Anda di halaman 1dari 13

Hernia pada Anak

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata hernia pada hakekatnya berarti penonjolan suatu kantong peritoneum, suatu organ atau
lemak praperitoneum melalui cacat kongenital atau akuisita dalam parietas
muskuloaponeurotik dinding abdomen, yang normalnya tidak dapat dilewati. Hernia
merupakan keadaan yang lazim terlihat oleh semua dokter, sehingga pengetahuan umum
tentang manifestasi klinis, gambaran fisik dan penatalaksanaan hernia penting.1,7
Hernia yang terjadi pada anak-anak, lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus
vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada
orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga abdomen dan karena faktor
usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding abdomen.2
Pada abad ke 18 dan 19, di Perancis, Inggris, Italia, Jerman terdapat kemajuan Ilmu Bedah
termasuk operasi hernia. Pada akhir abad ke 19 operasi hernia mengalami kemajuan dengan
ditemukannya anestesi dan pengetahuan asepsis.3
Pada tahun 1957 Gross melaporkan bahwa tidak dilakukan penundaan operasi hernia pada
bayi sampai umur 1 tahun kecuali kalau ada kontraindikasi.
Sekarang ini para pakar bedah anak berpendapat bahwa waktu operasi hernia pada bayi dan
anak ialah segera stelah diagnosa ditegakkan tanpa memandang umur. Teknik operasi hernia
inguinalis pada bayi dan anak dengan melakukan operasi plastik minimal, berupa penjahitan
tepi kaudal muskulus oblikus abdominis internus bersama tepi kaudal aponeurosis muskulus
oblikus abdominis eksternus dengan ligamentum inguinale, memberikan komplikasi pasca
bedah berupa atrofia testis. Dengan demikian Nixon, H.H. dan Wooley 1979 tidak lagi
melakukan plastik meskipun minimal. Pembebasan kantong dan pengikatan kantong hernia
seproksimal mungkin tanpa melakukan plastik, baik dengan membuka atau tanpa membuka
kanalis inguinalis adalah teknik operasi yang telah lama umum diterima.3
Sebagian besar hernia timbul di regio inguinalis dengan sekitar 50 persen dari ini merupakan
hernia inguinalis indirek dan 25 persen sebagai hernia inguinalis direk. Insiden hernia
meningkat dengan bertambahnya umur. Ini dimungkinkan karena meningkatnya penyakit
yang meninggikan tekanan intraabdominal dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya.7
Hernia pada anak merupakan kasus bedah yang sering ditemui di rumah sakit tak tekecuali di
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Dengan demikian perlu kiranya dilakukan
penelitian mengenai distribusi dan frekuensi hernia pada anak dalam rangka penegakan
diagnosis secara komprehensif.
B. Maksud dan Tujuan
- Untuk memenuhi sebagian besar syarat untuk mengikuti ujian akhir program pendidikan
profesi di Bagian Ilmu Penyakit Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.
- Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai hernia.
- Untuk memudahkan diagnosis dan terapi dari hernia.
- Untuk mengetahui seberapa besar tingkat terjadinya hernia pada anak di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Hernia Umum
A. Definisi
Hernia adalah penonjolan jaringan atau organ suatu rongga melalui defek atau bagian lemah
(lokus minoris) yang normalnya tidak dapat dilewati, keluar ke bawah kulit atau masuk
rongga lainnya yang terjadi secara kongenital atau akuisita.4,5,6,8
B. Bagian-bagian1,7
1. kulit dan jaringan subkutis
2. lapisan muskulo-aponeurisis
3. peritoneum parietal dan jaringan preperitoneum
4. rongga perut
5. cincin atau pintu hernia (tempat keluarnya jaringan/ organ tubuh, berupa LMR
yang dilalui kantong hernia)
6. .kantong hernia

Gambar 1: Bagian-bagian Hernia10

C. Klasifikasi
a. Menurut letaknnya
1. Inguinal
Indirek atau disebut juga hernia inguinalis laterlais, karena keluar dari rongga peritoneum
melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh epigastrika inferior,
kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar
dari anulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke
skrotum, ini disebut hernia skrotalis. Kantong hernia berada di dalam m.kremaster, terletak
anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain dalam tali sperma. Pada pemeriksaan
hernia lateralis ,akan tampak tonjolan berbentuk lonjong.1
Hernia ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak
kecil. Umumnya pasien mengatakan turun berok atau kelingsir atau mengatakan adanya
benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada
waktu tidur dan bila menangis, mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien

berdiri dapat timbul kembali.9


Kanalis inguinalis dibatasi dikraniolateral oleh annulus inguinalis internus yang merupakan
bagian terbuka dari fasia tranversalis dan aponeurisis m.transversus abdominis, dimedial
bawah, diatas tuberkulum pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus,
bagian terbuka dari aponurisis m.oblikus eksternus, dan didasarnya terdapat ligamentum
inguinale.1
Gambar 2: Hernia Inguinalis10
Direk / medialis: Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak
melalui kanal seperti pada hernia inguinalis Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis
direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini
disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus
inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan, tetap akan timbul benjolan.9
Hernia inguinalis medialis menonjol langsung ke depan melalui segitiga Hesselbach, daerah
yang dibatasi ligamentum inguinale di bagian inferior, pembuluh epigastrika inferior di
bagian lateral dan tepi otot rektus di bagian medial. Dasar segitiga Hesselbach dibentuk oleh
fasia transversal yang diperkuat oleh serat aponeurosis m.transversus abdominis yang
kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial untuk menjadi lemah. Hernia
medialis, karena tidak keluar melalui kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum, umumnya tidak
disertai strangulasi karena cincin hernia longgar.1
Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum,
sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien
terlihat adanya massa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila
pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali
menjadi ireponibilis.9
Gambar 3: hernia inguinalis direk & indirek12
2. Femoral :
Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria.
Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap
menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam
kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini.9
3. Umbilikal :
Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan
tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada pasien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia
ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena
masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem atau
kegemukan.9
Gambar 4: hernia femoralis13
4. Diafragmatika
Herniasi struktur abdomen atau retroperitoneum ke dalam rongga dada.9
Gambar 4: Jenis-jenis Hernia11

b. Berdasarkan terjadinya
1. Hernia bawaan atau kongenital
Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek): Kanalis inguinalis adalah kanal
yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal
tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga
terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi
yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut
tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal, kanalis ini tidak menutup.
Karena testis kiri turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka.
Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal,
kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena
tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua
kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan lokus minoris resistensie, maka
pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat, kanal tersebut dapat
terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.9
2. Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat).9
c. Menurut sifatnya
1. Hernia reponibel/reducible,
yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk
lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.9
2. Hernia ireponibel, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga.
Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritonium kantong hernia. Hernia
ini juga disebut hernia akreta (accretus = perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa
nyeri ataupun tanda sumbatan usus.9
3. Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap, carcer = penjara), yaitu
bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap,
tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase
atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia
ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai
hernia strangulata. Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di
dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit. Hernia jenis ini
merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera.9
2. Hernia Pada Anak
1. Hernia inguinalis atau hernia pada lipatan paha
umumnya diderita bayi/anak laki-laki (dominan pada bayi prematur). Sebab saluran tempat
turunnya buah pelir dari rongga perut ke kantung buah pelir tetap terbuka saat lahir. Ukuran
lubang cukup besar, sehingga sebagian usus bayi bisa turun mengikuti buah pelir
membentuk benjolan (kurang-lebih sebesar ibu jari orang dewasa). Kamaluan penderita
hernia tipe ini membesar.7
2. Hernia pada pusar (umbilikus)
sering diderita oleh bayi yang baru lahir. Sebab saat bayi dalam kandungan, dinding perut di
bawah pusarnya terbuka dan akan menutup ketika lahir. Jika dinding perut tidak menutup
sempurna saat lahir, kala bayi itu menangis terlalu lama maka daerah sekitar pusar tampak
membesar dan menonjol.7
3. Hernia diafragmatik,
sebagian usus (dan dapat disertai isi rongga perut lain) masuk ke dalam rongga dada.
Akibatnya, bayi baru lahir sering langsung sesak dan biru. Bila ini yang terjadi, ia perlu
penanganan segera oleh dokter. Benjolan tersebut sering terabaikan bagi sebagian orangtua,

