Anda di halaman 1dari 38

Latar Belakang

Degenerasi makula adalah suatu keadaan dimana makula


mengalami kemunduran sehingga terjadi penurunan
ketajaman penglihatan dan kemungkinan akan
menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral.

Tanda utama dari degenerasi pada makula adalah


didapatkan adanya bintik-bintik abu-abu atau hitam pada
pusat lapangan pandang.

Latar Belakang
Penyebab utama penurunan penglihatan atau kebutaan di
AS yaitu umur yang lebih dari 50 tahun (AAO).
Data di Amerika Serikat menunjukkan, 15 persen
penduduk usia 75 tahun keatas mengalami degenerasi
makula.
Terdapat dua jenis tipe dasar yaitu Standar Macular
Degeneration dan Age Related Macular Degenaration
(ARMD).
Bentuk yang sering terjadi adalah ARMD.

Latar Belakang
Degenerasi makula terkait usia merupakan kondisi
degeneratif pada makula atau pusat retina.

Gejala klinis biasanya ditandai terjadinya kehilangan


fungsi penglihatan secara tiba-tiba ataupun secara
perlahan tanpa rasa nyeri.
Kadang gejala awalnya berupa gangguan penglihatan
pada salah satu mata, garis yang sesungguhnya lurus
terlihat bergelombang.

Batasan

Masalah

Makalah Meet The Expert ini membahas mengenai


patogenesis dan diagnosis dari degenerasi makula senilis.
Tujuan

Penulisan

Tujuan dibuatnya makalah Meet The Expert ini adalah


untuk menambah wawasan mengenai patogenesis dan
diagnosis dari degenerasi makula senilis.
Metode

Penulisan

Makalah Meet The Expert ini dibuat dengan metode


penulisan tinjauan kepustakaan yang merujuk pada
berbagai literatur.

ANATOMI RETINA
Retina

adalah lembaran jaringan saraf


berlapis yang tipis dan semitransparan yang
melapisi bagian dalam dua pertiga posterior
dinding bola mata.
Permukaan luar retina sensoris bertumpuk
dengan lapisan epitel berpigmen retina
sehingga juga berhubungan dengan
membran Bruch, koroid, dan sklera.
Permukaan dalam retina berhadapan dengan
vitreus.

Lapisan-lapisan

retina mulai dari sisi dalamnya adalah sebagai

berikut:
1. Membran limitans interna
2. Lapisan serat saraf
3. Lapisan sel ganglion
4. Lapisan pleksiform dalam
5. Lapisan inti dalam badan-badan sel bipolar, amakrin, dan horisontal
6. Lapisan pleksiform luar
7. Lapisan inti luar sel fotoreseptor
8. Membran limitans eksterna
9. Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan luar batang dan kerucut
10. Epitel pigmen retina

Lapisan Retina

Di

tengah-tengah retina posterior terdapat makula


berdiameter 5,5-6 mm, yang secara klinis dinyatakan
sebagai daerah yang dibatasi oleh cabang-cabang
pembuluh darah retina temporal. Makula lutea secara
anatomis didefinisikan sebagai daerah berdiameter 3 mm
yang mengandung pigmen luteal kuning-xantofil. Fovea
yang berdiameter 1,5 mm ini merupakan zona avaskuler
retina pada angiografi fluoresens. Di sekitar fovea
terdapat cincin dengan lebar 0,5 mm yang dinamakan
parafoveal area. Dan di sekitar zona tersebut, terdapat
cincin dengan lebar rata-rata 1,5 mm yang dikenal
dengan perifoveal zone.

Anatomi Makula

Fisiologi Retina
Fovea

berperan pada resolusi spasial


(ketajaman penglihatan) dan penglihatan
warna yang baik, keduanya memerlukan
pencahayaan ruang yang terang (penglihatan
fotopik) dan paling baik di foveola; sementara
retina sisanya terutama digunakan untuk
penglihatan gerak, kontras, dan penglihatan
malam (skotopik).

Penglihatan

skotopik seluruhnya diperantarai oleh


fotoreseptor batang. Sewaktu retina telah
beradaptasi penuh terhadap cahaya, sensitivitas
spektrum retina bergeser dari puncak dominasi
rhodopsin 500 nm ke sekitar 560 nm, dan muncul
sensasi warna.
Suatu objek akan berwarna apabila objek tersebut
secara selektif memantulkan atau menyalurkan
sinar dengan panjang gelombang tertentu dalam
kisaran spektrum cahaya tampak (400-700 nm).

