Anda di halaman 1dari 22

PENGUKURAN KERJA

Manajemen operasi yang efektif membutuhkan standar yang dapat membantu perusahaan
untuk menentukan :

a) Proporsi pekerja dari setiap barang yang diproduksi

b) Kebutuhan staf

c) Perkiraan biaya dan waktu sebelum produksi dilaksanakan

d) Jumlah kru dan keseimbangan pekerjaan

e) Tingkat produksi yang diharapkan

f) Dasar perencaan insentif pekerja

g) Efisiensi karyawan dan pengawasan

Standar pekerja yang ditetapkan secara benar, mewakili waktu yang dihabiskan oleh
seorang pekerja rata-rata untuk melaksanakan aktivitas tertentu di bawah kondisi kerja normal.
Standar pekerja ditetapkan dengan empat cara, antara lain :

• Pengalaman masa lalu ( historical experience )

• Studi waktu ( time studies )

• Standar waktu yang telah ditentukan ( predetermited time standards )

• Pengambilan sampel kerja ( work sampling )

1. Pengalaman Masa Lalu

Standar pekerja dapat diperkirakan berdasarkan pengalaman masa lalu ( historical


experiences ) yaitu berapa jam pekerja yang dibutuhkan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Standar masa lalu memiliki kelebihan, karena secara relatif mudah dan murah didapatkan.
Standar masa lalu ini biasanya didapatkan dari kartu waktu pekerja atau dari data produksi.
Walaupun demikian, standar ini tidak objektif, dan kita tidak mengetahui keakuratannya,
apakah mereka mencerminkan kecepatan kerja yang layak atau yang buruk, dan apakah
kejadian yang tidak biasa terjadi sudah dimasukkan dalam perhitungan. Karena variabel ini
tidak diketahui, penggunaan teknik ini tidak dianjurkan. Sebagai penggantinya, studi waktu,
standar waktu yang telah ditentukan. Dan pengambilan sampel kerja lebih dianjurkan.

2. Studi Waktu

Pengambilan waktu dengan menggunakan stopwatch atau studi waktu, yang pada awalnya
dikenalkan oleh Frederick W. Taylor di tahun 1881 masih menjadi metode yang paling
banyak digunakan hingga sekarang. Prosedur studi waktu ( time studies ) menggunakan
contoh sampel kinerja seorang pekerja dan menggunakannya sebagai standar.

Delapan langkah dalam penerapan standar tersebut yaitu :

1) Definisikan pekerjaan yang akan diamati ( setelah analisis metode dilakukan ).

2) Bagi pekerjaan menjadi elemen yang tepat ( bagian dari pekerjaan yang sering
membutuhkan tidak lebih dari beberapa detik ).

3) Tentukan berapa kali akan dilakukan pengamatan ( jumlah siklus atau sampel yang
dibutuhkan ).

4) Hitung waktu dan catat waktu elemen serta tingkat kinerja.

5) Hitung waktu siklus rata-rata.

Waktu siklus pengamatan rata-rata ( average observed cycle time ) merupakan rata-
rata aritmetika dari waktu setiap elemen yang diukur, yang disesuaikan dari pengaruh
yang tidak biasa untuk setiap elemen.

Waktu siklus pengamatan rata-rata =

jumlah waktu yang dicatat untuk melaksanakan tiap elemen


jumlah siklus pengamatan

6) Tentukan tingkat kinerja dan kemudian hitung waktu normal ( normal time ) untuk
setiap elemen.

Waktu normal = ( waktu siklus pengamatan rata-rata ) x ( faktor peringkat )

Tingkat kinerja menyesuaikan waktu pengamatan dengan waktu yang diharapkan


dapat dikerjakan oleh seorang pekerja normal.

Sebagai contoh, seorang pekerja normal seharusnya bisa berjalan 3 mil per jam. Dia
juga harus bisa membagi 52 kartu dalam 4 tumpuk yang sama tinggi dalam waktu 30
detik. Tingkat kinerja 1,05 menggambarkan pekerja yang diamati melaksanakan
pekerjaannya lebih cepat dari rata-rata.