karena benjolan hernia sering hilang timbul.7

2.1. Hernia Inguinalis


A. Definisi
Hernia inguinalis adalah suatu keadaan dimana sebagian usus masuk melalui sebuah lubang
pada dinding perut kedalam kanalis inguinalis. Kanalis inguinalis adalah saluran yang
berbentuk tabung, yang merupakan jalan tempat turunnya testis dari perut kedalam skrotum
sesaat sebelum bayi dilahirkan.7
B. Epidemiologi
Hernia inguinalis merupakan keadaan yang lazim dan membutuhkan pembedahan pada
kelompok umur anak. Insiden hernia inguinalis pada anak belum ditegakkan tetapi antara 1020: 1.000 kelahiran hidup. Rasio antara laki-laki dan wanita adalah 4:1. sekitar 50% akan
muncul sebelum umur 1 tahun. Kebanyakan akan muncul pada umur 6 bulan. Hernia
inguinalis yang paling lazim pada anak adalah hernia inguinalis tidak langsung (indirek).
Hernia langsung (direk) jarang dan terjadi pada sekitar 1% dari seluruh hernia inguinalis.
Enam puluh persen dari hernia inguinalis ada pada sisi kanan, 30% pada sisi kiri, dan 10%
bilateral.2
C. Etiologi
1. Kongenital
Hernia inguinalis atau hernia pada lipatan paha umumnya diderita bayi/anak laki-laki
(dominan pada bayi prematur). Sebab saluran tempat turunnya buah pelir dari rongga perut ke
kantung buah pelir tetap terbuka saat lahir (prosesus vaginalis yang paten). Ukuran lubang
(Anulus inguinalis) cukup besar, sehingga sebagian usus bayi bisa turun mengikuti buah
pelir membentuk benjolan (kurang-lebih sebesar ibu jari orang dewasa). Kamaluan penderita
hernia tipe ini membesar.3
2. Didapat
D. Faktor Predisposisi 3
1. Prosesus vaginalis yang tetap terbuka
2. Prematuritas
3. Peninggian tekanan intra abdomen:
-menangis
-batuk kronik
-mengejan
4. Penyakit tertentu
Hidrocephalus dengan shunt ventrikulo-peritoneal, disebut-sebut sebagai faktor yang
berperan dalam hal timbulnya hernia inguinalis pada bayi dan anak.
E. Embriologi dan Patogenesis
Mayoritas hernia inguinalis pada bayi dan anak adalah tidak langsung akibat dari menetapnya
prosesus vaginalis yang paten. Pada janin, gonad mulai berkembang selama 5 minggu
kehamilan, ketika sel benih primodial berpindah dari kantung telur (yolk sac) ke rigi gonad.
Gubernakulum ligamentosa terbentuk dan turun pada salah satu sisi abdomen pada kutub
inferior gonad dan melekat pada permukaan dalam lipatan labium-skrotum. Selama
perjalanan menurunnya, gubernakulum melalui dinding anterior perut pada tempat cincin
inguinalis interna dan kanalis inguinalis berikutnya. Prosesus vaginalis merupakan
penonjolan divertikulum peritoneum yang terbentuk tepat sebelah ventral gubernakulum dan
berherniasi melalui dinding perut dengan gubernakulum ke dalam kanalis inguinalis.
peritoneum, turun ke daerah cincin dalam pada sekitar umur kehamilan 28 minggu.
Penurunan testis melalui kanalis inguinalis diatur oleh hormon androgen dan faktor mekanis (