Penglihatan

siang hari (fotopik) terutama diperantarai


oleh fotoreseptor kerucut, senjakala (mesopik) oleh
kombinasi sel kerucut dan batang, dan malam hari
(skotopik) oleh fotoreseptor batang. 1

Fotoreseptor

dipelihara oleh epitel pigmen retina, yang


berperan penting dalam proses penglihatan. Epitel ini
bertanggung jawab untuk fagositosis segmen luar
fotoreseptor, transportasi vitamin, mengurangi
hamburan sinar, serta membentuk sawar selektif
antara koroid dan retina.

Definisi
Degenerasi makula senilis adalah
penyakit degeneratif yang menyerang
retina yang bersifat progresif,
menyebabkan penurunan ketajaman
penglihatan, gangguan dalam melihat halhal detail, dan kemungkinan akan
menyebabkan hilangnya fungsi
penglihatan sentral.

KLASIFIKASI
.

Degenerasi Makula Terkait-Usia Dini


Ditandai oleh drusen minimal, perubahan
pigmentasi, atau atrofi epitel pigmen retina.

Gambaran drusen
Derajat kerusakan penglihatan bervariasi dan
mungkin minimal.

1.

2. Degenerasi Makula Terkait-Usia Lanjut


a. Atrofi geografik (degenerasi makula terkaitusia kering)
. Tampak sebagai daerah-daerah atrofi epitel
pigmen retina dan sel-sel fotoreseptor yang
berbatas tegas, lebih besar dari dua
diameter diskus, yang memungkinkan
pembuluh-pembuluh koroid di bawahnya
terlihat secara langsung.

Area Atrofi Geografik

b. Penyakit neovaskular (degenerasi makula terkait-usia


basah)
Ditandai oleh adanya neovaskularisasi koroid atau pelepasan
epitel pigmen retina serosa. Pembuluh-pembuluh baru ini
tumbuh dalam konfigurasi roda pedati datar atau sea-fan.
Neovaskularisasi koroid dapat digolongkan secara angiografis
ke dalam klasik atau occult.
Klasik hiperfluoresensi dini, yang biasanya berbatas tegas
dan mungkin mempunyai pola berenda
Occult hiperfluoresens lambat dan berbatas kabur
Terjadi kehilangan penglihatan sentral yang permanen

ETIOLOGI
Genetik

Mutasi pada kromosom lq31, HTRA1 pada


10q26, dan gen LOC387715 pada 10q akan
meningkatkan resiko terjadinya degenerasi
makula senilis secara signifikan.
Usia
Pasien dengan usia lebih dari 80 tahun
beresiko tinggi terjadinya degenerasi makula
senilis enam kali lipat dibandingkan dengan
pasien berusia 60-64 tahun.

Hipertensi

Penderita dengan riwayat hipertensi


mempunyai risiko 6 kali lebih banyak untuk
menderita degenerasi makula senilis
dibandingkan yang tidak menderita
hipertensi.
Paparan sinar matahari
Paparan sinar matahari secara kumulatif
selama 20 tahun dapat menyebabkan
degenerasi makula senilis karena

Patofisiologi & Patogenesis


Perubahan yang terjadi pada makula dikarenakan faktor usia sering
kali tidak terdeteksi secara klinis, perubahan bisa terjadi pada bagian
luar retina, epitel pigmen retina (EPR), membran brunch, dan
koriokapilaris.
Perubahan tersebut :
1. Penurunan densitas serta distribusi dari fotoreseptor
2. Perubahan struktural pada epitel pigmen
3. Akumulasi deposit basal laminar, yang terdiri dari material granul
yang kaya lemak dan jaringan kolagen yang terletak diantara basal
lamina (membran plasma) dari sel EPR dan bagian dalam dari
membran basal sel EPR
4. Involusi yang progresif pada koriokapilaris

Perubahan-perubahan di atas normal terjadi


karena pengaruh usia, perubahan-perubahan
abnormal lainnya yang menyebabkan
terjadinya degenerasi makula senilis
diklasifikasikan sebagai non-neovaskular dan
neovaskular.
Berdasarkan hasil penelitian, kebanyakan
pasien dengan degenerasi makula senilis
adalah karena kelainan non-neovaskular,
seperti drusen, hiperpigmentasi fokal, atau
degenerasi EPR.

Perubahan-perubahan di epitel pigmen retina


dan membran Bruch yang dapat dilihat secara
oftalmoskopi adalah drusen yang sangat khas.
Drusen adalah endapan putih kuning, bulat,
diskret, dengan ukuran bervariasi di belakang
epitel pigmen dan tersebar di seluruh makula
dan kutub posterior.
Drusen mencerminkan pelepasan fokal epitel

Walaupun pasien dengan degenerasi makula


biasanya hanya memperlihatkan kelainan non
eksudatif, sebagian besar pasien yang
menderita gangguan penglihatan berat akibat
penyakit ini mengalami bentuk eksudatif akibat
terbentuknya neovaskularisasi subretina dan
makulopati eksudatif terkait.

