Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan bila ada
keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Secara epidemiologik diabetes
seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya adalah 7
tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini
terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi (Soegondo, et al., 2005).
Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat
mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit menahun, seperti penyakit
serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai,
penyakit pada mata, ginjal, dan syaraf. Jika kadar glukosa darah dapat selalu
dikendalikan dengan baik, diharapkan semua penyakit menahun tersebut dapat
dicegah, atau setidaknya dihambat. Berbagai faktor genetik, lingkungan dan cara
hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes (Soegondo, et al., 2005).
Berbagai penelitian menunjukan bahwa kepatuhan pada pengobatan
penyakit yang bersifat kronis baik dari segi medis maupun nutrisi, pada umumnya
rendah. Dan penelitian terhadap penyandang diabetes mendapatkan 75 %
diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58 % memakai dosis
yang salah, dan 80 % tidak mengikuti diet yang tidak dianjurkan.(Endang Basuki
dalam Sidartawan Soegondo, dkk 2004).

Jumlah penderita penyakit diabetes melitus akhir-akhir ini menunjukan


kenaikan yang bermakna di seluruh dunia. Perubahan gaya hidup seperti pola
makan dan berkurangnya aktivitas fisik dianggap sebagai faktor-faktor penyebab
terpenting. Oleh karenanya, DM dapat saja timbul pada orang tanpa riwayat DM
dalam keluarga dimana proses terjadinya penyakit memakan waktu bertahuntahun dan sebagian besar berlangsung tanpa gejala. Namun penyakit DM dapat
dicegah jika kita mengetahui dasar-dasar penyakit dengan baik dan mewaspadai
perubahan gaya hidup kita (Elvina Karyadi, 2006).
Penderita diabetes mellitus dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), penduduk dunia yang menderita
diabetes mellitus sudsh mencakupi sekitar 197 juta jiwa, dan dengan angka
kematian sekitar 3,2 juta orang.
WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar
366 juta orang pada tahun 2030. Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan
negara-negara berkembang, yang mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus
150 % yaitu negara penderita diabetes mellitus terbanyak adalah India (35,5 juta
orang), Cina (23,8 juta orang), Amerika Serikat (16 juta orang), Rusia (9,7 juta
orang), dan Jepang (6,7 juta orang).

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFENISI
Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan
klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi
karbohidrat (Silvia. Anderson Price, 1995)
Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronik yang tidak dapat
disembuhkan, tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan ketidak ade
kuatan penggunaan insulin (Barbara Engram; 1999, 532)
Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronik yang komplek yang
melibatkan kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan
berkembangnya komplikasi makro vaskuler, mikro vaskuler dan neurologis
(Barbara C. Long, 1996).
B. ETIOLOGI
Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun
1995 adalah :
1. DM Tipe I (IDDM : DM tergantung insulin)
a. Faktor genetik / herediter
Faktor herediter menyebabkan timbulnya DM melalui kerentanan sel-sel
beta terhadap penghancuran oleh virus atau mempermudah perkembangan
antibodi autoimun melawan sel-sel beta, jadi mengarah pada penghancuran
sel-sel beta.
b. Faktor infeksi virus

Berupa infeksi virus coxakie dan Gondogen yang merupakan pemicu yang
menentukan Proses autoimun pada individu yang peka secara genetik
2. DM Tipe II (DM tidak tergantung insulin = NIDDM)
Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada
individu obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel
target insulin diseluruh tubuh. Jadi membuat insulin yang tersedia kurang
efektif dalam meningkatkan efek metabolik yang biasa.
3. DM Malnutrisi
a. Fibro Calculous Pancreatic DM (FCPD)
Terjadi karena mengkonsumsi makanan rendah kalori dan rendah protein
sehingga klasifikasi pangkreas melalui proses mekanik (Fibrosis) atau
toksik (Cyanide) yang menyebabkan sel-sel beta menjadi rusak.
b. Protein Defisiensi Pancreatic Diabetes Melitus (PDPD)
Karena kekurangan protein yang kronik menyebabkan hipofungsi sel Beta
pancreas
4. DM Tipe Lain
Penyakit pankreas seperti : pancreatitis, Ca Pancreas dll
Penyakit hormonal
Seperti : Acromegali yang meningkat GH (growth hormon) yang
merangsang sel-sel beta pankeras yang menyebabkan sel-sel ini hiperaktif
dan rusak
Faktor penyebab terjadinya Diabetes Mellitus ( Sjaifoellah, 1996 : 692 ) yaitu :
1.
2.
3.
4.
C.

