Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratori Infection
(ARI).Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan, dan akut,
di mana pengertiannya sebagai berikut: 1
a. Infeksi merupakan peristiwa masuknya kuman atau mikroorganisme ke
dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala
penyakit.
b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah, dan pleura.
Secara anatomis ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas, saluran
pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa
saluran pernapasan.
c. Infeksi akut merupakan infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Batasan tersebut menurut Depkes (1989) menunjukkan proses akut
meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA
proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di
dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98% nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat
tinggi pada bayi, anak-anak, dewasa, dan orang lanjut usia terutama di negaranegara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA
merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas
pelayanan kesehatan.2
Angka kejadian ISPA juga lebih mudah menular pada area tertutup seperti
asrama, pesantren, sekolah, dan sekolah-sekolah yang sekaligus asrama.3

Infeksi merupakan salah satu penyakit yang banyak terjadi di negara


berkembang pada khususnya dan masih menjadi penyakit nomor satu di
Indonesia. Penyakit ini sering kali menyerang anak-anak karena kondisi yang
masih labil apalagi bila menghadapi cuaca yang mudah berubah. 3
Kematian yang ditimbulkan dari ISPA antara 20 persen hingga 30 persen
dan merupakan masalah kesehatan yang jangan diabaikan karena bisa
menyebabkan kematian. Jadi bisa diperkirakan mengalami 3 hingga 6 episode
ISPA setiap tahun. Kemudian bila dipresentasikan sekitar 40 persen hingga 60
persen dari kunjungan di puskesmas adalah penyakit ISPA. 4
1.2 ASPEK ILMU YANG TERKAIT DENGANPENDEKATAN DIAGNOSIS
HOLISTIK PADA PENDERITA ISPA
Untuk pengendalian permasalahan ISPA pada tingkat individu dan
masyarakat secara komprehentif dan holistik yang disesuaikan dengan Standar
Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), maka mahasiswa program profesi dokter
Universitas Muslim Indonesia melakukan kegiatan kepaniteraan klinik pada
bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas dilayanan primer
(Puskesmas) dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dilandasi oleh
profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta
komunikasi efektif. Selain itu kompetensi mempunyai landasan berupa
pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis,
dan pengelolaan masalah kesehatan.
Kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.2.1. Profesionalitas yang luhur (Kompetensi 1) : untuk mengidentifikasi
dan menyelesaikan permasalahan dalam pengendalian ISPA secara
individual, masyarakat maupun pihak terkait ditinjau dari nilai agama, etik
moral dan peraturan perundangan.
1.2.2. Mawas diri dan pengembangan diri (Kompetensi 2) : Mahasiswa
mampu

mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisis, psikis,

sosial,dan budaya sendiri dalam penangananISPA, melakukan rujukan bagi


2

kasus ISPA sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia yang


berlaku serta mengembangkan pengetahuan.
1.2.3.

Komunikasi efektif (Kompetensi 3) : Mahasiswa mampu

melakukan komunikasi, pemberian informasi dan edukasi pada individu,


keluarga, masyarakat, dan mitra kerja dalam pengendalian ISPA.
1.2.4. Pengelolaan Informasi (Kompetensi 4) : Mahasiswa mampu
memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan
dalam praktik kedokteran.
1.2.5.

Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran (Kompetensi 5) : Mahasiswa

mampu menyelesaikan masalah pengendalian ISPA secara holistik dan


komprehensif baik secara individu, keluarga maupun komunitas berdasarkan
landasan ilmiah yang mutakhir untuk mendapatkan hasil yang optimum.
1.2.6.

Keterampilan Klinis (Kompetensi 6) : Mahasiswa mampu

melakukan prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah ISPA dengan


menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan
keselamatan orang lain.
1.2.7.
mampu

Pengelolaan Masalah Kesehatan (Kompetensi 7) : Mahasiswa


mengelola

masalah

kesehatan

individu,

keluarga

maupun

masyarakat secara komprehensif, holistik, koordinatif, kolaboratif dan


berkesinambungan dalam konteks pelayanan kesehatan primer.
1.3 TUJUAN DAN MANFAAT STUDI KASUS
Prinsip pelayanan dokter keluarga pada pasien ini adalah menatalaksana
masalah kesehatan dengan memandang pasien sebagai individu yang utuh terdiri
dari unsur biopsikososial serta penerapan prinsip pencegahan penyakit promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Proses pelayanan dokter keluarga dapat lebih
berkualitas bila didasarkan pada hasil penelitian ilmu kedokteran terkini (evidence
based medicine).

1.3.1. Tujuan Umum:


Tujuan dari penulisan laporan Studi Kasus ini adalah untuk dapat
menerapkan penatalaksanaan penderita ISPA dengan pendekatan kedokteran
keluarga secara paripurna (komprehensif) dan holistik sesuai dengan Standar
Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), berbasis evidence based medicine (EBM)
pada pasien dengan mengidentifikasi faktor risiko dan masalah klinis serta prinsip
penatalaksanaan penderitaISPAdengan pendekatan kedokteran keluarga di
Puskesmas Tamangapa tahun 2015.
1.3.2 Tujuan Khusus
1 Untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang serta
menginterpretasikan hasilnya dalam mendiagnosis penyakit ISPA.
2 Untuk dapat menggunakan dan menjelaskan epidemiologi dan etiologi penyakit
ISPA.
3 Untuk melakukan prosedur tatalaksana ISPA sesuai Standar Kompetensi Dokter
Indonesia.
4 Menggunakan landasan Ilmu Kedokteran Klinis dan Kesehatan Masyarakat dalam
melakukan pencegahan primer maupun sekunder penyakit ISPA.

1.3.3. Manfaat Studi Kasus


1

Bagi Institusi pendidikan.


Dapat dijadikan acuan (referensi) bagi studi kasus lebih lanjut sekaligus
sebagai bahan atau sumber bacaan di perpustakaan.

Bagi Penderita (Pasien).

Menambah wawasan akan penyakit ISPA yang meliputi proses penyakit dan
penanganan menyeluruh ISPA sehingga dapat memberikan keyakinan untuk
menghindari faktor pencetus.
3

Bagi tenaga kesehatan.


Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemerintah
daerah dan instansi kesehatan beserta paramedis yang terlibat di dalamnya
mengenai pendekatan diagnosis holistik penderita ISPA.

