Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH STUDI KASUS REPRODUKSI

PPDH 2015/2016

EGG DROP SYNDROME

Disusun oleh:
Prista Ayu Nurjanah, SKH

B94154136

Zul Fikhiran Bin Asli, SKH

B94154149

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2015
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peternakan berfungsi menghasilkan produk pangan sumber
protein, energi, vitamin dan mineral untuk melengkapi kebutuhan
manusia. Salah satu nutrisi penting asal produk peternakan adalah
protein hewani yang mengandung berbagai asam amino, DHA dan
unsur-unsur lainnya yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh, kembang
dan bereproduksi. Protein hewani asal produksi ternak seperti susu,
daging dan telur (SDT) mengandung kelengkapan asam-asam amino
mencapai kisaran di atas 80. Untuk memproduksi pangan asal ternak
yang berkualitas baik, diperlukan usaha perbaikan manajemen
pemeliharaan khususnya untuk ternak sapi perah, sapi potong, ayam
potong dan ayam petelur.
Salah satu pangan asal ternak yang banyak dikonsumsi
masyarakat adalah telur. Telur mengandung protein dengan kisaran
15%. Protein telur dibentuk dari susunan asam-asam amino yang
sangat baik, sehingga protein hewani asal telur hampir seluruhnya
dapat digunakan untuk pertumbuhan maupun pengganti sel-sel tubuh
yang rusak. Selain protein, telur juga mengandung lemak berupa
trigliserida,

phospholipida,

dan

kolesterol.

Trigliserida

dan

phospholipida berfungsi menyediakan energi yang dibutuhkan tubuh


untuk menjalankan semua aktivitas sehari-hari, sedangkan kolesterol
berfungsi untuk membentuk garam-garam empedu yang diperlukan
bagi pencernaan lemak yang berasal dari makanan dan diperlukan
juga

sebagai

komponen

pembentuk

hormon

seksual

seperti

testosteron dan hormon adrenalin.


Usaha perbaikan manajemen pemeliharaan pada ayam petelur
sangat diperlukan untuk menghasilkan pullet dengan performa yang
baik sampai umur panen, salah satunya adalah upaya penekanan

pada

kemunculan

penyakit

yang

ada

hubungannya

dengan

penurunan produksi telur. Penyakit pada ayam petelur diartikan


sebagai disfungsi organ, yakni tidak berfungsinya secara normal
organ ayam yang terinfeksi oleh mikroorganisme penyebab penyakit,
baik itu organ pencernaan, pernafasan, central neuro system (CNS)
maupun organ reproduksi yang secara langsung berhubungan dengan
pembentukan dan distribusi telur.
Adanya gangguan kesehatan ayam petelur juga dapat terjadi
akibat kelalaian peternak, misalnya minimnya kandungan nutrisi
bahan pakan yang diberikan pada ayam peliharaannya.Timbulnya
berbagai jenis penyakit misalnya ND, AI, AE Virus, IB, dan Egg Drop
Syndrome (EDS-76). Egg Drop Syndrome 1976 (EDS-76) dapat
mengakibatkan penurunan produksi dan kualitas telur. Ng et al (1980)
melaporkan bahwa EDS-76 dapat menyebabkan kerugian ekonomi
yang cukup besar pada breeder ayam akibat kesulitan dalam
penjualan DOC ayam layer.
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai gangguan organ
reproduksi pada unggas terutama penyakit Egg Drop Syndrome meliputi etiologi, gejala
klinis, terapi, pencegahan, dan pengendaliannya.

PEMBAHASAN
Egg Drop Syndrome 1976 (EDS-76) adalah suatu penyakit pada ayam petelur
yang ditandai dengan adanya penurunan kualitas dan kuantitas produksi telur (Disnak
Jatim 2012). Penyakit ini ditemukan pada tahun 1976 oleh Van Eck di Belanda.
Kejadian penyakit ditandai dengan adanya penurunan produksi telur disertai kondisi
kulit telur yang lunak atau kerabang tipis (McFerran dan Adair 2003). Pada tahun 1977
kejadian serupa terjadi di Irlandia Utara, yakni adanya penurunan produksi telur pada
ayam petelur meskipun sudah divaksinasi oleh vaksin Marek's, Infectious bronchitis
(IB) dan Avian encephalomyelitis (AE).