7) Tambahkan waktu normal untuk setiap elemen untuk mendapatkan waktu normal
total untuk pekerjaan tersebut.

8) Hitung waktu standar ( standard time )

Penyesuaian ke waktu normal total memberikan kelonggaran seperti kebutuhan


pribadi, keterlambatan yang tidak dapat dihindarkan, dan kelelahan.

Waktu standar = waktu normal total

1 – faktor kelonggaran

Kelonggaran waktu pribadi ( personal time allowance ) sering kali ditetapkan dalam rentang
4% hingga 7% dari waktu total, bergantung kepada kedekatan toilet, tempat air minum, dan
fasilitas lainnya.

Kelonggaran keterlambatan ( delay allowances ) sering kali ditetapkan sebagai hasil


penelitian aktual dari keterlambatan yang terjadi.
Kelonggaran kelelahan ( fatigue allowances ) didasarkan pada pengetahuan manusia yang
terus meningkat, akan pengeluaran energi manusia di bawah berbagai kondisi fisik dan
lingkungan.

Sekumpulan sampel kelonggaran pribadi dan kelelahan ditunjukkan pada contoh berikut :

Contoh 1 :

Studi waktu dari sebuah operasi pekerjaan menghasilkan waktu siklus pengamatan rata-rata
sebesar 4menit. Analisis memberikan peringkat pekerja yang diamati sebesar 85%. Hal ini
berarti bahwa pekerja mempunyai kinerja 85% dari kinerja normal di saat penelitian dibuat.
Perusahaan menggunakan faktor kelonggaran sebesar 13%. Hitunglah waktu standar.

Jawab :

Waktu pengamatan rata-rata = 4,0 menit

Waktu normal = ( waktu siklus pengamatan rata-rata ) x ( faktor peringkat )

= ( 4,0 ) x ( 0,85 )

= 3,4 menit

Waktu standar = ( waktu normal ) / ( 1 – faktor kelonggaran )

= ( 3,4 ) / ( 1 – 0,13 )

= ( 3,4 ) / ( 0,87 )

= 3,9 menit

Studi waktu membutuhkan sebuah proses pengambilan sampel, jadi pertanyaan kesalahan
pengambilan sampel dalam waktu siklus pengamatan rata-rata biasa terjadi. Dalam statistik,
kesalahan bervariasi dengan jumlah berbanding terbalik dengan ukuran sampel. Jadi untuk
menentukan berapa banyak siklus yang harus dicatat, keragaman setiap elemen dalam
pengamatan harus dipertimbangkan.

Untuk menentukan sebuah ukuran sampel yang mencukupi, terdapat 3 hal yang harus
dipertimbangkan :

 Seberapa akurat hasil pengamatan yang diinginkan.

 Tingkat keyakinan yang diinginkan.

 Berapa banyak variasi yang muncul dalam elemen kerja.

Formula untuk menemukan ukuran sampel yang tepat dengan diberikan 3 variabel adalah :

Ukuran sampel yang dibutuhkan = n = zs

hx

Keterangan :

h = tingkat ketepatan yang diinginkan, dinyatakan dalam sebuah angka desimal ( 5% = 0,05
)

z = jumlah deviasi standar yang dibutuhkan untuk tingkat keyakinan yang diinginkan
( 90% = 1,65 )

s = deviasi standar sampel awal

x = rata-rata sampel awal

n = ukuran sampel yang dibutuhkan


Tingkat keyakinan Nilai Z ( deviasi standar yang dibutuhkan)

Yang diinginkan 9%) untuk tingkat keyakinan yang diinginkan )

90,00 1,65

95,00 1,96

95,45 2,00

99,00 2,58

99,73 3,00

jika deviasi standart belum diketahui dapat di cari dengan cara sebagai berikut :