Bagi Pembelajar Studi Kasus (Mahasiswa)


Sebagai pengalaman berharga bagi penulis sendiri dalam rangka
memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai evidenve based dan pendekatan
diagnosis holistik ISPA serta dalam hal penulisan studi kasus.
1.4 INDIKATOR KEBERHASILAN TINDAKAN
Indikator keberhasilan tindakan setelah dilakukan penatalaksanaan penderita
ISPA dengan pendekatan kedokteran keluarga, berbasis evidence based medicine
adalah:
1.4.1. Pasien mampu mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor penyebab ISPA.
1.4.2. Perbaikan gejala dapat dievaluasi setelah pengobatan first-line therapy
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penilaian keberhasilan
tindakan pengobatan didasarkan atas kepatuhan pasien dalam mengidentifikasi
dan mengeliminasi faktor penyebab ISPA, perbaikan gejala dapat dievaluasi
setelah pengobatan first-line therapy.

BAB II
5

ANALISIS KEPUSTAKAAN BERDASARKAN KASUS

2.1 KERANGKA TEORITIS


Gambaran Penyebab ISPA
Bakteri

Virus
Faktor pejamu
Higiene
Kepadatan hunian
rumah

PENJAMU
PEKA

Daya tahan tubuh


Asap
FAKTOR
Ventilasi rumah

2.2 ISPA
2.2.1 DEFINISI
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut, istilah ini
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infection (ARI).
Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernapasan, dan akut.
dimana pengertiannya sebagai berikut:1
a. Infeksi merupakan peristiwa masuknya kuman atau mikroorganisme ke
dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala
penyakit.
b. Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Secara anatomis ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas, saluran
pernapasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa
saluran pernapasan.
c. Infeksi akut merupakan infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Batasan tersebut menurut Depkes (1989) menunjukkan proses akut

meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA


proses ini dapat berlangsung lebih 14 hari.
2.2.2

EPIDEMIOLOGI
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di
dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat
tinggi pada bayi, anak-anak, dewasa, dan orang lanjut usia, terutama di negaranegara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah. Begitu pula, ISPA
merupakan salah satu penyebab utama konsultasi atau rawat inap di fasilitas
pelayanan kesehatan.2
Angka kejadian ISPA juga lebih mudah menular pada area tertutup, seperti
asrama, pesantren, sekolah, dan sekolah-sekolah yang sekaligus asrama.3
Infeksi merupakan salah satu penyakit yang banyak terjadi di negara
berkembang pada khususnya dan masih menjadi penyakit nomor satu di
Indonesia. Penyakit ini seringkali menyerang anak-anak karena kondisi yang
masih labil apabila bila menghadapi cuaca yang mudah berubah.3
Kematian yang ditimbulkan dari ISPA antara 20 persen hingga 30 persen,
dan merupakan masalah kesehatan yang jangan diabaikan karena bisa
menyebabkan kematian. Jadi bisa diperkirakan mengalami 3 hingga 6 episode
ISPA setiap tahun. Kemudian bila dipresentasikan sekitar 40% hingga 60% dari
kunjungan di Puskesmas adalah penyakit ISPA.4

2.2.3

ETIOLOGI
Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain genus streptococcus, stafilococcus, pneumococcus,
haemofillus, bordetella, dan corynebacterium. Virus penyebabISPA antara lain
golongan miksovirus, adenovirus, coronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpes
virus. 5
Kebanyakan infeksi saluran pernapasan (ISPA) disebabkan oleh virus
seperti virus sinsisial pernapasan (VSP), virus parainfluenza, adenovirus,
rhinovirus, dan coronavirus, koksaki virus A dan B dan mikoplasma. Penyakit
infeksi saluran pernapasan (ISPA) juga bisa disebabkan karena faktor kelelahan,
7

daya tahan tubuh lemah, asap kendaraan, dan pembakaran hutan setelah
pergantian musim. 6 7
Penyebab lain juga adalah faktor lingkungan rumah seperti halnya
pencemaran udara dalam rumah, ventilasi rumah, dan kepadatan hunian rumah.
Pencemaran udara dalam rumah yang sangat berpengaruh terhadap kejadian ISPA
adalah asap pembakaran yang digunakan untuk memasak. Dalam hal ini misalnya
bahan bakar kayu. Selain itu, asap rokok yang ditimbulkan dari salah satu atau
lebih anggota yang mempunyai kebiasaan merokok juga menimbulkan resiko
terhadap terjadinya ISPA. 8
2.2.4

PATOFISIOLOGI
Penyakit ini dapat ditularkan melalui udara pernapasan yang mengandung

kuman yang terhirup orang sehat lewat saluran pernapasan. Viruslah yang
menyebabkan infeksi saluran pernapasan bagian atas, yang sering terjadi pada
semua golongan masyarakat di musim dingin. 4
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus
dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernapasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran napas bergerak ke atas
mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh
laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan
mukosa saluran pernapasan. 9
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk
kering. Kerusakan struktur lapisan dinding saluran pernapasan menyebabkan
kenaikan aktivitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran
napas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang melebihi normal.
Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk. Sehingga
pada tahap awal gejala ISPA yang paling menonjol adalah batuk. 10
Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder
bakteri. Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris
8

yang merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernapasan terhadap


infeksi bakteri sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada
saluran pernapasan atas seperti

streptococcus pneumonia, haemophylus

influenzae, dan staphylococcs menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi


sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah banyak dan dapat
menyumbat saluran napas sehingga timbul sesak napas dan juga menyebabkan
batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah dengan adanya faktor-faktor
seperti kedinginan dan malnutrisi.11
Virus yang menyerang saluran napas atas dapat menyebar ke tempat-tempat
yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan kejang, demam, dan juga
bisa menyebar ke saluran napas atas. Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa
menyerang saluran napas bawah, sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya
ditemukan dalam saluran pernapasan atas, sesudah terjadi infeksi virus, dapat
menginfeksi paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri. 5 12
Penanganan penyakit saluran pernapasan pada anak harus diperhatika aspek
imunologis saluran napas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran napas
yang sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik
pada umumnya. Sistem imun saluran napas yang terdiri dari folikel dan jaringan
limfoid yang tersebar merupakan ciri khas sistem imun mukosa. Ciri khas
berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran napas atas
sedangkan IgG pada saluran napas bawah. Diketahui pula bahwa sekretori IgA
(sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas mukosa saluran napas.13
Dari uraian di atas, perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi
empat tahap, yaitu: 13
1 tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum menunjukkan
reaksi apa-apa.
2 Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi
lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya memang sudah
rendah.
9

3 Tahap dini penyakit, mulai dari munculnya gejala penyakit. Timbul gejala demam
dan batuk.
4 Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna,
sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis, dan dapat meninggal akibat
pneumonia.
2.2.5

TANDA DAN GEJALA


Menurut DepKes RI, 1993, tanda dan gejala penyakit infeksi saluran

pernapasan dapat berupa: batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek,


demam, dan sakit kepala. 14
Adapun tanda-tanda berdasarkan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan
laboratorium yaitu: 14
a.

