Anda di halaman 1dari 14

REFARAT

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................
i
DAFTAR ISI.............................................................................................................
ii
BAB I.
1

PENDAHULUAN..................................................................................

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

DEFINISI
2

2.2 SEJARAH
2
2.3

EPIDEMIOLOGI
3

2.4

KOMORBIDITAS
3

2.5

ETIOLOGI
4

2.6

PATOFISIOLOGI
4

2.7

KRITERIA DIAGNOSIS
5

2.8

MANIFESTASI KLINIS
1

7
2.9

STRESOR PENCETUS
7

2.10DIAGONOSIS BANDING
8
2.11 DIAGNOSIS BANDING
8
2.12TERAPI
8
2.12.1 TERAPI NON FARMAKOLOGIS
9
2.12.2 TERAPI FARMAKOLOGIS
9
BAB III.
10

KESIMPULAN .....................................................................................
3.1

KESIMPULAN
11

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
12

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Diagnostic and Statitical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSMIV) mengombinasikan dua konsep diagnostik menjadi diagnosis gangguan
psikotik singkat (brief psychotic disorder).1 Pertama, gangguan berlangsung
singkat, didefinisikan di dalam DSM-IV sebagai kurang dari satu bulan tetapi
sekurangnya satu hari; gejala mungkin memenuhi atau tidak memenuhi kriteria
diagnosis untuk skizofrenia.2 Kedua, gangguan mungkin berkembang sebagai
respons

terhadap

stresor

psikososial

yang

parah

atau

kelompok

stresor.1,2Pengelompokan bersama kedua konsep tersebut di dalam DSM-IV


sebagai gangguan psikotik singkat adalah dengan mengingat kesulitan praktis
dalam membedakan konsep-konsep tersebut di dalam praktis klinis.1
Pasien dengan gangguan mirip dengan gangguan psikotik akut sebelumnya
telah diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stress, dan
psikogenik. Psikosis reaktif seringkali digunakan sebagai sinonim untuk
skizofrenia berprognosis baik; diagnosis DSM-IV gangguan psikotik akut tidak
berarti menyatakan hubungan dengan skizofrenia.1,3 Di tahun 1913 Karl Jasper
menggambarkan sejumlah ciri penting untuk diagnosis psikosis reaktif, termasuk
adanya stresor traumatis berat yang dapat diidentifikasi, hubungan temporal yang
erat antara stresor dan perkembangan psikosis dan perjalanan episode psikotik
yang ringan.1 Di samping itu, isi psikosis sering kali mencerminkan sifat
pengalaman traumatis, dan perkembangan psikosis dihipotesiskan sebagai
memuaskan tujuan pasien, sering kali suatu tipe pelepasan diri dari suatu kondisi
traumatis.1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI
Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan
individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau
perilaku kacau/aneh.1,2
Gangguan psikotik akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan
yang terjadi selama 1 hari sampai kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan
dapat kembali ke tingkat fungsional premorbid.1,2,4

2.2. SEJARAH
Pada umumnya, gangguan psikotik singkat belum dipelajari dengan baik di
psikiatri Amerika. Sekurangnya sebagian masalah di Amerika Serikat adalah
seringnya perubahan kriteria diagnostik yang terjadi selama lebih dari 15 tahun
terakhir. Diagnosis telah diterima lebih baik dan dipelajari lebih lengkap di
Skandinavia dan masyarakat Eropa Barat lainnya daripada di Amerika Serikat.
Pasien dengan gangguan yang mirip dengan psikotik singkat sebelumnya telah
diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stres, dan
psikogenik.1
Psikosis reaktif sering kali digunakan sebagai sinonim DSM-IV gangguan
psikotik singkat tidak berarti menyatakan hubungan dengan skizofrenia. Di tahun
1913 Karl Jasper menggambarkan sejumlah ciri penting untuk diagnosis psikosis
reaktif, termasuk adanya stresor traumatis berat yang dapat diidentifikasi,
hubungan temporal yang erat antara stressor dan perkembangan psikosis, dan
perjalanan episode psikotik yang ringan. Di samping itu, isi psikosis sering kali
mencerminkan

sifat

pengalaman

traumatis,

dan

perkembangan

psikosis

dihipotesiskan sebagai memuaskan tujuan pasien, sering kali suatu tipe pelepasan
diri dari suatu kondisi traumatis.1