Faktor keturunan
Fungsi sel pancreas dan sekresi insulin berkurang
Kegemukan atau obesitas
Perubahan pada usia lanjut berkaitan dengan resistensi insulin
MANIFESTASI KLINIS

Gejala diabetes mellitus type 1 muncul secara tiba tiba pada usia anak
anak sebagai akibat dari kelainan genetika sehingga tubuh tidak memproduksi
insulin dengan baik. Gejala gejalanya antara lain adalah sering buang air
kecil, terus menerus lapar dan haus, berat badan turun, kelelahan, penglihatan
kabur, infeksi pada kulit yang berulang, meningkatnya kadar gula dalam darah
dan air seni, cenderung terjadi pada mereka yang berusiadibawah 20 tahun.
Sedangkan diabetes mellitus tipe II muncul secara perlahan lahan sampai
menjadi gangguan kulit yang jelas, dan pada tahap permulaannya seperti
gejala pada diabetes mellitus type I, yaitu cepat lemah, kehilangan tenaga, dan
merasa tidak fit, sering buang air kecil, terus menerus lapar dan haus,
kelelahan yang berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya, mudah sakit yang
berkepanjangan, biasanya terjadi pada mereka yang berusia diatas 40 tahun
tetapi prevalensinya kini semakin tinggi pada golongan anak anak dan
remaja.
Gejala gejala tersebut sering terabaikan karena dianggap sebagai
keletihan akibat kerja. Jika glukosa darah sudah tumpah ke saluran urine
sehingga bila urine tersebut tidak disiram akan dikerubungi oleh semut adalah
tanda adanya gula. Gejala lain yang biasa muncul adalah penglihatan kabur,
luka yang lam asembuh, kaki tersa keras, infeksi jamur pada saluran
reproduksi wanita, impotensi pada pria.

D.

PATOFISIOLOGI
Dalam keadaan normal jika terdapat insulin, asupan glukosa/produksi glukosa
yang melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen dalam sel-sel hati

dan sel-sel otot. Proses glikogenesis ini mencegah hiperglikemia (kadar glukosa
darah > 110 mg/dl). Pada pasien DM, kadar glukosa dalam darah meningkat/tidak
terkontrol, akibat rendahnya produk insulin/tubuh tidak dapat menggunakannya,
sebagai sel-sel akan starvasi. Bila kadar meningkat akan dibuang melalui ginjal
yang akan menimbulkan diuresi sehingga pasien banyak minum (polidipsi).
Glukosa terbuang melalui urin maka tubuh kehilangan banyak kalori sehingga
nafsu makan meningkat (poliphagi). Akibat sel-sel starvasi karena glukosa tidak
dapat melewati membran sel, maka pasien akan cepat lewat.
E.

KOMPLIKASI
Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan
komplikasi kronik. (Carpenito, 2001)
1. Komplikasi Akut, ada 3 komplikasi akut pada diabetes mellitus yang penting
dan
a. Diabetik Ketoasedosis (DKA)
Ketoasedosis diabatik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu
perjalananpenyakit diabetes mellitus. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh
tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata (Smeltzer,
2002 : 1258)
b. Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN)
Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh
hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran.
Salah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya
ketosis dan asidosis pada KHHN (Smetzer, 2002 : 1262)
c. Hypoglikemia

