Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari
suatu lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif
terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini
tercipta hingga sekarang. Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu
dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor
spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an dan hingga kini teori ini
telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi,
tsunami,

dan

meletusnya

gunung

berapi,

juga

tentang

bagaimana

terbentuknya gunung, benua, dan samudra.


Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian
atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel
bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang
berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan
dalam skala waktu geologis yang sangat lama karenaviskositas dan kekuatan
geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di
bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah
suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust)
ataupun kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari
mantel bumi (earths mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta
lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Lapisan litosfer dibagi menjadi
lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng
utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng
litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relative satu
dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh),
konvergen (bertumbukan),ataupun transform (menyamping). Gempa

bumi,
1

aktivitas

vulkanik,

pembentukan gunung,

dan

pembentukan palung

samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng.


Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan
pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra
(mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua (felsik).
Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan
astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi,
batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid). Litosfer
terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan
satu dengan lainnya.
B. Tujuan
Tujuan diadakannya penyusunan makalah ini antara lain yaitu, untuk
mengetahui jenis jenis lempeng tektonik yang ada di bumi, proses
pergerakannya serta dampak yang ditimbulkan dari proses pergerakan
lempeng tektonik tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Pergerakan Lempeng


1. Teori Kontraksi (Contraction theory)
Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Descrates (1596-1650). Ia
menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengkerut yang
disebabkan oleh terjadinya proses pendinginan, sehingga di bagian
permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran. Teori
kontraksi didukung pula oleh James Dana (1847) dan Elie de Baumant
(1852). Mereka berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena
terjadi proses pendinginan di bagian dalam bumi yang mengakibatkan
bagian permukaan bumi mengerut membentuk pegunungan dan lembahlembah.
2. Teori Dua Benua (Laurasia-Gondwana theory)
Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua
benua yang sangat besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan
Gondwana di sekitar kutub selatan bumi. Kedua benua tersebut kemudian
bergerak perlahan ke arah equator bumi, sehingga akhirnya terpecah-pecah
menjadi benua benua yang lebih kecil. Laurasia terpecah menjadi Asia,
Eropa dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana terpecah menjadi Afrika,
Australia dan Amerika Selatan. Teori Laurasia-Gondwana kali pertama
dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884.

Gambar 2.1 : Benua menurut Teori Laurasia-Gondwana

3. Teori Pengapungan Benua (Continental drift theory)

Teori pengapungan benua dikemukakan oleh Alfred Wegener pada


1912. Ia menyatakan bahwa pada awalnya di bumi hanya ada satu benua
maha besar yang disebut Pangea. Menurutnya benua tersebut kemudian
terpecah-pecah dan terus bergerak melalui dasar laut. Gerakan rotasi bumi
yang sentripugal, mengakibatkan pecahan benua tersebut bergerak ke arah
barat menuju equator. Teori ini didukung oleh bukti-bukti berupa kesamaan
garis pantai Afrika bagian barat dengan Amerika Selatan bagian timur, serta
adanya kesamaan batuan dan fosil pada kedua daerah tersebut.
Teori ini, dikembangkan lagi dalam buku The Origin of Continents and
Oceans terbitan tahun 1915. Alfred, mengemukakan bahwa benua-benua
yang sekarang ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh
sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti
bongkahan es dari granit yang bermassa jenis rendah yang mengambang di
atas lautan basal yang lebih padat.
4. Teori Konveksi (Convection theory)
Menurut teori konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan
Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz,
menyatakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan
berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di
atasnya, sehingga ketika arus konveksi yang membawa materi berupa lava
sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah
samudera), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi
yang baru menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua. Bukti
kebenaran teori konveksi adalah terdapatnya tanggul dasar samudera (Mid
Oceanic Ridge), seperti Mid Atlantic Ridge dan Pasific-Atlantic Ridge. Bukti
lainnya didasarkan pada penelitian umur dasar laut yang membuktikan
bahwa semakin jauh dari punggung tengah samudera, umur batuan
semakin tua. Artinya terdapat gerakan yang berasal dari Mid Oceanic Ridge
ke arah berlawanan yang disebabkan oleh adanya arus konveksi dari
lapisan di bawah kulit bumi.
5. Teori Lempeng Tektonik
Teori Tektonik Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori
dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan
4

terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh


litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori
Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama
abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun
1960-an. Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di
bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas
mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat
astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan
sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena
viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam
lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi.
Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang
tinggi.
Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic
plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempenglempeng

yang

lebih

Lempeng-lempeng

kecil.