∑( xi − x ) 2

=
∑(setiap pengamatan sampel - x ) 2
n −1 jumlah dalam sampel - 1

Contoh 2 :
Sebuah perusahaan memiliki data analisis ketepatan yang diharapkan adalah 5%, dengan tingkat
keyakinan 95%, deviasi sampel 1,0 dan rata-rata 3,00

Jawaban

2
 1,96 x 1,0 
= n = 
 0.05 x 3 

= 170,74 = 171

Jadi ukuran sampel yang disarankan sebesar 171

Walaupun studi waktu memberikan ketepatan dalam menentukan standar pekerja, mereka
memilki kelemahan :

• Studi waktu membutuhkan karyawan analis yang terlatih


• Standar pekerja tidak dapat ditentukan sebelum pekerjaan benar – benar dilakukan

A. Standar waktu yang telah ditentukan


Standar waktu yang ditentukan merupakan suatu pembagian pekerjaan manual menjadi
elemen dasar yang kecil yang waktunya telah ditetapkan dan dapat diterima secara luas.

Untuk mengembangkan sistem standart waktu yang telah ditentukan secara menyeluruh
membutuhkan biaya besar, akibatnya sistem bisa didapatkan secara komersil. Standar paling
umum digunakan adalah metode pengukuran waktu atau MTM.

Standar waktu yang dikembangkan merupakan perkembangan dari gerakan dasar yang disebut
therblig.

Therblig mencakup aktivitas :

• Memilih
• Mengambil
• Mengarahkan
• Merakit
• Menjangkau
• Memegang
• Beristirahat
• Meneliti

Standar waktu yang telah ditentukan memilki beberapa kelebihan dari studi
waktu,diantaranya :

a. Standar waktu ini dapat dibuat di laboratorium sehingga tidak akan mengganggu aktivitas
produksi yang sesungguhnya.
b. Karena ditentukan sebelum pekerjaan dilakukan, standar ini digunakan untuk membuat
rencana
c. Tidak ada pemeringkatan kerja yang dibutuhkan
d. Dianggap wajar bagi serikat pekerja dalam menetapkan standar kerja
e. Efektif pada perusahaan yang melakukan sejumlah besar jumlah penelitian yang sama.

Untuk memastikan standar pekerja yang akurat beberapa perusahaan menggunakan baik
studi waktu maupun standar waktu yang telah ditentukan.

B. Pengambilan Sampel Kerja


Pengambilan sampel kerja memperkirakan persentase waktu yang dihabiskan oleh
seorang pekerja pada beragam pekerjaannya. Hasilnya terutama digunakan untuk menentukan
bagaimana karyawan mengalokasikan waktu mereka di antara beragam aktivitas yang
dilakukannya. Seorang analis hanya mencatat aktivitas yang biasa dilakukan secara acak.
Pengetahuan akan pengalokasian ini dapat mendorong adanya perubahan karyawan, penugasan
ulang, perkiraan biaya aktivitas, dan penetapan kelonggaran bagi standar pekerja.

Prosedur pengambilan sampel dapat diringkas menjadi 5 langkah :

1. Ambil sampel awal untuk mendapatkan sebuah perkiraan nilai parameter


2. Hitung ukuran sampel yang dibutuhkan
3. Buat jadwal untuk mengamati pekerja pada waktu yang layak.
4. Lakukan pengamatan dan catat aktivitas pekerja
5. Tentukan bagaimana pekerja menghabiskan waktu mereka.