Penyebab EDS-76 adalah golongan Adenovirus yang berhasil diisolasi dan diberi
nama strain 127. Isolat diambil dari ayam penderita yang secara serologis dinyatakan
positif. Virus EDS berbeda dengan Adenovirus lainnya, karena dapat mengaglutinasi
eritrosit unggas. Pada tahun 1978, Baxedale melaporkan penyakit tersebut ditemukan di
Eropa termasuk Inggris dan berhasil mengisolasi Adenovirus dengan strain BC-14,
sedangkan Yamaguchi tahun 1980 menemukan wabah serupa di Jepang dan berhasil
mengisolasi adenovirus strain JPA-1, yang memiliki karakter sama dengan strain BC-14
dan strain 127 (Kementan 2014).
Etiologi
EDS-76 disebabkan oleh Adenovirus dari famili Adenoviridae grup III (Hess
2000). Virus EDS-76 dapat mengaglutinasi eritrosit ayam, itik dan kalkun (Gambar 1).
Virus EDS-76 yang menyerang ayam petelur diduga berasal dari adenovirus itik.
Material genetic virus teridi dari DNA beruntai ganda (ds-DNA), bentuk ikosahedral
dan berukuran 70-100 nm. Virus ini tahan terhadap ether, chloroform dan relatif tahan
pada pH 3,0-10,0 serta suhu 4-50C. Pada suhu 60C virus akan inaktif selama 30
menit. Virus juga tahan hidup dalam larutan 0,5% formaldehida. Perkembangbiakan
virus terjadi di dalam inti sel dari organ terserang dan selanjutnya tampak sebagai
inclusion bodies (Kementan 2014).

Gambar 1 Adenovirus grup III


Gejala Klinis
Gejala klinis EDS-76 tampak pada ayam berumur 25-35 minggu. Gejala khas
EDS berupa penurunan produksi dan kualitas telur. Kualitas telur yang jelek dapat
berupa hilang atau berkurangnya warna kulit telur, kulit telur lunak, tipis atau bahkan

tanpa kulit dan ukuran telur menjadi sangat kecil (Gambar 2). Penurunan produksi telur
dapat mencapai 40%, keadaan ini dapat berlangsung 4-10 minggu, sehingga puncak
produksi tidak dapat tercapai (Suska 2009). Gejala lain yang terlihat adalah ayam
tampak sedikit lesu, nafsu makan berkurang, jengger, dan pial pucat serta kadang
disertai diare ringan. Ayam yang terserang EDS-76 sebelum dewasa kelamin tidak dapat
mencapai produksi telur secara optimal.

Gambar 2 Kerabang telur tipis


Pada umumnya tidak ada patologi anatomi yang spesifik, tetapi kadang terlihat
adanya inflamasi dan kebengkakan pada ovarium, tuba falopii dan uterus. Pada unggas
terinfeksi ovarium menjadi tidak aktif dan terjadi atropi pada oviduct, uterus
membengkak, dan terdapat eksudat berwarna putih. Perubahan histopatologi dapat
dilihat pada oviduct dan uterus, terjadi degenerasi dan desquamasi pada sel epitel, atropi
pada glandula uterina dan infiltrasi heterofil, limfosit dan plasmasit. Intranuclear
inclusion bodies dapat ditemukan pada sel epitel dari uterus, istmus dan daerah vagina
(Kementan 2014).
Diagnosa dapat ditetapkan berdasarkan gejala klinis, patologi anatomi ataupun
pemeriksaan secara laboratoris.