Hypoglikemia (Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi aklau
kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. Keadaan ini
dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang
berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu sedikit (Smeltzer, 2002 : 1256)
Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua pembuluh
darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Angiopati Diabetik dibagi
menjadi 2 yaitu : (Long 1996) :
1. Mikrovaskuler
a. Penyakit Ginjal
Salah satu akibat utama dari perubahan perubahan mikrovaskuler adalah
perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. Bila kadar glukosa darah meningkat,
maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang menyebabkan
kebocoran protein darah dalam urin (Smeltzer, 2002 : 1272)
b. Penyakit Mata (Katarak)
Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan.
Keluhan penglihan kabur tidak selalui disebabkan retinopati (Sjaifoellah, 1996 :
588). Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjanganyang
menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long, 1996 : !6)
c. Neuropati
Diabetes dapat mempengaruhi saraf - saraf perifer, sistem saraf otonom, Medsulla
spinalis, atau sistem saraf pusat. Akumulasi sorbital dan perubahan perubahan
metabolik lain dalam sintesa atau funsi myelin yang dikaitkan dengan
hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf ( Long, 1996 : 17)
2. Makrovaskuler

a. Penyakit Jantung Koroner


Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi
penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh sehingga
tekanan darah akan naik atau hipertensi. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh
darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosclerosis), dengan resiko penderita
penyakit jantung koroner atau stroke
b. Pembuluh darah kaki
Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf saraf sensorik, keadaan ini
berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang
menyebabkan gangren. Infeksi dimulai dari celah celah kulit yang mengalami
hipertropi, pada sel sel kuku yang tertanam pada bagian kaki, bagia kulit kaki
yang menebal, dan kalus, demikian juga pada daerah daerah yang tekena trauma
(Long, 1996 : 17)
c. Pembuluh darah otak
Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah
keotak menurun (Long, 1996 : 17)
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan yang dilakukan sebagai penunjang diagnostik medis antara lain:
1. Pemeriksaan gula darah
Orang dengan metabolisme yang normal mampu mempertahankan kadar gula
darah antara 70-110 mg/dl (engliglikemi) dalam kondisi asupan makanan yang
berbeda-beda. Test dilakukan sebelum dan sesudah makan serta pada waktu tidur.
2. Pemeriksaan dengan Hb

Dilakukan untuk pengontrolan DM jangka lama yang merupakan Hb minor


sebagai hasil dari glikolisis normal.
3. Pemeriksaan Urine
Pemeriksaan urine dikombinasikan dengan pemeriksaan glukosa darah untuk
memantau kadar glukosa darah pada periode waktu diantara pemeriksaan darah.

6 BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Proses Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny. K

Dengan diagnosa Diabetes Millitus Ruangan RA 1


A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Nama
:Ny. Y
Umur
: 41 Tahun
Alamat
: Medan pancing
Agama
: Islam
Pendidikan
: SLTA
Status perkawinan
: Menikah
Tanggal Masuk Rumah Sakit
: 14 Januari 2015
Tanggal pengkajian
: 22 Februari 2015
Dx Medis
: GGK + Anemia + Diabetes Millitus
Penanggung Jawab
: Tn. S
Hubungan
: Suami
Umur
: 45 tahun
Alamat
: Medan Pancing
2. Keluhan Utama
Pasien mengatakan lemas dan kelelahan walaupun tidak melakukan aktivitas
berat
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang ke RS Pandan Arang Boyolali pada tanggal 4 Januari 2012
dengan keluhan lemas, dan terlihat ulkus DM pada kaki sebelah kanan yang
belum sembuh walaupun sudah di obati
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah dari klien sedang mengidap hipertensi dan gagal ginjal kronik. Dan
Klien mengatakan bahwa kakeknya pernah mengalami penyakit yang
sama.
5. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien sebelumnya mengalami penyakit hipertensi dan demam biasa TD :
170/100 mmHg.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Status Kesehatan umum :
Ny R merasakan sesak nafas Kelemahan otot Mudah lelah, Kulit pucat
penurunan pada Hb, klein mengalami riwayat gagal ginjal kronik dan
hipertensi, TD : 170/100mmHg, T : 37C, RR : 80x/I HR : 32x/i klien
merasakan haus.