2.3. EPIDEMIOLOGI
Beberapa penelitian telah dilakukan tentang epidemiologi diagnosis psikosis
reaktif singkat DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R), dan belum ada yang
dilakukan dengan menggunakan kriteria DSM-IV.1,2 Dengan demikian, perkiraan
yang dapat dipercaya tentang insidensi, prevalensi, rasio jenis kelamin, dan usia
onset rata-rata untuk gangguan tidak terdapat. Pada umumnya gangguan ini
dianggap jarang, seperti yang dinyatakan oleh satu penelitian tentang perekrutan
militer di mana insidensi psikosis reaktif singkat DSM-III-R diperkirakan adalah
1,4 per 100.000 yang direkrut.1 Dengan memasukkan episode psikotik singkat
yang tidak disertai dengan faktor pencetus yang jelas di dalam DSM-IV, insidensi
untuk diagnosis DSM-IV mungkin lebih tinggi daripada angka tersebut. Hal lain
yang menimbulkan kesan pada klinisi adalah bahwa gangguan lebih sering pada
pasien muda daripada pasien lanjut usia, walaupun beberapa kasus melaporkan
adanya riwayat kasus yang memang mengenai orang lanjut usia.1
Beberapa klinisi menyatakan bahwa gangguan mungkin paling sering
ditemukan pada pasien dari kelas sosioekonomi rendah dan pada pasien dengan
gangguan kepribadian yang telah ada sebelumnya (paling sering adalah gangguan
kepribadian histrionik, narsistik, paranoid, skizotipal, dan ambang). Orang yang
pernah mengalami perubahan kultural yang besar (sebagai contoh, imigran)
mungkin juga berada dalam risiko untuk menderita gangguan setelah stresor
psikososial selanjutnya. Tetapi, kesan klinis tersebut belum dibuktikan benar di
dalam penelitian klinis yang terkontrol baik.1,2

2.4. KOMORBIDITAS
Gangguan sering terjadi pada pasien dengan gangguan kepribadian (paling sering
gangguan histrionik, paranoid, skizoid, skizotipal, dan kepribadian borderline).1

2.5. ETIOLOGI
Pasien dengan gangguan psikotik singkat yang pernah memiliki gangguan
kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis ke arah
perkembangan gejala psikotik.1
Secara

psikodinamika

terdapat

mekanisme

menghadapi

(coping

mechanism) yang tidak adekuat dan kemungkinan adanya tujuan sekunder pada
pasien dengan gejala psikotik. Teori psikodinamika yang lainnya adalah bahwa
gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang,
pemenuhan harapan yang tidak tercapai, atau suatu pelepasan dari situasi psikosial
tertentu.2
2.6. PATOFISIOLOGI
Hipotesis dopamin pada gangguan psikosis serupa dengan penderita skizofrenia
adalah yang paling berkembang dari berbagai hipotesis, dan merupakan dasar dari
banyak terapi obat yang rasional. Hipotesis ini menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. Beberapa bukti yang
terkait hal tersebut yaitu:1,2,3,5
1. Kebanyakan obat-obat antipsikosis menyekat reseptor D2 pascasinaps di
dalam sistem saraf pusat, terutama di sistem mesolimbik frontal;
2. Obat-obat yang meningkatkan aktifitas dopaminergik, seperti levodopa
(suatu precusor), amphetamine (perilis dopamine), atau apomorphine
(suatu agonis reseptor dopamin langsung),baik yang dapat mengakibatkan
skizofrenia atau psikosis pada beberapa pasien;
3. Densitas reseptor dopamin telah terbukti, postmortem, meningkat di otak
pasien skizofrenia yang belum pernah dirawat dengan obat-obat
antipsikosis;
4. Positron emission tomography (PET) menunjukkan peningkatan densitas
reseptor dopamin pada pasien skizofrenia yang dirawat atau yang tidak
dirawat, saat dibandingkan dengan hasil pemeriksaan PET pada orang
yang tidak menderita skizofrenia; dan
5. Perawatan yang berhasil pada pasien skizofrenia telah terbukti mengubah
jumlah homovanilic acid (HVA), suatu metabolit dopamin, di cairan
serebrospinal, plasma, dan urin.5