Pada sistem pernapasan adalah napas tidak teratur dan cepat, retraksi atau
tertariknya kulit ke dalam dinding dada, napas cuping hidung, sesak,
kebiruan, suara lemah, atau hilang suara napas seperti ada cairannya

b.

sehingga terdengar keras.


Pada sistem peredaran darah dan jantung: denyut jantung cepat atau lemah,

c.

hipertensi, hipotensi, dan gagal jantung.


Pada sistem syaraf adalah: gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,

d.

bingung, kejang, dan koma.


Pada hal umum adalah: letih dan berkeringat banyak.
Sedangkan tanda dan gejala menurut Departemen Kesehatan RI 2002

adalah: 14
a. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk pilek
dan sesak.
b. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala-gejala sesak napas, suhu tubuh lebih dari
390C dan bila bernapas mengeluarkan suara seperti mengorok.
c. ISPA berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu
makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.
10

2.2.6

FAKTOR RESIKO ISPA


Menurut Depkes RI (2002), faktor resiko terjadinya ISPA secara umum

yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku. 2 6


a. Faktor lingkungan
1) Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan
konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan
memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang ventilasinya
kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur.
2). Ventilasi rumah
Ventilasi adalah proses penyediaan udara atau pengarahan udara ke atau dari
ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. Membuat ventilasi udara serta
pencahayaan di dalam rumah sangat diperlukan karena akan mengurangi polusi
asap yang ada di dalam rumah sehingga dapat mencegah seseorang menghirup
asap tersebut yang lama-kelamaan bisa menyebabkan terkena ISPA. Luas
penghawaan atau ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.
3). Kepadatan hunian rumah
Kepadatan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi
dalam rumah yang telah ada. Begitu juga keadaan rumah kamar yang
penghuninya lebih dari dua orang karena bisa menghalangi proses pertukaran
udara bersih sehingga menjadi penyebab terjadinya ISPA.
b.

Faktor pejamu

11

Faktor pejamu yang dimaksud ialah seperti kebiasaan merokok di dalam


rumah, kemampuan pejamu menularkan infeksi, status kekebalan, infeksi
sebelumnya atau infeksi serentak yang disebabkan oleh patogen lain.
c. Faktor perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada
bayi dan balita dalah hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik
yang dilakukan oleh ibu ataupun oleh anggota keluarga lainnya. Peran aktif
keluarga atau masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit
ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau
keluarga. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit
ini banyak menyerang balita, sehingga balita itu dan anggota keluarganya yang
sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit
ISPA ketika anaknya sakit.
2.2.7

PENATALAKSANAAN DAN TERAPI


Program pemberantasan penyakit ISPA membagi penyakit ISPA dalam dua

golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia. Pneumonia dibagi atas
derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat.
Penyakit batuk pilek seperti rhinitis, faringitis, tonsilitis, dan penyakit jalan napas
bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.15
Menurut tingkatannya pneumonia diklasifikasikan sebagai berikut: 15
1 Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke
dalam (chest indrawing).
2 Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3 Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam,
tanpa tarikan dinding dada ke dalam, tanpa napas cepat.

12

Sedangkan untuk terapi penyakit ISPA biasanya disesuaikan oleh derajat


tidaknya penderita yang disesuaikan dengan gejala klinis yang telah dijelaskan
sebelumnya. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan
seperti atuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun
demikian anak akan menderita pneumonia bila infeksi paru ini tidak diobati
dengan antibiotik dapat mengakibatkan kematian. 8
1 Pneumonia berat: dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen,
dan sebagainya.
2 Pneumonia: diberi obat antibiotik cotrimoxazole peroral. Bila penderita tidak
mungkin diberi cotrimoxazole atau ternyata dengan pemberian cotrimxazole
keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu
ampicillin, amoxicillin, atau penisilin prokain.
3 Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di
rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk
lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,
dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun
panas yaitu paracetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada
pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai
pembesaran kelenjar getah bening di leher, dianggap sebagai radang
tenggorokan oleh kuman streptococcus dan harus diberi antibiotik
(penicillin) selama 10 hari.
2.2.8

PENCEGAHAN
Berbagai

strategi

yang

dapat

dilakukan

untuk

pencegahan

dan

pemberantasan ISPA oleh masyarakat diantaranya adalah kebersihan lingkungan.


Lingkungan yang padat akan mempercepat penularan batuk. Meludah di
sembarangan tempat dan bersin di depan anak-anak juga akan memudahkan
penularan. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal serumah
dengan perokok lebih sering dirawat di rumah sakit oleh karena menderita ISPA
13

dibanding dengan anak-anak dari keluarga yang tidak merokok. Oleh karena itu,
udara yang bersih dan ventilasi yang cukup merupakan hal yang perlu
diperhatikan oleh orang tua untuk mencegah penularan ISPA. Selain itu, bila anak
menderita ISPA sebaiknya istirahat dulu untuk aktivitas berkumpul dengan anak
lain karena akan mudah sekali terjadi penularan. 3
2.3 Pendekatan Diagnose Holistik Pada Pelayanan Kedokteran Keluarga di
Layanan Primer
Pengertian

holistik

adalah

memandang

manusia

sebagai

mahluk

biopsikososio-kultural pada ekosistemnya. Sebagai mahluk biologis manusia


adalahmerupakan sistem organ, terbentuk dari jaringan serta sel-sel yang
kompleks fungsionalnya.
Diagnosis holistik adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan
dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury) serta kegawatan yang
diperoleh dari alasan kedatangan, keluhan personal, riwayat penyakit pasien,
pemeriksaan

fisik,

hasil

pemeriksaan

penunjang,

penilaian

risiko

internal/individual dan eksternal dalam kehidupan pasien serta keluarganya.