Untuk menentukan jumlah pengamatan yang dibutuhkan, pihak manajemen harus


memutuskan tingkat keyakinan dan ketepatan, dengan menggunakan rumus :

z 2 p (1 − p )
n=
h2

n = Ukuran sampel yang dibutuhkan

z = deviasi normal standar untuk kecepatan yang diinginkan

( z = 1 untuk 68%, 2 = 95,45%, 3 = 99,73%, dan seterusnya dapat dilihat dalam tabel

normal)

p = nilai perkiraan proporsi sampel

h = tingkat kesalahan yang diterima (dalam presentase)

Contoh 3 :

Manajer kantor kesejahteraan Wilston County, memperkirakan karyawannya nganggur


sepanjang 25% dari waktu yang tersedia. Ia ingin melakukan pengambilan sampel kerja yang
akurat pada rentang 3% dan ingin mendapat tingkat keyakinan 95,45%
Jawaban

z = 2 untuk tingkat kepercayaan 95,45%

p = nilai proporsi yang menganggur 25% = 0,25

h = tingkat kesalahan yand dapat diterima 3% = 0,03

n = (2)2(0,25)(0,75)

(0,03)2

= 833 pengamatan

Jadi, harus dilakukan pengamatan sebanyak 833 kali .

Fokus pada pengambilan sampel kerja adalah untuk menentukan bagaimana para pekerja
mengalokasikan waktu mereka diantara beragam aktivitas yang dilakukan. Hal ini dapat dicapai
dengan menetapkan presentase waktu yang dihabiskan seorang pekerja pada aktivitas-aktivitas
yang ada daripada sejumlah waktu tertentu yang dihabiskan untuk tugas tertentu. Seorang analis
hanya mencatat aktivitas yang biasa dilakukan secara acak.

Kelebihan metode pengambilan metode sampel kerja dibanding studi waktu :

• Lebih murah karena hanya diperlukan seorang pengamat yang dapat mengamati beberapa
pekerjaan secara bersamaan.
• Pengamat tidak membutuhkan pelatihan khusus dan tidak diperlukan peralatan
pengukuran waktu khusus.
• Penelitian dapat ditunda, tanpa memberikan dampak yang berarti.
• Pengamatan dilakukan secara spontan dan panjang sehingga pekerja hanya memilki
sedikit kesempatan untuk mempengaruhi hasil
• Prosedur yang ada hanya sedikit mengganggu dan karenanya tidak menyebabkan
karyawan menjadi keberatan

Kelemahan dari pengambilan pengambilan sampel kerja :


• Tidak membagi elemen kerja selengkap studi waktu
• Pengambilan sampel kerja dapat menghasilakan hasil yang bias
• Karena tidak mengganggu, pengambilan sampel cenderung kurang akurat terutama saat
pekerjaan yang diamati memilki siklus yang pendek.

Standar pekerja dibutuhkan untuk sebuah sistem operasi yang efisien. Standar pekerja
dibutuhkan bagi perencanaan produksi, perencanaan pekerja, pembuatan anggaran, dan
mengevaluasi kinerja. Standar pekerja juga dapat digunakan sebagai dasar sistem insentif.
Mereka digunakan baik di pabrik dan di kantor. Standar dapat dibuat melalui data masa lalu,
studi waktu, standar waktu yang telah ditentukan, dan pengambilan sampel kerja.

Contoh Soal T10.1

Sebuah pekerjaan terdiri dari tiga elemen menjadi obj.ek studi waktu dengan menggunakan stop-
watch, Hasil catatan pengamatan ditunjukkan pada tabel berikut. Oleh serikat pekerja, para
operator diberikan kelonggaran pribadi 5%, keterlambatan 5%, dan kelelahan 10%. Tentukan
waktu standar pekerjaan tersebur.