Namun teori dasar tidak menyebutkan hiperaktivitas dopaminergik apakah


karena terlalu banyaknya pelepasan dopaminergik, terlalu banyaknya reseptor
dopaminergik atau kombinasi mekanisme tersebut. Neuron dopaminergik di
dalam jalur mesokortikal dan mesolimbik berjalan dari badan selnya di otak
tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik dan korteks serebral.3
2.7. DIAGNOSIS1,2,4
Diagnosis DSM-IV memiliki rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik,
didasarkan terutama atas lama gejala. Untuk gejala psikotik yang berlangsung
sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan yang tidak disertai dengan
satu gangguan mood, gangguan myang berhubungan dengan zat, atau suatu
gangguan psikotik karena kondisi medis umum, diagnosis gangguan psikotik
singkat kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik
singkat kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik yang
lebih dari satu hari diagnosis yang sesuai harus dipertimbangkan adalah gangguan
delusional

(jika

waham

merupakan

gejala

psikotik

utama),

gangguan

skizofreniform (jika waham merupakan gejala psikotik utama), gangguan


skizofreniform (jika gejala berlangsung kurang dari 6 bulan) dan skizofrenia (jika
gejala telah berlangsung lebih dari 6 bulan).1,2
Jadi gangguan psikotik singkat diklasifikasikan di dalam DSM-IV sebagai
suatu gangguan psikotik dengan durasi singkat. Kriteria diagnosis menentukan
sekurang-kurangnya satu gejala yang jelas psikotik yang berlangsung selama satu
hari sampai satu bulan. DSM-IV menentukan lebih lanjut penentuan dua ciri:
adanya atau tidak adanya satu atau lebih stressor yang jelas dan; suatu onset pascs
persalinan.1,2
Seperti pada pasien psikiatri akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat
diagnosis mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya
gejala psikotik mungkin jelas, informasi mengenai gejala prodromal, episode
suatu gangguan mood sebelumnya, dan riwayat ingesti zat psikotomimetik yang
belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari wawancara klinis saja. Di
samping itu, klinisi mungkin tidak mampu memperoleh informasi yang akurat
tentang ada atau tidaknya stressor pencetus.1,2

Kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik singkat menurut DSM-IV:1,2

Ada satu (atau lebih) gejala berikut :


o Waham
o Halusinasi
o Bicara terdisorganisasi (misal; sering menyimpang atau inkoherensi).
o Prilaku terdisorganisasi jelas atau kaktatonik.
Catatan : jangan memasukan gejala jika merupakan pola respons yang
diterima secar kultural.

Lama suatu epiode gangguan adalah sekurangnya 1 hari tetapi kurang dari 1

bulan, akhirnya kembali penuh kepada tingkat fungsi pramorbit.


Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu gangguanmood dengan ciri
psikotik, gangguan skizoafektif atau skizofrenia dan bukan karena efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu
medikasi) atau kondisi medis umum.
Sebutkan jika :
Dengan stresor nyata (psikosis reaktif singkat) : jika gejala terjadi segera
setelah dan tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang sendiri atau
bersama-sama, akan menimbulkan stres yang cukup besar bagi hampir setiap
orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut
Tanpa stresor nyata : jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah, atau
tampaknya bukan sebagai respon terhadap kejadian yang sendirinya atau
bersama-sama akan menimbulkan streas yang cukup besar bagi hampir setiap
orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut.
Dengan onset pascapersalinan : jika onset dalam waktu 4 minggu setelah
persalinan.

Beberapa gangguan psikosis akut atau sementara:3,4


1.
2.
3.
4.

Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia


Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia
Gangguan psikotik Lir-Skizofrenia Akut
Gangguan psikotik akut lainnya dengan predominan waham
8

Kriteria diagnostik gangguan psikotik Lir-Skizofrenia akut menurut PPDGJ-III:4

Untuk diagnosis pasti harus memenuhi:


a. Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang, dari suatu
keadaan nonpsikotik menjadi keadaan yang jelas psikotik);
b. Gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia (F20.-) harus
sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran

klinis yang jelas psikotik;


c. Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk kurun waktu lebih dari 1
bulan lamanya, maka diagnosis harus dirubah menjadi skizofrenia (F20.-).