Sesuai dengan arah yang digariskan dalam Sistem Kesehatan Nasional 2004,
maka dokter keluarga secara bertahap akan diperankan sebagai pelaku pelayanan
pertama (layanan primer).
Tujuan Diagnostik Holistik :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Penyembuhan penyakit dengan pengobatan yang tepat


Hilangnya keluhan yang dirasakan pasien
Pembatasan kecacatan lanjut
Penyelesaian pemicu dalam keluarga (masalah sosial dalam kehidupannya)
Jangka waktu pengobatan pendek
Tercapainya percepatan perbaikan fungsi sosial
Terproteksi dari resiko yang ditemukan
Terwujudnya partisipasi keluarga dalam penyelesaian masalah
Diagnosa secara holistik sangat penting dilakukan sebelum melakukan

terapi, tujuannya yakni


14

1. Menentukan kedalaman letak penyakit


2. Menentukan kekuatan serangan pathogen penyakit
3. Menentukan kekuatan daya tahan tubuh yang meliputi kekuatan fungsi
organ
4. Menentukan urutan tatacara terapi dan teknik terapi yang akan dipilihnya
5. Menentukan interfal kunjungan terapi. (Modul Pelatihan dan Sertifikasi
ASPETRI Jateng 2011)
Diagnosis Holistik memiliki standar dasar pelaksanaan yaitu :
1. Membentuk hubungan interpersonal antar petugas administrasi (penerimaan,
pencatatan biodata) dengan pasien
2. Membentuk hubungan interpersonal antara paramedis dengan pasien.
Melakukan pemeriksaan sarinagn (Triage), data diisikan dengan lembaran
3.
4.
5.
6.

penyaring
Membentuk hubungan interpersonal anatara dokter dengan pasien
Melakukan anamnesis
Melakukan pemeriksaan fisik
Penentuan derajat keparahan penyakit berdasarkan gejala, komplikasi,

prognosis, dan kemungkinan untuk dilakukan intervensi


7. Menentukan resiko individual diagnosis klinis sangat dipengaruhi faktor
individual termasuk perilaku pasien
8. Menentukan pemicu psikososial dari pekerjaan maupun komunitas
kehidupan pasien
9. Menilai aspek fungsi sosial.
Dasar-dasar dalam pengembangan pelayanan/pendekatan kedokteran
keluarga di layanan primer antara lain :
1. Pelayanan kesehatan menyeluruh (holistik) yang mengutamakan upaya
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
2. Pelayanan kesehatan perorangan yang memandang seseorang sebagai
bagian dari keluarga dan lingkungan komunitasnya
3. Pelayanan yang mempertimbangkan keadaan dan upaya kesehatan secara
terpadu dan paripurna (komprehensif).
4. Pelayanan medis yang bersinambung
5. Pelayanan medis yang terpadu
Pelayanan komprehensif yaitu pelayanan yang memasukkan pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus

15

(preventive & spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan


kecacatan (disability limitation)

dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation)

dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko legal etika
kedokteran.
Pelayanan medis yang bersinambung merupakan pelayanan yang
disediakan

dokter

keluarga

merupakan

pelayanan

bersinambung,

yang

melaksanakan pelayanan kedokteran secara efisien, proaktif dan terus menerus


demi kesehatan pasien.
Pelayanan medis yang terpadu artinya pelayanan yang disediakan dokter
keluargabersifat terpadu, selain merupakan kemitraan antara dokter dengan pasien
pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas
program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan kedokteran, baik
dari formal maupun informal.
Prinsip pelayanan Kedokteran Keluarga di Layanan Primer adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Comprehensive care and holistic approach


Continuous care
Prevention first
Coordinative and collaborative care
Personal care as the integral part of his/her family
Family, community, and environment consideration
Ethics and law awareness
Cost effective care and quality assurance
Can be audited and accountable care
Pendekatan menyeluruh (holistic approach), yaitu peduli bahwa pasien

adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
Untuk melakukan pendekatan diagnosis holistik, maka perlu kita melihat
dari beberapa aspek yaitu:
I.
II.

Aspek personal: Keluhan utama, harapan, dan kekhawatiran.


Aspek klinis: Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan
diagnosis kerja dan diagnosis banding.

16

III.

Aspek internal: Kepribadian seseorang akan mempengaruhi perilaku.


Karakteristik pribadi amat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, kultur, etnis, dan lingkungan.
Aspek eksternal: Psikososial dan ekonomi keluarga.
Derajat fungsi sosial:
Derajat 1: Tidak ada kesulitan, dimana pasien dapat hidup mandiri
Derajat 2: Pasien mengalami sedikit kesulitan.
Derajat 3: Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa dilakukan,

IV.
V.
o
o
o

hanya dapat melakukan kerja ringan.


o Derajat 4: Banyak kesulitan. Tak melakukan aktifitas kerja, tergantung pada
keluarga.
o Derajat 5: Tak dapat melakukan kegiatan
BAB III
METODOLOGI STUDI KASUS
1.1 Jenis Studi Kasus
Studi kasus ini menggunakan desain studi Kohort untuk mempelajari
hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan
memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian
mengikuti sepanjang periode waktu tertentu untuk melihat berapa banyak subjek
dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek penyakit atau masalah
kesehatan untuk melakukan penerapan pelayanan dokter layanan primer secara
paripurna dan holistik terutama tentang penatalaksanaan penderita Urtikaria
dengan pendekatan kedokteran keluarga di Puskesmas Tamangapa pada tahun
2015.
1.2 Lokasi dan Waktu melakukan Studi Kasus
3.2.1 Waktu Studi Kasus
Studi kasus dilakukan pertama kali saat penderita datang berobat di
puskesmas Tamangapa pada hari Selasa, 23 Juni 2015. Selanjutnya dilakukan
home visit untuk mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.
3.2.2 Lokasi Studi Kasus
Studi kasus bertempat di Puskesmas Tamangapa Kota Makassar
17

1.3 Gambaran Umum Lokasi Penelitian


1.3.1

Keadaan Geografis
Puskesmas Tamangapa berada dalam wilayah Kecamatan Manggala, dengan

wilayah kerja meliputi dua kelurahan yaitu Kelurahan Tamangapa dan Kelurahan
Bangkala. Kelurahan Tamangapa terdiri dari 7 RW dan30 RT, dengan luas wilayah
662 ha. Sedangkan Kelurahan Bangkala terdiri dari 14 RW dan97 RT, dengan luas
wilayah 430 Ha.
Gambar 11. Peta wilayah kerja Puskesmas Tamangapa
Kelurahan

Rumah

KK

Pria

Wanita

Jumlah

Tamangapa

1.715

1.794

3.690

3.798

7.488

Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Tamangapa adalah:


a.
b.
c.
d.
1.3.2

Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Antang


Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa
Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gowa
Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Panakukang
Keadaan Demografis
Berdasarkan survey tahun 2010, jumlah penduduk dalam wilayah kerja

Puskesmas Tamangapa adalah 25.649orang, terdiri dari 7.488 orang di Kelurahan


Tamangapa.
1.3.3

Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian


Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa

bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, tamat SD, tidak
tamat SD, hingga tidak sekolah. Adapun mata pencaharian penduduk sebagian

18

besar berturut-turut adalah pegawai negeri sipil (PNS), pegawai swasta,


wiraswasta, TNI, petani dan buruh.
1.3.4

Upaya Kesehatan
Puskesmas Tamangapa memiliki 12 ruangan yang terdiri atas Ruang

Periksa/Ruang

Dokter,

Ruang

Tindakan,

Ruang

Kepala

Puskesmas,

Apotek,/Kamar Obat, Ruang Gizi dan PSM, Poliklinik Gigi, Ruang P2 dan
Kesling, Ruang Tata Usaha, Ruang KIA dan KB, Ruang Laboratorium dan 2 buah
WC.