Pengamatan (menit)
Elemen Tingkat
Kerja 1 2 3 4 5 6 Kinerja (%)
A 0.1 0.3 0.2 0.9 0.2 0.1 90
B 0.8 0.6 0.8 0.5 3.2 0.7 110
C 0.5 0.5 0.4 0.5 0.6 0.5 80

Jawaban

Pertama, hilangkan dua hasil pengamatan yang tampak tidak biasa (0,9 menit untuk elemen
pekerjaan A dan 3,2 menit untuk elemen pekerjaan B). Kemudian:

0,1 + 0,3 + 0,2 + 0,2 +1


waktu siklus pengamatan rata-rata A = = 0,18 menit
5

0,8 + 0,6 + 0,8 + 0,5 + 0,7


waktu siklus pengamatan rata-rata B = = 0,68 menit
5
0,5 + 0,5 + 0,4 + 0,5 + 0,6 + 0,5
waktu siklus pengamatan rata-rata C = = 0,50 menit
6

waktu normal A + (0,18) (0,90) = 0,16 menit

waktu normal A + (0,68) (1,10) = 0,75 menit

waktu normal A + (0,50) (0,80) = 0,40 menit

waktu normal pekerjaa = 0,16 + 0,75 + 0,40 = 1,31 menit

1,31
waktu standar = 1 −0,20 =1,64 menit

Contoh Soal T10.2

Pengambilan sampel kerja awal dari sebuah operasi adalah sebagai berikut:

Jumlah kejadian operator sedang bekerja 60

Jumlah kejadian operator sedang menganggur 40

Jumlah pengamatan awal total 100

Ukuran sampel berapakah yang dibutuhkan untuk tingkat keyakinan 99,73% dengan ketepatan +
4%?

z 2 p (1 − p ) ( 3) ( 0,6 )( 0,4 )
2
n= = = 1.350 ukuran sampel
h2 ( 0,04 ) 2

Contoh Soal T10.3

Amor Manufakturing Co. di Jenewa, Swiss, baru saja melakukan penelitian akan sebuah
pekerjaan pada laboratoriumnya, untuk mengantisipasi pemberian pekerjaan pada pabrik untuk
dapat dilaksanakan. Perusahaan menginginkan perkiraan anggaran dan peramalan pekerja yang
tepat. Perusahaan menginginkan tingkat keyakinan 99%) dan waktu siklus yang berada pada
rentang 3% dari mlai yang sebenarnya. Berapa banyak pengamatan yang harus dilakukan? Data
yang berhasil dikumpulkan sejauh ini adalah:

Pengamatan Waktu

1 1,7
2 1,6
3 1,4
4 1,4
5 1,4

Jawaban

Pertama, can rata-rata, χ , dan deviasi standar sampel, s.

∑( x − x) ∑( setiappeng ama tan sampel − x )


2 2
i
s= =
n −1 jumlahdala msampel − 1

Pengamatan xi x xi − x ( xi − x ) 2
1 1,7 1,5 0,2 0,04
2 1,6 1,5 0,1 0,01
3 1,4 1,5 -0,1 0,01
4 1,4 1,5 -0,1 0,01
5 1,4 1,5 -0,1 0,01

x =1,5
∑( x − x) 2
0,08 = i

0,08 0,08
s= = = 0,141
n −1 4

 ( 2,58 )( 0,141 ) 
2 2
 zs 
Kemudian, selesaikan n =   =   = 65,3
 hx   ( 0,03 )(1,5) 

Dengan x = 1,5

s = 0,141

z = 2,58

h = 0,03

oleh karena itu, Anda menyarankan dilakukan 65 kali pengamatan

Contoh Soal T10.4

Di Maggard Micro Manufacturing, Inc., para operator melakukan operasi pengepresan


semikonduktor pada lubang-lubang pada printed-circuit boards (PCB). Gerakan dasar untuk
waktu normal yang digunakan oleh perusahaan adalah sebagai berikut :

Menjangkau semikonduktor sejauh 6 inci 10,5 TMU

Mengambil semikonduktor 8,0 TMU

Memindahkan semikonduktor pada PCB 9,5 TMU

Mengarahkan semikonduktor 20,1 TMU

Menekan semikonduktor pada PCB 20,3 TMU


Memindahkan PCB ke stasiun kerja berikut 15,8 TMU

(Setiap satuan pengukuran waktu sama dengan 0,0006 menit.) Tencukan waktu normal operasi
ini dalam menit dan detik.