b. Tanda Vital
Tekanan Darah : 180/90 mmHg
ND

: 90 x / menit

RR

: 33 x / menit

Temp

: 37, C

Tinggi Badan

: 165 cm

Berat Badan

: 53 kg

Ciri-ciri Tubuh : kurus, Kulit sawo matang.


c. Pemeriksaan head too
1. Kepala dan rambut
a. Kepala : Kepala tidak kelainan struktur : rambut tebal
Bentuk
Kebersihan

: berbentuk oval,
: kurang

b. Rambut

: rambut hitam,

Kebersihan

: bersih tidak ada uban

Jenis dan struktur rambut : ikal


C Wajah :
Warna kulit
Struktur wajah

: sawo matang
: bulat, simetris

2. Mata
a. Bentuk
: bulat
b. Palpebra : tidak bengkak
c. Pupil
: mengecil saat bereaksi terhadap cahaya/ isokor
d. Konjungtiva
: tidak anemis
e. Kornea
: tampak kurang bening
f. Visus
: ketajaman tidak terkaji
g. Tekanan bola mata: tidak ada tekanan bola mata
3. Hidung

a. Tulang hidung dan posisi septum : tualang hidung normal, tampak


mancung, Tidak ada deviasi
b. Lubang hidung
: lengkap, simetris, bulu ada. Tidak ada Secret
c. Cuping hidung
: Lebar, simetris, tidak ada kelainan
4. Telinga
a. Bentuk telinga
: bentuk simetris.
b. Ukuran telinga
: lebar, caplang, simetris
c. Lubang telinga
: tidak ada masa, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada serumen.
d. Ketajaman pendegaran : kemampuan mendengar klien masih baik,
masih dapat mendengar sapaan dengan normal.
5. Mulut dan faring
a. Keadaan bibir
: kering dan terlihat pucat
b. Keadaan gusi dan gigi : gusi baik, tidak ada luka, dan tidak lengkap
lagi.
c. Keadaan lidah
: kering selalu haus
d. Orafaring
: baik, tidak ada nyeri tekan.
6. Leher
a. Posisi trachea : Baik, normal pada posisinya
b. Thyroid
: Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid.
c. Suara
: serak-serak basah
d. Kelenjar limfe : tidak adanya pembengkakan kelenjar limfe
e. Vena jugularis : saat dilakukan pengkajian vena teraba jelas
f. Denyut nadi korotis : 15 X / menit.
d. Pemeriksaan integumen
1. Kebersihan
: bersih
2. Kehangatan
: hangat
3. Tugor kulit
: sedang
4. Warna
: sawo matang,
5. Kelembapan
: kering
6. Kelainan pada kulit : kering + pucat
e. Pemeriksaan thorakx/dada
1. Inspeksi thoraks
a. Bentuk thoraks
: simetris, kiri dan kanan (Normal)
b. Pernafasan
: vesikuler
c. Frekuensi
: 18 x/mnt
d. Irama
: reguler dengan irama teratur
e. Tanda kesulitan bernafas : klien mengalami mempunyai keluhan
kesulitan bernapas
2. Pemeriksaan paru
a. Palpasi getaran suara
b. Perkusi
c. Auskultasi

: tidak adanya nyeri tekan


: adanya taktilpremitus
: reguler

3. . Pemeriksaan jantung
a. Inspeksi
b. Palpasi
c. Perkusi
4. Auskultasi
a. Bunyi jantung I

: tidak terlihat pembesaran jantung


: tidak ada teraba pembesaran jantung
: Redup
: Bunyi jantung I (SI):+

Bunyi jantung II (SII) :+


Bunyi jantung III (SIII): Tidak ada
Murmur :Tidak ada
b. Bunyi jantung II
: Terdengar suara II/ Dup
c. Bunyi jantung tambahan : Tidak ada suara jantung tambahan
d. Murmur
: Tidak terdengar suara murmur
e. Frekuensi
: 82 x/ menit
f. Pemeriksaan abdomen
1. Inspeksi
Bentuk abdomen
: normal / semakin kurus dan kering.
Benjolan dan massa
: tidak ada benjolan
Bayangan pembulu darah: tidak terlihat
2. Auskultasi
Peristaltic usus
: terdengar peristaltik
3. Palpasi
Tanda nyeri tekan
: adanya nyeri pada abdomen
Benjolan dan masa
:tidak ada benjolan dan masa
Tanda acites
: tidak adanya tanda acites
Hepar
: tidak ada keluhan pada hepar
Lien
: keadaan lien baik
Titik Mc. Burney
: tidak ada
4. Perkusi
Suara abdomen
: kanan dan kiri redup
Pmeriksaan acites