Gambar 12. Denah Puskesmas Tamangapa

1.3.5

Visi dan Misi Puskesmas Tamangapa


Visi Puskesmas Tamangapa
Puskesmas Tamangapa menjadi pusat pelayanan kesehatan dasar yang

bermutu, terjangkau dan berorientasi kepada keluarga dan masyarakat agar


tercapai Indonesia Sehat 2015.
Misi Puskesmas Tamangapa

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan bermutu, paripurna dan


terjangkau oleh seluruh masyarakat.

Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang


19

kesehatan sehingga masyarakat bisa mandiri.

Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam


pelayanan kesehatan.

Menjadikan Puskesmas sebagai pusat pengembangan pembangunan


kesehatan masyarakat.

Meningkatkan kesejahteraan pihak yang terkait dalam pelayanan


kesehatan.

Menjalin kemitraan dengan semua pihak yang terkait dalam


pelayanan kesehatan dalam pengembangan kesehatan masyarakat.

Visi dan Misi tersebut dilakukan dengan cara melaksanakan :


a). Enam Upaya Kesehatan Wajib, yaitu :
1.

Upaya Promosi Kesehatan

2.

Upaya Kesehatan Lingkungan

3.

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga


Berencna

4.

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

5.

Upaya pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


Menular

6.
b).

Upaya Pengobatan
Lima Upaya Kesehatan Pengembangan, yaitu :

1.

Upaya Kesehatan Sekolah

2.

Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat

3.

Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

4.

Upaya Kesehatan Usia Lanjut

5.

Unit Pembinaan Pengobatan Tradisional

1.3.6

10 Penyakit Utama Penyebab Kematian Terbanyak di Indonesia


Setiap tahunnya, jutaan manusia meninggal karena banyak hal. Salah

satunya adalah penyakit yang diderita. Berikut ini, Data Departemen Kesehatan

20

RI menunjukkan peningkatan jumlah penderita 10 penyakit utama

yang

menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia, yaitu :


1

Jantung Koroner
Jantung Koroner adalah satu dari 10 Penyakit Terbanyak di Indonesia yang

menyebabkan kematian. Penderita umumnya mengalami nyeri dada, gagal


jantung, hingga serangan jantung karena jantung gagal memompa darah.
2

Tuberkolosis (TBC)
10 Penyakit Terbanyak di Indonesia yaitu TBC. Ya, Indonesia termasuk

peringkat ketiga terburuk di dunia untuk jumlah penderita TBC. Terapi


pengobatan TBC selama 6 bulan tanpa putus efektif menghindarkan penderita dari
kematian.
3 Diabetes Mellitus (Kencing Manis)
Penyakit gangguan metabolisme karena terganggunya produksi Insulin dan
tingginya kandungan gula darah. Diabetes dapat menyebabkan kematian dengan
berbagai komplikasi yang dibutuhkan.
4
Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi
Penyakit ini disebabkan oleh konsumsi makanan berlemak/berkolesterol
tinggi

berlebihan

serta

kurangnya

aktivitas

fisik/olahraga.

Hipertensi

membahayakan karena menyebabkan stroke, gagal jantung, serangan jantung.


5 Stroke
Di Indonesia diperkirakan ada 300.000 kasus Stroke setiap tahunnya.
Sayangnya, pasien sering datang ke rumah sakit sudah dengan tingkat keparahan
tinggi sehingga terlambat ditangani.
6 Kanker
Beberapa dekade yang lalu, jumlah penderita kanker tidaklah sebanyak pada
dekade ini. Penyakit ini semakin menggejala karena faktor meningkatnya
konsumsi makanan cepat saji, polusi udara, tingkat stres tinggi.
7 Penyakit Paru Kronis
Tingginya angka penderita penyakit ini terjadi karena kondisi lingkungan
yang buruk terutama di kawasan industri/perkotaan padat penduduk serta
kebiasaan merokok masyarakat Indonesia.
8 Diare
Separuh penduduk Indonesia masih tinggal di kawasan kumuh dan tidak
memiliki sanitasi yang baik. Sayangnya, penanganan Diare sering tidak serius
sehingga banyak menyebabkan kematian pada anak dan balita.
21

Infeksi Saluran Pernafasan/Pneumonia


Iklim tropis dengan kelembaban tinggi diduga menjadi penyebab banyaknya

penyakit ini di Indonesia yang banyak menyerang anak dan balita di daerah
dataran tinggi/pegunungan.
10 HIV/AIDS
Penggunaan jarum suntik bersama-sama, transfusi darah, dan hubungan
seksual tanpa pengaman meningkatkan angka penderita penyakit ini setiap tahun.
Karena itu, Pendidikan Kesehatan Reproduksi/Penanggulangan HIV/AIDS harus
terus dilakukan.
10 Penyakit diatas umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup yang
tidak sehat, dan kurangnya tindakan pencegahan penyakit secara dini yaitu checkup kesehatan secara rutin. Apalagi 10 penyakit ini sebagian besar termasuk
golongan penyakit kronik
Adapun 10 (sepuluh) jenis penyakit penyebab utama kematian di Kota
Makassar tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5: 10 jenis penyakit utama penyebab kematian

1.3.7

Organisasi Puskesmas Tamangapa

22

Gambar 13 Organisasi Puskesmas Tamangapa


a. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan milik Pemerintah, Swasta dan partisipasi masyarakat yang
terdapat dalam wilayah kerja Puskesmas Tamangapa turut berperan dalam
peningkatan status derajat kesehatan masyarakat dalam wilayah kerja Puskesmas
Tamangapa.
Jenis sarana kesehatan yang terdapat diwilayah kerja Puskesmas Tamangapa
tahun 2014 terdiri dari

Rumah Sakit Bersalin

: 1 buah

Puskesmas

: 1 buah

Puskesmas Pembantu

: 1 buah

Dokter Praktek

: 9 orang

Bidan Praktek Swasta ( BPS ) : 4 orang

Posyandu

: 20 buah

b. Tenaga dan Struktur Organisasi


1. Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Tamangapa tahun
2014 sebanyak 20 orang dengan berbagai spesifikasi, yang terdiri dari