peningkatan tekanan dalam perut). Testis turun ke dalam skrotum pada umur kehamilan 29
minggu. Setiap testis turun melalui kanalis inguinalis eksterna ke prosesus vaginalis.2
Ovarium juga turun ke dalam pelvis dari rigi urogenital tetapi tidak keluar dari rongga perut.
Bagian kranial gubernakulum berdeferensiasi menjadi ligamentum ovarii, dan bagian inferior
gubernakulum menjadi ligamentum teres uteri, yang masuk melalui cincin dalam, ke dalam
labia majora. Prosesus vaginalis pada anak wanita meluas ke dalam labia majora melalui
kanalis inguinalis, yang juga dikenal sebagai kanalis Nuck.2
Pada bulan ke 8, testis biasanya sudah berada dalam skrotum dan prosesus vaginalis peritonei
masih terbuka. Pada bulan ke 9 prosesus vaginalis peritonei akan mengalami regresi sehingga
menutup sempurna setinggi batas atas kanalis inguinalis dan hanya tinggal sebagai jaringan
fibrotik. Kegagalan sebagian atau seluruh obliterasi atau regresi prosesus vaginalis peritonei
mengakibatkan sakus vaginalis tetap terbuka dan merupakan faktor predisposisi terjadinya
hernia inguinalis lateralis atau predisposisi terjadinya hidrokel pada bayi dan anak.2
Hernia inguinalis yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak adalah hernia ingunalis
lateralis indirek. Hernia ini mempunyai kantong berupa penonjolan sakus vaginalis yang
masih terbuka. Hernia ini keluar dari anulus inguinalis internus kemudian ke bawah pada
kanalis inguinalis dan menonjol pada anulus inguinalis eksternus di daerah lipat paha. Dari
sini dapat menonjol ke bawah sampai ke skrotum.3
F. Anatomi
Topografi kanalis inguinalis pada bayi dan anak adalah sama dengan topografi kanalis
inguinalis pada orang dewasa. Pada dasarnya kanalis inguinalis adalah bagian dari dinding
depan abdomen. Kanalis inguinalis pada anak terutama pada bayi relatif lebih pendek dan
terletak antara muskulus oblikus abdominis intrernus dan muskulus oblikus abdominis
eksternus. Kanalis inguinalis ini dilewati funikulus spermatikus pada laki-laki dan
ligamentum teres uteri pada anak perempuan.3
Anulus inguinalis internus adalah pintu masuk hernia inguinalis ke dalam kanalis inguinalis
dan terletak pada fasia transversa. Anulus inguinalis eksternus terletak subkutan dan
terbentuk pada celah antara serabut muskulus oblikus abdominis eksternus. Anulus inguinalis
eksternus terletak lebih medial dan kaudal daripada anulus inguinalis internus. Dengan
demukian jika terjadi peninggian tekanan intra abdominal maka dinding belakang kanalis
inguinalis akan terdorong ke depan berdekatan atau melekat pada dinding depan kanalis
inguinalis sehingga menutup dan memperkuat kanalis inguinalis.3
Gambar 5: Anatomi Hernia1
G. Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
Hernia inguinalis biasanya tampak sebagai benjolan pada daerah inguinal dan meluas ke
depan atau ke dalam skrotum. Kadang-kadang bayi akan datang dengan bengkak skrotum
tanpa benjolan sebelumnya pada daerah inguinal. Orangtuanya biasanya sebagai orang
pertama yang melihat benjolan ini, yang mungkin muncul hanya saat menangis atau
mengejan. Selama tidur atau apabila pada keadaan istirahat atau santai, hernia ini mengurang
secara spontan tanpa adanya benjolan atau pembesaran skrotum. Riwayat bengkak pada
pangkal paha, labia atau skrotum berulang-ulang yang hilang secara spontan adalah klasik
untuk hernia inguinalis indirek. Kadang-kadang suatu massa inguinalis akan muncul secara
mendadak pada bayi dan akan disertai dengan rewel. Hal ini akan penting untuk membedakan
antara hidrokel tali dan hernia inguinalis inkarserata, tetapi hidrokel tali tidak akan disertai
dengan gejala obstruksi intestinum seperti perut kembung atau muntah.2
Gejala khususnya muncul berdasarkan berat-ringan hernia:

1. Reponible: Benjolan di daerah lipat paha tampak keluar masuk (kadang-kadang terlihat
menonjol, kadang-kadang tidak). Benjolan muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau
mengedan, dan menghilang saat berbaring. Benjolan ini membedakan hernia dari tumor yang
umumnya menetap. Ini adalah tanda yang paling sederhana dan ringan yang bisa dilihat dari
hernia eksternal. Bisa dilihat secara kasat mata dan diraba, bagian lipat paha akan terasa besar
sebelah. Sedangkan pada bayi wanita, seringkali ditemukan bahwa labianya besar sebelah.1
2.Irreponible: benjolan yang ada sudah menetap, baik di lipat paha maupun di daerah pusat.
Pada hernia inguinalis misalnya, air atau usus atau omentum (penggantungan usus) masuk ke
dalam rongga yang terbuka kemudian terjepit dan tidak bisa keluar lagi. Di fase ini, meskipun
benjolan sudah lebih menetap tapi belum ada tanda-tanda perubahan klinis pada anak.7
3.Incarcerata, benjolan sudah semakin menetap karena sudah terjadi sumbatan pada saluran
makanan sudah terjadi di bagian tersebut. Tak hanya benjolan, keadaan klinis bayi pun mulai
berubah dengan munculnya mual, muntah, perut kembung, tidak bisa buang air besar, dan
tidak mau makan.7
4.Strangulata, ini adalah tingkatan hernia yang paling parah karena pembuluh darah sudah
terjepit. Selain benjolan dan gejala klinis pada tingkatan incarcerata, gejala lain juga muncul,
seperti demam dan dehidrasi. Bila terus didiamkan lama-lama pembuluh darah di daerah
tersebut akan mati dan akan terjadi penimbunan racun yang kemudian akan menyebar ke
pembuluh darah. Sebagai akibatnya, akan terjadi sepsis yaitu beredarnya kuman dan toxin di
dalam darah yang dapat mengancam nyawa si bayi. Sangat mungkin bayi tidak akan bisa
tenang karena merasakan nyeri yang luar biasa.7
H. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik akan menunjukkan benjolan inguinal pada setinggi cincin interna atau
eksterna atau pembengkakan skrotum yang ukurannya dapat berkurang atau berfluktuasi.
Daerah inguinalis pertama-tama diperiksa dengan inspeksi , sering benjolan muncul dalam
lipat paha dan terlihat cukup jelas. Kemudian jari telunjuk diletakkan disisi lateral kulit
skrotum dan dimasukkan sepanjang funikulus spermatikus sampai ujung jari tengah mencapai
annulus inguinalis internus. Suatu kantong yang diperjelas dengan batuk biasanya dapat
diraba pada titik ini. Jika jari tangan tak dapat melewati annulus inguinalis internus karena
adanya massa, maka umumnya diindikasikan adanya hernia. Hernia juga diindikasikan, bila
seseorang meraba jaringan yang bergerak turun kedalam kanalis inguinalis sepanjang jari
tangan pemeriksa selama batuk.1
Hernia inguinalis dapat diketahui dengan meletakkan bayi tidur telentang dengan kaki lurus
dan tangan di atas kepala. Posisi ini biasanya menyebabkan bayi menangis, menaikkan
tekanan di dalam perut, yang kemudian akan menampakkan benjolan di atas tuberkulum
pubis (cincin eksterna) atau pembengkakan di dalam skrotum. Anak yang lebih tua dapat
diperiksa berdiri, yang juga akan meningkatkan tekanan di dalam perut dan menampakkan
hernianya. Testis yang retraksi sering terjadi pada bayi dan anak-anak dan bisa menyerupai
hernia inguinalis dengan benjolan di atas cincin eksterna. Karenanya adalah sangat penting
meraba testis sebelum palpasi benjolan inguinal. Hal ini akan memungkinkan deferensiasi
antara keduanya dan menghindari tindakan bedah yang tidak perlu.2
Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai
gesekan dari dua lapis kantong yang memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera.
Tanda ini disebut tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditentukan.
Kalau kantong hernia berisi organ, tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus,
omentum (seperti karet), atau ovarium. Dengan jari telunjuk atau jari kelingking, pada anak,
dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus
sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia
dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus eksternus, pasien diminta
mengedan. Kalau ujung jari menyentuh hernia, berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau

bagian sisi jari yang menyentuhnya, berarti hernia inguinalis medialis. Isi hernia pada bayi
perempuan, yang teraba seperti sebuah massa padat biasanya terdiri atas ovarium.1
I. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Benjolan akan membesar
jika penderita batuk, membungkuk, menangis atau mengedan. Gejala dan tanda klinik hernia
banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah
benjolan dilipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan
menghilang setelah berbaring . Nyeri yang disertai mual atau muntah timbul ketika terjadi
inkarserasi karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren. Dengan jari telunjuk
atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan menonjolkan kulit
skrotum melalui anulus eksternus sehingga dapat ditentukan apakah isi hernia dapat
direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam
anulus eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari, berarti
hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh menandakan hernia
inguinalis medialis.1,3
J. Dianosis Banding1
a. Hidrocele pada funikulus spermatikus maupun testis.
Yang membedakan: pasien diminta mengejan bila benjolan adalah hernia maka akan
membesar, sedang bila hidrocele benjolan tetap tidak berubah. Bila benjolan terdapat pada
skrotum , maka dilakukan pada satu sisi , sedangkan disisi yang berlawanan diperiksa melalui
diapanascopy. Bila tampak bening berarti hidrocele (diapanascopy +). Pada hernia: canalis
inguinalis teraba usus, Perkusi pada hernia akan terdengar timpani karena berisi usus ,
Fluktuasi positif pada hernia.
b. Kriptochismus
Testis tidak turun sampai ke skrotum tetapi kemungkinanya hanya sampai kanalis inguinalis
c. Undesensus testis
d. Limfadenopati/ limfadenitis inguinal
e. Varises vena saphena magna didaerah lipat paha
f. Lipoma yang menyelubungi funikulus spermatikus (sering disangka hernia inguinalis
medial.
K. Penatalaksanaan
Hernia inguinalis pada bayi dan anak segera dioperasi sesudah diagnosa ditegakkan bila
terjadi pada anak dengan keadaan baik. Pada bayi kecil dan prematur dengan hernia
inguinalis maka keputusan dilakukannya pembedahan adalah dengan mempertimbangkan
risiko anestesi. Dengan perkembangan anestesi, maka risiko pembiusan menjadi sangat kecil.
Pembedahan hernia inguinalis lateralis pada anak dapat dikerjakan tanpa mondok di rumah
sakit. Pemeriksaan fisik, darah rutin, dan urinalisa cukup dikerjakan pada anak sehat. Kalau
anak mengidap penyakit lain maka perlu dilakukan evaluasi lanjut. Dengan anestesi umum
akan memberikan hasil yang memuaskan, tetapi anestesi lokal dapat pula dikerjakan pada
bayi kecil prematur.3
Teknik operasi terhadap hernia inguinalis pada bayi dan anak yang faktor penyebabnya
adalah prosesus vaginalis yang tidak menutup hanya dilakukan herniotomi karena anulus
inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang kanalis cukup kuat. Pada herniotomi
dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka dan isi hernia
dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi
mungkin lalu dipotong.1
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi. Reposisi tidak dilakukan
pada hernia inguinlis strangulata, kecuali pada pasien anak-anak. Reposisi dilakukan secara

bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan tangan kanan
mendorongnya ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap sampai
terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih sering terjadi pada umur di bawah dua
tahun. Reposisi spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang
terjadi dibandingkan dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih
elastis pada anak-anak. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian
sedatif dan kompres es di atas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil, anak disiapkan untuk
operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia ini tidak berhasil, dalam waktu enam jam
harus dilakukan operasi segera.1
L. Komplikasi
Hernia inkarserata terjadi apabila isi kantong hernia tidak dapat kembali ke dalam rongga
perut. Organ yang inkarserata biasanya usus, yang disertai denagn tanda dan gejala obstruksi
usus seperti muntah, perut kembung, konstipasi, dan adanya batas udara-cairan pada foto
rontgen polos perut. Semua bayi dan anak kecil dengan obstruksi usus yang tidak terjelaskan
sebabnya harus diperiksa untuk hernia inkarserata yang tidak dikenali. Walaupun usus organ
yang paling sering terlibat pada hernia inkarserata, setiap alat di dalam rongga perut dapat
menjadi inkarserata, dan pada anak wanita muda organ yang paling sering adalah ovarium.
Apabila aliran darah ke dalam organ menjadi berkurang, terjadilah hernia strangulasi, yang
merupakan indikasi pasti untuk operasi gawat darurat.2
Insiden inkarserasi berkisar dari 9-20%, dengan sebagian besar terjadi pada umur tahun
pertama. Sekitar setengahnya terjadi pada usia tahun pertama. Insiden inkarserata lebih tinggi
pada anak wanita dan bayi prematur dari kedua jenis kelamin. Hernia inkarserta datang
dengan massa yang keras, terasa sakit di saluran inguinalis atau skrotum. Anak menjadi
rewel, tidak mau makan dan menangis tidak henti-henti. Kulit sekitar massa mungkin edema
dan sedikit pucat tetapi biasanya tidak erimatosa atau sangat nyeri, seperti terlihat pada hernia
strangulasi. 2
Hernia harus segera dikurangi dan bisa berhasil pada sekitar 95% kasus. Adalah tidak biasa
pada anak dengan hernia inguinalis inkarserata membutuhkan opersai gawat darurat.
Pengurangan hernia inguinalis dibantu dengan sedasi barbiturat berdaya pendek atau
kloralhidrat dan menempatkan penderita pada posisi kepala lebih rendah (Trendelenburg).
Bungkusan es tidak digunakan karena menyebabkan nekrosis lemak pada bayi kecil. Jika
anak sudah tenang, pengurutan yang lembut isi hernia ke arah cincin luar dan atau dalam bisa
dilakukan. Setelah hernia berkurang, operasi elektif harus dilakukan dalam waktu 24-48 jam
jika edema sudah berkurang.2
Anak dengan hernia strangulasi mempunyai tanda sistemik gangguan vaskuler seperti
takikardi dan demam, massa di pangkal paha biasanya eritematosa dan sangat halus. Anak ini
membutuhkan tindakan operasi segera. Keadaan tersebut sangat jarang terjadi pada kelompok
umur pediatri. Angka komplikasi setelah operasi gawat darurat untuk hernia inkarserata atau
strangulasi, kira-kira 20 kali angka komplikasi yang terkait dengan prosedur elektif.2
M. Prognosis
Hasil perbaikan hernia inguinalis pada bayi dan anak sangat baik. Angka komplikasi setelah
perbaikan hernia inguinalis pada anak sekitar 2%. Insiden infeksi luka mendekati 1%.
Peningkatan insiden kumat ditemukan bila ada riwayat inkarserata atau strangulasi, pada anak
dengan penyakit jaringan pengikat, dan penyakit saluran napas kronis, dan bila ada kenaikan
tekanan intraabdomen, seperti bayi dengan pirau (shunt) ventrikuloperitoneum. Jejas pada
nervus ileoinguinlais atau vas deferens jarang. Gangguan testis ditemukan pada 3-5% anak
laki-laki yang datang dengan hernia inkarserata.2
2..2. Hernia Umbilikalis
Hernia umbilikalis merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang hanya tertutup