Jawaban satuan pengukuran waktu :

10,5 + 8,0 + 9,5 + 20,1 + 20,3 + 15,8 = 84,2

Waktu dalam menit = (84,2) (0,0006 menit) = 0,05052 menit

Waaktu dalam detik = (0,05052) (60 detik) = 3,0312 detik

Contoh Soal T10.5

Untuk mendapatkan sampel acak yang diperlukan untuk melakukan pengambilan sampel kerja,
seorang manajer membagi had kerja biasa menjadi 480 menit. Dengan menggunakan tabel nilai
acak untuk memutuskan kapan ia harus pergi ke daerah kerja untuk mencatat peristiwa kerja,
manajer mencatat hasil pengamatan pada selembar kertas sebagai berikut:

Status Perhitungan Jumlah

Bekerja secara produktif IIII IIII IIII I

Menganggur IIII

Jawaban

Pada kasus ini, penyelia mengadakan pengamatan sebanyak 20 kali dan mendapati operator
bekerja sebanyak 80% dari waktunya. Jadi, dari 480 menit dalam satu hari kerja, 20% atau 96
menit merupakan waktu .menganggur, dan 384 menit produktif. Perhatikan bahwa prosedur ini
menerangkan apa yang sedang dikerjakan oleh seorang operator, bukan apa yang seharusnya
sedang ia kerjakan.
Definisi Kinerja Dan Pengukuran Kinerja
Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat oebcaoaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning
suatu organisasi.
Pengukuran kinerja adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan
sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan
sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa; kualitas barang dan jasa; hasil kegiatan
dibandingkan dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan

Elemen Pokok Pengukuran Kinerja


Elemen pokok suatu pengukuran kinerja antara lain:

1. Menetapkan tujuan, sasaran, dan strategi organisasi.


Tujuan adalah pernyataan secara umum tentang apa yang ingin dicapai organisasi. Sasaran
merupakan tujuan organisasi yang sudah dinyatakan secara eksplisit dengan disertai batasan
waktu yang jelas. Strategi adalah cara atau teknik yang digunakan organisasi untuk mencapai
tujuan dan sasaran.
2. Merumuskan indicator dan ukuran kinerja.
Indicator kinerja mengacu pada penilaian kinerja secara tidak langsung yaitu hal-hal yang
sifatnya hanya merupakan indikasi-indikasi kinerja. Ukuran kinerja mengacu pada penilaian
kinerja secara langsung.
3. Mengukur tingkat ketercapaian tujuan dan sasaran-sasaran organisasi.
Jika kita sudah mempunyai indicator dan ukuran kinerja yang jelas, maka pengukuran kinerja
bias diimplementasikan. Mengukur tingkat ketercapaian tujuan, sasaran dan strategi adalah
membandingkan hasil actual dengan indicator dan ukuran kinerja yang telah ditetapkan.
4. Evaluasi kinerja.
Evaluasi kinerja akan mmberikan gambaran kepada penerima informasi mengenai nilai kinerja
yang berhasil dicapai organisasi. Informasi capaian kinerja dapat dijadikan:
a. Feedback
Hasil pengukuran terhadap capaian kinerjaa dijadikan dasar bagi manajemen atau pengelola
organisasi untuk perbaikan kinerja pada periode berikutnya. Bias dijadikan landasan pemberian
reward and punishment terhadap manajer dana anggota organisasi.
b. Penilaian kemajuan organisasi
Pengukuran kinerja yang dilakukan setiap periode waktu tertentu sangat bermanfaat untuk
menilai kemajuan yang elah dicapai organisasi.
c. Meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas
Pengukuran kinerja menghasilkan informasi yang sangat bermanfaat untuk pengambilan
keputusan manajemen maupun stakeholders.