Dokter Umum

: 2 orang

Dokter Gigi

: 2 orang

Perawat

Bidan

: 3 orang

Sanitarian

: 1 orang

Nutrisionis

: 1 orang

Pranata Laboratorium

: 1 orang

Asisten Apoteker

: 2 orang

Perawat Gigi

: 1 orang

: 9 orang

23

Rekam Medik

Sarjana Kesehatan Masyarakat :

Epidemiologi

Promkes

AKK

: 2 orang

: 1 orang
: 1 orang
: 1 orang

c. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Puskesmas Tamangapa berdasarkan Surat Keputusan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nomor :800/1682/SK/IV/2010 Tanggal
21 April 2010 terdiri atas :

Kepala Puskesmas

Kepala Subag Tata Usaha

Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas

Unit Kesehatan Masyarakat

Unit Kesehatan Perorangan

Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas

Unit Puskesmas Pembantu ( Pustu )

Unit Puskesmas Keliling ( Puskel )

Unit Bidan Komunitas

1.3.8

Alur Pelayanan Puskesmas Tamangapa


Berikut adalah alur pelayanan rawat jalan di Puskesmas Tamangapa :

24

1.4 Pengumpulan data /informasi


Semua yang berkaitan dengan penyakit atau permasalahan kesehatan
penderita informasinya dikumpulkan dengan melakukan komunikasi personal
dengan pasien dan atau keluarganya dan analisis data.
1.5 Cara Pengumpulan data/informasi
Dilakukan dengan komunikasi personal dengan pasien/keluarganya secara
langsung dengan menggunakan pertanyaan what, why, who, where, when dan
how.

25

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL STUDI KASUS


A. PASIEN
1 IDENTITAS PASIEN
Nama

: Aryanti

Umur

: 4.5 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Bangsa/suku

: Makassar

Agama

: Islam

Alamat

: Jln. Rahmatullah 4

Tanggal Pemeriksaan

: 23 Juni 2015

2 ANAMNESIS
1

Keluhan utama

Anamnesis Terpimpin :

: Batuk

Pasien mengeluh batuk sejak 4 hari yang lalu. Batuk disertai lendir.
Menurut ibunya, pasien kadang sesak dan demam terutama pada sore dan
26

malam hari dan hanya dikompres namun beberapa jam kemudian pasien
demam kembali.
3

Riwayat penyakit dahulu:

Riwayat asma (-)

Bersin-bersin saat dingin dan terkena debu (-)

Riwayat keluarga: Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala


yang sama.

Riwayat pengobatan: Pasien hanya dikompres jika demam di rumah


namun tidak membaik.

3.
-

PEMERIKSAAN FISIS
Tinggi Badan
: 45 cm
Berat Badan
: 8kg
Tanda Vital :
1

Tekanan Darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Penapasan: 24 x/menit, sesak.

Suhu: 38,90C

Status Generalis
1. Kepala
- Ekspresi
- Simetris muka
- Rambut
2. Mata
- Eksoptalmus atau enoptalmus
- Tekanan bola mata
- Kelopak mata
- Konjungtiva
- Kornea
- Sklera
- Pupil
3. Telinga
- Tophi
- Pendengaran
- Nyeri tekan di prosesus mastoideus

: Biasa
: Simetris ki=ka
: Hitam, sukar dicabut
: (-)
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Dalam batas normal
: Anemi (-)
: Jernih
: Ikterus (-)
: Isokor 2,5 mm
: (-)
: Dalam batas normal
: (-)
27

4. Hidung
-

Perdarahan
Sekret
Napas cuping hidung

: (-)
: (-)
: (+)

5. Mulut
-

Bibir
Gigi geligi
Gusi
Tonsil

: Kering (-)
: Karies (-)
: Perdarahan (-)
: Hiperemis (-)

6. Leher
-

Kelenjar getah bening


Kelenjar gondok
DVS
Kaku kuduk
Tumor

: MT (-), NT (-)
: MT (-), NT (-)
: R-2 cmH2O
: (-)
: (-)

7. Dada
-

Inspeksi
Bentuk
Pembuluh darah
Buah dada
Sela iga

: Simetris ki=ka
: Normochest
: Bruit (-)
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada pelebaran

8. Thorax
-

Palpasi

: Fremitus Raba
Nyeri tekan

Perkusi

Batas paru hepar

: Ki=Ka
: (-)

: Paru kiri

: Sonor

Paru kanan

: Sonor

: ICS VI Dextra Anterior

Batas paru belakang kanan : V Th IX Dextra Posterior

28

Batas paru belakang kiri


-

Auskultasi

: V Th X Sinistra Posterior

: Bunyi pernapasan

: vesikuler

Bunyi tambahan : Rh

-/-

Wh -/-

9. Punggung
-

Inpeksi
Palpasi
Nyeri ketok
Auskultasi

: skoliosis (-), kifosis (-)


: MT (-), NT (-)
: (-)
: Rh -/Wh -/-

10. Cor
-

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Bunyi tambahan : Bising (-)

: Ictus kordis tidak tampak


: Ictus cordis tidak teraba
: Pekak,batas jantung kesan normal
: BJ I/II murni regular

11. Abdomen
-

Inspeksi
Palpasi
o Hati
o Limpa
o Ginjal
- Perkusi
- Auskultasi

: Datar, ikut gerak napas


: MT (-), NT (-)daerah epigastrium
: Tidak teraba
: Tidak teraba
: Ballotement (-)
: Timpani
: Peristaltik (+), kesan normal

12. Alat Kelamin


13. Anus dan rectum

: Tidak dilakukan pemeriksaan


: Tidak dilakukan pemeriksaan

14. Ekstremitas
- Edema
- Kulit

: (-)
: Peteki (-)

29

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan
5. EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI
Pada kasus Aryanti yang berumur 4,5 tahun dengan diagnosa ISPA, dimana
penyakit ini sering kali menyerang anak-anak karena kondisinya yang masih labil.
Adapun penyebab ISPA yang diderita Aryanti diduga karena faktor lingkungannya
yaitu asap pembakaran dimana bahan bakar yang digunakan untuk memasak
masih menggunakan bahan bakar kayu.
6. PENATALAKSANAAN
Adapun penatalaksanaan yang diberikan kepada Aryanti berupa pemberian
terapi farmakologi dan terapi non farmakologi. Terapi farmakologi berupa
Paracetamol syrup 3X1, Cotrimoksazole 2X1, dan Glyceril guaiacolate 3X2/3.
Terapi non farmakologi yang diberikan yaitu memberikan saran kepada ibunya
supaya mengganti bahan bakar kayu dengan bahan bakar gas.
7. PENCEGAHAN
Pencegahan yang disarankan pada keluarga pasien Aryanti berupa menjaga
kebersihan diri dan lingkungan tiap-tiap anggota keluarga.