peritonium dan kulit. Hernia ini terdapat pada kira-kira 20% bayi dan angka ini lebih tinggi
lagi pada bayi prematur. Tidak ada perbedaan angka kejadian antara bayi lelaki dan
perempuan.1
Gejala klinis
Hernia umbilikalis merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut yang masuk
melelui cincin umbilikus akibat peninggian tekanan intraabdomen, biasanya ketika bayi
menangis. Hernia umumnya tidak menimbulkan nyeri dan sangta jarang terjadi inkarserasi.1
Penatalaksanaan
Bila cincin hernia kurang dari 2 cm umumnya regresi spontan akan terjadi sebelum bayi
berumur enam bulan, kadang cincin baru tertutup setelah satu tahun. Usaha untuk
mempercepat penutupan dapat dikerjakan dengan mendekatkan tepi kiri dan kanan, kemudian
memancangnya dengan pita perekat (plester) untuk 2-3 minggu. Dapat pula digunakan uang
logam yang dipancangkan diumbilikus untuk mencegah penonjolan isi rongga perut. Bila
sampai usia satu setengah tahun hernia masih menonjol, umumnya diperlukan koreksi
operasi. Pada cincin hernia yang melebihi 2 cm jarang terjadi regresi spontan dan lebih sukar
diperoleh penutupan dengan tindakan konservatif.1
Gambar 5: Hernia umbilikalis11

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Materi dan Bahan
Populasi penelitian adalah pasien dengan Hernia pada anak di RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Purwokerto dari bulan Januari 2004 sampai dengan November 2009. Hernia yang
diambil adalah pada pasien hernia yang terjadi pada kelompok umur 1-12 tahun dengan besar
sampel 555 pasien.
B. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah deskripsi retrospektif.
C. Metode Penelitian
Obyek penelitian ini adalah pasien dengan hernia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto dari bulan Januari 2004 sampai dengan November 2009 Penelitian ini
dilaksanakan dengan metode deskripsi retrospektif dengan menggunakan data sekunder dari
rekam medik pasien, Ruang Rawat Seruni RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan deskriptif retrospektif terhadap pasien Hernia pada anak yang dirawat di
RSMS Purwokerto yang didapatkan dari kasus bulan Januari 2004 sampai dengan November
2009 di dapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Jumlah pasien hernia pada anak (1-12 tahun)
No Jenis Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Hernia inguinalis 424 131 555
2 Hernia umbilikalis 12 16 28
3 Hernia difragmatika - 12 12
Tabel 1. menunjukkan bahwa hernia yang paling banyak di derita oleh anak-anak adalah
hernia inguinalis yaitu dengan jumlah 555 pasien.

Tabel 2. Jmlah pasien Hernia inguinalis pada anak setiap tahun (2004-2009)
TAHUN LAKI - LAKI PEREMPUAN
2004 37 8
2005 11 1
2006 121 31
2007 116 15
2008 77 46
2009 62 30
Table 2. menujukkan bahwa dari total pasien hernia inguinalis sebanyak 555, terdiri dari lakilaki sebanyak 424 pasien dan perempuan 131 pasien.

Grafik 1. diatas menunjukan bahwa anak laki-laki lebih dominan terkena Hernia inguinalis
dari pada perempuan.
Insiden lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan. Secara umum bayi
laki-laki lebih sering mengalami hernia dibandingkan perempuan karena proses penurunan
testis/buah pelir yang merupakan organ reproduksinya berlangsung lebih kompleks. Pada
bulan ke 8, testis biasanya sudah berada dalam skrotum dan prosesus vaginalis peritonei
masih terbuka. Pada bulan ke 9 prosesus vaginalis peritonei akan mengalami regresi sehingga
menutup sempurna setinggi batas atas kanalis inguinalis dan hanya tinggal sebagai jaringan
fibrotik. Kegagalan sebagian atau seluruh obliterasi atau regresi prosesus vaginalis peritonei
mengakibatkan sakus vaginalis tetap terbuka dan merupakan faktor predisposisi terjadinya
hernia inguinalis lateralis pada bayi dan anak.2