litosfer

ini

menumpang di atas astenosfer.


Mereka

bergerak

relatif

satu

dengan yang lainnya di batasbatas

lempeng,

baik

(menjauh),

divergen
konvergen

(bertumbukan), ataupun transform


(menyamping).
aktivitas

Gempa

vulkanik,

bumi,

pembentukan

Gambar 2.2 : Struktur Lapisan Bumi

gunung, dan pembentukan palung


samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng.
Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a.
Berikut adalan peta dengan detail yang menunjukkan lempenglempeng tektonik dan arah vektor gerakannya.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20,
geolog berasumsi bahwa kenampakan-kenampakan
utama

bumi

kenampakan

berkedudukan
geologis

seperti

tetap.

Kebanyakan

pegunungan

bisa
5

dijelaskan dengan pergerakan vertikal kerak seperti dijelaskan dalam teori


geosinklin. Sejak tahun 1596, telah diamati bahwa pantai Samudera Atlantik
yang berhadap-hadapan antara benua Afrika dan Eropa dengan Amerika
Utara dan Amerika Selatan memiliki kemiripan bentuk dan nampaknya
pernah menjadi satu. Ketepatan ini akan semakin jelas jika kita melihat tepitepi dari paparan benua di sana. Sejak saat itu banyak teori telah
dikemukakan untuk menjelaskan hal ini, tetapi semuanya menemui jalan
buntu karena asumsi bahwa bumi adalah sepenuhnya padat menyulitkan
penemuan penjelasan yang sesuai.
Penemuan radium dan sifat-sifat pemanasnya pada tahun 1896
mendorong pengkajian ulang umur bumi, karena sebelumnya perkiraan
didapatkan dari laju pendinginannya dan dengan asumsi permukaan bumi
beradiasi seperti benda hitam. Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan
bahwa bahkan jika pada awalnya bumi adalah sebuah benda yang merahpijar, suhu Bumi akan menurun menjadi seperti sekarang dalam beberapa
puluh juta tahun. Dengan adanya sumber panas yang baru ditemukan ini
maka para ilmuwan menganggap masuk akal bahwa Bumi sebenarnya jauh
lebih tua dan intinya masih cukup panas untuk berada dalam keadaan cair.
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis Pergeseran Benua
(continental drift) yang dikemukakan Alfred Wegener tahun 1912. dan
dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans
terbitan tahun 1915. Ia mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang
ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga
melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti 'bongkahan es' dari
granit yang bermassa jenis rendah yang mengambang di atas lautan basal
yang lebih padat. Namun, tanpa adanya bukti terperinci dan perhitungan
gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi memiliki
kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak
mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut dapat bergerak-gerak. Di
kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog Inggris Arthur
Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini kemungkinan ada
di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di dalam mantel
bumi adalah kekuatan penggeraknya.
Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang mengalami
pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet
6