: tidak adanya pembengkakan pada abdomen

Oksigenasi

F.

1)

Sesak nafas

: tidak ada

2)

Batuk

: tidak ada

3)

Sputum

: tidak ada

4)

Nyeri dada

: tidak ada

5)

Hal yang dilakukan untuk meringankan nyeri dada : tidak ada

6)

Riwayat penyakit

: tidak ada

7)

Riwayat merokok

: Pasif

Eliminasi fekal/bowel
1)
Frekuensi

: 1 x/hari

2) Waktu
: Pagi hari
3) Warna
: kuning kecoklatan, tidak ada darah
4)
Konsistensi
: lembek
5)
Bau
: khas
6)
Ggn. Eliminasi bowel
: tidak ada
7)
Kebutuhan pemenuhan ADL Bowel : Mandiri
G. Eliminasi urin
1)
Frekuensi
: 3-4x/hari
2) Warna
: kuning jernih, tidak ada hematuria
3)
Jumlah
: tidak terkaji
4)
Ggn. Eliminasi bladder
: Tidak ada
5)
Riwayat dahulu
: Tidak ada
6)
Penggunaan kateter
: Tidak ada
7)
Kebutuhan pemenuhan ADL bladder : Mandiri
8)
Keluhan
: tidak ada
H. Sensori, persepsi dan kognitif
1)
Ggn. Penglihatan
: Tidak ada
2)
Ggn. Pendengaran
: Tidak ada
3)
Ggn. Penciuman
: Tidak ada
4)
Ggn. Sensasi taktil
: Tidak ada
5)
Ggn. Pengecapan
: Tidak ada
6)
Riwayat penyakit
: Tidak ada
.

Pemeriksaan Penunjang :
Parameter

Hasil

Satuan

Normal

Hb

9.7

g/dl

P:12-16 /

SGOT

21

U/l

Leukosit

12.500

mg/dl

Bilirubin

31.100

UL

89

U/mm

Keteranga
n

Indirek
LLD

L:13-18
L:<38 /
P:<31
0..0 0.5
4000

Hitung

11000

Sel :

Eosonofil

Lesofil

68

1-3

Batang

26

0-1

Segmen

2-6

Limfosit

29

50-70

Monokosit

g/dl

20-40

Hematokrit

450

10^3/UL

2-8

0 20

PP

3.49

10^6/UL

37-48

Trombosit

84

6.0-6.8

Eritrosit

28

Pg

150-400

MCV

33

g/dl

4.5-5.5

MCH

88

mg/dl

80-100

MCHC

15

mg/dl

27-32

Gula darah

1.12

mg/dl

32-36

s.

Ureum

10-50

Creatinin

L:0.7-1.4 /
P:0.5-1.2

8-1-2012
Gula darah

307

Mg/dl

70-110

puasa

224

Mg/dl

<140

Gula darah

270

Mg/dl

70-110

puasa

213

Mg/dl

<140

Gula darah
2 jam
PP
12-1-2012

Gula darah
2 jam
PP
Terapi
-

Injeksi ranitidin 2x1


Injeksi Cefotaxim 2x1
Injeksi Ketorolac 2x1
Infus Metronidazol 3x1
Captropil 12,5 3x1Tab
B. Plek 3 x 1
Injeksi novorapid 3 x 10 ml

Analisa Data

Data
DS =
-

Ureum Creatinin

Klien mengeluh nafasnya


sesak.

Etiologi

Masalah
Pola napas
tidak efektif.