B. KELUARGA
Profil Keluarga
a Karakteristik Demografi Keluarga
o Identitas Kepala keluarga
o Identitas Pasangan
o Alamat
o Bentuk Keluarga

: Tn. Donda
: Ny. Ayu
: Jln. Rahmatullah 4, Antang
: Nuclear Family

Tabel 6: Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah


N
o

Nama

Kedudukan
dalam
keluarga

Gende
r

Umur

Pendidika
n

Pekerjaan

1.

Tn. D

Kepala

30 th

SMP

Buruh harian

Keluarga

30

2.

Ny. A

Istri

25 th

SD

Ibu Rumah Tangga

3.

An. Ai

Anak

6th

4.

An. A

Anak

4,5 th

Pasien tersebut tinggal bersama kakak perempuan dan kedua orang tuanya.
Ayahnya berumur 30 tahun, bekerja sebagai buruh harian. Ibunya berumur 25
tahun merupakan ibu rumah tangga. Anak-anaknya terdiri 2 perempuan. Anak
pertamanyaberumur 6 tahun dan anak keduanya berumur 4,5 tahun.
b Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
- Lingkungan tempat tinggal
Lingkungan Tempat Tinggal
Status kepemilikan rumah : milik sendiri
Daerah perumahan : padat
Karakteristik Rumah dan Lingkungan
Luas rumah : 12 x 9 m2
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 4 orang
Luas halaman rumah : Tidak bertingkat
Lantai rumah dari : semen
Dinding rumah dari : seng
Jamban keluarga : ada
Tempat bermain : tidak ada
Penerangan listrik : 450 watt
Ketersediaan air bersih : ada, sumur
Tempat pembuangan sampah : ada

Kesimpulan
Keluarga Tn. D tinggal di
rumah dengan kepemilikian
milik sendiri. Tn. D tinggal
dalam

rumah

dengan

yang

lingkungan

sehat
rumah

yang padat dan ventilasi yang


memadai yang dihuni oleh
4Orang. Dengan penerangan
listrik 450 watt. Air sumur
umum

sebagai

sarana

air

bersih keluarga.

DAPUR
KAMAR
MANDI

KAMAR
12 METER

RUANG
KELUARGA

KAMAR

31

RUANG TAMU

9 METER
Status Sosial dan Kesejahteraan Keluarga
Pekerjaan sehari-hari ayah pasien adalah seorang buruh harian dan ibunya

hanya ibu rumah tangga. Pendapatan keluarga Tn.D setiap bulannya cukup dan
bisa untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarganya. Pasien ini tinggal di
rumah pribadi yang terletak di Antang. Rumah pasien dalam kondisi baik, tertata
rapi, serta terawat. Rumah terdiri dari 3 kamar dan 1 kamar mandi. Sekitar rumah
yaitu bagian samping kiri dan kanannya berbatasan dengan rumah batu, dan
berada di lingkungan perumahan yang cukup padat.
d Pola Konsumsi Makanan Keluarga
Pola konsumsi keluarga tersebut cukup baik. Akan tetapi mereka sering
makan ikan teri dan mairo.
e

Psikologi Dalam Hubungan Antar Anggota Keluarga


Pasien memiliki hubungan yang baik dengan sesama anggota keluarga yang

lainnya, baik yang tinggal didalam rumah maupun yang tidak. Dengan seluruh
anggota keluarga, terjalin komunikasi yang baik dan cukup lancar.
f

Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal sudah cukup baik. Tata pemukiman di sekitar

rumah pun tertata dengan baik dan rapi. Kebersihan lingkungan rumah terjaga,
begitu juga dengan lingkungan rumah para tetangga disekitar rumah Tn.H.
Jalanan di depan rumah dalam kondisi baik dan namun belum teraspal.
PEMBAHASAN
32

Penegakan diagnosis pada pasien ini berdasarkan anamnesis secara holistik


yaitu, aspek personal, aspek klinik, aspek resiko internal dan aspek resiko
eksternal,

serta

pemeriksaan

penunjang

dengan

melakukan

pendekatan

menyeluruh dan pendekatandiagnosis holistik.


1. Anamnesis
Menurut DepKes RI 1993, tanda dan gejala penyakit infeksi saluran
pernapasan dapat berupa: batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek,
demam, dan sakit kepala. Sedangkan tanda dan gejala menurut Departemen
Kesehatan RI 2012 adalah batuk, pilek, dan sesak untuk ISPA ringan, sesak napas,
suhu tubuh lebih dari 390C, dan bila bernapas mengeluarkan suara seperti
mengorok. Sedangkan untuk ISPA berat gejala meliputi kesadaran menurun, nadi
cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru
(sianosis), dan gelisah. 14
2.

Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan fisis yang dapat ditemukan berupa batuk, pilek, dan sesak

untuk ISPA ringan, sesak napas, suhu tubuh lebih dari 39 0C, dan bila bernapas
mengeluarkan suara seperti mengorok. Sedangkan untuk ISPA berat gejala
meliputi kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun,
bibir dan ujung nadi membiru (sianosis), dan gelisah. 14
3.
Pemeriksaan Penunjang
Penyakit ISPA umumnya tidak memerlukan pemeriksaan penunjang oleh
karena dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis saja sudah dapat ditegakkan suatu
penyakit ISPA. 14
4.
Epidemiologi
ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di
dunia. Hampir empat juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun, 98%-nya
disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan bawah. Tingkat mortalitas sangat
tinggi pada bayi, anak-anak, dewasa, dan orang lanjut usia, terutama di negaranegara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah. Angka kejadian ISPA

33

juga mudah menular pada area tertutup seperti asrama, pesantren, sekolah, dan
sekolah-sekolah yang sekaligus asrama. 2 3
5.

Etiologi
Etiologi ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Bakteri

penyebab ISPA antara lain genus streptococcus, staphylococcus, pneumococcus,


haemofillus, bordetella, dan corynebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain
golongan miksovirus, adenovirus, coronavirus, pikornavirus, mikoplasma, dan
herpes virus. 5
Penyebab lain juga adalah faktor lingkungan rumah seperti halnya
pencemaran udara dalam rumah, ventilasi rumah, dan kepadatan hunian rumah.
Pencemaran udara dalam rumah yang sangat berpengaruh terhadap kejadian ISPA
adalah asap pembakaran yang digunakan untuk memasak dalam hal ini misalnya
bahan bakar kayu. 8
2.