dalam batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan


pertama kali pada sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula,
penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi, namun selanjutnya
justeru lebih mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang
menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan
vertikal (upwelling) batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi
yang ukurannya terus membesar atau berekspansi (expanding earth)
dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction zone), dan
sesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori tektonik lempeng
berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai
dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian lebih
lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan balikan medan
magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess
dan oseanograf Ron G. Mason menunjukkan dengan tepat mekanisme
yang menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.
Seiring dengan diterimanya anomali magnetik bumi yang ditunjukkan
dengan lajur-lajur sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di
dasar laut pada kedua sisi mid-oceanic ridge, tektonik lempeng menjadi
diterima secara luas. Kemajuan pesat dalam teknik pencitraan seismik
mula-mula di dalam dan sekitar zona Wadati-Benioff dan beragam
observasi geologis lainnya tak lama kemudian mengukuhkan tektonik
lempeng sebagai teori yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam
segi penjelasan dan prediksi.
Penelitian tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan
yang berkembang pesat pada tahun 1960-an memegang peranan penting
dalam pengembangan teori ini. Sejalan dengan itu, teori tektonik lempeng
juga dikembangkan pada akhir 1960-an dan telah diterima secara cukup
universal di semua disiplin ilmu, sekaligus juga membaharui dunia ilmu bumi
dengan memberi penjelasan bagi berbagai macam fenomena geologis dan
juga implikasinya di dalam bidang lain seperti

paleogeografi dan

paleobiologi.
Lahirnya teori lempeng tektonik (Tectonic Plate Theory) merupakan
kenyataan mutakhir dalam geologi yang menunjukkan terjadinya evolusi
bentuk permukaan bumi. Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli
7

geofisika asal Inggris, Mc Kenzi e

dan

Robert

Parker,

kemudian

disempurnakan oleh J. Tuzo Wilson, pada tahun 1968. Berdasarkan teori


ini, kulit bumi atau litosfer terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang
berada di atas lapisan astenosfer, Lempeng-lempeng tektonik pembentuk
kulit bumi selalu bergerak karena pengaruh arus konveksi yang terjadi pada
lapisan astenosfer yang berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.

B.

Prinsip Prinsip Utama Lapisan Bumi


Prinsip teori tektonik lempeng adalah kulit bumi terdiri atas lempenglempeng yang kaku dengan bentuk tidak beraturan. Dinamakan lempeng
karena bagian litosfer mempunyai ukuran yang besar di kedua dimensi
horizontal (panjang dan lebar), tetapi berukuran kecil pada arah vertikal
(ketebalan).
Bagian lapisan luar, interior bumi dibagi menjadi lapisan litosfer dan
lapisan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya
perpindahan panas. Llitosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer
lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan
panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan
panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik.
Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi
inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian
dari mantel.
Astenosfer merupakan suatu lapisan yang cair (kental) dan sangat
panas. Panasnya cairan astenosfer senantiasa memberikan kekuatan besar
dari dalam bumi untuk menggerakkan lempeng-lempeng secara tidak
beraturan. Kekuatan ini dinamakan tenaga endogen yang telah menghasilkan
berbagai bentuk di permukaan bumi. Di bumi ini litosfer terpecah-pecah
menjadi sekitar 12 lempeng. Teori lempeng tektonik banyak didukung oleh
fakta ilmiah, terutama dari data penelitian geologi, geologi kelautan,
kemagnetan purba, kegempaan, pendugaan paleontologi, dan pemboran laut
dalam. Lahirnya teori lempeng tektonik sebenarnya merupakan jalinan dari
berbagai konsep dan teori lama seperti Teori Apungan Benua, Teori Arus
Konveksi, Teori Pemekaran Lantai samudera, dan Teori Sesar Mendatar,
sebagaimana telah dijelaskan pada teori-teori di atas. Berdasarkan kajian

para ahli, lempeng tektonik yang tersebar di permukaan bumi. Lempenglempeng tersebut selalu bergerak dan mendesak satu sama lain.
Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau
astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan
kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempengan adalah bahwa litosfer
terpisah

menjadi

lempengan-lempengan

tektonik

yang

berbeda-beda.