2.8. GAMBARAN KLINIS1,2


Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurangnya satu gejala
psikosis utama, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu
memasukkan keseluruhan pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia. Beberapa
klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif, konfusi, dan gangguan pemusatan
perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan psikotik singkat
daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik
singkat adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh, berteriakteriak atau diam membisu, dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum
lama terjadi. Beberapa gejala tersebut ditemukan pada gangguan yang
mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan pemeriksaan organik yang
lengkap, walaupun hasilnya mungkin negatif.
2.9. STRESOR PENCETUS1,2
Contoh yang paling jelas dari stresor pencetus adalah peristiwa kehidupan
yang besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada
tiap orang. Peristiwa tersebut adalah kematian anggota keluarga dekat dan
kecelakaan kendaraan yang berat. Beberapa klinisi berpendapat bahwa keparahan
peristiwa harus dipertimbangkan di dalam hubungan dengan kehidupan pasien.
Walaupun pandangan tersebut adalah beralasan, tetapi mungkin memperluas
definisi stresor pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan
dengan episode psikotik. Klinisi lain berpendapat bahwa stresor mungkin
merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stres sedang, bukannya peristiwa
9

tunggal yang menimbulkan stres dengan jelas. Tetapi, penjumlahan derajat stres
yang disebabkan oleh urutan peristiwa memerlukan suatu derajat pertimbangan
klinis yang hampir tidak mungkin.
2.10. DIAGNOSIS BANDING1
Diagnosis lain yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah
gangguan buatan (factitious disorder) dengan tanda dan gejala psikologis yang
menonjol, berpura-pura (malingering), gangguan psikotik karena kondisi medis
umum, dan gangguan psikotik akibat zat. Seorang pasien mungkin tidak mau
mengakui penggunaan zat gelap, dengan demikian membuat pemeriksaan
intoksikasi zat atau putus zat sulit tanpa menggunakan tes laboratorium. Pasien
dengan epilepsi atau delirium dapat juga datang dengan gejala psikotik dengan
yang ditemukan pada gangguan psikotik singkat. Gangguan psikiatrik tambahan
yang harus dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan
identitas disosiatif dan episode psikotik yang disertai dengan gangguan
kepribadian ambang dan skizotipal.
2.11. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS1,2,3
Berdasarkan definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik singkat
berlangsung kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan gangguan
psikiatrik bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada
pasien. Sejumlah pasien dengan presentasi yang tidak diketahui yang pertama kali
diklasifikasikan menderita gangguan psikotik singkat selanjutnya menunjukkan
sindroma psikiatrik kronis, seperti skizofrenia dan gangguan mood. Tetapi, pada
umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki prognosis yang
baik, dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari
semua pasien tidak memiliki masalah psikiatrik berat lebih lanjut.
Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari. Kadangkadang, gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri adalah suatu
keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. Sejumlah
indikator telah dihubungkan dengan prognosis yang baik. Pasien dengan ciri-ciri
tersebut kecil kemungkinannya untuk menderita episode selanjutnya dan kecil

10

kemungkinannya kemudian akan menderita skizofrenia atau suatu gangguan


mood.
Gambaran Prognostik Baik untuk Gangguan Psikotik Sementara1
Penyesuaian yang baik sebelum sakit
Sedikit ciri skizoid sebelum sakit
Stresor pemicu berat
Awitan gejala mendadak
Gejala afektif
Bingung dan limbung selama psikosis
Sedikit penumpulan afektif
Durasi gejala singkat
Tidak ada keluarga skizofrenik

2.12.

TERAPI

Rawat inap. Seorang pasien psikotik akut mungkin memerlukan rawat inap yang
singkat baik untuk evaluasi maupun proteksi. Evaluasi memerlukan pemantauan
gejala yang ketat dan penilaian tingkat bahaya pasien terhadap diri sendiri dan
orang lain. Selain itu, rawat inap yang tenang dan terstruktur dapat membantu
pasien mendapatkan kembali kesadarannya terhadap realita. Sementara klinisi
menunggu efek perawatan atau obat-obatan, mungkin diperlukan pengasingan,
pengendalian fisik, atau pemantauan satu pasien oleh satu pemeriksa.1,2
Psikoterapi. Meskipun rawat inap dan farmakoterapi cenderung mengendalikan
situasi jangka pendek, bagian pengobatan yang sulit adalah integrasi psikologis
pengalaman (dan kemungkinan trauma pemicu, jika ada) ke dalam kehidupan
pasien dan keluarganya. Psikoterapi digunakan untuk memberikan kesempatan
membahas stresor dan episode psikotik. Eksplorasi dan perkembangan strategi
koping adalah topik utama psikoterapi. Masalah terkait meliputi membantu pasien
menangani rasa harga dirinya yang hilang dan mendapatkan kembali rasa percaya
diri. Setiap strategi pengobatan didasarkan pada peningkatan keterampilan
menyelesaikan masalah, sementara memperkuat struktur ego melalui psikoterapi