Kadar O2 dalam darah

Klien mengeluh
badannya terasa lemah.
DO =

Suplai O2 dalam darah

Thorax foto; edema paru

Klien berkeringat.

Klien terlihat gelisah

Pernapasan pursed lips

O2 ke jaringan perifer

Sesak

(+)
-

Suara napas: ronkhibasah

KU lemah, ditandai;

TD

170/100mmHg

Pulse : 80x/menit

RR

: 28x/ menit

: 36,70C

KGD : 450mmdl
DS =

Klien mengatakan
badannya terasa
bengkak.
DO=

Tampak edema pada

Peningkatan volume

Kelebihan

cairan intravaskular

volume cairan

Ekspansi cairan interstisial

edema

tubuh klien terutama


kaki dengan skala III
dengan kedalaman 5-7
mm, kembali dalam
waktu 7 detik.
DS=

Proses penyakit

Kurang

Diagnosa Keperawatan.
1. Kurang pengetahuan berhubngan dengan keterbatasan kongnitif,
interprestasi terhadap informasi yang salah atau kurangnya keiingin tahuan
untuk mencari informasi.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hiprventilasi, penurunan
energy / kelelahan dan kelelahan otot pernafasan
3. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan mekanisme pengaturan
melemah dan asupan cairan berlebihan.

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Dengan Nanda (NOC,NIC)


Diagnosa Keperawatan
Kurang pengetahuan

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
NOC
Setelah dilakukan

berhubungan dengan

Intervensi
NIC :
1. Kaji tingkat

tindakan
keterbatasan kongnitif,

pengetahuan pasien
keperawatan

interprestasi terhadap

dan keluarga
Selma pasien 2. Jelaskan patofisiologi

informasi yang salah dan


menunjukkan

dari penyakit dan

pengetahuan

bagaimana hal ini

tentang prosedur

berhubungan dengan

kurang ingin tahuan


informasi.
penyakit dengan

anatomi.
3. Gambarakan proses

kriteria hasil :
penyakit, denga cara
1. Pasien dan keluarga
menyatakan

yang tepat
4. Identifikasi

pemahaman tentang

kemungkinan

penyakit, kondisi,

penyebab dengan cara

prognosis dan program


pengobatan
2. Pasien dan keluarga
mmapu melaksanakan
prosedur yang

yang tepat.
5. Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi dengan cara
yang tepat.
6. Ekspiorasi

dijelaskan secara benar


3. Pasien dan keluarga

kemungkinan sumber

mampu menjelaskan

atau dukungan dengan

kembali apa yang

cara yang tepat.

dijelaskan perawat /
Gangguan pertukaran gas

tim kesehatan lainnya.


NOC.
Setelah dilakukan

berhubungan dengan

NIC
1. Posisikan pasien untuk

tindakan
ketidakseimbangan

memaksimalkan
keperawatan

perfusi ventilasi.
selama
gangguan

ventilasi
2. Pasang mayo jika
diperlukan.
3. Lakukan fisioterpi

pertukaran gas
teratasi dengan
kriteria hasil :
1. Mendemontrasikan

dada jika perlu.


4. Keluarkan secret
dengan batuk atau
suction.
5. Auskultasikan suara

peningkatan ventilasi
nafas . catat danya
dan oksigenisasi yang
adekuat.
2. Memelihara

suara tambahan.
6. Monitor respirasi dan

kebersihan paru paru

status O2.
7. Bersihkan mulut

dan bebas dari tanda


hidung dan secret
tanda distress
trakea.
pernafasan
8. Perthankan jalan nafas
3. Mendeemontrasikan n
yang paten.
batuk efektif dan suara
nafas bersih tidak
adanya sianosis dan
dysepneu.
4. Tanda vital sign dalam
Pola nafas tidak efektif

batas normal
NOC
Setelah dilakukan

berhubungan dengan

NIC :
7. Posisikan pasien untuk

tindakan
hiprventilasi, penurunan

memaksimalkan
keperawatan

energy / kelelahan dan


Selama
kelelahan otot pernafasan

ventilasi
8. Pasang mayo bila perlu
9. Lakukan fisioterpi

pasien
menunjukkan
keefektifitaskan
pola nafas

dada jika perlu


10. Keluarkan secret
dengan batuk atau
suction
11. Auskultasikan suara

dibuktikan
nafas . catat danya
dengan kriteria
hasil :
4. Mendemonstrasikan

suara tambahan.
12. Monitor respirasi dan
status O2
13. Bersihkan mulut

batukefektif dan suara


hidung dan secret
nafas yang bersih tidak
trakea.