Lempengan ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai


viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempengan bisa
mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic
Ridge, ataupun bisa mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut)
seperti di Lempeng Nazca.
Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel
litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis
material kerak. Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering
disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan magnesium.
Yang kedua adalah kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan
dari silikon dan aluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan
di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km
sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate
boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti
gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung,
gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif
di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring
of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi
biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika
mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan
Hindia.
Perbedaan antara kerak benua dengan kerak samudera ialah
berdasarkan kepadatan material pembentuknya. Kerak samudera lebih padat
daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai
elemen, khususnya silikon. Sedangkan kerak benua lebih padat karena
komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi
9

yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik
ketimbang felsik. Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah
permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak
benua timbul ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal
dengan isostasi.
C. Jenis-Jenis Batas Lempeng
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan
tersebut bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masingmasing berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga
jenis batas lempeng tersebut adalah:
1. Batas Transform (Transform Boundaries)
Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng
bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di
sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua
lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat)
ataupun dekstral (ke-kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat).
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide
each other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya
tidak saling memberai maupun saling menumpu. Terdapat aktifitas
vulkanisme yang lemah disertai gempa yang tidak kuat. Gejala pergeseran
itu tampak pada tanggul dasar samudera yang tidak berkesinambungan,
melainkan terputus-putus. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar
ubahan-bentuk
(transform

fault).

Contoh sesar jenis ini


adalah

Sesar

San

Andreas di California.

Gambar 2.4 : Batas Sesar Transform

10

Gambar 2.5 : Sesar San Andreas di California, USA

11

2. Batas Divergen/Konstruktif (Divergent/Constructive Boundaries)


Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries)
terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic
ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen.
Akibat terjadinya patahan divergen, akan mengakibatkan beberapa
fenomena:
-

Perenggangan lempeng yang disertai pertumbuhan kedua tepi


lempeng tersebut.

Pertumbuhan tanggul dasar samudera (mid ocean vidge) di sepanjang


tempat perenggangan lempeng-lempeng tersebut.

Aktivitas vulkanisme laut dalam yang menghasilkan lava basa


berstruktur bantal dan dinamakan lava bantal serta hamparan leleran
lava yang encer.

Aktifitas gempa.
Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar

laut (seafloor spreading). Sedangkan pada lempeng benua, proses ini


menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya
celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut.

Gambar 2.6 : Batas Divergen/Konstruktif

Punggungan

Tengah-Atlantik

(Mid-Atlantic

Ridge)

adalah

Punggungan Tengah Samudra (Mid-Ocean Ridge) salah satu contoh


divergensi yang paling terkenal, membujur dari utara ke selatan di
sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan
Benua Amerika.
12

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 2.7 : (a),(b) MAR (Mid-Atlantic Ridge) antara Benua Amerika dan Afrika/Eropa (c) Mid
Atantic Ridge di Islandia (d) Lembah yang terbentuk pada batas divergent (Islandia)

3. Batas Konvergen/Destruktif (Convergent/Destructive Boundaries)


Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries)
terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga
membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah
yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng
mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam biasanya berada di
zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung
banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini
dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan
menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh
kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan
busur pulau Jepang (Japanese island arc). Akibat terjadinya patahan
konvergen, akan mengakibatkan beberapa fenomena:
- Lempeng dasar samudera menunjam ke bawah lempeng benua.
- Terbentuk palung laut di tempat tumbukan itu.
- Pembengkakan tepi lempeng benua yang merupakan deretan
-

pegunungan.
Terdapat aktivitas vulkanisme, intrusi dan ekstrubsi.
13

Merupakan daerah hiposentra gempa dangkal dan dalam.


Penghancuran lempeng akibat pergeseran lempeng.

Timbunan sedimen campuran.


Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah

lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman
(subduction zones). Hal ini terjadi bila berat jenis kedua lempeng yang
bertumbukan
samudera,

berbeda,

lempeng

dimana

yang

lebih

lempeng

benua

berat

(lempeng

bertemu

lempeng

samudera)

akan

menghujam dibawah lempeng yang lebih ringan (lempeng benua). Di zona


tunjaman inilah sering terjadi gempa. pegunungan gunung-api (volcanic
ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
Sedangkan