Penatalaksanaan
Terapi penyakit ISPA biasanya disesuaikan oleh derajat tidaknya penderita
yang disesuaikan dengan gejala klinis. Sebagian besar dari infeksi saluran
pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan
pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumonia
bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibatkan
kematian. 8
Penderta diberi obat antibiotik cotrimoxazole peroral. Bila penderita tidak
mungkin diberi cotrimoxazole atau ternyata dengan pemberian cotrimxazole
keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu
ampicillin, amoxicillin, atau penisilin prokain. 8
3.

Pencegahan Primer dan Sekunder


Promosi kesehatan dengan pendekatan perilaku hidup sehat. Pencegahan

primer dapat meliputi: 13


1 Menghindari faktor pencetus
34

2 Menjaga kebersihan diri tiap anggota keluarga dan kebersihan lingkungan sekitar
Sedangkan untuk pencegahan sekunder meliputi terapi farmakologi dan non
farmakologi. 13
1 Pengobatan farmakologi berupa :
-

Paracetamol

Cotrimoksazole

Glyceril guaiacolate

2 Pengobatan nonfarmakologis
-

Mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor penyebab ISPA

Terapi untuk keluarga


Terapi untuk keluarga hanya berupa menghindari faktor pencetus ISPA

35

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus ISPAyang dilakukan di Puskesmas Tamangapa
mengenai penatalaksanaan penderita ISPA dengan pendekatan kedokteran
keluarga, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1 Diagnose Klinis : Aryanti menderita penyakit ISPA dengan hasil anamnesis
berupa batuk disertai lendir. Terdapat demam dan sesak terutama sore dan
malam hari. Pada pemeriksaan fisis ditemukan sesak dan adanya pernapasan
cuping hidung. Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang karena alat yang
digunakan tidak ada.
2 Epidemiologi ISPA banyak diderita oleh anak-anak karena kondisi yang masih
labil apabila bila menghadapi cuaca yang mudah berubah. Selain itu, ISPA
juga lebih mudah menular pada area tertutup seperti asrama, pesantren,
sekolah, dan sekolah-sekolah yang sekaligus asrama.
Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus, dan riketsia. Selain
itu, faktor lingkungan rumah seperti pencemaran udara juga menjadi pemicu
timbulnya ISPA.
3 Adapun penatalaksanaan farmakologipenyakit ISPA yang diberikan yaitu
paracetamol,

cotrimoksazole,

dan

glyceril

guaiacolate.

Sedangkan

penatalaksanaan non farmakologi berupa mengeliminasi faktor penyebab


ISPA.

36

4 Pencegahan ISPA dapat dilakukan secara primer maupun sekunder. Pencegahan


primer seperti perilaku hidup sehat, sedangkan untuk pencegahan sekunder
seperti menghindari faktor penyebab ISPA.

V.1 Saran
Dari beberapa masalah yang dapat ditemukan pada Aryanti berupa :
penyakit ISPA, maka disarankan untuk:
1 Mengidentifikasi faktor-faktor yang mencetuskan timbulnya ISPA;
2 Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit ISPA;
3 Penatalaksanaan ISPA sebaiknya menggunakan stratifikasi terapi yaitu first-line
therapy, second-line therapy, dan third-line therapy.

37

DAFTAR PUSTAKA
1

Ranuh,IG. Pendekatan Resiko Tinggi dalam Pengelolaan Pelayanan


Kesehatan Anak. Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak : FK UNAIR ;
2010

WHO. Penanganan ISPA pada Anak di Rumah Sakit Kecil Negara


Berkembang. Jakarta : Buku Kedokteran EGC ; 2009

Dinkes SulSel. Laporan Tahunan Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit.


[online] 2009 : [cited] Juny, 2015. Available from: url: http://dinkessulsel.go.id/pdf/laporan_tahunan_pencegahan&pemberantasan_penyakit.pdf.

Cahbagus. Infeksi Saluran Pernapasan Akut. [online] Juny 2011:[cited] Juni


2015.

Available

from:

URL:

http://infokedokteran.com/pdf/patofisologi_ispa.html.pdf.
5

Prabu.Infeksi Saluran Pernapasan Akut.[online] Januari 2012:[cited] Juni


2015.

Available

from:

URL:http://putraprabu.wordpress.com/2009/01/12/klasifikasi-ispa-padabalita/
6

WHO.Acute Respiratory Infections.[online] Desember 2010: [cited] Juni


2015.

Available

from:

URL:http://who.or.id/h1n1/docs/WHO_CDS_EPR_2007_8bahasa.pdf
7

Avicenna.Tanda dan Gejala ISPA.[online] Oktober 2009: [cited] Juni 2015.


Available

from:

URL:http://rajawana.com:artikel:kesehatan:429_ispa.html.webarchive
8

Dimas.Pengenalan tentang ISPA atau Infeksi Pernapasan Akut.[online] Maret


2010:[cited]

Juni

2015.

Available

from:

URL:http;//omdimas.com:pengetahuan_tentang_ispa_atau_infeksi_saluran_p
ernapasan _akut::webarchive
38

Yulihanda. Gambaran Karakteristik ISPA.[online] November 2012:[cited]


Juni

2015.

Available

from:

URL:http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jptunimus-gdl-yulihanday5410-4-babiii%29.pdf
10 Nurfitri.Faktor yang Mempengaruhi Insiden ISPA.[online] Desember 2010:
[cited]

Juni

2015.

Available

from:

URL:http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-srihananto5323-3-bab2.pdf
11 Fuad bahsin. Infeksi Saluran Pernapasan Akut. [online] 2009: [cited] Juni
2015.

Available

from:

URL:http://fuadbahsin.wordpress.com:2009:12:25:infeksi_saluran_pernapasa
n_akut_ispa::webarchive.
12 Farid.Tanda Bahaya dan Pengobatan ISPA.[online] Maret 2010:[cited] Juni
2015. Available from: URL:http://www.smallcrab.com/kesehatan/423-tandadan-pengobatan-ispa
13 Alsagaff, H., Mukty, A., Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga University Press; 2011
14 WHO.[online] Juni 2011 : [cited] Juni 2015. Available on:doctorology.net
%20%C2%BB%20Blog%20Archive%20%C2%BB%20Infeksi%20Saluran
%20Pernapasan%20Akut%20%28ISPA%29.html
15 Depkes RI. Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA.[online] Januari 2011 :
[cited]

Juni

2015.

Available

from:

URL:

http://blog.unila.ac.id/gnugroho/file2011/04/RESIKO-ISPA-.PDF

39