Grafik 2. Dari keseluruhan jumlah pasien Hernia inguinalis pada anak sebanyak 555 orang,
jumlah pasien terbanyak pada tahun 2006 sebanyak 152 pasien dengan jumlah tindakan
herniotomi sebanyak 31. Sedangkan jumlah jumlah pasien paling sedikit pada tahun 2005
sebanyak 12 orang dengan tindakan herniotomi sebanyak 8 orang.
Tabel 3. Jumlah pasien dengan tindakan operatif
Tahun Jumlah pasien Tindakan herniotomi
2004 45 3
2005 12 8
2006 152 31
2007 131 31
2008 123 47
2009 92 33
Tabel 3. Jumlah pasien yang mendapat tindakan operatif yang berupa herniotomi yaitu
sebanyak 153 pasien dari total 555 pasien. Adapun jumlah tidakan herniotomi paling besar
pada tahun 2008, yaitu sebanyak 47 orang, dan tindakan paling sedikit tahun 2004, yaitu
sebanyak 3 orang.
Dari data yang didapatkan terlihat jumlah tindakan herniotomi lebih sedikit dibandingkan
jumlah penderitanya. Hal ini kemungkinan dapat disebakan oleh kurangnya pengetahuan
orang tua mengenai komplikasi dari hernia itu sendiri, sehingga orang tua menunda-nunda
anaknya untuk dilakukan tindakan operasi ataupun dapat juga disebabkan oleh kendala dalam
lain, seperti kendala dalam hal ekonomi serta faktor-faktor lain yang belum dapat digali oleh
penyusun dikarenakan kurang lengkapnya informasi yang didapatkan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan secara deskriptif retrospektif terhadap pasien hernia pada anak
yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Margono Soekarjo Purwokerto periode
januari 2004 November 2009 dapat disimpulkan bahwa insidensi penderita laki-laki lebih
besar dari pada perempuan, sedangkan jumlah tindakan operatif sangat sedikit bila
dibandingkan dengan jumlah total pasien.
B. Saran
Penelitian ini sangat terbatas dikarenakan keterbatasan data yang dimiliki dan yang dapat

digali, hal ini dikarenakan telah terjadi 3x perubahan system data pada RSMS sehingga sulit
untuk digali lebih lanjut. Untuk itu perlu ditingkatkan lagi penelitian ini dengan jumlah
pasien dan metode yang lebih akurat sehingga angka kejadian kasus ini dapat terpantau dari
tahun ke tahun.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sjamsuhidayat R, de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2005. Hal 524-532
2. Shochat Stephen. Hernia Inguinalis. 2000. Dalam : Behrman, Kliegman, Arvin (ed). Ilmu
Kesehatan Anak Nelson vol. 2 ed.15. Jakarta. Hal 1372-1375.
3. Mantu Nur Farid. Hernia Inguinalis pada Bayi dan Anak. Kuliah Bedah Anak. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1999. Hal 17-30
4. Sabiston, Devid C; Buku Ajar Bedah : Sabistons Essential Surgey, Alih Bahasa Petrus
Andrianto, Timah I. S; editor, Jonatan Oswan - Jakarta : EGC, 1995, hal 228 - 231.
5. Panitia Pelantikan Dokter periode Desember 1988, Penuntun Tindakan Medik Bagi Dokter
Umum, F.K UGM, Andi Offsed, Yogyakarta, 1998, hal 119 - 120.
6. Schrock, Theodore R, Ilmu Bedah; Handbook of Surgey, Penerjemah Med. Ajidharma dkk,
Ed. 7 Jakarta, EGC, 1991, hal 300 - 302.
7. Hernia Inguinalis. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/hernia-inguinalis.html. Update:
Nov, 2008
8. Mantu Nur Farid.
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16HerniaInguinalis086.pdf/16HerniaInguinalis086.html
. Update: Mei, 2009
9. Erfandi. Hernia. http://puskesmas-oke.blogspot.com/2009/01/hernia.html. Update: jan 11,
2009
10. http://dokterkecil.files.wordpress.com/2008/11/hernia5.jpg&imgrefur
11. http://images.detik.com/content/2009/09/11/772/hernia-(daviddarling.info).jpg&imgrefurl
12. Hernia Inguinal. http://drzeze.files.wordpress.com/2008/05/hernia2.jpg&imgrefur.
Update: May 28, 2008
13. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/images/ency/fullsize/18025.jpg