pergerakan

pada

zona

tumbukan

kedua

lempeng

mengakibatkan terbentuknya pegunungan lipatan karena kedua lempeng


tersebut memiliki berat jenis yang sama di sebut zona tumbukan
(obduction/collision zone).
Batas konvergen ada 3 macam, pertama yakni antara lempeng
benua dengan lempeng samudra, yang kedua yakni antara dua lempeng
samudra, dan yang ketiga yakni antara dua lempeng benua.
1) Konvergen lempeng samudra benua (Oceanic Continental)
Ketika suatu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng
benua, lempeng ini masuk ke lapisan astenosfer yang suhunya lebih
tinggi, kemudian meleleh. Pada lapisan litosfer tepat di atasnya,
terbentuklah deretan gunung berapi (volcanic mountain range).
Sementara di dasar laut tepat di bagian terjadi penunjaman,
terbentuklah parit samudra (oceanic trench).
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah salah satu
pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk
dari konvergensi antara Lempeng Nazka dan Lempeng Amerika
Selatan.

14

(a)

(b)
Gambar 2.8 : (a) Konvergen Benua Samudra, (b) Pegunungan Andes terbentuk dari
Konvergensi Lempet Nezka dan Lempeng Amerika Selatan

2) Konvergen lempeng samudra samudra (Oceanic Oceanic)


Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng
samudra lainnya, menyebabkan terbentuknya parit di dasar laut, dan
deretan gunung berapi yang pararel terhadap parit tersebut, juga di
dasar laut. Puncak sebagian gunung berapi ini ada yang timbul sampai
ke permukaan, membentuk gugusan pulau vulkanik (volcanic island
chain).
Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh pulau vulkanik
dari proses ini. Pulau ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng
Pasifik dan Lempeng Amerika Utara

15

(a)

(b)
Gambar 2.9 : (a) Konvergen Samudra Samudra, (b) Parit dan Kepulauan Vulkanik Aleutian di
Alaska, USA.

3) Konvergen lempeng benua benua (Continental Continental)


Salah satu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua
lainnya. Karena keduanya adalah lempeng benua, materialnya tidak
terlalu padat dan tidak cukup berat untuk tenggelam masuk ke
astenosfer dan meleleh. Wilayah di bagian yang bertumbukan
mengeras dan menebal, membentuk deretan pegunungan non vulkanik
(mountain range).

16

(a)

(b)
Gambar 2.10 : (a) Konvergen Benua Benua, (b) Pegunungan Himalaya terbentuk akibat
Konvergensi dari Lempeng India (India-Australia) dan Lempeng Eurasia

Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet adalah salah satu contoh


pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk
dari konvergensi antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia.
D. Kekuatan Penggerak Pergerakan Lempeng
Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif
litosfer samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan
panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang
menggerakkan lempeng tektonik. Pandangan yang disetujui sekarang,
meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan
17

litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi


adalah sumber terkuat pergerakan lempengan.
Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera
pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di
sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena
terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang
lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya
penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi
sumber

sebagian

besar

kekuatan

penggerak-pergerakan

lempengan.

Kelemahan astenosfer memungkinkan lempengan untuk bergerak secara


mudah menuju ke arah zona subduksi. Meskipun subduksi dipercaya sebagai
kekuatan terkuat penggerak-pergerakan lempengan, masih ada gaya
penggerak

lain

yang

dibuktikan

dengan

adanya

lempengan

seperti

lempengan Amerika Utara, juga lempengan Eurasia yang bergerak tetapi


tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi
topik penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi.
Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik)
menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di
seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia
batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi
dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan
kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy
forces) Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak
dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan
dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini
harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada
dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu
friksi dan gravitasi. Berikut adalah kekuatan penggerak pergerakan lempeng:
1. Gaya Gesek
- Basal drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui
astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara
astenosfer dan litosfer.
-

Slab suction
18

Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada


lempeng di zona subduksi di palung samudera. Penyerotan lempengan
(slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan
basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam
mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua
sisi lempengan, atas dan bawah.
2. Gravitasi
- Runtuhan gravitasi
Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di
oceanic ridge. Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat
daripada mantel panas yang merupakan sumbernya, maka dengan
ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini tenggelam ke dalam
mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit
inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. Dalam teksteks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai
sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah
runtuhan karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbedabeda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan pemekaran
hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan
litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan
menghasilkan kenampakan yang bisa memengaruhi topografi. Lalu,
mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik bisa juga
mengubah topografi dasar samudera.
-