Isolasi

virus dapat

dilakukan pada telur ayam

berembrio (TAB) atau kultur jaringan. Pada kultur jaringan pertumbuhan virus ditandai
dengan

adanya

cytopathogenic effect (CPE). Identifikasi virus dapat dilakukan

dengan uji Haemaglutinasi Inhibition (HI), Flourescent Antibody Technique (FAT),


Agar Gel Precipitation (AGP), dan Virus Neutralization (VN).
Penyebaran Penyakit

Penyakit EDS dapat ditularkan secara vertikal dan horizontal. Secara vertikal
melalui telur dari induk ke anaknya. Penularan secara horizontal, namun biasanya
berlangsung lambat. Virus masuk melalui pakan dan air minum yang terkontaminasi
sekresi trakhea.
EDS dapat dikelirukan dengan beberapa

penyakit

lain seperti Newcastle

Diseases (ND) dan Infectious Bronchitis (IB). Dari segi penurunan produksi telur
dengan disertai produksi telur yang lembek dapat dikelirukan dengan Newcastle
Diseases. Dari segi ukuran telur dan bentuk abnormal atau pengapuran kerabang tidak
rata dapat dikelirukan dengan Infectious Bronchitis (Kementan 2014).
Terapi
Penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan egg drop syndrome
adalah culling (pengeluaran ternak dari populasi). Pemberian antibiotik hanya mencegah
terjadinya infeksi sekunder namun tidak akan mengurangi gejala penyakit dan
keparahan. Saluran reproduksi ayam yang terinfeksi virus EDS menyebabkan terjadinya
perubahan anatomis persisten sehingga kualitas telur tetap rendah.
Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian dan pencegahan dimulai dengan perbaikan manajemen peternakan
meliputi sanitasi kandang (kandang dibersihkan, dicuci), membatasi tamu, mencegah
hewan liar dan hewan peliharaan lain masuk ke lingkungan kandang serta sanitasi
sarana angkutan yang akan masuk kandang.
Pencegahan terhadap EDS-76 dapat dilakukan dengan melakukan vaksinasi pada
ayam menjelang produksi, yakni 3-4 minggu sebelum bertelur. Penularan EDS-76 dari
itik atau angsa dapat dihindari dengan cara mencegah kontak antara unggas tersebut
dengan

peternakan ayam, menghindari penggunaan air minum dari sumber yang

tercemar oleh unggas tersebut. Virus EDS-76 dapat ditularkan secara vertikal, oleh
karena itu disarankan hanya beternak ayam yang berasal dari perusahaan pembibitan
yang bebas dari virus tersebut.

SIMPULAN
Egg Drop Syndrome disebabkan Adenovirus yang ditandai dengan penurunan
produksi telur dan penipisan kerabang telur. Penyakit ini tidak dapat diobati secara
khusus sehingga perlu adanya manajemen perbaikan peternakan sebagai tindakan
pencegahan.

DAFTAR PUSTAKA
Disnak Jatim. 2012. Mengenal Penyakit Ayam Petelur : Egg Drop Syndrome 1976.
[terhubung
berkala]
http://disnak.jatimprov.go.id/web/layananpublik/
readartikel/702/mengenal-penyakit-ayam-petelur---egg-drom-syndrome1976#.VnI2bF5UNFs (diunduh pada 2015 Desember 17)
Hess M. 2000. Detection and differentiation of adenoviruses : a review. Avian
Pathology. 29 : 195-206
Kementan. 2014. Manual Penyakit Unggas. Jakarta : Kementerian Pertanian.
McFerran JB dan Adair BM. 2003. Diseases of poultry : Egg drop syndrome 11thedision.
Iowa state press
Ng FK, Sing KL, Yeo SC dan Ng SH. 1980. Studies on Egg Drop Syndrom 1976 in
Singapura. Sing. Vet. J. 4 : 36-51
Suska, D. 2009. Waspada 3 Penyakit Utama Turunnya Produksi Telur. [tersedia pada]
http://www.majalahinfovet.com/2009/01/waspada-3-penyakit-utamapenyebab.html (diunduh pada 2015 Desember 20)
Van Eck JHH, Davelaar FG, Van den Heuvel-Plesman TAM, Van Kol, N Kouwenhoven
B, Guldic FHM. 1976. Dropped Egg Production, Soft Shell and Shell-less Egg
Associated with Appearance of Precipitatins to Adenovirus in Flock of Laying
Fowls. Av . Pathol. 5 : 261-276