Fokus Pengukuran Kinerja Sektor Publik


Pengukuran kinerja merupakan suatu aktivitas penilaian pencapaian target-target tertentu yang
diderivasi dari tujuan strategis organisasi. Jadi pengukuran kinerja harus berbasis pada strategi
organisasi. Pemilihan indicator dan ukuran kinerja dan penetapan target untuk setiap ukuran ini
merupakan upaya konkret dalam memformulasikan tujuan strategis organisasi sehingga lebih
terwujud dan terukur.
Pengukuran kinerja juga harus didasarkan pada karakteristik operasional organisasi. Hal ini
terutama diperlukan untuk mendefinisikan indicator dan ukuran kinerja yang digunakan.

Aspek-aspek Pengukuran Kinerja Sektor Publik


Pengukuran kinerja organisasi sector public meliputi aspek-aspek, antara lain:
1. Kelompok masukan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dapat
berjalan untuk menghasilkan keluaran.
2. Kelompok proses adalah ukuran kegiatan, baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun tingkat
akurasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
3. kelompok keluaran adalah sesuatu yang diharapkan langsung dapat dicapai dari suatu kegiatan
yang dapat berwujud maupun tidak berwujud.
4. Kelompok hasil adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan
pada jangka menengah yang mempunyai efek langsung.
5. Kelompok manfaat adalah sesuatu yang terkait dengan tujuan akhir dari pelaksanaan kegiatan.
6. Kelompok dampak adalah pengaruh yang ditimbulkan baik positif maupun negative.

Manfaat Pengukuran Kinerja Sektor Publik


Sector public tidak bias lepas dari kepentingan umum sehingga pengukuran kinerja mutlak
diperlukan untuk mengetahui seberapa berhasil misi sector public tersebut dapat dicapai
penyedia jasa dan barang-barang public.
Manfaat pengukuran kinerja baik untuk internal maupun eksternal organisasi:
1. Memastikan pemahaman para pelaksana akan ukuran yang digunakan untuk pencapaian
kinerja.
2. Memastikan tercapainya rencana kinerja yang telah disepakati.
3. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kinerja dan membandingkannya dengan
rencana kerja serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kinerja.
4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksana yang telah
diukur sesuai dengan system pengukuran kinerja yang telah disepakati.
5. Menjadi alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam upaya memperbaiki
kinerja organisasi.
6. Mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
7. Membantu memahami proses kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwaa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif.
9. Menunjukkan peningkatan yang perlu dilakukan.
10. Mengungkapkan permasalahan yang terjadi.

Perbedaan Pengukuran Kinerja Sektor Publik dan Sektor Bisnis


Pengukuran kinerja pada organisasi bisnis lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan
organisasi sector public. Pada organisasi bisnis, kinerja penyelenggaranya dapat dilakukan
dengan cara misalnya melihat tingkat laba yang berhasil diperolehnya.
Pada organisasi sector public, pengukuran keberhasilannya lebih kompleks, karena hal-hal yang
dapat diukur lebih beraneka ragam dan kadang-kadang bersifat abstrak sehingga pengukuran
tidak bisa dilakukan hanya dengan menggunakan satu variable saja.

Pengukuran Kinerja dan Peningkatan Kinerja


Pengukuran kinerja bukanlah tujuan akhir melainkan merupakan alat agar dihasilkan manajemen
yang lebih efisien dan terjadi peningkatan kinerja. Pengukuran kinerja menyediakan dasar bagi
organisasi untuk menilai:
1. Bagaimana kemajuan atas sasaran yang telah ditetapkan.
2. Membantu dalam mengenali area-area kekuatan dan kelemahan.
3. Menentukan tindakan yang tepat untuk meningkatkan kinerja.
4. Menunjukkan bagaimana kegiatan mendukung tujuan organisasi.
5. Membantu dalam membuat keputusan-keputusan dengan langkah inisiatif.
6. Mengutamakan alokasi sumberdaya.
7. Meningkatkan produk-produk dan jasa-jasa kepada pelanggan.

