 hari yaitu :
Diagnosa pertama data subjektifnya pasien mengatakan masih
buang air besar 3 kali dalam sehari, data objektifnya pasien tampak
lemas. Maka menunjukan masalah kekurangan volume cairan dan
elektrolit belum teratasi. Diagnosa kedua data subjektifnya pasien
mengatakan nafsu makan dan minumnya masih kurang data objektif
nya pasien makan 1-3 sendok setiap porsi makan, pasien juga muntah 3
kali. Menunjukan masalah kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

31

tubuh belum teratasi. Diagnosa ketiga data subjekifnya pasien


mengatakan sudah tidak terdapat nyeri tekan pada perut bagian kiri data
objektifnya skala nyeri 0 pasien tampak tenang. Menunjukan masalah
nyeri akut sudah teratasi.
B. Saran
Saran-saran yang penulis sampaikan sehubungan dengan tulisan makalah ini
sebagai berikut :
1. Saran bagi

perawat

diharapkan

mampu

melakukan

tindakan

keperawatan yang yang lebih efektif dan lebih cermat


2. Saran bagi pasien maupun keluarga pasien dengan dibereikannya
pengetahuan atau pendidikan tentang pola makan yang efektif
diharapkan pasien maupun keluarga dapat mengatasi adanya tandatanda dari penyakit melena.
3. Saran bagi peneliti lain diharapkan ada peneliti lain yang dapat meneliti

penyakit melena dan tindakan yang lebih cermat pada kodisi darurat.

32