ada sianosis dan

14. Perthankan jalan nafas

dysepneu.
5. Menunjukkan jalan

yang paten.

nafas yng paten


6. Tanda tanda vital sign
dalam rentang normal.
Kelebihan volume cairan

NOC.
Setelah dilakukan

berhubungan dengan

NIC
1. Pertahankan

catatan

tindakan
mekanisme pengatur

intake dan output yang


keperawatan

melemah dan asupan

akurat.
2. Pasang urine kateter

selama
nutrisi berkebihan.
kelebihan
volume cairan

jika perlu.
3. Monitor hasil lab.
4. Monitor vital sign.
5. Kaji lokasi dan luas

teratasi dengan
kriteria hasil :
1. Terbebas dari edema,
efusi san anaskara
2. Bunyi nafas bersih

edema.
6. Monitor

masukan

makanan / cairan.
7. Monitor status nutrisi
8. Berikan diuretik sesuai

interuksi.
tidak ada dysepneu / 9. Monitor berat badan.
10. Monitor elektrolit.
ortopneu
3. Terbebas dari distensi
vena jugularis
4. Memilihara
tekanan
vena sentral, tekanan
kapiler

paru

otot

jantung dan vital sign.


5. Terbebas
dari
kelelahan

kecemasan

atau bingung.

BAB III
RINGKASAN
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. Diagnosis DM umumnya akan dipikirkan bila ada
keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Secara epidemiologik diabetes
seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya adalah 7
tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini
terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi (Soegondo, et al., 2005).
Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat
mengakibatkan terjadinya berbagai penyakit menahun, seperti penyakit
serebrovaskular, penyakit jantung koroner, penyakit pembuluh darah tungkai,
penyakit pada mata, ginjal, dan syaraf. Jika kadar glukosa darah dapat selalu
dikendalikan dengan baik, diharapkan semua penyakit menahun tersebut dapat
dicegah, atau setidaknya dihambat. Berbagai faktor genetik, lingkungan dan cara
hidup berperan dalam perjalanan penyakit diabetes (Soegondo, et al., 2005).

DAFTAR PUSTAKA
Engram, B. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta :
EGC.
Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol.
2. Jakarta : EGC.
Nanda

CATATAN PERKEMBANGAN
No

Hari /

Diag

Waktu

Implementasi

Evaluasi

Tanggal
22.02.15

nosa
1

09.30

1. Mengobservasi tanda-

S:

tanda infeksi dan

Klien mengerti dengan

peradangan, seperti

PENKES yang diberikan

kemerahan dan adanya

Klien kelihatan lemah dan

push dalam luka

pucat.

DS : klien mengatakan

O:

bersedia untuk di

TTV: TD: 220/100 mmHg

observasi lukanya

N: 68x/menit

DO : disekitar luka ada


kemerahan dan adanya
push dalam luka
2. Memberikan PENKES
tentang pentingnya cuci
tangan untuk mencegah
terjadinya infeksi
DS : klien mengatakan
mengerti tentang
PENKES yang
diberikan
DO : memberikan
PENKES tentang

RR : 22x/menit
T: 36,7 C
A: masalah teratasi
sebagian
Mual
Demam
Tekanan darah
meningkat
Kgd dicek ulang
P: intervensi
dilanjutkan
Kadar gula darah
diperhatikan
Ko;aborasi dengan

pentingnya cuci tangan

dokter dalam

untuk mencegah

pemberian obat.