11

tampaknya merupakan cara yang paling efektif. Keterlibatan keluarga dalam


proses pengobatan mungkin penting untuk mendapatkan keberhasilan.1,2,5

Farmakoterapi1,2
Dua kelas utama obat yang perlu dipertimbangkan di dalam pengobatan gangguan
psikotik adalah obat antipsikotik antagonis reseptor dopamin dan benzodiazepin.
Jika dipilih suatu antipsikotik, suatu antipsikotik potensi tinggi, misalnya
haloperidol biasanya digunakan. Khususnya pada pasien yang berada pada resiko
tinggi untuk mengalami efek samping ekstrapiramidal, suatu obat antikolinergik
kemungkinan harus diberikan bersama-sama dengan antipsikotik sebagai
profilaksis terhadap gejala gangguan pergerakan akibat medikasi. Selain itu,
benzodiazepin dapat digunakan dalam terapi singkat psikosis. 7Walaupun
benzodiazepin memiliki sedikit kegunaan atau tanpa kegunaan dalam pengobatan
jangka panjang gangguan psikotik, obat dapat efektif untuk jangka singkat dan
disertai dengan efek samping yang lebih jarang daripada antipsikotik. Pada kasus
yang jarang benzodiazepin disertai dengan peningkatan agitasi dan pada kasus
yang lebih jarang lagi dengan kejang putus obat yang hanya biasanya terjadi pada
penggunaan dosis tinggi terus-menerus.6Medikasi hipnotik sering kali berguna
selama satu sampai dua minggu pertama setelah resolus episode psikotik.
Pemakaian jangka panjang medikasi harus dihindari dalam pengobatan gangguan
ini.1,7

12

BAB III
KESIMPULAN

3.

KESIMPULAN
Gangguan psikotik akut adalah gangguan yang berlangsung kurang dari satu

bulan tetapi sekurangnya satu hari; gejala mungkin memenuhi atau tidak
memenuhi kriteria diagnosis untuk skizofrenia. Insidensi psikosis reaktif singkat
DSM-III-R diperkirakan adalah 1,4 per 100.000 yang direkrut.
Gangguan psikotik akut penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis
kemungkinan termasuk kelompok gangguan yang heterogen. DSM-IV memiliki
rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik, didasarkan terutama atas lama
gejala. Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi
kurang dari satu bulan dan tidak disertai dengan suatu gangguan mood, gangguan
berhubungan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum,
diagnosis psikosis akut kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Pada
umumnya pasien dengan gangguan psikotik akut memiliki prognosis yang baik.

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Gangguan Psikotik Singkat. Editor : I. Made Wiguna S. Kaplan - Sadock,


Sinopsis Psikiatri - Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1.
Tanggerang : Binarupa Aksara Publisher. 2010:785-789.
2. Gangguan Psikotik Akut. Editor : Husny Muttaqin dan Tiara Mahatmi
Nisa. Kaplan & Sadock - Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC. 2014:179-181.
3. Psikiatri : Skizofrenia (F2). Editor : Chris Tanto, Frans Liwang, dkk.
Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius.
2014:910-3.
4. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara : Schizophrenia like (F23.2).
Editor : Rusdi Maslim. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika
Atmajaya. 2013:53-55.
5. Skizofrenia dan Gangguan Waham (Paranoid). Editor : Husny Muttaqin
dan Frans Dany. Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran
EGC. 2013:147-50.
6. Penatalaksanaan Skizofrenia. Editor: Irwan M, dkk. Faculty of MedicineUniversity of Riau. RSJ Tampan. 2008. diunduh dari https://yayanakhyar.
files.wordpress.com/2008/06/penatalaksanaan-skizofrenia_files-ofdrsmedpdp.pdf
7. Obat Anti-psikosis. Editor : Rusdi Maslim. Penggunaan Klinis Obat

Psikotropik (Psychotropic Medication). Edisi 3. Jakarta : Bagian Ilmu


Kedokteran Jiwa FK-Unika Atma Jaya (PT. Nuh Jaya). 2007:14-22.

14