Pengukuran Kinerja sebagai Subsistem Pengendalian Manajemen


Tipe pengendalian manajemen dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu:
• pengendalian preventif
Berkaitan dengan perumusan strategi dan perencanaan strategic yang dijabarkan dalam bentuk
program-program.
• pengendalian operasional
Berhubungan dengan pengawasan pelaksanaan program yang telah ditetapkan melalui anggaran.
• pengendalian kinerja

Terkait dengan evaluasi kinerja berdasarkan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.

1. Struktur Pengendalian Manajemen


System pengendalian manajemen harus didukung dengan struktur organisasi yang baik.
Struktur organisasi termanifestasi dalam bentuk struktur pusat pertanggungjawaban. Pusat
pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh manajer yang
bertanggungjawab terhadap aktivitas pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.

2. Hubungan antara Pusat Pertanggungjawaban dengan Pengendalian Anggaran


Organisasi sector public seperti pemerintah daerah dapat dianggap sebagai pusat
pertanggungjawaban. Manajer pusat sebagai budget holder memiliki tanggungjawa untuk
melaksanakan anggaran.

Pengendalian anggaran meliputi pengukuran terhadap output dan belanja yang riil dilakukan
dibandingkan dengan anggaran. Adanya penyimpangan antara realisasi terhadap anggaran
tersebut kemudian dianalisis untuk diketahui penyebabnya dan siapa yang harus
bertanggungjawab untuk selanjutnya segera dilakukan tindakan korektif.
Anggaran sebagai alat untuk melaksanakan strategi organisasi harus dipersiapkan dengan sebaik-
baiknya agar tidak terjadi penyimpangan.

3. Proses Pengendalian Manajemen


Proses pengendalian manajemen pada organisasi sector public dapat dilakukan dengan saluran
komunikasi formal maupun informal. Saluran komunikasi formal mencakup aktivitas formal
organisasi yang meliputi:
a. perumusan strategi, merupakan proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran,
target, dan kebijakan serta strategi organisasi.
b. Perencanaan strategic, adalah proses penentuan program-program, aktivitas atau
proyek yang akan dilakukan oleh suatu organisasi dan penentuan jumlah alokasi sumber
daya yang akan dibutuhkan.

Manfaat perencanaan strategic:


1) memfasilitasi terciptanya anggaran yang efektif
2) untuk memfokuskan manajer pada pelaksanaan strategic yang telah ditetapkan
3) memfasilitasi dilakukannya alokasi sumber daya yang efektif dan efisien
4) sebagai rerangka pelaksanaan tindakan jangka pendek
5) saran bagi manajemen untuk memahami strategi organisasi secara lebih jelas
6) sebagai alat untuk memperkecil rentang alternative strategi.
Sistem Pengukuran Kinerja

System pengukuran kinerja merupakan suatu system yang bertujuan untuk membantu manajer
public menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur financial dan nonfinansial. Dalam
suatu system manajemen strategi, pengukuran kinerja berfungsi sebagai alat penilai apakah
strategi yang sudah ditetapkan telah berhasil dicapai.

Dari hasil pengukuran kinerja dilakukan feedback sehingga tercipta system pengukuran kinerja
yang mampu memperbaiki kinerja organisasi secara berkelanjutan.

1. Perencanaan Strategis
Perencanaan strategis adalah proses sistematik yang ditujukan untuk menghasilkan tindakan
dan keputusan-keputusan mendasar sebagai pedoman dan panduan organisasi dalam
menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan dan mengapa melakukan aktivitas tertentu.
Proses perencanaan strategis ini membutuhkan informasi yang kompleks, luas, dan
komprehensif dengan lebih menekankan pada implikasi-implikasi di masa datang.
2. Penyusunan Program
Penyusunan program adalah proses pembuatan keputusan mengenai program-program yang
akan dilaksanakan organisasi dan taksiran jumlah sumber-sumber yang akan dialokasikan
untuk setiap program tersebut.