Slab-pull (tarikan lempengan)


Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat
lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung
samudera. Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di
mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di midoceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini.
Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa
lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan.
Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer
tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan
oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi
19

gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga
memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung,
tetapi lempengan seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami
subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti
juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak
utama untuk pergerakan lempengan dan sumber energinya itu sendiri
masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung.
3. Gaya dari luar
Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006
dari buletin Geological Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan
dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng
yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang
bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur
di bawah bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan
permukaan bumi kembali ke barat.
Beberapa orang juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil
ini mungkin juga menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki
lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya
ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi. Pemikiran
ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan
oleh bapak dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian
ditentang fisikawan Harold Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya
gaya gesek pasang yang diperlukan akan dengan cepat membawa rotasi
bumi untuk berhenti sejak waktu lama.
E. Lempeng-Lempeng Utama
Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:
- Lempeng Afrika, meliputi Afrika - Lempeng benua
Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika - Lempeng benua
- Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara
-

50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua


Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua
Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut -

Lempeng benua
Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan - Lempeng benua
Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik - Lempeng samudera
20

Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng India,


Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos,
Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.
Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan
benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen yang
mencakup hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia diperkirakan
terbentuk 1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua
di Bumi dan terpecah menjadi delapan benua sekitar 600 juta tahun yang lalu.
Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi superkontinen lain yang
disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah menjadi Laurasia (yang menjadi
Amerika Utara dan Eurasia), dan Gondwana (yang menjadi benua sisanya).

(a)

21

(b)
Gambar 2.11 : (a),(b) Peta Lempeng Bumi beserta vektor arah geraknya (sumber www.wikipedia.org

22

BAB III
KESIMPULAN
Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari 2 lapisan,dibagian atas
terdapat litosfer, dan dibawah litosfer terdapat atenosfer. Lapisan litosfer dibagi
menjadi lempeng-lempeng tektonik. Dibumi terdapat tujuh lempeng utama dan
banyak lempeng-lempeng lain yang lebih kecil.
Teori lempeng tektonik sendiri berasal dari hipotesis pergeseran benua
(continental drift) yang dikemukakan oleh Alfred Wegener tahun 1912 dan
dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Ocean tahun
1915 .
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun
kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi (earths
mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel ini
dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding
kepadatan pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak
samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua (felsik).
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut
bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan
dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut
adalah:
1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan
mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar
transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di
sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang
berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San
Andreas di California.
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua
lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan
(rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen
3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua
lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona
23

subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan
benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua.
Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan
lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air),
sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur
dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas
vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika
Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).
Lempeng-lempeng besar yang terdapat di dunia yakni Lempeng Eurasia,
Lempeng Amerika, Lempeng Afrika, Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia,
Lempeng Antartika.

DAFTAR PUSTAKA
24

Djauhari, Noor., Pengantar Geologi Dasar,Edisi Pertama,2009,CV.Graha Ilmu;Bogor


Frederick,K. Lutgens,Edward. J. Tarbuck and Dennis Tassa, Essentials of Geology,
11th-Edition, 2011, Pearson Education, Inc. Pearson Pretince Hall; New
Jersey.
Graham, R. Thompson and Jonathan Turk, Introduction to Physical Geology, 1997,
Brooks Cole.
https://en.wikipedia.org/wiki/Plate_tectonics
http://juliussecret.blogspot.co.id/2014/03/pergerakan-lempeng-penyusun-dan.html
http://jurnal-geologi.blogspot.co.id/2009/10/geo-perkembangan-teori-tektoniklempeng.html
http://zonegeologi.blogspot.co.id/2012/03/teori-pergerakan-lemng.html

25