Manifestasi Klinis
Distorsi

penglihatan, objek-objek terlihat salah ukuran


atau bentuk
Garis-garis lurus mengalami distorsi (membengkok)
terutama dibagian pusat penglihatan.
Kehilangan kemampuan membedakan warna dengan
jelas
Ada daerah kosong atau gelap dipusat penglihatan
Kesulitan membaca, kata-kata terlihat kabur atau
membayang
Secara tiba-tiba ataupun secara perlahan akan terjadi
kehilangan penglihatan tanpa rasa nyeri

DIAGNOSIS
Tanda

awal dari suatu kerusakan makula yaitu tidak


terlihatnya refleks fovea atau mottled di bawah epitel
retina berpigmen.
The International Age-Related Maculopathy Study Group
membuat klasifikasi dan sistem gradasi gambaran
degenerasi makula senilis, yaitu:
1. Age Related Maculopathy (ARM) jika hanya terdapat
drusen dan iregularitas epitel pigmen retina.
2. Age Related Macular Degeneration (AMD) jika sudah
terjadi atrofi geografik, choroidal neovascularisation
(CNV), dan pigmen epithelium detachment (PED).

Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis

didasarkan pada tampilan retina.


Snellen chart
Tes Amsler grid
Oftalmoskopi
Pemeriksaan Tambahan
1. Prosedur lampu celah stereoskopik
2. Angiografi fluorescein
3. Pemeriksaan dengan menggunakan OCT
4. Confocal scanning laser ophtalmoscopy

Tatalaksana
Tidak

ada terapi untuk degenerasi makula


senilis.
Terapi laser argon
Terapi fotodinamik (photodynamic therapy,
PDT)

Prognosis
Bentuk

degenerasi makula yang progresif


dapat menyebakan kebutaan total sehingga
aktivitas dapat menurun.
Prognosis dari degenerasi makula dengan
tipe eksudat lebih buruk dibanding dengan
degenerasi makula tipe non eksudat.
Prognosis dapat didasarkan pada terapi,
tetapi belum ada terapi yang bernilai efektif
sehingga kemungkinan untuk sembuh total
sangat kecil.

Kesimpulan
Makula

adalah pusat penglihatan yang terletak di tengah


retina, dengan fovea sebagai intinya, terdiri dari sel cone
dan sel rod, sebagai foto reseptor.
Degenerasi makula senilis adalah penyakit degeneratif
yang menyerang retina yang bersifat progresif,
menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan,
gangguan dalam melihat hal-hal detail, dan kemungkinan
akan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral.
Degenerasi makula ini dapat terbagi atas Age related
maculopathy (ARM) jika hanya terdapat drusen dan
iregularitas epitel pigmen retina dan age related macular
degeneration (AMD) jika sudah terjadi atrofi geografik.

Age

related macular degeneration (AMD) dapat terbagi atas


degenerasi kering dan basah.
Degenerasi makula kering ditandai oleh adanya atrofi dan
degenerasi retina bagian luar, epitel pigmen retina, membran
Bruch, dan koriokapilaris dengan derajat yang bervariasi yang
ditandai dengan drusen yang terlihat pada oftalmoskop.
Degenerasi makula basah terjadi akibat timbulnya
neovaskularisasi ke arah dalah yang meluas hingga ruang
subretina pada daerah makula yang akan menyebabkan
terganggunya masuk cahaya ke lapisan fotoreseptor dan
mengakibatkan gangguan penglihatan sentral yang bersifat
irreversibel.

Pada

penderita degenerasi makula ini bisa


terdapat berbagai kelainan yang diantaranya
distorsi penglihatan, yang muncul tanpa ada
rasa sakit dan penyaklit lain yang menyertai.

Dalam

penegakan diagnosis pada penyakit degeneratif


makula ini dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, seperti
snellen chart test, amsler grid test, ophtalmoskopy direct,
angiogram fluorescein atau dengan confocal scanning
laser ophtalmoscopy.
Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk
menyembuhkan penyakit degenerasi makula senilis ini,
tetapi penglihatan pada pasien dapat dibantu dengan
dengan alat alat seperti teleskop dan alat pembesar,
pasien dapat diyakinkan meskipun penglihatan sentral
dapat hilang namun pada penglihatan perifer tidak akan
hilang.

Prognosis

dari degenerasi makula dengan


tipe eksudat lebih buruk di banding dengan
degenerasi makula tipe non eksudat.
Prognosis dapat didasarkan pada terapi,
tetapi belum ada terapi yang bernilai efektif
sehingga belum terdapat kemungkinan untuk
sembuh total.

Anda mungkin juga menyukai