infeksi
3. Mengkaji TTV
DS : Klien mengatakan
bersaedia untuk di
periksa
DO : TD : 220/100

mmHg
N : 68x/menit
RR : 22x/menit
T : 36,7 0 C
2

22.02.15

11.00

1. Mengkaji status nutrisi

S : Klien mengatakan masih

DS: klien mengatakan berat

sering merasakan area

badannya menurun sejak


kulit panas dan merah.

sakit
DO: BB 46 kg turun menjadi

O :Wajah kelihatan meringis,

35 kg

pucat dan gelisah

2. Menimbang berat badan


A

klien
DS: klien mengatakan
bersedia untuk di timbang

: masalah belum
teratasi

Kulit terasa panas dan

DO: BB badan klien 35 kg


3. Memberikan injeksi
insulin secara teratur

merah
Asupan nutrisi.
Pantau KGD

DS: klien mengatakan

bersedia untuk di suntik

: Intervensi
dilanjutkan.

insulin
DO: injeksi insulin 4 unit,
dosis 3 x 1
4.Memberikan
makanan yang

Pantau berat badan


Asupan nutrisi
Reaksi kulit
Kolaborasi dengan

mengandung

dokter dalam

rendah glukosa,

pemberian analgetik.

rendah natrium
DS:- klien
mengatakan nafsu
makannya
berkurang sejak
sakit

DO: -makanan rendah


glukosa,rendah
3

09.02.15

12.00

natrium
1. Memberikan posisi

S : Klien mengatakan masih

senyaman mungkin

sering merasakan area

2. Memantau asupan nutrisi.

kulit panas dan merah.

3. Memantau keadaan kulit

O :Wajah kelihatan meringis,

4. Memantau keadaan nyeri

pucat dan gelisah

pada kulit

5. Memantau KGD.

: masalah belum
teratasi

Kulit terasa panas dan


merah
Asupan nutrisi.
Pantau KGD
P

: Intervensi
dilanjutkan.

Pantau berat badan


Asupan nutrisi
Reaksi kulit
Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian analgetik.

10.02.15

10.00

1. Memberikan posisi

S : Klien mengatakan masih

senyaman mungkin.

sering merasakan area

2.Memantau asupan nutrisi

kulit panas dan merah.

yang dibutuhkan.
3. Memberikan pendidikan

O :Wajah kelihatan meringis,


pucat dan gelisah

makanan yang sehat.

Memberikan saturasi
oksigen

: masalah belum
teratasi

Kulit terasa panas dan


merah
Asupan nutrisi.
Pantau KGD
P

: Intervensi
dilanjutkan.
Pantau berat badan
Asupan nutrisi
Reaksi kulit
Kolaborasi dengan

dokter dalam
pemberian analgetik.
5

10.02.15

10.45

1. Memberikan posisi

S : Klien mengatakan masih

senyaman mungkin

sering merasakan area

2. Memantau asupan nutrisi.

kulit panas dan merah.

3. Memantau keadaan kulit

O :Wajah kelihatan meringis,

4. Memantau keadaan nyeri

pucat dan gelisah

pada kulit

5. Memantau KGD.

: masalah belum
teratasi

Kulit terasa panas dan


merah
Asupan nutrisi.
Pantau KGD
P

: Intervensi
dilanjutkan.

Pantau berat badan


Asupan nutrisi
Reaksi kulit
Kolaborasi dengan

dokter dalam
pemberian analgetik.
6

10.02.15

11.15

1. Memberikan posisi

S : Klien mengatakan masih

senyaman mungkin

sering merasakan area

2. Memantau asupan nutrisi.

kulit panas dan merah.

3. Memantau keadaan kulit

O :Wajah kelihatan meringis,

4. Memantau keadaan nyeri

pucat dan gelisah

pada kulit

5. Memantau KGD.

: masalah belum
teratasi

Kulit terasa panas dan


merah
Asupan nutrisi.
Pantau KGD
P

: Intervensi
dilanjutkan.

Pantau berat badan


Asupan nutrisi
Reaksi kulit
Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian analgetik.